LAPORAN PRAKTIKUM PEMISAHAN KIMIA PEMISAHAN ION LOGAM DENGAN TEKNIK KROMATOGRAFI KERTAS

Oleh : Kelompok III / OFF. G Dyah Fitri Purwati (110332406435)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN KIMIA PROGRAM STUDI S-1 KIMIA September 2013

Pada kromatografi planar sejumlah tertentu larutan contoh ditempatkan dengan cara menotolkannya di dekat salah satu sisi kertas kromatografi. Judul percobaan : Pemisahan Kation dengan Teknik Kromatografi Kertas B. komponen dalam tiap titik akan terdistribusi baik kedlam fasa gerak maupun fasa diam. Ketika solven atau fasa gerak mencapai titik sampel (spot). dan jenis kertas. Komponenen-komponen yang telah terpisahkan tersebut selanjutnya dapat diidentifikasikan pereaksi penampak noda.A. adalah salah satu metode kromatografi yang sederhana namun penggunaannya sangat luas. Dasar teori Kromatografi kertas termasuk dalam kromatografi planar(“planar” atau flat-bad chromatography). Perbedaan kecepatan migrasi inilah yang menyebabkan terjadinya pemisahan. Perbandingan jarak migrasi tiap komponen dengan jarak migrasi eluen didefinisikan sebagai factor retensi (Rf). keberadaan gaya kapiler akan mengakibatkan pelarut akan bergek ke atas sepanjang kertas dengan membawa komponen-komponen terlarut dari contoh yang telah ditotolkan sebelumnya. sehingga dapt terjadi pemisahan. salah satunya adalah dengan menempatkan kertas dalam suatu bejana tertutup (bjana pengembang) yang telah dijenuhkan dengan uap pelarut yang akan digunakan sebagai eluen. Jika terdapat perbedaan interaksi dari masing-masing komponen yang akan dipisahkan dengan pelarut. pelarut. Teknik kromatografi kertas bermacam-macam. Keseimbangan distribusi dalam kromatografi kertas dipengaruhi oleh beberapa factor termasuk kepolaran dari senyawa. Pada tipe kromatografi kertas teknik ascending. maka komponen-koponen tersebut akan bernigrasi dengan kecepatan yang berbedabedapula. Tujuan percobaan Percobaan ini bertujuan untuk memisahkan dan mengindentifikasikan campuran ion logam dengan kromatografi kertas C. .

Lalu bejana ditutup supaya terjadi kejenuhan ruang.25 M Larutan K4Fe(CN)6 Sampel (campuran ion-ion) Etanol E. Alat dan bahan Alat :          Gelas kimia 400 mL atau 600 mL (2 buah) Plastic Kertas saring kasar dan halus Cawan petri dan tutup Pipa kapiler Botol semprot untuk reagen Hair dryer Penggaris Pensil Bahan :           HCl 6 M Asteon Larutan Fe(III). Setelah itu kertas saring halus dan kasar . Ni(II) masing-masing 0. Langkah kerja Pada percobaan Pemisahan Ion Logam dengan Teknik Kromatografi kertas ini hal pertama yang dilakukan adalah gelas kimia disiapkan sebagai bejana kromatografi. Kemudian gelas kimia tersebut diisai dengan 7 mL HCl 6 M dan 25 mL aseton.5 M Larutan NH3 pekat Larutan NH4SCN 10% dalam alcohol Larutan DMG 10% dalam alcohol NaOH 0. Co(II). Cu(II).D.

Untuk ion Fe(III) dan Cu(II) larutan K4FeCN6 digunakan sebagai reagen pengidentifikasiannya. F. (7) sampel B (campuran Co(II) dan Ni (II)). Baru kemudian dilakukan penotolan di tempat/titik yang sama (jenis larutan tetap) hingga 10 kali penotolan. kertas sarin g dikeluarkan dan dikeringkan. Co(II) digunakan NH4SCN. kertas saring dimasukkan dalam gelas kimia yang telah berisi larutan. (6) sampel A ( campuran Cu(II) dan Fe(III) ). Setelah penotolan terakhir kering.yang berukuran 11X26 disiapkan dan dibuat garis yang berjarak 2 cm dari tepi bawah serta 2 cm dari tepii atas dengan pensil. Pipa kapiler digunakan untuk menotolkan tiap titik larutan sebanyak 10 kali penotolan. (4) standar Ni(II). dan tiap titik diberi jarak 2 cm juga. (2) standar Cu(II). Langkah terakhir adalah komopnen yang terdapat dalam sampel A dan B ditentukan dan dibandingkan bagaimana pemisahan ion-ion dengan teknik kromatografi kertas jika digunakn kertas saring halus dan kertas saring kasar. maka reagen pengidentifikasian disemprtkan pada kertas saring. Hasil pengamatan Langkah kerja 1. Jika noda tidak tambak. (5) campuran dari keempat standar. Harga Rf tiap noda yang timbul dihitung. Untuk penyemprotan. (3) standar Co(II). per bagian dipotong lalu NaOH disemprotkan terlebih dahulu. Penyemprotan kertas saring kasar :  Larutan standar Fe(III) + K4FeCN6 Hasil pengamatan berwarna + tak berwarna → tak berwarna Warna titik pada kertas saring :  Biru  Warna biru merupakan warna Kesimpulan . Untuk penotolan cuplikan dilakukan pada garis tepi bawah. Setiap satu kali penotolan. dan Ni(II) dengan DMG. Urutan titik adalah : (1) standar Fe(III). Fase gerak dibiarkan mencapai garis/tepiatas. ditunggu hingga kering dengan menganginanginkan kertas. 7 mL HCl 6 M + 25 Tak mL aseton 2. Setelah fase gerak mencapai tepi atas. Dari sisi kanan dan kiri diberi jarak 2 cm.

Penyemprotan  pada Warna kertas saring setelah penyemprotan : Biru  Warna biru dari standar  kertas saring halus : Larutan Fe(III) + K4FeCN6  \ Fe4[Fe(CN)6]3  Larutan standar   Biru  Warna seharusnya yang muncul Cu(II)+ K4FeCN6 .  Larutan standar Cu(II)+ K4FeCN6   Biru  dari Fe4[Fe(CN)6]3 Warna yang seharusnya muncul coklat kemerahan dari Cu4[Fe(CN)6]2  Larutan standar Co(II)+NH4SCN    Merah Warna yang seharusnya muncul : biru [Co(SCN)4]2  Larutan standar Ni(II) + DMG   Merah  Warna merah merupakan endapan nikel dimetil glioksima  Sampel A (Co dan Ni)    Merah Warna yang terdeteksi Ni(II)  Sampel B (Fe dan Cu)   Biru  Warna yang terdeteksi Fe(III) 3.

ditotolkan sejumlah larutan yang mengandung ion Fe(III). disemprotkan reagen pendeteksi pada masing-masing kertas saring. Pada masing-masing kertas. Pada pecobaan pemisahan ion logam dengan teknik kromatografi kertas ini digunakan dua macam kertas. dan Sampel B ( Fe(III) dan Cu(II)). Pada kertas saring kasar yang telah ditotolkan larutan standar Fe(III) diperoleh pengamatan timbulnya warna biru setelah disemprotkan reagen K4FeCN6 dengan harga .1 Kromatografi dengan kertas saring kasar. Co(II). sampel A (Co(II) dab Ni(II)). Cu(II). Ni(II).coklat  Larutan standar   Merah  kemerahan dari Cu4[Fe(CN)6]2 Warna yang Co(II)+NH4SCN seharusnya muncul :  Larutan standar   biru [Co(SCN)4]2 Kuning  Warna seharusnya :merah  Ni(II)DMG Sampel A (Co dan Ni)   Merah  Warna terdeteksi Ni(II)  Sampel B (Fe dan Cu)   yang yang muncul dari Ni(II)+DMG Me rah  Warnya yang terdeteksi Cu(II) G. yaitu kertas saring kasar dan kertas saring halus. Setelah kertas mengering. Diskusi G.

Pada kertas saring yang ditotolkan Co(II) dan Ni(II) memberikan hasil pengamatan yang sama pada warna yang ditimbulkan setelah penyemprotan. Sedangkan jika larutan Ni(II) direaksikan dengan DMG.. Pada kertas saring yang ditotolkan Co(II) dan Ni(II) memberikan hasil pengamatan untuk warna yang ditimbulkan setelah . Adanya ketidaksesuaian beberapa warna yang diamati pada percobaan dengan literature mungkin disebabkan oleh tidak digunakannya botol penyemprot saat penyemprotan reagen pengidentifikasi serta saat menotolkan larutan tidak selalu pada tempat yang sama sehingga ion logam sulit terdeteksi. warna titik yang terdeteksi adalah merah. Larutan standart dan sampelnya-pun juga sama. maka akan menghasilkan endapan berwarna merah dari Ni(II)DMG. Warna biru yang muncul merupakan warna dari Fe4[Fe(CN)6]3. Pada kertas saring yang halus diberi perlakuan yang sama seperti kertas saring yang kasar. Menurut Cu(II) timbul warna biru setelah disemprotkan K4FeCN6 dengan harga literature yang ada bila larutan Cu(II) bereaksi dengan K4FeCN6 maka akan dihasilkan larutan berwarna coklat kemerahan dari Cu4[Fe(CN)6]2. Menurut literature yang ada bila larutan Cu(II) bereaksi maka akan dihasilkan larutan berwarna coklat kemerahan dari Cu4[Fe(CN)6]2. Sedangkan pada kertas saring yang ditotolkan sampel B timbul titik warna biru dari Fe4[Fe(CN)6]3. Pada kertas saring yang ditotolkan larutan standar . Pada kertas saring yang ditotolkan sampel A. Hal ini menunjukkan ion Fe(III) yang terpisah dari sampel. Pada kertas saring yang ditotolkan larutan standar Cu(II) timbul warna biru setelah disemprotkan K4FeCN6 dengan harga dengan K4FeCN6 . maka akan menghasilkan larutan yang berwarna biru dari [Co(SCN)4]2. G.2 Kromatografi dengan kertas saring halus. Hal itu mengindikasikan bahwa ion logam yang terdeteksi adalah Ni(II) yang memberikan warna merah setelah disemprotkan DMG.masingmasing kertas saring timbul titik berwarna merah dengan harga Rf berturut-turut adalah dan . Pada kertas saring halus yang telah ditotolkan larutan standar Fe(III) diperoleh pengamatan timbulnya warna biru dari Fe4[Fe(CN)6]3 dengan harga . Menurut literature apabila Co(II) direaksikan dengan NH4SCN.

Neena.. 2013. H.penyemprotan berturut-turut adalah merah dan kuning. Warna merah yang timbul adalah warna dari Cu4[Fe(CN)6]2. . Hal itu mengindikasikan bahwa ion logam yang terdeteksi adalah Ni(II) yang memberikan warna merah setelah disemprotkan DMG. serta harga Rf = dan . Textbook of Macro and Semimicro Qualitative Inorganic Analysis. 1990. Pada kertas saring kasar jarak migrasi komponennya lebih jauh daripada kertas saring halus. Daftar pustaka Zakia. Menurut literature apabila Co(II) direaksikan dengan NH4SCN. Sedangkan pada kertas saring yang ditotolkan sampel B timbul titik warna merah yang mengindikasikan ino Cu(II) telah berhasil dipisahkan. Hal ini menunjukkan pada kertas saring kasar lebih cepat dan lebih efisien dalam melakukan pemisahan ion logamnya. warna titik yang terdeteksi adalah merah. London: Longman Group Limited. Terdapat perbedaan harga Rf pada penggunaan jenis kertas saringnya. Adanya ketidaksesuaian beberapa warna yang diamati pada percobaan dengan literatur disebabkan oleh tidak digunakannya botol penyemprot saat penyemprotan reagen pengidentifikasi serta saat menotolkan larutan tidak selalu pada tempat yang sama sehingga ion logam sulit terdeteksi dan terjadi pelebaran komponen sampel saat dielusi. Sedangkan jika larutan Ni(II) direaksikan dengan DMG. maka akan menghasilkan larutan yang berwarna biru dari [Co(SCN)4]2. G. maka akan menghasilkan endapan berwarna merah dari Ni(II)DMG. Petunjuk Praktikum Pemisahan Kimia. Pada kertas saring yang ditotolkan sampel A. Malang : Universitas Negeri Malang Svehla.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful