P. 1
Identifikasi Metbol, Umbi Bawang Hantu

Identifikasi Metbol, Umbi Bawang Hantu

|Views: 2,574|Likes:
Published by rahma wardani

More info:

Published by: rahma wardani on Jul 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/07/2013

pdf

text

original

IDENTIFIKASI KANDUNGAN SENYAWA METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK KLOROFORM UMBI BAWANG HANTU (Eleutherine palmifolia (L.

) Merr )

Makalah Seminar Kimia

Oleh :

RAHMA WARDANI ACC 105 017

UNIVERSITAS PALANGKA RAYA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PWNDIDIKAN JURUSAN PENDIDIKAN MIPA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA 2009

BAB. I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan ber khasiat obat merupakan pengobatan yang dimanfaatkan dan diakui masyarakat dunia, hal ini menandai kesadaran untuk kembali ke alam (back to nature) guna mencapai kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami (Wijayakusuma, 2000). Merupakan fakta yang tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia dalam mencari pemecahan masalah kesehatan, memanfaatkan pengobatan tradisional sebagai salah satu pilihannya. Untuk ini pelayanan kesehatan tradisional merupakan potensi yang besar karena dekat dengan masyarakat, mudah diperoleh dan relatif lebih murah dari pada obat modern (Anonim, 1996). Pengobatan dengan menggunakan ramuan tumbuhan secara tradisional memiliki kelebihan yaitu efek samping yang ditimbulkan minimal dibandingkan pengobatan secara kimiawi/modern. Tumbuhan obat merupakan sumber bahan yang sangat penting artinya, bagi pembuatan obat tradisional di Indonesia bahkan juga untuk obat tradisional di dunia. Di Indonesia dijumpai kurang lebih 940 jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat, sebagian sudah dikenal dan diketahui tumbuhan asalnya, dipelajari kandungan serta khasiatnya, namun masih banyak pula diantaranya yang belum diteliti sama sekali(Anonim, 1996). Jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk obat jumlahnya sangat banyak dan berbagai macam jenisnya. Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional berbeda-beda misalnya akar, batang, daun, bunga, dan buah, fungsi pengobatan nya pun juga berbeda-beda. Penggunaan obat tradisional masih dilakukan dengan sangat sederhana, perlakuan dalam menyiapkan bahan

obat tradisional diantaranya hanya diremas, ditumbuk, direbus, atau dibakar (Jafar Sidik dan Sutomo 1986 : 2-3). Salah satu tumbuhan yang digunakan masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan Tengah sebagai obat adalah bawang hantu (Eleutherine palmifolia (L.) Merr ) Bagian yang dipergunakan adalah umbinya, dibuat dalam bentuk infusa dan dipergunakan untuk mengobati penyakit diare/disentri. Penggunaan umbi bawang hantu sebagai obat hanya berdasarkan pengalaman terdahulu dan kebiasaan masyarakat saja (pengalaman empiris), karena itu oleh para ahli dilakukan penelitian mengenai aktifitas anti bakteri umbi bawang hantu serta skrining fitokimianya. Diharapkan analisa golongan senyawa kimia umbi bawang hantu dapat dijadikan awal bagi penelitian lebih lanjut guna mengembangkan pengobatan tradisional di masyarakat Indonesia.
1.2 Batasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada “ Identifikasi Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Kloroform Umbi Bawang Hantu”.
1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut : 1. Golongan senyawa kimia apa sajakah yang yang terdapat dalam umbi bawang hantu.

1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah skrining fitokimia untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terkandung di dalam umbi bawang hantu

1.5 Manfaat Penelitian Hasil penelitian yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan :
a. Dapat menjadi dasar suatu metode, teknik pemisahan dan identifikasi

komponen metabolit sekunder buah mengkudu.
b. Sebagai bahan pertimbangan dalam pelestarian dan pengembangan tumbuhan

obat tradisional di Indonesia khususnya di Kalimantan Tengah.

.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Tentang Tumbuhan Bawang Hantu (Eleutherine palmifolia (L.) Merr ) Bawang hantu (Eleutherine palmifolia (L.) Merr ) merupakan tumbuhan yang berasal dari pulau Kalimantan, oleh karena itu orang dari pulau seberang Kalimantan menyebutnya Bawang Sabrang, karena kalau mengambil ke Kalimantan harus ”nyabrang” atau menyeberangi (Aulia Nuniek, 2003) . Menurut buku Tumbuhan Berguna Indonesia karangan K.Heyne mengungkapkan bahwa bawang sabrang banyak manfaat baik sebagai obat peluruh kemih, obat muntah, pencahar, obat penyakit kuning dan kelamin. Menurut pengalaman Bu Titiek Sri Rahayu (Trubus no. 396 hal 55 november 2002) yang terkena penyakit kanker payudara, dapat disembuhkan dengan bawang "hantu/kambe" (kata orang Dayak). Tanaman ini mulai dilirik dan dibudidayakan oleh masyarakat, BPTP Kalteng juga mengoleksinya sebagai tanaman obat khas Kalimantan Tengah lainnya. (maman) Bawang sabrang (Eleutherine palmifolia (L.) Merr). Bawang ini hanya tumbuh di daerah belerang. Banyak juga bawang-bawangan yang ada di pulau jawa mirip seperti bawang ini akan tetapi khasiatnya tidak sama (tidak ada khasiatnya) dan tumbuhnya pun di tanah biasa. Bawang dayak ini juga mengandung senyawa-senyawa yang meliputi alkaloid, saponin, terpenoid, stroid, glikosida, tanin, fenolik, dan flavonoid. Bawang dayak ini juga dapat mengatasi beberapa keluhan seperti kanker kista, prostat, diabetes, asam urat, hipertensi, gangguan pencernaan lambung, kolesterol, gondok, bronkhitis, stamina dan gangguan seksual. Menurut pengalaman beberapa masyarakat dengan mengkonsumsi bawang hantu ini dapat dibuktikan dalam 2 jam maka khasiat nya

akan dapat langsung dirasakan, misalnya bagi penderita seperti diabetes, asam urat, sakit pinggang, pegal-pegal, darah tinggi

2.2 Klasifikasi Tumbuhan Bawang Hantu Kedudukan tumbuhan bawang hantu dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Sistematika tumbuhan Divisi Subdivisi Kelas Bangsa Suku Marga Jenis Sinonim : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Liliales : Iridaceae : Eleutherine : Eleutherine Palmifolia : Eleutherine Americana

(Backer dan Vanden Brink, 1962. Syamsuhidayat, 1991)

2. Nama Daerah Kalimantan Sumatra Jawa : Bawang hantu, bawang makkah : Bawang kapal : Brambang sabrang, bawang siyem, aluluwansapi, teki sabrang, bebawangan beureum

(Sastroamidjojo, 1962).

3. Pertelaan Tanaman bawang hantu tingginya hanya mencapai 30-50 cm. batangnya tumbuh tegak atau merunduk, basah, dan berumbi. Umbinya panjang, bulat telur merah seperti bawang merah, tidak berbau sama sekali. Daunnya ada dua macam yaitu yang sempurna berbentuk pita dengan ujungnya yang runcing, sedangkan daun-daun lainnya berbentuk menyerupai batang, berwarna hijau, beriga, lebarnya beberapa jari. Bunganya berupa bunga tunggal, warnanya putih, terdapat pada ketiak-ketiak daun atas, dalam rumpun-rumpun bunga yang terdiri dari 4 sampai 10 bunga, bunganya mekar pada waktu sore tetapi hanya beberapa jam saja, biasanya mekar pada jam 17:00 dan kuncup lagi pada jam 19:00 (Anonim, 1986). Tumbuhan ini menyukai tempat-tempat yang terbuka yang tanahnya kaya dengan humus dan cukup lembab. Untuk menanam nya biasa digunakan umbinya (Anonim, 1978). Di Jawa dipelihara sebagai tanaman hias ; kadangkadang didapati dalam jumlah besar dipinggir-pinggir jalan yang berumput dan di dalam kebun-kebun teh, kina dan karet ( Heyne, 1987).

4. Khasiat dan kegunaan Air rebusan atau air perasan umbinya dapat digunakan sebagai obat penyakit kuning, disentri dan radang usus. Selain itu bawang hantu juga diketahui mempunyai macam-macam khasiat lainnya seperti sebagai peluruh seni, pencahar dan peluruh muntah, mengurangi rasa nyeri, obat luka dan pencahar (Anonim, 1978) umbi mentahnya dapat juga digunakan untuk obat disentri dan proktitis (radang porus usus), sedangkan daunnya untuk wanita yang nifas, obat demam dan mual (sastroamidjojo, 1962; Anonim, 1978).

5. Kandungan kimia Umbi bawang hantu mengandung senyawa-senyawa turunan

antrakinon yang mempunyai daya pencahar yaitu senyawa-senyawa eleuthrin, isoeleutherin dan senyawa-senyawa sejenis ; senyawa-senyawa lakton yang disebut eleutherinol (Anonim, 1978). Daun dan akarnya mengandung flavonoid dan polifenol (Syamsuhidayat, 1991).

2.3 Uraian Kandungan Senyawa Dalam Umbi Bawang Hantu

2.3.1

Antrakinon Golongan kuinon alam terbesar terdiri atas antrakinon. Beberapa

antrakinon merupakan zat warna yang penting dan yang lainnya sebagai pencahar. Keluarga tumbuhan yang kaya akan senyawa jenis ini ialah Rubiaceae, Rhanaceae, dan poligonaceae (Robinson, 1995). Turunan antrakinon umumnya berupa senyawa berwarna kuning kemerahan dan kadang-kadang dapat diamati di tempat. Antrakinon mudah larut dalam air panas atau alkohol cair . Antrakinon terhidroksilasi jarang terdapat dalam tumbuhan secara bebas tetapi sebagai glikosida antrakinon berupa senyawa kristal bertitik leleh tinggi, senyawa ini biasanya berwarna merah tetapi yang lainnya berwarna kuning sampai coklat (Robinson, 1995).
8 7 6 5 9 10 O 4 O
1

2 3

Gambar 1. Struktur dasar antrakinon

2.3.2

Flavonoid Flavonoid merupakan salah satu golongan fenol alam yang tersebar.

Dalam tumbuhan aglikon flavonoid (Flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur, semuanya mengandung 15 atom C dan inti dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang membentuk cincin ke tiga. Agar mudah dikenal cincin diberi tanda A, B, C (Markham, 1987). Struktur umum flavonoid terdapat dalam gambar 2.
8 7 1 2 1’ 2’ 3’

B
6’ 5’

4’

A
6 5 4 3

Gambar 2. Struktur umum flavonoid (robinson, 1995)

Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air, Flavonoid dapat diekstraksi dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air setelah ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi (Harbor, 1987). Flavonoid berupa senyawa fenol karena itu warnanya berubah bila ditambah basa atau amonia dan terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran. Jarang sekali dijumpai hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Selain itu, sering juga terdapat campuran yang terdiri atas flavonoid yang berbeda kelas (Harborne, 1987). Kelas-kelas yang berlainan dalam golongan ini dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan (Robinson, 1995). Efek flavonoid terhadap macam-macam organisme sangat banyak macamnya dan dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung

flavonoid dipakai dalam pengobatan tradisional. Aktivitas antioksidan flavonoid tertentu merupakan komponen aktif tumbuhan yang digunakan secara tradisional untuk mengatasi gangguan fungsi hati. Flavonoid tertentu dalam makanan tampaknya menurunkan agregasi platelet dan dengan demikian mengurangi pembekuan darah, tetapi jika dipakai pada kulit, flavonoid lain menghambat pendarahan (Robinson, 1995).

2.3.3

Terpenoid Senyawa terpenoid berasal dari molekul isoprene CH2 = C(CH3) – CH

= CH2 dan kerangka karbonnya dibangun oleh penyambungan dua atau lebih satuan C5 ini. Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa, mulai dari komponen minyak atsiri , yaitu monoterpena (C10) dan (C15) yang mudah menguap, diterpena (C20) yang lebih sukar menguap, sampai senyawa yang tidak menguap yaitu triterpenoid dan sterol (C30) serta pigmen karetiroid (C40) (Harborne, 1987). Banyak terpenoid terdapat secara alami dalam tumbuhan tidak dalam keadaan bebas tetapi sebagai ester atau glikosida (Robinson, 1995). Secara kimia, terpenoid umumnya larut dalam lemak dan terdapat didalam sitoplasma tumbuhan. Kadang-kadang minyak atsiri terdapat didalam sel kelenjar khusus pada permukaan daun. Sedangkan karotenoid terutama berhubungan dengan kloroplast didalam daun dan dengan kromoplast didalam daun bunga (petal). Biasanya terpenoid diekstraksi dari jaringan tumbuhan dengan memakai eter minyak bumi, eter atau kloroform (Harborne, 1987). Sudah banyak dan bermacam-macam peran terpenoid tumbuhan yang diketahui. Sifatnya yang dapat mengatur pertumbuhan sudah terbukti, dua dari golongan utama pengatur tumbuhan yaitu seskiterpenoid absisin dan giberelin yang mempunyai kerangka dasar terpenoid. Karotenoid berperan penting untuk warna tumbuhan dan sudah pasti terpenoid (C 40) ini terlibat

pula sebagai pigmen pembantu pada proses fotosintesis mono dan seskuiterpena penting bagi tumbuhan untuk memberi bau wangi yang khas (Harborne, 1987).

3

Kemarin Kemarin adalah lakton asam 0-hidroksisinamat. Inti dasar dengan

penomoran cincinnya terlihat pada gambar 3
5 6 4 3

7 8

2

Gambar 3. Struktur umum kemarin

Hampir semua kemarin alam mempunyai oksigen (hidroksil atau alkoksil) pada C7. Posisi lain dapat pula teroksigenisasi, dan sering pula terdapat rantai samping alkil. Kumarin sering dijumpai sebagai glikosida (Robinson, 1995). Kemarin mempunyai berbagai efek fisiologis terhadap tumbuhan dan hewan. Pada tumbuhan efeknya menghambat atau menstimulasi asam indol 3-asetat oksidasi menstimulasi produksi etilena, menghambat sintesis selulosa, atau meningkatkan ketebalan membran. Kemarin dapat mempunyai efek toksik terhadap organisme misalnya membunuh atau menolak serangga (Robinson, 1995).

2.4 Skrining Fitokimia

Untuk mencari tumbuhan dan senyawa yang dikandungnya yang memiliki aktivitas biologi dilakukan dua macam pendekatan, yaitu pendekatan farmakologi dan skrining fitokimia (Gunawan dkk, 1993). Pendekatan fitofarmakologi meliputi uji berbagai efek farmakologi terhadap hewan percobaan dengan ekstrak tumbuhan atau bagian tumbuhan. Misalnya, efek farmakologi terhadap susunan syaraf pusat, terhadap organ tertentu, dan sebagainya. Percobaan farmakologi dapat dilakukan secara in vivo dan atau in vitro. Aktivitas yang diajukan antara lain antineoplastik (antikanker), antiviral, antimicrobial, antimalaria, insektisida, hipoglikemik, kardiotonik, estrogenik, androgenic dan sebagainya (Gunawan dkk, 1993). Pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis kualitas kandungan kimia dalam tumbuhan/bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah, biji), terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif, yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoid, glikosida jantung, kumarin, saponin (steroid dan triterpenoid), nanin (polifenilat), minyak atsiri (terpenoid), iridoid dan sebagainya (Gunawan dkk, 1993). Idealnya, untuk analisis fitokimia digunakan jaringan tumbuhan segar. Beberapa menit setelah dikumpulkan, bahan tumbuhan tersebut dimasukkan kedalam alkohol mendidih. Cara lain tumbuhan dapat dikeringkan sebelum diekstraksi. Jika ini dilakukan, pengeringan tersebut harus dilakukan dalam keadaan terawasi untuk mencegah terjadinya perubahan kimia yang terlalu banyak. Bahan harus dikeringkan secepat-cepatnya, tanpa menggunakan suhu tinggi, lebih baik dengan aliran udara yang baik. Setelah betul-betul kering, tumbuhan dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sebelum digunakan untuk analisis ( Haborne, 1987) Skrining fitokimia merupakan suatu penelitian pendahuluan untuk mengetahui jenis kandungan dari suatu tumbuhan tertentu. Biasanya

digunakan untuk mengetahui nama zat kandungan suatu tumbuhan tertentu atau skrining macam-macam jenis tumbuhan untuk mencari zat kandungan tertentu, misalnya alkaloid, glikosida, terpen, dan lain-lain (Anonim, 1996). Cara skrining fitokimia yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu : 1. Sederhana 2. Cepat 3. Seyogyanya menggunakan alat-alat yang mudah didapat 4. Spesifik terhadap zat yang diselidiki
5. Jika mungkin dapat memberi gambaran tentang ada atau tidaknya gugus

atau golongan zat yang diselidiki. Pada umumnya cara-cara skrining yang dipublikasikan memenuhi kriteria 14, hanya sedikit yang memenuhi kriteria sampai 5 (Anonim, 1996). Dari hasil skrining fitokimia dapat diketahui adanya kandungan bahan tumbuhan obat tradisional dan usaha-usaha isolasi lebih lanjut bertujuan untuk memisahkan dan memurnikan zat-zat yang terkandung di dalam tumbuhan tersebut (Anonim, 1996).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksploratif dan eksperimen dengan

pendekatan Laboratorium yang dilakukan melalui serangkaian percobaan sesuai dengan prosedur yang telah ada. 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboraturium Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP, Universitas Palangka Raya. Adapun waktu pelaksanaannya pada bulan juli 2009. 3.3 3.3.1 Alat dan Bahan Alat Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah tabung reaksi, rak tabung reaksi, pipit tetes, gelas ukur, gelas kimia, corong kaca, corong pisah, kaca arloji, pipet ukur + karet, neraca analitik, spatula, keranjang, plat tetes, kertas saring, gunting, aluminium foil, karet gelang, belender, tisu.

3.3.2

Bahan tumbuhan Bahan utama : umbi bawang hantu (Eleutherine palmifolia (L.) Merr )

yang berasal dari kecamatan Kumai, Kabupaten. Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Umbi bawang hantu yang baik, dikumpulkan, dibersihkan dari kotoran dan tanah, dicuci dan diiris tipis. Irisan tersebut dikeringkan dibawah sinar matahari dengan ditutup kain hitam agar senyawa yang terdapat dalam simplisia

tidak rusak akibat matahari selama 3 hari setelah itu simplisia dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 40-50oC selama 15-30 menit. Setelah kering kemudian dihaluskan dengan menggunakan blender. 3.3.3 Bahan kimia Bahan kimia yang digunakan adalah kloroform ( CHCl3 ), asam klorida ( HCl ), besi ( III ) klorida ( FeCl3 ), serbuk magnesium ( Mg ), asam sulfat ( H2SO4 ), serta aquades ( H2O ).

3.4

Prosedur Kerja

3.4.1 Pembuatan Ekstrak Kloroform Buah Mengkudu (Morinda citrifolia L) a. Menimbang sebanyak 2 gram serbuk umbi bawang hantu, lalu

memasukkannya ke dalam tabung reaksi.
b. Mengukur kloroform dengan menggunakan gelas ukur sebanyak 10

mL, lalu menuangkannya ke dalam tabung reaksi yang berisi 2 gram serbuk umbi tumbuhan bawang sebrang. c. Menutup tabung reaksi tersebut menggunakan alumunium foil serapat mungkin. d. Setelah 3 x 24 jam rendaman serbuk buah tumbuhan mengkudu tersebut didiamkan kemudian, disaring untuk mendapatkan filtratnya. e. Ekstrak yang didapatkan sebanyak X ml

3.5

Identifikasi Ekstrak Kloroform Pada Buah Tumbuhan Mengkudu. Ekstrak kloroform yang didapatkan dari hasil maserasi tersebut kemudian dilarutkan dalam kloroform dan aquades dengan perbandingan 1 : 1. Kemudian larutan yang diperoleh dikocok dengan baik dan dibiarkan ±

15 menit, sehingga terbentuk dua lapisan kloroform dan air. Lapisan kloroform yang berada dibagian bawah digunakan untuk mengidentifikasi senyawa steroid, terpenoid dan alkaloid. Sedangkan lapisan air digunakan untuk memeriksa identifikasi senyawa flavonoid, fenolik, dan saponin.

3.5.1

Identifikasi Alkaloid Identifikasi alkaloid dilakukan dengan menambahkan ekstrak

kloroform dengan 10 mL campuran kloroform dan amoniak 0,05 N serta disaring. Filtrat ditambah dengan beberapa tetes asam sulfat 2 N dan dikocok sehingga terbentuk 2 lapisan. Lapisan bagian atas dipipet ke dalam tabung reaksi lain kemudian ditambahkan dengan pereaksi Meyer. Adanya alkaloid ditandai dengan terbentuknya endapan putih.

3.5.2

Identifikasi Steroid dan Terpenoid Lapisan kloroform ( pemisahan ekstrak kloroform dengan kloroform dan air), dimasukkan ke dalam 2 lubang pelat tetes masing – masing 3 tetes dan dibiarkan sampai kering. Kemudian menambahkan setetes asam sulfat pekat dan setetes asam asetat anhidrida kedalam salah satu lubang. Terbentuknya warna hijau pada pelat yang ditambahkan setetes asam sulfat dan setetes asam sulfat anhidrida menandakan adanya steroid, sedangkan bila terbentuk warna merah atau merah ungu menandakan adanya terpenoid.

3.5.3

Identifikasi Saponin

Lapisan air ( pemisahan ekstrak kloroform dengan kloroform dan air ) dimasukkan kedalam tabung reaksi kecil kemudian dikocok kuat – kuat. Bila terbentuknya busa yang permanen selama ± 15 menit, menandakan uji positif adanya saponin.

3.5.4

Identifikasi Flavonoid Lapisan air dimasukkan kedalam tabung reaksi kecil, selanjutnya ditambahkan dengan serbuk logam Mg dan beberapa tetes HCl pekat. Terbentuknya warna orange sampai merah menandakan adanya flavonoid.

3.5.5 Identifikasi Fenolik Lapisan air dimasukkan ke dalam tabung reaksi, selanjutnya ditambahkan dengan FeCl3, jika terbentuk warna biru menandakan uji positif adanya senyawa fenolik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->