P. 1
Artikel Nilai

Artikel Nilai

|Views: 1,098|Likes:

More info:

Published by: Mohamad Shuhmy Shuib on Jul 31, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/23/2013

ID, EGO & SUPER-EGO Doktrin Freud

Sigmund Freud (1856 - 1939) mengumpamakan alam pikiran manusia ibarat gunung es. Sebagian besar tenggelam dalam air, tersembunyi dalam alam bawah sadar. Di bawah permukaan air itu tersembunyilah motif, perasaan dan keinginan-keinginan, yang tidak hanya tersembunyi bagi orang lain, melainkan menjadi rahasia pula bagi dirinya sendiri. Menurut doktrin Freud alam bawah sadar itu adalah sumber dari nereuse. Freud mengklasifikasikan aktivitas mental dalam tiga level: Id, Ego dan Super-Ego. Id dan Super-Ego terletak dalam alam bawah sadar. Yang terpenting ialah Id, bagian yang gelap dari personalitas. Id dapat diungkapkan dengan cara mengkaji mimpi (interpretation of dreams) dan nereutic symptom. Id adalah pusat dari naluri dan iradah (impuls) yang bersifat primitif dan kebinatangan. Id itu buta dan serampangan (ruthless), hanya menginginkan kesenangan hurahura, dan asyik ma'syuk (pleasure), tanpa mengindahkan konsekwensinya. Id tidak mengenal nilai, tidak mengenal baik dan buruk, tidak mengenal moralitas. Semua impuls dari Id menurut doktrin Freud diisi oleh tenaga psikis (psychic energy) yang disebutnya libido, berkarakteristik seksual. Teori libido ini disebut dengan "hakikat (essence) dari doktrin pasikoanalisis". Semua kehandalan kultural manusia, seperti seni, hukum, agama dll. dipandang sebagai perkembangan libido. Pada bayi aktivitas libido itu berupa menetek dari puting payu dara ibu, mengisap dot dan mengisap jari. Setelah dewasa libido itu tertransfer dalam hubungan seksual, atau berupa kreasi seni, sastra, musik yang disebut dengan "displacement". Naluri seksual libido ini menurut doktrin Freud adalah sumber dari karya kreatif. Pengaruh libido ini menurut doktrin Freud, suatu doktrin spekulatif yang sangat kontroversial dari psikoanalisis, adalah pertumbuhan perasaan seksual anak terhadap orang tuanya. Dimulai dari kesenangan bayi mengisap dari puting susu ibunya, dalam diri anak laki-laki perasaanya berkembanglah hasrat seksual terhadap ibunya, membenci ayahnya sebagai saingan, yang disebut oleh Freud dengan komplex Oedipus. Dalam mitologi Yunani tersebutlah konon seorang yang bernama Oedipus yang mengawini ibunya dan membunuh bapaknya. (Dalam sastra Sunda klasik tersebut Sangkuriang membunuh ayahnya, yaitu si Tumang seekor anjing dan ingin mengawini Dayang Sumbi, yaitu ibunya. Andaikata Freud itu urang Sunda, maka wishful thinking Freud tersebut tentang hasrat seksual anak laki-laki terhadap ibunya, tentu akan disebutnya komplex Sangkuriang). Berlainan dengan Id yang didominasi oleh libido itu, Ego menyadari alam sekelilingnya. Id yang tidak mengindahkan konsekwensi, serampangan, tidak dibiarkan oleh Ego, oleh karena Id yang tidak mengenal aturan itu akan memenimbulkan konflik dengan realitas, utamanya aturanaturan dari masyarakat. Menurut Freud, Ego itu berupa mediator antara klaim yang serampangan dari Id dengan realitas yang ada di dunia luar dari individu. Adapun Super-Ego yang berada dalam alam bawah sadar seperti Id, senantiasa dalam konflik dengan Id. Terjadinya konflik antara Id dengan Super-Ego dalam alam bawah sadar itu menurut Freud itulah penyebab timbulnya penyakit kejiwaan yang disebutnya dengan neurose, yang dapat mengakibatkan keadaan yang fatal dari personalitas. Seorang pengikut Freud, A.A.Brill, orang Amerika, menulis bahwa Super-Ego itu adalah evolusi mental yang tertinggi dari manusia. Istilah doktrin dipakai dan bukan istilah teori, oleh karena para pengecer (meminjam ungkapan Anwar Arifin) psikoanalisis Freud itu tidak memandangnya lagi sebagai suatu teori, melainkan sudah diyakini sungguh-sungguh kebenarannya. Padahal psikoanalisis Freud belum pernah dibuktikan secara ilmiyah. Dari hasil observasi pasiennya di Vienna, Freud membuat rampatan (generalisasi), bahwa semua manusia mesti demikian itu. Freud tentu saja tidak dapat

1

dipersalahkan betul dalam membuat rampatan itu, oleh karena alat ilmiyah untuk rampatan itu belum didapatkan pada waktu itu, yakni ilmu statistik. Walaupun pembacaan buku-buku psikologi saya sangat terbatas ketimbang para pakar psikologi, namun saya berani mengatakan bahwa belumlah pernah diadakan penelitian apakah memang teori Freud itu berlaku secara umum untuk semua manusia. Apakah libido yang merambat pada komplex Oedipus itu berlaku umum untuk seluruh manusia? Apakah anak perempuan juga punya dorongan libido sehingga senang mengisap puting susu ibunya dan karena itu logikanya ia terlahir sebagai lesbian? Apakah anak perempuan berkomplex Xena (bukan Oedipus karena Oedipus laki-laki), benci kepada ibunya dan ingin mengawini bapaknya? Apakah ini tidak kontradiktif dengan pembawaan lesbian? Apakah semua kehandalan kultural manusia, seperti seni, hukum, agama dll. dipandang sebagai perkembangan libido? Apakah semua mimpi itu adalah pencapaian (fulfillment) tersembunyi dari hasrat yang tertekan? Apakah semua mimpi itu merupakan drama dalam alam bawah sadar? Apakah semua mimpi itu adalah buah (product) konflik? Walaupun sekarang sudah dikenal ilmu statistik, namun sangatlah sulit untuk mengujicoba bahwa doktrin Freud itu berlaku umum untuk semua manusia. Kesulitan itu pada hakekatnya adalah suatu keniscayaan. Allah SWT adalah Sumber dari segala sumber, Allah adalah Sumber ilmu, Sumber informasi. Allah menurunkan ayat sebagai sumber informasi. Al Quran tidak membedakan pengertian ayat, baik yang dimaksud dengan isi Al Quran, maupun yang dimaksud dengan alam. Dalam kedua ayat di bawah ini jelas Al Quran tidak membedakannya. Wa la- Tasytaruw biAyatiy Tsamanan Qaliylan(S. Al Baqarah, 2:41), dan janganlah engkau menjual ayat-ayatKu dengan harga murah. Wa Yunazzilu mina sSama-i Ma-an fa Yuhyiy bihilArdha ba'da Mawtiha- inna fiy dza-lika laA-ya-tin li Qawmin Ya'qiluwna (S. Ar Ruwm, 30:24), dan diturunkanNya hujan dari langit, dan dengan itu dihidupkanNya bumi sesudah matinya, sesungguhnya dalam hal ini adalah ayat-ayat bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Jadi baik isi Al Quran maupun alam semesta adalah sumber informasi, suatu fakta yang tak boleh diragukan. Dalam bahasa Indonesia dan juga bahasa lain selayaknya bahasa Al Quran ayat ini tetap dipakai, tidak usah diterjemahkan. Maka orang akan memfokuskan minatnya menghilangkan polarisasi antara imaniyah dengan ilmiyah. Lalu melebur keduanya menjadi satu sistem, yaitu Pendekatan Imaniyah-Ilmiyah seperti berikut: 1) 2) 3) 4) 5) berlandaskan tawhid, pengamatan, penafsiran, bersikap ragu terhadap pemikiran manusia, ujicoba.

Dalam Seri berikutnya, insya Allah, Al Quran dan Al Hadits dipakai secara proaktif untuk mengujicoba doktrin Freud. WaLlahu A'lamu bi shShawab.

2

Ujicoba Doktrin Freud Dengan Ayat Qawliyah
Rampatan (generalisasi) doktrin Freud melalui ilmu statistik belum pernah dan tak akan pernah dapat dilakukan. Karena rujukan pada ayat Kawniyah (ayat alam) sebagai sumber informsi tak akan pernah dapat dilakukan, maka ditempuhlah alternatif rujukan pada ayat Qawliyah (Al Quran) dan Al Hadits. Dalam Al Quran dikenal tiga jenis personalitas atau kejiwaan yang disebut An Nafs(u). Kata ini dipungut ke dalam bahasa Indonesia: nafsu dengan perubahan makna, berkonotasi jelek, biasanya dalam bentuk kata majemuk: hawa nafsu. Ketiga jenis kejiwaan itu adalah: Pertama, An Nafsu lAmma-rah. Sesungguhnya Nafsu Ammrah itu mendorong untuk berbuat kejahatan (S.Yuwsuf, 12: 53). Kedua, An Nafsu lLawa-mah. Dan Aku bersumpah dengan Nafsu Lawwamah (dalam diri manusia) (S.Al Qiya-mah, 75:2). Nafsu Lawwamah ini mendorong manusia untuk introspeksi. Wa ma- Ka-na liy 'alaykum min Sultha-nin illay an Da'awtukum faStajabtum liy, fala- Taluwmuwny wa Luwmuw Anfusakum, (Setan berkata) tidak ada kekuasaan dariku atasmu, kecuali aku membujukmu dan engkau tergiur. Sebab itu janganlah kamu mencercaku, melainkan cercalah dirimu sendiri (S.Ibrahim, 14:22). Ayat ini menjelaskan tentang ucapan setan kepada manusia yang sudah terlanjur mengikuti Nafsu Ammarahnya, lalu mengumpat setan yang telah menjerumuskannya. Janganlah mengumpat setan, kritiklah dirimu sendiri, introspeksilah. Yang ketiga, An Nafsu lMuthmainnah. Hai Nafsu Muthmainnah, (jiwa yang tenang dan suci) (S.Al Fajr, 89:27). Freud telah berjasa memperinci jenis Nafsu Ammarah itu dalam gambaran Idnya. Namun kesalahan Freud yang fatal ialah bahwa agama yang bersumberkan wahyu dipandang sebagai perkembangan libido. Pandangan Freud bahwa libido adalah sumber dari karya kreatif sangatlah spekulatif dan terlalu ekstrem. Selanjutnya aktivitas mental Id yang diletakkan Freud dalam alam bawah sadar, memberikan konsekwensi bahwa manusia itu tidak dapat diminta pertanggung-jawabannya. Bukankah perbuatannya itu didorong oleh hasrat yang tidak disadarinya? Freud yang melecehkan tanggung jawab asasi manusia ini bertentangan dengan aqidah tentang Yawmu dDiyn (Hari Pengadilan). Semua kehandalan kultural manusia, seperti seni, hukum, agama dll. bukanlah perkembangan libido. Libido yang berkarakteristik seksual itu hanyalah sekadar salah satu unsur dari Nafsun Ammarah. Doktrin libido bertentangan dengan aqidah, karena Freud menganggap libido itu sumber agama. Menurut Hadits manusia berpikir dan kemudian berbuat jahat, oleh karena tatkala itu sedang lupa kepada Allah, namun ia menyadari akan pikiran dan perbuatannya itu. Rasulullah SAW bersabda: Pezina tidak berzina tatkala ia dalam keadaan beriman. Pencuri tidak mencuri tatkala ia dalam keadaan beriman, dan peminum tidak minum tatkala ia dalam keadaan beriman (Hadits Shahih riwayat Al Bukhari dan Muslim dan yang lain-lain dari keduanya, dari Abu Hurairah). Jadi orang berbuat jahat itu karena ia lupa kepada Allah, namun ia sadar kan dirinya tatkala ia berbuat itu. Bahwa Super-Ego itu adalah evolusi mental yang tertinggi dari manusia itu ada benarnya. Bahwa manusia senantiasa berusaha mencapai Nafsu Muthmainnah, menjadi Sufi dan WaliyuLlah (dalam arti tasawuf yang tidak "liar"). Yang tidak benar adalah Super-Ego itu dimasukkan sebagai aktivitas mental dalam alam bawah sadar. Nafsu Muthma'innah itu adalah tahap kesadaran yang paling tinggi. Dalam Al Quran disebutkan bahwa Nabi Yusuf AS bermimpi melihat 11 bulan, matahari dan bulan sujud kepadanya. Itu bukan drama dalam alam bawah sadar. Itu bukan hasrat terpendam

3

Yusuf yang masih remaja itu ingin menjadi orang berkuasa sehingga orang-orang tunduk kepadanya. Itu adalah pertanda dari Allah SWT untuk masa yang akan datang. Yaitu Nabi Yusuf AS kelak di kemudian hari akan menjadi raja muda Mesir. Tatkala itu ke-11 saudaranya, bapaknya (Nabi Ya'cub AS) dan ibunya menghormatinya sebagai raja muda. Mimpi raja Mesir (bukan dari dinasti Fir'aun), 7 ekor sapi gemuk dimakan 7 ekor sapi kurus, bukan drama alam bawah sadar raja Mesir. Di samping mimpi sebagai pertanda dari Allah SWT untuk para nabi dan waliyullah serta orangorang tertentu yang dipilih Allah, mimpi adalah aktivitas jiwa dalam qalbu (sadru + fuad + hawa) yang bekerja terus. Mimpi tukang jahit Singer dikejar-kejar orang memegang tombak yang ujungnya berlubang adalah proses berpikir dalam fuadnya berjalan terus selagi ia tidur. Ia berhasil memecahkan permasalahan di dalam tidur bagaimana menyelesaikan jahitan yang bertumpuk menjelang tahun baru, yaitu dengan membuat jarum yang berlubang pada ujungnya yang runcing. Mimpi makan kenyang orang terapung di atas rakit di tengah laut adalah proses naluri mempertahankan hidup dalam hawanya berlanjut terus sementara ia tidur (hal ini juga diangkat dalam novel sastra daerah Makassar "I Kukang"), adalah proses naluri mempertahankan hidup dalam ALHWY (dibaca: al hawa-) yang berlanjut terus sementara ia tidur. Demikianlah mimpi itu bukanlah pencapaian tersembunyi dari hasrat yang tertekan. Mimpi itu bukanlah drama dalam alam bawah sadar, dan bukan pula produk konflik dalam alam bawah sadar. Mimpi itu tidak lain adalah pertanda untuk masa yang akan datang dari Allah SWT yang diberikan kepada para Nabi, waliyuLlah ataupun orang-orang tertentu, atau mimpi itu adalah proses merasa, berpikir dan bernaluri yang berlanjut terus tatkala tidur. Terakhir, tidak ada konflik antara Id dengan Super-Ego dalam alam bawah sadar, karena alam bawah sadar itu tidak ada. Sesungguhnya persepsi Freud tentang alam bawah sadar tidak lain melainkan rekaman pada kulit otak tentang pengalaman proses merasa, berpikir dan bernaluri, ibarat rekaman pada tape recorder. Telah dijelaskan dalam Seri 306 bahwa nafsu (jiwa) merasa, berpikir dan bernaluri dengan memakai mekanisme otak dalam jisim. Doktrin alam bawah sadar bertentangan dengan aqidah adanya Hari Pengadilan. Manusia harus mempertanggung-jawabkan seluruh aktivitasnya di dunia ini pada Hari Pengadilan kelak. Allah Maha Adil, memberikan ganjaran baik atau buruk sesuai yang dilakukan manusia dengan sadar. Semua aktivitas jiwa disadari, karena jiwa itu disinari oleh ruh. Ruh inilah yang menyebabkan manusia itu sadar akan eksitensinya. WaLlahu A'lamu bi shShawab.

4

Mendidik dan Mengajar tanpa Menggurui, Metode Jibril
Jika materi yang disampaikan menyangkut nalar (kognitif dan keterampilan) disebut mengajar, dan apabila yang disampaikan adalah pesan-pesan nilai yang menyangkut hati nurani (yang membentuk sikap) disebut mendidik. Seorang guru yang baik dalam menyampaikan materi senantiasa menggabungkan mendidik dan mengajar, sekaligus mengandung aspek kognitif, keterampilan dan sikap. Berdasarkan hal ini maka ungkapan proses belajar mengajar seyogianya diubah menjadi mendidik, mengajar. Ada hal yang kontradiktif dalam ungkapan judul di atas. Pendidik dan pengajar adalah seorang guru, lalu mengapa dikatakan pula tidak menggurui. Kalau kita bicara dalam konteks hubungan antara guru dengan murid, maka menggurui murid ataupun anak didik dalam pendidikan dan pengajaran yang formal dan non-formal, tidak ada masalah. Sang guru dan murid dituntut mempunyai persyaratan ijazah tertentu untuk dapat mendidik dan dididik, mengajar dan diajar di SMA (formal), demikian pula kedua pihak harus mempunyai persyaratan tertentu untuk kursus-kursus non-formal (komputer, melas, menjahit, bimbingan dll). Sehingga guru dalam hal ini mendapat pengakuan secara sukarela dari para murid ataupun anak didiknya bahwa guru yang mendidik dan mengajarnya itu lebih tahu dan lebih menguasai materi yang disampaikan oleh sang guru. Lain halnya dalam pendidikan dan pengajaran yang informal, khususnya pendidikan dan pengajaran lingkungan. Para guru yang menyampaikan dan para khalayak yang menerima pesan tidak perlu persyaratan formal, tidak seperti pada yang formal dan non-formal seperti yang telah disebutkan di atas. Sehingga dalam hal konteks hubungan antara guru atau sang penyampai dengan khalayak, gelagat menggurui dalam meneruskan informasi dan pesanpesan nilai itu tidaklah bijaksana. Sebab selalu ada kemungkinan di antara khalayak ada yang lebih unggul dari sang penyampai itu. Berikut ini disajikan anekdot yang kemungkinan besar berakar dari suatu kejadian yang sebenarnya pernah terjadi. Seorang mahasiswa agronomi Fakultas Pertanian yang sementara ber-KKN dengan sikap yang amat menggurui mengajarkan para petani perihal produktivitas dalam bertanam padi. Pada waktu itu sedang galak-galaknya dipromosikan padi jenis PB5. Dengan semangat "over confidence" sang mahasiswa menyuruh para petani bertanam padi jenis PB5 itu, yang untuk areal sawah yang sama akan membuahkan produksi padi yang lebih banyak ketimbang jenis padi yang biasanya ditanam oleh para petani. Sang mahasiswa dengan bersemangat mengeritik pula pematang sawah yang lebar tempat ia berpidato menyuluh itu. Kalaulah pematang-pematang sawah yang lebar itu dipersempit akan dapat memperluas areal lahan yang dapat ditanami, dengan demikian produksi padi dapat pula ditingkatkan. Setelah tiba saatnya untuk makan siang, sang mahasiswapun diundang ke dangau untuk bersantap siang. Sebenarnya dangau itu tidak berapa jauh dari tempat penyuluhan tadi, namun penunjuk jalan membawa mereka itu mengambil jalan yang tidak memintas, melainkan berkeliling, sehingga mereka itu melalui pematang sawah yang sempit. Oleh karena sang mahasiswa tidak terampil meniti pematang sempit, beberapa kali ia terpelset jatuh ke sawah sehingga bermandikan lumpur. Setelah sampai di dangau makanan yang dihidangkan adalah nasi dingin tanpa sayur. Nasi itu demikian kerasnya tanpa sayur pula sehingga sukar sekali melalui kerongkongan, seperti ungkapan peribahasa lama: Nasi dimakan bagai sekam. "Nak," ucap yang empunya dangau, "apa yang anak telan itu adalah beras PB5, dan tempat anak menyuluh tadi adalah pematang yang sekali gus berupa jalan setapak."

5

Yang berikut ini cerita yang sesungguhnya terjadi puluhan tahun yang lalu. Drs. Abd.Razak Mattaliu, seorang muballigh dan juga seorang wartawan senior generasi Abd.Rahman Arge, pada waktu itu masih menjadi anggota jama'ah Masjid Syura, menyampaikan pesan di atas mimbar. Ia telah beberapa lama memperhatikan ada dua tiga orang anggota jama'ah masjid yang caranya shalat perlu diperbaiki. Ia mulai dengan pengantar bahwa apa yang akan disampaikannya ini bukan untuk bapak-bapak dan ibu-ibu, melainkan khusus untuk anak-anak. Sesudah itu barulah ia menjelaskan bagaimana caranya shalat menurut tuntunan RasuluLlah SAW. Bagaimanapun juga apabila materi yang disampaikan adalah cara shalat yang benar, tentu tidak dapat mengelak dari sikap menggurui. Untuk menghilangkan kesan bahwa ia menggurui bapak-bapak dan ibu-ibu, maka Adbd.Razak mengatakan khusus ditujukan bagi anak-anak dalam masjid. Ia mengaplikasikan ayat Al Quran: Ud'u ilay Sabiyli Rabbika bi lHikmati, serulah ke jalan Maha Pengaturmu dengan bijaksana. Pada suatu waktu ketika RasuluLlah SAW duduk bersama-sama dengan para sahabat, datanglah ke dalam majelis itu seseorang dengan penampilan seperti orang datang dari jauh, namun wajahnya tetap segar, pakaiannya tetap rapi. Setelah memberi salam ia duduk, kemudian bertanya kepada RasuluLlah SAW apa itu Iman, Islam dan Ihsan. Lalu RasuluLlah SAW sebelum menjawab mengatakan bahwa yang bertanya lebih tahu dari yang beryanya, kemudian beliau baru menjelaskan pengertian (Rukun) Iman, (Rukun) Islam dan Ihsan. Setelah orang itu pergi RasuluLlah menyampaikan kepada para sahabat, bahwa sesungguhnya "orang" tadi itu adalah Malaikat Jibril. Kalau kita simak proses penyampaian pengertian Rukun Iman dan Rukun Islam itu akan dapat kita ungkapkan keluar nilai yang tersirat yang erat kaitannya dengan metode menyampaikan pesan tanpa menggurui. Metode ini dapat dipakai dalam pendidikan dan pengajaran informal menyampaikan pesan-pesan nilai-nilai Islami untuk memperkaya metode yang telah lazim dipergunakan selama ini, yaitu ceramah dan diskusi. Selama ini umumnya hanya dipraktekkan dua jenis pertanyaan. Pertama, dari orang yang tidak tahu kepada yang tahu, yaitu pertanyaan dari murid kepada guru, maka jawaban guru itulah yang disebut menggurui. Kedua, pertanyaan dari guru kepada murid, maka itu disebut menguji. Ketiga, pertanyaan dari yang tahu kepada yang tahu, itulah penyampaian pesan kepada khalayak, pendengar, ataupun pemirsa secara tidak menggurui, yang disebut Metode Jibril. WaLlahu a'lamu bishshawab.

6

Jujur, Adil, dan Ihsan
Ada sebuah anekdot. Tersebutlah konon seorang Badui (bukan yang dari negeri Arab, melainkan yang dari Jawa Barat) dalam perjalanannya berjalan kaki kemalaman di sebuah dusun. Ia menumpang bermalam pada sebuah rumah di dusun itu. Yang empunya rumah menyodorkan bantal ke kepala tamunya itu. Orang Badui itu memindahkan bantal tersebut dari kepala ke kakinya. Ibarat kata pepatah, orang mengantuk disorongkan bantal, maka dengan segera orang Badui itu terlelap. Yang empunya rumah terheran-heran melihat orang Badui yang tidur lelap itu dengan kedua kakinya yang berbantal. Pagi-pagi keesokan harinya pada waktu menyuguhkan sarapan pagi ala kadarnya, yang empunya rumah bertanya kepada tamunya itu. Sobat, apakah memang demikian adat kebiasaan di kampung tempat asalmu, kedua kaki yang berbantal, bukan kepala? Sebenarnya adat kebiasaan di kampung asal saya sama juga dengan adat kebiasaan orang di sini, kepala yang berbantal. Akan tetapi demi keadilan, karena kaki yang penat berjalan kaki sejauh itu, maka kakilah yang harus menikmati bantal. Kaki telah lebih banyak melaksanakan kewajibannya, sehingga kaki lebih berhak ketimbang kepala diberi berbantal, jawab orang Badui itu. Oh, ya, itulah keadilan ditinjau dari segi keseimbangan antara hak dengan kewajiban, bergumam yang empunya rumah sambil manggut-manggut. Kata-katanya itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri ketimbang kepada tamunya itu.

-

Apakah sesungguhnya yang disebut adil itu?! Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengeluarkan atau memindahkan sesuatu dari tempat yang bukan pada tempatnya. Orang Badui itu menempatkan bantal itu pada tempatnya yaitu di kaki dan memindahkan bantal itu dari kepala yang bukan pada tempatnya, berhubung karena kaki lebih banyak menjalankan kewajibannya. Dalam hal ini kriteria yang dipakai untuk berlaku adil adalah keseimbangan antara kewajiban dengan hak. Isu hak asasi manusia (HAM) sedang merebak sekarang ini. Dilihat dari segi kriteria keseimbangan antara kewajiban dengan hak, maka gerakan organisasi internasional perihal HAM ini tidaklah adil. Hanya getol dalam hal melancarkan hak asasi, tidak pernah kedengaran organisasi HAM ini bergerak dalam hal kewajiban asasi manusia (KAM). Sesungguhnya ada organisasi yang bergerak dalam bidang kewajiban asasi manusia ini, akan tetapi tidaklah secara demonstratif mempergunakan ungkapan kewajiban asasi ini. Organisasi yang dimaksud itu adalah organisasi yang bergerak dalam lapangan da'wah. Hanya orangorang yang beriman kepada Allah yang dapat membentuk organisasi yang bergerak dalam hal KAM dan sekaligus HAM. Firman Allah: Wa Ma- Khalaqtu lJinna walInsa Illa- liYa'buduwni (S. AdzDza-riyat, 56), tidaklah Aku jadikan jinn dan manusia, melainkan mereka mengabdi kepadaKu (51:56). Mengabdi kepada Allah SWT, itulah kewajiban asasi dan sekaligus hak asasi manusia. Maka tidaklah mungkin organisasi internasional yang bergerak dalam HAM ini akan berlaku adil dengan bergerak pula di bidang KAM, oleh karena pendiri ataupun orang-orang yang aktif dalam organisasi internasional itu adalah mereka penganut humanisme yang tidak mau tahu, bahkan ada yang tidak percaya kepada Allah SWT. Kriteria keseimbangan antara kewajiban dengan hak bukanlah satu-satunya kriteria untuk berbuat adil. Buruh mengeluarkan keringat lebih banyak, artinya bekerja lebih keras dari

7

mandur, akan tetapi gaji mandur lebih tinggi dari buruh. Sepintas lalu ini kelihatannya tidak adil. Kriteria yang dipakai di sini dalam hal menempatkan sesuatu pada tempatnya, adalah tanggung jawab. Tanggung jawab mandur lebih besar dari buruh, itulah sebabnya gajinya lebih tinggi. Seorang bapak yang memandang warna kuning yang paling indah, membelikan semua anaknya pakaian baru berwarna kuning menjelang lebaran. Bapak itu menyangka sudah berlaku adil pada anak-anaknya, tidak memilih kasih salah seorang di antaranya, karena ia telah memberikan warna yang paling indah kepada semuanya. Akan tetapi sebenarnya sang bapak tidak berlaku adil, karena ada beberapa orang anaknya yang tidak senang pada warna kuning, sehingga mereka merasa tidak diperlakukan dengan adil. Dalam hal ini kriteria untuk berlaku adil adalah selera. Seorang ibu memberikan uang saku yang sama banyak kepada anak-anaknya. Sang ibu sudah menyangka berlaku adil, tidak memilih kasih salah seorang di antaranya, semua mendapat bagian yang sama banyak. Akan tetapi sebenarnya sang ibu tidak berlaku adil oleh karena anaknya itu ada yang mahasiswa, ada yang masih di sekolah menengah bahkan masih ada yang di taman kanak-kanak. Dalam hal ini kriteria yang harus dipergunakan oleh sang ibu adalah kebutuhan. Tidaklah yang menempuh ujian itu harus lulus semuanya. Yang luluspun tidak semuanya akan mendapatkan nilai yang sama. Kriteria keadilan dalam hal ini adalah kesanggupan. Karena bermacam-macamnya kriteria dalam hal berbuat adil, maka untuk menentukan kriteria yang tepat haruslah jujur. Orang yang tidak jujur tidak mungkin dapat berbuat adil. Khutbah kedua dalam khutbah Jum'at biasanya ditutup dengan S. An Nahl, 90: InnaLlaha Ya'muru bil'Adli walIhsa-ni, sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan (16:90). Apa pula yang disebut ihsan? Yaitu mereka yang dengan ikhlas memberikan kepada orang lain hak yang berlebihan atau memilih kewajibannya lebih besar dari haknya. Contohnya, bapakbapak dengan ikhlas memberikan hak kepada ibu-ibu adanya Hari Ibu dengan tidak menuntut adanya Hari Bapak. Seorang suami yang dengan ikhlas mengganti popok bayinya. Bukankah mengganti popok itu kewajiban sang isteri? Sang suami menambah kewajibannya mengganti popok, karena bayinya menangis-nangis, pada hal sang isteri sedang berkadahajat di WC. WaLlahu A'lamu bi shShawab.

8

Apakah Mungkin Disiplin Ilmu Teknik Mesin Dapat Diberi Nilai Agama?
Demi keotentikan, sebagai pertanggung-jawaban kepada Allah SWT, dalam kolom ini setiap ayat Al Quran ditransliterasikan huruf demi huruf. Bila pembaca merasa "terusik" dengan transliterasi ini, tolong dilampaui, langsung ke cara membacanya saja. Saya menerima tanggapan melaui telepon yaitu bagaimana mungkin dalam kurikulum setiap mata ajaran dapat diwarnai oleh nilai agama. "Ustadz, apakah mungkin disiplin ilmu teknik mesin dapat diberi nilai agama?" Sayangnya penanya itu tidak menyebutkan namanya. Tetapi menurut hemat saya dia itu dosen Jurusan Mesin, atau sekrang-kurangnya mahasiswa Jurusan Mesin. Tanggapan itu sehubungan dengan yang saya tulis pada hari Ahad yang lalu (Seri 272) dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1418. Saya kutip paragraf yang menyangkut materi tersebut: "Kinerja sumberdaya manusia yang berakhlaq tinggi hanya dapat dicapai dengan merenovasi kurikulum dan mengubah sistem proses belajar-mengajar menjadi proses mendidik-mengajar. Pendidikan nilai-nilai agama dalam kurikulum diperbanyak porsinya. Silabi ditekankan pada nilai-nilai Syari'ah, bukan pada fiqh dan bukan pula bersifat hafalan. Bahkan pada setiap mataajaran diwarnai oleh nilai agama. Pilihan ganda (multiple choice) jangan dipakai dalam sistem evaluasi." Sebenarnya pewarnaan nilai agama, terkhusus nilai Tawhid terhadap disiplin ilmu eksakta telah pernah saya kemukakan sejumlah beberapa kali dalam kolom ini. Khusus pewarnaan nilai Tawhid terhadap disiplin ilmu teknik mesin telah saya bahas dalam Seri 155 yang berjudul: "Aplikasi Hukum Themodinamika Kedua dalam Cakrawala yang Lebih Luas daripada Iptek." Saya akan kutip bagian esensial dari Seri 155 tersebut: "Fisika klasik maupun fisika relativitas dengan gambaran dunia ruang waktu empat dimensi (four dimensional picture of the world, space-time continuum) tidak mempunyai ketegasan pengertian tentang arah waktu (time arrow). Oleh karena itu ada saja pakar yang membuat postulat tentang arah waktu sebaliknya, dari masa depan ke masa lalu. Postulat ini menimbulkan inspirasi bagi penulis novel yang bersipat science fiction, mengarang cerita tentang orang-orang yang menembus lorong waktu ke masa silam. Sehubungan dengan arah waktu Allah berfirman: SBH ASM RBK ALA'ALY . ALDZY KHLQ FSWY (S. ALA'ALY, 1-2), dibaca: sabbihisma rabbikal a'la- . alladzi- khalaqa fasawwa- (s. al.a'la-), artinya: Sucikanlah nama Maha Pengaturmu Yang Maha Tinggi. Yaitu Yang mencipta lalu menyempurnakan (87:1-2). Menyempurnakan dalam ayat (87:2) memberikan keterangan secara tegas tentang arah waktu, yaitu dari masa lalu ke masa depan. Dalam thermodinamika dikenal sebuah TaqdiruLlah yang disebut Hukum Thermodinamika Kedua dengan perumusan William Thomson Kelvin (1842 - 1907) dan perumusan Rudolf Clausius (1822 - 1888). Perumusan Kelvin menjadi asa mesin-mesin kalor dan perumusan Clausius menjadi asas mesin-mesin pendingin. Walaupun kedua perumusan itu secara verbal berbeda, namun pada pokoknya ialah dalam setiap proses thermodinamis, enropi akan naik. Secara keseluruhan entopi alam syahadah naik terus, jangankan turun, berhentipun tidak pernah. Ini yang disebut dengan irreversible. Dalam hal panas, kenaikan entropi itu sebenarnya suatu kerugian dalam organisasi molekuler. Ungkapan organisasi molekuler ini perlu penjelasan. Sebuah bola baja yang jatuh jika dilihat secara mikroskopis, maka molekul-molekul bola baja itu bergerak ke bawah dengan

9

pertambahan kecepatan yang sama dalam arti setiap saat besarnya dan arahnya sejajar serta molekul-molekul itu mengalami pula pertambahan tenaga kinetis yang sama besarnya. Dalam hal ini kita melihat dua hal, yaitu energi dan organisasi energi. Setelah bola baja itu menghantam landasan beton, maka sebagian dari molekul-molekul bola baja itu mengalami perubahan arah secara acak (random), ibarat nyamuk-nyamuk beterbangan tak teratur. Sebagian lagi molekul-molekul itu geraknya tetap teratur terorganiser, yaitu kecepataannya tetap sejajar dan sama besarnya. Maka tenaga bola baja itu terbagi dua. Tenaga molekulmolekul yang acak tak terorganiser yang ibarat nyamuk-nyamuk beterbangan itu berubah wujud dari tenaga kinetis menjadi tenaga panas. Di samping itu keacakan molekul-molekul yang seperti nyamuk itu mempengaruhi struktur bola baja itu dalam wujud perubahan bentuk menjadi "gepeng". Sedangkan tenaga molekul-molekul yang tetap terorganiser itu tetap berwujud tenaga kinetis yang menyebabkan bola baja itu "melenting" ke atas mengikuti hukum mekanika yaitu bagian dari SunnatuLlah yang dapat diungkapkan oleh Sir Isaac Newton (1642 - 1727) dalam bentuk rumus: Aksi = - Reaksi. Makin tinggi keacakan molekul-molekul yang seperti nyamuk itu makin besar pua kuantitas terjadinya tenaga panas. Tinggi rendahnya keacakan itu tergantung dari sifat material itu. Benda yang plastis tinggi keacakannya sedangkan benda yang elastis rendah keacakannya. Berubahnya sebagian tenaga kinetis itu menjadi tenaga panas, itulah yang dimaksud dengan kerugian organisasi molekulur seperti disebutkan di atas itu. Karena memang didapatkannya ilmu thermodinamika itu untuk kepentingan efisiensi dalam rancang bangun teknologi, sedangkan sifat Iptek khususnya dan ilmu sekuler umumnya yang dipelajari orang hingga dewasa ini dibangun di atas paradigma empirisme yang bergandengan tangan erat dengan filsafat posirtivisme dan utilitarianisme, maka pengkajian sudah logis jika berhenti pada aplikasi Ip pada Tek. Yang logis belum tentu benar. Sesungguhnya Iptek itu menurut Syari'ah harus dimerdekakan dari kungkungan positivisme dan menjangkau di atas cakrawala yang lebih tinggi dari utilitiarisme. Iptek harus dibangun di atas landasan paradigma empirisme (ayat kawniyah) yang bernilai Tawhid, dengan tidak mengabaikan kemanfaatannya. Maka pemikiran logis tidak akan berhenti pada hanya aplikasinya dalam rancang bangun mesin-mesin konversi tenaga belaka. Demikianlah pula arah waktu dipertegas dalam ayat kawniyah yaitu bagian TaqdiruLlah yang disebut Hukum Thermodinamika Kedua yang irreversible seperti yang telah diuraikan di atas itu. Hukum Thermodinamika Kedua tidaklah menyangkut tabiat molekul secara individual, melainkan menyangku keseluruhan unsur molekul yang acak dalam "masyarakat" molekul yang hiruk-pikuk (the random element in the crowd). Keadaan molekul yang makin acak yang tidak terorganiser itu menunjukkan arah waktu yang tegas dari masa lampau ke masa depan, oleh karena molekul-molekul yang bergerak ibarat nyamuk itu tidak dapat lagi kembali kepada keadaan semula. Keacakan ini adalah harga yang dibayar oleh transformasi fisis, suatu prinsip umum TaqdiruLlah yang diungkap oleh Ludwig Boltzmann (1844 - 1906). Allah SWT menyempurnakan hasil ciptaannya FSWY (fasawwa-) berupa transformasi fisis alam syahadah di satu pihak, sedangkan di lain pihak Allah SWT mengurangi persediaan tenaga. Begitu transformasi fisis sudah disemuprnakan Allah SWT, entropi menjadi maximum, persediaan tenaga habis, berhenti pulalah proses di alam syahadah ini, dan inilah akhir alam syahadah, kemudian menyusullah hari kiamat (dari Qiya-m artinya berbangkit), yaitu diri (nafs) manusia di alam barzakh bangkit dengan tubuh yang baru, lalu menghadapi pengadilan Allah di Yawmuddin (Hari Pengadilan), lalu masuk ke alam akhirat, surga bagi yang beruntung karena tunduk pada Syari'ah, atau neraka bagi yang celaka karena tidak tunduk pada Syari'ah baik karena membangkang ataupun karena kafir semasa hidupnya di dunia. Dalam uraian di atas itu bukan hanya sekadar dibahas pewarnaan nilai agama (axiology) terhadap disiplin ilmu thermodinamika, tetapi juga menyangkut dengan epistemology (the origin of nature, methods, and limits of human knowledge) dan ontology (the nature of existence). WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.

10

Malaikat dan Sikap Hormat kepada Guru
Malaikat adalah makhluq Allah yang ghaib, artinya tidak dapat diindera oleh pancaindera manusia, juga tak dapat dideteksi oleh instrumen laboratorium bikinan manusia bagaimanapun canggihnya. Kita tahu tentang adanya malaikat karena Allah memberi-tahu kita melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad RasuluLlah SAW, Nabi 'Isa AS dan Nabi Musa AS yang berwujud ayat Qawliyah. Jadi malaikat itu harus diimani, termasuk satu di antara Rukun Iman yang enam. Malak(un), nama spesi makhluq ghaib tersebut. Spesi makhluq lain seperti misalnya Basyar(un), adalah nama spesi makhluq nyata yang berdarah daging yang mempunyai ruh yaitu kita ini, manusia. Dalam qaidah bahasa Arab muannats (gender perempuan) menyatakan sebagian dari mudzakkar (gender laki-laki). Syajar(un) menyatakan keseluruhan spesi yang disebut pohon, syajarah(tun), sekelompok atau sebagian jenis pohon. Malaikah (bentuk muannats) menyatakan sekelompok atau sebagian dari malak (mudzakkar). Namun dalam bahasa Indonesia, baik malak maupun malaikah, kedua-duanya biasanya diterjemahkan dengan malaikat. Walaupun malaikat itu makhluq ghaib, namun sewaktu-waktu Allah menyuruh makhluq ini untuk berkomunikasi dengan spesi Basyar. Oleh karena itu malaikat itu diberi kemampuan oleh Allah beralih wujud menjadi Basyar pula. Malaikat Jibril AS menjelma menjadi Basyar ketika berkomunikasi dengan Maryam, untuk menginformasikan kepadanya bahwa Maryam kelak akan melahirkan seorang anak yang suci. Pada waktu malaikat Jibril AS menyampaikan wahyu yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW (berupa lima ayat yang pertama dari S. Al Alaq), ia berubah wujud seperti Basyar. Tatkala Jibril AS mendatangi Maryam dan Nabi Muhammad SAW, Jibril AS tidak disaksikan oleh Basyar yang lain oleh karena Maryam dan Nabi Muhammad SAW tatkala itu sedang sendirian. Malaikat Jibril AS yang sedang berwujud Basyar dapat pula disaksikan oleh para sahabat, tatkala Jibril AS berkunjung kepada Nabi Muhammad SAW yang sedang duduk satu majelis dengan para sahabat, bertanya kepada Nabi yang artinya: "Apa itu iman apa itu Islam, dan apa itu ihsan." Demikian pula tatkala para malaikat yang berwujud Basyar, yang diperintahkan Allah untuk menghubungi Nabi Ibrahim AS, turut pula disaksikan oleh Sarah. Tujuan para malaikat yang berubah wujud menjadi Basyar itu ialah untuk menginformasikan kepada Nabi Ibrahim AS, bahwa pertama, isterinya Sarah akan mempunyai putera kelak, walaupun Sarah pada waktu itu sudah dalam keadaan berhenti haid, dan kedua, bahwa Sodom dan Gomorrah (Qamran), pemukiman Nabi Luth AS akan dibinasakan oleh para malaikat itu, karena penduduknya homosexual dan lesbian. Karena para malaikat itu berwujud Basyar, maka penduduk Sodom dan Gomorrah yang berada sekitar rumah Nabi Luth AS dapat pula melihat malaikat itu, bahkan orang-orang homosexual itu ingin memesumi malaikat dalam wujud Basyar itu. Berfirman Allah dalam Al Quran: Qa-la YaAdamu Anbi'hum biAsma-ihim (S. AlBaqarah, 32). Berfirman (Allah), hai Adam informasikan kepada mereka (malaikat) nama-nama (barang) (2:32). Selanjutnya Firman Allah, Waidz Qulna- lilMalaikati Sjuduw liAdama faSajaduw illaIbliysa Abay waStakbara (S. AlBaqarah, 33). Dan Kukatakan kepada malaikat sujudlah kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan sombong (2:33). Ayat (2:32) menjelaskan latar belakang keluarnya perintah Allah kepada Al Malaikatu, sekelompok malaikat. Bunyi perintah itu, Usjuduw liAdama sujudlah kamu kepada Adam. Allah SWT memerintahkan sekelompok malaikat itu sujud kepada Adam bukan sebagai pernyataan dari malaikat itu untuk mengkultuskan Adam, melainkan sebagai pernyataan hormat kepada Adam, oleh karena Adam telah menjadi guru, mengajar malaikat itu mengenal identitas barangbarang disekitar majelis itu. Walaupun tidak secara tegas dijelaskan dalam ayat itu bagaimana

11

wujud sekelompok malaikat pada waktu berkomunikasi dengan Adam, kita dapat mengansumsikan bahwa pada waktu terjadinya komunikasi itu, sekelompok malaikat tersebut berubah wujud menjadi Basyar. Jelaslah ayat di atas itu mengandung muatan nilai: Para murid wajib menghormati gurunya. Murid yang tidak menghormati gurunya sifatnya seperti Iblis. Nilai hormat kepada guru ini masih dijunjung tinggi dahulu, walaupun masih dalam penjajahan. Pada waktu saya masih di sekolah dasar dahulu hingga zaman pendudukan Jepang (Futsu dan Jokyu Kogakko), muridmurid menghormati gurunya dengan memanggil karaeng (di daerah yang berbahasa Makassar, Konjo dan Selayar) dan puang (di daerah yang berbahasa Bugis). Di dalam cerita silat guru (suhu) sangat dihormati. Murid harus sujud (paykui) kepada gurunya. Bangsa Jepang adalah bangsa yang menaruh hormat kepada guru. Pada waktu pendudukan Jepang, balatentera (heitai) Jepang yang kejam-kejam dan bengis, tidak pernah berlaku kejam kepada guru bumiputera. Kalau tentara Jepang bertanya kepada penduduk: Ano katawa sensei desuka? (Apakah orang itu guru?), dan mendapat jawaban: Hai (ya), maka sikap galaknya berubah menjadi sopan, mendatangi guru itu sambil menghormat dengan membungkuk. Nilai hormat kepada guru, sebagai hormatnya malaikat kepada Adam, sang guru, sudah tercecer dari bangsa kita. Hanya tinggal sebagai cerita saja. Bangsa Indonesia sekarang ingin menghasilkan produksi unggulan yang dapat diekspor, strateginya ialah meningkatkan Sumberdaya Manusia (mestinya disingkat SM, bukan SDM), yang kuncinya antara lain terletak dalam sikap hormat kepada guru. Tawuran dalam kalangan siswa dan mahasiswa insya Allah dapat diredam, jika menempuh strategi: Gerakan nasional membina sikap hormat kepada guru. WaLlahu A'lamu bi shShawab.

