UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. . Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya.

Presiden. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. hubungan pusat dan daerah. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Pasal 21 . pembulatan. (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. (2) Pengharmonisasian. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. (3) Dalam keadaan tertentu. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. rancangan peraturan pemerintah. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. Peraturan Pemerintah. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.

Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. dan penggabungan daerah. atau kota. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. mengenai materi yang sama. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. hubungan pusat den daerah. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. gabungan komisi.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . kabupaten. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. pemekaran. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. atau bupati/walikota. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. komisi. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. pembentukan. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota.

Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. pendidikan. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku.Daerah. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. dan agama. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2).

(4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 41 . (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang.(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan.

BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan .(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama.

atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. atau d. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.menempatkannya dalam a. b. meliputi: a. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. d. Peraturan Bupati/Walikota. peryataan keadaan bahaya. Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden mengenai: 1. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. c. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Lembaran Daerah. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. b. Berita Daerah. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. dan 2. Peraturan Pemerintah. c. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (2) Peraturan Gubernur.

BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. harus dibaca peraturan. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Menteri. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. lembaga. atau komisi yang setingkat. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. Keputusan Menteri. Keputusan Gubernur. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. keputusan kepala badan. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. Keputusan Bupati/Walikota. Keputusan Bupati/walikota. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Keputusan Gubernur. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. . Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah.

Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini. dan c. Nahattands . dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1).b. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Mengumumkan. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar sedap orang mengetahuinya. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. ttd. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. ttd. Lambock V. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004.

dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. yang disingkat AB (Stb. terdapat pula ketentuan: a. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. yaitu: 1. 3. teknik. tata cara penyiapan dan pembahasan. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. 2. kebangsaan. b. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. Mengumumkan. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. 4. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. . penyusunan maupun pemberlakuannya. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. asas. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. d. Selain Undang-Undang tersebut. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. c. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

mengolah. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Peraturan Presiden. terarah. persiapan. bertahap. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. dan Peraturan Daerah.e. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. 5. dan Rancangan Keputusan Presiden. Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. II. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. Ayat (2) . Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. maupun partisipasi masyarakat. asas. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. Dalam Undang-Undang ini. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. pengundangan dan penyebarluasan. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. pembahasan dan pengesahan. Rancangan Peraturan Pemerintah. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan Pemerintah. dan terpadu. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana.

sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.Cukup jelas. baik secara filosofis. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. berbangsa. Perundang-undangannya. Pasal 6 Ayat (1). penyusunan. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. dan bernegara. . Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat. persiapan. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. yuridis maupun sosiologis. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat.

antara lain. kebebasan berkontrak. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. dan iktikad baik. . dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. kondisi khusus daerah. berbangsa. agama. dalam Hukum Pidana. misalnya.Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. antara lain: a. dalam hukum perjanjian. b. dalam Hukum Perdata. ras. antara lain. suku. keserasian. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. dan keselarasan. dan asas praduga tak bersalah. suku dan golongan. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. dan bernegara. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. asas pembinaan narapidana. atau status sosial. gender. misalnya. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan". agama. bermasyarakat. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. asas legalitas. Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. golongan. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. asas kesepakatan. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. keserasian.

lembaga. Gubernur. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mahkamah Konstitusi. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. antara lain. Menteri. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 9 Cukup jelas. . kepala badan.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Kepala Desa atau yang setingkat. Pasal 8 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. Huruf b Cukup jelas. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Badan Pemeriksa Keuangan. Pasal 12 Cukup jelas. Bank Indonesia. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. Mahkamah Agung. Ayat (3) Cukup jelas. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Bupati/Walikota.

maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. dan edaran. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. secara berencana. Pasal 21 Cukup jelas. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. Untuk maksud tersebut. atau tahunan. maupun media cetak seperti surat kabar. Pasal 19 Cukup jelas. Oleh karena itu. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. Pasal 16 Cukup jelas. menengah. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 23 . Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. radio. Pasal 18 Cukup jelas. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. majalah. internet.Pasal 14 Cukup Jelas. Di samping memperhatikan hal di atas. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. terarah. Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi.

Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. c. Radio Republik Indonesia. b. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. ratifikasi. e. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. Internet. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. d. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang.Cukup jelas. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. dan f. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. majalah. dan edaran di daerah yang bersangkutan. media cetak seperti surat kabar. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. perhitungan anggaran negara.

Ayat (2) Cukup jelas. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. Ayat (3) Cukup jelas.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. Pasal 43 . Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas.

Pasal 54 . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai. misalnya. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. stasiun daerah. Peraturan Desa. Pasal 48 Cukup jelas. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. misalnya. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. perwakilan rakyat daerah. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. Pasal 46 Cukup jelas. dimungkinkan.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan.Cukup jelas. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. sama dengan tanggal Pengundangan. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

2. B.3. dan 5. 1998) B. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. perjanjian atau persetujuan internasional. B. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Jika dalam. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan.1. Konsiderans 16. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Diktum. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. 17. 4. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur . Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi. Dasar Hukum. 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15. Konsiderans.Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. 18. PEMBUKAAN 13. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. 3.

rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. B.filosofis..4. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan.. 29. 23. b. bahwa. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. c. bahwa…. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut. Contoh: Menimbang: a.. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku. Lihat juga Nomor 24.. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden). Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.. 26. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. 21. Lihat juga Nomor 19. 27.. 20. c... b. bahwa…. 24. Dasar Hukum 25. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut.. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau . bahwa…. 22. bahwa…. bahwa…. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad. yuridis. Lihat juga Nomor 20. bahwa…. 28. 19. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. c.. b.

B. dan seterusnya. …. 31. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. 2. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 2. Contoh Mengingat: 1.. 33. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan. 3. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal... Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.penetapannya. Diktum terdiri atas: .. Penulisan undang-undang. tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1. Contoh : Mengingat: 1. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. 34. 2.. …. Diktum 35. 3 …. 2. Peraturan Pemerintah. …. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Staatsblad 1847). .5.. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 30. Undang-Undang. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. 32. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. Contoh: Mengingat: 1. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.

. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . b. c.a. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. Peraturan Presiden. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia.. dan peraturan pejabat yang setingkat. BATANG TUBUH 42. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. kata Menetapkan.. secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang... 40. Pada Peraturan Daerah. KEUANGAN ANTARA 41. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. (nama daerah) dan GUBERNUR . (nama daerah). (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH.. Peraturan Menteri. 36. Pada Undang-Undang. C.. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin. 37. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Nama Peraturan Perundang-undangan. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39.. kata Memutuskan. seperti Peraturan Pemerintah. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua.

bab. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. 44. urutan bilangan. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). 48. 49. 51. dan Kereta Tempelan . bagian. bagian. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. Materi yang bersangkutan. bab. bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. b. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. dan paragraf. pemberhentian sementara. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. pembubaran. 43. bagian. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. antara lain. pencabutan izin. Kereta Gandengan. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. bab. dan paragraf. 47. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. denda administratif. 46. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. 45. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. antara lain. Contoh: Bagian Kelima. ganti kerugian. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. pengawasan. Sanksi administratif dapat berupa. 52. atau daya paksa polisional. dan sanksi administratif dalam satu bab. (5) Ketentuan Penutup. 55. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. (2) Materi Pokok yang Diatur. atau b. Huruf awal kata bagian. 50. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. Saksi keperdataan dapat berupa. sanksi perdata. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. Pengelompokkan materi dalam buku.

56. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. 62. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. 65. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. jelas. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. 61. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. dan lugas. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. Contoh: Paragraf 1 Ketua. 57. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Wakil Ketua. 64. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan Hakim 58. 60. 66. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. 63. 59.

…. g. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a.: a. h. 71. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif. c. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. atau. dan/atau) c. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. f. dan seterusnya. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. 69. b. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. atau. …. Kata dan. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. . Contoh: Pasal 9 (1) …. dan b. Jika rincian melebihi empat tingkat. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif.. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. 2. 70.. Contoh: a. d.. 67. 68. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat. …. e. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. yang diikuti dengan tanda baca titik. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. b. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik.. (dan. telah terdaftar pada daftar pemilih. b. huruf b.: (2) ….Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. dan seterusnya.

. atau.. dan/atau) c) … d. …. b. atau. atau.. ….. rincian itu ditandai dengan huruf a)..: 1. …. (dan. …. …(dan. … 2. …: a) …. …. 2. dan/atau) 3. . …. b) …. atau. atau. b. dan/atau) 3.. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. …. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail.. ….. (3) …. atau. a.: 1.: 1. (dan. (2) …. dan seterusnya. dan/atau) c) …. dan/atau) c. dan/atau) 3. …. (dan. (dan. (2) …. rincian itu ditandai dengan angka 1). …: a) ….. 2). atau. dan/atau) c. b) …. … . b). ….Contoh: Pasal 12 (1) …. (dan. dan setcrusnya.: a. Contoh: Pasal 20 (1) …. …. 2. dan/atau) 3. …: 1.. (dan.. b.. …. (dan. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. atau. 2. …. dan/atau) c. …. atau. c. (dan. .

2. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. dan c.1. Ketentuan Umum 72. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. b. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. 82. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. 80. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. dan tujuan. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. 81. c. bagian atau paragraf tertentu. singkatan. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. 74. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab. Karena batasan pengertian atau definisi. 79. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. 78. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. 84. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. 73. batasan pengertian atau definisi. Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal.C. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. 77. atau akronim berfungsi. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. . untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. 75. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. Materi Pokok yang Diatur 83. singkatan. maksud. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. b. C. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. Contoh a. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. Ketentuan umum berisi: a. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan.

tingkat banding. dan Jaksa Agung Muda. b. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. 88. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup.3. 92. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. penuntutan. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. atau c. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. Lihat juga Nomor 98. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85.00 (seratus ribu rupiah). Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan. 89. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku. pegawai negeri. 90. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. c. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. tingkat kasasi. Dengan demikian. penyidikan. orang asing. b. 86. dan peninjauan kembali. dimulai dari penyelidikan. 91. subyek itu dirumuskan secara tegas. C. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. seperti Jaksa Agung. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Wakil Jaksa Agung. saksi. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang. . 87.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. misalnya. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. perlu dihindari: a. seperti pembagian dalam hukum acara pidana. 93. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut.

00 (delapan ratus juta rupiah).000. dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000. Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif...00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya. .Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.. 00. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. 00 (tiga ratus juta rupiah).. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan.000.00 (figa ratus juta rupiah).000. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. 95. Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50. alternatif.000.000. atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. pornografi.dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp………….000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300. 96. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800. 94.. atau kumulatif alternatif.

Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. C. 104. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. 103. perseroan. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. Pasal 13 dan Pasal 14. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. 105. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. 101. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. misalnya. Badan hukum. b. perkumpulan. kecuali untuk ketentuan pidananya. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. 99. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. atau c. 102. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. kedua-duanya. Undang-Undang Nomor 7 Drt. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. Tahun 1955 tentang Pengusutan. Penuntutan. 97.A. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. ketentuan pidananya harus dikecualikan. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. atau yayasan. 98. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut.

106. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. b. nama singkat. b. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan. C-5. Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. 107. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. 109. Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan.. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. 112. Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. 113. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan.. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. dan d. 111. misalnya. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. c.. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. misalnya. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut.. 114. Ketentuan Penutup 110. Tahun . dan lain-lain.. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. mengangkat pegawai. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan.. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. menjalankan (eksekutif). Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. 108. mengatur (legislatif). b. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. . status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.

(2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku... Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. peraturan lebih rendah. status hukum dari peraturan pelaksanaan.. Ikan. 118. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . 119.. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat.. 115. 116. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Undang-undang Nomor . Staasblad 1941 : 167). Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. tentang . 122. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. Staasblad 1939: 733). dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan.undangan mana yang dicabut. Nomor 118. 119. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut.. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama. Slaatsblad 1931: 133). Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat. Demi kepastian hukum. 121. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941. Contoh untuk.. pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia. Tahun . . Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu). Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai.Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan. Staasblad 1931 : 134).. 120. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.. kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri. 117.. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun ...

Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden.. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku... Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .. Undang-Undang Nomor .. 125. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif. mulai berlaku efektif pada tanggal . (tenggang waktu) sejak . (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000. c. 126. hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. 123... Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia. b. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36. Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan..Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah.. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama. Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: . menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. 127.. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. 128. Tahun tentang . dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan. gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. atau yang sejenisnya.. Hindari frase .. Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . jika yang diberlakukan itu kodifikasi..... Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. 124.

saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu.. 130. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. 131. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. ayat (3). baik jenis. b. ayat (2). Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. c. 135. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. 133. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. Berita Negara Republik Indonesia. Lembaran Daerah. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. hubungan hukum. atau Berita Daerah.. b. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. maupun klasifikasinya. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. 132. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. dan d. PENUTUP 134. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. akhir bagian penutup. D. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). misalnya. sifat. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. . dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. tidak ikut diberlakusurutkan.a. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. c. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. berat. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. berlaku surut).

139. Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. b. nama lengkap pejabat yang mendatangani. 142. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a.. tanpa gelar dan pangkat.(Jenis Peraturan Perundang-undangan). 137. pengundangan. dan d.. memerintahkan.... tanda tangan pejabat. 143. 140. tanda tangan. tempat dan tanggal Pengundangan. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah). b.... Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). tanda tangan NAMA 141. . Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a. nama jabatan.. nama jabatan yang berwenang mengundangkan.. c. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. 138. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. c.. nama lengkap pejabat yang menandatangani. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan. tanpa gelar dan pangkat.136. tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. Contoh . PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA.(jenis Peraturan Perundang-undangan) . Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. dan d.. memerintahkan pengundangan. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya.

NOMOR. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. E. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan.. Berita Negara Republik Indonesia. dan Berita Daerah tersebut... PENJELASAN 148... Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia. b. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut.. jika diperlukan. pada tanggal . 150. Dengan demikian. Berita Negara Republik Indonesia. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota.. a... hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan. 147. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. 145.Diundangkan di . TAHUN . Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan.. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia.. 152. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. Lembaran Daerah.NOMOR. dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia. Berita Negara Republik Indonesia. Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan. Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan.. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) .. . Oleh karena itu. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan. 146. 151.. 153. 149... Oleh karena itu. Lembaran Daerah. Lembaran Daerah.. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . NOMOR. dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.

dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya. tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . istilah. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal.. tujuan. maksud. (4) Daerah Otonom .. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum.. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. UMUM II. b. d. 158. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154. c. Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain... TAHUN . (2) Pembagian Wilayah . Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah. 157... 160. (5) Wilayah Administratif . PASAL DEMI PASAL 156. tidak mengulangi uraian kata. 155.. (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan ... tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh.... UMUM (1) Dasar Pemikiran . jika hal ini lebih memberikan kejelasan. 159. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus . tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh.Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR .. Contoh: I. (6) Pengawasan . serta asas-asas. Contoh: I. atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan.. Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab. tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh..diperhatikan agar rumusannya: a.

tanda baca titik. 161. Ayat (4) Cukup jelas. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai.. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. Pasal 8 Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. 162. Ayat (4) Cukup jelas. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7. Ayat (3) Cukup jelas. . Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. Cukup jelas. a. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. Pasal 9 Cukup jelas. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. Ayat (2) Cukup jelas. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. 163. b. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan.

Contoh huruf b : Pasal .. Contoh huruf b : . diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164.. a. diatur dengan.. Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai . (1) .. Pendelegasian kewenangan mengatur... diatur dengan Peraturan Pemerintah.. Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). harus menyebut dengan tegas: a.. BAB II HAL-HAL KHUSUS A... (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . jenis Peraturan Perundang-undangan.. hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.. PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. diatur dengan. 168. (1) .. a.. 166.. gunakan kalimat Ketentuan mengenai . Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi).. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . b. b... Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah. 167. dan b. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ..F..diatur dengan atau berdasarkan. Contoh hurif a: Pasal ... ruang lingkup materi yang diatur.. Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran....

178. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain.. Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan.Pasal . (2) Ketentuan mengenai . Jika pasal terdiri dari banyak ayat. 169. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko. B. 172.. Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya.. 170. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang. 180. PENYIDIKAN 179. 171. Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya.. kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. (1) . 181. 177. Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut . Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. 175. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya . 173. 176. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah. Contoh : Pasal ... diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah... Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah.

Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan.) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. 191. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku.. 186.. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru. 190. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut.. Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. 189. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. 187. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan. Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . 182.. 188.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu. yaitu sebagai berikut: a.. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait... tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. b. (nama departemen atau instansi). PENCABUTAN 183. tetapi belum mulai berlaku. otomatis tidak berlaku kembali. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. C. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. 184. .. kecuall ditentukan lain secara tegas. 185. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini.

atau pasal baru. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang . dan/atau ayat. atau b.. setiap. bab. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a. atau b.tentang... menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. bagian. pasal 1 memuat.. kata.. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. maka bab. paragraf. bagian. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada ..D.. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:.Nomor. b.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun.. c dan seterusnya). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a.... b. 3. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah. 193.) diubah sebagai berikut : 1.. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan. c. kalimat. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a. dan seterusnya. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1. 194. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah.. pasal. b. istilah. dan/atau tanda baca. seluruh atau sebagian buku. c.Tahun. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192. 196. perubahan.. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. Dalam hal tertentu.. dan seterusnya).. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan.. paragraf.. 2. 195. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a.. 3. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat.. 2. Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. Jika materi perubahan lebih dari satu. bagian. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a. angka. paragaf.

Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. (1b) …. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) .. paragraf. 198. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. atau ayat. bagian. maka urutan bab. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. (2) …. bagian paragraf. penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. pasal. 197. b. (1a) …. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. Contoh penyisipan bab: 15.. pasal. Contoh 10. c.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. Contoh . (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru.

. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan... angka... dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199.. TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR. pasal. sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan. tentang Perubahan Undang-Undang Nomor . Tahun…tentang . paragraf.. pasal.. dan 3. Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. esensinya berubah. Tahun . terakhir dengan Undang-Undang Nomor . tentang . sebagaimana telah diubah beberapa kali. bagian.. penyebutan-penyebutan. angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a.. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor . sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. Pasal 16 dihapus 10. 201. ayat. paragraf... TAHUN . Tahun .. Tahun .. TAHUN… TENTANG …………………. terakhir dengan Undang-Undang Nomor ... bagian. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen). b. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... 200... dengan mengadakan penyesuaian pada : 1. ejaan. atau c.. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama. 2.. berbunyi . ayat. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. urutan bab. perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan.. tentang...9. atau butir.

Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Penimbunan. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. yaitu sebagai berikut: a. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. Produksi. b. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. E. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . b. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. yaitu sebagai berikut: a. yang ditulis dengan angka Arab. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan.. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203.. Production.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. . Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. F.

kebakuan. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. kelugasan. penyusunan kalimat. BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. bahasa Inggris. BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum. keserasian. namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian. teknik penulisan. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain.UNDANGAN A. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. . maupun pengejaannya. baik yang menyangkut pembentukan kata. Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia.UNDANGAN 202.

Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. dan mudah dimengerti. Contoh: . singkat. jelas. Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. dan memberi bantuan lahir bathin. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. menghormati. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih. 208. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. gunakan kata meliputi. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai. Warna pintu rumah itu putih. Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. 209. setia.

Contoh : 3. 212. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. 214. . Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. istilah. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. 211. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. 215. atau digunakan singkatan atau akronim. Contoh 5. Jika untuk menyatakan penghasilan. Pertanian meliputi perkebunan. b. Contoh: a. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. upah. peternakan. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. 216. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. Contoh : Istilah gaji. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain.6. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. dengan tidak mengurangi. dan perikanan. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. Menteri adalah Menteri Keuangan. gunakan kata tidak meliputi. atau tanpa menyimpang dari. Pertanian meliput pula perkebunan. Rumusan yang baik: 3. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. 210. 213. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. pengertian.

gunakan frase paling rendah dan paling tinggi. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. Contoh: . PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. jumlah uang. setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun.00 (satu milyar rupiah).000. dan diletakkan di antara tanda baca kurung. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat.000. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. ditulis miring. jika kata atau frase tersebut: a. Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. gunakan kata kecuali. mempunyai corak internasional. waktu. atau e. b. 221. c. d.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. 222.000. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. jumlah non-uang.. mempunyai konotasi yang cocok. bidang ketenagakerjaan) 217. gunakan frase paling singkat atau paling lama. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. 220. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. b.000. Contoh : Kecuali A dan B. lebih mempermudah tercapainya kesepakatan. Contoh: .00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . Untuk menyatakan makna tidak termasuk. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. c..

keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). izin perusahaan tersebut dapat dicabut. gunakan frase dan/atau. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 224. Contoh : A atau B wajib memberikan. 223.. 228. a. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka).. dan koki. gunakan kata selain. Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. . c. 225. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan. 227. kecuali koki magang. Untuk menyatakan sifat alternatif. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya. apabila. Contoh : A dan B dapat menjadi . pelaut. Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu.. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan.. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. Pasal 45. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. 226. juru mudi. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. b. Untuk menyatakan makna termasuk. digunakan kata jika. Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif. Untuk menyatakan sifat kumulafif. digunakan kata atau. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. digunakan kata dan. Pasal 46.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. atau frase dalam hal.

. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan.Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut. Persyaratan sebagaimana dimaksi. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. 229. Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang.. gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. .. 236. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum.. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. gunakan kata harus.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). gunakan kata dilarang.. 231. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi. TEKNIK PENGACUAN 235. Untuk menyatakan adanya larangan. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. 230. Untuk menyatakan adanya suatu hak. Contoh: Untuk membangun rumah. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. C. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . 233. gunakan kata wajib. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku. gunakan kata berhak. 232. Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan.. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan.

pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. 239.. Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan. 243.. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. 240. Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Pasal 12. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. kecuali Pasal 7 ayat (1). urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). b. . Jika ada dua atau lebih pengacuan. 241. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). b. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). . Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. . Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4).. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12.b. 237. tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. Contoh: a... Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a.. 238. Contoh : a. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan.

dan seterusnya….Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). 2. …. b. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. 244. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. 245. gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. dan seterusnya….Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. bahwa…. 3. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 246. kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. …. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. Menimbang: a. gunakan frase tetap berlaku. bahwa…. 247. Mengingat: 1. c.

(dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.... BAB . MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA....... BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal . Disahkan di Jakarta pada tanggal . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. bahwa….NOMOR… B. Menimbang: a. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG.. . bahwa…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia... b.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang).

(tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal .. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor.Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….. C.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. Agar setiap orang mengetahuinya. 2. dan seterusnya…. 3. …. Disahkan di Jakarta pada tanggal . …... Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG..Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… . Mengingat: 1..c. dan seterusnya….

.dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.........tentang.. (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal.. dan seterusnya…. . Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia... Disahkan di Jakarta pada tanggal.... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) .dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal.tentang.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. Mengingat: 1.. 3. Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) . Menimbang: a... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI .. ..TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... dan seterusnya....... 2.. c... bahwa . (2) Salinan naskah asli Konvensi.

(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang. dan seterusnya…. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan). diubah sebagai berikut : 1.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. b. bahwa…. Menimbang: a. dan seterusnya... bahwa…..TAHUN.. …. Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan..Nomor…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. .. Mengingat: 1. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). ….NOMOR. dan seterusnya….. 3... c. 2. D... Agar setiap orang mengetahuinya..

. c... TENTANG.. TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR. bahwa…. Pasal 2 . Pasal I Undang-Undang Nomor . NOMOR . …... b.. Menimbang: a.....Disahkan di Jakarta pada tanggal . (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.... TENTANG . 2.... Tahun … tentang . …..... bahwa…. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR . Nomor . dan seterusnya . TAHUN... dan seterusnya…. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR....... 3. TAHUN ... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . TAHUN.. Mengingat: 1.... E.) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku)..

Disahkan di Jakarta pada tanggal . …. 3. dan seterusnya…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG. b.Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. dan seterusnya….. bahwa…. bahwa…. Agar setiap orang mengetahuinya. DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Mengingat: 1... PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA. …. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR .. TAHUN…TENTANG. Menimbang: a.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F... 2.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. c. .

. c.. Mengingat: 1. .. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. bahwa…..NOMOR. Agar setiap orang mengetahuinya..... dan seterusnya. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. b. bahwa…. Disahkan di Jakarta pada tanggal . dan seterusnya. 3. Menimbang: a.. 2.. G... ...... TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku)..Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ..... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

.MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG . BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya.... b.. Pasal 1 . MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H... bahwa... memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. .. BAB I .. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Menimbang: a.. Pasal . bahwa... BAB II . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..... BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN... (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang)..

. dan seterusnya…. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia..c. …. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) .. 2.. dan seterusnya Mengingat: 1. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .. (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal . BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. 3. I. ….. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.

. 2.... (Nama Provinsi) NOMOR. .. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA...TAHUN.... b. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden).DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. Menimbang: a... dan seterusnya. dan seterusnya.. Mengingat: 1. BAB. Pasal. BAB I .. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal... c. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.. ... (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.. J.... Pasal 1 BAB II ... TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA . bahwa…. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI. 3.. bahwa…... memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia..

..... pada tanggal ... BAB . ..... GUBERNUR PROVINSI .. dan seterusnya . . Pasal . dan seterusnya.. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR.. Ditetapkan di. SEKRETARTS DAERAH ..... (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG .. K.. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA ..... c..... Mengingat: 1.. (nama kabupaten/kota) .. 2. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II . (nama Peraturan Daerah Provinsi). pada tanggal.GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi)..... memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi . Agar setiap orang dapat mengetahuinya. (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. bahwa... (Nama Provinsi) TAHUN .. (Nama Provinsi).. Menimbang : a.. (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI ....... 3. NOMOR . b... bahwa....

. (nama kabupaten/kota)... .. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota . (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG. bahwa. Pasal. . pada tanggal... dan seterusnya Mengingat: 1. Ditetapkan di...... original hilang. (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.... bahwa..A..(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota). b.. BAB.. Menimbang: a....NOMOR ... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I . (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap....... TAHUN .. BAB Il . dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA.. kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) .. (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota). 2..... Agar setiap orang dapat mengetahuinya... BUPATI/WALIKOTA . c.. 3.