P. 1
BAB I & 3

BAB I & 3

|Views: 74|Likes:

More info:

Published by: Nur Illahiyah Munggaran on Oct 13, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1.LATAR BELAKANG
  • 1.2.MAKSUD DAN TUJUAN
  • 1.3.INDENTIFIKASI MASALAH
  • 1.4.2 Desain
  • 1.4.4 Lingkup sasaran
  • 1.4.6 Lingkup waktu
  • 1.4.7 Gambar dan spesifikasi
  • 2.1Kebutuhan Air
  • 2.2Air Permukaan dan Karakteristiknya
  • 2.3Kualitas Air Baku
  • 2.4Kualitas Air Minum
  • 2.5 Syarat-syarat Sistem Penyediaan Air Minum
  • 2.6 Parameter Kualitas Air Minum
  • 2.7.1Intake
  • 2.7.2Pintu Air dan Saluran Pembawa serta Bak Pengumpul a.Pintu Air
  • 2.7.3Pompa dan Sistem Transmisi
  • 2.7.4Koagulasi
  • 2.7.5Flokulasi
  • 2.7.6.1Zone inlet
  • 2.7.6.2Zone outlet
  • 2.7.7.1Media Filter
  • 2.7.7.2 Hidrolika Filtrasi
  • 2.7.7.3 Sistem Underdrain
  • 2.7.7.4 Pencucian Balik (Backwash)
  • 2.7.8Desinfeksi
  • 2.7.9Reservoir
  • 3.1.1.Rencana Umum
  • 3.1.2Membuat Desain Bangunan
  • 3.2.1Data Primer
  • 3.2.2Data Sekunder
  • 3.3 PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
  • 3.4 PEMILIHAN ALTERNATIF PENGOLAHAN
  • 3.5 PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM
  • 3.6 PENYUSUNAN LAPORAN

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Jumlah penduduk yang semakin bertambah sangat mempengaruhi kebutuhan
perekonomian yang semakin meningkat demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan terjadi dimana-mana demi berkembangnya suatu daerah tertentu. Namun,
pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi tersebut tidak hanya berdampak positif bagi
kehidupan, terutama lingkungan. Semakin bertambahnya kebutuhan penduduk maka dampak
negatif yang dihasilkan terhadap kualitas lingkungan juga semakin meningkat. Hal ini disertai
dengan eksploitasi sumber daya yang tersedia dengan tidak memperhitungkan dampak
kelanjutannya.
Dampak negatif yang langsung dirasakan oleh manusia adalah berkurangnya kualitas
lingkungan hidup akibat eksploitasi sumber daya alam untuk kegiatan ekonomi. Hal ini
berdampak negatif juga bagi kuantitas dan kualitas lingkungan yang juga akan berimbas pada
kondisi hidrologis dan kelestarian konservasi air, yakni semakin tercemarnya sumber air yang
ada, terutama air permukaan. Ditinjau dari segi kualitas, air permukaan yang ada sekarang pada
umumnya tidak dapat digunakan secara langsung sebagai sumber air bersih.
Banyak usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat yang peduli
terhadap lingkungannya. Salah satu usaha yang dibutuhkan yaiti suatu pengolahan air yang
mampu mengurangi atau bahkan menghilangkan kandungan pencemar akibat polutan yang
masuk ke dalam sumber air, sehingga terpenuhi persyaratan kualitas air bersih yang layak untuk
dikonsumsi masyarakat.
Pengolahan air baku untuk air minum tersebut dilakukan dalam suatu instalasi yang
terpadu. Instalasi pengolahan terdiri atas bangunan-bangunan pengolahan yang akan mereduksi
pencemar hingga memenuhi standar-standar air minum yang berlaku. Perencanaan kegiatan
pengolahan air minum merupakan kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari Perencanaan Sistem
Penyediaan Air Minum, karena perencanaan ini berfungsi sebagai penunjang dalam sistem
penyediaan air itu sendiri.
Adapun persyaratan air minum yang baik adalah :
a. Memenuhi persyaratan kualitas air minum baik secara fisis, kimiawi, dan
bakteriologis sesuai dengan standar yang berlaku.
b. Jumlah air bersih dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang dilayani.
c. Memenuhi persyaratan kontinuitas, yaitu air minum harus tersedia setiap waktu
secara kontinyu.
Penentuan tahapan proses pengolahan akan tergantung pada kualitas air baku yang akan
diolah. Semakin rendah mutu kualitas air baku maka akan semakin komplek pula tahapan operasi
maupun proses pengolahan air minum yang dibutuhkan.
1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan dari penyusunan tugad besar ini yaitu sebagai berikut :
1.2.1 Tujuan Umum
Dengan mengerjakan tugas besar ini, Mahasiswa mampu membuat perencanaan
bangunan pengolahan air minum dengan spesifikasi tertentu, sehingga bisa dicapai bangunan
pengolahan yang paling optimal dilihat berbagai aspek mulai dari studi, desain, konstruksi
hingga operasi dan pemeliharaan.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mampu menulis dan menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam pembuatan BPAM.
b. Mampu menjelaskan langkah awal dalam perencanaan BPAM yang meliputi master plan
dan studi kelayakan suatu BPAM.
c. Mampu menjelaskan tentang tahapan studi predesain yang mencakup beberapa
investigasi preliminary / pendahuluan sebelum mulai rancangan detail (design detail).
d. Mampu menentukan lokasi BPAM secara benar berdasarkan pertimbangan beberapa
faktor.
e. Mampu merencanakan unit-unit pengolahan air minum kemudian membuat beberapa
alternatif pengolahan air minum .
f. Mampu merancang detail seluruh unit pengolahan dalam BPAM dari alternatif terpilih.
g. Mampu merancang kebutuhan perlengkapan di BPAM.
h. Mampu menghitung profil hidrolis BPAM.
i. Mampu dapat menjelaskan operasi dan pemeliharan BPAM.
j. Mampu memaparkan dan mempresentasikan hasil tugas PBPAM.
1.3. INDENTIFIKASI MASALAH
Denga Permasalahan yang dihadapi air minum antara lain:
a. Menurunnya kualitas air sungai
b. Debit sungai yang tidak sesuai dengan jumlah kebutuhan
1.4. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup tugas Perancangan Bangunan Pengolahan Air Minum meliputi :
1.4.1. Umum :
• Membuat analisis terhadap standar kualitas air minum yang berlaku di
Indonesia.
• Menginventarisasi unit-unit pengolahan air minum.
1.4.2 Desain
• Membuat analisis terhadap kualitas air baku, yaitu air permukaan (air sungai)
dengan kekeruhan sedang.
• Menentukan jenis pengolahan yang diperlukan (dengan mempertimbangkan
kualitas air baku dan standar kualitas air minum).
• Menentukan dimensi unit pengolahan berdasarkan kapasitas pengolahan yang
telah ditentukan, yaitu 200 L/dtk.
1.4.3 Lingkup Masalah
Lingkup masalah adalah perncanaan pengolahan bangunan air minum
1.4.4 Lingkup sasaran
Lingkup sasaran adalah sumber air baku, alternatif pengolahahan, baku mutu
penyediaan air bersih
1.4.5 Lingkup Lokasi
Lingkup lokasi adalah instalasi pengolahan air di sungai Cisadane, Tangerang
1.4.6 Lingkup waktu
Lingkup waktu pengerjaan tugas perancanaan bangunan pengolahan air minum
adalah pada bulan sampai bulan Desember
1.4.7 Gambar dan spesifikasi
• Menggambar bangunan instalasi dan bangunan pelengkap termasuk peralatannya.
• Membuat spesifikasi teknis bangunan instalasi dan bangunan pelengkap termasuk
peralatannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kebutuhan Air
Kebutuhan manusia akan air bersih mencakup kebutuhan domestik (memasak, mencuci,
mandi, dan lainnya) dan kebutuhan non domestik seperti kebutuhan air untuk sosial, perkantoran,
sekolah, pasar, industri, pelabuhan, masjid, rumah sakit, dan sarana umum lainnya. Kebutuhan
air yang dikonsumsi oleh masing-masing pemakai pun berbeda-beda. Metcalf dan Eddy, (1991)
menyebutkan beberapa faktor yang mendorong adanya perbedaan tingkat pemakaian air tersebut
yaitu iklim, jumlah penduduk, pembangunan, ekonomi, kualitas air baku, dan konservasi air.
2.2 Air Permukaan dan Karakteristiknya
Dalam siklus hidrologi air permukaan merupakan tempat yang letak geografisnya paling
rendah sehingga mampu menampung air, baik yang berasal dari air hujan, air limpasan dan air
tanah yang meresap. Air permukaan yang biasanya dipakai sebagai sumber air bersih adalah
sungai, waduk atau tanggul dan danau.
Menurut Darmasetiawan (2001), karakteristik air baku permukaan di Indonesia secara
umum dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang tinggi.
2. Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang rendah sampai sedang.
3. Air permukaan dengan tingkat kekeruhan yang bersifat temporer.
4. Air permukaan dengan kandungan warna yang sedang sampai tinggi.
5. Air permukaan dengan kesadahan yang tinggi.
6. Air permukaan dengan kekeruhan sangat rendah.
Tabel 2.1 Air Permukaan dan Karakteristiknya
Sumber: Darmasetiawan (2001)
2.3 Kualitas Air Baku
Uraian
1 2 3 4 5 6
Kekeruhan
Tinggi
Kekeruhan
Sedang
Kekeruhan
Temporer
Berwarna
Kesadahan
Tinggi
Jernih
Kualitas
Kekeruhan
Warna
> 50 NTU
< 25
PtCo
10 - 50 NTU
< 25 PtCo
> 50 NTU
< 25 PtCo
< 6 Jam
10 - 50 NTU
> 25 PtCo
10 - 50 NTU
< 25 PtCo
< 10 NTU
< 10 PtCo
Jenis
Sumber Air
Air Sungai di
Jawa
Air Sungai
Waduk
Air Sungai di
lereng Gunung
Rawa-rawa
Air Sungai di
lereng G.
Kapur
Danau Alam
Contoh
Sumber Air
S. Cengkareng
S. Brantas
Kedung Ombo
Jati luhur
Kali-kali Kecil
Di Gunung
S. Kapuas
Pontianak
Kupang
Danau Toba
Danau Kerinci
Proses Pengolahan
Alternatif 1
Prasedimentasi
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Koagulasi Koagulasi Koagulasi Koagulasi Koagulasi
Flokulasi Flokulasi Flokulasi Flokulasi Flokulasi
Sedimentasi Sedimentasi Sedimentasi Sedimentasi Sedimentasi
Saringan Pasir
Cepat
Saringan Pasir
Cepat
Saringan Pasir
Cepat
Saringan Pasir
Cepat
Saringan Pasir
Cepat
Saringan Pasir
Cepat
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Reservoir Reservoir Reservoir Reservoir Reservoir Reservoir
Proses Pengolahan
Alternatif 2
Prasedimentasi
Dosing
Koagulan
Koagulasi
Flokulasi
Sedimentasi
Saringan Pasir
Cepat
Dosing
Desinfeksi
Reservoir
Proses Pengolahan
Alternatif 3
Prasedimentasi Prasedimentasi Prasedimentasi
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Dosing
Koagulan
Saringan Pasir
Lambat
Saringan Pasir
Lambat
Saringan Pasir
Lambat
Saringan Pasir
Lambat
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Dosing
Desinfeksi
Reservoir Reservoir Reservoir Reservoir
Prasedimentasi Prasedimentasi Prasedimentasi
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 pasal 8 tentang Klasifikasi dan
Kriteria Mutu Air, kriteria mutu air yang dimaksud untuk setiap kelas air di atas dapat dilihat
pada Tabel 2.1 berikut ini :
Tabel 2.2 Kriteria Mutu Air Baku
Parameter Satuan
Kelas
Keterangan
I II III IV
FISIKA
Temperatur
o
C
deviasi
3
deviasi
3
deviasi
3
deviasi
5
Deviasi temperatur dari
keadaan alamiahnya
Residu terlarut mg/L 1.000 1.000 1.000 2.000
Residu
tersuspensi
mg/L 50 50 400 400
Bagi pengolahan air
minum secara
konvensional, residu
tersuspensi < 5.000 mg/L
KIMIA ANORGANIK
pH 6 - 9 6 - 9 6 - 9 5 - 9
Apabila secara alamiah
berada di luar rentang
tersebut, maka ditentukan
berdasarkan kondisi
alamiah
BOD mg/L 2 3 6 12
COD mg/L 10 25 50 100
DO 6 4 3 0
Total fosfat
sebagai P
mg/L 0,2 0,2 1 5
NO3 sebagai N mg/L 10 10 20 20
NH3-N mg/L 0,5 - - -
Bagi perikanan,
kandungan ammonia
bebas untuk ikan yang
peka < 0,02 mg/L sebagai
NH3
Arsen mg/L 0,05 1 1 1
Kobalt mg/L 0,2 0,2 0,2 0,2
Barium mg/L 1 - - -
Boron mg/L 1 1 1 1
Selenium mg/L 0,01 0,05 0,05 0,05
Kadmium mg/L 0,01 0,01 0,01 0,01
Khrom (VI) mg/L 0,05 0,05 0,05 0,01
Tembaga mg/L 0,02 0,02 0,02 0,2
Tabel 2.2 Kriteria Mutu Air Baku (lanjutan)
Parameter Satuan
Kelas
Keterangan
I II III IV
KIMIA ANORGANIK
Timbal mg/L 0,03 0,03 0,03 1
pengolahan air minum
konvensional, Pb < 0,1
mg/L
Mangan mg/L 0,1 - - -
Air Raksa mg/L 0,001 0,002 0,002 0,005
Seng mg/L 0,05 0,05 0,05 2
Pengolahan air minum
konvensional, Zn < 5 mg/L
Khlorida mg/L 600 - - -
Sianida mg/L 0,02 0,02 0,02 -
Fluorida mg/L 0,5 1,5 1,5 -
Sumber : Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001
Keterangan:
1. Bq = Bequerel
2. MBAS = Methylene Blue Active Substance
3. ABAM = Air Baku untuk Air Minum
4. Logam berat merupakan logam terlarut.
5. Nilai di atas merupakan batas maksimum.
6. Bagi pH merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang atau lebih dari nilai yang tercantum.
7. Nilai DO merupakan batas minimum.
8. Arti (-) di atas menyatakan bahwa untuk kelas termaksud, parameter tersebut tidak disyaratkan.
Berdasarkan tabel di atas, air baku tersebut dapat diperuntukkan untuk beberapa kegiatan sebagai
berikut:
Tabel 2.3 Peruntukkan Penggunaan Air Berdasarkan Kelasnya
Kelas Air
Air Baku
untuk Minum
Air untuk
Sarana
Rekreasi
Air untuk
Budidaya
Perikanan dan
Peternakan
Air untuk
Menyiram
Pertamanan
Kelas 1
Kelas 2
Kelas 3
Kelas 4
Sumber : Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001
Keterangan: Boleh digunakan untuk peruntukkan tersebut
Tidak boleh digunakan untuk peruntukkan tersebut
2.4 Kualitas Air Minum
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI No. 907/Menkes/SK/
VII/2010 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum menyebutkan bahwa air
minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi
syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Adapun jenis air minum tersebut meliputi :
1. Air yang didistribusikan melalui pipa untuk keperluan rumah tangga.
2. Air yang didistribusikan melalui tangki air.
3. Air kemasan.
4. Air yang digunakan untuk produksi bahan makanan dan minuman yang disajikan kepada
masyarakat.
Keempat jenis air minum tersebut harus memenuhi syarat kualitas air minum yang meliputi
persyaratan fisik, kimiawi, bakteriologis dan radioaktif. Tabel 2.4 berikut ini merupakan
Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010, yang merupakan
persyaratan kualitas air minum yang mengacu pada nilai panduan WHO.
Tabel 2.4 Standar Air Minum
No
Parameter Satuan
Kadar Maksimum yang
Diperbolehkan
Keterangan
Kepmenke
s
USEPA WHO
FISIKA


1
Bau - - - Tidak berbau
2
Jumlah Zat Padat
Terlarut (TDS)
mg/L 1.000 500 1.000

3
Kekeruhan NTU 5 5 5
4
Rasa - - - Tidak berasa
5
Temperatur C 30° - -
6
Warna TCU 15 15 15

KIMIA

a. Kimia Anorganik
1 Air Raksa mg/L 0,001 - -
2 Aluminium
mg/L 0,2 0,2 0,2
3 Arsen
mg/L 0,01 0,01 0,01
Tabel 2.4 Standar Air Minum (lanjutan)
No Parameter Satuan Kadar Maksimum yang
Diperbolehkan
Keterangan
Kepmenke
s
USEPA WHO

KIMIA

a. Kimia Anorganik
4 Barium mg/L 0,7 2 0,7
5 Besi
mg/L 0,3 0,3 0,3
6 Fluorida
mg/L 1,5 4 1,5
7 Kadmium
mg/L 0,003 0,005 0,003
8 Kesadahan
mg/L 500 - -
9 Khlorida mg/L 250 250 250

10 Kromium, Val. 6 mg/L 0,05 0,1 0,05

11 Mangan mg/L 0,1 0,05 0,4

12 Natrium mg/L 200 - -

13 Nitrat, sebagai N mg/L 50 10 11

14 Nitrit, sebagai N mg/L 3 1 3

15 Perak mg/L 0,05 - -

16 pH - 6.5 - 8.5 6,5 - 7,5
6,5 -
7,5
Batas min. dan
maks.
17 Selenium mg/L 0,01 0,05 0,01

18 Seng mg/L 3 5 3

19 Sianida mg/L 0.07 - -

20 Sulfat mg/L 250 250 250

21 Sulfida mg/L 0,05 - -

22 Tembaga mg/L 1 1,3 2

23 Timbal mg/L 0,01 - -

KIMIA
b. Kimia Organik
1 Aldrina ug/L 0,03 - 0,0003

2 Benzene ug/L 10 0,005 0,01

3 Benzo(a)pyrene ug/L 0,7 0,0002 0,0007

4
Chlordane (Total
Isomer)
ug/L 0,2 0,002 0,0002

5 Chloroform ug/L 200 - 0,3

6 2.4-D ug/L 30 0,07 0,03

7 DDT ug/L 2 - 0,001

Tabel 2.4 Standar Air Minum (lanjutan)
No Parameter Satuan
Kadar Maksimum yang
Diperbolehkan
Keterangan
Kepmenke
s
USEPA WHO
KIMIA

b. Kimia Organik
7
Heptachlor dan
Heptachlor Epoxide
ug/L 0,03
0,0004 dan
0,0002
-

8 Hexachlorobenzene ug/L
0,3 0,3 0,3
9 Pentachlorophenol ug/L
0,009 4 1,5
10
2.4.6-
Tricholorophenol
ug/L
0,2 0,005 0,003
KIMIA
c. Bahan Organik
11
Zat Organik
sebagai (KmnO4)
mg/L 10 - 0,0003

12
Gamma – HCH
(Lindane)
ug/L 0,002 0,005 0,01

MIKROBIOLOGI
1 Coliform Tinja
Jml/100
ml
sampel
0 0 0

2 Total Coliform
Jml/100
ml
sampel
0 0 0

RADIOAKTIVITAS
1 Aktivitas Alpha Bq/L 0,1 15 pq/L -

2 Aktivitas Beta Bq/L 1
4
milirem/year
-

Sumber: Kepmenkes RI No. 492/Menkes/SK/IV/2010, WHO (2006); USEPA (2003)
Keterangan:
1. Bq = Bequerel
2. Logam berat merupakan logam terlarut.
3. Bagi pH merupakan nilai rentang yang tidak boleh kurang atau lebih dari nilai yang tercantum.
4. Arti (-) di atas menyatakan bahwa untuk kelas termaksud, parameter tersebut tidak disyaratkan
2.5 Syarat-syarat Sistem Penyediaan Air Minum
Syarat-syarat sebuah sarana dan prasarana dalam hal penyediaan air minum publik
haruslah memenuhi beberapa kriteria yaitu: syarat kuantitatif, kualitatif dan kontinuitas yang
terjaga. Berikut ini akan diberikan tabel 2.5 penjabaran tentang ketiga persyaratan tersebut:
Tabel 2.5 Syarat-Syarat Sistem Penyediaan Air Minum
Syarat-Syarat Keterangan
Kuantitatif
1. Air baku harus mampu memenuhi besar kebutuhan air
minum publik.
2. Besarnya kuantitas yang dapat dikonsumsi bergantung pada
jumlah air baku dan kapasitas produksi Instalasi Pengolah
Air Minum
Kualitatif
1. Parameter fisik merupakan karakteristik air yang dapat
diketahui dengan indera penglihatan, penciuman serta rasa.
Parameter fisik ini meliputi kekeruhan, warna, bau, rasa,
suspended solid, dan temperatur.
2. Parameter kimia meliputi TDS, alkalinitas, ion-ion logam,
zat organik, fluorida dan nutrien (nitrogen dan fosfor).
3. Parameter biologi meliputi mikroorganisme patogen yaitu
bakteri, virus, protozoa dan cacing parasit.
Kontinuitas
1. Sumber air minum harus dapat menyediakan debit air yang
cukup atau fluktuasi debit yang relatif tetap secara
berkelanjutan.
2. Kontinuitas air minum sangat bergantung pada kemajuan
teknologi penyediaan air minum dan juga sosial ekonomi
masyarakat baik untuk kebutuhan domestik (rumah tangga)
dan juga non domestik (institusi dan industri)
Sumber: Bahan Ajar PB PAM (2005)
2.6 Parameter Kualitas Air Minum
Beberapa parameter fisik, kimia dan biologi yang mempengaruhi kualitas air minum
dapat dijabarkan pada tabel-tabel berikut tentang parameter fisik, kimia dan biologi yang
terkandung dalam air minum sebagai berikut:
Tabel 2.6 Parameter Fisik, Kimia dan Biologi Air Beserta Pengaruhnya
Parameter Fisik Keterangan Pengaruh
Suspended Solids
1. Inorganik solid yang meliputi
lempung, sil dan minyak
2. Materi organik seperti alga,
bakteri dan materi organik lain
Berkurangnya nilai estetika air
yang akan dikonsumsi
Temperatur
1. Temperatur akan berpengaruh
pada reaksi kimia
2. Temperatur juga akan
berpengaruh terhadap
pertumbuhan mikroorganisme.
Temperatur berpengaruh terhadap
toksisitas air karena bahan
pencemar yang terkandung di
dalamnya
Tabel 2.6 Parameter Fisik, Kimia dan Biologi Air beserta Pengaruhnya (lanjutan)
Parameter Fisik Keterangan Pengaruh
Warna
1. Air berwarna dihasilkan dari
kontak air dengan reruntuhan
organik seperti dedaunan
2. Air berwarna bisa juga
disebabkan oleh cemaran limbah
bahan kimia pabrik utamanya
pabrik tekstil
Berkurangnya nilai estetika air yang
akan dikonsumsi sehingga tidak
dapat diterima oleh masyarakat,
tanpa pengolahan untuk
menghilangkan warna
Bau
dan
Rasa
1. Bau dan rasa dapat disebabkan
oleh bahan organik alamiah yang
membusuk dan atau bahan kimia
yang menguap
2. Baru dan rasa dapat juga
disebabkan oleh cemaran limbah
pabrik yang mengandung bahan-
bahan organik tinggi.
Berkurangnya nilai estetika air yang
akan dikonsumsi sehingga tidak
dapat diterima oleh masyarakat,
tanpa pengolahan untuk
menghilangkan bau dan rasa
Kekeruhan
Air dinyatakan keruh jika air
tersebut mengandung begitu
banyak partikel bahan yang
tersuspensi seperti tanah liat,
lumpur, bahan organik dan
partikel kecil tersuspensi lainnya
Berkurangnya nilai estetika air yang
akan dikonsumsi sehingga tidak
dapat diterima oleh masyarakat,
tanpa pengolahan untuk
menghilangkan kekeruhan
pH
pH merupakan istilah yang
menyatakan intensitas kedaan
asam atau basa suatu larutan.
Rentang ph yang baik adalah 6 –
8,5
Derajat keasaman berpengaruh pada
reaksi-reaksi kimiawi seperti proses
koagulasi – flokulasi bergantung
jenis koagulannya, proses water
softening dalam pencegahan korosi,
dan juga desinfeksi.
Parameter Kimia Keterangan Pengaruh
Alkalinitas
Alkalinitas adalah kandungan ion-
ion bikarbonat, karbonat, dan
hidroksida dalam air yang akan
diolah. Alkalinitas dinyatakan
dalam mg/L padanan kalsium
karbonat.
Alkalinitas pada air berperan pada
proses-proses koagulasi – flokulasi
karena ion-ion bikarbonat dan
karbonat akan bereaksi dengan
koagulan membentuk koloidal
berupa flok
Kesadahan
Kesadahan disebabkan oleh
keberadaan ion-ion (kation)
logam bervalensi dua seperti Mg
2+
dan Ca
2+
akibat kontak air baku
dengan tanah dan bebatuan
Berpengaruh pada tingkat
pembentukan flok-flok dari reaksi-
reaksi kimiawi dengan koagulan. Air
yang terlalu sadah, termasuk
hardness, maka perlu dilakukan
pelunakan air
Kalsium
Kalsium adalah unsur mayor
kedua setelah bikoarbonat.
Tersusun dalam bentuk CaCO3,
CaSO4.H2O, hidrite (CaSO4) dan
fluorite (CaF2).
Berpengaruh pada tingkat hardness
air, jika air baku terlalu banyak
mengandng ion kalsium karbonat,
maka perlu dilakukan pelunakan air
dengan soda abu.
Tabel 2.6 Parameter Fisik, Kimia dan Biologi Air beserta Pengaruhnya (lanjutan)
Parameter Kimia Keterangan Pengaruh
Magnesium Konsentrasi magnesium diatas Konsentrasi magnesium
10-20 mg/L di permukaan air dan
diatas 30-40 mg/L di air tanah
jarang ada Magnesium adalah
mineral penting untuk manusia
dengan tingkat penerimaan 3,6-
4,2 mg/kg/hari.
maksimum di air minum dengan
konsentrasi 400 mg/L untuk orang
yang sensitif dan 1000 mg/l
untuk orang normal menyebabkan
efek laxative.
Besi
Besi ditemukan di batu, tanah dan
air dalam berbagai bentuk.
Umumnya berupa hematite
(Fe2O3) dan ferric hydroxida
(Fe(OH)3)
Besi memberikan warna merah
dan kuning. Pada kasus kesehatan
dapat membentuk batu ginjal jika
terlalu banyak mengkonsumsi zat
besi.
Mangan
Mangan sering hadir bersama-
sama dengan besi sangat banyak
terdapat di batu dan tanah.
Umumnya terdapat dalam
konsentrasi 0,1-1 mg/L.
Pada konsentrasi 0,2-0,4 mg/L
menyebabkan bau dan rasa pada
air serta dapat mempercepat
pertumbuhan mikroorganisme di
reservoir dan sistem distribusi.
Khlorida
Kandungan khlorida dalam air
250 mg/L merupakan batas
maksimum. Konsentrasi khlorida
di air minum normalnya relatif
kecil yaitu 0,2–0,4 mg/L yang
dibutuhan untuk desinfektan
Klorida dapat menyebabkan
korosif pada pipa baja dan
aluminium pada konsentrasi 50
mg/L.
Nitrat
Kandungan berlebih nitrat pada
tanaman akan terbawa oleh air
yang merembes melalui tanah,
sebab tanah tidak mempunyai
kemampuan untuk menahannya
oleh sebab itu dalam air tanah
kandungan nitrat relatif tinggi.
Nitrat akan berpengaruh pada
kesehatan yang dapat
menyebabkan kasus penyakit
blue baby.
Nitrit
Nitrit dapat terbentuk oleh
oksidasi ammonia (NH3) oleh
bakteri Nitrosomonas
Nitrit akan bereaksi dengan
oksigen menjadi nitrat
selanjutnya jika terminum dapat
menyebabkan kasus penyakit
blue baby
Total Dissolved
Solids
Merupakan ukuran dari total ion
dalam larutan
Air yang mengandung lebih dari
500 mg/l akan menyebabkan rasa
asin.
Konduktivitas
Merupakan parameter yang
berhubungan dengan TDS. DHL
merupakan ukuran (dalam
mikroumhos/cm) aktivitas ion
dari larutan
Umumnya, jika TDS dan DHL
meningkat maka korosivitas air
juga meningkat
Tabel 2.6 Parameter Fisik, Kimia dan Biologi Air beserta Pengaruhnya (lanjutan)
Parameter Biologi Keterangan Pengaruh
Bakteri Bakteri merupakan
mikroorganisme bersel tunggal.
Bakteri dapat berbentuk spiral
Kolera adalah penyakit yang
disebabkan oleh Vibrio comma.
Kolera menyebabkan muntah-
(spirilla), tongkat (bacillus) dan
kotak (coccus)
muntah dan diare.
Virus
Virus merupakan struktur
mikroorganisme paling kecil dan
hanya dapat dilihat dengan
bantuan mikroskop. Virus hidup
pada tubuh inangnya.
Virus patogen yang disebarkan
lewat air menyebabkan
poliomyelitis dan infeksi hepatitis.
Protozoa
Protozoa merupakan
mikroorganisme bersel satu yang
lebih kompleks dari pada virus
dan bakteri. Protozoa secara luas
di distribusikan di air alam,
beberapa Protozoa air bersifat
patogen
Sumber: 1. Montgomery (1985); 2. Linsley (1996); 3.Totok (2004); 4. Eckenfelder (2000)
2.7 Proses Produksi Air Minum
Menurut Peavy (1985) proses produksi air pada hakekatnya dilaksanakan berdasarkan
sifat-sifat perubahan kualitas yang berlangsung secara alamiah. Oleh karena itu, mekanisme
proses itu bisa berlangsung secara fisik, kimia, dan biologi.
Tabel 2.7 Proses Produksi Air dan Penjabarannya
Proses Produksi Air Penjabaran
Proses Secara Fisik
Proses secara fisik dalam pengolahan air minum
meliputi dilusi, sedimentasi dan resuspensi, filtrasi, gas
transfer, dan transfer panas
Proses Secara Kimia
Sumber air dari alam banyak yang mengandung mineral
dan gas yang terlarut, sehingga dalam pengolahan air
minum perlu dilakukan proses secara kimia yaitu
oksidasi-reduksi, dissolusi-presipitasi dan konversi
kimia lainnya.
Proses Secara Biologi
Proses pengolahan ini dengan memanfaatkan proses
metabolisme organisme yang mengkonversi suatu zat
menjadi zat lain.
Sumber: Peavy (1985) dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
Tabel 2.8 Alternatif Pengolahan Air Beberapa Parameter
No. Parameter Alternatif Pengolahan
1 Warna
Koagulasi
Adsorpsi GAC, PAC, resin sintetik
Oksidasi dengan chlorine, permanganat, dan chlorine dioxide
2 Bau dan Rasa
Oksidasi dengan chlorine, permanganat, ozon, dan chlorine dioxide
Adsorpsi Karbon Aktif (GAC dan PAC)
Aerasi
3 Kekeruhan
Prasedimentasi (air dengan kekeruhan tinggi)
Koagulasi dan Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
4 pH* Netralisasi
5
Zat Padat
Tersuspensi
(TSS)*
Prasedimentasi (air dengan kekeruhan tinggi)
Koagulasi dan Flokulasi
Sedimentasi
Filtrasi
6 Zat Organik
Reverse Osmosis
Ion Exchange
Air Stripping
Adsorpsi Karbon
Koagulasi
7 CO2 agresif Transfer gas (Aerasi)
8 Kesadahan
Pelunakan kapur soda
Ion Exchange
9
Besi dan
Mangan
Oksidasi
Transfer gas (Aerasi)
Chemical Precipitation
Ion Exchange
10 Sulfat
Ion Exchage dengan resin basa kuat
Softening (pelunakan)
11 Sulfida
Oksidasi dengan klorinasi
Aerasi
12 Fluorida
Ion exchange dengan activated alumina
Pelunakan kapur
Koagulasi alum
13 Amoniak Air Stripping
14 Nitrat
Koagulasi
Pelunakan kapur
Reduksi kimia
Denitrifikasi secara biologis
Ion exchange
Reverse osmosis
15
Arsen dan
selenium
Koagulasi dengan garam besi atau alumunium
Ion exchange dengan activated alumina
Ion exchange dengan resin basa kuat
Sumber : 1. Montgomery (1985); 2.Tambo (1974) dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
2.7.1 Intake
Intake adalah bangunan penyadap yang berfungsi untuk menangkap air baku dari sumber
sebelum masuk ke instalasi pengolahan. Sebelum air baku masuk ke instalasi pengolahan, maka
partikel-partikel yang ukurannya sangat besar seperti daun, kertas, plastik, potongan kayu, dan
benda-benda kasar lain yang berada dalam air harus disaring terlebih dahulu menggunakan
saringan kasar (Bar Screen). Penyaringan benda kasar bertujuan untuk menghindari rusaknya
atau tersumbatnya peralatan seperti pompa, katup-katup, pipa penyalur, alat pengaduk yang
digunakan dalam pengolahan air bersih.
Gambar 2.2 Intake dan Bar Screen
Sumber: PDAM Kota Bekasi, 2001 dalam KP Mufti, 2009
Menurut Metcalf dan Eddy (1991) saringan kasar dapat berupa kisi-kisi baja, anyaman kawat,
kasa baja/plat yang berlubang-lubang dengan dipasang vertikal/miring dengan sudut antara 30°-
80°. Analisis penting dalam perencanaan saringan kasar adalah menentukan kehilangan tinggi
(head loss) selama air melewati kisi saringan. Secara garis besar kehilangan tinggi dipengaruhi
oleh bentuk kisi dan tinggi kecepatan aliran yang melewati kisi, seperti dirumuskan oleh
Krischoer sebagai berikut:
Beberapa rumus yang digunakan untuk perhitungan intake dan
screen
a. Tinggi kecepatan aliran air melewati kisi screen (meter)

g . 2
v
h
2
· ∆
........................................................................ (2.1)
b. Kehilangan tekanan air setelah melewati kisi screen (meter)
Sin h
b
w
. H
3
4
L
θ β ∆
,
_

¸
¸
· ........................................................ (2.2)
Keterangan:
v = kecepatan aliran yang melewati kisi (m/det)
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/det
2
)
β = faktor bentuk kisi
w = lebar kisi (m)
θ = sudut kemiringan kisi ( º )
b = jarak antar kisi (m)

Berikut ini adalah besar masing-masing faktor bentuk kisi :
Tabel 2.9 Faktor Bentuk Kisi
Bentuk kisi Faktor Bentuk
Persegi panjang dengan sudut tajam
Persegi panjang dengan pembulatan di depan
Persegi panjang dengan pembulatan di depan dan belakang
Lingkaran
2.42
1.83
1.67
1.79
Sumber : Fair (1966)
Tabel 2.10 Kriteria Desain Intake
No Keterangan Unit Kawamura Droste Layla Reynolds
1
2
3
4
5
6
Kecepatan
Kemiringan
Barscreen
Tebal barscreen
Jarak antar barscreen
H:L
m/s
0
cm
cm
cm
<0.6
60
1.25-2
5-7.5
<0.6
2-5
5-15
1:2
7.5-15
0.4-0.8
2.5-7.5
-
30-75
1.25-3.8
2.5-5
Sumber : 1. Kawamura (1991); 2. Droste (1997); 3. Layla (1978); 4. Reynolds (1982) dalam Bahan Ajar PB PAM
2005
2.7.2 Pintu Air dan Saluran Pembawa serta Bak Pengumpul
a. Pintu Air
Pintu air digunakan untuk mengatur aliran air dari sumber air baku ke saluran intake
sehingga diperoleh debit pengaliran yang diinginkan. Pengaturan aliran air ini juga dilakukan
pada saat pemeliharaan (pembersihan dan perbaikan).
Debit aliran air saat melewati pintu air (m
3
/detik)
h 2.g. x H x b x C Q
Drag
∆ ·
............................................ (2.3)
b. Saluran Pembawa
Saluran pembawa berfungsi untuk menyalurkan air dari intake ke bak pengumpul.
Berdasarkan kriteria desain dari Japan Water Works Association, (1978):
Kecepatan minimum aliran air pada saluran: 0,3 m/detik
Kecepatan maksimum aliran air, jika
a. Konstruksi dari beton : 3 m/detik
b. Konstruksi dari besi, baja, PVC: 6 m/detik
1. Headloss aliran air saat melewati saluran pembawa (meter)
167 , 1
85 , 1
D
L
C
v
. ,82 6 h
,
_

¸
¸
· ∆
................................................. (2.4)
2. Kecepatan aliran air saat melewati saluran pembawa (meter)
S . R .
n
1
v
2
1
3
2
· ......................................................... (2.5)
3. Jari-jari hidrolis saluran pembawa jika saluran berbentuk segiempat (meter)

2.h b
h x b
R
air
air
+
·
............................................................. (2.6)
c. Bak Pengumpul
Bak pengumpul berfungsi untuk menampung air baku dari intake untuk diolah oleh unit
pengolahan berikutnya. Bak opengumpul dilengkapi dengan pompa intake dan pengukur debit.
(Bahan Ajar PB PAM, 2005)
Kriteria desain dalam Japan Water Works Association, (1978)
a. Kedalaman (H) : 3 – 5 meter
b. Waktu detensi : > 1,5 menit
Beberapa persamaan yang digunakan untuk perhitungan desain bak pengumpul
1. Volume air di bak penampung (meter)
h x L x P V
Air
·
....................................................... (2.7)
2. Waktu tinggal air di bak penampung (meter)
Q
V
Td
Air
·
................................................................... (2.8)
Keterangan:
Δh = headloss saluran pembawa (meter)
C
Drag
= koefisien pengaliran, (nilainya 0,6)
C = koefisien kekasaran Hazen-Williams (C = 60 - 140)
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
L = panjang saluran pembawa (meter)
b = lebar saluran pembawa (meter)
S = kemiringan saluran (meter/meter)
R = jari-jari hidrolis (meter)
n = koefisien manning, jika terbuat dari beton (nilainya 0,03)
Q = debit air baku yang masuk ke bak pengumpul (m
3
/detik)
V = volume air yang dapat ditampung oleh bak penampung (m
3
)
P = panjang bak penampung (meter)
L = lebar bak penampung (meter)
h
air
= ketinggian air maksimum yang dapat ditampung (meter)
2.7.3 Pompa dan Sistem Transmisi
Pompa tidak termasuk dalam unit proses pengolahan air tetapi pompa merupakan
peralatan pendukung utama. Menurut Peavy (1985), performa pompa diukur berdasarkan
kapasitas pompa terhadap head dan efisiensinya. Efisiensi pompa biasanya pada range 60 - 85%.
Menurut Hazen-Williams, aliran air dalam pipa dengan diameter (D > 2 inch, 5 cm),
dengan kecepatan moderate (10 kaki/det, 3 m/detik). Nilai koefisien kekasaran C berkisar antara
140 untuk pipa halus (pipa yang masih baru), pipa lurus dari 90 sampai 80 untuk pipa lama, pipa
bergaris tuberculated. Berikut ini akan disajikan tabel koefisien gesekan berbagai jenis bahan
pipa
Tabel 2.11 Koefisien Kekasaran Pipa Menurut Hazen - Williams
Material Pipa Nilai C
Kuningan 130 - 140
Saluran batu bata 100
Besi cor dilapis Tar 130
Besi cor baru dan dilapisi 130
Besi cor dilapisi semen 130 – 150
Besi cor dengan tidak ditentukan bahan
pelapisnya
60 – 110
Semen – asbes 140
Beton 130 - 140
Karet dilapis 135
Besi berlapis seng 120
Kaca 140
Timah 130 - 140
Plastik 140 – 150
Baja batubara yang dilapisi enamel 145 – 150
Baja berkerut 60
Baja baru dan dilapisi 140 - 150
Baja terpaku 110
Timah 130
Batu tanah liat 110 – 140
Kayu pepohonan 110 - 120
Sumber: Peery (1967), Hwang (1981), and Benfield et al (1984) dalam Lin (2007)
Beberapa rumus yang digunakan dalam pompa dan sistem transmisi yaitu:
a. Kehilangan tinggi tekanan akibat bergesekan dengan dinding pipa transmisi dengan
menggunakan persamaan Hazen – Williams (meter)

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
·
1000
L
x
D x C
Q x 151
HL
85 , 1
63 , 2
Mayor ........................................ (2.9)
b. Kehilangan tinggi tekanan akibat kontraksi (minor losses) berupa aksesoris di sepanjang pipa
transmisi (meter)
2.g
v
k h
2
· ∆
............................................................... (2.10)
c. Daya hidraulik pompa untuk memindahkan air (Kilowatt atau KN.m./det


H Q. .
N
pump
pump
pump
η
γ
·
.......................................................... (2.11)
d. Daya motor penggerak pompa menggerakan poros pompa (Kilowatt)
( )

) . (
A 1 . N
N
poros pump
pump
motor
η η
+
·
..................................................... (2.12)
Keterangan :
Q = debit pemompaan, (m
3
/detik)
D = diameter pipa bagian dalam (m)
L = panjang pip transmisi (m)
v = kecepatan aliran air dalam pipa (m/detik)
k = konstanta gesekan akibat aksesoris pipa
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
γ
= berat spesifik cairan, kN (9,774 KN pada temperatur 27°C)
C = konstanta friksi bahan pipa
ή
pump
= efisiensi pompa (%)
ή
motor
= efisiensi motor (%)
ή
poros
= Efisiensi hubungan poros, 1 jika poros dikopel langsung
A = Faktor yang bergantung pada jenis motor
= 0,1 sampai 0,2 untuk motor listrik
Menurut Peavy (1985), performa pompa diukur berdasarkan kapasitas pompa terhadap
head dan efisiensinya. Kapasitas pompa adalah zat cair yang dipompa per satuan waktu yang
biasanya diukur dalam m
3
/jam, liter/detik, GPM, dan sebagainya. Efisiensi pompa (η
p
) biasanya
pada range 60-85 %.
a. Daya Air
Daya Air adalah energi yang secara efektif diterima oleh zat cair dari pompa per
satuan waktu, di hitung dengan persamaan:
0,1635QH P
w
γ ·
............................................................. (2.13)
Dengan: P
W
= daya air (kW)
γ
= berat air per satuan volume (kgf/L)
Q = kapasitas pompa (m
3
/menit)
H = head total pompa (m)
b. Daya poros
Daya poros adalah energi yang diperlukan untuk menggerakan pompa per satuan waktu.
Nilai P didapat dari :
cos 3 VI P φ ·
.............................................................. (2.14)
Dengan: P = daya poros pompa (watt)
V = tegangan antar phase (volt)
φ cos
= faktor tenaga
I = arus listrik (ampere)
c. Efisiensi pompa
Efisiensi pompa diperoleh dengan rumus perhitungan:

cos 3 VI

P
P

w w
p
φ
η
P
· ·
.......................................................... (2.15)
Dengan: p
η
= efisiensi pompa
Nilai koefisien k Menurut Degremont (1991), bergantung pada bentuk kerugian gesekan
yang disebabkan oleh kondisi aliran dalam pipa tersebut. Berikut ini akan disajikan beberapa tipe
kerugian gesek aliran dalam pipa akibat suatu bentuk pipa seperti belokan (bend), aliran gabung
(inlet connection), gate valves, dan open valves and fittings.
a. Kerugian gesek akibat belokan (Bend)
r = radius belokan pipa
d = diameter pipa
Gambar 2.3 Belokan Pipa
Sumber : Degremont, 1991
Tabel 2.12 Konstanta k Untuk Berbagai Sudut Belokan
r / d 1 1,5 2 3 4
δ = 22,5° 0,11 0,10 0,09 0,08 0,08
δ = 45° 0,19 0,17 0,16 0,15 0,15
δ = 60° 0,25 0,22 0,21 0,20 0,19
δ = 90° 0,33 0,29 0,27 0,26 0,26
δ = 135° 0,41 0,36 0,35 0,35 0,35
Sumber : Degremont (1991)
b. Kerugian gesek akibat aliran gabung (inlet connection)
Q = total aliran air dalam m
3
/detik
Qa = aliran air yang bergabung ke pipa m
3
/detik
Gambar 2.4 Aliran Gabung Dalam Pipa
Sumber : Degremont, 1991
Tabel 2.13 Konstanta k Untuk Berbagai Aliran Gabungan
Qa / Q 0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8
Kb -0,60 -0,37 -0,18 -0,07 0,26 0,46 0,62 0,78 0,94
Kr 0 0,16 0,27 0,38 0,46 0,53 0,57 0,59 0,60
Sumber : Degremont (1991)
c. Kerugian gesek akibat gate valves
Gambar 2.5 Gate Valves
Sumber : Degremont, 1991
Tabel 2.14 Konstanta k Untuk Berbagai Nilai Gate Valve
Nilai
Pengecilan
Gate 1
d
0
1
8
2
8
3
8
4
8
5
8
6
8
7
8
K 0,12 0,15 0,26 0,81 2,06 5,52 17 98
Sumber : Degremont (1991)
d. Kerugian gesek akibat open valves and fittings
Gambar 2.6 Check Valves / No Return Valves
Sumber : Degremont, 1991
Tabel 2.15 Konstanta k Untuk Berbagai Nilai Open Valves and Fittings
Variasi Check Valves Nilai k tipikal Variasi nilai k
Parallel seat valve 0,12 0,08 – 0,2
Wedge gate valve 0,15 – 0,19
Angle valve 2,1 – 3,1
Needle valve 7,2 – 10,3
Straight screw-down valve 6 4 – 10
Screw-down stop valve, angle type 2 – 5
Float valve 6
Plug valve 0,15 – 1,5
Swing check valve 2 – 2,5 1,3 – 2,9
Foot valve (without strainer) 0,8
Sleeve coupling 0,02 – 0,07
Sumber : Degremont (1991)
2.7.4 Koagulasi
Koagulasi adalah penambahan dan pengadukan cepat (flash mixing)dengan koagulan
yang bertujuan untuk mendestabilisasi partikel-partikel koloid dan suspended solid (Reynolds,
1982). Sedangkan menurut Kawamura (2001) koagulasi didefinisikan sebagai proses
destabilisasi muatan koloid dan padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus dengan suatu
koagulan.
Pengadukan dengan terjunan adalah pengadukan yang umum dipakai pada instalasi
pengolahan air dengan kapasitas > 50 Liter/detik. Pembubuhan dilakukan sesaat sebelum air
diterjunkan sehingga air yang terjun sudah mengandung koagulan yang siap diaduk. Pengadukan
dilakukan setelah air terjun dengan energi (daya) pengadukan sama dengan tinggi terjunan.
Tinggi terjunan untuk suatu pengadukan adalah tipikal untuk semua debit, sehingga debit tidak
perlu dimasukkan dalam perhitungan. Gradient kecepatan 350 - 1700 /dt /detik.
Hubungan antara ketinggian terjun untuk masing-masing tingkat gradien pengadukan
dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 2.7 Grafik Hubungan antara Ketinggian dengan Gradien Pengadukan
Sumber: Darmasetiawan, 2001
Penentuan jenis koagulan sangat penting terutama untuk mendesain sistem pencampuran
cepat dan untuk flokulasi dan sedimentasi agar berjalan secara efektif. Kawamura (1991)
menyebutkan mengenai jenis koagulan yang sering digunakan adalah koagulan garam metal,
seperti alumunium sulfat, ferri klorida, ferri sulfat, serta Synthetic polymers, seperti polydiallyl
dimethyl ammonium (PDADMA) dan natural cation polymers seperti chitosan.
Selain koagulan biasanya dalam pengolahan air bersih ada penambahan bahan kimia
lebih dari dua atau tiga bahan kimia yang dibubuhkan dalam pencampuran cepat. Bahan kimia
tersebut antara lain alum, cationic polymers, pottasium permanganate, chlorine, Poly Aluminum
Chloride (PAC), ammonia, lime atau caustic soda, dan anionic dan nonionic polymers.
Reaksi-reaksi kimia yang terjadi saat koagulasi dengan contoh penggunaan PAC (Poly
Aluminum Chloride), dapat dijabarkan sebagai berikut: PAC akan membentuk ion-ion
alumunium hidroksida setelah beraksi dengan ion-ion bikarbonat dan karbonat dalam air baku.
Reaksi di dalam air dengan ion HCO
3
-1
air. Mr Al
2
O
3
= 102 g/mol; Mr Al(OH)
3
= 78 g/mol
(Lin, 2007)
Al
2
O
3
+ 3 HCO
3
-
 2 Al(OH)
3
↓ + CO
2
Dosis pembubuhan koagulan secara praktis ditentukan di laboratorium menggunakan jar
test. Adapun prosedur jar test menurut Darmasetiawan (2001), terdiri dari tahapan-tahapan
sebagai berikut :
1. Sebelum dilakukan jar test, terlebih dulu meneliti tentang kualitas air. Minimal
parameter yang diamati adalah pH, kekeruhan dan warna.
2. Ambil sampel air sebanyak 4 atau 6 buah (sebanyak gelas yang ada di jar test).
Kemudian dimasukkan ke dalam gelas jar test.
3. Setiap gelas kemudian diberi koagulan dengan dosis yang berbeda.
4. Setelah pembubuhan koagulan, dilakukan pengadukan cepat dengan kecepatan
pengadukan diatas 60 rpm selama 1 menit.
5. Setelah diaduk 1 menit, pengadukan diperlambat sampai 10 rpm untuk meniru proses
flokulasi. Dari sini mulailah diamati proses pembesaran flok. Pengadukan lambat ini
dilakukan selama 5 - 10 menit. Setelah itu dihentikan untuk dilihat proses pengendapan.
6. Proses pengendapan diamati selama 5 menit, 10 menit dan 20 menit. Dari sini dapat
dilihat kemampuan flok untuk mengendap.
7. Setelah itu supernatant (bagian-bagian yang tidak mengendap) di filter dengan
menggunakan kertas penyaring. Hasil filtrat diambil kembali.
8. Parameter diatas kemudian diamati lagi untuk masing-masing gelas. Dari sini dapat
diambil kesimpulan dosis mana yang paling baik.
Setelah melakukan prosedur jar test, hal lain yang perlu dilakukan adalah melakukan
pengesetan stroke (bukaan keran) pada instalasi pompa pembubuh koagulan. Pengesetan stroke
ini dimaksudkan untuk memberikan dosis pembubuhan koagulan yang tepat sesuai hasil jar test
ke instalasi pengolahan air.
Adapun rumus yang dipakai untuk pengesetan stroke pompa dosing pembubuh koagulan
yaitu:
100% x
C x Q
detik/jam 3.600 x D x Q
(%) Stroke
pump
olah
1
1
]
1

¸

·
............................. (2.16)
Keterangan:
Stroke = bukaan keran dalam %
D = dosis rata-rata hasil jartest (mg/Liter)
Q
olah
= debit instalasi pengolahan air (Liter/detik)
Q
pump
= debit pompa pembubuh koagulan (Liter/jam)
C = Konsentrasi larutan PAC (biasanya 10 – 11% kg per 1 Liter air)
2.7.5 Flokulasi
Menurut Kawamura (1991), flokulasi merupakan pengadukan lambat yang mengiringi
dispersi koagulan secara cepat melalui pengadukan cepat. Tujuannya adalah mempercepat
tumbukan yang menyebabkan terjadinya gumpalan partikel koloid yang tidak stabil sehingga
dapat diendapkan. Istilah koagulasi-flokulasi kadang-kadang digunakan secara bergantian dalam
beberapa literatur. Namun, penggumpalan partikel ini pada prinsipnya terjadi dalam dua tahap
proses.
Pemilihan proses flokulasi seharusnya berdasarkan kriteria di bawah ini:
1. Tipe proses pengolahan, misalnya konvensional, filtrasi langsung, softening atau
sludge conditioning.
2. Kualitas air baku, misalnya kekeruhan, warna, TSS dan temperatur.
3. Tipe koagulan yang digunakan.
4. Kondisi lokal, seperti ketersediaan petugas lapangan. (Montgomery, 1985)
Flokulator adalah alat yang digunakan untuk flokulasi. Saat ini banyak kita menjumpai
berbagai macam flokulator, tetapi berdasarkan cara kerjanya flokulator dibedakan menjadi 3
macam : yaitu pneumatic, mekanik, dan baffle.
Tabel 2.16 Prinsip Kerja Berbagai Jenis Flokulator
Jenis Flokulator Prinsip Kerja
Flokulator Pneumatic Mensuplai udara ke dalam bak flokulasi dengan cara kerja
hampir sama dengan aerasi, bedanya suplai udara yang
diberikan ke bak flokulasi tidak sebesar pada bak aerasi
Flokulator Mekanis Menggunakan alat serupa paddle atau bisa disebut batang
pengaduk. Bentuk dan desainnya pun bermacam-macam dan
sangat familiar bagi seorang engineer.
Flokulator Buffle Mengalirkan air baku berjalan dengan cara mengitari sekat-
sekat yang ada, sehingga sangat jelaslah bahwa flokulator ini
tidak bisa menambah atau mengurangi velositas G dan G x
Td, tetapi sangat tergantung dari kecepatan overflow dari bak
sebelumnya yaitu dari bak koagulasi. Derajat hasil flokulasi
ditentukan oleh sifat flok dan velositas gradien G dan G x Td
Sumber: Reynold (1982) dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
Tabel 2.17 Kriteria Desain Flokulator Umum
No Keterangan Unit
Kawa
mura
1
Al-
Layla
2
Reynol
ds
3
Darmase
tiawan
4
Peavy
5
Montg
omery
6
1 G dtk
-1
60 – 10 10 - 75 80 - 20 70 - 20 > 50
2 Tdair menit 30 – 40 10 - 90 10 - 20 10 - 30 15 - 20
3 G x Tdair 10
4
- 10
5
10
4
- 10
5
10
4
- 10
5
4
Kedalaman
bak
4,8
Sumber : 1. Kawamura (1991);
\
2. Al-Layla (1980); 3. Reynolds (1982); 4. Darmasetiawan (2001); 5.Peavy (1985);
6. Montgomery (1985) dalam Bahan Ajar PBPAM 2005
Menurut Kawamura (1991), nilai gradien kecepatan pengadukan Instalasi Pengolahan air
dengan menggunakan Baffle Channel:
2
1
air
) (v.Td
h) (g.
G
1
]
1

¸

·
..................................................................................
...... (2.17)
Keterangan:
ν = viskositas kinematis fluida = 0,864 x 10
-6
m
2
/detik pada 27°C
td
air
= waktu tinggal rata-rata air di dalam instalasi flokulasi (detik)
g = konstanta percepatan gravitasi (= 9,81 m/detik
2
)
Δh = kehilangan tekanan saat melintasi instalasi flokulasi (m)
Gambar 2.8 Denah Flokulator Baffle Channel
Sumber: Darmasetiawan, 2001
2.7.6 Sedimentasi
Menurut Reynolds (1982), sedimentasi adalah pemisahan zat padat - cair yang
memanfaatkan pengendapan secara gravitasi untuk menyisihkan padatan tersuspensi. Reynolds
juga mengklasifikasikan tipe pengendapan menjadi empat tipe yaitu :
1. Tipe pengendapan bebas (free settling); sering disebut sebagai pengendapan partikel
diskrit.
2. Tipe pengendapan partikel flok, yaitu pengendapan flok dalam suspensi cair. Selama
pengendapan, partikel flok semakin besar ukurannya dengan kecepatan yang semakin
cepat.
3. Tipe zone atau hinderred settling, yaitu pengendapan partikel pada konsentrasi sedang,
dimana energi partikel yang berdekatan saling memecah sehingga menghalangi
pengendapan partikel flok, partikel yang tertinggal pada posisi relatif tetap dan mengendap
pada kecepatan konstan.
4. Tipe compression settling; partikel bersentuhan pada konsentrasi tinggi dan pengendapan
dapat terjadi hanya karena pemadatan massa.
Menurut Kawamura (1991), pertimbangan-pertimbangan penting yang secara langsung
mempengaruhi desain proses sedimentasi adalah :
1. Proses pengolahan secara keseluruhan.
2. Materi tersuspensi dalam air baku.
3. Kecepatan pengendapan partikel tersuspensi yang disisihkan.
4. Kondisi iklim lokal, misalnya temperatur.
5. Karakteristik air baku.
6. Karakteristik geologi tempat instalasi.
7. Variasi debit pengolahan.
8. Aliran putaran pendek dalam bak sedimentasi.
9. Metode penyisihan lumpur.
10. Biaya dan bentuk bak sedimentasi.
Proses sedimentasi didasarkan pada pengendapan partikel secara gravitasi sehingga harus
diketahui kecepatan pengendapan masing-masing partikel yang disisihkan. Kecepatan
pengendapan flok bervariasi tergantung pada beberapa parameter yaitu: tipe koagulan yang
digunakan, kondisi pengadukan selama proses flokulasi dan materi koloid yang terkandung di
dalam air baku. Karakteristik aliran bak sedimentasi dapat diperkirakan
dengan bilangan Reynolds (Re) dan bilangan Froude (Fr) (Kawamura, 1991):
Beberapa rumus yang digunakan dalam sedimentasi yaitu:
a. Bilangan Reynold sebagai nilai lamineritas aliran (non dimensional)
500 Re
R .
Re
<
·
υ
v
............................................................... (2.18)
b. Bilangan Froude sebagai nilai uniformitas aliran (non dimensional)
5
2
10 Fr
R g.
v
Fr

>
·
............................................................... (2.19)
c. Waktu Tinggal Air (detik)
Q
Tinggi) Lebar x x (Panjang
Td
Q
Vol
Td
air
air
·
·
......................................... (2.20)
Keterangan:
v = kecepatan aliran (m/detik)
Q = debit pengolahan (m
3
/detik)
υ = viskositas kinematis fluida = 1,0191 x cm
2
/detik pada suhu 20°C
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
Pada dasarnya bak pengendapan yang panjang adalah yang paling baik tetapi tanpa
didukung oleh faktor hidrolis lainnya seperti lamineritas dan uniformitas dari aliran dan beban
permukaan yang sesuai, pengendapan dapat gagal (Darmasetiawan, 2001).
Menurut Peavy (1985), unit sedimentasi terbagi atas 2 bagian, Perbedaan antara
keduanya dijabarkan sebagai berikut:
Tabel 2.18 Kelebihan dan Kekurangan Bak Sedimentasi dari Segi Bentuk
Rectangular Circular
terdiri atas bak-bak yang panjangnya 2 - 4
kali lebarnya dan 10 – 20 kali
kedalamannya dengan aliran lurus masuk
dari inlet menuju outlet
Berbentuk lingkaran dengan aliran masuk
ke tengah dan dialirkan menuju perimeter,
kecepatan horizontal air secara kontinu
menurun
Lebih toleransi terhadap shock loads Sedikit toleransi terhadap shock loads
Pengoperasian mudah dan rendah biaya
pemeliharaan
Mekanisme penyisihan lumpurnya lebih
mudah
Mudah beradaptasi terhadap modul high-
rate settler
Membutuhkan operasi yang lebih hati-hati
Membutuhkan desain yang cermat
terhadap struktur inlet dan outlet
Efisiensi pengendapan tinggi
Biasanya membutuhkan fasilitas flokulasi
yang terpisah
Membutuhkan fasilitas flokulasi yang
terpisah
Sumber: 1. Peavy (1985); 2. Montgomery (1985) dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
Beberapa Rumus yang digunakan dalam pengoperasian sedimentasi rectangular
a. Kecepatan horizontal (m/detik)
3
1
o
o
v
n 1 - 1 v

,
_

¸
¸
× + ·
s
v
........................................................ (2.21)
b. Kecepatan pengendapan (m/detik)
A
Q
v
s
·
............................................................... (2.22)
c. Beban Permukaan (m
3
/m
2
.jam)
jam 1
detik 3.600
x
A
Q
SLR ·
.................................................... (2.23)
Keterangan:
A = Luas melintang bak (m
2
)
o
v
= Kecepatan Horisontal (m/dtk)
s
v
= Kecepatan Pengendapan (m/dtk)
n = Konstanta 0,33
Q = Debit pengolahan (m
3
/detik)
Tabel 2.19 Kriteria Desain Bak Pengendap Rectangular
No Keterangan Unit
Kawamu
ra
1
Dros
te
2
Rich
3
Mart
in
4
JW
WA
5
Layl
a
6
Reynol
ds
7
Fair
8
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Beban
permukaan
Tinggi air
td
Kemiringan plate
Panjang
Lebar
P:L
L:H
Freeboard
Re
Fr
Kecepatan
Removal
Efisiensi
Faktor keamanan
M/jam
m
jam
0
m
m
m
m/mnt
0,83 – 2,5
3-5
1.5-4
60-90
6:1 – 4:1
3:1 – 6:1
0.6
< 2000
> 10
-5
0,3 - 1,7
20-70
2,5-5
70-75
2.4-3
0,5-1
2 - 5
3:1–
5:1
< 500
>10
-5
4-5
500
3 - 4
60
< 500
>10
5
0,6
2-5
30
10
50-
70
1,8
45-60
>75
1.5-6
2:1
0,3 - 0,7
90
50-75
0 - 1
Sumber: 1 Kawamura (1991); 2 Droste (1997); 3 Rich (1961); 4 Martin (2004); 5 JWWA (1978); 6 Layla (1978);
7 Reynolds (1982); 8 Fair & Geyer (1986) dlm Bahan Ajar PB PAM 2005.
Bak empat persegi panjang secara umum digunakan dalam instalasi pengolahan yang
mengolah aliran besar. Tipe bak ini secara hidrolis lebih stabil. Biasanya desainnya, terdiridari
bak-bak yang panjangnya 2 - 4 kali lebarnya dan 10 – 20 kali kedalamannya. Untuk
memungkinkan pengeluaran lumpur endapan, maka dasar bak dibuat
Gambar 2.9 Sedimentasi Rectangular
Sumber: Reynolds, 1982 dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
2.7.6.1 Zone inlet
Pada zone inlet air yang masuk diasumsikan langsung merata pada potongan melintang di
dalam bak pengendap, dengan tingkat kandungan SS (suspended solid) yang homogen
ketidatmerataan pada zone inlet ini akan dapat menghasilkan turbulensi sehingga dapat
meruntuhkan bentukan flok yang telah terbentuk di flokulator.
Untuk menghindari ini secara umum aliran air harus mempunyai kecepatan aliran tidak
boleh melebihi 0.3 m/dt secara digiring secara stream line masuk ke dalam bidang pengendapan.
Zone inlet juga dapat berupa pipa lateral yang berlubang yang mengarah ke bawah,
sehingga air yang keluar dapat dibagi merata sepanjang bidang pengendapan, hal ini banyak
dilakukan pada pengendapan dengan plat miring.
Beberapa Rumus yang digunakan dalam bak pengendap dengan aliran continue
a. Headloss bak pengendap (meter)
2.g
v
H
2
o
f
·
............................................................... (2.24)
b. Diameter lubang pipa manifold (meter)
1
]
1

¸

·
5 . 0
f
) H .g 2 ( N.
Q . 4
D
π
....................................................... (2.25)
Keterangan:
v
o
= Kecepatan aliran air secara horizontal (m/detik)
N = Jumlah lubang di pipa manifold (buah)
Q = Debit pengolahan (m
3
/detik)
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
2.7.6.2 Zone outlet
Pada zone bidang pengendapan flok yang sudah terbentuk diharapkan dapat mengendap.
Secara ideal bidang pengendap ini harus memenuhi asumsi bahwa aliran harus merata
(mempunyai kecepatan yang sama) diseluruh potongan melintang dan kecepatan sepanjang
bidang pengendap harus sama.
A. Zone outlet
Beberapa rumus untuk perhitungan zona outlet termasuk di dalamnya gutter
a. Debit tiap gutter (cfs)
1
]
1

¸

1
]
1

¸

·
/detik m 1
cfs 3088 , 35

n
Q
Q
3
Gut ................................................. (2.26)
b. Tinggi air di saluran gutter (meter)
2
3
Air guter Gut
H x L ,49 2 Q × ·
................................................ (2.27)
c. Tinggi saluran gutter (meter)
freeboard h ) H . (0,2 H H
Air Air Gut
+ ∆ + + ·
...................... (2.28)
d. Debit tiap V-Notch (m
3
/detik)
2
5
Air Notch - V
H x ,36 1 Q ·
.................................................... (2.29)
e. Jumlah V-Notch (buah)
1
]
1

¸

·
\ Air
\ Gut
Notch - V
2.Q
Q
N
................................... (2.30)
f. Dimensi V-Notch (meter)
\ Air Notch - V
H
2
1
Free ·
............................................................ (2.31)
° · 45 Tan . .H 2 L
Air Notch - V ............................................. (2.32)
° · 45 Tan ). (Free . ) .(H 2 L
Notch - V Air Pintu ............................... (2.33)
g. Headloss pada V-Notch (meter)
2
5
h .
2
Tan . 2g . Cd .
15
8

Notch - V
Q
∆ ·
θ
................................ (2.34)
B. Zone penampungan lumpur
Beberapa rumus untuk perhitungan zona penampungan lumpur
a. Berat lumpur per hari (kg/hari)
hari 1
detik 86.400
. C . Q W
Sludge Olah Sludge
·
.................................. (2.35)
b. Debit lumpur per hari (kg/hari)

jam 24 x .../jam x T x % x x kg/m 1000
hari 1 x L 1000 x W
Q
buang Sludge Sludge
3
Sludge
Sludge
1
1
]
1

¸

·
ρ
(2.36)
Keterangan:
P = panjang bangunan (meter)
L = lebar bangunan (meter)
H = ketinggian bangunan atau tinggi air (meter)
T
buang
= periode pembungan lumpur setiap hari per menit (detik)
n = jumlah bangunan (buah)
θ = sudut kemiringan V-Notch (
o
)
Δh = kehilangan tinggi tekan (meter)
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
2.7.7 Filtrasi
Menurut Reynolds (1982) filtrasi adalah pemisahan zat padat-cair yang mana zat cair
dilewatkan melalui media berpori atau material berpori lainnya untuk menyisihkan padatan
tersuspensi yang halus. Proses ini digunakan untuk menyaring secara kimia air yang sudah
terkoagulasi dan terendapkan agar menghasilkan air minum dengan kualitas yang tinggi.
Sedangkan menurut Darmasetiawan (2001) proses yang terjadi di filtrasi adalah pengayakan atau
straining, flokulasi antar butir, sedimentasi antar butir, dan proses mikrobiologis.
Menurut Peavy (1985), dalam penjernihan air bersih dikenal dua macam saringan yaitu
saringan pasir lambat dan saringan pasir cepat. Yang dimaksud dengan saringan pasir cepat atau
Rapid Sand Filter (RSF) adalah filter yang menggunakan dasar pasir silika dengan kedalaman
0,6 – 0,75 m. Ukuran pasirnya 0,35 – 1,0 mm atau lebih dengan ukuran efektif 0,45 – 0,55 mm.
Pencucian filter pasir cepat dilakukan dengan cara backwash; kotoran-kotoran ataupun
endapan suspensi yang tertinggal pada filter akan ikut terekspansi dan bersama air pencuci
dikeluarkan melalui gutter. Pencucian dilakukan 24 jam operasi dengan waktu pencucian pasir
terekspansi ± 50%. Pencucian dapat dikombinasikan dengan nozzle. Kecepatan penyemprotan ±
270 lt/m
2
/menit, dengan tekanan antara 0,7-1,1 kg/cm
2
. Dengan kombinasi ini, hasil pencucian
filter dapat lebih bagus dan jumlah air untuk mencuci filter dapat lebih sedikit.
Filter cepat terdiri dari filter terbuka dan filter bertekanan. Pada filter cepat titik berat
proses adalah pada proses pengayakan. Kecepatan filtrasi adalah berkisar 7 - 10 m/jam untuk
filter terbuka dan filter bertekanan dapat mencapai 15 – 20 m/jam. Kriteria kualitas air yang
dimasukkan ke filter adalah dengan kekeruhan dibawah 5 NTU, sehingga air baku yang diatas 5
NTU harus diolah melalui proses koagulasi – flokulasi - sedimentasi. (Darmasetiawan, 2001).
Saringan bertekanan adalah berupa saringan pasir cepat yang ditempatkan dalam bejana
berbentuk silinder tertutup. Air lewat melalui tumpukan pasir dengan bantuan tekanan yang
dapat memaksakan air menembus tumpukan saringan.
Gambar 2.10 Saringan Pasir Cepat Aliran Gravitasi
Sumber : DED IPA II Sambak PDAM Tirta Dharma Kabupaten Grobogan, 1997
Saringan bertekanan adalah saringan pasir cepat yang ditempatkan dalam bejana
berbentuk silinder tertutup. Air lewat melalui tumpukan pasir dengan bantuan tekanan yang
dapat memaksakan air menembus tumpukan saringan.
Handrail
Tinggi Jagaan
Media Filter
Media Penyangga
Tinggi Air
Jenis saringan bertekanan yaitu vertical pressure filter dan horizontal pressure filter.
Ukuran saringan yang vertikal antara 0,3 – 2,75 m diameternya dan tinggi 2 – 2,5 m. Diameter
horizontal 2 – 3 m dan panjang sampai 9 m.
Filter bertekanan tertutup biasanya dalam kontainer logam dan bisa dioperasikan dalam
mode downflow atau upflow. Filter ini bisa terdiri satu atau banyak media dan dibersihkan
dengan backwash. Headloss maksimum dalam filter bertekanan adalah 20 – 200 mm. (Droste,
1997).
2.7.7.1 Media Filter
Media filter yang umum dupakai di Indonesia adalah pasir. Pasir yang dipergunakan dalam
filter harus bebas dari lumpur, kapur dan unsur-unsur organik. Pasir harus keras. Jika
dimasukkan ke dalam asam klorida selama 24 jam tidak akan kehilangan berat lebih dari 5%.
Pasir yang sangat halus akan lebih cepat clogging tetapi jika terlalu besar maka suspensi/partikel
halus akan lolos. Sehingga ukuran butir pasir harus diseleksi dahulu. Pasir yang biasa dipakai
adalah pasir kwarsa. Untuk menjamin ketahanan pasir kwarsa maka pasir kwarsa harus
memenuhi kriteria kadar silika (SiO
2
) 96%.
2.7.7.2 Hidrolika Filtrasi
Hidrolika filtrasi adalah membahas tentang dasar-dasar aliran hidraulik yang terjadi di unit
filtrasi. Beberapa persamaan hidrolika filtrasi diturunkan dari persamaan Rose berikut juga
rumus-rumus lainnya (Reynolds/Richards, 2001)
Rumus untuk perhitungan hidrolika filtrasi sebagai berikut:
a. Kecepatan aliran filtrasi (m/jam)
jam 1
detik 3600
x
L x P
Q
v
Olah
o
·
.................................................... (2.37)
b. Bilangan Reynold untuk aliran media filter (non dimensional)
υ
v d. .
N
o
Re
Φ
·
............................................................. (2.38)
c. Koefisien Drag atau koefisien pengaliran (non dimensional)
2 N nilai jika ;
N
24
C
Re
Re
Drag
≤ ·
........................................... (2.39)
2 N nilai jika 0,34;
N
3

N
24
C
Re
Re
Re
Drag
> + + ·
......................... (2.40)
d. Headloss media filter (meter)
Media
4
2
O
Media
Drag
L
D
1
x
v
x H x
g
C
x
067 , 1
H
ε Φ
·
........................ (2.41)
Keterangan:
Φ = tingkat kebulatan ukuran pasir (sphericity) (non dimensional)
ε
= kemampuan pasir meloloskan air (porositas) (non dimensional)
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
H
media
= tinggi media pasir di filter (meter)
D
media
= diameter pasir rata-rata terpilih (meter)
Tabel 2.20 Tingkat Kebulatan Dikaitkan Dengan Porositas
Deskripsi Sphericity ( Φ) Porositas ( ε )
Bulat sempurna 1,00 0,38
Bulat 0,98 0,38
Gompal 0,94 0,39
Tajam/bergerigi 0,81 0,40
Bersudut-sudut 0,78 0,43
Remuk 0,70 0,46
Sumber: Darmasetiawan (2001)
2.7.7.3 Sistem Underdrain
Menurut Darmasetiawan (2001), headloss atau kehilangan tekanan pada underdrain sangat
tergantung pada jenis underdrain yang dipakai. Underdrain dapat berupa:
1) Plat dengan nozzle
2) Teepee dengan lubang di samping
3) Pipa lateral pada manifold
Pada saat sekarang ini, media filter menggunakan noozle sebagai penampung air bersih
sebelum masuk ke unit selanjutnya. Nozzle ini berbentuk pipa kecil bulat yang memiliki celah di
dalamnya. Air akan masuk ke celah tersebut dan juga sebagai tempat keluarnya aliran air
backwash.
Beberapa rumus yang digunakan untuk perhitungan aliran noozle
a. Luas penampang noozle (m
2
)

4
D x
A
2
Noozle
udara
π
· ......................................................... (2.42)
b. Debit air per satu noozle (m
3
/detik)
n
Q
Q
Olah
Noozle
·
................................................................ (2.43)
c. Headloss sistem pada underdrain (meter)
2
2
O
Noozle
L
v
Q

g . 2
1
H
1
1
]
1

¸

·
......................................................... (2.44)
Gambar 2.11 Instalasi Noozle di Plat Filter
Sumber: PDAM Tirta Dharma Kabupaten Grobogan, 2012
Keterangan :
D
Noozle
= diameter noozle (meter)
n = jumlah noozle yang diinstalasikan di plat filter (buah)
Q
olah
= debit pengolahan air di unit filter (meter)
v
o
2
= kecepatan aliran air di unit filter (m/detik)
g = konstanta percepatan gravitasi (9,81 m/detik
2
)
2.7.7.4 Pencucian Balik (Backwash)
Metode pencucian balik atau dikenal sebagai backwash bertujuan untuk mencuci media
filter dari sisa-sisa flok yang tertahan di media filter saat filtrasi mengalami penyumbatan aliran
(clogging).
Ada dua metode umum untuk melakukan pencucian balik filtrasi yaitu:
Tabel 2.21 Metode Pencucian Balik Filter
Metode Pencucian Balik Penjelasan
Gravitasi
1. Air yang ditampung dari menara resevoir yang tinggi
kemudian mencuci filter dengan pengaruh gravitasi.
2. Air yang berasal dari filter sebelahnya (interfilter)
Pompa Backwash
Air yang digunakan berasal dari filter kemudian dengan
bantuan pompa mencuci filter. Dengan arah terbalik filtrasi.
Sumber: Darmasetiawan (2001)
Beberapa rumus yang digunakan untuk perhitungan pencucian balik:
a. Kebutuhan udara untuk pencucian balik (m/jam)
filter udara udara
A x v Vol ·
.................................................... (2.45)
b. Porositas sebelum pasir filter terekspansi (terlontar dari filter) (meter)
pasir
3
1
6 , 3
1
air pasir
air
6 , 3
1
5 , 4
1
O
D
v

g

95 , 2 P ×

,
_

¸
¸

× × ·
ρ ρ
ρ υ
.............. (2.46)
c. Porositas sesaat pasir filter terekspansi (terlontar dari filter) (meter)
pasir
3
1
back
6 , 3
1
air pasir
air
6 , 3
1
5 , 4
1
e
D
v

g

95 , 2 P ×

,
_

¸
¸

× × ·
ρ ρ
ρ υ
............... (2.47)
d. Persentase ekspansi pasir (persentase tinggi lontaran pasir) (%)
% 100
P 1
P P
eksp %
e
O e
×


·
................................................. (2.48)
e. Tinggi ekspansi pasir (tinggi lontaran pasir) (meter)
100
L
L L
eksp
P
P e
×

·
................................................... (2.49)
f. Debit penggunaan air untuk pencucian balik filter (m
3
)
filter n x T x
filter
Q
Q
back
back
·
.................................................. (2.50)
Keterangan :
v
udara
= kecepatan pencucian dengan udara (min. 30 m
3
/m
2
.jam)
υ = viskositas kinematik = 0,864 x 10
-6
m
2
/detik pada 27 °C
ρ
w
= massa jenis air (kg/m
3
)
ρ
s
= massa jenis partikel media filter (kg/m
3
), misalnya pasir
D
pasir
= diameter butiran (meter)
L
p
= ketebalan media filter (meter)
L
e
= tinggi lontaran media filter (meter)
Tabel 2.22 Analisis Desain Saringan Pasir Cepat
Keterangan Unit Kawamura
1
Al-Layla
2
Reynolds
3
Darmasetiawan
4
Peavy
5
Kec.
Penyaringan
m/jam 5 – 7,5 4,8 – 15 4,9 - 12,2 7 – 10 2,5 – 5
Ukuran pasir mm - - 0,3 – 0,7 - 0,35 - 1,0
Tinggi filter m 3,2 – 6 - 0,6 – 0,8 0,3 – 0,6 -
Tinggi bak
filtrasi
m - - < 18 2,4 – 5 -
Waktu
pencucian
menit - 10 3 – 10 - -
Kec.
Backwash
m/jam - 56 - 18 – 25 -
Tinggi air di
atas media
cm - 90 – 160 90 -120 300 – 400 -
Ekspansi Pasir cm - 90 - 160 20 – 50 h - -
Headloss filter
bersih
m - 0,2 – 3,0 - - -
Tinggi Jagaan
Filter
m - - - - -
Sumber: 1. Kawamura (1991): 2.Al-Layla (1980): 3.Reynolds (1982): 4.Darmasetiawan (2001): 5.Peavy (1985)
dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
Tabel 2.23 Karakteristik Pasir sebagai Media Filter
Material Bentuk
Kadar
Silika
Sphericity
Berat Jenis
(gr/cm
3
)
Porositas ES (mm)
Pasir Bangka Bulat 98 % 0,92 2,65 0,42 0,4 - 1,0
Pasir Kwarsa
lainnya
Bersudut 85 % 0,85 2,65 0,45 0,4 - 1,0
Antrasit Bukit
Asam
Remuk - 0,60 1,4 - 1,7 0,60 0,4 - 1,4
Antrasit (Import) Bersudut - 0,72 1,4 - 1,7 0,55 0,4 - 1,4
Kerikil (gravel) Bulat 85 % 2,65 0,5 1,0 - 5,0
Plastik Sesuai dengan permintaan
Sumber : Darmasetiawan (2001)
2.7.8 Desinfeksi
a. Umum
Air yang telah disaring di unit filtrasi pada prinsipnya sudah memenuhi standar kualitas
tetapi untuk keperluan menghindari kontaminasi air oleh mikroorganisme saat penyimpanan
dan pendistribusian perlu dilakukan desinfeksi.
Desinfeksi yang umum digunakan adalah dengan cara klorinasi, walaupun ada beberapa
cara lain seperti dengan ozon dan ultra violet (UV) yang jarang digunakan. Sebagai
desinfektan, pembubuhan klorin dilakukan di lokasi reservoir disebut sebagai postklorinasi.
(Darmasetiawan, 2001)
Tabel 2.24 Metode – metode Desinfeksi yang Sering Digunakan
Metode Desinfeksi Keterangan
Khlorinasi
1. Klorin yang digunakan umumnya berupa gas klorin atau
klorin cair atau senyawa klorin yang terdiri dari CaOCl2
dan Ca(OCl)2.
2. Senyawa klor dapat mematikan bakteri karena oksigen
yang terbebaskan dari senyawa asam hypochlorous
mengoksidasi beberapa bagian yang penting dari sel bakteri
sehingga rusak.
Ozonisasi
1. Merupakan oksidan yang sangat kuat lebih kuat dibanding
asam hipoklorit.
2. Air yang diozonisasi dilewatkan pada filter arang aktif yang
bertindak sebagai kontraktor biologis agar organisme
saphropit membongkar zat yang terbongkar secara biologis.
Khlorin Dioksida
1. Kekuatannya melebihi klorin. Prinsip desinfeksi ini tidak
lain dimaksudkan untuk memperoleh klorin bebas, sedang
ClO2 bebas bertahan melebihi HClO.
2. Pada disinfeksi terminal dosis antara 0,1-3 mg/l dan untuk
menghilangkan bau dan rasa dosis dipakai sampai 10
mg/L/hari.
Pemanasan Ultra
Violet
1. Digunakan dalam skala besar dan kecil. Sangat efektif
dalam mendesinfeksi baik terhadap air maupun air
buangan.
2. Berdasarkan pertimbangan teknik, maka desinfeksi yang
menggunakan metode ini masih memerlukan sisa klor
dalam pengolahan.
Sumber: Reynold (1982) dalam Bahan Ajar PB PAM 2005
a. Khlorinasi
Senyawa klor dapat mematikan mikroorganisme dalam air karena oksigen yang
terbebaskan dari senyawa asam hypochlorous mengoksidasi beberapa bagian yang penting
dari sel-sel bakteri sehingga rusak.
Teori lain menyatakan bahwa proses pembunuhan bakteri oleh senyawa chlor, selain oleh
oksigen bebas juga disebabkan oleh pengaruh langsung senyawa chlor yang bereaksi dengan
protoplasma. Beberapa Percoban menyebutkan bahwa kematian mikroorganisme disebabkan
reaksi kimia antara asam hipoklorus dengan enzim pada sel bakteri sehingga metabolismenya
terganggu. (Darmasetiawan, 2001)
Tabel 2.25 Faktor-faktor Keefektifan Desinfektan Khlor di IPA
Faktor-faktor Keterangan
Jenis desinfektan
1. Gas khlor memiliki kemurnian hampir 100% akan tetapi
mahal operasinya untuk instalasi pengolahan air ukuran
kecil;
2. Khlor dalam kaporit memiliki kemurnian sampai 70%
akan tetapi mahal operasinya untuk instalasi pengolahan
air ukuran besar.
Konsentrasi
desinfektan
Konsentrasi residu minimum desinfektan adalah 0,2
mg/Liter
Waktu kontak
Waktu kontak dengan desinfektan khlor sekitar 20
menit.
Temperatur air
Titik equilibrium konstan pada temperatur 25° C = 4.48
x 10
-4
untuk desinfektan khlor
Derajat keasaman
(pH)
1. Pada pH di atas 8, asam hipoklorit (HOCl) akan menjadi
ion hipoklorit (OCl
-
);
2. Pada pH di kurang 7, asam hipoklorit tidak akan
terionisasi.
Adanya Senyawa Lain
Air terkadang masih mengandung senyawa-senyawa
kimia lain yang tersisa dari pengolahan sebelumnya,
maka khlor akan bereaksi terlebih dahulu dengan
senyawa-senyawa ini hingga habis bereaksi. Contohnya
persenyawaan nitrogen dan membentuk senyawa
khloramin.
Sumber: 1. AWWA (1997) dalam Bahan Ajar PB PAM 2005 2. Darmasetiawan (2001); 3. White (1972) dalam Lin
2007; 4. Travaglia (2004)
Sedangkan menurut Al-layla (1980), desinfektan yang digunakan dalam desinfeksi
haruslah:
1. Dapat mematikan semua jenis organisme patogen.
2. Ekonomis dan dapat dilaksanakan dengan mudah
3. Tidak menyebabkan air menjadi toksik dan berasa
4. Dosis diperhitungkan agar terdapat residu untuk mengatasi adanya kontaminan
dalam bakteri.
Senyawa khlor dapat mematikan mikroorganisme dalam air karena oksigen yang
terbebaskan dari senyawa asam hypochlorous mengoksidasi beberapa bagian yang penting dari
sel-sel bakteri sehingga rusak.
Senyawa klor yang sering digunakan sebagai desinfektan adalah hipoclorit dari kalsium,
natrium, kloramin, klor dioksida, dan senyawa komplek dari khlor.
Tabel 2.26 Senyawa Desinfektan Khlor
Senyawa khlor Mol equivalen khlor Persen berat khlor
Cl2
CaClOCl
Ca(OCl)2
NH2Cl
NHCl2
HOCl
NaOCl
Cl2
Cl2
2Cl2
Cl2
2Cl2
Cl2
Cl2
100
56
99.2
138
165
135.4
95.4
Sumber: Bahan Ajar PB PAM (2005)
Senyawa klor dalam air akan bereaksi dengan senyawa organik maupun anorganik
tertentu membentuk senyawa baru. Beberapa bagian klor akan tersisa yang disebut sisa klor.
Pada mulanya sisa klor merupakan klor terikat, selanjutnya jika dosis klor ditambah maka
sisa klor terikat akan semakin besar, dan pada suatu ketika tercapai kondisi “break point
chlorination”. Penambahan dosis klor setelah titik ini akan memberi sisa klor yang sebanding
dengan penambahan klor. (Darmasetiawan, 2001)
Gambar 2.12 Grafik Break Point Chlorination
Sumber : Darmasetiawan, 2001
Keuntungan dicapainya break point chlorination yaitu :
1. Senyawa ammonium teroksidir sempurna
2. Mematikan bakteri patogen secara sempurna
3. Mencegah pertumbuhan lumut
Proses klorinasi dapat terjadi sebagai berikut :
a. Penambahan khlor pada air yang mengandung senyawa nitrogen akan
membentuk senyawa khloramine yang disebut klor terikat. Pembentukan khlor terikat ini
bergantung pada pH, pada pH normal khlor terikat (NCl
3
) tidak akan terbentuk kecuali
jika break point chlorination telah terlampaui.
O H NCl HOCl NHCl
O H NHCl HOCl Cl NH
O H Cl NH HOCl NH
2 2 2
2 2 2
2 2 3
+ → +
+ → +
+ → +
b. Asam hipoklorus (HOCl) dan ion hipoklorit (OClˉ) akan terbentuk pada air
yang bebas senyawa organik. Dua senyawa ini berfungsi dalam proses desinfeksi.
− +
− +
+ →
+ + → +
OCl H HOCl
Cl H HOCl O H Cl
2 2
Kondisi optimum untuk proses desinfeksi adalah jika hanya terdapat HOCl, adanya OClˉ
akan kurang menguntungkan. Kondisi optimum ini dapat tercapai pada pH < 5. Dosis klorin
yang dibubuhkan harus cukup untuk menghasilkan sisa klor minimum 0,2 mg/l di akhir
distribusi. (Kep Menkes RI No: 907 / MENKES / SK / VII/2010).
Sedangkan menurut Kawamura (1991), dosis pembubuhan klorin berkisar antara 1 – 5
mg/L dengan sisa klorin di reservoir 0,5 mg/L dan di distribusi 0,2 – 0,3 mg/L. Klorinasi dapat
dilakukan dengan penambahan kaporit sebagai sumber klorinnya atau dengan gas Cl
2
.
2.7.9 Reservoir
Pada umumnya reservoir diletakkan di dekat jaringan distribusi dengan ketinggian yang
cukup untuk mengalirkan (mendistribusikan) air bersih/minum secara baik dan merata ke
seluruh daerah pelayanan.
Reservoir dapat dibedakan berdasarkan posisi penempatannya yaitu:
a. Ground Reservoir
Reservoir yang penempatannya pada permukaan tanah.
Gambar 2.13 Ground Reservoir
Sumber: PDAM Tirta Dharma Kabupaten Grobogan, 2012
a. Elevated Reservoir
Reservoir yang penempatannya di atas menara.
Pipa
Overfl
ow
Pipa
Distrib
usi
Pipa
Inlet
Pipa
Pengura
san
Pipa
Vent
Pipa
Vent
Pipa
Distribusi
Pipa
Overflow
Pipa
Inlet
Gambar 2.14 Elevated Reservoir
Sumber: PDAM Tirta Dharma Kabupaten Grobogan, 2012
Reservoir dapat dipergunakan untuk menyimpan air pada waktu kebutuhan lebih kecil
dari kebutuhan rata-rata, mengalirkan air pada waktu kebutuhan lebih besar dari kebutuhan rata-
rata, dan memberikan waktu kontak desinfektan yang cukup bila diperlukan. (Tambo, 1974).
Tabel 2.27 Kriteria Desain Reservoir Umum
Keterangan Unit Tambo
1
Darmasetiawan
2
Tinggi efektif air meter 3 – 6 -
Freeboard meter 0,30 -
Waktu detensi jam - < 4
Sumber: 1. Tambo (1974); 2. Darmasetiawan (2001)
BAB III
METODOLOGI PERENCANAAN

3.1. TUJUAN OPERASIONAL
Tujuan dari tugas ini adalah untuk menyusun suatu perencanaan bangunan pengelolaan
air minum yang merupakan instalasi pengolahan yang terdiri atas bangunan-bangunan
pengolahan yang akan mereduksi pencemar hingga memenuhi standar-standar air minum yang
berlaku. Perencanaan kegiatan bangunan pengolahan air minum merupakan kegiatan yang tidak
dapat dipisahkan dari Perencanaan Sistem Penyediaan Air Minum, karena perencanaan ini
berfungsi sebagai penunjang dalam sistem penyediaan air itu sendiri. Dengan adanya tugas ini
diharapkan mahasiswa dapat memahami tahapan – tahapan dalam merencanakan suatu bangunan
pengelolaan air minum.
3.1.1. Rencana Umum
1. Merencanakan bangunan atau instalasi pengolahan air minum.
2. Menentukan setiap bagian pengolah air yang digunakan dalam satu rangkaian pengolahan air
minum.
3. Bangunan pengolah air minum dapat menghasilkan produk yang siap konsumsi oleh
masyarakat.
3.1.2 Membuat Desain Bangunan
1. Membuat desain bangunan pengolahan air minum.
2. Dapat menghitung desain dimensi bangunan pengolahan air minum.
3. Membuat gambar denah dan potongan bangunan pengolahaan air minum.
4. Membuat desain pilihan alternatif dan perlengkapannya.
3.2 PENGUMPULAN DATA
Tahap pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh data-data yang akan digunakan
dalam perencanaan instalasi pengolahan air minum. Data-data yag digunakan terdiri dari 2 (dua)
jenis yaitu data primer dan data sekunder.
3.2.1 Data Primer
Data primer yang dibutuhkan dalam perencanaan bangunan pengolahan air minum antara
lain:
1. Sumber air baku.
2. Kualitas air baku.
3. Ketersediaan air yang merupakan debit air baku yang akan diolah.
4. Peta situasi daerah perencanaan.
3.2.2 Data Sekunder
1. Teknis operasional dan perawatan.
2. Kinerja instalasi pengolahan air.
3. Kebutuhan atau peruntukkan air.
Selanjutnya dari data-data yang ada dilakukan analisa kualitas air baku sehingga dapat
ditentukan diagram proses pengolahan dan perancangan detail bangunan lengkap pengolah air
minum.
3.3 PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA
Setelah kondisi lingkungan eksisting diketahui melalui data-data yang dikumpulkan,
data-data tersebut diolah sedemikian rupa sehingga mudah untuk dilakukan analisis data.
Analisis yang dilakukan meliputi analisis kuantitas yaitu penentuan debit air baku yang akan
diolah dan analisis kualitas air baku dengan cara membandingkan kualitas air baku yang ada
dengan standar kualitas air minum yang ada untuk merencanakan unit pengolahan yang
dibutuhkan untuk mengolah air baku.
3.4 PEMILIHAN ALTERNATIF PENGOLAHAN
Setelah kita mengetahui hasil analisis kuantitas dan kualitas air baku, maka dilakukan
pemilihan alternatif pengolahan yang sesuai dengan kriteria air baku yang akan diolah.
3.5 PERANCANGAN INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM
Hasil analisis dari data yang telah diolah digunakan sebagai dasar penyusunan
perancangan instalasi pengolahan air minum yang meliputi perancangan umum unit pengolahan
yang diperlukan, detail perancangan berupa perhitungan dimensi dan penentuan spesifikasi
teknis unit pengolahan air minum yang digunakan, profil hidrolis serta dilampiri dengan gambar-
gambar yang diperlukan.
3.6 PENYUSUNAN LAPORAN
Detail perancangan instalasi pengolahan air minum dengan sumber air baku dari bending
karet yang telah selesai dibuat kemudian disusun dalam suatu laporan yang sistematis dan
informatif.


PERSIAPAN
PENGUMPULAN DATA
DATA KUANTITAS
AIR BAKU
DATA KUALITAS
AIR BAKU
PENGOLAHAN DAN
ANALISIS DATA
ALTERNATIF 1
ALTERNATIF 2 ALTERNATIF 3
PEMILIHAN ALTERNATIF
ALTERNATIF TERPILIH
PERANCANGAN
INSTALASI PENGOLAHAN
AIR MINUM
PERHITUNGAN DIMENSI UNIT
PENGOLAHAN AIR MINUM
GAMBAR DETAIL UNIT
PENGOLAHAN AIR MINUM
PENYUSUNAN LAPORAN
Gambar 3.1 Diagram Alir Metodologi Perencanaan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->