P. 1
Pola Komunikasi Sosial Masyarakat Islam Dan Kristen

Pola Komunikasi Sosial Masyarakat Islam Dan Kristen

|Views: 2,269|Likes:
Published by Yasir Jufri
Pola komunikasi antara masyarakat Islam dan Kristen diwarnai oleh berbagai bentuk pandangan, sikap dan perilaku komunikasi sesuai karakteristik yang ada pada masyarakat tersebut. Melalui proses mempersepsi, sikap dan tindakan-tindakan kedua kelompok masyarakat ini memunculkan dan menciptakan adanya pola komunikasi masyarakat tersebut sesuai ciri-ciri yang ada. Pola-pola komunikasi tersebut dapat ditemukan dalam bentuk komunikasi melalui kerjasama, konflik, persaingan, dominasi agama tertentu, peran tokoh agama, dan peran aparat pemerintahan. Terkait dengan itu semua, penelitian ini juga menemukan tiga tipe komunikator antaragama yang ada pada masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur dengan bentuk konstruksi tipologi komunikator eksklusifis, toleran dan pluralis.
Pola komunikasi antara masyarakat Islam dan Kristen diwarnai oleh berbagai bentuk pandangan, sikap dan perilaku komunikasi sesuai karakteristik yang ada pada masyarakat tersebut. Melalui proses mempersepsi, sikap dan tindakan-tindakan kedua kelompok masyarakat ini memunculkan dan menciptakan adanya pola komunikasi masyarakat tersebut sesuai ciri-ciri yang ada. Pola-pola komunikasi tersebut dapat ditemukan dalam bentuk komunikasi melalui kerjasama, konflik, persaingan, dominasi agama tertentu, peran tokoh agama, dan peran aparat pemerintahan. Terkait dengan itu semua, penelitian ini juga menemukan tiga tipe komunikator antaragama yang ada pada masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur dengan bentuk konstruksi tipologi komunikator eksklusifis, toleran dan pluralis.

More info:

Published by: Yasir Jufri on Jul 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2011

pdf

text

original

POLA KOMUNIKASI SOSIAL MASYARAKAT ISLAM DAN KRISTEN DI KELURAHAN LABUHBARU TIMUR KOTA PEKANBARU Oleh: Yasir, M.

Si1

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola komunikasi sosial antara masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur dan untuk mengetahui tipologi komunikatornya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu melalui tradisi studi kasus, juga dengan pendekatan interaksionisme simbolik. Teknik yang digunakan untuk menjaring data adalah dengan menggunakan wawancara mendalam, observasi berperanserta, dan penggunaan dokumen. Proses komunikasi antara masyarakat Islam dan Kristen memunculkan beberapa pola komunikasi. Pola komunikasi antaragama tersebut dalam bentuk hubungan kerjasama, persaingan, konflik, dominasi agama tertentu, peran tokoh agama, dan peran pemerintah. Sedangkan tipe komunikator dikonstruksikan dalam tiga tipologi komunikator antaragama yaitu komunikator eksklusifis, toleran, dan pluralis.

Kata Kunci: agama, eksklusifis, toleran dan pluralis.

I. PENDAHULUAN 1.1 Latarbelakang Masalah Agama merupakan salah satu karakteristik sosial, sekaligus sebagai faktor yang sangat penting dalam kaitan dengan komunikasi antarmanusia dan antarkelompok masyarakat. Agama juga merupakan salah satu ciri kehidupan sosial manusia yang universal, dalam artian bahwa semua pemeluk agama mempunyai cara berpikir dan pola perilaku tersendiri. Oleh karena itu, permasalahan yang mendasar dari perbedaaan agama ini kemudian adalah bagaimana orang beragama ini
1

∗ Penulis adalah Dosen Tetap Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Riau.

1

mendefinisikan atau mengkomunikasikan diri mereka di tengah agamaagama yang lain. Di tengah-tengah perbedaan agama tersebut, masyarakat dihadapkan kepada berbagai perbedaan tanda atau simbol, seperti gereja dengan salib, mesjid dengan bulan-bintang, dan lain sebagainya. Tatkala melihat beragam tanda atau simbol-simbol rumah ibadah tersebut tersirat makna, masyarakat sedang dan akan terus berkomunikasi antaragama. Simbolisasi rumah ibadah ini merupakan pesan dalam komunikasi antaragama, yang pastinya akan dimaknai berbeda oleh masing-masing anggota masyarakat tersebut dikarenakan perbedaan agama yang dipeluk. Eksistensi agama, termasuk supra-struktur agama yang terdiri dari pesan-pesan berwujud simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilainya yang spesifik, selalu diinterpretasikan manusia secara berbeda sesuai kehidupan masyarakat. Oleh karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong dalam struktur sosial bahkan budaya suatu masyarakat. Agama tidak hanya dipandang sebagai acara ritual bersifat rohani yang berurusan dengan akhirat semata, tetapi memasuki area struktur sosial dan budaya para pemeluknya. Tegasnya, ada hubungan yang erat antara agama dengan struktur sosial dan budaya pemeluk agama tersebut. Sehingga antara masyarakat yang satu dengan yang lain tidak bisa menghindari untuk berinteraksi di antara mereka. Keberadaan berbagai fenomena komunikasi antaragama antara masyarakat Islam dan Kristen di kota ini khususnya di RW–06 & 07 dan umumnya di Kelurahan Labuhbaru Timur Kecamatan Payung Sekaki Pekanbaru mencerminkan kompleksitas keagamaan masyarakat. Kompleksitas tersebut bisa digambarkan sebagaimana berikut ini; Pertama, umumnya masyarakat cenderung memiliki prasangka buruk, antara pemeluk agama Kristen dengan Islam begitu pula sebaliknya. Kedua, adanya beberapa isu penyebaran agama yang sering diistilahkan dengan istilah ”Kristenisasi” dan “Islamisasi” yang ada di kalangan mereka. Ketiga, dalam berinteraksi sering ditemui bahwa masyarakat Islam dan Kristen memiliki sikap dan perilaku tertutup, saling curiga, streotip, saling tidak percaya, dan terkadang terjadi konflik-konflik laten serta sikap berkomunikasi yang konfrontatif. Keempat, antara kedua penganut agama ini sering terdapat perasaan cemas, takut dan benci antara pemeluk agama yang satu dengan yang lain. Kelima, dalam perilaku keseharian, sering terjadi bentuk kesenjangan dan pengambilan jarak dalam pergaulan sosial antara agama Islam dan Kristen. 2

Selain itu, kompleksitas fenomena dalam proses komunikasi antaragama masyarakat di atas sebenarnya terlihat juga melalui beberapa faktor interen umat penganut suatu agama dan eksteren pemeluk agama itu sendiri. Fenomena di atas tidak bisa dipungkiri keberadaannya dalam kehidupan dan aktifitas maupun perilaku komunikasi antaragama yang dilakukan masyarakat di Kelurahan Labuhbaru Timur Kecamatan Payung Sekaki Pekanbaru. Problematika yang begitu rupa tentang kehidupan antaragama dalam masyarakat seperti di atas menyimpan sejumlah gejala yang kerap kali susah ditebak. 1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian Berdasarkan permasalahan yang mempunyai beberapa tujuan yaitu: ada, maka penelitian ini

1. Untuk mengetahui pola komunikasi sosial antara masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru. 2. Untuk mengetahui tipologi komunikator antaragama baik masyarakat Islam maupun Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur Pekanbaru. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai sumbangan berupa temuan-temuan yang dapat menjadi titik awal bagi penelitian komunikasi, lebih khusus bagi pengembangan kajian komunikasi antaragama. Selain itu, penelitian ini berguna sebagai bahan pertimbangan dan masukan bagi para tokoh agama maupun pemerintah dalam proses pengambilan keputusan, penetapan strategi, kebijakan, dan tindakan komunikasi khususnya berkenaan dengan komunikasi antaragama.

II. KERANGKA PEMIKIRAN Penelitian ini memfokuskan pada permasalahan komunikasi antaragama. Komunikasi antaragama ini dimaksudkan pada komunikasi antara kelompok agama yang berbeda. Penggunaan istilah “komunikasi antaragama” diambil dari Andrik Purwasito (2003:153) dan juga Alo Liliweri (2001:257). Dalam penelitian ini, penulis mengkaji penelitian komunikasi antaragama dalam perspektif komunikasi antarbudaya. Hal ini untuk mempermudah bahwa agama merupakan salah satu faktor pembeda dan ciri dalam kebudayaan. Sementara, peneliti sendiri beranggapan bahwa agama merupakan pememberi nyawa kepada kebudayaan, yang keberadaan keduanya sulit dipisahkan.

3

Perspektif yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan penelitian adalah dengan paradigma konstruktivis. Pendekatan yang digunakan oleh Berger ini berdekatan dan memiliki kesamaan dengan interaksionisme simbolik. Tesis utama dari Berger (1966) adalah manusia dan masyarakat adalah produk dialektis, dinamis dan plural secara terus menerus. Dengan kemampuan berpikir dialektis, dimana terdapat tesa, antitesa dan sintesa, Berger memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat, yang tentunya melalui komunikasi (Berger & Luckmann, 1990:87). Proses dialektis tersebut berlangsung dalam suatu proses tiga tahapan –Berger menyebutnya sebagai “momen”. Pertama, eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Kedua, objektivasi, yaitu hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Ketiga, internalisasi yaitu penyerapan kembali dunia objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektivitas individu dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Bagi Berger, realitas tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Oleh karena itu peneliti menggunakan paradigma konstruktivis. Dalam hal ini, ada dua karakteristik penting dari paradigma ini. Pertama, paradigma konstruktivis menekankan pada politik pemaknaan dan proses bagaimana seseorang membuat gambaran tentang realitas. Kedua, paradigma ini memandang kegiatan komunikasi sebagai proses yang dinamis. Selain itu pendekatan ini terutama memandang bahwa kehidupan sehari-hari adalah kehidupan melalui dan dengan bahasa. Bahasa tidak hanya mampu membangun simbol-simbol yang diabstraksikan dari pengalaman sehari-hari, melainkan juga “mengembalikan” simbol-simbol itu dan menghadirkan sebagai unsur yang objektif dalam kehidupan sehari-hari. Untuk membuat penelitian ini lebih komprehensif, penelitian ini menggunakan suatu persepektif atau kerangka konseptual yang dikenal dengan nama Interaksionisme Simbolik. Perspektif ini berusaha untuk memahami perilaku manusia dari sudut pandang subjek. Manusia bertindak hanya berdasarkan definisi atau penafsiran mereka atas objekobjek di sekeliling mereka. Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, objek, dan bahkan diri mereka sendirilah yang menentukan perilaku mereka.

4

Menurut pandangan Interaksi simbolik, seperti ditegaskan Herbert Blumer (1969) bahwa proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan aturan-aturan, bukan aturan-aturan yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok. Dalam konteks ini, makna dikonstruksikan dalam proses interaksi, dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan perannya, melainkan justru merupakan substansi dari organisasi sosial dan kekuatan sosial. Tegasnya, masyarakat adalah proses interaksi simbolik (Mulyana, 2001:70). Penggunaan simbol yang meliputi makna dan nilainya, tidak berlangsung dalam satuan-satuan kecil yang terisolasi, melainkan terkadang dalam satuan (setting) yang lebih besar dan kompleks. Perspektif interaksionisme simbolik secara singkat dapat dasarkan pada tiga premis dasar. Pertama, individu merespons suatu situasi simbolik. Mereka merespons lingkungan, termasuk objek fisik (benda) dan objek sosial (perilaku manusia) berdasarkan makna yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka. Individu dipandang aktif untuk menentukan lingkungan mereka sendiri. Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa. Ketiga, makna yang diinterpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial. Perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri (Mulyana, 2001:72). Sesuai dengan pemikiran di atas, model komunikasi dalam penelitian ini adalah model interaksional (Fisher, 1986:242). Beberapa konsep penting yang digunakan dalam model ini adalah diri (self), diri yang lain (others), simbol, makna, penafsiran, dan tindakan. Model komunikasi interaksional ini sebenarnya sangat sulit untuk digambarkan dalam suatu model diagramatik, karena sifatnya yang kualitatif, nonsistemik, dan nonlinier. Model verbal lebih sesuai digunakan untuk melukiskan model ini (Mulyana, 2001:159-161). Blumer (dalam Fisher, 1986:241) dalam hal ini mengemukakan tiga premis yang menjadi dasar model ini. Pertama, manusia bertindak berdasarkan makna-makna yang diberikan individu terhadap lingkungan sosialnya (simbol verbal, simbol nonverbal, lingkungan fisik). Kedua, makna didapatkan dan berhubungan langsung dengan interaksi sosial yang dilakukan individu dengan lingkungan sosialnya. Ketiga, makna diciptakan, dipertahankan, diubah dan dikembangkan lewat proses 5

penafsiran yang dilakukan individu dalam berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Oleh karena individu terus berubah, maka masyarakat pun ikut berubah melalui interaksi.

III. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan tradisi penelitian studi kasus. Creswell (1998: 61) menjelaskan bahwa studi kasus merupakan penelitian empiris yang menyelidiki dan menguraikan fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, ketika batasan antara fenomena dan konteks tidak terbukti secara jelas, dengan menggunakan berbagai sumber termasuk observasi, wawancara, materi audio-visual, dan dokumen atau laporan. Meskipun interaksionisme simbolik merupakan perspektif teoritis, namun ia bisa sekaligus menjadi orientasi metodologis. Mulyana (2001:148) mengatakan bahwa interaksionisme simbolik termasuk ke dalam salah satu dari sejumlah tradisi penelitian kualitatif yang berasumsi bahwa penelitian sistematik harus dilakukan dalam suatu lingkungan yang alamiah alih-alih lingkungan yang artifisial seperti eksperimen. Pedoman bagi keseluruhan metode dalam penelitian ini tergambarkan dari 14 karakteristik pendekatan kualitatif seperti yang dijelaskan oleh Lincon dan Guba (1985: 39-43). Dalam penelitian ini, data diperoleh dari para informan, dimana informan ini dipilih secara purposif. Informan dalam penelitian ini terdiri dari informan pangkal dan informan pokok (key informant) (Koentjaraningrat, 1991:130). Di antara informannya adalah beberapa aparatur pemerintah, seperti RW dan RT, Sekretaris Lurah Labuhbaru Timur serta beberapa masyarakat Islam dan Kristen itu sendiri. Oleh karena penelitian ini menggunakan metode kualitatif, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah dengan melakukan observasi atau pengamatan berperan serta (participant observation) sebagai teknik utama, wawancara mendalam (in-depth interview), dan penggunaan dokumentasi (documentation). Teknik pengumpulan data ini adalah peneliti sebagai instrumen. Peran peneliti sangat menentukan dalam setiap proses penjaringan data. Ciri-ciri umum manusia sebagai instrumen mencakup segi responsif, dapat menyesuaikan diri, menekankan keutuhan, mendasarkan diri atas pengetahuan, memproses data sesepatnya, dan memanfaatkan 6

kesempatan mencari respons yang tidak lazim atau idiosinkratik (Moleong, 2002: 121). Sumber data utama dalam penelitian kualitatif menurut Lofland dan Lofland (Meleong, 2000: 112) adalah kata-kata dan tindakan. Berkaitan dengan hal ini, jenis data dalam penelitian ini dibagi dalam simbol-simbol, kata-kata dan tindakan atau perilaku masyarakat. Sejalan dengan ini, analisis data dilakukan dengan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang temuan-temuan yang berdasarkan permasalahan yang diteliti. Pembahasan dilakukan dengan menggunakan metode komparatif atas hasil wawancara dengan informan, analisis dokumen (studi kepustakaan) serta sekaligus membandingkan dengan hasil observasi yang dilakukan. Untuk mempertinggi keabsahan data langkah selanjutnya adalah mengadakan analisis terhadap wawancara. Menurut Miles dan Huberman (1992:16) bahwa analisis kualitatif tetap menggunakan kata-kata, yang biasanya disusun kedalam teks yang diperluas.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pola Komunikasi Masyarakat Islam dan Kristen di Labuhbaru Timur Proses komunikasi sosial antara masyarakat Kristen dan Islam melibatkan proses-proses sosial yang beraneka ragam, yang menyusun unsur-unsur dinamis dari masyarakat, yaitu pikiran, diri, masyarakat, terkait di dalamnya persepsi, sikap, tindakan, proses tingkah laku dan struktur sosial yang ada. Proses komunikasi antaragama dapat terjadi di mana saja, di jalan, warung, dalam rapat, atau di rumah masing-masing komunikator dari masyarakat tersebut. Dalam penelitian ini, ada beberapa pola komunikasi antaragama yang sering muncul. a. Komunikasi Melalui Hubungan Kerjasama Kemunculan komunikasi antaragama dalam bentuk kerjasama antara masyarakat Islam dan Kristen sifatnya karena kesadaran masingmasing pemeluk agama. Kerjasama tidak terbatas kepada hal-hal yang menyangkut kehidupan di lingkungan masing-masing akan tetapi juga meluas di luar lingkungannya. Artinya, mereka ini (baik komunikator masyarakat Islam maupun Kristen) akan saling berkerjasama dalam setiap aktivitas yang menyangkut kepentingan bersama dan juga kepentingan golongannya. Sehubungan dengan ini, bapak Marlis 7

mengungkapkan” masyarakat sering melakukan kegiatan bersama seperti gotong-royong membersihkan selokan, membuat kegiatan perlombaanperlombaan untuk perayaan 17 Agustusan…” Perlakuan dan penghargaan dari masing-masing kelompok penganut agama di daerah ini menurut beberapa informasi menunjukkan adanya kemauan dan itikad untuk membaur dan menyatu melalui interaksi yang dilakukan. Namun ada beberapa pendapat dari kalangan komunikator agama Islam yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan hanya untuk mencari kebutuhan dan kepentingan sementara saja. Perilaku ini juga menunjukkan identitas atau jati diri mereka merupakan tindakan untuk berbuat baik sesama tetangga. Hal ini terlihat dari beberapa tindakan ataupun aktivitas yang dilakukan oleh para pemeluk agama Kristen terhadap beberapa masyarakat Islam cukup sopan dan baik. Mereka memberikan penghargaan atau perlakuan yang sama terhadap pemeluk agama Islam sebagaimana terhadap pemeluk agama Kristen. Tentu saja penghargaan atau perlakuan mereka terhadap beberapa masyarakat tertentu disesuaikan dengan tingkat dan jabatan mereka di suatu organisasi atau institusi (struktural maupun kultural). Dan yang harus diperhatikan adalah tingkat kerjasama yang sering terjadi dan yang dilakukan biasanya disesuaikan dengan kesamaan yang dimiliki, seperti status ekonomi (kaya, menengah, miskin), tingkat pendidikan, bahasa, kebudayaan dan beberapa aspek lain. b. Komunikasi Melalui Persaingan Bentuk persaingan dalam komunikasi kedua masyarakat Islam dan Kristen bisa terlihat dari rasa takut masyarakat Islam (begitu pula yang Kristen). Ini terkait erat dengan penafsiran mereka terhadap bertambah banyaknya simbol-simbol keagamaan yang dimiliki masyarakat Kristen, seperti pertambahan gereja, pemeluk/jemaat, dan lain-lain maupun sebaliknya. Persaingan di dalam kehidupan bermasyarakat itu akan selalu ada dan tidak dapat dipungkiri lagi kehadirannya. Tentu saja persaingan tadi disebabkan adanya perebutan suatu sumber daya, apakah itu menyangkut sumber daya manusia (wilayah mendapatkan pengaruh atau pemeluk agama), sumber daya alam (wilayah kekayaan materi), politik (kekuasaan), pendidikan (prestise dan penghargaan), atau ekonomi (kesejahteraan). Masalah persaingan ini sangat menonjol sekali terutama di daerah ini yang kebetulan memiliki masyarakat yang plural dalam agama dan multikultural dalam segi kebudayaan.

8

Persaingan dengan latarbelakang keagamaan di masyarakat sulit dipisahkan dengan persaingan antar etnis/kesukuan. Persaingan ini erat kaitannya dengan motif ekonomi, hal ini seiring dengan daya tarik Kota Pekanbaru itu sendiri. Kota Pekanbaru sendiri mengalami tingkat pertambahan penduduk pendatang yang cukup tinggi, khususnya yang berasal dari Provinsi Sumatra Utara dan Sumatra Barat serta dari daerah lainnya. Meskipun secara fisik tidak nampak, namun apabila diamati secara lebih mendalam, persaingan ini memang ada dan berjalan terus, dan kebanyakan tidak teramati secara jelas di permukaan. Komunikasi dalam bentuk persaingan dalam batas-batas tertentu juga memembentuk tingkah laku individu dan menciptakan masyarakat yang sehat. Sebagai bentuk persaingan yang sehat, dibutuhkan suatu usaha yang kreatif oleh masing-masing masyarakat Islam dan Kristen. Bersaing atau berlomba-lomba untuk kebaikan, bentuk persaingan yang konstruktif. Bila dikaji secara mendalam persaingan dapat mendorong dan merangsang individu dan kelompok agama ini untuk lebih maju. Sehingga dengan adanya persaingan antara Islam dan Kristen, masing-masing kelompok agama dapat secara konstruktif membangun peradaban yang damai di wilayah ini dengan ciri yang tersendiri sesuai lokalitas di mana masyarakat ini berada. Pola komunikasi persaingan ini memang didasarkan pada pengaruh agama itu sendiri terhadap masyarakat. Memang agama sepertinya mempunyai peranan dalam mengatur seseorang harus berkomunikasi dengan siapa, apa yang boleh dikomunikasikan, dan bagaimana ia harus berkomunikasi dan sikap atau perlaku lainnya. Sehingga keseluruhan perilaku memang selalu didasarkan pada penafsirannya terhadap simbol-simbol atau perintah agama yang dianutnya. Melalui komunikasi dengan persaingan ini masing-masing individu masyarakat kemudian menciptakan tipe kemasyarakatan dan kebudayaan yang ada di Labuhbaru Timur. c. Komunikasi Melalui Konflik Pola komunikasi melalui konflik yang terjadi di daerah Labuhbaru Kecamatan Payung Sekaki Kota Pekanbaru antara masyarakat Islam dan Kristen tidak nampak secara langsung. Konflik yang sering muncul adalah ketika masalah sosial seperti perkelahian antar remaja, konflik antar tetangga dan umumnya hanya tampak secara laten. Ada sedikit persamaan antara konflik dengan persaingan –seperti yang dijelaskan sebelumnya—terletak pada fokus dan cara mencapai tujuan. Dalam persaingan, fokus primer adalah tujuan dan interaksinya sesuai dengan aturan dan tatacara yang secara membudaya telah dirumuskan dan cenderung lebih bermanfaat bagi masing-masing kelompok agama. Dalam konflik, fokusnya adalah pada permusuhan, pemusnahan, dan 9

memperlemah daya atau kemampuan masyarakat dari agama yang lain, sehingga cara yang kurang bersih pun dapat digunakan untuk mencapai tujuan. Konflik dalam mencapai kemenangan, berfokus pada usaha mengurangi jumlah pemeluk agama yang lain, sedangkan persaingan fokusnya bukan pada pengurangan masyarakat agama lain, tetapi pada tujuan dan pencapaiannya untuk bisa berlomba-lomba secara konstruktif tanpa melemahkan agama lain. Komunikasi dengan latar perbedaan agama sering diwarnai oleh sikap benci, permusuhan dan bahkan mengarah kepada perilaku konflik nyata. Bentuk komunikasi antaragama, baik harmonis maupun konflik lebih sering ditimbulkan oleh faktor kepentingan sosial-politik, ekonomi, dan budaya, namun juga terkadang tidak terlepas dari faktor keagamaan. Untuk membina masyarakat yang pluralis-multikultural dan tanpa konflik dengan memelihara komunikasi yang harmonis antara komunitaskomunitas yang berbeda agama, sepertinya faktor keagamaan tidak bisa diabaikan.

d. Komunikasi Melalui Dominasi Agama Tertentu Penduduk Kota Pekanbaru umumnya dan khususnya daerah penelitian ini adalah pemeluk agama Islam. Ada indikasi komunikasi didominasi oleh satu agama tertentu. Cara beragama dan pola pikir masyarakat Islam memiliki dominasi dan sedikit banyak ada mempengaruhi cara berkomunikasi yang tercipta di masyarakat. Namun hanya ada pada wilayah-wilayah tertentu saja yang memang komunikasi yang tidak seimbang ini dapat ditemui. Kasus bagaimana anak dari masyarakat Kristen mengikuti irama adzan ketika ada suara adzan dari masjid adalah contoh yang sering dijumpai. Terkait dengan kasus di atas, konfirmasi seperti apa sebenarnya menurut beberapa informan kristen ditemukan bahwa memang terkadang bila terlalu keras, itu sedikit agak mengganggu. Namun di sisi yang lain Jalil, salah seorang informan dari Muslim, mengungkapkan bahwa “inilah adanya umat Islam, ini kan bagian dari si’ar Islam. Ya mereka juga harus mengerti kita. Tapi kalau kita mengganggu, saya tidak tahu itu, Karena mereka tidak ada mengeluhkan tentang hal itu.” Adanya interaksi yang dilakukan antara masyarakat Islam dan Kristen membentuk masyarakat yang saling menerima, umumnya yang diterima pola kehidupan ini berdasarkan pada dominasi orang Islam. Terkait dengan ini, karena semula tidak biasa dengan suara keras yang mungkin mengganggu, namun jadi terbiasa dengan pola kehidupan 10

dengan gangguan seperti ini. Oleh karena itu, komunikasi antar masyarakat ini membentuk beberapa aktivitas keseharian masyarakat di daerah ini. Bentuk komunikasi dengan dominasi oleh satu agama tertentu dalam kehidupan sosial juga nampak sekali dalam penggunaan bahasa sehari-hari atau bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi yaitu bahasa yang kebanyakan bercirikan keagamaan Islam. Hal ini pernah peneliti temui bahwa ada beberapa orang Kristen yang mengucapkan salam sebagaimana orang Islam. Ungkapan Informan di atas memang benar adanya, hal ini ada di temui beberapa ungkapan atau kata seperti “Assalamu’alaikum pak Haji”. Masyarakat penduduk Pekanbaru merupakan mayoritas beragama Islam, begitu juga di daerah Labuh Baru Timur di mana penelitian ini dilakukan. Ini kelihatan dari pergaulan sehari-hari baik dalam bentuk bahasa, kebiasaan, makanan, dan beberapa hal yang lain. Memang secara umum keberadaan suatu komunitas yang mayoritas akan sangat berperan dalam setiap interaksi pada masyarakat yang plural dan multikultural, terlebih lagi bila diiringi oleh tingkat kemampuan dan penguasaan masyarakat dari segi pendidikan, perekonomian, politik, budaya dan bidang lainnya. e. Komunikasi Melalui Peran Tokoh Agama Komunikasi antaragama pada masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur sebagian diperankan oleh beberapa tokoh dari masing-masing agama. Peran tokoh keagamaan di daerah ini dimainkan oleh beberapa tokoh atau yang ditokohkan oleh masyarakat. Tokoh keagamaan yang umum menentukan adalah yang memiliki pengaruh dengan indikasi keluasan ilmu agama; yang sering ditemui pada penceramah, penda’i, imam, pendeta, ustadz/guru, dan lain sebagainya. Masing-masing komunikator antaragama pada masyarakat baik Islam maupun Kristen memiliki tokoh keagamaan yang berbeda sesuai favorit dan sesuai kebutuhan yang mereka ingini. Namun umumnya mereka menganggap peran dari masing-masing tokoh agama dalam kehidupan masyarakat memang sangat penting sekali, setelah Kitab Suci masing-masing agama. Manao, seorang pendeta yang tinggal di kompleks Gereja Maranatha, menjelaskan bahwa “Saya pikir keberadaan tokohtokoh agama memang penting dalam membimbing masyarakat, mengarahkan ke jalan yang benar. Tetapi yang lebih penting adalah mempedomani al-Kitab itu sendiri” 11

Proses komunikasi antaragama yang diperankan oleh para tokoh keagamaan di masyarakat Islam dan Kristen bisa berbentuk nasehatnasehat, ceramah-ceramah, atau khotbah-khotbah yang mereka berikan kepada jemaahnya. Keberadaan tokoh keagamaan dalam komunikasi antara masyarakat Islam dan Kristen merupakan orang yang menjadi bagian pembentuk konsep diri seseorang. Orang yang dikagumi, disegani dan dijadikan antutan bagi masyarakat sering menjadi sarana untuk mengetahui secara luas tentang ajaran keagamaan bagi yang memiliki kedangkalan dalam ilmu agama. Kegiatan masyarakat yang berkenaan dengan ajaran, upacara kebaktian, pernikahan, pemakaman, dan ritual keagamaan lainnya, dibawa kepada dan diselesaikan oleh pemimpin agama yang bersangkutan. Begitu juga dengan perilaku agama dan sosial masingmasing pemeluk agama mereka dasarkan pada ajaran agama yang mereka peroleh dari tokoh-tokoh agama tersebut. Namun akhirnya, sikap dan perilaku masing-masing pemeluk ini, pada prinsipnya dikembalikan pada diri masyarakat sesuai dengan motivasi, psikologis, lingkungan dan dimana mereka berada. Berkaitan dengan ini, umumnya ditemukan bahwa masing-masing tokoh kedua agama ini masih mengajarkan/menunjukkan ajaran agama yang eksklusif kepada jemaahnya, jarang sekali peneliti menemukan bentuk perintah/ajaran agama yang menghormati pemeluk agama yang lain. f. Komunikasi Melalui Peran Pemerintah Masyarakat Kelurahan Labuhbaru Timur Pekanbaru adalah masyarakat yang majemuk dari segi agama maupun etnis dan budaya. Oleh karena itu, proses komunikasi antar pemeluk agama yang berbeda juga ditentukan oleh peran-peran pemerintah setempat. Keberadaan aparat pemerintah memang tidak bisa diabaikan dalam menciptakan keharmonisan dan jalannya komunikasi antar masyarakat yang berbeda agama di kelurahan ini. Berbagai peraturan pemerintah dalam mengatur kehidupan bermasyarakat menentukan jslsnnys proses kehidupan dalam beragama dan berkomunikasi dengan pemeluk agama yang berbeda. Urusan-urusan kemasyarakatan, dari pembuatan akte kelahiran, urusan pernikahan, izin mendirikan bangunan, hingga pemilihan-pemilihan pemimpin masyarakat tentu berurusan dengan pemerintah setempat. Terkait dengan ini peran aparat pemerintahan dalam komunikasi antaragama di masyarakat memang menentukan dan tidak bisa diabaikan. Ini menujukkan bahwa memang setiap struktur kekuasaan 12

terdapat orang-orang dan kelompok yang berperan sebagai pengarah, perangsang, pendukung, atau pembentuk fungsi-fungsi lainnya yang mempengaruhi anggota masyarakat untuk bertindak, melalui kebijakankebijakan yang dikeluarkan. Fungsi atau peranan seperti itu diperankan oleh beberapa pemimpin kemasyarakatan, pemegang kekuasaan, elit kekuasaan yang ada, hal ini bisa dilihat dari kepemimpinan yang ada yaitu dari tingkat yang paling rendah RT, RW, Lurah Labuhbaru Timur, Camat Payung Sekaki, Walikota Pekanbaru, Gubernur Riau, hingga tingkat kekuasan yang dikendalikan oleh pusat pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden.

4.2Tipologi Komunikator Antaragama Masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur Terkait dengan penjelasan sebelumnya, ada tiga tipologi komunikator antaragama di masyarakat Islam dengan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur. Pengkategorian komunikator dari masyarakat Islam maupun Kristen ini berdasarkan pada keterbukaan hati (sikap) mereka dalam berkomunikasi dengan masyarakat agama yang lain. Posisi komunikator antar pemeluk agama Islam dan Kristen dapat dikategorikan dalam bentuk komunikator eksklusif, toleran dan pluralis. Sekilas dapat dipahami dari gambar berikut ini:

13

14

Gambar 1 : Tipologi komunikator masyarakat Islam dan Kristen yang ada di Kelurahan Labuhbaru Timur Pekanbaru Sumber : Diolah dari Lapangan Tipologi komunikator antaragama, dari gambar di atas, dapat menjelaskan bahwa semakin ke kiri posisi komunikator antaragama masyarakat di Kelurahan Labuhbaru Timur Pekanbaru akan semakin tertutup, sehingga cenderung bersikap dan berperilaku negatif. Sebaliknya semakin ke kanan posisi komunikator akan semakin terbuka sikap dan perilakunya dan cenderung menghasilkan pola konstruktif. Di posisi tengah masyarakat cenderung mencari posisi aman dan umum dipakai. a. Komunikator Eksklusifis Komunikator antaragama dengan pola eksklusif didasarkan pada sikap atau perilaku yang umum ditemukan pada masyarakat di Kelurahan Labuhbaru Timur. Tipe ini didasarkan pada beberapa informan yang berjumlah sekitar lima orang dari total keseluruhan informan yang ada (21 informan). Tipe komunikator ini umumnya didasarkan pada sikap beberapa komunikator masyarakat Islam di Labuhbaru Timur yang cenderung menghindar dan bahkan menutup diri terhadap pergaulan dengan orang yang berbeda agama (Kristen), sepertinya sikap ini juga bisa ditemukan pada masyarakat Kristen, ini terkait dengan “orang Islam membatasi kebebasan orang Kristen untuk hal-hal tertentu”. Sikap dari masing-masing komunikator antaragama umumnya dicirikan dengan sikap keras terhadap orang yang berbeda agama, sebagian dari masyarakat Islam umpamanya, yang digolongkan kepada pola ini umumnya mengatakan agama membatasi pergaulan terhadap orang Kristen. Sebagian besar juga mengatakan bahwa ajaran agama mereka, Kristen, sudah disimpangkan dari yang sebenarnya dan Islam bukan agama yang benar. Dan sikap masyarakat ini secara umum diikuti dengan rasa ketakutan, sikap paling benar, dan perilaku yang didasarkan pada penafsiran tindakan orang-orang Kristen/Islam yang seolah-olah berusaha untuk mempengaruhi mereka. b. Komunikator Toleran Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, pertemuan antar pemeluk agama Islam dan Kristen memang tidak bisa dihindarkan lagi. Proses pertemuan biasa dilalui dengan tegur-sapa, saling melempar senyum, dan proses interaksi dalam kehidupan bertetangga atau bermasyarakat lainnya. Dalam pertemuan atau komunikasi yang dilakukan antar pemeluk agama ini agama tidak menjadi topik perbincangan antar mereka. Umumnya yang menjadi topik pembicaraan adalah tentang sosial kemasyarakatan. Dan inilah yang menjadi dasar bagi mayoritas informan yang berjumlah sekitar 12 dari total keseluruhan informan. Sehingga 15

mereka (komunikator itu) dapat diposisikan pada pola toleran ini, karena mereka mentoleransi pada hal-hal tertentu saja yaitu sosial kemasyarakatan, namun tidak untuk wilayah keagamaan. Komunikator antaragama yang toleran ini umumnya diangkat dari sikap komunikator baik dari masyarakat Islam maupun yang Kristen yang membedakan antara wilayah keagamaan dan masalah kemasyarakatan. Memang agama merupakan bagian dari kehidupan yang tidak terlepas dari masyarakat, akan tetapi mereka cenderung memisahkan diri mereka dengan orang yang beragama lain atas dasar agama pada batas-batas tertentu. Selain itu, pola ini umumnya berdasarkan pada sikap atau perilaku komunikator baik Islam mapupun Kristen yang menganggap agama terkadang bukan berarti menjadi penghalang bagi persahabatan dan kerjasama antara mereka. Masing-masing umat beragama biasanya menganggap bahwa urusan agama merupakan urusan pribadi dan Tuhan. Orang lain tidak berhak untuk ikut campur. c. Komunikator Pluralis Penggolongkan komunikator pluralis berdasarkan sikap dan perilaku dari beberapa informan yang berjumlah sekitar empat orang. Jumlah informan pada pola pluralis ini berjumlah paling sedikit dari total keseluruhan informan yang ada. Sebagian dari informan yang digolongkan pada pola ini merupakan peserta komunikasi antaragama di Labuhbaru Timur yang secara umum dapat menerima perbedaan agama yang ada. Selain itu, mereka memang mampu berkerjasama, selalu berusaha memahami perbedaan yang ada, dan juga memahami simbol-simbol agama orang lain, atau jika mereka tidak mengetahui mereka akan selalu langsung menanyakan kepada yang bersangkutan. Peserta komunikasi antaragama atau informan pada pola pluralis umumnya menganggap bahwa memang sudah kenyataan bagi masingmasing individu masyarakat untuk hidup dengan saling tergantung antara satu dengan lain di dunia ini. Sehingga kedua kelompok masyarakat ini saling memperhitungkan satu sama lain, sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan. Jadi tidak ada bentuk saling curiga-mencurigai antar sesama masyarakat yang berbeda agama. Tetapi kalau bisa di antara masyarakat yang berbeda ini dapat saling berbuat baik dan mendoakan. Sikap saling mendo’akan agar masyarakat dapat menyadari perbedaan, merupakan salah satu ciri pola pluralis ini. Hal ini terkait agar di antara masyarakat ini tidak terjadi saling mencurigai. Kedua komunitas atau komunikator ini saling siap untuk bergerak dari suatu hubungan yang cendrung berkonflik menuju pola komunikasi yang didasarkan pada niat baik dan saling percaya serta untuk saling memahami dalam kenyataan yang lebih konkrit. Hanya dalam tingkat inilah—tingkat interaktif dan praktis—Kristen dan Islam menjadi apa yang didambakan oleh kedua komunitas ini. Walaupun kenyataan yang ditemukan belum begitu banyak tampak di masyarakat kedua pemeluk agama ini. Tingkat kecurigaan dan streotip dari para peserta komunikasi pada pola ini sudah bisa diminimalisir oleh kemampuan mereka untuk berpikir 16

rasional dan baik terhadap permasalahan hubungan antarmasyarakat yang berbeda agama. Tegasnya mereka dapat membedakan sikap kecurigaan yang berlebihan dengan sikap kewaspadaan sebagai sikap yang manusiawi. Di samping itu, mereka memang selalu bertindak dengan mendasarkan pada penafsirannya pada nilai-nilai universalisme, nilai kemanusiaan, yang tidak membedakan siapa pun dan dari agama apapun.

Tabel 1 Tipologi Komunikator Antaragama Masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur Kota Pekanbaru Tipe Komunikator Komunikator Eksklusifis Karakteristik komunikator Antaragama  Menghindari yang lain, tertutup  Pasif dalam berkomunikasi  Dogmatis  Orientasi masa lalu (sejarah)  Tidak ada kebersamaan  Kurang mementingkan hubungan  Menghindari pada halhal tertentu (agama)  Semi aktif dalam berkomunikasi  Moderat  Orientasi sekarang  Kebersamaan sosial tepisah dengan agama  Mementingkan hubungan tugas sosial Pandangan terhadap diri  Diri terpisah dari yang lain  Di jalan benar (dirinya paling benar)  Tidak berubah (stagnan)  Diri memiliki hubungan dengan yang lain hanya pada hubungan sosial  Diri berproses secara situasional Pandangan terhadap yang lain  Tidak mengakui yang lain  Yang lain salah (sesat, masuk neraka, dll)  Yang lain berbeda (di luar dirinya)

Komunikator Toleran

 Antara mengakui dan tidak (dalam sosial saja tidak untuk agama)  Menghormati yang lain sesuai batasbatas tertentu

17

Komunikator Pluralis

 Terbuka pada yang lain, memahami yang lain  Aktif berkomunikasi  Interpretif/Liberal  Orientasi masa lalu, sekarang dan masa depan  Memiliki kebersamaan  Mementingkan hubungan nilai kemanusiaan universal

 Diri bagian dari yang lain  Diri mencari kebenaran apa yang tidak diketahui (berproses aktif)

 Mengakui dengan berkoeksisten si  Yang lain sama sepertinya

V. PENUTUP Temuan-temuan penelitian ini menunjukkan bahwa pola komunikasi antara masyarakat Islam dan Kristen di Labuhbaru Timur diwarnai oleh berbagai bentuk pandangan, sikap dan perilaku komunikasi sesuai karakteristik yang ada pada masyarakat tersebut. Melalui proses mempersepsi, sikap dan tindakan-tindakan kedua kelompok masyarakat ini memunculkan dan menciptakan adanya pola komunikasi masyarakat tersebut sesuai ciri-ciri yang ada. Pola-pola komunikasi tersebut dapat ditemukan dalam bentuk komunikasi melalui kerjasama, konflik, persaingan, dominasi agama tertentu, peran tokoh agama, dan peran aparat pemerintahan. Terkait dengan itu semua, penelitian ini juga menemukan tiga tipe komunikator antaragama yang ada pada masyarakat Islam dan Kristen di Kelurahan Labuhbaru Timur dengan bentuk konstruksi tipologi komunikator eksklusifis, toleran dan pluralis. Sehingga proposisi penelitian ini menunjukkan bahwa komunikasi antara pemeluk agama Kristen dan Islam di Kelurahan Labuhbaru Timur Pekanbaru dapat ke arah membaik dan dapat pula memburuk. Hal ini sangat terkait erat dengan orientasi masa depan dan kemampuan masingmasing komunikator untuk menciptakan sebuah komunikasi yang baik antar pemeluk agama Islam dan Kristen. Semakin mengarah kepada pola pluralis dangan sikap moderat dan progresif, semakin kecil kemungkinan masyarakat ini mengarah kepada hubungan yang memburuk. Sebaliknya, semakin eksklusif, tertutup dan berorientasi kepada masa lalu masyarakat, semakin besar kemungkinan masyarakat mengarah kepada komunikasi yang diwarnai konflik-konflik laten maupun terbuka. 18

Saran penelitian ini adalah masyarakat Islam dan Kriosten di Kelurahan Labuhbaru Timur dan umumnya di Kota Pekanbaru sudah selayaknya menyadari peran mereka masing-masing untuk dapat menciptakan suatu kehidupan bermasyarakat yang saling berkomunikasi tanpa adanya rasa curiga, cemooh, kesalahpahaman dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh agama baik dari kalangan masyarakat Islam dan Kristen sudah selayaknya dapat memerankan kepemimpinan mereka untuk membangun akan kesedaran mental dan spiritual masing-masing jemaahnya. Ketokohan yang dimiliki bukan untuk memotivasi masyarakat awam untuk membenci agama orang lain. Kegiatan komunikasi, dialog dan pembicaraan tentang pemecahan masalah kemasyarakatan sudah selayaknya dilakukan lebih intesif oleh masing-masing pemimpin agama ini. Pemerintah sudah semestinya menggunakan wewenang yang dimiliki bukan untuk membangun masyarakat yang mayoritas saja, melainkan bagi seluruh kelompok agama, etnis dan suku yang lain. Kebijakan-kebihjakan yang dikeluarkan oleh legislatif dan yang dilaksanakan oleh ekskutif sudah selayaknya dapat mengayomi dan tidak mendiskriminasikan kelompok agama manapun, yang bisa membuat kecemburuan bagi kelomok agama yang lain. Akhirnya, secara metodologis penelitian ini hendaknya bisa ditindaklanjuti dengan berbagai pendekatan lainnya, sehingga dapat mengembangkan penemuan penelitian yang sudah ada seperti dengan pendekatan kuantitatif melalui pengujian pola komunikasi atau pun tipologi komunikator yang ditemukan.

DAFTAR PUSTAKA Berger, Peter L., & Luckmann, Thomas, 1990, Tafsir Sosial atas Kenyataan; Risalah tentang Sosiologi Pengetahuan, LP3ES, Jakarta. Cresswell, Jhon W., 1998, Qualitative Inquiry and Research Design; Choosing Among Five Tradition, Sage Publication, California. Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-Teori Komunikasi, Penerj. Soejono Trimo, Remaja Rosdakarya, Bandung.

19

Liliweri, Alo, 2003, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, LkiS, Yogyakarta. Liliweri, Alo, 2003, Dasar-Dasar Komunikasi Antarbudaya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Lincoln, Yovonna S., and Guba Egon G., 1985, Naturalistic Inquiry, Sage Publication, London. Littlejohn, Stephen W., 1999, Theories of Human Communication, 6th Edition, Wadsworth Publishing Company, Belmont, USA. Moleong, Lexy J., 2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya, Bandung. Miles, Mathew B., & Huberman, A Micheal, 1992, Analisis Data Kualitatif; Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru, Penerj. Tjetjep Rohendi Rohidi, UI Press, Jakarta. Mulyana, Deddy, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif; Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Remaja Rosdakarya, Bandung. Mulyana, Deddy & Rakhmat, Jalaluddin, 2001, Komunikasi Antarbudaya; Panduan Berkomunikasi dengan Orang-orang Berbeda Budaya, Remaja Rosdakarya, Bandung. Yin, Robert K., 1981, Case Study Research: Design and Methods, Sage Publication, London.

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->