KEBUDAYAAN SABU A. ASAL KATA SABU Orang sabu pada umumnya menamakan dirinya do hawu.

Pulau sabu mereka sebut rai hawu. Do berasal dari kata dou, artinya orang atau manusia. Jadi arti kata dohawu adalah orang hawu. Rai artinya tanah atau negeri, jadi rai hawu artinya tanah hawu.Bahasa orang sabu disebut li hawu. Segala apa saja yang dipandang yang asli atau berasal dari sabu selalu dikenakan kata sandang hawu, sedangkan yang berasla dari luar atau bukan asli sabu dikenakan kata sandang jawa. Kata sandang hawu sudah dipergunakan sejak zaman dahulu kala yaitu sejak generasi ke-8 orang sabu yang bernama hawu miha.Hawu mihasama artinya hawu bin miha atau hawu anak dari miha. Nama beliaulah yang dipakai menjadi nama dari do hawu atau rai hawu. Ketika bangsa portugis dan belanda tiba di sabu, kata hawu telah mengalami perubahan dalam melafalkannya.Dalam bahas tulisan, orang portugis menulis kata hawu itu savo, sedangkan orang belanda menulisnya dengan kata savu.Kata savo dilafalkan orang portugis menjadi sabo, sedangkan orang belanda tetap savu. Bahasa sabu tidak mengenal lafal kata yang berhuruf F atau V. mereka melafalkan F atau V dengan bunyi B atau P. oleh karena itu, pada zaman penjajahan belanda meskipun dalam bahasa tulisan kata hawu ditulis secara resmi savu, akan tetapi do hawu merasa lebih mudah melafalkan kata sabu.Lebih dekat pada lafal portugis sabo daripada savu. Meskipun secara resmi pemerintah menulis kata savu,akan tetapi orang sabu lebih senang melafalkan bukan dengan sabo atau savu, melainkan sabu sebab dalam bahasa asli hawu, ada bunyi U dan lafal itu lebih cocok dengan lidah mereka. Sampai sekarang kata sabu tetap dipakai baik dalam bahasa tulisan maupun bahasa lisan. Meskipun demikian kata hawu, rai hawu, do hawu, dan li hawu masih tetap dipakai ketika orang sabu bercakap-cakap dalam bahasa sabu,baik mereka yang bermukim di dalam maupun diluar kepulauan sabu. B. 1. KEADAAN UMUM SABU LETAK GEOGRAFIS Kepulauan sabu terletak diantara pulau sumba, pulau rote dan pulau timor, pada 1210 45’ sampai 122 4’ BT dan 10 27’ sampai 10 38’ LS. Kepulauan ini terdiri dari tiga buah pulau yaitu pulau sabu, raijua dan dana. Namun pulau yang berpenghuni adalah pulau sabu dan pulau raijua. Menurut cerita orang tua-tua, sebenarnya ada pulau yang keempat yang bernama rai kelara, namun pulau ini tenggelam ketika terjadi air bah yang disebut lale dahi. Kecamatan sabu terdiri dalam lima wilayah kecamatan yaitu :

Musim hujan mulai dari bulan desember-februari 3.077 jiwa pada tahun 1988 penganut agama suku 20. Penyebaran pada 3 buah kecamatan adalah sebagai berikut : kecamatan sabu barat 37. b. Hampir seluruh kepulauan ini terdiri dari tanah putih/kapur yang berbukit-bukit dan tanah merah yang kurang subur kecuali sedikit tanah datar dibagian utara.736 jiwa.617 jiwa. Mata Pencaharian Mata pencaharaian utama orang sabu adalah petani.Yang ada hanyalah beberapa buah puncak bukit yang tingginya kira-kira 250 m. 2. PENDUDUK DAN MATA PENCAHARIAN Penduduk Menurut Jumlah Menurut data tahun 1998 dari kantor statistic kabupaten kupang penduduk kepulauan sabu berjumlah 63. Menurut Agama Islam 390 jiwa. 4.623 jiwa. keadaan iklimnya ditandai oleh musim kemarau yang panjang yang berlangsung dari bulan maret-november. Sabu Timur dengan ibukota Below Sabu Barat dengan ibukota Mehara Sabu Utara dengan ibukota Seba Sabu selatan dengan ibukota Liae Raijua dengan ibukota Walurede KEADAAN ALAM DAN IKLIM Keadaan alam di pulau sabu relative sama.Data diatas menunjukkan bahwa pertambahan penduduk selama 11 tahun hanya 5. 2.Di sabu tidak ada gunung.813 jiwa selama 11 tahun terjadi penurunan jumlah penganut agama suku sebanyak 6. Penduduk kepulauan ini pada tahun 1987 tercatat sebanyak 57. a.1.648 jiwa. Menurut data tahun 1988. 1. Ada sedikit perbedaan ialah bahwa pada wilayah bagian utara relative lebih jauh karena mempunyai sejumlah mata air dengan beberapa buah sungai yang berair sepanjang tahun.sedangkan pada wilayah baggian selatan kering dan tandus serta tidak mempunyai mata air sebaik seperti dibagian utara. 2.Tingkat perkembangan penduduknya rendah.Pada umumnya mereka bekerja sebagai peladang dan penyadap lontar. dari antara penduduk yang .407 jiwa dan di kecamatan Raijua 6. 3. 5.808 jiwa saja. c.691 jiwa dan agama suku 14.969 jiwa dan perempuan 31. khatolik 704 jiwa protestan 47.809 jiwa. kecamatan Sabu Timur 19.587 jiwa. Menurut Kelamin Laki-laki 31.

Umumnya . Sedangkan tempat sirih pinang yang khusu dipakai oleh kaum wanita adalah “kepepe”. ADAT ISTIADAT DALAM PERKAWINAN Kenoto dalam perkawinan adat sabu Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan dan adat budaya. tukang 142 orang.berjumlah 57. Memotong gigi sekaligus menyerasikan letak gigi. sementara anak yang dipasah itu berbaring. Sering dijuluki “bergigi kuda.392 orang. Demikian juga dengan dikalangan suku sabu. entah itu perkawinan antara mampu atau tidak mampu.809 jiwa.Hasil produksi pertanian sangat tergantung pada curah hujan serta tekhnologi pertanian yang sederhana. terdapat 33.pagar tidak serasi dan sebagainya”. Kedua-duanya terbuat dari daun lontar. Pada setiap perkawinan selalu didahului dengan tata cara kebiasaan adat yang berlaku dari generasi ke generasi. cercaan dan bahasa-bahasa lainnya yang kurang enak didengar. baik secara lengkap dan utuh.Pada beberapa decade terakhir terdapat sedikit kemajuan oleh adanya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan LSM.dan sesekali juga ada yang dibuat dari daun pandan. yaitu sejenis pohon yang tumbuh di tepi sungai. Pemasahan dilakukan dengan menggosokkan batu yang disebut wowadu keahe/wowadu haga ke permukaan gigi. arti sebenarnya dari kenoto itu ialah tempat sirih yang terbuat dari daun lontar dan khusus dipakai oleh kaum pria. pegawai 3. Memotong gigi/memasah gigi Mereka yang tidak memotong gigi akan menerima sindiran. Pola kegiatan para petani masih terikat pada siklus kegiatan menurut kalenndar lunar yang sangat erat kaitannya dengan adat istiadat yang bersumber pada konsep religi dari agama suku orang sabu. pada waktu dulu biasa ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut : a.112 orang petani. maupun sebagian Karena dimodifikasi/disesuaikan dengan perkembangan. C. Seorang pria yang sudah menanjak akhil baliq. setiap kali terjadi perkawinan acara kenoto itu tidak bisa diabaikan begitu saja. v Pengertian Kenoto Istilah “kenoto” adalah bahasa asli sabu. Upacara menggososk gigi atau memasah gigi diawali dengan mengantarkan daun sirih dan pinang kepada orang yang dimintai memasah giginya. nelayan 125 orang dan pedagang 65 orang.

Hau Kenoto (yang memangku kenoto) . Isi Kenoto Isi kenoto adalah sejumlah uang yang ditetapkan sesuai mufakat keluarga wanita. d. Biasanya pili dida itu adalah saudara laki-laki ibu si gadis atau yang paling berhak atas diri ibu si gadis. diikuti dengan kebiasaan memamah sirih pinang.Binatang hidup itu mutlak harus ada.Pada perkembangan selanjutnya. Jikalau keluarga menghendaki perkawinan itu maka permintaan binatang hidup itu tidak boleh ditolak atau diabaikan 3. b. binatang hidup itu sebagai lambing kesuburan. Tempat menaruh sirih pinang itulah yang dinamai “kenoto”. Status social keluarga wanita Tingkat pendidikan sang gadis Jabatan/pekerjaan sang gadis Keturunan Pili Dida/Unu Deo Pili dida ( sesuai artinya orang pertama dan utama yang mengambil atau mengangkat isi bungkusan/kenoto). pili dida wajib menerima binatang hidup (yang bernafas). Menyandang tempat sirih Setelah pemotongan gigi. 2.pemasahan dilakukan menjelang hari perkawinan. Barang-barang/benda yang biasa diminta sebagai kenoto dan kelengkapannya adalah sebagai berikut : 1.Untuk pili dida itu juga sejumlah uang yang tidak begitu besar. b. Isi kenoto biasa dipengaruhi oleh : a. kenoto dipakai sebagi symbol dalam acara perkawinan adat sabu.Seturut keyakinan orang sabu. c. Sirih pinang itu selalu di kantongi kemana saja pergi.Sesudah lamaran terjadi si gadis juga memasahkan pula. Dikatakan sebagai symbol karena digunakan langsung tempat aslinya yang biasa dipakai menaruh sirih pinang itu tetapi dalam bentuk yang lainseperti dulang/tempat lain yang kemudian diibungkus rapi dengan kain putih atau kuning lalu dibawa pada waktu acara itu akan berlangsung.Selain uang. Kedua ciri tersebut diatas adalah kisah awal mulanya keberadaan kenoto dan itu pada zaman terdahulu.

Sarung dan Selimut Sabu Syarat ini tidak berlaku umum.Belis itu sudah termasuk dengan satu ekor untuk pili dida. Karena hal tiu sudah merupakan ketentuan/syarat. 4.kellela dan nyiu wau .Besar atau jumlahnya sesuai belis yang berlaku waktu ibu atau neneknya dahulu. pihak pria dikenakan syarat membawa sarung dan selimut sabu sebagai penutup malu pihak wanita. 1. hal itu banyak berlaku pada keturuna tertentu. JENIS TARIAN Pado’a Tarian pado’a merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari ritual adat lainnya seperti Banga Liwu. D.Syarat ini hanya dikenakan mereka yang “jalan salah”. Karena kesalahan itulah maka sebagi sanksi.Tarian ini biasannya dilakukan pada malam hari sebelum dilakukan kegiatan Buihi besok harinya. Jumlah itu pantang dilebihkan atau dikurangi dari belis ibu atau neneknya. Seperti pada umumnya kegiatan pado’a diawali dengan ritual-ritual adat yaitu suguhan sirih pinang dan kelapa wangi ( kenana. Do ana ina mengandung arti kalau ibu si gadis meninggal dunia.Biasanya yang dipilih adalah do ana ina yang artinya seorang ibu yang masih bertalian erat hubungan darah/keluarga dengan ibu si gadis. maka ibu itulah salah satunya yang berhak memandikan mayat ibu si gadis. 6. karena sesuai kepercayaan orang sabu perempuan yang meminta belis melebihi ibu atau neneknya akan ditimpa musibah atau malapetaka berupa penyakit yang dahsyat yaitu badanya akan luka-luka sampai seluruh tubuhnnya hancur berantakkan (ta habba ta wugu ) 5. Jalan salah dimaksud yaitu sang gadis atau sang pria (calon pasangan suami istri) terlanjur melakukan hal yang tidak dibolehkan. Emas Tidak semua orang sabu memakai emas sebagai belis atau isi kenoto. Ihi Walli ( Bada Walli ) Ihi walli artinya belis yaitu sejumlah binatang yang diserahkan sebagai ungkapan perasaan dan ikatan bathin dari pihak lelaki.Mereka dari keluarga yang tidak menimbang emas. maka mereka yang keturunan penimbang emas berhubung emas itu sendiri susah didapat dan juga harga emas begitu tinggi maka ditempuh dengan kebijaksanaan yakni tidak menuntut besarnya jumlah gram emas yang diminta tetapi cukup seadanya saja. Hal tidak dibolehkan itu ialah bahwa mereka sudah hidup berdampingan sebagai layaknya suami istri yang sebenarnya belum dibolehkan. dan Hole. pantang memintanya. ialah sang gadis hamil/mengandung sebelum menikah sah. Buiihi. sehingga syarat atau ketentuan tidak dianggap disepelekan. tetapi tetap diusahakan dan harus ada walaupun kecil sekalipun.

