P. 1
Latar Belakang Dan Penganjur Sosialisme

Latar Belakang Dan Penganjur Sosialisme

3.0

|Views: 4,767|Likes:
Published by fbp-fbp
Mengisahkan bagaimana asal mula faham sosialisme itu terbentuk dan secara perlahan menjadi sebuah sistem ekonomi dan ideologi. Disini juga mengisahkan akan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran faham sosialisme ini. Tulisan ini saya tulis ulang dari sumber yang tidak say aketahui, sebab saya suka akan isinya. Semoga tulisanini bermanfaat untuk pengetahuan. Oh ya...sejarah akan sosialis juga sering muncul dalam matakuliah, jadi saya upload bilamana ada teman-teman yang membutuhkannya.
Mengisahkan bagaimana asal mula faham sosialisme itu terbentuk dan secara perlahan menjadi sebuah sistem ekonomi dan ideologi. Disini juga mengisahkan akan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam penyebaran faham sosialisme ini. Tulisan ini saya tulis ulang dari sumber yang tidak say aketahui, sebab saya suka akan isinya. Semoga tulisanini bermanfaat untuk pengetahuan. Oh ya...sejarah akan sosialis juga sering muncul dalam matakuliah, jadi saya upload bilamana ada teman-teman yang membutuhkannya.

More info:

Published by: fbp-fbp on Jul 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

LATAR ELAKANG DAN PENGANJUR SOSIALISME

Sosialisme muncul sebagai faham ekonomi dan kemasyarakaratan pada akhir abad ke­18 dan awal abad  ke­19 masehi di Eropa. Revolusi industri yang terjadi di Inggris telah memunculkan kelas baru dalam  masyarakat, yaitu kaum borjuis yang menguasai sarana produksi karena penguasaan modal bertimbun  di tangan mereka. Di sebelahnya sebagian besar masyarakat kota hidup sebagai buruh yang tenaga  kerjanya diperas dan semakin miskin. Kekayaan yang dihasilkan karena kerja keras kaum pekerja ini  hanya bisa dinikmati oleh kaum borjuis kapitalis yang jumlahnya tidak besar. Dari waktu ke waktu  kesenjangan sosial dan ekonomi semakin kentara. Ketika itulah individualisme tumbuh. Gereja sebagai lembaga sosial keagamaan yang masih berpengaruh ketika itu bersekutu pula dengan  kaum   kapitalis   dalam   mengeruk   kekayaan   yang   sebenarnya   merupakan   hak   rakyat   banyak,   karena  mereka yang sebenarnya bekerja keras. Sebagai akibat dari pesatnya perkembangan individualisme dan  kapitalisme ini hukum yang berlaku hanyalah hukum rimba. Undang­Undang dibuat semata­mata demi  kepentingan golongan borjuis (bandingkan dengan undang­undang yang dibuat VOC dan pemerintah  Hindia­Belanda   di   Indonesia,   dan   juga   dengan   keadaan   sekarang).   Secara   ringkas,   sosialisme  merupakan reaksi terhadap keadaan ini. Sosialisme seperti telah dikemukakan, mula­mula muncul sebagai reaksi terhadap kondisi buruk yang  dialami rakyat dibawah sisitem kapitalisme liberal yang tamak dan murtad. Kondisi buruk terutama  dialamai kaum pekerja atau buruh yang bekerja di pabrik­pabrik dan pusat­pusat sarana produksi dan  transportasi.   Sejumlah   kaum   cendikiawan   muncul   untuk   membela   hak­hak   kaum   buruh   dan  menyerukan   persamaan hak bagi semua lapisan, golongan, dan kelas  masyarakat dalam menikmati  kesejahteraan, kekayaan dankemakmuran. Mereka menginginkan pembagian keadilan dalam ekonomi.  Diantara   tokoh­tokoh   awal   penganjur   sosialisme   dapat   disebut   antara   lain:   St.   Simon   (1769­1873),  Fourie (1770­1837), Robert Owen (1771­1858) dan Louise Blanc (1813­1882). Setelah itu baru muncul  tokoh­tokoh seperti Proudhon, Marx, Engels, Bakunin dan lain sebagainya. St. Simon dipandang sebagai bapak sosialisme karena dialah orang pertama yang menyerukan perlunya  sarana­sarana   produksi   dimiliki   sepenuhnya   oleh   pemerintah/negara.   Gagasannya   merupakan   benih 

awal lahirnya sistem kapitalisme negara (state capitalism). Fourie,   tokoh   sosialis   berikutnya,   adalah   orang   pertama   di   Eropa   yang   merasa   prihatin   melihat  pertarungan   tersembunyi   antara   kaum   kapitalis   dan   buruh.   Dia   mengusulkan   kepada   pemerintah  Prancis   agar   membangun   kompleks   perumahan   yang   memisahkan   kelompok­kelompok   politik   dan  ekonomi, yang dapat menampung empat hingga lima ratus kepala keluarga. Ia menganjurkan hal ini  untuk   menghentikan   pertarungan   dan   pertentangan   ekonomi   antara   kaum   kapitalis   dan   buruh.  Pandangan   ini   tidak   mendapat   tanggapan   positif,   sednagkan   ajaran   St.   Simon   banyak   mendapat  pengikut serta mendorong lahirnya Marxisme di kemudian hari. Robert   Owen,   seorang   ahli   ekonomi   yang   berpandangan   sam   adengan   Fouriee.   Tetapi   pandangan  kurang bulat dibanding pandangan para pendahulunya. Ia mengajarkan pentingnya perbaikan ekonomi  seluruh lapisan masyarakat dan penyelesaian masalah yang timbul antara kaum kapitalis dan buruh.  Caranya melalui berbagai kebijakan yang dapat mengendalikan timbulnya kesenjangan ekonomi dan  kecemburuan sosial. Ia sendiri pernah menjadi manajer sebuah pabrik. Pengalamannya sebagai manajer  sangat mempengaruhi pemikiran ekonominya. Sekali pun demikian ide­idenya dianut banyak orang di  Inggris. Louis   Blanc  adalah   tokoh   yang   revolusioner   dan   ikut   membidangi   meletusnya   revolusi   Prancis.  Manurutnya salah satu kewajiban negara ialah mendirikan pabrik­pabrik yang dilengkapi dengan segala  sarana dan bahan produksi , termasuk peraturan­peraturan yang mengikat. Elanjutnya jika pabrik itu  telah berjalan dengan baik diserahkan kepengurusannya kepada buruh dan pegawainya untuk mengatur  dan mengembangkan secara bebas. Organisasi dan manajemen pabrik sepenuhnya dibebankan kepada  buruh,   begitu   pula   kewenangan   memajukan   produksi,   mencari   pasar   dan   pembagian   keuntungan.  Sosialisme yang diajurkan Louis Blanc disebut sosialisme kooperatif. Manurutnya kapitalisme akan  hilang dengan sendirinya apabila gagasan­gagasannya itu diwujudkan. Sayang, seruannya itu kurang  mendapat tanggapan khalayak. Bahkan ia ditentang keras oleh para politisi dan ekonom. Pada tahun  1882 di Inggris berdiri kelompok Fabian Society yang menganjurkan sosialisme berdasarkan gilde. Tetapi pada akhir abad ke­19 sosialisme dan berbagai alirannya yang berbeda­beda mulai mendapat  penerimaan   luas   di   Eropa.   Ini   disebabkan   karena   mereka   tidak   hanya   melontarkan   ide­ide   dan 

mengembangkan   wacana   di   kalangan   intelektual   dan   kelas   menengah,   tetapi   juga   terutama   karena  mengorganisir gerakan­gerakan bawah tanah yang radikal dan bahkan revolusioner. Pierre   J.   Proudhon  (1809­1865)   adalah   penganjur   sosialisme   generasi   kedua   di   Prancis   setelah  generasi   St.   Simon   dan   louis   Blanc.   Tetapi   berbeda   dengan   para   penganjur   sosialisme   lain   yang  cenderung menghapuskan hak­hak individual atas sarana­sarana produksi, termasuk hak petani untuk  memiliki tanah garapan. Proudhon justru bersikeras memperjuangkan dipertahankan hak­hak individual  secara   terbatas,   termasuk   hak   petani   untuk   mengembangkan   usahanya.   Jadi   ia   menolak   ide  kolektivisme penuh dari kaum sosialis radikal seperti Marx. Bagi Marx hak individual harus dihapus,  termasuk   hak   kepemilikan   tanah.   Di   samping   itu   kaum   tani   bukan   golongan   yang   penting   dalam  masyarakat yang bergerak menuju masyarakat sosialis sejati. Marx berpendapat demikian karena faham dialekti materialismenya, yang menganggap bahwa sejarah  bisa berubah hanya disebabkan oleh faktor­faktor produksi dan penguasaan sarana produksi oleh kaum  proletar yang selama ini diperas oleh kaum kapitalis. Perbedaan pandangan antara Proudhon dan Marx  inilah yang membuat gerakan sosialis internasional mengalami perpecahan pada akhir abad ke­19, dan  sosialisme   pun   pecah   kedalam   berbagai   aliran   seperti   sosialisme   demokrat,   komunisme   ala   Marx,  sosialisme anarkis ala Bakunin, Marxisme­Leninisme, sosialisme ala Kautsky, sosialisme Kristen, dan  lain­lain. Kecuali itu ketidak berhasilan sosialisme memperoleh pengikut yang signifikan pada masa awal, tidak  pula   berhasil   melakukan   perubahan   mendasar   dalam   kehidupan   masyarakat   terutama   disebabkan  karena   para   penganjurnya   berkampanye   dikalangan   elite   dan   intelektual.   Khususnya   dengan   cara  mengubah sentimen moral mereka, padahal mereka­khususnya kaum borjuis kapitalis­dengan semangat  individualismenya yang tinggi tidak mengacuhkan masalah­masalah moral dan implikasi moral bagi  tindakan­tindakan mereka. Rasa keadilan jauh dari pandangan hidup mereka. Yang penting menimbun  kekayaan sebanyak­banyaknya dengan “menghalalkan segala cara”. Karl Marx berbeda dengan penganjur sosialisme lain sebelumnya. Ia tidak membangun gerakan. Ia  tidak memberi ampun sama sekali terhadap hak­hak individual dalam pemilikan sarana produksi. Ia  berpendapat bahwa kekayaan individual bukan sesuatu yang terhormat dan dapat mengangkat martabat 

atau harkat seseorang. Karena dalam kenyataannya ia diperoleh dengan cara memeas habis tenaga dan  menindas hak­hak kolektif rakyat, terutama kaum yang merupakan lapisan terbesar dalam masyarakat  industrial.   Kekayaan   individual   itu   justru   membuat   jatuhnya   martabat   dan   kehormatan   seseorang.  Karena ia diperoleh dengan jalan tidak bermoral, tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Melalui korupsi,  penipuan dan berbagai penyelewengan terhadap hukum. Dehumanisasi yang dilakukan oleh kaum borjuis dan kapitalisme mencapai puncaknya pada akhir abad  ke­19. Marx lantas menulis bukunya Manifesto Komunis, Das Kapital, dan lain­lain. Dia menyerukan  gar kaum buruh sedunia bersatu dibawah panji­panji perjuangan 'menghapus kelas'. Ia yakin bahwa  kedudukan seorang buruh sebenarnya jauh lebih mulia dibanding seorang kapitalis. Alasannya karena  buruhlah yang secara langsung memproduksi kekayaan bagi semua orang. Melalui seruannya Karl Marx berhasil membangkitkan semangat kaum buruh untuk berjuang. Kini  mereka   sadar   bahwa   upah   yang   mereka   terima   sebagai   imbalan   jerih   payahnya   itu   lebih   mulia  dibanding   penghasilan   kaum   kapitalis   yang   diperoleh   dengan   cara­cara   yang   jahat   dan   tidak  berperikemanusiaan. Di tangan Marx, sosialisme menjadi semacam 'kepastian sejarah' dan pisau kritik  yang tajam terhadap perkembangan masyarakat industrial dan kapitalisme liberal yang menghalalkan  segala cara. Kemunculan gagasannya yang sangat tepat waktu, yaitu ketika wabah kapitalisme sedang  merajalela   di   Eropa   dan   imperialisme   Eropa   menguasai   negeri­negeri   Asia   dan   Afrika.   Wabah   ini  menimbulkan   penyakit   dimana­mana   berupa   tatanan   sosial,   kehidupan   moral   dan   keagamaan,  kezaliman, dan kedurjanaan. Dengan demikian sosialisme revolusioner dan komunisme yang lahir dari  ajaran Karl Marx adalah buah simalakama dari perkembangan kapitalisme sendiri. Tetapi   ada   pula   bentuk   sosialisme   lain   yang   sangat   radikal.   Seandainya   saja   tidak   muncul   ajaran  sosialisme yang dikemukakan oleh Karl Marx dan para pengikutnya, tentulah sosialisme yang  lain  inilah yang merajalela. Sosialisme yang terakhir ini berasal dari ajaran Bakunin, tokoh sosialis yang  pernah bersahabat dengan Karl Marx dan sama­sama berguru kepada Proudhon. Bakunin (1814­1876)  mengajarkan faham sosialisme yang tidak kalah radikal dengan berasaskan pengacauan dan anarkisme.  Dia   menyerukan   kepada   rakyat   yang   tertindas   melakukan   tindakkan   apa   saja   untuk   membuat  perubahan. Baginya setiap orang memiliki kebebasan untuk berbuat seperti itu. Manusia tidak perlu  tunduk pada norma­norma sosial, undang­undang serta hukum positif yang berlaku dalam masyarakat.

Gerakan anarkis terutama berkembang di Rusia pada abad ke­19, tanah kelahiran pencetusnya. Dari  faham ini tumbuh berbagai gerakan radikal dan atheis revolusioner yang menghalalkan segala cara.  Novel­novel Dostoyevski seperti Notes from the Underground, Devil atau  The Possessed, Maramasov  Brothers, dll banyak memberikan gambaran tentang gerakan dan kejiwaan kaum anarkis dan sosialis  revolusioner Rusia abad ke­19.

SOSIALISME MARX Sosialisme   Marx   pada   mulanya   merupakan   sebuah   aliran   pemikiran   ekonomi,   namun   kemudian  disebabkan   oleh  tuntutan  sejarah  lantas  berkembang  menjadi  aliran  pemikiran  kemasyarakatan   dan  ideologi politik yang revolusioner. Pada mulanya pula, dibanding dengan ajaran yang dikemukakan oleh  Robert Owen dan Bakunin, ia dipandang sayap moderat dari sosialisme. Namun ia segera menjadi  revolusioner setelah daripadanya timbul gerakan­gerakan buruh dan sosialisme internasional. Sebagai aliran pemikiran ekonomi Marxisme menggariskan tatanan kehidupan ekonomi tanpa kelas,  yang   didalamnya   kepemilikan   sarana   produksi   bersifat   kolektif.   Tujuan   itu   bisa   dicapai   dengan  menghapuskan pemilikan pribadi dan mendistribusikan kekayaan beserta sumber­sumbernya kepada  rakyat banyak secara merata. Pandangan ini kemudian diperluas menjadi sistem nilai yang mencakup  semua   aspek   kehidupan.   Apabila   tidak,   maka   kemudia   perubahan   sosial   dan   ekonomi   tidak   bisa  digerakkan.   Ajaran   Marx   berubah   secara   dramatik   menjadi   ideologi   politik   dan   kenegaraan   yang  revolusioner   pada   akhir   abad   ke­19,   dan   mencetuskan   timbulnya   gerakan­gerakan   revolusioner,  khususnya di Rusia. Apalagi setelah diolah oleh Lenin yang mengharuskan adanya sebuah partai yang  memperjuangkan ide­ide komunisme Marx. Karena   pertimbangan­pertimbangan   untuk   mencetuskan   revolusi   itulah   Karl   Marx   menyusun   suatu  falsafah kehidupan untuk menopang faham sosialismenya di bidang ekonomi dan politik. Sebagaimana  telah diketahui, sosialisme Marx menumpukkan pertahian pada masalah kebendaan dan perut. Dengan  demikian   ajarannya   termasuk   ke   dalam   faham   materialisme   dengan   memasukkan   masalah   sosial  ekonomi,   yaitu   masalah   pertarungan   kelas   dan   nilai   tambah   ke   dalamnya.   Masalah   yang   bersifat 

kerohanian   tersingkir   jauh   dari   ajarannya.   Pandangannya   itu   kemudian   dikenal   sebagai   faham  materialisme historis atau materialisme dialektik (dialectical materialism). Ia  mengecam sosialisme Fourier dan Robert Owen sebagai utopia karena tidak menunjukkan   jalan  bagaimana mencapainya. Marx sendiri sebenarnya juga tidak menunjukkan jalan, kecuali memberikan  dasar­dasar ilmiah dan menjelaskan syarat­syarat dalam mencapai masyarakat sosialis. Arah kebendaan dan kecenderungan sosialis pemikiran tokoh ini sangat dipengaruhi oleh perjalanan  dan   pengalaman   hidupnya   yang   pahit,   khususnya   semenjak   ia   menyelesaikan   kuliah   di   Unversitas  Berlin. Ia mendalami pemikiran­pemikiran falsafah yang sedang naik daun pada masanya, khususnya  falsafah Hegel. Ia mendalami teori­teori ekonomi David Ricardo dan Adam Smith, serta pemikiran  politik Voltaire dan Rousseau. Ia tertarik dengan pemikiran sosialisme yang berkembang di Prancis.  Semua  itu   mempengaruhi jalan pikirannya yang radikal. Jika hendak dirumuskan ada unsur  pokok  dalam kehidupan ekonomi yang begitu menarik perhatian Marx untuk dipecahkan: (1) Materialisme  dialektik  yang menggerakkan perubahan sosial dalam sejarah umat manusia; (2) Pertarungan  kelas  antara kaum kapitalis dan kaum buruh atau proletar; (3) Nilai tambah dalam ekonomi. Ia pernah tinggah di Prancis dan berguru pada Proudhon. Dia pernah menjalin persahabatan dengan  Bakunin di kota ini, walau pun kemudian bartikai disebabkan perbedaan pandangan dalam menyusun  strategi perjuangan. Tetapi ia juga bertemu dengan pemuda bernama Engels, seorang anak pengusaha  besar, yang mengagumi ide­idenya dan sekaligus menjadi sahabat seperjuangan daam mengembangkan  sosialisme. Ia menyusun buku bersama Engels, yang membantu membiayai hidupnya selama tinggal di  Inggris   dan   menyususn   buku­bukunya   yang   monumental   seperti  Manifesto   Komunis.   Karya  monumentalnya Das Kapital ditulis dalam bahasa Jerman. Materialisme  dialektik (dialectical materialism) adalah faham yang meyakini bahwa asa kehidupan  sepenuhnya bersifat kebendaan. Karena itu sejarah juga berkembang dan berubah disebabkan faktor­ faktor   dialektik   dari   hal­hal   yang   bersifat   kebendaan.   Karena   itu   teori   Marx   juga   disebut   teori  kebendaan sejarah (historical materialism). Kata­kata  dialectics  atau  dialectical  berasal   dari   kata   Yunani  dialeces,   yang   artinya   mematahkan 

argumentasi lawan dengan menggunakan pendapat atau hakekat dari suatu kebenaran. Kaum sosialis  menggunakan istilah ini untuk memahami rahasia alam dan kekuatan­kekuatan yang tersembunyi di  dalamnya serta saling bertentangan. Di masa modern, untuk pertama kalinya istilah dialektik digunakan  kembali oleh Hegel untuk menguraikan faham “idealisme dialektik”nya. Dalam pandangan Hegel, wujud alam ini merupakan akibat dari adanya gerakkan evolusi dari ide­ide  yang saling bertentangan (thesa dan antithesa), tetapi dalam perkembangan puncaknya kedua hal yang  saling bertentangan itu berpadu menjadi satu (sinthesa). Dalam pemikiran benda­benda atau segala  sesuatu yang tampak di atas dunia ini tidak mempunyai eksistensi yang sebenarnya, sebab semua itu  hanyalah   bayangan   atau   gambaran   dari   ide­ide   yang   tersembunyi.   Semua   itu   disebabkan   proses  dialektik dari ide­ide yang bekerja di belakang realitas. Walau pun Marx mendasarkan falfasafahnya pada idealisme Hegel, tetapi ia membalikkannya menjadi  materialisme dialektik. Manurut Marx yang hakiki bersifat kebendaan, bukan yang bersifat kerohanian  seperti ide.  Perarungan dua unsur kekuatan dalam diri benda ditafsir oleh Marx sebagai gambaran  pertarungan benda untuk mempertahankan kekekalannya dalam alam. Marx mengingkari kadasar dasar  dari segala kehidupan. Disini ia mengikuti pandangan Lametrie d Feurbach, dua filosof materialis yang  hidup pada masa Hegel. Berdasarkan   faham   materialisme   dialektiknya   itu   dia   menganalisa   kejadian­kejadian   sejarah.   Dia  menganggap   benda   sebagai   asal­usul   terjadinya   sesuatu.   Dari   sinilah   lahir   thesisnya   tentang  “pertarungan kelas” (class struggle) dalam masyarakat industrial di Eropa pada abad ke­19. Menurut  Marx, dalam setiap tatanan ekonomi, apabila perkembangan dan kemajuannya telah sampai pad afase  tertentu, maka akan muncul kekuatan produksi. Kekuatan baru ini akan bertarung melawan kekuatan  produksi  yang lain, yang muncul  bersamaan  dengannya. Perkembangan tersebut pada  saatnya  akan  melahirkan suatu kelas baru dalam masyarakat, yaitu setelah tatanan ekonomi yang sedang berjalan itu  lenyap.   Setelah   itu   akan   terjadi   perubahan   yang   bersifat   integral,   yaitu   munculnya   peraturan   baru  tentang kepemilikan yang menghambat kemajuan yang dicapai sebelumnya. Sudah dapat dipastikan  bahwa perubahan ini akan menamatkan riwayat golongan yang sebelumnya menguasai sarana produksi  dan   kekayaan   yang   ditimbulkan   bekerjanya   sarana­sarana   produksi.   Golongan   ini,   yaitu   golongan  borjuis   dan   kapitalis,   telah   ditakdirkan   oleh   sejarah   dialektik   kebendaan   untuk   menguasai   dan 

manikmati kekayaan yang dihasilkan oleh kelas pekerja yang teraniaya, tertipu dan tertindas. Dibayangi   oleh   rasa   takut   akan   lahirnya   revolusi   atau   perubahan   radikal   yang   membalikkan   nasib  mereka, maka mereka membuat tipu muslihat dengan segala macam cara agar tidak muncul perlawanan  dari   kaum   yang   selama   ini   mereka   jadikan   sapi   perahan   untuk   menimbun   harta.   Kaum   penindas  diwakili oleh pemilik modal atau kapitalis borjuis (thesa), sedang lawannya (antithesa) ialah kaum  buruh yang disebut sebagai proletar (rakyat gembel, atau rakyat jelata). Pertempuran atau pertarungan  tersebut akan   meletus jika kaum proletar mulai menjadi hak­haknya terampas, dan menyadari  pula  bahwa   sejarah   dapat   bergerak   ke   arah   berlawanan   malalui   gerakkan   revolusioner.   Ia   akan   terus  berkembang apabila mampu mendorong masyarakat memilih kepada kekuatan yang mana mereka akan  memihak.   Kemenangan   akan   diraih   oleh   pemenangnya   tidak   lain   merupakan   akibat   dari   tatanan  ekonomi yang berlaku pada masa itu. Jadi munculnya suatu masyarakat baru yang bercorak sosialis  merupakan sinthesa dari pertarungan kelas kaum kapitalis borjuis vs kaum proletar. Demikianlah secara ringkas dapat dikatakan bahwa sosialisme bagi Marx adalah buah yang tumbuh  dari  perkembangan masyarakat  dalam  sejarah  dibawah  pengaruh  hukum  dialektik.  Ia tidak   dicipta,  tetapi   merupakan  kejadian   yang  tidak   dapat   dielakkan  sebagai  akibat  pertentangan  dua  kelas   yang  dilahirkan sejarah, yaitu kaum borjuis dan kaum proletar. Dalam beberapa risalahnya dia menjelaskan  bahwa   sosialisme   yang   dikemukakan   tidaklah   membuat   suatu   konstruksi   masyarakat   dalam   suatu  sistem   yang   bentuknya   sudah   selesai,   melainkan   menyediliki   suatu   perkembangan   sejarah   yang  menimbulkan kelas saling bertentangan dan kemudian mempelajari faktor­faktor yang menyebabkan  pertarungan   itu   lenyap.   Engels   mengatakan   bahwa   komunisme   yang   diajarkan   Marx   berisi   uraian  tentang syarat­syarat yang mesti dipenuhi untuk mencapai kemerdekaan kaum buruh. Marx   sebenarnya   lebih   merupakan   peletak   dasar   komunisme   dan   ajarannya   diberikan   tafsir   yang  beragam oleh para pengikutnya. Setidak­tidaknya ada tiga macam aliran sosialisme yang berkembang  setelah Marx meninggal: (1) Aliran yang mau memperbaharui teori dan pendangan politiknya, dengan  menyesuaikan   prinsip­prinsip   ajaran   itu   dengan   kenyataan.   Aliran   ini   disebut   revisionisme   dan  reformisme. Penganjurnya ialah Bernstein. Ia berusaha mempengaruhi teori Marx dan menganjurkan  agar   dalam   menempuh   jalan   ke   sosialisme   dilakukan   reformasi,   bukan   revolusi.   Reformasi   yang  dimaksud   adalah   perubahan   berangsur­angsur   dengan   mengutamakan   perjuangan   dalam   parlemen. 

Mereka percaya bahwa pelaksanaan demokrasi kaum buruh lambat laun akan mencapai suara terbesar  dalam parlemen; (2) Aliran yang berpegang teguh pada ajaran Marx, disebut aliran dogmatik, yang  mulanya dipimpin oleh Karl Kautsky; (3) Aliran yang tetap berpegang pada teori Marx, tetapi dalam  politik menempuh jalan yang revolusioner. Aliran ini dipimpin oleh Lenin. Karena itu kemudian aliran  ini disebut Marxisme­Leninisme atau Leninisme saja. Menurut   Lenin,   untuk   melaksanakan   peralihan   dari   kapitalisme   ke   sosialisme,   orang   tidak   perlu  menungguh sapai kapitalisme matang, tetapi setiap ada kesempatan bagi kaum buruh untuk merebut  kekuasaan,   kesempatan   itu   dipergunakan   sepenuh­penuhnya.   Aliran   yang   pertama   dan   kedua   tetap  berada   di   gerakkan   partai   sosial   demokrat.   Sebagai   sayap   kanan   dan   sayap   kiri   dari   sosialisme,  sedangkan Lenin memisahkan diri, mendirikan organisasi sendiri yang kemudian menjelma menjadi  partai Komunis. Bagi Lenin, untuk mencapai tujuan tidak perlu ada partai massa. Aksinya didasarkan  kepada anggota inti yang sedikit jumlahnya, tetapi bertekad dan berdisiplin baja. Stalin mendefinisikan  Marxisme­Leninisme sebagai “Marxisme pada masa imperialisme dan revolusi proletar”. Leninisme  adalah   teori   dan   taktik   dari   sebuah   revolusi   besar,   teori   dan   taktik   menuju   tercapai   kediktaktoran  proletar.

KRITIK Kritik dan pertanyaan terhadap Marxisme dan komunisme, telah banyak dikemukakan orang semenjak  awal lagi. Setidak­tidaknya ada empat pokok persoalan dari ajaran Marx dan para pengikutnya yang  mendapat sorotan tajam. Pertama, Marx mengemukakan bahwa perubahan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya mengikuti  hukum dialektik kebendaan yang berlangsung tanpa henti dalam sejarah. Demikianlah di Eropa kaum  feodal yang berkuasa dalam masyarakat pra­industri, dengan tumbuhnya masyarakat industri digantikan  kedudukannya   oleh   kaum   kapitalis   sebagai   penguasa   ekonomi.   Ketika   kapitalisme   matang,   maka  muncul kelas baru yang tertindas, yaitu kaum proletar. Ketika proletar menang, masyarakat sosialis  tanpa kelas muncul. Pertanyaannya setelah itu kelas apa lagi yang dilahirkan dalam masyarakat sosialis?  Marx tidak memberi jawaban jelas.

Kedua,   Marx   berpendapat   bahwa   kontradiksi­kontradiksi   yang   ada   dalam   masyarakat   disebabkan  adanya   perbedaan   kepentingan   hidup.   Ini   akan   mengakibatkan   terjadinya   pertarungan   yang   sengit  antara kelas yang menindas (kapitalis) dan kelas yang ditindas (proletar) di seluruh dunia. Jadfi di masa  depan (abad ke­20 dan abad ke­21) menurut Marx, konflik yang terjadi di dunia ini akan lebih banyak  ditimbulkan   oleh   pertarungan   kelas.   Ramalan   ini   ternyata   meleset.   Perang   yang   berkesinambungan  sejak   awal   abad   ke­20   hingga   kini,   khususnya   perang   dunia   1   dan   2,   banyak   didorong   masalah  kepentingan nasional dan ideologi dibandingkan karena motivasi pertarungan kelas. Cina dan Vietnam,  sesama   negara  komunis  pernah terjun  ke kancah  peperangan pada akhir  1970an bukan  disebabkan  masalah pertarungan kelas, melainkan disebabkan oleh dorongan nasionalisme yang sempit. Ketiga, Marx meramalkan bahwa apabila tidak berjuang dengan gigih nasib kaum buruh akan menjadi  snagat buruk. Kenyataannya tidfak selalu demikian. Di negara­negara maju kaum buruh mengalami  perbaikan nasib yang sangat mencengangkan sebagai akibat adanya revisi terhadap kapitalisme liberal  itu sendiri. Di Inggris dan bekas negara penjajah lain malah kaum buruh bersekutu dengan kapitalis  dalam melakukan praktek penindasan di negeri jajahan mereka atas nama imperialisme dan perluasan  kapitalisme. Keempat,   berhasilnya  revolusi   Bolsyewik  (komunis   Rusia  yang  berfaham   Marxisme­Laininisme)   di  Rusi pada tahun 1917 tidak mampu memperbaiki nasib kaum proletar seperti yang dijanjikan. Diktaktor  proletariat   dijalankan   oleh   panguasa   partai   komunis   untuk   menindas   rakyat   jelata.   Hal   yang   sama  terjadi di Cina dan bekas negara komunis yang lain. Kecuali di negara­negara kapitalis sendiri terdapat  kecenderungan   untuk   mempraktekkan   sosialisme   yang   lebih   manusiawi,   dibanding   di   negara   yang  dahulunya berjuang untuk menciptakan masyarakat sosialisme ala Marx, Lenin, Stalin dan Mao. Sumber: Tulisan ini adalah bentuk penyalinan dari sumber yang tidak diketahui yang tidak ditambahkan     mau pun dikurangi isinya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->