UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. . Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah.

(2) Pengharmonisasian. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Pasal 21 . pembulatan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dalam keadaan tertentu. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. Presiden. Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan pusat dan daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima.

(3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. Peraturan Pemerintah. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . rancangan peraturan pemerintah. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

(2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. atau kota. dan penggabungan daerah. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. pembentukan. kabupaten. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. mengenai materi yang sama. komisi. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . gabungan komisi. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota. atau bupati/walikota. hubungan pusat den daerah. Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. pemekaran. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.

(3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku. Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. dan agama.Daerah. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. pendidikan.

maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2).(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 41 . Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang.

(3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama. (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota.

Lembaran Negara Republik Indonesia. Berita Daerah. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. peryataan keadaan bahaya. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. Peraturan Pemerintah. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. Peraturan Bupati/Walikota. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden mengenai: 1. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. b. c. (2) Peraturan Gubernur. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. d. c. b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. atau d. dan 2. Lembaran Daerah. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional.menempatkannya dalam a. Berita Negara Republik Indonesia. meliputi: a.

Keputusan Ketua Mahkamah Agung. lembaga. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. keputusan kepala badan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. Keputusan Gubernur. . Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. harus dibaca peraturan. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. Keputusan Gubernur. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. Keputusan Menteri. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Keputusan Menteri. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. atau komisi yang setingkat. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. Keputusan Bupati/walikota.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan Bupati/Walikota.

dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. Nahattands . Mengumumkan. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004. dan c. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Agar sedap orang mengetahuinya. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA.b. Lambock V. ttd. ttd. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini.

Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. asas. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. c. 2. 3. penyusunan maupun pemberlakuannya. b. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. d. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. terdapat pula ketentuan: a. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. kebangsaan. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. yang disingkat AB (Stb. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. tata cara penyiapan dan pembahasan. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Selain Undang-Undang tersebut. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Mengumumkan. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. . teknik. yaitu: 1.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. 4. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum.

Dalam Undang-Undang ini. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. Ayat (2) . Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. dan Peraturan Daerah. Rancangan Peraturan Pemerintah. asas. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. mengolah. Peraturan Pemerintah. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. maupun partisipasi masyarakat. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. Peraturan Presiden.e. dan Rancangan Keputusan Presiden. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. persiapan. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bertahap. 5. pengundangan dan penyebarluasan. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. pembahasan dan pengesahan. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. dan terpadu. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. II. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. terarah.

Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Perundang-undangannya. Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. dan bernegara. berbangsa. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. persiapan. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. yuridis maupun sosiologis.Cukup jelas. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. baik secara filosofis. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 6 Ayat (1). penyusunan. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. . Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya.

dan keselarasan. dalam Hukum Perdata. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. kondisi khusus daerah. agama. . gender. keserasian. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. golongan. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. dan iktikad baik. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. dalam Hukum Pidana. agama. suku. keserasian. berbangsa. dan asas praduga tak bersalah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan".Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. ras. asas legalitas. b. antara lain. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. antara lain. kebebasan berkontrak. atau status sosial. bermasyarakat. dan bernegara. misalnya. dalam hukum perjanjian. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. antara lain: a. suku dan golongan. asas pembinaan narapidana. misalnya. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. asas kesepakatan. asas tiada hukuman tanpa kesalahan.

Huruf c Cukup jelas. Bupati/Walikota. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Mahkamah Agung. Pasal 9 Cukup jelas. . Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. Bank Indonesia. Huruf b Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. kepala badan. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Kepala Desa atau yang setingkat. Menteri. Gubernur. Ayat (3) Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Badan Pemeriksa Keuangan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. lembaga. antara lain. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Mahkamah Konstitusi. Pasal 8 Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas.

penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. Ayat (2) Cukup jelas. radio. Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. Di samping memperhatikan hal di atas. Pasal 23 . Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. menengah. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. Pasal 16 Cukup jelas. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. dan edaran. maupun media cetak seperti surat kabar.Pasal 14 Cukup Jelas. majalah. atau tahunan. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. terarah. Oleh karena itu. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. secara berencana. internet. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. Untuk maksud tersebut.

d. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 24 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Ayat (2) Cukup jelas. ratifikasi. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. dan edaran di daerah yang bersangkutan. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. majalah. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. c. Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Internet. media cetak seperti surat kabar. dan f. e. Radio Republik Indonesia. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . b. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. perhitungan anggaran negara. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan.Cukup jelas.

Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 43 . kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Pasal 42 Cukup jelas. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan. misalnya. Pasal 47 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. stasiun daerah. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Peraturan Desa. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. perwakilan rakyat daerah. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. Pasal 46 Cukup jelas. dimungkinkan. Pasal 54 . untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia.Cukup jelas. Pasal 48 Cukup jelas. misalnya. sama dengan tanggal Pengundangan. Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

B.2. 2. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi.Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. Jika dalam. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15. 1998) B. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B. dan 5. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. B. 3. Dasar Hukum. Konsiderans.1. 17. PEMBUKAAN 13. perjanjian atau persetujuan internasional.3. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Konsiderans 16. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. 18. Diktum. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. 4. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur .

filosofis.. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. bahwa…. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Contoh: Menimbang: a. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. bahwa…. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya.. b. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku.. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu.. b. Dasar Hukum 25. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. bahwa.. bahwa…. 19. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. 28. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. bahwa….. 26. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau .4. 23. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat.. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. c. b. Lihat juga Nomor 19. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad. Lihat juga Nomor 24. 24. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. bahwa…. Lihat juga Nomor 20.. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. yuridis. c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden). 20. 29. 22. 21. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut.. B. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. bahwa…. 27. c..

dan seterusnya. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98.5. Contoh : Mengingat: 1. Diktum terdiri atas: . ….. Contoh: Mengingat: 1. 33.. Peraturan Pemerintah.. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. 3 …. Penulisan undang-undang. tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1. 3... 34. . Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Contoh Mengingat: 1.penetapannya. …. 2. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Staatsblad 1847).. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan. Diktum 35.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). 2. 31. B. 2. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal. Undang-Undang. 32. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. 2. …. 30..

sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin. Peraturan Menteri. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik.. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Peraturan Presiden. Pada Undang-Undang. (nama daerah) dan GUBERNUR . Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. kata Memutuskan. 40... 37. kata Menetapkan. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . KEUANGAN ANTARA 41. Pada Peraturan Daerah. C. dan peraturan pejabat yang setingkat. Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH. secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang.. 36.. (nama daerah)... b. c. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia.a.. Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. BATANG TUBUH 42. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . seperti Peraturan Pemerintah. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . Nama Peraturan Perundang-undangan. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39. Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin.

Saksi keperdataan dapat berupa. 50. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. (2) Materi Pokok yang Diatur. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). dan sanksi administratif dalam satu bab. 45. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. bab. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. dan paragraf.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). dan Kereta Tempelan . Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. 46. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. urutan bilangan. bagian. 43. Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. bagian. (5) Ketentuan Penutup. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. 52. ganti kerugian. Pengelompokkan materi dalam buku. Materi yang bersangkutan. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). 48. bab. atau b. bab. pembubaran. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. pencabutan izin. antara lain. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. sanksi perdata. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. 49. pengawasan. bagian. Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. pemberhentian sementara. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. antara lain. 44. denda administratif. Contoh: Bagian Kelima. atau daya paksa polisional. 55. Kereta Gandengan. bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). 51. b. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. dan paragraf. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. 47. Sanksi administratif dapat berupa. Huruf awal kata bagian.

Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. 57. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . 60. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. 61. 59. 64. Contoh: Paragraf 1 Ketua. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh.56. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. 62. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. 63. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. 66. dan lugas. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang. Wakil Ketua. dan Hakim 58. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. 65. jelas. Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik.

angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. Kata dan. dan seterusnya. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. Contoh: Pasal 9 (1) ….. e. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. dan seterusnya.: a. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. Jika rincian melebihi empat tingkat. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian. …. 68. 69. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif. b. 70. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. dan/atau) c. Contoh: a. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat..Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. h. atau. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. …. 71. . huruf b. g. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut. dan b. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup. b. yang diikuti dengan tanda baca titik. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. b.. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. (dan. atau. …. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. 2. 67. f. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. telah terdaftar pada daftar pemilih.. d.: (2) …. c.

…: a) …. 2. (2) …. b) …. … . Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. b.: 1. (dan. …. …. b).. …. atau.. …. …. dan/atau) c. (2) …. dan seterusnya. (dan. dan/atau) c. b. …. atau. …..: a. (dan. rincian itu ditandai dengan huruf a). Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. (dan. …: a) …. (dan.. 2). Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. atau. …. …. rincian itu ditandai dengan angka 1). . atau..Contoh: Pasal 12 (1) …. a. …: 1.. b.. 2. atau.. .: 1. …(dan. atau. atau. (3) …. (dan. atau. dan/atau) 3. (dan.: 1. Contoh: Pasal 20 (1) …. dan/atau) 3. b) …. dan setcrusnya. dan/atau) 3. ….. …. atau. (dan. …. …. dan/atau) c.. dan/atau) c) … d. dan/atau) c) …. dan/atau) 3. c. …. … 2. 2...

dan jika tidak ada pengelompokkan bab. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. 79.1. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. 82. 75. b. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. 73. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. 77. singkatan. Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. b. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. Karena batasan pengertian atau definisi. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. Ketentuan Umum 72. . 78. Ketentuan umum berisi: a. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. singkatan. Contoh a. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. bagian atau paragraf tertentu. 74. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. 81. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. batasan pengertian atau definisi. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. 80. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. dan tujuan. dan c. atau akronim berfungsi.2. 84. c. Materi Pokok yang Diatur 83. C. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab.C. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. maksud.

dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku. b. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. 86. dimulai dari penyelidikan. tingkat kasasi. saksi. penyidikan. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. seperti Jaksa Agung. ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan. . letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. subyek itu dirumuskan secara tegas. pegawai negeri. 88. dan peninjauan kembali. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. 93.3. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. Dengan demikian. 87. Lihat juga Nomor 98. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. seperti pembagian dalam hukum acara pidana. Wakil Jaksa Agung. orang asing. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. b. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. 92. 91. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. 90. 89. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. atau c. penuntutan. misalnya. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. c.00 (seratus ribu rupiah).000. dan Jaksa Agung Muda. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. C. perlu dihindari: a. tingkat banding.

pornografi. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan. . Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800. Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif.000.. alternatif.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.00 (delapan ratus juta rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000. Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000..000.00 (figa ratus juta rupiah). atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. 95... dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300. atau kumulatif alternatif. 94. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal.000. 96. 00. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif.000. 00 (tiga ratus juta rupiah).000.000.000. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran..000.00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp………….Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan.

dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. 99. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . 105. Badan hukum. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. kecuali untuk ketentuan pidananya. 102. atau c. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu.A. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. ketentuan pidananya harus dikecualikan. Tahun 1955 tentang Pengusutan. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. 104. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. 98. 103. perseroan. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. perkumpulan. Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. atau yayasan. kedua-duanya. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. 97. misalnya. C. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. Pasal 13 dan Pasal 14.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab. Undang-Undang Nomor 7 Drt. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. Penuntutan. 101. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. b.

saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. misalnya. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut. . mengatur (legislatif). Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan... dan d. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. misalnya. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. nama singkat. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. dan lain-lain. 106. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. 107. 108. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada... Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. C-5. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. b. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan. b. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. Tahun . c.. mengangkat pegawai. 113. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. menjalankan (eksekutif).lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. 109. Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan.. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. Ketentuan Penutup 110. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. 112. 114. 111. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. b.

Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. Staasblad 1941 : 167). 117. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941. Undang-undang Nomor . 122. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia.. Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940.. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai. 121. Nomor 118. .undangan mana yang dicabut. 115.. Demi kepastian hukum. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. Slaatsblad 1931: 133). Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. 119. status hukum dari peraturan pelaksanaan.. Staasblad 1939: 733). dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. 119. 118. kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri.. pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. 120. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu). (2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931. Tahun .Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan. peraturan lebih rendah.. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Staasblad 1931 : 134). 116. atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut.. dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan... Contoh untuk.. Ikan. tentang . Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .

... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. atau yang sejenisnya.. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36.. Hindari frase . Tahun tentang .. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 128... Undang-Undang Nomor .. 123.. Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: . atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif.. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . 124. jika yang diberlakukan itu kodifikasi. mulai berlaku efektif pada tanggal . Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000. (tenggang waktu) sejak . hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama. c. dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan..... b. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.. gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia.. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. 127. 126. Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan. Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan.Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 125.

sifat. c. tidak ikut diberlakusurutkan. PENUTUP 134. c. dan d. D. ayat (2). Berita Negara Republik Indonesia. 131. b. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. berlaku surut). b. 130. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. 132.. berat. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. .a. misalnya. pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya. 135. akhir bagian penutup. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan.. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. maupun klasifikasinya. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. atau Berita Daerah. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. baik jenis. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. 133. Lembaran Daerah. hubungan hukum. ayat (3).

tanda tangan pejabat... tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya... tanda tangan..(Jenis Peraturan Perundang-undangan). 142.. tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. b. c. c. tanda tangan NAMA 141.. memerintahkan pengundangan. nama jabatan.. b. 140. dan d.. 143. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah)... ..136. 138. 137. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. pengundangan. tanpa gelar dan pangkat. dan d. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. Contoh . nama jabatan yang berwenang mengundangkan.(jenis Peraturan Perundang-undangan) . 139. nama lengkap pejabat yang mendatangani. nama lengkap pejabat yang menandatangani. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . tempat dan tanggal Pengundangan. tanpa gelar dan pangkat. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a. memerintahkan.

Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh.. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan. 145... Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144.. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia. Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. b. dan Berita Daerah tersebut. E.. 153. Oleh karena itu. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. Dengan demikian.. pada tanggal ... Oleh karena itu.. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) . penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut.. NOMOR. a. Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan. dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia... Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 151... NOMOR. Lembaran Daerah. 149.NOMOR. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Berita Negara Republik Indonesia. 150. 152. Lembaran Daerah. 147.. jika diperlukan. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. Berita Negara Republik Indonesia.. hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan. Berita Negara Republik Indonesia. .. PENJELASAN 148.Diundangkan di .. 146. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . TAHUN . Lembaran Daerah.

.. (5) Wilayah Administratif . 159. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. serta asas-asas. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum. Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus .. (6) Pengawasan . Contoh: I. tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. tujuan. Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah..diperhatikan agar rumusannya: a.. PASAL DEMI PASAL 156. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital..Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... 158. Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan. dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans. Contoh: I. tidak mengulangi uraian kata. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154.. 160. b. istilah. 157. (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan . tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan .. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya. 155. UMUM (1) Dasar Pemikiran . tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh. jika hal ini lebih memberikan kejelasan. maksud. (4) Daerah Otonom . d.. (2) Pembagian Wilayah ... UMUM II. TAHUN . c. Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab... tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh..

sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. Pasal 9 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Cukup jelas. 161. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut. a. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. 163. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. Ayat (3) Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. Ayat (3) Cukup jelas. tanda baca titik. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. b.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan. . Contoh yang kurang tepat: Pasal 7. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. Pasal 8 Cukup jelas. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. 162..

. Contoh hurif a: Pasal .... (1) . b. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . harus menyebut dengan tegas: a.. jenis Peraturan Perundang-undangan. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164. hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . ruang lingkup materi yang diatur..... Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran..diatur dengan atau berdasarkan. diatur dengan.. Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. gunakan kalimat Ketentuan mengenai . Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai .. (1) . Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah.F. diatur dengan Peraturan Pemerintah. 167. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.... BAB II HAL-HAL KHUSUS A.. Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . Pendelegasian kewenangan mengatur...... a. Contoh huruf b : . diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan b.. Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165. a. Contoh huruf b : Pasal ... diatur dengan. b.. 166.. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . 168.

176. Jika pasal terdiri dari banyak ayat.. 178. 170. PENYIDIKAN 179. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan. Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut . Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya. Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya. 177. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.. (1) . Contoh : Pasal . Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. 181.. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. 173. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan. 175..... kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. B. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko.Pasal . diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah. (2) Ketentuan mengenai . Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya .. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. 172. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu. 180. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah.. 171. Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. 169.

Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. tetapi belum mulai berlaku... Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 191. 189.. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab.. 188. 186.. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan. (nama departemen atau instansi). dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri. 185. tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. 187. PENCABUTAN 183. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. 182. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . yaitu sebagai berikut: a. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. C. . Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu. otomatis tidak berlaku kembali. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula.) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru.. kecuall ditentukan lain secara tegas.. 184. Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . b. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . 190.. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut. Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat.

dan/atau ayat. paragraf. bagian. paragaf.) diubah sebagai berikut : 1. dan seterusnya). perubahan. dan/atau tanda baca.. dan seterusnya. setiap.. b.. Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). 3. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:.. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. maka bab. paragraf.. 194. Dalam hal tertentu.D. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a.. istilah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. angka. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali. bagian.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a.. c. bab. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku.Nomor. c. atau b. b.. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah.. atau pasal baru. atau b. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan. pasal 1 memuat. kata. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1.. 193. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. 196.. bagian. 195. b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. 2....Tahun.. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada . yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah.. pasal. juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). 3... kalimat. seluruh atau sebagian buku. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a..tentang. c dan seterusnya). Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang . Jika materi perubahan lebih dari satu. 2.

penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. 197. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. (2) …. paragraf. atau ayat. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Contoh . maka urutan bab. Contoh 10. b. (1b) ….. Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru.. pasal. pasal. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. 198. c. (1a) …. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. bagian paragraf. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. bagian. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . Contoh penyisipan bab: 15.

. Tahun . Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. berbunyi ... bagian. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan.. Tahun…tentang . jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama. pasal. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199.. penyebutan-penyebutan. ayat. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan. sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. tentang Perubahan Undang-Undang Nomor . perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan. ayat.. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR . TAHUN . terakhir dengan Undang-Undang Nomor . Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut.... 2... Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor .. esensinya berubah. Tahun . bagian... atau butir. TAHUN… TENTANG ………………….. urutan bab. dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. ejaan. paragraf.. angka. dengan mengadakan penyesuaian pada : 1. pasal.. paragraf. b. 200. sebagaimana telah diubah beberapa kali. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen).9... Pasal 16 dihapus 10. Tahun . terakhir dengan Undang-Undang Nomor . angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya. atau c.... TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR.. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a. tentang. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah.. 201. tentang . dan 3.

Produksi. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. yaitu sebagai berikut: a. yaitu sebagai berikut: a.. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. b. Penimbunan. b. Production.. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. E. Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. yang ditulis dengan angka Arab. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. F. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini.

BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG .Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.UNDANGAN A. baik yang menyangkut pembentukan kata. Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia. maupun pengejaannya. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. keserasian. teknik penulisan. dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. kelugasan. bahasa Inggris. Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia. . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian. kebakuan. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. penyusunan kalimat. BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai.UNDANGAN 202.

Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. 209. singkat. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. jelas. 208. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. gunakan kata meliputi. Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. Warna pintu rumah itu putih. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. menghormati. Contoh: . Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. dan mudah dimengerti. dan memberi bantuan lahir bathin. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. setia. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih.

Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. pengertian. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. dengan tidak mengurangi. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. Rumusan yang baik: 3. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. Contoh: a. 211. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. peternakan. Pertanian meliput pula perkebunan. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. upah. 214. 212. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. atau digunakan singkatan atau akronim. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Contoh : Istilah gaji. Contoh 5. 213. dan perikanan. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. Jika untuk menyatakan penghasilan. b. atau tanpa menyimpang dari. Contoh : 3. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain.6. Pertanian meliputi perkebunan. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. istilah. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. gunakan kata tidak meliputi. 216. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. . 210. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. 215. Menteri adalah Menteri Keuangan.

000. bidang ketenagakerjaan) 217.000. gunakan frase paling singkat atau paling lama. c.. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat. Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. Contoh: . Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. 222.00 (satu milyar rupiah). Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan. Untuk menyatakan makna tidak termasuk. c. d. jumlah uang. b.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. mempunyai corak internasional.000. Contoh : Kecuali A dan B. b. waktu. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi. jumlah non-uang. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun. 220. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. Contoh: . 221. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. dan diletakkan di antara tanda baca kurung. jika kata atau frase tersebut: a. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. atau e. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. mempunyai konotasi yang cocok. gunakan kata kecuali.000. ditulis miring..00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . lebih mempermudah tercapainya kesepakatan.

Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. kecuali koki magang. . 228. 225. a.. Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif. Contoh : A atau B wajib memberikan. dan koki. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. b. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan. 223. digunakan kata atau. juru mudi. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan. Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu. c. apabila. Pasal 46. atau frase dalam hal. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. Untuk menyatakan sifat kumulafif. gunakan kata selain. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka). yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. Untuk menyatakan sifat alternatif. digunakan kata jika. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14.. 227. Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). Contoh : A dan B dapat menjadi . pelaut. Untuk menyatakan makna termasuk..Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. 226. gunakan frase dan/atau.. digunakan kata dan. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. izin perusahaan tersebut dapat dicabut. Pasal 45. 224.

Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. 232.. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan. gunakan kata berhak. TEKNIK PENGACUAN 235. 233. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan. gunakan kata wajib. 229. 236. 231. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum. . Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku.Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. Contoh: Untuk membangun rumah. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2).. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain. Persyaratan sebagaimana dimaksi. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut.. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. Untuk menyatakan adanya larangan... gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. Untuk menyatakan adanya suatu hak. 230.. gunakan kata dilarang. gunakan kata harus. C.

kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242. 238.. 240. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. b. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. 239. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. 243. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. b.. Contoh: a.. 237. Contoh : a.b. 241. kecuali Pasal 7 ayat (1). pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). Jika ada dua atau lebih pengacuan. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. . Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan. . sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4). Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. Pasal 12. tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ... Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan.

Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A.Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). bahwa…. c. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. 247. Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. 3.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. 245. dan seterusnya…. kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. dan seterusnya…. gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). bahwa…. Mengingat: 1. 244. Menimbang: a. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. …. b. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . gunakan frase tetap berlaku. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 2. …. 246.

(tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang).. BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal ... Disahkan di Jakarta pada tanggal .. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. bahwa…. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG... RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.. MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BAB . b.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . Menimbang: a. bahwa….... memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.NOMOR… B..

3.. Mengingat: 1... Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor.. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… . Disahkan di Jakarta pada tanggal .. …. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 2.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. dan seterusnya…. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.. C.. dan seterusnya….c.Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG. …. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal .

. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. ...(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI ..... Mengingat: 1....... 2. bahwa .. (2) Salinan naskah asli Konvensi. . 3..dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal.. dan seterusnya…... c..(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) ...tentang. dan seterusnya. Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... Menimbang: a..dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal...... dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi. (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya)..tentang. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) .. Disahkan di Jakarta pada tanggal.

Nomor…. …..NOMOR.. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. c. Mengingat: 1. D... Menimbang: a. bahwa….(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN... Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan). . diubah sebagai berikut : 1. 3.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... b. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan seterusnya…. dan seterusnya. dan seterusnya….. Agar setiap orang mengetahuinya. …. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun.TAHUN. bahwa…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua.

... (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. TAHUN ... dan seterusnya . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal.. 2... E. NOMOR . BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . Tahun … tentang .. (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. Pasal I Undang-Undang Nomor ... TAHUN. b.. bahwa…..Disahkan di Jakarta pada tanggal . bahwa…. TAHUN.. 3. TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR. dan seterusnya….. TENTANG... Nomor .. c..... Pasal 2 .. Menimbang: a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. TENTANG .... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR .. …... Mengingat: 1. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..... ….) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).....

…. bahwa…. bahwa…. dan seterusnya…. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F.. b... c... Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR . Mengingat: 1. 3. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . …. TAHUN…TENTANG. Disahkan di Jakarta pada tanggal . 2. Agar setiap orang mengetahuinya. Menimbang: a. dan seterusnya…...Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan... DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. .

... Agar setiap orang mengetahuinya... Mengingat: 1. G. bahwa…. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... c.... Menimbang: a. dan seterusnya. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal ... RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor ... 2. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN...... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ...NOMOR.. . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. bahwa….. 3. .Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. dan seterusnya. b.. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).

. Pasal .. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.... bahwa..... . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal ... Pasal 1 . BAB I . BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ... bahwa. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Menimbang: a. BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H.... BAB II . (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang).. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG ..... b...

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) .... Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . I. dan seterusnya Mengingat: 1. …. dan seterusnya….c. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal .. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). 3. 2. MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR... ….

... Pasal...... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. dan seterusnya. bahwa…. (Nama Provinsi) NOMOR... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.... MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden). c.. .... J. BAB I . Menimbang: a.DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal... memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAB. dan seterusnya. b... TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ... . 3. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI... bahwa…. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 1 BAB II ...TAHUN. 2. Mengingat: 1..

. BAB ... memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. GUBERNUR PROVINSI . 3. (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG ... ....... (Nama Provinsi) TAHUN . dan seterusnya..GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi). 2...... NOMOR . (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di . pada tanggal. Mengingat: 1. Ditetapkan di.. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR..... K. (Nama Provinsi)......... pada tanggal ... bahwa. SEKRETARTS DAERAH . .... c.. (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI ......... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II . bahwa. (nama Peraturan Daerah Provinsi). Menimbang : a.. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. (nama kabupaten/kota) ... BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA . Pasal . dan seterusnya . b....

..... dan seterusnya Mengingat: 1.. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I ...... Ditetapkan di.... kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 3. . ... (nama kabupaten/kota).....A. original hilang. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota). pada tanggal.. BAB.. dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA.NOMOR . c... Menimbang: a. Pasal.... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota . BUPATI/WALIKOTA .(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota). Agar setiap orang dapat mengetahuinya.. TAHUN . 2... (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG.. (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap. bahwa. b. (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT...... BAB Il ... bahwa..