LEMBAGA-LEMBAGA NEGARA, ORGAN KONSTITUSIONAL MENURUT UUD 1945 Oleh: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH.

Dalam ketentuan UUD 1945, terdapat lebih dari 35 subjek jabatan atau subjek hukum kelembagaan yang dapat dikaitkan dengan pengertian lembaga atau organ negara dalam arti yang luas1. (i) Presiden2; (ii) Wakil Presiden3; (iii) Dewan pertimbangan presiden4; (iv) Kementerian Negara5; (v) Menteri Luar Negeri6; (vi) Menteri Dalam Negeri7; (vii) Menteri Pertahanan8; (viii) Duta9; (ix) Konsul10; (x) Pemerintahan Daerah Provinsi11; (xi) Gubernur/Kepala Pemerintah Daerah Provinsi12; (xii) DPRD Provinsi13; (xiii) Pemerintahan Daerah Kabupten14; (xiv) Bupati/Kepala Pemerintah Daerah Kabupaten 15; (xv) DPRD Kabupaten16; (xvi) Pemerintahan Daerah Kota17; (xvii) Walikota/Kepala Pemerintah Daerah Kota18;
1

Pandangan yang lebih luas lagi adalah yang didasarkan atas pendapat Hans Kelsen yang menyatakan bahwa semua organ yang menjalankan fungsi-fungsi ‘law-creating function and law-applying function’ adalah merupakan organ atau lembaga negara. Lihat Hans Kelsen, The General Theory of Law and State. Berdasarkan pandangan Hans Kelsen ini, setiap warga negara yang sedang berada dalam keadaan menjalankan suatu ketentuan undang-undang juga dapat disebut sebagai organ negara dalam arti luas, misalnya, ketika warga negara yang bersangkutan sedang melaksanakan hak politiknya untuk memilih dalam pemilihan umum. Yang bersangkutan dianggap sedang menjalankan undangundang (law applying function) dan juga sedang melakukan perbuatan hukum untuk membentuk lembaga perwakilan rakyat (law creating function) melalui pemilihan umum yang sedang ia ikuti.
2 3

Pasal 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, dan Pasal 16 UUD 1945. Pasal 4 ayat (2), Pasal 6, 6A, Pasal 7, 7A, 7B, 7C, Pasal 8, dan Pasal 9 UUD 1945. 4 Pasal 16 UUD 1945. 5 Pasal 17 ayat (1), (2), (3), dan ayat (4) UUD 1945. 6 Pasal 8 ayat (3) UUD 1945. 7 Ibid. 8 Ibid. 9 Pasal 13 ayat (1), (2), dan ayat (3) UUD 1945. 10 Pasal 13 ayat (1) UUD 1945. 11 Pasal 18 dan 18A UUD 1945. 12 Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. 13 Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 14 Pasal 18 dan 18A UUD 1945 15 Pasal 18 ayat (4) UUD 1945. 16 Pasal 18 ayat (3) UUD 1945. 17 Pasal 18 dan 18A UUD 1945. 18 Pasal 18 ayat (4) UUD 1945.

1

Eksistensi kesatuan masyarakat hukum adat diakui dan dihormati oleh negara berdasarkan ketentuan Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. tetap dan mandiri. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi 38. Tentara Nasional Indonesia (TNI)29. Sekretariat Jenderal MPR-RI. 34 Pasal 18B ayat (1) UUD 1945. Dalam pengakuan itu terkandung hak-hak konstitusionalnya sebagai subjek hukum tatanegara. 22 Pasal 22E ayat (5) UUD 1945. Angkatan Laut (AL)32. 33 Ibid. Bank sentral yang susunan. 2002. tanggungjawab. 28 Pasal 24B dan Pasal 24A ayat (3) UUD 1945. keberadaannya sebagai subjek hukum diakui di hadapan Mahkamah Konstitusi. 38 Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. yaitu dengan diberi kedudukan hukum atau ‘legal standing’ untuk mengajukan 19 20 Pasal 18 ayat (3). Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman35. kewenangan. 23F. Pasal 2. (2). Komisi pemilihan umum yang bersifat nasional. Satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau istimewa 34. Karena itu. dan ayat (5) UUD 1945. 21 Pasal 22C dan Pasal 22D UUD 1945. kedudukan. 30 Pasal 30 ayat (1). Kesatuan Masyarakat Hukum Adat37.(xviii) (xix) (xx) (xxi) (xxii) (xxiii) (xxiv) (xxv) (xxvi) (xxvii) (xxviii) (xxix) (xxx) (xxxi) (xxxii) (xxxiii) (xxxiv) (xxxv) DPRD Kota19. dalam UU No. Mahkamah Agung (MA)26. (4). 23 Pasal 23E. dan Pasal 23G UUD 1945. 25 Pasal 23E. Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)20. dan Pasal 23G UUD 1945. (2). yang diatur lebih lanjut dengan undang-undang23. Mahkamah Konstitusi (MK)27. dan independensinya diatur lebih lanjut dengan undang-undang 24. 36 Lihat Rancangan Perubahan Keempat UUD 1945. (3). Komisi Yudisial (KY)28. Tambaran Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4316. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Angkatan Udara (AU)33. dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI)30. dan ayat (5) UUD 1945. dan sebagainya. seperti Kejaksaan Agung36. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)21. 27 Pasal 24 dan Pasal 24C UUD 1945. 29 Pasal 30 ayat (1). 37 Pasal 18B ayat (2) UUD 1945. Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 35 Pasal 24 ayat (3) UUD 1945. 32 Ibid. dan Pasal 8 ayat (2) dan (3) UUD 1945. 26 Pasal 24 dan Pasal 24A UUD 1945. Dewan Perwakilan Daerah (DPD)22. 2 . 3. 31 Pasal 10 UUD 1945. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)25. 24 Pasal 23D UUD 1945. 23F. Angkatan Darat (AD)31.

(f) Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP). keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat itu sebagai subjek hukum. (k) pemberian amnesti. lembaga-lembaga penegak hukum yang 3 . Namun demikian. secara konstitusional keberadaanya dapat dilacak berdasarkan perintah implisit ketentuan Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 sendiri yang menyatakan. yang terpenting adalah fungsi penyelidikan. sejalan dengan prinsip Negara Hukum yang ditentukan oleh Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. (b) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut. dan (n) pemberian keterangan berdasarkan keahlian. Eksistensinya berada di luar jangkauan organisasi negara. Lembaga-lembaga atau badan-badan tersebut memang tidak disebutkan secara eksplisit keberadaannya dalam UUD 1945. penghakiman dan penghukuman. (e) penyelesaian sengketa dan mediasi atau pendamaian.permohonan perkara pengujian undang-undang ke Mahkamah Konstitusi. (b) penyidikan. dan (c) Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). (l) pemberian abolisi. (d) pembelaan atau advokasi. (f) peradilan. dan (g) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). (g) pemasyarakatan. (d) Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnasham). penyidikan. (j) pemberian grasi. (m) persaksian. Namun. Keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat ini memang berada di luar lingkup organisasi negara ( state organization). jumlah subjek hukum yang dapat disebut sebagai organ atau lembaga negara dalam UUD 1945 adalah lebih dari 34 buah. (e) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Karena itu. (c) para Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS). melainkan dipandang sebagai subjek hukum yang tersendiri. yang disebut dalam nomor (xxxiv) terdiri atas badan-badan. dan (i) pemulihan nama baik atau rehabilisasi. Dengan demikian. (h) pelaksanaan putusan pengadilan selain pemasyarakatan. Badan-badan yang dapat melakukan fungsi penyelidikan pelanggaran hukum ataupun hak asasi manusia adalah (a) Kepolisian Negara. Oleh karena itu. tidaklah dilihat dalam sebagai lembaga negara. Dari semua fungsi tersebut. yaitu berhubungan dengan fungsi-fungsi: (a) Penyelidikan. Apalagi. dan (b) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang”. (c) penuntutan. Sedangkan badan-badan yang melakukan penuntutan adalah (a) Kejaksaan. Namun. lembagalembaga negara tersebut tetap dapat disebut memiliki kedudukan yang sangat penting dalam hukum tatanegara (constitutional law). dan penuntutan. Masyarakat hukum adat itu merupakan ‘self governing communities’ (zelf bestuurende gemeenschappen) atau masyarakat hukum yang mengurus atau berpemerintahan sendiri. yaitu sebagai kesatuan masyarakat hukum adat. Badan-badan yang dapat menjalankan fungsi penyidikan pro-justisia adalah (a) Kejaksaan. artinya lebih dari 1 (satu) badan atau lembaga. yang dapat disebut sebagai organ atau lembaga negara dari daftar subjek hukum kelembagaan dalam UUD 1945 tersebut di atas adalah dari nomor (i) sampai dengan nomor (xxxiv). Yang dapat dikategorikan sebagai badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman adalah lembaga-lembaga atau badanbadan yang tugasnya berkaitan dengan peradilan dan penegakan hukum. (b) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(ii) Konsul. sedangkan ketentuan mengenai Kejaksaan Agung sama sekali tidak tercantum secara eksplisit dalam UUD 1945. dan Walikota sebagai Kepala Pemerintah Daerah. dan mandiri ”.C. seperti dikemukakan oleh A. Kabupaten. Jakarta. Yang dimaksud dengan “the laws of the constitution” dalam arti yang tertulispun tidak hanya menyangkut teks undang-undang dasar. 2005. masing-masing Kepala Pemerintah Daerah Provinsi.dibentuk berdasarkan undang-undang tersebut. Dalam pengakuan konstitusional atas status hukumnya sebagai Kepala Pemerintah Daerah berarti secara implisit diakui pula adanya hak dan kewenangan konstitusional yang melekat dalam kedudukan Gubernur. KPK. KPK. Bupati. 10 th edition. Modern Political Constitutions. Namun demikian. Disinilah letak pentingnya ketentuan Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 yang membuka ruang bagi diakuinya “badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman [yang] diatur dalam undang-undang” sebagai lembaga-lembaga yang juga memiliki “constitutional importance” seperti lembaga-lembaga lain yang keberadaannya disebut secara eksplisit dalam UUD 1945. dan Komnasham dapat disebut memiliki “constitutional importance” sebagai lembaga-lembaga konstitusional di luar UUD 1945. dan (v) Angkatan Udara. cetakan ke-2. yaitu (i) Duta. Jimly Asshiddiqie. (iv) Angkatan Laut. meskipun tidak disebut secara eksplisit dalam UUD 1945. Dicey39 ataupun C. (b) Bupati. 4 . E. Dari ke-33 organ jabatan tersebut. tetapi juga undang-undang tertulis juga dapat menjadi sumber dalam hukum tatanegara ( the sources of constitutional law)41. The Laws of the Constitution. lembaga-lembaga penegak hukum seperti Kejaksaan Agung. yaitu nomor (i) sampai dengan nomor (xxxiii). Strong40. dan Kota. Strong. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. 1959. Lagi pula. (ed. harus diakui bahwa dari 34 atau lebih lembaga negara dalam daftar tersebut di atas. dan (c) Walikota. kedudukannya tetap memiliki “constitutional importance” yang sama pentingnya dengan Kepolisian Negara (POLRI) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang kedudukan dan kewenangannya secara khusus diatur dalam Pasal 30 UUD 1945. 5 (lima) di antaranya hanya disebut sepintas lalu dalam UUD 1945. yang secara eksplisit disebut dalam UUD 1945 hanya 33 subjek. “Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional. Ketentuan lebih lanjut 39 40 41 Albert Venn Dicey. lembaga penyelenggara pemilihan umum tidak disebutkan secara eksplisit namanya dalam UUD 1945. “constitutional law” itu sendiri tidak hanya bersumber pada hukum konstitusi yang tertulis. Pasal 22E ayat (5) UUD 1945 hanya menentukan. yaitu sebagai Kepala Pemerintah Daerah. Wade).F. seperti Kejaksaan. tetapi juga berdasarkan berdasarkan konstitusi yang tidak tertulis. C. tetap. Yang disebut ekplisit namanya dan statusnya adalah (a) Gubernur. F. V. (iii) Angkatan Darat.S. Tidaklah tepat untuk menyatakan bahwa Kepolisian lebih penting daripada Kejaksaan Agung hanya karena ketentuan mengenai Kepolisian tercantum dalam UUD 1945. dan Komnasham. Konpres. Oleh karena itu. Di samping itu.

dan independensinya diatur dengan undang-undang ”. Namun. Meskipun demikian. substansi kewenangan dan tanggungjawab belum diatur atau ditentukan oleh UUD 1945. Pasal 23D UUD 1945 hanya menentukan. tanggungjawab. tetapi ketentuan Pasal 23D itu secara ekplisit telah mengakui bahwa bank sentral itu haruslah bersifat independen. 5 . Artinya. eksistensi bank sentral itu memang ditentukan dengan tegas dan eksplisit dalam UUD 1945. misalnya. dapat menimbulkan permasalahan yang berpotensi untuk digolongkan sebagai sengketa kewenangan konstitusional antar lembaga negara yang menjadi salah satu bidang kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk 42 Pasal 22E ayat (6) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jika. Lembaga lain yang dapat pula menimbulkan pertanyaan kritis mengenai ada tidaknya kewenangan konstitusionalnya yang ditentukan oleh UUD 1945 adalah bank sentral. Namun demikian. kedudukan. sifat kewenangan yang independen itu sendiri haruslah dipandang sebagai sifat normatif konstitusional. meskipun rinciannya masing akan ditentukan oleh undang-undang.tentang pemilihan umum diatur dengan undang-undang 42. kewenangan. Akan tetapi. maka hal tersebut mungkin saja menjadi perkara konstitusi yang diajukan kepada Mahkamah Konstitusi. dan independensi bank sentral itu sendiri sama sekali belum diatur secara eksplisit dalam Pasal 23D UUD 1945 tersebut. apa dan bagaimanakah kedudukan. Hal itu diserahkan pengaturannya kepada undang-undang yang derajatnya di bawah undang-undang dasar. Dalam melaksanakan sifat independen itulah yang apabila timbul persengketaan dalam praktek. rincian ketentuan mengenai nama lembaga dan kewenangannya diatur lebih lanjut dalam undang-undang yang tersendiri. Undang-Undang telah menentukan bahwa bank sentral itu bernama Bank Indonesia. “ Negara memiliki suatu bank sentral yang susunan. Dengan demikian. sebagaimana yang diwarisi dari sejarah di masa lalu. Tetapi pemberian namanya apa. Artinya. tanggungjawab. dalam kata “diselenggarakan” sudah terkandung kewenangan bahwa komisi penyelenggara yang kemudian oleh undang-undang diberi nama Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu adalah lembaga yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menyelenggarakan pemilihan umum. kewenangan. tergantung kepada pengaturannya dengan undang-undang. dalam kasus kewenangan bank sentral tersebut. dan belum dalam UUD 1945. kata “independensi” dalam ketentuan di atas mengandung makna sebagai sifat kewenangan dan kedudukan bank sentral itu sebagai lembaga negara. yang menjadi pokok persoalan bukanlah substansi kewenangannya yang sama sekali belum ditentukan oleh UUD 1945. melainkan adalah persoalan sifat kewenangan konstitusional bank sentral itu yang menurut ketentuan Pasal 23D haruslah bersifat independen. Artinya. Artinya. Meskipun rincian sifat independensinya itu sendiri juga belum ditentukan dalam UUD 1945. dalam pelaksanaan sifat kewenangan konstitusional yang harus independen itu di kemudian hari timbul persengketaan antar subjek hukum konstitusional yang satu dengan yang lain.

corporate organs) yang hidup dalam dinamika pasar. seperti sifat kewenangan bank sentral yang diharuskan bersifat independen. 28 di antara memiliki kewenangan atau kewenangan-kewenangan yang bersifat konstitusional yang ditentukan oleh UUD 1945. kita harus memahami konsepsi lembaga negara sebagai jabatan. Jakarta. Sengketa Kewenangan Konstitusional Antarlembaga Negara. termasuk 5 (lima) lembaga lainnya yang sama sekali belum disebutkan kewenangannya melainkan hanya disebut-sebut namanya dalam UUD 1945. Jimly Asshiddiqie. Sementara itu. sesuai dengan prinsip Negara Hukum menurut ketentuan Pasal 1 ayat (3) dan dalam rangka Pasal 24 ayat (3) UUD 1945 mengenai “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang ”. Uraian lengkap mengenai hal ini dapat dibaca dalam buku saya berjudul “Sengketa Kewenangan Konstitusional Antarlembaga Negara”43 dan buku “Konsolidasi Lembaga-Lembaga Negara Pasca Perubahan UUD 1945” 44. Sekarang. Di samping ke-33 buah lembaga negara tersebut di atas. dapat dinamakan sebagai lembaga konstitusional menurut UUD 1945. harus pula dicatat adanya lembaga43 44 Jimly Asshiddiqie. 2005. 6 . ada pula lembaga-lembaga negara lainnya yang dibentuk dengan atau berdasarkan undang-undang. ingin ditegaskan disini adalah bahwa dalam memahami mekanisme sengketa kewenangan konstitusional antarlembaga negara dan pengertianpengertian baru tentang Lembaga Negara pasca Perubahan UUD 1945. Dari uraian ringkas di atas. organ. Konpres. Konpres. institusi. dalam perspektif UUD 1945 pasca Perubahan Keempat. kita tidak dapat lagi mengandalkan pengertian-pengertian konvensional yang kita warisi dari masa lalu tentang lembaga negara yang hanya terbatas pada pengertian alatalat perlengkapan negara dalam arti sempit. Kalaupun bukan substansi kewenangannya yang ditentukan oleh UUD 1945. mengadili.memeriksa. sifat kewenangannnya itu ditentukan oleh UUD 1945. Namun. Konsolidasi Lembaga-Lembaga Negara Pasca Perubahan UUD 1945. 2005. lembaga. Keberadaan organ-organ negara itu berdampingan secara sinergis dengan keberadaan organ-organ atau institusi-institusi non-negara yang tumbuh dalam lingkup organisasi masyarakat (organizations of civil society) dan badan-badan usaha atau organisasi dunia usaha (business organizations. Jakarta. sekurang-kurangnya. ataupun badan yang termasuk ke dalam lingkup pengertian organisasi kenegaraan dalam arti luas yang berkaitan dengan fungsi-fungsi pembuatan dan pelaksanaan norma hukum negara (law creating and law applying functions) . Dari 33 buah subjek organ negara yang disebut secara eksplisit dalam UUD 1945 sebagaimana diuraikan di atas. berkenaan dengan lembaga-lembaga negara lainnya dapat pula diuraikan satu per satu aspek-aspek kewenangan konstitusional yang dimilikinya dan dengan kemungkinan terjadinya persengketaan dalam pelaksanaannya di dalam praktek penyelenggaraan kegiatan bernegara. dan memutusnya dengan putusan yang bersifat final dan mengikat. Semua lembaga tersebut.

yaitu apakah ada aspek kewenangannya yang diatur secara langsung atau setidaktidaknya secara tidak langsung dalam UUD 1945. Di samping itu. Semua itu dapat disebut sebagai lembaga negara. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang juga dibentuk berdasarkan undang-undang. ada pula lembaga-lembaga negara lainnya yang dibentuk berdasarkan peraturan yang lebih rendah daripada undang-undang. ada pula kelompok lembaga-lembaga negara yang memang murni ciptaan undang-undang yang tidak memiliki apa yang disebut di atas sebagai “constitutional importance”. Apakah lembaga-lembaga tersebut dapat bersengketa atau lembaga manakah yang kepentingannya terkait dengan kemungkinan terjadinya sengketa kewenangan konstitusional antar lembaga negara di Mahkamah Konstitusi? Jawaban terhadap pertanyaan ini terpulang kepada persoalan pokoknya. sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai lembaga negara yang bersifat konstitusional dalam arti luas. 7 . Selain itu. di samping adanya lembaga-lembaga negara yang bersifat konstitusional langsung ( directly constitutional). dan apakah kewenangan atau aspek kewenangannya itu terganggu atau dirugikan oleh keputusan-keputusan. tetapi bukan lembaga yang memiliki “ constitutional importance”. tindakan atau pelaksanaan kewenangan konstitusional lembaga negara lain sehingga menyebabkannya memperoleh kedudukan hukum (legal standing) yang beralasan untuk mengajukan permohonan perkara ke Mahkamah Konstitusi.lembaga negara lainnya yang juga memiliki “constitutional importance” sebagai lembaga negara penegak hukum. Dalam praktek. ada pula lembaga-lembaga negara yang bersifat konstitusional secara tidak langsung (indirectly constitutional). Dengan perkataan lain. seperti misalnya Komisi Nasional Ombudsman (KON) yang baru dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (sekarang baca: Peraturan Presiden). Misalnya. tetapi agak jauh untuk mengaitkannya dengan prinsip “constitutional importance”. ada pula beberapa lembaga daerah yang dapat pula disebut sebagai varian lain dari lembaga negara yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah.

1994. Jakarta: UI-Press. 1998. 12. Jimly Asshiddiqie. 8 . 2005. Jimly Asshiddiqie dkk. Kompilasi Konstitusi Berbagai Negara. 17. 2006. 1998. Jakarta: Konpres. Jakarta: Balai Pustaka. Bandung: Angkasa. Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia.. Jimly Asshiddiqie. Jimly Asshiddiqie. Jakarta: Konstitusi Press. dan Watampone Press. Mahkamah Konstitusi: Kompilasi UUD. Jimly Asshiddiqie. 9. Jakarta. 13. 20.. 1997. 2007. 2005. Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve. Jimly Asshiddiqie. 4. Jimly Asshiddiqie. 11. 2005. 2005. 21. Jakarta: Konstitusi Press. 2005. 2004. Gagasan Kedaulatan dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di Indonesia.DAFTAR BUKU KARYA PROF. 5. Jimly Asshiddiqie. Jimly Asshiddiqie. Jakarta. 2005. Jimly Asshiddiqie. Jakarta: Konpres. Pergumulan Peran Pemerintah dan Parlemen dalam Sejarah. Islam dan Kedaulatan Rakyat. Jakarta. dan Mahkamah Konstitusi. Jimly Asshiddiqie. Kompilasi Konstitusi Berbagai Negara. Undang-Undang Dasar 1945: Konstitusi Negara Kesejahteraan dan Realitas Masa Depan. 18. 2005. dan Peraturan di 78 Negara. 2005. Jimly Asshiddiqie. Jakarta: Konpres. Jilid 1. Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan dalam UUD 1945. Jakarta: PSHTN FHUI. Model-Model Pengujian Konstitusional di Berbagai Negara. Hukum Acara Pengujian Undang-Undang. Jimly Asshiddiqie. Jimly Asshiddiqie. 10. 2002. 2003. Jimly Asshiddiqie dan Mustafa Fachry. Konsolidasi Naskah UUD 1945 Pasca Perubahan Keempat. 2005. Jakarta: Konpres. 7. 3. Jakarta: Universitas Indonesia. 16. dan Jakarta: Watampone. 2004. SH. Sengketa Kewenangan Konstitusional antar Lembaga Negara. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jimly Asshiddiqie dkk. Jilid 2. Jimly Asshiddiqie. 1995. 6. Memorabilia Dewan Pertimbangan Agung Repubik Indonesia. 1996. 2005. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi. Jakarta: Konstitusi Press. Konpres. Jimly Asshiddiqie. (untuk materi pendalaman) 1. Konpres. Kemerdekaan Berserikat. Jimly Asshiddiqie. Teori dan Aliran Penafsiran dalam Hukum Tata Negara. Jakarta: Gema Insani Press. Jimly Asshiddiqie. Konpres. Pembaruan Hukum Pidana di Indonesia. 1997. PS-HTN FHUI. 14. Peran Parlemen di Masa Depan. Jakarta: Konpres. 15. 2004. JIMLY ASSHIDDIQIE. 1995. 19. Yogyakarta: FH-UII-Press. Jimly Asshiddiqie. Pembubaran Partai Politik. 2. Jakarta: PSHTN FHUI. 2003. UU. Agenda Pembangunan Hukum di Abad Globalisasi. Jakarta: InHilco. DR. 8. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi.

Peradilan Konstitusi di Sepuluh Negara. 25. SH. 2007. Buku 70 Tahun Prof. Jimly Asshiddiqie. Jakarta. PSHTN FHUI. Dr. Dr. Sri Soemantri Martosoewignjo. e. Jakarta: Konpres. 2006. Sweet & Maxwell Asia. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. 24. 23. Dlsb. 2006. MCL. Buku 60 Tahun Bacharuddin Jusuf Habibie. Pendekat Konstitusi dari Bumi Sriwijaya (2005). Buku 70 Tahun Prof. 2006. Beberapa Permasalahan Hukum Ekonomi. BIP-Gramedia. 31. 9 . Dr. 36. Jakarta: Konpres. Purwadi. Ismail Suny. Konpres. 2006. 26. The Constitutional Law of Indonesia: A Comprehensive Overview. Sekretariat Jenderal & Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI. edisi 1 dan 2 Tahun 2002.. Jimly Asshiddiqie. Jakarta. Jimly Asshiddiqie dan Ali Syafa’at. Jimly Asshiddiqie. Jakarta. Jakarta: Watampone Press. Beberapa buku kumpulan tulisan mahasiswa bimbingan yang diedit dan diterbitkan menjadi buku seperti: a. 2007. Rajagrafindo. Watampone Pers. Pasar dan Kemandirian Ekonomi (2006). Beberapa Perkembangan dalam Ilmu Hukum. Sebuah Dokumen Historis. Gagasan Amandemen UUD 1945 dan Pemilihan Presiden Secara Langsung. Dr. d. Green Constitution: Nuansa Hijau UUD 1945. d. b. Jakarta. 2006. Bagir Manan. Buku 70 Tahun Prof. 33. Purwadi. b. 38. 2006. Jimly Asshiddiqie. 2001. 2002. Jimly Asshiddiqie. 28. 32. BIP-Gramedia.. Matakin-INTI. Konstitusi dan Ketatanegaraan Kontemporer. Tim Editor. dkk. 29. Konpres. Tulisan atau artikel dalam berbagai buku ontologi atau biografi seperti: a. Harun Alrasid. 2009. Jakarta. SH. PSHTN FHUI edisi 1 dan 2 Tahun 2003. 2009. 30. c. c. Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. d. Jakarta. Beberapa buku tentang Jimly Asshiddiqie: a. 2007. 2009. Dr. Mengabdi dan Berprestasi (2006). 2006. Buku 70 Tahun Letjen (Purn) H. The Biogrpahy Institute. Jakarta. Jilid 2. f. Jakarta. Jurnal Tata Negara. Pandangan Hans Kelsen tentang Hukum. Hukum Tata Negara Darurat. Jurnal Tata Negara. Jimly Asshiddiqie. Pemikiran Jimly Asshiddiqie dan Para Pakar Hukum. Notaris Bicara tentang Hak Asasi Manusia. Solly Lubis. 2003. Jakarta: The Habibie Center. Studi. 2003. Menuju Negara Hukum Yang Demokratis. 2009. f. Rofiqul-Umam dkk. c. Konpres. e. 35. Jimly Asshiddiqie. Jakarta: Watampone Press. SH. 2006. Konpres. 27. Perihal Undang-Undang. Setengah Abad Jimly Asshiddiqie. Jimly Asshiddiqie dan Achmad Syahrizal. Jakarta. Jakarta: (sedang dalam proses penerbitan). Pengantar Pemikiran tentang Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.22. b. Achmad Tirtosudiro. Jilid 1. Buku 70 Tahun Prof. Kaelany. Dr. Jakarta. Komentar Atas Undang-Undang Dasar 1945. SH. 37. 34. Rajawali Press. Dr.

h. 39. M. Ratusan makalah yang disampaikan dalam berbagai forum seminar.g. serta yang dimuat dalam berbagai majalah dan jurnal ilmiah. Buku 70 Tahun Prof. SH. ataupun dimuat dalam buku ontologi oleh penulis lain berkenaan dengan berbagai topik. Mardjono Reksodiputro. lokakarya dan ceramah dalam dan luar negeri. 10 . Buku 70 Tahun Dr.Sc. Imaduddin Abdurrahim. MA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful