UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. . Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi.

Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. (3) Dalam keadaan tertentu. pembulatan. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. (2) Pengharmonisasian. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. Presiden. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. hubungan pusat dan daerah. Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. Pasal 21 . (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah.

(2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. rancangan peraturan pemerintah. Peraturan Pemerintah. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang.

pemekaran. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. komisi. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. dan penggabungan daerah. hubungan pusat den daerah. gabungan komisi. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. atau kota. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. kabupaten. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. atau bupati/walikota. pembentukan. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . mengenai materi yang sama.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah.

pendidikan. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). dan agama.Daerah. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi.

(2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 41 . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut.

maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama. Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota.

b. Peraturan Presiden mengenai: 1. d. (2) Peraturan Gubernur. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. atau d. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Berita Negara Republik Indonesia. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . meliputi: a. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. c. Berita Daerah. b. dan 2. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. peryataan keadaan bahaya. Lembaran Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. c. Peraturan Bupati/Walikota. Peraturan Pemerintah. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah.menempatkannya dalam a.

Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. atau komisi yang setingkat. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. .Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Keputusan Gubernur. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan Menteri. Keputusan Menteri. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. lembaga. harus dibaca peraturan. Keputusan Bupati/walikota. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Keputusan Bupati/Walikota. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. Keputusan Gubernur. keputusan kepala badan.

ttd.b. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. Mengumumkan. Lambock V. Agar sedap orang mengetahuinya. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. ttd. dan c. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004. Nahattands . Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini. dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53.

penyusunan maupun pemberlakuannya. teknik. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. Mengumumkan. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. d. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. terdapat pula ketentuan: a. yang disingkat AB (Stb. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. b. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. asas. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. yaitu: 1. tata cara penyiapan dan pembahasan. Selain Undang-Undang tersebut. kebangsaan. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. c. . 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. 2. 3. 4.

terarah. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. persiapan. mengolah. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. dan terpadu. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. Peraturan Presiden. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. 5. dan Peraturan Daerah. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem.e. Rancangan Peraturan Pemerintah. II. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. Ayat (2) . Peraturan Pemerintah. bertahap. maupun partisipasi masyarakat. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. dan Rancangan Keputusan Presiden. pengundangan dan penyebarluasan. asas. pembahasan dan pengesahan. Dalam Undang-Undang ini. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah.

Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. Perundang-undangannya. Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah.Cukup jelas. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. dan bernegara. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. penyusunan. berbangsa. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. . dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. persiapan. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. yuridis maupun sosiologis. Pasal 6 Ayat (1). serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. baik secara filosofis.

atau status sosial. keserasian. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. antara lain. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. berbangsa. dalam Hukum Perdata. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan". gender. asas kesepakatan. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. . bermasyarakat. antara lain: a.Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. dan asas praduga tak bersalah. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. asas legalitas. asas pembinaan narapidana. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. golongan. kebebasan berkontrak. dan iktikad baik. antara lain. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. keserasian. agama. misalnya. b. misalnya. dalam Hukum Pidana. ras. Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. kondisi khusus daerah. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. suku dan golongan. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. dan keselarasan. agama. suku. dan bernegara. dalam hukum perjanjian. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan.

Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. antara lain. Bupati/Walikota. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Huruf b Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Gubernur. Menteri. . Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Kepala Desa atau yang setingkat. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Bank Indonesia. Pasal 12 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. kepala badan. Mahkamah Agung. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Mahkamah Konstitusi. Huruf c Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. lembaga. Badan Pemeriksa Keuangan. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Pasal 8 Cukup jelas.

Di samping memperhatikan hal di atas. Oleh karena itu. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. Pasal 19 Cukup jelas. secara berencana. internet. maupun media cetak seperti surat kabar. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. Pasal 23 . Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. atau tahunan.Pasal 14 Cukup Jelas. menengah. radio. Pasal 18 Cukup jelas. terarah. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. dan edaran. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Untuk maksud tersebut. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. Pasal 20 Cukup jelas. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. majalah.

Internet. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. Ayat (3) Cukup jelas. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. c. b. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. perhitungan anggaran negara. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. ratifikasi. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. Radio Republik Indonesia. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. d. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. majalah. dan edaran di daerah yang bersangkutan. dan f.Cukup jelas. media cetak seperti surat kabar. e. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 24 Cukup jelas.

Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Ayat (4) Cukup jelas. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. Pasal 43 . Pasal 42 Cukup jelas. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ayat (2) Cukup jelas.

melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. dimungkinkan. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. stasiun daerah. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 54 . Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. Peraturan Desa. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. misalnya. sama dengan tanggal Pengundangan. Ayat (3) Cukup jelas. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. misalnya. Pasal 46 Cukup jelas. perwakilan rakyat daerah. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan.Cukup jelas.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

2. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES.2. dan 5. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. B. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Konsiderans 16. 17. 1998) B. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Dasar Hukum.3. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur . 3. B. 18. Konsiderans. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi.Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B.1. 4. PEMBUKAAN 13. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. perjanjian atau persetujuan internasional. Jika dalam. Diktum.

Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. Lihat juga Nomor 19. c. 23. bahwa…. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. bahwa…. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden).. bahwa…. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang….. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. 27. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. 21.. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau . c.. b. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. B.filosofis. bahwa. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. 24. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad.. Contoh: Menimbang: a. b. 28. bahwa…. Dasar Hukum 25.. 22. yuridis.. 20. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. 29. 19. b.4. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. Lihat juga Nomor 20. Lihat juga Nomor 24. c.. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. bahwa…. bahwa…. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut.. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. 26. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat.. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat.

Contoh Mengingat: 1... Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan.. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. 3. Undang-Undang. 30. Peraturan Pemerintah. …. Contoh: Mengingat: 1. B. Penulisan undang-undang.. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal. tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. Staatsblad 1847). 34.. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 31. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). 2. 3 …. Contoh : Mengingat: 1. Diktum 35. dan seterusnya. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma..penetapannya. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 33. ….. Diktum terdiri atas: . Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan.5. 32. …. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. 2. 2.. .

sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin.a. 40. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH. 37.. (nama daerah).. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . 36.. secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang. C. kata Memutuskan. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA .. Pada Peraturan Daerah. b. Peraturan Menteri. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia. dan peraturan pejabat yang setingkat. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. Nama Peraturan Perundang-undangan.. Pada Undang-Undang. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. c.. kata Menetapkan. (nama daerah) dan GUBERNUR . Peraturan Presiden. Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. BATANG TUBUH 42.. Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. seperti Peraturan Pemerintah.. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39. KEUANGAN ANTARA 41.

Saksi keperdataan dapat berupa. 48. bagian. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. bagian. dan paragraf. 50. dan Kereta Tempelan . 55. bab. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. atau b. ganti kerugian. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. denda administratif. Materi yang bersangkutan. 47. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. pembubaran. antara lain. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. urutan bilangan. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. (5) Ketentuan Penutup. dan sanksi administratif dalam satu bab. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. 52. 45. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. dan paragraf. sanksi perdata. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Pengelompokkan materi dalam buku. bab. antara lain. pencabutan izin. 44. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. 46. Kereta Gandengan. Huruf awal kata bagian. bagian. Sanksi administratif dapat berupa. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. atau daya paksa polisional. Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). pemberhentian sementara. 49. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. bab. (2) Materi Pokok yang Diatur. Contoh: Bagian Kelima. b. 43. 51. bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). pengawasan. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a.

62. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. 57. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. dan lugas. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Wakil Ketua. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . jelas. 61. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. 64. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. 59. Contoh: Paragraf 1 Ketua. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. dan Hakim 58. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. 66. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. 65. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. 63. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang.56. 60. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur.

telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. h. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. .: a. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. d. b. …. 71. atau. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a. c.: (2) …. b. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. huruf b. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. Kata dan. e. Contoh: Pasal 9 (1) …. Jika rincian melebihi empat tingkat. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. (dan. dan seterusnya. f. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. atau. 67. 70. b. 68. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian. g.Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. dan/atau) c. yang diikuti dengan tanda baca titik. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif... telah terdaftar pada daftar pemilih. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup.. 2.. dan b. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. dan seterusnya. …. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. Contoh: a. 69. …. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat.

. (dan.: 1. atau. dan setcrusnya. atau. …. atau. dan/atau) 3. …. atau. dan/atau) 3. dan/atau) 3. atau.: 1. …(dan. (dan.: a. …. (3) …. rincian itu ditandai dengan angka 1).. atau. rincian itu ditandai dengan huruf a). dan/atau) 3. b) ….. .. (2) …. … . b). atau. …. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail.. dan seterusnya.. …. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. (dan.: 1. (dan. 2.. 2). atau. …. …... … 2. …: a) …. (dan. (dan. b. …. dan/atau) c.. 2.Contoh: Pasal 12 (1) …. b) …. …. dan/atau) c) …. …. 2. (2) …. …. dan/atau) c. …: a) …. b... dan/atau) c) … d. (dan. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. atau. Contoh: Pasal 20 (1) …. ….. (dan. …. …. …: 1. c. dan/atau) c. b. a.

80. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. 82. Ketentuan Umum 72. b. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. dan tujuan. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. Contoh a. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu.2. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. 75. C. b. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. bagian atau paragraf tertentu. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. . Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. maksud. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab. Karena batasan pengertian atau definisi. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. Materi Pokok yang Diatur 83. 73.1.C. 74. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. 84. c. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. atau akronim berfungsi. 77. dan c. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. batasan pengertian atau definisi. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. 79. 81. singkatan. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. Ketentuan umum berisi: a. 78. singkatan.

atau c. dimulai dari penyelidikan. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. seperti Jaksa Agung. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. 87. C. b. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. dan Jaksa Agung Muda. Dengan demikian. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. pegawai negeri.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. misalnya. 91. Wakil Jaksa Agung. 90. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. orang asing.00 (seratus ribu rupiah). subyek itu dirumuskan secara tegas. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. saksi. penyidikan. tingkat banding. dan peninjauan kembali. 93. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. 88. . ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. c. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. Lihat juga Nomor 98.3. b. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. 92. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. 89. tingkat kasasi. seperti pembagian dalam hukum acara pidana. penuntutan. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang.000. perlu dihindari: a. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. 86. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku.

00 (delapan ratus juta rupiah). dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme.000. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan.000. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250. 95. 96.000. atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.. atau kumulatif alternatif.000. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.. . 00.00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya. Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif..000. 00 (tiga ratus juta rupiah).000.000. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800.000.000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300.dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp…………. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal.Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan. pornografi..00 (figa ratus juta rupiah). alternatif.000.. 94. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50.

C. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. atau yayasan. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. b. Tahun 1955 tentang Pengusutan. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. ketentuan pidananya harus dikecualikan. 104. Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. kedua-duanya. 105. 102.A. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. Badan hukum. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. Pasal 13 dan Pasal 14. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. kecuali untuk ketentuan pidananya. 97. 99. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. 103. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. Undang-Undang Nomor 7 Drt. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. atau c. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. Penuntutan. misalnya. perseroan. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. 98. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. 101. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. perkumpulan. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana.

kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini.. dan d. 112. 114. Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. b. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a.. nama singkat. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. 111. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. menjalankan (eksekutif). b. 108. 113.. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. . c.. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. 107. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a.. b. Ketentuan Penutup 110. 106. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. C-5. Tahun . mengangkat pegawai. mengatur (legislatif). Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. misalnya. misalnya. 109. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan.. dan lain-lain. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut.

(2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931. Undang-undang Nomor . tentang . Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat. 116. 120. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Staasblad 1939: 733). atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut. 122.. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama.Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan. pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Tahun . Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu). status hukum dari peraturan pelaksanaan.. Contoh untuk. Nomor 118... Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. 121.. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. 119.. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940.undangan mana yang dicabut. peraturan lebih rendah. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia. Demi kepastian hukum. Staasblad 1931 : 134).. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 117. dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan.. 115.. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. . Staasblad 1941 : 167). Ikan. 118. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. Slaatsblad 1931: 133). Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri... dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. 119.

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: . 126.. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000.. c. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . atau yang sejenisnya. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan. Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan.. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. 128. 124. (tenggang waktu) sejak . semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36... Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku... hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. 123. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif. Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan. 127.. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama. Tahun tentang ..Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku... 125.. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku... jika yang diberlakukan itu kodifikasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Undang-Undang Nomor . Hindari frase ... gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.. dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan. atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah. mulai berlaku efektif pada tanggal . Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. b.

Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. berat. c. sifat. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. berlaku surut). Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. akhir bagian penutup. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. 130. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya.a. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. b. misalnya.. ayat (2). 135. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. atau Berita Daerah. hubungan hukum. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. b. pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya. . memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. dan d. tidak ikut diberlakusurutkan. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. Berita Negara Republik Indonesia. 132. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. baik jenis. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. D. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. maupun klasifikasinya. ayat (3). PENUTUP 134. 131.. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 133. Lembaran Daerah. c. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.

tanda tangan. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma.. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. Contoh .. 138. nama jabatan.. .(jenis Peraturan Perundang-undangan) . tanda tangan NAMA 141. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. 137. tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . memerintahkan pengundangan.. PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA. tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan. nama jabatan yang berwenang mengundangkan. c. 142. Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . tanda tangan pejabat..136... dan d. c. dan d. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. 140. b. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah).. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. memerintahkan. tanpa gelar dan pangkat.. 139. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a. tanpa gelar dan pangkat. tempat dan tanggal Pengundangan. 143... Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. nama lengkap pejabat yang menandatangani. b.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. nama lengkap pejabat yang mendatangani. pengundangan. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a.(Jenis Peraturan Perundang-undangan). Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital.

dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. Oleh karena itu. Lembaran Daerah. Oleh karena itu. PENJELASAN 148. Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan... Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia. pada tanggal . b... 149. jika diperlukan. 150. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) . . Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan. 151.NOMOR... hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan.Diundangkan di . dan Berita Daerah tersebut.. a... Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 145. Berita Negara Republik Indonesia. NOMOR... dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital... NOMOR. 146. Berita Negara Republik Indonesia. Lembaran Daerah. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. 147. TAHUN .. E. Dengan demikian... Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan. Lembaran Daerah. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh... Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut. 152. 153. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. UMUM II.. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum. maksud... dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans.. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. (4) Daerah Otonom . Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.diperhatikan agar rumusannya: a. (6) Pengawasan . tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. 159.. tujuan. Contoh: I. istilah.. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus . 155.. tidak mengulangi uraian kata. serta asas-asas. atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan. TAHUN .... Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab. Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah.Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . d. PASAL DEMI PASAL 156. UMUM (1) Dasar Pemikiran . jika hal ini lebih memberikan kejelasan. c. (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan .. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya. tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154... (2) Pembagian Wilayah . tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh.. Contoh: I. 158.. 157. b.. Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain. 160. (5) Wilayah Administratif .

Ayat (4) Cukup jelas. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas.. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut. Pasal 9 Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. Pasal 8 Cukup jelas. Cukup jelas. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. 163. 162. Ayat (3) Cukup jelas. . a. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. tanda baca titik. 161. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7. b. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. Ayat (2) Cukup jelas. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas.

BAB II HAL-HAL KHUSUS A. Contoh huruf b : Pasal ... b. 168.. a. diatur dengan. Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah..diatur dengan atau berdasarkan. harus menyebut dengan tegas: a. ruang lingkup materi yang diatur. Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). Contoh hurif a: Pasal .. (1) .... gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai .. 166... jenis Peraturan Perundang-undangan. 167. Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi).. Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.F.. Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai ... Pendelegasian kewenangan mengatur.. Contoh huruf b : .. diatur dengan Peraturan Pemerintah.. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164.. hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. b. a.. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . gunakan kalimat Ketentuan mengenai . PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165.. dan b. diatur dengan. diatur dengan Peraturan Pemerintah.... Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran. (1) . Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai .. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ..

169.. Jika pasal terdiri dari banyak ayat.. Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut .Pasal . 171. B. 177. kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan. Contoh : Pasal . 172. 173.. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah... diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya .. Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah. 181. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya.. 180. Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang. (2) Ketentuan mengenai . kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu. 176. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. 178. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan.. Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya. 170. PENYIDIKAN 179. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. (1) .. 175.

190.. 189. Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri.. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru.. 187. (nama departemen atau instansi). Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan.. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. tetapi belum mulai berlaku. 184.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . kecuall ditentukan lain secara tegas.. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. C. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. yaitu sebagai berikut: a. 191.... Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan. otomatis tidak berlaku kembali. PENCABUTAN 183. Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu.) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. . 186. 185. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 182. b. 188.

c dan seterusnya). dan/atau ayat. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah.Tahun.. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. kata. pasal 1 memuat. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. 2. 194.. bagian. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. maka bab. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). b.. dan/atau tanda baca..tentang. bagian. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). angka. seluruh atau sebagian buku. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a.. paragraf.D. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali. c.. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang . kalimat. paragaf.. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah. Jika materi perubahan lebih dari satu.Nomor. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. 196. juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. 2... atau b..) diubah sebagai berikut : 1. dan seterusnya. b. 3. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor.. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah.. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan.. bab. pasal. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada . Dalam hal tertentu.. 3. setiap. Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. atau b. bagian. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….. 193.. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. b. istilah.. paragraf. c. 195.. dan seterusnya)... atau pasal baru. perubahan.

(2) …. pasal. (1a) …. bagian. (1b) …. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. bagian paragraf. Contoh 10.. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab. Contoh . yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. c. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. 197. Contoh penyisipan bab: 15. pasal.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. b. Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru.. paragraf. atau ayat. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. 198. maka urutan bab.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. tentang Perubahan Undang-Undang Nomor .. bagian.. tentang . Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut.... berbunyi . sebagaimana telah diubah beberapa kali. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a.. dan 3. Tahun .. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. TAHUN ... Tahun…tentang ... penyebutan-penyebutan.. b. TAHUN… TENTANG …………………. ayat. Tahun . paragraf. angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya. tentang. atau butir. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor .. 200. TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199. ejaan. 201. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama. paragraf. Tahun . dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR . pasal... perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah. atau c. 2.. bagian.. pasal... terakhir dengan Undang-Undang Nomor ... materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen).. ayat. urutan bab. angka. sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah.9. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan. terakhir dengan Undang-Undang Nomor . Pasal 16 dihapus 10... sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan. esensinya berubah.. dengan mengadakan penyesuaian pada : 1.

dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Produksi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . yaitu sebagai berikut: a. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. b. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. F. E. yang ditulis dengan angka Arab.. . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. yaitu sebagai berikut: a. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal.. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203. b. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Penimbunan.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. Production.

namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204.UNDANGAN 202. dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum. BAHASA PERATURAN PERUNDANG . teknik penulisan. keserasian. Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. kelugasan. penyusunan kalimat. bahasa Inggris. baik yang menyangkut pembentukan kata.Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. kebakuan.UNDANGAN A. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia. . BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. maupun pengejaannya.

Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. 209. menghormati. dan memberi bantuan lahir bathin. singkat. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. gunakan kata meliputi. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. jelas. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. setia. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. dan mudah dimengerti. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. Warna pintu rumah itu putih. Contoh: . Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. 208.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai.

6. dengan tidak mengurangi. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. 214. 213. Pertanian meliputi perkebunan. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. 211. Contoh: a. 210. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. 216. . penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. Menteri adalah Menteri Keuangan. Pertanian meliput pula perkebunan. atau tanpa menyimpang dari. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. istilah. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. upah. dan perikanan. Jika untuk menyatakan penghasilan. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. gunakan kata tidak meliputi. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. b. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. peternakan. Contoh 5. 212. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. pengertian. 215. atau digunakan singkatan atau akronim. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. Rumusan yang baik: 3. Contoh : 3. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain. Contoh : Istilah gaji. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c.

Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. c..000.00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . b. lebih mempermudah tercapainya kesepakatan. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a.000. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi. jumlah non-uang.. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. gunakan kata kecuali. mempunyai konotasi yang cocok. waktu. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. 220. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. 222. jumlah uang. d. mempunyai corak internasional. ditulis miring. atau e. b.000. dan diletakkan di antara tanda baca kurung. Contoh: . Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. Contoh : Kecuali A dan B. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. 221.00 (satu milyar rupiah). Contoh: . gunakan frase paling singkat atau paling lama. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. Untuk menyatakan makna tidak termasuk. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. jika kata atau frase tersebut: a. c. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia.000. bidang ketenagakerjaan) 217. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat.

Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif. Pasal 45. Pasal 46.. digunakan kata jika. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. Contoh : A atau B wajib memberikan. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). c. pelaut. atau frase dalam hal. digunakan kata atau. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. b. dan koki. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. digunakan kata dan. 227. 223. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu. gunakan kata selain. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. Untuk menyatakan makna termasuk. gunakan frase dan/atau. Untuk menyatakan sifat kumulafif. kecuali koki magang. apabila. Untuk menyatakan sifat alternatif. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. 226. juru mudi. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.. Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. 228. Contoh : A dan B dapat menjadi . 225. . 224. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka). a. izin perusahaan tersebut dapat dicabut.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim... Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan.

Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain. C. Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). gunakan kata wajib. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. gunakan kata berhak. Untuk menyatakan adanya larangan. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang. 229. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. 236. 232. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. 230. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . Untuk menyatakan adanya suatu hak.. Contoh: Untuk membangun rumah.Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan. 233. Persyaratan sebagaimana dimaksi. TEKNIK PENGACUAN 235. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut.. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga.. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234.. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. gunakan kata dilarang. .. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi. gunakan kata harus.. 231.

Contoh: a.. kecuali Pasal 7 ayat (1). Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan.b. 243. kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. 240.. Pasal 12. 238. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. Contoh : a. b. 241. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). b. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. .. . 237. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1).. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). . Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. Jika ada dua atau lebih pengacuan. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242. Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali.. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula.. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. 239. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4).

Mengingat: 1. 247. 2. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. 3. 246. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. 245. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. c. bahwa…. …. bahwa…. …. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . 244. dan seterusnya…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. b.Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). gunakan frase tetap berlaku. gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). Menimbang: a. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. dan seterusnya…. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut.

. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang).. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. bahwa…. Menimbang: a. b. ...... (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.. BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG. BAB .. Disahkan di Jakarta pada tanggal . RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. bahwa…..NOMOR… B..

. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… . Agar setiap orang mengetahuinya. dan seterusnya…. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. …. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . 3. Mengingat: 1..... Disahkan di Jakarta pada tanggal . C. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG. ….Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. dan seterusnya…. 2.c.Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

. dan seterusnya…. Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal..tentang.... Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi. ... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) ..tentang......... 3. c. (2) Salinan naskah asli Konvensi. (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya).(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) . bahwa . ... Menimbang: a.TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... Mengingat: 1.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). dan seterusnya......dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. Disahkan di Jakarta pada tanggal...... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI ... 2.

diubah sebagai berikut : 1.TAHUN. D. …. dan seterusnya. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang.. bahwa….. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan).. .. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..NOMOR.. ….(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun.(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.. b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua. c. bahwa…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Menimbang: a...Nomor…. dan seterusnya…. 3. dan seterusnya…. Mengingat: 1. Agar setiap orang mengetahuinya. 2. Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan...

... TAHUN .. (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal. b.. TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR. …..... bahwa…. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR .... 3.. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . TAHUN. ….. TENTANG ...... 2..... BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... c. Mengingat: 1. E. Pasal 2 .. Menimbang: a....Disahkan di Jakarta pada tanggal ... Nomor . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan seterusnya….. bahwa…. Pasal I Undang-Undang Nomor .. Tahun … tentang . NOMOR .) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).. TAHUN.... TENTANG.. dan seterusnya ...

. c. PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA. 3. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Menimbang: a. dan seterusnya…. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F.. TAHUN…TENTANG.. Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR . .. b. …. 2.. dan seterusnya…... DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Mengingat: 1. …. bahwa…. Disahkan di Jakarta pada tanggal ..Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan... Agar setiap orang mengetahuinya.

. ... G.Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. dan seterusnya.. Menimbang: a. bahwa….. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. dan seterusnya. Agar setiap orang mengetahuinya. Mengingat: 1. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku). PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.NOMOR. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor ..... 3.. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa….. b.. . 2. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN... c... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ... ... Disahkan di Jakarta pada tanggal ..

.. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG .. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal .... (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang)... BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya.. bahwa.. b. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H...... BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. BAB II . bahwa... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 1 .. BAB I .. .. Pasal .. Menimbang: a.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.c. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya... Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . dan seterusnya…. (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal .. dan seterusnya Mengingat: 1.. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. …. …. MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.. 3. I.. 2.

BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI. Menimbang: a.TAHUN.. BAB I . bahwa…. J... .. BAB.. dan seterusnya.... . bahwa…. dan seterusnya. Mengingat: 1...... MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden). Pasal.. b.. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya....DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal... Pasal 1 BAB II .. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA .. c.. memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... (Nama Provinsi) NOMOR. 3. 2....

.. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA .. dan seterusnya.. bahwa. Pasal ............. bahwa... K...GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi). Menimbang : a. c... .. . (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI .. (nama Peraturan Daerah Provinsi). BAB .. dan seterusnya . 3.... (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di . 2. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR.. Ditetapkan di. (nama kabupaten/kota) . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan......... (Nama Provinsi). pada tanggal ... pada tanggal.. GUBERNUR PROVINSI . (Nama Provinsi) TAHUN . b. NOMOR . BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II . memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi . Agar setiap orang dapat mengetahuinya... Mengingat: 1...... (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG ... SEKRETARTS DAERAH ..

(nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap. TAHUN .. b. BAB Il . Pasal....A....NOMOR .. (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) ... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I ..... dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA.. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota ... dan seterusnya Mengingat: 1. Ditetapkan di.. Agar setiap orang dapat mengetahuinya... TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota). Menimbang: a... bahwa..(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota). (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT.. 3.. 2.. (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG...... BUPATI/WALIKOTA . bahwa.. (nama kabupaten/kota). BAB. pada tanggal. original hilang.. ... c. .....

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful