UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. .Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah.

(2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). hubungan pusat dan daerah. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. Pasal 21 .BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. (2) Pengharmonisasian. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. pembulatan. Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. Presiden. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dalam keadaan tertentu. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.

Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Peraturan Pemerintah. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. rancangan peraturan pemerintah.

atau bupati/walikota. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. gabungan komisi. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. mengenai materi yang sama. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. pembentukan. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan pusat den daerah. komisi. dan penggabungan daerah. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . pemekaran. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. atau kota. kabupaten. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah.

pendidikan. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. dan agama. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2).Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas.

(2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. Pasal 41 . ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2).(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

(2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan. Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya.

c. Peraturan Bupati/Walikota. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.menempatkannya dalam a. Peraturan Presiden mengenai: 1. Berita Daerah. b. dan 2. atau d. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . d. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Peraturan Gubernur. meliputi: a. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. peryataan keadaan bahaya. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. c. Lembaran Daerah. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. Peraturan Pemerintah. b.

atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. harus dibaca peraturan. atau komisi yang setingkat. . Keputusan Menteri. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Keputusan Bupati/walikota. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. keputusan kepala badan. Keputusan Gubernur. Keputusan Bupati/Walikota. Keputusan Menteri. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. lembaga. Keputusan Gubernur. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Gubernur Bank Indonesia.

ttd. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004. Lambock V. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). dan c. Nahattands . BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar sedap orang mengetahuinya. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA.b. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. ttd. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Mengumumkan.

yang disingkat AB (Stb. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. 4. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. kebangsaan. 2. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. asas. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. tata cara penyiapan dan pembahasan. . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. terdapat pula ketentuan: a. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. c. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. d. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. b. Selain Undang-Undang tersebut. 3. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. yaitu: 1. penyusunan maupun pemberlakuannya. Mengumumkan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. teknik. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan.

Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. bertahap. Peraturan Pemerintah. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. Dalam Undang-Undang ini. terarah. maupun partisipasi masyarakat.e. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. pembahasan dan pengesahan. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. dan Peraturan Daerah. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. persiapan. II. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. dan terpadu. asas. 5. Rancangan Peraturan Pemerintah. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. pengundangan dan penyebarluasan. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. Peraturan Presiden. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. Ayat (2) . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. mengolah. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. dan Rancangan Keputusan Presiden. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.

Cukup jelas. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. penyusunan. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. berbangsa. Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. baik secara filosofis. . mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. Perundang-undangannya. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. persiapan. yuridis maupun sosiologis. Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat. dan bernegara. Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. Pasal 6 Ayat (1). sistematika dan pilihan kata atau terminologi. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan.

dan iktikad baik. asas legalitas. bermasyarakat. asas pembinaan narapidana. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. misalnya. antara lain. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. suku. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. dan bernegara. Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. suku dan golongan. misalnya. keserasian. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. dalam Hukum Perdata. antara lain. berbangsa. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. asas kesepakatan. antara lain: a. dalam Hukum Pidana. kondisi khusus daerah. ras. b. kebebasan berkontrak. golongan. atau status sosial. . gender. agama. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. dan asas praduga tak bersalah. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. dalam hukum perjanjian. keserasian. agama. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan". dan keselarasan.Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia.

Pasal 12 Cukup jelas. Menteri. Huruf b Cukup jelas. antara lain. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Mahkamah Agung. Bank Indonesia. Bupati/Walikota. Badan Pemeriksa Keuangan. Mahkamah Konstitusi. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Pasal 8 Cukup jelas. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Kepala Desa atau yang setingkat. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Huruf c Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Gubernur. kepala badan. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. . lembaga. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. dan edaran. radio. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. maupun media cetak seperti surat kabar. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. majalah. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 23 . Pasal 21 Cukup jelas. Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. secara berencana. Oleh karena itu. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. Di samping memperhatikan hal di atas. atau tahunan. Untuk maksud tersebut. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas.Pasal 14 Cukup Jelas. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. internet. Pasal 16 Cukup jelas. terarah. menengah.

penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. e. perhitungan anggaran negara. b. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. Radio Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Ayat (2) Cukup jelas. ratifikasi. Pasal 24 Cukup jelas. c. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. d.Cukup jelas. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. majalah. media cetak seperti surat kabar. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. dan f. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. Internet. dan edaran di daerah yang bersangkutan.

Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Ayat (4) Cukup jelas. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 43 . Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. sama dengan tanggal Pengundangan. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. misalnya. perwakilan rakyat daerah. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. misalnya. Pasal 54 . Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. dimungkinkan. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan. Peraturan Desa. Pasal 48 Cukup jelas. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Ayat (3) Cukup jelas. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. stasiun daerah. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan.Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. 1998) B. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES. 17. Dasar Hukum. perjanjian atau persetujuan internasional. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. Diktum. 18. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur .3.2. PEMBUKAAN 13. Konsiderans 16. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. 2.1. 4. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Konsiderans. 3. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. dan 5. B. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Jika dalam. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B. B.

26. Lihat juga Nomor 24. yuridis. c.filosofis. 20. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. 21. 22. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad.. Dasar Hukum 25.. 23. bahwa…... Lihat juga Nomor 20.. 19. c.... bahwa…. b. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. 24. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau .4. bahwa. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. Lihat juga Nomor 19. b. 27. Contoh: Menimbang: a. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden). c. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. bahwa…. 28. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. B.. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. bahwa…. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. bahwa…. bahwa…. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. b.. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut. 29.

. B. 2. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. …. dan seterusnya. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan.5. Penulisan undang-undang. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1. Contoh : Mengingat: 1. Diktum terdiri atas: . Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. Contoh Mengingat: 1. 31. Undang-Undang. 2.. 2. . 30.. 3 …. Diktum 35. 33. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. 2. Staatsblad 1847). Peraturan Pemerintah. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma.penetapannya. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. …. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 32. 3... Contoh: Mengingat: 1... 34. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. …. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan.

serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. Pada Undang-Undang.. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . kata Memutuskan. BATANG TUBUH 42. 40. (nama daerah). Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan .. (nama daerah) dan GUBERNUR .. Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Peraturan Presiden. secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. Peraturan Menteri. seperti Peraturan Pemerintah. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia. Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin.. C. b. Nama Peraturan Perundang-undangan.a. kata Menetapkan.... Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH. KEUANGAN ANTARA 41. Pada Peraturan Daerah. c. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39. 36. dan peraturan pejabat yang setingkat. 37..

(5) Ketentuan Penutup. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. denda administratif. 51. Huruf awal kata bagian. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Contoh: Bagian Kelima. pengawasan. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. dan Kereta Tempelan . atau daya paksa polisional. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. bagian. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. Materi yang bersangkutan. 52. Sanksi administratif dapat berupa. bab. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Saksi keperdataan dapat berupa. (2) Materi Pokok yang Diatur. 43. bagian. ganti kerugian. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. urutan bilangan. antara lain. 55. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. Pengelompokkan materi dalam buku. 50. antara lain. Kereta Gandengan. Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. 44. dan paragraf. dan sanksi administratif dalam satu bab. atau b.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. 46. bab. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. 49. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. b. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). dan paragraf. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. bagian. 47. 48. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). 45. pembubaran. bab. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. sanksi perdata. pemberhentian sementara. pencabutan izin. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan).

Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang. 63. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. 61. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. 59. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . 62. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. Contoh: Paragraf 1 Ketua. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. dan Hakim 58. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. 64.56. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. Wakil Ketua. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. 60. dan lugas. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. jelas. 66. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. 57. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. 65. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul.

rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. 67.. 71. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. telah terdaftar pada daftar pemilih.. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik. f. 2. (dan. atau. dan/atau) c.Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. b. . h. b. 69. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. e. yang diikuti dengan tanda baca titik. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat. Contoh: Pasal 9 (1) …. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif. 70. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. dan seterusnya. …. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. g. dan b. c. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian.. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. atau. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut. huruf b. 68. Jika rincian melebihi empat tingkat. dan seterusnya. Kata dan.: (2) …. b. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. …. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir.. …. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. d.: a. Contoh: a. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik.

…. …. (dan. ….: a.Contoh: Pasal 12 (1) ….. …. dan setcrusnya. dan/atau) c) … d. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. b) …. dan/atau) c. (dan. (dan. (dan. c. (dan. atau..: 1. dan/atau) 3. …. rincian itu ditandai dengan huruf a). … . …. (dan. b.. atau.. Contoh: Pasal 20 (1) …. …. dan/atau) 3. …. b. dan/atau) 3.: 1. atau. … 2. dan seterusnya. . atau.. 2).. b. a. 2. (dan. …: 1. (2) ….. rincian itu ditandai dengan angka 1).. . …: a) …. …. (2) ….. (3) …. atau. ….. 2. atau. dan/atau) c) …. dan/atau) 3. 2. dan/atau) c. ….: 1. …: a) …. b) …. …. …(dan. atau. ….. ….. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. atau. atau. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. b). (dan. dan/atau) c.

Karena batasan pengertian atau definisi. 78. dan tujuan. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. c. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut.C.1. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. 82. Ketentuan Umum 72. 73. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. singkatan. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. C. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. bagian atau paragraf tertentu. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. 81. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. 80. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. b. Ketentuan umum berisi: a. Materi Pokok yang Diatur 83. . batasan pengertian atau definisi. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. 74.2. b. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. 79. maksud. dan c. 75. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. 84. singkatan. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. Contoh a. 77. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. atau akronim berfungsi. Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab.

(5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. b. 90.3. atau c. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. tingkat kasasi. misalnya. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. c. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. dan peninjauan kembali. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. dan Jaksa Agung Muda. b. Wakil Jaksa Agung. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. 89. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. 87. 86. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. Dengan demikian. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. tingkat banding. penuntutan.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. 91. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. 92. . karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku. 93. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. subyek itu dirumuskan secara tegas. orang asing. perlu dihindari: a. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. penyidikan. ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. dimulai dari penyelidikan. seperti Jaksa Agung. Lihat juga Nomor 98. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan. seperti pembagian dalam hukum acara pidana.00 (seratus ribu rupiah). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. saksi. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. 88. C. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan.000. pegawai negeri.

dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp…………. 95.00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya.. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan.. pornografi..000. atau kumulatif alternatif.Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800. dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal.000.000. 96. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif.000. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana..00 (figa ratus juta rupiah).000. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000. Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif. 94.. 00.000.00 (delapan ratus juta rupiah).00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250. Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50.000. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme. 00 (tiga ratus juta rupiah).000. . atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. alternatif.000.

Pasal 13 dan Pasal 14. perkumpulan. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. 105. C. ketentuan pidananya harus dikecualikan. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. Penuntutan. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. misalnya. atau c.A. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. Undang-Undang Nomor 7 Drt. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. 103. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. perseroan. Badan hukum. b. kedua-duanya. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. kecuali untuk ketentuan pidananya. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. 97. 98. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. 99. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. Tahun 1955 tentang Pengusutan. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. 102. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. atau yayasan. 101. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. 104.

Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. dan lain-lain. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. b. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. nama singkat. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan. Tahun . 106.. . Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. misalnya. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. 108. C-5. mengatur (legislatif). Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. Ketentuan Penutup 110. b. b. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. 113.. misalnya. 112. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. mengangkat pegawai. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. menjalankan (eksekutif). 109.. dan d.. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini.. Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. c. 107. 114.. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada. 111. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin.

dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan.. Nomor 118. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. (2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931. Slaatsblad 1931: 133). 118.. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama.. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama. 122. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .. kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. Tahun .Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan. tentang . Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia. .undangan mana yang dicabut. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941. 116. Undang-undang Nomor . 119. peraturan lebih rendah. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 117.. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu).. Staasblad 1941 : 167)... Demi kepastian hukum. status hukum dari peraturan pelaksanaan. Contoh untuk.. Ikan. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. 115. atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut. 121. Staasblad 1931 : 134). 120.. 119.. Staasblad 1939: 733). Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat.. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.

123.. Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan.... Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. 126. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia.. 127. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. Undang-Undang Nomor . atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah.. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 125. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. b. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan.. gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.. 124. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a.Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000. Hindari frase . Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama.. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor ... ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan. 128.. mulai berlaku efektif pada tanggal ... c. Tahun tentang . atau yang sejenisnya. jika yang diberlakukan itu kodifikasi... (tenggang waktu) sejak . Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: .

Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya.a. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). berlaku surut). D. ayat (3). ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. b. Berita Negara Republik Indonesia. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. misalnya. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. c. c.. ayat (2). saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. sifat. hubungan hukum. 130. 135. atau Berita Daerah. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. baik jenis. 132. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. PENUTUP 134. tidak ikut diberlakusurutkan. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. maupun klasifikasinya. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. Lembaran Daerah. 131. 133. akhir bagian penutup. . dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. berat. dan d. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129.. b.

tanpa gelar dan pangkat. dan d. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. .(jenis Peraturan Perundang-undangan) . Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . memerintahkan..(Jenis Peraturan Perundang-undangan). tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan.. tanpa gelar dan pangkat. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah)... 142.. tanda tangan pejabat. 139. dan d. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a. PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA. b.136. nama jabatan. 143. tanda tangan NAMA 141. 140.. Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. nama lengkap pejabat yang menandatangani... c. b. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. tempat dan tanggal Pengundangan. memerintahkan pengundangan. Contoh . tanda tangan.. 137. 138. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a. nama jabatan yang berwenang mengundangkan. nama lengkap pejabat yang mendatangani. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. c. pengundangan.. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital..

. . Lembaran Daerah.. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan... 145. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. 151. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) ... jika diperlukan.. Oleh karena itu. Oleh karena itu.NOMOR.. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. 152. Lembaran Daerah. a. 147. NOMOR. Dengan demikian. 146. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut.. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. Lembaran Daerah. dan Berita Daerah tersebut. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan. PENJELASAN 148.Diundangkan di . dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia.. NOMOR. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. pada tanggal . Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Berita Negara Republik Indonesia. 153... Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.... Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan. Berita Negara Republik Indonesia.. E.. 149. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. TAHUN . MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. Berita Negara Republik Indonesia. b. 150. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan.

dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans. UMUM II... Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab. tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. 158...... Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain..diperhatikan agar rumusannya: a.. tidak mengulangi uraian kata... 155. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus . 159. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154. 160. UMUM (1) Dasar Pemikiran . (6) Pengawasan . (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan . Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah. istilah. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. (2) Pembagian Wilayah .. 157. tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . tujuan.Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . PASAL DEMI PASAL 156. maksud. Contoh: I. d. Contoh: I. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya. tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh.. (4) Daerah Otonom . jika hal ini lebih memberikan kejelasan. b. Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. TAHUN .. tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh.. c.. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan. (5) Wilayah Administratif . serta asas-asas. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum.

Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan. Ayat (4) Cukup jelas. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. Ayat (4) Cukup jelas. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. 161. tanda baca titik. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Cukup jelas. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan.. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. . jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. Pasal 9 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. b. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. 163. 162. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. a. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan.

BAB II HAL-HAL KHUSUS A. 168. dan b. PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165. diatur dengan. harus menyebut dengan tegas: a.. gunakan kalimat Ketentuan mengenai .. Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi).. a. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai .... b. hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . diatur dengan Peraturan Pemerintah... (1) . Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). Pendelegasian kewenangan mengatur.. Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran... 167.. Contoh hurif a: Pasal ..F. Contoh huruf b : Pasal . 166. (1) . jenis Peraturan Perundang-undangan.. diatur dengan Peraturan Pemerintah. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164. ruang lingkup materi yang diatur.. b. Contoh huruf b : .. a. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai ..diatur dengan atau berdasarkan... Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah.. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.... diatur dengan.. Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan... Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai .

. 175. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. Contoh : Pasal . 176. Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut . kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah.. Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya.. B. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan. Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah. 172.. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu.Pasal . Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. 181. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 173. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya. 178.. 171. 170. 180. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya . 169. 177. Jika pasal terdiri dari banyak ayat.. Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. (2) Ketentuan mengenai . Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang.. Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. PENYIDIKAN 179. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. (1) .. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan.

. b. 182. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. kecuall ditentukan lain secara tegas. 188. 184. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut..diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. yaitu sebagai berikut: a. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . 191.. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku.. otomatis tidak berlaku kembali. 185. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait. (nama departemen atau instansi). PENCABUTAN 183.. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan. 187. tetapi belum mulai berlaku.. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. . C.. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan.. Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. 189. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan. 186. tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. 190.

Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. angka.Tahun. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a.. setiap. c dan seterusnya).. bagian. juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. atau b. bab. 195. paragraf... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a..Nomor. 2. 3. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). maka bab. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. dan seterusnya). perubahan. 2. kata.. pasal 1 memuat. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192. 196.) diubah sebagai berikut : 1.. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. paragraf.... istilah.. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a. b. pasal. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada .tentang.. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). atau pasal baru.. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali. seluruh atau sebagian buku. 3. dan seterusnya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor.. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. bagian. kalimat. 194. paragaf. atau b. dan/atau ayat. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah. bagian. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang . Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. Jika materi perubahan lebih dari satu. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. Dalam hal tertentu. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun.D.. dan/atau tanda baca. b. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah... Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1.. c. c. 193. b...

198. 197. bagian paragraf. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. (1b) …. pasal. atau ayat. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. Contoh ... Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru. pasal. (2) …. paragraf. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab. b. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. c. maka urutan bab. Contoh 10. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. (1a) …. bagian. Contoh penyisipan bab: 15. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan.

berbunyi . pasal. atau butir. sebagaimana telah diubah beberapa kali. 2. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a... terakhir dengan Undang-Undang Nomor .... dan 3.. Tahun…tentang . terakhir dengan Undang-Undang Nomor . angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya.. dengan mengadakan penyesuaian pada : 1.. Tahun . ejaan. sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan. dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama. ayat.. 201... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. pasal. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen). tentang Perubahan Undang-Undang Nomor .... Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199. tentang . atau c. TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR... esensinya berubah... Pasal 16 dihapus 10. Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut. 200.. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah.. tentang. b. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor . sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan. bagian. paragraf... paragraf. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR . ayat. penyebutan-penyebutan. bagian.. angka. Tahun . TAHUN . urutan bab... Tahun .9. TAHUN… TENTANG …………………. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan..

PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. b. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. b. . Production. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. yang ditulis dengan angka Arab. yaitu sebagai berikut: a. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Produksi.. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku.. Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. E. Penimbunan. dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. yaitu sebagai berikut: a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .

bahasa Inggris. kebakuan.Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum. BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia. kelugasan. keserasian. . dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. maupun pengejaannya. BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . penyusunan kalimat.UNDANGAN A. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia.UNDANGAN 202. teknik penulisan. baik yang menyangkut pembentukan kata.

Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. menghormati. singkat. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. Contoh: . 209. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol. setia. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih. Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. Warna pintu rumah itu putih. jelas. gunakan kata meliputi. 208. Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. dan mudah dimengerti. dan memberi bantuan lahir bathin.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai.

. 215. 216. 214. b. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. 210. gunakan kata tidak meliputi. peternakan. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah.6. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. dengan tidak mengurangi. Menteri adalah Menteri Keuangan. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. istilah. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. 212. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. Pertanian meliput pula perkebunan. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. atau tanpa menyimpang dari. Jika untuk menyatakan penghasilan. Contoh : Istilah gaji. 211. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. dan perikanan. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. pengertian. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. 213. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain. Rumusan yang baik: 3. Pertanian meliputi perkebunan. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. atau digunakan singkatan atau akronim. upah. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. Contoh: a. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. Contoh : 3. Contoh 5. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu.

lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. atau e.. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. d. 220. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. Contoh: . jika kata atau frase tersebut: a. b. gunakan frase paling singkat atau paling lama.000. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. 222.000. bidang ketenagakerjaan) 217. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. Contoh: . dan diletakkan di antara tanda baca kurung. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan.000. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia.000. gunakan kata kecuali. b. mempunyai konotasi yang cocok. jumlah uang. c. waktu. jumlah non-uang. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. ditulis miring. mempunyai corak internasional. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B.00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . 221. c. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi.. Contoh : Kecuali A dan B. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. Untuk menyatakan makna tidak termasuk. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. lebih mempermudah tercapainya kesepakatan.00 (satu milyar rupiah).

Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). 227. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya. 223. digunakan kata atau. Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. Untuk menyatakan makna termasuk. 228. Untuk menyatakan sifat alternatif. Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan. a. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka). pelaut. 224. Pasal 46. atau frase dalam hal.. digunakan kata dan. 226. gunakan frase dan/atau. Pasal 45. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. dan koki. Contoh : A atau B wajib memberikan. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. 225. Untuk menyatakan sifat kumulafif. digunakan kata jika. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan. c. apabila. gunakan kata selain. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. kecuali koki magang. . sidang dipimpin oleh Wakil Ketua.. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. juru mudi.. Contoh : A dan B dapat menjadi .. b. Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. izin perusahaan tersebut dapat dicabut.

C.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. 233. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. 230. 229.. Untuk menyatakan adanya suatu hak. gunakan kata harus. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi. Persyaratan sebagaimana dimaksi.. Contoh: Untuk membangun rumah. Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan.. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal .. gunakan kata dilarang. . Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku. 231..Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. gunakan kata berhak. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. Untuk menyatakan adanya larangan. 232.. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang. gunakan kata wajib. TEKNIK PENGACUAN 235. 236. Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan.

. . kecuali Pasal 7 ayat (1). tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan... Contoh : a. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. Jika ada dua atau lebih pengacuan. Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. b.b.. 238. pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. 240. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4). kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). 241. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. Contoh: a. 243. 237. . Pasal 12. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. . 239. b. Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan.. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1)..

245.Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). Mengingat: 1. c. …. dan seterusnya…. Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. Menimbang: a.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. bahwa…. b. 246. 244. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. 2. gunakan frase tetap berlaku. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. dan seterusnya…. 3. 247. gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). bahwa…. kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . …. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang).... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal . RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG. BAB .. bahwa…... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA...NOMOR… B. BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal .... bahwa…. Menimbang: a. b..

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG.. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… .. Mengingat: 1.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. 3.Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. ….. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 2. Disahkan di Jakarta pada tanggal .. …. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. dan seterusnya…. dan seterusnya….. C.c.. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia..

.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) ..... 2..tentang... Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi. Disahkan di Jakarta pada tanggal.tentang. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI .. (2) Salinan naskah asli Konvensi.. dan seterusnya…...... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . dan seterusnya....(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya)..... . 3...dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Menimbang: a... Mengingat: 1.... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal..dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. c.TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. bahwa .. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) . (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal..

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. bahwa…. 3.NOMOR. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang. dan seterusnya…..... D.. b. dan seterusnya….Nomor….. c. …. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…)...TAHUN. 2. Menimbang: a.. diubah sebagai berikut : 1.. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. dan seterusnya. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan). bahwa…. Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. ….. Mengingat: 1. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.

TAHUN . (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.... c... b. bahwa….. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. 2. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. TENTANG . TAHUN.Disahkan di Jakarta pada tanggal .. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. Mengingat: 1.. 3. Nomor .. dan seterusnya….... TENTANG.. Pasal I Undang-Undang Nomor . Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR .... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. Menimbang: a. ….) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku)..... TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR.. TAHUN..... ….. bahwa…. Pasal 2 ........ dan seterusnya . Tahun … tentang . NOMOR . E... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal..

Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR . . b. bahwa…. Agar setiap orang mengetahuinya.. Menimbang: a.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan seterusnya…. 3. TAHUN…TENTANG... bahwa…. DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ….Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan seterusnya….. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Disahkan di Jakarta pada tanggal . Mengingat: 1... 2... c. PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F.. …. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Agar setiap orang mengetahuinya.. Menimbang: a.... b. 2... ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).....NOMOR... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.... bahwa….. . G.. dan seterusnya.. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. c. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. .... 3.. bahwa…. Disahkan di Jakarta pada tanggal . . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. dan seterusnya.. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. Mengingat: 1.Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

.... BAB II .MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG .. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal .. BAB I . Pasal ..... b. bahwa..... BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. . BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H. Pasal 1 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang: a..... bahwa. (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang)... memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA...

(tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal . …... dan seterusnya Mengingat: 1.. I. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .. MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. dan seterusnya…. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah).c. …. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) . BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. 2. 3..

. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI. c. 3. bahwa…. ... J... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. bahwa…... (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.....TAHUN. (Nama Provinsi) NOMOR.... memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden). BAB... dan seterusnya. . b... Pasal 1 BAB II .. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA . Pasal. BAB I . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. Mengingat: 1... Menimbang: a. 2.....DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan seterusnya....

pada tanggal.. pada tanggal . BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA ... NOMOR .... (Nama Provinsi) TAHUN ...... (nama Peraturan Daerah Provinsi)....GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi). Agar setiap orang dapat mengetahuinya. Menimbang : a.. b. (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Ditetapkan di.. SEKRETARTS DAERAH .. (Nama Provinsi)...... 2. c. (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG .. bahwa... memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi ...... Mengingat: 1. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II ..... bahwa.... . GUBERNUR PROVINSI . BAB . 3.. dan seterusnya... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR... . (nama kabupaten/kota) .. Pasal .. dan seterusnya .... (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di .. K...

. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I ...NOMOR . . bahwa... Menimbang: a.. pada tanggal.. b. BAB Il . BUPATI/WALIKOTA ...... kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) ..A.. (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG.. Agar setiap orang dapat mengetahuinya..... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota ... bahwa.... dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA... TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota).. 2. (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap.. BAB.. c. original hilang. (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT.. (nama kabupaten/kota).. 3.. TAHUN ...(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota). Ditetapkan di... dan seterusnya Mengingat: 1.. Pasal... .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful