P. 1
1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia

1. Pengertian Sifat Hakikat Manusia

|Views: 23|Likes:
Published by Ahmad_Dahlal

More info:

Published by: Ahmad_Dahlal on Oct 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/07/2014

pdf

text

original

1.

Pengertian Sifat Hakikat Manusia

Sifat hakikat manusia diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik yang secara prinsipil membedakan manusia dengan hewan meskipun antara manusia dan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya. Kesamaan secara biologis ini misalnya adanya kesamaan bentuk (misalnya kera), bertulang belakang seperti manusia, berjalan tegak dengan menggunakan kedua kakinya, melahirkan dan menyusui anak, pemakan segalanya, dan adanya persamaan metabolisme dengan manusia. Bahkan beberapa filosof seperti Socrates menamakan manusia itu zoon politicon (hewan yang bermasyarakat), Max Scheller menggambarkan manusia sebagai das kranke tieri (hewan yang sakit) (Drijakara, 1962:138). Kenyataan dalam pernyataan tersebut dapat menimbulkan kesan yang keliru, mengira bahwa manusia dan hewan hanya berbeda secara gradual, yaitu suatu perbedaan yang melalui rekayasa dapat dibuat menjadi sama keadaannya, misalnya air karena perubahan temperatur lalu menjadi es batu. Seolah-olah dengan kemahiran rekayasa pendidikan, orang hutan, misalnya, dapat dijadikan manusia. Upaya manusia untuk mendapatkan keterangan bahwa hewan tidak identik dengan manusia telah ditemukan. Charles Darwin dengan teori evolusinya telah berjuang untuk menemukan bahwa manusia berasal dari kera, tetapi temuannya ini ternyata gagal. Ada misteri yang dianggap menjembatani proses perubahan dari kera ke manusia yang tidak sanggup diungkapkan yang disebut the missing link, yaitu suatu mata rantai yang putus. Ada suatu proses antara yang tak dapat dijelaskan. Jelasnya tidak ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa manusia muncul sebagai bentuk ubah dari primata atau kera melalui proses evolusi yang bersifat gradual. 2. Wujud Sifat Hakikat Manusia Ada beberapa wujud sifat hakikat manusia yang yang tidak dimiliki oleh hewan. Wujud sifat hakikat manusia ini dikemukakan oleh paham eksistensialisme dengan maksud menjadi masukan dalam membenahi konsep pendidikan, yaitu: 1. Kemampuan Menyadari Diri Kaum Rasionalis menunjuk kunci perbedaan manusia dengan hewan pada adanya kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia. Berkat adanya kemampuan itu, manusia menyadari bahwa dirinya (akunya) memiliki ciri khas. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dengan aku-aku yang lain (ia, mereka) dan dengan yang bukan aku (lingkungan fisik) di sekitarnya. Bahkan bukan hanya membedakan. Lebih dari itu manusia dapat membuat jarak dengan lingkungannya, baik yang berupa pribadi maupun nonpribadi. Kemampuan membuat jarak dengan lingkungannya berarah ganda. Kedua arah yang terdapat dalam bagan di atas di dalam pendidikan perlu untuk dikembangkan secara berimbang. Pengembangan arah keluar

melainkan juga dengan waktu. artinya ada hanya sekedar “ber-ada” dan tidak pernah “meng-ada” atau “bereksistensi”. buruk dan salah.merupakan pembinaan aspek sosialitas. Dengan kata lain. Dalam kaitannya dengan moral (perbuatan). manusia tidak lebih dari hanya sekedar esensi belaka. Sungguh merupakan suatu anugerah yang luar biasa yang menempatkan posisi manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk menyempurnakan diri. Pada saat demikian. Realisasinya dapat ditempuh dengan elatih akal . Jika seandainya pada diri manusia itu tidak terdapat kebebasan atau kemampuan bereksistensi. serta mengembangkan daya imajinasi kreatif sejak kanak-kanak. yang sedang. buruk-salah harus dikaitkan dengan baikbenar atau buruk-salah bagi manusia sebagai manusia. Kemampuan bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan. Pemilikan Kata Hati Kata hati (conscience of man) juga sering disebut dengan istilah hati nurani. kata hati merupakan petunjuk bagi moral/perbuatan. Kemampuan bereksistensi adalah kemampuan menerobos dan mengatasi batas-batas yang membelenggu dirinya. Manusia memiliki pengertian yang menyertai tentang apa yang akan. manusia juga memiliki kemampuan bereksistensi. belajar melihat prospek masa depan dari sesuatu. Adanya kemampuan bereksistensi yang dimiliki oleh manusia tentu saja terdapat unsur kebebasan pada manusia. belajar mengantisipasi suatu keadaan dan peristiwa. bahkan mengerti juga akibatnya bagi manusia sebagai manusia. tetapi dapat menembus ke sana. Si aku seolah-olah keluar dari dirinya dengan berperan sebagai subjek kemudian memandang dirinya sendiri sebagai objek untuk melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki serta kekurangan-kekurangan yang terdapat pada dirinya. dan yang telah dibuatnya. pelita hati. dsb. Hal inilah yang disebut dengan pendidikan diri sendiri atau oleh Langeveld disebut self forming. ke masa depan. Usaha untuk mengubah kata hati yang tumpul menjadi kata hati yang tajam disebut pendidikan kata hati (gewetan forming). 3. manusia tidak terbelenggu dengan tempat atau ruang ini (di sini) dan waktu ini (sekarang). suara hati. 1962:61-63). kriteria baik-benar. lubuk hati. Jadi. Kemampuan Bereksistensi Diri Selain memiliki kemampuan menyadari diri. sedangkan pengembangan arah ke dalam berarti pembinaan aspek individualitas manusia. atau ke masa lampau. Pelita hati atau hati nurani menunjukkan bahwa kata hati itu adalah kemampuan pada diri manusia yang memberikan penerangan tentang baik buruk perbuatannya sebagai manusia. Yang lebih istimewa adalah manusia dikaruniai kemampuan untuk membuat jarak dengan dirinya sendiri. 2. Kemampuan menerobos ini bukan saja yang berkaitan dengan ruang. ataupun kemampuan dalam mengambil keputusan tersebut hanya dari sudut pandang tertentu (misalnya sudut kepentingan diri) dikatakan bahwa kata hatinya tidak cukup tajam. Orang yang tidak memiliki pertimbangan dan kemampuan untuk mengambil keputusan tentang baik dan benar. Jadi. seorang aku dapat berperan ganda yaitu sebagai subjek dan sekaligus sebagai objek. Dapat disimpulkan bahwa kata hati adalah kemampuan membuat keputusan tentang yang baik-benar dan yang buruk-salah bagi manusia sebagai manusia. melainkan “meng-ada” di muka bumi (Drijarkara. Conscience bermakna pengertian yang ikut serta atau pengertian yang mengikut perbuatan. adanya manusia bukan “ber-ada” seperti hewan di dalam kandang dan tumbuh-tumbuhan di dalam kebun. Peserta didik perlu diajar agar belajar dari pengalamannya.

Rasa Kebebasan Merdeka adalah rasa bebas (tidak merasa terikat oleh sesuatu). kebebasannya itu disebut dengan kebebasan semu. Artinya. Tujuannya agar orang memiliki keberanian moral (berbuat) yang didasari oleh kata hati yang tajam. Berarti dalam hal ini diperlukan kemauan untuk menjembatani jarak di antara keduanya. Di sini terlihat bahwa kemerdekaan berkaitan erat dengan kata hati dan moral. Memang merdeka adalah rasa bebas. Kebebasan semu segera diburu oleh ikatan-ikatan yang berupa sanksi-sanksi yang justru mengundang kegelisahan. Yang dimaksud dengan kemauan adalah kemauan yang sesuai dengan kodrat manusia. Kemampuan Bertanggung Jawab Tanggung jawab berarti keberanian untuk menentukan bahwa suatu perbuatan sesuai dengan tuntutan kodrat manusia dan bahwa hanya karena itu perbuatan itu dilakukan sehingga sanksi apa pun yang dituntut oleh kata hati. 5. etika tidak hanya berkaitan dengan perbuatan yang baik/benar. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa moral yang sinkron dengan kata hati yang tajam adalah moral yang benar-benar baik bagi manusia. moral adalah perbuatan itu sendiri. oleh masyarakat. Orang tidak dapat berbuat bebas tanpa memperhatikan petunjuk dari kata hati. sedangkan etiket hanya berhubungan dengan soal sopan santun. Jika ini tidak dilakukan. Sebaliknya. tetapi kebebasan tersebut tentu saja tidak bertentangan dengan kodrat manusia.kecerdasan dan kepekaan emosi. tetapi sebenarnya saling berkaitan. Moral Moral merupakan suatu perbuatan yang menyertai kata hati. Kebiasaan Melaksanakan Kewajiban Dan Menyadari Hak . juga terdapat kata yang pengertiannya sering disamakan oleh orang. antara etika dan etiket tidakla sama. 6. Dari uraian ini menjadi jelas betapa pentingnya pendidikan moral bagi peserta didik baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. 7. 4. yaitu etiket. tetapi juga salah/buruk. Moral disebut juga dengan etika. dapat dikatakan bahwa orang yang etiketnya tinggi (bersopan santun) bisa jadi moralnya rendah. Jika hal ini tetap dilakukan. berdasarkan perbedaan pengertian antara etika dan etiket. tetapi sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. oleh norma-norma agama diterima dengan penuh kesadaran dan kerelaan. Dengan demikian. peserta didik perlu diajarkan moralmoral-moral yang baik. Berkaitan dengan moral ini. moral yang yang tidak sinkron dengan kata hati yang tajam disebut dengan moral yang buruk sehingga orang yang melakukan moral yang buruk ini disebut orang yang tak bermoral. Meskipun antara rasa “bebas” dan “sesuai dengan tuntutan kodrat manusia” ini bertentangan. dalam suatu pembelajaran. dunia pendidikan kita akan menghasilkan kaum intelektual yang tak bermoral. Dalam pernyataan ini sebenarnya ada dua hal yang saling bertentangan yaitu rasa “bebas” dan “sesuai dengan tuntutan kodrat manusia”. Dengan kata lain. seseorang yang telah memiliki kata hati yang tajam belum tentu perbuatannya itu merupakan realisasi dari kata hatinya sendiri. Itulah sebabnya seorang pembunuh yang habis membunuh berusaha mati-matian untuk menyembunyikan diri (rasa tidak merdeka). Sebenarnya. Kadangkala antara moral dan hati masih terdapat jarak. Selain etika.

dsb. mengambil hak orang lain. melalaikan tugas. kecewa. Akan tetapi.Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul sebagai manifestasi dari manusia sebagai makhluk sosial. juga orang yang sedang terganggu pikiran atau . Mau atau tidak harus menerima. Pada dasarnya. Artinya. Kemampuan Menghayati Kebahagian Hampir semua orang merasakan kebahagiaan. Namun. melainkan suatu keniscayaan (Drijarkara. yaitu mengingkari janji. Oleh karena itu. Sebagian lagi mengaanggap bahwa rasa senang hanya merupakan aspek dari kebahagiaan sebab sifatnya lebih permanen daripada perasaan senang yang sifatnya lebih temporer. Bukankan seseorang hanya mungkin menghayati kebahagiaan jika ia mengerti tentang sesuatu yang menjadi objek rasa bahagianya itu. Artinya. apabila kewajiban itu dilaksanakan. Berarti realisasi hak dan kewajiban ini sifatnya relatif. sebagian orang mungkin menganggap bahwa seseorang yang sedang mengalami rasa senang atau gembira dikatakan sedang mengalami kebahagiaan. Pengertian kebahagiaan sebenarnya tak mudah dijabarkan meskipun mudah dirasakan. hak itu adalah sesuatu yang kosong. Walaupun sudah diketahui. Dengan kata lain. dan jika melanggar akan merosot martabatnya sebagai manusia. Adanya keluhuran dari melaksanakan kewajiban itu menjadi lebih jelas lagi apabila dipertentangkan dengan situasi yang sebaliknya. tetapi lebih dari itu yaitu merupakan integrasi dari segenap kesenangan. Selanjutnya kewajiban ada karena ada pihak lain yang harus dipenuhi haknya. dan akhirnya tumbuh sikap tidak percaya. Pada saat orang menghayati kebahagiaan. Proses integrasi dari semuanya itu menghasilkan suatu bentuk penghayatan hidup yang disebut “bahagia”. disesuaikan dengan situasi dan kondisi. aspirasi. dikatakan bahwa kebahagiaan itu sifatnya rasional padahal kebahgiaan yang tampaknya didominasi oleh perasaan itu ternyata tidak demikian karena aspek kepribadian yang lain seperti akal pikiran juga ikut berperan. Terdapat beberapa kata yang bersinonim dengan kebahagiaan. meskipun hak tentang sesuatu itu ada. aspek rasa lebih berperan daripada aspek nalar. terhadap keniscayaan itu sendiri manusia bisa taat dan bisa juga melanggar. hak asasi manusia harus diartikan sebagai cita-cita. Kewajiban bukanlah suatu ikatan. sedangkan kewajiban dipandang sebagai beban. kegembiraan. belum tentu orang mau mempergunakannya. 8. tentu ada pihak lain yang berkewajiban untuk memenuhi hak tersebut. belum tentu seseorang mengetahui (misalnya hak memperoleh perlindungan hukum). hal tersebut tentu saja merupakan suatu keluhuran. melainkan suatu keniscayaan. itu artinya ia mengingkari kemanusiaannya. akan meningkat martabatnya sebagai manusia. kebahagian lebih merupakan integrasi atau rentetang dari sejumlah kesenangan. Pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban bertalian erat dengan soal keadilan. selama seseorang menyebut dirinya manusia. Peliknya persoalan mungkin juga karena kebahagian itu lebih dapat dirasakan daripada dipikirkan. atau harapan yang berfungsi untuk memberi arah pada segenap usaha untuk menciptakan keadilan. misalnya senang dan gembira. Jika menolak. Implementasi dari perbuatan ini adalah orang akan merasa dikhianati. Hak sering diasosiasikan dengan sesuatu yang menyenangkan. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa keadilan terwujud bila hak sejalan dengan kewajiban. Malah ada yang lebih jauh lagi berpendapat tidak cukup digambarkan sebagai himpunan dari pengalaman-pengalaman yang menyenangkan saja. Jika seseorang mempunyai hak untuk menuntut sesuatu. kepuasan dan sejenisnya dengan pengalaman-pengalaman pahit dan penderitaan. 1978:24-27). Karena pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban dibatasi oleh situasi dan kondisi. Sebagai suatu keniscayaan berarti apa yang diwajibkan menusia menjadi tidak merdeka. Ia boleh memilih dengan konsekuensi jika taat. Sebenarnya kewajiban bukan beban. kewajiban itu menjadi keniscayaan baginya.

Artinya. norma-norma. Objek ini sebenarnya tidak hanya terbatas pada suatu hal baik yang dialami oleh seseorang. ataupun pada perasaan yang diakibatkannya. Berarti dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan itu rupanya tidak terletak pada keadaannya sendiri secara faktual. Selanjutnya apakah seseorang yang terlihat senang dapat dikategorikan sebagai orang yang bahagia. sebuah keluarga yang yang kemampuan ekonominya pas-pasan akan dapat merasakan kebahagiaan jika ia menghayati kemiskinan yang dialaminya. Dengan demikian. tentu kemungkinan besar sakitnya tidak akan sembuh. sedangkan hewan tidak adalah . Artinya adalah bahwa manusia adalah makhluk yang berbahasa. Selanjutnya. Di sini jelas bahwa penghayatan terhadap kebahagiaan itu juga didukung oleh aspek nalar dan aspek rasa. Usaha adalah perjuangan yang terus menerus untuk mengatasi masalah hidup. Memang sakit adalah takdir. orang tersebut tentu tidak akan mengalami hidup yang merdeka. yaitu usaha. usaha untuk mengatasi masalah hidup itu harus bertumpu pada norma-norma yang berlaku dalam agama dan masyarakat. norma. Kesenangan yang terlihat padanya hanya merupakan manipulasi terhadap orang lain. yaitu usaha. Barangkali konsep “menghayati” ini sama dengan “bersyukur” jika dikaitkan dengan agama. tapi jika orang tidak berusaha untuk mengatasi sakit tersebut. norma-norma. Berarti seseorang baru dapat dikatakan sudah takdirnya jika ia telah melalui dua rangkaian yang disebutkan tadi. Sebenarnya yang dimaksud dengan manusia berbahasa. Salah jika ada orang yang menempatkan takdir lebih dahulu daripada usaha. untuk menutup penderitaannya itu. Akan tetapi. tetapi terletak pada kesanggupan menghayati semuanya itu dengan keheningan jiwa dan mendudukkan hal-hal tersebut di dalam rangkaian atau ikatan tiga hal. sebenarnya menurut penulis masih ada wujud sifat hakikat manusia yang lain yang tak dapat diabaikan. jika masalah hidup itu diatasi tanpa memperhatikan normanorma. yaitu bahasa binatang. pada rangkaian prosesnya. Takdir merupakan rangkaian yang tak terpisahkan dalam proses terjadinya kebahagiaan. jika orang tersebut tidak mengalami hidup yang merdeka. ataupun pada perasaan yang diakibatkannya. dan takdir. pada rangkaian prosesnya. konsep kebahagiaan seperti yang disebutkan ini tampaknya dapat diterima. dan takdir. Tidak sedikit orang yang hidupnya miskin merasa tidak bahagia karena mereka tidak menghayati kebahagiaan itu. Di atas telah disebutkan bahwa kebahagiaan itu rupanya tidak terletak pada keadaannya sendiri secara faktual. pernyataan ini janganlah disamakan dengan ungkapan yang sering muncul dalam masyarakat. Adakalanya orang yang terlihat senang sebenarnya tidak bahagia. Ia barangkali tidak ingin orang lain tahu bahwa dirinya menderita. Apakah yang dimaksud dengan usaha. Berkaitan dengan wujud sifat hakikat manusia ini. tentu dapat dikatakan bahwa ia tidak bahagia. dan takdir? Perhatikan bagan berikut ini. Oleh karena itu masalah hidup harus dihadapi. hal terakhir yang dapat dilakukannya adalah menerima takdir. ia memperlihatkan kepada orang lain bahwa dirinya senang. sedangkan hewan tidak. 2006: 24). Setelah manusia mengatasi masalah dengan norma-norma yang berlaku. Menurut hemat penulis. tetapi terletak pada kesanggupan menghayati semuanya itu dengan keheningan jiwa dan mendudukkan hal-hal tersebut di dalam rangkaian atau ikatan tiga hal. Kebahagiaan pada dasarnya akan dapat dirasakan seseorang jika orang tersebut dapat mengahayati suatu objek yang membuat dia bahagia.tidak beres kesadarannya tidak akan sanggup menghayati kebahagiaan. Hal ini pula yang membedakan antara manusia dan hewan (Hidayat. yaitu kemampuan berbahasa. yaitu usaha dan norma. Ia erat berkaitan dengan rangkaian usaha. tetapi juga pada suatu hal yang tidak baik. Sebagai contoh. Dengan demikian. Tampaknya pendapata ini tak dapat dibenarkan seratus persen. Hidup dengan menghadapi itulah realitas hidup.

2 Dimensi Kesosialan . Contoh lain disebutkan. ada anak didik yang mudah belajar hanya dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya. cara berinteraksi dengan orang lain. ada pula anak didik yang mudah belajar hanya dengan membaca buku. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki tujuh kecerdasan. dalam proses pembelajaran kekhasan ini tentu harus diperhatikan oleh peserta didik. Selanjutnya individu diartikan juga sebagai sebagai pribadi (Lysen. Penulis sangat setuju dengan dimensi keindividualan seperti yang telah diungkapkan di atas. kecerdasan logika matematika. apa yang harus dilakukan terhadap anak didik yang tidak suka pelajaran bahasa Indonesia saat materi bahasa Indonesia diajarkan oleh tenaga pendidik? Apakah anak didik tersebut diminta oleh gurunya untuk keluar atau diam saja? Pertanyaan seperti ini tampaknya sering dihadapi oleh peserta didik. menggunakan kriteria pragmatik. cara belajar. arbitrer. Oleh karena itu. kecerdasan interpersonal. tetapi tidak pintar tentang kebahasaan.1 Dimensi Keindividualan Dikatakan oleh Lyson bahwa individu adalah orang seorang. Bagaimanakah gaya belajar yang bervariasi ini dapat diatasi oleh pendidik dalam suatu proses pembelajaran? Hal seperti ini tampaknya perlu untuk dikaji secara spesifik. Kekhasan yang dimaksud ini seperti kekhasan dalam cita-cita. sesuatu yang merupakan suatu keutuhan yang tidak dapat dibagi-bagi (in devide). masing-masing ingin mempertahankan kekhasannya sendiri. terbatas dan relatif tetap. mengandung kriteria semantis atau fungsi semantik tertentu. Tidak ada diri individu yang identik di muka bumi ini. Karena adanya kekhasan yang dimiliki oleh setiap manusia ini. misalnya. tetapi kurang pintar dalam hal musik. 3. Ada anak didik yang mudah belajar kalau hanya dengan berdiskusi bersama-teman-teman-teman sekelas. kecerdasan spasial. memang usaha untuk memperhatikan peserta didik berdasarkan kekhasan yang dimilikinya merupakan usaha yang baik. simbol. ada anak didik yang mudah belajar dengan cara langsung mempraktikkan. Menurut penulis. Tenaga pendidik tidak dapat boleh memaksakan kehendaknya kepada kepada subjek didik. setiap individu tidak boleh diperlakukan sama. anak didik memiliki berbagai gaya belajar. Bahkan. cara menghadapi dan menyelesaikan masalah. seperti unik. yaitu kecerdasan linguistik. ada individu yang lebih pintar matematika. Keunikan. berkaitan dengan bunyi-bunyi segmental. Mereka ingin terlihat berbeda dengan yang lain atau menjadi seperti dirinya sendiri. Dimensi-dimensi Hakikat Manusia serta Potensi. anak yang terlahir kembar pun pada hakikatnya tidak memiliki karakter yang persis sama. 3. Memang benar bahwa tidak ada manusia yang identik dengan manusia lain di atas permukaan bumi ini. Kecerdasan-kecerdasan ini yang selanjutnya kita sebut sebagai potensi tentu saja tidak sama dimiliki oleh setiap individu. Setiap anak manusia yang dilahirkan ke dunia ini sebenarnya telah memiliki potensi. kecerdasan intra personal (Campbel. dan Dinamikanya 3. Potensi yang dimaksud menurut penulis seperti yang dikemukakan oleh Gardner. Individu dan Masyarakat: 4). Dengan kata lain.bahwa hewan tidak memiliki karakteristik kebahasaan seperti yang dimiliki oleh manusia. 2006: 2-3). yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mengimplementasikan hal ini dalam pembelajaran? Sebagai contoh. kecerdasan kinestik tubuh.. kecerdasan musik. Karakteristik kebahasaan yang dimaksud. sistematis dan sistemis. dkk. Akan tetapi. Ada individu yang memiliki kelebihan dalam hal kebahasaan.

b. Dengan adanya dorongan untuk bergaul ini. nilai heteronom.4 Dimensi Keberagamaan Pada hakikatnya manusia adalah makhluk beragama. yaitu kualitas dimensi hakikat manusia itu sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk memberikan pelayanan atas perkembangannya. Dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu. di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam bahasa ilmiah sering digunakan sering digunakan istilah yang mempunyai konotasi berbeda yaitu etiket (persoalan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). Manusia memerlukan agama untuk keselamatan hidupnya. mereka dikaruniai benih kemungkinan untuk bergaul. yaitu kesadaran dan pemahaman terhadap nilai dan kesanggupan melaksanakan nilai. Dengan demikian. Pengembangan yang Tidak Utuh Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakikat manusia akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi hakikat manusia yang terabaikan untuk ditangani. Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai. Pengembangan yang utuh Pengembangan dimensi hakikat manusia ditentukan oleh dua faktor. dapat dikatakan bahwa orang yang berbuat jahat berarti melanggar hak orang lain dan dikatakan tidak beretika dan tidak bermoral. Jika etika dilanggar ada orang lain yang merasa dirugikan. orang tidak cukup hany dengan berbuat yang pantas jika di dalam yang pantas atau sopan itu terkandung kejahatan terselubung. Susila sebenarnya mencakup etika dan etiket. sedangkan tidak sopan diartikan sebagai tidak beretiket. 3.3 Dimensi Kesusilaan Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. 3. Pemerintah dengan berlandaskan pada GBHN memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum di sekolah mulai dari SD sampai dengan perguruan tinggi. Dapat dikatakan bahwa agama menjadi sandaran vertikal manusia. nilai keagamaan. Betapa kuatnya dorongan tersebut sehingga penjara merupakan hukuman yang paling berat dirasakan oleh setiap manusia karena dengan diasingkan di dalam penjara berarti diputuskannya dorongan bergaul itu secara mutlak. Nilai yang dimaksud dapat berupa nilai otonom. 4. Pengembangan Dimensi Hakikat Manusia a.Setiap anak yang dilahirkan memiliki potensi sosialitas. pengertian susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti menjadi kebaikan yang lebih. . setiap orang ingin bertemu dengan sesamanya. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. Artinya. ada dua hal yang muncul dari persoalan nilai. keduanya harus dulaksanakan secara sinkron. Dalam kenyataan hidup. Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan manusia. sedangkan pelanggaran etiket hanya mengakibatkan ketidaksenangan orang lain. Akan tetapi.

Dalam suatu proses pembelajaran. baik wujud sifat hakikat manusia maupun dimensi-dimensi manusia yang telah dimiliki oleh setiap peserta didik perlu dikembangkan. manusia ternyata memiliki dimensidimensi yang meliputi dimensi individual. Makna. 2005. 2006. kemampuan berbahasa. Asep Ahmad. Hal ini dapat dilihat melalui wujud sifat hakikat manusia. La Sulo.D. Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences. kemampuan menghayati kebahagiaan. tanggung jawab. kewajiban dan hak. Kesimpulan Manusia sangat jelas berbeda dengan hewan. cakap. Bandung: Rosdakarya. Sosok Manusia Indonesia Seutuhnya Pengertian sosok manusia Indonesia seutuhnya ini adalah perpaduan antara aspek jasmani dan rohani. moral. Depok: Intuisi Press. dan agama. Tujuannya tentu saja agar mereka lebih tahu eksistensi mereka di atas permukaan bumi ini dan agar mereka lebih tahu bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang pada hakikatnya berbeda dengan makhluk yang lain sehingga akan terlahir manusia Indonesia seutuhnya seperti yang diinginkan masyarakat. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. antara aspek kognitif. dan agama. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan . Bandung: Rineka Cipta. Filsafat Bahasa: Mengungkap Hakikat Bahasa. psikomotor (Tirta Raharja dan Sulo. Ditilik dari segi lain. antara dimensi keindividualan. Pengantar Pendidikan. Umar dan L. 2006. Daftar Bacaan Campbel. Hidayat. yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. rasa kebebasan. sosial. 2003:7). dan Tanda. dkk. bangsa. kesosialan. berakhlak mulia. susila. kreatif mandiri. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2006:25). Pengertian tentang sosok manusia Indonesia seutuhnya ini tampaknya sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional. yaitu kemampuan menyadari diri. sehat berilmu. afektif. kesusilaan. kepemilikan kata hati. keberagamaan. kemampuan bereksistensi. Tirtaraharja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->