UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. . (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan.Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional.

dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. hubungan pusat dan daerah. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. Presiden. (2) Pengharmonisasian. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. (3) Dalam keadaan tertentu. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. pembulatan. (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah. Pasal 21 .

Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. Peraturan Pemerintah. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut. (2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. rancangan peraturan pemerintah. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden.

(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi. pemekaran. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. kabupaten. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. gabungan komisi. komisi.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . mengenai materi yang sama. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. atau kota. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. pembentukan. dan penggabungan daerah. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. atau bupati/walikota. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. hubungan pusat den daerah.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut.Daerah. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. dan agama. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . pendidikan. Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak.

Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. Pasal 41 . disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota.

maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan. Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya.

d. dan 2. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. Berita Daerah. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. meliputi: a. (2) Peraturan Gubernur. Lembaran Daerah. c. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Bupati/Walikota. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. c. Peraturan Presiden mengenai: 1. b. b. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . Peraturan Pemerintah. peryataan keadaan bahaya. atau d. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.menempatkannya dalam a. (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. lembaga. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Keputusan Gubernur. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. Keputusan Menteri. Keputusan Bupati/Walikota. atau komisi yang setingkat. harus dibaca peraturan. dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. Keputusan Gubernur. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Keputusan Bupati/walikota. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Keputusan Menteri. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. keputusan kepala badan. . Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah.

yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini.b. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. ttd. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. ttd. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. Agar sedap orang mengetahuinya. Mengumumkan. Nahattands . dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Lambock V. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). dan c.

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. terdapat pula ketentuan: a. d. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. penyusunan maupun pemberlakuannya. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. . segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. kebangsaan. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 3. 4. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. asas. tata cara penyiapan dan pembahasan. Mengumumkan. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. Selain Undang-Undang tersebut. yaitu: 1. yang disingkat AB (Stb. 2. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. b. c. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. teknik. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal.

dan Rancangan Keputusan Presiden. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. Dalam Undang-Undang ini. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. asas. mengolah. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. Peraturan Pemerintah. Peraturan Presiden.e. Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Rancangan Peraturan Pemerintah. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. bertahap. Ayat (2) . berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. II. 5. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. dan terpadu. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. pengundangan dan penyebarluasan. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. persiapan. maupun partisipasi masyarakat. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. pembahasan dan pengesahan. dan Peraturan Daerah. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. terarah. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini.

Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. sistematika dan pilihan kata atau terminologi. dan bernegara. baik secara filosofis.Cukup jelas. yuridis maupun sosiologis. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. Pasal 6 Ayat (1). apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. Perundang-undangannya. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. berbangsa. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. penyusunan. . Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat. persiapan.

dan iktikad baik. bermasyarakat. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan".Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. kebebasan berkontrak. dan asas praduga tak bersalah. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. suku. berbangsa. dalam Hukum Perdata. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. . dalam hukum perjanjian. misalnya. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. asas kesepakatan. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. kondisi khusus daerah. agama. b. asas pembinaan narapidana. keserasian. dan keselarasan. dan bernegara. asas legalitas. ras. antara lain: a. misalnya. gender. suku dan golongan. golongan. antara lain. agama. dalam Hukum Pidana. antara lain. keserasian. atau status sosial. Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila.

kepala badan. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. Bank Indonesia. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. Gubernur. Kepala Desa atau yang setingkat. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Huruf c Cukup jelas. Bupati/Walikota. Ayat (3) Cukup jelas. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. Pasal 9 Cukup jelas. . Mahkamah Konstitusi. Menteri. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Badan Pemeriksa Keuangan. Huruf b Cukup jelas. antara lain. Mahkamah Agung. Pasal 8 Cukup jelas. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. lembaga.

Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. majalah. Pasal 19 Cukup jelas. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. atau tahunan. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. dan edaran. Pasal 16 Cukup jelas. radio. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. internet. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. menengah. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi.Pasal 14 Cukup Jelas. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. Pasal 20 Cukup jelas. Oleh karena itu. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. maupun media cetak seperti surat kabar. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. Pasal 18 Cukup jelas. terarah. secara berencana. Pasal 21 Cukup jelas. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. Untuk maksud tersebut. Di samping memperhatikan hal di atas. Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. Pasal 23 . Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya.

penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. perhitungan anggaran negara. b. perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. media cetak seperti surat kabar.Cukup jelas. majalah. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. dan f. d. e. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. c. Radio Republik Indonesia. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang. Pasal 24 Cukup jelas. Internet. ratifikasi. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. dan edaran di daerah yang bersangkutan. Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan.

kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Ayat (3) Cukup jelas. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pasal 43 . Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 39 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas.

sama dengan tanggal Pengundangan. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. Pasal 46 Cukup jelas. Peraturan Desa. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas.Cukup jelas. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan. misalnya. perwakilan rakyat daerah. Pasal 47 Cukup jelas. stasiun daerah. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan.mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. dimungkinkan. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. Pasal 48 Cukup jelas. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. misalnya. Pasal 54 . melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. Ayat (3) Cukup jelas.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA.2. 1998) B. dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan.Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. 18. dan 5. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. B. Diktum. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur .3. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi. Konsiderans 16. Dasar Hukum. 2. Konsiderans. 3. 4. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES. 17. PEMBUKAAN 13. Jika dalam. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15.1. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B. perjanjian atau persetujuan internasional. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. B.

c. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. bahwa…. bahwa….. rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut. bahwa…. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau . bahwa…. yuridis. Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad.. b. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. 22. bahwa…. bahwa…. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut. 21. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. 23.. B. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian.. Lihat juga Nomor 20. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu.. 27. c.4. Contoh: Menimbang: a..filosofis. 24. Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. 28. bahwa.. 20. c. 26. Lihat juga Nomor 19. 19.. 29.. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden). b. b. Lihat juga Nomor 24. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma.. Dasar Hukum 25.

3 …. Contoh: Mengingat: 1..5.. Diktum 35. 34. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). …. Diktum terdiri atas: . Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. B. . 2. 2. …. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan. tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1. 32. Penulisan undang-undang. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan. dan seterusnya. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital.penetapannya. Staatsblad 1847). Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. 30. Undang-Undang.. Peraturan Pemerintah. 31. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung. …. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Contoh : Mengingat: 1. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital.. 2. Contoh Mengingat: 1.. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 2. 33.. 3...

Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH.. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Peraturan Presiden. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . Peraturan Menteri. dan peraturan pejabat yang setingkat. secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH .. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38. Pada Undang-Undang. 37. 40. 36. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia... seperti Peraturan Pemerintah. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. C. Nama Peraturan Perundang-undangan. b. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. c. Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. Pada Peraturan Daerah.. Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. (nama daerah) dan GUBERNUR . BATANG TUBUH 42.. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. kata Memutuskan. Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39. (nama daerah). kata Menetapkan.a... KEUANGAN ANTARA 41.

Huruf awal kata bagian. bagian. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. bab. Kereta Gandengan. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Materi yang bersangkutan. 52. antara lain. bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). 50. dan paragraf. bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). Pengelompokkan materi dalam buku. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). pemberhentian sementara. 44. b. 43. pengawasan. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. 46. atau daya paksa polisional. 47. (5) Ketentuan Penutup. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. pencabutan izin. antara lain. ganti kerugian. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. (2) Materi Pokok yang Diatur. Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). Contoh: Bagian Kelima. sanksi perdata. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. 45. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. Sanksi administratif dapat berupa. pembubaran. 49. Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. Saksi keperdataan dapat berupa. dan paragraf.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). bagian. denda administratif. atau b. Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. bab. bagian. dan Kereta Tempelan . bab. 48. 55. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. 51. dan sanksi administratif dalam satu bab. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. urutan bilangan. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur.

57. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan.56. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. 62. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. 63. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. dan Hakim 58. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. 66. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 65. 60. 59. Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. Contoh: Paragraf 1 Ketua. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. 61. 64. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. jelas. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. dan lugas. Wakil Ketua. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang.

2. yang diikuti dengan tanda baca titik. Kata dan. b. f. d. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. g. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. b. dan/atau) c. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. 68. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. b. …. 67. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. 69. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut.: a. …. c.. huruf b. Jika rincian melebihi empat tingkat. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat.Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a. Contoh: Pasal 9 (1) …. 71. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup.. dan seterusnya. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup.. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik. e. (dan. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. dan seterusnya. atau. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. …. . 70. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil.: (2) …. Contoh: a. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif.. h. dan b. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian. telah terdaftar pada daftar pemilih. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. atau.

b. (dan. b. rincian itu ditandai dengan angka 1). (dan. c. atau. (dan. dan seterusnya.. dan/atau) c. ….. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. 2. …. … 2.. ….: 1. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. … . …. dan/atau) c) …. . (dan. …. (dan. (dan. atau. …. dan/atau) c) … d. atau.. Contoh: Pasal 20 (1) ….. (dan. …. 2. (3) …. …. …: a) …. dan/atau) 3. …. b) …. (2) …. dan/atau) c.: 1. (dan. b.. atau.: a. …. …. ….Contoh: Pasal 12 (1) …. …. b). 2. …(dan. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. atau. dan/atau) 3. dan/atau) 3. 2)... …: 1.: 1. atau.. …. b) …. atau. dan/atau) 3. rincian itu ditandai dengan huruf a). (2) …. a. atau.. . dan setcrusnya... dan/atau) c. atau. …: a) ….

Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. c.2. b. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. Materi Pokok yang Diatur 83.C. Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. dan tujuan. 82. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. 80. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum. batasan pengertian atau definisi. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan. dan c. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. 84. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. Karena batasan pengertian atau definisi. Ketentuan Umum 72. 81. 73. singkatan. 75. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. Contoh a. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. 79. C. bagian atau paragraf tertentu.1. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. atau akronim berfungsi. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. 77. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. maksud. b. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. 74. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. . Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. Ketentuan umum berisi: a. singkatan. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. 78.

Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. Lihat juga Nomor 98.000. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. dan peninjauan kembali. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. dan Jaksa Agung Muda. seperti Jaksa Agung. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. orang asing. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). atau c. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. saksi. misalnya. ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. 89. 93. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. c.(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. perlu dihindari: a. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. tingkat banding. 88. 91. pegawai negeri. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang. dimulai dari penyelidikan. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. Dengan demikian. C.00 (seratus ribu rupiah). Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan.3. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. b. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. penyidikan. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. 90. tingkat kasasi. 87. Wakil Jaksa Agung. penuntutan. . Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. seperti pembagian dalam hukum acara pidana. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. subyek itu dirumuskan secara tegas. 86. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. 92. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. b. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama.

000..000.00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.00 (delapan ratus juta rupiah). . Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50.00 (figa ratus juta rupiah). (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. 94..000. dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.. rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300. atau kumulatif alternatif. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme.Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan. 00 (tiga ratus juta rupiah).. Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800.000. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif. 95.000.000. atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.000. pornografi. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal.00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya.dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp…………. 00.000. 96. alternatif.000.000..

Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . kecuali untuk ketentuan pidananya. C. perseroan. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. 105. Pasal 13 dan Pasal 14. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. atau yayasan. Tahun 1955 tentang Pengusutan. ketentuan pidananya harus dikecualikan. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. 98. atau c. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. Penuntutan. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. perkumpulan. kedua-duanya. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. 99. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab.A. 102. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. Badan hukum. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. 101. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. 104. 97. 103. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. misalnya. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. Undang-Undang Nomor 7 Drt. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. b.

bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu. mengatur (legislatif). 109. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. b. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. c. mengangkat pegawai. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian... dan d. . Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. 107. Ketentuan Penutup 110. misalnya. 111. 113. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan. b. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. b. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. nama singkat.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. 112. nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan.. dan lain-lain.. menjalankan (eksekutif). memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. 108. penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan.. 106. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada. Tahun . Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud. Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. 114. misalnya.. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan. C-5.

Demi kepastian hukum. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. status hukum dari peraturan pelaksanaan. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.undangan mana yang dicabut. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941.. Staasblad 1931 : 134).. Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. Slaatsblad 1931: 133). Staasblad 1941 : 167). Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama..Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu). Undang-undang Nomor . Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat. 120. Contoh untuk. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. 121. kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri. 122. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi.... 117. Ikan. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. 116. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . 119. Staasblad 1939: 733). pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. .. 118. (2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai. 115. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Nomor 118. atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut... tentang . 119. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. peraturan lebih rendah. Tahun . di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940...

Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan.. c..... Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama... Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan.. Undang-Undang Nomor . jika yang diberlakukan itu kodifikasi. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif. Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: .. (tenggang waktu) sejak . atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah... Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. 125. Tahun tentang . (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . 128. 127.. Hindari frase . Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000.. atau yang sejenisnya. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36. 124. mulai berlaku efektif pada tanggal . 123.. Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan... gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.. b. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia. 126. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan.

sifat. 131. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya.. ayat (3). Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . 135. akhir bagian penutup. misalnya. 133. hubungan hukum. berlaku surut). ayat (2). Berita Negara Republik Indonesia. dan d. tidak ikut diberlakusurutkan. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. D. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. b. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. c. b. Lembaran Daerah. PENUTUP 134. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. berat. c.a. maupun klasifikasinya. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya.. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. . 132. Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 130. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). baik jenis. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. atau Berita Daerah.

tanda tangan NAMA 141. tanpa gelar dan pangkat. c.. dan d. 138. 140. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a. tanda tangan. memerintahkan. Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital.. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah).. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. tanpa gelar dan pangkat. .. nama lengkap pejabat yang mendatangani. tempat dan tanggal Pengundangan. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. 139.. tanda tangan pejabat. nama jabatan. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan.136. 142.. b. b.(jenis Peraturan Perundang-undangan) . Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma.. nama lengkap pejabat yang menandatangani.. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. nama jabatan yang berwenang mengundangkan. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. 143. 137. dan d. Contoh . pengundangan. memerintahkan pengundangan..(Jenis Peraturan Perundang-undangan).. Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). c..

150. Lembaran Daerah. Lembaran Daerah. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota. 146. Berita Negara Republik Indonesia. Dengan demikian. Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .NOMOR. NOMOR. . NOMOR. Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . 153..Diundangkan di . Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. jika diperlukan. 152. 147.. dan Berita Daerah tersebut. a. 149. Oleh karena itu.. Berita Negara Republik Indonesia. TAHUN . penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia.. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. pada tanggal . 151. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan.. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan. PENJELASAN 148.. Berita Negara Republik Indonesia.. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah.. dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.. 145.. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) . Lembaran Daerah. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. b. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan. Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan.. Oleh karena itu. dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia.. Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan. E.......

jika hal ini lebih memberikan kejelasan.. tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. 158.. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum. (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan . d. PASAL DEMI PASAL 156....... UMUM II.Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. maksud. Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain. 159.. 157. TAHUN . Contoh: I. Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus . tujuan... (2) Pembagian Wilayah . (5) Wilayah Administratif . 155. Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah. 160.. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya.. tidak mengulangi uraian kata. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan. tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh.. tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . Contoh: I. c. serta asas-asas.. UMUM (1) Dasar Pemikiran . dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans. Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab. (4) Daerah Otonom .. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154. istilah.diperhatikan agar rumusannya: a. (6) Pengawasan . b.

Ayat (4) Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. tanda baca titik. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut. Cukup jelas. 163.. Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. Pasal 8 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. a. Pasal 9 Cukup jelas. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. b. 161. 162. Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. .sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. Ayat (3) Cukup jelas.

. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai .. b...diatur dengan atau berdasarkan. diatur dengan.. 167. Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai . Contoh huruf b : . hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. Pendelegasian kewenangan mengatur. jenis Peraturan Perundang-undangan. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164. dan b. Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran... Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). diatur dengan Peraturan Pemerintah. PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165... 168. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah. Contoh huruf b : Pasal . harus menyebut dengan tegas: a. b.F. a. 166. Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi).. ruang lingkup materi yang diatur. (1) ... a...... Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai ..... diatur dengan Peraturan Pemerintah.. Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.. Contoh hurif a: Pasal .. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai .. (1) . diatur dengan.. gunakan kalimat Ketentuan mengenai . BAB II HAL-HAL KHUSUS A.

pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah. 181. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan. Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang...... Jika pasal terdiri dari banyak ayat. 175. Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya. B. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. 173. 170. 176. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya. 172. Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174. (1) . Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah. 171.Pasal . diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 178.. kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. Contoh : Pasal .. 180. Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. (2) Ketentuan mengenai . 169. PENYIDIKAN 179. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya . Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut ... Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. 177.

Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru. kecuall ditentukan lain secara tegas. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula..) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. 186. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. 184. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. . 188. yaitu sebagai berikut: a... Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan . 189. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan. 182... Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait. 190. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.. pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri.. Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. 191. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. b. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu.. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. tetapi belum mulai berlaku. 185. PENCABUTAN 183. C. otomatis tidak berlaku kembali. dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 187. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (nama departemen atau instansi).

menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a.. seluruh atau sebagian buku. c dan seterusnya).. maka bab. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192. c. 196.. paragaf.D.. 3. bagian. atau b. kalimat. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1. atau pasal baru. 2. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali.. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). kata. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. perubahan... juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. pasal 1 memuat. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. b. dan seterusnya.tentang.. 2. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. dan seterusnya). Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. 194.. dan/atau tanda baca. bagian. Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). setiap. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. paragraf. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan. c.Nomor.. bagian.. 193.. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…).) diubah sebagai berikut : 1. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada . menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan.. selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a.Tahun.. istilah..... pasal. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah. Jika materi perubahan lebih dari satu. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. 195. atau b. b. Dalam hal tertentu.. angka. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. b. yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah.. bab. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor.. 3. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang . paragraf. dan/atau ayat.

(1a) …. paragraf. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. atau ayat. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. maka urutan bab.. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. Contoh 10. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. bagian paragraf. pasal. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . Contoh . b. (2) …. c. 197. Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru. pasal. bagian. (1b) ….. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. Contoh penyisipan bab: 15. 198.

... terakhir dengan Undang-Undang Nomor . Tahun .. TAHUN… TENTANG …………………. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen). dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. 2...... 200. pasal...9. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah. dan 3. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama. dengan mengadakan penyesuaian pada : 1. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. atau c. Tahun .. angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya... pasal. Pasal 16 dihapus 10... bagian.... 201. Tahun…tentang ... ejaan. atau butir. esensinya berubah. Tahun . urutan bab. ayat.. berbunyi . tentang Perubahan Undang-Undang Nomor . bagian. ayat. paragraf. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan. tentang. paragraf. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor . tentang .. Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut. TAHUN . sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. penyebutan-penyebutan. terakhir dengan Undang-Undang Nomor . sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR. b. sebagaimana telah diubah beberapa kali.. angka.. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR . perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan.

Penimbunan. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. yang ditulis dengan angka Arab. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. Produksi. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. . dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini.. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .. yaitu sebagai berikut: a. F.sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. E. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. b. Production. b. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. yaitu sebagai berikut: a.

Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia. BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. maupun pengejaannya. bahasa Inggris. teknik penulisan. BAHASA PERATURAN PERUNDANG .Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. kelugasan. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. kebakuan. baik yang menyangkut pembentukan kata. keserasian. Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia.UNDANGAN A. penyusunan kalimat.UNDANGAN 202. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian. dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum.

Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. jelas. dan mudah dimengerti. Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. gunakan kata meliputi. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207. Contoh: . (2) Pintu rumah ita warnanya putih. singkat. 208. Warna pintu rumah itu putih. dan memberi bantuan lahir bathin. setia. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. 209. menghormati.

pengertian. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. Pertanian meliputi perkebunan. Contoh : 3. 216. Rumusan yang baik: 3. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. upah. Contoh : Istilah gaji. 214. gunakan kata tidak meliputi. 215. Contoh 5. Contoh: a. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. dan perikanan.6. Jika untuk menyatakan penghasilan. . peternakan. b. atau digunakan singkatan atau akronim. dengan tidak mengurangi. atau tanpa menyimpang dari. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi. Pertanian meliput pula perkebunan. Menteri adalah Menteri Keuangan. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. 213. 211. 212. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. 210. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut. istilah. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen.

. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. Contoh: . 222. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. 221.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. jika kata atau frase tersebut: a. b. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. 220.000. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. lebih mempermudah tercapainya kesepakatan. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. Contoh: . waktu.00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan.000.00 (satu milyar rupiah). Untuk menyatakan makna tidak termasuk. d. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. atau e. ditulis miring. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak.000. dan diletakkan di antara tanda baca kurung. c. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi. mempunyai konotasi yang cocok. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun.000. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. mempunyai corak internasional. gunakan kata kecuali. jumlah non-uang. b. bidang ketenagakerjaan) 217. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia. Contoh : Kecuali A dan B. gunakan frase paling singkat atau paling lama. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. jumlah uang. setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan. jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat. c. lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia..

. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. izin perusahaan tersebut dapat dicabut. pelaut. gunakan frase dan/atau. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan.. 223.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. apabila. dan koki. Untuk menyatakan makna termasuk. a. Contoh : A atau B wajib memberikan. 225. Contoh : A dan B dapat menjadi . Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). 227. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6. 224. Pasal 46. digunakan kata jika. juru mudi. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka). c.. Untuk menyatakan sifat alternatif. gunakan kata selain. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka). . Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya.. Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu. digunakan kata dan. b. Untuk menyatakan sifat kumulafif. 228. kecuali koki magang. Pasal 45. atau frase dalam hal. 226. digunakan kata atau. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif.

. 230. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu.. 233... TEKNIK PENGACUAN 235. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang.. Contoh: Untuk membangun rumah. Untuk menyatakan adanya suatu hak. Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain.Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. gunakan kata harus. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan. 231. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . gunakan kata berhak.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku. 232. 229. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan. Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. Untuk menyatakan adanya larangan. gunakan kata wajib. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. C. Persyaratan sebagaimana dimaksi... seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. gunakan kata dilarang. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi. 236.

.. Contoh: a. . Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. b. Jika ada dua atau lebih pengacuan. pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. 243. b.b. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 240. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. Contoh : a. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. kecuali Pasal 7 ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4). 237. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). . . Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. 238. Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. 241. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242.. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim. 239.. Pasal 12. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan...

kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. 245. 244. Menimbang: a. bahwa…. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan).Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). Mengingat: 1. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. …. dan seterusnya….Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. dan seterusnya…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . gunakan frase tetap berlaku. 246. b. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. 2. …. bahwa…. 247. 3. Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. c.

.PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang). TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.NOMOR… B.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. bahwa….. b.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... bahwa…. Menimbang: a.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal . BAB . (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya.. MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA... .. BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal ..

. ….. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan..Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. …. Agar setiap orang mengetahuinya... C.. 3. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. Disahkan di Jakarta pada tanggal .. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG.. dan seterusnya…. dan seterusnya…. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 2.c. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Mengingat: 1.

. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.tentang..... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) . Disahkan di Jakarta pada tanggal... Menimbang: a.....tentang.dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.. . (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal..... 2. ....... dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal.. dan seterusnya. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) . Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Salinan naskah asli Konvensi..... dan seterusnya…. Mengingat: 1..TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa .. Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya).dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal... c. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI ... 3..

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun.... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). dan seterusnya…. bahwa…....TAHUN.NOMOR. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan). Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 3. c. D.. bahwa…. Mengingat: 1. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. Menimbang: a. b. …. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 2. …. . TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua. diubah sebagai berikut : 1.. dan seterusnya….Nomor…... Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang. Agar setiap orang mengetahuinya.. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan seterusnya..

(Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. c.. dan seterusnya . Mengingat: 1.. Menimbang: a. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal.. dan seterusnya…. 3......... Pasal I Undang-Undang Nomor ... 2. TENTANG .. NOMOR . E.. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR . …. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN ... Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor..Disahkan di Jakarta pada tanggal . TAHUN . Pasal 2 . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. TENTANG.) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku). TAHUN.. …...... b.... Nomor . Tahun … tentang .... (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun ...... bahwa…. TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR.. bahwa….... TAHUN.

BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG.. PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA. TAHUN…TENTANG. dan seterusnya…. Mengingat: 1. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F. bahwa…. 3. Disahkan di Jakarta pada tanggal . . Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR . c.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . dan seterusnya…... bahwa…. 2.. b.Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. Agar setiap orang mengetahuinya... …. …. Menimbang: a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA..

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . bahwa…...... b. ... 2.NOMOR.. bahwa…. RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.. Disahkan di Jakarta pada tanggal . MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.. Mengingat: 1. G.. .... ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).. dan seterusnya. 3. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Menimbang: a.Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….... ... Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan seterusnya.... c. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Agar setiap orang mengetahuinya..

(Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang).. BAB I .... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H..MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG ......... b.. bahwa. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 1 . memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. BAB II ... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ... Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . Pasal . .. Menimbang: a. BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.... bahwa.

. …. …. dan seterusnya….. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... 3. BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 2.. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) . (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal . dan seterusnya Mengingat: 1. I. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal .c.

. .. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. b..... BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI...DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.TAHUN. BAB... memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 2. 3. . Menimbang: a. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa…. dan seterusnya.. (Nama Provinsi) NOMOR. BAB I .... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.. bahwa…. J.. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden)...... (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya....... Pasal. c.... Mengingat: 1. Pasal 1 BAB II . dan seterusnya. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA .

(nama Peraturan Daerah Provinsi)... dan seterusnya ..... BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA .. bahwa. (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG ..... NOMOR . pada tanggal .. Ditetapkan di... b.. 3... Pasal .. . SEKRETARTS DAERAH ... bahwa. Mengingat: 1... (Nama Provinsi). (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI . (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di ... (nama kabupaten/kota) ... .. 2.. memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi ...... GUBERNUR PROVINSI . (Nama Provinsi) TAHUN .... Menimbang : a.. K... dan seterusnya..... pada tanggal.. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR... BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II . Agar setiap orang dapat mengetahuinya..GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi). BAB . c... (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan..

.. ...(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota). TAHUN .. Ditetapkan di. memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota .... . (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (nama kabupaten/kota). BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I ... BAB Il .. kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) . (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG... 2. bahwa. 3.. Menimbang: a.. dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA.. pada tanggal.... Agar setiap orang dapat mengetahuinya... (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap.... BAB.... Pasal. original hilang.. c. (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT.. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota)..A... bahwa.NOMOR .. b..... dan seterusnya Mengingat: 1.. BUPATI/WALIKOTA ..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful