I.

A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Dalam dunia pendidikan untuk mengukur tingkat ketuntasan kompetensi siswa dalam menerima pembelajaran, adalah dengan melaksanakan evaluasi pembelajaran. salah satu tugas Direktorat Pembinaan SMK- Subdirektorat Pembelajaran adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum, Yaitu sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Lebih lanjut dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan. Pada kenyataannya dalam dunia pendidikan untuk melaksanakan KTSP termasuk sistem penilaiannya, banyak pendidik yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Oleh karena itu, Direktorat Pembinaan SMA membuat berbagai panduan pelaksanaan KTSP yang salah satu di antaranya adalah panduan penyusunan butir soal.

B. Tujuan Setelah guru dapat menyusun kisi-kisi dengan benar dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Diharapkan dapat mengukur tingkat ketuntasan kompetensi siswa SMK dalam menerima pembelajaran.

C. Ruang Lingkup Ruang lingkup yang dibahas dalam makalah ini meliputi penilaian berbasis kompetensi, teknik, alat penilaian dan prosedur pengembangan tes, penyusunan kisiisi, dan penyusunan butir soal.

portfolio. motivasi. B. Penilaian non-tes contohnya seperti penilaian sikap. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI A. menjodohkan. Tes yang akan diujikan meliputi tes lisan. life skill. minat. benar-salah). (2) menentukan kompetensi yang diujikan . 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. pilihan ganda. Pengertian Penilaian berbasis kompetensi merupakan teknik evaluasi yang harus dilakukan guru dalam pembelajaran di sekolah guna mengukur tingkat ketuntasan kompetensi siswa. penilaian diri.II. penugasan (projek) dan hasil karya (produk). Teknik dan pelaksanaannya diatur di dalam: • • • • • Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di dalam Standar Isi menjadi fokus perhatian utama dalam penilaian. jawaban singkat. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Peraturan Pemerintah No. Tes perbuatan dan pengamatan (observasi). 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. dengan melakukan penilaian melalui tes dan non tes. Langkah-langkah penilaian non tes dilakukan melalui pengembangan tes meliputi (1) menentukan tujuan penilaian. dan tes perbuatan yang meliputi: kinerja (performance). tertulis (bentuk uraian. Bentuk dan Proses Penilaian Guru dapat mengetahui tingkat pencapaian kompetensi siswa. isian.

keterpakaian). (6) melakukan telaah butir soal. Adanya kesesuaian materi yang diujikan dan target kompetensi yang harus dicapai melalui materi yang diajarkan. butir soal. bahan ulangan/ujian hendaknya menghasilkan informasi atau data yang dapat dijadikan landasan bagi pengembangan standar sekolah.mengajar. Kriteria Bahan Ulangan/Ujian Bahan ulangan/ujian yang akan digunakan hendaknya menenuhi dua kriteria dasar berikut ini : 1. kontinuitas. dan pedoman penskoran. (5) menyusun kisi-kisi. (4) menentukan jenis tes yang tepat (tertulis. atau standar nasional melalui penilaian hasil proses belajar. melainkan juga tidak menghasilkan umpan balik bagi penyempurnaan proses belajar-mengajar. (3) menentukan aspek yang diukur. (5) melakukan penelaahan. (2) menentukan kompetensi yang diujikan. Penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan dengan langkah-langkah (1) menentukan tujuan penilaian. ujian yang bahannya tidak sesuai dengan target kompetensi yang harus dicapai bukan saja kurang memberikan informasi tentang hasil belajar seorang peserta didik. perbuatan). Berdasarkan ilmu pengukuran pendidikan. C. (4) menyusun tabel pengamatan dan pedoman penskorannya. Hal ini dapat memberikan informasi tentang siapa atau peserta didik mana yang telah mencapai tingkatan pengetahuan tertentu yang disyaratkan sesuai dengan target kompetensi dalam silabus/kurikulum dan dapat memberikan informasi mengenai apa dan seberapa banyak materi yang telah dipelajari peserta didik. .(3) menentukan materi penting pendukung relevansi. kompetensi (urgensi. 2. standar wilayah. lisan.

atau praktik). dan handal. semakin tinggi pula peluang menjawab benar soal atau mencapai kompetensi yang ditetapkan. penulis soal harus merumuskan kisi-kisi dan menulis soal berdasarkan kaidah penulisan soal yang baik (kaidah ganda. Syarat soal yang bermutu adalah bahwa soal harus sahih (valid). Semakin tinggi kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. dan ajeg. Handal maksudnya bahwa setiap alat ukur harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat. Sahih maksudnya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu dimensi/aspek saja. Makin rendah kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. uraian. makin kecil pula peluang menjawab benar soal untuk mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Mistar hanya mengukur panjang. Untuk dapat menghasilkan soal yang sahih dan handal. Salah satu ciri soal yang bermutu adalah bahwa soal itu dapat membedakan setiap kemampuan peserta didik. bahan ujian atau soal PKn hanya mengukur materi pembelajaran PKn bukan mengukur keterampilan/kemampuan materi yang lain. Soal yang Bermutu Bahan ujian atau soal yang bermutu dapat membantu pendidik meningkatkan pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana yang belum atau sudah mencapai kompetensi. cermat. penulisan soal bentuk objektif/pilihan .D. timbangan hanya mengukur berat.

sikap. benar salah. 2) tes uraian. Tes tertulis Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan memberikan jawaban tertulis. Kelebihannya adalah: (1) dapat menilai kemampuan dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik. lisan. jawaban singkat atau isian. (3) wawancara. serta kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung. Teknik penilaian melalui tes a. misalnya: (1) tes (tertulis. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan mudah digunakan oleh guru. misalnya bentuk pilihan panda. waktu yang tersedia. Jenis tes tertulis secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu: 1) tes objektif.III. b. 1. dan bentuk menjodohkan. Tes lisan Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. TEKNIK PENILAIAN DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN TES A. Penggunaan berbagai teknik itu harus disesuaikan dengan tujuan penilaian. Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan guru untuk rnendapatkan informasi. sifat tugas yang dilakukan peserta didik. (2) observasi atau pengamatan. perbuatan). Teknik Penilaian Para pendidik dapat menggunakan beberapa cara atau teknik untuk memperoleh informasi tentang keberhasilan belejar peserta. dan banyaknya/jumlah materi pembelajaran yang sudah disampaikan. Tes ini memiliki kelebihan dan kelemahan. . yang terbagi atas tes uraian objektif (penskorannya dapat dilakukan secara objektif) dan tes uraian non-objektif (penskorannya sulit dilakukan secara objektif).

tes bentuk ini dapat menolong sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang dimaksud. Kelemahannya adalah (1) subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes. c. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan persiapan. Untuk tes perbuatan dilaksanakan secara kelompok digunakan format tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok. sebaiknya menggunakan format pengamatan yang individual.(2) bagi peserta didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami kesukaran dalam memahami pernyataan soal. 2. Untuk tes perbuatan yang sifatnya individual. Dalam kegiatan observasi . yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Tes perbuatan Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau unjuk kerja. melaksanakan tugas. (2) waktu pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama. Untuk menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan. Bentuk formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. sampai dengan hasil yang dicapainya. Observasi dapat ditujukan kepada peserta didik secara perorangan atau kelompok. (3) hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik. Teknik penilaian melalui observasi atau pengamatan Observasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mendapatkan informasi tentang peserta didik dengan cara mengamati tingkah laku dan kemampuannya selama kegiatan observasi berlangsung.

Teknik wawancara ini dapat pula digunakan sebagai alat untuk menelusuri kesukaran yang dialami peserta didik tanpa ada maksud untuk menilai. (2) batas waktu pengamatan. Teknik wawancara ini diperlukan pendidik untuk tujuan mengungkapkan atau menanyakan lebih lanjut hal-hal yang kurang jelas informasinya.perlu disiapkan format pengamatan. Format pengamatan dapat berisi: (1) perilakuperilaku atau kemampuan yang akan dinilai. atau seleksi. diagnostik. Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrument penilaian yang sesuai. ujian praktik. Teknik penilaian melalui wawancara Teknik wawancara pada satu segi mempunyai kesamaan arti dengan tes lisan yang telah diuraikan di atas. laporan kerja praktik/laporan praktikum.Prosedur Pengembangan Tes Sebelum menentukan teknik dan alat penilaian. penulis soal perlu menetapkan terlebih dahulu tujuan penilaian dan kompetensi dasar yang hendak diukur. 3. Menentukan tujuan penilaian. Adapun proses penentuannya secara lengkap dapat dilihat pada bagan berikut ini. Misalnya untuk tujuan tes prestasi belajar. lingkup materi/kompetensi yang ditanyakan/diukur disesuaikan seperti untuk kuis/menanyakan materi yang lalu. Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan sebagai berikut. 1. . Contoh untuk tujuan prestasi belajar. pertanyaan lisan di kelas. tugas individu/kelompok. Tujuan penilaian sangat penting karena setiap tujuan memiliki penekanan yang berbeda-beda. ulangan harian. ulangan kenaikan kelas. ulangan semester. B.

Menentukan jenis alat ukurnya.penugasan (project). Untuk penggunaan tes diperlukan penentuan materi penting sebagai pendukung kompetensi dasar. Syaratnya adalah materi yang diujikan harus mempertimbangkan urgensi (wajib dikuasai peserta didik). Dalam menulis soal. penulis soal harus memperhatikan kaidah penulisan soal. yaitu tes atau non-tes atau mempergunakan keduanya. 4. Bila jawabannya tidak tepat. atau lainnya. pilihan ganda atau uraian.2. dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari tinggi (UKRK). Menyusun kisi-kisi tes dan menulis butir soal beserta pedoman penskorannya. kontinuitas (merupakan materi lanjutan). hasil karya (product). maka materi yang bersangkutan tepat diujikan dengan bentuk soal apa. Memperhatikan standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) Standar kompetensi merupakan acuan/target utama yang harus dipenuhi atau yang harus diukur melalui setiap kompetensi dasar yang ada atau melalui gabungan kompetensi dasar. 3. Bila jawabannya tepat. . maka jenis tes yang tepat adalah tes perbuatan: kinerja (performance). Langkah selanjutnya adalah menentukan jenis tes dengan menanyakan apakah materi tersebut tepatdiujikan secara tertulis/lisan. relevansi (bermanfaat terhadap mata pelajaran lain).

Penentuan materi yang akan diujikan sangat penting karena di dalam satu tes tidak mungkin semua materi yang telah diajarkan dapat diujikan dalam waktu yang terbatas. Penentuan Materi Penting Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyiapkan bahan ulangan/ujian adalah menentukan kompetensi dan materi yang akan diujikan. yaitu rnateri yang memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupansehari-hari. Setelah menentukan kompetensi yang akan diukur. . 3. maka langkah berikutnya adalah menentukan materi yang akan diujikan. 2. mata pelajaran lain.C. Relevansi. materi yang diujikan hanya menanyakan materi-materi yang sangat penting saja. Penentuan materi penting dilakukan dengan memperhatikan kriteria: 1. Materi yang telah ditentukan harus dapat diukur sesuai dengan alat ukur yang akan digunakan yaitu tes atau non-tes. Kontinuitas. sehingga dalam waktu yang sangat terbatas. setiap guru harus menentukan materi mana yang sangat penting dan penunjang. misalnya satu atau dua jam. Urgensi. yaitu materi yang diperlukan untuk mempelajari atau memahami. Keterpakaian. 4. yaitu materi secara teoritis mutlak harus dikuasai oleh peserta didik. Oleh karena itu. yaitu materi lanjutan yang merupakan pendalaman dari satu atau lebih materi yang sudah dipelajari sebelumnya.

PENYUSUNAN KISI-KISI DAN BUTIR SOAL A. penulis soal dapat mengambil atau memperhatikan jenis perilaku yang telah dikembangkan oleh para ahli pendidikan. Semakin tinggi kemampuan/perilaku yang diukur sesuai dengan target kompetensi. Setiap kompetensi di dalam kurikulum memiliki tingkat keluasan dan kedalaman kemampuan yang berbeda. Quellmalz. de Maclay. di antaranya seperti Benjamin S. Jenis Perilaku yang Dapat Diukur Dalam menentukan perilaku yang akan diukur. maka semakin sulit soal dan semakin sulit pula menyusunnya. Bila ingin mengukur perilaku yang lebih tinggi. yaitu perilaku yang sesuai dengan kemampuan peserta didik di kelas. Norman E. . Robert M.III. Gagne.J. David Krathwohl.W. Bloom. B. Penentuan Perilaku yang Akan Diukur Setelah kegiatan penentuan materi yang akan ditanyakan selesai dikerjakan. Dari susunan perilaku itu. mulai dari perilaku yang sangat sederhana/mudah sampai dengan perilaku yang paling sulit/tinggi. guru dapat mendaftar terlebih dahulu semua perilaku yang dapat diukur. Perilaku yang akan diukur. perilaku yang akan diukur dapat dilihat pada "perilaku yang terdapat pada rumusan kompetensi dasar atau pada standar kompetensi". Mazano dkk. berdasarkan rumusan kompetensinya (baik standar kompetensi maupun kompetensi dasar). R. baik standar kompetensi maupun kompetensi dasarnya. maka kegiatan berikutnya adalah menentukan secara tepat perilaku yang akan diukur. Dalam Standar Isi. pada Kurikulum Berbasis Kompetensi tergantung pada tuntutan kompetensi. Linn dan Gronlund. dipilih satu perilaku yang tepat diujikan kepada peserta didik. Gronlund dan R.

menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus) yang tepat. 1. 2. B = behaviour (perilaku yang harus ditampilkan). Materi yang hendak ditanyakan dapat dibuatkan soalnya. C = diberikan). dan satu atau lebih kata kerja operasional untuk soal uraian/tes perbuatan. Syarat indikator yang baik: 1. Model pertama adalah menempatkan kondisinya di awal . Penulisan indikator yang lengkap mencakup A = audience (peserta didik) . indicator pembelajaran. dan D = condition (kondisi yang degree (tingkatan yang diharapkan). Indikator yang baik dirumuskan secara singkat dan jelas. Untuk merumuskan indikator dengan tepat. 2. kompetensi dasar. menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif. Kisi-kisi harus dapat mewakili isi silabus/kurikulum atau materi yang telah diajarkan secara tepat dan proporsional. E. guru harus memperhatikan materi yang akan diujikan.D. Komponen-komponennya diuraikan secara jelas dan mudah dipahami. dan standar kompetensi. 3. Ada dua model penulisan indikator. Penyusunan Kisi-kisi Kisi-kisi (test blue-print atau table of specification) merupakan deskripsi kompetensi dan materi yang akan diujikan. Perumusan Indikator Soal Indikator dalam kisi-kisi merupakan pedoman dalam merumuskan soal yang dikehendaki. 3. Kegiatan perumusan indikator soal merupakan bagian dari kegiatan penyusunan kisi-kisi. Kisikisi dapat berbentuk format atau matriks Kisi-kisi yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini. dapat dibuatkan soal atau pengecohnya (untuk soal pilihan ganda). Tujuan penyusunan kisi-kisi adalah untuk menentukan ruang lingkup dan sebagai petunjuk dalam menulis soal.

materi. (6)menulis butir soal. (3) menentukan materi yang diujikan. denah. Model yang kedua ini digunakan untuk soal yang tidak disertai dengan dasar pertanyaan (stimulus). (8) merakit soal menjadi perangkat tes. Langkah-langkah Penyusunan Butir Soal Agar soal yang disiapkan oleh setiap guru menghasilkan bahan ulangan/ujian yang sahih dan handal. Model pertama ini digunakan untuk soal yang disertai dengan dasar pernyataan (stimulus). sedangkan model yang kedua adalah menempatkan peserta didik dan perilaku yang harus ditampilkan di awal kalimat.kalimat. F. . maka harus dilakukan langkah-langkah berikut. yaitu: (1) menentukan tujuan tes. gambar. dan (12) perbaikan soal berdasarkan hasil analisis. (7) memvalidasi butir soal atau menelaah secara kualitatif. (4) menetapkan penyebaran butir soal berdasarkan kompetensi. dan tes praktik). uraian. grafik. paragraf. atau lainnya. (9) menyusun pedoman penskorannya (10) uji coba butir soal. dan bentuk penilaiannya (tes tertulis:bentuk pilihan ganda. (2) menentukan kompetensi yang akan diujikan. (5) menyusun kisi-kisinya. kasus. (11) analisis butir soal secara kuantitatif dari data empirik hasil uji coba. misalnya berupa sebuah kalimat.

Ada kompetensi yang lebih tepat diukur/ditanyakan dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal uraian. H. Ketepatan yang dimaksud adalah bahwa materi yang ditanyakan tepat diujikan dengan bentuk uraian. sangat tergantung pada perilaku/kompetensi yang akan diukur. Penyusunan Butir Soal Tes Tertulis Penulisan butir soal tes tertulis merupakan suatu kegiatan yang sangat penting dalam penyiapan bahan ulangan/ujian. ada pula kompetensi yang lebih tepat diukur dengan menggunakan tes tertulis dengan bentuk soal objektif. Penulisan Soal Bentuk Uraian Menulis soal bentuk uraian diperlukan ketepatan dan kelengkapan dalam merumuskannya. yaitu menuntut peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan secara tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Adapun kelengkapan yang dimaksud adalah kelengkapan perilaku yang diukur yang digunakan untuk menetapkan aspek yang dinilai dalam pedoman . Setiap butir soal yang ditulis harus berdasarkan rumusan indikator soal yang sudah disusun dalam kisi-kisi dan berdasarkan kaidah penulisan soal bentuk obyektif dan kaidah penulisan soal uraian. Keunggulan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan/perilaku secara objektif. sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah sulit menyusun pedoman penskorannya. sedangkan untuk soal uraian di antaranya adalah dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan gagasan dan menyatakan jawabannya menurut kata-kata atau kalimat sendiri.G. Bentuk tes tertulis pilihan ganda maupun uraian memiliki kelebihan dan kelemahan satu sama lain. Kelemahan soal bentuk pilihan ganda di antaranya adalah sulit menyusun pengecohnya. Penggunaan bentuk soal yang tepat dalam tes tertulis.

sehingga penskorannya dapat dilakukan secara objektif. Hal yang paling sulit dilakukan dalam menulis soal bentuk pilihan ganda adalah menuliskan pengecohnya. Pengecoh yang baik adalah pengecoh yang tingkat kerumitan atau tingkat kesederhanaan. Contoh misalnya perilaku yang diukur adalah "kesesuaian isi dengan tuntutan pertanyaan". I. maka dalam penulisannya perlu mengikuti langkah-langkah berikut. Hal yang paling sulit dalam penulisan soal bentuk uraian adalah menyusun pedoman penskorannya. serta panjang. langkah pertama adalah menuliskan pokok soalnya. Penulisan Soal Bentuk Pilihan Ganda Menulis soal bentuk pilihan ganda sangat diperlukan keterampilan dan ketelitian.0). Artinya perilaku yang diukur dapat diskor secara dikotomus (benar .pendeknya relatif sama dengan kunci jawaban.salah atau 1 . Berdasarkan metode penskorannya. yaitu uraian objektif dan uraian non-objektif. maka skala yang disusun disesuaikan dengan tingkatan kemampuan peserta didik yang akan diuji. Bentuk uraian non-objektif adalah suatu soal yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep menurut pendapat masing-masing peserta didik. Untuk mengurangi tingkat kesubjektifan dalam pemberian skor ini. untuk memudahkan dalam penulisan soal bentuk pilihan ganda. Bentuk uraian objektif adalah suatu soal atau pertanyaan yang menuntut sehimpunan jawaban dengan pengertian/konsep tertentu. sehingga penskorannya sukar untuk dilakukan secara objektif.penskorannya. . Penulis soal harus dapat merumuskan setepat-tepatnya pedoman penskorannya karena kelemahan bentuk soal uraian terletak pada tingkat subyektivitas penskorannya. maka dalam menentukan perilaku yang diukur dibuatkan skala. bentuk uraian diklasifikasikan menjadi 2. Oleh karena itu.

Untuk keterampilan bahasa. Untuk memudahkan pengelolaan. Pokok soal jangan mengandung pernyataan yang bersifat negative ganda. c. Rumusan pokok soal dan pilihan jawaban harus merupakan pernyataan yang diperlukan saja. Artinya soal harus menanyakan perilaku dan materi yang hendak diukur sesuai dengan rumusan indikator dalam kisi-kisi. 1. b. Soal harus sesuai dengan indikator. satu soal hanya mempunyai satu kunci jawaban. Hal ini untuk mencegah terjadinya kesalahan penafsiran peserta didik terhadap arti pernyataan yang dimaksud. kemampuan/ materi yang hendak diukur/ditanyakan harus jelas. 2. atau ungkapan yang dapat memberikan petunjuk ke arah jawaban yang benar. langkah ketiga menuliskan pengecohnya. Setiap soal harus mempunyai satu jawaban yang benar. Pengecoh harus bertungsi c. d. kelompok kata. Artinya. Artinya. dan perkembangan soal. perbaikan. pada pokok soal jangan sampai terdapat kata. Artinya apabila terdapat rumusan atau pernyataan yang sebetulnya tidak diperlukan. maka rumusan atau pernyataan itu dihilangkan saja. pada pokok soal jangan sampai terdapat dua kata atau lebih yang mengandung arti negatif. penggunaan negatif ganda diperbolehkan bila aspek yang akan diukur . tidak menimbulkan pengertian atau penafsiran yang berbeda dari yang dimaksudkan penulis. Setiap satu soal ditulis di dalam satu format Kaidah penulisan soal pilihan ganda adalah seperti berikut ini. Setiap butir soal hanya mengandung satu persoalan/gagasan b. maka soal ditulis di dalam format kartu soal. Konstruksi a. Materi a. Pokok soal harus dirumuskan secara jelas dan tegas. Pokok soal jangan memberi petunjuk ke arah jawaban yang benar. Artinya. Artinya.langkah kedua menuliskan kunci jawabannya.

Apabila soal bisa dijawab tanpamelihat gambar. tabel atau sejenisnya yang terdapat pada soal. dan sebaliknya. i.e. Penyusunan secara unit dimaksudkan untuk memudahkan peserta didik melihat pilihan jawaban. Kaidah ini diperlukan karena adanya kecenderungan peserta didik memilih jawaban yang paling panjang karena seringkali jawaban yang lebih panjang itu lebih lengkap dan merupakan kunci jawaban. Artinya dengan adanya pilihan jawaban seperti ini. Artinya. grafik. h. Ketergantungan pada soal sebelumnya menyebabkan peserta didik yang tidak dapat menjawab benar soal pertama tidak akan dapat menjawab benar soal berikutnya. Artinya pilihan jawaban yang berbentuk angka harus disusun dari nilai angka paling kecil berurutan sampai nilai angka yang paling besar. dan semua pilihan jawaban harus berfungsi. k. Rumusan pokok soal tidak menggunakan ungkapan atau kata yang bermakna tidak pasti seperti: sebaiknya. apa saja yang menyertai suatu soal yang ditanyakan harus jelas. diagram. atau tabel itu tidak berfungsi. j. grafik. penulisannya harus setara. dapat dimengerti oleh peserta didik. Gambar. grafik. maka secara materi pilihan jawaban berkurang satu karena pernyataan itu bukan merupakan materi yang ditanyakan dan pernyataan itu menjadi tidak homogen. f. Artinya. berarti gambar. Butir soal jangan bergantung pada jawaban soal sebelumnya. g. Demikian juga pilihan jawaban yang menunjukkan waktu harus disusun secara kronologis. terbaca. umumnya. semua pilihan jawaban harus berasal dari materi yang sama seperti yang ditanyakan oleh pokok soal. Pilihan jawaban yang berbentuk angka atau waktu harus disusun berdasarkan urutan besar kecilnya nilai angka atau kronologis. Pilihan jawaban harus homogen dan logis ditinjau dari segi materi. tabel. dan sejenisnya yang terdapat pada soal harus jelas dan berfungsi. kadang-kadang. wacana. . Pilihan jawaban jangan mengandung pernyataan “Semua pilihan jawaban di atas salah" atau "Semua pilihan jawaban di atas benar". Panjang rumusan pilihan jawaban harus relatif sama.

Pilihan jawaban jangan yang mengulang kata/frase yang bukan merupakan satu kesatuan pengertian. c. Letakkan kata/frase pada pokok soal. Semua itu dilakukan untuk tujuan memajukan kwalitas peserta didik. KESIMPULAN Untuk mengukur tingkat ketuntasan siswa dalam menerima pembelajaran. Bahasa yang digunakan harus komunikatif. Untuk memperoleh hasil tes yang maksimal perlu dilakukan beberapa jenis tes dengan pelaksanaanya melalui beberapa metode yang telah di syaratkan sebelumnya. Dengan pelaksanaannya sudah diatur dalam Undang – Undang.3. terutama siswa SMK perlu diadakan penilaian berbasis kompetensi. . sehingga pernyataannya mudah dimengerti warga belajar/peserta didik. Bahasa/budaya a. b. (3) anak kalimat. dan c) pemakaian ejaan: (1) penulisan huruf. (2) penulisan kata. Kaidah bahasa Indonesia dalam penulisan soal di antaranya meliputi: a) pemakaian kalimat: (1) unsur subyek. (2) penggunaan tanda baca. Setiap soal harus menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. (2) unsure predikat. b) pemakaian kata: (1) pilihan kata.

Yang menguraikan tata cara penulisan dan pelaksanaan soal berbasis kompetensi. tentang penulisan butir – butir soal kompetensi. Semoga makalah ini berguna baik bagi diri kami sendiri maupun bagi seluruh mahasiswa FKIP Universitas Sebelas Maret juga Seluruh masyarakat yanga berkecimpung di dunia pendidikan Kami sadar bahwa makalah kami belum sempurna dan masih banyak kekurangan. Untuk itu kami meminta maaf sebesar – besarnya jika terjadi kesalahan dalam penulisannya. .PENUTUP Demikian makalah dari kami. Sekian dari kami. dan kami ucapkan banyak terima kasih.

com  www.com .com  www.pdfsearchengine.wikipedia.co.SUMBER REFERENSI  www.google.id  www.indowebster.

MSi Disusun Oleh : Wono Suselo Hidayah Triwijaya P K1507006 PENDIDIKAN TEHNIK DAN KEJURUAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2009 .MAKALAH PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI SMK Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Evaluasi Pengajaran Yang Diampu Oleh : AG Thamrin SPd.