Peninggalan sejarah di Daieko kecamatan Mehara Sabu Barat jarak dari kota pelabuhan Seba ± 9 km. JENIS-JENIS WISATA Wisata Alam Gua Liamadira. 3. Pandangan masyarakat sabu sendiri terhadap pado’a adalah merupak suatu ajang kebahagiaan terutama kepada pemuda-pemudi yang dibolehkan untuk saling bergandengan satu sama lainnya atau dalam bahasa sabu pegai.pernikahan keturunan raja. 1. . kursi. dan tambur.selain itu juga sebagai arena hiburan dan pelepasan lelah setelah mereka mengerjakan berbagai aktifitasnya. memiliki sumber air yang lebih besar serta telah terpasangnya stalatit dan stalakmit.calon istri dilengkapi oleh orangtuanya dengan ayam dan ternak lainnya serta peralatan kerajinan tenun/harru kabala atau kappe wangungu. panjang hampir 1 km dan memiliki daya tarik dimana di dalamnya terdapat barang-barang pusaka yang telah menjadi fosil seperti sepasang meja. kemakmuran serta kelimpahan sehingga mereka telah panen hasil tanamannya. Kegiatan pado’a ini biasanya berlangsung selama 7 hari dan sesudah acara hole dilaksanakan. peggati dengan caranya masing-masing. Sesudah acara pendahuluan ini Mone Pejo atau tokoh yang dituahkan dan dianggap mengerti tata caranya mulai melakukan koordinasi dengan para peserrta yang hadir dan sudah siap dengan ketupat yang dibuat dari daun lontar serta berisi kacang hiau untuk diikat dikaki. Ledo hawu Tarian ledo hawu untuk upacara kematian. Dalam syair yang dilantunkan oleh Mone Pejo berisi puja dan puji kepada sang pencipta alam semesta dan para leluhur yang telah memberikan kesuburan.Selain itu juga bagi orang tua kegiatan pado’a ini juga dijadikan sebagai hasil kebun/panen. baik kacang hijau maupun jagung serta padi.mangngi) diatas batu persembahan atau wowadu turu. jika istri meninggal lebih dahulu. Pelakonaga Tarian pelakonaga adalah jenis tarian perkawinan. pado’a itu disiram dengan air gula sebagai pertanda kegiatan pado’a berakhir.calon suami menjemput calon istri. maka Harru Kabala harus di kembalikan kepada orangtuanya sebagai tanda bahwa ia telah kembali ke orangtuanya. 2. oleh toko adat lokasi tempat.menyambut tamu/para pembesar. Sedangkan manfaat bagi orang tua acara ini merupakan suatu kesempatan bagi mereka untuk menjajakan jualan hasil kebun/panen. E.

memiliki pantai yang indah dan gelombang yang besar untuk sky dan selancar. Wisata Budaya Banga Liwu. budaya ritual yang dilakukan untuk pengantaran hasil panen dan pelepasan perahu hole. di Liae.selam. berjemur. Namata.memiliki pantai yang indah. Sumur Maja ( peninggalan sejarah ) di Raijua. sekitar 4 km dari kota kecamatan Raijua. Hole. 3. sedangkan dimu di timur merupakan ekor.di Liae. 2. digolongkan sebagai anjungan tanah ( duru rai ) sedangkan Dimu yang lebih datar dan rendah dianggap buritannya ( wui rai ). Wisata Bahari Pantai Bollow di Sabu Timur yang memiliki keindahan pasir putih untuk rekreasi (mandi. F. budaya ritual yang dilakukan oleh sepasang pria dan wanita dengan menunggang kuda yang dihiasi. Rumah sabu asli berbentuk panggung. dan selam.untuk selancar. Ledo Hawu.± 25 km dari kota pelabuhan Seba atau 3 km dari kota kecamatan Liae.ini pun punya 2 jenis yaitu amu ae nga rukoko . Rai Hawu. di Raijua ± 1 km dari kota kecamatan. reakreasi dan mandi. ± 5 km dari kota kecamatan atau 25 km dari pelabuhan Seba Pantai Raijua/Lede Unu. Haba dan Liae di tengah adalah dada dan perut.mincing dan juga terdapat mutiara). tarian penyambutan tamu. Pantai Hego/Wadu Mea. tempat dilakukannya berbagai ritual adat seperti tarian Kuda dan Pado’a. Rumah sabu dibedakan dalam 2 jenis : rumah sabu asli (amu hawu) dan rumah asing (amu jawa).Benteng ege ( peninggalan inggris ). di Seba memilliki pasir putih yang bagus untuk mandi. Jarak 2 km dari kota kecamatan Pantai Lobohede di Mehara. Mehara di sebelah barat adalah kepala. Bagian barat sabu yaitu Mehara yang berbukit dan berpegunungan. Pantai Seba. di Seba yang memiliki batu-batuan megalitik (stalaklit dan stalakmit) Kelapa maja di Liae berbatasan dengan Mehara. Pado’a budaya/ritual yang dilakukan secara massal oleh masyarakt sabu apada umumnya. RUMAH ORANG SABU Orang sabu membandingkan pulaunya. dengan suatu makhluk hidup yang membujur dengan kepalanya di barat dan ekornya di timur. budaya/ritual dimeriahkan dengan taji ayam antar suku dalam masyarakat Pacuan kuda/tarian kuda ( pehere djara ). Selain itu mereka juga menggambarkan pulau itu sebagai perahu. Pantai Ege di Liae.

Bagian “kanan” rumah ditentukan dalam hubungan dengan anjungan (duru) rumah. Rumah yang tanpa taga batu dan berlantai tanah digolongkan sebagai rumah asli. tempat warga pere. Dengan demikian jenis amu ae nga rukoko merupakan kelanjutan bentuk amu taga batu. Taga batu adalah dua batang balok melengkung yang saling dihubungkan salah satu ujungnya sehingga membentuk setengah lingkaran pada kedua sisi melebar rumah. karena yang disebut terdahulu itu juga memakai konstruksi taga batu.5 hingga 0. Adapun “kepala” dari balok-balok itu dibiarkan mencuat keluar sedikit dan dipotong menyerupai .50 m diatas tanah.75 m di atas tanah dibagi menjadi 2 yakni kelaga rai duru. Apabila anjungan rumah terletak kearah barat maka bagian “kanan” terletak disebelah utara. Ujung balok A (terletak didepan rumah) menindih ujung balok B (dibelakang rumah) pada sambungannya. Kelaga rai letaknya memanjang dibagian depan atau “kanan” rumah.serta amu taga batu. Begitu pula rumah panggung yang bagian dinding pada sisi melebarnya tidak melengkung akibat tidak konstruksi taga batu. Jenis pertama adalah rumah yang kedua ujung bubungannya menonjol keluar ke barat dan ke timur (karena rumah sabu asli memanjang dari barat-timur) dengan bagian atap yang disebut rukoko (daun leher). Kelaga ae ialah balai-balai yang terletak diatas balok-balok utama dan terletak sekitar 1. 1. yaitu kelaga ae (balai-balai besar) yang terletak dibalok-balok utama rumah. tempat tamu lakilaki diterima oleh warga rumah yang lelaki pula. kelaga rai (balai-balai tanah) dan kelaga damu (balai balai loteng). Balai-balai dan tiang Rumah sabu memiliki 3 tingkat panggung (kelaga=balai-balai). Juga balai-balai ini dibedakan dalam bagian duru dan wui. dan kelaga rai wui. sedangkan jika anjungan rumah terletak ditimur maka bagian “kanan” rumah mengarah ke selatan. Sedangkan dibagian depan rumah bagian duru di hamparkan dea (batu-batu datar) buat tempat duduk lelaki dan juga bekerja apabila tidak hujan.00 hingga 1. Rumah semacam ini disebut amu ata (rumah terpotong) karena bagian sisi-sisinya melebar lurus lempang seakan terpotong. letak balai-balainya ini antara 0. Disini juga warga perempuan rumah melakukan tugas seperti memilin benang dan menganyam sambil duduk. Empat balok utama (ae) yang mendukungnya serta dua balok yang menopang balai-balai loteng terletak dengan pangkal atau “kepala” (katu) ke arah duru dan “ekor” (rulai) ke arah wui.puan rumah itu menerima tamu perempuan.

dan dalam hal tertentu hanya ina amu (ibu rumah) yakni istri kepala keluarga. tempat barang-barang yang termasuk urusan kaum perempuan. Bagian tepi “kanan” dan “kiri” balai-balai ini disebut kelaga rubu (balai-balai rusak). Besar rumah sabu diukur menurut jumlah usuk. diletakkan melintang diatas usuk disebut badu. Terdapat sejumlah tiang dirumah sabu. yang juga digolongkan dalam tiang moncong duru dan wui. Makanan dihidangkan dan disantap diatas kelaga ae. Inilah wilayah perempuan sehingga hanya warga perempuan yang boleh memasukinya. Sebuah pintu loteng terdapat dekat pintu wui.benang. warga lelaki dibagian anjungan dan perempuan dibagian buritan. Jarak diantara kedua kayu usuk disebut roa nama yang juga digunakan untuk menyebut kerangka bagian dalam dari perahu. Sedangkan dua tiang utama dalam rumah sabu disebut taru duru (tonggak anjungan) dan taru wui. Upacara yang penting dalam rumah berlangsung kedua taru ini. Bagi wui yang tidak dipisahkan oleh sekat disebut kopo. Kegiatan memasak berlangsung didalam kopo dan alat-alat masak di simpan. Atap dikedua bagian rumah disebut kaba ranga (pipi). Bagian ini oleh orang sabu dianggap sebagai jalan untuk “napas” rumah. Taru wui tidak boleh tampak oleh taru duru. Bagian dalam loteng gelap dan terlindung juga. misalnya makanan. Kayu reng.sehingga tidak tampak dari penglihatan mereka yang duduk dibagian lelaki rumah. Gelapnya loteng juga mencegah tiang buritan dari pandangan.sedangkan yang bertumpu diatas balok dinamai gela. worena (besar) yaitu kayu yang disandarkan dari bumbungan menurun ke “kanan” dan “kiri” sampai tepi tiris. Loteng ini dilindungi ketanga robe (penutup gesek) terbuat dari daun kelapa. Semua tiang rumah dipilih menurut letaknya dalam hubungan dengan duru dan wui.anjungan perahu.yang dibagi menjadi dua gela yakni gela bani (tiang perempuan) serta gela mone (tiang lelaki). Kelaga damu (balai-balai loteng). Tiang yang menopang kerangka atap rumah dikedua bagian ujung rumah (kearah barat dan timur) disebut geri bubu (tiang moncong). Kerangka atap dikedua bagian ini disebut kebaka dan kedua ujung kerangka ini tidak saling ditemukan. letaknya dibagian wui rumah. Jumlah kayu badu dibagian depan (kanan) rumah selalu merupakan bilangan . Yang ditanam ditanah disebut geri.alat ikat dan tenun. Daun atap rumah diikatkan kesana. Karena itu sebuah sekat pemisah diletakkan ditengah bagian wui untuk mencegah taru duru “melihat” rau wui.

2. yang oleh karenanya selalu merupakan bilangan genap. ibunya mengambil segumpal tanah dari kuburannya dan menyimpannya pada sarung yang ia kenakan.tempat bernapas. Walaupun mereka tidak secara eksplisit mengungkapkan bahwa rumah adalah sebagai perahu yang ditelengkupkan. Hal ini menunjukkan prinsip structural yang benar-benar sental dalam budaya orang sabu.baik bentuk ataupun nama bagian-bagian tertentu dari rumah menyatakan asosiasi dengan makna yang terkandung dalam perahu. jika seorang bayi meninggal padahal belum mengalami upacara ini.bemanga.11. dengan harapan bahwa bemanga akan kembali untuk mengisi perutnya itu dengan bayi lain. Begitulah maka rumah yang sudah diupacarai itu dianggap mempunyai bemanga sehingga penghuni amu akan hidup terus. Warga rumah (begitupun warga sebuah kampung) dihubungkan dengan seorang leluhur menurut garis lelaki. Kegiatan kaum lelaki berlangsung di duru. Selain itu. Buat orang sabu semua benda yang hidup punya bemanga. Dalam rangka upacara membangun rumah artinya rumah itu diberi kehidupan. udu (klen .21) dan jumlahnya satu lebih banyak daripada badu dibagian atap belakang atau kiri rumah. Bagi orang sabu sebuah rumah bukan sekedar bangunan fisik yang mempunyai fungsi praktis melainkan juga mempunyai makna rohaniah.ganjil (9. tumbuh serta berkembang biak. balok-balok alas balai-balai dipotong mirip anjungan perahu. Istilah gela digunakan baik untuk menyebut tiang dalam loteng maupun tiang layar perahu. Makna sebagai makhluk hidup juga terungkap dalam symbol yang dipakai dibagian-bagian tertentu rumah sabu.disi nyawa.pipi. Atas dasar pembangian ke dalam duru dan wui tadi itu. Dalam bulan daba sekali setahun diadakan upacara yang juga disebut upacara daba yang khusus buat anak-anak yang baru dilahirkan. sementara istilah roa menunjuk baik kepada bagian dalam atap rumah maupun pada bagian dalam perahu. Maka warga dari garis yang sama ini. selain itu penduduk sebuah kampong dan warga suatu rumah adalah warga dalam kelompok seperti halnya penumpang dalam sebuah perahu.dada maupun rusuk”. Begitu upacara selelsai rumah pun dianggap sudah punya bemanga. Rumah mempunyai “anjungan” dan “buritan”. rumah dibagi dalam setengah bagian “lelaki” dan sisanya lagi “perempuan”. Sehingga rumah mempunyai “kepala.daun leher.ekor. Makna rumah sabu Perlambangan yang diberikan orang sabu kepada pulau sabu dan kepada kampungnya dikenakan pula dalam pengaturan rumah. kegiatan kaum perempuan di wui.

Depan atau kanan dan ganjil itulah sifat kakak yang superior. Pembedaan ini juga terungkap dalam cara menghubungkan kayu taga batu. Singkatnya taru wui tidak boleh tampak oleh taru duru. putih Konsumsi Pangkal. Dalam menghubungkan kayu usuk (badu) dengan balok bubungan. Setengah rumah bagian duru terbuka buat semua warga rumah ataupun para tamu. Depan atau kanan digolongkan sebagai kakak (a’a) sedangkan belakang atau kiri tergolong adik (ari). yang didepan menindih yang belakang. Gadis itu kembali kerumah asal. Juga bahwa usuk depan terletak kearah duru sedangkan usuk belakang kea rah wui.patrilinial). Rumah sabu masih dibagi dalam depan-belakang atau kanan (kegana) – kiri (keriu). adalah keturunan dari seorang leluhur yang disebut apu. Oposisi lain yang terkandung dalam pembagian dua duru-wui adalah terang-gelap.diasosiasikan dengan kesuburan dan perlindungan buat perempuan. Jika ada seorang pemuda dari amu A mengawini gadis yang semula berasal dari rumah A itu juga. Loteng. sehingga yang duduk disana tidak melihat apa yang terjadi di wui. asal mula Wui : “Buritan” Perempuan . tersembunyi dari bagian duru. dari mana ia dilahirkan di dunia.terbuka dan tertutup. Segala upacara diloteng lasim dilakukan oleh ina amu (ibu rumah tangga) tidak boleh tampak oleh siapapun berlainan dengan segala upacara di duru yang terbuka bagi siapa saja. luar Terang. Ini harus selalu begitu.usuk-usuk depan dimasukkan ke dalam lubang-lubang balok bubungan lebih dahulu daripada usuk-usuk belakang. kegelapan. disebut bale ma kedede katune (balik untuk memegang kepala balok utama). yang skemanya adalah sebagai berikut : Duru : “anjungan” Laki-laki Terbuka. Atas dasar ini pula kayu badu depan lebih sebatang daripada yang dibelakang. Setengah bagian wui sebaliknya. dan buat mereka disajikan makanan dibagian ini juga. sedangkan belakang atau kiri dan genap merupakan sifat adik yang inferior. Asas-asas penataan dalam rumah sabu didasari sejumlah asosiasi.

timbunan Ujung.dalam Gelap.- Tertutup. pucuk Kegana : “Kanan” - Depan Kakak Ganjil Lelaki Keriu : “kiri” - Belakang Adik Genap perempuan . hitam/kelabu Simpanan.

html .com/2011/12/daerah-sabu.blogspot.http://yunita-wadu.