OBAT YANG DIGUNAKAN DALAM ANESTESI

Obat-obatan anestesi terdiri dari obat-obatan pre-medikasi, obat induksi anestesi, obat anestesi inhalasi, obat anestesi intravena, obat pelumpuh otot (muslce relaxant), obat anestesi lokal/regional, dan analgesia (opioid dan nonopioid). Macam- macam obat pre medikasi : 1. Golongan Narkotika Mempunyai efek analgetika yang sangat kuat. Jenisnya : petidin, fentanyl, dan morfin. Tujuan: mengurangi rasa nyeri saat pembedahan. Efek samping: dapat membuat depresi pernafasan, mual-muntah, Vasodilatasi pembuluh darah yang dapat membuat hipotensi. Biasanya diberikan jika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan sifat analgesik rendah, misalnya: halotan, tiopental, propofol. Pethidin :    Morfin :       mengurangi kecemasan dan ketegangan karena nyeri sebelum operasi menekan TD dan nafas merangsang otot polos depresan Sistem saraf pusat pulih pasca bedah lebih lama mempunyai efek samping mual muntah dan penyempitan bronkus Fentanyl :  Mempunyai potensi analgesi 75-125 kali morfin mengurangi kecemasan dan ketegangan menekan TD dan nafas (diinjeksikan pelan- pelan) merangsang otot polos

1

  

Mempunyai mula kerja yang cepat dan mempunyai waktu eliminasi yang cepat juga dalam tubuh Efek terhadap jantung sangat minimal tetapi dapat terjadi bradi yang dapat di tanggulangi dengan pemberian sufas atropin Mempunyai efek samping ketergantungan, euforia, perlambatan EKG, mual dan muntah

2. golongan benzodiazepin Mempunyai manfaat yang sangat berguna untuk premedikasi Mempunyai efek ansiolisis, sedasi, dan amnesia Dapat digunakan untuk pasien dengan gangguan respirasi walapun harus terus dipantau penggunaannya Obat yang biasanya digunakan adalah diazepam 5-20mg yang dapat diberikan peroral ataupun iv 3. antikolinergik Obat-obatan itu berfungsi untuk mencegah terjadinya efek bradikardi dari obat-obatan premedikasi lain ataupun obat-obatan anastetik yang akan digunakan nantinya Dapat digunakan sebagai profilaksis ataupun pengobatan bradikardi Efek samping yang ditimbulkan seperti toksisitas SSP, takikardi (bahaya pada penderita penyakit jantung), pireksia, midriasis Obat-obatan yang biasa digunakan adalah sulfas atropin

4. 5-HT antagonis Obat yang biasanya digunakan adalah ondansetron untuk mengurangi efek mual muntah dari obat-obatan anestesi lainnya.

2

005 0.25 mg ampul 4mg/2cc 3 cc 8 mg (dewasa) 5 mg (anak) 2 mg Aminofilin ampul 24mg/cc Tanpa pengenceran 10 cc 5 24 mg Dexametha son ampul 5 mg/cc Tanpa pengenceran 1 5 mg 3 .05 mg/cc 0.Macam.macam obat anastesi berikut dosis dan sediaannya : Obat Dalam sediaan Jumlah di sediaan pengenceran Dalam spuit Dosis (mg/kgBB) 1 cc spuit = Pethidin ampul 100mg/2 cc 2cc + aquadest 8cc 10 cc 0.05m g 10cc + lidocain 1 ampul 10 cc 1-2 10 mg 10 cc 2-2.2 5 mg ampul 0.5-1 10 mg Fentanyl 0.5 10 mg Recofol (Propofol) ampul 200mg/ 20cc Ketamin vial 100mg/cc 1cc + aquadest 9cc Efedrin HCl Sulfas Atropin Ondansentr on HCl (Narfoz) ampul 50mg/cc 1cc + aquadest 9cc 10 cc 0.25mg/c c Tanpa pengenceran Tanpa pengenceran 3 cc 0.

disorientasi tempat dan waktu. tidak terkendali. (akibat peningkatan aktivitas saraf simpatis dan depresi baroreseptor).1 1 mg ampul 60 mg/2cc Tanpa pengenceran Tanpa pengenceran 30 mg Difenhidra min HCl ampul 5mg/cc 5 mg A.3 0. Obat induksi intravena 1. Dosis berlebihan secara iv  depresi napas Pada anak dapat timbulkan kejang. Terutama untuk nyeri somatik tetapi tidak untuk nyeri viseral - Efek hipnotik kurang Efek relaksasi tidak ada Refleks pharynx dan larynx masih cukup baik  batuk saat anestesi  refleks vagal Disosiasi  mimpi yang tidak enak. halusinasi.07-0. nistagmus 4 - .25-0.penderita asma dan untuk mengurangi spasme bronkus pada anesthesia umum yang masih ringan. tekanan intracranial (Efek ini dapat diperkecil dengan pemberian thiopental sebelumnya) - TD sistolik diastolic naik 20-25%.Adrenalin Midazolam (Sedacum) Ketorolac ampul ampul 1 mg/cc 5mg/5cc Tanpa pengenceran 0. gaduh gelisah. hiosin. - Dilatasi bronkus. konsentrasi oksigen. Baik untuk penderita. denyut jantung akan meningkat. Ketamin - Efek analgesia kuat sekali. Antagonis efek konstriksi bronchus oleh histamin. Saat pdrt mulai sadar dpt timbul eksitasi - - Aliran darah ke otak. Cegah dengan premedikasi opiat.

- Meningkatkan kadar glukosa darah + 15% Pulih sadar kira-kira tercapai antara 10-15 menit Metabolisme di liver (hidrolisa & alkilasi). Dapat dipakai untuk induksi pada pasien syok. biopsy) Pada pasien dengan resiko tinggi: ketamin tidak mendepresi fungsi vital. sedang obat lain bekerja pada pusat retikular otak Indikasi:  Untuk prosedur dimana pengendalian jalan napas sulit. missal pada koreksi jaringan sikatrik pada daerah leher. disini untuk melakukan intubasi kadang sukar       Untuk prosedur diagnostik pada bedah saraf/radiologi (arteriograf). Untuk tindakan operasi kecil Di tempat dimana alat-alat anestesi tidak ada Pasien asma Kontra Indikasi    hipertensi sistolik 160 mmHg diastolic 100 mmHg riwayat Cerebro Vascular Disease (CVD) Dekompensasi kordis Harus hati-hati pada :   Riwayat kelainan jiwa Operasi-operasi daerah faring karena refleks masih baik 5 . Tindakan orthopedic (reposisi. diekskresi metabolitnya utuh melalui urin - Ketamin bekerja pada daerah asosiasi korteks otak.

sakit kepala pada penderita yg mulai sadar. Terasa nyeri saat penyuntikan  dicampur lidokain 2% +0. Ekstasi. warna putih seperti susu dengan bahan pelarut minyak kedelai & postasida telur yang dimurnikan. Propofol - Bentuk cairan. nyeri lokal pada daerah suntikan Dosis berlebihan dapat mendepresi jantung dan pernapasan Sebaiknya obat ini tidak diberikan pada penderita dengan gangguan jalan napas. mudah menguap Tidak mudah terbakar/meledak Berbau harum tetapi mudah terurai cahaya Efek: Tidak merangsang traktus respiratorius Depresi nafas  stadium analgetik Menghambat salivasi 6 . liver. - Halothan/fluothan Tidak berwarna.2. Obat anastetik inhalasi 1. emulsi isotonik. syok hipovolemik B. ginjal. Saat dipakai untuk induksi juga dapat terjadi hipotensi karena vasodilatasi dan apnea sejenak Efek Samping      Bradikardi Nausea. Metabolisme di liver dan metabolit tidak aktif dikeluarkan lewat ginjal.5cc dlm 10cc propolol  jarang pada anak karena sakit & iritasi pd saat pemberian - - Analgetik tidak kuat Dapat dipakai sebagai obat induksi dan obat maintenance Obat setelah diberikan  didistribusi dengan cepat ke seluruh tubuh.

analgetik kurang baik. relaksasi cukup Mencegah terjadinya spasme laring dan bronchus Depresi otot jantung  aritmia (sensitisasi terhadap epinefrin) Depresi otot polos pembuluh darah  vasodilatasi  hipotensi Vasodilatasi pembuluh darah otak Sensitisasi jantung terhadap katekolamin Meningkatkan aktivitas vagal  vagal refleks Pemberian berulang (1-3 bulan)  kerusakan hepar (immune-mediated hepatitis) - Menghambat kontraksi otot rahim Absorbsi & ekskresi obat oleh paru.- Nadi cepat. penderita sadar dalam kondisi yang enak Kerugian      overdosis Perlu obat tambahan selama anestesi Hipotensi karena depresi miokard & vasodilatasi aritmia jantung Sifat analgetik ringan 7 . ekskresi air mata Hipnotik kuat. sebagian kecil dimetabolisme tubuh Dapat digunakan sebagai obat induksi dan obat maintenance Keuntungan       cepat tidur Tidak merangsang saluran napas Salivasi tidak banyak Bronkhodilator  obat pilihan untuk asma bronkhiale Waktu pemulihan cepat (1 jam post anestesi) Kadang tidak mual & tidak muntah.

  2. berbau enak. tidak korosif. tidak mudah terbakar. - Cukup mahal Dosis dapat kurang sesuai akibat penyusutan Nitrogen Oksida (N2O) gas yang berbau. 3. tidak mudah terbakar dan relatif tidak larut dalam darah Efek:      Analgesik sangat kuat setara morfin Hipnotik sangat lemah Tidak ada sifa relaksasi sama sekali Pemberian anestesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%. berpotensi rendah (MAC 104%). Sevofluran Merupakan cairan jernih. tidak mudah terbakar dan stabil terkena cahaya Induksi dengan sevofluran dapat menimbulkan relaksasi pada anak Pada sistem kardiovaskular sedikit menimbulkan depresi kontraksi jantung 8 . Isofluran Adalah obat anestesi isomer dari enfluran Merupakan cairan tak berwarna. berbau tajam. menimbulkan depresi ringan pada jantung dan curah jantungn menurunkan tekanan darah sistemik 4. tidak terpengaruh cahaya dan tidak merusak logam Dalam waktu 7-10 menit biasanya sudah mencapai stadium pembedahan anastesi Mempunyai efek bronkodilator tetapi tidak kuat Mempunyai bau yang tajam sehingga pasien tidak nyaman. tidak berwarna.  Bila murni N2O = depresi dan dilatasi jantung serta merusak SSP jarang digunakan sendirian tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain seperti halotan dan sebagainya. dapat membuat iritasi jalan nafas. tidak iritatif.

020 0.12 0. Alkurium (alloferin) 0. dan depolarisasi Dosis awal (mg/kgB B) Non depol long-acting 1.30 Dosis rumatan (mg/kgB B) Durasi Efek samping (menit ) 0.010.12 0. Obat muscle relaksan - Bekerja pada otot bergaris  terjadi kelumpuhan otot napas dan otot-otot mandibula.20-0.0050.02-0. Metakurin 4.150. Doksakurium 6.05-0.40 0.08-0.010 0.08 0. Pipekuronium 5.60 0. D-tubokurarin (tubarin) 2. otot intercostalis.05 0.15-0. Pankuronium 3. otot-otot abdominalis & relaksasi otot-otot ekstremitas.40-0.5 30-60 30-60 40-60 40-60 45-60 40-60 Hipotensi Takikardi Hipotensi KV stabil KV stabil Takikardi 9 .015 0. Bekerja pertama: kelumpuhan otot mata ekstremitas  mandibula intercostalis abdominal diafragma - - Pada pemberian pastikan penderita dapat diberi napas buatan Obat ini membantu pada operasi khusus seperti operasi perut agar organ abdominal tidak keluar dan terjadi relaksasi - Terbagi dua: Non depolarisasi.10 0.- Dapat memicu bronkospasme Mengurangi aliran darah ke ginjal sehingga dihubungkan dengan gangguan fungsi ginjal C.

Vekuronium (norcuron) 4.20 0.15 0.1 0.Non depol intermediate acting 1.02 30-60 20-45 25-45 30-60 30-45 Isomer atrakurium Hipotensi Amanhepar&ginj al  Durasi      Ultrashort (5-10 menit): suksinilkolin Short (10-15 menit) : mivakurium Medium (15-30 menit) : atrakurium.0 0. dekametonium 1. mivakurium (mivacron) 2.10-0.3-0. Cistacuronium Non depol short acting 1.0 0.15-0. galamin  Efek terhadap kardiovaskuler  tubokurarin . doksakurium.20-0. pipekuronium. metokurin .5-0.05 0.25 1.2 0.5-2. Gallamin (flaxedil) 2.5 10-15 15-30 Hipotensi & histamin + 4-6 0.02 0. Rokuronium (roculax/esmeron/no veron) 5. ropacuronium Depol short acting 1.0 1.1-0. pankuronium.0 3-10 3-10 0.6 0.5 0.6-1. Atrakurium (tracrium/notrixum) 3. vecuronium Long (30-120 menit) : tubokurarin. suksinilkolin (scolin) 2.0150. metokurin . mivakurium dan atrakurium : Hipotensi pelepasan histamin dan (penghambatan ganglion) 10 .

Prilokain.  pankuronium : menaikkan tekanan darah suksinilkolin : aritmia jantung D. Mencegah depolarisasi dengan blokade ion Na + ke Cannel Na (blokade konduksi) yang berfungsi untuk mencegah permeabilitas membran saraf terhadap ion Na+ Penggolongan anestesi lokal: Ester Struktur Kimia obat Amide Kokain . Klorprokain. anastesi lokal/ regional Bekerja dengan cara blokade reversibel konduksi saraf. Etidokain. Prokain. Tetrakain Lidokain. Benzokain. Bupivakain. Mepivakain. Ropivakain Topical Blok Saraf Tepi infiltrasi Blok nerv spinal Blok Saraf Sentral epidural Regional iv ganglion pleksus Anestesi Lokal Cara Pemberian servikal torakal lumbal Short Acting Potensi Obat Sacral/ Medium Acting kaudal Long acting 11 .

Volume yang digunakan <20ml.5% lazim digunakan untuk pembedahan. analgesianya sampai 8 jam. Lidonest) Umumnya digunakan 1-2%. 0.5% tanpa adrenalin. 1.8% blokade sensorik baik tanpa blokade motorik. 12 .Potensi Obat SHORT act Prototipe Gol Onset Durasi Potensi Toksisitas Dosis max Metabolisme Prokain Ester 2’ 30-45’ 1 1 12 Mg/KgBB Plasma MEDIUM act Lidokain Amida 5’ 60-90’ 3 2 6 mg/KgBB Liver LONG act Bupirokain Amida 15’ 2-4jam 15 10 2 Mg/KgBB Liver Keterangan: Bupivacaine Konsentrasi 0. Lidokain (Xylocaine. 2% untuk relaksasi pasien berotot. dengan mula kerja 10 menit dan relasasi otot baik.

konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH). Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam anastesia untuk mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan. A. alfentanil. dihidro morfin/morfinon. Efek morfin pada sistem syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Obat-obat opioid yang biasa digunakan dalam anastesi antara lain: 1. b. pavaperin. Morfin juga dapat menembus mukosa. hipoventilasi alveolar. Digolongkan depresi yaitu analgesia. kodein. tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada efek analgesik yang timbul setelah pemberian 13 . Farmakokinetik Morfin tidak dapat menembus kulit utuh. 3. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis. Morfin dapat diabsorsi usus. sedasi. sufentanil dan remifentanil). Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin. B. petidin. Klasifikasi Opioid Penggolongan opioid antara lain: 1. 2. Farmakodinamik Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. perubahan emosi. mual muntah. derivate tebain) sintetik (petidin.OPIOID DAN ANALGETIKA NON-OPIOID OPIOID Opioid yang sering digunakan dalam anastesi antara lain adalah morfin. dan tebain) semisintetik (heroin. hiperaktif reflek spinal. opioid natural (morfin. miosis. tetapi dapat menembus kulit yang luka. MORFIN a. fentanil. fentanil.

nausea. Waktu paruh petidin adalah 5 jam. injeksi. sedasi. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan dalam tinja dan keringat. Durasi analgesinya 14 . PETIDIN a. 2. Farmakodinamik Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor µ.2 mg/ kg BB. e. d. dizzines. perikarditis akut. nyeri akibat trauma misalnya luka bakar. Efek samping Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi depresi pernafasan. Indikasi Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik non-opioid. konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier. pleuritis dan pneumotorak spontan. Seperti halnya morfin. vomitus. Efektivitasnya lebih rendah dibanding morfin. c. oklusi akut pembuluh darah perifer.parenteral dengan dosis yang sama. Morfin sering digunakan untuk meredakan nyeri yang timbul pada infark miokard. kolik renal atau kolik empedu. disforia. tetapi lebih tinggi dari kodein. depresi nafas dan efek sentral lainnya. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap 4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0. Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaharui janin. supositoria. pruritus. retensi urin. pulmonal atau koroner. Eksresi morfin terutama melalui ginjal. Untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yang diperlukan. neoplasma. dan hipotensi. Dosis dan sediaan Morfin tersedia dalam tablet. Apabila nyerinya makin besar dosis yang diperlukan juga semakin besar. mental berkabut.1-0. fraktur dan nyeri pasca bedah. euforia. meperidin (petidin) menimbulkan efek analgesia.

3) Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut. 5) Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan hipotermi dengan dosis 20-25 mg i. Kadar puncak dalam plasma biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang dicapai antar individu sangat bervariasi. c. 4) Petidin menyebabkan konstipasi. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Farmakokinetik Absorbsi meperidin dengan cara pemberian apapun berlangsung baik. 6) Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin. kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. kekaburan pandangan dan takikardia. Kurang lebih 60% meperidin dalam plasma terikat protein. Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut : 1) Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air. Akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin tidak teratur setelah suntikan IM. tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%. Pada manusia meperidin mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian mengalami konjugasi. Meperidin dalam bentuk utuh sangat sedikit 15 . Setelah pemberian meperidin IV. Normeperidin adalah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin. b. kadarnya dalam plasma menurun secara cepat dalam 1-2 jam pertama. Dibandingkan dengan morfin.pada penggunaan klinis 3-5 jam. meperidin lebih efektif terhadap nyeri neuropatik. 2) Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin. asam meperidinat dan asam normeperidinat. tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.v pada dewasa. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam urin.

gangguan penglihatan. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. kecepatan metabolik otak. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. disforia. fentanil 75-125 kali lebih poten dibandingkan dengan morfin. 3. perasaan lemah. petidin tidak menunda persalinan. meperidin diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. Dosis dan sediaan Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg . suntikan 10 mg/ml. Dosis untuk bayi dan anak . Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi menekan hantara saraf) 16 . f. Efek samping Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing. palpitasi. 100 mg/ml. euforia. akan tetapi dapat masuk ke fetus dan menimbulkan depresi respirasi pada kelahiran. Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak. mual-muntah. Farmakodinamik Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. 50 mg/ml. Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik. 1-1. Indikasi Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia.8 mg/kg BB. dan tekanan intra kranial. mulut kering. .ditemukan dalam urin. sinkop dan sedasi. berkeringat. Sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. d. larutan oral 50 mg/ml. 75 mg/ml. Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin ditemukan dalam urin dalam bentuk derivat N-demitilasi. FENTANIL a. e. Sebagai suatu analgesik. 25 mg/ml. Berbeda dengan morfin. Pada beberapa keadaan klinis.

tetapi fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya. aldosteron dan kortisol. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml. c. katekolamin plasma. Fentanil dikombinasikan neureptanalgesia. pada bedah jantung. Farmakokinetik Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama dengan dengan morfin. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula. ADH. Efek samping Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot. Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan. Dosis besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi bensodioazepam dan inhalasi dosis rendah. Indikasi Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya.dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. renin. karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. sedangkan sisa dengan droperidol untuk menimbulkan metabolismenya dikeluarkan lewat urin. Dosis 1-3 mg /kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit. b. d. 17 .

gangguan faal ginjal. asetat As. gangguan perdarahan.ANALGETIKA NON OPIOID (NSAID) Pirazolon As. anak usia <4th. pirolasetat As. propionat As. dapat digunakan bersama opioid. antranilat As. intravena. Asetil salisilat. Ketoprofen As. Floktafenin As. Tidak untuk wanita hamil. 60mg/hari. tonsilektomi. 18 . maksimal setelah 1-2 jam. Dosis awal 10-30mg/hari dosis maks. usia lanjut. Cara kerja menghambat sintesis prostaglandin di perifer tanpa mengganggu reseptor opioid di sistem saraf pusat. Naproksen. Efek analgesia dicapai dalam 30 menit. dan BB <50kg dibatasi maks. Karboksilat Oksikam Dipiron Piroksikam Salisilat As. pada manula. indolasetat As. Dflunisal Ibuprofen. intramuskular. wanita menyusui. Mefenamat. fenilasetat Indometasin Ketorolac Diklofenak Keterangan 1. menghilangkan nyeri persalinan. 90mg/hari. 30mg ketorolak=12mg morfin=100mg petidin. Ketorolak Diberikan secara oral. Lama kerja 4-6 jam.

hiperkalemia. kembung. Gangguan fungsi hepar: peningkatan SGOT. anak kecil. ikterus hepatoseluler. retensi natrium. urtikaria. SGPT. asma. anemia aplastik. nekrosis papil ginjal. penurunan laju filtrasi glomerulus. Keamanan belum terbukti pada wanita hamil. Gangguan sistem darah: trombositopenia. bilirubin. Gangguan respirasi: tonus bronkus meningkat. peningkatan ureumkreatinin. diare. 19 . Per-rektal 1-2 suppositoria. Suntikan intarmuskuler 100-300mg/hari. manula. erupsi. dispepsia. Intravena per-infus dihabiskan dalam 20 menit. pererenal azotemia. Ketoprofen Diberikan secara oral. nefritis. kapsul. konstipasi. panas. menyusui. pruritus. leukimia. sindroma nefrotik. ulserasi mukosa lambung. mual-muntah. Hipersensitivitas kulit: gatal. tablet 100-200 mg/hari. hipertensi. gagal jantung. Gangguan kardiovaskuler: akibat retensi air menyebabkan edema. sindroma StevenJohnson. perdarahan tukak lambung. proses persalinan. Gangguan fungsi ginjal: penurunan aliran darah ginjal.2. Efek samping golongan NSAID Gangguan saluran cerna: nyeri lambung. gamma globulin.

spontan. menangis. hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan refleks bulu mata sampai pernapasan kembali teratur. 20 . perut-dada. lakrimasi meningkat. Stadium II Stadium II (delirium/eksitasi. dada dan perut seimbang.STADIUM ANESTESI Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium (stadium III dibagi menjadi 4 plana). berteriak. spontan. pupil midriasis. frekuensi meningkat. menyanyi. terfiksasi di tengah. kadang-kadang apne dan hiperpnu. pasien tertawa. terjadi gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak pupil miosis. bola mata tidak bergerak. seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar. Tindakan pembedahan ringan. midriasis. refleks cahaya mulai menurun. dan refleks laring hilang sehingga dapat dikerjakan intubasi. hipertensi serta takikardia. StadiumIII Stadium III (pembedahan) dimulai dengan teraturnya pernapasan sampai pernapasan spontan hilang. stadium ini harus cepat dilewati karena dapat menyebabkan kematian. Pada stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). pernapasan tidak teratur. Plana 2: Pernapasan teratur. Pada stadium ini terlihat adanya eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak. inkontinensia urin dan alvi. refleks cahaya ada. tonus otot rangka meningkat. relaksasi otot sedang. StadiumIII dibagi menjadi 4 plana yaitu: Plana 1: Pernapasan teratur. volume tidak menurun. yaitu: Stadium I Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran. dapat dilakukan pada stadium ini. muntah. refleks faring dan muntah tidak ada dan belum tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna (tonus otot mulai menurun).

Pada stadium ini tekanan darah tak dapat diukur. lakrimasi tidak ada. pupil sangat midriasis. refleks sfingterani dan kelenjar air mata tidak ada. 21 . denyut jantung berhenti. relaksasi otot lurik sempurna (tonus otot sangat menurun). relaksasi otot lurik hampir sempurna (tonus otot semakin menurun).Plana 3: Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis. pupil midriasis dan sentral. Stadium lV Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan perut dibanding stadium III plana 4. refleks laring dan peritoneum tidak ada. Plana 4: Pernapasan tidat teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total. refleks cahaya hilang. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini tidak dapat diatasi dengan pernapasan buatan. dan akhimya terjadi kematian.

juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Contoh: Ringer-Laktat (RL). dan mengurangi edema (bengkak). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan).MACAM-MACAM CAIRAN INFUS Berdasarkan Partikel dalam cairan dibagi menjadi: I. sehingga tekanan darah terus menurun). Cairan Hipotonik Osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (< 285 mOsmol/L).9%. Cairan Hipertonik Osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum (> 285 mOsmol/L). B. Komplikasi : kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intracranial Contoh NaCl 45% dan Dekstrosa 2. Cairan isotonik osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah) = 285 mOsmol/L.5%. sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Misalnya Dextrose 5%. KRISTALOID A. Mampu menstabilkan tekanan darah. khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Dextrose 5%+RingerLactate. Dextrose 5%+NaCl 0. misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh. sehingga menarik cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. produk darah (darah). cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya Digunakan pada keadaan sel mengalami dehidrasi. dan albumin. 22 . meningkatkan produksi urin. NaCl 45% hipertonik. dan normal saline / larutan garam fisiologis (NaCl 0.9%) C.

dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. KOLOID Mempunyai partikel besar. albumin dan steroid. Contohnya adalah dextran. dan tetap berada dalam pembuluh darah.II. HES (Hydroxy Etil Starch) Berdasar tekanan Onkotiknya ada 2 macam : - Iso-Onkotik : Co/ Albumin 25% Hiper-Onkotik : Co/ Albumin 5% 23 . maka sifatnya hipertonik. yg agak sulit menembus membran semipermeabel/ dinding pembuluh darah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful