UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah.Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. . (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan.

Pasal 21 . serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Presiden. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dalam keadaan tertentu. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. hubungan pusat dan daerah. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. pembulatan.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. (2) Pengharmonisasian. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah.

Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. rancangan peraturan pemerintah. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Peraturan Pemerintah. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 .(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat.

Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. komisi. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. pemekaran. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. mengenai materi yang sama. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. hubungan pusat den daerah. atau kota. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. pembentukan. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . kabupaten. atau bupati/walikota. gabungan komisi. dan penggabungan daerah. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah.

Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.Daerah. Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. pendidikan. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. dan agama. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.

(3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. Pasal 41 . (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah.

Lembaran Daerah.menempatkannya dalam a. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Peraturan Gubernur. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. c. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. b. b. Berita Daerah. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. d. Peraturan Pemerintah. Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Bupati/Walikota. c. Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. dan 2. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden mengenai: 1. atau d. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. meliputi: a. peryataan keadaan bahaya.

lembaga. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Keputusan Menteri. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. keputusan kepala badan. . Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. Keputusan Bupati/walikota. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Keputusan Bupati/Walikota. Keputusan Menteri. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. Keputusan Gubernur.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. harus dibaca peraturan. Keputusan Gubernur. atau komisi yang setingkat. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi.

Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini. Lambock V. Mengumumkan. dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. Nahattands . MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004. Agar sedap orang mengetahuinya.b. ttd. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan c. ttd. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. c. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. yaitu: 1. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. . teknik. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. asas. terdapat pula ketentuan: a. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Mengumumkan. 4. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. penyusunan maupun pemberlakuannya. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. yang disingkat AB (Stb. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. 3. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. d. b. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. kebangsaan. Selain Undang-Undang tersebut. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. tata cara penyiapan dan pembahasan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. 2.

sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Presiden. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang ini. maupun partisipasi masyarakat.e. persiapan. pembahasan dan pengesahan. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. bertahap. Ayat (2) . Peraturan Pemerintah. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. II. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. pengundangan dan penyebarluasan. dan Peraturan Daerah. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. 5. asas. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. dan terpadu. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. mengolah. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. terarah. dan Rancangan Keputusan Presiden. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. Rancangan Peraturan Pemerintah.

yuridis maupun sosiologis. Pasal 6 Ayat (1). baik secara filosofis. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. penyusunan. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. berbangsa. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. persiapan. Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. Perundang-undangannya. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka.Cukup jelas. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. . dan bernegara. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat.

antara lain. golongan. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. kebebasan berkontrak. antara lain: a. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. keserasian. misalnya. agama.Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. bermasyarakat. suku. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. dan keselarasan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan". Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. dalam Hukum Perdata. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. ras. asas pembinaan narapidana. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. antara lain. misalnya. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. . b. agama. keserasian. kondisi khusus daerah. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. atau status sosial. berbangsa. dalam hukum perjanjian. dan asas praduga tak bersalah. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. gender. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. dan iktikad baik. asas kesepakatan. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. suku dan golongan. dalam Hukum Pidana. dan bernegara. asas legalitas.

Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. Mahkamah Konstitusi. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Bank Indonesia.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. antara lain. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. . Mahkamah Agung. lembaga. Menteri. Pasal 8 Cukup jelas. Kepala Desa atau yang setingkat. Pasal 9 Cukup jelas. Gubernur. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Huruf b Cukup jelas. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Badan Pemeriksa Keuangan. Huruf c Cukup jelas. Bupati/Walikota. kepala badan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 12 Cukup jelas.

Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. Di samping memperhatikan hal di atas. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi. menengah. Pasal 23 . maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. maupun media cetak seperti surat kabar. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. Oleh karena itu. Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. Pasal 16 Cukup jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. atau tahunan.Pasal 14 Cukup Jelas. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. secara berencana. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. Untuk maksud tersebut. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. internet. dan edaran. Pasal 19 Cukup jelas. majalah. terarah. radio. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. Pasal 20 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.

Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. dan f. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . Radio Republik Indonesia. perhitungan anggaran negara. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. Ayat (2) Cukup jelas. majalah. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. dan edaran di daerah yang bersangkutan. e. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara.Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. media cetak seperti surat kabar. b. c. d. Internet. Pasal 24 Cukup jelas. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. ratifikasi.

Pasal 41 Cukup jelas. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 43 . Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. Pasal 39 Cukup jelas.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang.

atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan. sama dengan tanggal Pengundangan. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Pasal 48 Cukup jelas. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. misalnya. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. dimungkinkan. Pasal 54 . Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai. Pasal 46 Cukup jelas. stasiun daerah. misalnya.Cukup jelas. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. perwakilan rakyat daerah. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. Ayat (3) Cukup jelas. Peraturan Desa.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. perjanjian atau persetujuan internasional. B. 4. 17. Jika dalam. B. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa.1. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. 2. PEMBUKAAN 13. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi. Dasar Hukum. 1998) B.2. 18. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur . Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B. Konsiderans. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES.3. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15. dan 5. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Konsiderans 16. 3. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Diktum.

27. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. bahwa….. 21. bahwa. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut.. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku. bahwa….. 22. b. Contoh: Menimbang: a. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. Dasar Hukum 25. 28. b.. yuridis. bahwa….filosofis. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad. bahwa…. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. 23.4. 29. bahwa…. 24. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. 20. c. bahwa….. Lihat juga Nomor 20. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Lihat juga Nomor 24.. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut.. Lihat juga Nomor 19. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. 26. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau . Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan.. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut.. 19. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. c. c. b. B. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden)..

. 2. Contoh : Mengingat: 1. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Contoh: Mengingat: 1.penetapannya. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal.. dan seterusnya. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. 3. 2. 33.. ….. 32. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan. …. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Staatsblad 1847). . Contoh Mengingat: 1. 34. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. 3 …. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. …. 2. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Penulisan undang-undang. Peraturan Pemerintah. 30. Diktum 35. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma.. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung.. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan.5. Diktum terdiri atas: . tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1. 31. 2.. B.. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. Undang-Undang. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316).

kata Menetapkan. Pada Peraturan Daerah. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . (nama daerah) dan GUBERNUR . sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin. Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA ... seperti Peraturan Pemerintah. b. dan peraturan pejabat yang setingkat. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39. Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. C.. 36. 40. 37. Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH. Peraturan Presiden.a. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . Peraturan Menteri. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia.. Pada Undang-Undang. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. kata Memutuskan. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. BATANG TUBUH 42. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang... Nama Peraturan Perundang-undangan. (nama daerah).. c. KEUANGAN ANTARA 41..

Pengelompokkan materi dalam buku. 52. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). Sanksi administratif dapat berupa. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. Kereta Gandengan. bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). antara lain. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. 48. bagian. Huruf awal kata bagian. atau b. urutan bilangan. Contoh: Bagian Kelima. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. Saksi keperdataan dapat berupa. bab. 46. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. antara lain. 47. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. 49. bagian. dan paragraf. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. bab. pembubaran.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. bab. pencabutan izin. (2) Materi Pokok yang Diatur. denda administratif. dan paragraf. pengawasan. dan sanksi administratif dalam satu bab. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. 45. 55. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. b. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. 50. dan Kereta Tempelan . (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). 51. ganti kerugian. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. 44. Materi yang bersangkutan. pemberhentian sementara. (5) Ketentuan Penutup. atau daya paksa polisional. 43. sanksi perdata. bagian.

kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma.56. 57. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. 61. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. Wakil Ketua. jelas. 62. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. 66. dan lugas. 65. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. 64. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. Contoh: Paragraf 1 Ketua. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. dan Hakim 58. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. 60. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. 63. 59. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian.

telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin.: a. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. Jika rincian melebihi empat tingkat. yang diikuti dengan tanda baca titik.Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. . g. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut. Contoh: a. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. 69. atau. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup. telah terdaftar pada daftar pemilih. 2.. Contoh: Pasal 9 (1) …. h. …. b. …. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. huruf b. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian. …. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a.. 67. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. dan seterusnya. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik. c. b. f. atau. dan seterusnya. e. b. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka.: (2) …. d.. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir.. Kata dan. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. 71. dan/atau) c. 70. 68. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. dan b. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. (dan.

dan/atau) c) …. (dan. dan seterusnya.. …. …. . dan/atau) 3. c.: 1. …. dan setcrusnya. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. Contoh: Pasal 20 (1) …. … . atau. atau.. …: 1. atau. dan/atau) 3.. atau. dan/atau) c. (dan. (dan..: 1. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. b.. b) ….: 1. (dan.. (dan. dan/atau) c) … d. atau. 2. ….. (2) …. atau. …(dan. …. . dan/atau) c. …. atau. rincian itu ditandai dengan huruf a). … 2. …: a) ….: a. atau. (dan. a. (2) …. b). …: a) …. …. b.Contoh: Pasal 12 (1) …. ….. …. 2). ….. atau. …. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. dan/atau) c. 2. (3) …. …. (dan. (dan. 2. dan/atau) 3.. rincian itu ditandai dengan angka 1). b. b) …... dan/atau) 3. …. ….

80. Ketentuan umum berisi: a. maksud. 84. dan tujuan. . 74. dan c. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. c.2. 77. C. Karena batasan pengertian atau definisi. 81. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. 82. atau akronim berfungsi. 75. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum.C. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. Contoh a. Ketentuan Umum 72. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian.1. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. 73. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. b. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab. Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. Materi Pokok yang Diatur 83. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. 78. 79. singkatan. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. bagian atau paragraf tertentu. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. singkatan. b. batasan pengertian atau definisi.

ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. .000. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. subyek itu dirumuskan secara tegas. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. perlu dihindari: a. 92. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. 90. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. b. tingkat banding. c. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. Dengan demikian. seperti Jaksa Agung. Wakil Jaksa Agung. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.3. 89. 87. dan Jaksa Agung Muda. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. dan peninjauan kembali.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. Lihat juga Nomor 98. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. 93. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. 88. tingkat kasasi. orang asing. misalnya. 86. saksi. atau c. C. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. penyidikan. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. penuntutan. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. dimulai dari penyelidikan. 91. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.00 (seratus ribu rupiah). pegawai negeri. b. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. seperti pembagian dalam hukum acara pidana.

Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif. dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300. atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.00 (figa ratus juta rupiah). alternatif. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme.000. atau kumulatif alternatif. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.000.000.000.Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan.000..000..000. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800. .. pornografi.000. Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif.000.00 (delapan ratus juta rupiah). 96. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250. 94. 00 (tiga ratus juta rupiah). 95. 00..dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp………….00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya..000.

perkumpulan. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. misalnya. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. perseroan. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. b. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. 97. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. 104. Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. 99. 98. kedua-duanya. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. Pasal 13 dan Pasal 14. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab.A. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. atau c. ketentuan pidananya harus dikecualikan. Tahun 1955 tentang Pengusutan. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. kecuali untuk ketentuan pidananya. atau yayasan. 105. 102. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. 101. Undang-Undang Nomor 7 Drt. C. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . Badan hukum. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. Penuntutan. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. 103. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan.

misalnya. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan.. Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah .. 108.. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. 109. b. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. 113. menjalankan (eksekutif). saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. nama singkat. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. . Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. b. dan d. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. 107. penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. C-5.. 114. mengatur (legislatif). 106. Ketentuan Penutup 110. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan.. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan. Tahun . mengangkat pegawai. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan. misalnya. c. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. b. 112. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. 111.. dan lain-lain. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada.

Slaatsblad 1931: 133). . Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia. tentang .. 119. Demi kepastian hukum. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 118. 120. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ikan. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu).. Contoh untuk. Staasblad 1931 : 134)... 119. Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. peraturan lebih rendah. Staasblad 1939: 733). kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri. Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat.undangan mana yang dicabut. 122. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.... Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. status hukum dari peraturan pelaksanaan. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941. 115. atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut... pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Nomor 118.. Staasblad 1941 : 167). Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan. 117. 121. (2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931.Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan. 116. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. Undang-undang Nomor . Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .. Tahun ..

. Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan.. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36. hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah. 123.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.. Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. (tenggang waktu) sejak . karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif.. 127. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. Hindari frase .. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. 128..Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . 125. Undang-Undang Nomor .. Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan... Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.. Tahun tentang .. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. atau yang sejenisnya.. Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: .. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000.. b. mulai berlaku efektif pada tanggal . Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah .. 126. c. dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan. jika yang diberlakukan itu kodifikasi. 124.

pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya. akhir bagian penutup. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. 135. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. baik jenis. Lembaran Daerah. berlaku surut). Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. c. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . ayat (3). Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. b.. saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. PENUTUP 134. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. 130. 133. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. tidak ikut diberlakusurutkan. dan d. D. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. berat. sifat. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. ayat (2). Berita Negara Republik Indonesia. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. .a. c. maupun klasifikasinya. hubungan hukum. dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. atau Berita Daerah. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. b. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). misalnya. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. 131.. 132. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

.. c.. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. tanda tangan.. b. tanpa gelar dan pangkat.. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan.. tanpa gelar dan pangkat. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.(jenis Peraturan Perundang-undangan) . Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal ... tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . pengundangan. tanda tangan pejabat. b. dan d. 140. memerintahkan pengundangan. tempat dan tanggal Pengundangan. PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. nama jabatan yang berwenang mengundangkan. 137. dan d. 142. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. . Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. c. memerintahkan. nama jabatan. Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan)... ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah). Contoh .. tanda tangan NAMA 141. nama lengkap pejabat yang mendatangani.136. 143.. 139. tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma.(Jenis Peraturan Perundang-undangan). nama lengkap pejabat yang menandatangani. 138.

TAHUN . maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 146. Dengan demikian. Berita Negara Republik Indonesia. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan. Oleh karena itu. Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan. . hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan. pada tanggal . Berita Negara Republik Indonesia. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden..... Lembaran Daerah.. PENJELASAN 148. Lembaran Daerah. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan. jika diperlukan....... Berita Negara Republik Indonesia. a.. 150. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) . Oleh karena itu.. NOMOR. E. 153. Lembaran Daerah. b.. 147. 152.. NOMOR. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia.NOMOR. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. 151. dan Berita Daerah tersebut.. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut.. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan..Diundangkan di . Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. 149. 145. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia.

Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. serta asas-asas. Contoh: I. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya.. 158.. UMUM (1) Dasar Pemikiran .. 155. UMUM II... TAHUN .. tidak mengulangi uraian kata. (4) Daerah Otonom . Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab.diperhatikan agar rumusannya: a... 159.. jika hal ini lebih memberikan kejelasan. PASAL DEMI PASAL 156.. (5) Wilayah Administratif . (6) Pengawasan . tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh.. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum. (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan . Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain. dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans.. tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh.. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154. atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan. 160.. d. c. maksud. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. 157. (2) Pembagian Wilayah .. tujuan. b.. Contoh: I. tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus . Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. istilah.

Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut. Pasal 8 Cukup jelas. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Cukup jelas. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. a. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. tanda baca titik. . Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. Pasal 9 Cukup jelas.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Ayat (4) Cukup jelas. 162. b. 161.. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. 163. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7.

LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164.. b.. (1) .. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . ruang lingkup materi yang diatur.. Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi).... Contoh hurif a: Pasal . Pendelegasian kewenangan mengatur.. b.. jenis Peraturan Perundang-undangan... diatur dengan Peraturan Pemerintah. diatur dengan Peraturan Pemerintah. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai ... Contoh huruf b : Pasal . Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai . Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . 166. Contoh huruf b : . a. Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. diatur dengan. gunakan kalimat Ketentuan mengenai .. dan b. a.. harus menyebut dengan tegas: a.... hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan... (1) .. Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ..diatur dengan atau berdasarkan.F.. PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165. Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran. diatur dengan. 168.... diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. 167. BAB II HAL-HAL KHUSUS A.

172. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 181. 177. 171.Pasal . Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. (2) Ketentuan mengenai . Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu. PENYIDIKAN 179. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah... 176.. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan. Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut . Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya.. Jika pasal terdiri dari banyak ayat. B.. 180. Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang. Contoh : Pasal . Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. 170. Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan.. 178. 173. 175. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. 169. kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya ... (1) . karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya.. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah.

190. Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan. PENCABUTAN 183.. 188. 191. b. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait. Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. C. dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 189. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan. kecuall ditentukan lain secara tegas.. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. 182. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut.. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu. . 185. Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. 187... 184.. (nama departemen atau instansi). 186. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. yaitu sebagai berikut: a.. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri.) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. otomatis tidak berlaku kembali. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. tetapi belum mulai berlaku.

b. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a. pasal 1 memuat.. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192. pasal.) diubah sebagai berikut : 1. Jika materi perubahan lebih dari satu. seluruh atau sebagian buku.. bagian. dan seterusnya). c. setiap. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali.. c. 195. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a. angka.. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). b.. perubahan. atau b. dan/atau tanda baca.. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah. 193. 3. paragaf.. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang .Nomor.. dan/atau ayat.. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada . istilah.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a. 196.tentang. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:.. maka bab. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. bab.Tahun. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1. b. 3. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….D.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. 194. bagian. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah. c dan seterusnya). Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah.. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. dan seterusnya.. 2. 2. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan... juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). Dalam hal tertentu... Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a. bagian. kata.. atau pasal baru.. Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. atau b. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. paragraf.. kalimat. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor.. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. paragraf. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).

yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . 197. Contoh penyisipan bab: 15. maka urutan bab.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. (2) …. (1b) …. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. Contoh . Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. atau ayat. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Contoh 10. bagian. b. pasal. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab. c. penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. pasal. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. paragraf. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. 198. (1a) …. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. bagian paragraf. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan...

. atau c. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor . paragraf.. ayat.. TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR.. 201. sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya. bagian. bagian. perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan. Tahun ... TAHUN… TENTANG ………………….. esensinya berubah. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... Tahun…tentang .. pasal.9. 200. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan.. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen).. dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab... penyebutan-penyebutan. pasal... Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945... atau butir.. ayat. Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut.. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama.. terakhir dengan Undang-Undang Nomor . Pasal 16 dihapus 10. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199. sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan.. berbunyi . TAHUN . ejaan. tentang ... tentang. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a. Tahun . b. tentang Perubahan Undang-Undang Nomor . Tahun . paragraf. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... dengan mengadakan penyesuaian pada : 1. urutan bab. terakhir dengan Undang-Undang Nomor . angka. dan 3. 2. sebagaimana telah diubah beberapa kali.

Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. E. . yaitu sebagai berikut: a. yang ditulis dengan angka Arab. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. Penimbunan.. yaitu sebagai berikut: a. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Produksi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. b. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. F. dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. b.. Production. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian.UNDANGAN 202. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. bahasa Inggris. teknik penulisan. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. penyusunan kalimat. . BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia. Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia. kelugasan. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. baik yang menyangkut pembentukan kata. BAHASA PERATURAN PERUNDANG .Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.UNDANGAN A. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum. keserasian. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. maupun pengejaannya. kebakuan.

gunakan kata meliputi. Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. Warna pintu rumah itu putih. Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. dan mudah dimengerti. menghormati. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. 208. singkat. Contoh: . Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. jelas. 209. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. dan memberi bantuan lahir bathin. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. setia.

rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. Pertanian meliputi perkebunan. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. Contoh: a. 211. Contoh 5. 210. 212. istilah. atau digunakan singkatan atau akronim. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. Jika untuk menyatakan penghasilan. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. . dengan tidak mengurangi. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. 214. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. Contoh : Istilah gaji. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. gunakan kata tidak meliputi. dan perikanan.6. 213. 216. Menteri adalah Menteri Keuangan. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. 215. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. Contoh : 3. atau tanpa menyimpang dari. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. pengertian. Pertanian meliput pula perkebunan. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. Rumusan yang baik: 3. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. upah. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. b. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. peternakan.

ditulis miring..000. d. Contoh : Kecuali A dan B.000. Untuk menyatakan makna tidak termasuk. jumlah uang. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. Contoh: . Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. bidang ketenagakerjaan) 217. Contoh: . jika kata atau frase tersebut: a.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. gunakan frase paling singkat atau paling lama. mempunyai corak internasional. 222. c. jumlah non-uang. gunakan kata kecuali. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. 220.00 (satu milyar rupiah). atau e. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. dan diletakkan di antara tanda baca kurung.. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi.00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. c.000. b. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun.000. mempunyai konotasi yang cocok. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. 221. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. lebih mempermudah tercapainya kesepakatan. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. b. setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan. waktu.

Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. 225. a. 228. digunakan kata dan. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). 223.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7.. c. gunakan kata selain. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. Untuk menyatakan makna termasuk. apabila. Pasal 46. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. juru mudi. Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu. atau frase dalam hal. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. b. Contoh : A dan B dapat menjadi . Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka). Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif. Untuk menyatakan sifat kumulafif. izin perusahaan tersebut dapat dicabut.. digunakan kata jika. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Untuk menyatakan sifat alternatif. pelaut. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan. 227. 226. . kecuali koki magang. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). 224. dan koki.. gunakan frase dan/atau. Pasal 45. digunakan kata atau. Contoh : A atau B wajib memberikan. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan.. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya.

gunakan kata wajib. gunakan kata berhak. gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku. Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain.. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum. Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan.. gunakan kata harus. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan.. 233. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. C. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga. TEKNIK PENGACUAN 235. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . 230. 236.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). . Persyaratan sebagaimana dimaksi. 232. Contoh: Untuk membangun rumah. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang.. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi.Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. Untuk menyatakan adanya larangan. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. 231. gunakan kata dilarang.. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. Untuk menyatakan adanya suatu hak. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. 229..

Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. b. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. . tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. Jika ada dua atau lebih pengacuan.. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. Contoh: a. Contoh : a. 240. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4). Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari.. 241. 237. 238. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada).b.. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan... . Pasal 12. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali Pasal 7 ayat (1). Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan. 243. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan. Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. b.. pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. 239. .

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). bahwa…. 3. 245. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 246. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. 244. bahwa…. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. Mengingat: 1. 2. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. …. Menimbang: a. kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. gunakan frase tetap berlaku.Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). dan seterusnya…. dan seterusnya…. ….Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. 247. c. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. b.

Disahkan di Jakarta pada tanggal . bahwa….. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. b. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. BAB .... (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.NOMOR… B. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG.... MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa…. BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal . Menimbang: a.....PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang). (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. .

C. Agar setiap orang mengetahuinya.. ….Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan...c.. …. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Mengingat: 1. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. dan seterusnya….. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal . dan seterusnya…. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… . MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. 3... 2.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini..

.......(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). . dan seterusnya…........ Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. c. Disahkan di Jakarta pada tanggal. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . bahwa .. dan seterusnya.tentang.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) .. 2.tentang... Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi. Menimbang: a. (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal.... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI . Mengingat: 1.dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini....TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA...(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) .. (2) Salinan naskah asli Konvensi....dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. 3.

bahwa…. b. dan seterusnya.. 3.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua. bahwa…..... …. . …. D. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. c.TAHUN. dan seterusnya….. 2. Agar setiap orang mengetahuinya. Menimbang: a. dan seterusnya…. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Nomor…. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan)..(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.NOMOR.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. Mengingat: 1... BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang. diubah sebagai berikut : 1. Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

bahwa…. TAHUN...... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR . 2. TAHUN . c... E... 3... b.. dan seterusnya…. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. bahwa…. TENTANG.. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. NOMOR . Pasal I Undang-Undang Nomor . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor... …. Menimbang: a.. Nomor .Disahkan di Jakarta pada tanggal ... Tahun … tentang ....... TENTANG ... ….. Pasal 2 .. TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. dan seterusnya . (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA....) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku)..... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Mengingat: 1.... TAHUN.

b... Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR .. bahwa…. bahwa…. …. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG. dan seterusnya…. .. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . TAHUN…TENTANG.. 3. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. c.Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Menimbang: a. Mengingat: 1. Agar setiap orang mengetahuinya. dan seterusnya…. DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal .. PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA. 2.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F... …..

Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. . b... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .. Mengingat: 1. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... dan seterusnya. Menimbang: a. 2.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. dan seterusnya.. . ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).. Disahkan di Jakarta pada tanggal .. bahwa…... Agar setiap orang mengetahuinya. G. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... c.. bahwa…... . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ...NOMOR... RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. 3..

. bahwa. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.. BAB I .. bahwa.. . Pasal 1 . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .. Pasal ..... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H..... TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang).. BAB II . b. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia...... Menimbang: a. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ..MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG . BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya...

MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. I.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ….c. …. BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal . 2.. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). 3. dan seterusnya…. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan seterusnya Mengingat: 1. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) ..... Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .

.. dan seterusnya.. dan seterusnya.. (Nama Provinsi) NOMOR. b. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya... bahwa….. 2. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI.. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal.. ...TAHUN. J.DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. 3. Pasal.. BAB I . Pasal 1 BAB II . c.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Menimbang: a.. BAB. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden).. Mengingat: 1... TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ...... bahwa…........ .

SEKRETARTS DAERAH . Agar setiap orang dapat mengetahuinya.. Pasal . bahwa. K. bahwa... (Nama Provinsi) TAHUN ..GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi)... pada tanggal. (nama kabupaten/kota) ... 3...... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II . Menimbang : a... (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan......... Mengingat: 1.. BAB .... c. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR.. NOMOR ... (nama Peraturan Daerah Provinsi). (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI ... b. (Nama Provinsi). dan seterusnya ... dan seterusnya. (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di .. pada tanggal ...... (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG ..... 2.. memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi . GUBERNUR PROVINSI .. ... .. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA .. Ditetapkan di.

.... 2. Pasal.. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. pada tanggal... BAB Il .. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota).. bahwa.. kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) . . (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap.... dan seterusnya Mengingat: 1.. bahwa. TAHUN .. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I ... Ditetapkan di.(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota).. (nama kabupaten/kota). Menimbang: a.. c..... (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG... b..A..NOMOR ..... 3.... (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan..... (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT. BAB. BUPATI/WALIKOTA . original hilang.. dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA.. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful