1. Multivibrator Monostabil Rangkaian multivibrator monostabil mempunyai keluaran dengan satu keadaan stabil (mantap).

Rangkaian tersebut tetap dalam keadaan stabilnya sampai ada pemicu. Sekali dipicu, keluarannya berubah dari keadaan stabilnya tadi ke keadaan tak stabil (keadaan baru). Keadaan tak stabil itu bertahan selama waktu tertentu, dan setelah itu dengan sendirinya kembali ke keadaan stabilnya lagi. Ternyata monostabil merupakan rangkaian yang penting bahkan sangat penting untuk membangkitkan pulsa output yang lebarnya dan amplitudonya tetap.. Sebutan lain untuk monostabil adalah eka-mantap, oneshot, atau monoflop. Monostabil dapat dibuat dengan menggunakan gerbang logika NAND yang dilengkapi dengan resistor dan kapasitor sebagai komponen pewaktunya. Terdapat dua jenis monostabil yaitu monostabil terpicu positif dan negatif.

Masukan pemicu mula-mula dianggap T=0, keluaran =1, dan keluaran Q=0. perhatikan keluaran dari NAND-2 dalam keadaan 1 sehingga K=1. pada saat masukan T berubah dari 0 ke 1 (terpicu positif), tentu saja kedua masukan NAND-1 ada pada keadaan 1, sehingga berubah dari 1 ke 0. tetapi begitu T berubah dari 0 ke 1, maka keluaran dari NAND-2 juga berubah menjadi 0. muatan pada kapasitor C yang mula-mula memberikan K=1 sedikit demi sedikit dikosongkan melalui resistor R sehingga tegangan pada K turun menjadi 0. perubahan K dari 1 ke 0 ini akan melewati tegangan ambang yang akan menyebabkan K dianggap 0. pada saata ini, keluaran NAND-1, yaitu akan kembali ke keadaan 1 lagi (keadaan sebelum dipicu). lama pulsa t (keadaan tak stabil) di tersebut tergantung pada resistansi R dan kapasitansi C yang terpasang, berlaku t=RC. Karena NAND-3 berperan sebagai NOT, maka antara dan Q saling komplemen, artinya =1 maka Q=0, dan sebaliknya jika =0 maka Q=1. Kelemahan dari monostabil terpicu positif adalah adanya syarat agar pulsa pemicu di T harus lebih lama dari pulsa keluaran di hal ini dikarenakan oleh adanya hubungan langsung antara T dengan salah satu masukan NAND-1 yang menyebabkan jika T=0 maka =1. Sehingga jika T berubah ke 0 lagi sebelum pulsa pemicu T mencapai tegangan ambang maka lebar pulsa keluaran tidak cepat samadengan R.C dan tentu saja harga t (lama tak stabil) pasti kurang dari R.C. Jenis lain dari monostabil adalah yang terpicu negative (dipicu dari 1 ke nol). Cara menyusunnya antara lain dengan menambahkan NAND-4 seperti gambar dibawah ini:

Pada gambar 9. dengan demikian keluaran menjadi tidak tergantung pada perubahan masukan T dari 0 ke 1. sehingga pada saat melewati tegangan ambang membuat =1 kembali semula. Ketika pulsa sempit 0 dikenakan pada masukan A.C. oleh karenanya benar-benar berlaku bahwa lama keadaan tak stabilnya adalah t = R. seperti NOT ataupun NOR bahkan menggunakan NAND dengan konfigurasi yang berbeda-beda. Lama monostabil tersebut dalam keadaan tidak stabil ditentukan oleh nilai R2 dan C2.Mula-mula T=1 dan = 1. Misalnya mula-mula adalah stabil dalam keadaan 1. jika T berubah dari 1 ke nol maka keluaran NAND-4 dalam keadaan 1(A=1). maka keluaran NAND-1 menjadi 1 dan melalui C2 memuat kedua masukan NAND-2 dalam keadaan 1. Karena masukan NAND-1 keduanya dalam keadaan 1 maka = 0. selanjutnya tegangan di titik B semakin lama semakin turun akibat lucutan muatan pada C melalui R . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bentuk pulsa monostabil terpicu positif dan terpicu negative pada gambar berikut: Masih banyak cara untuk menyusun monostabil dari gerbang logika lain. Akhirnya rangkaian tersebut mencapai keadaan stabilnya lagi dengan masukan NAND-1 dalam keadaan 1 dan keluaran NAND-2 juga 1. Keadaan ini membuat kelluran NAND-2 menjadi 1 dan keluaran NAND-1 menjadi1. keadaan ini adalah stabil. Sekarang C2 membuang muatan melalkui R2 dan dengan demikian kedua masukan NAND-2 menjadi 0.4 tampak rangkaian monostabil dari gerbang NAND dengan konfigurasi yang berbeda dengan sebelumnya. Hal ini menghasilkan keluaran pada NAND-2 menjadi 0 yang menjamin keluaran NAND-1 tetap 1 meskipun pulsa masukan telah berakhir. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful