penerapan teori belajar kognitif dalam pembelajaran matematika

Makalah tentang teori belajar kognitif serta penerapanya..!!! BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari oleh siswa berupa keadan alam, benda-benda atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar dari suatu hal tersebut nampak sebagai perilaku belajar yang nampak dari luar. Pengertian dari belajar sangat beragam, banyak dari para ahli yang mengartikan secara berbeda-beda definisi dari belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar merupakan hal yang penting dalam bidang pendidikan. Tentu saja dalam proses belajar terdapat teori – teori yang memunculkan adanya belajar. Dari zaman dahulu, para ilmuwan terus mengembangkan teori – teori belajar sebagai temuan mereka untuk mengembangkan pemikiran belajar mereka. Era globalisasi telah membawa berbagai perubahan yang memunculkan adanya teori – teori belajar yang baru guna menyempurnakan teori – teori yang telah ada sebelumnya. Dengan bermunculnya teori – teori yang baru akan menyempurnakan teori – teori yang sebelumnya. Berbagai teori belajar dapat dikaji dan diambil manfaat dengan adanya teori tersebut. tentunya setiap teori belajar memiliki keistimewaan tersendiri. Bahkan, tak jarang dalam setiap teori belajar juga terdapat kritikan – kritikan untuk penyempurnaan teori tersebut. Salah satu teori yang akan dikaji adalah teori kognitivisme. Teori ini biasa di sebut teori pemprosesan informasi, teori ini adalah salah satu teori perkembangan teori pendidikan modern dengan alasan tersebut makah ini dibuat. B. Rumusan Masalah 1) Dasar dan konsep teori belajar kognitivisme 2) Penerapan teori kognitivisme dalam pembelajaran Matematika SD C. Tujuan Makalah ini disusun dengan maksud agar kita dapat lebih mengenal teori belajar kognitivisme dan penerapanya dalam pembelajaran matematika Bab 2 Dasar-dasar Teori Belajar Kognitivisme 1. Teori Pemrosesan informasi Menurut Slavin, teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskna bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama sehingga perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.. Salah satu cara untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali.Memori jangka panjang merupakan bagian dari system memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian yaitu: aa) Memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pengalaman pribadi kita.

Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. dan siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kognitif pada tingkat yang lebih tinggi. Arends (1997) mengemukakan pengetahuan metakognitif merupakan pengetahuan seseorang tentang pembelajaran diri sendiri atau kemampuan untuk menggunakan strategi-strategi belajar tertentu dengan benar. yaitu memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu. meningkatkan pengetahuan metakognitif.bb) Memori semantic. Strategi yang digunakan untuk mengetahui proses kognitif seseorang dan caranya berpikir tentang bagaimana informasi diproses dikenal sebagai strategi metakognitif (Arends. Menurut Dirkes (1998) strategi metakognitif dasar adalah menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan terdahulu. memantau. agar belajar dan mengingat dapat berkembang. merencanakan. Teori Sibernetik . Jika siswa telah memiliki metakognisi. Kemampuan metakognitif untuk memonitor hasil belajar siswa sendiri dengan menggunakan strategi tertentu. Teori Meta Kognisi Kemampuan berpikir yang diperlukan pada era globalisasi adalah terkait kemampuan berpikir tentang proses berpikir yang melibatkan berpikir tingkat tinggi dan dikenal dengan metakognisi. dan kelompok siswa yang diajarkan strategi metakognitif saja dapat meningkatkan kesadaran metakognitif dan menggunakan lebih banyak strategi metakognitif selama pemecahan masalah. cc) Memori procedural. memilih strategi berpikir secara sengaja. siswa akan terampil dalam strategi metakognitif. Keterampilan metakognitif terkait strategi maupun pelatihan metakognitif dan dapat dikembangkan melalui pembelajaran kooperatif. 1998). 3. yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum. dan mengevaluasi proses berpikir. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah : 1) Menarik perhatian 2) Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa 3) Merangsang ingatan pada pra syarat belajar 4) Menyajikan bahan perangsang 5) Memberikan bimbingan belajar 6) Mendorong untuk kerja 7) Memberikan balikan informative 8) Menilai unjuk kerja 9) Meningkatkan retensi dan ahli belajar Keunggulan strategi pembelajaran yang berpijak pada teori pemrosesan informasi : aa) Cara berfikir yang berorientasi pada proses yang lebih menonjol bb) Penyajian pengetahuan yang memenuhi aspek cc) Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap dd) Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya ef) Adanya keterahaan seluruh kegiatan belajar pada tuuan yang inggin dicapai f) Kontrol belajar memungkinkan belajar sesuai irama masing-masing individu gg) Balikan informative memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang di harapkan 2. Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat diberdayakan dengan memberdayakan keterampilan metakognitif. Siswa yang terampil dalam strategi metakognitif akan lebih cepat menjadi anak mandiri. Hasil penelitian pada kelompok siswa yang diajarkan berpikir metakog-nitif dan strategi pemecahan masalah.

Kesalahan kecil seperti ini akan berakibat pada kesalahan menjumlah dua bilangan. Selain itu teori ini tidak membahas proses belajar secara langsung sehingga hal ini menyulitkan penerapannya. pemikir. 3) sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Sering terjadi. anak kecil salah menghitung sesuatu. 1) berisi semua pengetahuan yan telah dimiliki individu. Karakteristik WM adalah memiliki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik tanpa pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Teori ini memandang manusia sebagai pengolah informasi yang akan dipelajari.Menurut teori sibernetik. bertahan dalam waktu sangat singkat. Menurut Ausubel terdapat dua jenis belajar yaitu belajar hafalan (rotelearning) dan belajar bermakna (meaningful-learning). belajar merupakan pengolahan informasi. bentuk informasi. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya. menyimpan. c) Long Term Memory (LTM) Long Term Memory (LTM) diasumsikan. BAB III PENERAPAN TEORI BELAJAR KOGNITIF A. Sehingga diasumsikan manusia mampu mengolah. Contohnya jika bilangan itu berkait dengan nomor telepon atau nomor lain yang dapat kita kaitkan. sedangkan “2” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang berpasangan seperti banyaknya mata. Bilangan ini hanya akan bermakna jika bilangan itu dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada di dalam pikiran kita. kaki. dan mengorganisasikan informasi. Teori sibernetik lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar. Belajar Bermakna David P. yaitu: a) Sensori Reseptor (SR) Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. telinga. Tangannya masih ada di batu ke-4 namun ia sudah mengucapkan “lima” atau malah “enam”. kapasitas. maka proses mengingat bilangan kedua (yang baru) harus dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. yaitu tentang 1708-1945 akan tetapi dengan membalik urutan penulisannya menjadi 5491-80-71. Persoalan lupa pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang diperlukan. aa) Belajar Hapalan Materi dalam pelajaran matematika bukanlah pengetahuan yang terpisah-pisah namun merupakan satu kesatuan. dan pencipta. dan informasi tadi mudah terganggu. upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas disamping melakukan pengulangan. … dan seterusnya. sehingga pengetahuan yang satu dapat berkait dengan pengetahuan yang lain. Tugas guru adalah . 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas. Artinya agar informasi dapat bertahan dalam WM. yaitu 89.Untuk bilangan pertama. b) Working Memory (WM) Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu. Ausubel Teori belajar Ausubel menitikberatkan pada bagaimana seseorang memperoleh pengetahuannya. Seorang anak tidak akan mengerti penjumlahan dua bilangan jika ia tidak tahu arti dari “1” maupun “2”. Ia harus tahu bahwa “1” menunjuk pada banyaknya sesuatu yang tunggal seperti banyaknya kepala. Hal yang lebih parah akan terjadi jika ia masih sering meloncat-loncat di saat membilang dari satu sampai sepuluh. sedangkan bagaimana proses belajar berlangsung sangat ditentukan oleh system informasi tersebut. Teori sibernetik sebagai teori belajar dikritik karena lebih menekankan pada system informasi yang akan dipelajari. lidah dan seterusnya.107. bb) Belajar Bermakna Agar proses mengingat bilangan kedua dapat bermakna. serta proses terjadinya “lupa”.145. Hal lain yang berkaitan dengan teori sibernetik adalah tidak ada satu proses belajar yang ideal untuk segala situasi dan yang cocok untuk semua siswa karena cara belajar ditentukan oleh system informasi. Komponen pemrosesan informasi dipilah berdasarkan perbedaan fungsi. mulut.

ketika akan membahas penjumlahan dan pengurangan di awal pembelajaran. baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf. Karenanya. yaitu suatu keadaan dimana pengalaman yang baru dapat menyatu ke dalam struktur kognitif mereka. seorang guru dituntut untuk mengecek. kelereng. gambar. para siswa dapat saja memulai proses pembelajarannya dengan menggunakan beberapa benda nyata sebagai “jembatan” atau dengan menggunakan obyek langsung. yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery). yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan. Empat Teorema Belajar dan Mengajar Meskipun pepatah Cina menyatakan “Satu gambar sama nilainya dengan seribu kata”. Bahasa menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. Contohnya. Di samping itu. seorang guru ketika mengajar matematika hendaknya menggunakan . sehingga pengetahuan yang baru tersebut dapat berkait dengan pengetahuan yang lama yang lebih dikenal sebagai belajar bermakna tersebut. Bruner memusatkan perhatian pada masalah apa yang dilakukan manusia terhadap informasi diterimanya dan apa yang dilakukan setelah menerima informasi tersebut untuk pemahaman dirinya.membantu memfasilitasi siswa sehingga bilangan pertama tersebut dapat dikaitkan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Tiga Tahap Proses Belajar Teori Bruner tentang tiga tahap proses belajar berkait dengan tiga tahap yang harus dilalui siswa agar proses pembelajarannya menjadi optimal. ada tiga tahap belajar. Ketiga tahap pada proses belajar tersebut adalah: 1. mengingatkan kembali ataupun memperbaiki pengetahuan prasyarat siswanya sebelum ia memulai membahas topik baru. siswa dapat belajar dengan menggunakan batu. Anak tidak lagi terikat dengan objek-objek seperti pada tahap sebelumnya. maka Bruner membagi penyajian proses pembelajaran dalam tiga tahap. lidi. lambang-lambang matematika. Ketika belajar penjumlahan dua bilangan bulat. Tahap Enaktif.Berbeda dengan Teori Belajar Piaget yang telah membagi perkembangan kognitif seseorang atas empat tahap berdasar umurnya. yaitu enaktif. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa ketergantungan terhadap objek riil. sehingga akan terjadi internalisasi pada diri siswa. atau dapat juga memanfaatkan beberapa model atau alat peraga lainnya. Kemudian seseorang mencapai masa transisi dan menggunakan penyajian ikonik yang didasarkan pada pengindraan kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir abstrak. b). pembelajaran sebaiknya dimulai dengan menggunakan benda nyata lebih dahulu. a). Teori Belajar Bruner Menurut Bruner. maka proses pembelajarannya disebut dengan belajar yang tidak bermakna (rote learning). ikonik dan simbolik. Pada tahap ini. 2. anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek tertentu. 2.Tahap Ikonik Tahap ikonik. maupun lambang-lambang abstrak yang lain. namun menurut Bruner. yang menggambarkan kegiatan kongkret atau situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a). Jika seorang siswa tidak dapat mengaitkan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa. atau diagram. ikonik dan simbolik. kata-kata. yaitu tahap enaktif. Itulah inti dari belajar bermakna (meaningful learning) yang telah digagas David P Ausubel. buah.Tahap Simbolik Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik. pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols). 3. Pada tahap simbolik ini. pembelajaran yang dilakukan dengan cara memanipulasi obyek secara aktif. kalimat-kalimat).

Pengalaman langsung. Banyak topik dalam pembelajaran matematika di SD yang dapat diajarkan melalui demonstrasi. Notasi 3×2 dapat dikaitkan dengan 3×2 tablet. 2. siswa dapat mengkonstruksi suatu representasi dari konsep atau prinsip yang sedang dipelajari. Teorema konstruksi menyatakan bahwa siswa lebih mudah memahami ide-ide abstrak dengan menggunakan peragaan kongkret (enactive) dilanjutkan ke tahap semi kongkret (iconic) dan diakhiri dengan tahap abstrak (symbolic).. dan pecahan. . Sebagai contoh. Demonstrasi. sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya. Molenda. papan flanel. Lebih lanjut. 2. 4. 3. atau tidak dapat dihadirkan di kelas maka benda tersebut dapat diragakan dengan model.. gambar benda-benda yang tidak mungkin dihadirkan di kelas. Artinya. yakni: 1.. Sebagai contoh: 1. siswa diminta untuk mengalami. pengurangan. Penarikan akar pangkat dua dikaitkan dengan menentukan panjang sisi suatu persegi jika luasnya diketahui. 4. misalnya: penjumlahan. serta merenungkan apa yang dikerjakan. Dramatisasi. Notasi yang baru adalah 7 − 4 = . Teorema notasi menyatakan bahwa simbol-simbol abstrak harus dikenalkan secara bertahap. model kubus. dan Russell (1985:4) sebagai berikut. Teorema kekontrasan atau variasi menyatakan bahwa konsep matematika dikembangkan melalui beberapa contoh dan bukan contoh seperti yang ditunjukkan gambar di bawah ini tentang contoh dan bukan contoh pada konsep trapesium.model atau benda nyata untuk topik-topik tertentu yang dapat membantu pemahaman siswanya. sandiwara boneka yang bisa digerakkan ke kanan atau ke kiri pada garis bilangan. . berbagai jenis kegiatan dalam pembelajaran yang menerapkan teoremateorema Bruner dapat diwujudkan dalam berbagai kegiatan seperti yang dikemukakan oleh Edgar Dale dalam bukunya “Audio Visual Methods in Teaching” sebagaimana dikutip Heinich. perkalian dikaitkan dengan luas persegi panjang dan penguadratan dikaitkan dengan luas persegi. Dengan menggunakan tiga tahap tersebut. 3. jika benda tersebut terlalu besar atau kecil. OHP dan program komputer. dan kerangka balok. berbuat sendiri dan mengolah. Soal seperti . + 4 = 7 dapat diartikan sebagai menentukan bilangan yang kalau ditambah 4 akan menghasilkan 7. 2. Teorema konektivitas menyatakan bahwa konsep tertentu harus dikaitkan dengan konsepkonsep lain yang relevan. Contohnya: peta. 1.. Biasanya dilakukan dengan menggunakan alat-alat bantu seperti papan tulis. Misalnya: permainan peran. Sebagai contoh dalam membicarakan sesuatu benda. Pengalaman yang diatur. Bruner mengembangkan empat teori yang terkait dengan asas peragaan.

Gambar sebagai alat peraga Dengan demikian jelaslah bahwa asas peragaan dalam bentuk enaktif dan ikonik selama pembelajaran matematika adalah sangat penting untuk meningkatkan pemahaman dan daya tarik siswa dalam mempelajari matematika sebelum mereka menggunakan bentukbentuk simbolik. 6. Televisi sebagai alat peragaan. 7. Ausubel terbagi 2 yaitu :  Belajar Hapalan  Belajar Bermakna  Menurut Bruner yaitu :  Tiga Tahap Proses Belajar yaitu :  Tahap Enaktif  Tahap Ikonik  Tahap Simbolik  Empat Teorema Belajar yaitu :  Teorema Konstruksi  Teorema Notasi  Teorema Kekonstrasan atau Variasi  Teorema Konektivitas B.KESIMPULAN 11) Teori belajar kognitivisme terbagi 3 yaitu :  Teori Pemproesan Informasi  Teori Meta Kognisi  Teori Sibernetik 22) Penerapan teori belajar kognitif dalam pembeljaran matematika di bagi menjadi  Menurut David P. Program pendidikan matematika yang disiarkan melalui media TV juga merupakan alternatif yang sangat baik untuk pembelajaran matematika. Karyawisata. Berbagai bentuk permainan matematika ternyata dapat menyedot perhatian siswa untuk mencobanya. Kegiatan ini sebenarnya sangat baik untuk menjadikan matematika sebagai atau menjadi pelajaran yang disenangi siswa.penerapan teori belajar kognitif dalam pembelajaran matematika . sehingga jenis kegiatan ini juga cukup bermakna untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika. mengukur lebar sungai.5. Pameran adalah usaha menyajikan berbagai bentuk model-model kongkret yang dapat digunakan untuk membantu memahami konsep matematika dengan cara yang menarik.SARAN Kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini. Pameran. mendata kecenderungan kejadian dan realitas yang ada di lingkungan merupakan kegiatan yang sangat menarik dan sangat bermakna bagi siswa serta bagi daya tarik pelajaran matematika di kalangan siswa. 8. Kegiatan yang diprogramkan dengan melibatkan penerapan konsep matematika seperti mengukur tinggi objek secara tidak langsung. BAB III PENUTUP A. Film sebagai alat peraga 9.

05 Diposkan oleh hasan rezaliah Reaksi: Tidak ada komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom) Lencana Facebook Hasan Al Huda Rezaliah Buat Lencana Anda SIEN Lencana Facebook Hasan Al Huda Rezaliah Buat Lencana Anda Pengikut Arsip Blog .Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook di 21.

► 2011 (9)  Video Total Tayangan Laman 22...670 powered by Mengenai Saya hasan rezaliah Lihat profil lengkapku .  ► 2013 (5) ▼ 2012 (1) o ▼ Mei (1)  penerapan teori belajar kognitif dalam pembelajara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful