UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan merupakan salah satu syarat dalam rangka pembangunan hukum nasional yang hanya dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku, dan standar yang mengikat semua lembaga yang berwenang membuat peraturan perundang-undangan; b. bahwa untuk lebih meningkatkan koordinasi dan kelancaran proses pembentukanan peraturan perundang-undangan, maka negara Republik Indonesia sebagai negara yang berdasar atas hukum perlu memiliki peraturan mengenai pembentukan peraturan perundang-undangan; c. bahwa selama ini ketentuan yang berkaitan dengan pembentukan peraturan perundang- undangan terdapat dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai lagi dengan hukum ketatanegaraan Republik Indonesia; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Undang-Undang tentang Pembentukanan Peraturan Perundang- undangan;

Mengingat: Pasal 20, Pasal 20A ayat (1), Pasal 21, dan Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG UNDANGAN. TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-

BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
(1) Pembentukan Peraturan Perundang-undangan adalah proses pembuatan Peraturan Perundangundangan yang pada dasamya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan penyebarluasan.

(2) Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara

atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. (3) Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan persetujuan bersama Presiden. (4) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. (5) Peraturan Pemerintah adalah Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan oleh Presiden untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. (6) Peraturan Presiden adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh Presiden. (7) Peraturan Daerah adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibentuk oleh dewan perwakilan rakyat daerah dengan persetujuan bersama kepala daerah. (8) Peraturan Desa/peraturan yang setingkat adalah Peraturan Perundang-undangan yang dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (9) Program Legislasi Nasional adalah instrumen perencanaan program pembentukan UndangUndang yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (10) Program Legislasi Daerah adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. (11) Pengundangan adalah penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Tambahan Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah, atau Berita Daerah. (12) Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan adalah materi yang dimuat dalam Peraturan Perundang-undangan sesuai dengan jenis, fungsi, dan hierarki Peraturan Perundang-undangan.

Pasal 2 Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara. Pasal 3
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hukum dasar dalam

Peraturan Perundang-undangan.
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditempatkan dalam Lembaran

Negara Republik Indonesia/ (3) Penempatan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia tidak merupakan dasar pemberlakuannya.

Pasal 4 Peraturan Perundang-undangan yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini meliputi UndangUndang dan Peraturan Perundang-undangan di bawahnya.

BAB II ASAS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 5 Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perudang-undangan yang baik yang meliputi: a. Kejelasan tujuan; b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan; e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan g. Keterbukaan.

Pasal 6
(1) Materi Muatan Peraturan Perandang-undangan mengandung asas

a. pengayoman; b. kemanusian; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhinneka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau. j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan ymg bersangkutan.

Pasal 7
(1) Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah; d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. (2) Peraturan Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e meliputi: a. Peraturan Daerah provinsi dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah provinsi bersama dengan gubernur; b. Peraturan Daerah kabupaten/kota dibuat oleh dewan perwakilan rakyat daerah kabupaten/kota bersama bupati/walikota; c. Peraturan Desa/peraturan yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau nama lainnya bersama dengan kepala desa atau nama lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembuatan Peraturan Desa/peraturan yang setingkat diatur dengan Perataran Daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (5) Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

BAB III MATERI MUATAN Pasal 8 Materi muatan yang harus diatur dengan Undang-Undarg berisi hal-hal yang: a. mengatar lebih lanjut ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang meliputi: 1. hak-hak asasi manusia; 2. hak dan kewajiban warga negara; 3. pelaksanaan dan penegakan kedaulatan negara serta pembagian kekuasaan negara; 4. wilayah negara dan pembagian daerah; 5. kewarganegaraan dan kependudukan; 6. keuangan negara, b. diperintahkan oleh suatu Undang-Undang untak diatur dengan Undang-Undang.

dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 16 (1) Penyusunan Program Legislasi Nasional antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah dikoordinasikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat melalui alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 10 Materi muatan Peraturan Pemerintah berisi materi untuk menjalankan Undang-Undang sebagaimana mestinya. Pasal 13 Materi muatan Peraturan Desa/yang setingkat adalah seluruh materi dalam rangka penyelenggaraan urusan desa atau yang setingkat serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. (3) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Pemerintah dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang Peraturan Perundang-undangan. BAB IV PERENCANAAN PENYUSUNAN UNDANG-UNDANG Pasal 15 (1) Perencanaan penyusunan Undang-Undang dilakukan dalam suatu Program Legislasi Nasional. Pasal 11 Materi muatan Peraturan Presiden berisi materi yang diperintahkan oleh Undang-Undang atau materi untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah.Pasal 9 Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi muatan UndangUndang. (2) Perencanaan penyusunan Peraturan Daerah dilakukan dalam suatu Program Legislasi Daerah. Pasal 12 Materi muatan Peraturan Daerah adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan. . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan dan pengelolaan Program Legislasi Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Penyusunan Program Legislasi Nasional di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dikoordinasikan oleh alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi. Pasal 14 Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.

Pasal 19 (1) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat diusulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. dikoordinasikan oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. (3) Dewan Perwakilan Rakyat mulai membahas rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 21 . pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah. (2) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah. (2) Pengharmonisasian. maupun dari Dewan Perwakilan Daerah disusun berdasarkan Program Legislasi Nasional. hubungan pusat dan daerah. dalam jangka waktu paling lmnbat 60 (enam puluh) hari sejak surat Presiden diterima. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengusulan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat dan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Daerah. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. Pasal 18 (1) Rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden disiapkan oleh menteri atau pimpinan lembaga pemerintah nondepartemen. (3) Dalam keadaan tertentu. (2) Rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Daerah dapat diajukan oleh Dewan Perwakilan Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat. Dewan Perwakilan Rakyat atau Presiden dapat mengajukan rancangan undang-undang di luar Program Legislasi Nasional. serta yang berkaitan dengan perimbangan keuangan pusat dan daerah. pembulatan. menteri atau pimpinan lembaga pemrakarsa memperbanyak naskah rancangan undang-undang tersebut dalam jumlah yang diperlukan. (2) Dalam surat Presiden sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang menteri yang ditugasi mewakili Presiden dalam melakukan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Presiden. Pasal 20 (1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Presiden diajukan dengan surat Presiden kepada pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. dan pemantapan konsepsi rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah rancangan undang-undang yang berkaitan dengan otonomi daerah.BAB V PEMBEINTUKAIN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Bagaian Kesatu Persiapan Pembentukan Undang-Undang Pasal 17 (1) Rancangan undang-undang baik yang berasal dari Dewan Pewakilan Rakyat. Presiden. (4) Untuk keperluan pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat.

(2) Presiden menugasi menteri yang mewakili untuk membahas rancangan undang-undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat diterima. (2) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Presiden dilaksanakan cleh instansi pemrakarsa. maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut tidak berlaku. dan rancangan peraturan presiden diatur dengan Peraturan Presiden. maka yang dibahas adalah rancangan undang-undang yang disampaikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 22 (1) Penyebarluasan rancangan undang-undang yang berasal dari Dewan Perwakilan Rakyat dilaksanakan oleh Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat. rancangan peraturan pemerintah. Pasal 23 Apabila dalam satu masa sidang. (3) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 25 (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang harus diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan yang berikut.(1) Rancangan undang-undang yang telah disiapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat disampaikan dengan surat pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden. (4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat. sedangkan rancangan undang-undang yang disampaikan Presiden digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. (2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang. Peraturan Pemerintah. maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Persiapan Pembentukan Peraturan Daerah Pasal 26 . Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden menyampaikan rancangan undang-undang mengenai materi yang sama. Bagian Kedua Persiapan Pembentukan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. dan Peraturan Presiden Pasal 24 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan pemerintah pengganti undang-undang.

gubernur atau bupati/walikota dan dewan perwakilan rakyat daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah. dan penggabungan daerah. (2) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh dewan perwakilan rakyat daerah disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota. Pasal 28 (1) Rancangan peraturan daerah dapat disampaikan oleh anggota. mengenai materi yang sama. gabungan komisi. komisi. serta perimbangan keuangan pusat dan daerah dilakukan dengan mengikutkan Dewan Perwakilan . pemekaran. atau bupati/walikota. atau kota. Pasal 29 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disiapkan oleh gubernur atau bupati/walikota disampaikan dengan surat pengantar gubernur atau bupati/walikota kepada dewan perwakilan rakyat daerah oleh gubernur atau bupati/walikota. Pasal 30 (1) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari dewan peryyakilan rakyat daerah dilaksanakan oleh sekretariat dewan perwakilan rakyat daerah. (2) Pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang berkaitan dengan otonomi daerah. kabupaten. pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya. sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh gubernur atau bupati/walikota digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan. Pasal 27 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota diatur dengan Peraturan Presiden. pembentukan. Pasal 31 Apabila dalam satu masa sidang. atau alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi. maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh dewan perwakilan rakyat daerah.Rancangan peraturan daerah dapat berasal dari dewan perwakilan rakyat daerah atau gubernur. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. masing-masing sebagai kepala pemerintah daerah provinsi. hubungan pusat den daerah. (2) Penyebarluasan rancangan peraturan daerah yang berasal dari gubernur atau bupati/walikota dilaksanakan olah sekretaris daerah. BAB VI PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat Pasal 32 (1) Pembahasan rancangan undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat bersama Presiden atau menteri yang ditugasi.

(4) Dalam hal Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ditolak Dewan Perwakilan Rakyat maka Presiden mengajukan rancangan undang-undang tentang pencabutan peraturan pemerintah pengganti undang-undang tersebut yang dapat mengatur pula segala akibat dari penolakan tersebut. (3) Dalam hal rancangan undang-undang mengenai penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat maka Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tersebut dinyatakan tidak berlaku. dan agama. Pasal 35 (1) Rancangan undang-undang dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 34 Dewan Perwakilan Daerah memberikan pertimbangan kepada Dewan Perwakilan Rakyat atas rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak. (7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Rancangan Undang-undang yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.Daerah. Bagian Kedua Pengesahan Pasal 37 . Pasal 36 (1) Pembahasan rancangan undang-undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang menjadi undang-undang dilaksanakan melalui mekanisme yang sama dengan pembahasan rancangan undang-undang. (2) Dewan Perwakilan Rakyat hanya menerima atau menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. Pasal 33 Dewan Perwakilan Rakyat memberitahukan Dewan Perwakilan Daerah akan dimulainya pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2). (5) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (4) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diwakili oleh komisi yang membidangi materi muatan rancangan undang-undang yang dibahas. (6) Tingkat-tingkat pembicaraan sebegaimana dimaksud pada ayat (5) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. (3) Keikutsertaan Dewan Perwakilan Daerah dalam pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya pada rapat komisi/panitia/alat kelengkapan Dewan Perwakilan Rakyat yang khasus menangani bidang legislasi. pendidikan.

(2) Setiap Undang-Undang wajib mencantumkan batas waktu penetapan Peraturan Pemerintah dan (3) peraturan lainnya sebagai pelaksanaan Undang-Undang tersebut. Pasal 38 (1) Rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 disahkan oleh Presiden dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. Penetapan Peraturan Pemerintah dan peraturan lainnya yang diperlukan dalam penyelenggaraan pemerintahan negara tidak atas permintaan secara tegas dari suatu UndangUndang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2). BAB VII PEMBAHASAN DAN PENGESAHAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 40 (1) Pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah dilakukan oleh dewan perwakilan rakyat daerah bersama gubernur atau bupati/walikota. ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Repuiblik Indonesia Tahun 1945. Pasal 41 . (2) Dalam hal rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh Presiden dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan undang-undang tersebut disetujui bersama. (2) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan. (3) Dalam hal sahnya rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (3) Tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dalam rapat komisi/panitia/alat kelengkapan dewan perwakilan rakyat daerah yang khusus menangani bidang legislasi dan rapat paripurna. maka kalimat pengesahannya berbunyi: UndangUndang ini dinyatakan sah berdasarkan. disampaikan oleh pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden untuk disahkan menjadi Undang-Undang. Pasal 39 (1) Peraturan Pemerintah ditetapkan untuk melaksanakan Undang-Undang. (2) Penyampaian rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.(1) Rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden. maka rancangan undang-undang tersebut sah menjadi Undang-Undang dan wajib diundangkan. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Undang-Undang sebelum Pengundangan naskah Undang-Undang ke dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

(2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. (3) Dalam hal sahnya rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Bagian Kedua Penetapan Pasal 42 (1) Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota disampaikan oleh pimpinan dewan perwakilan rakyat daerah kepada gubernur atau bupati/walikota untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah.(1) Rancangan peraturan daerah dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. BAB IX PENGUNDANGAN DAN PENYEBARLUASAN Bagian Kesatu Pengundangan Pasal 45 Agar setiap orang mengetahuinya. maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Peraturan Daerah dan wajib diundangkan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai perubahan terhadap teknik penyusunan peraturan perundangundangan sebagaimara dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden. (2) Penyampaian rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (I) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Peraturan Daerah sebelum pengundangan naskah Peraturan Daerah ke dalam Lembaran Daerah. (2) Rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. BAB VIII TEKNIK PENYUSUNAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Pasal 44 (1) Penyusunan rancangan peraturan perundang-undangan dilakukan sesuai dengan teknik peryusunan peraturan perundang-undangan. maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. Pasal 43 (1) Rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ditetapkan oleh gubernur atau bupati/walikota dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama oleh dewan perwakilan rakyat daerah dan gubernur atau bupati/walikota. Peraturan Perundang-undangan harus diundangkan dengan . (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan peraturan daerah diatur dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (2) Dalam hal rancangan peraturan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur atau bupati/walikota dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan peraturan daerah tersebut disetujui bersama.

b. Peraturan Presiden mengenai: 1. Pasal 50 Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan. Pasal 48 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dilaksanakan oleh menteri yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. dan 2. Perataran Perundang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. kecuali ditentukan lain di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. (2) Tambahan Berita Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perundangundangan yang dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia. Pasal 46 (1) Peraturan Perandang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.menempatkannya dalam a. atau d. Lembaran Daerah. atau peraturan lain di bawahnya dimuat dalam Berita Daerah. Bagian Kedua Penyebarluasan Pasal 51 Pemerintah wajib menyebarluaskan Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dalam . (3) Pengundangan Peraturan Daerah dalam Lembaran Daerah dan Berita Daerah dilaksanakan oleh sekretaris daerah. perigesahan perjanjian antara negara Republik Indonesia dan negara lain atau badan internasional. peryataan keadaan bahaya. c. meliputi: a. (2) Peraturan Perandang-undangan lain yang menurut Peraturan Perundang-undangan yang berlaku harus diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia. c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang. b. Pasal 47 (1) Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia memuat penjelasan Peraturan Perandangundangan yang dimuat dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (2) Peraturan Gubernur. Berita Daerah. Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 49 (1) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Lembaran Daerah adalah Peraturan Daerah. Berita Negara Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah. d. Peraturan Bupati/Walikota.

dilaksanakan paling lambat 1 (satu) tahun terhitang sejak diundangkannya UndangUndang ini. keputusan kepala badan. BAB XI KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 54 Teknik penyusunan dan/atau bentuk Keputusan Presiden. Keputusan Ketua Mahkamah Konstitusi. harus dibaca peraturan. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah. Keputusan Ketua Mahkamah Agung. lembaga. Keputusan Kepala Desa atau yang setingkat harus berpedoman pada teknik penyusunan dan/atau bentuk yang diatur dalam Undang-Undang ini. Keputusan Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Keputusan Menteri. BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 56 Semua Keputusan Presiden. BAB X PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 53 Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pernbahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. yang sudah ada sebelum Undang-Undang ini berlaku. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. BAB XII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 55 Pengundangan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia oleh menteri yang tugas dan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini. Keputusan Gubernur. Keputusan Kepala Badan Pemeriksa Keuangan. Keputusan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Keputusan Menteri.Lembaran Negara Republik Indonesia atau Berita Negara Republik Indonesia. Keputusan Gubernur. Keputusan Bupati/walikota. Pasal 52 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Peraturan Daerah yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah dan peraturan di bawahnya yang telah diundangkan dalam Berita Daerah. . Keputusan Bupati/Walikota. atau komisi yang setingkat. Pasal 57 Pada saat Undang-Undang int mulai berlaku maka: a. Keputusan Gubernur Bank Indonesia. atau keputusan pejabat lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 yang sifatnya mengatur.

Ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan UndangUndang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. sepanjang yang telah diatur dalam Undang-Undang ini. Agar sedap orang mengetahuinya. dan c. Disahkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004 PRESIDEN REPUBLIK 1NDONESIA. BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2004 NOMOR 53. MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 22 juni 2004 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIKINDONESIA. yang mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Noyember 2004. ttd. Pasal 58 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturan Perundang-undangan lain yang ketentuannya telah diatur dalam Undang-Undang ini. dan Mulai Berlakunya Undang-Undang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 1). Nahattands . Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum dan Perundang-undangan. Mengumumkan. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lambock V.b. ttd.

diatur secara tumpang tindih baik peraturan yang berasal dari masa kolonial maupun yang dibuat setelah Indonesia merdeka. Undang-Undang ini merupakan Undang-Undang dari Negara Bagian Republik Indonesia Yogyakarta. c. dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum. Peraturan Pemerintah Nomor 1Tahun 1945 tentang Pengumuman dan Mulai Berlakunya Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah. teknik. 3. Tertib Pembentukan Peraturan Perundangundangan harus dirintis sejak saat perencanaan sampai dengan pengundangannya. 2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Menetapkan Undang-Undang Darurat tentang Penerbitan Lembaran Negara Republik Indonesia Serikat dan Berita Negara Republik Indonesia Serikat dan tentang Mengeluarkan. terdapat pula ketentuan: a. segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1950 tentang Peraturan tentang Jenis dan Bentuk Peraturan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat. asas. kebangsaan. diperlukan berbagai persyaratan yang berkaitan dengan sistem.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN I. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 188 Tahun 1998 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang. penyusunan maupun pemberlakuannya. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 234 Tahun 1960 tentang Pengembalian Seksi Pengundangan Lembaran Negara. tata cara penyiapan dan pembahasan. yaitu: 1. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1970 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. Selama ini terdapat berbagai macam ketentuan yang berkaitan dengan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan termasuk teknik penyusunan Peraturan Perundang-undangan. Untuk membentuk peraturan perundang-undangan yang baik. ketentuan AB tersebut tidak lagi berlaku secara utuh karena telah diatur dalam peraturan perundang-undangan nasional. UMUM Sebagai negara yang mendasarkan pada Pancasila dain Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mengumumkan. 1847: 23) yang mengatur ketentuan-ketentuan umum peraturan perundang-undangan. Selain Undang-Undang tersebut. Sepanjang mengenai Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Untuk mewujudkan negara hukum tersebut diperlukan tatanan yang tertib antara lain di bidang pembentukan peraturan perundang-undangan. b. dari Departemen Kehakiman ke Sekretariat Negara. 4. yang disingkat AB (Stb. . dan Mulai Berlakunya UndangUndang Federal dan Peraturan Pemerintah sebagai Undang-Undang Federal. d. Algemeene Bepalingen van Wetgeving voor Indonesie.

Dengan adanya perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. PASAL DEMI PASAL Pasal I Cukup jelas. bertahap. Peraturan Presiden. sekaligus mengatur secara lengkap dan terpadu baik mengenai sistem. Di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah. Peraturan Pemerintah. dan Peraturan Daerah.e. Hal ini karena tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang ke bawah. maupun partisipasi masyarakat. pengundangan dan penyebarluasan. khususnya Pasal 20 ayat (1) yang menentukan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk undang-undang. jenis dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan. diperlukan peran tenaga perancang peraturan perundang-undangan sebagai tenaga fungsional yang berkualitas yang mempunyai tugas menyiapkan. persiapan. Dengan demikian diperlukan Undang-Undang yang mengatur mengenai Pembentukan Peraturan perundang-undangan. Dalam Undang-Undang ini. asas. Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang memuat hukum dasar negara merupakan sumber hukum bagi Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang Dasar. Pasal 2 Penempatan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum negara adalah sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara serta sekaligus dasar filosofis bangsa dan negara sehingga setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. II. serta untuk memenuhi perintah Pasal 22A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pasal 6 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan. pembahasan dan pengesahan. 5. Namun Undang-Undang ini hanya mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang meliputi Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. dan merumuskan rancangan peraturan perundang-undangan. terarah. Ayat (2) . mengolah. dan Rancangan Keputusan Presiden. maka berbagai Peraturan Perundang-undangan tersebut di atas sudah tidak sesuai lagi. Undang-Undang ini pada dasarnya dimaksudkan untuk membentuk suatu ketentuan yang baku mengenai tata cara Pembentukan Peraturan Perundang undangan. berlaku peraturan tata tertib yang mengatur antara lain mengenai tata cara pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah serta pengajuan dan pembahasan Rancangan Undang-undang dan peraturan daerah usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat atau dewan perwakilan rakyat daerah. Untuk menunjang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-Undang. sebagai landasan yuridis dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan baik di tingkat pusat maupun daerah. pada tahap perencanaan diatur mengenai Program Legislasi Nasional dan Program Legislasi Daerah dalam rangka penyusunan peraturan perundang-undangan secara terencana. dan terpadu. Sedangkan mengenai pembentukan Undang-Undang Dasar tidak diatur dalam Undang-Undang ini. Rancangan Peraturan Pemerintah.

Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan masukan dalam proses pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Pasal 6 Ayat (1). Ayat (3) Ketentuan ini menyatakan bahwa Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 berlaku sejak ditetapkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Huruf b Yang dimaksud dengan asas “kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat” adalah bahwa setiap jenis Peraturan Perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat Pembentuk Peraturan Perundang-undangan yang berwenang. persiapan. Huruf e Yang dimaksud dengan asas "kedayagunaan dan kehasilgunaan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. . Pasal 5 Huraf a Yang dimaksud dengan "kejelasan tujuan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai. penyusunan. Perundang-undangannya. yuridis maupun sosiologis. Huruf b Yang dimaksud dengan "asas kemanusiaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga negara dan penduduk Indonesia secara proporsional. Huruf d Yang dimaksud dengan asas "dapat dilaksanakan" adalah bahwa setiap Pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas Peraturan Perundangundangan tersebut di dalam masyarakat. Huruf f Yang dimaksud dengan asas "kejelasan rumusan" adalah bahwa setiap Peraturan Perundang-undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan Peraturan Perundang-undangan. dan bernegara. sehingga tidak menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaannya. mengingat Undang-Undang Dasar tidak termasuk kompetensi pembentuk Undang-Undang. baik secara filosofis. berbangsa. Peraturan Perundangundangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum. Huruf c Yang dimaksud dengan asas "kesesuaian antara jenis dan materi muatan" adalah bahwa dalam Pembentakan Peraturan Perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan.Cukup jelas. Huruf a Yang dimaksud dengan "asas pengayoman" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus berfungsi memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat. Huruf g Yang dimaksud dengan asas "keterbukaan" adalah bahwa dalam proses Pembentukan Peraturan Perundang-undangan mulai dari perencanaan. Pasal 4 Yang diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang ini hanya Undang-Undang ke bawah. serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti. dan pembahasan bersifat transparan dan terbuka. apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang. sistematika dan pilihan kata atau terminologi.

Huruf j Yang dimaksud dengan "asas keseimbangan. antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan negara. asas tiada hukuman tanpa kesalahan. kondisi khusus daerah. dalam Hukum Perdata. b. agama. Huruf f Yang dimaksud dengan "asas bhinneka tunggal ika" adalah bahwa Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus memperhatikan keragaman penduduk. dalam hukum perjanjian. keserasian. gender. bermasyarakat. dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan. dan bernegara. suku. misalnya. keserasian. Ayat (2) Yang dimaksud dengan "asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan". dan iktikad baik. dalam Hukum Pidana. Huruf g Yang dimaksud dengan "asas keadilan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa kecuali. Huruf d Yang dimaksud dengan "asas kekeluargaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan musyawarah untuk mencapai mufakat dalam setiap pengambilan keputusan. antara lain. dan asas praduga tak bersalah. Huruf e Yang dimaksud dengan "asas kenusantaraan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan Peraturan Perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila. Huruf i Yang dimaksud dengan "asas ketertiban dan kepastian hukum" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum. antara lain. ras. Huruf h Yang dimaksud dengan "asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundangundangan tidak boleh berisi hal-hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang. kebebasan berkontrak. atau status sosial. berbangsa. . agama. antara lain: a. misalnya. golongan.Huruf c Yang dimaksud dengan "asas kebangsaan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan sifat dan watak bangsa Indonesia yang pluralistik (kebhinekaan) dengan tetap menjaga prinsip negara kesatuan Republik Indonesia. suku dan golongan. asas kesepakatan. asas legalitas. asas pembinaan narapidana. dan keselarasan" adalah bahwa setiap Materi Muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan keseimbangan. dan keselarasan.

Gubernur. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. antara lain. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 9 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Peraturan Presiden adalah peraturan yang dibuat oleh Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara sebagai atribusi dari Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. kepala badan. Kepala Desa atau yang setingkat.Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas. Pasal 12 Cukup jelas. Pasal 11 Sesuai dengan kedudukan Presiden menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. . Mahkamah Agung. Peraturan Presiden dibentuk untuk menyelenggarakan pengaturan lebih lanjut perintah UndangUndang atau Peraturan Pemerintah baik secara tegas maupun tidak tegas diperintahkan pembentukannya. Bupati/Walikota. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. Huruf b Cukup jelas. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. Pasal 13 Yang dimaksud dengan "yang setingkat” dalam ketentuan ini adalah nama lain dari pemerintahan tingkat desa. Menteri. Ayat (4) Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Ayat (2) Huruf a Termasuk dalam jenis Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Perdasus serta Perdasi yang berlaku di Provinsi Papua. lembaga. Ayat (5) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "hierarki" adalah penjenjangan setiap jenis Peraturan Perundang-undangan vang didasarkan pada asas bahwa peraturan perundangundangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundangundangan yang lebih tinggi. Mahkamah Konstitusi. Pasal 8 Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Pasal 10 Yang dimaksud dengan "sebagaimana mestinya" adalah materi muatan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah tidak boleh menyimpang dari materi yang diatur dalam Undang-Undang yang bersangkutan. Bank Indonesia. Badan Pemeriksa Keuangan.

Pasal 16 Cukup jelas. menengah. internet.Pasal 14 Cukup Jelas. Pasal 21 Cukup jelas. Untuk perencanaan Pembentukan Peraturan Perundang-undangan daerah dilakukan berdasarkan Program Legislasi Daerah. majalah. secara berencana. Program Legislasi Nasional hanya memuat program penyusunan Peraturan Perundangundangan tingkat pusat. dan edaran. Penyebarluasan dilakukan baik melalui media elektronik seperti televisi. radio. Pasal 22 Maksud "penyebarluasan' dalam ketentuan ini adalah agar khalayak ramai mengetahui adanya rancangan undang-undang yang sedang dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat guna memberikan masukan atas materi yang sedang dibabas. Untuk maksud tersebut. Oleh karena itu. maka dalam Program Legislasi Nasional memuat program legislasi jangka panjang. penyusunan Program Legislasi Nasional disusun secara terkoordinasi. atau tahunan. maka Pembentukan Peraturan Perundang-undangan perlu dilakukan berdasarkan Program Legislasi Nasional. Pasal 19 Cukup jelas. Program Legislasi Daerah dimaksudkan untuk menjaga agar produk Peraturan Perandang-undangan daerah tetap berada dalam kesatuan sistem hukum nasional. Di samping memperhatikan hal di atas. maupun media cetak seperti surat kabar. Dalam Program Legislasi Nasional tersebut ditetapkan skala prioritas sesuai dengan perkembangan kebutuhan hukum masyarakat. terarah. Pasal 20 Cukup jelas. Ayat (3) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan "dalam keadaan tertentu" adalah kondisi yang memerlukan pengaturan yang tidak tercantum dalam Program Legislasi Nasional. Pasal 17 Ayat (1) Cukup jelas. Dalam penyusunan program tersebut perlu ditetapkan pokok materi yang hendak diatur serta kaitannya dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya. dan terpadu yang disusun bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah. Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 15 Agar dalam Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dapat dilaksanakan. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 23 .

Internet. dan edaran di daerah yang bersangkutan. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 . perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara. b. Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Pasal 24 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. misalnya melalui Televisi Republik Indonesia. media cetak seperti surat kabar. penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang. Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan. Radio Republik Indonesia.Cukup jelas. Dengan demikian masyarakat dapat memberikan masukan atas materi rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas tersebut. dan f. d. majalah. ratifikasi. penetapan anggaran pendapatan dan belanja Negara serta nota keuangan. perhitungan anggaran negara. rancangan peraturan daerah juga disebarluaskan. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Ketentuan mengenai tingkat pembahasan rancangan undang-undang sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini berlaku juga terhadap pembahasan rancangan undang-undang: a. sehingga khalayak ramai mengetahui adanya rancangan peraturan daerah yang sedang dibahas didewan perwakilan rakyat daerah yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas. e. usul inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat. c. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Sebagaimana rancangan undang-undang.

disertai Surat Pengantar pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 41 Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Pasal 40 Ayat (1) Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah di dewan perwakilan rakyat daerah. Pasal 42 Cukup jelas. Ayat (2) Tenggang waktu 7 (tujuh) hari dianggap layak untuk mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan teknis penulisan rancangan undang-undang ke lembaran resmi Presiden sampai dengan penandatanganan pengesahan Undang-Undang oleh Presiden dan penandatanganan sekaligus Pengundangan ke Lembaran Negara Republik Indonesia oleh Menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan. Pasal 39 Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 38 Batas waktu 30 (tiga puluh) hari adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (5) UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. gubernur atau bupati/walikota dapat diwakilkan. kecuali dalam pengajuan dan pengambilan keputusan. Secara formil rancangan undang-undang menjadi Undang-undang setelah disahkan oleh Presiden. Ayat (4) Cukup jelas.Cukup jelas Pasal 35 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan ini dimaksudkan untuk menyederhanakan mekanisme penarikan kembali rancangan undang-undang. Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Penyampaian rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah kepada Presiden. Pasal 43 .

stasiun daerah. Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. Pasal 53 Hak masyarakat dalam ketentuan ini dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat/dewan. Pasal 48 Cukup jelas. dimungkinkan. Ayat (3) Cukup jelas. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia atau media cetak. Pasal 50 Berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang tidak. untuk persiapan sarana dan prasarana serta kesiapan aparatur pelaksana Peraturan Perundang-undangan tersebut. Pasal 51 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan tersebut dan mengerti/memahami isi serta maksud-maksud yang terkandung di dalamnya Penyebarluasan Peraturan Perundang-undangan tersebut dilakukan. misalnya. atau Peraturan Gampong di lingkungan daerah yang bersangkutan. Peraturan Desa.Cukup jelas. Pasal 44 Penyempurnaan teknik dan penulisan. Pasal 54 .mana dimaksud dalam ketentuan ini maka setiap orang dianggap telah mengetahuinya. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas. misalnya. Ayat (2) Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan dalam Berita Daerah misalnya Peraturan Nagari. Pasal 52 Yang dimaksud dengan "menyebarluaskan" adalah agar khalayak ramai mengetahui Peraturan Perundang-undangan di daerah yang bersangkutan dan mengerti/memahami isi serta maksudmaksud yang terkandung di dalamnya. melalui media elektronik seperti Televisi Republik Indonesia dan Radio Republik Indonesia. rancangan undang-undang yang masih mengandung kesalahan tersebut mencakup pula format rancangan undang-undang. sama dengan tanggal Pengundangan. Pasal 45 Dengan diundangkan Peraturan Perundang-undangan dalam lembaran resmi sebagai. perwakilan rakyat daerah. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan.

Ketentuan dalam Pasal ini menyangkut keputusan di bidang administrasi di berbagai lembaga yang ada sebelum Undang-Undang ini diundangkan dan dikenal dengan keputusan yang bersifat tidak mengatur. Pasal 55 Cukup jelas. Pasal 56 Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4389 LAMPIRAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2004 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

SISTEMATIKA TEKNIK PENYUSUNAN PERATUR-AN PERUNDANG-UNDANGAN

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. JUDUL B. PEMBUKAAN 1. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 3. Konsiderans 4. Dasar, Hukum 5. Diktum C. BATANG TUBUH 1. Ketentuan Umum 2. Materi Pokok yang Diatur 3. Ketentuan Pidana (Jika diperlukan) 4. Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan) 5. Ketentuan Penutup D. PENUTUP E. PENJELASAN (Jika diperlukan) F. LAMPIRAN (Jika diperlukan) BAB II HAL-HAL KHUSUS A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN B. PENYIDIKAN C. PENCABUTAN D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH C. TEKNIK PENGACUAN BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA B. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG. C. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI D. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG E. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG F. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1. Kerangka Peraturan Perundang-undangan terdiri atas: A. B. C. D. E. F. Judul; Pembukaan; Batang Tubuh; Penutup; Penjelasan (Jika diperlukan); Lampiran (Jika diperlukan).

A. JUDUL 2. Judul Peraturan Perundang-undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang-undangan. 3. Nama Peraturan Perundang-undangan dibuat secara singkat dan mencerminkan isi Peraturan Perundang-undangan. 4. Judul ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 5. Pada judul Peraturan Perundang-undangan perubahan ditambahkan frase perubahan atas depan nama Peraturan Perundang-undangan yang diubah,

Contoh UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2003 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG - UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2002

TENTANG TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG 6. Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari 1 (satu) kali, di antara kata perubahan dan kata atas disisipkan keterangan yang menunjukkan berapa kali perubahan tersebut telah dilakukan, tanpa merinci perubahan sebelumnya.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG – UNDANG NOMOR…TAHUN….TENTANG …. 7. Jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah mempunyai nama singkat, Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah.

Contoh: UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... TAHUN ... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG PAJAK PERTAMBAHAN NILAI 1984 8. Pada judul Peraturan Pertmdang-undangan pencabutan disisipkan kata pencabutan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang dicabut.

Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUIN 1985 TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR 4 T AHUN 1970 TENTANG PEMBENTUKAN DAERAH PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG 9. Pada judul Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) yang ditetapkan menjadi Undang-Undang, ditambahkan kata penetapan di depan nama Peraturan Perundang-undangan yang ditetapkan dan diakhiri dengan frase menjadi Undang-Undang.

Contoh : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2003 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA TERORISME MENJADI UNDANG-UNDANG 10. Pada judul Peraturan Perundang-undangan pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional, ditambahkan kata pengesahan di depan nama perjanjian atau persetujuan internasional yang akan disahkan. 11. Jika dalam perjanjian atau persetujuan internasional Bahasa Indonesia digunakan sebagai teks resmi, name perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa Indonesia, yang diikuti oleh teks resmi bahasa asing yang ditulis dengan huruf cetak miring dan diletakkan di antara tanda baca kurung.

dan diikuti oleh terjemahannya dalam Bahasa Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. dan 5. 4. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma. PEMBUKAAN 13. B.Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA MENGENAI BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA (TREATY BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA AND AUSTRALIA ON MUTUAL LEGAL ASSISTANCE IN CRIMINAL MATTERS) 12. Pembukaan Peraturar Perundang-undangan terdiri atas: 1. Konsiderans memuat uraian singkat mengenai pokok-pokok pikiran yang menjadi latar belakang dan alasan pembuatan Peraturan Perundang-undangan. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan 15.1. Konsiderans diawali dengan kata Menimbang. 1998 (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PEMBERANTASAN PEREDARAN GELAP NARKOTIKA DAN PSIKOTROPIKA. perjanjian atau persetujuan internasional.3. B. 1998) B. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang-undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang-undangan dicantumkan frase DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin B. nama perjanjian atau persetujuan ditulis dalam Bahasa lnggris dengan huruf cetak miring. 18. Contoh: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1997 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST ILLICIT TRAFFIC IN NARCOTIC DRUGS AND PSYCHOTROPIC SUBTANCES. Diktum. Jika dalam. Konsiderans 16. Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagai teks resmi. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan. Pokok-pokok pikiran pada konsiderans Undang-Undang atau peraturan daerah memuat unsur . 17.2. 2. Dasar Hukum. Konsiderans. 3. Frase Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa 14.

Contoh untuk Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang atau peraturan daerah: Menimbang: a.4. Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dijadikan dasar hukum lebih dari satu. b. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pokok pikiran. Contoh : Manimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 ayat (3) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia perlu menetapkan Peraturan Pemerimah tentang Tata Cara Perlindungan Terhadap Korban dan Saksi dalam Pelanggaran Hak Asasi Manusia yang Berat. 20. Jika konsiderans memuat lebih dari satu pertimbangan. bahwa…. Konsiderans Peraturan Pemerintah pada dasarnya cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan. Peraturan Perundang-undangan yang akan dicabut dengan Peraturan Perundang-undangan yang akan dibentuk atau Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan tetapi belum resmi berlaku. tiap-tiap pokok pikiran dirumuskan dalam rangkaian kalimat yang merupakan kesatuan pengertian. b. dan sosiologis yang menjadi latar belakang pembuatannya. 27. 26. bahwa. bahwa…. ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatan Peraturan Pemerintah tersebut. 19... rumusan butir pertimbangan terakhir berbunyi sebagai berikut: Contoh Menimbang: a.. 23.. c.filosofis.. bahwa…. Lihat juga Nomor 19.. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dakan huruf a dan huruf b perlu menetapkan Peraturan Pemerihtah (Peraturan Presiden). bahwa….. dan dirumuskan dalam satu kalimat yang diawali dengan kata bahwa dan diakhiri dengan tanda baca titik koma. Contoh: Menimbang: a. c. Pokok-pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang-undangan dianggap perlu untuk dibuat adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan tentang latar belakang dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan tersebut.. Dasar hukum memuat dasar kewenangan pembuatan Peraturan Perundang-undangan dan Peraturan Perundang-undangan yang memerintahkan pembuatan Peraturan Perundangundangan tersebut. Dasar Hukum 25. tidak dicantumkan sebagai dasar hukum. 29. B. Lihat juga Nomor 20. bahwa berdasarkan petimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b perlu membentuk Undang-Undang (Peraturan Daerah) tentang…. bahwa…. b.. 21. urutan pencantuman perlu memperhatikan tata urutan Peraturan Perundang-undangan dan jika tingkatannya sama disusun secara kronologis berdasarkan saat pengundangan atau . Tiap-tiap pokok pikiran diawali dengan huruf abjad. Dasar hukum diawali dengan kata Mengingat.. Peraturan Perundang-undangan yang digunakan sebagai dasar hukum hanya Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. yuridis. Lihat juga Nomor 24. Konsiderans Peraturan Pemerintah cukup memuat satu pokok pikiran yang isinya menunjuk pasal (-pasal) dari Undang-Undang yang memerintahkan pembuatannya. 28. c. 22. bahwa…. 24.

Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (Wetboek van Koophandel... 33. kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. tetapi cukup mencantumkan nama judul Peraturan Perundangundangan. Jika dasar hukum memuat lebih dari satu Peraturan Perundang-undangan. Diktum 35. 2. 2. . 2. …. dan Peraturan Presiden perlu dilengkapi dengan pencantuman Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung. …. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 98. 2. 3 …. Contoh Mengingat: 1. Dasar hukum yang diambil dari pasal (-pasal) dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis dengan menyebutkan pasal atau beberapa pasal yang berkaitan Frase Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditulis sesudah penyebutan pasal terakhir dan kedua huruf u ditulis dengan huruf kapital. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 4316). Contoh : Mengingat: 1. ditulis lebih dulu terjemahannya dalam Bahasa Indonesia dan kemudian judul asli Bahasa Belanda dan dilengkapi dengan tahun dan nomor Staadsblad yang dicetak miring di antara tanda baca kurung.penetapannya. 3. Dasar hukum yang bukan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tidak perlu mencantumkan pasal. Staatsblad 1847). 34.. 31. B. dan seterusnya. 32. Contoh: Mengingat: 1. tiap dasar hukum diawali dengan angka Arab 1.. Penulisan undang-undang. Diktum terdiri atas: .5. Contoh Mengingat: Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. Undang-Undang. Cara penulisan sebagaimana dimaksud dalam Nomor 32 berlaku juga untuk pencabutan peraturan perundang-undangan yang berasal dari jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949. 30. Peraturan Pemerintah.. Dasar hukum yang berasal dari peraturan perundang-undangan jaman Hindia Belanda atau yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda sampai dengan tanggal 27 Desember 1949.. …. dan diakhiri dengan tanda baca titik koma..

Huruf awal kata Menetapkan ditulis dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik dua. (nama daerah) MEMUTUSKAN: 39.. serta ditulis se!uruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca titik. Pada Peraturan Daerah. (nama daerah) dan GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA . Batang tubuh Peraturan Perundang-undangan memuat semua substansi Peraturan . Peraturan Menteri. BATANG TUBUH 42. kata Memutuskan.a.. b. yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital dan diletakkan di tengah marjin. Contoh Undang-Undang: Dengan Persetujuan Bersama: DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: 38.. Pembukaan Peraturan Perandang-undangan tingkat pusat yang tingkatannya lebih rendah daripada Undang-Undang. 36. Nama Peraturan Perundang-undangan. 37. seperti Peraturan Pemerintah. (nama daerah) dan GUBERNUR .. Kata Menetapkan dicantumkan sesudah kata Memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata Menimbang dan Mengingat. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tangah marjin. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetajuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan FRESIDEN REPUBLIK INDONESIA yang diletakkan di tengah marjin. (nama daerah)... Pada Undang-Undang. KEUANGAN ANTARA 41.. dan peraturan pejabat yang setingkat. Peraturan Presiden. Nama yang tercantum dalam judul Peraturan Perundang-undangan dicantumkan lagi setelah kata Menetapkan dan didahului dengan percantuman jenis Peraturan Perundang-undangan tanpa frase Republik Indonesia.. kata Menetapkan. C. c. Contoh Peraturan Daerah Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . Contoh Menetapkan: MEMUTUSKAN: UNDANG-UNDANG TENTANG PERIMBANGAN PEMERINTAH PUSAT DAN DAERAH. sebelum kata Memutuskan dicantumkan frase Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH . secara mutatis mutandis berpedoman pada pembukaan Undang-Undang. 40.

50. Sanksi administratif dapat berupa. Pengelompokkan materi Peraturan Perundang-undangan dapat disusun secara sisternatis dalam buku. pencabutan izin. 48. 55. (2) Materi Pokok yang Diatur. 43. bab. antara lain. Jika norma yang memberikan sanksi administratif atau keperdataan terdapat lebih dari satu pasal. 52. bagian. Materi yang bersangkutan. Dalam pengelompokkan substansi sedapat mungkin dihindari adanya bab ketentuan lain atau sejenisnya. (5) Ketentuan Penutup. diupayakan untuk masuk ke dalam bab yang ada atau dapat pula dimuat dalam bab tersendiri dengan judul yang sesuai dengan materi yang diatur. (4) Ketentuan Peralihan (Jika diperlukan). dan Kereta Tempelan . Bagian diberi nomor urut dengan bilangan tingkat yang ditulis dengan huruf dan diberi judul. Contoh: BAB I KETENTUAIN UMUM 54. Saksi keperdataan dapat berupa. sanksi perdata. Kereta Gandengan. Jika Peraturan Perundang-undangan mempunyai materi yang ruang lingkupya sangat luas dan mempunyai banyak pasal. ganti kerugian. pemberhentian sementara. sanksi administratif atau sanksi keperdataan dirumuskan dalam pasal terakhir dari bagian (pasal) tersebut. Contoh: BUKU KETIGA PERIKATAN 53. pembubaran. dan paragraf. Bab diberi nomor urut dengan angka Romawi dan judul bab yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. bab dengan bagian dan paragraf yang berisi pasal (-pasal). 51. (3) Ketentuan Pidana (Jika diperlukan). dan sanksi administratif dalam satu bab. atau daya paksa polisional. pasal (-pasal) tersebut dapat dikelompokkan menjadi: buku (jika merupakan kodifikasi). Dengan demikian hindari rumusan ketentuan sanksi yang sekaligus memuat sanksi pidana. bab dengan pasal (-pasal) tanpa bagian dan paragraf. bab.Perundang-undangan yang dirumuskan dalam pasal (-pasal). urutan bilangan. atau b. bab. bagian. dan setiap kata pada judul bagian ditulis dengan huruf kapital. dan paragraf. 46. bagian. Substansi yang berupa sanksi administratif atau sanksi keperdataan atas pelanggaran norma tersebut dirumuskan menjadi satu bagian (pasal) dengan norma yang memberikan sanksi administratif atau sanksi keperdataan. Persyaratan Teknis Kendaraan Bermotor. 47. Urutan pengelompokan adalah sebagai berikut: a. Huruf awal kata bagian. Contoh: Bagian Kelima. dan paragraf dilakukan atas dasar kesamaan materi. Buku diberi nomor urut dengan bilangan tingkat dan judul yang seluruhnya ditulis dengan huruf kapital. antara lain. Pada umumnya substansi dalam batang tubuh dikelompokkan ke dalam: (1) Ketentuan Umum. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. 49. pengawasan. Pengelompokkan materi dalam buku. 45. b. denda administratif. bab dengan bagian dan pasal (-pasal) tanpa paragraf-. 44.

dan lugas. Pasal dapat dirinci ke dalam beberapa ayat. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelas barang atau jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Paragraf diberi nomor urut dengan angka Arab dan diberi judul. 60. jelas. kecuali jika materi yang menjadi isi pasal itu merupakan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. 66. kecuali huruf awal kata partikel yang tidak terletak pada awal frase. 64. 57. Isi pasal tersebut dapat lebih mudah dipaham jika dirumuskan sebagai berikut: . dan dirumuskan dalam satu kalimat yang disusun secara singkat. 65. 59. Pasal diberi nomor urut dengan angka Arab. Contoh: Pasal 8 (1) Satu permintaan pendaftaran merek hanya dapat diajukan untuk 1 (satu) kelas barang. (2) Permintaan pendaftaran merek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyebutkan jenis barang atau jasa yang termasuk dalam kelas yang bersangkutan. Huruf awal dari kata paragraf dan setiap kata pada judul paragraf ditulis dengan huruf kapital. 63. 62. Huruf awal kata ayat yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kecil. Jika satu pasal atau ayat memuat rincian unsur. Materi Peraturan Perundang-undangan lebih baik dirumuskan dalam banyak pasal yang singkat dan jelas daripada ke dalam beberapa pasal yang masing-masing pasal memuat banyak ayat. Pasal merupakan satuan aturan dalam Peraturan Perundang-undangan yang memuat satu norma. dapat pula dipertimbangkan penggunaan rumusan dalam bentuk tabulasi. Huruf awal kata pasal yang digunakan sebagai acuan ditulis dengan huruf kapital. dan Hakim 58.56. Contoh: Pasal 34 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 26 tidak meniadakan kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. maka di samping dirumuskan dalam bentuk kalimat dengar rincian. Contoh: Paragraf 1 Ketua. Ayat diberi nomor urut dengan angka Arab di antara tanda baca kurung tanpa diakhiri tanda baca titik. Contoh: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin dan telah terdaftar pada daftar pemilih. Satu ayat hendaknya hanya memuat satu norma yang dirumuskan dalam satu kalimat utuh. 61. Wakil Ketua.

huruf b. telah berusia 17 (tujuh belas) tahun atau telah kawin. ditambahkan kata dan yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. dan seterusnya. g. dan b. setiap rincian diakhiri dengan tanda baca titik koma. dan/atau tidak perlu diulangi pada akhir setiap unsur atau rincian. 2. 67. (dan. b. maka unsur tersebut dituliskan masuk ke dalam. jika suatu rincian dibagi lagi ke dalam unsur yang lebih kecil. Contoh: Pasal 9 (1) ….. perlu dipertimbangkan pemecahan pasal yang bersangkutan ke dalam pasal atau ayat lain. dan seterusnya. atau. Tiap-tiap rincian ditandai dengan huruf a. dan/atau) c. setiap frase dalam rincian diawali dengan huruf kecil. pembagian rincian (dengan urutan makin kecil) ditulis dengan abjad kecil.: (2) …. 71. d. e.. Contoh: a. b. angka Arab dengan tanda baca kurung tutup. …. 69. Jika suatu rincian memerlukan lebih lanjut.: a. rincian itu ditandai dengan angka Arab 1. setiap rincian harus dapat dibaca sebagai satu rangkaian kesatuan dengan frase pembuka. angka Arab diikuti dengan tanda baca titik. …. pembagian rincian hendaknya tidak melebihi empat tingkat. c. Jika unsur atau rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif.Contoh rumusan tabulasi: Pasal 17 Yang dapat diberi hak pilih ialah warga negara Indonesia yang: a. Dalam membuat rumusan pasal atau ayat dengan bentuk tabulasi hendaknya diperhatikan halhal sebagai berikut: a. ditambahkan kata dan/atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. Jika rincian melebihi empat tingkat.. di belakang rincian yang masih mempunyai rincian lebih lanjut diberi tanda baca titik dua. Kata dan. f. yang diikuti dengan tanda baca titik. b. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian alternatif ditambahkan kata atau yang diletakkan di belakang rincian kedua dari rincian terakhir. atau. 70. 68. abjad kecil dengan tanda baca kurung tutup. .. telah terdaftar pada daftar pemilih. …. Jika rincian dalam tabulasi dimaksudkan sebagai rincian kumulatif dan alternatif. h. setiap rincian diawali dengan huruf (abjad) kecil dan diberi tanda baca titik.

. b). (dan. b) …. 2. ….: 1. atau. ….. Contoh: Pasal 22 (1) … (2) … I a. atau. atau. … . b. 2). dan/atau) c) … d. 2. c.: 1.: a. b. ….. dan/atau) c. dan seterusnya. …: a) …. dan/atau) c.. dan/atau) c. b) …. (3) …. dan setcrusnya. ….. …. atau. atau. (dan. … 2. . dan/atau) c) …. …. …. dan/atau) 3.. dan/atau) 3. atau. …. …: a) …. (dan. …. …..Contoh: Pasal 12 (1) …. a. dan/atau) 3. (dan. rincian itu ditandai dengan angka 1). …. (2) …. …. (dan. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. (dan.. …: 1.. atau.. Contoh: Pasal 20 (1) ….. …. (dan. rincian itu ditandai dengan huruf a). …(dan.. dan/atau) 3.: 1. 2. (dan. atau. (2) ….. Jika suatu rincian lebih lanjut memerlukan rincian yang mendetail. …. b. atau.

Ketentuan umum dapat memuat lebih dari satu pasal. atau akronim tidak perlu diberi penjelasan. pengertian yang terdapat lebih dahulu di dalam materi pokok yang diatur ditempatkan dalam urutan yang lebih dahulu. hal-hal lain yang bersifat umum yang berlaku bagi pasal (-pasal) berikutnya antara lain ketentuan yang mencerminkan asas. 84. 75.1. 73. Frase pembuka dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan di bawah UndangUndang disesuaikan dengan jenis peraturannya. singkatan. Ketentuan Umum 72. Ketentuan umum berisi: a. Jika suatu batasan pengertian atau definsi perlu dikutip kembali di dalam ketentuan umum suatu peraturan pelaksanaan. atau akronim berfungsi. Frase pembuka dalam ketentuan umum undang-undang berbunyi -Dalam Undang-Undang ini yang dimaksudkan dengan: 76. c. maksud. (2) kejahatan terhadap martabat Presiden. 82.2. dan tujuan. Karena batasan pengertian atau definisi. pembagian berdasarkan hak atau kepentingan yang dilindungi. bagian atau paragraf tertentu. singkatan. Pembagian materi pokok ke dalam kelompok yang lebih kecil dilakukan menurut kriteria yang dijadikan dasar pembagian. Jika ketentuan umum memuat batasan pengertian atau definisi singkatan atau akrorim lebih dari satu. seperti pembagian dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana: (1) kejahatan terhadap keamanan negara. dan karena itu harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pengertian ganda. 81. maka masing-masing uraiannya diberi nomor urut dengan angka Arab dan diawali dengan huraf kapital serta diakhiri dengan tanda baca titik. maka ramusan batasan pengertian atau definisi di dalam peraturan pelaksanaan harus sama dengan rumusan batasan pengertian atau definisi yang terdapat di dalam peraturan lebih tinggi yang dilaksanakan tersebut. ketentuan umum diletakkan dalam pasal (-pasal) awal. 74. Ketentuan umum diletakkan dalam bab kesatu. 77. Contoh a. batasan pengertian atau definisi. dianjurkan agar kata atau istilah itu diberi definisi. materi pokok yang diatur diletakkan setelah pasal (-pasal) ketentuan umum. pengertian yang mengatur tentang lingkup umum ditempatkan lebih dahulu dari yang berlingkup khusus. dan jika tidak ada pengelompokkan bab. Jika suatu kata atau istilah hanya digunakan satu kali. dan c. b. Kata atau istilah yang dimuat dalam ketentuan umum hanyalah kata atau istilah yang digunakan berulang-ulang di dalam pasal (-pasal) selanjutnya. pengertian yang mempunyai kaitan dengan pengertian di atasnya diletakkan berdekatan secara berurutan. 78. Urutan penempatan kata atau istilah dalam ketentuan umum mengikuti ketentuan sebagai berikut: a. namun kata atau istilah itu diperlukan pengertiannya untuk suatu bab. . Materi Pokok yang Diatur 83. 79. Materi pokok yang diatur ditempatkan langsung setelah bab ketentuan umum.C. untuk menjelaskan makna suatu kata atau istilah maka batasan pengertian atau definisi. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak dilakukan pengelompokan bab. C. 80. b. singkatan atau akronim vang digunakan dalam peraturan.

perlu dihindari: a. kecuali untuk Undang-Undang tindak pidana khusus. Dalam menentukan lamanya pidana atau banyaknya denda perlu dipertimbangkan mengenai dampak yang ditimbulkan oleh tindak pidana dalam masyarakat serta unsur kesalahan pelaku. Jika di dalam Peraturan Perandang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab per bab. Ketentuan pidana hanya dimuat dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah. 90. Jika ketentuan pidana hanya berlaku bagi subyek tertentu. Wakil Jaksa Agung. b. letaknya adalah sebelum bab ketentuan penutup. 86. penyidikan. dan pemeriksaan di sidang pengadilan tingkat pertama. tingkat kasasi. pengacuan kepada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. penuntutan. jika elemen atau unsur-unsur dari norma yang diacu tidak sama. misalnya. ketentuan pidana ditempatkan dalam pasal yang terletak langsung sebelum pasal (-pasal) yang berisi ketentuan peralihan. Jika bab ketentuan peralihan tidak ada. subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frase setiap orang.00 (seratus ribu rupiah). dan peninjauan kembali. Dalam merumuskan ketentuan pidana perlu diperhatikan asas-asas umum ketentuan pidana yang terdapat dalam Buku Kesatu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Rumusan ketentuan pidana harus menyebutkan secara tegas norma larangan atau perintah yang dilanggar dan menyebutkan pasal (-pasal) yang memuat norma tersebut. 91. 88. 87. (5) kejahatan terhadap ketertiban umum dan seterusnya. dimulai dari penyelidikan. ketentuan pidana diletakkan sebelum pasal penutup. orang asing. C. saksi.3.000. Ketentuan pidana memuat rumusan yang menyatakan penjatuhan pidana atas pelanggaran terhadap ketentuan yang berisi norma larangan atau perintah. tingkat banding. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun. Ketentuan Pidana (jika diperlukan) 85. 92. Jika tiidak ada pasal yang berisi ketentuan peralihan. pembagian berdasarkan urutan/kronologis. b. pengacuan kepada ketentuan pidana Peraturan Perandang-undangan lain. Contoh: Pasal 81 Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik orang lain atau badan hukum lain untuk barang atau jasa sejenis yang diproduksi dan atau diperdagangkan. seperti Jaksa Agung. 89. c. Lihat juga Nomor 98. dan Jaksa Agung Muda. yaitu bab ketentuan pidana yang letaknya sesudah materi pokok yang diatur atau sebelum bab ketentuan peralihan. atau c. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. (4) kejahatan terhadap kewajiban dan hak kenegaraan. Dengan demikian. penyusunan rumusan sendiri yang berbeda atau tidak terdapat di norma-norma yang diatur dalam pasal (-pasal) sebelumnya. 93. Ketentuan pidana ditempatkan dalam bab tersendiri. dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp 100. seperti pembagian dalam hukum acara pidana. subyek itu dirumuskan secara tegas. karena ketentuan dalam Buku Kesatu berlaku juga bagi perbuatan yang dapat dipidana menurut Peraturan Perundangundangan lain. .(3) kejahatan terhadap negara sahabat dan wakilnya. kecuali jika oleh Undang-Undang ditentukan lain (Pasal 103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). pembagian berdasarkan urutan jenjang jabatan. pegawai negeri.

. dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 300...000. Sehubungan adanya pembedaan antara tindak pidana kejahatan dan tindak pidana pelanggaran di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. pornografi. atau menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.000.000. Contoh: Sifat kumulatif : Setiap orang yang dengan sengaja menyiarkan hal-hal yang bersifat sadisme. 00.000.000. atau kumulatif alternatif. 95.000.000.. (2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran. alternatif. Hindari rumusan dalam ketentuan pidana yang tidak menunjukkan dengan jelas apakah unsurunsur perbuatan pidana bersifat kumulatif atau alternatif. . Rumusan ketentaan pidana harus menyatakan secara tegas apakah pidana yang dijatuhkan bersifat kumulatif.dipidana dengan pidana kurungan paling lama……atau denda paling banyak Rp………….00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 250.Contoh: Pasal 95 Saksi yang memberi keterangan tidak benar dalam pemeriksaan perkara tindak pidana narkotika di muka sidang pengadilan.00 (dua ratus juta ratus lima puluh juta rupiah) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya. dan/atau bersifat perjudian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (7) dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000. 00 (tiga ratus juta rupiah). Sifat kumulatif alternative: Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 50. Contoh BAB V KETENTUAN PIDXNA Pasal 33 (1) Setiap orang ymg melanggar ketentuan Pasal.00 (delapan ratus juta rupiah). 94..000. Sifat alternative: Setiap orang yang dengan sengaja menyelenggarakan penyiaran tanpa izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun atau denda paling banyak Rp 800.00 (figa ratus juta rupiah). rumusan ketentuan pidana harus menyatakan secara tegas apakah perbuatan yang diancam dengan pidana itu dikualifikasikan sebagai pelanggaran atau kejahatan. 96.000.

Ketentuan Peralihan (jika diperlukan) 100. tunduk pada ketentuan Peraturan Perundang-undangan baru. Pidana terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi dijatuhkan kepada: a. 99. Penuntutan. mereka yang memberi perintah melakukan tindak pidana atau yang bertindak sebagai pimpinan dalam melakukan tindak pidana. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab. mengingat adanya asas umum dalam Pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa ketentuan pidana tidak boleh berlaku surut. Penyimpangan sementara itu berlaku juga bagi ketentuan yang diberlakusurutkan. Ketentuan peralihan dimuat dalam bab ketentuan peralihan dan ditempatkan di antara bab ketentuan pidana dan bab Ketentuan Penutup. Badan hukum. 104. Undang-Undang Nomor 7 Drt. 105.Contoh: Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. 103. pada saat maupun sesudah Peraturan Perundang-undangan yang baru itu dinyatakan mulai berlaku. C. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkannya dan berlaku surut sejak tanggal 1 Januari 1976. atau yayasan. dapat dimuat pengaturan yang memuat penyimpangan sementara atau penundaan sementara bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu.A. Ketentuan pidana bagi tindak pidana yang merupakan pelanggaran terhadap kegiatan bidang ekonomi dapat tidak diatur tersendiri di dalam undang-undang yang bersangkutan. 102. pasal yang memuat ketentuan peralihan ditempatkan sebelum pasal yang memuat ketentuan penutup. Contoh: Selisih tunjangan perbaikan yang timbul akibat Peraturan Pemerintah ini dibayarkan paling . Ketentuan peralihan memuat penyesuaian terhadap Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada pada saat Peraturan Perundang-undangan baru mulai berlaku. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru. b. Tahun 1955 tentang Pengusutan. misalnya. dipidana dengan pidana kurungan paling lama 10 (sepuluh) bulan. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan diberlakukan surut. Pada saat suatu Peraturan Perundang-undangan dinyatakan mulai berlaku. agar Peraturan Perundang-undangan tersebut dapat berjalan lancar dan tidak menimbulkan permasalahan hukum. Pasal 13 dan Pasal 14. atau c. atau hubungan hukum yang ada di dalam tenggang waktu antara tanggal mulai berlaku surut dan tanggal mulai berlaku pengundangannya. ketentuan pidananya harus dikecualikan. Peraturan Perundangundangan tersebut hendaknya memuat ketentuan mengenai status dari tindakan hukum yang terjadi. perkumpulan. Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang-perorangan atau oleh korporasi. segala hubungan hukum yang ada atau tindakan hukum yang terjadi baik sebelum. tetapi cukup mengacu kepada Undang-Undang yang mengatur mengenai tindak pidana ekonomi. perseroan. 97. kecuali untuk ketentuan pidananya. 101. kedua-duanya. 98. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentaan pidana akan diberlakusurutkan. dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi.

b. Perubahan ini hendaknya dilakukan dengan membuat batasan pengertian baru di dalam ketentuan umum Peraturan Perundang-undangan atau dilakukan dengan membuat Peraturan Perundang-undangan perubahan. . masih tetap berlaku untuk jangka waktu 60 (enam puluh) hari sejak tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini. memberikan kewenangan untuk membuat peraturan pelaksanaan. Contoh: Pasal 35 (1) Desa atau yang disebut dengan nama lainnya yang setingkat dengan desa yang sudah ada pada saat mulai berlakunya Undang-Undang ini dinyatakan sebagai desa menurut Pasal I huruf a. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. b. penentuan daya laku surut hendaknya tiddk diberlakusurutkan bagi ketentuan yang menyangkut pidana atau pemidanaan. Bagi nama Peraturan Perandang-undangan yang panjang dapat dimuat ketentuan mengenai nama singkat (judul kutipan) dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. penunjukan organ atau alat perlengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundangandangan. 107. 108. nama singkat. Penentuan daya laku surut sebaiknya tidak diadakan bagi Peraturan Perundang-undangan yang memuat ketentuan yang memberi beban konkret kepada masyarakat.. Nama singkat tidak memuat pengertian yang menyimpang dari isi dan nama peraturan. Jika tidak diadakan pengelompokan bab. Contoh : Izin ekspor rotan setengah jadi yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Pemerintah . misalnya. Ketentuan penutup dapat memuat peraturan pelaksanaan yang bersifat: a. dan lain-lain.lambat 3 (tiga) bulan sejak saat tanggal pengundangan Peraturan Pemerintah ini.. mengangkat pegawai. 106. Tahun . nomor dan tahun pengeluaran peraturan yang bersangkutan tidak dicantumkan. 114. Pada umumnya ketentuan penutup memuat ketentuan mengenai: a. bagi tindakan hukum atau hubungan hukum tertentu... Ketentuan penutup ditempatkan dalam bab terakhir. c. 112. serta jangka waktu atau syarat-syarat berakhirnya penundaan sementara tersebut. Mengingat berlakunya asas-asas umum hukum pidana. Hindari rumusan dalam ketentuan peralihan yang isinya memuat perubahan terselubung atas ketentuan Peraturan Perandang-undangan lain. b. Jika penerapan suatu ketentuan Peraturan Perundang-undangan dinyatakan ditunda sementara. menjalankan (eksekutif). 113. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada. mengatur (legislatif). C-5. Ketentuan Penutup 110... dan d. 109. kecuali jika singkatan atau akronim itu sudah sangat dikenal dan tidak menimbulkan salah pengertian. misalnya. ketentuan penutup ditempatkan dalam pasal (-pasal) terakhir. penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin. nama singkat bukan berupa singkatan atau akronim. 111. ketentuan Peraturan Perandangundangan tersebut harus memuat secara tegas dan rinci tindakan hukum dan hubungan hukum mana yang dimaksud.

atau keputusan yang telah dikeluarkan berdasarkan Peraturan Perandang-undangan yang dicabut. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Bank Sentral) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Bank Indonesia. dan 120: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku.... 119. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan dan telah mulai berlaku. Staasblad 1939: 733). Jika jumlah Peraturan Perundang-undangan yang dicabut lebih dari 1 (satu).. 117. 118. Contoh nama singkat yang kurang tepat: (Undang-Undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara) Undang-Undang ini dapat disebut dengan Undang-Undang tentang Peradilan Administrasi Negara. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan harus disertai dengan keterangan mengenai... Demi kepastian hukum. dapat dipertimbangkan cara penulisan dengan rincian dalam bentuk tabulasi. 116.. status hukum dari peraturan pelaksanaan.. gunakan frase dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. tentang .. Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: (1) Ordonansi Perburuan (Jachfordonantie 1931. Rumusan pencabutan diawali dengan frase Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. Nomor 118. 120. Contoh untuk.. 119. dan (4) Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbescherming-sordonantie 1941. Slaatsblad 1931: 133).Contoh nama singkat yang kurang tepat (Undang-Undang tentang Karantina Hewan.. Hindari memberikan nama singkat bagi nama Peraturan Perundang-undangan yang sebenarnya sudah singkat. Staasblad 1941 : 167). ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Tahun . peraturan lebih rendah. 115. Ikan. di dalam Peraturan Perundang-undangan baru harus secara tegas diatur mengenai pencabutan seluruh atau sebagian Peraturan Perundang-undangan lama. . dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Hindari penggunaan sinonim sebagai nama singkat. 121. kecuali untuk pencabutan yang dilakukan dengan Peraturan Perundang-undangan pencabutan tersendiri.undangan mana yang dicabut. Undang-undang Nomor . pencabutan Peraturan Perundang-undangan hendaknya tidak dirumuskan secara umum tetapi menyebutkan dengan tegas Peraturan Perundang. dan Tumbuhan) Undang-Undang ini dapat disebut Undang-Undang tentang Karantina Hewan. 122. (2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonantie 1931. Jika materi dalam Peraturan Perundang-undangan baru menyebabkan perlunya penggantian seluruh atau sebagian materi dalam Peraturan Perundang-undangan lama. (3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtordonantie Java en Madoera 1940. Staasblad 1931 : 134). Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .. b.. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2000. (tenggang waktu) sejak ... Undang-Undang Nomor . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3086) dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-Undang ini. menentukan tanggal tertentu saat peraturan akan berlaku. 124. gunakan frase ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku... Pada dasarnya setiap Peraturan Perandang-undangan mulai berlaku pada saat peraturan yang bersangkutan diundangkan. jika yang diberlakukan itu kodifikasi.. menyerahkan penetapan saat mulal berlakunya kepada Peraturan Perundang-undangan lain yang tingkatannya sama.. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 123. Tahun tentang . Hindari frase . Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. atau oleh Peraturan Perundang-undangan lain yang lebih rendah. semua Peraturan Perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1976 tentang Narkotika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36. Pada dasarnya saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan adalah sama bagi seluruh bagian Peraturan Perundang-undangan dan seluruh wilayah negara Republik Indonesia. dengan menentukan lewatnya tenggang waktu tertentu sejak saat Pengundangan atau penetapan. Contoh: Undang-Undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak tanggal pengundangan.... Agar tidak menimbulkan kekeliruan penafsiran gunakan frase setelah . Jika ada penyimpangan terhadap saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan pada saat diundankan. Contoh: Saat mulai berlakunya Undang-Undang ini akan ditetapkan dengan Peraturan Presiden.. Untuk mencabut Peraturan Perundang-undangan yang telah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. hal ini hendaknya dinyatakan secara tegas di dalam Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan dengan: a. ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku.. Nomor Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . 127. c. karena frase ini menimbulkan ketakpastian mengenai saat resmi berlalunya suatu Peraturan Perandangundangan: saat Pengundangan atau saat berlaku efektif.Contoh: Pasal 102 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. 126. 128.. atau yang sejenisnya. Penyimpangan terhadap saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan hendaknya dinyatakan secara tegas dengan: ... 125.. mulai berlaku efektif pada tanggal .

131. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan. b. baik jenis. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan akibat hukum tertentu yang sudah ada. dan d. c. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Peraturan Perundang-undangan hanya dapat dicabut dengan Peraturan Perundangundangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi.. rincian mengenai pengaruh ketentuan berlaku surut itu terhadap tindakan hukum. menetapkan bagian-bagian mana dalam Peraturan Perundang-undangan itu yang berbeda saat mulai berlakunya. 132. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan dan memuat: a. awal dari saat mulai berlaku Perataran Perundangan-undangan sebaiknya ditetapkan tidak Iebih dahulu dari saat rancangan Peraturan Perundang-undangan tersebut mulai diketahui oleh masyarakat. Pada dasarnya saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan tidak dapat ditentukan lebih awal dari pada saat pengundangannya. berlaku surut). 135. misalnya. Contoh : Pasal 45 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). Contoh : Pasal 40 (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) mulai berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura pada tanggal… 129. 133. tidak ikut diberlakusurutkan.. Jika ada alasan yang kuat untuk memberlakukan Peraturan Perundang-undangan lebih awal daripada saat pengundangannya (artinya. ayat (3). pelaksanaannya tidak boleh ditetapkan lebih awal daripada saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan yang mendasarinya. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan. akhir bagian penutup. saat rancangan undang-undang itu disampaikan ke Dewan Perwakilan Rakyat. ketentuan barli yang berkaitan dengan masalah pidana. PENUTUP 134. sifat. maupun klasifikasinya. atau Berita Daerah. Saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan. memerintahkan pengundangan…(jenis Peraturan Perundang-undangan) . hubungan hukum. 130.a. Lembaran Daerah. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi itu dilakukan. berat. . dan ayat (4) mulai berlaku pada tanggal… b. D. menetapkan saat mulai berlaku yang berbeda bagi wilayah negara tertentu. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi itu dimaksudkan untuk menampung kembali seluruh atau sebagian materi Peraturan Perundangundangan lebih rendah yang dicabut itu. Berita Negara Republik Indonesia. b. perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. ayat (2). perlu dimuat dalam ketentuan peralihan. c.

tanda tangan NAMA Contoh untuk penetapan: Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. Nama jabatan dan nama pejabat ditulis dengan huruf kapital.. b. 143. 137. nama lengkap pejabat yang mendatangani.136. ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah (Berita Daerah)..(Jenis Peraturan Perundang-undangan). pengundangan. 139. nama jabatan yang berwenang mengundangkan. Penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan memuat: a. Rumusan tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan diletakkan di sebelah kanan. memerintahkan pengundangan. b. Contoh untuk pengesahan Disahkan di Jakarta pada tanggal . tempat dan tanggal Pengundangan. c. Pengundangan Peraturan Perandang-undangan memuat: a.. tanda tangan pejabat.. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perandang-undangan dalam Berita Negara Republik Indonesia yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya... dan d.. tempat dan tanggal pengesahan atau penetapan. Contoh . nama jabatan. ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia... tanda tangan NAMA 141. Tempat tanggal Pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan). tanda tangan. Pada akhir nama jabatan diberi tanda baca koma. Rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara atau Berita Daerah yang berbunyi sebagai berikut: Contoh Agar setiap orang mengetahuinya. tanpa gelar dan pangkat. memerintahkan. dan d. 138.(jenis Peraturan Perundang-undangan) ... tanpa gelar dan pangkat.. 140. nama lengkap pejabat yang menandatangani. 142. . c. PRESIDEN REPUBLIK TNDONTESIA. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

. 147..NOMOR. Pada akhir bagian penutup dicantumkan Lembaran Negara Republik Indonesia. 145. NOMOR. 151. Oleh karena itu.. Dengan demikian. NOMOR. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Presiden tidak menandatangani rancangan undang-undang yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden.. dan Berita Daerah tersebut.. penjelasan sebagai sarana untuk memperjelas norma dalam batang tubuh tidak boleh mengakibatkan terjadinya ketidakjelasan dari norma yang dijelaskan. Setiap Undang-Undang perlu diberi penjelasan.. Judul penjelasan sama dengan judul Peraturan Perandang-undangan yang bersangkutan. Contoh : LEMBARAN DAERAH PROVINSI (KABUPATEN/KOTA) . b... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang Peraturan Perundang-undangan) tanda tangan NAMA 144. Lembaran Daerah. Oleh karena itu. E. 146. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Peraturan Daerah ini dinyatakan sah.. a. penjelasan hanya mernuat uraian atau jabaran lebih lanjut dari norma yang diatur dalam batang tubuh. jika diperlukan. Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan peraturan perandang-undangan yang bersangkutan. Jika dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari Gubernur/Bupati/Walikota tidak menandatangani rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur atau Bupati/Walikota... pada tanggal . Contoh : LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . Berita Negara Republik Indonesia. Penulisan frase Lembaran Negara Republik Indonesia. hindari membuat rumusan norma di dalam bagian penjelasan. PENJELASAN 148. Peraturan Perundang-undangan di bawah Undang-Undang dapat diberi penjelasan. Berita Negara Republik Indonesia. Dalam penjelasan dihindari rumusan yang isinya memuat perubahan terselubung terhadap ketentuan Peraturan Perundang-undangan. Lembaran Daerah. Lembaran Daerah. dan Berita Daerah beserta tahun dan nomor dari Lembaran Negara Republik Indonesia..Diundangkan di . Contoh BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN . 149... Berita Negara Republik Indonesia.. . 150. Penjelasan tidak dapat digunakan sebagai dasar hukum untuk membuat peraturan lebih lanjut.. Penjelasan berfungsi sebagai tafsiran resmi pembentuk Peraturan Perundang-undangan atas norma tertentu dalam batang tubuh. TAHUN .. maka dicantumkan kalimat pengesahan setelah nama pejabat yang mengundangkan yang berbunyi : Undang-Undang ini dinyatakan sah berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.. dan Berita Daerah ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.. 153. 152.

tidak bertentangan dengan materi pokok yang diatur dalam batang tubuh.. Bagian-bagian dari penjelasan umum dapat diberi nomor dengan angka Arab.. tujuan.. Rincian penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal diawali dengan angka Romawi dan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Penjelasan umum meMuat uraian secara sistematis mengenai latar belakang pemikiran. tidak melakukan pengulangan atas materi pokok yang diatur dalam batang tubuh. serta asas-asas. PASAL DEMI PASAL 156. Contoh: I...diperhatikan agar rumusannya: a.. TENTANG KESEJAHTERAAN ANAK 154. maksud. (5) Wilayah Administratif . Jika dalam penjelasan umum dimuat pengacuan ke Peraturan Perundang-undangan lain atau dokumen lain. (2) Pembagian Wilayah ... UMUM (1) Dasar Pemikiran .. tidak mengulangi uraian kata.. 159. b. tidak perlu diberikan penjelasan karena itu batasan pengertian atau definisi harus dirumuskan . istilah. atau pengertian yang telah dimuat di dalam ketentuan umum. 155. c. jika hal ini lebih memberikan kejelasan. UMUM II. pengacuan itu dilengkapi dengan keterangan mengenai sumbernya..Contoh: PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR . (4) Daerah Otonom ... tidak memperluas atau menambah norma yang ada dalam batang tubuh. dan tujuan penyusunan Peraturan Perundang-undangan yang telah tercantum secara singkat dalam butir konsiderans. 157. (6) Pengawasan . Dalam menyusun penjelasan pasal demi pasal harus .. Penjelasan Peraturan Perundang-undangan memuat penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal. TAHUN . (3) Asas-asas Penyelenggara Pemerintahan . d. Ketentuan umum yang memuat batasan pengertian atau definisi dari kata atau istilah. 158. Contoh: I. 160... atau pokok-pokok yang terkandung dalam batang tubuh Peraturan Perundang-undangan.

Ayat (2) Ayat ini dimaksudkan untuk memberi kepastian hukum kepada hakim dan para pengguna hukum. setiap ayat atau butir perlu dicantumkan dan dilengkapi dengan penjelasan yang sesuai. Ayat (4) Cukup jelas. Contoh yang kurang tepat: Pasal 7. Pada pasal atau ayat yang tidak memerlukan penjelasan ditulis frase Cukup jelas yang dialchiri dengan. Ayat (3) Cukup jelas. Contoh : Pasal 25 Ayat (1) Yang dimaksud dengan "persidangan yang berikut" adalah masa persidangan Dewan Perwakilan Rakyat yang hanya diantarai satu masa reses. Pasal 8 dan Pasal 9 (Pasal 7 s/d Pasal 9) Cukup jelas. Pasal 8 Cukup jelas. 163. 161. Ayat (2) Cukup jelas.. b. tanda baca titik. 162. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir dan salah satu ayat atau butir tersebut memerlukan penjelasan. Cukup jelas. . Seharusnya Pasal 7 Cukup jelas. jika suatu istilah/kata/frase dalam suatu pasal atau ayat yang memerlukan penjelasan. Ayat (3) Cukup jelas. pasal yang bersangkutan cukup diberi penjelasan. sesuai dengan makna frase penjelasan pasal demi pasal tidak digatungkan walaupun terdapat beberapa pasal benirutan yang tidak memerlukan penjelasan. a. Contoh : Pasal 7 Ayat (1) Cukup jelas.sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti tanpa memerlukan penjelasan lebih lanjut. Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 9 Cukup jelas. tanpa merinci masing-masing ayat atau butir. Jika suatu pasal terdiri dari beberapa ayat atau butir tidak memerlukan penjelasan. gunakan tanda baca petik (“…”) pada istilah kata/frase tersebut.

. diatur dengan Peraturan Pemerintah. gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai .F..diatur dengan atau berdasarkan. harus menyebut dengan tegas: a. Dalam hal Peraturan Perundang-undangan memerlukan lampiran.. a. 168. Contoh huruf b : .. Jika materi yang didelegasikan sama sekali belum diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan dan materi itu harus diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang diberi delegasi dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). a. (1) . diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah. diatur dengan. b. BAB II HAL-HAL KHUSUS A.. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai .. 166... Contoh huruf b : Pasal . Contoh hurif a: Pasal . b. jenis Peraturan Perundang-undangan.. ruang lingkup materi yang diatur... diatur dengan. diatur dengan Peraturan Pemerintah. (1) ... Pendelegasian kewenangan mengatur... 167. Jika peraturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) digunakan kalimat Ketentuan mengenai…diatur dengan atau berdasarkan… Contoh huruf a: Pasal… (1) … (2) Ketentuan mengenai . Jika materi yang didelegasikan sebagian sudah diatur pokok-pokoknya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan tetapi materi itu harus diatur hanya di dalam Peraturan Perundang-undangan yang didelegasikan dan tidak boleh didelegasikan lebih lanjut ke Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah (subdelegasi). Pada akhir lampiran hatus dicantumkan nama dan tanda tangan pejabat yang mengesahkan/menetapkan Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan... dan b..... gunakan kalimat Ketentuan mengenai .. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai . PENDELEGASIAN KEWENANGAN 165. Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi dapat mendelegasikan kewenangan mengatur lebih lanjut kepada Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah. Jika pengaturan materi tersebut dibolehkan didelegasikan lebih lanjut (subdelegasi) gunakan kalimat Ketentuan lebih lanjut mengenai .. hal tersebut harus dinyatakan dalam batang tubuh dan pernyataan bahwa lampiran tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan. LAMPIRAN (Jika diperlukan) 164....

171. diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pernerintah. kecuali jika hal tersebut memang tidak dapat dihindari. Kewenangan yang didelegasikan kepada suatu alat penyelenggara negara tidak dapat didelegasikan lebih lanjut kepada alat penyelenggara negara lain. Ketentuan penyidikan hanya dapat dimuat di dalam Undang-Undang dan Peraturan Daerah.. kecuali jika oleh UndangUndang yang mendelegasikan kewenangan tersebut dibuka kemungkinan untuk itu. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 175. pendelegasian kewenangan dapat dipertimbangkan untuk dimuat dalam pasal tersendiri... Pengutipan kembali dapat dilakukan sepanjang rumusan norma atau ketentuan tersebut diperlukan sebagai pengantar (aanloop) untuk merumuskan norma atau ketentuan lebih lanjut di dalam pasal (-pasal) atau ayat (-ayat) selanjutnya. Contoh : Pasal . Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Undang-Undang ini. Ketentuan penyidikan memuat pemberian kewenangan kepada Penyidik Pegawai Negeri Sipil departemen atau instansi tertentu untuk menyidik pelanggaran terhadap ketentuan UndangUndang atau Peraturan Daerah. (1) . Pendelegasian langsung kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat hanya dapat diberikan oleh Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih rendah daripada UndangUndang.. 176. Pendelegasian kewenangan mengatur dari Undang-Undang kepada menteri atau pejabat yang setingkat dengan menteri dibatasi untuk peraturan yang bersifat teknis administratif 174.Pasal . (2) Ketentuan mengenai . 172. Dalam pendelegasian kewenangan mengatur sedapat mungkin dihindari adanya delegasi blangko.. 170. Contoh: Pasal 10 (1) … (2) ketentuan lebih lanjut tentang tata cara permohonan pendaftaran desain industri diatur dengan Peraturan Pemenintah.. PENYIDIKAN 179. Di dalam peraturan pelaksana sedapat mungkin dihindari pengutipan kembali rumusan norma atau ketentuan yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan lebih tinggi yang mendelegasikan. Untuk mempermudah dalam penentuan judul dari peraturan pelaksana yang akan dibuat rumusan pendelegasian perlu mencantumkan secara singkat tetapi lengkap mengenai apa yang akan diatur lebih lanjut . 177. karena materi pendelegasian ini pada dasarnya berbeda dengan apa yang diatur dalam rangkaian ayat-ayat sebelumnya. 169. Jika pasal terdiri dari banyak ayat.. Jika pasal terdiri dari beberapa ayat pendelegasian kewenangan dimuat pada ayat terakhir dari pasal yang bersangkutan. 180. Peraturan Perundang-undangan pelaksanaannya hendaknya tidak mengulangi ketentuan norma yang telah diatur di dalam Peraturan Perundang-undangan yang mendelegasikan. 178. 173. 181. Hindari pendelegasian kewenangan mengatur secara langsung dari Undang-Undang kepada direktur jenderal atau pejabat yang setingkat. Dalam merumuskan ketentuan yang menunjuk pejabat tertentu sebagai penyidik hendaknya . B...

Contoh : Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan .. tetapi belum mulai berlaku.. Jika ada Peraturan Perundang-undangan lama yang tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Peraturan Perundang-undangan baru.. meskipun Peraturan Perundang-undangan yang mencabut di kemudian hari dicabut pula. Peraturan Perundang-undangan yang baru harus secara tegas mencabut Peraturan Perundang-undangan yang tidak diperlukan itu. kecuall ditentukan lain secara tegas. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang sudah diundangkan atau diumumkan. Peraturan Perundang-undangan atau ketentuan yang telah dicabut. 187. ditempatkan pada pasal (-pasal) sebelum ketentuan pidana. Pencabutan Peraturan Perundang-undangan yang menimbulkan perubahan dalam Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait... pencabutan Peraturan Perundang-undangan itu dinyatakan dalam salah satu pasal dalam ketentuan penutup dari Peraturan Perundang-undangan yang baru. Jika Peraturan Perundang-undangan baru mengatur kembali suatu materi yang sudah diatur dan sudah diberlakukan. peraturan pencabutan itu hanya memuat 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. dapat diberikan kewenangan untuk melaksanakan penyidikan terhadap pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan dalam Undang-Undang (atau Peraturan Daerah) ini. 191. PENCABUTAN 183. Jika pencabutan Peraturan Perundangan-undangan dilakukan dengan peraturan pecabutan tersendiri.. 186.. Pasal 1 memuat ketentuan yang menyatakan tidak berlakunya Peraturan Perundangundangan yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku. . Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya hanya dapat dicabut melalui Peraturan Perundang-undangan yang setingkat. otomatis tidak berlaku kembali.diusahakan ajar tidak mengurangi kewenangan penyidik umum untuk melakukan penyidikan. 184. yaitu sebagai berikut: a. dapat dilakukan dengan peraturan tersendiri dengan menggunakan rumusan ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku. Peraturam Perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh mencabut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 2 memuat ketentuan tentang saat mulai berlakunya Peraturan Perundang-undangan pencabutan yang bersangkutan. (nama departemen atau instansi). 182. b. Contoh Pasal 1 Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . Nomor…Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor ..) dicabut dan di nyatakan tidak berlaku. Pencabutan melalui Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya lebih tinggi dilakukan jika Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut dimaksudkan untuk menampung kembali seturuh atau sebagian dari materi Peraturan Perundang-undangan yang lebih rendah yang dicabut itu. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 185. 189. 190. dengan menggunakan rumusan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. 188. tidak mengubah Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait tersebut. C. Ketentuan penyidikan ditempatkan sebelum ketentuan pidana atau jika dalam UndangUndang atau Peraturan Daerah tidak diadakan pengelompokan.

selain mengikuti ketentuan pada Nomor 193 huruf a. istilah. bagian. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) yang telah beberapa kali diubah dengan Undang-undang: a. Pasal II juga dapat memuat ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan.. Ketentuan Pasal 8 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:.(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun. dengan menyebutkan Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung serta memuat materi atau norma yang diubah.. Pasal II memuat ketentuan tentang saat mulai berlaku. seluruh atau sebagian buku. b. 193. paragaf. 194. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). dan/atau tanda baca. Peraturan Perundang-undangan perubahan dapat menggunakan nama singkat Peraturan Perundangundangan yang diubah. atau pasal baru. Pada dasarnya batang tubuh Peraturan Perundang-undangan perubahan terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Romawi yaitu sebagai berikut: a. 2. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan ditambahkan atau disisipkan bab. maka bab. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…)... Jika Peraturan Perundang-undangan telah diubah lebih dari satu kali. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor. 3. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 192.. bab. dan seterusnya). 2. c. kalimat..) diubah sebagai berikut : 1.. materi perubahan dirinci dengan menggunakan angka Arab (1. setiap. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dapat dilakukan terhadap: a. juga tahun dan nomor dari Peraturan Perundang-undangan perubahan yang ada serta Lembaran Negara Republik Indonesia dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia yang diletakkan di antara tanda baca kurung dan dirinci dengan huruf-huruf (abjad) kecil (a. Perubahan Peraturan Perundang-undangan dilakukan dengan: a. 196.. paragraf. dan/atau ayat. Jika materi perubahan lebih dari satu. 3.. kata.. b. c dan seterusnya).. menghapus atau mengganti sebagian materi Peraturan Perundang-undangan. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. paragraf.. Pasal 1 memuat judul Peraturan Perundang-undangan yang diubah.Nomor.. pasal 1 memuat... atau b. angka.tentang. Jika Pengaturan Perundang-undangan yang diubah mempuyai nama singkat. Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor… Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). yang maksudnya berbeda dengan ketentuan peralihan dari Peraturan Perundang-undangan yang diubah.D. perubahan.. 195..Tahun. bagian. Contoh: Pasal 1 Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor. pasal. bagian. atau pasal baru tersebut dicantumkan pada .. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:. dan seterusnya. Contoh: Pasal 1 Undang-undang Nomor…Tahun…tentang .. atau b. Dalam hal tertentu.. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Peraturan Perundang-undangan.. b. c.

Contoh 10. bagian paragraf. yakni Pasal 128 A sehingga berbunyi sebagai berikut Pasal 128 A Dalam hal terbukti adanya pelanggaran paten. 197. Contoh penyisipan bab: 15. bagian.tempat yang sesuai dengan materi yang bersangkutan. yang diletakkan di antara tanda baca kurung. Di antara Pasal 128 dan Pasal 129 disisipkan 1 (satu) pasal. (1a) …. Jika dalam I (satu) pasal yang terdiri dari beberapa ayat disisipkan ayat baru. (2) …. yakni BAB IX A sehingga berbunyi sebagai berikut: BAB IX A INDIKASI GEOGRAFI DAN INDIKASI ASAL Bagian Pertama Indikasi Geografi Pasal 79 A (1) … (2) . atau ayat. c.. hakim dapat memerintahkan hasilhasil pelanggaran paten tersebut dirampas untuk negara untuk dimusnahkan. Di antara ayat (1) dan ayat (2) Pasal 18 disisipkan 2 (dua) ayat. (1b) …. pasal. penulisan ayat baru tersebut diawali dengan angka Arab sesuai dengan angka ayat yang disisipkan dan ditambah dengan huruf kecil a. b. atau ayat tersebut tetap dicantumkan dengan diberi keterangan dihapus. (3) … Pasal 79 B (1) … (2) … (3) … Contoh penyisipan pasal 9. Jika dalam suatu Peraturan Perundang-undangan dilakukan penghapusan atas suatu bab. Contoh . 198. yakni ayat (1a) dan ayat (lb) sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut Pasal 19 (1) …. paragraf. maka urutan bab. Di antara BAB IX dan BAB X disisipkan 1 (satu) bab.. pasal.

Tahun…tentang ..... TENTANG PENYUSUNAN KEMBALI NASKAH UNDANG-UNDANG NOMOR. angka dan butir serta penyebutan-penyebutannya dan ejaan-ejaannya. paragraf. TAHUN… TENTANG …………………. TAHUN . atau butir. terakhir dengan Undang-Undang Nomor . atau c. 200.. angka. sistematika Peraturan Perundang-undangan berubah. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ejaan.. Mengingat: Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. pasal. esensinya berubah. Tahun .. sebagaimana telah diubah beberapa kali. berbunyi . pasal. paragraf. jika Peraturan Perundang-undangan yang diubah masih tertulis dalam ejaan lama.. Peraturan Perundang-undangan yang diubah tersebut lebih baik dicabut dan disusun kembali dalam Peraturan Perundang-undangan yang baru mengenai masalah tersebut. Tahun .. b...9.. suatu perubahan Peraturan Perundang-undangan mengakibatkan: a. dengan mengadakan penyesuaian pada : 1. tentang . tentang Perubahan Undang-Undang Nomor .... ayat.. Jika suatu Peraturan Perundang-undangan telah sering mengalami perubahan sehingga menyulitkan pengguna Peraturan Perundang-undangan.. Penyusunan kembali sebagaimana dimaksud pada Nomor 199 butir a dilaksanakan oleh Presiden dengan mengeluarkan suatu penetapan yang berbunyi sebagai berikut: Contoh PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR ... bagian. ayat. dan dengan mengadakan penyesuaian mengenai urutan bab. Tahun ... Pasal 16 dihapus 10. terakhir dengan Undang-Undang Nomor . bagian. penyebutan-penyebutan. Menimbang: bahwa untuk mempermudah pemahaman materi yang diatur dalam Undang-Undang Nomor . MEMUTUSKAN: Menetapkan: KESATU: Naskah Undang-Undang Nomor…Tahun…tentang…yang telah beberapa kali diubah. 201. dan 3.. sebaiknya Peraturan Perundangundangan tersebut disusun kembali dalam naskah sesuai dengan perubahan-perubahan yang telah dilakukan. Pasal 19 ayat (2) dihapus sehingga Pasal 18 berbunyi sebagai berikut: Pasal 18 (1) … (2) Dihapus (3) … 199.... urutan bab.. 2. tentang. perlu menyusun kembali naskah Undang-Undang tersebut dengan memperhatikan segala perubahan yang telah diadakan. materi Peraturan Perundang-undangan berubah lebih dari 50% (lima puluh persen).

. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. Stockpiling and Use of Chemical Weapon and on Their Destruction (Konvensi tentang Pelanggaran Pengembangan. Contoh Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 106. yaitu sebagai berikut: a... F. Pasal 1 memuat pengesahan perjanjian internasional dengan memuat pernyataan melampirkan salinan naskah aslinya atau naskah asli bersama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pasal 2 memuat ketentuan mengenai saat mulai berlaku. dan Penggunaan Senjata Kimia serta Pemusnahannya) yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari UndangUndang ini. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANGUNDANG 202. Pasal 1 memuat penetapan Perpu menjadi undang-undang yang diikuti dengan pernyataan melampirkan Perpu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan undang-undang penetapan yang bersangkutan. E. Produksi. yang ditulis dengan angka Arab. Contoh untuk perjanjian multilateral: Pasal 1 Mengesahkan Convention on the Prohibition of the Development. KEDUA: Peraturan Presiden ini dengan lampirannya ditempatkan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Production. Batang tubuh Undang-Undang tentang pengesahan perjanjian intemasional pada dasarnya terdiri atas 2 (dua) pasal yang ditulis dengan angka Arab. Batang tubuh Undang-Undang tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) menjadi undang-undang pada dasarnya terdiri dari 2 (dua) pasal. KETIGA: Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNATIONAL 203. b. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Penimbunan. yaitu sebagai berikut: a. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor .sebagai tercantum dalam Lampiran Peraturan Presiden ini. ) ditetapkan menjadi Undang-Undang. b.

. BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Bahasa Peraturan Perundang-undangan pada dasarnya tunduk kepada kaidah tata Bahasa Indonesia. hormat menghormati setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain. kelugasan. Contoh: Pasal 34 (1) Suami isteri wajib saling cinta mencintai. baik yang menyangkut pembentukan kata. penyusunan kalimat.Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Perjanjuan Kerjasama antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik dalam Masalah Pidana (Treaty between the Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters) yang telah ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1995 di Jakarta yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG . Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan 204. namun demikian bahasa Peraturan Perundang-undangan mempunyai corak tersendiri yang bercirikan kejernihan atau kejelasan pengertian. keserasian. dan ketaatan asas sesuai dengan kebutuhan hukum. Cara penulisan rumusan Pasal 1 bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional dilakukan dengan Undang-Undang berlaku juga bagi pengesahan perjanjian atau persetujuan internasional yang dilakukan dengan Peraturan Presiden. bahasa Inggris. dan bahasa Cina sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. kebakuan. maupun pengejaannya. teknik penulisan.UNDANGAN A. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.UNDANGAN 202. Contoh untuk perjanjian bilateral yang menggunakan lebih dari dua bahasa: Pasal 1 Mengesahkan Persetujuan antara Republik Indonesia dan Pemerintah Hongkong untuk Penyerahan Pelanggar Hukum yang Melarikan Diri (Agreement the Government of the Republic of Indonesia and the Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive Offenders) yang telah ditandatangani pada tanggal 5 Mei 19977 di Hongkong yang salinan naskah aslinya dalam bahasa Indonesia.

Contoh: Pasal 5 (1) Untuk dapat mengajukan permohonan kepada Pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang ini. Warna pintu rumah itu putih. Untuk memberikan perluasan pengertian kata atau istilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. dan memberi bantuan lahir bathin. 208. gunakan kaidah tata bahasa Indonesia yang baku. (3) Perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut izin usahanya. Hindarkan penggunaan kata atau frase yang artinya kurang menentu atau konteksnya dalam kalimat kurang jelas. 206 Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perundang-undangan digunakan kalimat yang tegas. (3) lzin usaha perusahaan yang melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dapat dicabut. Contoh: . Dalam merumuskan ketentuan Peraturan Perandang-undangan. (2) Pintu ramah itu (berwarna) putih. menghormati. (2) Pintu rumah ita warnanya putih. gunakan kata meliputi.Rumusan yang lebih baik: (1) Suami isteri wajib saling mencintai. setia. singkat. Contoh : Istilah minuman keras mempunyai makna yang kurang jelas dibandingkan dengan istilah minuman beralkohol. dan mudah dimengerti. jelas. Contoh kalimat yang baku: (1) Rumah itu mempunyai pintu (yang berwarna) putih. 209. Contoh kalimat yang tidak baku: (1) Rumah itu pintunya putih. harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Rumusan yang lebih baik: (1) Permohonan berisi lebih dari seorang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 207.

Jika membuat pengacuan ke pasal atau ayat lain. dan perikanan. Menteri adalah Menteri Keuangan. 213. Contoh: a. dengan tidak mengurangi. Untuk mempersempit pengertian kata istilah isilah yang sudah diketahui umum tanpa membuat definisi baru. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara yang selanjutnya disebut Komisi Pemeriksa adalah… c. Jika untuk menyatakan penghasilan. Jika kata atau frase tertentu digunakan berulang-ulang maka untuk menyederhanakan rumusan dalam peraturan perundang-undangan. Hindari pemberian arti kepada kata atau frase yang maknanya terlalu menyimpang dari makna yang biasa digunakan dalam penggunaan bahasa sehari-hari. kata atau frase sebaiknya didefinisikan dalam pasal yang memuat arti kata. dalam suatu pasal telah digunakan kata gaji maka dalam pasalpasal selanjutnya jangan menggunakan kata upah atau pendapatan untuk menyatakan pengertian penghasilan b. Jika dalam peraturan pelaksanaan dipandang perlu mencantumkan kembali definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang dilaksanakan. Untuk menghindari perubahan nama suatu departemen. Anak buah kapal tidak meliputi koki magang. 211. atau tanpa menyimpang dari. Contoh: Istilah penangkapan tidak digunakan untuk meliputi pengertian penahanan atau pengamanan karena pengertian penahanan tidak sama dengan pengertian pengamanan. gunakan kata tidak meliputi. Pejabat negara meliputi direksi badan usaha milik negara dan direksi badan usaha milik daerah. 216. Asuransi Kesehatan yang selanjutnya disingkat ASKES. upah. 210. . satu istilah untuk beberapa pengertian yang berbeda. sedapat mungkin dihindari penggunaan frase tanpa mengurangi.6. Rumusan yang baik: 3. atau pendapatan dapat menyatakan pengertian penghasilan. 212. b. Contoh : 3. Contoh 5. 214. atau digunakan singkatan atau akronim. Pertanian meliput pula perkebunan. peternakan. Tentara Nasional Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat TNI adalah… d. Contoh : Istilah gaji. penyebutan menteri sebaiknya menggunakan penyebutan yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab di bidang yang bersangkutan. Di dalam Peraturan Perundang-undangan yang sama hindari penggunaan: a. istilah. pengertian. beberapa isfilah yang berbeda untuk menyatakan satu. 215. Pertanian meliputi perkebunan. rumusan definisi atau batasan pengertian tersebut hendaknya tidak berbeda dengan rumusan definisi atau batasan pengertian yang terdapat dalam Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tersebut.

bidang ketenagakerjaan) 217. Contoh: (1) penghinaan terhadap peradilan (contempt of court) (2) penggabungan (merger) B. jumlah uang. Contoh : Kecuali A dan B.000. Untuk menyatakan makna tidak termasuk. b. Untuk menyatakan maksimum dan minimum bagi satuan: a. Contoh: . lebih singkat bila dibandingkan dengan padanannya dalam Bahasa Indonesia. gunakan frase paling singkat atau paling lama. atau e. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH 219. gunakan kata kecuali. Kata kecuali ditempatkan di awal kalimat. 221. Kata kecuali ditempatkan langsung di belakang suatu kata. Kata atau frase bahasa asing itu didahului oleh padanannya dalam Bahasa Indonesia. ditulis miring.000. d. 220. c.00 (satu milyar rupiah). jika yang dikecualikan adalah seluruh kalimat. gunakan frase paling sedikit atau paling banyak. mempunyai konotasi yang cocok.Contoh: Menteri adalah Menteri yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang…(misalnya. Contoh: (1) devaluasi (penurunan nilai uang) (2) devisa (alat pembayaran luar negeri) 218. jika yang akan dibatasi hanya kata yang bersangkutan. Penyerapan kata atau frase bahasa asing yang banyak dipakai dan telah disesuaikan ejaanya dengan kaidah Bahasa Indonesia dapat digunakan. gunakan frase paling rendah dan paling tinggi. Penggunaan kata atau frase bahasa asing hendaknya hanya digunakan di dalam penjelasan peraturan perundang-undangan. b..00 (lima ratus ribu rupiah) dan paling banyak Rp 1 . setiap orang wajib memberikan kesaksian di depan sidang pengadilan.000.. c. atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 500. lebih mempermudah tercapainya kesepakatan. dan diletakkan di antara tanda baca kurung. jika kata atau frase tersebut: a. Contoh: . mempunyai corak internasional. lebih mudah dipahami daripada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.000. 222. jumlah non-uang. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun. Untuk menyatakan pengertian maksimum dan minimum dalam menentukan ancaman pidana atau batasan waktu yang digunakan kata paling. waktu.

gunakan kata selain. Contoh: Dalam hal Ketua tidak dapat hadir. digunakan kata dan. Contoh: Apabila anggota Komisi Pemberantasan Korupsi berhenti dalam masa jabatannya karena alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4). pelaut. 226. 228. yang bersangkutan digantikan oleh anggota pengganti sampai habis masa jabatannya. dan Pasal 47 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dinyatakan tidak berlaku. juru mudi. izin perusahaan tersebut dapat dicabut. Contoh : A atau B wajib memberikan. digunakan kata jika. Pasal 45.Yang dimaksud dergan anak buah kapal adalah mualim. keadaan atau kondisi yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi (pola kemungkinan-maka).. Kata apabila digunakan untak menyatakan hublingan kausal yang mengandung waktu. atau frase dalam hal. Contoh : A dan B dapat menjadi . Contoh: Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. gunakan frase dan/atau. 224. Untuk menyatakan sifat alternatif.. apabila. 225. Untuk menyatakan makna pengandaian atau kemungkinan. dan koki. 223.. c. . kecuali koki magang. Frase pada saat digunakan untuk menyatakan suata keadaan yang pasti akan terjadi di masa depan. Untuk menyatakan sifat kumulatif sekaligus altematif.. Contoh: Selain wajib memenuhi syarat yang telah ditentukan dalam Pasal 7. b. 227. a. Frase dalam hal digunakan untuk menyatakan suatu kemungkinan. sidang dipimpin oleh Wakil Ketua. digunakan kata atau. pemohon wajib membayar biaya pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. Kata jika digunakan untuk menyatakan suatu hubungan kausal (pola karena-maka). Untuk menyatakan makna termasuk. Pasal 46. Untuk menyatakan sifat kumulafif. Contoh : Jika suatu perusahaan melanggar kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6.

Untuk menyatakan adanya suatu kewajiban yang telah ditetapkan. Contoh : Untuk memperoleh izin mendirikan bangunan.d dalam Pasal 13 ayat (1) dan ayat (2). Jika kewajiban tersebut tidak dipenuhi. Pada dasarnya setiap pasal merupakan suatu kebulatan pengertian tanpa mengacu ke pasal atau ayat lain. C. 236. atau sebagaimana dimaksud pada ayat Contoh: a. Contoh: Presiden berwenang menolak atau mongabulkan permohonan gasi. . Untuk menyatakan adanya larangan. Untuk menyatakan adanya suatu hak.. 231. Contoh: Setiap orang berhak mengemukakan pendapat di muka umum.. seseorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : 234. seseorang wajib memiliki izin mendirikan bangunan. Untuk menyatakan sifat diskresioner dari suatu kewenangan yang diberikan kepada seorang atau Iembaga. yang bersangkutan akan dijatuhi sanksi hukum menurut hukum yang berlaku. gunakan kata dilarang. 233.. gunakan kata harus. Untuk menyatakan pemberian kewenangan kepada seseorang atau lembaga gunakan kata berwenang. Untuk menyatakan pemenuhan suatu kondisi atau persyaratan tertentu.. gunakan kata dapat Contoh: Menteri dapat menolak atau mengabulkan permohonan pendaftaran paten. Teknik pengacuan dilakukan dengan menunjuk pasal atau ayat dari Peraturan Perundangundangan yang bersangkutan atau Peraturan Perundang-undangan yang lain dengan menggunakan frase sebagaimana dimaksud dalam Pasal . Persyaratan sebagaimana dimaksi. Contoh: Untuk membangun rumah. TEKNIK PENGACUAN 235. 230. yang bersangkutan tidak memperoleh sesuatu yang seharusnya akan didapat seandainya ia memenuhi kondisi atau persyaratan tersebut. gunakan kata berhak. 229. gunakan kata wajib..Contoh A dan/atau B dapat memperoleh. Jika keharusan tersebut tidak dipenuhi.. Namun untuk menghindari pengulangan rumusan dapat digunakan teknik pengacuan. 232.

Kata Pasal ini tidak perlu digunakan jika ayat yang diacu merupakan salah satu ayat dalam pasal yang bersangkutan. Hindari pengacuan ke pasal atau ayat yang terletak setelah pasal atau ayat yang bersangkutan. Jika ada dua atau lebih pengacuan. Pengacuan hanya dapat dilakukan ke Peraturan Perundang-undangan yang tingkatannya sama atau lebih tinggi. Contoh : a. pasal atau ayat yang tidak ikut diacu dinyatakan dengan kata kecuali. Pasal 7 ayat (2) dan ayat (4). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) sampai dengan ayat (4).b.. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 berlaku juga bagi calon hakim.. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan. Pengacuan dua atau lebih terhadap pasal atau ayat yang berurutan tidak perlu menyebutkan pasal demi pasal atau ayat demi ayat yang diacu tetapi cukup dengan menggunakan frase sampai dengan. .. Contoh: a.. 237. 238. . 240. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) berlaku juga bagi tahanan kecuali ayat (4) huruf a. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12. 243. Pengacuan sedapat mungkin dilakuan dengan mencantumkan pula secara singkat materi pokok yang diacu. . Izin sebagaimana dimaksud pada ayat ( 3 ) berlaku pula. 241. kemudian diikuti dengan pasal atau ayat yang angkanya lebih kecil. b. urutan dari pengacuan dimulai dari ayat dalam pasal yang bersangkutan (Jika ada). Contoh: Pasal 8 (1) … (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pasal ini berlaku untuk 60 (enam puluh) hari. Pasal 12. dan Pasal 13 ayat (3) diajukan kepada Menteri Pertambangan. Contoh: Izin penambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 diberikan oleh… 242.. Contoh Pasal 15 (1) … (2) … (3) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tetapi ada ayat dalam salah satu pasal yang dikecualikan. b. kecuali Pasal 7 ayat (1).. 239.

Peraturan Pemerintah Nomor…Tahun… (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…. menggunakan frase sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan. gunakan frase tetap berlaku. Pengacuan untuk menyatakan berlakunya berbagai ketentuan peraturan perundangundangan yang tidak disebutkan secara rinci. Mengingat: 1. …. dan seterusnya…. 245. c.Contoh: Pasal Permohonan izin pengelolaan hutan wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dibuat dalam rangkap 5 (lima). gunakan frase berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam (Jenis peraturan yang bersangkutan). 3. bahwa…. Jika Peraturan Perundang-undangan yang dinyatakan masih tetap berlaku hanya sebagian dari ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut. 246. Untuk menyatakan bahwa (berbagai) peraturan pelaksanaan dari suatu Peraturan Perundang-undangan masih diberlakukan atau dinyatakan berlaku selama belum diadakan penggantian dengan Peraturan Perundang-undangan yang baru. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan . 244. Pengacuan dilakukan dengan menyebutkan secara tegas nomor dari pasal atau ayat yang diacu dan dihindarkan pengguna frase pasal yang terdahulu atau pasal tersebut di atas. b. dan seterusnya…. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN…TENTANG (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang: a.Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) tetap berlaku kecuali Pasal 5 sampai dengan Pasal 10. BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN A. 247. …. 2. bahwa…. kecuali… Contoh: Pada saat Undang-Undang ini berlaku.

.NOMOR… B... . Disahkan di Jakarta pada tanggal . BAB . PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA...PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG…(nama undang-undang)... Menimbang: a. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENETAPAN PERATURAN UNDANG-UNDANG MENJADI UNDANG-UNDANG PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN.. bahwa…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. bahwa…. TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN… TENTANG. b. MENJADI UNDANG-UNDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.... BAB I … Pasal 1 … BAB II … Pasal . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggang jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN.

Agar setiap orang mengetahuinya. dan seterusnya…. …. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ... memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Disahkan di Jakarta pada tanggal .. 2. Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Mengingat: 1. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. C.. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 3. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONIESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… MENJADI UNDANG-UNDANG. …..Tahun…tentang…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor….. dan seterusnya…. RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… .c..Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR.

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.tentang. dan seterusnya…...TENTANG PENGESAHAN KONVENSI… (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Disahkan di Jakarta pada tanggal.. Pasal 1 (1) Mengesahkan Konvensi.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya) .... Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.tentang.. dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal.. (2) Salinan naskah asli Konvensi.... MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) .. Agar setiap orang mengetahuinya memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 3. ..dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta Pada tanggal. bahwa ..dengan Reservation (Pensyaratan) terhadap Pasal.. Menimbang: a.(bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasikan dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya). .... dan seterusnya......... Mengingat: 1. 2.. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN KONVENSI .. c... (bahasa asli perjanjian internasional yang diratifikasi dan diikuti dengan bahasa Indonesia sebagai terjemahannya).....

Nomor…... b. Agar setiap orang mengetahuinya. . dan seterusnya.. D... 2.NOMOR. bahwa…..(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun.. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERUBAHAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR. dan seterusnya) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. c.(tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. bahwa…. Mengingat: 1. Pasal II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. dan seterusnya…. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor…). TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG (untuk perubahan pertama) atau PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… (untuk perubahan kedua. 3....TAHUN. …. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. dan seterusnya….. Ketentuan Pasal…(bunyi rumusan tergantung keperluan). diubah sebagai berikut : 1. ….. Menimbang: a. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG… Pasal I Beberapa ketentuan dalam Undang-Undangl Nomor…Tahun…tentang.

..... bahwa…..... c.. ….. Tahun … tentang . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor.. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANGNOMOR ...) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Undang-Undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku).. 3. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN .. E.. TENTANG .. b. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun . (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal. NOMOR .. Mengingat: 1.... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. …. TENTANG PENCABUTAN UNDANG-UNDANG NOMOR. Menimbang: a... dan seterusnya .. dan seterusnya….Disahkan di Jakarta pada tanggal .. Pasal I Undang-Undang Nomor .. TENTANG... (Nama Undang-Undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pasal 2 .. bahwa….. 2. TAHUN. TAHUN. Nomor ....... TAHUN ...

.. dan seterusnya…. memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. TAHUN…TENTANG.. Disahkan di Jakarta pada tanggal ... 2. bahwa…. DENGAN RAHMAT TUHAN YANUGMAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . PRESIDEN REPUBLIK ENDONESIA. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PENGGANTI UNDANG-UNDANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERTNTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG. ….Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. bahwa….. Agar setiap orang mengetahuinya.. Dengan Persetujuaan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG NOMOR…TAHUN…TENTANG PENCABUTAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR . dan seterusnya…. ….. b. Menimbang: a. c.. 3.. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundangundangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… F. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal . Mengingat: 1.

... dan seterusnya. TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ...NOMOR. 2... Pasal 2 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya.. dan seterusnya. ) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah berlaku) atau ditarik kembali dan dinyatakan tidak berlaku (bagi Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang yang sudah diundangkan tetapi belum mulai berlaku)... Mengingat: 1.... RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. 3.. c. bahwa….Pasal I Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor…Tahun…(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun…Nomor…... b. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor . G.. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. . Menimbang: a. MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan Perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN. Disahkan di Jakarta pada tanggal .. . memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.... (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal .... bahwa….

... PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal ... bahwa... BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN. bahwa.MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG TENTANG ... (Nama Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang). MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR… H...... Menimbang: a. BAB (dan seterusnya) Pasal 2 Agar setiap orang mengetahuinya.. Pasal 1 . Pasal .... BAB II . b. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia..... . BAB I . Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . TENTANG (Nama Peraturan Pemerintah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

…. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal . dan seterusnya Mengingat: 1. BAB I … Pasal 1 BAB II Pasal… BAB… (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya. …. (tanda tangan) (NAMA) T Diundangkan diJakarta pada tanggal . 3.. memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. I.c. 2.. dan seterusnya…... MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PEMERINTAH TENTANG (nama Peraturan Pemerintah). MENTERI (yang tugas dan tanggung Jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR…TAHUN… TENTANG (nama Peraturan Presiden) .

2... c.TAHUN. (dan seterusnya) Agar setiap orang mengetahuinya... BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI PERATURAN DAERAH PROVINSI.. Mengingat: 1. .. MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN PRESIDEN TENTANG (nama Peraturan Presiden)...... 3.DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. BAB... bahwa…...... b... (Nama Provinsi) NOMOR. . Pasal. dan seterusnya. (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di Jakarta pada tanggal… MENTERI (yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang peraturan perundang-undangan) (tanda tangan) (NAMA) LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN…NOMOR. TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA .. bahwa…. dan seterusnya. Menimbang: a.. memerintahkan pengundangan Peraturan Presiden ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.. Pasal 1 BAB II ... BAB I ..... J.. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.

NOMOR . dan seterusnya.. Pasal .. 2.... (Nama Provinsi) (tanda tangan) (NAMA) Diundangkan di .. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I BAB II . pada tanggal.. bahwa..... BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN/KOTA ... K.. Ditetapkan di........ (Nama Provinsi) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG . GUBERNUR PROVINSI .... dan seterusnya ... c. (Nama Provinsi) LEMBARAN DAERAH PROVINSI ... 3.GUBERNUR PROVINSI (Nama Provinsi)... Mengingat: 1... memerintahkan pengundangan dangan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi . (nama Peraturan Daerah Provinsi)....... BAB . SEKRETARTS DAERAH . Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI (Nama Provinsi) dan GUBERNUR. pada tanggal . . Agar setiap orang dapat mengetahuinya. (Nama Provinsi) TAHUN . bahwa. (Nama Provinsi). .. b. (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (nama kabupaten/kota) .... Menimbang : a.........

(nama Peraturan Daerah Kabupaten/Kota).... memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten/Kota .... TAHUN . Ditetapkan di. Agar setiap orang dapat mengetahuinya..NOMOR ..A. (nama kabupaten/kota) (tanda tangan) (NAMA) (Belum lengkap... original hilang.. (nama kabupaten/kota). b.... pada tanggal. BAB Il .. 2.... . BAB.. bahwa. (nama kabupaten/kota) dan BUPATI/WALIKOT... TENTANG (nama Peraturan Daerah) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI/WALIKOTA (nama kabupaten/kota). dan seterusnya Mengingat: 1. (dan seterusnya) Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan..... bahwa.. Pasal. c.. (nama kabupaten/kota) MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal I . 3... BUPATI/WALIKOTA .. kurang 1 halaman saja dan merupakan halaman terakhir dari lampiran ini) . Menimbang: a..... dan seterusnya Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN/KOTA...... .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful