P. 1
Modul Ptk Chapter 2

Modul Ptk Chapter 2

|Views: 3,006|Likes:
Published by c4rix
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENELITIAN TINDAKAN KELAS

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: c4rix on Jul 24, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2013

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

(Classroom Action Research) BAB I PERAN GURU DAN TUNTUTAN PROFESIONALISME A. Standar Kompetensi Memahami profesionalisme Guru dalam pelaksanaan tugas B. Kompetensi dasar 1. Menjelaskan peran guru di sekolah 2. Mengidentifikasi kompetensi yang dimiliki guru 3. Menjelaskan kaitan antara profesionalisme guru dan Penelitian Tindakan Kelas 4. Mengidentifikasi kendala dalam melaksanakan PTK C. Materi 1. Peran Guru Guru merupakan pihak yang paling sering dituding sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap mutu pendidikan, apalagi jika mutunya kurang baik, Tudingan seperti itu tidak sepenuhnya benar, mengingat masih banyak sekali komponen pendidikan yang berpengaruh terhadap mutu pendidikan. Namun demikian, harus diakui bahwa guru merupakan komponen yang paling strategis dalam proses pendidikan dan pembelajaran. Oleh karena itu, banyak pihak menaruh harapan besar terhadap guru dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan profesional, yaitu kemampuan untuk dapat (1) merencanakan program belajar mengajar, (2) melaksanakan dan memimpin kegiatan belajar mengajar, (3) menilai kemajuan kegiatan belajar mengajar, dan (4) menafsirkan dan memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi lainnya bagi penyempurnaan perencanaan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (Soedijarto, 1993). Guru yang profesional, menurut Lawrence Stenhouse, dalam makalah Nurkamto yang berjudul “Penelitian Tindakan Kelas: Konsep Dasar dan Prosedur Pelaksanaannya” (1999), adalah guru yang memiliki kemandirian dalam melaksanakan tugas profesinya. Konsekuensi logis dari kemandirian itu adalah bahwa guru yang profesional akan senantiasa melakukan refleksi atas apa yang dilakukannya dan mengambil refleksi itu sebagai dasar pengembangan. Di sinilah letak arti pentingnya penelitian tindakan kelas bagi guru; yang intinya kinerja guru dan produknya merupakan refleksi keprofesionalan guru.. Sidi (1992: 2) menyatakan bahwa guru sebagai ujung tombak dalam upaya peningkatan mutu pendidikan masih perlu ditingkatkan kemampuannya, mengingat perubahan yang terjadi dalam kehidupan begitu cepat dan pengetahuan terus berkembang begitu pesat. Untuk mengatasi kondisi seperti itu dibutuhkan guru yang pandai meneliti dan

1

sekaligus memperbaiki proses pembelajarannya. Hal itu sangat diperlukan karena kemampuan meneliti juga merupakan cerminan guru yang profesional Dalam mewujudkan sekolah efektif, guru dituntut menguasai sepuluh pengetahuan dasar, yaitu (1) mengembangkan kepribadian, (2) menguasai landasan pengetahuan, (3) menguasai bahan pengajaran, (4) menyusun program pengajaran, (5) melaksanakan program pengajaran, (6) menilai proses dan program pengajaran, (7) menyelenggarakan program bimbingan, (8) menyelenggarakan administrasi sekolah, (9) berinteraksi dengan sejawat dan masyarakat, dan (10) menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran (Sukarman, 1999). Kenyataannya, guru masih banyak mengalami masalah dalam menjalankan tugas profesinya dan ia (mereka) tidak dapat menjalankannya dengan baik (secara ilmiah). Akibatnya ketika mutu proses dan hasil pendidikan rendah, guru selalu melempar tanggung jawab kepada pihak lain, misalnya orang tua, lingkungan, dan sebagainya. Penelitian tindakan kelas, cukup potensial untuk membantu memecahkan masalah guru dalam menjalankan profesinya sekaligus guna meningkatkan kinerjanya (Purwadi, 1999). Akan tetapi, dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas masih banyak kendala yang dihadapi oleh guru. Kendala-kendala itu menurut Priyono (1999) adalah (1) masih lemahnya pemahaman guru tentang konsep dan prinsip penelitian tindakan kelas, (2) belum diyakininya oleh guru dan pihak-pihak yang terkait bahwa penelitian tindakan kelas merupakan strategi pengembangan profesi guru, dan (3) belum membudaya reflective thinking di kalangan guru. Sedang menurut pengamatan penulis dalam berbagai pelatihan pada guru, diperoleh kesimpulan bahwa di samping kendala-kendala di atas, masih ada kendala yang lain, yaitu (1) tidak ada pembimbing penelitian, (2) sikap mental (guru) yang suka adanya kemapanan daripada mengikuti perkembangan, dan (3) tidak tersedianya dana untuk penelitian. Melalui tulisan ini diharapkan guru proaktif untuk mengatasai kendala tersebut. Jika kendala-kendala tersebut dapat diatasi, diharapkan terjadi peningkatan aktivitas guru dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, maka akan mampu mewujudkan sosok guru profesional. 2. Mengapa Perlu Penelitian Tindakan Kelas Sejak Thomas Samuel Kuhn mengemukakan pandangan bahwa “Kemajuan ilmu dapat terjadi apabila paradigma lama diganti dengan yang baru,” maka pada tahun 1960-an terjadilah kemajuan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sosial, humaniora, maupun teologi. Revolusi ilmiah Kuhn telah melakukan koreksi tentang kelemahan-kelemahan penelitian ilmu yang bersifat positivistik yang menyebabkan penelitian-penelitian ilmu di bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora cenderung menggunakan paradigma “baru” yang berbeda dengan paradigma positivisme. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah kegiatan terprogram yang tampak pada orientasinya yang memposisikan sekolah sebagai lembaga rekonstruksi sosial atau pusat pengembangan kebudayaan. Menurut Robert C. Bogdan, tujuan penelitian dapat dikategorikan dalam dua tipe, yaitu penelitian dasar dan penelitian terapan, di mana keduanya dapat berlaku di bidang pendidikan. Dalam penelitian kualitatif di bidang pendidikan ada tiga tipe, yaitu evaluation research, pedagogical research, dan action research. Action research merupakan salah satu perspektif baru dalam penelitian pendidikan

yang mencoba menjembatani antara praktik dan teori dalam bidang pendidikan (Dimyati, 2000:171-172). Action research merupakan penelitian tentang suatu realitas sosial dan bermaksud untuk melakukan perbaikan fenomena realitas sosial. Dalam model penelitian ini, si peneliti bertindak sebagai observer sekaligus sebagai partisipan. Action research sebagai salah satu metode penelitian mempunyai ciri sebagai berikut (1) sebagai suatu kegiatan perbaikan yang merupakan suatu program berdasarkan penelitian, (2) pelaku kegiatan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu pelaku penelitian yang berusaha mendapat “teori mendasar” dan kelompok petugas yang bertugas sehari-hari di dalam lembaga yang bersangkutan, (3) berusaha mengumpulkan informasi tentang sistem perilaku maupun komponen dalam kegiatan yang lengkap dan manfaat dalam perbaikan sosial, (4) berusaha untuk dapat menyusun tipe perilaku (tindakan) umum yang bermanfaat dalam perbaikan sosial, (5) merupakan alat untuk membuat masyarakat sadar akan kekuatan yang mereka miliki secara utuh dan rinci, (6) menghasilkan laporan yang berisi tentang data perilaku, konsep, dan teori “mendasar” awal yang berisi sifat kronologis, dan (7) action research menghasilkan dua faedah ganda, yaitu yang pertama adalah lembaga yang menjadi sasaran penelitian dapat tumbuh menjadi lembaga perbaikan realitas sosial dan yang kedua adalah pelaku penelitian memperoleh pengertian mendalam tentang realitas sosial yang mereka teliti (Dimyati, 2000: 175-176). Tujuan action research adalah melakukan perbaikan realitas sosial berdasarkan data kualitatif yang telah diperoleh dan berdasarkan pendekatan non-positivistik. Metode yang sering digunakan adalah studi dokumentasi, observai dan partisipasi observasi serta wawancara. Action research didahului oleh penelitian pendahuluan (eksplorasi) yang bertujuan untuk mendapatkan berbagai permasalahan lapangan dan berbagai kemungkinan pemecahannya. Penelitian pendahuluan ini menghasilkan suatu kesepakatan tentang permasalahan riil yang perlu segera diatasi serta desain action yang kemudian diubah menjadi proposal perbaikan keadaan (Dimyati, 2000:176). Seorang peneliti bisa menyampaikan pemecahan masalah berdasarkan praktik setelah ia memperhitungkan pola perilaku umum, adat, norma, dan sistem nilai yang berlaku di lapangan. Dalam praktiknya, peneliti dapat melakukan partisipasi observasi yang berguna untuk menyusun rapor, namun peran peneliti terikat batasan-batasan, yakni (1) keterlibatan hanya sebatas memberikan pemecahan masalah, tidak ikut kompetisi, (2) tetap berpegang pada etika penelitian, tidak memihak, dan (3) peneliti sebagai pendorong pemecahan masalah, tidak mengambil posisi pemimpin dalam masyarakat. 3. Kendala yang Dihadapi Guru untuk Melakukan PTK Menurut Zubaidai (2000), sedikitnya ada lima kendala yang dihadapi guru untuk melakukan PTK. Pertama, kendala yang berhubungan dengan lemahnya pemahaman konsep dan prinsip-prinsip PTK. Pihak yang mengalami kendala ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok guru dan kelompok calon guru (masalah LPTK). Kelompok guru memerlukan pembelajaran yang lebih intensif melalui berbagai pertemuan guru, seperti MGMP tingkat sekolah dan pelatihan-pelatihan guru, baik proyek maupun swadana. Sedangkan untuk kelompok calon guru, perlu kiranya materi PTK dijadikan bagian dari mata kuliah penelitian (dimasukkan dalam kurikulum LPTK). Kedua, kendala yang berhubungan dengan PTK sebagai strategi pengembangan profesi guru. Mengingat pentingnya PTK sebagai strategi pengembangan profesi guru, perlu kiranya pihak-pihak kakanwil/kakandep Dikbud menginstruksikan agar setiap unit pelaksana 3

teknis (UPT) di lingkungannya memprogramkan dan menyediakan anggaran yang memadai untuk melaksanakannya. Hasil penelitian dari masing-masing UPT ini dipublikasikan untuk dapat dijadikan sebagai pengembangan profesi guru melalui karya ilmiah. Ketiga, kendala yang berhubungan dengan reflective thinking. Berpikir reflektif dapat dibudayakan melalui portfolio. Portfolio adalah catatan seseorang tentang kinerjanya dari waktu ke waktu yang dibuatnya sendiri dengan sejujur-jujurnya. Dengan catatan tersebut, setiap guru akan selalu berpikir tentang kinerjanya selama ini untuk merencanakan mendatang. Prof. Robin Mattews dari Deakin University Australia dalam ceramahnya pada tanggal 5 Januari 1999 di IKIP Semarang menjelaskan bahwa manfaat portfolio adalah (1) sebagai bahan untuk refleksi, (2) untuk menyakinkan guru akan kualitas pembelajarannya, dan (3) agar orang lain akan tahu posisi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Ia juga menjelaskan bahwa kebiasaan ini telah melaksanakan pembelajaran. Ia juga menjelaskan di bangku Fakultas Keguruan di Deakin University Australia. Dengan portfolio ini, mereka mengajukan lamaran pekerjaan ke sekolah yang diminatinya. Portfolio ini dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari Penilaian Angka Kredit (PAK) guru. Secara substansial, portfolio sebenarnya sudah terdapat dalam proses penilaian angka kredit, hanya saja perihal yang berkaitan dengan portfolio tersebut belum tercantum secara eksplisit. Pendapat tentang portfolio sebagai bahan reflecting thinking seperti di atas dalam khazanah Islam bukanlah sesuatu yang asing sebab di dalam Al-Qur’an Surat Al-Hasyr ayat 18, Allah telah berfirman “Hendaklah setiap diri melihat apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari”. Keempat, kendala yang berhubungan dengan tidak adanya pembimbing penelitian di sekolah. Kendala ini dapat dimaklumi karena guru pada umumnya belum terbiasa untuk melakukan penelitian. Hal ini dapat diatasi dengan melakukan program kemitraan antara sekolah di satu pihak dan LPTK di pihak lain. Kedua pihak merupakan dua lembaga yang mempunyai objek sama, yakni pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pemakai produk LPTK dan LPTK selaku produsen harus mengetahui apa yang dibutuhkan konsumennya. Karenanya kemitraan akan sangat menguntungkan keduanya. Dalam hal penelitian, LPTK mempunyai sejumlah tenaga ahli dan dana serta membutuhkan pengabdian kepada masyarakat sebagai kegiatan program Tri Dharma perguruan tinggi, sedangkan sekolah membutuhkan pembimbingan dan tidak tersedia dana untuk penelitian. Padahal sekolah seringkali harus memecahkan masalah nyata yang dihadapi secara ilmiah. Dengan demikian, sekolah dapat mengajukan permohonan pengabdian masyarakat kepada LPTK untuk bersama-sama melakukan penelitian terhadap masalah yang dihadapinya. LPTK dengan tenaga ahli dan dana pengabdian kepada masyarakat dan/atau dana penelitian dapat memenuhinya sehingga LPTK semakin tahu kondisi sebenarnya mengenai kebutuhan konsumen yang dapat dibantu atau diantisipasi sebelumnya, sedangkan sekolah mendapat pembimbing penelitian bagi guru-guru dan dapat mengatasi masalahnya secara ilmiah. Beberapa tahun terakhir ini telah dimulai adanya program kemitraan, tetapi masih terbatas pada dana proyek dan inisiatif pada pihak LPTK, sedangkan inisiatif dari pihak sekolah masih sangat kecil. Kelima, kendala yang berhubungan dengan mentalitas yang suka pada kemapanan daripada perubahan untuk mengikuti perkembangan. Mentalitas guru yang demikian dapat ditangkap dari keluhan guru terhadap ajakan penelitian, misalnya tidak memiliki waktu untuk meneliti, menambah beban guru yang selama ini sudah berat, lingkungan yang tidak mendukung, tidak tersedia dana, dan penelitian hanya menambah pekerjaan, sedangkan

hasilnya tidak berpengaruh terhadap KBM. Kendala ini dapat dihadapi dengan cara menciptakan kondisi lebih menghargai terhadap profesi. Dalam segala bentuk kompetisi yang lebih profesional harus lebih diutamakan, bukan yang lain (KKN, masa kerja, uang dan lain-lain) karena jika tidak demikian akan semakin membebani dan terpulang pada ketertinggalan yang lebih jauh. Kita perlu mensyukuri di era refomasi ini kondisi tersebut telah mulai tercipta. 4. Cara Mengatasi Kendala yang Dihadapi Guru Dalam Melakukan PTK Sebagaimana diketahui bahwa guru dalam melaksanakan PTK masih banyak kendala yang dihadapi oleh guru, antara lain lemahnya pemahaman konsep PTK, belum yakin benar bahwa PTK dapat mengembangkan profesinya, tidak terbiasa reflecting thinking, tidak ada pembimbingan penelitian, tidak tersedia dana dan adanya mentalitas guru yang lebih suka pada kemampanan daripada mengikuti perkembangan. Untuk mengatasi kendala-kendala di atas, dapat ditempuh berbagai cara, antara lain pembelajaran yang intensif, perlunya portfolio bagi guru, program kemitraan dengan LPTK, dan diciptakannya kondisi yang lebih mengutamakan profesionalisme daripada hal lain. Jika guru dapat melaksanakan secara benar PTK dalam mendukung tugas-tugasnya, maka akan terwujud guru yang profesional. Berdasarkan kedua hal diatas, Zubaidi (2000) menyarankan (1) semua pihak yang terkait hendaknya dapat mendukung pelaksanaan PTK oleh guru di sekolah, (2) pihak sekolah hendaknya proaktif untuk membangun kemitraan dengan pihak terkait guna terlaksananya PTK, dan (3) guru sebagai praktisi profesional hendaknya terus berusaha untuk mengikuti perkembangan dalam profesinya. Perlu disadari bahwa kendala yang sanggup menghadapi tantangan dialah yang lebih profesional. D. Latihan 1. Berkaitan dengan tugas guru khususnya dalam menstransfer ilmu kepada para siswanya peran apa saja yang seharusnya dilakukan guru? 2. Ketika guru mengetahui bahwa hasil belajar sebagian besar siswanya kurang dari standar minimal, apa yang harus dilakukan guru berkaitan dengan pembelajaran yang dilakukannya tersebut? 3. Mengapa guru wajib melakukan penelitian tindakan kelas? 4. Mengapa selama ini banyak guru yang tidak melakukan penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki pembelajaran yang dilakukan

BAB II 5

KONSEP DASAR PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) A. Kompetensi Memahami konsep Penelitian Tindakan Kelas B. 1. 2. 3. Kompetensi Dasar Dapat menjelaskan pengertian tindakan kelas Dapat membedakan penelitian tindakan kelas dan penelitian di kelas Dapat menjelaskan perbedaan peran guru dalam penelitiann kelas dan penelitian dikelas 4. Dapat mengidentifikasi karakteristik penelitian tindakan kelas C. Materi Istilah penelitian tindakan berasal dri fase action research dalam bahasa Inggris. Di samping istilah tersebut, dikenal istilah lain yang sama-sama diterjemahkan dari frase action research, yaitu riset aksi, kaji tindak, dan riset tindakan. Penelitian tindakan yang dilakukan dalam kelas dikenal dengan penelitian tindakan kelas (Nurkamto, 1999). Penelitian tindakan kelas (yang selanjutnya di singkat PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan oleh guru untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melaksanakan tugas pokoknya, yaitu mengelola pelaksanaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dalam arti luas (Purwadi, 1999). Tujuan PTK secara umum adalah untuk memperbaiki pelaksanaan KBM. Penelitian tindakan kelas merupakan jembatan untuk mengatasi berbagai kekurangan penelitian di bidang pendidikn pada umumnya. Penelitian formal yang selama ini dilaksanakan di bidang pendidikan mempunyai beberapa kelemahan, antara lain (1) penelitian di bidang pendidikan dilakukan oleh pakar atau peneliti yang bekerja di perguruan tinggi atau oleh peneliti mandiri sehingga kurang menyentuh permasalahan yang dihadapi guu karena peneliti tidak mengikutsertakan guru dalam perencanaan maupun proses penelitian dan (2) hasil temuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti tidak dipublikasikan dan seandainya dipublikasikan tidak sampai terbaca dan dipahami oleh guru. Kedua hal tersebut yang akan dicarikan jalan keluar melalui penelitian tindakan kelas. Priyono (1999:7) menyatakan bahwa PTK adalah strategi pengembangan profesi guru karena (a) menempatkan guru sebagai peneliti, bukan sebagai performan pasif, (b) menempatkan guru sebagai agen perubahan, dan (c) mengutamakan kerja kelompok antara guru, siswa dan staf pimpinan sekolah lainnya dalam membangun kinerja sekolah yang lebih baik. Jika seorang guru dapat melaksanakan PTK dalam mendukung tugas-tugasnya, maka akan sangat berpengaruh pada perilaku guru tersebut. Pertama,dalam menyikapi masalah. Setiap kali menemui masalah dalam tugasnya, ia akan menyikapinya secara ilmiah sehingga akan memperoleh jalan keluar sebaik-baiknya, bukan sembarangan apalagi melepas diri dari tanggung jawab. Kedua, cara melaksanakan tugas. Guru yang terbiasa melaksanakan PTK akan terus berpikir dan berusaha bagaimana ia dapat meningkatkan kualitas kinerjanya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ketiga, cara menarik kesimpulan. Guru yang terbiasa melaksanakan PTK tidak mudah terjebak pada penarikan kesimpulan secara gegabah. Ia akan cermat dalam mencari data, menganalisis data, dan menyimpulkannya.

Keempat, cara berpikir reflektif. Guru yang terbiasa melaksanakan PTK akan selalu berpikir ulang terhadap apa yang telah dilakukannya selama ini untuk perencanaan yang akan datang. Dan kelima, cara memperlakukan kesejawatan. Guru yang terbiasa melaksanakan PTK akan terus berusaha membangun kesejawatan guna memperoleh peningkatan dan pengembangan profesinya (dalam bahasa jawa ora rumongso biso, nanging bisa rumongso), maksudnya ia selalu menyadari kekurangan dirinya dan kelebihan orang lain dalam arti yang positif (Zubaidi, 2000). Semua pengaruh tersebut di atas merupakan sikap dasar seorang pekerja yang profesional. Dengan demikian, jika seorang guru dapat melaksanakan PTK dengan benar, maka akan terwujud kinerja guru yang profesional dalam dirinya. Penelitian tindakan kelas diharapkan mampu mengatasi hambatan dan kelemahan metode penelitian tindakan kelas, ada beberapa hal yang menarik, yaitu (1) para guru tidak lagi cukup dianggap sebagai subjek pasif penelitian, akan tetapi merupakan partner aktif yang diajak secara kolaboratif dari perencanaan penelitian sampai penerapan hasil penelitian, (3) guru tidak cukup dianggap sebagai penerima hasil penelitian, akan tetapi ikut bertanggung jawab dan berperan secara aktif untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampiln sendiri melalui penelitian tindakan yang dilakukan terhadap proses pemeblajaran yang dikelolanya, dan (3) guru dan peneliti dapat menciptakan kemitraan yang fungsional dan profesional. Dengan kemitraan itu,kedua aktor tersebut akan mampu menciptakan kondisi yang kondusif, baik bagi peneliti maupun guru dalam mengembangkan profesionalisme masing-masing secara simbotik mutualistik. Bagian ini membahas berbagai konsep dan pengertian dasar yang terkait dengan PTK secara singkat. Dengan pemaparan seperti ini, buku ini diharapkan mampu merangsang dan mendorong pembaca melakukan penelitian tindakan kelas secra kolaboratif. Dengan membaca pedoman ini, pembaca diharapkan akan memiliki bekal wawasan awal menuju wawasan dan pemahaman yang lebih luas, integral, dan dinamik dalam bidang PTK. Dengan demikian, para pembaca akan memiliki kemampuan untuk melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif. A. Pengertian PTK Menurut Hopkins (1992), PTK disebut dengan classroom action research. Penelitian model ini menurut Suyanto (1996) sedang berkembang dengan pesat di negara-negara maju seperti Inggris, Amerika, Australia dan Canada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh perhatian yang cukup besar terhadap PTK. Hal ini disebabkan jenis penelitian ini mampu menawarkan berbagai cara dan prosedur baru yang lebih mengena dan bermanfaat dalam memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan uraian di atas, penelitian tindakan kelas mempunyai karakteristik yang berbeda dengan penelitian formal. PTK merupakan (a) an inquiry on practice from within, (b) a collaborative effort between school teachers and teacher educators, dan (c) a reflective practice made public. Beberapa karakteristik tersebut dapat dijelaskan bahwa kegiatan PTK dipicu oleh permasalahan praktis yang secara langsung dihayati dalam melaksanakan tugas sehari-hari oleh guru sebagai pengelola program pembelajaran di kelas. Guru sebagai jajaran staf pengajar di suatu sekolah secara praktis mengetahui berbagai permasalahan yang dihadapi di kelasnya berkaitan dengan permasalahan pengajaran. PTK itu bersifat practice driven dan action driven. Hal itu bermakna bahwa PTK 7

bertujuan memperbaiki pengajaran secara praktis dan secara langsung. Oleh karena itu, banyak kalangan menanamkan PTK sebagai penelitian praktis (practical inquiry). PTK hanya memusatkan perhatian pada permasalahan yang spesifik dan kontekstual sehingga tidak terlalu menghiraukan kerepresentatif sampel karena berbeda dari penelitian formal. Dengan demikian, kita perlu memahami sekali lagi bahwa tujuan PTK bukanlah menemukan pengetahuan baru yang dapat diberlakukan secara meluas (generalizable), tetapi bersifat menemukan bentuk pengajaran di kelas yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi secara lokal. Dengan melaksanakan PTK, para guru, pendidik dan peneliti yang terlibat akan secara langsung mendapatkan metode yang tepat yang dibangun sendiri melalui tindakan yang telah diuji kemanjurannya dalam prose pembelajaran. Menurut Tim Penyusun Buku Penataran PTK (1999), PTK akan mampu menghaislkan teori sehingga guru menjadi the theorizing practitioner. Mc Niff (1992:1) dalam bukunya yang berjudul “Action Research: Principles and Practice” memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri yang hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk pengembangan kurikulum, pengembangan sekolah, pengembangan keahlian mengajar, meningkatan prestasi siswa, dan sebagainya. Dalam PTK, guru dapat meneliti sendiri praktik pembelajaran yang ia lakukan di kelas. Dengan penelitian tindakan kelas, guru dapat melakukan penelitian terhadap siswa dilihat dari aspek interaksinya dalam proses pembelajaran. dalamPTK, guru dan peneliti secara kolaboratif juga dapat melakukan penelitian terhadap proses dan/atau produk pembelajaran secar reflektif di kelas. Pendek kata, dengan melakukan PTK, guru dapat memperbaiki praktik-praktik pembelajaran menjadi lebih efektif. Selain itu, dalam PTK guru tidak perlu mengorbankan proses pembelajaran demi melakukan PTK. Dengan melakukan PTK, guru dapat meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajarannya. Penelitian tindakan kelas tidak akan membebani pekerjaan guru dalam kegiatan kesehariannya. Jika guru melakukan PTK secara kolaboratif dengan penelitian tentu tidak akan mengesampingkan tugas mengjar sehari-hari. Sebaliknya, PTK dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan sehari-hari. Oleh sebab itu, guru tidak perlu takut terganggu dalam mencapai target kurikulernya jika melaksanakan PTK. Penelitian tindakan kelas juga dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik pendidikan. Hal ini dapat terjadi karena setelah meneliti kegiatannya sendiri, yakin di dalam kelas sendiri dengan melibatkan siswanya sendiridan melalui sebuah tindakantindakan yang direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi, maka guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai apa yang selama ini selalu mereka lakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, guru dapat membuktikan apakah suatu teori belajar-menagjar yang diterapkan di kelas itu baik atau tidak. Jika sekiranya ada teori yng tidak cocok dengan kondisi kelasnya, guru melalui PTK dapat mengadaptasi teori yang ada untuk kepentingan prosesdan/atau produk pembelajaran yang lebih efektif, optimal dan fungsional. Selanjutnya, dalam PTK guru juga dapat melihat, merasakan, dan menghayati apakah praktik-praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan memiliki efektivitas yang tinggi. Dengan penghayatannya itu, guru dapat menyimpulkan praktik-praktik pembelajaran tertentu, seperti pemberian pekerjaan rumah siswa yang terlalu banyak, umpan balik yang bersifat verbal terhadap kegiatan siswa di kelas tidk efektif, cara bertanya guru kepada siswa

dikelas tidak mampu merangsang siswa untuk beipikir dan sebagainya.guru dapat merumuskan secara tentatif tindakan tertentu untuk memeperbaiki keadaan tersebut dengan melalui prosedur PTK. Dari uraian di atas, kita dapat mendefinisikan pengertian PTK secara lebih rinci, lugas, sederhana, lengkap, dan mengarah. Secara singkat PTK dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan prkatik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Hopkins dalambukunya yang berjudul “A Teacher’s Guide to Classroom Research” (1993) menyatakan bahwa action research adalah “... a form of self-reflective inquiry undertaken by participant in a social (including educational) situation in order to improve the rationality and justice of (1) their own social or educational practice, (2) their understanding of these practice, and (3) the situations in which practices are carried out”. PTK merupakan suatu bentuk kajian reflektif oleh pelaku tindakan dan PTK dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, dan memperbaiki kondisi prktikpratik pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam PTK, guru melakukan kolaborasi dengan tenaga dosen dari PTK terdekat, dengan harapan dosen tersebut dapat dijadikan sounding board (pemantul gagasan) bagi guru yang merasa tengah menghadapi permasalahan nyata yang dirasakan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Selain itu,kegiatan kolaboratif yang dilakukan diharapkan dapat meringankan sekaligus membantu mengartikulasikan permasalahan yang dirasakannya sehingga dapat dijajaki dan dicarikan jalan keluarnya melalui PTK. Guru sebagai pengelola program pembelajaran dan dosen Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) dalam PTK punya komitmen untuk mengubah diri cara berpikir sekaligus cara bekerja sesuai dengan arahan yang dapat diperoleh dari hasil penyelenggaraan PTK di kelas/sekolahnya. Berdasarkan pemahaman yang diperolehnya, guru dapat secara sistematis menjajaki alternatif-alternatif tindakan yang bisa digunakan untuk meningkatkan kinerjanya menuju ke arah perbaikan. Mc Niff (1992:9) menekankan bahwa dengan dan dalam PTK, guru terbiasa menyambut tantangan, bukan menghindar dari tantangan guna peningkatan kinerja dan bersedia dengan sungguh-sungguh membuka diri terhadap pengalaman dan berbagai proses pembelajaran yang baru yang dirasa dapat digunakan untuk meningkatkan pengajaran dan mengurangi berbagai kendala yang selama ini dirasa sangat menganggu proses pembelajarannya. PTK juga dapat berfungsi sebagai pemicu dan pemacu kemampuan guru dalam penelitian jabatan guru sehingga dapat dikatakan bahwa PTK berpijak pada dua landasan, yaitu pertama, involvement merupakan keterlibatan langsung guru dalam penggelaran PTK. Kedua, improvement merupakan komitmen guru untuk melakukan perbaikan, termasuk perubahan dalam cara berpikir dan kerja. Oleh karena itu, juga dapat dikatakan bahwa PTK seyogyanya adalah guru karena gurulah yang merasakan kebutuhan untuk melakukan PTK. Oleh karena itu, ciri kolaborasi ini secara konsisten tertampilkan sebagai kerjasama kesejawatan dalam keseluruhan tahap penyelenggaraan PTK, mulai dari identifikasi permasalahan dan diagnosis keadaan, perancangan tindakan perbaikan, pengumpulan data, analisa data, refleksi temuan,dan penyusunan laporan. Hasil yang dapat dipetik dari penyelenggaraan PTK secara efektif dalah (1) 9

tumbuhnya mekanisme dan tradisi interaksi kesejawatan yang lebih meluas antara dosen LPTK dengan guru dan (2) terciptanya jembatan antara LPTK da sekolah, antara kampus, dan lapangan. Keterlibatan dosen LPTK dalam PTK bukanlah sebagai ahli pendidikan yang tengah mengemban fungsi sebagai pembina guru sekolah menengah atau sebagai pengembang pendidikan, melainkan sebagai sejawat, disamping sebagai pendidik calon guru. Keterlibatan dosen LPTK seyogyanya memiliki kesadaran untuk belajar mengakrabi lapangan demi peningkatan mutu kinerjanya sendiri. PTK terkait dengan persoalan praktik pembeljaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Sebagai contoh, jika guru menghadapi persoalan rendahnya minat siswa mengikuti pelajaran matematika,maka guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas agar minat siswa dapat ditingkatkan. Dengan penelitian tindakan kelas, guru dapat mencoba berbagai tindakan yang berupa program pembelajaran tertentu, seperti mencoba menggunakan bahan pengajaran yang memiliki gambar dan cerita yang menarik, memanfaatkan cerita-cerita lokal dengan mengkaitkan angka dan hitungan, menggunakan buku yang memiliki cerita lucu yang juga berkaitan dengan angka dan hitungan, dan sebagainya. Dari program pembelajaran yang dirancang sebagai bentuk PTK, guru dapat memperbaiki persoalan rendahnya minat para siswanya. Sebaliknya, jika siswa telah memiliki minat yang tinggi, akan tetapi tidak dapat memanfaatkan bahan latihan secara tepat, guru dapat melakukan PTK untuk mencari dan memilih terapi yang tepat terhadap kesalahan siswa dalam memanfaatkan baha latihan yang kurag fungsional. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, PTK dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur (cyclical). B. Prinsip-prinsip PTK PTK dapat berjalan dengan baik apabila dalam perencanaan dan pelaksanaannya menggunakan 6 prinsip sebagai berikut 1. Tugas pertama dan utama guru disekolah adalah mengajar siswa sehingga apapun metode PTK yang akan diterapkan tidak akan menganggu komitmennya sebagai pengajar. Oleh karena itu, guru dalam mengerjakan tugas ini hendaknya memperhatikan tiga hal. Pertama, guru dalam mencobakan sesuatu tindakan pembblajaran yang baru, selalu ada kemungkinan hasilnya tidak sesuai dengan yang dikehendaki, bahkan mungkin lebih jelek dari “cara lama” karena bagaimanapun tindakan perbaikan itu masih pada taraf dicobakan. Guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggung jawab dalam menimbang-nimbang “jalan keluar” yang akan ditempuhnya dalam rangka memberikan yang terbaik kepada siswa. Kedua, siklus tindakan dilakukan dengan mempertimbangkan keterlaksanaan kurikulum secara keseluruhan, khususnya dari segi pembentukan pemahaman yang mendalam yang ditandai oleh kemampuan menerapkan pengetahuan yang dipelajari melalui analisis, sintesis,dan evaluasi informasi, bukn terbatas dari segi terkabarkannya GBPP kepada siswa dalam kurun waktu yang telah dipatok. Dan ketiga, penetapan siklus tindakan dalam PTK mengacu pada penguasaan yang ditargetkan pada tahap perancangan dan sama sekali tidak mengacu kepada kejenuhan informasi sebagaiman yang lazim dipedomani dalm proses interaktif pengumpulan data penelitian kualitatif

2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK sejauh mungkin menggunakan prosedur pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru dan ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh. Sebagai contoh, penggunaan tape recorder memang akan menghasilkan rekaman yang lengkap dibandingkan dngan perekaman manual, namun peningkatan waktu yang diperlukan untuk mencermati data melalui pemutaran ulang mungkin akan segera terasa berlebihan. Oleh karena itu, perlu dikembangkan teknik-teknik perekaman yang cukup sederhana, namun dapat menghasilkan informasi yang cukup signifikan dan dapat dipercaya. 3. Prinsip ketiga, bahwa metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup menyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, dan memperoleh data yang dapat digunakan untuk “menjawab” hipotesis yang dikemukakannya. Oleh karena itu, meskipun pada dasarnya “terpaksa” memperbolehkan “kelonggaran”, namun penerapan asas-asas dasar telah taat tetap harus dipertahankan. 4. Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri memiliki komitmen terhadap pengatasannya. Selain itu, komitmen ini juga diperlukan sebagai motivator intrinsik bagi guru untuk “bertahan” dalam pelaksanaan kegiatan yang jelas-jelas menuntut lebih dari yang sebelumnya diperlukan dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas pengajarnya. Dengan kata lain, pendorong utama pelaksanaan PTK adalah komitmen profesional untuk memberikan layanan yang terbaik kepada siswa. Dilihat dari sudut pandang ini, desakan untuk sekedar mengabarkan pokok bahasan sesuai dengan GBPP dapat dan perlu ditolak karena alasan profesional yang dimaksud. 5. Dalam menyelenggarakan PTK, guru harus selalu bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya. Hal ini penting ditekankan karena selain melibatkan anak-anak manusia, PTK juga hadir dalam suatu konteks organisasional sehingga penyelenggaraannya harus mengindahkan tata-krama kehidupan berorganisasi. Artinya, prakarsa PTK harus diketahui oleh pemimpin lembaga yang kancah, dilakukan sesuai dengan tata krama penyusunan karya tulis akademik, disamping tetap mengedepankan kemaslahatan subjek 11

pendidik. 6. Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seseorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin digunakan classroom exceeding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks dalam kelas atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan. Perspektif yang lebih luas ini akan terlebih-lebih lagi terasa urgensinya apabila dalam suatu PTK terlibat lebih dari seorang pelaku. C. Karakteristik PTK Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa karakteristik khusus yang dapat dicermati dari PTK dibandingkan dengan penelitian pada umumnya. Semua penelitian memang berupaya untuk memecahkan suatu problema. PTK dilihat dari segi problema yang harus dipecahkan, memiliki karakteristik penting yang harus dicermati, yaitu problema yang diangkat untuk dipecahkan melalui PTK harus selalu berangkat dari persoalan praktik pembelajaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. PTK akan dapat dilaksanakan jika guru sejak awal memang menyadari adanya persoalan yang terkait dengan proses dan produk pembelajaran yang ia hadapi di kelas. Dari persoalan itu, guru menyadari pentingnya persoalan tersebut untuk dipecahkan secara profesional. Jika seorang guru merasa apa yang dia praktikkan sehari-hari di kelas tidak bermasalah, PTK tidak diperlukan lagi bagi guru tersebut. Persoalannya ialah tidak semua guru mampu melihat sendiri apa yang telah dilakukannya selama mengajar di kelas. Guru dapat saja berbuat kekeliruan selama bertahun-tahun dalam proses belajar-mengajar. Oleh sebab itu, guru dapat meminta bantuan orang lain untuk melihat apa yang selamaini dilakukan dalam proses belajar mengajar di kelasnya. Dalam konteks seperti itu, peneliti dan guru dapat duduk bersama dan berdiskusi untuk mencari dan merumuskan persoalan pembelajaran di kelas. Dengan demikian, guru dan peneliti dapat melakukan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif. Dari sinilah guru akan menyadari kemungkinan adanya banyak masalah yang diperbuat selama melaksanakan proses belajar mengajar. Jika guru bersedia melakukan PTK secara kolaboratif dengan para peneliti, banyak manfaat yang akan diperolehnya baik secara profesional maupun secara fungsional dalam meningkatkan kariernya. Karya tulis ilmiah semakin diperlukan oleh guru di masa depan. Penelitian tindakan kelas secara kolaboratif akan mampu menawarkan peluang yang luas terhadap terciptanya karya tulis bagi guru sambil mengajar di kelas sesuai dengan rancangan PTK yang akan dikolaborasikan dengan para peneliti. Karakteristik berikutnya dapat dilihat dari bentuk nyata kegiatan penelitian itu sendiri. Penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajar-mengajar di kelas. Tanpa tindakan tertentu, suatu penelitian juga dapat dilakukan di dalam kelas yang disebut dengan “penelitian kelas”, misalnya guru dapat melakukan penelitian mengenai tingkat keseringan siswa dalam membolos. Jika penelitian itu dilakukan tanpa disertai tindakan-tindakan tertentu, maka jenis penelitian yang dicontohkan itu bukan termasuk dalam penelitian tindakan kelas, penelitian yang dicontohkan itu hanya sekedar ingin tahu dan tidak ingin memperbaiki keadaan tingginya tingkat pembolosan siswa melalui tindakan tertentu.

Sebaliknya, jika dengan penelitian itu guru mencoba berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya pembolosan sehingga proses belajar-mengajar dapat berjalan dengan lebih baik dan efektif, maka penelitian itu termasuk dalam kategori penelitian tindakan kelas. Tindakan untuk mencegah tingginya pembolosan siswa mungkin dapat berbentuk diciptakannya sistem presensi yang dilakukan oleh siswa sendiri, mungkin dapat berbentuk pengalihan pengawasan secara kelompok oleh, dari, dan untuk siswa sendiri, mungkin dapat diciptakan sistem ulangan harian pada hari-hari di mana siswa biasa melakukan tindakan membolos, dan sebagainya. Penelitian kelas yang dilakukan dengan mencobakan berbagai tindakan seperti inilah yang menjadi karakteristik penting bagi PTK. Sedangkan karakteristik PTK menurut Priyono dalam makalahnya yang berjudul “Action Research sebagai Strategi Pengembangan Profesi Guru” (1999) adalah (1) masalah yang dijadikan objek penelitian muncul dari dunia kerja peneliti, (2) bertujuan memecahkan masalah guna peningkatan kualitas, (3) menggunakan data yang beragam, (4) langkahlangkahnya merupakan siklus dan (5) mengutamakan kerja kelompok. Berdasarkan uraian di atas, PTK mempunyai karakteristik yang khusus, yakni untuk memecahkan masalah dan untuk meningkatkan kinerja guru. Dalam pelaksanaan diwarnai oleh berpikir ulang (reflectif thinking) kolaboratif. D. Persamaan antara Penelitian Tindakan dan PTK Secara ringkas dapat dijelaskan mengenai persamaan penelitian tindakan dengan PTK. Apabila dilihat dari pelaksanaannya, penelitian tindakan merupakan penelitian yang dilaksanakan secara kolaboratif oleh aktor peneliti dan aktor yang terlibat dalam penelitian dan belum tentu di dalam kelas. Penelitian ini bisa digunakan untuk pemberdayaan dan peningkatan kemampuan subjek yang diberi perlakuan dengan cara menerapkan suatu metode baru yang dirasa mempunyai beberapa kelebihan, baik dilihat dari segi kepraktisannya maupun efisiensinya. Sementara penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti, guru, dan kepala sekolah termasuk pengawas sekolah untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas. Hal ini dilakukan karena selama ini dilakukan karena selama ini belum menemukan metode yang tepat untuk meningkatkan proses pembelajarannya. Proses pembelajaran selama ini dirasa masih kurang sempurna, baik dilihat dari perencanaannya, proses, maupun hasilnya. Karena guru sadar akan kekurangannya, termasuk ada kemauan untuk memperbaiki dan ditambah kemampuan untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini dapat dilaksanakan secara kolaboratif, terpadu, dan berbasis pada kebutuhan yang dirasakan mendesak untuk dicarikan jalan pemecahannya. Contoh penelitian tindakan, yaitu pemberdayaan wanita pengrajin tapis di suatu desa, peningkatan keterampilan ibu-ibu pengurus Dharma Wanita di daerah pantai dalam mengolah ikan laut, dan masih banyak lagi yang lain. Sedangkan contoh penelitian tindakan kelas, misalnya peningktan minat belajar siswa dengan pemberian PR, peningkatan penguasaan aritmatika siswa dengan metode cerdas cermat, dan sebagainya. E. Perbedaan antara PTK dan Penelitian Formal PTK selain meningkatkan mutu proses pembelajaran juga bermaksud untuk meningkatkan unjuk kerja guru. Pewaris langsung dari PTK adalah para murid. Ini berarti bahwa indikator-indikator keberhasilan yang relevan adalah perilaku siswa, baik dalam arti respon siswa terhadap perlakuan pembelajaran maupun kinerja pembelajaran siswa. Oleh 13

karena itu, PTK harus dapat memberi tekanan terhadap kedua tujuan tersebut. Di pihak lain, apabila dilihat dalam konteks yang lebih luas dan dalam kurun waktu yang lebih panjang dapat membuahkan dampak dalambentuk perbaikan praktis karena diramu ke dalam format pembelajaran yang utuh. Artinya, intervensi terhadap proses pembelajaran sebagaimana diamanatkan dalam PTK hanya mungkin terwujud apabila intervensi terhadap satu atau lebih elemen yang disebutkan di atas diwujudkan dalam bentuk skenario pembelajaran yang berbeda dari yang sebelumnya dan telah mapan dilaksanakan sehingga berdampak mengubah kurikulum eksperiensial yang dihayati siswa. PTK juga merupakan wujud pengembangan kurikulum atau perangkat lunak pembelajaran yang dirancang untuk mengatasi kelemahan pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan agar pembelajaran dapat berlangsung secara eksplisit dan sistematis. Artinya, keseluruhan proses perbaikan kinerja dilakukan dengan mengacu pada kaidahkaidah penelitian ilmiah seperti telah dikemukakan di depan, meskipun tentu saja dengan menggunakan paradigma yang berbeda dari yang lazim diberlakukan dalam penelitian formal khususnya paradigma positivistik yang sangat kental dengan wacana kajian eksperimental, sedangkan penyebarluasan laporannya dilakukan sebagai bagian dari interaksi dan titik kesejawatan (peer review) yang kondusif bagi pertumbuhan profesional. Dengan kata lain, PTK adalah suatu reflective practice made public. Dalam hubungan ini, guru yang berkobalorasi dalam PTK harus mengemban peran ganda,yakni sebagai prkatisi yang dalam pelaksanaan penuh keseharian tugas-tugasnya juga sekaligus secara sistematis meneliti praktisnya sendiri. Sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya, apabila terlaksana dengan baik, maka exercise ini akan memberi urunan nyata bagi terbentuknya kultur meneliti di kalangan guru dan merupakan suatu langkah strategis dalam profesionalisasi jabatan guru. Ini juga berarti bahwa pelecehan profesi dalam bentuk penyediaan jasa borongan untuk “membuatkan daftar angka kredit” dalam rangka proses kenaikan pangkat fungsional guru yang menggejala belakangan ini dapat diakhiri untuk selama-lamanya. Perbedaan karakteristik penelitian formal dengan PTK itu dapat dirangkum sebagaimana tertera dalam tabel 1. Tabel 1 Perbandingan Karakteristik PTK dengan Penelitian Formal No Dimensi 1 Motivation 2 Source of problem 3 Purpose 4 5 6 7 Researcher involment Sample Methodology Interpretation of PTK Action Diagnosis of status Improve practice, here & now By actor/s from within Spesific case “Loose” but strive for Objectivity – impartiallity To understand practice Penelitian Formal Truth Induction-deduction Verify & Discover generalizable knowledge By disintereted outsider/s Representative sample Standardized,with builtin objectivity & impartivity To describe,abstract &

findings 8 Ultimate results

through reflection theorizing by practitioners Better student learing (process & product)

infertheori building by scientits Tested knowledge, procedures and materi.

Selanjutnya, masih dalam kisaran perbedaan PTK dengan penelitian formal, PTK menerapkan metodologi yang bersifat lebih “longgar” dalam arti tidak terlalu memperhatikan pembakuan instrumentasi. Namun, di pihak lain, sebagai kajian yang taat kaidah (discliplined inquiry), pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekan objectivitas, sedangkan imparsialitas dipegang teguh sebagai acuan dalam analisis dan interpretasi data. Dengan kata lain, sebagaimana halnya pada penelitian formal, PTK dilancarkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun jangkauan keterterapannya (range of generalized) lebih terbatas. Terlebih-lebih lagi, proses, temuan dan implikasinya itu di dokumentasikan secara cermat sehingga terbuka lagi tilik kesejawatan atau peer review (lebih lanjut, periksa karakteristik ke-3 berikut). Berdasarkan paparan di atas, dapat ditarik benang utamanya bahwa classroom action research merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakantindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih profesional. Dengan melaksanakan PTK, para guru, pendidik, dan peneliti yang terlibat akan secara langsung mendapatkan metode yang tepat dan dibangun sendiri melalui tindakan yang telah diuji kemanjurannya dalam proses pembelajaran. Ada beberapa karakteristik khusus yang dapat dicermati dari PTK dibandingkan dengan penelitian umumnya. Pertama, PTK dilihat dari sgi problema yang harus dipecahkan, memiliki karakteristik penting yang harus dicermati, yaitu problema yang diangkat untuk dipecahkan melalui PTK harus selalu berangkat dari persoalan praktik pembelajaran seharihari yang dihadapi oleh guru. Kedua, penelitian tindakan kelas memiliki karakteristik yang khas, yaitu adanya tindakan-tindakan (aksi) tertentu untuk memperbaiki proses belajarmengajar di kelas. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa perbedaan penelitian dengan penelitian tindakan kelas hanya terletak pada tempat dan waktu pelaksanaannya. Di dalam PTK pasti ada unsur di kelas atau di sekolah, sedangkan penelitian tindakan tidak harus di kelas sebab penelitian tindakan merupakan penelitian yang dilaksanakan secara kolaboratif oleh aktor peneliti dan aktor yang terlibat dalam penelitian dan belum tentu di dalam kelas. Sedangkan penelitian tindakan kelas, merupakan penelitian yang dilakukan secara kolaboratif antara peneliti, dengan guru dan kepala sekolah termasuk pengawas sekolah untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang dilakukan di kelas. PTK menerapkan metodologi secara lebih “longgar”, dalam arti tidak terlalu memperhatikan pembakuan instrumenatsi. Namun, di pihak lain, sebagai kajian yang taat kaidah (discliplined inquiry), pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekan objectivitas, sedangkan imparsialitas dipegang teguh sebagai acuan dalam analisis dan interpretasi data. PTK dilancarkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengungkapkan kebenaran, meskipun jangkauan keterterapannya (range of generalized) lebih terbatas.

15

D. Latihan 1. Jelaskan pengertian tindakan kelas 2. Apa perbedaan penelitian tindakan kelas dan penelitian di kelas 3. Bagaimana peran guru dalam penelitian tidakan kelas 4. Apa yang dilakukan guru dalam melakukan penelitian di kelas 5. Bila seorang guru merancang bahan ajar untuk mendukung pembelajaran dikelas kemudian diujicobakan termasuk penelitian apa? Mengapa jelaskan

BAB III MODEL DAN BENTUK PTK A. Standar Kompetensi Memahami Model dan Bentuk PTK B. Kompetensi dasar 1. Menyebutkan berbagai model PTK 2. Mengidentifikasi persamaan Model Ebbut dan model Kemmis 3. Menjelaskan proses penemuan masalah yang akan diteliti 4. Menjelaskan tahap penelitian tindakan kelas 5. Menerangkan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam penelitian tindakan kelas 6. Memberi contoh salah satu penelitian tindakan kelas dengan bentuk guru sebagai peneliti C. Materi PTK mempunyai banyak model sehingga peneliti dapat memilih salah satu model yang sesuai dengan yang dikehendaki. Dalam pemilihan model, tidak ada pertimbangan baku dan peneliti disarankan memilih salah satu model yang sesuai kemampuan peneliti. Apabila peneliti telah familiar dengan model Mc Kernan, maka akan lebih tepat apabila model itu yang dipilih. Akan tetapi, apabila peneliti menghendaki suasana lain atau mencari pengalaman lain,maka peneliti boleh memilih model lain. Model PTK yang digunakan oleh peneliti bisa lebih dari satu model. Peneliti melakukan hal ini dalam rangka membandingkan

4

OBSERVE
RE F LECT TA

Plan

1

antara model yang satu dengan yang lain dan mencari model mana yang paling efisien dengan hasil yang paling efektif. Apabila hal itu yang menjadi tujuan, maka penggunaan berbagai model untuk berbagai jenis kasus boleh saja dilakukan. A. Model-model PTK Minimal ada empat model PTK,yaitu model yang dikembangkan oleh Ebbut (1985), Kemmis dan Mc Taggart (1988), Elliot (1991), dan Mc Kernan (1991). Antara model yang satu dengan model yang lain mempunyai persamaan dan perbedaan. Model-model itu sebenarnya memang untuk penelitian tindakan. Namun demikian, untuk penelitian tindakan kelas, model-model tersebut dapat dipilih sebagai acuan. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan bahwa tindakan kelas permasalahannya sangat bervariatif dan bersifat individual sehingga masing-masing guru kemungkinan mempunyai dan menghadapi permasalahan yang berbeda. Oleh karena itu, model penelitian tindakan kelas yang hendak digunakan tidak terikat harus mengikuti suatu model yang mana. Peneliti boleh saja menggunakan salah satu model sebagai acuannya,akan tetapi dalamtahap pelaksanaannya peneliti boleh mengembangkan sendiri tanpa harus keluar dari pedoman PTK. Perubahan atau modifikasi yang dilakukan guru harus benar-benar cocok untuk permasalahan yang dihadapi. Peneliti diharapkan telah mempunyai wawasan luas terhadap model-model PTK sehingga mereka tidak canggung dalam melaksanakan salah satu model PTK. Keuntungan guru mengetahui model-model yang selamaini telah mengantar mereka pada kemampuan melaksanakan PTK. Dengan mengenal model-model yang ada, wawasan guru/peneliti akan bertambah luas sehingga kita dapat memilih salah satu yang dapat atau sesuai untuk diikuti. Modifikasi yang dilakukan peneliti harus berdasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang cukup dan dapat dipertanggung jawabkan, misalnya modifikasi dilakukan karena kebutuhan situasi atau kondisi tempat peneliti dilakukan. Dengan kata lain, peneliti tidak dapat dilakukan apabila metode yang akan digunakan benarbenar tidak didukung oleh alam dan lingkungan yang ada. Keempat model itu secara rinci telah diuraikan satu persatu oleh Kasbolah (2000) sebagai berikut: 1. Model Kemmis dan Mc Taggart Kemmis mengembangkan modelnya berdasarkan konsep asli Lewin yang kemudian disesuaikan dengan beberapa perkembangan. Pakar ini secara eksekutif menerapkan buah pikirannya pada bidang pendidikan. Pada tahun 1986 bersama dengan Wilf Carr menggalakkan istilah “penelitian Tindakan Penelitian.” Dalam perencanaannya, Kemmis menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan masalah. Gambar 2 Penelitian Tindakan Model Spiral (Kemmis & Mc Taggart, 1988)

17

7 8 3

OBSERVE
RE F LECT TA

Plan

5 6 2

Sebagai alur PTK, Kemmis dan Mc Taggart memberi contoh sebagai berikut 1. Siswa mengira bahwa sain sekedar mengingat fakta dan bukan proses inkuiri. Bagaimana saya dapat merangsang inkuiri pada siswa? Apakah dengan mengubah teknik bertanya? Teknik bertanya yang sama? Menukar strategi bertanya agar siswa dapat menggali jawaban atas pertanyaannya sendiri. 2. Mencoba bertanya agar siswa mau mengatakan keinginan mereka 3. Catat pertanyaan dan respon pada tape untuk beberapa kali pelajaran untuk melihat apa yang terjadi. Simpan catatan tentang kesan saya dalam buku harian. 4. Pertanyaan inkuiri saya dikacau oleh kebutuhan,tetapi saya tetap mengendalikan garapan kelas 5. Teruskan tujuan umum, tetapi kurangi pengendalian (disesuaikan). 6. Kendorkan pengendalian dalam beberapa kali pelajaran 7. Pertanyaan direkam dan dikendalikan. Catat dalam buku harian pengaruh terhadap tingkah laku siswa. 8. Inkuiri berkembang, tetapi siswa lebih galak. Bagaimana saya harus menjaga agar tetap pada jalur? Dengan cara saling mendengarkan? Dengan pertanyaan-pertanyaan lagi? Pelajaran apa yang membantu? Dan seterusnya. Observasi: saya ikut dalam kegiatan berpasangan dan mendengarkan pembicaraan siswa. Saya membuat rekaman dari beberapa pembicara dan membuat catatan. Refeksi : kegiatan percakapan cukup hidup dan muncul beberapa persoalan dari buku, saya akan melihat kembali atau memilih bahan dari buku teks. Rencana : perlu dikembangkan suatu teknik wawancara di mana siswa A bertanya kepada siswa B dan jawaban dapat ditemukan berdasarkan materi yang ada. Apakah kegiatan ini akan membosankan siswa lagi? Bagaimana hal ini dapat dihindari? Bagaimana hal ini dapat dihindari? Mungkin saya dapat lebih melibatkan mereka agar mereka menjadi lebih efektif. Tindakan : siswa merekam percakapan.karena jumlah tape recorder tidak mencukupi, mereka bergiliran untuk menyimak dan berbicara. Pada akhir kegiatan wawancara, mereka mendengarkan dan memberi komentar mengenai rekaman masing-

Rencana diperbaiki Langkah tind 1 Langkah tind 1 IDE AWAL 3 PenjelasanTemuan dan Analisa kegagalan untuk efeknya Revisi Rencana Umum Monitor Rencana Umumimplementasi Implementasi Implementasi2 & DAUR 1 Langkah tind 1

masing. Observasi : siswa kelihatan senang sekali dan kelihatannya berhasil mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit dari buku teks ketika mereka membuat pertanyaan dan jawaban untuk temannya. Refleksi : secara pedagogis apakah sudah benar mengajar bahan melalui proses seperti ini?sya harus berkonsultasi dengan kepala sekolah tentang hal ini (Kemmis menyarankan agar guru menggunakan “teman sejawat yang kritis”sebagai suporter sebab teman sejawat dapat menjadi pengritik yang ramah). Contoh di atas memperlihatkan tanda-tanda dari penelitian tindakan, yaitu ide-ide dan masalah baru selalu muncul dan selalu harus diatasi. Sumbangan Kemmis untuk mempromosikan ide-ide penelitian tindakan kelas mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan PTK. 2. Model Ebbut Model Ebbut merupakan salah satu model PTK yang dikembangkan oleh Dave Ebbut. Model ini diilhami oleh pemikiran Kemmis & Elliot. Dalam pengembangannya, Ebbut kurang begitu sependapat dengan interpretasi Elliot tentang karya Kemmis. Perasaan kurang setuju Ebbut (1983) disebabkan karena Kemmis menyamakan penelitiannya dengan hanya temuan fakta. Sedangkan kenyataannya, Kemmis dengan jelas menunjukkan bahwa penelitian terdiri atas diskusi, negoisasi, menyelidiki, dan menelaah kendala-kendala yang ada. Jadi, sudah jelas ada elemen-elemen analisisnya dalam model Kemmis. Selanjutnya, Ebbut berpendapat bahwa langkah-langkah yang dikembangkan oleh Kemmis(“Spiral Kemmis”) bukanlah yang paling baik untuk mendeskripsikan adanya proses tindakan dan refleksi. Memang pada kenyataannya, Ebbut sangat memperhatikan alur logika penelitian tindakan dan beliau juga berusaha memperlihatkan adanya perbedaan antara teori sistem dan membuat sistem-sistem tersbut ke dalam bentuk kegiatan operasional.
Gambar 1 Penelitian Tindakan Model Ebbut (1985)

19

Langkah tind 2 Rencana diperbaiki Langkah Langkah tind 3 3 Monitor implementasi Reconnaisance tind 1Rencana General Ide & Ide efek Revisi Monitor implementasi & efek Umum Reconnaisance 3 Penjelasan kegagalan untuk implementasi ide tind 2AmendedMenyeluruh berikut Langkah umum Implementasi langkah DAUR 2 Rencana Menyeluruh Rencana Menyeluruh Implementasi langkah berikut

3. Model Elliot Model ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh Elliot.elliot adalah seorang pendukung gerakan”guru sebagai peneliti”. Beliau selalu berusaha mencari cara-cara baru untuk mengembangkan jaringan penelitian. Tindakan dan berhubungan dengan pusat-pusat jaringan penelitian yang lain. Elliot dan Adelman bekerja bersama-sama dengan guru di kelas, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi mereka sebagai kolaborator atau teman sejawat guru. Melalui partisipasi semacam ini,mereka membantu guru untuk mengadopsi suatu pendekatan penelitian untuk pekerjaannya. Elliot setuju dengan ide dasar langkah-langkah tindakan refleksi yang terus bergulir dan kemudian menjadi suatu siklus seperti yang dikembangkan Kemmis. Namun, skema langkah-langkahnya lebih rinci dan berpeluang untuk lebih mudah diubah sehingga sebenarnya dia telah membuat suatu diagram yang lebih baik. Gambar 3 Penelitian Tindakan Model Elliot (1991)

Tindakan 2 dst Tindakan 2 dst DAUR 1 Tindakan 2 dst TINDAKAN Monitor dan Reconnaisance Tindakan perlu perbaikan

Tindakan 2 dst2 DAUR

atau

atau

atau

Ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami langkah-langkah yang ada di dalam modelPTK yang dikembangkan oleh Ebbut, Elliot dan Kemmis. Bila guru akan menerapkan atau mengadopsi untuk penelitian tindakan kelas dalam praktik di kelasnya, guru harus memahami betul apa yang dimaksud oleh masing-masing penulis. Di samping itu, guru atau peneliti harus mengetahui penggunaan data dan keterbatasan skema-skema tersebut bila dipraktikkan dalam penelitian tindakan. Beberapa keterbatasan langkah-langkah di dalam model PTK ini antara lain: a) Adanya gerakan yang mulai menjauh dari gerakan ajaran Lewin semula, b) Skema – skema kelihatannya rapuh dan membingungkan, c) Skema – skema tersebut tidak dapat menyesuaikan dengan hal-hal baru yang menjadi fokus utamanya, dan d) Skema tersebut tidak begitu saja cocok untuk diikutoi. 4. Model McKernan Sebuah model lain yang juga dikembangkan atas dasar ide Lewin atau yang diinterpretasikan oleh Kemmis adalh model penelitian tindakan McKernan. Model ini juga dinamakan model proses waktu (a time process model). Menurut McKernan sangatlah penting untuk mengingat bahwa kita tidak perlu selalu terikat oleh waktu,terutama untuk pemecahan permasalahan hendaknya pemecahan masalah atau tindakan dilakukan secara rasional dan demokratis. Tujuan menyajikan keempat model ini adalah agar pembaca memiliki wawasan yang lebih luas tentang penelitian tindakan.selain itu, jika seseorang mengenal lebih dari satu modelpenelitin tindakan diharapkan bahwa dia memperoleh suatu pemahaman yang lebih tentang suatu proses. Walaupun kenyataannya ada empat model,pada dasarnya keempat model ini lebih banyak memiliki ‘persamaan’ daripada ‘perbedaan’. Gambar 4 Penelitian Tindakan Model McKernan (1991)

dst 21

Penetapan Definisi T 1 Develop Evaluasi Tindaanaction plan masalah DAUR ide Implementasi tindakan Hipotesis 2

Penetapan action planassessement Redefine problem Revise T2 Evaluate action Need hypothesis Impl. Revise plan New

Perlu diketahui bahwa sebenarnya model-model ini lebih memberikan gambaran garis besar daripada suatu teknologi. Urutan langkah-langkah memang diperlihatkan, tetapi hanya sedikit sekali yang menyinggung soal ‘apa’nya dan ‘bagaimana’ antara langkah-langkah ini. Tidak mengherankan kalau model-model ini dapat membinggungkan para praktisi. Bahkan Ebbut sendiri mengakui bahwa gambar Elliot cenderung sulit untuk dimengerti. B. Bentuk-bentuk PTK Selain model-model PTK, ada juga bentuk-bentuk PTK. Ada empat bentuk penelitian tindakan, yaitu: (1) penelitian tindakan guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) penelitian tindakan simultan terintegrasi, dan (4) penelitian tindakan administratasi sosial eksperimental. Keempat bentuk PTK di atas, ada persamaan dan perbedaan. Menurut Oja dan Smulyan sebagaimana dikutip oleh Kasbolah (2000), ciri-ciri dari setiap penelitian tergantung pada (1) tujuan utamanya atau pada tekanannya, (2) tingkat kolaborasi antara pelaku penelitian dan peneliti luar, (3) proses yang digunakan dalam melaksanakan penelitian, dan (4) hubungan antara proyek dengan sekolah. Perbedaan dalam penelitian tindakan mencerminkan prioritas dan pandangan pendidikan serta penelitian di berbagai negara. Penelitian tindakan di Inggris dan Australia, ada persamaan dalam bentuk kolaboratif. Namun demikian, penelitian tindakan di Inggris kurang berorientasikan strategi dan lebih menekankan penelitian dengan penafsiran. Sedangkan di Australia, penelitian tindakan kelas lebih berorientasi pada gurunya. Keempat bentuk PTK di atas telah diuraikan Kasbolah sebagai berikut: 1. Penelitian Tindakan Guru sebagai Peneliti Bentuk penelitian tindakan kelas yang memandang guru sebagai peneliti memiliki ciri penting, yaitu sangat berperannya guru itu sendiri dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam bentuk ini, tujuan utama penelitian kelas ialah untuk meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secra penuh dalam proses perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini, guru mendapat problema sendiri untuk dipecahkan melalui penelitian tindakan kelas. Jika di dalam penelitian ini, peneliti melibatkan pihak lain, maka

peranannya tidak dominan. Sebaliknya, keterlibatan pihak lain dari luar hanya bersifat konsultatif dalam mencari dan mempertajam persoalan-persoalan pembelajaran yang dihadapi oleh guru yang sekiranya layak untuk dipecahkan melalui penelitian-penelitian tindakan kelas. Jadi, guru di dalam melaksanakan penelitian tindakan berperan sebagai peneliti.sedangkan pihak luar sebenarnya peranannya sangat kecil dalam proses penelitian itu. 2. Penelitian Tindakan Kolaboratif Penelitian tindakan ini melibatkan beberapa pihak, yaitu guru, kepalasekolah, dosen LPTK,dan orang lain yang terlibat menjadi satu tim secara serentak melakukan penelitian dengan tiga tujuan, yaitu (1) meningkatkan praktik pembelajaran, (2) menyumbang pada perkembangan teori dan (3) meningkatkan karier guru. Bentuk penelitian tindakan seperti ini selalu dirancang dan dilaksanakan oleh suatu tim peneliti yang terdiri atas guru, dosen LPTK,atau kepala sekolah. Hubungan antara guru dan dosen bersifat kemitraan sehingga mereka dapat duduk bersama untuk memikirkan persoalan-persoalan yang akan diteliti melalui penelitian tindakan kelas yang kolaboratif. Dalam proses penelitian seperti ini, pihak luar semata hanya bertindak sebagai inovator. Sedangkan guru juga dapat melakukannya melalui kerjasama dengan dosen LPTK/PGSD. Dengan suasana bekerja seperti itu, guru dan dosen LPTK/PGSD dapat saling mengenal,saling elajar, dan saling mengisi proses peningkatan profesionalisme masingmasing. 3. Penelitian Tindakan Simultan Terintegrasi Penelitian tindakan terintegrasi dalah bentuk penelitian tindakan yang bertujuan untuk dua hal sekaligus, yaitu untuk memecahkan persoalan praktis dalam pembelajaran dan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah dalam bidang pelajaran di kelas. Dalam pelaksanaan tindakan kelas yang demikian, guru dilibatkan dalam proses penelitian kelasnya, terutama pada aspek aksi dan refleksi terhdap praktik-praktik pembelajaran di kelas. Dalam hal ini, persoalan-persoalan pembelajaran yang diteliti muncul dan diidentifikasi oleh peneliti dari luar bukan guru. Jadi, dalam bentuk ini, guru bukan pencetus gagasan terhadap permasalahan apa yang harus diteliti dalam kelasnya sendiri. Dengan demikian, guru bukan inovator dalam penelitian ini dan sebaliknya yang mengambil posisi inovator dalah penelitian lain di luar guru. 4. Penelitian Tindakan Administrasi Sosial Eksperimental Ada suatu bentuk penelitian tindakan yang pelaksanaannya lebih meningkatkan dampak kebijakan dan praktik. Dalam penelitian tindakan ini, guru tidak dilibatkan dalam menyusun perencanaan, melakukan tindakan, dan refleksi terhadap praktik pembelajarannya sendiri di dalam kelas. Jadi, sebenarnya guru tidak banyak memberikan masukan dalamproses pelaksanaan penelitian tindakan jenis ini. Tanggung jawab penuh penelitian tindakan ini terletak pada pihak luar,meskipun objek penelitian itu terletak di dalam kelas. Dalam melakukan penelitian tindakan administrasi sosial eksperimental, penelitibekerja atas dasar hipotesis tertentu. Peneliti luar yang membuat rencana tindakan dan kegiatan pelaksanaan penelitiannya mengacu pada hipotesis tertentu. Selanjutnya, peneliti melakukan berbagai tes yang ada dalam eksperimennya.

23

D.Latihan 1. Menyebutkan berbagai model PTK 2. Mengidentifikasi persamaan Model Ebbut dan model Kemmis 3. Menjelaskan proses penemuan masalah yang akan diteliti 4. Menjelaskan tahap penelitian tindakan kelas 5. Menerangkan pentingnya monitoring dan evaluasi dalam penelitian tindakan kelas 6. mengapa dalam penelitian kelas peneliti perlu merancang hipotesis tindakan.

BAB IV PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN TINDAKAN A. Kompetensi Mampu membuat usulan penelitian tindakan kelas B. Kompetenti dasar 1. Mampu menemukan masalah dalam pembelajaran yang akan diangkat menjadi penelitian tindakan kelas 2. Mampu menyusun kerangka teori untuk mendalami masalah yang akan diteliti 3. Mampu menyusun rencana tidakan berdasarkan masalah yang dihadapi 4. Mampu menyusun alat observasi dan evaluasi terhadap siklus yang dikembangkan C. Materi Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru dan hasil guru dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, tujuan PTK bukan hanya berusaha mengungkapkan penyebab berbagai masalah pembelajaran yang dihadapi guru dan siswa di kelas, seperti kesulitan siswadalam memahami aritmatika, IPA, atau yang lain. Akan tetapi, yang lebih menonjol adalah mencarikan cara mengatasi berbagai permasalahan pembelajaran tersebut melalui PTK. Manajemen penelitian tindakan kelas mencakup,antara lain: penetapan fokus permasalahan tindakan, perencanaan tindakan penelitian, pelaksanaan tindakan yang diikuti pengamatan, interpretasi, analisis, dan refleksi serta apabila perlu dilakukan perencanaan untuk menindak lanjuti. Dengan demikian, para pelaksana penelitian dapat memahami hakikat dan prosedur pelaksanaan PTK sehingga mereka tidak lagi terjebak ke dalam wilayah penelitian tradisional yang sudah biasa dilaksanakan selama ini.

Peneliti dalam melakukan penelitian tindakan kelas tidak cukup satu kali penelitian lalu selesai, akan tetapi bersiklus sebanyak tiga kali putaran.dengan tiga kali putaran itu, peneliti bersama-sama guru kelas berupaya terus untuk memperoleh hasil yang optimal dengan cara dan prosedur yang dinilai paling efektif. Dengan demikian,ada keuntungan pelaksanaan PTK. Pertama, pada akhir pelaksanaan PTK diperoleh suatu pola atau model desain PTK yang efektif dan menjamin diperolehnya hasil yang lebih baik. Kedua, para guru kelas memperoleh pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan untuk terus melaksanakan dan bahkan mungkin mengembangkan untuk bidang lain. Disadari bahwa PTK bersifat situasional, kondisional dan konstektual,maka peneliti tidak harus mengikuti langkah-langkah yang ditawarkan dalam pedoman ini, tetapi peneliti dapat mengadaptasikannya secara fleksibel yang artinya peneliti mempertimbangkan kelayakan waktu, sarana/prasarana yang dapat digunakan, dan permasalahan yang sungguhsungguh dilaksanakan dampaknya. Penelitian Tindakan Berdasarkan Hipotesis Untuk melakukan tindkan agar menghasilkan dampak sebagaimana diharapkan, PTK memerlukan kajian mengenai kelayakan hipotesis terlebih dahulu. Menurut Soedarsono (1997), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengkaji kelayakan hipotesis tindakan adalah: 1) Implementasi suatu PTK akan berhasilannya apabila didukung oleh kemampuan dan komitmen guru yang merupakan aktornya. Di pihak lain, sebagaimana telah dikemukakan dalam bab I, untuk pelaksanaan PTK kadang-kadang memang msih diperlukan peningkatan kemampuan guru melalui berbagai bentuk pelatihan sebagai komponen penunjang. Selanjutnya, selain persyaratan kemampuan, keberhasilan pelaksanaan PTK juga ditentukan oleh adanya komitmen guru yang merasa tergugah untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan kata lain, PTK dilakukan bukan karena ditugaskan oleh atasan atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh imbalan finansial. 2) Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dari segi fisik, psikologis, dan sosial budaya maupun etik. Dengan kata lain, PTK seyogyanya tidak dilaksanakan apabila diduga akan berdampak merugikan siswa. 3) Fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di kelas atau sekolah juga perlu diperhitungkan sebab pelaksanaan PTK dengan mudah dapat tersabotase oleh kekurangan dukungan fasilitas penyelenggaraan. Oleh karena itu, demi keberhasilan PTK, maka guru dan mitranya dituntut untuk dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang diperlukan. 4) Selain kemampuan siswa sebagai perseorangan,eberhasilan PTK juga sangat bergantung pada iklim beljar di kelas atau sekolah. Namun, pertimbangan ini tentu tidak dapat diartikan sebagai kecenderungan untuk mempertahankan status quo. Dengan kata lain, perbaikan iklim belajar di kelas dan di sekolah justru dapat dijadikan sebagai salah satu sarana PTK. 5) Karena sekolah juga merupakan sebuah organisasi, maka selain iklim belajar sebagaimana dikemukakan pada butir 4, iklim kerja juga menentukan keberhasilan penyelenggaraan PTK. Dengan kata lain, dukungan dari kepala sekolah dan rekan sejawat guru dapat memperbesar peluang keberhasilan PTK. Selain itu semua,menurut Darsono bahwa timPTK perlu membahas secara mendalam 25

tentang kemungkinan konsekuensi atas dilakukannya tindakan yang harus diantisipasi. Demikian pula kemungkinan timbulnya masalah baru dengan adanya tindakan di kelas. Atas dasar berbagai pertimbangan di atas, maka peneliti dapat secara lebih cermat menyusun rencana yang akan dilakukan. Persiapan tindakan dilakukan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam PTK. Di dalam langkah persiapan ini, peneliti membuat rancangan tindakan pemecahan masalah yang hendak dilaksanakan. Oleh karena itu, peneliti perlu membuat desain dan prosedur implementasinya dengan tahap kegiatan sebagai berikut. Pertama, merancang model PTK sesuai dengan permasalahan. Rencana kegiatan tindakan dan keadaan atau situasi kelas diatur sesuai langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan. Kedua, melakukan identifikasi komponen-komponen pendukung yang diperlukan. Langkah ini dapat dicapai dengan melakukan pengaturan dan penyusunan jadwal kegiatan yang akan dilakukan. Ketiga, menyusun desain tindakan sesuai dengan model PTK dan jadwal kegiatan. Langkah ketiga ini harus diikuti dengan kegiatan penyusunan desain dengan menerapkan atau melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Keempat, mempersiapkan segala seuatu yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan, seperti kondisi, situasi, materi/bahan, alat perangkat, dan sebagainya yang perlu diadakan di dalam kelas yang akan dipakai untuk melaksanakan tindakan. Kelima, menyusun prosedur pelaksanaan,yaitu urutan kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku tindakan sesuai dengan cara yang telah ditetapkan. Keenam, melakukan modifikasi jika dipandang perlu untuk menjamin tercapainya tujuan. Hal ini terjadi jika apa yang dilakukan,sekalipun sudah sesuai dengan prosedur dan cara yang ditetapkan, ternyata tidak efektif atau “tidak jalan”. Bila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan “sesuatu”. Misalnya karena tidak tepat, cara,dan waktu, maka prosedur dapat diubah, disesuaikan, bahkan diganti. Terakhir, melakukan pengelolaan dan pengendalian agar tidak terjadi penyimpangan prosedur dan cara, penyalahgunaan alat, serta pemborosan yang mungkin menghambat pelaksanaan tindakan. Uraian diatas menunjukkan bahwa pelaksanaan penelitian tindakan kelas harus direncanakan secara sistematis. Ada dua asas penelitian tindakan kelas yang tidak boleh dilanggar. Pertama, pelaksanaan PTK tidak boleh mengorbankan kepentingan siswa dan guru. Dan kedua, di dalam pelaksanaan PTK, peneliti tidak menjadikan mereka sebagai objek penderita. Kedua asas tersebut, apabila diformulasikan dalam rumusan lain berarti (1) PTK selalu berorientasi pada pencapaian hasil yang lebih baik dan bermanfaat bagi mereka yang terlibat dalamkegiatan sekolah, dan (2) PTK selalu berdasarkan pada permasalahan aktual keseharian guru kelas serta berada dalam batas kemampuan dan kewenangan guru untuk melaksanakannya. Jika penelitian berpegang pada asas tersebut, ia tidak akan terjebak pada model penelitian semacam survei dan eksperimen kelas. Kedua asas tersebut harus diaplikasikan oleh peneliti sejak persiapan. Berbagai persiapan yang perlu ditempuh peneliti adalah: 1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah yang dilakukan guru, di samping bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan siswa dalam rangka implementasi tindakan perbaikan yang telah direncanakan. 2) Mempersiapkan fasilitas dan sara pendukung yang diperlukan di kelas, seperti gambargambar dan alat peraga. 3) Mempersiapkan cara merekam dan menganalisis data menegnai proses dn hasil tindakan

perbaikan, bahwa kalau perlu juga dalam bentuk pelatihan-pelatihan. 4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan perbaikan untuk menguji keterlaksanaan rancangan sehingga dapat menumbuhkan serta mempertebal kepercayaan diri dalam pelaksanaannya yang sebenarnya. Sebagai aktor PTK, guru harus terbebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat kesalahan. 5) Menetapkan indikator kinerja dan hasil kerja Rencana PTK merupakan tindakan pembelajaran kelas yang tersusun, dan dari segi definisi harus prospektif atau memandang ke depan pada tindakan dengan memperhitungkan peristiwa-peristiwa tak terduga sehngga mengandung sedikit resiko. Maka rencan mesti cukup fleksibel agar dapat diadaptasikan dengan pengaruh yang tak dapat terduga dan kendala yang sebelumnya tidak terlihat. Tindakan yang telah direncanakan harus disampaikan dengan dua pengertian. Pertama, tindakan kelas mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan dinamika kehidupan kelas dan mengakui adanya kendala nyata, baik yang bersifat material namun bersifat non-meterial dalam kelas Anda. Kedua, tindakantindakan pilih karena memungkinkan para Anda untuk bertindak secara lebih efektif dalam tahapan-tahapan pembelajaran, secara lebih bijaksana dalam memperlakukan murid, dan cermat dalam mengamati kebutuhan dan perkembangan belajar murid. Pada prinsipnya, tindakan yang Anda rencanakan hendaknya (1) membantu Anda sendiri dalam (a) mengatasi kendala pembelajaran kelas, (b) bertindak secara lebih tepatguna dalam kelas Anda, dan (c) meningkatkan keberhasilan pembelajaran kelas; dan (2) membantu Anda menyadari potensi baru Anda untuk melakukan tindakan guna meningkatkan kualitas kerja. Dalam proses perencanaan, Anda harus berkolaborasi dengan sejawat melalui diskusi untuk mengembangkan bahasa yang akan dipakai dalam menganalisis dan meningkatkan pemahaman dan tindakan Anda dalam kelas. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan PTK bisa dilakukan olehs eorang guru atas prakarsanya sendiri atau kolaboratif. Observasi yang dilkukan oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat diganti oleh guru sebagai aktor PTK tidak dapat diganti oleh pengamat luar atau sarana perekam, betapapun canggihnya. Dengan kata lain, implementasi tindakan, observasi interpretasi proses, dan hasil implementasi tindakan tersebut terjadi karena keduanya merupakan bagian tidak terpisahkan dalam tindakan pembelajaran. Kekhasannya adalah bahwa dalam konteks PTK, kedua kegiatan dilakukan dengan tindakan kesadaran serta eksplisitasi yang lebih tinggi, seringkali bahkan dengan melibatkan sejawat dan mitra di samping berbagai peralatan pembantu rekam yang lazimnya digunakan dalam konteks pembelajaran seharihari. Dalam bukunya yang berjudul “A Teacher’s Guide to Classroom Research”, Hopkins (1993) secara eksplisit menandaskan bahwa paparan mengenai observasi kelas itu ditmpilkannya bukan semata-mata dalam konteks PTK, melainkan dalam konteks pengembangan guru dan sekolah yang lebih luas sehingga juga melibatkan supervisor (dalam hal ini) kepala sekolah dan/atau pengawas sebagai pelaksana fungsional. Sebaliknya, dalam penyelenggaraan PTK yang diprogramkan fokus ditempatkan pada pemanfaatan peluang bagi para dosen LPTK dan guru sebagai mitranya terutama untuk mengakrabi PTK sebagai mekanisme perbaikan yang efektif. Oleh karena itu, dampak perbaikan yang diperoleh, apabila memang betul kebetulan telah terwujud harus ditambahkan pada tahap pelatihan dan pengakraban ini. Ini juga berarti, bahwa para dosen LPTK yang 27

berperan sebagai mitra dalam PTK perlu diingatkan agar tidak serta merta menempatkan diri sebagai supervisor dalam arti yang telah mapan itu karena kurang cermat memahami pesan yang dikemukakan oleh Hopkins tersebut di atas. Sebaliknya, para peneliti PTK tersebut justru harus menempatkan diri juga sebagai pihak yang masih menekuni PTK di samping menekuni lapangan. Dengan kata lain, para peneliti bukan merupakan pihak “senior” yang ada pada posisi untuk “membina”, baik dalam PTK maupun dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, sebagaimana halnya apabila guru bermitra dengan sesama guru, dalam proses observasi dalam rangka PTK, hubungan kerja antara guru sebagai aktor PTK dengan peneliti adalah hubungan kesejawatan yang setara. Artinya, pendekatan kolaboratif harus diterapkan dalam (i) menyiapkan kerangka pikir observasi interpretasi, (ii) menyajikan data hasil observasi baik yang direkam oleh mitra pengamat maupun oleh guru sebagai aktor tindakan perbaikan, (iii) membahas bersama interpretasi dari data tersebut dalam kerangka pikir tindakan perbaikan yang teah ditetapkan sebelumnya, dan (iv) menyepakati berbagai tindak lanjut yang diperlukan apabila memang masih ada. Observasi tindakan di kelas Anda berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh tindakan bersama prosesnya. Observasi itu berorientasi ke depan, tetapi memberikan dasar bagi refleksi sekarang, lebih-lebih lagi ketika putaran atau siklus terkait masih berlangsung. Perlu dijaga agar observasi: (1) direncanakan agar (a) ada dokumen sebagai dasar refleksi berikutnya dan (b) fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga; (2) dilakukan secara cermat karena tindakan Anda di kelas selalu akan dibatasi oleh kendala realitas kelas yang dinamis, diwarnai dengan hal-hal tak terduga; (3) bersifat responsif, terbuka pandangan dan pikirannya. Apa yang diamati dalam PTK adalah (1) proses tindakannya, (b) pengaruh tindakan (yang disengaja dan tak sengaja), (c) keadaan dan kendala tindakan, (d) bagaimana keadaan dan kendala tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan dan pengaruhnya, dan (e) persoalan lain yang timbul. Seiring dengan dilaksanakannya observasi, refleksi juga dilakukan. Yang dimaksud dengan refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Lewat refleksi Anda berusaha (1) memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategik, dengan mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelejaran kelas, dan (2) memahami persoalan pembelajaran dan keadaan kelas di mana pembelajan dilaksanakan. Dalam melakukan refleksi, Anda sebaiknya juga berdiskusi dengan sejawat Anda, untuk menghasilkan rekonstruksi makna situasi pembelajaran kelas Anda dan memberikan dasar perbaikan rencana siklus berikutnya. Refleksi memiliki aspek evaluatif; dalam melakukan refleksi, Anda hendaknya menimbang-nimbang pengalaman menyelenggarakan pembelajaran di kelas, untuk menilai apakah pengaruh (persoalan yang timbul) memang diinginkan, dan memberikan saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Tetapi dalam pengertian bahwa refleksi itu deskriptif, Anda meninjau ulang, mengembangkan gambaran agar lebih lebih hidup (a) tentang proses pembelajaran kelas Anda, (b) tentang kendala yang dihadapi dalam melakukan tindakan di kelas, dan, yang lebih penting lagi, (c) tentang apa yang sekarang mungkin dilakukan untuk para siswa Anda agar mencapai tujuan perbaikan pembelajaran. Penggabungan pelaksanaan tindakan dengan kegiatan observasi interprestasi perlu dicermati benar sebab apabila terpisah-pisah, maka tidak akan mampu menemukan berbagai

hambatan atau ketidaksesuaian yang terjadi dalam PTK. Antara pelaksanaan tindakan, pengawasan, dan evaluasi secara bersama-sama merupakan hal yag lazim dalam konteks supervisi pengajaran, tetapi dalam PTK supervisi yang dimaksud bukan supervisi pengajaran, akan tetapi supervisi pebelajaran yang khusus ditujukan terhadap metode perbaikan yang sedang dilaksanakan. Jadi, dalam konteks PTK, supervisi ini bertujuan melihat berhasiltidaknya perbaikan pengajaran yang sedang dilaksanakan. Hubungan antara peneliti dan pihak lain yang terkolaboatif dalam tim tidak bersifat subordinatif, melainkan bersifat kemitraan dan partner. Observasi dan interpretasi dalam konteks penelitian formal itu dilakukan oleh dis-interested outsider, bukan oleh concerned and deeply involved actors. Pembuatan Desain PTK Sering peneliti tidak membedakan arti “rencana” dengan “desain”. Rencana merupakan paket kegiatan yang disusun secara sistematik dan urut yang akan dilaksanakan oleh penliti untuk mencapai tujuan penelitian. Darsono (1996:13) menjelaskan bahwa pada tahap awal peneliti perlu menjajaki keadan dan kemampuan siswa melalui observasi. Misalnya, bagaimana gambaran keadaan kelas, perilaku siswa sehari-hari, perhatian terhadap pelajaran yang disampaikan guru, sikap siswa terhadap mata pelajaran, dan sebagainya. Jika berkenaan dengan kemampuan dan penguasaan materi ajar, peneliti perlu mengadakan tes untuk mengetahui adanya perubahan dan peningkatan yang terjadi sebagai akibat dari penerapan tindakan yang dilakukan oleh peneliti bersama guru di dalam proses pembelajaran. Pada tahap berikutnya, peneliti bersama guru merancang tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan dan/atau mengadakan perubahan keadaan sebagaimana yang dinyatakan di dalam hipotesis tindakan. Sebagai contoh, guru ingin mengubah suasana belajar yang pasif, kaku dan dingin. Dari observasi diperoleh gambaran bahwa siswa hanya akan berbicara jika disuruh guru, tangan terlipat rapi di atas meja, pandangan mengarah pada papan tulis, jika guru bertanya atau guru menyuruh melanjutkan kata yang diucapkan siswa menjawab secara serentak bersama-sama, dan hampir tidak pernah ada siswa yang bertanya kepada guru,apalagi menyela pembicaraan guru. Dengan keadaan tersebut, guru merasa tidak berhasil di dalam proses pembelajaran dengan bukti pencapaian hasil siswa pada ulangan umum bersama prestasi mereka di bawah rata-rata rayon. Guru menyadari, jika keadaan tersebut tidak diperbaiki, maka akan menyebabkan masalah yang lebih besar baik bagi siswa maupun guru sendiri. Kemudian ia mengajak peneliti bermitra melakukan penelitian tindakan kelas untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, yaitu menjadikan kelasnya menjadi kelas yang aktif, hidup, siswa berani bertanya dan menjawab pertanyaan atau mengemukakan pendapatnya, serta berani maju di depan kelas untuk menyampaikan ringkasan dari apa yang disarikan dalam bahan bacaan tanpa malu. Apa yang diharapkan tersebut dibicarakan bersama peneliti untuk membuat rencana tindakan apa yang akan dilakukan. Setelah rencana dianggap matang, kemudian guru melaksanakan tindakan, misalnya dengan menyuruh siswa maju ke depan kelas untuk menceritakan kegemarannya. Di lain kesempatan, siswa diminta untuk memberikan pendapat atau komentarnya tentang apa yang dikemukakan guru di kelas. Darsono (1996:14) menjelaskan sementara kegiatan berlangsung, maka peneliti mengamati perilaku dan perubahan sikap yang terjadi pada diri siswa dan mencatatnya. Guru diminta untuk membuat catatan tentang apa yang dilakukan dan dampak dari perlakuan 29

terhadap siswa. Hasil catatan pemantauan peneliti dan catatan guru tersebut merupakan bahan untuk mengadakan refleksi. Peneliti bersama guru membahas dampak yang ditangkap keduanya dan membandingkan dengan keadaan sebelum dilakukan tindakan. Pertanyaan penelitian yang dapat digunakan didalam melakukan refleksi, seperti benarkan perubahan yang terjadi benar-benar akibat dari tindakan atau perlakuan yang dikenakan guru terhadap siswa dan bukan karena sebab lain?, perubahan apa saja yang terjadi pada diri siswa, pada suasana kelas, dan yang terjadi pada diri guru sendiri?, beberapa besar atau jauh perubahan dan peningkatan terjadi?, apakah perubahan dan penigkatan kearah yang lebih baik sudah sesuai dengan harapan?, apakah masihmungkin dilakukan perbaikan lagi?, bagaimana jika dilihat darisegi efisiensi dan efektifitas tindakan apakah cukup memadai?, dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membawa peneliti dan kearah refleksi mendalam dan akan menimbulkan kesadaran akan penting dan bermanfaatnya tindakan yang dilakukan. Jika guru merasa belum puas terhadap hasil yang dicapainya, maka ia dapat membuat rencana baru atas dasar apa yang telah diperoleh. Sementara itu, peneliti dapat membuat model tindakan baru sebagai pengembngan model awal guna mendukung pencapaian tujuan utama dari tndakan yang telah dilakukan. Perlu disadari bahwa penelitian tindakan bersifat siklus (berputar melingkar arah jarum jam), dan spiral (semakin lama meningkatan perubahan dan mencapai hasilnya). Proses siklus mencapai kemantapan jika guru dan peneliti merasa puas terhadap apa yang diperolehnya dan model tindakannya mantap. 1. Desain Penelitian Tindakan Kelas dengan Model Siklus Sebagaimana dijelaskan dimuka ada beberapa macam model peneltian tindakan. Antara model yang satu dengan model yang lain terdapat persamaan dan perbedaan. Satu model yang ditawarkan oleh para ahli, termasuk Darsono (1996) adalah model Kemmis dan McTaggart dari Deakin University Australia, model ini terdiri dari empat komponen,yaitu Pertama, rencana tindakan apa yang akan dilakukan dan sikap sebagai solusi. Kedua, tindakan apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan, atau perubahan yang diinginkan. Ketiga, observai,yaitu mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhdap siswa. Keempat, refleksi, yaitu langkah penelitian mengkaji, melihat,dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari pelbagai kriteria. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti bersama-sama guru dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal. Berikut ini hendak diuraikan berbagai langkah tindakan, identifikasi komponen pendukung, perencanaan waktu pelaksanaan, pengembangan model PTK, dan implementasi yang secara keseluruhan merupakan langkah yang dikembangkan Darsono (1996:17-25). Penulis tidak berani mengubah sedikitpun langkah-langkah yang ditawarkan beliau, mengingat hal itu merupakan satu kesatuan dan apabila hanya dikutip bagian-bagian tertentu, maka besar kemungkinan terjadi kesalahpahaman pembaca. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini akan diuraikan secara panjang lebar penjelasan mengenai model Kemmis dan Mc Taggart. 2. Langkah-langkah Tindakan Sebelum peneliti dan guru melaksanakan tindakan, perlu disusun langkah-langkah yang akan diambil agar semua komponen yang diperlukan dapat dikelola. Langkah-langkah

yang dapat ditempuh adalah: a. Melatih guru untuk melakukan dan/atau memberikan informasi cara bekerja sesuai rancangan. Hal ini sangat perlu jika apa yang akan dilakukan merupakan hal baru bagi guru. Langkah awal ini juga akan mempersiapkan secara mental psikologi guru agar tidak ada rasa ketakutan, tertekan atau rasa malu jika tidak sempurna melakukannya. Guru harus bebas dari rasa takut gagal dan takut berbuat keliru atau kesalahan. b. Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung yang diperlukan di kelas, seperti pada contoh di atas, yaitu di kelas perlu ada papan atau tempat untuk menempel, perlu kertas stiker atau kertas kecil-kecil dan lem. Sehingga anak tidak kesulitan menulis kata atau istilah baru dan menempelkan. c. Mempersiapkan contoh-contoh perintah suruhan melakukan cara jelas. d. Mempersiapkan cara mengobservasi hasil beserta alatnya e. Membuat skenario apa yang akan dilakukan guru dan apa yang dilakukan siswa dalam melakukan tindakan yang telah direncanakan. Jika semua sudah dipersiapkan,maka skenario tindakan tersebut dilaksanakan. Kegiatan (pelaksanaan) ini merupakan tindakan awal atau “initial act” pada siklus pertama dan akan diikuti dengan langkah observasi dan refleksi sebagaimana digambarkan dalam contoh di depan. Untuk mengetahui apakah setelah tindakan dilakukan memang terjadi perubahan atau peningkatan, peneliti perlu memperoleh gambaran keadaan awal. Dari gambaran tersebut dapat ditentukan apa yang harus diubah, diperbaiki, atau ditingkatkan. Dengan diketahuinya keadaan awal, maka perubahan atau peningkatan dapat diikuti dari waktu ke waktu selama tindakan dilaksanakan atau diterapkan. Kemudian pada akhir setelah selesai pelaksanaan tindakan,dilakukan pengamatan atau pengukuran hasil tindakan. Dari hasil pengukuran ini, dibandingkan dengan hasil pengukuran awal. Jika terjadi peningkatan sebagaimana diharapkan, ini berarti tindakan yang diambil tepat sebagai cara pemecahan masalah. Namun, jika belum sesuai dengan harapan berarti pelu dilakukan perbaikan pada tahap siklus berikutnya. Perbaikan akan terus dilakukan sampai diperoleh hasil yang diinginkan. Dengan demikian, tahapan siklus akan ditentukan oleh tercapainya tujuan penelitian tindakan kelas secara optimal yang memuaskan peneliti, guru dan kepala sekolah. 3. Identifikasi Komponen Pendukung Jika di dalam pelaksanaan diperlukan komponen pendukung, maka peneliti dan guru kelas perlu mengidentifikasi komponen apa saja yang diperlukan dan dipersiapkan. Misalnya, bila dalam upaya meningkatkan perbendaharaan kata diperlukan papan tempel di kelas, maka perlu dipasang di kelas.jika mungkin diperlukan tempat untuk menyimpan tugastugas yang diberikan oleh guru. 31

Hendaknya di dalam perencanaan semua komponen pendukung dapat diinventarisasi kebutuhan sehingga akan dapat diketahui apakah sekolah yang bersangkutan telah memiliki dan dapat dipergunakan. Jika tidak/belum tersedia, peneliti bersama guru dapat mengusahakan ketersediannya sebelum dilaksanakannya tindakan. 4. Perencanaan Waktu Pelaksanaan Agar pelaksanaan tidak banyak terganggu oleh pelbagai kegiatan guru maupun sekolah, maka perlu disusun jadwal kegiatan. Langkah-langkah yang perlu ditempuh, yaitu: a. Menginventarisasi seluruh kegiatan yang akan dilakukan sejak awal b. Memperkirakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap kegiatan, dan c. Membuat matrik yang disebut Gantt Chart yang memuat urutan kegiatan dan waktu yang diperlukaan. Contoh
No 1 2 N Kegiatan 1 Pendekatan Perizinan Diskusi ................. Seminar 2 Bulan 3 4 Bulan 3 Bulan 3

5

1

2

4

5

1

2

4

5

5. Pengembangan Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Ada kemungkinan pada waktu pelaksanaan tindakan timbul hal-hal baru yang memerlukan tindakan baru untuk memperkuat pencapaian hasil. Penelitian perlu mencatat sebab pada tahap siklus berikunya dapat dikembangkan menjadi. Gambar 5 Pengembangan Model PTK

Rencana 2

Dari refleksi mungkin muncul problem baru yang perlu dipecahkan lewat PTK juga

Rencana 1 Masalah Utama

Tahap Siklus Pertama

Penjelasan Pada gambar 5 terlihat bahwa di dalam melaksanakan PTK dimungkinkan munculnya kebutuhan tindakan baru guna menukung tercapainya hasil yang lebih baik. Misalnya, untuk membuat siswa berani bertanya dan menjawab pertanyaan guru diperlukan tindakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir secara logik dan dapat mempergunakan informasi untuk menjawab pertanyaan atau memberikan alasan. Untuk maksud ini, guru mengajak peneliti untuk duduk bersama kembali merancng kembali tindakan apa yang efektif yang dapat dilakukan guru dan apa yang dapat dikerjakan oleh siswa. Dengan langkah ini akan dapat dicapai kemitraan penelitian yang sungguh-sungguh bermanfaat bagi guru serta peneliti sendiri dalam pengembangan model PTK. Hendaknya harus selalu diupayakan bahwa dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas, peneliti harus memperlakukan partnernya sebagai mitra sejajar, jangan sampai guru diperlakukan hanya sebagai pengumpul data dab responden atau penjawab pertanyaan dalam wawancara yang dilakukan peneliti. Guru harus terlibat sungguh-sungguh sejak awal penelitian dirancang dan berperan serta secara aktif dalam seluruh kegiatan penelitian tindakan kelas. Demikian pula terhadap hasil akhir yang disajikan dalamlaporan, guru diminta untuk memberikan sumbangan pendapat dan penilaiannya terhadap apa yang telah dilakukan dan dicapainya. Implementasi Jika peneliti melakukan penelitian tindakan di kelas yang artinya tindakan dikenakan kepada siswa,maka langkah-langkah yang dapat diikuti, yaitu: 1. Kegiatan awal persiapan implementasi,meliputi: a. Pembicara dialog dengan kepala sekolah dan guru mengenai rencana PTK untuk mematangkan rencana, b. Pelatihan bagi guru, c. Penciptaan situasi kelas dan sekolah, d. Pelatihan dengan simulasi dan pemberian contoh bagaimana melakukan tindakan, e. Persiapan cara dan alat pemantauan dan perekaman data, f. Persiapan perangkat dan bahan yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan, dan g. Persiapan untuk mendiskusikan hasil pemantauan atau observasi dengan guru 2. Persiapan Hari pertama merupakan saat yang paling kurang menyenangkan. Oleh karena itu, perlu persiapan secara mental. Guru yang akan melaksanakan perlu dimotivasi dan dikuatkan. Jika dipandng perlu, maka peneliti memberi contoh langsung di kelas bagaimana tindakan dilakukan dalam masa persiapan ini. 33

Demikian pula penyiapan siswa dan situasi kelas, hendaknya jangan sampai menimbulkan kejutan mendadak. Buatlah situasi wajar-wajar saja, tidak perlu perlakuan, seperti diam, tidak boleh berisik, mata memandang ke papan tulis, jika tidak diperintah tidak boleh melakukan, dan sebagainya. 3. Implementsi di kelas Pada waktu mulai dilakukan tindakan hendaknya peneliti mendampingi guru kelas.sehingga jika terjadi hal-hal yang menyebabkan guru ragu-ragu melaksanakan, penelitian langsung dapat membantu tanpa menimbulkan kebingungan siswa. Kehadiran peneliti selain untuk mendampingi guru, juga untuk mengikuti perkembangan dan perubahan akibat dari tindakan. Pemantauan proses sangat penting,dengan informasi gambaran proses, akan dapat diketahui apakah pelaksanaannya sesuai dengan yang direncanakan. Seyogyanya peneliti tidak membiarkan guru sendirian tanpa ada yang mendampingi dan memantau apa yang dilakukan dan reaksi atau respon siswa. Pada saat istirahat sebaiknya peneliti dapat berbincang-bincang dengan siswaagar memperoleh informasi apa yang dirasakan oleh siswa dan persepsi mereka. Apa yang diperoleh peneliti selama melakukn pemantauan, hendaknya dapat dibicarakan dan dilakukan refleksi bersama-sama. Hasil refleksi dapat digunakan untuk memperbaiki prosedur dan cara bertindak yang dilakukan guru. 4. Pengolahan dan pengendalian Agar pelaksanaan tindakan dapat menjamin terciptanya tujuan, maka perlu adanya pengolahan dan pengendalian. Pengolahan mencakup pengorganisasian kegiatan, waktu maupun sarana yang dipergunakan. Dengan pengolahan yang baik, maka efisiensi dan efektivitas dapat dicapai. Sedang pengendalian dimaksudkan agar jika diperlukan perubahan di tengah jalan atau proses, perubahan justru untuk meningkatkan pencapaian hasil dan bukan penyimpangan yang menjauhi sasaran. Oleh karena itu, peneliti perlu hadir di kelas karena peneliti sebagai manajer penelitian. Peneliti dan guru SD yang berpartisipasi harus senantiasa mencatat dan merekam semua kejadian selama proses berlangsung. Catatan ini sangat berguna untuk bahan analisis dan refleksi. 5. Modifikasi prosedur dan cara tindakan Hasil refleksi merupakan masukan dan bahan pertimbangan untuk melakuka modifikasi. Tujuan modifikasi adalah untuk pemercepatan pencapaian tujua, sekiranya cara yang dilakukan kurang menjamin dan lamban menimbulkan perubahan. Contohnya, untuk mendorong siswa yang takut berbicara di depan kelas guna menjelaskan hasil yang diperoleh (misal matematika-aritmatika) guru perlu melakukan suatu tindakan, maka siswa diminta menerangkan dengan alat peraga yang dibawa sendiri atau dipilih sendiri. Dengan cara ini, ternyata siswa menjadi lebih lancar berbicara. Tindakan meminta siswa menggunakan alat peraga yang dibawa atau dipilih sendiri merupakan penambahan yang terjadi di dalam proses. Dengan demikian, terbuka kesempatan bagi guru maupun siswa untuk melakukan hal-hal yang belum atau tidak terencana, tetapi mendukung pencapaian hasil. Tentu saja peneliti harus melaporkan terjadinya modifikasi yang dilakukan. Hendaknya guru dan peneliti bersemboyan “marilah kita lakukan yang terbaik bagi siswa demi peningkatan

kualitas pendidikan yang akan dicapainya.” Penelitian tindakan kelas, bukan merupakan penelitian eskperimental yang dilakukan di laboratorium, tetapi merupakan penelitian yang bersifat praktis dan berdasarkan permasalahan keseharian di sekolah. Dalam melaksanakan suatu penelitian tindakan kelas, peneliti harus mengikuti langkah tertentu yang membimbing peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian secara runtut. Langkah-langkah umum PTK yang dapat dipakai adalah: 1) Mengidentifikasi masalah, 2) Menganalisis masalah dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab utama, 3) Merumuskan gagasan-gagasan pemecahan masalah bagi faktor penyebab utama yang gawat dengan mengumpulkan data da menafsirkan untuk mempertajam gagasan tersebut dan untuk merumuskan hipotesis tindakan sebagai pemecahan, dan 4) Kelayakan solusi atau pilihan tindakan pemecahan masalah Langkah selanjutnya adalah membuat rancangan bagaimana tindakan sebagai pemecahan masalah dilaksanakan. Oleh karena itu, peneliti perlu membuat desain dan prosedur implementasinya dengan tahap kegiatan sebagai berikut : 1. Merancang model PTK sesuai dengan permasalahan, rencana kegiatan tindakan,dan keadaan atau situasi kelas; 2. Mengatur langkah-langkah yang akan dilakukan; 3. Meakukan identifikasi komponen-komponen pendukung yang diperlukan; 4. Melakukan pengaturan dan penyusunan jadwal kegiatan yang akan dilakukan, dan 5. Menyusun desain tindakan sesuai dengan model PTK dan jadwal kegiatan. Setelah penusunan desain selesai, langkah berikutnya adalah menerapkan atau melaksanakan tindakan sesuai dengan renacana yang ditetapkan. Agar pelaksanaan dapat berjalan dengan lancar,maka perlu dilakukan kegiatan sebagai berikut: 1. Mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan, seperti kondisi, situasi, materi/bahan, alat dan peraga, dan sebagainya yang perlu diadakan di dalam kelas yang akan dipakai untuk melaksanakan tindakan; 2. Menyusun prosedur pelaksanaan, yaitu urutan kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku tindakan sesuai dengan cara yang telah ditetapkan; 3. Melakukan modifiksi jika dipandang perlu untuk menjamin tercapainya tujuan. Hal ini terjadi jika apa yang dilakukan, sekalipun sudah sesuai dengan prosedur dan cara yang ditetapkan, ternyata tidak efektif atau “ tidak jalan”. Bila hal ini terjadi maka perlu dilakukan “sesuatu”. Misalnya, karena tidak tepat, cara, dan waktu, maka prosedur dapat diubah, disesuaikan, bahkan diganti,dan 4. Melakukan pengelolaan dan pengendalian agar tidak terjadi penyimpangan prosedur, cara, penyalahgunaan alat dan pemborosan yang mungkin menghambat pelaksanaan tindakan. B. Penerapan PTK Sejalan dengan uraian di atas, Suyanto (1996:1) menyatakan bahwa guru dalam menerapkan peneliian tindakan kels harus mengetahui: (1) cara memulai penelitian tindakan kelas; (2) perlu tidaknya penelitian tindakan kelas dilakukan di kelas tempat mengajar, dan 35

(3) cara merumuskan pertanyaan terhadap perasaan ketidakpuasan dalam pembelajaran. Agar dapat menerapkan PTK, guru perlu meningkatkan keprofesionalannya, mengingat tuntutan zaman sekarang ini mengarah ke arah perbaikan pembelajaran. Perkembangan ilmu dan teknologi menuntut perkembangan materi dan metode pengajaran. Pengajaran dengan metode dan materi yang rendah hanya akan membodohi yang baik dengan materi yang tinggi. Guru harus mau dan mampu mengurasi sisi lemah yang dimiliki dalamproses pembelajaran di kelas. Menurut Suyanto (1996:12), guru harus mampu merefleksi, merenung, dan bepikir balik terhadap apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka perenungan itu mungkin guru akan menentukan kelemahankelemahan praktik pembelajaran yang selama ini selalu dilakukannya tanpa disadari. Sebagai contoh, dalam perenungan itu akhirnya guru menyadari bahwa anak-anak sekolah kelas 3 selalu mengalami kesulitan untuk belajar bilangan pecahan.dilihat dari pencapaian hasil belajar, para siswa selalu mendapatkan nilai yang amat jelek pada penjumlahan dan pengurangan bilangan pecahan. Untuk mengatasi persoalan ini, guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas dengan mencoba berbagai alternatif model pembelajaran agar siswa dapat belajar bilangan pecahan dengan lebih mudah. Model pembelajaran yang dirasa cocok oleh guru perlu dicobakan. Dengan melakukan tindakan itu, guru memiliki gambaran apakah metodenya itu cocok atau tidak. Bila metode itu tidak cocok mengapa hal itu bisa terjadi dan bagaimana cara memperbaikinya.bila metode itu agak cocok, maka sisi mana yang masih perlu diperbaiki. Proses ini disebut merefleksi kembali akan efektivitas tindakan-tindakan yang dicobakan dalam upaya untuk memudahkan siswa belajar. Dengan mencobakan itu, akhirnya guru dapat menemukan model dan/atau metode mengajar yang paling tepat agar para siswa lebih mudah memahaminya. Guru dapat memulai PTK apabila menemukan persoalan pembelajaran yang dihadapinya. Agar dapat mengoptimalkan penerapan penelitian kelas bagi perbaikan proses pembelajaran, guru perlu memulainya sedini meungkin begitu merasakan adanya persoalanpersoalan dalam proses pembalajaran.untuk dapat segera memulai dan menerapkan penelitian tindakan kelas, ada petunjuk praktis dari Mc Niff (dalam Suyanto, 1996 : 13-15) yang perlu kita perhatikan, yaitu: 1. Berangkatlah dari persoalan yang kecil dulu Jika proses pembelajaran dapat meliputi perencanaan, implementasi,dan evaluasi, ambillah salah satu aspek atau bahkan bagian dari salah satu aspek pembelajaran tersebut. Sebagai contoh, guru dapat melakukan penelitian tindakan dalam aspek perencanan pemeblajaran mengenai cara mengkomunikasikan silabus kepada siswa, menentukan tujuan belajar bagi mata pelajaran tertentu, penjadwaan mata pelajaran tertentu, dan sebagainya. Dalam aspek implementasi perencanaan pembelajaran guru dapat melakukan penelitian tindakan kelas dengan berbagai persoalan kecil, seperti peningkatan kualitas bertanya guru kepada siswa, relevansi metode dengan materi ajar, persoalan pengelompokan siswa untuk kepentingan pembelajaran dikelas, dan sebagainya. 2. Rencana penelitian tindakan itu secara cermat Penerapan penelitian tindakan kelas untuk perbaikan proses pembelajaran harus direncanakan secara cermat. Perencanaan yang cermat ini pada hakikatnya menyangkut skenario tindakan-tindakan apa saja yang akan dicobakan dalam penelitian itu, persoalan

mana yang harus dipecahkan terlebih dahulu, kelas mana yang hrus dilibatkan, kepada siapa harus meminta bantuan kosultasi, dan sebagainya. Pendek kata, semua kegiatan yang harus dilakukan dalam skenario penelitian harus direncakan secara teliti, cermat dan tuntas. 3. Susunan jadwal yang realistik Penelitian tindakan kelas melibatkan siswa untuk berpartisipasi dalam mencoba berbagai tindakan dalam penelitian dengan melalui beberapa putaran (siklus). Oleh sebab itu, guru harus menentukan jadwal dari setiap tindakan yang dicobakan serealistik mungkin. Artinya, jangan sampai terjadi penjadwalan yang tidak sesuai dengan: tuntutan jurikulu, rentan belajar siswa secara formal di sekolah (misalnya: Cawu I, Cawu II, Cawu III), jadwal mata pelajaran setiap hari, dan sebagainya. Untuk menghindari kegagalan dalam penjadwalan, maka perlu juga disusun jadwal yang ideal dan jadwal yang agak longgar agar jika terjadi penyimpangan implementasi suatu tindakan dalam suatu putaraan dapat diantisipasi sejak awal. 4. Libatkan pihak lain Dalam melakukan penelitian tindakan,guru perlu melibatkan pihak lain agar tindakan-tindakan yang dicobakan dapat dijaga. Penelitian tindakan memiliki jiwa atau sifat melibatkan pihak lain, bukannya sebuah penelitian pada orang lain. Oleh sebab itu, keterlibatan pihak lain, seperti guru lain, siswa, kepala sekolah, dan pengawas harus dipandang sebagai mitra kerja dalam rangka pelaksanaan penelitian tindakan kelas. 5. Buatlah pihak lain yang terkait terinformasi Dalam melakukan penelitian tindakan kelas, guru perlu menginformasikan kegiatankegiatan yang akan dicobakan dalam penelitian itu kepada pihak-pihak yang terkait. Tujuan utama untuk melakukan hal ini adalah agar tindakan dalam penelitian itu tidak dianggap sebagai kegiatan yang subversif dan menggoyahkan tradisi yang sudah mapan. Jika guru akan mencoba tindakan-tindakan tertentu dalam proses pemeblajaran, maka kepala sekolah, guru lain, dan orang tua perlu diberitahu akan hal itu. Hal ini perlu dilakukan agar guru sebagai peneliti akan mendapatkan dukungan baik secara administrtatif, psikologis, maupun dukungan profesional. 6. Ciptakan sistem umpan balik Dalam melakukan penelitian tindakan kelas, guru perlu menciptakan sistem umpan balik. Sistem ini sebenarnya merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam penelitian tindakan kelas peneliti (guru) perlu segera memebritahukan hasil penelitiannya kepada pihak lain yang terkait agar memungkinkan baginya mendapatkan umpan balik. Sistem umpan balik sangat penting untuk diciptakan agar peneliti memperoleh masukan yang bersifat korektif dan/atau bahkan dapat memperbaiki arah penelitian selanjutnya jika penelitian itu masih berada pada putaran-putaran awal. 7. Buatlah jadwal penulisan Sejak awalpeneliti perlu membuat jadwal penulisan hasil penelitian baik secara formal maupun informal sebab dengan penulisan terhadap semua proses, kegiatan dan hasil penelitian tindakan kelas berarti akan memungkinkan bagi peneliti untuk memiliki gagasan yang lebih jelas tentang apa yang sedang dan akan terjadi. Dengan demikian, peneliti atau 37

guru akan semakin memahami secara tuntas terhadap proses pemeblajaran yang sedang diperbaiki melalui penelitian tindakan kelas. Di samping tujuah langkah tersebut, menurut Suyanto (1996:14) sebenarnya peneliti perlu memikirkan kriteria keberhasilan tindakan yang dirancang untuk perbaikan proses dan/atau produk pembelajaran. Oleh sebab itu, langkah penetapan kriteria keberhasilan juga perlu dipikirkan oleh para peneliti dan guru yang secara kolaboratif ingin melakukan penelitian tindakan kelas di sekolah. Penetapan kriteria ini menjadi penting untuk dipikirkan agar setelah melakukan penelitian tindakan kelas, guru akhirnya mengetahui bagaimana cra melihat keberhasilan yang diakibatkan oleh adanya penelitian tindakan kelas yang secara kolaboratif telah mereka lakukan. FORMAT USULAN DAN LAPORAN PENELTIAN TINDAKAN KELAS Penyusunan Usulan Penelitian Penelitian juga harus diawali dengan penyusunan proposal, atau ada juga sebagian orang menyebutnya protokol penelitian. Penyusunan usulan ini diperlukan karena sifatnya fungsional, maksudnya bagi peneliti digunakan sebagai aturan langkah yang akan ditempuh, sedangkan bagi yang diteliti mengetahui peran yang harus ditempih. Bagi orang lain mengetahui langkah yang akan ditempuh. Bagi pihak penyandang dana mengetahui urgensinya penelitian itu dibiayai. Isi dan Sistematika Isi dan sistematika lebih dikenal dengan format penelitian, pada umumnya banyak ditentukan oleh sponsor atau penyandang dana. Jika sponsor tidak menentukan format tertentu, atau dibiayai sendiri (swadana), maka format dapat ditentukan sendiri oleh peneliti. Namun demikian ada unsur minimal yang harus dipenuhi oleh usulan PTK, yaitu : 1. Judul Penelitian 2. Bidang Ilmu 3. Latar Belakang 4. Rumusan Masalah 5. Tujuan Penelitian 6. Manfaat Penelitian 7. Kerangka Konseptual 8. Metode Penelitian 9. Penyiapan partisipan 10. Jadwal kegiatan Penelitian 11. Personalia Tim Peneliti 12. Perkiraan Biaya Penelitian 13. Lampiran Untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap lagi, berikut ini diberikan rambu-rambu ringkas terhadap masing-masing unsur tersebut. 1. Judul Penelitian

Judul penelitian biasanya merupakan kalimat singkat dan padat yang secara jelas menginformasikan masalah yang diteliti, terhadap apa atau siapa penelitian dikenakan, dimana dan kapan penelitian itu akan dilakukan 2. Bidang Ilmu Pada bagian ini dikemukakan termasuk bidang apakah masalah yang akan diteliti dengan mengacu kepada pembidangan ilmu atau pengelompokan masalah. Contoh, metode pengajaran sejarah (bidang ilmu); peningkatan mutu pendidikan (kelompok masalah). 3. Latar Belakang Uraian pada latar belakang ini berisi deskripsi tentang isu-isu penting, situasi atau kondisi di mana masalah yang akan diteliti itu muncul. Selain itu, pada bagian ini biasanya dikemukakan pokok-pokok pikiran yang menggambarkan bahwa masalah yang dipilih sangat penting dan mendesak (urgen) diteliti. 4. Rumusan Masalah Pada bagian ini dikemukan satu atau beberapa butir pertanyaan yang jawabnya akan dicari melalui kegiatan penelitian. Contoh rumusan masalah untuk penelitian tindakan adalah sebagai berikut : a. Apakah upaya memperbesar partisipasi siswa melalui penggunaan LKS dapat meningkatkan prestasi belajar mereka ? b. Apakah kunjungan ke pasar dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menerapkan prinsip-prinsip perdagangan ? 5. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian isinya sama dengan masalah penelitian, hanya berbeda pada cara pengungkapannya. Rumusan masalah dituangkan dalam bentuk kalimat tanya, sedangkan tujuan penelitian lazimnya dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Secara operasional, tujuan penelitian berisi pertanyaan tentang temuan apa yang akan dihasilkan oleh penelitian, dan temuan penelitian itu akan dipergunakan untuk memecahkan masalah apa. 6. Manfaat Penelitian Pada bagian ini dirumuskan tentang manfaat atau kegunaan hasil penelitian, berguna bagi siapa dan apa bentuk manfaat hasil penelitian itu bagi mereka masing-masing. 7. Kerangka Konseptual Pada jenis penelitian yang lain bagian ini disebut sebagai Kajian Pustaka. Dalam penelitian tindakan dinamakan Kerangka Konseptual, karena didalamnya memuat konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan pengetahuan lain tentang masalah yang diteliti berdasarkan tulisan yang ada. 8. Metode Penelitian Pembahasan pada bagian metode ini berisi uraian tentang prosedur yang ditempuh dan teknik yang dipilih untuk melaksanakan penelitian. Karena itu bagian ini memuat : a. Rancangan (disain) penelitian yang berisi uraian singkat tetapi jelas 39

b. c. d. e.

tentang penyusunan rencana tindakanm, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi hasil tindakan. Populasi dan sampel. Instrumen yang digunakan untuk merekam informasi/data dalam pengamatan dan pemantauan. Cara melaksanakan pengamatan (oservasi) dan refleksi. Penyimpulan implikasi dan hasil refleksi.

9. Penyiapan Partisipan Pada bagian ini dideskripsikan pertama-tama tentang bagaimana cara membentuk kelompok partisipan yang terdiri dari para pelaksana prorgram (guru, kepala sekolah, siswa atau yang lain). Kemudian uraian dilajutkan dengan bagaimana melibatkan mereka dalam perumusan maslaah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan dan evaluasi hasil tindakan. 10. Jadwal Kegiatan Sesuai dengan namanya, bagian ini berisi daftar kegiatan sesuai dengan urutan atau langkah-langkah pelaksanaan penelitian tindakan disertai dengan ancer-ancer waktu yang diperlukan untuk masing-masing jenis kegiatan. 11. Personalia Tim Peneliti Pada bagian ini dikemukakan nama, kedudukan, dan tugasnya masing-masing dalam penelitian. Pada umumnya unsur yang ada di dalamnya ialah: Ketua, Anggota, dan Staf administrasi. 12. Perkiraan Biaya Uraian di sini menyangkut semua jenis pembiayaan secara rinci apa dan berapa biaya yang diperlukan. 13. Lampiran Usulan penelitian pada umumnya dilampiri riwayat hidup (curriculum vitae) ketua dan anggota tim peneliti, dan surat-surat penting lainnya. Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Perkembangan terakhir dilihat dari formatnya, laporan penelitian ada dua macam, pertama laporan biasa yang ini sudah sangat umum, kedua, laporan ringkasan eksekutif (executive summary). Laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif, sesuai dengan namanya, adalah jenis laporan penelitian yang menyajikan secara ringkas, padat dan menyeluruh tentang proses dan hasil penelitian. Jenis laporan ini berisi butir-butir penting dari proses dan hasil penelitian. Karena itu, laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif perlu disajikan saripatinya saja dalam bentuk ringkasan dan dituangkan dalam alinea-alinea yang ringkas dan padat. Isi pokok yang harus dicakup dan sistematika sajian laporan penelitian dalam format ringkasan eksekutif adalah : 1. Judul Penelitian 2. Nama Peneliti

3. Pendahuluan berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian. 4. Metode penelitian yang memuat rancangan penelitian, sasaran penelitian dan prosedur/langkah kerja. 5. Hasil-hasil penelitian. 6. Kesimpulan. 7. Daftar Pustaka. Panjang laporan adalah 10 sampai dengan 15 halaman kertas kuarto yang diketik dengan spasi ganda. Adapun format laporan lengkap penelitian tindakan sistematikanya minimal adalah sebagai berikut : A. Bagian Awal Halaman Judul Abstrak Kata Pengantar Daftar Isi B. Bagian Utama BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 2. Rumusan Masalah 3. Tujuan Penelitian 4. Manfaat Penelitian BAB II KERANGKA KONSEPTUAL 1. ................ 2. ................ 3. Hipotesis dst BAB III METODE PENELITIAN 1. Rancangan Penelitian 2. Populasi dan Sampel 3. Perencanaan dan Pelaksanaan Tindakan 4. Prosedur Observasi dan Refleksi 5. Prosedur Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN 1. Validasi Instrumen Penelitian 2. Paparan Data 3. Uji Hipotesis 4. Pembahasan BAB V PENUTUP 1. Simpulan 2. Saran/rekomendasi C. Bagian Akhir Daftar Pustaka Lampiran-lampiran

41

D. Latihan Susun usulan penelitian tindakan kelas sesuai masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Anonim, Pedoman Penyusunan Usulan Dan Laporan Pengembangan Inovasi Pembelajaran Di Sekolah (Pips) Tahun Anggaran 2008, Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan 2007 Kemmis, Stephen & Mc. Taggart, Robin, 1988. The Action Research Planner. Victoria: Deakin University Noeng Muhadjir, 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Bagian Keempat, Analisis dan refleksi. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud. Soedarsono, FX. 1997, Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Bagian Kedua, Rencana Desain dan Implementasi, Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud Soemarno, 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, KetigaPemantauan dan Evaluasi, Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud Bagian

Suharsimi, Suhardjono dan Supardi (2006) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara Suyanto, 1997. Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Bagian Kesatu, Pengenalan Tindakankelas, Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->