P. 1
Undang-undang_no_10_thn_2004.pdf

Undang-undang_no_10_thn_2004.pdf

|Views: 16|Likes:
uu
uu

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: Feirus Rizki Dwilaksana on Oct 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/17/2014

pdf

text

original

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. . (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.

Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Dalam keadaan tertentu. pembulatan. Pasal 21 . (2) Pengharmonisasian. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. hubungan pusat dan daerah. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan.

rancangan peraturan pemerintah. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. Peraturan Pemerintah. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden.

dan penggabungan daerah. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. pemekaran. komisi. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. pembentukan. atau kota. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. kabupaten. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. gabungan komisi. atau bupati/walikota. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota. mengenai materi yang sama. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. hubungan pusat den daerah.

(4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.Daerah. (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. dan agama. Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. pendidikan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 41 . maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama.(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.

Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya. maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama.

peryataan keadaan bahaya. meliputi: a. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . b. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Bupati/Walikota. Lembaran Negara Republik Indonesia. d. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. atau d. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Presiden mengenai: 1. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Peraturan Gubernur. Berita Daerah. dan 2. Berita Negara Republik Indonesia. c. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. c. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. b. Peraturan Pemerintah. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lembaran Daerah. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.menempatkannya dalam a.

Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. lembaga. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Keputusan Gubernur. Keputusan Bupati/Walikota. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Keputusan Menteri. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. keputusan kepala badan. Keputusan Menteri. Keputusan Bupati/walikota. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. atau komisi yang setingkat. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Keputusan Gubernur. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. harus dibaca peraturan. .

Mengumumkan. dan c. Agar sedap orang mengetahuinya. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Nahattands . ttd. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini.b. ttd. Lambock V. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004.

Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. yang disingkat AB (Stb. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. . c. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. penyusunan maupun pemberlakuannya. d. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. kebangsaan. 4.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. Selain Undang-Undang tersebut. teknik. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. Mengumumkan. 2. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. terdapat pula ketentuan: a. asas. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. yaitu: 1. b. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. tata cara penyiapan dan pembahasan. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara.

Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. maupun partisipasi masyarakat. mengolah. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. dan Rancangan Keputusan Presiden. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. persiapan. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. bertahap. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. Peraturan Pemerintah. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. Peraturan Presiden. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. asas. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. pembahasan dan pengesahan. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. terarah. pengundangan dan penyebarluasan. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. II. 5. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. Rancangan Peraturan Pemerintah. dan Peraturan Daerah. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. Dalam Undang-Undang ini.e. dan terpadu. Ayat (2) .

Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. . Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. berbangsa. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. dan bernegara. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. yuridis maupun sosiologis. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. baik secara filosofis. Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat.Cukup jelas. Perundang-undangannya. penyusunan. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. persiapan. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. Pasal 6 Ayat (1). Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan.

dan bernegara. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. keserasian. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. suku. dan keselarasan. dalam Hukum Perdata. agama. gender. b. misalnya. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. asas kesepakatan. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. dan iktikad baik. suku dan golongan. atau status sosial. antara lain. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. berbangsa. keserasian. misalnya. kondisi khusus daerah. agama. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. antara lain: a. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. antara lain. dan asas praduga tak bersalah.Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. . asas legalitas. bermasyarakat. kebebasan berkontrak. asas pembinaan narapidana. dalam hukum perjanjian. dalam Hukum Pidana. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan". Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. golongan. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. ras.

Pasal 9 Cukup jelas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Mahkamah Agung. antara lain. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. lembaga. . Mahkamah Konstitusi. Bupati/Walikota. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Huruf c Cukup jelas. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Kepala Desa atau yang setingkat. Badan Pemeriksa Keuangan. Huruf b Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. kepala badan. Bank Indonesia. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Gubernur. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. Menteri.

Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas.Pasal 14 Cukup Jelas. Ayat (2) Cukup jelas. menengah. maupun media cetak seperti surat kabar. Pasal 16 Cukup jelas. majalah. terarah. atau tahunan. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. Pasal 20 Cukup jelas. Pasal 19 Cukup jelas. Pasal 18 Cukup jelas. dan edaran. internet. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. Di samping memperhatikan hal di atas. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. radio. secara berencana. Pasal 23 . Oleh karena itu. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. Untuk maksud tersebut. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. Pasal 21 Cukup jelas.

media cetak seperti surat kabar. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. Pasal 24 Cukup jelas. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. majalah. Internet. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. d. b. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. c.Cukup jelas. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. perhitungan anggaran negara. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. Radio Republik Indonesia. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. e. dan f. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. ratifikasi. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . dan edaran di daerah yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas.

Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. Pasal 43 . gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. Pasal 54 . Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai. misalnya. Pasal 47 Cukup jelas. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. Peraturan Desa. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. misalnya. dimungkinkan. perwakilan rakyat daerah.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. stasiun daerah. sama dengan tanggal Pengundangan. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan.Cukup jelas. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Pasal 48 Cukup jelas. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B.3. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi. 18. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur .2. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. 17. PEMBUKAAN 13. Diktum. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15. Dasar Hukum.1. Konsiderans 16. 2. B. Konsiderans. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. perjanjian atau persetujuan internasional. 3. B. 4. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1.Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. dan 5. 1998) B. Jika dalam.

.. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. b. Contoh: Menimbang: a.. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau . 26. Dasar Hukum 25. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. B. b. yuridis.4. 27. bahwa. Lihat juga Nomor 24. 24. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. bahwa…. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. bahwa….. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. c.. 22. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran.. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden). Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut.. 19. Lihat juga Nomor 20. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. bahwa…. b. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. bahwa….. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad. 23. c. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. bahwa…. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. Lihat juga Nomor 19. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. bahwa…. c. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. 29. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut.filosofis. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. 28. 20.. 21. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku.. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan.

dan seterusnya. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal. 30. 2. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. Peraturan Pemerintah. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital.. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan. 33.. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. …. 3 …. Staatsblad 1847). dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1.. 2. Undang-Undang.. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 3. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Diktum terdiri atas: . B. …. 2.. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). .penetapannya. Contoh: Mengingat: 1.5.. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 34. Penulisan undang-undang. …. 32... 2. Contoh Mengingat: 1. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Contoh : Mengingat: 1. Diktum 35. 31.

. kata Menetapkan.. Peraturan Menteri. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. 40.a... Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. (nama daerah). Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. seperti Peraturan Pemerintah... BATANG TUBUH 42. kata Memutuskan. 37. KEUANGAN ANTARA 41. b. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. Pada Undang-Undang.. Nama Peraturan Perundang-undangan. Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH. C. (nama daerah) dan GUBERNUR . sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . 36. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Pada Peraturan Daerah. Peraturan Presiden. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin. dan peraturan pejabat yang setingkat.. c. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua.

bagian. bab. bab. (2) Materi Pokok yang Diatur. pemberhentian sementara.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. pengawasan. ganti kerugian. Pengelompokkan materi dalam buku. 51. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). 47. denda administratif. 44. 52. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. Sanksi administratif dapat berupa. 45. Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. antara lain. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Contoh: Bagian Kelima. Kereta Gandengan. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. urutan bilangan. 50. dan paragraf. antara lain. pembubaran. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. sanksi perdata. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Huruf awal kata bagian. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. 48. dan paragraf. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. atau b. 49. b. bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. dan Kereta Tempelan . Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). bab. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. bagian. 46. Materi yang bersangkutan. 55. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. atau daya paksa polisional. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. bagian. 43. Saksi keperdataan dapat berupa. Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. dan sanksi administratif dalam satu bab. pencabutan izin. (5) Ketentuan Penutup. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53.

Wakil Ketua. dan Hakim 58. 64. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. 62. 66. 57. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. 60. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. 59. dan lugas. Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. 63. jelas. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. Contoh: Paragraf 1 Ketua. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang.56. 61. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. 65. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi.

f. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian.Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. c. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup. . Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. b. Jika rincian melebihi empat tingkat. dan/atau) c. (dan. g. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. …. e. 67.. dan seterusnya.: (2) …. 2. d. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. atau. b. 70. …. dan seterusnya. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir.. huruf b. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. b. 69.: a. telah terdaftar pada daftar pemilih. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. Contoh: a. …. h.. dan b. yang diikuti dengan tanda baca titik. atau. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. Kata dan. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif.. 68. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. Contoh: Pasal 9 (1) …. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik. 71. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut.

... atau. atau. ….. …(dan. b. (2) …. … 2. (dan... 2. ….Contoh: Pasal 12 (1) ….. dan/atau) c.. …: a) …. . atau. (dan. …. rincian itu ditandai dengan angka 1). …. …: a) ….. atau. dan/atau) 3. 2.: 1. …. b) …. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a.. atau. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. …. dan/atau) c. …. b) …. atau. …..: 1. (dan. (dan..: a. (dan.: 1. rincian itu ditandai dengan huruf a). dan/atau) c. 2). (3) …. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. dan/atau) 3. … . dan/atau) 3. …. dan setcrusnya. …. a. atau. b. (dan. b). dan/atau) 3. …. 2. c. ….. …. dan seterusnya. (dan. Contoh: Pasal 20 (1) …. (dan. dan/atau) c) …. b. (2) …. …. dan/atau) c) … d. atau. …: 1. atau.

hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. singkatan. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. dan c. . Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab. maksud. 81. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. atau akronim berfungsi. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. C. 78. b. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. Materi Pokok yang Diatur 83. 75. dan tujuan. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. b. 84. 74.2. batasan pengertian atau definisi. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. bagian atau paragraf tertentu. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. Karena batasan pengertian atau definisi. Ketentuan umum berisi: a. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. 77. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. Contoh a. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. singkatan. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. 82. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. 79. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76.1. Ketentuan Umum 72. 80. c. 73.C.

atau c. 90. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. b. Lihat juga Nomor 98.000.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku.00 (seratus ribu rupiah). tingkat kasasi. subyek itu dirumuskan secara tegas. seperti Jaksa Agung. misalnya. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. 87. orang asing. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). perlu dihindari: a. pegawai negeri. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. dimulai dari penyelidikan. 93. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. 89. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. dan peninjauan kembali. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. b. c. Wakil Jaksa Agung. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. 92. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Dengan demikian. C. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. 86. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan.3. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. saksi. penuntutan. tingkat banding. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. dan Jaksa Agung Muda. 88. ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. 91. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. seperti pembagian dalam hukum acara pidana. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. penyidikan. . jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama.

Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800.00 (delapan ratus juta rupiah).000. 94.00 (figa ratus juta rupiah).000. 00 (tiga ratus juta rupiah).000. atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya. . Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50..000. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan. 95. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300.Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan. atau kumulatif alternatif. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme. 96.000. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal.. pornografi..00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya.. alternatif. dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.. 00.000.dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp………….000.000.000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.

Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. b. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab.A. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. C. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. Pasal 13 dan Pasal 14. 104. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. Tahun 1955 tentang Pengusutan. 105. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. kecuali untuk ketentuan pidananya. Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. 97. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. 102. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. kedua-duanya. Penuntutan. misalnya. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. 99.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. 98. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. perkumpulan. Undang-Undang Nomor 7 Drt. Badan hukum. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. atau c. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. ketentuan pidananya harus dikecualikan. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. atau yayasan. perseroan. 103. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. 101.

Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a.. mengangkat pegawai. c. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. 112. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. misalnya. 108. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. dan d. 106. b. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada. misalnya.. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. menjalankan (eksekutif). Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian... Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. Ketentuan Penutup 110. Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. dan lain-lain. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan.. b.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. 113. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut. C-5. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. Tahun . nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan. 107. 114. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan. . 111. 109. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. mengatur (legislatif). ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. nama singkat.. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. b.

kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri. Nomor 118.. 119. dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan. Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat. 115. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. status hukum dari peraturan pelaksanaan.Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan.. Undang-undang Nomor . dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. Staasblad 1931 : 134). Tahun . (2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931.. 118.. Slaatsblad 1931: 133). Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940. .. peraturan lebih rendah.. Demi kepastian hukum. Staasblad 1941 : 167). Ikan. atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu). pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941.. tentang . 119. 122. 120.. 121. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .undangan mana yang dicabut... 117.. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . 116. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. Staasblad 1939: 733). Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama.. Contoh untuk. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia.

. 128.. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. 123. c. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini.. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia.... atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah.. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan. gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. (tenggang waktu) sejak . Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama. Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . jika yang diberlakukan itu kodifikasi... Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor ... 126. Undang-Undang Nomor . Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Tahun tentang .. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan. atau yang sejenisnya.. 124.Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 127. 125. Hindari frase . Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000. mulai berlaku efektif pada tanggal . Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan... b. Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: .

Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. Berita Negara Republik Indonesia. 131. baik jenis. c. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu.a. pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. 130. b. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. berlaku surut). Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. sifat. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. . D. dan d. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . atau Berita Daerah. akhir bagian penutup. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). 133. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. ayat (3). ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. PENUTUP 134. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. tidak ikut diberlakusurutkan. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. b.. maupun klasifikasinya. 135. Lembaran Daerah. hubungan hukum. ayat (2). jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. 132. misalnya. saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. berat. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. c.

Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a. b. c. 138. tanpa gelar dan pangkat. memerintahkan pengundangan. tanda tangan pejabat. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital... Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma.. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a.. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. tanda tangan NAMA 141. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. 137. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. tempat dan tanggal Pengundangan... dan d. .. Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . memerintahkan.(jenis Peraturan Perundang-undangan) . nama jabatan yang berwenang mengundangkan. nama lengkap pejabat yang menandatangani. 139. tanda tangan. pengundangan.. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah). 142. tanpa gelar dan pangkat. Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). b. c. nama jabatan. Contoh .(Jenis Peraturan Perundang-undangan). tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan. PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA.. 140.. dan d.136. nama lengkap pejabat yang mendatangani. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. 143.

153. 145. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan.. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut. Dengan demikian. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia. dan Berita Daerah tersebut. 152. NOMOR..... Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. jika diperlukan.. Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. Oleh karena itu. 146.. b. Berita Negara Republik Indonesia. a. 151.Diundangkan di . 147. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. E. TAHUN . Lembaran Daerah. . pada tanggal . Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota. Lembaran Daerah. PENJELASAN 148. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan. NOMOR. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. Berita Negara Republik Indonesia. Oleh karena itu..NOMOR. 149. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia.. Lembaran Daerah. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh.. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) .. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan... hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan... Berita Negara Republik Indonesia.. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan.. 150.

(6) Pengawasan . 157. PASAL DEMI PASAL 156. tidak mengulangi uraian kata. maksud.. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran.. (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan . Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah. 155. dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans. 159. Contoh: I.. UMUM (1) Dasar Pemikiran . tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. c.. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154. Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain... istilah.. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus . UMUM II.... TAHUN . tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. (5) Wilayah Administratif ... serta asas-asas. tujuan. 160. 158. d..Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . Contoh: I. tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . b.. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum.. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya. (2) Pembagian Wilayah . Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab. tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh. jika hal ini lebih memberikan kejelasan.diperhatikan agar rumusannya: a.. (4) Daerah Otonom . atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan.

b. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut. Ayat (2) Cukup jelas. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. 162. tanda baca titik. Ayat (4) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. . a. 163. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7.. Ayat (3) Cukup jelas. 161. Cukup jelas. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas.

. diatur dengan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai ... a. ruang lingkup materi yang diatur.. Contoh huruf b : . dan b. Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi)...F. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran... Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164... jenis Peraturan Perundang-undangan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai .. harus menyebut dengan tegas: a. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . a. diatur dengan Peraturan Pemerintah. (1) . Pendelegasian kewenangan mengatur. Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah. gunakan kalimat Ketentuan mengenai . 167. Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai ... diatur dengan.... PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165. Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai . hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. diatur dengan Peraturan Pemerintah.. BAB II HAL-HAL KHUSUS A...... b. (1) . 168... 166. Contoh huruf b : Pasal .diatur dengan atau berdasarkan. b. Contoh hurif a: Pasal ...

173.. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. 181. B. Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat.. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan.. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. 178. kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari.. 175. 172. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu... Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut . Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya. (2) Ketentuan mengenai . PENYIDIKAN 179. Contoh : Pasal . 170. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya .. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. 171.Pasal . 176. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. 180. Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. 177. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya. (1) . Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang.. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah.. 169. Jika pasal terdiri dari banyak ayat. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah.

otomatis tidak berlaku kembali. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan... tetapi belum mulai berlaku. 189.) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. PENCABUTAN 183. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 188.. (nama departemen atau instansi). tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana.. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu. 182. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan.. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan. 185.. 187. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. kecuall ditentukan lain secara tegas. b. C.. 190.. Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . 184. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . . yaitu sebagai berikut: a. 186. Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri. 191.

. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a. Dalam hal tertentu. perubahan. 195. kata. b. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan. 193. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a.. bab.. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). atau b. setiap.. b. 2. dan/atau tanda baca.. c. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah. Jika materi perubahan lebih dari satu. paragaf. dan/atau ayat. 196. juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. b. 194. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada .... (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…... Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.. 3. 2. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192.. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…)..Nomor...tentang.D. 3. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1... pasal..Tahun. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. kalimat. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. atau b. bagian. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. dan seterusnya). bagian. angka. maka bab.. atau pasal baru.. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. istilah. bagian. paragraf.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. c dan seterusnya). dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah. c. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a. pasal 1 memuat. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang . dan seterusnya. paragraf.) diubah sebagai berikut : 1. seluruh atau sebagian buku.

(2) …. bagian paragraf. (1b) ….. penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . (1a) …. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. maka urutan bab. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. 198. pasal. bagian. Contoh . pasal.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. Contoh penyisipan bab: 15. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab. c. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan. Contoh 10. atau ayat. paragraf. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus.. 197. b.

esensinya berubah. ejaan. penyebutan-penyebutan. dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama. atau butir. bagian. berbunyi .... Tahun ... Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR .. ayat. ayat. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor . b. tentang.. urutan bab.. dengan mengadakan penyesuaian pada : 1.9... TAHUN… TENTANG ………………….. pasal. angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya. atau c. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah. dan 3. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen)... tentang Perubahan Undang-Undang Nomor . Tahun…tentang .... angka.. paragraf. sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. terakhir dengan Undang-Undang Nomor .. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a.. 2. terakhir dengan Undang-Undang Nomor .. Tahun . sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan. 201. tentang ... TAHUN .. TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR. Tahun . Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut. Pasal 16 dihapus 10. sebagaimana telah diubah beberapa kali. 200. pasal. bagian. perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. paragraf...

Penimbunan. .. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Production. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. F. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. Produksi. yaitu sebagai berikut: a. yang ditulis dengan angka Arab. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. E. b.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. yaitu sebagai berikut: a. b.

dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum.UNDANGAN A. Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia. teknik penulisan.Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. kebakuan. bahasa Inggris. maupun pengejaannya. keserasian. BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian.UNDANGAN 202. baik yang menyangkut pembentukan kata. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. . kelugasan. penyusunan kalimat. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. BAHASA PERATURAN PERUNDANG .

Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol. dan memberi bantuan lahir bathin. Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. dan mudah dimengerti. Warna pintu rumah itu putih. 209. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. setia. 208. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. Contoh: . singkat. gunakan kata meliputi. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. menghormati. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. jelas. Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih.

atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. Contoh 5. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. Contoh : Istilah gaji. upah. 213. Rumusan yang baik: 3. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. peternakan. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. gunakan kata tidak meliputi. 216. 214. dan perikanan. atau digunakan singkatan atau akronim. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. Contoh: a. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. Jika untuk menyatakan penghasilan. 215. 212. . Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES.6. 210. atau tanpa menyimpang dari. Pertanian meliputi perkebunan. pengertian. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. Menteri adalah Menteri Keuangan. 211. istilah. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain. Contoh : 3. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. dengan tidak mengurangi. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. Pertanian meliput pula perkebunan. b.

lebih mempermudah tercapainya kesepakatan. mempunyai corak internasional.000. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. gunakan kata kecuali. b. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. 222. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun.000.000. b. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. c. jumlah uang.000. gunakan frase paling singkat atau paling lama.. bidang ketenagakerjaan) 217. ditulis miring. Contoh: . d.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya.00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. 220.00 (satu milyar rupiah). Contoh: . setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan. jumlah non-uang.. 221. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. Untuk menyatakan makna tidak termasuk. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. Contoh : Kecuali A dan B. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. c. dan diletakkan di antara tanda baca kurung. waktu. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. atau e. jika kata atau frase tersebut: a. mempunyai konotasi yang cocok.

Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu. digunakan kata dan. Contoh : A atau B wajib memberikan. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Pasal 46. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.. gunakan frase dan/atau. Contoh : A dan B dapat menjadi . pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. b. digunakan kata jika. 224. dan koki.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. . digunakan kata atau. 228. izin perusahaan tersebut dapat dicabut. gunakan kata selain. atau frase dalam hal. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. Untuk menyatakan makna termasuk. Untuk menyatakan sifat alternatif. kecuali koki magang. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan. 227. 225.. 223. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya. c. Pasal 45. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. 226. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka).. pelaut. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). juru mudi. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan.. apabila. Untuk menyatakan sifat kumulafif. a.

Untuk menyatakan adanya larangan. gunakan kata wajib. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. 229. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan.. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu. 233.. Untuk menyatakan adanya suatu hak. . gunakan kata harus.. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang. 232. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan. Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan. Persyaratan sebagaimana dimaksi. gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku..Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut.. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga. gunakan kata berhak. Contoh: Untuk membangun rumah. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . 231. TEKNIK PENGACUAN 235.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). C. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum. gunakan kata dilarang. Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain. 236.. 230. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a.

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. Pasal 12. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242. Contoh: a.. . 237.. Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Jika ada dua atau lebih pengacuan. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). 239. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. b. 238. kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. b. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4). 240. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. 243. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu.. Contoh : a.. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. .b.. Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. . Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. kecuali Pasal 7 ayat (1). 241.. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4).

245.Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. Menimbang: a. b. c. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. bahwa…. dan seterusnya…. 246. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan seterusnya…. 2. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. gunakan frase tetap berlaku. Mengingat: 1. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. 247. 3. …. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. bahwa…. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. 244. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. ….

Disahkan di Jakarta pada tanggal . memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal .. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.... RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. BAB . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..NOMOR… B. b. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG...PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang).. bahwa….. . MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.. Menimbang: a. bahwa…...

Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Mengingat: 1. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya.. dan seterusnya…. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG. ….. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… . 3. 2. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.. Disahkan di Jakarta pada tanggal ...Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. dan seterusnya….. C. …. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ..c.

Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal.tentang.. (2) Salinan naskah asli Konvensi. dan seterusnya. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. Disahkan di Jakarta pada tanggal.. . Mengingat: 1. 2.... dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal... dan seterusnya…....... c.tentang..(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya)..TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI .... (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya).. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan....(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) .... bahwa . . 3. Menimbang: a. Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.....dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) .

. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan). D. dan seterusnya….. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang. Menimbang: a.TAHUN.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. bahwa…. …. Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. bahwa…. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 3.. dan seterusnya. …. Agar setiap orang mengetahuinya. b.(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). 2.... BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. . memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. Mengingat: 1. c. diubah sebagai berikut : 1..NOMOR..Nomor….. dan seterusnya…. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua..

.. dan seterusnya….... Nomor . Pasal 2 .... TENTANG ... …. Tahun … tentang ..... TAHUN. (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.......) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku). bahwa….... ….. Mengingat: 1.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. E.. 3.. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . b. TAHUN ... TAHUN. dan seterusnya .. Pasal I Undang-Undang Nomor ... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal.. 2. TENTANG. Menimbang: a.Disahkan di Jakarta pada tanggal ... TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. c.. NOMOR ... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR .. bahwa….

2. PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA.. c... dan seterusnya…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Mengingat: 1. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F.... Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR . bahwa…. bahwa…. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . TAHUN…TENTANG.. Menimbang: a. dan seterusnya…. 3. b. . ….. Disahkan di Jakarta pada tanggal . Agar setiap orang mengetahuinya.. DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. ….

.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. 2... ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku). TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. G...... bahwa…. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... c. bahwa…. ... Mengingat: 1. . dan seterusnya..... Menimbang: a.NOMOR. b..... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 3. Agar setiap orang mengetahuinya.Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. dan seterusnya. Disahkan di Jakarta pada tanggal ...

. bahwa... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya. b. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H. BAB II ........ (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ... Menimbang: a. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. bahwa.. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.. Pasal ... Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . BAB I ...MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG . TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang)... Pasal 1 . .

2.. (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal . …. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . dan seterusnya Mengingat: 1.c. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ….. MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR... BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia... 3. dan seterusnya…. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) . I.

(tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. c. J.. 2.DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.....TAHUN.. dan seterusnya. BAB I . TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA ....... (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.. (Nama Provinsi) NOMOR. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. b.. dan seterusnya....... Pasal 1 BAB II .. Menimbang: a. BAB....... 3. bahwa…. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden). Mengingat: 1. .. .. memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI. Pasal. bahwa…..

... 2.... Ditetapkan di. (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG ... Pasal .. GUBERNUR PROVINSI . Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR.. (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan....... dan seterusnya.. bahwa... (nama kabupaten/kota) . b. memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi .... bahwa... Agar setiap orang dapat mengetahuinya.. Mengingat: 1. NOMOR .... .. K.. 3.. dan seterusnya . pada tanggal .. BAB . pada tanggal. SEKRETARTS DAERAH .GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi)... c. (Nama Provinsi) TAHUN ... (nama Peraturan Daerah Provinsi). (Nama Provinsi)... (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di . .. Menimbang : a.... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II ...... BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA ....

.. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota). ... kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) .NOMOR .A.(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota). (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap. bahwa. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota .. Ditetapkan di..... 2.. BAB. dan seterusnya Mengingat: 1... Pasal. Agar setiap orang dapat mengetahuinya.... TAHUN .... c....... BAB Il . pada tanggal. (nama kabupaten/kota). BUPATI/WALIKOTA ....... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I .. (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG.. .. original hilang.. Menimbang: a. 3. (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT.. b. dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA... bahwa. (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan...

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->