P. 1
Skripsi Ilmu Politik : Multikulturaisme Dan Demokrasi Di Amerika

Skripsi Ilmu Politik : Multikulturaisme Dan Demokrasi Di Amerika

5.0

|Views: 5,796|Likes:
Published by menjadi indonesia

More info:

Published by: menjadi indonesia on Jul 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/07/2013

pdf

text

original

MULTIKULTURALISME DAN DEMOKRASI DI AMERIKA: KANDIDASI ANTARA HILARY R.

CLINTON DAN BARACK OBAMA DALAM DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION TAHUN 2008

SKRIPSI

Disusun oleh : DIMAS SAPUTRA ADITAMA F1D004019

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU POLITIK PURWOKERTO 2009

MULTIKULTURALISME DAN DEMOKRASI DI AMERIKA: KANDIDASI ANTARA HILARY R. CLINTON DAN BARACK OBAMA DALAM DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION TAHUN 2008

SKRIPSI

Disusun oleh : DIMAS SAPUTRA ADITAMA F1D004019

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Meraih Gelar Sarjana Strata Satu Pada Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK JURUSAN ILMU POLITIK PURWOKERTO 2009

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

MULTIKULTURALISME DAN DEMOKRASI DI AMERIKA : KANDIDASI ANTARA HILLARY R. CLINTON DAN BARACK OBAMA DALAM DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION TAHUN 2008

Oleh: DIMAS SAPUTRA ADITAMA F1D004019

Diajukan dan disahkan pada tanggal 22 Mei 2009

Pembimbing: 1. Drs. M. Soebiantoro, M.Si NIP. 131771423 : ……………………………

2. Triana Ahdiati, M.Si NIP. 132314906

: ……………………………

3. Drs. Solahuddin K, M.Si. NIP. 131809261

: ……………………………

Mengetahui, Dekan FISIP UNSOED

Drs. Muslihudin, M.Si NIP. 131809059

Halaman Pernyataan

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan tinggi manapun. Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya yang ditulis dan diterbitkan orang lain, kecuali yang tertulis dalam skripsi ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Saya siap bertanggung jawab atas isi yang ada dalam skripsi ini. Purwokerto, 22 Mei 2009 Yang membuat pernyataan,

Dimas Saputra Aditama F1D004019

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala kuasaNya yang telah memberikan kekuatan bagi saya sehingga dapat menyelesaikan karya kecil ini yang sudah tertunda beberapa waktu. Sebab, tanpa ijin-Nya saya tidak mungkin bisa menyelesaikan karya kecil ini. Juga kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai manusia panutan yang telah menjadi inspirasi bagi saya untuk terus survive dalam dunia yang semakin gamang ini. Berawal dari fenomena menarik mengenai pencalonan Hilllary R. Clinton dan Barrack Obama dalam Democratic Primary Election 2008 serta ketertarikan saya terhadap nilai budaya Amerika, kemudian saya mengangkat fenomena tersebut menjadi sebuah penelitian dalam tugas akhir saya. Tugas akhir yang merupakan syarat mengambil gelar sarjana Strata Satu ini berjudul

“Multikulturalisme dan Demokrasi di Amerika: Kandidasi Antara Hillary R. Clinton dan Barack Obama dalam Democratic Primary Election 2008. Penelitian yang mengkaji mengenai multikulturalisme dan demokrasi di Amerika ini saya harap bisa menjadi sebuah referensi bagi masyarakat Indonesia dalam memandang keberagaman serta memandang kontestasi politik sebagai sebuah proses yang bukan sekedar ajang bermain-main karena output dari sebuah kontestasi politik merupakan amanah dari seluruh rakyat sebagai basis legitimasi dalam negara demokasi.

Dalam proses pembuatan karya kecil ini banyak pihak yang telah membantu saya. Untuk itulah, pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Drs. Muslihudin M.si selaku dekan FISIP Unsoed 2. Drs. Waluyo Handoko M.si selaku ketua jurusan Ilmu Politik 3. Drs. M. Soebiantoro M.Si selaku pembimbing I 4. Triana Ahdiati M.Si selaku pembimbing II 5. Drs. Solahudin Kusumanegara M.Si selaku dosen penguji. 6. Segenap dosen dan staf jurusan Ilmu Politik 7. Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Andaikata ada kata yang lebih indah dari terima kasih, pasti saya ucapkan. Terutama bagi pembimbing yang selalu berkenan meluangkan waktu untuk memberikan masukan dan semangat kepada saya selama proses penulisan karya kecil ini. Serta kepada ruang-ruang kecil lain yang telah memberikan saya

pembelajaran dan pengetahuan melebihi ruang-ruang kuliah. Saya akui, masih banyak kekurangan dan kelemahan atas penulisan karya ini. Untuk itu saya memohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan baik dalam penulisan kata, kalimat maupun isi dalam karya ini. Namun demikian saya berharap, karya kecil ini bisa menjadi rangsangan sekaligus batu loncatan bagi lahirnya karya-karya lain yang lebih sempurna. Purwokerto, April 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN COVER...................................................................................... HALAMAN JUDUL .................................................................................... HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... HALAMAN PERNYATAAN ........................................................................ HALAMAN MOTTO .................................................................................... HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... HALAMAN UCAPAN TERIMA KASIH .................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................ DAFTAR GAMBAR ................................................................................... DAFTAR SINGKATAN ............................................................................... RINGKASAN ................................................................................................ SUMMARY ................................................................................................... I. PENDAHULUAN ..................................................................................... 1.1. Latar Belakang .................................................................................... 1.2. Rumusan Masalah .............................................................................. 1.3. Pembatasan Masalah .......................................................................... 1.4. Tujuan Penelitian ................................................................................. 1.5. Manfaat Penelitian .............................................................................. II. TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 2.1. Multikulturalisme ............................................................................ 2.2. Kebudayaan dan Masyarakat Amerika .............................................. 2.3. Demokrasi Amerika .......................................................................... 2.4. Pemilihan Umum Di Amerika ........................................................... III. METODE PENELITIAN ........................................................................ 3.1. Metode Penelitian ............................................................................. 3.2. Pendekatan Penelitian ...................................................................... 3.3. Fokus Penelitian ............................................................................... 3.4. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 3.5. Metode Analisis ............................................................................... 3.6. Keabsahan Data ............................................................................... 3.7. Rencana Penulisan Bab .................................................................... IV. DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION DI AMERIKA TAHUN 2008 ... 4.1. Democratic Primary Election ........................................................... 4.2. Isu-isu strategis dalam Democratic Primary Election 2008 ............. 4.3. Kemunculan dua kandidat yang Berbeda ...........................................

i ii iii iv v vi vii viii x xii xiii xiv xv xvi 1 1 10 11 11 11 13 13 18 23 27 47 47 47 48 49 49 50 50 55 55 58 62

V. KANDIDAT PESERTA DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION DAN MASYARAKAT AMERIKA ................................................................... 5.1. Latar Belakang Kandidat Peserta Democratic Primary Election tahun 2008 ........................................................................................ 5.1.1. Hillary Rodham Clinton dan Perempuan di Amerika .............. 5.1.2. Barack Husein Obama dan Kaum Amerika-Afrika ................. 5.2. Demokrasi dan Masyarakat di Amerika ........................................... 5.3. Multikulturalisme dan Nilai-Nilai Budaya Amerika dalam Proses Pemilihan Umum .............................................................................. VI. KANDIDASI ANTARA HILARY R. CLINTON DAN BARACK OBAMA DALAM DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION 2008 .......... 6.1. Perjalanan Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election 2008: Dari IOWA Sampai ke Denver ............................................ 6.2. Solutions for America dan Change We Can Believe in .................... 6.3. Signifikansi dari Perbedaan Ras, Gender, dan Usia Kandidat Terhadap Konstituen Partai Demokrat ............................................ 6.4. Pragmatisme Amerika: Penentu Kemenangan Obama ...................... VII. PENUTUP ............................................................................................ 7.1. Kesimpulan ................................................................................... 7.2. Implikasi ........................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

79 79 79 87 97 103

108 109 124 128 140 146 146 147 148

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Perolehan Delegates Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election 2008 .................................................... 122

DAFTAR GAMBAR

GAMBAR 1.

Tingkatan Antara Negara, Masyarakat dan Individu di Amerika …………………………………........................... 140

DAFTAR SINGKATAN
AS DCP FB HAM NAACP RnB WASP WTC : : : : : : : : Amerika Serikat Developing Communities Project Facebook.com Hak Asasi Manusia The National Association for The Advancement Colored People Rap and Blues White Anglo-Saxon Protestant World Trade Center

RINGKASAN
Penelitian ini membahas tentang multikulturalisme dan demokrasi di Amerika dalam Democratic Primary Election tahun 2008, yang mempertemukan Hillary R. Clinton dan Barack Obama sebagai kandidat terkuat. Pembatasan masalah dalam penelitian ini adalah kandidasi yang terjadi antara Hillary R. Clinton dan Barack Obama dalam Democratic Primary Election tahun 2008. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutik melalui kajian pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapat pemahaman mengenai kandidasi antara Hillary R. Clinton dan Barack Obama serta penjelasan mengenai kemenangan Obama dalam Democratic Primary Election tahun 2008. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terdapat berbagai macam pertentangan nilai-nilai budaya Amerika yang merepresentasikan budaya politik Amerika dalam kandidasi antara Hillary dan Obama. Kandidasi antara Hillary dan Obama tidak hanya terjadi dalam proses Democratic Primary Election tahun 2008, tetapi juga terlihat dalam respon konstituen Partai Demokrat dalam memandang pertentangan antara Hillary dan Obama. Kemenangan Obama adalah hasil pilihan rasional dari konstituen Partai Demokrat yang mencerminkankan pragmatisme Amerika dalam mengatasi permasalahan. Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini adalah adanya pergeseran pola pikir dari masyarakat Amerika khususnya konstituen Partai Demokrat dalam memandang rasisme dan diskriminasi gender di Amerika. Ini tercermin dari kandidasi antara Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election tahun 2008 yang kemudian dimenangkan oleh Obama. Pergeseran pola pikir ini disebabkan oleh permasalahan negara yang harus diselesaikan, dimana perubahan dibutuhkan sebagai solusinya. Inilah mengapa Obama yang mengampanyekan perubahan dianggap dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Kata kunci: multikulturalisme, demokrasi, Democratic Primary Election, kandidasi, perubahan, pragmatisme

SUMMARY

This research discusses the American multiculturalism and democracy in the 2008 Democratic Primary Election confronting Hillary R. Clinton and Barack Obama as the strongest candidates. This research is limited on the candidacy between Hillary R. Clinton and Barack Obama in the 2008 Democratic Primary Election. This research uses a qualitative approach as its method and literature study through hermeneutic analysis. The aims of this research are to get an understanding and a description about the candidacy between Hillary R. Clinton and Barack Obama, as well as the explanation of the Obama’s victory in the 2008 Democratic Primary Election. The result of this research reveals the various contradictions of the American cultural values representing the American political culture in the 2008 Democratic Primary election. The candidacy between Hillary and Obama did not only happen in the 2008 Democratic Primary election, but also contrasted the response of the Democrat constituents. The Obama’s victory constituted the result of rational choice from the Democrat constituents reflecting the American pragmatism in solving the state problems. The conclusion of this research shows the transformation of the Americans’ paradigm, especially the Democrat constituents, in regarding the racism and gender discrimination in the United States of America. This is reflected from the candidacy between Hillary and Obama in the 2008 Democratic Primary Election. The transformation of the Americans’ paradigm is caused by having the state problems in which a change is needed as the solution. This is why Obama has won the 2008 Democratic Primary Election on account of offering a change that has been assumed as being able to solve the state problems. Keywords: multiculturalism, democracy, candidacy, change, pragmatism. Democratic Primary Election,

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam negara demokrasi seperti Amerika Serikat kehendak rakyat merupakan nilai paling dasar yang menjadi prioritas utama dalam

penyelenggaraan pemerintahan.

Untuk itulah, lahirnya pemerintahan dalam

sebuah negara demokrasi idealnya adalah berdasarkan keinginan populer. Adanya doktrin vox populi vox dei1 merupakan salah satu instrumen penjelas bahwa kehendak rakyat merupakan hal yang harus diutamakan. Dalam sebuah

pemerintahan, adanya demokrasi salah satunya adalah untuk menghindari kekuasaan otoriter (authoritarian rule) yang tidak mempunyai akuntabilitas terhadap rakyat yang dipimpinnya. (Al Arief, 2001:38) Sejarah lahirnya demokrasi di Amerika yang disebut sebagai demokrasi liberal (Mallarangeng, 2006) memang tak pernah lepas dari nilai suatu ajaran agama yang dibawa oleh kelompok-kelompok kecil yang hijrah dari Inggris ke Amerika. Kelompok-kelompok kecil itu adalah: pertama, kaum puritan yang terdiri dari 16 orang laki-laki kulit putih, yang mendarat di Massachussetts pada 15 November 1620 dan mempunyai tujuan untuk memurnikan agama Kristen (Anglican Church) yang sudah terpengaruh oleh ajaran Kristen Roma. Kedua, adalah kelompok kecil yang dikenal dengan sebutan pilgrims dan hijrah dari Inggris ke Amerika dengan menaiki kapal Mayflower pada akhir tahun 1620 di sebuah daerah yang kemudian dikenal dengan sebutan New England. Di atas
1

Salah satu doktrin tentang demokrasi yang berarti suara rakyat adalah suara Tuhan. Dikutip dari Usman, 2008. Tocqueville, Agama, dan Demokrasi, www.korantempo.com.

kapal Mayflower inilah 41 orang laki – laki berkumpul dikabin dan membuat suatu kesepakatan mengenai harus adanya keadilan dan kesetaraan hukum serta kekuasaan politik yang berdasarkan kehendak bersama di tempat mereka berpijak kelak. Kesepakatan yang dikenal sebagai Mayflower Compact inilah yang

menjadi cikal bakal dari lahirnya demokrasi di Amerika. Tujuan dari kelompok kedua (pilgrims) ini berbeda dengan kelompok puritan yang mendarat pada 15 November 1620. Kelompok kedua (pilgrims) adalah untuk memulai hidup baru di sebuah tanah yang mereka anggap seperti rumah sendiri serta beribadah sesuai dengan kepercayaannya tanpa ada paksaan dari pemerintah Inggris (Winthrop et.all.,1992). Meskipun kaum puritan dan kaum pilgrims mempunyai tujuan yang berbeda saat mendarat di Amerika, tetapi mereka membawa nilai dari ajaran agama yang sama. Nilai dari ajaran agama yang mereka bawa adalah nilai dari ajaran puritan atau puritanisme. Puritanisme2 bukanlah semata-mata doktrin

keagamaan, tapi dalam banyak hal puritanisme terkait erat dengan teori-teori demokrasi dan republik. (Assyaukanie, 2008) Nilai-nilai puritanisme kemudian terepresentasi dalam kehidupan rakyat Amerika sampai dengan sekarang. Adanya semangat individualisme,

kemandirian serta kerja keras menjadi salah satu faktor yang membuat Amerika menjadi bangsa yang besar dengan sistem demokrasi yang kokoh. Sistem

2

Puritanisme adalah sikap dan keinginan untuk selalu menghadirkan dan mempraktikkan nilainilai dan ajaran-ajaran agama ke dalam kehidupan sehari-hari. Tocqueville berpendapat bahwa demokrasi Amerika yang tumbuh pada awal abad ke-17 disemai oleh gerakan-gerakan puritanisme Protestan yang datang dari Eropa, khususnya Inggris. Dikutip dari Assyaukanie, Luthfi. Demokrasi dan Puritanisme. www.assyaukanie.com.

demokrasi yang menjamin persamaan bagi seluruh rakyat Amerika. Contohnya adalah persamaan di bidang ekonomi dan persamaan hak di bidang politik. Dalam bidang pemerintahan, demokrasi Amerika memberikan ruang bagi rakyat untuk mengawasi, mengontrol, dan mengevaluasi kinerja pemerintah. Ruang bagi rakyat untuk mengawasi, mengontrol, dan mengevaluasi dapat secara periodik dilakukan melalui mekanisme pemilihan umum. Salah satu titik yang menjadi ruang evaluasi pemerintahan adalah ketika kegagalan yang dialami oleh pemerintahan sebelumnya akan menjadi peluang bagi lawan yang menjadi pesaing untuk memerintah dengan legitimasi yang diperoleh dari rakyat lewat pemilihan umum. Untuk itulah dalam konsep demokrasi, pemilihan umum merupakan salah satu faktor untuk menghidupkan iklim demokrasi kehendak rakyat mayoritas menjadi hal yang lebih signifikan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah ketimbang kehendak rakyat minoritas. Untuk itulah dalam konsep demokrasi, pemerintah akan berusaha keras untuk selalu mendapat dukungan dari konstituennya. Pemerintahan Amerika Serikat telah menjadwalkan pelaksanaan pemilihan umum presiden pada tanggal 4 November 2008 dan pemenangnya akan dilantik pada tanggal 20 Januari 2009. Pada peristiwa inilah akan ditentukan siapa

presiden Amerika Serikat ke-44 yang menggantikan presiden sebelumnya, yaitu George W. Bush yang berasal dari Partai Republik. Sistem pemilihan umum Amerika Serikat-atau yang disebut dengan electoral college-merupakan sistem pemilihan dua tahap (two-step election). Dianutnya sistem electoral college

adalah untuk mengatasi ketimpangan antara negara bagian yang padat

penduduknya dengan yang kurang penduduknya.

Dalam sistem ini, yang

diperebutkan oleh calon presiden dan wakil presiden bukanlah rakyat sebagai konstituen, akan tetapi para pemilih (electors) yang duduk dalam electoral college yang notabene telah diberi mandat suara oleh rakyat. Anggota electoral college sendiri berjumlah sebanding dengan jumlah anggota senat dan anggota house of representative. Jadi kemenangan yang diperoleh oleh calon presiden dan

wakilnya bukan berasal dari popular vote, akan tetapi kemenangan yang diperoleh dari electoral college. Hal ini disebabkan oleh aturan dalam tingkat negara

bagian, yaitu winner take it all atau pemenang memperoleh segalanya. Sebelum sampai pada tahap pemilihan presiden, ada sebuah mekanisme tiap partai yang ada akan melaksanakan proses penjaringan dan kemudian menetapkan siapa calon presiden dari partai tersebut. Penetapan calon presiden dan wakilnya akan

ditentukan lewat konvensi partai. Namun sebelum itu, setiap bakal calon harus melewati tahap primary election, tiap bakal calon akan memperebutkan super delegates yang notabene sebagai modal memenangkan konvensi nasional partai. Salah satu kelebihan dari mental pemilih Amerika Serikat adalah karekteristiknya yang berisifat rasional, kompetensi dan kapabilitas dari calon maupun bakal calon peserta pemilihan umum lebih diperhatikan ketimbang asal partainya. Indikasinya adalah adanya kader suatu partai menyeberang untuk

memilih calon dari partai lain karena calon tersebut dianggap dapat merepresentasikan kepentingannya. Misalnya, Oprah Winfrey seorang selebritis Holywood yang mendukung bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat padahal ia sendiri seorang Republikan (www.tempointraktif.com).

Partai Republik merupakan partai yang konservatif dimana tingkat religiusitas anggota atau konstituennya sangat tinggi, salah satunya adalah keturunan kulit hitam termasuk Oprah Winfrey. Adanya fenomena menyeberangnya konstituen suatu partai untuk memilih kandidat dari partai lainnya menjelaskan bahwa pertarungan yang terjadi, baik antara kandidat dalam suatu pemilihan Presiden Amerika Serikat maupun dalam lingkup partai, benar-benar terletak pada latar belakang, kapabilitas, dan kompetensi individu kandidat yang berkompetisi walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa partai politik sebagai mesin politik tetap menjalankan fungsi dan perannya. Dalam Democratic Primary Election tahun 2008, peta persaingan untuk memperebutkan satu tiket untuk mengikuti pemilihan presiden sudah memanas sejak tahun 2007 (www.quinnipac-university.com). Pada awalnya, ada beberapa bakal calon kandidat presiden yang turut meramaikan prosesi penjaringan kandidat presiden dari Partai Demokrat. Calon-calon tersebut adalah Hillary R. Clinton, Barack Obama, John Edwards, Mike Gravel, Dennis Kucinich, Bill Richardson, Joe Biden, dan Christoper Dodd (www.forum-politisi.org.com). Semuanya akan bertarung dalam Democratic Primary Election dan

memperebutkan super delegates dan akan bertarung lagi dalam Democratic National Convention di Denver pada tanggal 5 sampai 28 Agustus 2008. Dari delapan calon tersebut, yang diperkirakan oleh pengamat politik memiliki kans besar adalah Hillary R. Clinton, John Edwards, dan Barack Obama. Nama Barack Obama belakangan disebut-sebut sebagai sebagai the rising star, karena memang

baru tiga tahun ia berkecimpung sebagai politisi di partai Demokrat namun sudah cukup mendapat perhatian dari masyarakat Amerika maupun pengamat politik. Fenomena menarik yang perlu untuk diperhatikan adalah bertemunya kandidat perempuan dan ras kulit hitam untuk memperebutkan tiket untuk menjadi calon presiden Amerika Serikat dari partai Demokrat melalui proses Democratic Primary Election. Fenomena tersebut menjadi menarik karena

adanya konsep ‘white anglo-saxon protestan’ (WASP)3 yang sakral dalam budaya Amerika Serikat. Dalam ranah politik, konsep ‘white anglo-saxon protestan’ (WASP) turut memberi pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan politik di Amerika Serikat. Dalam perkembangan Democratic Primary Election, spektrum besar kekuatan politik bakal calon kandidat presiden Partai Demokrat kemudian mengkerucut pada dua bakal calon yang memang fenomenal yaitu Hillary dan Obama. Hal ini dibuktikan dengan hasil polling yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey di Amerika Serikat yang meletakkan Hillary dan Obama sebagai bakal calon yang menduduki peringkat pertama dan kedua. Contohnya adalah survey yang dilakukan oleh Marist College Institute for Public Opinion (www.RSS.com) pada bulan November 2007 yang meletakkan Hillary pada peringkat pertama dengan 48% suara dan Obama pada peringkat kedua dengan 17% suara. Namun dalam perkembangannya, Obama dapat menyaingi persentase popularitas Hillary.
3

WASP merupakan kependekan dari White Anglo-Saxon Protestan. Konsep ini merupakan suatu konsep mengenai kelas yang ada di Amerika Serikat. Warga Amerika Serikat yang memenuhi kriteria WASP dapat dikatakan sebagai kelas tertinggi dalam masyarakat Amerika Serikat. Dalam perkembangannya muncul penambahan huruf ‘m’ yang berarti men (laki-laki). Dikutip dari www.answer.com, WASP (Historical Context).

Apalagi jika melihat hasil pemungutan suara dalam IOWA caucus4 yang menempatkan Obama pada urutan pertama, Edwards di urutan kedua dan Hillary di urutan ketiga. Kemenangan Obama tersebut memberikan dampak yang luar biasa dalam peta persaingan antara Hillary dan Obama. Hal ini dibuktikan dengan kemenangan Obama atas Hillary di beberapa negara bagian lain seperti, Nevada, South Carolina, Virginia, Wyoming, Missisippi, Delaware, dan North Carolina. Melejitnya Obama maupun Hillary tidak lepas dari krisis yang melanda Amerika Serikat akhir-akhir ini. Salah satu penyebab krisis tersebut adalah

kebijakan Presiden George W. Bush (Presiden Amerika Serikat Periode 20002008) yang kontroversial dan mendapat kecaman dari masyarakat Amerika, misalnya kebijakan untuk menginvasi Irak. Krisis yang diakibatkan oleh

kebijakan Presiden Bush semakin parah pada periode kedua pemerintahan Presiden Bush, yaitu mulai tahun 2004. Tak hanya itu saja, krisis yang melanda kehidupan dalam negeri Amerika Serikat, seperti krisis ekonomi dan kepercayaan terhadap pemerintahan saat ini, juga menjadi salah satu faktor penyebab ketidakpuasan atas kepemimpinan Presiden Bush. Di tengah krisis yang sedang melanda itulah, rakyat Amerika Serikat membutuhkan sosok yang bisa membawa angin perubahan. Dalam hal ini, munculnya Obama dan Hillary dianggap dapat membawa angin perubahan itu. Selain itu, keduanya berasal dari Partai Demokrat yang merupakan saingan terbesar Partai Republik yang pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush berperan sebagai oposisi di pemerintahan.
4

Kaukus berasal dari bahasa Indian Amerika Utara (dipercaya dari suku Algonquin) yang berarti perkumpulan para ketua suku yang sedang berkuasa. Makna modern kaukus adalah proses berkumpulnya para anggota partai politik untuk membuat berbagai keputusan dan memilih kandidat. Dikutip dari “Kaukus IOWA, Awal Menarik ke Gedung Putih”. www.kompas.com.

Terlepas dari kekecewaan rakyat Amerika Serikat atas kepemimpinan Presiden Bush dari Partai Republik, melejitnya Hillary dan Obama juga bukan sekedar pepesan kosong, karena keduanya memang memiliki kompetensi dan kapabilitas yang mumpuni dalam hal politik. Meski baru tiga tahun menjadi politisi Partai Demokrat dan juga menjadi senator negara bagian Illinois, Barack Obama tidak bisa disebut sebagai politisi kacangan. Obama merupakan politisi muda yang di sebut–sebut sebagai representasi dari millenium generation karena memang banyak pemikirannya yang mewakili pemikiran kaum muda Amerika. Salah satunya adalah semangat perubahan yang terepresentasi dalam jargon kampanyenya, yaitu “Change, We Can Believe In”. Sedangkan Hillary Clinton merupakan politisi perempuan yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia politik Amerika. Hillary memulai karirnya sebagai seorang pengacara handal, kemudian menikah dengan Bill Clinton dan menjadi ibu negara ketika Bill Clinton menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Selain itu, Hillary juga Dengan modal

menjabat sebagai senator untuk negara bagian New York.

pengalaman di bidang pemerintahan inilah, maka Hillary menjadi salah satu kandidat kuat dari Partai Demokrat. Ketatnya persaingan pada masa kampanye antara Hillary dan Obama memunculkan perilaku yang tidak sepantasnya. Misalnya, propaganda dari tim kampanye Hillary yang mencitrakan bahwa Barack Hussein Obama adalah seorang kandidat calon Presiden Amerika Serikat berkulit hitam, berdarah ibu kulit putih dan ayah orang asli dari Kenya-Afrika. Meskipun Obama beragama Kristen, ayah Obama beragama Islam. Nama depan ’Barack’ berasal dari bahasa

Arab yaitu ‘baraka’ yang berarti ‘yang diberkati’. Sedangkan nama tengah Obama yaitu ’Hussein’ diambil dari nama cucu Nabi Muhammad SAW. Sementara Hillary dicitrakan sebagai seorang kandidat calon Presiden Amerika Serikat perempuan yang merupakan orang lama di Pemerintahan Amerika. Hillary juga adalah seorang istri dari mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton, yang pernah mengguncang negaranya melalui skandalnya bersama Monica Lewinsky ketika masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 1998. Perbedaan identitas antara Obama dan Clinton dianggap paling sensitif dan mengundang emosi pemilih di Amerika Serikat. Perbedaan tersebut adalah

perbedaan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) dan perbedaan ras (kulit hitam dan kulit putih). Obama merupakan representasi ras kulit hitam yang sangat bertentangan dengan konsep White Anglo-Saxon Protestan (WASP). Artinya, meskipun Obama merupakan politisi cerdas tetap saja dia bukan murni berkulit putih dan tidak memiliki ras Anglo-Saxon. Dengan kata lain, Obama sebagai keturunan Amerika-Afrika merupakan salah satu bagian dari kelompok minoritas di Amerika Serikat. Selain itu, Obama yang memiliki darah muslim, agama yang menjadi “momok” dalam kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat juga menjadi faktor yang cukup diperhitungkan oleh para pemilih Amerika Serikat. Di lain sisi, Hillary merupakan representasi ras kulit putih yang merupakan mayoritas di AS. Hillary adalah seorang pengacara yang handal dan masuk dalam 100 pengacara terbaik di Amerika Serikat. Hillary juga merupakan salah satu orang lama dalam pemerintahan dan politik Amerika Serikat, serta menjadi kandidat presiden perempuan pertama yang merupakan fenomena

menarik di sejarah pemilihan umum presiden Amerika Serikat. Hillary dapat menjadi fenomenal karena dalam sejarah panjang bangsa Amerika, perempuan selalu ditempatkan laki-laki dan kurang mendapat peran di wilayah publik. Diskriminasi ini secara tersirat dapat dilihat dalam Declaration Of Independence yang menyatakan “.....all men are created equal.....” (… semua manusia (pria) diciptakan sama….) Istilah “men” di sini sempat dipertanyakan maknanya karena “men” bisa berarti “hanya berlaku bagi” laki-laki. Terlepas dari tarik ulur identitas tersebut, hal yang menarik adalah Hillary dan Obama berasal dari Partai Demokrat yang disebut-sebut sebagai partai yang sangat liberal. Artinya, dari sudut pandang liberal, tidak jadi masalah ketika calon kandidat presiden Amerika Serikat 2008-2013 itu adalah seorang perempuan ataupun keturunan Amerika-Afrika. Untuk itulah, pertarungan keduanya akan lebih dilihat dari pandangan ataupun penilaian konstituen kepada Hillary maupun Obama. Penilaian ini sangat bisa dipengaruhi oleh beberapa hal seperti nilai dasar bangsa Amerika yang memang sudah tertanam di setiap individu bangsa Amerika, kapabilitas dan latar belakang kandidat, serta strategi kandidat dalam menjaring suara konstituen. Di wilayah inilah, pertarungan antara Hillary dan Obama untuk meraih tiket menjadi kandidat calon Presiden Amerika Serikat periode 2008 – 2013 dari Partai Demokrat berlangsung.

1.2. Rumusan Masalah Berangkat dari latar belakang yang sudah dipaparkan sebelumnya, permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana kandidasi antara Hillary R Clinton dan Barack Obama dalam Democratic Primary Election 2008? 2. Mengapa Barack Obama dapat memenangkan Democratic Primary Election 2008?

1.3. Pembatasan Masalah Penelitian ini dibatasi pada permasalahan tentang bagaimana Hillary R. Clinton dan Barack Obama menjalani kandidasi dalam Democratic Primary Election 2008.

1.4. Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk: 1. Memahami dan mendeskripsikan kandidasi antara Hillary R Clinton dan Barack Obama dalam Democratic Primary Election 2008 di Amerika. 2. Memahami dan menjelaskan kemenangan yang diraih oleh Barack H.Obama dalam Democratic Primary Election 2008 tersebut.

1.5. Manfaat Penelitian Ada 2 (dua) manfaat yang bisa diambil dari hasil penelitian ini, yaitu: 1) Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan data studi mengenai partai politik dan sistem pemilihan umum, serta berguna bagi

perkembangan kajian ilmu sosial dan ilmu politik. Selain itu juga sebagai masukan bagi perkembangan terhadap kajian politik negara selain Indonesia. 2) Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi dalam hal kepartaian dan sistem pemilihan umum, sehingga pemimpin yang dihasilkan dari proses pemilihan umum benar-benar bisa membawa suara rakyat dan mempertanggungjawabkannya kembali pada rakyat karena sekali lagi suara rakyat merupakan sebuah amanat. Bagi peneliti, penelitian ini dapat

memperoleh wawasan mengenai kajian politik Amerika Serikat yang memang menarik bagi peneliti secara pribadi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Multikulturalisme Suparlan (2004:117) mengatakan bahwa multikulturalisme adalah sebuah ideologi tentang perbedaan dalam kesederajatan. Multikulturalisme mempunyai fondasi kebudayaan dalam masyarakat yang bersangkutan, yang terwujud sebagai sebuah mozaik dari kebudayaan-kebudayaan yang dipunyai oleh masyarakat multikultural. Sebagai sebuah ideologi yang menekankan perbedaan dalam

kesederajatan, multikulturalisme didukung oleh ideologi demokrasi yang di dalamnya menganut prinsip persamaan dan kebebasan. Multikulturalisme

dikembangkan dari konsep pluralisme budaya (cultural pluralism) dengan menekankan kesederajatan-kebudayaan yang ada pada sebuah masyarakat. Untuk itulah, ulasan mengenai multikulturalisme mau tidak mau akan mengulas berbagai permasalahan yang mendukung ideologi ini, yaitu politik dan demokrasi, keadilan dan penegakan hukum, kesempatan kerja dan berusaha, HAM, hak budaya komunitas dan golongan minoritas, prinsip-prinsip etika dan moral, dan tingkat serta mutu produktivitas. Dalam konteks sebuah masyarakat permasalahan

tersebut tentunya tidak akan lepas dari sebuah perbedaan. Iris Marion Young (1993:296) mengatakan bahwa: “We seek a society in which differences of race, sex, religion, and ethnicity no longer make difference to people’s rights and opportunities. (Kita memerlukan suatu masyarakat, dimana perbedaan ras, jenis kelamin, dan etnis tidak lagi membuat pembedaan terhadap hak dan kesempatan tiap orang.)

Dari kutipan tersebut, jelas terlihat bahwa multikulturalisme berkaitan erat dengan keberadaan kelompok minoritas, perbedaan ras, agama, etnis dan jenis kelamin, serta hak dan kesempatan individu-individu ataupun kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sampai dengan Perang Dunia ke-2, masyarakat Amerika hanya mengenal adanya satu kebudayaan, yaitu kebudayaan Kulit Putih yang Kristen (Suparlan, 2002). Hal ini terjadi karena kentalnya keberadaan kelompok WASP di Amerika sehingga menempatkan masyarakat dengan latar belakang White Anglo-Saxon Protestan menjadi masyarakat nomor satu. Golongan-golongan lainnya yang ada dalam masyarakat Amerika digolongkan sebagai kelompok minoritas dengan segala hak-hak mereka yang dibatasi atau dikebiri. Di Amerika berbagai gejolak untuk persamaan hak bagi golongan minoritas dan kulit hitam serta kulit berwarna mulai muncul di akhir tahun 1950an. Puncaknya adalah pada tahun 1960an, dengan dilarangnya perlakuan diskriminasi oleh orang kulit putih terhadap orang kulit hitam dan berwarna di tempat-tempat umum. Perjuangan hak-hak sipil ini dilanjutkan secara lebih

efektif dengan cara memanfaatkan kegiatan affirmative action5 yang diadakan oleh pemerintah untuk membantu kelompok minoritas agar dapat mengejar ketinggalan mereka dari golongan kulit putih yang dominan di berbagai posisi dan jabatan dalam berbagai bidang pekerjaan dan usaha.

Affirmative action pertama kali diperkenalkan oleh Presiden John F. Kennedy. Affirmative action adalah follow up dari Pemerintah Amerika terhadap Civil Right Act 1964 berupa penyediaan kerja, pendidikan, dan kegiatan lainnya bagi kelompok minoritas dan kaum perempuan Amerika agar tidak ketinggalan dengan masyarakat kulit putih terutama yang laki-laki. Dikutip dari www.infoplease.com

5

Selain ras, permasalahan yang sempat menjadi kontroversi di Amerika adalah permasalahan tentang keberadaan perempuan. Dalam sejarah Amerika perempuan selalu ditempatkan di ranah domestik, misalnya dalam pembuatan Mayflower Compact. Dari 41 orang yang bersepakat, kesemuanya adalah lakilaki. Padahal orang-orang yang terdapat dalam kapal Mayflower pada saat itu tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan. Contoh lain adalah digunakannya kata “men” dalam Declaration of Independence. Digunakannya kata “men”

menjadi sebuah kontroversi karena keberadaan dan peran perempuan sangat dipertanyakan. “..... Male identification is the act whereby women place men above women, including themselves, in credibility, status, and importance in most situation, regardless of the comparative quality the women may bring to the situation ..... Interaction with women is seen as a lesser form of relating on every level.” (Abelove, Barale, & Halperin, 1993:237; lihat juga Hollinger & Capper, 1993:352-356) (….. Identifikasi laki-laki adalah tindakan dimana kaum perempuan menempatkan kaum laki-laki diatas kaum perempuan, termasuk diri mereka sendiri, dalam bentuk kredibilitas, status, dan peran penting mereka dalam setiap kebanyakan situasi tanpa melihat kualitas perbandingan yang dibawa kaum perempuan dalam situasi tersebut. ..… Interaksi dengan kaum perempuan dilihat sebagai satu bentuk yang kurang kuat dalam hubungannya dengan setiap tingkatan.) Dalam hal ini, permasalahan ketidakadilan atas peran perempuan ini sangat terasa di bidang ekonomi dan politik, khususnya politik. Hal ini terjadi karena memang dua bidang inilah yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat dalam suatu negara. Permasalahan ras dan jenis kelamin ini, jika dikerucutkan, akan mengacu pada permasalahan eksistensi dari suatu kelompok dalam masyarakat. Dalam konsep multikulturalisme, eksistensi berarti ditujukan untuk mencapai suatu

kesederajatan. Eksistensi ini tidak semata-mata akan datang dengan sendirinya, namun harus diusahakan. Salah satu usaha untuk menunjukkan eksistensi ini salah satunya dapat dilakukan melalui proses politik, yaitu, dengan cara menempatkan wakil yang bisa merepresentasikan kepentingan kelompoknya dalam lembaga pemerintahan (group representation). Seperti yang dikatakan oleh Iris Marion Young (dalam Green, 1993:310): “A democratic public should provide mechanisms for the effective recognition and representation of the distinct voices and perspectives of those of its constituent groups that are oppressed or disadvantaged.” (Suatu masyarakat yang demokratis hendaknya menyediakan mekanisme bagi pengakuan dan representasi dari suara-suara dan perspektif-perspektif yang berbeda dari kelompok-kelompok konstituen yang tertindas dan tidak diuntungkan.) Wakil yang ditempatkan di lembaga pemerintahan diharapkan dapat mempengaruhi pembuatan undang-undang yang sesuai dengan aspirasi kelompok yang diwakilinya. Hal ini terkait dengan sistem pelaksanaan demokrasi di

Amerika yang berbentuk perwakilan, dimana Amerika menempatkan wakilnya pemerintahan melalui proses pemilihan umum. Mengacu pada pendapat seperti yang dikatakan oleh Alexis de Tocqueville (dalam Green, 1993:42) mengenai demokrasi di Amerika: “..... Society governs itself for itself. ..... The nation participates in the making of its laws by the choice of its legislators, and in the execution of them by the choice of the agents of the executive government; it may almost be said to govern itself, so feeble and so restricted is the share left to the administration, so little do the authorities forget their popular origin and the power from which they emanate. The people reign in the American political world as the Deity does in the universe. They are the cause and the aim of all things; everything comes from them, and everything is absorbed in them.”

(….. Masyarakat memerintah sendiri untuk dirinya sendiri. ….. Negara berpartisipasi dalam pembuatan hukum dengan pilihan agen-agen pemerintahan eksekutif, dan dalam pelaksanaannya dengan pilihan dari para agen dari pemerintah eksekutif tersebut; hampir dapat dikatakan bahwa untuk memerintah sendiri, yang sangat lemah dan sangat terbatas adalah dalam pembagian administrasinya, namun sangat kecil kemungkinannya bagi para penguasa untuk melupakan daerah asalnya yang merakyat dan kekuatan dari mana mereka berasal. Rakyat menguasai dunia politik Amerika seperti dewa menguasai alam semesta. Rakyat menjadi sebab dan tujuan dari semua hal; segala sesuatu berasal dari mereka, dan kembali pada mereka.)

Untuk itulah, keterwakilan suatu kelompok dalam suatu negara yang multikultur sangat penting. Jika sebuah kelompok tidak menempatkan wakilnya pada posisi strategis di pemerintahan, maka kepentingannya akan terlindas oleh kepentingan kelompok lain yang memiliki wakil di pemerintahan. Seperti yang dikatakan oleh Young (1993, 197), bahwa: “A politic difference argues…..that equality as the participation and inclusion of all groups sometimes requires different treatment for oppressed or disadvantaged groups……social policy should sometimes accord special treatment to groups.” (Sebuah perbedaan politik menengarai ….. bahwa kesetaraan sebagai partisipasi dan inklusi dari semua kelompok terkadang mensyaratkan perlakuan yang berbeda bagi kelompok yang tertindas dan tidak diuntungkan ..... kebijakan sosial terkadang harus menyesuaikan perlakuan khusus dengan masing-masing kelompok.) Keterwakilan sebuah kelompok dalam suatu pemerintahan tidak serta merta dapat berhasil mewujudkan keinginan kelompok tersebut, melainkan harus melalui proses tarik menarik nilai dengan kelompok yang lain. Usaha dengan

merepresentasikan wakil dari sebuah kelompok di lembaga pemerintahan hanyalah untuk menunjukkan eksistensi kelompok tersebut.

2.2. Kebudayaan dan Masyarakat Amerika Mengacu pada karya-karya Malinowski (dalam Suparlan, 2004:4) mengenai kebutuhan-kebutuhan manusia dan pemenuhannya melalui fungsi dan pola-pola kebudayaan, dan mengacu pada karya Kluckhohn (dalam Suparlan, 2004:4) yang melihat kebudayaan sebagai blueprint, bagi kehidupan manusia, serta Geerts (dalam Suparlan, 2004:4) yang melihat kebudayaan sebagai sistemsistem makna, maka kebudayaan merupakan pedoman bagi kehidupan masyarakat yang secara bersama dimiliki oleh raga sebuah masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah sebuah pedoman menyeluruh bagi sebuah masyarakat dan warganya. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok individu yang secara

langsung maupun tidak langsung saling berhubungan sehingga merupakan sebuah satuan kehidupan yang mempunyai kebudayaan sendiri yang berbeda dengan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat lain. (Suparlan, 2004:4) Ada beberapa pendekatan dalam memahami sebuah kebudayaan. Salah satunya adalah pendekatan struktural-fungsional. Melalui pendekatan strukturalfungsional, Parsudi Suparlan (1991:4) melihat kebudayaan sebagai sebuah sistem yang terdiri atas unsur-unsur, dimana unsur-unsur tersebut saling berkaitan dan menghidupi satu sama lainnya secara keseluruhan. Dengan memusatkan

perhatian pada sebuah nilai budaya mendasar yang ada dalam sebuah kebudayaan, yaitu yang sakral, maka keseluruhan kaitan hubungan dalam saling menghidupi nilai-nilai budaya yang ada dalam kebudayaan tersebut akan terungkap dan corak kebudayaan tersebut akan dipahami.

2.2.1. Nilai-Nilai Budaya Amerika Amerika Serikat merupakan bangsa besar yang terdiri dari, bukan lagi beragam suku bangsa, akan tetapi beragam bangsa-bangsa. Keragaman bangsa yang ada dalam masyarakat Amerika tidak terlepas dari sejarah terbentuknya bangsa Amerika. Sejarah kedatangan bangsa-bangsa di Amerika bermula dari migrasi bangsa Asia melalui selat Bering yang membeku pada 28000 SM menuju Amerika Utara. Kemudian dilanjutkan dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa, seperti mendaratnya kapal Spanyol yang dipimpin Crhistopher Colombus pada tahun 1492, atau kedatangan bangsa lain seperti Perancis, Portugal, Inggris, Irlandia, dan Jerman. Kedatangan bangsa-bangsa tersebut di Amerika tentunya membawa berbagai macam nilai budaya dari kebudayaan daerah asalnya. Berbagai macam nilai-nilai tersebut kemudian berakulturasi dan membentuk suatu nilai budaya baru. Di antara nilai-nilai budaya yang ada di Amerika, ada satu nilai yang sangat berpengaruh terhadap terbentuknya nilai budaya Amerika. Nilai tersebut berasal dari ajaran yang dibawa oleh kaum migran dari Inggris, yaitu puritanisme. Nilai-nilai dari ajaran puritan tersebut adalah: 1) percaya bahwa manusia pasti berbuat dosa. Untuk itulah, penganut puritanisme senantiasa beribadah untuk menghapus dosa mereka; 2) percaya bahwa Tuhan telah menentukan takdir dari seluruh laki-laki dan perempuan. Kepercayaan inilah yang membuat penganut puritanisme yakin dan percaya diri bahwa mereka bisa membuat keadaan mereka menjadi lebih baik; 3) percaya bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kehidupan moral mereka. Untuk itulah, penganut puritanisme yakin akan adanya

kemurahan Tuhan dan Tuhan memanggil mereka untuk senantiasa bekerja keras serta memasang mata dengan tajam atas segala bentuk dosa; dan (4) percaya pada Bible yang merujuk kepada perkataan Tuhan. Untuk mengerti Bible, penganut puritanisme mengharuskan diri mereka untuk belajar membaca sehingga menurut mereka pendidikan itu sangat penting. Ajaran puritan tersebut kemudian tercermin dalam kehidupan bangsa Amerika dan melahirkan nilai-nilai dasar budaya Amerika. Nilai-nilai dasar

tersebut adalah: 1) kebebasan individu dan kemandirian. Artinya, masyarakat Amerika mengakui adanya kebebasan individu untuk melakukan sesuatu hal yang tidak bertentangan dengan hukum yang telah disepakati bersama. Berawal dari kebebasan inidividu kemudian memunculkan suatu kemandirian dari individuindividu masyarakat Amerika. Kemandirian itu tidak hanya berada individu,

tetapi juga menjadikan Amerika sebagai negara yang mandiri; 2) persamaan untuk memperoleh kesempatan dan kompetisi. Nilai ini berkaitan dengan kebebasan individu, setiap inidividu dalam masyarakat Amerika mempunyai jaminan atas kesempatan yang sama dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya ekonomi, keamanan, dan politik. Adanya jaminan atas kesetaraan dalam memperoleh Tuntutan untuk memenuhi

kesempatan itulah kemudian muncul kompetisi.

kebutuhan dari setiap individu Amerika menuntut mereka untuk berkompetisi agar kebutuhannya tercapai; dan 3) kemakmuran dan kerja keras. Tuntutan akan

kemakmuran bagi masyarakat Amerika juga mendasari adanya semangat kerja keras bagi masyarakat Amerika, karena percuma saja mereka mendapat kesempatan akan tetapi tidak mempergunakannya dengan maksimal. Prinsip ini

juga yang mendasari pemikiran ‘time is money’. Masyarakat Amerika beranggapan bahwa waktu harus secara maksimal untuk mendapatkan hasil yang maksimal pula. Untuk itulah, diperlukan usaha yang keras. Selain itu, kerja keras dan penghargaan terhadap waktu juga melahirkan prinsip lain, yaitu ‘learning by doing’. Artinya, bangsa Amerika tidak ingin membuang waktu terlalu banyak untuk mempelajari sesuatu dalam kehidupannya. Nilai ini turut dipengaruhi oleh pragmatisme. Hollinger dan Capper (1993) mengatakan: “It is clear that pragmatism in this sense of trial becomes the idea of having efforts to seek for the meaning of something; something crucial that can influence the life of individuals as human beings. One of the crucial things is truth in which it defines many aspects of human lives.“ (Sudah jelas bahwa pragamtisme dalam arti coba-coba menjadi pemikiran untuk memiliki usaha dalam rangka pencarian terhadap makna suatu hal; sesuatu yang krusial yang dapat mempengaruhi kehidupan para individu sebagai manusia. Salah satu yang menjadi hal krusial adalah kebenaran yang menentukan banyak dari aspek kehidupan manusia.) Dalam menghadapi permasalahan di kehidupannya, bangsa Amerika juga dipengaruhi oleh konsep biformity (dua bentukan). Konsep biformity dalam

istilah lain disebut dengan paradoks. Kammen (dalam Suparlan, 1991:6) memperlihatkan bahwa kebudayaan Amerika itu penuh paradoks. Terjadi

pertentangan antara satu unsur nilai budaya dengan unsur atau nilai budaya lainnya terhadap suatu permasalahan yang sama Paradoks bangsa Amerika sangat terlihat dalam pengambilan sebuah keputusan (two fold judgement). Contohnya dalam kasus invansi Irak yang merupakan kebijakan Presiden George W. Bush, di satu sisi mayoritas masyarakat Amerika menentang invasi tersebut karena bertentangan dengan demokrasi, tetapi di sisi lain mereka ingin membuktikan apakah dugaan terhadap kepemilikian Irak atas senjata biologi yang ditakutkan

oleh pemerintah Amerika benar adanya. Inilah salah satu contoh dari paradoks Amerika. Di satu sisi, Pemerintah Amerika harus membuktikan kebenaran akan adanya senjata biologi milik Irak. Sementara di sisi lain, Pemerintah Amerika harus menghadapi konflik dalam negeri sendiri. Dalam konteks membuktikan kebenaran itu, terdapat prinsip ‘seeing is believing’. Artinya, untuk mempercayai suatu kebenaran mereka harus melihat sendiri kebenaran tersebut, atau dengan kata lain bangsa Amerika berpegang pada prinsip rasionalitas. Nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bangsa Amerika tersebut secara turun-temurun tertanam dengan baik oleh setiap individu dalam masyarakat Amerika. Sampai sekarang pun, nilai-nilai tersebut masih menjadi inspirasi bagi Amerika untuk menjadi bangsa yang besar.

2.2.2. Pluralisme Bangsa Amerika Luedtke (dalam Suparlan, 1991:5) memperlihatkan bahwa

keanekaragaman masyarakat dan kebudayaan Amerika terwujud karena adanya tiga faktor, yaitu: 1) berkumpulnya secara terus-menerus dan tetap berbagai macam ras dan bangsa yang saling berbeda satu sama lainnya, yang datang dari berbagai penjuru dunia dan menetap di Amerika karena alasan-alasan kepentingan ekonomi, politik, dan agama. Oleh karena itu, selalu ada unsur-unsur segar yang mendorong lestarinya keanekaragaman tersebut; 2) kewarganegaraan Amerika tidak ditentukan oleh faktor keturunan, hubungan darah, ataupun kebudayaan yang dipunyai oleh seseorang, tetapi oleh pilihan bebas yang dilakukan seseorang untuk menjadi warganegara Amerika atau bukan warga negara Amerika; 3)

komitmen secara politik dan ideologi yang harus dipunyai oleh seorang warga negara terhadap Amerika, yaitu mendukung kesatuan nasional yang didasari oleh nilai-nilai yang mendasar, yaitu justice, equality, the inalieneble rights of the individual, dan government by and for the people. Apa yang diungkapkan oleh Luedke sebenarnya menunjukkan bahwa dalam masyarakat Amerika terdapat suatu keseragaman komitmen secara politik dan ideologi. Namun dalam keseragaman tersebut, terdapat kebebasan-kebebasan secara individual berkenaan dengan cara-cara hidup dan kebiasaan sehari-hari yang dijalani dengan kebudayaan yang dijadikan pedoman hidup warga Amerika. Dari situ, kita dapat melihat bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam melihat pluralisme Amerika. Tiga hal tersebut adalah: individu, masyarakat dan negara. Suparlan (2004:10) mengatakan bahwa tiga hal tersebut merupakan

simbol-simbol yang sakral dalam kebudayaan Amerika. Bahkan ketiga simbol sakral tersebut merupakan simbol-simbol yang terakhir dan mutlak. Simbol-

simbol tersebut akan berkaitan dengan nilai-nilai sakral yang ada di Amerika, seperti persamaan hak, kebebasan, dan kompetisi. Selain itu, terdapat juga

konformiti atau penyesuaian diri secara lahiriah untuk kesamaan kedudukan, gerak, dan pertentangan, keteraturan, dan ketertiban, serta hirarki sebagai lawan dari keadaan setaraf.

2.3. Demokrasi di Amerika Demokrasi berasal dari bahasa Yunani ‘demokratia’, yaitu ‘demos’ yang berarti rakyat (people) dan ‘kratos’ yang berarti aturan (rule). (Williams, 1993:19)

Demokrasi Amerika adalah demokrasi pertama dalam pengertian kontemporer, yaitu suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Di zaman Yunani memang sudah ada demokrasi, namun itu adalah demokrasi kaum elite kekuasaan hanya dipegang oleh raja dan bangsawan. Plato sangat membenci demokrasi pada saat itu karena sifatnya yang anarkis atau bersifat medioker (Mallarangeng, 2006). Dalam sejarah Amerika Serikat, tidak ada dokumen resmi yang menyatakan atau menandai lahirnya demokrasi, yang ada hanya dokumen mengenai bentuk Republik sebagai lawan dari Monarki. (handout mata kuliah Politik dan Pemerintahan Amerika, 2007) Lahirnya demokrasi di Amerika dipengaruhi oleh pemikiran kaum puritan yang hijrah dari Inggris pada tahun 15 November 1620, serta kaum pilgrims pada akhir 1620. Semangat puritanisme yang dibawa oleh kedua kelompok ini dapat dikatakan sebagai cikal bakal lahirnya demokrasi Amerika. Cikal bakal lahirnya demokrasi Amerika ini lebih tepatnya terdapat dalam Mayflower Compact yang dibuat oleh kaum pilgrims pada saat mereka berada dalam perjalanan menuju Amerika. Isi dari Mayflower Compact itu adalah syarat-syarat tentang harus adanya keadilan, persamaan hukum dan kekuasaan politik atas kehendak bersama. Pemikiran kaum pilgrims yang hijrah dari Inggris ke Amerika dipengaruhi oleh beberapa hal. Salah satu hal yang mempengaruhi adalah rasa kecewa dan ketidakpuasaan atas bentuk pemerintahan Inggris, yaitu monarki, kekuasaan raja begitu dominan. Selain itu, pemikiran politik dari John Locke tentang social

contract6 juga memberi pengaruh bagi terbentuknya demokrasi liberal di Amerika. Itulah sebabnya mengapa bersatunya 50 negara bagian di Amerika terjadi melalui proses konsensus. Kata ‘liberal’ dalam frasa demokrasi liberal tidak mengacu pada siapa yang berkuasa, namun lebih kepada bagaimana kekuasaan dijalankan. Dalam hal ini, kekuasaan pemerintah dibatasi oleh aturah hukum, khususnya hukum dasar atau konstitusi. Marc F. Plattner (2008:195) mengatakan bahwa kekuasaan pemerintah, terutama dibatasi oleh hak-hak setiap individu. Konsep hak alamiah atau hak yang tidak dapat dicabut, yang sekarang lebih umum disebut sebagai “hak azasi manusia”, berasal dari liberalisme. Demokrasi Amerika juga dipengaruhi oleh banyak budaya yang dibawa oleh pendatang dari berbagai negara seperti Perancis, Irlandia, dan Jerman. Dari sekian banyak nilai budaya yang mempengaruhi lahirnya demokrasi Amerika, terdapat dua nilai yang secara signifikan mempengaruhi demokrasi di Amerika. Pertama adalah kesetaraan7 (equality). Kesetaraan menjadi salah satu hal yang utama dalam pembentukan demokrasi di Amerika. Hal ini terjadi karena Amerika bukan lagi terdiri dari suku bangsa yang plural, melainkan terdiri dari bangsabangsa yang datang dari beberapa negara Eropa, Asia, maupun Afrika. Pluralitas ini kemudian menuntut sebuah kesetaraan yang dapat menjamin kehidupan

6

Kontrak sosial versi Locke lahir karena adanya kebutuhan akan perlindungan hukum. Dengan adanya kontrak sosial ini, maka setiap individu harus tunduk dan patuh pada kehendak mayoritas yang dimanifestasikan melalui lembaga. Prinsip dari kontrak sosial adalah bahwa yang menggerakkan terjadinya kontrak sosial bukan rasa takut akan kehancuran, melainkan hak-hak individual. Individu tidak menyerahkan hak-hak dasarnya pada lembaga politik. Hak-hak yang diserahkan individu dalam kontrak sosial diberikan pada segelintir masyarakat yang merupakan pewaris sekaligus pembuat hukum dan batas-batas kekuasaan. Sumber Suhelmi, Ahmad. 2005, Pemikiran Politik Barat. PT Gramedia, Jakarta. 7 Kesetaraan disini mengacu pada kesetaraan dalam berbagai bidang kehidupan warga negara Amerika, seperti ekonomi, kesehatan, sosial, hukum, dan politik. Nilai-nilai kesetaraan tercermin dalam motto dalam Konstitusi Amerika yaitu life, liberty, and the pursuit of happiness.

seluruh rakyat Amerika. Alexis de Tocqueville (dalam Green, 1993:39) dalam Democracy in America mengatakan: “America, then, exhibits in her social state an extraordinary phenomenon. Men are there seen on a greater equality in point of fortune and intellect, or, in other words, more equal in their strength, than in any country of the world, or in any age which history has preserved the remembrance “. (Amerika, kemudian memamerkan fenomena yang luar biasa dalam kehidupan sosial bernegaranya. Kaum laki-laki terlihat dalam kesetaraan yang lebih besar pada sisi keuntungan dan intelektualitas, atau, dengan kata lain, lebih setara dalam kekuatan mereka, daripada dalam negara manapun di dunia, atau, dalam segala zaman di mana sejarah telah mengenangnya.)

Dalam deklarasi kemerdekaan yang menyatakan “all men are created equal” pun, terbersit semacam spirit dan inspirasi bagi seluruh bangsa Amerika untuk membawa kesetaraan dalam kehidupan mereka. (Ahdiati, 2007:2) Selain equality, salah satu hal yang menjadi esensi dari pembentukan demokrasi di Amerika adalah kebebasan individu atau dalam konteks sosial politik disebut civil rights (hak sipil), yaitu: kebebasan beribadah, berbicara, berkumpul, bertanya pada pemerintah, dan perlindungan hukum. Dijunjung

tingginya civil rights ini merupakan manifestasi dari masyarakat Amerika yang sangat plural. Dalam hal ini, supremasi sipil meminimalkan peran militer. Hal ini terjadi karena kekuatan militer, sesuai dengan karakteristiknya, dianggap sebagai kekuatan yang berlawanan dengan demokrasi. (handout mata kuliah Politik dan Pemerintahan Amerika, 2007) Lemahnya posisi militer secara tidak langsung menempatkan kedaulatan tertinggi di tangan rakyat sipil. Hal ini dapat dilihat dari kalimat yang tertulis pada pembukaan konstitusi Amerika: “Kami rakyat Amerika…menahbiskan dan

menetapkan konstitusi ini”. Dalam ungkapan ini, jelas tersirat bahwa konstitusi menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi, atau lebih terkenal dengan istilah ‘of the people, by the people, and for the people’ (dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), dan pembukaan itu menjadi hukum positif yang mengakui supremasi sipil di Amerika Serikat. 1993:40) mengatakan: “In America the principle of the sovereignty of the people is neither barren nor concealed, as it is with some other nation; it is recognized by the customs and proclaimed by the laws; it spreads freely; and arrives without impediment at its most remote consequences. If there is a country in the world where the doctrine of sovereignty of the people can be fairly appreciated, where it can be studied in its application to the affairs of society, and where its dangers and its advantages may be judged, that country is assuredly America” (Prinsip kedaulatan rakyat di Amerika tidak ada yang kering maupun tersembunyi, sama halnya dengan beberapa negara lain; hal ini diketahui dari kebiasaan-kebiasaan dan diproklamasikan oleh hukum; prinsip kedaulatan rakyat menyebar dengan leluasa; dan datang tanpa rintangan dengan konsekuensi terkecil. Jika ada negara di dunia di mana doktrin kedaulatan di tangan rakyat dapat dihargai secara adil, di mana hal itu bisa diterapkan dalam urusan-urusan kemasyarakatan, dan di mana bahayanya dan keuntungannya bisa diketahui, maka bisa dipastikan negara itu adalah Amerika) Berdasarkan kutipan tersebut jelas bahwa Tocqueville berbicara soal kedaulatan yang terletak pada rakyat Amerika yang diakui dan dilegitimasi oleh budaya dan hukum (konstitusi) yang ada. Tocqueville (dalam Green

2.4. Pemilihan Umum di Amerika Sejarah pemilihan Presiden Amerika dimulai ketika pada tahun 1789 George Washington terpilih menjadi presiden pertama Amerika Serikat tanpa melalui mekanisme demokrasi yang menjadi standar demokrasi modern.

Terpilihnya Washington karena jasa-jasanya dalam perang kemerdekaan dalam membebaskan koloni-koloni dari jajahan Inggris. Legitimasi yang diperoleh

Washington tidak langsung berasal dari rakyat Amerika akan tetapi berasal dari elite politik yang belum tentu merupakan representasi dari rakyat. Namun seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya sistem pemilihan umum untuk pemilihan presiden Amerika Serikat diterapkan. (Al Arief, 2001:38) Sistem pemilihan umum yang diterapkan di Amerika Serikat disebut dengan sistem electoral college8 yang merupakan sistem pemilihan dua tahap (two-step election). Digunakannya sistem ini adalah untuk menghindari

ketimpangan proporsi antara negara bagian yang padat penduduk dengan yang kurang penduduknya. Hal ini untuk menghindari seorang calon presiden dari tindakan yang hanya mementingkan yang terkonsentrasi pada negara bagian yang padat penduduknya. Namun demikian, sistem electoral college juga berusaha mengurangi insignifikansi dari negara bagian yang kurang penduduknya. (Al Arief, 2001:39) Dalam electoral college, seorang pemilih akan memilih calon presiden beserta wakilnya dari partai yang dinginkan. Dahulu ada dua partai yang Partai

berkuasa, yaitu Partai Federalist dan Partai Democratic-Republican.

Federalist, pada saat itu, dipelopori oleh Alexander Hamilton; sedangkan Democratic-Republican dipelopori oleh Thomas Jefferson dan Andrew Jackson.
8

Electoral College merupkan sistem pemilihan dua tahap yang tertdiri dari popular vote dan electoral vote. Dalam popular vote, tiap calon presiden akan berusaha mngumpulkan dukungan suara dari masyarakat untuk memenangkan jumlah electoral college dari tiap negara bagian. Orang-orang yang duduk dalam electoral college di tiap negara bagian, merepresentasikan suara dari seluruh penduduk negara bagian tersebut, ini disebut sistem winner takes it all (pemenang mendapatkan semuanya). Jumlah electoral college sebanding dengan jumlah anggota senat dan kongres ditiap negara bagian. Dikutip dari www.wikipedia.com

Dalam sejarah Amerika, Federalist merupakan partai bagi kelompok minoritas yang anggotanya terdiri dari kelompok industrialis dan kelompok intelektual (minoritas), sedangkan anggota Partai Democratic-Republican terdiri dari masyarakat umum (mayoritas) yang tidak termasuk dalam kelompok industrialis dan kelompok intelektual. Seiring dengan perkembangan industri serta semakin banyaknya kaum intelektual di Amerika, Partai Federalist kemudian

bertransformasi menjadi partai bagi masyarakat mayoritas dan berganti nama menjadi Partai Republik. Sedangkan Partai Democratic-Republican berganti

nama menjadi Partai Demokrat yang lebih berorientasi pada kelompok-kelompok minoritas. Seperti halnya proses menuju pemilihan presiden di negara manapun, seorang kandidat calon presiden harus melalui proses pemilihan di dalam internal partainya. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Steffen (1999:323) bahwa “Some state parties use the Primary Election, some caucus, and some state-level convention to nominate candidates for the ticket.” (Beberapa partai menggunakan pemilihan pendahuluan, beberapa menggunakan kaukus, dan beberapa

menggunakan konvensi tingkat-nasional untuk menominasikan para kandidatnya guna mendapatkan tiket pencalonannya.) Di Amerika Serikat, seorang bakal

calon Presiden Amerika yang ingin menjadi calon presiden harus melewati seleksi partai. Seleksi tersebut di Amerika disebut dengan Primary Election. Primary Election ini dilaksanakan di seluruh negara bagian di Amerika Serikat.

2.4.1. Primary Election Primary Election merupakan sebuah sistem pemilihan yang digunakan untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya super delegates9 yang notabene memiliki hak pilih pada konvensi nasional partai. Dengan demikian, para

kandidat akan berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan sebanyakbanyaknya anggota super delegates yang tersedia. Kemudian pada konvensi

nasional partai, super delegates akan memilih dan menetapkan calon presiden dari suatu partai politik. Primary Election pada hakikatnya memberikan kesempatan yang banyak kepada pemilih untuk menetapkan siapa saja yang disukainya sebagai calon presiden. Oleh karena itu, setiap calon presiden akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pemilihan di Primary Election, yang pada gilirannya akan memenangkan pencalonan pada konvensi partainya.

(www.wikipedia.com) Dengan sistem Primary Election ini, peran pimpinan partai sangat dikurangi dalam menetapkan siapa saja yang layak sebagai calon. Sebaliknya, dapat dijadikan bukti oleh orang-orang yang mencalonkan diri bahwa mereka mendapat sokongan dari para pemilih, meskipun lobby-lobby elite masih sering dilakukan apabila menyangkut kelangsungan dan kepentingan partai. Fungsi

Primary Election adalah untuk menyeleksi kandidat calon presiden dari partai atau bukan untuk diresmikan sebagai calon presiden. Dari pihak kandidat,

Primary Election itu sebagai arena untuk mengukur dukungan publik di setiap
9

Super Delegates merupakan elite partai di tiap negara bagian yang merupakan representasi dari seluruh konstituen partai ditiap negara bagian. Anggota Super Delegates akan mewakili suara dari konstituen negara bagian dalam konvensi nasional partai yang diraih melalui mekanisme Primary Election. Jumlah Super Delegates sebanding dengan jumlah angota senat dan kongres ditiap negara bagian.

daerah pemilihan

Dengan adanya Primary Election, setiap orang dapat

mencalonkan diri dan sekaligus dapat mengetahui kekuatan dukungan publik di setiap negara bagian. Proses pemilihan presiden yang secara resmi memakai sistem Primary Election pertama kali diadakan di negara bagian Florida pada tahun 1901, yang selanjutnya berkembang ke semua negara bagian dengan bermacam-macam cara (Schmidt.et.all., 1999:313). Pertama, Open Primary

Election, yaitu mengizinkan semua pemilih yang terdaftar tanpa memandang afiliasi partainya untuk ikut serta pada pemilihan (Primary Election). Dengan demikian, setiap pemilih terdaftar dapat ikut serta dalam Primary Election yang diadakan oleh Partai Demokrat, Republik atau partai-partai lainnya. Sistem ini terdapat di 8 (delapan) negara bagian, antara lain: Idaho, Michigan, Minnesota dan Utah. Kedua, Closed Primary Election. Dalam sistem ini, para pemilih terdaftar hanya dibolehkan memilih pada Primary Election yang diadakan oleh partainya. Dengan kata lain, setiap pemilih harus mendaftarkan diri pada

pengurus partainya untuk dapat ikut pemilihan. Sebagian besar negara bagian di AS melaksanakan sistem ini, antara lain: California, Texas, dan Wisconsin. Di sejumlah negara-negara bagian di selatan, jika tidak terdapat calon yang memperoleh suara mayoritas, maka diadakanlah pemilihan ulang antara dua calon yang memperoleh suara terbanyak. Ketiga, Blanket Primary Election. Sistem ini memberikan kesempatan kepada semua calon dari partai-partai yang ada untuk dimuat dalam daftar calon presiden dan calon-calon delegasi yang akan dipilih. Dengan demikian, para pemilih dapat menyeleksi calon-calon untuk kemudian memilih satu orang calon dari setiap partai, disertai calon delegasi yang akan ikut

konvensi dari partai yang bersangkutan. Sistem ini dianut oleh negara bagian Alaska dan Washington. Ditinjau dari ruang lingkupnya, terdapat dua macam Primary Election. Pertama, Early Primary Election yang merupakan Primary Election pertama dan biasanya berlangsung pada bulan Januari atau paling lama bulan Februari. Early Primary Election pertama kali diadakan di negara bagian Iowa dengan sebutan Iowa Caucus, dan selanjutnya disusul dengan Early Primary Election di negara bagian New Hampshire (New Hampshire Primary Election). Hasil yang dicapai pada Early Primary Election sangat berpengaruh sekali pada primary selanjutnya karena diliput oleh pers dari media cetak dan elektronik yang sangat luas dan intensif sekali. Kedua, Major Primary Election yang berlangsung di negaranegara bagian yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak pula seperti negara bagian California, Texas, New York, Pennsylvania, dan sebagainya. Primary Election di Amerika adalah Primary Election yang diadakan oleh partai Republik dan Partai Demokrat. Partai Demokrat dan Partai Republik

merupakan dua partai terbesar yang saling bertentangan dalam hal ideologi serta orientasi kebijakan, meskipun di Amerika ada partai politik lain seperti Green Party dan Independence Party. Meski bertentangan, dua partai inilah yang

menjadi penyeimbang sistem politik di Amerika karena sistem politik Amerika menganut sistem dwi-partai. Itulah sebabnya, mengapa proses kandidasi bakal calon presiden dari partai Republik dan Demokratlah yang menarik untuk diamati.

2.4.2. Budaya Politik Albert Widjaja (1982) menyatakan bahwa budaya politik merupakan aspek politik dari sistem nilai-nilai yang terdiri dari ide, pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos. masyarakat. Kesemuanya itu dikenal dan diakui oleh sebagian besar

Budaya politik memberikan rasionalitas untuk menolak atau Walter A Rosenbaum (1975)

menerima nilai-nilai dan norma-norma lain.

menyebutkan bahwa budaya politik dapat didefinisikan dalam dua cara. Pertama, jika terkonsentrasi pada individu, budaya politik merupakan fokus psikologis. Artinya, bagaimana cara-cara seseorang melihat sistem politik. Apa yang orang tersebut rasakan dan pikirkan tentang simbol, lembaga dan aturan yang ada dalam tatanan politik dan bagaimana pula ia meresponnya. Kedua, budaya politik

merujuk pada orientasi kolektif rakyat terhadap elemen-elemen dasar dalam sistem politiknya. Menurut Gabriel Almond (1966), budaya politik adalah pola sikap dan orientasi individu terhadap politik anggota sistem politik. Almond dan Verba (dalam Suryadinata, 1992) mengatakan bahwa kebudayaan suatu bangsa sebagai distribusi, pola-pola orientasi khusus menuju tujuan politik diantara masyarakat tersebut, yaitu tidak lain adalah pola tingkah laku individu yang berkaitan dengan kehidupan politik yang dihayati oleh para anggota suatu sistem politik. Kemudian Almond dan Verba (dalam Suryadinata, 1992) mengklasifikasikan budaya politik sebagai berikut:

a. Budaya politik parochial (parochial political culture) Budaya politik parochial biasanya terdapat dalam sistem politik tradisional yang sederhana. Dengan adanya ciri khas spesialisasi yang masih sangat kecil, pelaku politik belumlah memilki pengkhususan tugas, tetapi peranan yang satu dilakukan bersamaan dengan peranan yang lain, seperti aktifitas dan peranan pelaku politik dilakukan bersamaan dengan perannya dalam bidang ekonomi, sosial, maupun agama. b. Budaya politik subyek (subject political culture) Ciri khas budaya politik subyek adalah adanya anggota masyarakat yang mempunyai, perhatian, kesadaran terhadap sistem sebagai keseluruhan yang dapat dilihat dari adanya kebanggaan, ungkapan sikap mendukung maupun sikap bermusuhan terhadap sistem. Posisi budaya sebagai subyek bersifat pasif, karena anggota masyarakat menganggap dirinya tidak berdaya untuk mempengaruhi atau mengubah sistem. Untuk itulah, mereka menyerah begitu saja pada segala bentuk kebijaksanaan para pemegang jabatan dalam masyarakatnya. Oleh karena itu, segala keputusan yang diambil elite politik dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah, dikoreksi apalagi ditentang. Tidak ada jalan lain kecuali menerima sistem apa adanya, patuh, setia, dan mengikuti instruksi dari pemimpin (politik). c. Budaya politik partisipan (partisipan political culture) Budaya politik ini menganggap seseorang sebagai anggota aktif dalam kehidupan politik, memiliki kesadaran akan hak dan tanggung jawabnya serta dapat merealisasi dan mempergunakan hak-hak politiknya. Dengan kata lain, masyarakat dalam budaya politik partisipan tidak menerima keputusan politik

begitu saja. Ini terjadi karena masyarakat sudah sadar bahwa betapa kecilnya mereka dalam sistem politik, mereka tetap mempunyai pengaruh signifikan terhadap sistem tersebut. Oleh karena itu, masyarakat memiliki kesadaran untuk memberi totalitas, masukan, keluaran dalam sistem politik yang ada karena masyarakat diarahkan pada peran individu sebagai bagian dari aktivitas masyarakat, meskipun mereka berhak menerima maupun menolak. Penilaian terhadap budaya politik Amerika didasarkan pada faktor sejarahnya, yang mana budaya Amerika bersifat multikultural. Artinya, budaya Amerika terdiri dari beragam nilai budaya yang dibawa oleh berbagai bangsa yang datang ke wilayah itu. Berangkat dari latar belakang kehidupan sosiopolitik yang berproses secara cross cutting, George Washington menyatakan bahwa Amerika dipersatukan oleh agama, sikap, kebiasaan, dan prinsip politik yang sama. Hal itu berlangsung sampai datangnya imigran dari Jerman, Skandinavia, dan katolik Irlandia serta Yahudi. Semakin pluralnya budaya, maka semakin memunculkan kerawanan terjadinya konflik. Namun konflik tersebut dapat diselesaikan dengan akomodasi dan kompromi. Kompromi menghasilkan nilai dasar aturan main kehidupan Berkembangnya hak sipil tersebut

sosial politik yang disebut civil rights.

kemudian menjadi alasan bagi legalitas tindakan politik yang dilakukan masyarakat Amerika. Dengan kata lain, internalisasi hak-hak sipil melahirkan budaya politik partisipan di Amerika. (handout mata kuliah Politik dan Pemerintahan Amerika, 2007)

2.4.3. Perilaku Politik Pada dasarnya, perilaku politik tidak serta merta sebagai suatu hal yang berdiri sendiri, akan tetapi mengandung keterkaitan dengan hal-hal lain. Perilaku politik yang ditunjukkan oleh individu merupakan hasil pengaruh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal, yang menyangkut lingkungan alam maupun lingkungan sosial budaya. Perilaku politik dapat dirumuskan sebagai kegiatan yang berkenaan dengan proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan politik. (Subakti, 1992:131) Sastroatmodjo (1995:2) mengatakan bahwa interaksi politik antara pemerintah dan masyarakat, antarlembaga pemerintahan dan antara kelompok dan individu dalam masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksanaan, dan penegakan keputusan politik merupakan perilaku politik. Perilaku politik secara langsung maupun tidak langsung dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah: lingkungan politik secara tidak langsung, yang terjadi dari sistem politik, sistem ekonomi, sistem budaya dan media massa.(dalam Sastroatmodjo,1995:2) a. Lingkungan politik secara langsung, yaitu mempengaruhi dan membentuk kepribadian aktor politik, seperti agama, sekolah, dan kelompok pergaulan. b. Struktur kepribadian yang tercermin dalam sikap individu, yaitu terdiri dari kepentingan (minat dan kebutuhan), penyesuaian diri (keharmonisan dengan obyek) dan fungsi eksternalisasi dan pertahanan diri. c. Faktor sosial politik langsung berupa situasi yaitu keadaan yang

mempengaruhi aktor secara langsung ketika akan melakukan suatu keadaan

seperti cuaca, keadaan keluarga, ancaman dalam berbagai bentuk, suasana kelompok, keadaan ruang dan kehadiran seseorang. Faktor–faktor tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap perilaku seorang aktor politik yang notabene terjun secara langsung dalam aktivitas politik praktis, tetapi juga berpengaruh pada masyarakat yang tidak terjun secara langsung dalam aktivitas politik praktis, namun mempunyai peran dalam suatu peristiwa politik, contohnya adalah partisipasi masyarakat dalam pemilihan umum. Faktor–faktor itu berpengaruh kepada orientasi dan perilaku memilih masyarakat dalam sebuah pemilihan umum. Harrop dan Miller (1987) mengatakan bahwa studi perilaku pemilih sangat dipengaruhi oleh tiga aliran pemikiran yang kesemuanya berasal dari paradigma positivis liberal, yaitu, mazhab sosiologis yang dikembangkan oleh Columbia University Bureau Allied Social Science. Kedua adalah mazhab psikologis yang dikembangkan oleh Michigan’s Survey Research. Ketiga adalah mazhab yang penekanannya kepada pendekatan ekonomi yang dikenal dengan model Rational Choice. Ketiga pendekatan tersebut, merupakan pendekatan yang secara

konsepsional dari berbagai pandangan dan realitas yang memungkinkan lahirnya kecenderungan untuk berperilaku, khususnya dalam salah satu konteks perilaku politik, yaitu memilih dalam Pemilu. Fisben dan Ijek (1975) mengatakan bahwa perilaku selalu dipengaruhi sistem yang terdiri dari; kepercayaan (belief), sikap (attitude), maksud (intention), dan perilaku (behavior) sistem ini merupakan dasar dari aturan sistem yang menjadikannya sebagai aksen activity. Anthony Giddens (dalam Piliang, 2004) memberikan dimensi lain yang mempengaruhi perilaku

memilih, yaitu karena motivasi tak sadar (unsconsious motives), kesadaran praktis (practicalconsciousnes) dan kesadaran diskursif (discursive consciousnes). Dalam hal ini, pemilih dengan motivasi tak sadar melakukan kegiatan dalam Pemilu dengan asumsi sebagai sebuah arena pesta atau seperti suasana karnaval. Menurut Milbraith (dalam Sudijono. S, 1995), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan partisipasi politik seseorang adalah: 1) kepekaan menerima rangsangan politik yang dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, dan nilainilai, pengalaman-pengalaman, dan kepribadian; dan 2) karakteristik sosial seperti usia, status ekonomi, karakter suku, jenis kelamin dan agama atau keyakinan ketiga sifat dan sistem partai keempat perbedaan regional atau perbedaan watak dan tingkah laku individu. Miriam Budiarjo (1981) mengatakan bahwa ada empat faktor yang berpengaruh terhadap pemilih: 1) kekuasaan, yaitu cara mencapai yang diinginkan melalui sumber-sumber di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat; 2) kepentingan, yaitu tujuan yang dikejar-kejar oleh pelaku atau kelompok-kelompok politik; 3) kebijakan, yaitu hasil dari interaksi antara kekuasaan dan kepentingan yang biasanya dalam perundang-undangan; dan 4) budaya politik, yaitu orientasi subyektif individu terhadap sistem politik. Pada individu, orientasi individu terhadap obyek politik dapat dilihat dari beberapa komponen, yaitu: a. Orientasi Kognitif: pengetahuan, keyakinan b. Orientasi Afektif: perasaan terkait, keterlibatan, penolakan dan sejenisnya tentang obyek politik

c. Orientasi Evaluatif: penilaian dan opini tentang obyek politik yang biasanya melibatkan nilai-nilai standar terhadap obyek politik dan kejadian-kejadian Berdasarkan orientasinya, seorang individu memiliki tingkat akurasi tinggi terhadap cara kerja sistem politik, siapa pemimpinnya dan masalah-masalah dari kebijakannya. Inilah yang disebut dimensi kognitif. Namun individu tersebut dapat memiliki perasaan alienasi atau penolakan terhadap sistem. Hal ini dapat disebabkan karena keluarga atau sahabatnya sudah punya sikap seperti itu. Dengan kata lain, individu tersebut tak merespon tuntutan dari sistem. Itulah yang disebut dimensi afektif. Akhirnya, seseorang mungkin memiliki penilaian moral terhadap sistem. Inilah yang disebut dimensi evaluasi. Dimensi-dimensi ini

menurut Setiawan mungkin berkaitan dan memiliki kombinasi dalam berbagai cara (www.wordpress.com). Grenstein (1969) menjelaskan bahwa orientasi

memilih terkait dengan tiga fungsi sikap, yaitu: 1) sikap sebagai fungsi kepentingan, yaitu penilaian terhadap suatu obyek yang diberikan berdasarkan motivasi, minat, dan kepentingan individu bersangkutan; 2) individu bersikap tertentu sesuai keinginan individu tersebut, untuk dapat sama atau berbeda dengan tokoh panutan yang diseganinya; dan 3) fungsi sikap yang merupakan fungsi eksternalisasi dari pertahanan diri, yaitu upaya untuk mengatasi konflik batin atau tekanan psikis yang mungkin berwujud mekanisme pertahanan diri atau defence mechanism dan eksternalisasi diri seperti proyeksi, idealisasi, rasionalisasi dan identifikasi. Berangkat dari komponen kognitif, afektif dan evaluatif, kemudian muncul cara pandang terhadap perilaku pemilih yang disebut ”memilih retrospektif” atau

memilih secara memandang ke belakang.

Jika konsep memilih prospektif

menekankan pada kemampuan pemilih untuk memilih berdasarkan pada pengetahuan kognitifnya, terhadap isu-isu kebijakan, maka konsep memilih retrospektif menekankan pada kemampuan pemilih untuk memilih berdasarkan penilaiannya pada penampilan kontestan di masa yang lalu. (Mallarangeng, 1997) Konsep ini memandang bahwa kontestan atau kandidat dalam suatu rekruitmen pada masa lalu merupakan informasi yang paling valid dan efisien untuk menggambarkan janji-janjinya. Hal ini terjadi karena sebagian besar pemilih tidak memiliki pengetahuan yang memadai maupun rasa ingin tahu yang sama tentang segala isu kebijakan. Dalam hal ini, pemilih menganggap bahwa

kebijakan-kebijakan dan pengalaman-pengalaman yang mereka alami adalah hasil dari “kebijakan” atau “kebodohan” dari mereka yang berkuasa. Ini merupakan informasi yang mudah didapat karena dapat dimonitor setiap saat oleh para pemilih. Perilaku memilih retrospektif tidak ubahnya seperti memberikan ganjaran atau hukuman kepada kontestan yang sedang berkuasa. Pemilih memberikan ganjaran jika ia merasakan adanya perbaikan terhadap nasibnya dan

kepentingannya selama masa berkuasa sang kontestan. Sebaliknya, pemilih akan memberikan hukuman berupa memilih kontestan lain jika dirasakannya nasib dan kepentingannya tidak berubah atau bertambah buruk. Seperti yang dikatakan oleh Andi Sukmono Kumba (2008) bahwa peristiwa-peristiwa politik tertentu dapat mengubah preferensi pilihan seseorang. Kemampuan rakyat Amerika Serikat

untuk memberi ganjaran inilah yang menurut Rational Choice School

menunjukkan letak rasionalitas dari pemilih Amerika Serikat. Cipto (2007:44) mengatakan bahwa para pemilih Amerika Serikat kurang berminat dengan label partai sebagaimana masih menjadi pusat perhatian utama di negara-negara demokrasi baru. Dalam pendekatan pilihan rasional yang terkait dengan proses pemilihan umum, terdapat dua orientasi yang menjadi daya tarik pemilih. Orientasi tersebut adalah orientasi isu dan kandidat itu sendiri. Artinya, memang kapasitas, latar belakang dan track record seorang kandidat menjadi hal utama yang diperhatikan daripada asal partai politiknya. Indikasinya adalah dalam Primary Election yang dilakukan oleh sebuah partai politik di Amerika Serikat, ada ruang bagi konstituen suatu partai untuk menyeberang dan memberikan dukungan berupa suara kepada kandidat partai lain bila memang kandidat yang bersangkutan memiliki kapabilitas yang dapat mengakomodasi kepentingannya tanpa harus berpindah partai politik.

2.4.4. Komunikasi Politik Dan Nimmo (1989) mendefinisikan komunikasi politik sebagai kegiatan komunikasi yang berdasarkan konsekuensi-konsekuensi aktual maupun potensial yang mengatur perbuatan manusia di dalam kondisi-kondisi konflik. Roelofs (dalam Sumarno & Suhandi, 1993) mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesannya berisi politik yang mencakup masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga otoritatif).

Dari dua pendapat tersebut, komunikasi politik bisa diartikan secara singkat sebagai kegiatan komunikasi yang dilakukan melalui media komunikasi sebagai komunikator yang bertujuan untuk membentuk opini publik terhadap suatu konteks politik. Media komunikasi ini selanjutnya disebut sebagai saluran komunikasi, seperti: media massa, baik cetak maupun elektronik, dan ucapan verbal seorang aktor politik mengenai suatu konteks. Teori yang berlandaskan komunikasi politik yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengenai kampanye dan juga political marketing. Kampanye politik adalah kegiatan individual atau kelompok untuk mempengaruhi orang lain agar mau memberikan dukungan dalam bentuk suara kepada mereka dalam suatu pemilihan umum. Kampanye politik identik dengan keahlian memainkan emosi massa melalui serangkaian kalimat seorang orator. Sedangkan political marketing adalah serangkaian aktivitas terencana, strategis tapi juga taktis, berdimensi jangka panjang dan jangka pendek untuk menyebarkan makna politik pada pemilih. Tujuannya untuk membentuk dan menanamkan

harapan, sikap, keyakinan, dan orientasi perilaku memilih. Perilaku memilih yang diharapkan adalah ekspresi mendukung dengan berbagai dimensinya, khususnya menjatuhkan pilihan pada partai atau kandidat tertentu (Nursal, 2004:23). Makna yang tertanam dalam benak seseorang dipicu oleh stimulus politik baik sengaja direkayasa oleh aktor politik maupun yang tidak disengaja atau tanpa desain politik. Makna yang terjadi karena adanya stimulus politik tersebut Makna politis yang

dinamai dengan political meaning atau makna politis.

akhirnya tertanam dalam benak seseorang merupakan hasil interaksi antara dua

faktor. Pertama, kualitas dan kuantitas dari stimulus politik itu sendiri. Kedua, rujukan kognitif berupa kesadaran atau alam pikiran seseorang yang memaknainya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam political marketing adalah: 1) Political Marketing bertitik tolak dari konsep meaning, yakni meaning yang dihasilkan oleh stimulus politik berupa komunikasi politik, baik lisan maupun tulisan, baik langsung maupun tidak langsung; 2) Makna yang muncul dari

stimulus tersebut berupa persepsi yang tidak selalu mencerminkan makna yang sebenarnya, dan; 3)Persepsi terbentuk dari hasil interaksi antara stimulus dengan kesadaran kognitif atau alam pikiran manusia. Makna akibat adanya stimulus politik selanjutnya akan mempengaruhi sikap, aspirasi dan perilaku, termasuk pilihan politik. Sekelompok orang dengan latar belakang tertentu yang sama (suatu segmen yang sama) sejumlah kesamaan rujukan kognitif sehingga cenderung memberi makna yang sama terhadap stimulus tertentu. Dalam Political Marketing, makna politis tersebar di tiga lokasi. Pertama adalah makna politis yang terdapat dalam lingkungan sosial dan fisik masyarakat. Makna ini dapat berupa gagasan atau keyakinan yang bersifat abstrak seperti kebutuhan, keinginan, harapan, ataupun kepentingan untuk pengukuhan atas identitas, eksistensi dan keyakinan kelompok. Selain itu, makna tersebut juga dapat dilihat dari kebutuhan akan kemakmuran, keadilan, kecerdasan,

demokratisasi, kejujuran, moral, akhlak, dan transparansi pemerintahan. Kedua adalah produk politik. Sebuah partai atau seorang tokoh politik dapat memasarkan gagasan baru kepada pemilih. Secara umum, makna politis yang terdapat dalam

produk itu meliputi institusi partai politik atau kandidat politik dengan berbagai kelengkapannya seperti ideologi, visi, misi, platform, program, para kandidat. Ketiga adalah pemilih. Makna politis yang berlokasi pada pemilih ini merupakan serangkaian proses mengonsumsi produk politik seperti mengenakan atau memasang atribut partai, menghadiri pertemuan politik, memberi sumbangan kepada partai atau kandidat politik, menjadi sukarelawan, mempengaruhi pemilih lainnya, melakukan advokasi partai dan menjatuhkan pilihan pada hari pemilihan. Hal tersebut menunjukan afiliasi politiknya pada partai atau kandidat tersebut. Berdasarkan ketiga lokasi tersebut, maka terlihat adanya tiga lintasan transfer, yaitu: a. Dari lingkungan sosial fisik masyarakat ke produk politik b. Dari produk politik ke individual pemilih c. Dari individual pemilih ke dalam kehidupan masyarakat Political Marketing yang dilakukan oleh organisasi politik bertujuan untuk: a. Mengomunikasikan pesan-pesannya, ditargetkan atau tidak ditargetkan kepada pendukungnya dan pemilih lainnya. b. Mengembangkan kredibilitas dan kepercayaan pendukung, pemilih lain dan sumber-sumber eksternal agar mereka memberi dukungan finansial dan untuk mengembangkan dan menjaga struktur manajemen di tingkat lokal maupun nasional. c. Berinteraksi dan merespon pendukung influencers, legislator, competitor dan masyarakat umum dalam pengembangan dan pengadaptasian kebijakan-

kebijakan dan strategi, antara lain: 1) Menyampaikan kepada semua pihak yang berkepentingan atau stakeholders, melalui berbagai media informasi, saran dan kepemimpinan yang diharapkan dalam negara demokrasi; 2) Menyediakan pelatihan, sumber daya informasi dan materi-materi kampanye untuk kandidat, agen, pemasar atau aktivis partai,dan; 3) Berusaha mempengaruhi dan mendorong pemilih, media-media dan influencers penting lainnya untuk mendukung partai atau kandidat yang diajukan organisasi supaya tidak mendukung pesaing. Dalam produk politik, komponen-komponen dari masing-masing obyek (fisik, sosial, abstrak) dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu substansi dan presentasi. Presentasi dianggap sebagai bagian dari produk karena juga berperan sebagai meaning provider. Substansi produk-produk politik meliputi: a. Partai, yaitu struktur, ideologi, dan visi-misi b. Platform, program kerja, isu dan kebijakan publik c. Figur kandidat dan orang-orang yang ada kandidat, baik saat ini ataupun yang akan membantu kandidat kelak. Sedangkan medium untuk menyampaikan substansi adalah: a. Agen (orang atau institusi) b. Event (kegiatan atau peristiwa tertentu) c. Obyek (media visual, media audio, audiovisual, dan sebagainya) Efektivitas program dalam Political Marketing akan terlihat pada tingkat keberhasilan makna dari produk politis kepada pemilih. Transfer makna terjadi melalui aksi nyata pemilih melalui ritual, yakni tindakan simbolis pemilih untuk

menciptakan, menegaskan, membangkitkan, dan mendukung makna politis yang ditawarkan oleh institusi atau kandidat politik. Tindakan simbolis itu meliputi beberapa ekspresi sebagai berikut: a. Memberi pernyataan kepada lingkungan sekitar bahwa dia mendukung partai atau kandidat tertentu. b. Memiliki, mengenakan, memasang atribut partai atau kandidat tertentu, seperti kaos, bendera, lencana, dan lain-lain. c. Menghadiri pertemuan, kegiatan dan rapat umum partai atau kandidat. d. Memberi bantuan nyata kepada partai seperti sumbangan materi atau sumbangan tenaga sebagai sukarelaan partai atau kandidat tertentu. e. Melakukan persuasi kepada orang lain untuk mendukung partai atau kandidat. f. Melakukan advokasi untuk kepentingan partai atau kandidat tertentu. g. Menjadi anggota partai atau kandidat tertentu. h. Mencoblos partai atau kandidat tertentu. i. Ikut merayakan atau prihatin atas keberhasilan atau kegagalan partai atau kandidat tertentu. Faktor yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan kinerja pemasaran politik (dalam Nursal, 2004:24), yaitu: a. Pangsa suara (share of vote) b. Perolehan kursi (seats on) c. Tingkat kepuasan pemilih voter’s satisfaction) d. Tingkat kepercayaan pemilih voter’s confidence) e. Pengaruh timbal balik sengan pemilih voter’s interaction)

III. METODE PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Menurut Denzin dan Lincoln (dalam Moloeng, 2004:5) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar belakang alamiah. Hal ini dimaksudkan untuk menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2001:4) mendefinisikan metodologi penelitian kualitatif sebagai kata-kata, baik tertulis maupun lisan, dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Oleh karena itu, pendekatannya diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara holistik. Sedangkan Jane Richie (dalam Moloeng, 2004:6) menyebutkan bahwa penelitian kualitatif merupakan upaya menyajikan dunia sosial dan perspektifnya di dalam dunia, dari konsep, perilaku, persepsi dan persoalan tentang manusia yang diteliti. Tipe dari penelitian ini adalah studi pustaka. Studi pustaka merupakan bentuk penulisan yang mengandalkan intepretasi. Intepretasi ini mengacu pada referensi yang ada, yaitu data-data berupa teks yang relevan.

3.2. Pendekatan Penelitian Untuk mendapatkan pemahaman dengan landasan argumentasi yang memadai, maka pendekatan yang dipakai dalam penelitian ini adalah pendekatan hermeneutik. Moleong (2006:278) mengatakan bahwa gagasan suatu lingkaran

hermeneutik adalah dialektika antara pemahaman teks secara menyeluruh dan intepretasi dari bagian-bagiannya, yang deskripsinya diharapkan membawa makna dengan dibimbing oleh penjelasan yang diperkirakan. Dipilihnya pendekatan ini karena selain data yang digunakan adalah data sekunder berupa dokumendokumen tertulis, juga karena saya ingin memahami isi teks dengan mencari konteks dan mengkontekstualisasikannya dengan topik penelitian.

3.3. Fokus Penelitian Fokus penelitian ini terletak pada kandidasi Hillary R. Clinton dan Barack Obama dalam Democratic Primary Election 2008. Moleong (2001:21)

mengatakan bahwa ada dua tujuan dari memfokuskan penelitian, yaitu: a. Membatasi bidang studi b. Untuk memenuhi kriteria inklusi-eksklusi atau kriteria masuk-keluar (inclusion-exclusion criteria) suatu infromasi yang baru diperoleh. Dengan bimbingan dan arahan suatu fokus, seorang peneliti tahu persis data mana dan data tentang apa yang perlu dikumpulkan dan data mana yang walaupun mungkin menarik, karena tidak relevan, tidak perlu dimasukan dalam sejumlah data yang sedang dikumpulkan. Untuk penelitian ini, digunakan data tertulis, data-data yang dikumpulkan adalah berupa artikel-artikel dari internet, jurnal, dan literatur-literatur yang berhubungan dengan fokus masalah.

3.4. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian ini adalah dengan mengumpulkan data sekunder, yaitu dokumen-dokumen berupa artikel-artikel dari koran maupun internet mengenai apa yang menjadi fokus penelitian serta bukubuku atau literatur yang dapat membantu analisis data. Data-data yang

dikumpulkan dalam penelitian ini dari data yang bersifat fakta dan opini. Dalam proses analisis peneliti akan membandingkan serta menyinkronkan data berupa fakta dengan data berupa opini.

3.5. Metode Analisis Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode analisis hermeneutika Gadamerian. Dalam proses penafsiran, menurut Gadamer (dalam Raharjo, 2008:93), terjadi interaksi antara penafsir dan teks, penafsir mempertimbangkan konteks historisnya bersama dengan prasangka-prasangka sang penafsir, seperti tradisi, kepentingan praksis, bahasa, dan budaya. Dengan kata lain, sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika memperhatikan tiga hal sebagai komponen pokok dalam kegiatan penafsiran, yakni teks, konteks, dan kontekstualisasi10. (Raharjo, 2008:31) Gadamer (dalam Sumaryono, 1996:63-78) selanjutnya menjelaskan suatu model pamahaman, yaitu dialog yang akan terjadi adalah antara pembaca dengan teks, terjemahan atau pengalaman hermeneutik yang terjadi ketika seseorang

10

Analisis dalam penelitian ini berangkat dari data-data teks berupa berita tertulis, artikel, ataupun literatur. Kemudian dari data teks tersebut akan dicari konteks dari makna yang ada dalam sebuah informasi (fakta) atau ungkapan dari seeorang. Makna tersebut lalu akan dikontekstualisasikan dengan apa yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini.

melakukan penerjemahan teks asing dalam bahasanya sendiri.

Dialektika

pertanyaan dan jawaban yang tak terelakan muncul pada saat dialog dan meleburnya cakrawala atau proses pertemuan cakrawala pembaca dengan teks.

3.6. Keabsahan Data Dalam setiap penelitian, diperlukan sebuah standar untuk melihat derajat kepercayaan atau kebenaran terhadap hasil penelitian tersebut. Dalam penelitian kualitatif, derajat penelitian itu disebut dengan keabsahan data. Keabsahan data dalam penelitian ini ditempuh melalui teknik koroborasi. Koroborasi adalah

bagian utama yang kompleks dari metode penelitian kesejarahan dan studi pustaka. Teknik ini dilakukan dengan membandingkan antara dua atau lebih sumber untuk menentukan masalah atau bukti-bukti yang kontradiktif11. (Mestika, 2004:75)

3.7. Sistematika Penulisan Penulisan tugas akhir (skripsi) ini terdiri dari 7 (tujuh) bab. Tiap bab terdiri sub-sub bab yang akan mendukung penjelasan masing-masing bab secara keseluruhan. Keseluruhan bab akan saling berhubungan antara satu bab dengan bab lainnya. Dalam bab I (Pendahuluan), saya mengemukakan topik mengenai demokrasi di Amerika Serikat yang terbentuk dari semangat kebebasan dari kaum

11

Dalam hal ini sumber data perlu dikoroborasikan (secara harfiah: bukti penguat) dengan melakukan konfirmasi dengan fakta sejarah atau ilmiah lainnya. Caranya adalah dengan membandingkan antara data penelitian dengan literatur-literatur pustaka lainnya, baik yang mendukung maupun yang berlawanan sehingga di dapat keabsahan data.

puritan serta keragaman dari bangsa-bangsa lain yang berdatangan ke Amerika. Dalam pelaksanaan demokrasi di Amerika, terdapat sistem pemilihan umum yang salah satu fungsinya - untuk menentukan siapa yang menjadi Presiden Amerika. Di dalam sistem pemilihan umum Amerika, terdapat mekanisme

Primary Election yang dilakukan oleh tiap partai politik untuk menentukan kandidat calon presiden dari partai tersebut. Berangkat dari topik tersebut serta dengan melihat fenomena yang ada, maka saya merumuskan suatu permasalahan yang berkaitan dengan fenomena yang terjadi dalam Democratic Primary Election tahun 2008, yaitu mengenai kandidasi yang terjadi antara Hillary R. Clinton dan Barack Obama. Berdasarkan pengamatan saya, saya melihat kandidasi antara keduanya tidak hanya sebatas persaingan strategi politik akan tetapi juga terdapat pertentangan nilai. Pertentangan nilai yang terjadi sangat menarik untuk dikaji karena menyinggung nilai-nilai sakral dalam budaya Amerika yang multikultural. Pertentangan nilai ini salah satunya terlihat pada perbedaan identitas antara keduanya, contohnya jenis kelamin, usia, dan warna kulit. Pergerakan politik antara keduanya juga tidak lepas dari kepentingan yang merupakan representasi keterwakilan dari kelompok yang sesuai dengan identitas Hillary ataupun Obama. Pada bab II Tinjauan Pustaka saya mengeksplorasi konsep dan teori-teori yang dapat membantu saya dalam menganalisis data yang saya kumpulkan. Eksplorasi teori dan konsep tersebut disesuaikan dengan kebutuhannya terhadap pembatasan masalah yang difokuskan pada bab I (Pendahuluan), dan digunakan untuk mendukung eksplorasi, pemaparan dan analisis pada bab-bab

pembahasannya. Artinya, saya menggunakan teori-teori dan konsep-konsep pada

bab II sebagai alat bantu analisis data dan bukan sebagai dasar atau acuan penelitian. Teori yang saya pakai dalam penelitian ini adalah teori mengenai budaya politik, perilaku politik, serta komunikasi politik. Selain itu, saya juga menjelaskan beberapa konsep yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu konsep mengenai multikulturalisme, demokrasi, pemilihan umum di Amerika serta Primary Election. Pada bab III (Metode Penelitan), saya menentukan metode apa yang saya pakai dalam penelitian ini. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, karena penelitian ini berdasarkan fenomena yang terjadi dalam dan bukan berdasarkan sebuah teori. Dalam bab ini, saya

menjelaskan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan metode dalam penelitian ini, khususnya mengenai jenis penelitian, pendekatan penelitian, teknik pengumpulan dan jenis data serta metode analisis data. Pendekatan penelitian yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan hermeneutik. Pada bab IV (Democratic Primary Election di Amerika tahun 2008), saya akan membahas mengenai serba-serbi dari Democratic Primary Election. Saya mengawali pembahasannya dengan memberikan gambaran umum mengenai Democratic Primary Election, serta isu-isu strategis yang muncul pada Democratic Primary Election 2008 sampai dengan kemunculan Hillary dan Obama sebagai dua orang kandidat calon presiden dari Partai Demokrat. Selanjutnya, saya menjelaskan perbedaan antara Hillary dan Obama dalam kerangka multikulturalisme.

Pada bab V (Kandidat Peserta Democratic Primary Election 2008 dan Masyarakat Amerika), saya akan mendeskripsikan tentang latar belakang Hillary dan Obama sebagai kandidat calon presiden dari Partai Demokrat. Setelah itu, latar belakang keduanya dikaitkan dengan pembahasan tentang kaum perempuan dan kaum Amerika-Afrika sebagai kelompok di Amerika yang direpresentasikan oleh Hillary dan Obama. Selanjutnya, saya menjelaskan mengenai demokrasi dan masyarakat Amerika. Dalam penjelasan ini, saya mencoba untuk mengeksplorasi keterkaitan demokrasi dengan keberagaman masyarakat Amerika, yaitu dengan memberi penjelasan bahwa demokrasi merupakan sebuah jalan bagi masyarakat Amerika untuk mencapai sebuah kesetaraan dalam hal life, liberty dan the pursuit of happiness. Pembahasan selanjutnya adalah mengenai nilai budaya Amerika yang terbentuk dari proses akulturasi antara berbagai macam budaya yang ada di Amerika, nilai-nilai budaya tersebut berpengaruh terhadap proses politik di Amerika. Pada bab VI (Kandidasi antara Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election 2008), saya akan memfokuskan pembahasan pada proses kandidasi antara Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election tahun 2008. Eksplorasi mengenai proses kandidasi ini akan dibenturkan dengan aspek pertentangan yang sudah dijelaskan pada bab IV. Berangkat dari eksplorasi

mengenai proses kandidasi antara Hillary dan Obama, saya akan mengeksplorasi lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhi kemenangan Obama dalam Democratic Primary Election tahun 2008 sehingga Obama berhak mewakili partai Demokrat dalam pemilihan umum presiden Amerika Serikat periode 2008-2012.

Pada bab VII (penutup) yang merupakan bab terakhir, saya akan menarik sebuah kesimpulan yang diambil dari penjelasan pada bab-bab sebelumnya. Kesimpulan yang akan diambil akan dikontekskan pada rumusan permasalahan yang telah dijelaskan pada bab I. Selain itu, saya juga akan menjelaskan tentang implikasi yang diharapkan dengan penelitian ini.

IV. DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION DI AMERIKA TAHUN 2008
4.1. Democratic Primary Election Primary election menjadi piranti pilihan utama untuk menentukan calon presiden Amerika sejak awal abad ke-20, termasuk bagi Partai Demokrat. Democratic Primary Election digunakan untuk memilih super delegates yang berhak hadir dan punya hak pilih pada konvensi partai Demokrat. Dengan

demikian, kandidat calon presiden dari Partai Demokrat akan berusaha sekuat mungkin untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya anggota super delegates yang tersedia, yaitu sebanding dengan jumlah anggota senat dan House of Representative. Kemudian pada konvensi Partai Demokrat, anggota super Democratic Primary

delegates itu memilih dan menetapkan calon presiden.

Election pada hakikatnya memberikan kesempatan yang banyak kepada konstituen untuk menetapkan siapa saja yang disukainya sebagai calon presiden. Oleh karena itu, setiap kandidat calon presiden akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan Primary Election, yang pada gilirannya akan memenangkan pencalonan pada konvensi partai. Untuk berhasil memenangkan Democratic

Primary Election, seorang kandidat harus mengantongi minimal 2.117 suara delegates dari total 4.233 suara delegates termasuk di dalamnya 796 anggota super delegates. Dalam pelaksanaannya pun, seorang kandidat yang kalah dalam pemilihan atau mundur sebelum pemilihan berakhir juga dapat menyerahkan suaranya kepada kandidat lainnya. Hal ini biasa disebut dengan pledged

delegates. Dengan menyerahkan suara yang diperolehnya kepada kandidat lain,

secara tidak langsung kandidat tersebut menyatakan dukungannya kepada kandidat yang diberi suara12. Proses Democratic Primary Election dimulai dengan pengajuan kandidat calon presiden. Untuk mengurangi intervensi partai, kandidat yang ingin

mengajukan diri berhak untuk membentuk tim kampanyenya sendiri. Perekrutan tim kampanye dari tiap kandidat pun dilakukan secara bebas, artinya tidak harus anggota dari Partai Demokrat. Penentuan ini diserahkan sepenuhnya kepada para kandidat. Dana kampanye pun didapatkan secara mandiri, dengan mencari

donasi-donasi lewat surat, email, situs kampanye, maupun lewat situs jejaring sosial seperti facebook, myspace, atau friendster. Selain itu syarat untuk menjadi seorang Presiden Amerika sesuai dengan apa yang tertuang dalam The US Constitution, Article II Section 1, yang menjelaskan bahwa seorang calon Presiden Amerika haruslah seorang warga Amerika yang lahir di Amerika dan berusia minimal 35 tahun, serta sudah tinggal menetap di Amerika selama minimal 14 tahun. Proses Primary Election pertama kali dilaksanakan di IOWA pada bulan Januari, atau yang disebut sebagai Early Primary. Selanjutnya, Primary Election di negara bagian New Hamsphire, Michigan, Nevada, South Carolina, dan Florida, masing-masing pada waktu yang berbeda. Pertarungan dalam primary

Dalam memberikan suaranya kepada kandidat lain memalui mekanisme endorsed (mendukung). Seorang kandidat tidak perlu mengonfirmasi kepada konstituennya. Di satu sisi memang ini diragukan legitimasinya. Namun dengan tidak adanya protes dari konstituen seorang kandidat yang memberikan suaranya kepada kandidat lain, maka dapat dilihat bahwa konstituen sudah bisa berpikir dewasa dalam merespon dan mendukung keputusan politik dari kandidat yang dipilihnya.

12

election yang menarik adalah pada saat Super Tuesday13. Super Tuesday oleh beberapa negara bagian dan beberapa distrik tambahan, yaitu Alabama, Alaska, Arizona, Arkansas, California, Colorado, Connecticut, Delaware,Georgia, Idaho, Illinois, Kansas, Massachusetts, Minnesota, Missouri, New Jersey, New Mexico, New York, North Dakota, Oklahoma, Tennesse, dan Utah. Sedangkan untuk distrik tambahan yaitu American Samoa dan Democrats Abroad. Super Tuesday ini merupakan battle ground yang paling melelahkan. Selain karena semua

negara bagian peserta Super Tuesday merupakan basis Partai Republik, tiap kandidat juga harus benar-benar jeli melihat wilayah mana yang harus atau tidak perlu untuk kampanye. Peta kekuatan dari tiap kandidat dalam Democratic

Primary Election pun akan terlihat dari hasil yang diperoleh dalam Super Tuesday. Bahkan, sejak tahun 1970-an, bakal calon presiden yang akhirnya akan mewakili Partai Demokrat sudah dapat diketahui namanya sebelum konvensi dimulai, karena kandidat berhasil mengumpulkan mayoritas delegates sebelum Primary Election berakhir. Akibatnya, konvensi pada umumnya hanya menjadi sebuah acara perayaan. Bagian yang menarik dari konvensi adalah pidato

pembukaan dari pimpinan partai, pembacaan perolehan delegasi, pengumuman pemenang dan ratifikasi partai yang turut menyatakan posisi partai dan sejumlah isu strategis.

13

Super Tuesday pertama kali diadakan pada tahun 1988 di 14 negara bagian yang terletak di Selatan AS. Latar belakang munculnya Super Tuesday dan alokasi delegasi konvensi itu adalah keinginan dari negara-negara bagian di Selatan lebih berperan dalam proses pemilihan presiden dan dimaksudkan untuk menarik lebih banyak kaum konservatif yang umumnya berdomisili di Selatan dan Midwest untuk berpartisipasi dalam proses pilpres yang diharapkan selanjutnya dapat memberi warna atau nuansa politik dari capres cawapres yang terpilih pada konvensi. Dikutip dari Mohsin, Aiyub. “Super Tuesday: Meratakan Jalan Bagi Capres AS”. www.epajak.com.

4.2. Isu-Isu Strategis dalam Democratic Primary Election 2008 Isu-isu strategis yang muncul sepanjang proses Democratic Primary Election pada tahun 2008 tidak lepas dari krisis yang dialami oleh Amerika Serikat pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush, terutama pada periode kedua dari kepemimpinannya, yaitu tahun 2004-2008. Krisis yang ditimbulkan oleh kepemimpinan George W. Bush tersebut tidak lepas dari kurang tepatnya kebijakan dalam maupun luar negeri yang dikeluarkan oleh Presiden George W. Bush. Salah satu kebijakan luar negeri yang berdampak pada munculnya krisis di Amerika Serikat adalah kebijakan untuk menginvansi Irak. Jika dicermati, kebijakan mengivasi Irak adalah reaksi dari George W. Bush atas serangan teroris terhadap gedung WTC pada 11 September 2000. Serangan ke Irak yang berakibat pada runtuhnya rezim Saddam Husein memancing berbagai reaksi dunia terhadap wajah Amerika. Sentimen anti

Amerika bergejolak di berbagai negara di dunia. Hal ini secara otomatis membuat coreng tebal wajah Amerika di mata dunia. Di sisi lain, tragedi 11 September tersebut membuat masyarakat Amerika berpikir bahwa mereka membutuhkan sebuah pengamanan ekstra dari tindakan-tindakan brutal para teroris.

Pengamanan tersebut bukan dengan melakukan serangan balik ke negara-negara yang diduga sebagai sarang teoris, tetapi dengan melakukan apa memperkuat posisi tawar Amerika dengan diplomasi. Hal ini terjadi karena serangan balik dianggap semakin memperuncing sentimen anti Amerika dan secara otomatis masyarakat Amerika akan selalu diselimuti rasa takut akan serangan teroris. Berawal dari situ, pada Democratic Primary Election tahun 2008, masyarakat

Amerika, khususnya konstituen Partai Demokrat, berharap banyak bahwa kandidat calon presiden dari Partai Demokrat dapat menawarkan solusi jitu guna menyelesaikan permasalahan tersebut. Selain kebijakan invasi Irak, kebijakan ekonomi presiden George W. Bush yang tidak populis dan hanya menguntungkan beberapa kelompok mengakibatkan munculnya krisis moneter di Amerika. Krisis ini berdampak pada anjloknya nilai dollar, tingginya pajak, serta collaps-nya beberapa bank dan lembaga ekonomi sehingga pemerintah harus mengeluarkan kebijakan berupa paket bantuan ekonomi. Krisis ekonomi ini sangat terasa bagi masyarakat Amerika yang

berpenghasilan menengah ke bawah, khususnya masalah pajak. Tingginya nilai pajak sebagai impact dari krisis moneter yang menerpa Amerika menjadi salah satu isu sentral di Amerika pada akhir-akhir kepemimpinan George W. Bush. Tidak hanya permasalahan pajak, krisis ekonomi yang dialami Amerika juga berpengaruh terhadap kemampuan masyarakat Amerika menengah ke bawah untuk memenuhi perawatan kesehatan dan sekolah anak-anak mereka. Perawatan kesehatan yang terjangkau adalah salah satu mimpi dari masyarakat Amerika, tetapi untuk mewujudkan tersebut dalam kondisi ekonomi yang collaps agaknya sulit untuk terpenuhi. Isu mengenai kebijakan luar negeri dan juga ekonomi kemudian menjadi isu strategis yang sering muncul dan dibicarakan dalam proses Democratic Primary Election pada tahun 2008, sebab – seperti yang sudah dijelaskan - kedua isu tersebut secara tidak langsung berpengaruh terhadap isu-isu lainnya, seperti kemanan dan kesehatan. Bahkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Pew

Research Center terhadap mayarakat kulit putih, kaum Amerika-Afrika dan kaum Hispanic menempatkan permasalahan ekonomi, perang Irak dan perawatan kesehatan sebagai permasalahan utama yang menjadi isu strategis dalam Democrartic Primary Election tahun 2008 (www.pewhispanic.com). Sebagai isu strategis. Ketiga isu tersebut secara umum menjadi isu yang menjadi orientasi Partai Demokrat pada pemilihan umum presiden Amerika pada bulan November 2008. Selain isu-isu yang berorientasi pada kebijakan dalam Democratic Primary Election 2008, juga terdapat isu yang sangat penting untuk direspon oleh masyarakat Amerika. Isu tersebut adalah mengenai demokrasi yang merupakan dasar dan landasan Amerika Serikat sebagai sebuah negara. Kemunculan isu Demokrasi tidak lepas dari munculnya Hillary dan Obama sebagai dua kandidat calon presiden yang masing-masing mewakili identitas yang berbeda. Identitas tersebut merupakan representasi dari dua kelompok minoritas yang ada di Amerika, yaitu kaum perempuan dan kaum Amerika-Afrika. Keterkaitan isu

demokrasi dan munculnya Hillary dan Obama adalah pada titik bahwa kemunculan Hilllary dan Obama merupakan sebuah test-case terhadap demokrasi di wilayah internal Amerika. Ini bisa dikatakan sebuah test-case terhadap

demokrasi di Amerika karena selama ini Amerika merupakan negara super power yang selalu mengampanyekan demokrasi di berbagai negara di dunia, seperti invasi Amerika ke Irak dengan membawa isu demokratisasi. Dengan demikian Amerika dituntut untuk lebih demokratis di wilayah internalnya terutama dalam memandang Hillary dan Obama sebagai perempuan dan orang Amerika-Afrika

yang memiliki sejarah kelam dalam perjuangan meraih kesetaraan. Hal ini terjadi karena isu mengenai perbedaan ras dan isu gender pun menjadi isu-isu yang cukup hangat untuk dalam proses Democratic Primary Election 2008. Bahkan isu mengenai ras dan gender menjadi salah satu senjata untuk menyerang sesama kandidat. Misalnya, seperti yang dikatakan oleh Geraldine Ferraro bahwa Obama menjadi salah satu kandidat kuat dalam Democratic Primary Election adalah karena dia berkulit hitam. Selanjutnya, Geraldine Ferraro juga mengatakan bahwa Obama tidak akan diperhitungkan jika dia berkulit putih dan perempuan (www.FOXnews.com). Dari pernyataan Geraldine Ferraro tersebut, bisa dilihat bahwa pernyataan tersebut berbau rasisme dan menyinggung isu gender. Isu mengenai gender sangat terlihat dari penjelasan bahwa Obama tidak akan menjadi kandidat kuat jika dia perempuan. Pernyataan ini sekaligus mendeskriditkan Selain itu,

Hillary yang merupakan representasi dari kaum perempuan.

beredarnya video melalui internet mengenai pernyataan seorang pendeta AmerikaAfrika bernama Jeremiah Wright yang menyudutkan masyarakat Amerika juga menjadi kontroversi sekaligus menghangatkan isu ras dalam Democratic Primary Election 2008 (www.abcnews.com). Isu ini semakin hangat ketika Jeremiah Sinisme yang

menyatakan bahwa Obama tak jauh berbeda dengannya.

dilontarkan Jeremiah dalam video tersebut dikatakan sebagai representasi dari pandangan dan pemikiran kaum Amerika-Afrika, termasuk Obama. Isu-isu yang dilontarkan Geraldine Ferraro maupun Jeremiah Wright kemudian menjadi salah satu senjata bagi tim kampanye kedua kandidat untuk saling menyerang. Terlepas dari hal itu, paling tidak, isu-isu mengenai keberagaman tersebut menjelaskan

bahwa perbedaan identitas menjadi salah satu faktor penting dalam proses kandidasi pada Democratic Primary Election 2008.

4.3. Kemunculan Dua Kandidat yang Berbeda Dalam tulisannya yang berjudul “Pemilihan As yang Berubah” Daniel Gotoff (2008:19) mengatakan bahwa pada bulan Oktober 2006 publik Amerika lebih mempercayai Partai Demokrat untuk menyelesaikan permasalahan Irak dan keamanan mereka terhadap serangan teroris ketimbang Partai Republik. Perbandingan dari tingkat kepercayaan tersebut adalah 44 persen untuk Partai Demokrat dan 37 persen untuk Partai Republik. Kecenderungan dari

dipercayainya Partai Demokrat lagi-lagi dikarenakan publik Amerika melalukan evaluasi terhadap kebijakan yang dilakukan oleh Presiden Geroge W. Bush sepanjang dua periode kepemimpinannya, yaitu sejak tahun 2000 sampai dengan 2008. Kecenderungan untuk lebih mempercayai Partai Demokrat kemudian terlihat dalam proses Democratic Primary Election tahun 2008. Masyarakat

Amerika lebih menyoroti kandidat calon presiden yang muncul dalam Democratic Primary Election daripada kandidat calon presiden dari Partai Republik. Bagi konstituen Partai Demokrat, Primary Election adalah langkah awal untuk memperbaiki kondisi Amerika, sehingga konstituen Partai Demokrat harus benarbenar jeli dalam melihat dan menentukan pilihannya. Kemunculan Hillary R. Clinton dan Obama dalam Democratic Primary Election menjadi tren positif terhadap terbukanya sebuah celah untuk memperbaiki kondisi Amerika. Baik

Hillary maupun Obama, sama-sama diperkirakan akan menjadi calon kuat dalam Democratic Primary Election tahun 2008. Sebagai kandidat calon presiden yang cukup diperhitungkan dalam penjaringan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary dan Obama merupakan representasi dari golongan yang berbeda dalam masyarakat Amerika. Secara garis besar, kedua calon tersebut merepresentasikan beberapa hal, yaitu Hillary merepresentasikan kaum perempuan, Anglo-Saxon dan juga old generation dalam politik dan pemerintahan Amerika; sedangkan Obama merepresentasikan hal yang menjadi kebalikan dari apa yang direpresentasikan oleh Hillary, yaitu merepresentasikan kaum laki-laki, etnis Amerika-Afrika, dan youth generation dalam politik dan pemerintahan Amerika. Jenis kelamin, ras dan generasi,

merupakan hal yang menarik untuk dipertentangkan dalam konteks , yang turut berbicara soal ras dan jenis kelamin, serta usia dalam konteks politik Amerika. Pertentangan ini pun begitu signifikan mempengaruhi proses kandidasi antara Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election 2008. demikian? Mengapa

Sebab, dalam negara multikultur seperti Amerika, representasi

kelompok dalam intitusi pemerintah, seperti senat ataupun presiden merupakan hal yang sangat penting. Dengan terepresentasikannya suatu kelompok melalui identitasnya di institusi pemerintah, tentunya diharapkan dapat mengartikulasikan kepentingan kelompok tersebut. Sebagai contoh, kelompok lesbian di Amerika berusaha menempatkan wakilnya di legislatif, agar wakilnya tersebut dapat mempengaruhi kebijakan yang berkaitan dengan orientasi seksual pada sesama jenis (Ahdiati, 2007). Selain itu representasi kelompok dalam konteks politik bisa

dibilang sebagai cara modern dalam menyampaikan aspirasi dalam sistem demokrasi perwakilan, khususnya bagi golongan minoritas pada suatu masyarakat seperti Amerika.

4.3.1. Perempuan dan laki-laki: Kontestasi Kelas dalam Pemilihan Umum Dalam perdebatan mengenai perempuan dan laki-laki, ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi pertanyaan, misalnya pertanyaan mengenai mengapa mereka berbeda? letak perbedaannya? Secara natural, mereka memang

dibedakan secara biologis dalam hal jenis kelamin yang terepresentasi pada bentuknya yang berbeda. Sedangkan jika dilihat dari segi fungsinya sebagai alat reproduksi, alat kelamin perempuan dan laki-laki akan berfungsi sebagaimana mestinya jika keduanya disatukan, atau keduanya saling melengkapi. Dalam

sudut pandang ini perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidak dapat dibantah. Sedangkan pada konsep nurture yang berbicara soal peran perempuan dan lakilaki, tentunya perbedaan peran antara keduanya dapat diperdebatkan atau dirubah. Dalam sejarahnya, perempuan pernah mengalami sebuah masa keemasan yang disebut dengan the Era of the Great Mother. Pada masa ini perempuan didewakan dalam hal kehidupan beragama sehingga mempunyai porsi besar untuk mengawasi kehidupan sosial suatu suku atau kelompok. Mengapa demikian? Karena perempuan diangap sebagai sumber kehidupan serta mempunyai peran penting dalam keberlanjutan kehidupan manusia serta lingkungannya. Masa

keemasan ini berlangsung sampai dengan runtuhnya the Era of the Great Mother dan melahirkan the Patriarchal Rules.

Dalam tradisi Kristiani, runtuhnya the Era of the Great Mother dan lahirnya the Patriarchal Rules menyebabkan terjadinya pergantian posisi antara perempuan dan laki-laki. Laki-laki yang sebelumnya tidak superior kemudian berada dalam posisi yang superior dibandingkan dengan perempuan. Superioritas laki-laki atas perempuan ini tidak hanya berada dalam lingkup keluarga, akan tetapi laki-laki juga selalu menempati tempat teratas di gereja maupun pada berbagai posisi di masyarakat. Dengan kata lain, tradisi Kristiani yang muncul setelah runtuhnya the Era of Great Mother telah menempatkan perempuan sebagai kelas kedua dengan posisi yang subordinat, di bawah laki-laki. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Zimmerman dan Cervantes (dalam de Riencourt, 1974:147), bahwa “From the start, Christian teaching made it plan that women should be highly respected as mothers –mulier tota in utero - but placed them in a subordinate position.” (Sejak awal, ajaran Kristiani menandaskan bahwa kaum perempuan seharusnya benar-benar dihormati sebagai ibu - ….. - tetapi menempatkan mereka dalam posisi yang lebih rendah. Untuk itu, jika doktrin atau ajaran agama yang menempatkan perempuan dalam posisi yang subordinat ditelan mentah-mentah, maka akan sulit sekali mencari ruang bagi perempuan untuk keluar dari praktik-praktik penderitaan (misogyny) yang salah satunya hanya terbelenggu di ruang domestik di mana hak-haknya telah dibatasi. Dengan demikian, kaum laki-laki pun akan semakin kuat posisinya untuk berkuasa diranah publik dibandingkan dengan kaum perempuan. Amerika Serikat merupakan negara yang berdiri dengan landasan ajaran agama yang cukup kuat. Bukan hanya dalam konteks agama itu sendiri atau

kebudayaan dalam masyarakat Amerika, tetapi ajaran agama juga memberi pengaruh sampai ke dalam kehidupan politik Amerika. Hal ini terjadi karena budaya politik Amerika mau tidak mau telah dipengaruhi oleh budaya masyarakat Amerika yang di dalamnya terdapat ajaran agama yang dianut oleh masyarakat Amerika. Ajaran puritan, yaitu ajaran Kristen Protestan yang merujuk pada ajaran Anglican Curch14, merupakan ajaran agama yang mempengaruhi berbagai bidang kehidupan mayarakat di Amerika. Untuk itulah, banyak nilai-nilai dari ajaran puritan yang turut mempengaruhi hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat Amerika. Hal ini terlihat dari karakteristik masyarakat Amerika yang religius karena senantiasa membaca dan mempelajari Bible. Seperti yang dikatakan oleh Amaury de Riencourt (1974:262) bahwa: “The Protestant ideal was a thoroughly religious home and private Bible Reading; and the endless pounding of biblical themes, with their raw Hebraic patriarchalism, was well calculated to instill in women subtle but effective inferiority complex vis-à-vis the male.” (Idealitas protestan secara menyeluruh adalah rumah yang religius dan mempelajari injil secara pribadi; dan penggunaan tema-tema injilitas secara terus-menerus, dengan patriakri mereka yang matang, diperhitungkan untuk bangkit dalam kerumitan inferioritas kaum perempuan yang halus namun efektif sebagai lawan dari kaum laki-laki.) Berdasarkan kutipan diatas, dapat dilihat bahwa dengan sering mempelajari Bible, yang di dalamnya terdapat nilai-nilai patriarki berupa tuntutan kepada perempuan agar patuh pada suaminya, maka semakin menenggelamkan perempuan dalam posisi inferior. Di Amerika, kondisi tersebut sudah ada sejak awal proses

pembentukan negara Amerika atau yang disebut dengan Early America. Hal ini

14

Salah satu gereja di Inggris yang menganut ajaran Calvinis. Ajaran ini menentang ajaran Kristen Roma dan kemudian melahirkan ajaran Kristen Protestan.

sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sinclair (dalam de Riencourt, 1974:263) tentang kondisi perempuan pada masa early America, yaitu: “... American women were almost treated like Negro slaves, inside and outside the home. Both were expected to behave deference and obedience towards owner or husband; both did not exist officially under the law; both had few rights and little education; both found it difficult to run away; both worked for their masters without pay; both had to breed on command, and to nurse the results.” (... wanita di Perempuan Amerika diperlakukan hampir sama dengan budak-budak Negro, di dalam dan diluar rumah. Keduanya diharuskan untuk patuh terhadap majikan atau suami, diharapkan dapat menunjukkan rasa hormat dan kepatuhan kepada sang pemilik ataupun sang suami; keduanya tidak tampak secara hukum, sama tidak berharganya di mata hukum; keduanya hanya memiliki sedikit hak yang sedikit dan pedidikan, pendidikan yang rendah; keduanya benar-benar kesulitan sulit untuk melarikan diri, keduanya bekerja untuk majikannya masing-masing tanpa bayaran dibayar; keduanya harus bekerja patuh pada sesuai dengan perintah, dan merawat hasil-hasilnya.) Bahkan hingga kini, nilai-nilai patriarki pun masih ada di Amerika. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pro dan kontra seputar pencalonan Hillary Clinton sebagai kandidat calon presiden dari Partai Demokrat. Meskipun pada awalnya Hillary sempat diunggulkan, akan tetapi lama-kelamaan kalah populer dari lawan politiknya sesama kandidat calon presiden dari Partai Demokrat, yaitu Barack Obama yang berjenis kelamin laki-laki. Namun demikian tidak berarti bahwa seorang perempuan kalah dalam segala hal dibanding laki-laki. Thomas Huxley (dalam de Riencourt, 1974:232) mengatakan bahwa: “Without seeing any reason to believe that women are, one of the average, so strong physically, intellectually, or morally as men, I cannot shut my eyes to the fact that many woman are much better endowed in all these respects than many men, and I am at a loss to understand on what grounds of justice or public policy a career which is opened to the weakest and most foolish of the male sex should be forcibly closed to women of vigor and capacity.”

(Tanpa melihat alasan apapun untuk percaya bahwa wanita perempuan, salah satu yang diyakini, sangat kuat secara psikis, intelektual dan moral seperti laki-laki, saya tak dapat menutupkan mata pada kenyataan bahwa banyak perempuan lebih banyak dihargai di semua sisi penghormatan ini dibandingkan dengan kebanyakan laki-laki, dan saya tidak (habis) mengerti, atas dasar keadilan dan kebijakan publik yang seperti apa sebuah karir yang terbuka bagi seseorang dari jenis kelamin laki-laki yang paling lemah dan paling bodoh harus dipaksakan tertutup bagi kaum perempuan dengan kekuatan dan kapasitasnya.) Jika kita melihat penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada Agustus 2008 yang berjudul “Men And Woman: Who’s The Better Leader, A Paradox In Public Attitude” (www.pewresearchcenter.com), kita akan melihat bahwa perempuan juga dapat mengungguli laki-laki dalam beberapa hal. Hal ini sekaligus dapat membenarkan pendapat dari Thomas Huxley. Meskipun pada akhirnya, penelitian tersebut menyimpulkan bahwa laki-laki lebih baik untuk menjadi pemimpin dalam kehidupan politik daripada perempuan. Memang, jika melihat sejarah politik Amerika, pencalonan laki-laki untuk mengisi jabatan publik dalam suatu institusi pemerintahan tidak pernah mendapatkan permasalahan atau pertentangan kecuali untuk kasus yang menimpa kelompok Amerika-Afrika atau kelompok minoritas lainnya yang pernah mengalami diskriminasi rasial. Sebaliknya, kondisi yang berbeda dialami oleh kaum perempuan di Amerika. Untuk mendapatkan sebuah hak pilih saja,

perempuan Amerika harus melewati proses perjuangan yang cukup lama dan melelahkan. Jika kita menghitung rentang waktu dari dicetuskannya deklarasi kemerdekaan - yang notabene berbicara soal equality - pada tahun 1776 sampai dengan amandemen ke-19 dari Konstitusi Amerika pada tahun 1920 tentang hak pilih bagi perempuan, maka dibutuhkan waktu sekitar 144 tahun atau lebih dari

satu abad dalam mewujudkan hak politik bagi perempuan. Hal ini belum dihitung dengan diskriminasi yang dialami oleh kaum perempuan pada masa sebelum deklarasi kemerdekaan, mungkin bisa mencapai puluhan abad lamanya. Pertentangan antara Hillary dan Obama yang terkait dengan pertarungan antara perempuan dan laki-laki, akan mengarah pada sebuah pertarungan nilai dan konstruksi yang dibangun oleh sejarah di masa lalu. Meskipun pada abad 21 ini masyarakat Amerika lebih berpikiran dewasa dan modern, serta menganggap bahwa budaya patriarki telah runtuh, namun jika dihadapkan pada sebuah pilihan yang besar seperti pemilihan presiden, tentunya tidak menutup kemungkinan bahwa faktor jenis kelamin pun dapat sangat menentukan. Selain itu, ada

faktorlainnya yang mewarnai pertarungan tersebut, misalnya: Obama memang laki-laki, namun demikian Obama tetap merupakan keturunan kaum AmerikaAfrika yang juga mempunyai sejarah kelam dalam sejarah Amerika.

4.3.2. The Anglo-Saxon15 dan Kaum Amerika-Afrika: Perbedaan dalam Sejarah Dalam sebuah masyarakat, identitas merupakan hal yang sangat penting. Pergulatan sebuah kelompok masyarakat dalam mencari identitas sampai dengan menunjukan identitas tersebut kepada kelompok masyarakat lainnya sebagai salah satu bentuk eksistensi, menjadi sebuah kebutuhan agar kelompok masyarakat tersebut tidak teralienasi oleh kelompok masyarakat lain yang lebih besar. Di Amerika yang notebene disebut sebagai negara multikultur, terdapat banyak

15

Masyarakat keturunan Inggris yang bermigrasi dan menetap Amerika. Dalam perkembangannya the Anglo-Saxon menjadi masyarakat mayoritas dengan jumlah terbesar di Amerika sampai saat ini.

kelompok masyarakat yang ingin terepresentasi agar kepentingannya dapat terakomodasi, salah satunya adalah kelompok Amerika-Afrika. Sebagai salah satu etnis minoritas di Amerika, tentunya kaum AmerikaAfrika ingin agar kepentingannya dapat terartikulasi dengan baik. Mengingat sejarah kelam dan panjang yang dimiliki oleh kaum Amerika-Afrika untuk dapat lepas dari jerat perbudakan dan mendapat status kewarganegaraan serta hak politik melalui statuta hukum, seperti yang tertulis pada dalam Amandemen ke13, ke-14 dan ke-15 dari Konstitusi Amerika. Meski sudah diakui melalui

undang-undang, kehidupan kaum Amerika-Afrika tidak serta merta berubah, masih banyak praktik diskriminasi yang mereka dapatkan dari warga kulit putih yang berasal dari ras Anglo-Saxon. Anglo-Saxon merupakan sebuah ras yang memang dominan dan menempati strata tertinggi struktur masyarakat Amerika. Hal ini terbukti dengan adanya klasifikasi masyarakat Amerika konsep White Anglo-Saxon Protestan (WASP). Masyarakat dengan klasifikasi White AngloSaxon Protestan (WASP) kemudian menjadi sebuah masyarakat mayoritas dan mendominasi hampir setiap bidang kehidupan masyarakat di Amerika, termasuk kehidupan politik. Diskriminasi ini muncul bahkan sampai pada era Civil Rights Movement pada tahun 1950an. Pertentangan antara the Anglo-Saxon dan kaum Amerika-Afrika dalam konteks politik bukan hanya sekedar pertarungan warna kulit, tetapi lebih dari itu. Pertentangan antara the Anglo-Saxon dan juga kaum Amerika-Afrika akan membawa keduanya pada romantisme sejarah yang di dalamnya terdapat berbagai macam pertentangan nilai-nilai dari masing-masing identitas yang dimiliki.

Identitas tersebut terepresentasi dari aspek budaya yang mereka miliki. Menurut Stewart dan Bennett (dalam Ahdiati, 2001) aspek kebudayaan pada dasarnya terdiri dari dua bagian, yaitu; 1) aspek kebudayaan subyektif, contohnya asumsi, nilai-nilai dan cara berpikir; 2) aspek kebudayaan obyektif, contohnya sistem ekonomi, kebiasaan-kebiasaan sosial, struktur-struktur dan proses-proses politik, kesenian, kerajinan dan sastra. Jika melihat aspek-aspek budaya yang dikemukakan oleh Steward dan Bennett maka terlihat bahwa aspek budaya obyektif dapat dibentuk oleh aspek budaya subyektif. Misalnya, asumsi dari seseorang yang dibesarkan dalam tradisi religius yang konservatif tentunya akan melihat bahwa homoseksual itu merupakan tindakan menyimpang dan mengakibatkan dosa. Dengan demikian, ketika orang tersebut menjadi pembuat undang-undang, pasti undang-undang yang dihasilkan adalah tentang pelarangan perkawinan antar sesama jenis. Hal ini berbeda dengan pandangan dari seseorang yang dibesarkan dari tradisi liberal. Bisa saja orang tersebut memandang bahwa perkawinan sesama jenis adalah sahsah saja. Berangkat dari pemahaman tersebut, ketika dikontekskan dengan kandidasi antara Hillary dan Obama yang masing-masing mewakili ras yang berbeda, yaitu the Anglo-Saxon dan kaum Amerika-Afrika, maka akan muncul beberapa pertentangan menarik dari kedua kandidat. Misalnya saja, pertentangan mengenai – apa yang disebut Stewart dan Bennett sebagai - asumsi, nilai, dan cara berpikir. Cara berpikir Hillary Clinton yang dibesarkan dalam budaya AnggloSaxon yang metodis tentunya akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan cara

berpikir Obama. Meskipun Obama seorang mulatto16, akan tetapi Obama juga dibesarkan dengan pengaruh dari nilai yang dimiliki oleh ayahnya yang berasal dari etnis Amerika-Afrika. Selain itu, mengingat bahwa Obama bukan hanya dibesarkan dalam tradisi kaum Amerika-Afrika atau Anglo-Saxon saja, akan tetapi Obama juga dibesarkan dalam tradisi timur, khususnya Indonesia. Tentunya nilainilai dari tradisi timur tersebut juga turut mempengaruhi cara berpikir Obama atau asumsi-asumsi yang dimiliki oleh Obama dalam melihat atau menilai sesuatu. Aspek-aspek subyektif tersebut - dalam konteks politik dan peerintahan - tentunya akan berpengaruh terhadap proses pembuatan kebijakan ataupun pengambilan keputusan. Untuk itu, kandidasi antara keduanya tidak akan pernah lepas dari latar belakang Hillary dan Obama sebagai seorang Anglo-Saxon dan etnis Amerika-Afrika. Dengan demikian, nilai-nilai dari klasifikasi White Anglo-Saxon Protestan (WASP) sebagai strata tertinggi di masyarakat Amerika dan posisi kaum Amerika-Afrika sebagai kelompok minoritas di Amerika mempunyai peranan penting dalam proses kandidasi antara Hillary dan Obama. Hal ini terjadi karena nilai-nilai White Anglo-Saxon Protestan (WASP) tentunya tidak akan mudah luntur begitu saja dari masyarakat Amerika dan kaum Amerika-Afrika tetap sebagai pendatang yang menjadi bagian dari kelompok minoritas dalam struktur masyarakat Amerika. Berbicara soal budaya yang dibawa oleh masyarakat pendatang khususnya kaum Amerika-Afrika, dilihat fenomena yang cukup luar biasa, yaitu munculnya dominasi kebudayaan masyarakat Amerika-Afrika dalam pop culture di Amerika
Keturunan dari hasil pernikahan etnis Amerika-Afrika dan kulit putih, dalam hal ini the AngloSaxon. Dikutip dari www.wikipedia.com.
16

Serikat. Sebut saja musik-musik Hip-Hop, Rap, R n B, Disc Jockey, Break Dance dan wall graffiti, kesemuanya merupakan sebuah kebudayaan yang lahir dari semangat perjuangan kaum Amerika-Afrika pada masa lalu yang kemudian turut digemari oleh masyarakat Anglo-Saxon di Amerika (Adhe, 2005). Lihat

bagaimana Beyonce Knowless, Will Smith, Oprah Winfrey, X-Zibit, serta Tiger Wood menjadi idola masyarakat, tidak hanya masyakarat Amerika-Afrika tetapi hampir seluruh masyarakat Amerika termasuk juga the Anglo-Saxon di dalamnya. Munculnya Eminem sebagai penyanyi rap kulit putih, atau Fergie – yang juga berkulit putih - sebagai icon R n B cukup menjelaskan betapa ternyata kebudayaan kaum Amerika-Afrika menjelma menjadi komoditas pasar yang juga digemari oleh masyarakat Anglo-Saxon. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Hoa Hsu dalam atikelnya yang berjudul “The End of White America?”

(www.atlantic.com), yaitu: “During popular music’s rise in the 20th century, white artists and producers consistently “mainstreamed” African American innovations. Hip-hop’s ascension has been different. Eminem not with standing, hiphop never suffered through anything like an Elvis Presley moment, in which a white artist made a musical form safe for white America. This is no dig at Elvis -the constrictive racial logic of the 1950s demanded the erasure of rock and roll’s black roots, and if it hadn’t been him, it would have been someone else. But hip hop - the sound of the post-civi -rights, post-sou generation - found a global audience on its own terms.” (Sejak naiknya musik pupuler di abad ke-20, artis-artis kulit putih dan para produser secara konsisten “mengarusutamakan” inovasi kaum AmerikaAfrika. Kenaikan Hip-Hop menjadi sesuatu yang berbeda. Jika Eminem tidak pernah terkenal maka hip-hop tidak akan pernah menderita seperti momen Elvis Presley, di mana seorang artis kulit putih membuat sebuah bentuk musik yang aman bagi masyarakat kulit putih Amerika. Ini tidak sedang menyindir Elvis - logika rasial yang kaku pada tahun 1950an menuntut penghapusan akar kulit hitamnya Rock and Roll. Dan bila itu bukan Elvis, bisa jadi orang lain. Tapi Namun hip-hop - suara dari pasca-

hak sipil, post soul generation pasca-generasi jiwa - ditemukan mendapatkan penikmatnya yang mendunia dalam terminologinya sendiri.) Dalam dunia hiburan, anggapan dari Hoa Hsu bisa menjadi benar, namun, hal tersebut belum tentu juga terjadi dalam politik Amerika. Sebab, pergulatan nilai dalam politik bisa lebih keras dibanding dunia hiburan yang berorientasi pasar dan profit. Hal ini karena –merujuk kembali pada pendapat Stewart dan Bennett- kebijakan ataupun keputusan politik yang dihasilkan akan dipengaruhi oleh nilai, asumsi, dan pandangan pribadi yang dibentuk oleh budaya yang mendominasi dalam tradisi keluarga dan lingkungan. Dengan demikian, dalam kandidasi antara Hillary dan Obama, sebuah pertanyaan yang mungkin akan muncul pada masyarakat Amerika keturunan Anglo-Saxon adalah “apakah mereka siap atau bahkan rela dipimpin oleh kaum Amerika-Afrika yang datang ke Amerika sebagai budak?” Sedangkan bagi kaum Amerika-Afrika, ini mungkin kesempatan bagi mereka untuk memperlihatkan kembali black power dan supremasi kulit hitam di Amerika Serikat yang sempat menggelora dan mencapai puncaknya pada era Civil Right Movement. Apalagi jika melihat konstelasi politik pada masa George W. Bush, banyak masyarakat Amerika terutama generasi muda menginginkan perubahan. Dengan demikian, peran generasi muda pun akan

sangat signifikan dalam menentukan hasil akhir dari proses kandidasi antara Hillary dan Obama.

4.3.1. Old Generation dan Youth Generation: Perbedaan Pemikiran dan Orientasi Dalam sejarah negara di belahan dunia manapun peran generasi muda tentunya sangat signifikan. Adanya klasifikasi produktivitas berdasarkan

tingkatan usia yang menempatkan usia muda, yaitu kisaran 17 sampai dengan 45 tahun sebagai usia produktif, seakan menjadi alasan pembenar, bahwa generasi muda mempunyai nilai lebih untuk memberi sebuah angin segar dalam beberapa bidang. Salah satunya adalah bidang politik. Namun demikian beberapa pendapat mengatakan bahwa pengalaman yang dimiliki oleh generasi tua bisa menjadi modal utama atau bahkan nilai lebih dibanding semangat muda yang menggebugebu namun sangat emosional dan kurang perhitungan. Namun apakah benar demikian? Tentunya hal tersebut masih debatable. Generasi muda dalam sejarah Amerika menempati ruang tersendiri yang jika ditelisik akan memunculkan memori-memori mengenai semangat yang menggelora untuk melakukan perubahan. Lihat saja peran generasi muda dalam menentang kebijakan pemerintah Amerika pada masa kepemimpinan Presiden Nixon mengenai kebijkan perang Vietnam yang salah satunya adalah wajib militer bagi mereka yang baru lulus dari sekolah menengah atas. Selain itu, banyak gerakan-gerakan sosial baru yang didominasi oleh kaum muda. Kelompok-

kelompok sub-kultur tumbuh dan merebak di mana-mana, terutama pasca tahun 1960an. Misalnya, subkultur punk yang menggunakan musik sebagai instrumen dalam mengritik pemerintahan, atau hip-hop yang di dalamnya terdapat Rap-ing, Dj-ing, Break Dance dan wall graffiti sebagai media perjuangan kaum muda dari etnis Amerika-Afrika. Peran generasi muda di Amerika tidak hanya dapat dilihat dari rentetan sejarah, seperti munculnya Generation X, Generation Y, atau Baby Boomer. Bahkan saat ini pun, bisa dilihat peran generasi muda yang menamakan dirinya

the Milennial generation.

Sampai saat ini, generasi muda Amerika masih

memiliki taji sebagai salah satu kekuatan politik yang besar, selain kekuatan politik yang dimiliki generasi tua beserta pengalamannya. Dalam sebuah

penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center (www.pewresearch.com) mengenai generasi muda dan dipublikasikan pada 30 Mei 2006 dengan judul “Politics and the "DotNet" Generation menjelaskan bahwa: They may be more involved than you think -- and in ways that could change America's politics” (Mereka mungkin lebih banyak terlibat daripada yang anda pikirkan, dan dalam cara-cara yang dapat mengubah politik Amerika). Dari kutipan tersebut bisa dilihat bahwa generasi muda Amerika bahkan memiliki andil yang cukup besar bukan hanya dalam bidang politik, akan tetapi dalam bisnis dan juga ekonomi. Seperti yang tertulis dalam hasil penelitian tersebut: “Today's younger Americans are more liberal than the country as a whole on many social issues, with one or two surprising exceptions. And while they are generally more favorable toward government activity including regulation, they also have positive views of business.” (Para pemuda Amerika saat ini lebih liberal dibandingkan dengan negaranya secara keseluruhan di berbagai isu sosial, dengan satu atau dua pengecualian yang mengejutkan. Dan ketika secara umum mereka lebih tertarik pada aktivitas pemerintah termasuk regulasi, maka mereka pun memiliki pandangan-pandangan yang positif tentang bisnis.) Salah satu peran generasi dalam dunia ekonomi yang kemudian dapat berpengaruh pada dunia politik dapat dilihat dari fenomena merebaknya situs pertemanan, contohnya adalah www.Facebook.com (FB). Situs tesebut

diciptakan dan diperkenalkan pertama kali oleh seorang pemuda berusi 24 tahun yang bernama Marck Zuckerberg. Marck yang juga mahasiswa dari Harvard University kemudian menjadi pemuda terkaya di dunia karena 1,6 persen saham

situs pertemanan miliknya tersebut rela dibayar oleh Microsoft sebesar 240 juta dollar AS. Tak hanya sebagai situs pertemanan, FB ternyata sangat efektif

sebagai media kampanye politik dalam proses kampanye menjelang pemilu Amerika tahun 2008. Misalnya saja, Barack Obama yang menggunakan FB

sebagai salah satu cara untuk mencari dukungan dan donasi kampanye (kompas edisi Minggu, 15 Maret 2009). Terlepas dari situ, agaknya kita dapat menyepakati bahwa peran generasi muda dalam kehidupan politik Amerika sangatlah penting. Dalam kandidasi

antara Obama dan Hillary, bisa dilihat bahwa kandidasi antara keduanya merupakan pertentangan lintas generasi. Sebagai individu, Hillary dan Obama tentunya mewakili generasi yang berbeda. Hillary adalah generasi yang sudah malang melintang dalam politik dan pemerintahan Amerika, sedangkan Obama masih bisa dikatakan “pemain” baru dalam politik dan pemerintahan dan politik Amerika. Namun demikian, bukan berarti Obama sebagai generasi yang lebih muda tidak dapat memimpin pemerintahan layaknya Hillary. Dalam hasil

penelitian dari Pew Research Center (www.pewresearchcenter.com) mengenai generasi mudapun, dijelaskan bahwa: “Younger Americans are generally more positive than older Americans regarding the efficiency of government and the job it does in regulating business and helping the disadvantaged.” (Generasi muda Amerika secara umum lebih positif daripada generasi tuanya dengan memandang efisiensi pemerintah dan tugas yang dijalankannya dalam meregulasi bisnis dan membantu kaum yang tidak diuntungkan) Kutipan tersebut bisa membantah

stereotype yang mengatakan bahwa hanya generasi tualah yang bisa memimpin pemerintahan dengan baik. Pertentangan antara Hillary dan Obama tidak hanya mewakili

pertentangan dua buah generasi, akan tetapi lebih dari itu, keduanya tentunya juga membawa pemikiran-pemikiran dan semangat yang berbeda. Hillary dikelilingi oleh orang-orang yang berpengalaman dalam tim kampanyenya, sedangkan Obama dikelilingi oleh sekelompok orang muda dalam tim kampanyenya. Hal ini menunjukkan sebuah indikasi bahwa pertentangan antargenerasi antara Obama dan Hillary tidak hanya terdapat pada diri mereka masing-masing, akan tetapi pada seluruh masyarakat Amerika. Semangat perubahan yang digelorakan Obama akan dibenturkan dengan segenap pengalaman yang dimiliki oleh Hillary. Tidak hanya itu saja, konstelasi politik pada dua periode kepemimpinan Bush, agaknya akan berpengaruh pada orientasi politik generasi muda dalam melihat kandidasi antara Hillary dan Obama.

V. KANDIDAT PESERTA DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION DAN MASYARAKAT AMERIKA

5.1. Latar Belakang Kandidat Peserta Democratic Primary Election tahun 2008 5.1.1. Hillary Rodham Clinton dan Perempuan di Amerika Hillary Rodham Clinton, yang mempunyai nama asli Hillary Diane Rodham, dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1947 di RS Edgewater, di ChicagoIllinois. Illinois. Hillary dibesarkan dalam sebuah keluarga metodis di Park Ridge, Ayahnya bernama Hugh Ellsworth Rodham dan Ibunya bernama

Dorothy Emma Howell Rodham. Hillary mempunyai dua orang saudara lelaki, Hugh dan Tony. Keluarga Hillary merupakan keluarga Kristen Protestan yang taat dan ayahnya adalah seorang konservatif yang sangat anti komunis. Hillary adalah senator junior Amerika Serikat dari negara bagian New York, suatu jabatan yang dimulainya pada tanggal 3 Januari 2001. Ia menikah dengan Bill Clinton, Presiden Amerika Serikat ke-42 dan menjadi Ibu Negara Amerika Serikat selama dua masa jabatan Presiden Clinton (1993-2001). Hillary dan Bill Clinton

dikarunia seorang anak yang bernama Chelsea Vistoria Clinton. Hillary pernah menjadi mahasiswa di Wellesley College dan setelah lulus Hillary melanjutkan pendidikannya ke Yale Law School. Sejak menjadi

mahasiswa tingkat pertama, Hillary menjabat sebagai presiden dari Wellesley Young Republicans. Selama menjadi mahasiswa, Hillary juga terlibat dalam Misalnya, keterlibatannya dalam gerakan hak sipil

gerakan-gerakan sosial.

Amerika, gerakan anti perang Vietnam, menjadi pendukung dari kampanye anti-

perang dalam pencalonan presiden dari Partai Demokrat Eugene McCarthy dan gerakan advokasi lainnya. Hillary merupakan salah satu dari seratus pengacara yang disegani di Amerika. Hillary bekerja pada Yale Child Study Center. Dia juga menjadi penasihat hukum gratis bagi masyarakat miskin di badan layanan hukum New Heaven. Hillary Clinton pernah bergabung dengan Rose Law Firm yang bergerak di bidang advokasi hak-hak anak. Pada masa kepresidenan Jimmy Carter, Hillary diangkat menjadi dewan di Legal Services Corporation serta menjadi anggota direksi Wall-Mart dan beberapa perusahaan lainnya. Selain itu, Hillary terus melanjutkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk melayani masyarakat dan mereformasi kebijakan di negaranya. Ketika Bill Clinton mencalonkan diri sebagai kandidat calon Presiden Amerika Serikat, nama Hillary mulai dikenal. Apalagi dengan salah satu

propaganda kampanye dari Bill Clinton, yaitu “buy one, get one free” (beli satu, gratis satu). Artinya adalah ketika masyarakat memilih Bill Clinton sebagai

Presiden Amerika Serikat, masyarakat pun akan sekaligus mendapatkan seorang ibu negara yang cerdas, mempunyai kapabilitas dan pengalaman di bidang pemerintahan maupun hukum. Propaganda ini merujuk pada pencitraan istrinya sebagai bakal calon First Lady Amerika Serikat, dalam rangka merebut simpati masyarakat Amerika untuk menaikan popularitas Bill Clinton. Kemenangan Bill Clinton sebagai Presiden Amerika ke-42 menjadikan Hillary sebagai Ibu Negara Amerika Serikat pertama yang memiliki gelar pascasarjana dan juga memiliki karir profesional sebelum menuju gedung putih. Banyak yang mengatakan bahwa

Hillary punya peran yang sangat signifikan dalam mempengaruhi kebijakan Bill Clinton. Untuk itulah, muncul istilah “Billary” yang merujuk pada perpaduan antara Bill dan Hillary Clinton. Hal ini juga menjadi kritik, dengan mengatakan Hillary sebagai co-president. Selama jadi ibu negara, Hillary berperan dalam pembentukan Program Asuransi Kesehatan Anak-Anak Negara (State Children's Health Insurance Program), Undang-Undang Adopsi dan Keluarga Aman (Adoption and Safe Families Act), dan Undang-Undang Kemandirian Asuhan Keluarga (Foster Care Independence Act). Sebagai seorang perempuan yang cerdas, Hillary merupakan sosok penting bagi perempuan di dunia. Dalam pidatonya yang berjudul “A Call to Action” Hillary memberi sebuah inspirasi bagi perempuan di seluruh dunia untuk bergerak melakukan aksi untuk menentang diskriminasi gender. Dalam pidato tersebut Hillary (dalam Neuman (ed) 1996:211) mengatakan: “We must call the world to action. We must heed that call so that we can create a world which every woman is treated with respect and dignity, every boy and girl is loved and cared for equal, and every family has the hope of a strong and stable future.” (Kita harus mengajak dunia untuk bertindak. Kita harus melakukan aksi tersebut, sehingga kita dapat menciptakan dunia setiap wanita diperlakukan dengan penuh hormat dan harga diri, setiap anak laki-laki dan perempuan dicintai dan diperhatikan dengan setara, dan setiap keluarga memiliki harapan akan masa depan yang cerah dan stabil.) Hillary berbicara soal martabat dan kehormatan perempuan yang waktu itu masih terbelenggu, dan menurutnya sejarah perempuan adalah sejarah kebisuan. Untuk itulah, dalam pidato tersebut, Hillary juga mengajak perempuan untuk bangkit memperjuangkan hak asasinya. Selain itu Hillary merupakan seorang perempuan yang tegar. Hal ini terlihat dari pernyataannya mengenai isu perselingkuhan Bill

Clinton dengan Monica Lewinsky, yaitu: “No one understands me better and no one can make me laugh the way Bill does. Even after all these years, he is still the most interesting, energizing and fully alive person I have ever met.” (Tidak ada seorangpun yang memahami saya lebih baik dan tidak seorangpun yang dapat membuat saya tertawa seperti apa yang telah dilakukan oleh Bill. Bahkan setelah tahun-tahun berlalu selama ini, dia masih saja merupakan sosok yang paling menarik, berenergi dan benar-benar hidup yang pernah saya temui.) Ketegaran inilah yang membuat pernikahannya dengan Bill Clinton dapat bertahan. Sebagai seorang tokoh politik perempuan, Hillary merupakan representasi dari seluruh perempuan Amerika yang memiliki sejarah panjang tentang perjuangannya untuk memperoleh hak sebagai warga negara Amerika. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Jane H Bayes (1982:65) bahwa: “Woman in American Society........ in that woman have been more completely absorbed psychologically and physically into the political and economic struggles of the male-dominated institutions and factions.” (Perempuan di dalam masyarakat Amerika........ di mana perempuan telah terserap lebih menyeluruh baik secara psikologis maupun secara fisik ke dalam gerakan politik dan ekonomi dari institusi-institusi dan faksi-faksi yang didominasi oleh kaum laki-laki.) Keterasingan di bidang politik dan ekonomi inilah yang membuat perempuan membutuhkan representasi dalam konteks politik dan perempuan di Amerika untuk menentang dominasi laki-laki, terutama dominasi laki-laki di lembaga pemerintahan. Seperti yang diucapkan oleh Elizabeth Stanton (dalam De

Rincourt, 1974:318) pada tahun 1952, yaitu:

“I disclaim all desire or intention to meddle with vulgar politics….. to sit in council with vulgar, rum drinking, wine bibbing, tobacco chewing men, with thick lipped voluptuaries, gourmands and licentiates, who disgrace our national council with their grossness and profanity, their rudness, and uncurbed ferocity…. No, until a new type of man be placed at the helm of the ship of state, rest assured we women shall decline nominations for office.” (Saya menyangkal keinginan atau maksud untuk mencampuri urusan politik terbuka.... untuk duduk dalam dewan kota secara terang-terangan, dengan minuman keras, dengan kaum laki-laki yang mengunyah tembakau, dengan kegairahan yang sangat besar, dengan para pencicip makanan dan pemberi izin, yang mempermalukan dewan kota nasional kita dengan keserakahan dan ucapan tidak senonoh mereka, dan kebiadaban yang tidak terkendali.... Tidak, sampai jenis laki-laki baru ditempatkan dalam biduk kapal sebuah negara, baru setelah itu kami perempuan memastikan akan mundur dari nominasi pencalonan.) Dalam pernyataan tersebut, Elizabeth Stanton mencoba memperlihatkan representasi perempuan di pemerintahan sebagai hal yang mutlak harus direalisasikan. Dalam konteks ini, Elizabeth Stanton berbicara dalam kerangka perempuan sebagai bagian dari warga negara Amerika Serikat yang seharusnya memiliki hak yang sama dengan laki-laki sesuai dengan nilai-nilai equality yang melandasi berdirinya Amerika. Pernyataan Elizabeth ini didukung dengan

pernyataan Abigail Adams (dalam Schmidt. et.all., 1999:167) dalam surat yang diberikan kepada John Quincy Adams, yaitu: “I desire you would remember the ladies.... if particular care and attention is not paid to the ladies, we are determine to foment a rebellion and will not hold ourselves bound by any laws in which we have no voice or representation.” (Saya ingin anda ingat dengan para wanita .... jika perhatian dan atensi tidak diberikan kepada para wanita, kami memutuskan untuk menggerakan sebuah pemberontakan dan tidak akan menahan diri kami dalam batasan hukum manapun yang tidak merepresentasikan suara kami.))

Dalam surat tersebut, Abigail Adams secara tersirat menjelaskan bahwa seharusnya hukum dapat menjamin representasi perempuan. Hukum dalam hal ini adalah Konstitusi Amerika sebagai sumber hukum yang paling tertinggi. Konstitusi Amerika pada waktu itu, yang notabene dibuat dan disahkan oleh lakilaki, tidak sedikitpun berbicara soal hak perempuan. Seperti yang dikatakan oleh Rosalynn Carter (dalam Neuman (ed)1996:22): “Both the Constitution and the Bill of Rights were based on an eighteenth-century concept of justice and equality that win an exclusively white, male system of law and order.” (Baik Konstitusi maupun Piagam Hak Asasi didasarkan pada konsep keadilan dan kesetaraan abad ke-18, yang secara eksklusif memenangkan sistem hukum dan aturan yang berbasis pada dominasi kaum pria dan ras kulit putih.) Anggapan ini terbukti dengan realitas yang dialami oleh kaum perempuan di Amerika. Realitas tersebut adalah adanya diskriminasi ekonomi serta hak politik yang berupa tidak adanya hak pilih bagi perempuan di Amerika. Diskriminasi tersebut merupakan indikasi logis, betapa konstitusi tidak dapat menjamin kesetaraan hak bagi seluruh warga Amerika, khususnya perempuan. Sulitnya kaum perempuan di Amerika untuk memperoleh hak yang sama dengan kaum laki-laki karena memang permasalahan perempuan di Amerika bukanlah sebuah permasalahan yang sederhana. Permasalahan perempuan

melibatkan banyak aspek yang sulit tersentuh. Cristina Wolbrecht (2000:230) mengatakan : “Women’s right revolution did not simply entail policy demands, but represented a fundamental challenge to, and transformation of, sosial, and political institutions. Few aspects of American life were left untouched.”

(Revolusi hak wanita tidak secara mudah mengikuti permintaan terhadap sebuah kebijakan, tetapi merepresentasikan sebuah tantangan yang mendasar pada, dan transformasi dalam, institusi-institusi sosial dan politik. Beberapa aspek dari

kehidupan Amerika tetap dibiarkan tidak tersentuh.) Salah satu aspek dalam kehidupan masyarakat Amerika yang sulit tersentuh namun berpengaruh terhadap diskriminasi gender di Amerika adalah doktrin agama. Agama merupakan suatu aspek fundamental dalam kehidupan masyarakat Amerika yang melebur ke dalam berbagai nilai budaya Amerika, salah satunya adalah budaya patriarki. Seperti yang sudah pernah dijelaskan bahwa nilai-nilai patriarki dalam ajaran Kristen telah meletakan perempuan dalam posisi subordinat yang berpengaruh besar terhadap kondisi kaum perempuan di Amerika. Perempuan selalu diletakkan di ranah domestic, sementara wilayah publik hanya milik laki-laki. Keterasingan domestik ini membuat perempuan pun terasing dari ranah pendidikan. Kurangnya pendidikan yang diperoleh oleh perempuan di Amerika membuat perjuangan dalam memperoleh kesetaraan sebagai sebuah proses yang sangat berat dan panjang. Hal yang paling ironis dari perjuangan kaum perempuan di Amerika dalam memperoleh kesetaraan adalah munculnya pertentangan di kalangan perempuan itu sendiri. Pertentangan yang terjadi ini adalah antara perempuan dari golongan liberal yang mendukung supremasi hak perempuan dan perempuan dari golongan konservatif yang menganggap bahwa munculnya perempuan di ruang publik justru akan menjadi masalah bagi perempuan itu sendiri. Perbedaan pandangan ini terjadi sampai dengan saat ini. Misalnya, pandangan perempuan dari golongan

liberal mengenai aborsi sebagai sebuah pilihan dan perempuan dari golongan konservatif yang menggangap bahwa aborsi adalah perbuatan dosa karena tidak menghargai kehidupan. Hal ini paling tidak memperlihatkan bahwa perbedaan pandangan dari dua kelompok golongan perempuan tersebut menjadi sebuah cerminan dari karakteristik masyarakat itu sendiri. Artinya, perbedaan pandangan yang kemudian menjadi perbedaan sikap tersebut merupakan pengaruh dari nilainilai budaya yang ada dan berkembang di Amerika. Nilai-nilai budaya yang ada dan berkembang ini didapatkan melalui proses enkulturasi. Spradley dan

Rynkiewich (dalam Ahdiati, 2007:68) menjelaskan bahwa proses enkulturasi merupakan “the proses of learning meaning” (proses pembelajaran makna), di mana dalam prosesnya terjadi transmisi budaya di antara para pelakunya. Termasuk adalah proses identifikasi dan imitasi melalui instruksi-instruksi eksplisit ataupun tacit17. Pada hakekatnya, pertentangan di kalangan perempuan dari golongan liberal dan konservatif merupakan sebuah gejala wajar dalam dinamika demokrasi di Amerika. Namun demikian, dalam kerangka demokrasi pula, harus dilihat bahwa perempuan juga merupakan bagian dari warga negara Amerika yang notabene sebagai basis legitimasi pemerintah dalam menjalakan fungsi dan perannya. Untuk itulah, jika berpegang pada esensi demokrasi, sudah seharusnya perempuan di Amerika mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki, terlepas dari ajaran agama yang mereka anut. Pada titik inilah, masyarakat harus melihat keterlibatan perempuan sebagai konsekuensi dari sistem yang mereka pilih.

17

Tahu sama tahu

Seperti yang dikatakan oleh Esther Peterson dalam essay-nya yang berjudul “Do What Is Right” (dalam Neuman (ed), 1996) yaitu: “The functioning of American Democracy and the fulfillment of the democratic principle have benefited from increasing participation by women. If our system did not have women’s full participation it would be misleading to call it democratic.“ (Fungsionalisasi demokrasi di Amerika dan pemenuhan prinsip demokrasi telah memberi keuntungan dalam peningkatan partisipasi kaum perempuan. Adalah sebuah kesalahan jika kita menyebutnya demokrasi jika sistem kita tidak memiliki partisipasi penuh dari kaum perempuan.) Penjelasan Esther Peterson tersebut, tampaknya, sudah cukup menjelaskan bahwa perempuan dalam negara demokrasi secara prinsip harus mempunyai partisipasi yang jelas. Salah satunya adalah hak pilih politik yang sudah dijamin dalam ratifikasi Amendemen ke-19 Konstitusi Amerika yang berbunyi: “The rights of citizens of the United States to vote shall not be denied or abridged by the United State or by ay State on account of sex” (Hak dari warga negara Amerika untuk memilih tidak boleh ditolak atau dibatasi oleh Negara Amerika atau oleh negara manapun karena jenis kelamin), ataupun partisipasi politik dalam bentuk representasi dalam lembaga-lembaga pemerintahan.

5.1.2. Barack Obama dan Kaum Amerika-Afrika di Amerika Barack Obama lahir pada tanggal 4 Agustus 1961 di Kapi'olani Medical Center for Women & Children, Honolulu. Obama adalah anak dari hasil

pernikahan dua warna kulit. Ayahnya yang bernama Barack Hussein Obama Senior adalah seorang kulit hitam keturunan suku Luo-Luo yang merupakan suku terkemuka di Kenya Afrika; sedangkan ibunya yang bernama Ann Dunham

adalah seorang kulit putih asal Kansas City. Setelah Obama Senior dan Ann Dunham bercerai, kemudian Ann Dunham menikah lagi dengan seorang laki-laki pria dari Indonesia yang bernama Lolo Soetoro. Obama tinggal di Indonesia selama kurang-lebih 3,5 tahun sejak berusia enam tahun. Pasangan Lolo Soetoro dan Ann Dunham dikaruniai seorang putri yang bernama Maya Soetoro-Ng yang kini bersuamikan seorang pria China dan menetap di Honolulu. Sedangkan

Obama Senior pernah menikah beberapa kali di Kenya dengan seorang perempuan kulit putih dan beberapa perempuan lokal, yang kemudian melahirkan saudara-saudara tiri dari Obama Junior. Hasilnya, keluarga besar Obama

merupakan paduan dari komunitas internasional yang lahir dari berbagai kaum yang terbiasa hidup dengan mobilitas geografis dan sosial yang dinamis. Obama Junior menikah dengan Michelle Robinson yang berasal dari ras Amerika-Afrika dan dikaruniai dua orang anak, yaitu Malia Ann Obama dan Natasha Obama. Setelah menamatkan pendidikan SMA-nya di Honolulu, Barack Obama melanjutkan jenjang pendidikannya di Columbia University, New York City, dan kemudian meraih gelar sarjana hukum JD magna cumlaude di dari Harvard Law School. Selama menjadi mahasiswa di Columbia University(,) Obama bekerja menjadi community organizer di Wall Street serta menjabat sebagai direktur Developing Communities Project (DCP), sebuah perkumpulan masyarakat berbasis gereja Roseland Raya di South Side, Chicago. Obama juga bekerja sebagai konsultan dan instruktur untuk Gamaliel Foundation, sebuah institut perkumpulan masyarakat. Obama juga pernah menjadi Presiden Harvard Law Review berkulit hitam pertama.

Obama adalah seorang pengacara yang tergabung bersama rekannya, yaitu Davis, Miner, Barnhill & Galland, dalam sebuah firma hukum dengan dua belas pengacara yang berpengalaman dalam litigasi hak-hak sipil dan pembangunan ekonomi masyarakat. Disela-sela aktivitasnya sebagai pengacara, Obama menjadi dosen di Chicago University. Selain itu, Obama menulis beberapa buku yang di antaranya adalah Dreams from My Father dan The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream. Dengan buku-buku tersebut, Obama mencoba mengenalkan pemikirannya kepada masyarakat Amerika. Karir politik Obama dimulai ketika Obama terpilih menjadi anggota senat Negara Bagian Illinois, menggantikan senator negara bagian Alice Palmer sebagai senator dari distrik ke-13 di Illinois yang berkantor di Chicago selama delapan tahun. Kemudian Obama menjadi senator di tingkat federal mewakili Negara Bagian Illinois yang berkedudukan di Capitol Hill, Washington DC pada tahun 2005. Obama merupakan senator keturunan Amerika-Afrika kelima dalam

sejarah AS, dan yang menjadi orang ketiga yang banyak dipilih oleh masyarakat. Selama menjabat sebagai senator, Obama mensponsori hukum yang

meningkatkan kredit pajak bagi pekerja berpendapatan rendah, menegosiasikan reformasi kesejahteraan, dan mempromosikan peningkatan subsidi bagi perawatan anak, melakukan banyak advokasi bagi warga Amerika-Afrika dan melakukan banyak reformasi kebijakan lainnya yang mendukung kepentingan masyarakat. Obama dipilih menjadi pengucap juru pidato kunci dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat tahun 2004. Obama sempat menjadi “bintang rock” dalam konvensi tersebut karena pidatonya dirasa memberi inspirasi bagi

konstituennya kala itu. Ucapan Obama yang selalu diingat dalam pidato waktu itu adalah “…tak ada orang kulit hitam Amerika, dan orang kulit putih Amerika, dan orang Latin Amerika, dan orang Asia Amerika, yang ada hanyalah orang Amerika Serikat…” (Obama, 2007:10). Ucapan Obama itu seakan menjadi sebuah kunci yang dapat membuka pintu menuju Gedung Putih. Banyak kalangan yang

mengatakan bahwa kharisma Obama mirip dengan kharisma yang dimiliki oleh John Fitzgerald Kennedy, yang menjadi presiden di usia muda. CQ Weekly, sebuah terbitan nonpartisan, menyebut Obama sebagai “Demokrat yang setia”, berdasarkan analisis seluruh suara senat pada 2005-2007. dan Sementara National Journal menempatkannya Obama sebagai senator "paling liberal" berdasarkan penelitian terhadap suara yang terpilih selama 2007. Pada tahun 2005, Obama menempati peringkat ke-16, dan naik ke peringkat ke-10 pada tahun 2006. Sosok Obama sebagai politisi muda merupakan harapan bagi kaum Amerika-Afrika di Amerika. Sebagai sosok yang disegani, Obama diharapkan dapat tetap membawa aspirasi bagi kaum Amerika-Afrika. Hal ini dikarenakan karena isu mengenai ras merupakan hal yang sensitif dan dapat meledak kapan saja di Amerika. Konflik mengenai ras memang bukan hal aneh di Amerika. Konflik ini terjadi bahkan saat kaum Amerika-Afrika menginjakkan kaki untuk kali pertama di Amerika sebagai budak yang diperjualbelikan. Seperti yang

dikatakan oleh Jane H. Bayes (1982:25), “Blacks were initially brought to the United States as slaves and defined as property in the laws and basic institutions of the nation.” (Kaum kulit hitam awalnya dibawa ke Amerika Serikat sebagai budak dan didefinisikan sebagai hak milik oleh hukum dan institusi dasar negara.)

Artinya, kaum Amerika-Afrika yang menjadi budak saat itu dianggap sebagai sebuah barang atau komoditas yang dapat diperlakukan sesuai dengan keinginan pemiliknya. Ini berarti bahwa kaum Amerika-Afrika menjadi sebuah komunitas yang secara kelas sosial berada di bawah bangsa kulit putih. Dengan demikian, posisi kaum Amerika-Afrika berada pada posisi subordinat dan kehilangan kemerdekaannya selama menjadi budak bagi tuannya yang tergolong bangsa kulit putih, serta haknya sebagai penduduk Amerika - seperti hak ekonomi dan hak politik - dipasung atau terabaikan. Keterasingan ekonomi dan politik inilah yang menjadi permasalahan utama bagi kaum Amerika-Afrika di Amerika. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakaan oleh McCartney (1992:7): “The Problem of African-American versus white, according early and present-day proponents…, stems from the fact that African American have had no real economic and political base from which to complete in this pluralist society, and unless and until that achieve this power, the imbalance between white and African American lives will continue.” (Permasalahan tentang kaum Amerika-Afrika melawan kulit putih, berdasarkan proponen sebelumnya dan saat ini..., berakar dari fakta bahwa kaum Amerika-Afrika belum mempunyai basis ekonomi dan politik yang nyata untuk diwujudkan dalam masyarakat yang plural, dan tidak berkurang jika tidak sampai mendapat kekuasaan ini, ketidak seimbangan antara kehidupan mayarakat kulit putih dan kaum Amerika-Afrika akan terus berlanjut.) Dari situ, dilihat bahwa kekuatan ekonomi dan politik sangat menentukan keseimbangan hubungan antara kaum Amerika-Afrika dengan masyarakat kulit putih di Amerika. Sebagai budak yang diperjualbelikan, tentunya kekuatan

ekonomi dan politik tersebut kaum Amerika-Afrika tidak dapat diraih dengan begitu saja. Diperlukan sebuah usaha untuk meraih itu semua, salah satunya dengan perjuangan untuk mendapatkan pengakuan berupa statuta hukum.

Ironisnya, pada saat itu perbudakan juga dipraktekkan oleh presiden pertama Amerika yaitu George Washington. Karena hal itu pula, maka pada tahun 1997, pengurus dari sebuah sekolah di New Orleans mengganti nama sekolahnya dari George Washington Elementary menjadi Charles Richard Drew Elementary. Charles Richard Drew adalah seorang dokter dari kaum Amerika-Afrika yang memelopori pemakaian plasma darah pada Perang Dunia Ke II (1941-1945). Pergantian nama ini memang tidak menjadi isu nasional, akan tetapi sempat mengundang pro dan kontra. Munculnya pro dan kontra atas pergantian nama sekolah di New Orleans dikarenakan terjadi karena pada waktu itu persoalan ras di Amerika masih menjadi hal yang sensitif. Sensitifitas ini muncul karena dalam masyarakat Amerika, stratifikasi masyarakat berdasarkan konsep White AngloSaxon Protestant (WASP) menjadi sebuah keniscayaan yang sulit terelakkan. Kaum Amerika-Afrika yang notabene tidak termasuk ke dalam klasifikasi secara otomatis menjadi kelompok minoritas dalam masyarakat Amerika. Ini terjadi karena secara kuantitas kaum Amerika-Afrika lebih sedikit dibanding masyarakat yang memenuhi konsep White Anglo-Saxon Protestant (WASP). Meskipun jumlah kaum Amerika-Afrika sedikit, namun tidak berarti bahwa hal ini dapat menyurutkan semangat mereka untuk bangkit dan berjuang menuntut kesetaraan. Perjuangan ini cukup masif, terbukti dengan diakuinya mereka sebagai warga negara Amerika melalui ratifikasi Amandemen ke-13 dari Konstitusi Amerika. Kemudian perjuangan tersebut dilanjutkan dengan

meratifikasi amandemen-amandemen lainnya yang menjamin supremasi sipil bagi kaum Amerika-Afrika. Namun demikian, agaknya memang sulit bagi kaum

Amerika-Afrika untuk lepas dari anggapan bahwa mereka adalah masyarakat kelas dua. Hal ini terlihat dari masih adanya perlakuan diskriminatif dari

masyarakat kulit putih terhadap kaum Amerika-Afrika, misalnya kejadian yang dialami oleh Rosa Parks yang mendapatkan perlakuan diskriminatif saat menaiki bus di Montgomery. Kejadian yang dialami oleh Rosa Parks tersebut kemudian menyulut terjadinya Civil Right Movement pada tahun 1950an. (Schmidt, Steffen, et all., 1999:159-160) Bagi kaum Amerika-Afrika, kesetaraan adalah harga mutlak yang harus mereka dapatkan sebagai salah satu bagian dari mayarakat Amerika, meskipun pada dasarnya mereka dianggap sebagai budak belian. Hal ini seperti yang

diutarakan oleh Dr. Martin Luther King Jr. Dalam pidatonya yang berjudul “I Have a Dream” (www.infoplease.com), yaitu: “..... I have a dream that one day, this nation will rise up and live out the true the meaning of this creed: ”We hold these truth to be self evident, that all men crated equal.”..... I have a dream that one day on the red hills of Georgia, the sons of former slaves and, the sons of former slaves owners will be able to sit down together at the table of brotherhood..... I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character. I have a dream today.....” (..... Saya bermimpi, bahwa suatu hari nanti, bangsa ini akan berkembang dan meyakini kebenaran makna dari pernyataan ini: “Kami memegang kebenaran ini untuk menjadi bukti diri, bahwa setiap manusia (laki-laki) diciptakan setara” ..... Saya bermimpi bahwa suatu hari di Georgia, anakanak dari para budak sebelumnya, dan anak-anak dari para pemilik budak sebelumnya, dapat duduk bersama di meja persaudaraan….. Saya bermimpi bahwa suatu hari keempat anakku yang kecil-kecil akan hidup di sebuah bangsa di mana mereka tidak akan dihakimi oleh warna kulit mereka akan tetapi oleh isi karakter mereka. Saya bermimpi hari ini…..)) Kutipan pidato tersebut merupakan representasi suara dari seluruh kaum AmerikaAfrika. Pidato yang berisi mengenai harapan akan kesetaraan antara kaum

Amerika-Afrika dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya di Amerika ini menjadi sebuah inspirasi bagi kaum Amerika-Afrika sampai dengan saat ini. Meskipun sudah banyak amandemen ataupun deklarasi yang menyatakan bahwa kaum Amerika-Afrika sudah setara dengan masyarakat kulit putih di Amerika, tetap saja masih ada tindakan-tindakan rasialis dari masyarakat kulit putih terhadap etnis Amerika-Afrika. Tindakan rasialis yang dilakukan oleh masyarakat kulit putih terhadap kaum Amerika-Afrika terlihat dalam sebuah peristiwa penyerangan yang terjadi pada Lenard Clark pada tanggal 21 Maret 1997. Lenard Clark yang waktu itu masih berusia 13 tahun diserang oleh tiga orang laki-laki kulit putih yang lebih tua darinya. Tiga orang tersebut kemudian mengatakan “take care of the niggers neighborhood”. (hati-hati terhadap kerukunan negro-negro) Penggunakan kata “niggers’ serta penyerangan tersebut merupakan indikasi logis, betapa rasialisme sulit sekali dihapuskan di negara multikultural seperti Amerika. Bill Clinton (dalam Waller 1998:102) yang waktu itu masih menjabat sebagai presiden mengatakan bahwa: “Racisme in America is not confined to acts of physical violence. Everyday, Africans-Americans and other minorities are forced to endure quiets acts of racism-bigoted remarks, housing and job discrimination. Even many people who think they are not being racist still hold to negative stereotypes, and sometimes act on them.” (Rasisme di Amerika tidak terbatas pada tindakan yang bersifat kekerasan fisik. Setiap hari, kaum Amerika-Afrika dan kelompok-kelompok minoritas lainnya ditekan dalam kebisuan dari rasialisme-yang sangat keras, perumahan dan diskriminasi kerja. Bahkan banyak orang yang bahwa mereka tidak menjadi rasis masih menahan streotipe negatif, dan kadang-kadang melakukannya.)

Kutipan dari ucapan Bill Clinton tersebut, semakin mempertegas bahwa nilai yang sudah ditanam sejak dahulu dan kemudian menjadi sebuah stereotype akan sulit dihilangkan, bahkan dengan undang-undang sekalipun. Padahal seharusnya hal tersebut tidak terjadi. Ahdiati, 2007:73): “Hak-hak individu dan komunitas untuk berbeda harus dihormati dan berbagai bentuk ungkapan dari stereotip dan prasangka karena perbedaanperbedaan individual dan komunal dalam kehidupan bersama ditentang dalam model multikulturalisme.“ Pernyataan dari Parsudi Suparlan tersebut memang akan berlaku dalam tataran ideal bagi masyarakat multikultur. Namun pada kenyataannya, konstruksi sosial yang ada di masyarakat yang kemudian ditransformasikan turun temurun agaknya membuat pendapat Suparlan tersebut sulit untuk direalisasikan. Dari semua perjuangan yang dilakukan oleh kaum Amerika-Afrika sepanjang sejarah Amerika, perjuangan dari kaum Amerika-Afrika juga mengalami krisis. Krisis tersebut berupa tidak adanya seorang pemimpin dari kaum Amerika-Afrika yang mampu menjadi figur dan pemimpin dari the black power dalam skala nasional. Bermunculannya berbagai organisasi dan gerakan dari kaum Amerika-Afrika dengan ideologi yang berbeda membuat gerakan dari kaum Amerika-Afrika seolah terkotak-kotak dalam wilayah-wilayah yang kecil. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Triana Ahdiati (2001) bahwa: “Based on several facts happened in the American history, the compartmentalization of the Black Power has brought the crisis of Black leadership into the reality. With no related line from one movement to another, the Black leadership becomes nothing like a blunt knife for every movement through the leaders should always start from the very beginning and unclearly end.” Seperti yang dikatakan oleh Parsudi Suparlan (dalam

(Berdasarkan beberapa fakta yang terjadi dalam sejarah Amerika, pembagian kekuasan kaum kulit hitam telah membawa krisis kepemimpinan kaum kulit hitam pada kenyataan. Dengan tidak adanya garis yang terhubung dari satu gerakan ke gerakan lainnya, Kepemimpinan kaum kulit hitam menjadi hilang seperti pisau yang tumpul karena setiap gerakan melalui para pemimpinnya selalu memulai seharusnya mulai dari awal tanpa akhir yang jelas.) Pan African Movement yang digagas Marcus Garvey sebenarnya bisa menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa bagi kaum Amerika-Afrika. Namun demikian, banyaknya pemikiran dan ideologi yang berkembang di antara intelektual kaum Amerika-Afrika membuat gagasan Garvey tersebut sulit tercapai. Selain itu, adanya kecenderungan para tokoh dari kaum Amerika-Afrika yang ingin agar eksistensinya terjaga juga menjadi faktor penyebab terkotak-kotaknya perjuangan kaum Amerika-Afrika di Amerika. Misalnya, kasus pemecatan

Malcolm X dari the Nation of Islam oleh pemimpinnya, yaitu Elijah Muhammad. Penyebabnya adalah hanya karena Elijah Muhammad takut kalah popularitas dari Malcolm X, sampai akhirnya kedua orang terebut bermusuhan karena adanya perbedaan pandangan antara keduanya. Konflik antara Elijah Muhammad dan Malcolm X berakhir dengan tewasnya Malcolm X karena dibunuh oleh angggota Black Muslim. Contoh lain adalah konflik yang terjadi antara Black Power

Pluralist dan Black Power Separatist. Misalnya adalah konflik antara NAACP pada masa Dr. Martin Luther King Jr. dan the Black Panther Party. NAACP lebih menekankan pada gerakan tanpa kekerasan sedangkan the Black Panther justru menggunakan tindakan brutal dalam menjalankan misinya. Konflik semacam ini merupakan faktor penghambat efektivitas gerakan kaum Amerika-Afrika dan membuat gerakan-gerakan kaum Amerika-Afrika secara keseluruhan mandul.

Terlepas dari semua faktor penyebabnya, kaum Afrika Amerika tetap menyadari bahwa mereka mempunyai satu tujuan yang sama, yaitu melepaskan belenggu dari diskriminasi rasial yang selama bertahun-tahun mereka alami. Untuk itulah, banyak usaha-usaha untuk menyatukan berbagai macam tokoh gerakan yang terkotak-otak dalam orientasi ataupun ideologi tertentu. Salah

satunya adalah dengan mengadakan Pan African Congresses pada tahun 1970an. Kongres ini bertujuan untuk menyatukan seluruh kaum Amerika-Afrika ke dalam sebuah gerakan yang bertujuan untuk menghapuskan segala bentuk tindakan rasialis.

5.2. Demokrasi dan Masyarakat di Amerika Amerika merupakan sebuah negara demokrasi yang menekankan prinsipprinsip kesetaraan dan kebebasan individu seperti yang telah diatur dalam undangundang. Undang-undang tersebut tidak dibuat oleh seluruh warga Amerika

Serikat, akan tetapi menggunakan mekanisme demokrasi perwakilan, di mana warga Amerika mendelegasikan suaranya kepada wakil-wakil di Senat maupun Kongres yang dipilih melalui mekanisme pemilihan umum. Kelemahan dari

sistem ini adalah bahwa warga Amerika tidak dapat secara langsung mempengaruhi pembuatan undang-undang maupun perumusan kebijakan. Oleh karena itu, dalam konteks demokrasi perwakilan, setiap kelompok dalam masyarakat Amerika - mau atau tidak mau - harus mempunyai wakil di lembaga pemerintahan agar kepentingan kelompok tersebut dapat terakomodasi. Hal

tersebut sangatlah wajar karena berbicara demokrasi - mau atau tidak mau - juga

membicarakan sebuah keragaman masyarakat dalam sebuah negara. Keragaman tersebut tidak hanya dalam konteks etnis, ras, agama, jenis kelamin, namun juga keragaman dalam hal pemikiran dan afiliasi politik. Keragaman dalam hal

pemikiran dan afiliasi politik merupakan bagian dari proses pergulatan maupun pertentangan ide dari di antara berbagai macam bangsa di Amerika. Pergulatan dan pertentangan ide ini adalah representasi dari dinamika yang terjadi dalam proses demokrasi di Amerika. Artinya, demokrasi sebagai sebuah sistem

memberi ruang bagi masyarakat Amerika untuk berdinamisasi dengan ide dan pengetahuannya masing-masing. Dengan kata lain, demokrasi adalah salah satu jalan untuk mengakomodasi berbagai macam pemikiran serta afiliasi politik bagai masyarakat Amerika. Salah satu pertentangan pemikiran yang muncul dalam dinamika demokrasi di Amerika adalah munculnya konservatif dan liberal sebagai dua arus besar pemikiran utama di Amerika. Pertentangan dua pemikiran ini salah satunya terepresentasi dalam pandangan pro-life dan pro-choice. Pro-life dan pro-choice merupakan refleksi dari perbedaan pandangan masyarakat Amerika, misalnya dalam hal aborsi. Pandangan liberal lebih

menganggap aborsi sebagai sebuah pilihan (choice) bagi seorang perempuan, sedangkan pandangan konservatif melihat aborsi dalam sebuah kerangka hak hidup (life). Pandangan pro-choice merupakan pandangan yang berasal dari Misalnya, seorang perempuan

pergulatan dalam diri atau internal seorang.

Amerika yang hamil lebih memilih untuk melakukan aborsi karena dia lebih mementingkan karirnya pada saat itu.perempuan tersebut secara sadar beranggapan bahwa karirnya dapat terhambat dengan memiliki keturunan.

Sementara dalam pandangan pro-life yang merujuk pada doktrin atau ajaran agama, dijelaskan bahwa aborsi merupakan sebuah tindakan dosa yang dilarang oleh agama. Anggapan tersebut berasal dari pandangan yang menyatakan bahwa melakukan tindakan aborsi sama saja dengan melakukan tindakan pembunuhan. Meskipun yang dibunuh adalah bayi yang masih dalam kandungan, namun bayi tersebut juga merupakan bakal calon manusia yang akan meneruskan kehidupan di dunia ini. Selain pandangan tentang aborsi, pandangan pro-life juga

dipengaruhi oleh anggapan normatif yang menyiratkan bahwa kehidupan keluarga normal terdiri dari bapak, ibu dan anak, sehingga ketika tidak ada anak keluarga tersebut dianggap tidak normal. Dalam konteks politik, dua arus besar pemikiran yang saling bertentangan, yaitu pro-life vs pro-choice, terlihat dari platform dua partai politik besar di Amerika, yaitu Partai Demokrat dan Partai Republik. Partai Republik merupakan representasi dari pemikiran kelompok konservatif yang salah satunya mendukung pro-life, sedangkan Partai Demokrat merepresentasikan pemikiran kelompok liberal yang salah satunya mendukung pro-choice. Sebagai sebuah partai politik yang konstituennya kebanyakan berasal dari kelompok-kelompok minoritas Amerika, Partai Demokrat menggunakan pandangan pro-choice dalam berbagai isu untuk mempengaruhi kebijakan Pemerintah Amerika, misalnya saja isu mengenai aborsi. Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai aborsi

dalam masyarakat Amerika, namun hal itu tidak membuat Partai Demokrat dianggap sebagai sebuah partai yang tidak bermoral - atau bahkan tidak beragama - sebab konstituen Partai Demokrat pun merupakan masyarakat yang religius.

Salah satu konstituen Partai Demokrat, misalnya, adalah kaum Amerika-Afrika yang dikenal sebagai kaum religius yang taat. Dalam memandang isu-isu pro-choice dan pro-life, masyarakat Amerika baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung - memiliki sikap dewasa dalam melihat perbedaan di antara mereka. Sikap kedewasaan dalam menyikapi isu-isu tentang pro-choice vs pro-life akan ditunjukkan melalui kritik ataupun demonstrasi secara terbuka. Sikap kedewasaan ini lahir karena masyarakat

Amerika kebanyakan merupakan masyarakat yang mengenyam pendidikan sampai jenjang yang tinggi. Pentingnya pendidikan Amerika merupakan nilai yang didapat dari nenek moyang mereka, khususnya dalam usaha untuk mempelajari Bible. Dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi inilah(,)

kemudian masyarakat Amerika sangat menghargai perbedaan dalam kerangka demokrasi Amerika. Selain itu, masyarakat Amerika sangat menghargai

kebebasan dari tiap kelompok dan individu. Artinya, suatu kelompok tidak ingin mengganggu kebebasan yang dimiliki oleh orang kelompok-kelompok lainnya karena kelompok tersebut pun tidak ingin kebebasannya diganggu. Hal ini

berlaku bagi seluruh kelompok dalam masyarakat Amerika, termasuk kelompokkelompok yang mendukung pro-choice ataupun yang mendukung pro-life. Demokrasi yang di dalamnya terdapat keragaman dalam prosesnya akan dapat memunculkan kelompok mayoritas dan juga kelompok minoritas. Keragaman tersebut secara kuantitas ataupun kualitas menyebabkan masyarakat dominan sebagai kelompok mayoritas, dan sebaliknya masyarakat yang tidak dominan sebagai kelompok minoritas. Contoh secara kuantitas, adalah

perbandingan penduduk Amerika-Afrika dan penduduk kulit putih dalam suatu negara bagian; sedangkan contoh secara kualitas terlihat, misalnya, pada kenyataan bahwa masyarakat yang menyepakati suatu kebijakan lebih banyak ketimbang masyarakat yang tidak sepakat akan kebijakan. Namun, apakah posisi seperti ini akan menyebabkan posisi patron-client? Bernard Boxill (dalam Melzer et.all (ed), 1998:112) menjelaskan : “the classic problem of majoritan democracy is that it enables the majority to tyrannize minorities.” (Masalah klasik dari demokrasi mayoritas adalah bahwa demokrasi memungkinkan kelompok mayoritas untuk menjadi tirani bagi kelompok minoritas.) Anggapan Boxill dapat dibenarkan dalam kondisi tertentu, misalnya dalam sebuah kondisi di mana terdapat perbedaan isu yang dimiliki oleh kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Perbedaan isu ini kemudian akan berpengaruh terhadap kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah. Apalagi ketika kelompok mayoritas menguasai

pemerintahan, maka isu dan kepentingan minoritas pun akan terancam. Dalam kehidupan politik, sering disebutkan bahwa dinamika perbedaan identitas antarkelompok dalam masyarakat dengan istilah politics of difference. Dengan perbedaan yang ada serta dengan kebutuhan yang berbeda dari tiap kelompok, maka dibutuhkan representasi kelompok di lembaga atau institusi pemerintah. yang bertujuan agar kepentingan dari kelompok yang

direpresentasikan dapat terakomodasi. mengatakan:

Iris Marion Young (1993:305)

“The politics of difference insist on liberation of the whole group of blacks, women, American Indians, and that this can be accomplished only through basic institutional changes. These changes must include group

representation in policy-making and an elimination of the hierarchy of rewards that forces everyone to compete for scarce positions at the top” (Politik perbedaan menekankan pembebasan penuh dari kelompok Amerika-Afrika, perempuan, Amerika-Indian, dan bahwasanya hal ini dipenuhi melalui perubahan-perubahan institusi yang mendasar. Perubahan-perubahan ini harus mencakup representasi kelompok dalam pembuatan kebijakan dan pembatasan tingkat penghargaan yang memaksa seseorang berkompetisi untuk meraih posisi teratas.) Pendapat dari Young tersebut menekankan pada titik bagaimana group representation berpengaruh besar pada legitimasi yang akan didapat oleh suatu kelompok dalam masyarakat lewat mekanisme penyusunan dan pembuatan kebijakan (policy-making). Apalagi dalam konteks demokrasi perwakilan yang digunakan dalam sistem pemerintahan Amerika, keterwakilan kelompok tentunya akan sangat signifikan terhadap output dari proses pembuatan kebijakan tersebut. Kaum Amerika-Afrika dan kaum perempuan merupakan bagian dari kelompok minoritas di Amerika yang mencoba melawan dominasi masyarakat White Anglo-Saxon Protestant (WASP) dan laki-laki serta membutuhkan repesentasi kelompok di lembaga dan institusi pemerintah. Hak pilih politik yang didapatkan keduanya melalui perjuangan yang sangat berat merupakan titik awal dari runtuhnya dominasi White Anglo-Saxon Protestant (WASP) dan laki-laki dalam peta politik Amerika, sebab meskipun kaum perempuan dan kaum

Amerika-Afrika memiliki hak politik namun tidak terwakili dalam lembaga pemerintahan, tetap saja kedua kelompok tersebut akan masuk ke dalam barisan minoritas yang teralienasi haknya oleh kebijakan yang dibuat dan ditetapkan oleh kelompok mayoritas. Dalam konteks tersebut, demokrasi bisa jadi merupakan win-win solution untuk menjadi sistem yang dapat memberi ruang bagi

masyarakat Amerika dalam perjuangan mencapai kesetaraan. Namun demikian, kesetaraan tersebut tidak muncul begitu saja, demokrasi dalam konteks Amerika hanya menjadi sebuah media, sedangkan kesetaraan itu sendiri akan didapat dengan usaha dari tiap kelompok dalam masyarakat Amerika.

5.3. Multikulturalisme dan Nilai-Nilai Budaya Amerika dalam Proses Pemilihan Umum Budaya politik yang terdapat di sebuah negara tentunya dibentuk oleh budaya yang ada dalam masyarakat di negara tersebut. Dalam negara multikultur seperti Amerika, pergulatan berbagai macam budaya dari tiap bangsa yang ada di sana tentunya - mau atau tidak mau - akan mengalami sebuah proses asimilasi yang kemudian akan melahirkan sebuah budaya baru yang akan disebut sebagai budaya Amerika. Olson dan Degler (dalam Suparlan, 1991:6) mengatakan bahwa kebudayaan Amerika itu bercorak heterogen dan majemuk. Dalam pengertian tersebut, kebudayaan Amerika dilihat sebagai sebuah kebudayaan yang muncul akibat pecampuradukan dari keanekaragaman kebudayaan asal etnik yang beradaptasi dengan lingkungan Amerika. Degler (dalam Suparlan, 1991:6)

menganalogikan corak kebudayaan Amerika sebagai salad bowl atau sepiring asinan, seperti kutipan berikut: “....some habits of all country were not discarded; ....the children of immigrants even into the third and fourth generations restrained their differences. In view of such failure to melt and to fuse, the metaphor of melting pot is unfortunate and misleading. A more accurate analogy would be salad bowl. Though salad is entity, the lecture can still be distinguished from chichory, the tomato from cabbage. “ (Beberapa kebiasaan dari semua negara tidak dilewatkan begitu saja; ... anak-anak imigran sampai pada generasi ketiga atau keempat terus

bertahan dengan perbedaan-perbedaan yang melekat di diri mereka. Berangkat dari kegagalan untuk larut dan melebur, akan berupa sepiring asinan melting pot tidak lagi menguntungkan dan tidak lagi tepat digunakan. Asinan adalan entitas, penasihat dapat tetap membedakan dari chichory, tomat dan kubis.) Dari kutipan tersebut, dilihat bahwa pecampuradukan budaya mutlak terjadi. Namun demikian, pecampuradukan tersebut seharusnya tidak semata-mata membuat sebuah nilai-nilai budaya dari kelompok minoritas menghilang dan melebur jadi satu dengan nilai-nilai budaya dari kelompok mayoritas, melainkan harus menjadi sebuah pergulatan nilai dari budaya-budaya yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, pergulatan nilai dari budaya-budaya yang terlihat sebagai sebuah salad bowl (sepiring asinan) dan mencerminkan sifat paradoks akan menghidupkan kebersamaan sekaligus keberagaman dalam kesetaraan. Sifat paradoks tersebut tentunya akan dijalani oleh tiga buah unsur yang ada di Amerika, yaitu individu, masyarakat dan negara. Ketiga hal tersebut hidup dalam kaitan dan dukungan budaya-budaya yang sakral. Meskipun masing-masing

berdiri sendiri, namun unsur individu, mayarakat dan negara selalu berkaitan dan saling mempengaruhi. Suparlan (1991:8) mengatakan bahwa individu,

masyarakat dan negara berada dalam susunan hirarki sesuai dengan konteks permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai serta kepentingannya. Dalam

susunan hirarkis tersebut, individu berada dalam satuan terkecil dalam susunan hiirarkis; sementara masyarakat mewakili keberagaman masyarakat Amerika dalam kerangka multikulturalisme; sedangkan negara berada dalam satuan yang lebih luas yang di dalamnya termasuk individu dan masyarakat.

Nilai-nilai budaya Amerika, pada realitasnya melebur dalam tiap aspek kehidupan masyarakat Amerika, baik kehidupan sosial, ekonomi maupun politik. Dalam kehidupan politik, nilai-nilai budaya Amerika begitu sangat terlihat, misalnya nilai twofold judgement (penilaian dua sisi). Twofold judgement adalah nilai yang berasal dari pandangan masyarakat Amerika dalam tataran yang normatif, yaitu berbicara tentang benar-salah, bermoral-tidak bermoral, religiussekuler ataupun legal-ilegal (Spradley, James dan Rynkiewich, 1975:367). Dengan demikian, twofold judgement tidak lepas dari konsep biformity (dua bentukan). Kammen (dalam Ahdiati, 2007:74) mengatakan bahwa biformity

adalah “the conjuction of two organism without loss of identity, a pair of correlative things, a paradoxical coupling of opposites.” (penghubung dari dua organisme tanpa kehilangan identitas, pasangan dari dua hal yang berkorelasi, pasangan yang masing-masing bertolak belakang secara paradoks.) Selanjutnya Triana Ahdiati (2007) menjelaskan bahwa biformity digunakan sebagai titik ekuilibrium dari berbagai perspektif yang pantas bagi peradaban bangsa Amerika. Artinya, biformity merupakan penyeimbang dari pertentangan pandangan masyarakat Amerika terhadap suatu hal. Pertentangan pandangan ini tidak lepas dari semangat yang dimiliki oleh masyarakat Amerika dalam menghargai kebebasan tiap-tiap individu ataupun kelompok. Namun kebebasan tersebut tidak lepas dari nilai-nilai budaya ataupun norma yang berlaku dalam masyarakat Amerika, yang diyakini sebagai the way of life dalam kehidupan masyarakat Amerika. Di sinilah letak dari pantas atau tidaknya pandangan yang muncul dalam peradaban bangsa Amerika.

Twofold judgement, misalnya, terlihat dalam sebuah proses politik di mana kaum perempuan dan kaum Amerika-Afrika muncul dalam sebuah pemilihan umum. Kemunculan dua kelompok minoritas dengan sejarah diskriminasi yang hampir sama tersebut tentunya mengundang dua pandangan yang berbeda dari masyarakat Amerika. Namun, demikian, perbedaan pandangan yang terjadi

dalam konteks tersebut, pada dasarnya tidak bisa bertentangan dengan nilai-nilai equality (kesetaraan) yang menjadi landasan utama berdirinya Amerika. Nilai equality bisa jadi merupakan sebuah jalan tengah untuk menengahi keberagaman yang ada dalam masyarakat Amerika, sebab dalam pengertian multikulturalisme pun terhadap prinsip-prinsip mengenai kesetaraan dalam perbedaan. Untuk itulah, nilai-nilai equality melebur ke dalam motto dalam tujuan seluruh rakyat Amerika yang melekat pada Konstitusi Amerika, yaitu life, liberty, and the pursuit of happiness. Untuk mewujudkan life, liberty and the pursuit of happiness, masyarakat Amerika dituntut untuk bekerja keras secara mandiri sesuai dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Semangat kemandirian ini merupakan esensi dari kebebasan individu yang dimiliki oleh tiap warga negara di Amerika. Spradley dan Rynkiewich (1975:384-385) menjelaskan : “Self-reliance is, as it has always been, the key of individual freedom, and the only real security comes from the ability and the determination to work hard, to plan and to save the present and the future.” (Kemandirian, seperti yang sudah selalu demikian adanya, adalah kunci dari kebebasan individu, dan satu-satunya keamanan yang sesungguhnya adalah berasal dari kemampuan dan determinasi untuk bekerja keras, untuk merencanakan dan menyelamatkan masa kini dan masa depan.)

Nilai-nilai kemandirian ini pun terlihat dari mekanisme pemilihan umum, misalnya dalam Primary Election. Dalam Primary Election, tiap calon kandidat yang ingin mengajukan diri sebagai kandidat calon presiden diharuskan membuat tim kampanyenya sendiri, membuat perencanaan serta pencarian dana kampanye secara mandiri tanpa ada intervensi dari partai politik yang bersangkutan. Proses ini menunjukan kemandirian dalam masyarakat Amerika. Kemandirian inipun memunculkan sebuah semangat berusaha dan jiwa yang optimistik. Tanpa

semangat untuk berusaha dan berjiwa optimistik, maka kemandirianpun tidak akan terwujud. Spradley dan Rynkiewich (1975:373) menunjukkan bahwa

kepercayaan terhadap kemajuan dan sebuah pandangan konstan terhadap masa depan merupakan asumsi-asumsi dasar munculnya semangat berusaha dan jiwa yang optimistik. Dengan demikian, semangat berusaha dan rasa jiwa yang

optimitik ini sangat kental dan menjadi ciri utama dari generasi muda Amerika, terutama usia 17 sampai 40 tahun. Dalam kelompok usia produktif ini, generasi muda selalu berpikiran mengenai masa depan yang lebih baik dan upaya untuk mewujudkannya, termasuk dalam konteks politik, demikian juga generasi muda Amerika. Oleh karena itu, peran generasi muda untuk melakukan sebuah

perubahan dari kondisi buruk ke kondisi yang lebih baik menjadi sangat sentral, terutama dalam sebuah proses politik seperti pemilihan umum. Dengan orientasi masa depan yang lebih baik, generasi muda Amerika atau yang sekarang disebut dengan millenium generation turut mempengaruhi proses pemilihan umum, lewat hak pilihnya ataupun keterlibatannya dalam berbagai aktivitas politik seperti kampanye.

VII. KANDIDASI ANTARA HILLARY DAN OBAMA DALAM DEMOCRATIC PRIMARY ELECTION 2008

Setelah periode kedua dari kepemimpinan Presiden George W. Bush, akhirnya tiba saatnya bagi masyarakat Amerika untuk menentukan pemimpin Amerika selanjutnya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa popularitas Partai Republik mulai menurun setelah banyak kontroversi dari kebijakan presiden George W. Bush yang menuai banyak pro dan kontra. Menurunnya popularitas dari Partai Republik kemudian berpengaruh pada popularitas kandidat calon presiden dari Partai Republik pula. Untuk itulah, dalam pemilihan umum

presiden tahun 2008, masyarakat Amerika lebih menyoroti kandidat calon presiden dari Partai Demokrat yang notabene merupakan lawan politik Partai Republik dalam sistem kepartaian di Amerika yang menggunakan sistem dwipartai. Sebagai kandidat terkuat dari Partai Demokrat, Hillary dan Obama

mendapat perhatian yang sangat besar.dari publik Amerika, khususnya konstituen Partai Demokrat. Seperti yang sudah pernah dijelaskan sebelumnya bahwa baik Hillary maupun Obama adalah representasi dari dua identitas yang berbeda. Identitas dalam konteks politik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemilih dalam menentukan siapa kandidat yang akan dipilihnya. Apalagi di

negara multikultur seperti Amerika, tentunya banyak kelompok yang ingin terwakili kepentingannya di lembaga pemerintahan. Oleh karena itu, dalam

kandidasi antara Hillary dan Obama, pencitraan identitas merupakan hal yang sangat penting digunakan untuk meraih dukungan dari seluruh konstituen Partai Demokrat yang juga mempunyai keberagaman identitas . Beragamnya identitas

dari konstituen Partai Demokrat adalah karena Partai Demokrat merupakan partai yang liberal yang didalamnya juga dan terdiri dari kelompok-kelompok minoritas yang ada di Amerika. Untuk itulah, pada proses kandidasi dalam Democratic Primary Election 2008, setiap kandidat benar-benar dituntut untuk beradu strategi agar berhasil menjadi calon presiden ke-44 Amerika Serikat dari Partai Demokrat.

6.1. Perjalanan Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election 2008: Dari IOWA Sampai ke Denver Democratic Primary Election tahun 2008 dimulai dengan proses pemungutan suara di negara bagian IOWA, atau yang disebut dengan IOWA caucus. IOWA merupakan sebuah battleground yang sangat penting bagi

kandidat calon presiden dalam primary election. Hal ini terjadi karena di IOWA, kandidat bisa melihat masif atau tidaknya kampanye yang mereka dilakukannya sehingga bisa diperbaiki pada primary election di negara selanjutnya. Selain itu, kemenangan di negara bagian IOWA bisa menjadi sebuah shock terapy untuk lawan politik dari tiap-tiap kandidat. Hal ini terjadi karena adanya sebuah mitos yang mengatakan bahwa kandidat yang bisa menjadi pemenang dalam IOWA caucus, maka kandidat tersebut mempunyai kans paling besar untuk menjadi pemenang di Primary Election dan menjadi Presiden Amerika selanjutnya. Mitos ini muncul sejak kemenangan Jimmy Carter pada tahun 1976, dengan mendapat perolehan suara sebesar 27,7%. Setelah kemenangan di IOWA, Jimmy Carter berhasil memenangkan Democratic Primary Election pada tahun itu, serta berhasil menjadi Persiden Amerika setelah menang dalam pemilihan umum presiden di tahun yang sama.

Pada dasarnya mitos mengenai pengaruh dari kemenangan di IOWA caucus terhadap tren kemenangan di primary selanjutnya merupakan hal yang sangat rasional jika dilihat secara logika dan fakta-fakta yang ada. Rasionalisasi dari mitos tersebut adalah, IOWA merupakan negara bagian pertama yang menyelenggarakan primary election. Sebagai negara bagian pertama, tentunya perhatian seluruh masyarakat akan tertuju pada pada primary election yang ada di IOWA. Hal ini berbeda dengan Super Tuesday yang notebene diikuti secara serentak oleh 22 negara bagian, satu distrik, dan Democrats abroad18 di Amerika . Artinya, media punya peran yang sangat signifikan dalam memberitakan dan meng-expose segala hal yang terjadi pada IOWA caucus, termasuk kandidasi antarkandidat. Maraknya pemberitaan oleh media tentunya berpengaruh terhadap popularitas dari masing-masing kandidat yang bersaing. Popularitas ini akan

makin tinggi jika kandidat tersebut keluar sebagai pemenang dan berhasil menarik perhatian konstituen melalui penggunaan strategi yang tepat. Penjelasan tersebut tampaknya sangat sesuai dengan kondisi yang dialami oleh Obama dalam Democratic Primary Election 2008. Sebagai kandidat yang disebut-sebut underdog, ternyata Obama mampu membuktikan kapasitasnya sebagai kandidat calon presiden Amerika yang pantas diperhitungkan. Apalagi mengingat bahwa IOWA bukan merupakan negara bagian yang dihuni oleh mayoritas kaum Amerika-Afrika, tapi sebaliknya, IOWA merupakan negara bagian yang sebagian besar penduduknya adalah masyarakat kulit putih. Kemenangan Obama di IOWA telah menjadi sebuah tren positif terhadap
18

Sebutan bagi konstituen Partai Demokrat dari penduduk negara bagian peserta Super Tuesday yang sedang keluar negeri

popularitas Obama di mata konstituen Partai Demokrat. Hal ini terlihat semenjak Obama memenangi IOWA caucus, perlahan popularitasnya meningkat dan mulai mendekati popularitas Hillary sebagai lawan politiknya yang terkuat sekaligus favorit juara karena selalu menempati urutan pertama dari tiap polling yang diadakan oleh berbagai lembaga survey di Amerika sebelum proses primary election dimulai. Kemenangan Obama di IOWA sekaligus menjadi sebuah

penanda bagi Hillary bahwa Obama yang merupakan kaum Amerika-Afrika dan juga sebagai yuniornya dalam karir politiknya di Partai Demokrat adalah lawan politik yang harus diperhitungkan, sebab, Obama - khususnya bagi konstituen Partai Demokrat di IOWA - dianggap memiliki kemampuan yang luar biasa untuk membawa perubahan di Amerika. Pendapat tersebut tampaknya bisa memperjelas bahwa dalam logika marketing, slogan kampanye yang dibawa oleh Obama sesuai dengan kebutuhan pasar. Inilah yang menjadi nilai lebih dari Obama, di samping kemampuan retorika yang Obama miliki. Kekalahan pertama di IOWA tampaknya membuat Hillary memutar otak untuk memenangi primary election di negara bagian New Hamsphire. Sebagai negara bagian yang hanya memiliki 1,2% penduduk kaum Amerika-Afrika, tentunya New Hampshire membuat kans Hillary untuk keluar sebagai pemenang cukup besar. Hal itu didukung oleh kenyataan bahwa ada beberapa kandidat lainnya dari primary election, seperti Joe Biden dan Chris Dodd yang mundur pada tanggal 3 Januari 2008, setelah kekalahan keduanya di IOWA caucus. Optimisme Hillary untuk memenangi New Hamsphire dapat dilihat dari perkataannya dalam sebuah wawancara menjelang New Hamsphire primary

(www.voa.com), yaitu: “I have so many opportunities from this country.” (Saya memiliki begitu banyak peluang di negara bagian ini.) Satu hal yang menarik adalah ketika dia melanjutkan memperjelas perasaan optimisnya dengan mengatakan: “I just don't want to see us fall backwards. This is very personal for me. It is not just political, it is not just public. I see what is happening and we have to reverse it.” (Saya hanya tidak ingin melihat kita jatuh ke belakang. Hal ini sangat pribadi bagi saya. Bukan hanya soal politik, atau bukan juga soal publik. Saya melihat apa yang sedang terjadi dan kita harus memperbaikinya.) Dari perkataan tersebut kita bisa melihat bahwa Hillary melihat kekalahannya atas Obama di IOWA caucus bukan karena sebatas permasalahan politik, namun karena ada hal lain yang lebih signifikan berpengaruh terhadap kandidasi antara dirinya dengan Obama. Walaupun Hillary merasa optimis untuk dapat

memenangkan New Hamsphire primary, namun tidak menutup kemungkinan pula Obama dapat meraih mayoritas suara dari konstituen Partai Demokrat yang berkulit putih di negara bagian ini, seperti yang terjadi di IOWA. Inilah yang menjadi kekhawatiran Hillary, karena sebagai politikus yang berpengalaman, Hillary memiliki kemampuan untuk bisa melihat apa yang menjadi salah satu inti permasalahan dari persaingannya dengan Obama. Misalnya, pertarungan nilai yang terdapat dalam diri konstituen untuk memilih ketika melihat dirinya dan juga Obama. Pertarungan nilai tersebut salah satunya tercermin dari nilai yang

terkandung dalam konsep WASP. Jika dilihat dari nilai-nilai konsep WASP, kemenangan Obama di IOWA yang merupakan negara bagian dengan jumlah penduduk kulit putih yang mencapai 96,5% adalah hal yang sangat mengejutkan.

Kekhawatiran Hillary terbukti ketika John Edwards memberikan suara yang diraihnya di New Hamsphire kepada Obama melalui mekanisme endorsed19, tiga minggu setelah pelaksanaan New Hamsphire primary.. Hasil perolehan suara di IOWA caucus dan New Hamsphire primary membuat Hillary dan Obama mulai percaya diri dalam menghadapi Primary Election di negara bagian lainnya yang belum melangsungkan Primary Election. Kepercayaan diri ini bertambah dengan mundurnya beberapa kandidat lain sehingga persaingan akan semakin mengerucut pada Hillary dan Obama. Walaupun sempat tersandung di New Hamsphire, namun Obama segera meraih kemenangannya sampai dengan memperoleh mayoritas delegates karena mendapat pledged delegates dari perolehan suara John Edwars di New Hamsphire. Setelah itu, Obama melanjutkan tren kemenangannya di negaranegara bagian selanjutnya, seperti Nevada dan South Carolina. Demikian juga dengan Hillary, berkurangnya jumlah kandidat membuat kepercayaan dirinya mulai meningkat sehingga bisa memperoleh hasil positif di Michigan dan Florida. Dengan kemenangan Hillary di Michigan dan Florida, berarti secara kuantitas negara bagian kemenangan antara Hillary dan Obama seimbang, karena masingmasing sampai dengan tanggal 29 Januari 2008 mengantongi tiga kemenangan dari enam negara bagian. Modal kemenangan di tiga negara bagian bagi masing-masing kandidat yaitu Obama memenangkan IOWA, Nevada, dan South Carolina sedangkan Hillary di New Hamsphire, Michigan, dan Florida merupakan modal yang cukup
Mekanisme di mana seorang kandidat boleh memberikan suara yang diperolehnya dalam Primary Election kepada kandidat lainnya setelah menyatakan mundur dari Primary Election sekaligus dukungannya kepada kandidat yang akan diberi suara. sumber www.wikipedia.com.
19

untuk menghadapi Super Tuesday yang akan berlangsung pada tanggal 5 Februari 2008. Primary Election yang diselenggarakan pada saat Super Tuesday

merupakan bagian paling melelahkan dari seluruh agenda Democratic Primary Election 2008. Hal ini terjadi karena selain harus berjuang di negara bagian peserta Super Tuesday, kandidat dari Partai Demokrat juga harus menghadapi negara-negara bagian yang merupakan basis dari Partai Republik. Meskipun

konstituen Partai Republik tidak berpengaruh pada para kandidat dalam Democratic Primary Election, namun paling tidak, baik Hillary maupun Obama harus mulai menarik simpati konstituen dari Partai Republik jika salah satu dari keduanya dapat meraih satu tiket menuju White House. Hal ini sangat mungkin terjadi karena bertambahnya kandidat yang mundur dari pencalonan, seperti Bill Richardson pada tanggal 10 Januari 2008, Dennis Kucinich pada tanggal 23 Januari 2008, dan diikuti oleh Mike Gravel dan John Edwards pada tanggal 30 Januari 2008, membuat kandidasi antara Hillary dan Obama semakin ketat. Menjelang Super Tuesday, baik Hillary maupun Obama sangat intens menyoroti masalah ekonomi. Hal ini terjadi karena memang sebagian besar para pemilih menganggap ekonomi sebagai permasalahan besar yang harus diurus ditangani oleh Pemerintah AS. Strategi kampanye dengan menyoroti masalah ekonomi memang sangat efektif untuk menarik perhatian dari konstituen Partai Demokrat. Hal ini terbukti dari perolehan kemenangan yang tipis antara Hillary dan Obama dalam Super Tuesday tersebut. Obama memenangi 12 negara bagian seperti Alabama, Alaska, Colorado, Connecticut, Delaware, Georgia, Idaho, Illinois, Kansas, Minnesota, North Dakota, Utah, dan ditambah dengan

kemenangan dari Democrats abroad. Di sisi lain, Hillary memenangi negara bagian seperti Arizona, Arkansas, California, Massachussets, New Jersey, New Mexico, New York, Oklahoma dan Tennessee. Sementara di negara bagian Hal ini

Missouri, hasil pertarungan antara Hillary dan Obama adalah draw.

menunjukkan betapa ketatnya kandidasi antara Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election 2008 Dalam Super Tuesday, Hillary berhasil menjadi pemenang di sejumlah negara bagian besar seperti New York dan California. Kemenangan Hillary di dua negara bagian tersebut memunculkan kekhawatiran bagi Obama. Hal ini terjadi karena kedua negara bagian tersebut adalah negara dengan jumlah penduduk yang padat. Artinya, sistem penentuan Super Delegates yang

proporsional dengan jumlah penduduk menghasilkan anggota Super Delegates yang cukup banyak, yaitu 370 untuk California dan 232 untuk New York. Ini adalah jumlah terbesar dibandingkan dengan negara bagian yang lain. Oleh

karena itu, California dan New York merupakan salah satu battleground yang cukup menjadi perhatian besar bagi tiap kandidat untuk meraih mayoritas suara. Hillary sebagai senator negara bagian New York tampaknya lebih optimis dalam memenangkan Primary Election di negara bagian tersebut. Hal ini terbukti

dengan kemenangan Hillary di New York yang tidak jauh berbeda dengan kemenangan Obama di Illinois yang merupakan basis di mana Obama menjabat sebagai senator. Optimisme Hillary pun terbukti dengan kemenangan yang

diraihnya di California.

Satu hal yang menarik dari kemenangan Hillary di California adalah kemampuan Hillary untuk meraih mayoritas dukungan dari konstituen Hispanic20 Di California terdapat 30% pemilih Hispanic dari total konstituen Partai Demokrat. Selain di California, Hilllary juga mampu meraih kemenangan di negara-negara bagian dengan jumlah penduduk Hispanic yang besar, seperti Texas dengan 32% pemilih Hispanic, dan New Mexico dengan 35% pemilih Hispanic. Satu hal yang menarik dari pemilih Hispanic dalam Primary Election adalah bahwa mayoritas pemilih Hispanic yang memberikan suaranya untuk Hillary adalah para pemilih dari usia muda, yaitu 17 sampai 29 tahun. Pada tingkatan usia tesebut, Hillary mendapatkan 62% suara; sedangkan Obama hanya meraih 32% suara. Hal ini berbeda dengan konstituen Partai Demokrat yang berkulit putih ataupun kaum Amerika-Afrika. Masyarakat kulit putih dan kaum Amerika-Afrika dalam kisaran usia 17 sampai 29 tahun justru lebih banyak memilih Obama. Salah satu penyebab dari hal tersebut adalah karena bagi

pemilih Hispanic, faktor gender dan ras bukanlah faktor yang cukup penting sebagai pertimbangan dalam menentukan pilihan. Bagi para pemilih Hispanic, kapabilitas serta pengalaman dari kandidat menjadi faktor yang penting untuk dipertimbangkan dalam proses pemilihan. (www.pewhispanic.com) Walaupun Hillary menang di beberapa negara bagian peserta Super Tuesday, namun Hillary masih tidak bisa mengejar ketertinggalan jumlah suaranya dari jumlah suara Obama yang lebih banyak karena mampu meraih lebih banyak
20

kemenangan

di

negara-negara

bagian

peserta

Super

Tuesday.

Sebutan untuk masyarakat Amerika yang memiliki keturunan dari Amerika Latin maupun keturunan campuran antara kulit putih dengan latino.

Kemenangan di Super Tuesday semakin memuluskan jalan Obama menuju White House. Pada tahap ini, mulai muncul rasa frustasi dalam kubu Hillary.

Kampanye-kampanye gelap soal rasial yang mengaitkan Obama dengan ayahnya yang beragama Islam mulai dilancarkan oleh kubu Hillary. Kampanye inipun menuai banyak kritik, sampai akhirnya Hillary memecat tim kampanyenya yang melakukan kampanye gelap tersebut. Hal ini berimbas pada popularitas Hillary yang semakin turun karena kampanye gelap tersebut justru menarik makin banyak pihak yang bersimpati terhadap Obama. Hal ini dapat dilihat dari kemenangan Obama secara beruntun di 10 negara bagian, yaitu Louisiana, Nebraska, Washington, Virgin Island, Maine, District Columbia, Maryland, Virginia, Hawaii, dan Wisconsin yang menyelenggarakan Primary Election pada tanggal 9, 10, 12, dan 19 Februari 2008. Dari 10 negara bagian yang dimenangkan oleh Obama, bisa dilihat berapa negara bagian yang seharusnya bisa dimenangkan oleh Hillary, seperti Maine, Virginia, dan Maryland. Ketiga negara bagian tersebut adalah bagian dari wilayah yang menjadi embrio dari pembentukan Thirteen Colonies. Sebagai wilayah

embrio yang didominasi oleh masyarakat WASP, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Hillary untuk memenangi ketiga negara bagian tersebut. Namun,

kenyataannya tidaklah demikian. Apakah hal ini terjadi karena Hillary adalah seorang perempuan yang dalam sejarah Amerika selalu ditempatkan dalam posisi subordinat? Jika melihat Partai Demokrat yang merupakan partai yang liberal, seharusnya jawaban dari pertanyaan tersebut adalah ‘tidak’. Ini berarti ada faktor lain, misalnya usia. Dilihat dari faktor usia, tentunya Hillary dan Obama berasal

dari generasi yang berbeda. Perbedaan tersebut termasuk dalam karirnya masingmasing di dunia politik. Hillary adalah kandidat yang merepresentasikan sebuah ‘status quo’ dari orang lama di Pemerintahan Amerika; sedangkan Obama merepresentasikan orang baru di pemerintahan dan diharapkan dapat membawa perubahan atas kondisi Amerika saat ini. Sampai pada titik ini, terlihat pemilih Amerika yang retrospektif, yaitu pemilih yang menentukan pilihan dengan melihat evaluasi pada pemerintahan sebelumnya. Apa yang terjadi pada Amerika Serikat sampai dengan kepemimpinan Geroge W. Bush, membuat konstituen Partai Demokrat beranggapan bahwa diperlukan sebuah regenerasi kepemimpian dengan mengangkat pemimpin-pemimpin muda yang dirasakan diharapkan dapat membawa perubahan. Meskipun sempat tersungkur di 10 negara bagian pasca-Super Tuesday, akhirnya Hillary dapat bangkit kembali pada Primary Election yang dilaksanakan tanggal 4 Maret 2008. Kebangkitan ini dibuktikan dengan kemenangannya di negara bagian Ohio, Rhode Island, dan Texas Primary. Sementara Obama hanya menang di Texas Caucus dan Vermont. Kemenangan Hillary di negara-negara bagian tersebut menunjukkan keberhasilannya dalam meraih suara dari para pemilih kulit putih yang beragama Katholik. John Green

(www.pewresearchcenter.com) mengatakan: “Religious affiliation -- the religious communities to which people belong -- is a very important part of the structure of faith-based politics. As in the past, religious affiliation is very closely linked to ethnicity and race. It is worth spending a moment on this linkage in the form of "ethno-religious" groups.” (Afiliasi religius -- komunitas religius di mana orang-orang berkumpul -adalah bagian yang sangat penting dalam struktur politik yang berbasiskan

kepercayaan. Seperti yang terjadi di masa lalu, afiliasi religius berhubungan dekat dengan etnisitas dan ras. Sangatlah berharga untuk meluangkan waktu pada keterhubungan ini dalam bentuk kelompok “etnoreligius”.) Dari pendapat John Green tersebut, dilihat bahwa konstituen Partai Demokrat yang beragama Katholik adalah salah satu basis politik yang cukup kuat. Untuk itulah, tiap kandidat berusaha untuk meraih mayoritas dukungan dari konstituen Partai Demokrat yang beragama Katholik. Keberhasilan Hillary dalam meraih dukungan mayoritas dari konstituen Katholik sama seperti keberhasilan yang diraih Bill Clinton dalam pemilihan presiden tahun 1992. Keberhasilan Hillary dalam meraih pemilih Katholik juga terlihat di beberapa negara bagian lainnya, seperti di Pennsylvania, di mana Hillary berhasil memperoleh 63 % pemilih konstituen kulit putih dengan 72% di antaranya adalah pemilih Khatolik. Kemenangan Hillary atas para pemilih Katholik disebabkan oleh beberapa hal. Pertama adalah pengaruh dari kata-kata yang dilontarkan oleh Obama dalam kampanyenya. Obama selalu menggelorakan apa yang disebut dengan ‘reformoriented’ yang didasarkan atas pengamatannya terhadap sejarah Amerika sampai dengan kepemimpinan George W. Bush. hubungan antara Protestan dan Katholik. Kata “reform” berkorelasi dengan Berdasarkan sejarah, kelompok

Protestan muncul dari penolakan pengaruh ajaran Kristen Roma di Inggris. Penolakan tersebut kemudian mengakibatkan munculnya gerakan reformasi gereja (Church-reform) yang terjadi di Inggris. Kelompok yang hendak melakukan

“reform” tersebut kemudian menamakan dirinya kelompok Protestan. Konteks yang terkait dengan condongnya dukungan konstituen Katholik terhadap Hillary adalah ketika Obama berbicara “reform”, maka konstituen Katholik menggangap

Obama akan lebih condong pada kelompok Protestan daripada kelompok Katholik. Kedua, dalam kampanyenya, Hillary banyak menyinggung soal isu-isu klasik yang berkaitan dengan keadilan dan martabat buruh Katholik di Amerika. Strategi inipun dipakai oleh Clinton dalam kampanyenya pada tahun 1992 (Clinton dan Al Gore, 1992). Dari penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa faktor religiusitas seseorang dapat berpengaruh terhadap pada afiliasi politiknya. Melewati setengah putaran dari seluruh rangkaian primary election di bulan April, publik Amerika - khususnya konstituen Partai Demokrat - dikejutkan oleh sebuah berita tentang beredarnya sebuah video dari pendeta kaum AmerikaAfrika yang bernama Jeremiah Wright. Video tersebut berisi tentang pernyataan Jeremiah Wright yang bernada memojokkan Amerika Serikat. Jeremiah Wright merupakan adalah pendeta di gereja yang secara rutin dihadiri oleh Obama. Berikut adalah sedikit kutipan dari pernyataan Jeremiah Wright

(www.abcnews.com): “The government gives them the drugs, builds bigger prisons, passes a three-strike law and then wants us to sing 'God Bless America.' No, no, no, God damn America, that's in the Bible for killing innocent people, God damn America for treating our citizens as less than human. God damn America for as long as she acts like she is God and she is supreme.” (Pemerintah memberi mereka obat-obatan, membangun penjara yang lebih besar, dan mengeluarkan hukum tiga pukulan dan kemudian menginginkan kita untuk menyanyikan bernyanyi “God Bless America”. Tidak, tidak, tidak, Tuhan mengutuk Amerika, hal itu ada di Alkitab untuk membunuh orang-orang tidak bersalah, Tuhan mengutuk Amerika karena telah memperlakukan penduduk kita secara tidak manusiawi. Tuhan mengutuk Amerika selama Amerika bertindak seolah-olah Amerika adalah Tuhan dan Amerika adalah yang tertinggi.) Pernyataan Jeremiah Wright ini kemudian dijadikan sebuah senjata untuk menyerang Obama. Menghadapi kondisi seperti itu, Obama berusaha mengelak

dengan sigap karena pernyataan Jeremiah Wright ini jelas-jelas dapat merugikan Obama, bahkan dapat kembali mengangkat isu ras dalam politik Amerika. Meskipun Obama berusaha mengelak dengan mengatakan bahwa dirinya tidak sependapat dengan Jeremiah Wright, namun sebaliknya, Jeremiah Wright selalu menyampaikan di berbagai forum bahwa apa yang dia sampaikan mencerminkan pemikiran dari kaum Amerika-Afrika dan juga, tentu saja, Obama. Artinya, isu ras masih menjadi hal yang sangat sensitif bagi masyarakat Amerika. Semakin ketatnya persaingan antara Hillary dan Obama membuat Partai Demokrat dalam kondisi yang sulit. Di satu sisi pengurus partai berharap agar calon yang mereka usung merupakan calon yang memperoleh dukungan dari mayoritas konstituen. Namun di sisi lain, kandidasi antara Hillary dan Obama tidak bisa dihentikan begitu saja. Dengan demikian, pengurus partai harus menunggu sampai salah satu dari kandidat tersebut meraih jumlah suara minimal untuk menjadi pemenang dalam Primary Election, yaitu 2025 suara. Kekhawatiran dari pengurus partai semakin menjadi-jadi sebab Partai Republik yang merupakan menjadi saingan dari Partai Demokrat sudah menentukan John McCain sebagai calon presiden dari Partai Republik. Ini berarti bahwa Partai Demokrat telah tertinggal satu langkah dari Partai Republik. Dalam kondisi

seperti ini, pengurus partai harus mempersiapkan beberapa strategi untuk menghadapai kemungkinan terburuk. Strategi-strategi tersebut dapat dilihat

dalam Primary Election yang diselenggarakan di negara bagian West Virginia, Kentucky dan Oregon. Jika Hilllary dapat menang dengan jumlah suara yang signifikan, Hillary bisa terus melanjutkan Primary Election. Namun, jika kalah

atau perbedaan suaranya tipis, maka Hillary harus rela mundur dan memberi kesempatan pada Obama untuk menjadi calon presiden dari Partai Demokrat. Kebijakan ini diambil oleh pengurus partai karena mereka takut dengan efek yang ada ditimbulkan bagi Partai Demokrat dari ketatnya kandidasi antara Hillary dan Obama, yaitu terpecahnya suara Partai Demokrat dalam pemilihan presiden 4 November 2008. Kemenangan Hilllary atas West Virginia dan Kentucky tampaknya harus membuat pengurus Partai Demokrat menunggu sampai akhir Primary Election di beberapa negara bagian yang tersisa, yaitu Puerto Rico, Montana, dan South Dakota. Dari tiga negara bagian tersebut, Obama berhasil menang di Montana; sedangkan Hilllary menang di Puerto Rico dan South Dakota. Dengan demikian, Obama mendapatkan total 2187.5 suara dan Hillary 1927 suara21. Berikut adalah hasil selengkapnya dari perolehan Super Delegates dari Hillary dan Obama:

Tabel 1. Hasil Perolehan Delegates Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election Tahun 2008 DATE Total Jan 3 Jan 8 Jan 15 Jan 19 Jan 26 Jan 29 STATE Super Delegates IOWA New Hampshire Michigan Nevada South Carolina Florida DELEGATES OBAMA CLINTON 4119 2187.5 1927 796 423 287.5 45 28 14 22 13 9 64 29.5 34.5 25 14 11 45 33 11 92.5 38.5 52.5 OTHERS 4.5 0 3 0 0 0 0 1.5

21

Lebih jelas lihat di www.barackobama.com\result.

Alabama Alaska American Samoa Arizona Arkansas California Colorado Connecticut Delaware Democrats Abroad Georgia Idaho Illinois Kansas Massachusetts Minnesota Missouri New jersey New Mexico New York North Dakota Oklahoma Tennessee Utah Feb 9 Louisiana Nebraska Washington Virgin Islands Feb 10 Maine District Columbia Maryland Virginia Feb 12 Hawaii Wisconsin Feb 19 Ohio Rhode Island Texas Primary Texas Caucus Vermont Mar 4 Wyoming Mar 8 Mississippi Mar 11 Pennsylvania Apr 22 Guam

Feb 5

52 13 3 56 35 370 55 48 15 7 87 18 153 32 93 72 72 107 26 232 13 38 68 23 56 24 78 3 24 15 70 83 20 74 141 21 126 67 15 12 33 158 4

27 10 1 25 8 166 36 26 9 4.5 60 15 10 23 38 48 36 48 12 93 8 14 28 14 34 16 52 3 15 12 42 54 14 42 67 8 61 38 9 7 20 73 2

25 3 2 31 27 204 19 22 6 2.5 27 3 49 9 55 24 36 59 14 139 5 24 40 9 22 8 26 0 9 3 28 29 6 32 74 13 65 29 6 5 13 85 2

-

May 3 May 6 May 13 Jun 1 Jun 3

Indiana North Carolina West Virginia Kentucky Oregon Puerto Rico Montana South Dakota

72 115 28 51 52 55 16 15

34 67 8 14 31 17 9 6

38 48 20 37 21 38 7 9

-

Sumber: www.barackobama.com\result

Dengan kemenangan yang diperoleh dalam Democratic Primary Election ini, maka Obama berhasil menjadi laki-laki kulit hitam pertama yang memenangi Primary Election sekaligus berkesempatan menjadi presiden pertama Amerika Serikat yang memilih darah Amerika-Afrika. Selanjutnya, Obama hanya tinggal menunggu pengesahan dirinya sebagai calon presiden ke-44 Amerika Serikat dari Partai Demokrat melalui konvensi nasional Partai Demokrat di Denver, Colorado, yang dimulai pada bulan Agustus 2008. Jika dilihat dengan teliti, konvensi Partai Demokrat hanya sebatas formalitas saja karena proses kandidasi yang sebenarnya adalah pada Primary Election. Terlepas dari itu, konvensi Partai Demokrat bisa dilihat sebagai forum untuk mendengarkan pendapat dari suara Super Delegates yang merupakan wakil dari tiap negara bagian.

6.2. Solutions for America dan Change We Can Believe in Dalam konsep political marketing, image atau pencitraan yang baik dapat berpengaruh secara signifikan terhadap popularitas seorang kandidat untuk meraih dukungan politik. Pencitraan seorang kandidat tersebut salah satunya dapat dilihat dari slogan yang diusung. Slogan dalam political marketing dapat memunculkan sebuah stimulus politik yang selanjutnya akan mempengaruhi sikap, aspirasi, dan

perilaku, termasuk pilihan politik. Oleh karena itu, pemilihan slogan dari seorang kandidat harus merepresentasikan kebutuhan konstituen. Seperti halnya tayangan iklan sebuah produk komersil, slogan politik dari seorang kandidat dapat mempengaruhi individu dari tataran kognitif sampai adaptif. Artinya, slogan

kampanye akan berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah suara yang akan didapatkan seorang kandidat dalam sebuah pemilihan umum. Hillary dan Obama dalam Democratic Primary Election tahun 2008 menawarkan dua buah slogan yang berbeda, Hillary dengan slogan “Solutions for America” dan Obama dengan slogan “Change We Can Believe In”. Dua slogan yang berbeda tersebut tentunya memiliki makna dan tujuan yang berbeda pula. Secara sederhana, ketika kita melihat dua slogan tersebut tentunya kita akan bertanya: Solusi seperti apa? Kemudian, perubahan seperti apa? Berangkat dari dua pertanyaan tersebut, agaknya harus disepakati bahwa pemilihan slogan-slogan tersebut tidak sekedar asal pilih. Slogan-slogan tersebut pastilah

merepresentasikan sebuah visi, misi dan tujuan dari kedua calon tersebut. Hillary Clinton merupakan pemain lama dalam pentas politik dan pemerintahan Amerika. Untuk itulah, dapat dilihat bahwa Hillary

merepresentasikan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman yang luar biasa dalam politik dan pemerintahan Amerika. Jadi, dapat dilihat bahwa slogan

“Solutions for America” yang diusungnya merupakan representasi dari penawaran atas pengetahuan, pemahaman dan pengalaman yang dimiliki oleh Hillary. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Hillary (www.voa.com), yaitu: “I see what is happening and we have to reserve it. Some people think elections are a

game. They think it like who is up or who is down. It is about our country.” (Saya melihat apa yang sedang terjadi dan kita harus memperbaikinya. Beberapa orang berpikir bahwa pemilihan adalah sebuah permainan. Mereka berpikir pemilihan hanyalah sebatas siapa yang ada di atas atau siapa yang ada dibawah. Ini tentang negara kita.) “Our country”yang dikatakan oleh Hillary adalah Amerika Serikat sebagai sebuah negara federal . Hal ini menjelaskan bahwa memang Hillary menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan individu maupun komunitas. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa nilai yang sakral dalam budaya Amerika, yaitu posisi negara diatas komunitas dan individu dalam piramida terbalik, memang benar-benar terepresentasi dalam slogan yang diusungnya. Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa slogan yang diusung oleh Hillary merupakan pencerminan dari nilai sakral yang ada di Amerika. Meskipun demikian, slogan yang diusung oleh Hillary tidak bisa mengonstruksi citra lebih dari itu. Bahkan ada kecenderungan bahwa) citra Hillary terlampau terbebani oleh sejarah, terutama pada saat dia harus menemani skandal demi skandal yang menimpa Bill Clinton. Di berbagai media muncul kecenderungan asumsi bahwa Hillary tidak jujur di beberapa kesempatan terhadap berbagai isu yang menjadi pertanyaan publik. Selain itu, juga ada kekhawatiran intervensi atau asistensi berlebihan yang sangat mungkin dilakukan oleh Bill Clinton. Isu inilah yang beberapa waktu lalu mencuatkan sebutan sinis untuk perpaduan Bill dan Hillary yakni ’Billary’. Berbeda dengan Hillary, Obama mengusung sebuah slogan yang cukup menjanjikan, yaitu “Change We Can Believe In”. Dari kata ‘Change’, dilihat bahwa slogan ini merepresentasikan sebuah semangat muda yang gerah melihat

kebobrokan pemerintahan yang digawangi oleh generasi tua. Namun demikian, nilai yang ingin disampaikan dalam slogan ini bukanlah nilai yang hanya sekedar berharap dan tidak mau bergerak. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Obama: “The politics of hope has never meant that we ignore difficult problems.” (Politik harapan tidak pernah berarti bahwa kami mengabaikan masalah-masalah yang sulit.) Ini menjelaskan bahwa Obama mencoba sebuah harapan tentang perubahan yang akan direalisasikan dengan program-program yang

ditawarkannya. Jika dicermati, slogan ini mirip dengan iklan politik ’Daisy’ milik Lyndon Bay Johnson yang pada waktu itu secara tegas dan eksplisit menolak penggunaan nuklir atau kekerasan berdarah-darah di Kremlin. Selain itu pula, slogan ini berupaya mengasosiasikan diri Obama dengan tema yang

ditawarkannya, yaitu ingin membawa Amerika ke era baru perubahan. Slogan ”change” ini secara faktual sangat digandrungi oleh kaum muda, kelompok terdidik dan kaum kritis. Ini tentu saja mengingatkan kita pada suksesnya Bill Clinton pada 1992, yang waktu itu juga mengusung slogan ”change” dan dengan konsepnya ”a time for change” hingga mengalahkan George H.W. Bush yang berkuasa sejak 1988. Pertarungan slogan antara “Solutions for America” dan “Change We can Believe in” memperlihatkan sebuah pertentangan pemikiran dan orientasi dari dua kandidat yang mewakili dua generasi yang berbeda. Pertentangan pemikiran ini tidak hanya terjadi pada Hillary dan Obama sebagai dua kandidat yang sedang berkandidasi, namun juga memperlihatkan pertentangan pemikiran dan orientasi dari generasi tua dan generasi muda yang termasuk dalam konstituen Partai

Demokrat.

“We can Believe in” memperlihatkan semangat dan optimisme

Obama untuk melakukan perubahan di Amerika. Semangat ini sangat mengena pada konstituen Partai Demokrat berusia di bawah 40 tahun yang notabene sebagai konstituen dengan jumlah terbesar. Ini jelas berbeda dengan slogan

Hillary yang hanya mampu menarik simpati dari konstituen Partai Demokrat di atas usia 40 tahun. Dengan perbedaan tersebut, maka dapat dilihat bahwa slogan yang diusung Obama lebih efektif dalam meraih suara dari konstituen Partai Demokrat dan mampu memberi ruang lebih bagi Obama untuk dapat memenangkan Democratic Primary Election 2008.

6.3. Signifikansi Perbedaan Ras, Gender dan Usia Kandidat terhadap Konstituen Partai Demokrat Bagi konstituen Partai Demokrat, menentukan siapa kandidat calon presiden untuk mewakili Partai Demokrat dalam pemilihan presiden Amerika tahun 2008 adalah sebuah pilihan yang sulit. Munculnya Hillary dan Obama sebagai calon-calon terkuat merupakan penyebab utama dari dilemma yang ada pada konstituen Partai Demokrat. Seperti yang pernah dijelaskan sebelumnya, permasalahan ras dan gender adalah sebuah permasalahan yang pernah menjadi issue sentral dalam kehidupan demokrasi di Amerika. Dalam sebuah wawancara, Hillary Clinton (www.abcnews.com) mengatakan: “… You know issues of race and gender in America have been complicated throughout our history and they are complicated in this primary campaign. There have been detours and pitfalls along the way but we should remember that this is a historic moment for the Democratic Party and for our country. We will be nominating the first African American or woman to the presidency of the United States.”

(… Anda tahu bahwa isu tentang gender dan ras di Amerika telah menjadi rumit sepanjang sejarah dan masih saja rumit dalam kampanye pendahuluan ini. Ada banyak persimpangan dan jurang dalam perjalanannya, tapi kita harus mengingat bahwa ini adalah momen yang bersejarah bagi Partai Demokrat, dan bagi negara kita. Kita akan segera menominasikan seorang Amerika-Afrika atau perempuan pertama sebagai Presiden Amerika Serikat.) Sependapat dengan Hillary, Lisa Chedekel dan Regine Laboissiere dalam artikelnya yang berjudul “The Dilemma of Gender And Race: Voters Weigh Implications Of Unprecedented Choice” (www.courant.com) menjelaskan: “Gender and race politics are weighing in the presidential election in ways they never have before, with some Democrats viewing the run off between Clinton and Illinois Sen. Barack Obama as a double-or-nothing shot at making history.” (Gender dan politik ras sangat kental terasa pada pemilihan presiden dalam berbagai macam bentuk yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan beberapa orang dari Partai Demokrat yang menilai lenggangnya Clinton dan Senator Illinois Barack Obama sebagai tembakan ganda-atau-kosong dalam menciptakan sejarah.) Dari penjelasan tersebut, dilihat bahwa ini merupakan sebuah kondisi paling sulit yang dialami oleh konstituen Partai Demokrat sepanjang sejarah Democratic Primary Election. Di samping keduanya adalah calon terkuat yang mewakili identitas berbeda, hal ini terjadi juga karena kondisi negara Amerika yang sedang krisis dan membutuhkan seorang pemimpin yang sanggup memperbaiki krisis tersebut. Selain itu, konstituen juga akan dipengaruhi oleh konstruksi sejarah dan konstruksi sosial yang membayang-bayangi kaum Amerika-Afrika dan juga kaum perempuan di Amerika. Kebimbangan yang ada pada konstituen ini kemudian menuntut Hillary dan Obama untuk memeras otak dalam adu strategi demi meraih popularitas dan dukungan terbanyak dari konstituen. Artinya, dibandingkan

dengan persaingan yang ada di Partai Republik, persaingan antara Hillary dan

Obama lebih membutuhkan tenaga yang ekstra keras dalam usaha memenangkan Primary Election. Oleh karena itu, perbedaan identitas keduanya bisa menjadi sebuah kelemahan atau bahkan kekuatan dalam kampanye yang dilakukan oleh masing-masing calon. Seperti yang diutarakan oleh Lisa Chedekel dan Regine Laboissiere (www.courant.com): ”The two Democratic front-runners are closely aligned on issues, so the politics of identity has ballooned in importance, prompting new theories on the power of cultural allegiances and sparking "who's-got-it-tougher?" dinner-table debates.” (Dua orang kandidat terdepan dari Partai Demokrat sangat melekat pada isu-isu, jadi politik identitas telah melambungkan kepentingan, mendorong teori baru atas kekuasaan dari kesetiaan kultural dan mengilaukan “siapa yang lebih tabah?” debat dalam jamuan makan malam.) Dari pendapat yang diutarakan Lisa Chedekel dan Regine Laboissiere tentang kandidasi antara Hillary dan Obama, bisa dilihat bahwa perbedaan identitas antara Hillary dan Obama bisa menjadi sebuah kelebihan jika dikemas dalam sebuah strategi politik yang elegan. Hal ini terbukti pada kampanye yang dilakukan oleh Hillary dan Obama di South Carolina yang merupakan negara bagian di Amerika dengan populasi kaum Amerika-Afrika yang tinggi, yaitu sekitar 28,7%. Keduanya menggunakan issue gender dan ras sebagai salah satu strategi untuk mendapatkan popularitas. Namun, issue ras dan gender tersebut bukan digunakan untuk menyerang satu sama lain, tetapi justru untuk meraih dukungan dari konstituen dari kelompok lain, selain kaum perempuan ataupun kaum AmerikaAfrika. Hal itu tercermin dalam berita yang termuat dalam

www.thewashingtonpost.com mengenai kampanye presiden di South Carolina.

Dalam berita yang berjudul “As Clinton Makes Gender-Based Appeal, Obama Makes Race as Issue” (Jika Clinton Menciptakan Daya Tarik Berbasis Gender, maka Obama Membuat Ras Menjadi Sebuah Isu), terdapat sebuah kutipan dari Obama yang mengatakan: “Now I've heard that some folks aren't sure America is ready for an African-American president. So let me be clear, I never would have begun this campaign if I weren't confident I could win. But you see, I am not asking anyone to take a chance on me. I am asking you to take a chance on your own aspirations.“ (Sekarang saya mendengar bahwa beberapa warga tidak yakin bahwa Amerika siap menerima presiden dari ras Amerika-Afrika. Jadi biar saya jelaskan, saya tidak akan pernah memulai kampanye ini jika saya tidak percaya diri bahwa saya akan menang. lihatlah, saya tidak sedang meminta pada siapapun untuk mengambil resiko memilih saya. Saya meminta anda untuk mengambil resiko atas aspirasi anda sendiri.) Dari penjelasan Obama tersebut, kita bisa diihat bahwa Obama mencoba menarik simpati masyarakat dengan memberi pemahaman tentang keberadaan dirinya. Dengan memilih Obama, maka konstituen telah memberi kesempatatan bagi dirinya dan berdasarkan aspirasi konstituen itu sendiri. Namun, apakah

sebenarnya faktor ras merupakan hal yang sangat ditakutkan oleh Obama? Perkataan dari Obama tersebut juga merupakan sebuah pertanyaan besar bagi masyarakat Amerika pada umumnya tentang apakah rasialisme masih ada di Amerika? Hal tersebut dapat terjawab jika melihat pernyataan Obama yang

mengatakan bahwa: “Is race still a factor in our society? Yes. I don't think anybody would deny that.” (Apakah ras masih menjadi salah satu faktor dalam masyarakat kita? Iya. Aku pikir tidak ada yang akan menyangkalnya.) Kutipan tersebut mencerminkan bahwa ras ternyata menjadi salah satu kekhawatiran Obama. Namun di sisi lain, Obama mengatakan “If I lose, it won't be because of

race. It will be because ... I made mistakes on the campaign trail, I wasn't communicating effectively my plans in terms of helping them in their everyday lives.” (Jika saya kalah, bukan karena ras. Hal itu karena... membuat kesalahan dalam perjalanan kampanye, saya tidak mengomunikasikan rencana-rencana saya secara efektif terkait dengan rencana menolong mereka dalam kehidupan seharihari.) Pernyataan ini bisa jadi menunjukan bahwa Obama sudah siap dengan kekalahan. Namun, memang akan sangat disayangkan jika kekalahan Obama adalah karena dia berkulit hitam. Jika benar demikian, berarti sebuah indikasi logis tentang sentimen terhadap Amerika-Afrika masih ada dan konstituen Partai Demokrat masih ingin menegakkan supremasi kulit putih. Persoalan ras serta konsep White Anglo-Saxon Protestant (WASP) masih menjadi faktor yang menentukan dalam kehidupan politik Amerika. Oleh karena itu, konstituen Partai Demokrat dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat sulit dalam proses pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2008. Pilihan sulit

tersebut adalah berusaha untuk dapat memenangkan kandidat dari Partai Demokrat yang memiliki kans besar untuk bisa terpilih menjadi Presiden Amerika atau terpaksa menerima kekalahan untuk kembali dipimpin oleh Presiden Amerika yang merupakan kandidat dari Partai Republik. Untuk itulah, konstituen Partai Demokrat harus benar-benar jeli dalam memilih dua calon terkuat yang sedang bersaing, yaitu Hillary dan Obama. Dari hasil pemungutan suara dalam Democratic Primary Election 2008, dapat dilihat bahwa ternyata ras memang menjadi faktor yang signifikan dalam mempengaruhi perilaku Pemilih dari konstituen Partai Demokrat. Namun

kenyataannya, sentimen anti Obama sebagai kaum Amerika-Afrika tidak mempengaruhi hasil pemilihan kandidat presiden dari Partai Demokrat tahun 2008. Bahkan di negara-negara bagian yang mayoritas penduduknya adalah

masyarakat kulit putih, dan hanya sedikit sekali penduduknya yang berasal dari kaum Amerika-Afrika, Obama justru menang telak atas Hillary. Sedikitnya

jumlah penduduk yang berasal dari kaum Amerika-Afrika di negara-negara bagian penyelenggara Primary Election, bisa dilihat dari data-data berikut ini: Maine = 1%, Idaho = 0,9%, Wyoming = 1,2%, Montana = 0,6%, Oregon = 2%, North Dakota = 1%, dan Vermont = 0,8%. Kemenangan Obama atas Hillary di negaranegara bagian dengan jumlah penduduk dari kaum Amerika-Afrika di bawah atau sama dengan 2% tersebut merupakan indikator logis bahwa rasialisme sudah mulai luntur, khususnya pada konstituen Partai Demokrat, terlepas dari ideologi liberal yang dianut oleh Partai Demokrat. Hal ini menjelaskan bahwa sebenarnya Obama justru diuntungkan dengan warna kulit yang dimilikinya. Dengan kata lain, warna kulit hitam yang melekat pada identitas Obama menjadi sebuah nilai lebih untuk menarik simpati dari konstituen Partai Demokrat. Hal ini memang disebabkan oleh perubahan pola pikir masyarakat Amerika secara umum, khususnya pasca-tragedi penyerangan dua buah pesawat yang dibajak oleh teroris kemudian ditabrakan ke menara kembar dari gedung World Trade Center pada tanggal 11 September tahun 2000. Penyerangan tersebut dianggap tidak rasional oleh masyarakat Amerika yang memegang prinsip “seeing is believing”. Mengapa demikian? .Penyerangan sekelompok orang terhadap menara kembar gedung WTC dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal dan sulit dipercaya

oleh masyarakat Amerika jika saja mereka tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dari situ, masyarakat Amerika mencoba belajar untuk mulai berpikir tentang sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka sebelumnya. Artinya, sesuatu yang diangap tidak mungkin justru sangat mungkin untuk terjadi, bahkan berpengaruh secara signifikan terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat Amerika. Misalnya saja, pencalonan Obama sebagai kandidat calon presiden Amerika. Hal ini tampaknya belum pernah terfikirkan oleh masyarakat Amerika selama ini, di mana seorang kandidat yang berasal dari kaum Amerika-Afrika maju dalam pemilihan kandidat calon presiden Amerika Serikat dan memiliki kans yang cukup besar untuk bisa meraih satu tiket menuju gedung putih. Untuk itulah, dalam lingkup konstituen Partai Demokrat terdapat sebuah tuntutan untuk berpikir keras mengenai segala dampak yang akan ditimbulkan jika Obama sebagai kandidat dari Partai Demokrat memenangkan kursi kepresidenan, atau sebaliknya, jika kandidat dari Partai Republiklah yang akan kembali menguasi eksekutif. Kemenangan Obama di negara-negara bagian dengan jumlah penduduk yang berasal dari kaum Amerika-Afrika di bawah atau sama dengan 2% merupakan sebuah pukulan telak bagi Hillary. Mengapa Hillary yang notabene memenuhi semua kategorisasi White Anglo-Saxon Protestant (WASP) justru kalah di negara-negara bagian tersebut? pertanyaan yang menggelikan. Hal itu tentunya menjadi sebuah

Geraldine Ferraro yang pada tahun 1980an

mencalonkan diri sebagai wakil presiden mengatakan (www.FOXnews.com) “If Obama was a white man, he would not be in this position.” (Jika Obama adalah

seorang kulit putih, dia tidak akan berada dalam posisi seperti ini.) Pernyataan ini seakan-akan menjelaskan bahwa Obama diuntungkan dengan warna kulit yang dimilikinya. Bila Obama berkulit putih, maka Obama tidak akan terlalu menarik perhatian dari konstituen Partai Demokrat khususnya ataupun masyarakat Amerika pada umumnya. Untuk itulah, sekali lagi, konstituen Partai Demokrat melihat bahwa Amerika butuh perubahan. Perubahan tersebut harus dilakukan secara fundamental dan dimulai dengan mengubah mindset masyarakat Amerika terhadap mainstream politik yang secara tersirat mensyaratkan bahwa Presiden Amerika haruslah berkulit putih. Ini bisa dilihat dari keterkaitan antara warna kulit yang dimiliki oleh Obama dengan slogan kampanyenya. Dalam slogan kampanye Obama, terdapat sebuah harapan besar untuk melakukan sebuah perubahan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekedar perubahan pada

pemerintahan, namun lebih dari itu, Obama juga mencoba untuk mengubah mainstream politik Amerika, yang mensyaratkan secara tersirat bahwa seorang presiden harus berkulit putih, sekaligus mengubah pandangan masyarakat Amerika terhadap rasialisme. Hasilnya, slogan “Change We Can Believe In” berhasil memasarkan Obama untuk meraih pendukung sebanyak-banyaknya. Pada akhirnya, tidak hanya kaum Amerika-Afrika yang menjadi pendukungnya, tetapi juga masyarakat kulit putih yang merupakan konstituen Partai Demokrat juga memberi dukungan kepadanya. Ini menunjukkan adanya sebuah pandangan dari konstituen Partai Demokrat bahwa perubahan harus dilakukan secara menyeluruh, yaitu dimulai dengan mencoba keluar dari mainstream yang mensyaratkan bahwa Presiden Amerika Serikat haruslah berkulit putih.

Dalam pernyataannya, Geraldine Ferraro selanjutnya menambahkan“… And if he was a woman (of any color) he would not be in this position. He happens to be very lucky to be who he is. And the country is caught up in the concept.” (... Dan jika dia seorang perempuan (yang berasal dari warna kulit apapun) dia tidak akan berada di posisi ini. Dia sangat beruntung menjadi seperti dia dengan keberadaannya saat ini. Dan negara terjebak terpengaruh dalam

konsep itu.) Ini sekaligus menjelaskan bahwa kekalahan Hillary atas Obama adalah karena jenis kelaminnya yang perempuan, meskipun Hillary mencoba membantah anggapan Ferraro dengan mengatakan bahwa yang membedakan dirinya dengan Obama adalah program yang mereka tawarkan serta pengalaman yang mereka miliki. Signifikansi dari faktor gender dalam mempengaruhi perilaku pemilih dari konstituen Partai Demokrat adalah pada titik yang menunjukkan bahwa Hillary merupakan seorang perempuan yang memiliki suami. Secara kebetulan, suami Hillary adalah Bill Clinton yang merupakan mantan Presiden Amerika pada masa sebelum dua periode kepemimpinan George W. Bush. Hal itu memunculkan ketakutan di kalangan para pemilih terhadap dominasi Bill Clinton di gedung putih apabila Hillary berhasil menjadi presiden. Jika kita menilik masa lalu, tepatnya pada masa kepemimpinan Bill Clinton, tentunya masih teringat dengan jelas tentang kritik yang sering diberikan kepada Presiden Bill Clinton karena dominannya Hillary dalam pemerintahannya. Dominasi Hillary atas pemerintahan Bill Clinton tersebut akhirnya memunculkan sindiran yang mengatakan bahwa Hillary sebagai “co-president”, atau “Billary” yang merujuk pada satu kekuatan

atas duet Bill dan Hillary Clinton. Ketakutan dari konstituen tersebut berawal dari dominasi Bill Clinton dalam setiap kampanye yang dilakukan oleh Hillary. Bahkan seringkali kritik pedas yang dilemparkan kepada lawan politiknya justru keluar dari mulut Bill Clinton, bukan dari Hillary yang merupakan kandidat calon presiden yang sesungguhnya. Ketakutan akan dominasi Bill Clinton jika Hilllary berhasil menjadi presiden bukan sekedar ketakutan terhadap seorang Bill Clinton sebagai mantan presiden Amerika, akan tetapi adanya kecenderungan pada ketakutan akan adanya status quo dalam pemerintahan. Oleh karena itu, untuk menghindari kondisi tersebut, banyak konstituen Partai Demokrat terutama generasi mudanya lebih berkecenderungan memilih Obama ketimbang Hillary. Ini berarti bahwa faktor pengalaman tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertimbangan seluruh konstituen Partai Demokrat dalam memberikan suaranya. Hal ini terjadi karena pengalaman bukanlah satu-satunya faktor yang memperlihatkan kapabilitas seseorang di bidang politik, tetapi juga dipertimbangkan bagaimana calon

tersebut dapat memperlihatkan kelebihannya sebagai suatau kebutuhan dari konstituen. Keberhasilan Obama dalam meraih mayoritas dukungan bagi pemilih muda salah satunya dipengaruhi oleh krisis yang melanda Amerika Serikat pada periode kedua masa pemerintahan Presiden George W. Bush. Krisis yang

melanda Amerika tersebut semakin lama semakin akut. Kondisi ini mengundang kekhawatiran banyak orang, khususnya generasi muda, dan di tengah kekhawatiran tersebut Obama muncul dengan slogan ‘perubahan’-nya. Selain itu,

keberhasilan Obama dalam meraup suara dari kalangan pemilih muda adalah karena Obama dikelilingi oleh tim kampanye yang kebanyakan terdiri dari generasi muda, yang dalam konteks Amerika disebut sebagai “the millenium generation”. “The millenium generation” inilah yang berperan penting untuk mencitrakan kebaikan Obama di mata konstituen Partai Demokrat yang berasal dari generasi muda. Caranya adalah, misalnya, melalui situs jejaring sosial seperti facebook yang kala itu sedang menjadi situs jejaring sosial favorit bagi generasi muda. Seperti yang kita tahu bahwa generasi muda diibaratkan sebagai sebuah generasi yang progresif dan menghendaki adanya perubahan jika negara sudah keropos akibat kebijakan-kebijkan yang tidak tepat dari generasi tua, dan Obama sebagai generasi muda dalam politik Amerika dianggap bisa merepresentasikan perubahan yang diinginkan oleh generasi muda dari Partai Demokrat. Bahkan dalam konteks Amerika, generasi muda, terutama yang berada di bawah usia 30 tahun merupakan generasi dengan semangat kerja dan optimisme yang tinggi. Sikap optimisme dari generasi muda inilah yang membuat mereka percaya bahwa “Change will come in America”. (Perubahan akan datang di Amerika.) Untuk itulah, dalam Democratic Primary Election 2008, banyak konstituen dari Partai Demokrat yang berusia di antara kisaran 17 sampai dengan 30 tahun, memberikan suaranya pada Obama dan Hillary untuk mendapatkan mayoritas dukungan dari konstituen diatas usia 45 tahun. (www.iss.com) Dukungan generasi muda terhadap ‘perubahan’ yang ditawarkan oleh Obama hanya datang dari konstituen Partai Demokrat yang berkulit putih dan

yang berasal dari kaum Amerika-Afrika. Dukungan tersebut tidak datang dari pemilih Hispanic. Pemilih Hispanic yang berusia sekitar 17 sampai dengan 29 tahun lebih banyak memberikan suaranya pada Hillary. Bukan hanya itu saja, mayoritas pemilih Hispanic dari berbagai rentang usia pun lebih memilih Hillary daripada Obama. Hal ini karena pemilih Hispanic lebih mengutamakan

pengalaman yang dimiliki oleh kandidat daripada faktor ras dan gender sebagai bahan pertimbangan dalam proses pemilihan. (www.pewhispanic.com)

Disamping itu juga, pendekatan Hillary terhadap konstituen Hispanic sudah jauh lebih dulu dilakukan daripada pendekatan yang dilakukan oleh Obama. Meskipun demikian, harus diakui bahwa secara kuantitas jumlah pemilih Hispanic tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan pemilih kulit putih dan kaum AmerikaAfrika yang mendukung Obama. Terlepas dari perbedaan ras tersebut, perbedaan pandangan antara konstituen Partai Demokrat dari generasi muda dalam melihat kandidasi Hillary dan Obama telah menunjukkan adanya pertentangan yang bersifat paradoks. Di satu sisi, generasi muda Partai Demokrat membutuhkan seorang figur yang dapat membawa perubahan; sedangkan di sisi lain, generasi muda Partai Demokrat membutuhkan figur yang mempunyai pengalaman dalam politik dan

pemerintahan di Amerika.

6.4. Pragmatisme Amerika: Pilihan Rasional sebagai Faktor Penentu Kemenangan Obama Salah satu nilai dalam budaya politik Amerika berasal dari adanya pola hubungan antara negara, masyarakat dan individu. Ketiganya merupakan unsur-

unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam konteks Amerika sebagai sebuah negara dan bangsa. Jika digambarkan, Ketiga unsur tersebut akan membentuk sebuah tingkatan yang masing-masing merepresentasikan peran, posisi, dan porsi yang berbeda. Gambar yang terbentuk adalah pola piramida terbalik seperti berikut ini:

Gambar 1. Bentuk Tingkatan Antara Negara, Masyarakat dan Individu di Amerika

Berdasarkan gambar tersebut, dapat dilihat bahwa negara merupakan wilayah terbesar yang berada di tempat teratas dibandingkan dengan masyarakat dan individu. Artinya, kepentingan negara sebagai entitas terbesar yang meliputi

berbagai macam kepentingan masyarakat di tiap negara bagian, ataupun golongan-golongan masyarakat tertentu, harus lebih diutamakan daripada kepentingan masyarakat ataupun individu dalam lingkup yang lebih kecil. Nilai yang berasal dari pola hubungan dan posisi negara, masyarakat, dan individu tersebut mempunyai peran yang signifikan untuk mempengaruhi para pemilih dalam Democratic Primary Election. Untuk itulah, representasi

kelompok dalam suatu lembaga pemerintah juga harus menimbang kepentingan negara sebagai prioritas utama. Hal tersebut juga berlaku dalam konteks

kandidasi antara Hillary dan Obama. Meskipun keduanya mewakili dua identitas dari kelompok mayoritas yang berbeda, tetap saja pertimbangan utama yang

dimiliki konstituen Partai Demokrat dalam menentukan kandidat yang dipilihnya adalah kepentingan negara sebagai prioritas utama. Kecenderungan dari konstituen Partai Demokrat dalam menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan masyarakat dan individu dapat dilihat dari distribusi karakter pemilih yang memberikan suaranya pada Obama, di mana Obama sebagai seseorang yang berasal dari etnis Amerika-Afrika mendapatkan lebih dari 60% suara masyarakat kulit putih. Sebaliknya, Hillary justru

mendapatkan banyak dukungan dari konstituen Hispanic. Kemenangan Obama atas suara kelompok mayoritas (kulit putih) dalam Democratic Primary Election tahun 2008 menjadi penanda bahwa Obama merupakan sosok yang dianggap dapat menyelesaikan permasalahan negara secara keseluruhan, dan bukan hanya menyelesaikan permasalahan kaum Amerika-Afrika seperti yang diperkirakan oleh sebagian kalangan konstituen Partai Demokrat. Seperti yang dikatakan oleh salah satu konstituen Demokrat dalam New Hamsphire Primary Election (www.voa.com): “I believe in Obama because he is speaking to everybody. He is just not speaking to blacks, he is speaking to everybody.” (Saya percaya pada Obama karena dia berbicara untuk semua orang. Dia tidak hanya sedang

berbicara pada kaum kulit hitam, tapi dia berbicara pada pada semua orang) Ungkapan salah satu konstituen Partai Demokrat tersebut menjelaskan bahwa hadirnya Obama bukan hanya merepresentasikan kepentingan dari kaum Amerika-Afrika, tetapi juga dianggap dapat merepresentasikan kepentingan Amerika sebagai sebuah negara yang sedang dilanda krisis dan membutuhkan sosok pemimpin baru yang mampu membawa perubahan.

Denniel Gotoff (2008:20) menyatakan bahwa 56 persen mayoritas masyarakat Amerika setuju “pemerintahan federal perlu ditransformasi”, yaitu dengan menjalankan perubahan besar dan fundamental. Di satu sisi, pendapat tersebut menunjukkan dukungan masyarakat Amerika, khususnya konstituen Partai Demokrat, terhadap ‘perubahan’ yang ditawarkan oleh Obama. Namun di sisi lain, pendapat tersebut juga menimbulkan pertanyaan: apakah Hillary tidak mampu merepresentasikan kepentingan dari negara Amerika dengan slogan yang diusungnya, yaitu “Solutions for Amerika”? Satu hal yang menjadi kelemahan Hillary dan kelebihan Obama, yaitu Hillary didukung oleh orang-orang lama di pemerintahan, seperti suaminya sendiri yaitu Bill Clinton. Ketakutan ini terbukti dengan ucapan Bill Clinton yang dilontarkan dalam sebuah kampanye di Chesapeake (www.wvec.com). Bill Clinton mengatakan bahwa jika istrinya

terpilih menjadi presiden maka “America is back”. (Amerika kembali.) Pernyataan ini tentunya mengundang banyak tanya, apa yang dimaksudkan oleh Bill Clinton adalah harapan dan sekaligus janji untuk mengembalikan Amerika seperti pada masa ketika Bill Clinton menjadi presiden. Ketakutan pro status quo seperti inilah yang menjadi kekhawatiran dari konstituen Partai Demokrat, terutama generasi mudanya. Hal ini terjadi karena) di tengah krisis seperti ini, konstituen Partai Demokrat lebih berharap pada sosok muda yang progresif daripada orang lama di pemerintahan. Selain itu, kekhawatiran tersebut juga disebabkan oleh krisis yang melanda Amerika saat ini, adalah yaitu krisis akibat dari kebijakan-kebjakan yang kurang tepat dari generasi tua.

Amerika Serikat lebih membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menjadi jembatan bagi seluruh masyarakat Amerika dan bukan hanya sekedar sosok yang memiliki pengalaman dalam dunia politik dan pemerintahan. Ini merupakan kebutuhan Amerika saat ini yang dilihat oleh konstituen Partai Demokrat. Pada titik ini pula, dapat dilihat bahwa pengotak-kotakan kepentingan dalam sebuah batas identitas dihilangkan, meskipun tidak menutup kemungkinan dapat dipungkiri bahwa tiap kelompok memiliki kepentingan. Kepentingan yang mendesak saat ini adalah permasalahan ekonomi sebagai salah satu efek yang ditimbulkan dari krisis global pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush. Dilikuidasinya beberapa bank di Amerika menjadi bukti nyata bahwa permasalahan ekonomi Amerika berada pada taraf yang akut. Bahkan pengusaha kaya di Amerika seperti Donald Trump, harus menutup beberapa perusahaannya demi menjaga keutuhan seluruh usahanya. Untuk itulah, kepentingan ekonomi yang menjadi masalah bagi negara yang harus segera diatasi. Inilah yang

kemudian menyatukan berbagai kelompok dari konstituen Partai Demokrat untuk beranggapan bahwa harus ada perubahan secara fundamental di negara federal dan itu dimulai dengan mengangkat seorang calon presiden yang dianggap mampu membawa perubahan tersebut, Dari anggapan itulah, maka Obama yang memenuhi kualifikasi tersebut berhasil mendapatkan suara mayoritas dalam Democratic Primary Election Tahun 2008. Berangkat dari kenyataan bahwa Obama mampu memenangkan

Democratic Primary Election Tahun 2008, dapat dilihat bahwa perubahan dibutuhkan sebagai sebuah inovasi dan usaha melalui proses learning by doing

yang dilakukan oleh konstituen Partai Demokrat untuk keluar dari krisis yang telah berimbas pada kehidupan sehari-hari masyarakat Amerika akhir-akhir ini, seperti krisis ekonomi yang berakibat pada pendidikan dan perawatan kesehatan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa konstituen Partai Demokrat sebagai bagian dari masyarakat Amerika merupakan kelompok yang mengedepankan nilai-nilai pragmatisme22 dalam kehidupan mereka. Ini tercemin dari respon

konstituen Partai Demokrat yang melihat Democratic Primary Election Tahun 2008 sebagai celah untuk melakukan perubahan yang dibutuhkan. Jelas terlihat bahwa konstituen partai mencoba untuk memanfaatkan momentum itu secara efektif dan efisien sesuai dengan orientasi kebutuhan mereka saat itu. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa Amerika sebagai bangsa yang besar dan menjadi “the city upon the hill”23 senantiasa membutuhkan nilai-nilai pragmatisme dalam menjalankan kehidupan mereka. Amerika Serikat sebagai sebuah negara super power yang selalu mengkampanyekan demokrasi di berbagai negara di dunia harus membuktikan

Konsep pragmatisme Amerika merujuk pada pemikiran John Dewey mengenai “progressive education” yang mulai populer pada tahun 1930 dan 1940an. Inti dari pragmatisme Amerika adalah bagaimana masyarakat Amerika dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan dalam kehidupannya melalui proses “learning by doing”. Dengan “learning by doing”, masyarakat Amerika diharapkan dapat menyelesaikan masalah dengan efektif dan efisien. Konsep pragmatisme Amerika berbeda dengan konsep oportunis (memanfaatkan segala kesempatan yang ada). Perbedaannya terletak pada konsep “learning” di mana dalam pragmatisme Amerika, konsep “learning” menunjukkan signifikansi pembelajaran sebagai suatu proses yang sangat penting. Melalui proses pembelajaran masyarakat Amerika diharapkan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan apa yang pernah dilakukan sebelumnya (experience is the best teacher). Dalam pragmatisme Amerika juga terkandung nilai-nilai “time is money”. Artinya, sebuah permasalahan tidak diselesaikan dengan memikirkannya dulu baru menyelesaikannya kemudian, tetapi dengan proses berpikir dan upaya penyelesaian yang dilakukan secara beriringan. Dalam proses tersebut, terdapat nilai-nilai effort dan optimism. Tanpa usaha dan rasa optimis, maka akan sulit bagi masyarakat Amerika untuk dapat menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang dihadapinya. Lebih jelas lihat Dolbeare, Kenneth (1984, 482-500) dan Spradley, James dan Rynkiewich (1975:370-373) 23 Sebuah kota diatas bukit

22

bahwa Amerika Serikat pun harus demokratis.

Artinya, setiap orang yang

menjadi warga negara Amerika memiliki hak yang sama berbagai sendi kehidupan, salah satunya adalah hak politik. Kemunculan Hillary dan Obama dalam melawan mainstream politik dan pemerintahan Amerika adalah semacam ujian mengenai penerapan demokrasi di Amerika. Untuk itulah, terpilihnya

Obama sebagai calon presiden Amerika Serikat, sekali lagi merupakan bukti dari demokrasi Amerika yang sudah selangkah lagi lebih maju dibanding sebelumnya. Amerika pun sudah mulai membuktikan bahwa pelaksanaan demokrasi di negaranya sebanding dengan “teriakan“-nya mengenai demokrasi di berbagai negara di dunia. Hal ini tentunya bisa membantu untuk memperbaiki citra buruk Amerika di mata dunia belakangan ini, sekaligus juga membuktikan bahwa Amerika merupakan bangsa besar yang mandiri dan optimis untuk dapat melakukan perubahan dari kondisi yang buruk menjadi kondisi yang lebih baik.

VII. PENUTUP

7.1. Kesimpulan Dari penelitian ini, dilihat bahwa demokrasi Amerika telah bergerak maju dibandingkan dengan sebelumnya. Demokrasi Amerika yang sampai pada tahun 1990an masih bersifat eksklusif, kini benar-benar bisa dinikmati oleh setiap rakyat Amerika. Tragedi WTC, 11 September 2000, tampaknya telah memberi sebuah tamparan bagi seluruh masyarakat Amerika untuk kembali berbenah diri dan mulai belajar untuk melihat segala sesuatu secara utuh, sesuai dengan prinsip yang diyakininya, yaitu “seeing is believing”). Salah satunya adalah dengan melihat dan memahami gejala-gejala sosial-politik yang terjadi di Amerika, misalnya geliat dari kebangkitan kelompok minoritas yang selama ini tertindas oleh dominasi kelompok dengan latar belakang WASP dan laki-laki. Hillary Clinton dan Barack Obama merupakan representasi dari kelompok minoritas dalam Democratic Primary Election Tahun 2008. Sebagai kandidat terkuat, Hillary dan Obama membuktikan bahwa kelompok minoritas mampu tampil di depan publik dan meraih simpati dari konstituen Partai Demokrat. Bahkan kemenangan Obama dalam Democratic Primary Election Tahun 2008 dengan mengalahkan kandidat lainnya, khususnya Hillary Clinton - menjadi bukti bahwa nilai equality yang merupakan salah satu nilai dasar dari pedoman hidup masyarakat Amerika benar-benar dapat terlihat dalam kehidupan politik Amerika. Kemenangan Obama dalam Democratic Primary Election Tahun 2008 merupakan respon dari konstituen partai Demokrat terhadap krisis yang dialami

oleh Amerika sejak periode kedua kepemimpinan Presiden George W. Bush (2004-2008). Dalam proses merespon tersebut, terdapat pergulatan berbagai

macam nilai budaya yang ada dalam masyarakat Amerika dan berpengaruh terhadap proses politik. Salah satunya adalah pragmatisme Amerika yang melihat bahwa kepentingan negara sebagai salah satu unsur sakral dalam budaya Amerika adalah prioritas utama yang harus dipenuhi dibanding kepentingan masyarakat atau individu. Inilah yang menjadi faktor penentu kemenangan Obama dalam Democratic Primary Election Tahun 2008.

7.2. Implikasi Dalam penelitian ini, multikulturalisme dan demokrasi di Amerika yang dilihat dalam sebuah proses politik memberikan sebuah referensi mengenai proses politik dalam sebuah negara demokrasi yang mempunyai keberagaman dalam masyarakatnya. Kedewasaan untuk merespon isu-isu yang diwacanakan dalam Democratic Primary Election tahun 2008 dan sikap yang lebih mementingkan kebutuhan negara dibanding kebutuhan individu ataupun kelompok menjadi gambaran dari proses politik di Amerika yang sangat penting bagi negara-negara lain, terutama Indonesia. Proses politik di Indonesia seharusnya juga bisa menjadi lebih baik ketika seluruh elemen masyarakat Indonesia dapat mendahulukan kepentingan negara dibanding kepentingan individu ataupun kelompok, dan menanggapi segala bentuk perbedaan dengan bijaksana.

DAFTAR PUSTAKA

Abelove, Henry, Michele Aina Barale, David M. Halperin, ed., 1993, The Lesbian and Gay Studies Reader, Routledge, New York. Adhe. 2005. HIP-HOP: Perlawanan Dari Ghetto. Alinea. Jogjakarta. Ahdiati, Triana. 2007, Gerakan Feminis Lesbian: Studi Kasus Politik Amerika 1990-an, Kreasi Wacana, Yogyakarta. . 2001. Masalah-Masalah Silang Budaya Dalam Perspektif Silang Budaya. Al-Arief, Mohamad. Pemilihan Presiden Amerika Serikat Tahun 2000: Suatu Kritik terhadap Demokrasi Amerika dalam Jurnal Studi Amerika Vol VII, Pusat kajian Wilayah Amerika, Universitas Indonesia, Jakarta.
Almond, Gabriel A. and G Bingham Powell, Jr.1976, Comparative Developmental Approach, Oxford & IBH Publishing Co, New Delhi.

Politics: A

Assyaukanie, Luthfi. Demokrasi dan Puritanisme. www.assyaukanie.com. Diakses pada tanggal 10 Mei 2008, pukul 22.06. Budiarjo, Miriam. 1981. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia pustaka Utama, Jakarta. Carter, Rosalynn. “Woman Who Shaped the Constitution”. 1996. A Voice ou Our Own: Leading American Women Celebrate The Right to Vote. Jossey-Bass Icn. San Francisco. Cipto, Bambang. 2007, Politik dan Pemerintahan Amerika, Lingkaran Buku, Yogyakarta. Clinton, Bill dan Al Gore. 1992. Putting People First: How We Can All Change America. Times Book. USA. Clinton, Hillary. “A Call to Action”. Newman, Nancy (editor). 1996. A Voice ou Our Own: Leading American Women Celebrate The Right to Vote. JosseyBass Icn. San Francisco. Dan Nimmo, 1989, Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan dan Media (Edisi Terjemahan oleh Tjun Surjaman), PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

David A. Hollinger and Charles Capper (ed), 1993. The American Intellectual Tradition, Volume II 1865 to the Present, , Second Edition, Oxford University Press, New York. De Riencourt, Amaury. 1974. Sex and Power in History. Dell Publishing. New York. Fisben and Ijek.,1975. Belief, Attitude, Intention And Behaviour, Addison Wesley Publication. Co. New York. Green, Phillip (ed). 1993, Democracy: Key Concepts in Critical Theory, Humanities Press, New Jersey. Grenstein, Freed., 1969. Personal and Politics, Chicago, Markham Publishing. Harrop, Martin and Miller, William L., 1987. Election And Voters A Comparative Introduction, Mac Millan Press. Hoa Hsu. The End of White America. www.Atlantic.com. Diakses pada 1 Maret 2009, pukul 13.34. Hollinger, David A. & Charles Capper, (ed.), 1993, The American Intellectual Tradition; Volume II, 1865 to the Present, Second Edition, Oxford University Press, New York. Kumba, Andi Sukmono. 2007, Pencitraan dan Realitas Politik, www.fajaronline.com. Diakses pada Rabu, 14 Mei 2008, pukul 22.50. Mallarangeng, Andi. 1997, Rasionalitas Pemilih dan Prospek Demokrasi, www.republika –online.com. Diakses pada Rabu, 14 Mei 2008, pukul 22,46 Mestika, Zed. 2004, Metode Penelitian Kepustakaan, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Mohsin, Aiyub. “Super Tuesday: Meratakan Jalan Bagi Capres AS”. www.epajak.com. Diakses pada 12 Desember 2008, pukul 22.09 wib. Moleong, Lexy J. 1990, Metodologi Penelitian Kualitatif, PT Remaja Rosdakarya, Bandung. Nursal, Adnan. 2004, Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu, Sebuah Pendekatan Baru Kampanye Pemilihan DPR, DPD, Presiden, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Obama, Barack. “The Audacity of Hope; Thoughts on Reclaming The American Dream. Huzeim (ed). 2007. Barrack Obama: Menerjang harapan, dari Jakarta Menuju Gedung Putih.Ufuk Press. Jakarta. Plattner, Marc F. 2008, “Liberalisme dan Demokrasi: Dua Hal yang TakTerpisahkan”, Rofiqi (editor), Amerika dan Dunia, Kedubes AS dan Yayasan Obor, Jakarta. Piliang, Indra. 2004. Politik Aliran dan Pemilu, Suara Pembaharuan, 1 April 2004. Raharjo, Mudjia. 2008, Dasar-Dasar Hermeneutika: Antara Intensionalisme dan Gadamerian, Ar-Ruzzmedia, Yogyakarta.
Rosenbaum, Wolter, A. 1975, Political

Culture, Praeger, Pricenton.

Sastroatmodjo, Sudijono. 1995, Perilaku Politik, IKIP Semarang Press, Semarang. Schmidt, Steffen , ett all. 1999, American Government and Politics Today: 19992000 Edition, Wadsworth Publishing Company, USA. Setiawan, Asep. Budaya Politik:Sebuah Eksplorasi Konsep. www.wordpress.com, diakses pada Rabu, 14 Mei 2008, pukul 22.43. Spradley, James dan Rynkiewich, 1975. The Nacirema, Little, Brown Company, Canada. Subakti, Ramlan.1992, Memahami Ilmu Politik, Gramedia Widya sarana, Jakarta. Suhelmi, Ahmad. 2005, Pemikiran Politik Barat. PT Gramedia, Jakarta. Sumarno & Suhandi, 1993, Pengantar Studi Komunikasi Politik, Orba Shakti, Bandung. Sumaryono. 1996, Hermenutika Sebuah Metode Filsafat, Kanisius, Yogyakarta. Suparlan Parsudi.“Yang Sakral dalam Nilai-nilai budaya Amerika”, dalam Jurnal Studi Amerika Vol 1 No. 2. Juli 1991. . 2002, Menuju Indonesia yang Multikultural. . 2004, Hubungan Antar-Sukubangsa., YPKIK, Jakarta. Suryadinata, Leo. 1992, Golkar dan Milter,: Studi Tentang Budaya Politik, LP3ES, Jakarta.

Tocqueville, Alexis de. “Democracy in America” dalam Philip Green, ed., Democracy; Key Concepts in Critical Theory, Humanities Press, New Jersey. Usman. 2008, Tocqueville, Agama, dan Demokrasi, www.korantempo.com. Diakses pada tanggal 10 Mei 2008, pukul 22.39. Widjaya, Albert. 1982, Budaya Politik dan Pembangunan Ekonomi, LP3ES, Jakarta. Williams, Raymond, 1993, “Keyword”, dalam Philip Green, ed., Democracy; Key Concepts in Critical Theory, Humanities Press, New Jersey. Winthrop D. Jordan. Et.all. 1992, The Americans; A History, McDougal, Littell & Company. Illinois. Young, Iris Marion, “Social Movement and The Politics of Difference” dalam Key Concepts in Critical Theory Justice, Fisk, Milton (ed), Humanities Press, New Jersey.

Sumber Lainnya : “A Look at Religious Voters in the 2008 Election”. Diakses dari www.pewresearchcenter.com, 28 Februari 2009, pukul 22.34 wib. Handout mata kuliah Politik dan Pemerintahan Amerika Serikat oleh Triana Ahdiati. M,si, dkk. Kompas Edisi Minggu, 15 Maret 2009 Men And Woman: Who’s The Better Leader, A Paradox In Public Attitude. www.PewResearchCenter.com. Diakses pada 3 Februari 2009, pukul 22.40 wib. Politics and the "DotNet" Generation: They may be more involved than you think -- and in ways that could change America's politics. www.PewReseacrhCenter.com. Diakses pada 1 Maret, pukul 13.24 wib “Obama Ahead of Clinton Before New Hampshire Primary”. Diakses dari www.voa.com, 3 Januari 2009, pukul 23.20 wib. “Obama's Pastor: God Damn America, U.S. to Blame for 9/11”. Diakses dari www.abcnews.com, 3 Januari 2009, pukul 23.25 wib.

The Dilemma of Gender And Race: Voters Weigh Implications of Unprecedented Choice”. Diakses dari www.courant.com diakses pada 3 Januari 2009, pukul 22.57 wib. “The Hispanic Vote in The 2008 Democratic Presidential Primaries”. Diakses dari www.pewhispanic.com pada 28 Februari 2009, pukul 22.28 wib. “The 2008 Dem primary: Race and age were the biggest dividers”. Diakses dari www.iss.com pada 3 Januari 2009, pukul 22.25 wib. “The Hispanic Vote in The 2008 Democratic Presidential Primaries”. Diakses dari www.pewhispanic.com pada 3 Januari 2009, pukul 22.35 wib. www.abcnews.com. Diakses pada 3 Januari 2009, pukul 21.25 wib. www.barackobama.com\result. Diakses pada 3 Januari 2009, pukul 21.29 wib. www.forum–politisi.org. Diakses pada tanggal 10 Mei 2008, pukul 22.45 wib. www.FOXnews.com. Diakses pada 6 September 2008, pukul 21.34 wib. www.freedom-institute.org/pdf/alexis_de_tocqueville_revolusi_demokrasi_dan_ masyarakat_pdf. Diakses pada 6 September 2008, pukul 21.05 wib. www.kompas.com, Jumat 4 Januari 2008. Diakses pada 5 Januari 2008, pukul 24.50 wib. www.tempointeraktif.com. Diakses pada tanggal 10 Mei 2008 pukul 23.03 wib. www.thewashingtonpost.com, 3 Januari 2009, pukul 21.45 wib. www.qiunnipiac-university.com. Diakses pada 10 Mei 2008, pukul 21.20 wib. www.answer.com, WASP (Historical Context). Diakses pada 10 Mei 2008, pukul 23.15 wib. www.RSS.com. Diakses pada tanggal 5 Januari 2008, pukul 24.45 wib. www.wikipedia.com\search:pemilihan pendahuluan. Januari 2008, pukul 24.40 wib. Diakses pada tanggal 5

www.newsVOA.com pada tanggal 5 Januari 2009, pukul 24.40. wib.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->