12

Prasangka
Ada sebuah cerita yang kelihatannya ringan. Sebuah keluarga yang terdiri atas: ayah, ibu, seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan, sudah gadis. Dari segi komposisi adalah merupakan keluarga ideal menurut program KB. Namun perlu dicatat, cerita ini sudah lama ada sebelum Indonesia merdeka. Saya mendengar cerita ini dari nenek semasa saya masih kecil. Diceritakan nenek menjelang tidur malam. Keempat anggota keluarga itu semuanya pekak. Artinya tuli betul, sebenar- benarnya tuli. Suatu hari si anak laki-laki sedang menggembalakan kambingnya di pinggir kampung. Seorang asing liwat. Menanyakan arah jalan yang bercabang dua. Si anak menjawab: "Ini kambing saya, ini kambing bapak saya. Mengapa engkau mengatakan kambing ini milikmu. Awas, tunggu di sini, saya beritahu ibuku di rumah. "Anak itu menghalau kambingnya pulang ke rumah. Masih di tangga si anak berteriak: "Ibu, di pinggir kampung, di luar sana ada orang yang mengaku-ngaku kambing kita ini kambingnya." Dengan suara pasrah si ibu menjawab: "Biarlah nak, kita ini memang orang miskin. Tidak usah marah. Biarkanlah dia mencela celana bapakmu yang penuh dengan tambalan itu." Sepulangnya suaminya dari kebun, belum sempat melangkahkan kaki suaminya masuk rumah, si isteri berucap: "Pak, menurut anak kita ada yang mencela celanamu yang penuh tambalan. Saya katakan, sudahlah nak, tidak usah masukkan di hati, kita ini memang petani miskin." Si suami menjawab: "Haram, kalau saya makan pisang di kebun. Kalau ada yang menyampaikan kepadamu saya ini suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi di kebun, itu fitnah." Si gadis di dapur melirik ke depan pintu tempat kedua orang tuanya berdialog. Dia tentu saja hanya mampu melirik, karena tidak sanggup menguping, maklumlah ia pekak. Setelah dialog berakhir, si gadis melompat ke dekat pintu dengan tersedu-sedu ia berkata: "Biarlah mak, biarlah pak, kalau ada yang meminang, jangan ditolak, terima saja." Dalam kehidupan kita sehari- sehari tidak jarang kita terlibat dalam hal prasangka. Sikap berprasangka yang dibentuk oleh kepicikan, pandangan sempit, curiga kepada bayangan sendiri. Cerita di atas itu dikarang oleh nenek moyang kita untuk memberikan potret sekelompok manusia yang bersikap prasangka yang ekstrem. Memang nenek moyang kita, pengarang cerita itu, orang jenius. Keadaan pekak menggambarkan orang yang tidak mau mendengar pendapat orang lain. Yang penting adalah persepsinya sendiri, sangat sukar berkomunikasi dengannya. Sikap prasangka yang ekstrem, yang dibentuk oleh kondisi kejiwaannya. Si anak laki-laki mendapat tugas menggembalakan kambingnya. Tanggung jawabnya itu menyebabkan ia bersikap waspada secara berlebihan. Apapun yang diucapkan atau dilakukan orang ditanggapinya mau meronrong kedudukannya sebagai gembala, mau mengambil, mau merampas kambing itu dari tangannya. Si ibu yang pekerjaan rutinnya menambal celana suaminya mnyebabkan ia dihinggapi penyakit rendah diri, minderwaadigheid complex. Semua tindak-tanduk orang selalu ditafsirkannya mengejek celana suaminya. Si suami yang suka makan pisang secara sembunyi-sembunyi, selalu ibarat mempunyai monyet di punggung. Rasa kuatir bahwa isterinya akhir-akhirnya akan tahu juga, selalu mengusik jiwanya. Waktu isterinya melapor bahwa celananya dicela orang, ia menyangka rahasianya sudah terbuka. Yang bungkuk dimakan sarung. Si gadis, adalah gadis pingitan, yang jiwanya selalu meratap, mendambakan orang datang meminang. Seperti diungkapkan oleh Kelong Mangkasara' (pantun Makassar): Bosi minne baraqminne, bungaminne campagayya. Inakatte minne, lamaqlonjoq paqrisiqna. Turunlah hujan, musim barat tiba, pohon cempaka berbunga pula. Nasibku memang, selalu dirundung malang.

13

Si gadis menanti harap-harap cemas dari tahun ke tahun. Yang ditandai dengan datangnya musim barat, bahkan pohon cempaka sudah berbunga pula. Tetapi selalu dirundung malang, belum ada yang datang meminang. Maka oleh pembicaraan ibu dengan bapaknya dekat pintu, begitu serius dilihatnya, timbullah prasangkanya: telah ada yang datang meminang. Sikap prasangka ini tidak terkecuali, juga subur bertumbuh dalam politik tingkat tinggi. Rezim militer Aljazair, ibarat anak pekak yang menggembala kambing itu. Selalu diusik oleh kekuatiran kambingnya diambil orang, lalu berprasangka. Golongan Islam yang membentuk kekuatan politik, yang menempuh cara demokratis, menjadi salah satu kontestan dalam pemilihan umum, dicap fundamentalis. Sebenarnya istilah fundamentalis ini pengertiannya baik-baik saja. Tetapi dalam lapangan politik internasional istilah ini sudah mempunyai konotasi yang khas, suka menempuh cara kekerasan. Kalaupun pada akhirnya kelompok ini terlibat dalam kekerasan dan pertumpahan darah, itu karena lebih dahulu dikerasi dan dizalimi oleh rezim militer: pemilu lanjutan dibatalkan, partainya disudutkan untuk mendapatkan alasan pembubaran dan akhirnya memang dibubarkan oleh rezim militer. Nah kalau mereka akhirnya terpaksa terlibat dalam tindak kekerasan dan pertumpahan darah, semutpun kalau diinjak, niscaya menggigit. Amerika Serikat yang begitu menggemborkan dirinya pahlawan demokrasi, bungkam, bahkan bersikap menyokong rezim militer Aljazair, yang mentorpedo hasil dan proses pemilihan umum itu. Mengapa? Amerika sedang risau, Iran potensial bakal menggantikan kedudukan mantan Uni Sovyet untuk menantang, menjadi rival Amerika. Ambisi Amerika untuk menjadi negara adidaya tunggal, menjadi polisi dunia, bakal mendapat hambatan, gangguan, bahkan ancaman dari Iran. Ini membentuk sikap Amerika berprasangka kepada setiap gerakan Islam, tidak terkecuali di Aljazair. Nah, itulah semua sikap prasangka politik tingkat tinggi yang mengglobal. Tidak ada bedanya dengan anak pekak yang selalu diusik oleh kekuatiran kambingnya diambil orang, seperti cerita nenek menjelang tidur di atas itu. Adapun tentang hal sikap berprasangka yang disebabkan oleh rasa rendah diri si ibu, oleh rasa ada monyet di punggung si ayah dan oleh rasa cemas si gadis, pembaca dapat memperkembang sendiri, sebab ruangan ini terbatas untuk itu. Marilah kita tutup pembahasan ini dengan Firman Allah dalam Al Quran, S.Banie Israil, ayat 36: Wa laa taqfu ma laysa laka bihi- 'ilmun, inna ssam'a walbashara, walfuada, kullu ulaaika kaana 'anhu mas.uwlan, artinya: Dan janganlah engkau memperturutkan (prasangka) yang engkau tidak tahu seluk- beluknya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan rasio, kesemuaya itu akan dipermasalahkan (oleh Allah SWT di Hari Pengadilan). Ya-ayyuha lladziyna a- manu jtanibuw katsiyran mina zhzhanni inna ba'dha zhzhanni itsmun (s. alhujuraat, 12), artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (49:12). WaLlahu a'lamu bishshawab.

14

Nilai-Nilai yang Disimak dari Shalat, dalam Hubungannya dengan Budaya Mundur dan Unjuk Rasa
Agar kita sepaham atau kalau tidak sepaham, sekurang-kurangnya demikianlah pemahaman saya, mundur dalam kontex budaya mundur tidaklah bermakna dalam arti gerak yang konkret, "space-like" (untuk meminjam istilahnya Einstein), melainkan mengandung pengertian yang abstrak. Seperti misalnya yang kita ucapkan dalam Shalat: Wajjahtu Wajhiya lilladziy Fathara sSamawa-ti wa lArdha, kuhadapkan muka kepada Yang menciptakan langit dan bumi. Menghadapkan muka di sini tidaklah bermakna dalam arah yang space-like, melainkan abstrak, karena Allah tidak mengisi ruang yang space-like, SubhanaLlah, Maha Suci Allah dari sifat yang demikian itu. Ajaran Islam mengandung 'Aqiydah, Hukum Syari'ah dan Akhlaq. Ketiga unsur itu merupakan satu sistem artinya tidak berdiri sendiri, melainkan ada kaitan di antara ketiganya, itulah yang disebut dengan Kaffah. Dalam Hukum Syari'ah ada yang menyangkut dengan hubungan antara manusia dengan Allah yang disebut dengan Hablun mina Lla-h dan ada yang menayangkut dengan hubungan antara manusia yang disebut Hablun mina nNaas. Kedua subunsur itu juga merupakan satu sistem, tidak berdiri sendiri, ada kaitannya. Shalat menyangkut dengan Hablun mina Lla-h. Namun demikian, berdasar atas prinsip Kaffah (sistem), maka Shalat itu tidaklah lepas dari Hablun mina nNaas. Dalam Fiqh pendekatan secara Kaffah ini tidak dipakai, sebab yang dibahas hanya tentang apa hukumnya, yakni menyangkut status wajib, bagaimana cara pelaksanaannya, apa rukunnya, persyaratan untuk shahnya dan apa yang membatalkannya. Hal ini memang penting tetapi belum cukup. Padahal kalau pembahasan itu memakai pendekatan Kaffah maka akan terungkap bahwa dalam Shalat itu terdapat nilai-nilai yang mengisyaratkan bagaimana seharusnya orang itu hidup bermasyarakat dan bernegara, Hablun mina nNaas. Arkian, akan saya ulangi sepenggal yang pernah saya tulis dalam Seri 063. Saya teringat sebuah peristiwa bertahun-tahun yang silam. Kejadiannya dalam bulan Rajab. Allahu yarham H.AbdulGhani, imam tetap Masjid Syura waktu itu sedang mengimami shalat Maghrib. Sementara membaca pangumpu' beliau diserang batuk. Beliau lalu menyingkir ke samping, lalu Drs Sulthan BM, yang sekarang menjadi salah seorang imam tetap Masjid Syura maju ke depan melanjutkan mengimami shalat Maghrib, bacaan pangumpu' disambung dan bacaan serta gerak shalat diteruskan. Dalam pengertian space-like, Allahu yarham H.AbdulGhani menyamping ke pinggir, dan dalam arti abstrak mundur. Dalam konstruksi mesjid, pada bahagian mihrab harus ada pintu. Maksudnya pintu itu antara lain khusus disediakan bagi imam untuk keluar masjid pergi beristirahat, jika sementara shalat imam tidak sanggup atau tidak wajar lagi untuk mengimami shalat. Ketidak sanggupan itu ada yang nampak, namun ada yang tidak nampak. Semisal diserang batuk, itu adalah ketidak sanggupan yang kelihatan. Kalau mengeluarkan angin, wudhuk akan batal, shalatpun akan batal. Dan ini adalah ketidak bolehan memimpin shalat yang penyebabnya tidak dapat dipantau oleh makmun. Jadi etika kepemimpinan menurut Islam seorang pemimpin akan dengan ikhlas mundur kalau sudah tidak sanggup atau tidak pantas lagi menjadi pemimpin, apakah ketidak sanggupan atau ketidak pantasan itu dapat dipantau atau tidak oleh para pengikutnya.

15

Adapun nilai lain dalam Shalat yang mengisyaratkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang imam (baca pemimpin) yang melakukan kesalahan, salah bacaannya atau salah gerakannya wajib ditegur (baca unjuk rasa) oleh makmun (baca pengikut). Kalau yang menegur itu laki-laki ucapan teguran itu adalah kalimah SubhanalLah, untuk gerakan yang salah, dan membacakan bacaan yang benar untuk membenarkan bacaan imam. Dan kalau yang menegur itu perempuan cukup dengan isyarat menepuk punggung tangan. Dan imam harus tunduk pada teguran, memperbaiki bacaannya atau memperbaiki gerakannya. Demikianlah nilai yang dapat disimak yang diisyaratkan oleh nilai dalam Shalat tentang kepemimpinan dan kepengikutan. Seorang pengikut wajib menegur pemimpinnya. Namun cara menegur haruslah sopan, tidak boleh vulgar. Unjuk rasa dengan kalimah SubhanalLah bermakna bahwa Allah Maha Suci, hanya Allah yang luput dari kesalahan. Adapun manusia itu tidak akan sunyi dari kesalahan. Pemimpin harus dengan ikhlas dan berlapang dada menerima unjuk rasa, karena teguran itu adalah untuk memperbaiki demi kemaslahatan bersama, bukan untuk menjatuhkan. Apabila benar bahwa menurut penelitian budayawan dan pakar sejarah budaya mundur itu bukanlah budaya bangsa Indonesia, maka alangkah sayangnya hal itu, oleh karena pertama, mayoritas bangsa Indonesia adalah Ummat Islam, dan kedua, AGAMA Islam sudah berabadabad dianut di Indonesia ini, sehingga semestinyalah budaya mundur itu (selesai periode Shalat, maupun sementara melaksanakan keimaman dalam Shalat) telah mengakar di kalangan Ummat Islam di Indonesia ini. Adalah tanggung jawab seluruh Ummat Islam agar nilai mundur yang diisyaratkan oleh 'ibadah Shalat itu dimasyarakatkan, didarah-dagingkan, dibudayakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Membudayakan budaya mundur bukanlah meniru-niru budaya bangsa lain, oleh karena budaya mundur itu adalah bagian dari ajaran Islam. Yang salah besar jika teknis pelaksanaan budaya mundur itu meniru cara bushido Jepang, harakiri. Akan halnya unjuk rasa haruslah berlandaskan nilai SubhanaLlah. Pelaksanaan teknisnya telah dicontohkan oleh para alim-ulama sewaktu berunjuk rasa yang sejuk tentang hal SDSB sekitar 4 bulan yang lalu di Jakarta. WaLlahu a'lamu bisshawab.

16

Biar Lambat Asal Selamat, Takkan Lari Gunung Dikejar
"Buat apa peribahasa itu dimunculkan kembali dari tumpukan perbendaharaan lama yang kelihatannya sudah ketinggalan zaman? Yang sudah tidak relevan lagi dengan nilai kekinian? Berpacu dengan waktu, atau waktu itu uang! Kita ini sekarang harus bertindak cepat, karena cepat berarti efisien." Itulah penggalan-penggalan kalimat yang sempat saya dengar pada waktu duduk di antara para penunggu pengantin laki-laki. Rupanya telah terjadi diskusi kecilkecilan sebelum saya datang bergabung di kelompok itu. Biar lambat asal selamat, takkan lari gunung dikejar diucapkan sekadar untuk menghibur para penunggu itu untuk mengisi kekosongan dan kebosanan karena rombongan "raja sehari" yang ditunggu itu belum kunjung datang jua. Sepintas lalu penggalan-penggalan kalimat yang sempat saya dengar itu kelihatannya ada benarnya. Apapula jika diperhadapkan pada untaian kata dalam Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia: dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya. Maka pepatah: Biar lambat asal selamat ini, tidak perlu diungkit-ungkit lagi, bukan lagi masanya sekarang ini untuk bersikap demikian, cuma menghabiskan waktu saja untuk dibicarakan, tidak efisien. Demikianlah logikanya. Tunggu dahulu! Apa yang dikutip dari untaian kata dalam Proklamasi itu didahului oleh: dengan cara saksama. Apa maknanya itu! Ini mengandung nilai yang masih relevan hingga kini, yaitu nilai ketelitian, kecermatan. Orang tua yang banyak pengalaman kelihatannya lamban, tidak tergesa-gesa, karena ia itu teliti, sudah banyak makan garam kehidupan yang serba getir, tidak mau seperti keledai, terantuk pada patok yang sama untuk kedua kalinya. Orang muda yang masih kurang pengalaman, belum makan garam kehidupan yang getir, memandang hidup ini dari segi romantika cemerlangnya saja, semangat meledak-letup, rasa optimisme yang berlebihan, maka ia itu bertindak serba cepat, tergesa-gesa. Kedua nilai cermat dan cepat ini perlu dijadikan satu sistem, yaitu saling membingkai. Cermat diberi berbingkai cepat dan cepat berbingkai cermat. Artinya orang tua yang lamban karena ingin cermat, ditarik oleh orang muda supaya mempercepat langkah. "Hai Pak, yang cepat sedikit". Sebaliknya jika orang muda terlalu cepat, berakselerasi, orang tua menahan, menarik kebelakang. "Hai anak muda, jalan licin berjurang, perlambat langkah". Ini namanya kerja sama antara generasi tua dengan generasi muda dalam arti yang sebenarnya. Pepatah di atas itu tidak berlaku secara umum, yakni situasional dan berbingkai. Situasional karena adanya pernyataan asal selamat, artinya ada ranjau yang menghadang, maka gerak perlu diperlambat. Berbingkai karena ruang lingkup dibatasi, yang dikejar itu adalah benda yang tidak bergerak terhadap bumi. Kalau yang dikejar itu bergerak ataupun yang datangnya hanya sekilas, maka ingatlah cerita dalam Hikayat Tuanta Salamaka. Bagaimana pengarang hikayat itu menyampaikan pesan berbungkus mistik, bergaya simbolisme dalam peristiwa di telaga Mawang. Datoka ri Pa'gentungang dengan gerak cepat menyulut rokoknya pada kilat yang menyala, menunjukkan kesigapan memanfaatkan kesempatan yang ada walaupun sekejap. Bagaimana kalau yang dikejar itu bergerak mendekat? Juga lihat peristiwa di telaga Mawang, Lo'moka ri Antang menyulut rokok pada titik air hujan dari pinggir saraung (sombrero)-nya. Dalam kenyataan hidup sehari-hari dari dahulu hingga sekarang dan insya-Allah untuk masa yang akan datang tidaklah selamanya mesti cepat. Ada yang sengaja diperlambat. Artinya cepat dan lambat itu situasional. Agar jelas inilah contohnya. Ilmu yang sangat bermanfaat

17

dalam mengelola proyek adalah Network Planning. Apabila hasil monitoring pada kegiatan kritis menunjukkan terjadi penyimpangan, yaitu apa yang dicapai dalam pelaksanaan ternyata lebih lambat dari menurut jadwal, maka harus segera diadakan kontrol. Caranya ialah dengan mempercepat kegiatan kritis yang berikutnya. Perlu pengerahan sumber daya dari unit-unit kegiatan lain yang tidak kritis. Itu dapat dilakukan oleh karena kegiatan-kegiatan yang tidak kritis itu mempunyai waktu longgar (float), jadi sebagian sumberdayanya dapat diambil dengan memperlambat kegiatan-kegiatan tersebut. Sumberdaya yang diambil itu kemudian dikerahkan untuk mengeroyok kegiatan kritis yang akan dipercepat itu. Jadi dalam aksi kontrol ini nyatalah bahwa cepat dan lambat itu situasional. Kegiatan-kegiatan yang tidak kritis diperlambat untuk dapat mempercepat kegiatan kritis. Lalu bagaimana dengan ajaran Al Quran? Semua ummat Islam asal saja ia mengerjakan shalat mesti hafal S. Al 'Ashar: Perhatikanlah waktu!(*) Sesungguhnya manusia senantiasa dalam kerugian. Kecuali, yang beriman, dan berbuat kebajikan, dan berwasiat tentang yang haq, dan berwasiat atas kesabaran. Jadi menurut ajaran Islam dalam hal waktu bukanlah soal cepat ataupun lamban yang menjadi perhatian utama. Yang penting adalah memanfaatkan waktu untuk berbuat kebajikan, berkomunikasi dengan sesama manusia untuk meneruskan nilai-nilai wahyu dan dalam berkomunikasi itu tidak ceroboh, tidak tergesa-gesa, melainkan harus cermat, dan untuk itu perlu kesabaran, karena menurut SunnatuLlah semua itu memerlukan waktu untuk berproses, tidaklah cespleng, sebagaimana bualan pembual dalam reklame obat-obatan, kosmetika, sedap-sedapan menthos, kristal, dll. WaLlahu a'lamu bishshawab. (*) Wa dalam permulaan ayat (1) S. Al'Ashr tersebut menyatakan sebuah qasm, semacam "sumpah", namun tidak cocok untuk dibahasa-Indonesiakan dengan "demi". Sebab dalam bahasa Indonesia "demi" itu menyatakan penguatan yang ditumpukan kepada sesuatu yang lebih "tinggi", yaitu Allah. Sedangkan qasm itu semacam "sumpah" untuk menegaskan di mana yang "bersumpah" kedudukannya itu lebih "tinggi". Jadi Wa l'Ashri tidak cocok di-Indonesia-kan dengan "demi waktu", melainkan "perhatikanlah waktu", karena yang berqasm di sini adalah Allah SWT.

18

Berbuat Baik, Tetapi Tidak Berlaku Adil, Karena Distorsi
Tentang hal berlaku adil dan berbuat baik setiap hari Jum'at kita senantiasa mendengarnya. Sebab menjelang akhir Al Khuthbatu tsTsa-niyah, khutbah kedua, setelah doa penutup, khatib senantiasa membacakan ayat: Inna Lla-ha Ya'muru bi l'Adli wa lIhsa-n ....., sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat baik. Orang tidak dapat langsung berbuat baik begitu saja, melainkan ada prasyarat, berbuat adil. Apalah arti berbuat baik misalnya seperti untuk ketertiban dan keindahan kota lalu membersihkan pedagang K-5 sementara Bamboden dibiarkan terus tanpa lapangan parker sehingga sangat mengganggu ketertiban lalu lintas? Kalau terhadap Bamboden selama ini Pemerintah Kota bersikap tiba di mata dipicingkan, mengapa kalau terhadap pedagang K-5 bersikap tiba di mata dinyalangkan dalam hal ketertiban dan keindahan ini? Ketidak adilan yang menimpa para pedagang K-5 ini menimbulkan pula hal yang kontradiktif terhadap upaya berbuat baik: mengentaskan kemiskinan! Inna Lla-ha Ya^muru bi l'Adli wa lIhsa-n, suruh kosongkan ground floor Bamboden untuk lapangan parker, biarkanlah pedagang K-5 berdagang di tempatnya semula selama jamjam tertentu dan ajar mereka bersih. Saya biasa berbelanja pada pedagang K-5 di Den Haag di Negeri Belanda. Pemerintah Kota (Gemeente) memberi kesempatan berdagang para pedagang K-5 ini. Untuk jam-jam tertentu lalu lintas kendaraan ditutup untuk dipakai pedagang K-5 menggelar dagangannya. Pada saya sekarang masih ada jas tebal panjang berwarna hijau yang saya beli dari pedagang K-5 di Den Haag itu. Mengapa orang walaupun ingin berbuat baik kebanyakan terjerembab berlaku tidak adil? Pada umumnya ini dapat terjadi karena pandangannya mengalami distorsi. Apa itu distorsi? Kata sahibulhikayat dalam sebuah pabrik pengilangan minyak (refinery) para isteri dari middle hingga top managers menjelang hari raya bersepakat untuk memberikan hadiah kepada para buruh rendahan. Untuk mengetahui jenis apa saja hadiah itu yang cocok untuk para buruh itu dibentuklah sebuah tim untuk melacaknya. Maka pergilah tim itu ke lokasi pabrik. Namun karena semua anggota tim itu tidak ingin sanggulnya rusak maka mereka itu cukup melihat dari luar lokasi saja. Perlu dijelaskan bahwa untuk dapat masuk ke lokasi pabrik yang cukup luas itu harus pakai helm. Tampaklah oleh mereka itu di mana-mana kelompok-kelompok kecil buruh sedang mengisap rokok. Rupanya pada waktu tim itu meninjau dari luar sedang tiba waktu istirahat. Setelah tim melaporkan hasil lacakannya diputuskanlah bahwa hadiah yang cocok bagi para buruh itu adalah rokok. Maka pada waktu hari raya dengan bangga para isteri managers itu menghadiahkan berpak-pak rokok kepada para buruh rendahan itu. Para buruh yang tidak merokok merasa tidak diperlakukan adil. Apa sesungguhnya yang terjadi ialah sample yang diambil dalam pelacakan itu, tidaklah representatif untuk mewakili populasi, yakni para buruh itu keseluruhannya. Dalam lokasi pengilangan minyak tidak sembarang tempat orang dapat merokok seenaknya. Untuk keperluan merokok disediakan beberapa tempat terbuka yang aman dari bahaya kebakaran. Inilah yang sempat dilacak oleh tim, sehingga kelihatannya para buruh itu perokok semuanya. Ini namanya distorsi. Kesalahan terletak dalam hal mengambil sample. Tim perlu masuk ke dalam lokasi supaya dapat mengadakan stratifikasi. Cukup dua stratifikasi saja yaitu di tempat terbuka dan ditempat tertutup. Kesalahan tim ini pernah dilakukan oleh Sigmun Freud sebelumnya. Sigmun Freud hanya melacak sejumlah kecil orang di Vienna saja, lalu dianggapnya sudah mewakili semua manusia di bumi. Tentang distorsi ini pernah terjadi di Hongaria dan di Serawak. Adapun sahibulhikayatnya adalah Hans Roseboom, dari Research-Instituut Voor Bedrijfswetenshappen (RVB) Delft,

19

Nederland. Jadi kalau cerita dalam paragraf sebelumnya adalah imajinasi, maka cerita yang ini adalah kejadian yang sebenarnya. Di Hongaria tim peneliti yang sedang latihan praktek lapangan berkesimpulan angka kelahiran tinggi, sebaliknya di Serawak mereka berkesimpulan angka kelahiran rendah. Indikator yang mereka ambil adalah perempuan hamil. Persentase orang hamil di Hongaria lebih tinggi dari Serawak. Ternyata kesimpulan mereka itu setelah dikroscek dengan hasil sensus tidak sesuai. Distorsi terjadi karena sample yang diambil adalah perempuan yang ada di jalanan dalam kota. Latihan praktek lapangan di Hongaria diadakan pada musim panas, banyak yang pergi keluar kota untuk summer vacation. Perempuanperempuan hamil tetap tinggal di kota. Jadi di sinilah penyebab distorsi itu. Sedangkan di Serawak menurut tradisi mereka perempuan hamil mesti tinggal di rumah, hanya keluar bila perlu betul. Tradisi inilah penyebab distorsi. Lebih indah dari warna aslinya, inilah landasan dalam dunia promosi, sengaja menjebak orang agar pandangannya mengalami distorsi. Mau yang lebih canggih lagi? Distorsi yang terjadi oleh ulah Sudomo, membuat referensi bahwa Edy Tanzil orang baik-baik orang tepercaya, sehingga Edy Tanzil kelihatan indah pada hal warna aslinya ternyata jelek. Inilah distorsi yang membawa musibah 1,3 triliyun yang konon sudah membengkak menjadi 1,7 triliyun. Tentu saja ini dengan asumsi tidak ada sogok-menyogok dalam proses mendapatkan kredit itu. Apabila asumsi ini tidak benar, artinya ada sogok-menyogok, maka yang terjadi bukan distorsi melainkan kolusi (kongkalikong). Apakah itu distorsi atau kolusi, inilah yang menjadi penyebab puncak ketidak adilan, konglomerat gampang mendapat kredit yang banyak, ibarat kelong Mangkasaraq: Iya gangga iya golla Iya nirappo ganggai Iya kaluku Iya pole nisantangi Gangga itu gula Diberi berkuah gangga Kelapalah dia Diberi bersantan pula WaLlahu a'lamu bisshawab.

20

Pesan-pesan yang Bersifat Teknis Administratif dan yang Berupa Isyarat dalam Al Quran
Pesan-pesan yang disampaikan yang bersifat teknis-administratif tidak akan membingungkan dan tidak akan menghebohkan bagi yang mendengarkan pesan itu, apapun latar belakang kebudayaan ataupun pendidikan mereka itu. Seperti misalnya tentang hal kewajiban menuliskan perjanjian dalam S. Al Baqarah, 282: Wa idza- Tada-yantum bi Daynin ila- Ajalin Musamma Faktubuwhu, Walyaktub Baynakum Katibun bi l'Adli,.....Falaysa 'Alaykum Juna-hun alla- Taktubuwha-, dan apabila kamu membuat perjanjian perikatan, hutang piutang, tuliskanlah, dan mestilah dituliskan oleh seorang penulis di antara kamu dengan adil,.....dan janganlah kamu malas untuk menuliskannya, Sejak zaman RasululLah SAW sampai kepada hari ini kepada siapa saja, kepada bangsa apa saja, dari latar belakang kebudayaan atupun pendidikan yang bercorak ragam, tidaklah akan membingungkan apatah pula akan menghebohkan jika disuruh menuliskan perjanjian. Mereka itu akan cukup mengerti. Namun apabila yang disampaikan itu berupa informasi seperti misalnya bumi itu bergerak mengelilingi matahari, maka ini pasti akan membingungkan bahkan menghebohkan masyarakat Arab pada zaman RasululLah SAW dan pada masyarakat di mana saja pada zaman itu. Mereka itu niscaya akan menolak kebenaran informasi itu, sebab berdasarkan pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman mereka bumi yang bergerak itu sangat bertentangan kenyataan. Sebaliknya apabila sebuah Kitab Suci jelas-jelas mengatakan secara konkrit bahwa bumi itu diam, agar komunikatif pada masyarakat waktu permulaan Kitab Suci diturunkan, tentu akan ditolak oleh masyarakat seperti yang keadaannya sekarang ini yang umumnya sudah mempunyai latar belakang pengetahuan yang telah maju. Masyarakat sekarang yang telah maju itu bukan hanya sekadar menolak tentang informasi tentang bumi yang diam itu, bahkan mereka itu akan menolak keseluruhan Kitab Suci itu, karena kebenaran yang dikandungnya hanya temporer, yaitu hanya berlaku pada waktu Kitab Suci itu mulai dimasyarakatkan. Demikian pula informasi tentang bumi ini berpusing / berputar pada subunya yang menyebabkan terjadinya siang dan malam. Ini akan membingungkan bahkan menghebohkan masyarakat pada zaman Kitab Suci itu mulai dikomunikasikan. Itu sangat bertentangan dengan kenyataan. Ambillah pakaian basah, lalu putar. Air dari pakaian basah itu akan memercik, akan terlempar. Kalau bumi berpusing, niscaya akan habislah terlempar air laut meninggalkan bumi dan semua benda-benda yang tidak terpaku pada bumi, termasuk manusia. Dalam hal bumi bergerak dan berpusing Al Quran memakai gaya bahasa yang tidak membingungkan dan tidak menghebohkan masyarakat Arab di zaman RasuluLlah SAW dan masyarakat lain di luar tanah Arab yang sezaman, ataupun yang latar budaya dan pengetahuaannya seperti masyarakat Arab itu, serta diterima pula oleh masyarakat yang latar belakang pengetahuannya seperti dewasa ini. Perhatikanlah gaya bahasa Al Quran mengenai kedua materi informasi di atas itu. Wa Tara lJiba-la wa Tashabuha- Ja-midatan wa Hiya Tamurru Marra sSaha-bi, Engkau lihat gunung-gunung dan engkau memperhitungkannya diam, pada hal gunung-gunung itu berlari, seperti larinya awan (S. An Namal, 88). Bagi masyarakat dahulu kala gunung yang diam yang berlari seperti larinya awan tidaklah membingungkan, karena tidak bertentangan dengan kenyataan yang berdasarkan pengalaman sehari-hari.

21

Orang yang memacu kuda atau untanya, akan menyaksikan gunung itu berlari seperti pula dengan larinya awan dari kejauhan. Pada hal tadinya gunung itu diam sewaktu orang itu masih tegak dengan kudanya, diam seperti awan di kejauhan. Kitapun dapat menyaksikan hal serupa jika naik mobil dan melihat ke tempat yang jauh, gunung itu beralari mengikuti lari kencangnya mobil. Jangan melihat pada pohon-pohon ataupun tiang-tiang di pinggir jalan, yang berlari kencang ke belakang. Dan jika mobil kita berhenti, gunungpun berhenti, demikian pula pohonpohon ataupun tiang-tiang di pinggir jalan. Ayat di atas itu mengisyaratkan bahwa kelak di kemudian hari ilmu pengetahuan akan mengungkapkan bahwa bumi ini sebenarnya bergerak. Kalau gunung itu diam terhadap bumi, sedangkan gunung itu berlari maka bumipun niscaya berlari atau bergerak pula. Selanjutnya perhatikanlah pula ayat ini: Yukawwiru lLayla 'alay nNaha-ri, wa Yukawwiru nNahara 'alay lLayli, (S. Az Zumar, 5). Kalimah Yukawwiru dalam ayat di atas asal katanya Kawwara artinya menggulung atau memutar sorban di kepala. Output dari pekerjaan menggulung atau memutar serban di kepala, yaitu kepala itu tertutup. Terjemahan Al Quran dengan Hak Cipta dari Departemen Agama Republik Indonesia bunyinya demikian: Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam. Adapun terjemahan secara tekstual itu dapat diterima baik oleh semua orang di mana saja dan kapan saja, tidak tergantung pada latar belakang budaya apa saja. Ayat itu dapat pula diterjemahkan secara kontekstual dengan ilmu pengetahuan kontemporer apabila pemahaman kata Kawwara ditekankan pada proses menggulung atau memutar sorban. Maka ayat di atas itu dapat diterjemahkan seperti berikut: (Allah) Memutar malam atas siang dan memutar siang atas malam. Dengan kalimah Yukawwiru dalam ayat itu, menunjukkan mu'jizat Al Quran, yaitu suatu isyarat bahwa kelak di kemudian hari ilmu pengetahuan akan mengungkapkan bahwa terjadinya siang dan malam itu karena perputaran bumi pada sumbunya. Itulah dua buah contoh tentang hal informasi yang disampaikan Al Quran mengenai bumi yang bergerak dan berputar dengan gaya bahasa sedemikian rupa sehingga tidak membingungkan masyarakat dahulu kala dan diterima pula oleh masyarakat sejak ilmu pengetahuan mengungkapkan tentang hal bumi bergerak dan berputar itu. WaLla-hu a'lamu bishshawa-b.

22

Nilai-nilai dari yang Individual Hingga ke Universal
Sebuah pohon yang berdiri tumbuh di tengah-tengah hutan adalah bebas nilai. Akan tetapi jika pohon itu telah bersentuhan dengan seorang individu maka melekatlah nilai padanya. Kalau individu itu menginginkan tempat berteduh, maka pohon yang tinggi, lurus, kurang cabangnya, tidak rimbun daunnya, pohon itu tidak mempunyai nilai bagi individu tersebut. Pohon itu hanya akan bernilai bagi seorang individu yang menginginkan pohon itu dijadikan tiang layar perahu. Demikian pula pohon yang banyak cabang, rimbun daunnya tidak akan bernilai jika individu itu menginginkan tiang layar, dan baru bernilai jika individu itu menginginkan tempat berteduh dari terik matahari. Jadi nilai sesuatu ditentukan oleh keinginan kita, atau dengan perumusan yang lebih singkat, nilai itu sesuatu yang kita ingini. Apa yang dikemukakan di atas itu menyangkut nilai yang individual sifatnya, nilai individual. Kayu gelondongan dapat kita tingkatakan nilainya, yaitu dengan mengubahnya menjadi balok dan papan. Atau dalam bahasa ekonomi benda berupa balok dan papan itu mempunyai nilai tambah. Proses yang mengubah kayu gelondongan menjadi balok dan papan yang telah mempunyai nilai tambah itu disebut teknologi. Jadi teknologi adalah suatu proses yang memberikan nilai tambah pada suatu benda. Makin canggih teknologi, makin canggih pula nilai tambah yang dihasilkannya. Dari apa yang telah dijelaskan itu, maka teknologi itu berurusan dengan bidang-bidang yang menyangkut ilmu pengetahuan dan alat-alat yang menyangkut apa yang mesti dilakukan terhadap benda, cara dan teknik memproduksi benda-benda, lingkungan secara menyeluruh tempat benda-benda itu diproduksikan, dan keinginan kelompok untuk mengkonsumsi produksi itu, yang biasa disebut pasar. Dengan demikian teknologi itu menjangkau masalah materi, masalah keinginan kelompok, nilai kelompok. Teknolgi tidaklah bebas nilai. Nilai kelompok jika ditingkatkan akan menjadi nilai budaya. Nilai budaya sebagai suatu sistem memberikan corak dan warna bagi kebudayaan atau sivilisasi suatu bangsa. Biasanya ada pembedaan antara pengertian kebudayaan dengan sivilisasi. Pada umumnya dikatakan orang bahwa kebudayaan bersifat immaterial sedangkan sivilisasi sebaliknya. Atau dengan ungkapan lain, kebudayaan itu adalah perangkat halus (soft ware) dan sivilisasi itu perangkat kasar (hard ware). Bagi saya sendiri, kedua pengertian itu merupakan satu kesatuan, tidak dapat dibedakan. Di mana ada perangkat kasar, di situ mesti melekat perangkat halus. Barangkali jalan pikiran ini, tanpa banyak penjelasan, dapat dengan mudah diikuti. Yaitu dengan potret teknologi di atas. Dalam teknologi seperti yang telah diuraikan di atas terpadu di dalamnya perangkat halus dan perangkat kasar. Kebudayaan dan sivilisasi, kultur dan sivilisasi saling melebur diri menjadi satu sistem. Insya Allah kita akan kembali memperbincangkan kebudayaan dan sivilisasi ini dalam kesempatan yang lain. Pada umumnya bangsa-bangsa di dunia kita sekarang ini terdiri dari masyarakat majemuk, tak terkecuali bangsa Indonesia. Setiap kelompok masyarakat yang merupakan sub-kultur dalam ruang lingkup bangsa Inonesia, disebut kebudayaan daerah. Dari sekian sistem nilai dari kebudayaan daerah itu, setelah mengalami proses kristalisasi, akan terangkat menjadi sistem nilai tingkat nasional, dan disebutlah dengan nilai budaya bangsa Indonesia. Adapun nilai-nilai yang berkristal itu akan menjadi nilai dasar yang kita kenal dengan pandangan hidup bangsa. Bagi bangsa Indonesia sistem nilai hasil kristalisasi itu terdiri atas lima nilai dasar yang tersusun secara sistematis hirarkis, bertangga turun, berjenjang naik, seperti tercantum dalam alinea keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

23

Nilai budaya tidaklah segala-galanya. Masih ada di atasnya yaitu nilai universal. Adapun nilai universal ini sumbernya tidaklah historis, tidak seperti nilai budaya yang sumbernya historis. Nilai universal ini bersumber dari Allah SWT, Maha Pencipta dan Maha Pengatur universum. Nilai univerasal ini diturunkan Allah kepada ummat manusia berupa wahyu yang diwahyukan kepada para manusia pilihan yang disebut Nabi dan Rasul. Nilai universal yang bersumber dari wahyu ini disebut Syari'at Islam, risalah yang dibawakan Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad RasulLah SAW, yang menerima wahyu itu dalam bulan Ramadhan, sebagaimana Firman Allah dalam Al Quran, S. Al Baqarah, 285: Syahru ramadhana-lladziena unzila fiehi-lQuran hudan li-nnasi wa bayyinatin mina-lhuda walfurqan, bulan Ramadhan yaitu di dalamnya (mulai) diturunkan Al Quran, petunjuk bagi manusia, dan penjelasan mengenai petunjuk itu dan Al Furqan. WaLlahu a'lamu bishshawab.

24

Pengendalian Diri
Dalam Harian Fajar, edisi Rabu, 14 Agustus 1996, pada halaman 1, dapat kita baca pemberitaan yang seimbang, bukan hanya sekadar covering both sides, melainkan three sides, yaitu masing-masing dari sisi Ketua DPRD Ujung Pandang, dari sisi LBH Ujung Pandang yang terdiri atas dua orang, seorang dari anggota LBH kuasa hukum warga Tamamaung serta dari Direktur LBH Ujung Pandang, dan dari sisi warga Tamamaung Ujung Pandang. Kita mulai kutip berita dari sisi Ketua Dewan. Ketika saya kejar keluar, sebenarnya saya mau tanya, maksud dia apa dengan memperkeruh suasana. Tapi tiba di luar, dia justru lari terbiritbirit sampai naik pete-pete. Di mana tanggung jawabnya. Tidak dipersilakan bicara, kok bicara terus. Saya gebrak meja. Dia malah peringati saya untuk tidak berbuat begitu. Saya gebrak meja lagi, lalu saya suruh keluar. Kalau mau bicara harus seizin pimpinan pertemuan. Jangan menjadikan DPRD sebagai ajang mimbar bebas. Ada yang ingin menjadi pahlawan dalam masalah ini, dan orang itu layak disebut pahlawan kesiangan. Tidak semua pernyataan yang disampaikan warga Tamamaung bisa langsung diterima. Semua harus dicek dulu. Sebab belum tentu pernyataan-pernyataan itu murni dari warga. Mungkin saja sudah direkayasa dan warga itu sudah ditunggangi. Itulah pemberitaan dari sisi Ketua Dewan. Selanjutnya kita ikuti pemberitaan dari sisi anggota LBH Ujung Pandang, kuasa hukum warga Tamamaung. Pak ketua dewan tak hanya mengusir. Ketika saya keluar, dia malah memburu saya dan berteriak-teriak. Dia benar-benar lepas kontrol, sampai-sampai kancing bajunya bagian atas terlepas. Saat itu ketua Dewan menanyakan siapa lagi yang akan dipanggil polisi, lantas ada warga yang menyebut nama seseorang. Itu sebabnya saya kemudian ikut berbicara, memberi penjelasan bahwa warga hanya menjawab pertanyaan ketua Dewan. Anggota LBH itu tak menyangka kalau reaksi ketua Dewan justru teramat keras. Menurut anggota LBH itu, sembari menggebrak meja ketua Dewan membentak. Diam. Saya tak butuh LBH. Tanpa LBH saya bisa diterima rakyat. Bentakan ini dijawab: Saya ke sini untuk mendampingi mereka, Pak. Mereka kan rakyat Bapak juga. Dan tidak perlu memukul meja. Ketua Dewan kembali menggebrak meja. Saya yang berhak di sini. Keluar kau. Selanjutnya mari kita ikuti pemberitaan dari sisi warga Tamamaung. Warga Tamamaung yang menyaksikan kejadian itu menyatakan kekecewaannya. Menurut salah seorang warga Tamamaung, kedatangan ke DPRD dibarengi harapan agar rencana penggusuran tanah yang mereka tempati bisa teratasi. Dengan sikap ketua Dewan yang seperti itu, kami seperti tak punya harapan lagi. Kemana lagi kami harus menyalurkan aspirasi? Terakhir kita kutip pemberitaan dari sisi Direktur LBH Ujung Pandang. Bagi LBH Ujung Pandang perlakuan ketua Dewan dinilai sudah keterlaluan. Tapi kami tidak akan melayangkan protes keras. Sebagai rakyat, kami hanya akan memberi nasihat kepada wakil kami yang duduk di DPRD itu. Soalnya, mereka bisa duduk di dewan karena pilihan rakyat juga. Apa bukan begitu. Ada dua hal yang menarik dari sikap arogan ketua Dewan. Yang pertama sikap arogan yang diakibatkan oleh kepribadian kurangnya pengendalian diri. Yang kedua sikap arogan yang ditimbulkan oleh semacam penyakit yang umum yaitu penyakit ego sektoral. (Saya tak butuh LBH. Tanpa LBH saya bisa diterima rakyat). Sikap ego sektoral ini menyebabkan orang mengira hanya lembaganya saja yang penting, lembaga yang lain tidak penting, tidak berpikir secara pendekatan sistem, tidak menghayati yang disebut sinergi.

25

Setiap tahun satu bulan penuh ummat Islam berlatih untuk mengendalikan dirinya. Orang yang beriman yang telah mampu mengendalikan dirinya akan meningkat ke derajat ruhaniyah yang tertinggi yaitu taqwa. Ya-ayyuha- Lladziyna Amanuw Kutiba 'Alaykumu shShiya-mu Kama- Kutiba 'alay Lladziyna min Qablikum La'allakum Tattaquwna (S. Al Baqarah, 183). Hai orang-orang beriman diwajibkan atasmu berpuasa seperti telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertaqwa (2:183). WaLlahu A'lamu bi shShawab.

26

Kejujuran
Besok insya Allah Belo akan memberikan jawaban resmi dan terbuka sesuai dengan janjinya untuk membantah atau membenarkan omongannya di der Spiegel (artinya cermin). Sebelumnya Belo telah membantah melalui Kapolda Dili. Adalah logis bahwa Belo harus membantah, sebab kalau ia membenarkan (andaikata itu memang benar) maka tentu berat baginya, berat dugaan saya ia tidak akan berani membenarkan der Spiegel (andaikata itu memang benar). Bantahan Belo meragukan sebahagian orang, oleh karena kalau ia memang benar tidak berkata demikian, mengapa tidak serta merta mengirim surat pernyataan bantahan untuk dimuat dalam der Spiegel sendiri. Mengapa ia begitu terlambat membantah (andaikata ia ingin membantah)? Mengapa baru membantah setelah ia didesak untuk menjawab? Mengapa ia tidak menjawab dalam der Spiegel sendiri? Maka terpulang kepada diri kita masing-masing siapa yang bohong, siapa yang jujur. Belokah atau der Spiegelkah? Berbicara soal kejujuran lebih baik kita tinggalkan dahulu Timor Timur untuk sejenak menoleh ke arah perkebunan kelapa di pulau Selayar dalam kalangan petani kelapa baik sebagai pemlik tanah, maupun sebagai penggarap, dan di situ kita akan berjumpa dengan kejujuran. Pada umumnya pemilik tanah di pulau itu tidak mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mengerjakan tanahnya, namun tetap ingin menikamti hasilnya. Maka pemilik tanah menyuruh orang lain yaitu penggarap untuk menegrjakan tanahnya, dan kemudian penggarap menyerahkan sebahagian hasilnya kepada pemilik tanah, berdasar atas perjanjian bagi hasil yang telah disepakati sebelumnya. Sedangkan dalam proses timbulnya perjanjian bagi hasil itu pada dasarnya tanpa ada paksaan dari salah satu pihak. Perjanjian bagi hasil itu di samping dilatar-belakangi oleh keadaan saling membutuhkan atas dasar suka rela, bukan paksaan, maka dapat pula didorong oleh rasa kekeluargaan dan saling tolong-menolong di antara pemilik tanah dengan penggarap secar turun-temurun. Bentuk perjanjian bagi hasil dalam masyarakat dilakukan dalam bentuk tidak tertulis serta tidak melibatkan secara langsung saksi-saksi dari kedua belah pihak. Nanti setelah penggarap melaksanakan pengolahan tanah, barulah pemilik dan penggarap memberitahukan kepada orang lain bahwa mereka mengadakan perjanjian bagi hasil dan bahkan biasanya mereka secara aktif memberi-tahukan kepada orang lain, melainkan banyak-banyak orang lain tahu akan adanya perjanjian bagi hasil antara pemilik tanah dengan penggarap, setelah orang lain bertnya karena yang dilihatnya yang menggarap bukanlah pemilik tanah dari tanah yang digarap itu. Pemberi-tahuan ini bukanlah suatu keharusan. Hal ini disebabkan karena masyarakat masih dipengaruhi oleh adat kebiasaan, sehingga perjanjian bagi hasil tidak dilakukan secara tertulis, hanya dalam bentuk lisan, bentuk kesepakatan yang dirumuskan dengan saling pengertian belaka. Hal ini semata-mata bersandarkan pada adat kebiasaan yang turun-temurun yang dilakukan dengan berpatokan pada pola yang diberlakukan sebagai kesepakatan bersama oleh warga masyarakat. Dituangkannya perjanjian bagi hasil secara tidak tertulis oleh karena masih kuatnya penghormatan masyarakat setempat terhadap integritas sesama, para warga masyarakat masih senantiasa saling menghormati dan memberikan kepercayaan satu dengan yang lain. Pemilik tanah dan penggarap tidak akan mengingkari apa yang mereka telah sepakati bersama dan masing-masing pihak akan melaksanakan apa yang mereka telah perjanjikan. Kepastian hukum untuk tidak mengingkari perjanjian itu berdasar atas nilai sub-kultur di Sulawesi Selatan, yaitu harga-diri (siri') dan solidaritas sosial (passe, pesse, pacce). Oleh karena pemilik tanah di Kabupaten Selayar mempunyai kedudukan sosial yang lebih tinggi dari penggarap, maka pemilik tanah tidak akan mengingkari apa yang telah mereka sepakati, karena apabila ia tidak melaksanakan sesuai dengan kesepakatan, maka tentu harga dirinya (baca: siri') akan terusik,

27

nama baiknya akan tercemar di mata masyarakat. Demikian pula halnya dengan penggarap, ia akan melaksanakan apa yang telah dijanjikannya sesuai dengan kesepakatan, karena ada rasa segan dan hormat kepada pemilik tanah. Adanya pengaruh rasa solidaritas sosial yang tinggi (passe) untuk hidup berdampingan secara damai dan tenteram, saling menghargai dan saling menghormati, sehingga meskipun perjanjian bagi hasil itu dilakukan secara lisan tanpa saksi-saksi, kenyataannya sampai sekarang hampir tidak pernah terjadi sengketa antara pemilik tanah dengan penggarap dalam hal melaksanakan perjanjian bagi hasil perkebunan kelapa. Nilai siri' dari pihak pemilik tanah, nilai passe dari kedua belah pihak, nilai segan dan hormat dari pihak penggarap membuahkan nilai kejujuran. Nilai kejujuran ini sama nilainya dengan kepastian hukum. Namun perlu ditekankan bahwa persengkataan yang sering terjadi adalah di antara anak cucu yang orang tua ataupun nenek moyangnya membuat perjanjian secara lisan dahulu, tetapi ini bukan perjanjian bagi hasil melainkan transaksi hak kepemilikan tanah. Itu adalah cerita hingga dewasa ini, namun untuk masa yang akan datang adanya angin puting beliuang dari globalisasi, nilai siri' dari pemilik tanah, nilai passe dari kedua belah pihak, nilai segan dan hormat dari pihak penggarap tidak akan mampu bertahan. Lemahnya pertahanan itu oleh karena sekarang ini tidak ada lagi lembaga adat di Kabupaten Selayar yang bertanggung jawab atas nilai-nilai itu. Siri' dan passe hanya dipertahankan secara individual, sehingga tidak akan mampu bertahan. Dalam keadaan yang demikian itu perjanjian secara lisan tanpa saksi yang tidak lagi diikat oleh nilai-nilai itu di masa-masa yang akan datang, akan menjadikan perjanjian itu tidak lagi menjamin kepastian hukum tentang kedudukan kedua belah pihak. Demikianlah nilai kejujuran itu akan kian memudar, karena sudah tidak ada lagi lembaga adat yang memeliharanya. Maka benteng pertahanan yang paling ampuh adalah nilai-nilai agama, asal saja lembaga-lembaga keagamaan dapat bekerja dengan kinerja yang tinggi dalam arti metode da'wah harus membuahkan efisiensi dan efektivitas yang tinggi, dan aktivitas yang agresif untuk dapat memberikan serangan balik atas angin puting-beliung globalisasi. Dan di samping meningkatkan kinerja lembaga-lembaga keagamaan, maka masyarakat di pedesaan jangan lupa mengaplikasikan teknik administrasi menurut qaidah agama dalam melakukan perikatan perjanjian, seperti telah lazim dipakai di kota-kota biasa maupun metropolitan. Yaayyuha lladziyna a-manuw idza- tada-yantum bidaynin ila- ajalin musamman faktubuwhu walyaktub baynakum ka-tibun bil'adl (S. Al Baqarah, 252), artinya: Hai orang-orang beriman, apabila mengadakan perjanjian perikatan utang-piutang untuk waktu yang ditetapkan, maka tuliskanlah, dan haruslah dituliskan oleh seorang notaris dengan adil (2:252). WaLlahu A'lamu bi shShawab.

28

Kejujuran Dalam Terpaan Angin Puting Beliung Globalisasi
Sesungguhnya seri ini merupakan satu kesatuan dengan Seri 251 hari Ahad yang lalu yang berjudul: Kejujuran. Melalui telepon saya menerima pertanyaan, mengapa bagian Seri 251 yang terakhir tidak jelas, seakan-akan ada yang hilang. Tanggapan itu betul. Memang ada yang hilang, karena saya salah potong. Secara singkat Seri 251 yang lalu seperti berikut: Bentuk perjanjian bagi hasil dalam masyanakat dilakukan dalam bentuk yang tidak tertulis serta tidak melibatkan secara langsung saksi-saksi dan kedua belah pihak. Siri’ dari pihak pemilik tanah, passe (posse, pacco) dari kedua belah pihak, segan dan hormat dari pihak pengelola membuahkan nilai kejujuran. Nilai kejujuran ini sama nilainya dengan kepastian hukum di antara kedua pihak yang mengadakan perikatan penjanjian, Kalimat terakhir dari Seri 251 akan saya kutip: Di samping meningkatkan kinerja lembaga-lembaga keagamaan, maka masyarakat dipedesaan jangan lupa mengaplikasikan tehnik administrasi menurut kaidah agama di dalam melakukan perikatan perjanjian, seperti telah lazim dipakai di kota-kota. Adapun yang dimaksud dengan mengaplikasikan tehnik administrasi menunut kaidah agama, seperti Firman Allah: Nun, walQalami, waMa- Yasthuruwn, perhatikanlah pena dan apa yang mereka tuliskan. (S. Al Qalam 1). Selanjutnya: Wa Idza- Tada-yantum biDaynin Ilay Ajalin Musammay faktubuwhu, walYaktub Baynakum Ka-tibun bil Adli, dan apabila kamu membuat penjanjian perikatan, hutang piutang, tuliskanlah, dan mestilah dituliskan oleh seonang notaris di antana kamu dengan adil, (S. Al Baqarah, 282). Seperti telah dikemukakan dalam Seri 251 dengan datangnya angin puting-beliung globalisasi, nilai siri’ dan pihak pemilik tanah, nilai passe dari kedua belah pihak, nilai segan dan hormat dari pihak penggarap tidak akan mampu bertahan. Lemahnya pertahanan itu oleh karena sekarang ini tidak ada lagi lembaga adat yang bertanggungjawab atas nilai-nilai itu. Siri’ dan passe yang membuahkan nilai kejujuran hanya dipertahankan secara invidual, sehingga tidak akan mampu bertahan. Dalam keadaan yang demikian itu sudah tidak mungkin lagi terdapat kepastian hukum dalam perjanjian secana lisan tanpa saksi, oleh karena nilai kejujuran (internal) yang nilainya sama dengan kepastian hukum sudah pudar. Oleh sebab itu untuk menjamin kepastian hukum harus ada peraturan (eksternal), yaitu haruslah perjanjian perikatan itu secara tertulis oleh notaris seperti yang diperintahkan oleh kaidah agama menurut S. Al Baqanah, 282 yang telah dikutip di atas itu. Semua ilmu dan metode yang dihasilkan untuk mengalihkan benda ke benda yang mempunyai nilai ekonomis, yang disebut nilai tambah, akan bermuara pada kemajuan sivilisasi dalam wujud keseragaman dan kemudahan hidup zahiriyah. Sivilisasi adalah konsep materialistik. Kebudayaan sebagai perangkat halus ibarat jiwa sivilisasi sebagai tubuh kasar dan itu menunjukkan bahwa tataran kebudayaan lebih tinggi dari sivilisasi. Arus globalisasi adalah arus sivilisasi. Bangsa yang tinggi peradabannya bukan hanya sekadar yang maju sivilisasinya, melainkan sivilisasi dari bangsa itu harus bermuatan nilai-nilai budaya yang banyak menyerap nilai-nilai wahyu. Rukun Islam yang pertama menanamkan nilai kejujunan dalam lubuk hati. Pengakuan dua Kalimah Syahadatain haruslah diucapkan di mulut, dibenarkan oleh pikiran dan diyakinkan dalam qalbu. Itulah hakikat kejujuran, itulah istiqamah, konsistensi, tidak boleh ada perbedaan antara yang diyakinkan dengan yang dipikirkan, tidak boleh ada perbedaan antara yang diyakinkan dengan yang diucapkan. Jika sikap istiqamah setiap individu ditingkatkan menjadi barisan: Kaanahum Bunyanun Marshuwshun (61:4), laksana bangunan bangunan yang bershaf-shaf teratur, maka dalam kondisi yang demikian itu, insya Allah, kita siap menantang,

29

memberikan serangan balik atas terpaan angin puting beliung globalisasi sivilisasi yang bertiup dari barat. WaLlahu A’lamu bi shShawab.

30

Fitnah
Fitnah setelah menjadi kosa kata bahasa Indonesia maknanya sudah menyimpang dari bahasa asalnya yaitu bahasa Al Quran. Menurut bahasa Indonesia memfitnah adalah menuduh seseorang mengatakan atau berbuat yang sesungguhnya orang yang dituduh itu tidak pernah mengatakan ataupun berbuat seperti yang dituduhkan kepadanya. Akan tetapi menurut bahasa Al Quran fitnah bermakna musibah dalam kualitas cobaan, atau teguran keras, ataupun kemurkaan dari Allah SWT. Ketiga ayat di bawah ini menjelaskan kepada kita apa yang dimaksud dengan fitnah itu. WA'ALMWA ANMA AMWALKM WAWLADKM FTNT WAN ALLH 'ANDH AJR 'AZHYM (S. ALANFAL, 28), dibaca: wa'lamu- annama- amwa-lukum wa awla-dukum fitnah (s. al anfa-l), artinya: Ketahuilah bahwa harta-harta kamu dan anak-anak kamu itu fitnah (8:28). Dalam ayat (8:28) ini fitnah berarti cobaan dari Allah SWT. Orang tua almarhumah Anni Mujahidah Rasunah (Una) yaitu suami isteri Drs. Jubaedi Saleh dan Dra. Nur Huda Noor mendapat cobaan dari Allah SWT. Dalam tayangan televisi Jubaedi Saleh tampak tegar menerima cobaan itu. Una, anak kesayangan mereka, umur 9 tahun yang telah menghafal 2 juz Al Quran dibantai oleh Benny yang kabarnya penderita Schizophrenia. Menghadapi orang gila semacam itu masyarakat kecil yang bertanggung jawab dalam hal penyakit gila ini kelihatannya terlalu sok (ero' nikana) manusiawi. Mestinya orang gila semacam itu karena tidak dapat dijamin kesembuhannya diisoler saja secara tradisional: dipasung pada batang dedap! Demikian pula sikap sok normatif formalistis tidak boleh menjadi hakim sendiri, sehingga Benny dibawa hidup-hidup ke rumah sakit, tidak membiarkan saja ia mampus diamuk massa, menyebabkan kemarahan massa yang ingin menegakkan siri' na pacce bertambah meluapluap. Sebenarnya andaikata Benny dibiarkan saja mampus diamuk massa maka prinsip tidak boleh menjadi hakim sendiri sudah terpenuhi juga, karena massa tidak menjadi hakim sendiri melainkan menjadi hakim beramai-ramai. Akhirnya kota Makassar menjadi lautan api. TKN FTNT FY ALARDH WFSAD KBYR (S. ALANFAL, 73), dibaca: Takun fitnatun fil ardhi wa fasa-dung Kabi-yr (s. al anfa-l), artinya: terjadilah fitnah di bumi dan kerusakan besar (8:73). Dalam ayat (8:73) ini fitnah berarti peringatan keras dari Allah SWT. Allah telah memberikan peringatan keras dengan menghancurkan klub-klub malam di Jalan Sulawesi, Jalan Nusantara dan di tempat-tempat lain di Kota Makassar ini, melalui tangan-tangan mereka yang bersimpati menegakkan harga diri dan solidaritas (appaenteng siri' siagang pacce) dari suami-isteri yang mendapat cobaan dari Allah SWT itu. Tempat-tempat hiburan (klub malam) yang dijadikan persyaratan sebuah kota metropolit ataupun megapolit adalah suatu mithos yang menyesatkan ummat. Mithos ini wajib dipupus dari benak para penanggung-jawab pembangunan kota metropolit seperti Kota Makassar ini dan kota-kota lain. Dengan dihancurkannya klub malam di Jalan Sulawesi, Jalan Nusantara dan di tempat-tempat lain maka para penanggung-jawab pembangunan kota perlu ihtisaban, introspeksi. Bahwa hancurnya tempat-tempat maksiyat klub malam yang sesungguhnya tempat pelacuran terselubung tersebut merupakan teguran keras dari Allah SWT, karena telah memberikan perizinan berdirinya tempat-tempat tersebut. Bahwa tanpa klub malam tersebut Kota Makassar tidak akan berkurang nilainya sebagai kota metropolit, dan bahwa tanpa uang setoran pajak dari tempat-tempat maksiyat itu Pemda tidak akan menjadi miskin karenanya, dan tanpa pajak pendapatan dari tempat-tempat maksiyat itu Pemda insya Allah akan dapat menyesuaikan diri dalam pendanaan pembangunan kota, dan bahwa dengan tidak masuknya lagi pajak dari tempat-tempat maksiyat itu kas Pemda akan menjadi bersih dan akan mendapat barakah dari Allah SWT.

31

ANA J'ALNHA FTNT LLZHALMYN (S. ALSHFT, 63), dibaca: Inna- ja'alna-ha- fitnatal lizhzhalimi-n (s. ashshafa-t), artinya: sesungguhnya Kami jadikan ia (pohon zaqqum) fitnah bagi orang-orang aniaya (37:63). Pohon zaqqum adalah pohon pahit yang tumbuh di dasar neraka. Dalam ayat ini fitnah berarti kemurkaan atau kutukan dari Allah SWT. Orang-orang aniaya dalam kontex kerusuhan di Kota Makassar ini adalah mereka yang berkolusi baik dari pihak oknum pejabat maupun dari pihak pengusaha non-pribumi yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial yang selanjutnya menimbulkan kecemburuan sosial. Sebenarnya secara teori kita bangsa Indonesia telah mempunyai nilai dasar dalam Pembukaan UUD-1945 alinea ke-4 dan nilai instrumen dalam GBHN yang dapat mencegah terjadinya kesenjangan sosial. Yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan pemerataan pembangunan dan hasil-hasil pembangunan. Sayangnya nilai praxis tidak jalan karena terjadinya kolusi antara oknum pejabat dengan pengusaha non-pribumi. Maka nilai dasar dan nilai instrumen itu tidak dapat diterjemahkan ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bahkan terjadi sebaliknya dari yang dikehendaki oleh nilai dasar dan nilai instrumen, yaitu terjadinya kesenjangan sosial yang menimbulkan kecemburuan sosial. Syahdan, marilah kita kaji ayat yang berikut: WATQWA FTNT LA TSHYBN ALDZYN ZHLMWA MNKM KHASHT W'ALMWA AN ALLH SYDYD AL'AQAB (S. ALANFAL, 25), dibaca: wattaqu- fitnatal la- tushi-bannal ladzi-na zhalamu- mingkum kha-shshah (s. al anfa-l), artinya: Hindarkanlah fitnah yang tidak hanya akan menimpa orang-orang aniaya secara khusus, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya (8:25). Dalam ayat ini fitnah dalam kontex peristiwa 15, 16 dan 17 September 1997 di Makassar adalah musibah kemarahan massal yang timbul karena kecemburuan sosial dalam budaya siri' na pacce, akibat terjadinya kesenjangan sosial hasil kolusi oknum pejabat dengan pengusaha non-pribumi yang dipicu oleh pelatuk anak perempuan berumur 9 tahun yang baru pulang dari mengaji yaitu Anni Mujahidah Rasunah yang dibantai oleh Benny yang semestinya dipasung. Dalam aksi solidaritas yang non-proporsional itu bukan yang aniaya saja yaitu yang berkolusi yang ditimpa musibah melainkan orang-orang non-pribumi yang baik-baikpun (walaupun jumlahnya tidak banyak) kena getahnya. WaLlahu A'lamu bi shShawab.

32

Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, Inti Norma Agama Menurut Islam
Walaupun manusia itu makhluk individu, namun ia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya. Itulah keterbatasan manusia, ia tak mungkin mampu memenuhi segala kebutuhannya. Ia perlu pertolongan orang lain, dan di samping itu ia perlu pula menolong sesamanya, sehingga ia juga makhluk sosial. Fabel (cerita perumpamaan) tentang orang buta dengan orang lumpuh menggambarkan perlunya tolong menolong. Sang buta memikul sang lumpuh di atas kedua bahunya. Integrasi itu menghasilkan sinergi melihat dengan mata sang lumpuh dan berjalan dengan mempergunakan kaki sang buta. Kemampuan sang buta yang dapat berjalan mengisi kelemahan sang lumpuh yang tidak dapat berjalan. Kemampuan sang lumpuh yang dapat melihat mengisi kelemahan sang buta yang tidak dapat melihat. Yang mampu mengisi yang lemah, yang lemah diisi oleh yang mampu. Di sinilah pentingnya inter-aksi antara manusia yang satu dengan yang lainnya, manusia harus bekerjasama, bantu-membantu untuk memenuhi masing-masing hajat kehidupannya. Manusia harus hidup berjama'ah. Dalam konteks hidup berjama'ah ini dapatlah difahami hikmah shalat berjama'ah, yang nilainya 27 kali dari shalat sendirian. Kebiasaan shalat berjama'ah akan menciptakan inter-aksi dan integrasi di antara anggota jama'ah. Yang paling penting ialah bagaimana sedapat mungkin filosofi shalat berjama'ah itu diaktualisasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat, utamanya kekompakan anggota jama'ah dalam satu komando dari pimpinan, tetapi dengan tegas anggota jama'ah menegur ataupun meluruskan komando yang salah dari pimpinan, serta kesadaran dari pimpinan untuk segera memperbaiki kesalahan dalam arti pimpinan itu meluruskan kembali arah komadonya kepada jalan yang benar. Dalam melakukan inter-aksi, tidak jarang terjadi konflik antara satu dengan yang lainnya. Konflik ini dapat saja disebabkan oleh yang bersangkutan saling memperebutkan suatu obyek kehidupan, mungkin pula adanya kepentingan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, dapat pula adanya sikap yang berbeda dalam memandang sesuatu, atau tak jarang pula bersumber dari dalam diri manusia yaitu sifat serakah, hasad, dengki, mau menang sendiri, angkuh dan dorongan naluri mempertahankan diri di atas ambang batas yang wajar. Konflik yang terjadi di antara dua kubu yang bertikai akar permasalahannya niscaya terletak dalam salah satu ataupun kombinasi dari beberapa sebab-sebab yang dikemukakan di atas itu. Demikiankah dalam berinter-aksi itu dibutuhkanlah suatu norma atau tata-kehidupan yang dapat mengatur dan mengarahkan manusia, sehingga manusia dapat hidup aman dan tenteram, tertib dan damai. Tanpa norma dan kaidah kehidupan maka jelas pertikaian, pertentangan dan berjenis konflik lainnya niscaya akan terus berkepanjangan. Dengan norma dan kaidah itu manusia dapat diatur sehingga dapat hidup berdampingan, berinter-aksi, dalam melakukan aktivitas kehidupan. Karena itulah Allah SWT Yang Maha Tahu di samping menciptakan manusia sebagai khalifah di atas bumi ini, juga menuntun manusia dengan norma agama yang diwahyukan kepada RasulNya. Dengan norma agama tersebut yang harus dipatuhi oleh manusia, dapatlah manusia itu diharapkan akan melakukan aktivitas kehidupannya dengan terarah dan teratur. Norma agama tersebut dimaksudkan untuk membimbing, mengatur dan mengarahkan hidup dan kehidupan manusia demi keselamatan, kebahagian dan kesejahteraan ummat manusia. Norma itu diatur dalam Kitab-Kitab Suci yang berasal dari wahyu yang diturunkan kepada para Rasul yang disampaikan kepada ummat manusia dari zaman ke zaman. Rasul yang terakhir

33

adalah Nabi Muhammad SAW dan Kitab Suci yang terakhir adalah Al Quran. Firman Allah SWT: ALQRAN HDY LLNAS W BYNT MN ALHDY W ALFRQAN (S. ALBQRT, 2:185), dibaca: Alqur.anu hudal linna-si wa bayyina-tim minal huda- wal furqa-ni (S. Al Baqarah), artinya: Al Quran, petunjuk bagi manusia, dan penjelasan tentang petunjuk itu dan Al Furqan (2:185). Al Furqan berasal dari akar: Fa, Ra, Qaf, artinya mengerat, memisahkan dua substansi, bermakna pembeda antara yang positif dengan negatif. Al Furqan adalah norma mutlak, norma agama yang secara tegas memberikan petunjuk mana yang ma'ruf, mana yang mungkar. Norma agama ini mengatur dimensi kehidupan duniawi menuju kehidupan ukhrawi. Dengan perkataan lain, norma agama mengatur hubungan antara manusia dengan Allah dan sekaligus mengatur hubungan antar-manusia bahkan antara manusia dengan alam sekitarnya. Hubungan antara manusia dengan Allah menyangkut akhlaq beraqidah dan akhlaq menjalankan syari'ah yang ubudiyah. Aqidah khusus menyangkut pokok-pokok keimanan yang berintikan tawhid (mengesakan Allah). Sedangkan syari'ah yang ubudiyah menyangkut sopansantun dalam berkomunikasi dengan Allah SWT, yang secara populer dikenal dengan ibadah dalam pengertian yang sempit. Hubungan antar-manusia dan hubungan antara manusia dengan alam sekitar menyangkut akhlaq melaksanakan syari'ah yang muamalah. Di sini diatur tentang cara-cara melakukan hubungan atau inter-aksi dengan sesama manusia dan tentang pengelolaan alam sekitar, sumberdaya alam serta lingkungan hidup dalam fungsi manusia sebagai khalifah di atas bumi. Syari'ah yang muamalah bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan, kesejahteraan serta kemaslahatan umum. Norma agama dalam konteks syari'ah yang muamalah di samping tidak menghendaki kerawanan sosial dan segala bentuk kemungkaran, juga memberikan motivasi kepada penganutnya untuk bekerja keras dan bersungguh-sungguh memerangi kemiskinan dan kebodohan sebagai sumber kerawanan sosial. Syari'ah yang mualamah itu intinya berhubungan dengan norma tentang sikap dan perilaku yang seharusnya dilakukan, ataupun yang seharusnya dihindarkan. Inilah yang dikenal dengan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar, berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Paket norma yang seharusnya dilakukan, ataupun yang seharusnya dihindarkan haruslah diwujudkan ke dalam norma hukum oleh lembaga pembuat undang-undang yang menurut UUD-1945 dilakukan oleh DPR bersama-sama dengan Pemerintah. Untuk dapat duduk dalam kedua lembaga itu guna mewujudkan norma agama ke dalam norma hukum haruslah membina kekuatan politik melalui partai politik yang mempunyai missi: Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Wallahu a'lamu bishshawa-b.

34

Nahi Mungkar yang Efektif dengan Penegakan Syari’at Islam
Ketiga kasus di bawah ini adalah kisah nyata dalam bernahi mungkar. Kasus pertama: Allahu yarham Ahmad Makkarausu’ Amansyah Dg Ngilau, salah seorang tokoh karismatik Muhammadiyah, pernah menuturkan: Ada seorang muballigh muda yang masih penuh semangat pergi bertabligh di daerah Turatea. Begitu turun dari mimbar datang panggilan dari kepala distrik untuk datang ke kantornya. “Harangi bedeng nukana balloka? E anu alle maenrinni balloka” (konon kau katakan tuak itu haram? Hai anu bawa kemari itu tuak). “Anne alle je’ne’ balloka” (Ini mandilah dengan tuak ini), kata kepala distrik sambil mengguyurkan tuak itu keseluruh badan muballigh itu. Inilah konsekwensi yang dipikul oleh muballigh muda itu untuk bernahi mungkar dengan lisan (bilisa-nihi-). Ini terjadi sebelum Perang Dunia kedua, tahun 30-han. Kasus kedua: Nahi mungkar ini kejadian di Selayar, juga pada tahun 30-han, yang dikorek dari ingatan saya sendiri. Ada yang melapor kepada kakek saya, Opu Tuan Imam Barat Batangmata, ada pesta minum tuak di sebuah kebun di atas bukit di luar kampung. Dengan segera Opu Imam mendatangi tempat itu seorang diri. Bila-bila (tempat tuak) yang masih berisi tuak dihempaskan beliau, kemudian menantang: “Inai ngeha nrinni” (siapa berani melawan di sini). Kata “ngeha” ini pernah dipopulerkan oleh Bupati Sinjai Moh. Rum, mensosialisasikan di kalangan masyarakat Kabupaten Sinjai seruan Gubernur “ewako” menjadi “ngehako”. Para peminum itu tidak ada yang berani, karena Opu Imam tersohor pesilat yang tidak jarang membabak-belurkan beberapa pasolle’ kabarra-barra (istilah sekarang: preman kondang). Setelah menumpahkan habis tuak itu barulah Opu Imam berkata: “Tuak itu haram, berhentilah minum tuak.” Opu Imam berhasil bernahi mungkar single handed dengan tangan (biyadihi-), dengan terlebih dahulu “menegakkan” wibawa. Kasus ketiga: Pada bulan Ramadhan 1421 H setahun yang lalu Lasykar Jundullah dipimpin oleh komandannya sendiri Agus Dwikarna mempergoki sebuah night club di Jalan Rusa melanggar ketentuan jam-operasi. Segera hal itu dilaporkannya ke polisi. Sementara menunggu polisi datang, Lasykar Jundullah membuat pagar betis menjaga agar para pengunjung club itu tetap di tempat. Sebab dikuatirkan club itu nanti telah kosong baru polisi datang, Agus yang akan kena getahnya, dapat saja dituduh membuat sensasi alias laporan palsu. Celakanya, polsi relatif datang terlambat ketimbang jama’ah Masjid Nurul Amin selesai melaksanakan shalat tarwih. Remaja masjid yang liwat di depan club itu ikut pula mengerumuni bagunan club itu. Remaja masjid itu kurang sabaran, tidak seperti Lasykar Jundullah yang punya disiplin, sabar menunggu polisi. Maka terjadilah perusakan oleh para remaja masjid itu melaksanakan nahi mungkar. Nahi mungkar berhasil dilaksanakan, tetapi dengan embel-embel Agus beberapa kali ke kantor polisi untuk “dimintai keterangan”. *** Firman Allah SWT: WLTKN MNKM UMT YD’AWN ALY ALKHYR WYaMRWN BALM’ARWF WYNHWN ‘AN ALMNKR WAWLaK HM MFLHWN (S. AL ‘AMRAN 104), dibaca: Waltakum mingkum ‘ummatun yad’u-na ilal lhayri waya”muru-na bil ma’ru-fi wayanhawna ‘anil mungkari waula-ika humul muflihu-n (s. ali ‘imra-n), artinya: Mestilah ada di antara kamu ummat yang mengajak kepada nilai-nilai kebajikan, menyuruh berbuat arif dan mencegah kemungkaran, dan mereka itulah orang-orang yang menang (3:104). Apabila visi hanya secara parsial ditujukan kepada mengajak kepada nilai-nilai kebajikan, menyuruh berbuat arif, benarlah yang dikemukakan oleh akhi K.H. Drs Nasruddin Razak, ketua

35

DPW Muhammadiyah Sul-Sel bahwa sebenarnya rakyat Sul-Sel telah lama menegakkan Syari’at Islam, seperti pendirian masjid, sikap ramah, berucap salam dalam keseharian serta saling lempar senyum. Cuma saja, sekali lagi hanya saja, bagaimana dengan nahi mungkar? Sekarang sudah hampir tidak ada yang seperti Opu Tuan Imam Barat Batangmata. Kalaupun ada seperti beliau, niscaya akan bentrok dengan polisi. Bahkan dalam kasus Jundullah, komandannya harus berurusan dengan polisi dimintai keterangan. Berunjuk rasa di jalanan, bawa spanduk, tutup semua tempat-tempat maksiyat yang berlabel night club! Berantas pelacuran! Berantas KKN ! Apa itu efektif? Sama sekali tidak! Industri pelacuran itu berstruktur dalam sistem jaringan. Tidak dapat dihadapi handed seperi cara bernahi mungkar Opu Imam. Organisasi da’wah, Muhammadiyah, NU, IMMIM dll. tidak bisa bernahi mungkar bilyad, sebab dengan polisi. Lebih-lebih lagi hukum positif kita tidak mendukung untuk pelacuran. secara single seperti MUI, nanti bentrok memberantas

KUHP, yang berasal dari Wetboek van Strafrecht-nya kolonial Belanda, tidak melarang perzinaan. Yang dilarang hanyalah bermukah (overspel = keliwat main). Yang disebut bermukah (assangkili’) adalah hubungan seksual antara suami seseorang atau dengan isteri seseorang. Bermukahpun hanya dilarang berayarat oleh pasal 284 KUHP, yaitu hanya delik aduan. Pranata hukum dalam hal ini polisi tidak berdaya apa-apa jika suami atau isteri yang bermukah tidak keberatan, walaupun masyarakat sekelilingnya (meskipun gabungan MUI, Muhammadiyah, NU, IMMIM dll) sangat keberatan. Undang-undang kita tidak melarang free sex jika yang berzina itu gadis dengan bujang atas dasar suka sama suka. Kalau sang gadis jadi hamil, lalu gadis atau walinya melapor kepada polisi, maka polisi tidak dapat berbuat apaapa. Pelacuran tidak dilarang oleh KUHP, karena pelacuran itu adalah free sex suka sama suka antara pelacur dengan hidung belang. Sehabis polisi merazia pelacur, paling-paling diberi nasihat kemudian dilepaskan lagi. KUHP tidak melindungi gadis-gadis dimangsa hidung belang !!! Ini merupakan koreksi bagi Mang Jalal yang mengatakan undang-undang dan berbagai peraturan yang kita anut sekarang sudah sesuai dengan Syari’at Islam. Tolong Mang Jalal bertanya hukum kepada ahli hukum barang sedikit. Sebab malu bertanya sesat di jalan. Nahi mungkar hanya effektif, jika ketiga kaki tempat hukum bertumpu, tegak dengan sinkron. Ketiga kaki itu adalah masyarakat yang sadar hukum, rancangan hukum yang disebut peraturan perundang-undangan dan pranata hukum (polisi, jaksa, hakim). Dalam kenyataan ketiga kaki itu tidak sinkron misalnya seperti contoh pelacuran tersebut di atas. Nilai-nilai Al Furqan yang ditanamkan dalam masyarakat oleh MUI, Muhammadiyah, NU, IMMIM dll, mengutuk pelacuran, namun KUHP tidak mendukung, sehingga pranata hukum lumpuh tidak dapat bertindak. Alhasil demi efektifnya nahi mungkar, Syari’at Islam perlu ditegakkan dalam menegara. Maka akan sinkronlah ketiga kaki itu. Masyarakat yang sadar akan nilai-nilai Al Furqan yang selalu tak henti-hentinya ditanamkan oleh MUI, Muhammadiyah, NU, IMMIM, dll, harus sinkron dengan peraturan perundang-undangan yang ditimba dari Syari’at Islam dan juga sinkron dengan pranata hukum pelaksana nahi mungkar (polisi, jaksa, hakim) yang bermafia, dibersihkan melalui sanksi yang keras sesuai dengan Syari’at Islam. WaLlahu a’lamu bishshawab.

36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->