MAKALAH DERET TAK HINGGA, UJI KEKONVERGENAN DERET, DERET TAYLOR DAN DERET MACLAURIN

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah: KalkulusLanjut 1 Dosen Pengampu: Dra. Emi PujiastutiM.Pd

DisusunOleh: Kelompok 9 1. NovianaPramudiyanti 2. JenyRahmawati 3. Adi Tri Arifin 4. SantiNoviyanti 5. DevySeptianaIrawati 4101409071 4101409079 4101409087 4101409076 4101409131

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2010 1
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

BAB I PENDAHULUAN

A.

LATAR BELAKANG Pemahaman tentang definisi, teorema, dan konsep-konsep mengenai Deret tak hingga, Uji kekonvergenan deret, Deret Taylor, dan Deret Maclaurin sangat penting untuk dipelajari. Beserta dengan operasi dari deret-deret tersebut. Karena materi ini merupakan pengantar untuk materi Kalkukus Lanjut 2 yang akan kita pelajari selanjutnya.

B.

RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana konsep deret tak hingga? 2. Bagaimana konsep uji kekonvergenan deret? 3. Bagaimana konsep deret Taylor dan deret Maclaurin? 4. Bagaimana deret Maclaurin yang penting? 5. Bagaimana operasi terhadap deret-deret di atas?

C.

TUJUAN PENULISAN Tujuan penulisan makalah ini adalah unutk memenuhi tugas mata kuliah Kalkulus Lanjut 1 serta sebagai bahan pembelajaran dan referensi.

2
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

BAB II
DERET TAK HINGGA, UJI KEKONVERGENAN DERET, DERET TAYLOR, DAN DERET MACLAURIN

A. PENGANTAR a) Deret Berhingga Dan Deret Tak Hingga Dari setiap barisan bilangan dapat di buat suatu barisan baru dengan menjumlahkan suku-sukunya secara parsial. Misalnya pada barisan dengan suku-suku
a1 , a2 , a3 , a4  dapat dibentuk ”jumlah parsial” berikut.

Jumlah satu suku pertama adalah S1  a1 Jumlah dua suku pertama adalah S 2  a1  a2 Jumlah tiga suku pertama adalah S3  a1  a2  a3 Jumlah empat suku pertama adalah S 4  a1  a2  a3  a4 Pada umumnya, sebuah deret berhingga dinyatakan dalam bentuk:
a1  a2  a3  a4    an , dimana an adalah bilangan atau fungsi yang diberikan oleh

rumus. Sedangkan sebuah deret tak hingga dapat dinyatakan dalam bentuk:
a1  a2  a3  a4    an   Tiga titik pada akhir bentuk di atas mempunyai arti

bahwa deret tersebut tidak akan pernah berhenti. Kita dapat menuliskan deret pada bentuk yang lebih pendek dengan menggunakan bentuk penjumlahan ∑ berikut dengan rumus untuk suku ke n. Contohnya adalah sebagai berikut: a). 1  2  3  4    n     n 2
2 2 2 2 2 n 1 

(dibaca: jumlah dari n2 dari n = 1 sampai )
x  x2 
 x3 (1) n1 x n (1) n 1 x n     2 (n  1)! n 1 ( n  1)!

b).

(dibaca: jumlah dari

(1) n 1 x n dari n = 1 sampai ) (n  1)!

3
Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9

a)... suatu contoh deret adalah: ∞ 𝑛 =1 sin 𝑛𝑥 sin 𝑥 sin 4𝑥 sin 3𝑥 = + + +⋯ 𝑛2 1 4 9 Ada banyak deret.. namun pada bagian ini kita akan menjelaskan sebuah deret di mana suku ke n adalah perkalian konstanta a dengan xn atau perkalian konstanta a dengan (x . dengan Un sebuah bilangan. Hal ini disebut dengan deret pangkat. deret pangkat dapat dinyatakan dalam bentuk: a n 0  n x n  a0  a1 x  a 2 x 2  a3 x 3   Atau a n 0  n ( x  a) n  a0  a1 ( x  a)  a2 ( x  a) 2  a3 ( x  a) 3   dimana an adalah konstanta. 1  4 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 .. karena suku-sukunya adalah perkalian pangkat dari x atau (x . Sekarang kita akan mempelajari deret fungsi suatu deret yang berbentuk ∑ Un (x).b) Deret Pangkat Hingga saat ini kita telah mempelajari deret-deret konstanta yang berbentuk ∑ Un. Berikut adalah beberapa contoh deret pangkat: a). 1 x x x x2 x3 (  x) n    n  2 4 8 2 x2 x3 x4 (1) n 1 x n     2 3 4 n x3 x5 x7 (1) n1 x 2 n1     3! 5! 7! (2n  1)! ( x  2) 2  ( x  2) 2 3  .  ( x  2) n n 1  .a)n. d). Dari definisi di atas. b). c).

tetapi berikut ini kita akan melihat bahwa deret harmonik berganti tanda bersifat konvergen. ∞ 𝑆 𝑛 =0 ∞ 𝑛 =1 𝐷𝑥 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = 𝑥 ∞ 𝑛 =1 0 ∞ 𝑛 −1 𝑛 =1 𝑛𝑎𝑛 𝑥 = 𝑎1 + 2𝑎2 𝑥 + 3𝑎3 𝑥 2 + ⋯ 𝑡 𝑑𝑡 = 𝑎𝑛 𝑡 𝑛 𝑑𝑡 = 𝑎 𝑛 ∞ 𝑛 +1 𝑛 =0 𝑛 +1 𝑥 1 1 1 = 𝑎0 𝑥 + 𝑎1 𝑥 2 + 𝑎2 𝑥 3 + 𝑎3 𝑥 4 + ⋯ 2 3 4 c) Deret Berganti Tanda Deret berganti tanda (alternating series). Sebuah contoh yang penting adalah deret harmonik berganti tanda (alternating harmonic series) 1 1 1 1− + − +⋯ 2 3 4 Kita telah melihat bahwa deret harmonik divergen. TEOREMA Andaikan S(x) adalah jumlah sebuah deret pangkat pada sebuah selang I. Jadi: ∞ 𝑆 𝑥 = 𝑛 =0 𝑎𝑛 𝑥 𝑛 = 𝑎0 +𝑎1 𝑥+𝑎2 𝑥 2 +𝑎3 𝑥 3 + ⋯ Maka apabila x ada di dalam I. kesalahan yang dibuat dengan menggunakan jumlah 𝑠𝑛 dari 𝑛 suku pertama untuk menghampiri jumlah 𝑆 dari deret tersebut tidak lebih dari 𝑎𝑛 +1 .Pendiferensialan dan Pengintegralan suku demi suku. Jika lim𝑛 →∞ 𝑎𝑛 = 0. 𝑆 𝑥 = 2. Di samping itu. 1. Teorema Uji Deret Berganti Tanda Misalkan 𝑎1 − 𝑎2 + 𝑎3 − 𝑎4 + ⋯ Adalah deret berganti dengan 𝑎𝑛 > 𝑎𝑛 +1 > 0. maka deret tersebut konvergen. berlakulah. 5 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . yaitu deret yang berbentuk 𝑎1 − 𝑎2 + 𝑎3 − 𝑎4 + ⋯ di mana 𝑎𝑛 > 0 untuk seluruh 𝑛.

sehingga: 𝑥 𝑥 + 𝑥 3 + 𝑥 5 + 𝑥 7 + 𝑥 9 + ⋯ = 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑥 < 1. (1 + 𝑥 2 ) 6 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . Jadi jika 𝑟 > 1 maka ∞ 𝑘 𝑘 =0 𝑟 divergen. Dengan demikian untuk 𝑟 > 1. Contoh diatas merupakan bukti teorema berikut Teorema Jika x adalah bilangan real dimana 𝑥 > 1 maka deret geometri konvergen dan mempunyai jumlah (1−𝑥 ). ∞ 𝑘 𝑘 =0 𝑟 ∞ 𝑘 =0 1 Contoh: Perhatikan Deret Geometri = ∞. Dengan ∞ 𝑘 𝑘 =0 𝑟 demikian jika 𝑟 < 1 maka = 1−𝑟 . kita dapat memperoleh jumlah n suku pertama adalah Sn=a1+a2+a3+a4+…+an= dikatakan bahwa deret takhingga ini dituliskan dengan ∞ n=1 anjuga dikatakan ∞ n=1 an= n k=1 ak Jika ada suatu bilangan real S sedemikian hingga lim𝑛 →∞ 𝑆𝑛 = 𝑆 maka ∞ n=1 ankonvergen dan mempunya jumlah S. Jadi deret geometri dengan rasio r=1 1 a) Jika r=1 jelas bahwa deret adalah divergen. Hal S. 1 c) Jika r > 1 maka lim𝑛 →∞ 𝑟 𝑛 +1 = ∞ dan jika r <-1 maka nilai lim𝑛→∞ 𝑟 𝑛 +1 tidak ada.B. Deret geometri ini penting karena terkadang dapat dipakai untuk menentukan jumlah suku-suku deret lain seperti contoh-contoh berikut. b) Jika 𝑟 < 1 berlaku lim𝑛→∞ 𝑟 𝑛 +1 = 0 maka lim𝑛 →∞ 𝑆𝑛 = 1−𝑟 . 1) Penggantian x dengan x2 diperoleh: 1 + 𝑥 2 + 𝑥 4 + 𝑥 6 + 𝑥 8 + ⋯ = 1 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑥 < 1.lim𝑛→∞ 𝑟 𝑛 +1 tidak ada. (1 − 𝑥 2 ) 1 ∞ 𝑘 𝑘 =0 𝑥 2) Untuk menghitung jumlah suku-suku dengan pangkat ganjil diperoleh dengan mengalikan setiap sukunya dengan x. Sebaliknya jika lim𝑛→∞ 𝑆𝑛 divergen maka deret divergen. UJI KEKONVERGENAN DERET Dari penjelasan sebelumnya.

sehingga perlu adanya suatu uji kekonvergenan yang tidak menggunakan jumlah parsialnya. Bukti Misalkan 𝑆𝑛 = 𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯ + 𝑎𝑛 dan lim𝑛 →∞ 𝑆𝑛 = 𝑆. Teorema (Uji Kedivergenan) Jika deret ∑ak konvergen. Karena 𝑎𝑘 = 𝑆𝑘 − 𝑆𝑘−1 maka lim𝑘→∞ 𝑎𝑘 = lim𝑘→∞ (𝑆𝑘 − 𝑆𝑘−1 ) = lim𝑘→∞ 𝑆𝑘 − lim𝑘→∞ 𝑆𝑘−1 = 𝑆 − 𝑆 = 0. Terbukti. seperti deret geometri.” 7 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . (1 + 𝑥 2 ) 1 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑥 < 1.3) Jika x diganti dengan –x diperoleh: 1 − 𝑥 + 𝑥 2 − 𝑥 3 + 𝑥 4 − ⋯ = 4) Penggantian x dengan –x2 diperoleh: 1 − 𝑥 2 + 𝑥 4 − 𝑥 6 + 𝑥 8 − ⋯ = 5) Penggantian x dengan 2x diperoleh: 1 + 4𝑥 2 + 16𝑥 4 + ⋯ + 4𝑘 𝑥 2𝑘 + ⋯ = Semua deret yang berbentuk 1 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 2𝑥 < 1. (1 − 4𝑥 2 ) 1 𝑑𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑥 < 1. a2 . 1) Deret dengan suku-suku positif Kekonvergenan suatu deret khusus ∑ak ditentukan dengan cara menyelidiki apakah barisan jumlah parsial Sn mempunyai limit untuk𝑛 → ∞. (1 + 𝑥 ) 𝑎𝑘 𝑥𝑘 dinamakan Deret Kuasa. Teorema ini hanya digunakan untuk membuktikan kedivergenan suatu deret yakni dengan memanfaatkan kontraposisisnya yakni. a3 . a4  masing-masing disebut koefisien dari deret kuasa tersebut. “jika lim𝑘→∞ 𝑎𝑘 ≠ 0 maka deret Teorema 𝑎𝑘 divergen. Dalam deret khusus. maka lim𝑘→∞ 𝑎𝑘 = 0. Pada umumnya rumus untuk Sn sukar dicari. jumlah parsial Sn dapat dirumuskan sehingga limit Sn untuk 𝑛 → ∞ mudah ditentukan. Dalam hal ini merupakan peubah sedangkan a1 .

Karena 𝑆𝑛 ≥ 𝑆𝑛−1 Sebaliknya apabila deret berarti barisan Sn merupakan barisan tak turun dan terbatas atas S. y a1 a2 a3 a4 a5 a6 6 y=f(x) x 1 2 3 4 5 8 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . 𝑎𝑘 konvergen berarti lim𝑛→∞ 𝑆𝑛 = 𝑆.Andaikan 𝑎𝑘 ≥ 0 untuk setiap 𝑘 ≥ 1 maka deret jika barisan jumlah parsial Sn terbatas atas. Bukti 𝑎𝑘 konvergen jika dan hanya Andaikan barisan Sn terbatas atas. Akibatnya barisan Sn konvergen sehingga deret 𝑎𝑘 juga konvergen. maka < ∞ 1 𝑘 =1 𝑘 ! ≤ ∞ 1 𝑘 =1 2 𝑘 =1 Dengan demikian barisan Sn terbatas atas dan berdasarkan teorema di atas maka deret ∞ 1 𝑘 =1 𝑘 ! konvergen. Akibatnya karena 𝑆𝑛 = 1 𝑛 𝑘 =1 𝑘 ! 1 1 ∞ 1 𝑘 =1 2 𝑘 ∞ 1 𝑘 =1 𝑘 !. Misalkan terdapat fungsi turun dan kontinu f(x) untuk x≥1 sedemikian hingga f(k)=a k. 2) Uji Integral Misalkan deret ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 semua suku-sukunya tidak negative. Terbukti Contoh Kita akan menentukan kekonvergenan deret berlaku𝑘 ! ≤ (2)𝑘−1 . Untuk setiap bilangan asli k = 1. Karena 𝑆𝑛 = 𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯ + 𝑎𝑛 dan 𝑎𝑘 ≥ 0 maka Sn adalah barisan tak turun dan terbatas atas. Posisi ak dan grafik fungsi f(x) digambarkan sebagai berikut.

Contoh Deret-p berbentuk Jika p≠1 diperoleh 1 ∞ 𝑘 =1 𝑘 𝑝 .3. misalkan ∞ 1 ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 𝑥 𝑑𝑥 terbatas atas dimana f(x) ≥ 0. Maka terdapat hubungan ∞ 𝑎2 + 𝑎3 + 𝑎4 + ⋯ ≤ Oleh karena itu 1) Jika ∞ 𝑓 1 1 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 ≤ 𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯ 𝑥 𝑑𝑥 konvergen. Sehingga karena deret 𝑎2 + 𝑎3 + 𝑎4 + ⋯ naik. Perolehan ini secara tegas dapat dinyatakan dalam teorema berikut. Teorema Diketahui fungsi turun dan kontinu f(x) ≥ 0 untuk x ≥ 1. Misalkan f(k)=ak untuk setiap k=1. Akibatnya 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 konvergen. Misalkan p bilangan positif. Ambil fungsi kontinu f(x)=x-p. 9 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . b) 𝑎2 + 𝑎3 + 𝑎4 + ⋯ = jumlah semua luas daerah persegi panjang yang berada di bawah kurva y=f(x) pada interval [1. maka deret tersebut konvergen.… maka berlaku ∞ 1 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 konvergen jika dan hanya jika ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 konvergen.∞). misalkan ∞ 𝑓 1 𝑥 𝑑𝑥 = 𝐿. maka𝑎2 + 𝑎3 + 𝑎4 + ⋯ ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 merupakan terbatas atas.2. = 𝐾 .∞). c) 𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯ = jumlah semua luas daerah persegi panjang (dengan batas bawah sumbu x dan batas atas ruas garis di atas kurva y=f(x)) pada interval [1.∞). maka ∞ 𝑓 1 konvergen.Kemudian a) ∞ 1 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 = luas daerah dibawah kurva y=f(x) di kuadran I pada interval [1. Akibatnya deret 2) Jika deret ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 juga konvergen.

Penghapusan beberapa suku pertama dari suatu deret tidak mempengaruhi kekonvergenan deret tersebut. Dalam uji banding. misalnya dengan batas atas K. hal ini berarti Sn konvergen karena barisan Sn ini monoton naik dan terbatas atas dengan batas atas MK.∞ ∞ 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 = 1 1 𝑥 −𝑝 𝑑𝑥 = 1 1 − 𝑝 𝑥→∞ lim 𝑥1−𝑝 − 1 Karena lim𝑥→∞ 𝑥 −𝑝 = 0 untuk p>1 sedangkan lim𝑥→∞ 𝑥 −𝑝 = ∞ untuk p<1 maka dapat disimpulkan bahwa deret Jika p=1diperoleh ∞ ∞ 1 ∞ 𝑘 =1 𝑘 𝑝 konvergen bila p>1 dan divergen bila p<1. Karena 𝑎𝑘 ≤ 𝑀𝑏𝑘 untuk setiap k maka 𝑆𝑛 ≤ 𝑀𝑇𝑛 . Jika ada bilangan positif M sedemikian hingga 𝑎𝑘 ≤ 𝑀𝑏𝑘 untuk setiap k. Sehingga teorema di atas juga berlaku untuk n≥N. Dengan demikian deret Apabila 𝑎𝑘 konvergen. Jika Jika 𝑏𝑘 konvergen maka 𝑎𝑘 divergen maka 𝑎𝑘 konvergen. Apabila 𝑏𝑘 konvergen berarti barisan Tn terbatas atas. 10 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . Teorema Andaikan 𝑎𝑘 ≥ 0 dan 𝑏𝑘 ≥ 0 untuk semua 𝑘 ≥ 1. ini berarti Tn divergen sehingga Terbukti. Hal 𝑏𝑘 divergen. 𝑏𝑘 divergen. ii. 𝑓 𝑥 𝑑𝑥 = 1 1 1 ∞ 𝑘 =1 𝑘 𝑝 1 𝑑𝑥 = ∞ 𝑥 Dengan demikian bila p=1 maka deret 3) Uji Banding divergen. maka i. Bukti Misalkan 𝑆𝑛 = 𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯ + 𝑎𝑛 dan 𝑇𝑛 = 𝑏1 + 𝑏2 + 𝑏3 + ⋯ + 𝑏𝑛 . Dengan demikian 𝑆𝑛 ≤ 𝑀𝐾 untuk setiap n. deret yang akan ditentukan kekonvergenannya dibandingkan dengan deret lain yang sudah diketahui konvergen atau divergen. 𝑎𝑘 divergen berarti 𝑎𝑘 =∞=lim𝑛 →∞ 𝑀𝑇𝑛 sehingga lim𝑛 →∞ 𝑇𝑛 = ∞.

Untuk setiap k berlaku 2𝑘 2 −1 ≥ 2𝑘 maka 𝑘 ≥ 2 2𝑘 − 1 ∞ 𝑘 1 ∞ 𝑘 =1 𝑘 =1 1 1 = 2𝑘 2 ∞ 𝑘 =1 1 𝑘 juga divergen. Karena Deret Harmonik ∞ 1 𝑘 =1 𝑘 divergen maka 𝑘 ∞ 𝑘 =1 2𝑘 2 −1 Teorema (Uji Banding limit) Andaikan 𝑎𝑘 ≥ 0 dan 𝑏𝑘 ≥ 0 untuk semua 𝑘 ≥ 1 dan lim𝑘→∞ 𝑏 𝑘 = L. 𝑘 𝑎 i. Jika 𝑎𝑘 konvergen maka 2 𝐿 𝑏𝑘 < 𝑎𝑘 < 3𝐿 2 𝑏𝑘 𝑏𝑘 konvergen sehingga 𝑏𝑘 konvergen. Bukti Karena lim𝑘→∞ 𝑏 𝑘 = L berarti untuk setiap 𝜀 = 2 dapat ditentukan bilangan bulat 𝑘 𝑎 𝐿 positif N sedemikian hingga untuk setiap k>N berlaku 𝑎𝑘 𝐿 𝐿 3𝐿 − 𝐿 < ⇔ 𝑏𝑘 < 𝑎𝑘 < 𝑏 𝑏𝑘 2 2 2 𝑘 Akibatnya 𝐿 2 Dengan demikian i.Contoh Perhatikan deret 𝑘 ∞ 𝑘 =1 2𝑘 2 −1. 11 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . maka 𝑏𝑘 konvergen ii. Jika L=0 dan Teorema diatas mengatakan bahwa apabila L berupa suatu bilangan real maka kedua deret bersama-sama konvergen atau divergen. Jika 0<L<∞ maka 𝑎𝑘 konvergen jika dan hanya jika Atau dengan kata lain 𝑎𝑘 divergen jika dan hanya jika 𝑏𝑘 divergen 𝑎𝑘 konvergen 𝑏𝑘 konvergen.

𝑎𝑘 konvergen maka 𝑢𝑘 𝑎𝑘 konvergen maka 𝑎𝑘 juga konvergen. Artinya pengujian dengan cara ini gagal. Pembuktian teorema tersebut menggunakan lemma berikuy. Contoh Kita akan melihat kekonvergenan yang konvergen. Teorema (Uji Hasil Bagi Mutlak) Misalkan deret i. Karena 0 ≤ 𝑢𝑘 − 𝑎𝑘 dan konvergen. iii. Lemma Jika Bukti Ambil 𝑢𝑘 = 𝑎𝑘 + 𝑎𝑘 . maka deret Jika 𝜌 > 1. Karena L=lim𝑘→∞ 𝑏 𝑘 = lim𝑘→∞ 𝑘 2 +𝑘 = 1 (0 < 𝐿 < ∞) 𝑘 1 𝑘 2 dengan memakai Deret Teleskopis 1 𝑘 2 +𝑘 𝑎 1 Maka deret 1 𝑘 2 juga konvergen.ii. Terbukti. 𝑎𝑘 divergen. 𝑎𝑘 mungkin konvergen dan mungkin 𝑎 𝑘 +1 𝑎 𝑘 = 𝜌 Jika 𝜌 < 1. Jika 𝑏𝑘 konvergen maka 3𝐿 2 𝑏𝑘 konvergen sehingga 𝑎𝑘 konvergen. Terbukti. Teorema berikut dinamakan Uji Hasil Bagi Mutlak yang sangat penting dan sangat luas pemakaiannya. 𝑎𝑘 semua sukunya tak nol dan lim𝑘→∞ 𝑎𝑘 konvergen. maka deret divergen. maka deret Tetapi jika 𝜌 = 1. Selanjutnya 𝑎𝑘 = 𝑢𝑘 − 𝑎𝑘 sehingga 𝑎𝑘 = 𝑢𝑘 − 𝑎𝑘 konvergen. Bukti 12 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . ii.

𝑎𝑁+2 < 𝑟 𝑎𝑁+1 < 𝑟 2 𝑎𝑁 . C. Akibatnya 𝑎𝑁 +1 < 𝑟 𝑎𝑁 .a? 13 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . Karena lim𝑘→∞ > 1 maka dapat dipilih bilangan asli N 𝑎 𝑘 +1 𝑎 𝑘 sedemikian hingga untuk setiap 𝑘 ≥ 𝑁 berlaku > 1. 𝑎𝑁 +𝑚 < 𝑟 𝑚 𝑎𝑁 . Karena = 𝜌 maka dapat dipilih bilangan asli N sedemikian hingga 𝑎 𝑘 +1 𝑎 𝑘 untuk setiap 𝑘 ≥ 𝑁 berlaku < 𝑟. Dapatkah fungsi itu digambarkan sebagai suatu deret pangkat dari x atau. 𝑎𝑘 = 𝑎1 + 𝑎2 + 𝑎3 + ⋯ + 𝑎𝑁−1 + 𝑎𝑘 konvergen. 𝑎𝑁 +2 > 𝑎𝑁 +1 > 𝑎𝑁 .…. 𝑎𝑁 +3 > 𝑎𝑁 . Kemudian 3𝑘 𝑘 +1 = lim𝑘→∞ ÷ ! 3𝑘 𝑘 ! = lim𝑘→∞ 3 𝑘 +1 = 0(<1) Dengan demikian deret tersebut konvergen. Berarti lim𝑘→∞ 𝑎𝑘 ≠ 0 (>aN atau tidak ada)sehingga deret iii.… Jadi untuk setiap 𝑘 ≥ 𝑁 maka berlaku 𝑎𝑘 > 𝑎𝑁 > 0. lebih umum dari x . Misalkan 𝜌 > 1.… Selanjutnya ∞ ∞ ∞ ∞ 𝑎𝑘 = 𝑘 =𝑁 𝑚 =0 𝑎𝑁+𝑚 < 𝑚 =0 𝑟 𝑚 𝑎𝑁 = 𝑎𝑁 𝑚 =0 𝑟 𝑚 Karena 0<r<1 maka deret geometri ∞ 𝑘 =𝑁 ∞ 𝑚 𝑚 =0 𝑟 konvergen akibatnya deret 𝑎𝑘 konvergen. Contoh Perhatikan deret 𝜌 = lim𝑘→∞ 𝑎 𝑘 +1 𝑎 𝑘 ∞ 3𝑘 𝑘 =1 𝑘 ! . Selanjutnya 𝑎𝑁 +1 > 𝑎𝑁 . 𝑎 𝑘 +1 𝑎 𝑘 ∞ 𝑘 =𝑁 Dengan demikian deret ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 konvergen dan akibatnya ii. Ambil 𝑟 = lim𝑘→∞ 𝑎 𝑘 +1 𝑎 𝑘 𝜌 +1 2 dalam hal ini 0 ≤ 𝜌 < 𝑟 < 1. DERET TAYLOR Diketahui sebuah fungsi misalnya sin 𝑥 atau𝑐𝑜𝑠 2 𝑥 . Misalkan 𝜌 < 1.i. konvergen sedangkan keduanya divergen dan deret-p 1 𝑘 2 mempunyai nilai𝜌 = 1. 𝑎𝑁 +3 < 𝑟 3 𝑎𝑁 . Deret Harmonik 1 𝑘 ∞ 𝑘 =1 𝑎𝑘 divergen.

Maka menurut teorema sebelumnya tentang pendeferensialan deret-deret. maka: 14 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 3 +⋯ . Hal ini kita tuangkan dalam teorema berikut: TEOREMA KETUNGGALAN Andaikan f memenuhi uraian: 𝑓 𝑥 = 𝑐0 + 𝑐1 𝑥 − 𝑎 + 𝑐2 (𝑥 − 𝑎 )2 + 𝑐3 𝑥 − 𝑎 untuk semua x dalam suatu selang sekitar a. kita artikan f(0) sebagai f(a) dan 0! = 1.a yang berbeda. Hal ini membuktuikan pula bahwa fungsi suatu pangkat dalam x . 𝑐0 = 𝑓(𝑎) 𝑐1 = 𝑓′(𝑎) 𝑐2 = 𝑐3 = Sehingga 𝑐𝑛 = 𝑓′′(𝑎) 2! 𝑓′′′(𝑎) 3! 𝑓 𝑛 (𝑎 ) 𝑛 ! Agar rumus untuk 𝑐𝑛 itu berlaku juga untuk n = 0. Jadi koefisien-koefisien 𝑐𝑛 ditentukan oleh fungsi f .Jadi adakah bilangan-bilangan 𝑐0 + 𝑐1 𝑥 − 𝑎 + 𝑐2 (𝑥 − 𝑎)2 + 𝑐3 𝑥 − 𝑎 pada sebuah selang disekitar x = a Andaikan penggambaran yang demikian mungkin. kita peroleh berturut-turut: 𝑓 ′ 𝑥 = 𝑐1 + 2𝑐2 𝑥 − 𝑎 + 3𝑐3 (𝑥 − 𝑎)2 + 4𝑐4 𝑥 − 𝑎 𝑓 ′′ 𝑥 = 2! 𝑐2 + 3! 𝑐3 (𝑥 − 𝑎 ) + 4 ∙ 3 ∙ 𝑐4 𝑥 − 𝑎 2 3 3 +⋯ +⋯ +⋯ 𝑓 ′′′ 𝑥 = 3! 𝑐3 + 4! ∙ 𝑐4 𝑥 − 𝑎 + 5 ∙ 4 ∙ 3 ∙ 𝑐5 (𝑥 − 𝑎 )2 + ⋯ ⋮ Apabila kita substitusikan x = a dan menghitung cn kita peroleh.

Jika hampiran f (x) dilakukan dalam interval dengan pusat x = a.…. 𝑝′′′(𝑎) = 3! 𝑐3. 𝑝(𝑘 ) (𝑎) = 𝑘! 𝑐𝑘 . 𝑐𝑘 . Polinomial p (x) akan berbentuk 𝑝 𝑥 = 𝑐0 + 𝑐1 (𝑥 − 𝑎) + 𝑐2 𝑥 − 𝑎 2 + ⋯ + 𝑐𝑘 (𝑥 − 𝑎)𝑘 + ⋯ (**) Nilai koefisien 𝑐0 . ⋯ . ⋯ . Definisi Jika fungsi f dapat diturunkan secara terus-menerus di x = a. 15 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . 𝑐𝑘 = .𝑐𝑛 = 𝑓 𝑛 (𝑎) 𝑛! Jadi suatu fungsi tidak dapat digambarkan oleh dua deret pangkat dari (x – a).⋯ 1! 2! 3! 𝑘 ! Jika hasil ini disubstitusikan ke dalam polynomial (**) didapat Deret Taylor di sekitar x = a seperti dinyatakan dalam definisi sebagai berikut. 3 .n maka haruslah: 𝑐0 = 𝑓 𝑎 . Hasil yang diperoleh nantinya disebut sebagai Deret Taylor. ⋯ dapat diperoleh dengan cara penurunan.⋯ .⋯ Agar 𝑝𝑘 𝑎 = 𝑓 𝑘 𝑎 untuk k = 1. maka p(x) dipilih sedemikian sehingga 𝑝𝑘 𝑎 = 𝑓 𝑘 𝑎 untuk k = 1 . 𝑐1 . Kita akan menguraikan polynomial yang berpusat pada x = a.3. 𝑐3 = . 𝑐1 = 𝑓′(𝑎) 𝑓 " (𝑎) 𝑓 ′′′ (𝑎) 𝑓 𝑘 (𝑎) .….2. 2 . 𝑝 𝑥 = 𝑓 𝑎 + 𝑓 ′ 𝑎 1! 𝑓 𝑘 𝑥 − 𝑎 + 𝑎 𝑥 − 𝑘 𝑓"(𝑎) 𝑥 − 𝑎 2! 𝑘 2 + 𝑓 ′′′ 𝑎 3! 𝑥 − 𝑎 3 +⋯ + 𝑘 ! +⋯ Seringkali ada baiknya menyatakan Deret Taylor dengan menggunakan notasi sigma sebagai berikut. 𝑐2 = . 𝑝"(𝑎) = 2! 𝑐2 . Sehingga diperoleh: 𝑝 𝑎 = 𝑐0 𝑝′ 𝑎 = 𝑐1. maka Deret Taylor dari fungsi f didefinisikan sebagai berikut.

DERET MAC LAURIN Deret Taylor dari sebuah fungsi riil atau fungsi kompleksf(x) yang terdiferensialkan takhingga dalam sebuah persekitaran sebuah bilangan riil atau kompleksa adalah deret pangkatyang dalam bentuk lebih ringkas dapat dituliskan sebagai : ∞ 𝑓 𝑛 𝑎 𝑛 =0 𝑛! (𝑥 − 𝑎)𝑛 16 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . maka 𝑓 𝑥 = 1 ⟹ 𝑓 1 = 1 = 0! 𝑥 1 ⟹ 𝑓 ′ 1 = −1 = −1! 𝑥 2 1 𝑓 ′ 𝑥 = − 𝑓 ′′ 𝑥 = 2 ⟹ 𝑓 ′′ 1 = 2 = 2! 𝑥 3 6 ⟹ 𝑓 ′′′ 1 = −6 = −3! 𝑥 4 𝑓 ′′′ 𝑥 = − ⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯⋯ 𝑓 𝑘 𝑥 = −1 𝑘 𝑘 ! 𝑥 𝑘 +1 ⟹ 𝑓 𝑘 1 = −1 𝑘 𝑘! Sehingga deret Taylornya adalah −1 𝑘 !(𝑥−𝑎 )𝑘 ∞ 𝑘 =0 𝑘 ! = ∞ 𝑘 =0 −1 𝑘 (𝑥 − 1)𝑘 = 1 − (𝑥 − 1)2 + (𝑥 − 1)3 + ⋯ D.∞ 𝑓 𝑘 𝑎 𝑘 =0 𝑘 ! = 𝑓 𝑎 + 𝑓 ′ 𝑎 𝑥 − 𝑎 + 1 𝑓"(𝑎) 𝑥 − 𝑎 2! 2 + ⋯+ 𝑓 𝑘 𝑎 𝑘 ! 𝑥 − 𝑎 𝑘 +⋯ Contoh Tentukan Deret Taylor untuk 𝑥 di sekitar x = 1 Jawab Ambil fungsi 𝑓 𝑥 = 𝑥 .

Ide awal dari deret MacLaurin adalah sebuah fungsi dapat dinyatakan dalam bentuk deret polinomial. 𝑥 = 0 Jadi. sehingga kita dapat 𝑎𝑛 = 1 𝑑𝑛 𝑓 𝑥 𝑛! 𝑑𝑥 𝑛 . kita dapat 𝑓 ′ 0 = 𝑎1 Kita turunkan fungsi tersebut sekali lagi 𝑓 ′′ 𝑥 = 2𝑎2 +(2. Turunan kenol dari f didefinisikan sebagai f itu sendiri. Dalam kasus khusus di mana a = 0.4)𝑎4 𝑥 2 + ⋯ Masukkan lagi x=0 dan kita dapat 𝑓 ′′ 0 = 2𝑎2 1 ′′ 𝑓 0 = 𝑎2 2 Ulangi lagi langkah yang selanjutnya. maka kita dapat 𝑓 ′ 𝑥 = 𝑎1 +2𝑎2 𝑥 + 3𝑎3 𝑥 2 +4𝑎4 𝑥 3 + ⋯ Dan jika kita memasukkan nilaix=0. Misalkan 𝑓 𝑥 = 𝑎0 + 𝑎1 𝑥 + 𝑎2 𝑥 2 + 𝑎3 𝑥 3 + ⋯ Jika kita memasukkan nilaix=0.dengan n! melambangkan faktorialn dan f (n)(a) melambangkan nilai dari turunan ke-n dari f pada titik a. dan (x − a)0 dan 0! didefinisikan sebagai 1. deret MacLaurin dapat ditulis dengan 𝑓 𝑥 = 𝑓 0 + 𝑓 ′ 0 𝑥 𝑥 2 𝑥 3 + 𝑓 ′′ 0 + 𝑓 ′′′ 0 +⋯ 1! 2! 3! 17 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . deret ini disebut juga sebagai Deret Maclaurin.3)𝑎3 𝑥 + (3. maka kita dapatkan 𝑓 0 = 𝑎0 Kemudian kita turunkan fungsi tersebut terhadapx.

Jadi lim𝑛→∞ 𝑅𝑛 (𝑥) = 0 E. DERET BINOMIAL Kita mengenal Rumus Binomial. oleh karena itu 𝑥 𝑛 𝑛 ! adalah suku ke-n sebuah deret yang konvergen. Taylor membuat deret yang lebih umum. Penyelesaian 𝑓 𝑥 = sin 𝑥 𝑓 ′ 𝑥 = cos 𝑥 𝑓 ′′ 𝑥 = − sin 𝑥 𝑓 0 = 0 𝑓 ′ 0 = 1 𝑓 ′′ 𝑥 = 0 𝑓 ′′′ 𝑥 = − cos 𝑥 𝑓 ′′′ 𝑥 = −1 𝑓 4 𝑥 = sin 𝑥 ⋮ 𝑓 4 0 =0 ⋮ Sehingga. tapi angka yang dimasukkan bukan0.Tapi tidak semua fungsi bisa dinyatakan dalam bentuk tersebut. yaitu bahwa untuk p bilangan bulat positif berlaku: 18 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . contohnya. tapi sebuah nilai𝑎. 𝑓 𝑥 = 1 𝑥 Untuk itu. 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 sin 𝑥 = 𝑥 − + + + ⋯ 3! 5! 7! Uraian deret ini akan berlaku untuk semua x asal dapat dibuktikan bahwa lim 𝑅𝑛 𝑥 = lim 𝑓 𝑛 +1 (𝑐 ) 𝑛 +1 𝑥 =0 𝑛→∞ (𝑛 + 1)! 𝑛 +1 𝑛→∞ sekarang 𝑓 |𝑅𝑛 (𝑥)| ≤ 𝑛 +1 𝑥 = cos 𝑥 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝑓 𝑥 = sin 𝑥 dan juga |𝑥 |𝑛 +1 (𝑛 +1)! 𝑥 𝑛 𝑛 ! Akan tetapi lim𝑛→∞ = 0. Contoh 1 Tentukan deret maclaurin untuk sin x dan buktikan bahwa deret itu menggambarkan sin x untuk semua x. Deret Taylor mirip dengan deret MacLaurin.

Kemudian 𝑓 𝑥 = 1 + 𝑥 𝑓′ 𝑥 = 𝑝 1 + 𝑥 𝑓′′ 𝑥 = 𝑝(𝑝 − 1) 1 + 𝑥 𝑓 𝑥 = 𝑝 𝑝 − 1 (𝑝 − 2) 1 + 𝑥 𝑝 𝑝−1 𝑝−2 𝑝−3 𝑓 0 = 1 𝑓′ 0 = 𝑝 𝑓′′ 0 = 𝑝(𝑝 − 1) 𝑓′′′ 0 = 𝑝(𝑝 − 1)(𝑝 − 2) ⋮⋮ Diperolehlah deret MacLaurin dalam teorema. DERET MACLAURIN YANG PENTING 1. Sehingga terbukti deret Binomial di atas. Dengan ini kita dapat menyusun teorema berikut: TEOREMA DERET BINOMIAL Untuk tiap bilangan riil p dan |x| < 1 berlaku 1 + 𝑥 Dengan 𝑝 =1+ 𝑝 𝑝 2 𝑝 3 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + ⋯ 2 3 1 𝑝 seperti telah didefinisikan diatas 𝑘 Bukti parsial.1 + 𝑥 dengan 𝑝 𝑝 𝑥 = 𝑘 𝑝 =1+ 𝑝 𝑝 𝑝 2 𝑥 + 𝑥 + ⋯ + 𝑝 𝑥 𝑝 2 1 𝑝−1 𝑝−2 ⋯(𝑝−𝑘 +1) 𝑘 ! Perhatikan bahwa symbol 𝑝 mempunyai arti untuk tiap bilangan riil p. asal saja k 𝑘 bulat positif. 1 1−𝑥 = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ − 1 < 𝑥 < 1 Bukti: Misal 1−𝑥 = 𝑓(𝑥) Jelas 𝑓 𝑥 = 1−𝑥 ⇒ 𝑓 0 = 1 19 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 1 1 . Andaikan 𝑓 𝑥 = 1 + 𝑥 𝑝 .

ln 1 + 𝑥 = 𝑥 − Bukti: 𝑥 2 2 + 𝑥 3 3 − 𝑥 4 4 + 𝑥 5 5 − ⋯ − 1 < 𝑥 ≤ 1 Misal ln 1 + 𝑥 = 𝑔(𝑥) Jelas 𝑔 𝑥 = ln 1 + 𝑥 ⇒ 𝑔 0 = 0 𝑔′ 𝑥 = (1+x) ⇒ 𝑔′ 0 = 1 𝑔′′ 𝑥 = − 𝑔′′′ 𝑥 = 2 1 1 −𝑥 2 1 1 −𝑥 3 1 ⇒ 𝑔′′ 0 = −1 ⇒ 𝑔′′′ 0 = 2 1 1 − 𝑥 4 𝑔′𝑣 𝑥 = −6 Deret MacLaurin untuk g(x) adalah: ⇒ 𝑔′𝑣 0 = −6 20 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 .𝑓 ′ 𝑥 = 1 1−𝑥 2 1 ⇒ 𝑓 ′ 0 = 1 ⇒ 𝑓 ′′ 0 = 2 ⇒ 𝑓 ′′′ 0 = 6 ⇒ 𝑓 ′𝑣 0 = 24 𝑓 ′′ (𝑥) = 2 𝑓 ′′′ 𝑥 = 6 1 −𝑥 3 1 1−𝑥 4 𝑓 ′𝑣 𝑥 = 24 1 1 −𝑥 5 Deret MacLaurin untuk f(x) adalah: 𝑓 𝑥 = 𝑓 0 + 𝑓 ′ 0 𝑥 + 𝑓 ′′ 0 2! 𝑥 2 + 𝑓 ′′′ 0 3! 𝑥 3+ 𝑓 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 4 + ⋯ 1 Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑓 𝑥 = 1−𝑥 adalah: 1 1−𝑥 = 1 + 1 ∙ 𝑥 + 2 ∙ 2! 𝑥 2 + 6 ∙ 3! 𝑥 3 + 24 ∙ 4! 𝑥 4 + ⋯ = 1 + 𝑥 + 2 𝑥 2 + 6 𝑥 3 + 24 𝑥 4 + ⋯ = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ 2 6 24 1 1 1 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑓 𝑥 = 1−𝑥 adalah: 1 = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ − 1 < 𝑥 < 1 1 − 𝑥 1 2.

𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + ⋯ Bukti: Misal 𝑒 𝑥 = 𝑘(𝑥) 21 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 1 1 .𝑔 𝑥 = 𝑔 0 + 𝑔′ 0 𝑥 + 𝑔 ′′ 0 2! 𝑥 2 + 𝑔 ′′′ 0 3! 𝑥 3+ 𝑔 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑔 𝑥 = ln 1 + 𝑥 adalah: ln 1 + 𝑥 = 0 + 𝑥 − 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 − 4! 𝑥 4 + ⋯ = 𝑥 − 2 𝑥 2 + 6 𝑥 3 − 24 𝑥 4 + ⋯ = 𝑥 − 𝑥 2 2 1 2 6 1 2 6 + 𝑥 3 3 − 𝑥 4 4 +⋯ Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑔 𝑥 = ln 1 + 𝑥 adalah: 𝑥 2 𝑥 3 𝑥 4 𝑥 5 ln 1 + 𝑥 = 𝑥 − + − + − ⋯ 2 3 4 5 3. 𝑡𝑎𝑛−1 𝑥 = 𝑥 − Bukti: Misal tan−1 𝑥 = 𝑕(𝑥) Jelas 𝑕 𝑥 = tan−1 𝑥 1 𝑥 3 3 − 1 < 𝑥 ≤ 1 − 1 ≤ 𝑥 ≤ 1 + 𝑥 5 5 − 𝑥 7 7 + 𝑥 9 9 −⋯ ⇒ 𝑕 0 = 0 𝑕′ 𝑥 = 1+x 2 = 1 − 𝑥 2 + 𝑥 4 − 𝑥 6 + 𝑥 8 + ⋯ ⇒ 𝑕′ 0 = 1 𝑕′′ 𝑥 = −2𝑥 + 4𝑥 3 − 6𝑥 5 + 8𝑥 7 + ⋯ 𝑕′𝑣 𝑥 = 24𝑥 − 120𝑥 3 + 336𝑥 5 + ⋯ 𝑕𝑣 𝑥 = 24 − 360𝑥 3 + 1680𝑥 4 + ⋯ Deret MacLaurin untuk h(x) adalah: 𝑕 𝑥 = 𝑕 0 + 𝑕′ 0 𝑥 + 𝑕′′ 0 2! 𝑕 ′′′ 0 3! ⇒ 𝑕′′ 0 = 0 0 𝑕′′′ 𝑥 = −2 + 12𝑥 2 − 30𝑥 4 + 56𝑥 6 + ⋯ ⇒ 𝑕′′′ = −2 ⇒ 𝑕′𝑣 0 = 0 ⇒ 𝑕𝑣 0 = 24 𝑕 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 2 + 𝑥 3+ 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑕 𝑥 = tan−1 𝑥 adalah: tan−1 𝑥 = 0 + 1 ∙ 𝑥 + 2! 𝑥 2 − 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + = 𝑥 − 6 𝑥 3 + 120 𝑥 3 + ⋯ = 𝑥 − 𝑥 3 3 2 24 0 2 0 24 5! 𝑥 5 + ⋯ + 𝑥 5 5 +⋯ Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑕 𝑥 = tan−1 𝑥 adalah: 𝑡𝑎𝑛−1 𝑥 = 𝑥 − 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 𝑥 9 + − + −⋯ 3 5 7 9 1 − 1 ≤ 𝑥 ≤ 1 4.

sin 𝑥 = 𝑥 − Bukti: Misal sin 𝑥 = 𝑙 (𝑥) Jelas 𝑙 𝑥 = sin 𝑥 𝑙 ′ 𝑥 = cos 𝑥 𝑙 ′′ 𝑥 = − sin 𝑥 𝑙 ′′′ 𝑥 = −cos 𝑥 𝑙 𝑥 = sin 𝑥 Deret MacLaurin untuk l(x) adalah: 𝑙 𝑥 = 𝑙 0 + 𝑙 ′ 0 𝑥 + 𝑙 ′′ 0 2! 𝑙 ′′′ 0 3! 𝑥 3 3! 1 1 1 1 2 1 3 1 4 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + ⋯ 2! 3! 4! + 𝑥 5 5! − 𝑥 7 7! + 𝑥 9 9! −⋯ ⇒ 𝑙 0 = 0 ⇒ 𝑙 ′ 0 = 1 ⇒ 𝑙 ′′ 0 = 0 ⇒ 𝑙 ′′′ 0 = −1 ⇒ 𝑙 ′𝑣 0 = 0 𝑙 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 2 + 𝑥 3+ 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑙 𝑥 = sin 𝑥 adalah: sin 𝑥 = 0 + 𝑥 + 2! 𝑥 2 − 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + 5! 𝑥 5 + 6! 𝑥 6 − 7! 𝑥 7 + 8! 𝑥 8 + ⋯ 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 𝑥 9 = 𝑥 − + − + − ⋯ 3! 5! 7! 9! Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑙 𝑥 = sin 𝑥 adalah: sin 𝑥 = 𝑥 − 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 𝑥 9 + − + −⋯ 3! 5! 7! 9! 22 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 0 1 0 1 0 1 0 .Jelas 𝑘 𝑥 = 𝑒 𝑥 𝑘 ′ 𝑥 = 𝑒 𝑥 𝑘 ′′ 𝑥 = 𝑒 𝑥 𝑘 ′′′ 𝑥 = 𝑒 𝑥 𝑘 ′𝑣 𝑥 = 𝑒 𝑥 Deret MacLaurin untuk k(x) adalah: 𝑘 𝑥 = 𝑘 0 + 𝑘 ′ 0 𝑥 + 𝑘 ′′ 0 2! ⇒ 𝑘 0 = 𝑒 0 = 1 ⇒ 𝑘 ′ 0 = 𝑒 0 = 1 ⇒ 𝑘 ′′ 0 = 𝑒 0 = 1 ⇒ 𝑘 ′′′ 0 = 𝑒 0 = 1 ⇒ 𝑘 ′𝑣 0 = 𝑒 0 = 1 𝑥 2 + 𝑘 ′′′ 0 3! 𝑥 3+ 𝑘 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑘 𝑥 = 𝑒 𝑥 adalah: 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + ⋯ Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑘 𝑥 = 𝑒 𝑥 adalah 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + 5.

cos 𝑥 = 1 − Bukti: 𝑥 2 2! + 𝑥 4 4! − 𝑥 6 6! + + 8! − ⋯ 𝑥 8 Misal cos 𝑥 = 𝑚(𝑥) Jelas 𝑚 𝑥 = cos 𝑥 𝑚′ 𝑥 = − sin 𝑥 𝑚′′ 𝑥 = − cos 𝑥 𝑚′′′ 𝑥 = sin 𝑥 𝑚′𝑣 𝑥 = cos 𝑥 Deret MacLaurin untuk m(x) adalah: 𝑚 𝑥 = 𝑚 0 + 𝑚′ 0 𝑥 + 𝑚 ′′ 0 2! ⇒ 𝑚 0 = 1 ⇒ 𝑚′ 0 = 0 ⇒ 𝑚′′ 0 = −1 ⇒ 𝑚′′′ 0 = 0 ⇒ 𝑚′𝑣 0 = 1 𝑚 ′′′ 0 3! 𝑚 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 2 + 𝑥 3+ 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑚 𝑥 = cos 𝑥 adalah: cos 𝑥 = 1 + 0 − 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + 5! 𝑥 5 − 6! 𝑥 6 + ⋯ =1− 1 2 1 4 1 6 𝑥 + 𝑥 − 𝑥 + ⋯ 2! 4! 6! 1 2 1 4 1 6 𝑥 + 𝑥 − 𝑥 + ⋯ 2! 4! 6! 1 0 1 0 1 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑚 𝑥 = cos 𝑥 adalah: cos 𝑥 = 1 − 7.6. cosh 𝑥 = 1 + Bukti: Fungsi sinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: sinh 𝑥 = Dan Fungsi cosinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: cosh 𝑥 = Misal cosh 𝑥 = 𝑛(𝑥) Jelas 𝑛 𝑥 = cosh 𝑥 𝑛′ 𝑥 = sinh 𝑥 𝑛′′ 𝑥 = cosh 𝑥 𝑛′′′ 𝑥 = sinh 𝑥 𝑛′𝑣 𝑥 = cosh 𝑥 Deret MacLaurin untuk n(x) adalah: 23 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 𝑥 2 2! + 𝑥 4 4! + 𝑥 6 6! + + 8! + ⋯ 𝑥 8 𝑒 𝑥 − 𝑒 −𝑥 2 𝑒 𝑥 + 𝑒 −𝑥 2 ⇒ 𝑛 0 = 1 ⇒ 𝑛′ 0 = 0 ⇒ 𝑛′′ 0 = 1 ⇒ 𝑛′′′ 0 = 0 ⇒ 𝑛′𝑣 0 = 1 .

𝑛 𝑥 = 𝑛 0 + 𝑛′ 0 𝑥 + 𝑛 ′′ 0 2! 𝑥 2 + 𝑛 ′′′ 0 3! 𝑥 3+ 𝑛 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk n 𝑥 = cosh 𝑥 adalah: cosh 𝑥 = 1 + 0 ∙ 𝑥 + 2! ∙ 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! ∙ 𝑥 4 + 5! 𝑥 5 + 6! ∙ 𝑥 6 + ⋯ =1+ 𝑥 2 𝑥 4 𝑥 6 + + +⋯ 2! 4! 6! 𝑥 2 𝑥 4 𝑥 6 𝑥 8 + + ++ +⋯ 2! 4! 6! 8! 1 0 1 0 1 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑛 𝑥 = cosh 𝑥 adalah: cosh 𝑥 = 1 + 8. sinh 𝑥 = 𝑥 + Bukti: 𝑥 3 3! + 𝑥 5 5! + 𝑥 7 7! + 𝑥 9 9! +⋯ Fungsi sinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: 𝑒 𝑥 − 𝑒 −𝑥 sinh 𝑥 = 2 Dan Fungsi cosinus hiperbolikus didefinisikan sebagai: 𝑒 𝑥 + 𝑒 −𝑥 cosh 𝑥 = 2 Misal sinh 𝑥 = 𝑝(𝑥) Jelas 𝑝 𝑥 = sinh 𝑥 𝑝′ 𝑥 = cosh 𝑥 𝑝′′ 𝑥 = sinh 𝑥 𝑝′′′ 𝑥 = cosh 𝑥 𝑝𝑖𝑣 𝑥 = sinh 𝑥 Deret MacLaurin untuk p(x) adalah: 𝑝 𝑥 = 𝑝 0 + 𝑝′ 0 𝑥 + 𝑝 ′′ 0 2! 𝑝 ′′′ 0 3! ⇒ 𝑝 0 = 0 ⇒ 𝑝′ 0 = 1 ⇒ 𝑝′′ 0 = 0 ⇒ 𝑝 0 = 1 ⇒ 𝑝′𝑣 0 = 0 𝑝 ′ 𝑣 0 4! 𝑥 2 + 𝑥 3+ 𝑥 4 + ⋯ Sehingga ekspansi deret MacLaurin untuk p 𝑥 = sinh 𝑥 adalah: sinh 𝑥 = 0 + 1 ∙ 𝑥 + 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! ∙ 𝑥 4 + 5! 𝑥 5 + 6! ∙ 𝑥 6 + ⋯ = 𝑥 + 𝑥 3 𝑥 5 + +⋯ 3! 5! 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 𝑥 9 + + + +⋯ 3! 5! 7! 9! 24 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 0 1 0 1 0 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑝 𝑥 = sinh 𝑥 adalah: sinh 𝑥 = 𝑥 + .

1 + 𝑥 𝑝 = 1+ 𝑝 1 𝑥 + 𝑝 2 𝑥 2 + 𝑝 3 𝑥 3 + 𝑝 4 𝑥 4 + ⋯ − 1 < 𝑥 < 1 Telah dibuktikan pada teorema sebelumnya. 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + ⋯ 5. jelas bahwa: 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + Dan cos 𝑥 = 1 − 1 2 1 4 1 6 𝑥 + 𝑥 − 𝑥 + ⋯ 2! 4! 6! 𝑥 2 𝑥 3 𝑥 4 + + +⋯ 2! 3! 4! 𝑥 2 𝑥 4 + +⋯ 2! 4! 1 2 1 3 1 4 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + ⋯ 2! 3! 4! Sehingga diperoleh. OPERASI DERET PANGKAT a. sin 𝑥 = 𝑥 − 6. 1 + 𝑥 𝑝 𝑥 2 2! 𝑥 3 3! + + 𝑝 1 𝑥 4 4! 𝑥 5 5! + + 𝑥 6 6! 𝑥 7 7! 𝑝 2 +⋯ 𝑝 3 = 1+ 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑝 4 𝑥 4 + ⋯ − 1 < 𝑥 < 1 F. sinh 𝑥 = 𝑥 + 9. Jadi kita peroleh beberapa deret Maclaurin yang penting adalah sebagai berikut: 1. 𝑓 𝑥 = 𝑒 𝑥 cos 𝑥 Menurut pembuktian pada deret maclaurin sebelumnya. cosh 𝑥 = 1 + 8. 1 1−𝑥 = 1 + 𝑥 + 𝑥 2 + 𝑥 3 + 𝑥 4 + ⋯ 𝑥 2 2 − 1 < 𝑥 < 1 −⋯ − 1 < 𝑥 ≤ 1 − 1 ≤ 𝑥 ≤ 1 2.9. cos 𝑥 = 1 − 𝑥 3 3! 𝑥 2 2! + + 𝑥 5 5! 𝑥 4 4! − − 𝑥 7 7! 𝑥 6 6! + 𝑥 9 9! −⋯ 𝑥 8 + + 8! − ⋯ + + 8! + ⋯ + 𝑥 9 9! 𝑥 8 7. ln 1 + 𝑥 = 𝑥 − 3. 𝑒 𝑥 cos 𝑥 = 1 + 𝑥 + 1− 𝑥 2 𝑥 3 𝑥 4 = 1 + 𝑥 + + + + ⋯ 2! 3! 4! 25 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . 𝑡𝑎𝑛−1 𝑥 = 𝑥 − 𝑥 3 3 1 + 𝑥 5 5 𝑥 3 3 − 𝑥 7 7 𝑥 4 4 + 𝑥 9 9 1 𝑥 5 5 + − 1 + −⋯ 4. Perkalian Misal .

𝑒𝑡𝑐 15 Jadi ekspansi deret Maclaurin untuk tan x adalah. Pembagian Misal .𝑥 2 𝑥 3 𝑥 4 − − − ⋯ 2! 3! 4! + 4! + ⋯ 𝑥 3 𝑥 4 = 1 + 𝑥 + 0𝑥 − − ⋯ 3 6 2 𝑥 4 𝑥 3 𝑥 4 = 1 + 𝑥 − − ⋯ 3 6 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑒 𝑥 cos 𝑥 adalah. 𝑓 𝑥 = tan 𝑥 Jelas 𝑓(𝑥) = tan 𝑥 = cos 𝑥 Menurut pembuktian pada deret maclaurin sebelumnya. 𝑒 𝑥 cos 𝑥 = 1 + 𝑥 − b. jelas bahwa: 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 𝑥 9 sin 𝑥 = 𝑥 − + − + − ⋯ 3! 5! 7! 9! Dan cos 𝑥 = 1 − 1 2 1 4 1 6 𝑥 + 𝑥 − 𝑥 + ⋯ 2! 4! 6! 𝑥 3 2 5 + 𝑥 ⋯ 3 15 𝑥 5 5! sin 𝑥 𝑥 3 𝑥 4 − +⋯ 3 6 Sehingga diperoleh 𝑥 + 1− 𝑥 2 2! + 𝑥 4 ⋯ 𝑥 − 4! 𝑥 3 3! + ⋯ 𝑥 − 𝑥 3 𝑥 5 + ⋯ 2! 4! 𝑥 3 𝑥 5 − ⋯ 3 30 𝑥 3 𝑥 5 + ⋯ 3 6 2𝑥 5 ⋯ . 26 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 .

= 1 + 2𝑥 + 3𝑥 2 + 4𝑥 3 + ⋯ d. 𝑓(𝑥 ) = 𝑒 tan 𝑥 Menurut pembuktian pada deret maclaurin sebelumnya. 𝑓 𝑥 = 1 − 𝑥 −2 Menurut rumus binomial. Substitusi Misal . bahwa: 1 + 𝑥 dengan 𝑝 𝑝 𝑥 = 𝑘 𝑝 =1+ 𝑘 ! 𝑝 𝑝 2 𝑝 3 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + ⋯ 2 3 1 𝑝−1 𝑝−2 ⋯(𝑝−𝑘 +1) Maka diperoleh: 1 + 𝑥 −2 = 1 + −2 𝑥 + −2 −3 2 −2 −3 −4 3 𝑥 + 𝑥 + ⋯ 2! 3! = 1 − 2𝑥 + 3𝑥 2 − 4𝑥 3 + ⋯ Sehingga 1 − 𝑥 1 − 𝑥 −2 = 1 + 2𝑥 + 3𝑥 2 + 4𝑥 3 + ⋯ −2 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 1 − 𝑥 −2 adalah.tan 𝑥 = 𝑥 + 𝑥 3 3 + 15 𝑥 5 ⋯ 2 c. Binomial Misal . jelas bahwa: 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + 2! 𝑥 2 + 3! 𝑥 3 + 4! 𝑥 4 + ⋯Dan sin 𝑥 𝑥 3 2 tan 𝑥 = = 𝑥 + + 𝑥 5 ⋯ cos 𝑥 3 15 Sehingga diperoleh. 27 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . 𝑒 tan 𝑥 1 1 1 𝑥 3 1 𝑥 3 = 1 + 𝑥 + + ⋯ + 𝑥 + + ⋯ 3 2! 3 = 1 + 𝑥 + + 𝑥 2 2! + 𝑥 3 +⋯ 3 + 1 2𝑥 4 +⋯ 2! 3 2 1 𝑥 3 + 𝑥 + + ⋯ 3! 3 3 + 1 𝑥 + ⋯ 4! 4 +⋯ 𝑥 3 𝑥 4 + +⋯ 3! 4! Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑒 tan 𝑥 adalah.

𝑒 tan 𝑥 𝑥 2 𝑥 3 3 4 = 1 + 𝑥 + + + 𝑥 + ⋯ 2 2 8 e. 0 = 𝑡𝑎𝑛−1 𝑡 0 = 𝑡𝑎𝑛−1 𝑥 1+𝑡 2 Menurut rumus binomial. 𝑑𝑡 = 1 + 𝑡 2 1 − 𝑡 2 + 𝑡 4 − 𝑡 6 + ⋯ 𝑑𝑡 0 0 = 𝑡 − = 𝑥 − 𝑡 3 𝑡 5 𝑡 7 𝑥 + − +⋯ 3 5 7 0 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 + − +⋯ 3 5 7 Jadi ekspansi deret MacLaurin untuk 𝑡𝑎𝑛−1 𝑥 adalah. 𝑥 3 𝑥 5 𝑥 7 𝑡𝑎𝑛 𝑥 = 𝑥 − + − + ⋯ 3 5 7 −1 28 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . Metode kombinasi Misal . bahwa: 1 + 𝑥 dengan 𝑝 𝑝 𝑥 = 𝑘 1 + 𝑡 2 𝑥 𝑥 −1 𝑝 𝑥 𝑑𝑡 𝑥 =1+ 𝑘 ! 𝑝 𝑝 2 𝑝 3 𝑥 + 𝑥 + 𝑥 + ⋯ 2 3 1 𝑝−1 𝑝−2 ⋯(𝑝−𝑘 +1) Maka diperoleh: = 1 − 𝑡 2 + 𝑡 4 − 𝑡 6 + ⋯ Sehingga diperoleh.

a  3 x2 f ( x)  x . c. b. 2. Deret Pangkat Deret Taylor Deret Maclaurin Tentukan ekspansi deret Taylor di sekitar fungsi berikut dan nyatakan dalam bentuk notasi sigma: a. dan h( x)  f ( x)  g ( x) x 1 dt b. g ( x)  sin x . b. f ( x)  e x . 3. a  25 f ( x)  Tentukan ekspansi deret Maclaurin untuk fungsi berikut dan nyatakan dalam bentuk notasi sigma untuk f(x) dan g(x): a. Tulislah definisi dari deret berikut: a. sin 1 x   0 1 t 2 29 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 . 1 .SOAL TUGAS AWAL KELOMPOK 9 DERET TAYLOR DAN DERET MACLAURIN 1.

DAFTAR PUSTAKA Boas. Calculus. 1983.: Malang 30 Kalkulus Lanjut 1 Kelompok 9 .L. 2005. Kalkulus Lanjut. Edwin J dan Varberg. Kalkulus dan Geometri Analitis Jilid 2. Mathematical Methods in The Physical Sciences. Depaul University: USA Purcell. Mary. McGraw-Hill International Book Company: Singapore Sugiman. D. UMP Press. 1981. Erlangga: Jakarta Schaum.1987.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful