P. 1
Hukum Ziarah Kubur

Hukum Ziarah Kubur

|Views: 34|Likes:
Published by James Powers

More info:

Published by: James Powers on Oct 30, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2014

pdf

text

original

Hukum Ziarah Kubur Dan Hadiah Pahala Pendahuluan Bagi sebagian masayarakat Jawa, bulan sya’ban (ruwah) merupakan

sebuah bulan yang sarat dengan tradisi religi. Tradisi warisan yang sering dilakukan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadhan adalah tradisi ziarah kubur (nyekar), membaca al-Qur’an di kuburan dan kirim do’a dan pahala untuk ahli kubur yang sudah meninggal. Tradisi ini sering diperdebatkan di kalangan umat Islam bahkan tak jarang tradisi ini dijadikan sebuah alasan untuk saling mengkafirkan diantara kaum muslimin. Dalam edisi kali ini penulis berusaha untuk mendeskripsikan hujjah-hujjah yang mendasari tradisi ritual ziarah kubur, membaca al-Qur’an di kuburan dan kirim do’a dan pahala kepada ahli kubur. Ziarah Kubur Para ulama sepakat bahwa hukum asal ziarah kubur adalah mubah (boleh), pendapat ini didasari oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Buraidah rda, ia berkata : “Rasulullah bersabda : “Dulu aku melarang kamu ziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” (HR. Muslim, Lihat sahih Muslim Hadits No. 977). Menurt kaidah Ushul Fiqh, apabila dalam sebuah nash terdapat sebuah perintah yang didahului oleh sebuah larangan maka hukum asal melakukan perintah itu adalah mubah (boleh) (bukan wajib) (lihat Jam’ul Jawami’ Hal). Dalam hadits Buraidah rda di atas, redaksi yang digunakan adalah “perintah (berziarah) yang sebelumnya didahului oleh larangan (berziarah)” maka hukum asal sesuatu yang diperintahkan setelah dilarang adalah mubah (boleh). Hukum asal ini berkembang sesuai dengan adanya hadits pendukung lain yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah rda, beliau berkata : “Nabi Bersabda : “… maka berziarah kuburlah kamu, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kematian” (HR. Muslim, Lihat sahih Muslim 976). Dengan adanya hadits pendukung ini maka hukum ziarah kubur yang tadinya mubah berubah menjadi sunnah (lihat fatawi al-Islam sual wa jawab, pertanyaan No. 10011). Hanya saja sebagian ulama membatasi kesunahan ziarah kubur hanya sebatas pada kuburan yang dekat (tidak perlu melakukan sebuah perjalanan), karena apabila ziarah kubur itu memerlukan sebuah perjalanan karena jaraknya jauh maka hukumnya menjadi haram . Pendapat ini dikeluarkan oleh Syech Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, beliau berpendapat : “menurut qaul yang sahih, tidak diperbolehkan melakukan sebuah perjalanan dengan tujuan melakukan ziarah ke kuburan Nabi SAW atau kuburan-kuburan lain”. Karena hal ini bertentangan dengan hadits yang diriwatkan oleh Abu Hurairah rda : “Tidak (diperbolehkan) melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid : masjidil haram, masjidku ini (masjid nabawi) dan masjidil aqsha” (HR. Bukhari Muslim, lihat sahih Bukhari hadits No. 1132; dan sahih Muslim Hadits No. 415) (lihat fatawi al-Islam sual wa jawab, pertanyaan No. 10011). Tetapi pendapat ini dibantah oleh Syech Zainal Abidin Ba’alawi, beliau berkata : “Yang dimaksud dari hadits ini bukan mencegah melakukan perjalanan secara mutlak diluar melakukan perjalanan ke masjid-masjid yang disebutkan diatas. Karena apabila hadits tersebut dipahami demikian maka melakukan perjalanan ke arafah, mina, menziarahi orang tua, menuntut ilmu, jihad, dan berdagang juga dihukumi haram (karena bertentangan dengan dhohir hadits tersebut). Ma’na hadits tersebut adalah : “Tidak layak (tidak patut) memaksakan diri untuk melakukan sebuah perjalanan ke masjid-masjid karena melihat fadhilahnya, semua masjid itu memiliki keutamaan yang sama kecuali ketiga masjid tersebut yang didalamnya pahala sholat digandakan”. Susunan kalimat dalam hadits tersebut itu merupakan susunan kalimat berita (kalam khobar) bukan susunan kalimat larangan (kalam Insya’). (lihat al-Ajwibatul Gholiyah fi Aqidatil Firaqin Najiyah Hal 109). Jadi tidak tepat kalau dijadikan dalil untuk melarang seseorang melakukan sebuah perjalanan ziarah kubur. Ziarah kubur dengan melakukan perjalanan atau tidak hukumnya tetap sunah mu’akadah selama dilakukan dengan cara (kaifiyah) yang dibenarkan oleh syara’. Membaca al-Qur’an di kuburan (untuk mayit)

Ulama berselisih pendapat tentang hukum membaca al-Qur’an di kuburan. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu tidak memiliki pijakan yang kuat karena hadits yang dijadikan dalil dari diperbolehkannya membaca al-Qur’an di kuburan (untuk mayit) adalah hadits yang diriwayatkan oleh Mi’qal bin Yasar, ia berkata : “Nabi Bersabda : “Bacakanlah surat Yasin atas mayat-mayat kamu” (HR. Abu Dawud, Lihat sunan Abi Dawud Hadits No. 3121). Imam Nawawi berpendapat bahwa hadits tersebut adalah hadits dho’if karena ada dua perawinya yang tidak dikenal (majhul) tetapi Imam Abu Dawud tidak mendho’ifkannya (lihat al-Adzkar li an-Nawawi hal 122). Sedangkan ulama yang memperbolehkan membaca al-Qur’an atas mayit berhujjah sebagai berikut : hadits tersebut diatas memang lemah dari sisi sanad tetapi memiliki beberapa syahid (hadits penguat) yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dengan sanad yang baik, sesungguhnya Ibnu Umar rda menyukai dibacakan awal dan akhir surat alBaqarah diatas kubur setelah pemakaman (lihat al-Adzkar li an-Nawawi hal 137). Dan dikuatkan lagi oleh hadits riwayat dari Imam Khalal bahwa orang-orang anshar apabila ada seorang yang meninggal, mereka mengelilingi kuburannya kemudian membacakan alQur’an (lihat……..). Dengan dasar ini, sebagian ulama berpendapat bahwa membaca alQur’an diatas mayat (di kuburan) hukumnya sunnah. Pendapat ini senada dengan pendapat Imam Syafi’i seperti yang dinukil oleh Imam an-Nawawi : Imam Syafi’i dan sahabatnya berpendapat : “Dihukumi sunah mereka membaca disisi mayat sesuatu dari al-Qur’an, maka jika mereka menghatamkan al-Qur’an seluruhnya, itu lebih baik (lihat al-Adzkar li an-Nawawi hal 137). Sebagian Ulama yang memperbolehkan membaca al-Qur’an di kuburan berbeda pendapat tentang manfaat yang didapat oleh mayit. Sebagian ulama berpendapat bahwa mayit akan mendapatkan pahala mendengarkan bacaan al-Qur’an (mayat dapat mendengarkan sesuatu di dalam kuburnya seperti hadits riwayat Bukhari : “Apabila seseorang ditaruh di dalam kuburnya dan sahabat-sahabatnya meninggalkannya, maka sesungguhnya mereka mendengarkan bunyi terompahnya (HR. Bukhari, lihat sahih Bukhari Hadits no. 1273)). Tetapi pendapat ini dibantah oleh sebagian ulama dengan hujjah bahwa seseorang yang telah meninggal itu terputus semua amalnya seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah rda : “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “apabila anak adam telah meninggal dunia maka terputus amalnya kecuali dari tiga perkara, yaitu dari shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendo’akannya. (HR. Muslim, lihat sahih Muslim hadits No. 1631). Berdasarkan hadits diatas, seseorang tidak dapat melakukan sebuah amal setelah meninggalnya dan mendengarkan bacaan al-Qur’an termasuk dalam kategori amal. Jadi tidak dapat dinisbatkan kepada orang yang telah meninggal. Tetapi walaupun tidak dapat dimasukkan dalam amal mayit, mayit masih mendapatkan manfaat dari mendengarkan al-Qur’an. Istimbath ini didasari oleh analisa hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas rda, beliau berkata : “Nabi SAW melewati batas kota madinah, beliau mendengar dua orang yang sedang disiksa dalam kuburnya, satu disiksa karena sebab kencing dan satunya disiksa karena sebab senang fitnah. Kemudian Nabi mengambil pelepah kurma dan membelah menjadi dua bagian dan meletakkannya diatas dua kuburan tersebut. Nabi SAW ditanya : “Kenapa engkau melakukan itu, Ya Rasulullah? Nabi menjawab : “Semoga siksa mereka diringankan selama pelapah itu belum kering” (HR. Bukhari, lihat sahih Bukhari 213). Syech Muhammad bin Alwi al-Maliki berpendapat : Semua makhluk itu bertasbih kepada Allah seperti firman Allah : “Dan tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka” (QS. alIsra : 44). Apabila mengaharapkan keringan adzab dengan lantaran tasbih pelepah kurma itu merupakan sesuatu yang sah seperti dicontohkan oleh Nabi SAW, maka mengharap keringanan adzab dari bacaan al-Qur’an lebih sah dan lebih utama. Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya mayat itu disiksa sebab tangisan ahlinya atasnya” (HR. Muslim, Lihat sahih Muslim hadits No. 927). Apabila Allah dapat memberikan siksa kepada mayat sebab tangisan keluarganya, kenapa Allah tidak dapat memberikan manfaat kepada mayat oleh sebab bacaan al-Qur’an? Padahal al-Qur’an merupakan mu’jizat teragung. (Lihat Tahqiqul Amal hal 35).

Hadiah Pahala Permasalahan ketiga yang sering dijadikan polemik adalah permasalahan hadiah pahala kepada orang lain atau mayat. Akar permasalahan hadiah pahala adalah adanya perbedaan tafsir dikalangan mufassirin terhadap maksud QS. an-Najm 39 : : “Bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (QS. an-Najm : 39). Dengan adanya perbedaan tafsir ini, akan berimplikasi pada andanya perbedaan hukum ‘hadiah pahala kepada orang lain atau mayat’. Minimal ada dua pendapat tentang hukum hadiah pahala, yaitu : 1. Hadiah pahala kepada orang lain atau mayat merupakan amal yang batal Sebagian ulama berpendapat bahwa menghadiahkan pahala kepada orang lain atau mayat merupakan amal yang tidak berdasar dan pahala yang dihadiahkan tidak akan sampai ke tujuan. adapun alasan dari pendapat ini adalah : a). Dalam QS. an-Najm 39, Allah menggunakan redaksi dengan piranti qoshor yaitu kalimat negatif dengan menggunakan perkecualian ( ‫ال‬....‫ليس‬....). Susunan ini berfungsi untuk menetapkan sesuatu dan menafikan sesuatu yang lain. Dalam ayat tersebut yang ditetapkan adalah pahala yang didapat dari amal yang dilakukan, sedangkan yang dinafikan adalah pahala yang didapat dari amal yang tidak dilakukan. Dengan dasar ini maka tafsir dari ayat tersebut adalah sesungguhnya bagi manusia itu hanya akan mendapatkan pahala yang dihasilkan dari amal yang dilakukan saja sedangkan pahala dari amal yang tidak dilakukannya (pahala pemberian orang lain) itu dinafikan. Dengan kata lain pahala yang dihadiahkan kepada orang lain itu tidak sampai. b). Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik, sesungguhnya Abdullah bin Umar pernah ditanya : “apakah boleh seseorang puasa atas nama orang lain, dan mengerjakan sholat atas nama orang lain?” Ibnu Umar menjawab : “Seseorang tidak (boleh) mengerjakan puasa atas nama orang lain dan tidak boleh mengerjakan sholat atas nama orang lain” (HR. Malik, lihat al-Muwatho’ hadits No. 669). Hadits ini mengisyaratkan bahwa Ibnu Umar rda tidak memperbolehkan kewajiban dibebankan kepada orang lain (seseorang mengerjakan kewajiban yang dibebankan orang lain), hal ini dapat diqiyaskan bahwa pahala tidak bisa dipindahkan kepada orang lain karena setiap amal kebajikan itu dibalas dengan pahala (kalau kewajibannya tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain hal itu berarti pahalanya juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain). 2. Hadiah pahala kepada orang lain atau mayat merupakan amal yang sah Ulama yang memperbolehkan adanya hadiah pahala berhujjah dengan dalil sebagai berikut : Tidak sah menafsirkan sebuah ayat (QS. an-Najm : 39) tanpa melakukan komparasi dengan nash-nash sahih yang berkaitan dengannya karena terdapat banyak nash-nash sahih yang menetapkan seseorang dapat menerima manfaat dari usaha yang dilakukan orang lain, diantaranya :  Diriwayatkan dari Aisyah rda : “Sesungguhnya seseorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal secara mendadak, dan tidak meninggalkan wasiyat. Aku mengira kalau ia berbicara ia akan bersedekah. Apakah baginya pahala apabila aku bersedekah atas namanya?” Rasulullah SAW menjawab : “Ya” (HR. Muslim, lihat sahih Muslim hadits No. 1004). Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa seseorang dapat memperoleh pahala yang diberikan oleh orang lain.  Diriwayatkan dari Aisyah rda : “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa yang meninggal sedangka ia masih mempunyai hutang puasa, maka walinyalah yang berpuasa atasnya (HR. Bukhari, lihat sahih Bukhari hadits No. 1851). Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa hutang puasa wajib dapat dibayar oleh walinya dengan melakukan puasa, hal ini berarti seseorang dapat menerima manfaat dari usaha yang dilakukan oleh orang lain. Menurut ulama ahli hadits, hadits-hadits diatas itu semuanya sahih dan masih banyak hadits sahih lain yang mengabarkan bahwa seseorang itu dapat menerima manfaat dari

usaha yang dilakukan oleh orang lain. Permasalahannya sekarang adalah bagaimana tafsir QS. an-Najm 39, jika dikomparasikan dengan hadits sahih diatas? Ada dua pendapat dalam menafsirkan QS. an-Najm 39 dengan mengkomparasikan dengan hadits-hadits sahih yang mengisyaratkan adanya pemberiaan pahala kepada orang lain, yaitu : a). Hukum yang terdapat dalam QS. an-Najm 39 itu sudah di nasakh (dihapus) Dasar dari pendapat ini adalah pendapat dari Ibnu Abbas rda : “Ayat ini sudah dihapus hukumnya dalam syariat agama ini (Islam) dengan turunnya firman Allah : “Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan” (QS. at-Thuur 22)” maka seorang anak akan berada pada timbangan ayahnya (memiliki derajat kebaikan yang sama dengan ayahnya walaupun dia tidak melakukannya) (Lihat Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an Juz 13 Hal 113). Sebagian ulama berpendapat bahwa QS. an-Najm 39 itu syariat khusus untuk umat nabi Ibrahim as dan nabi Musa as seperti yang tercantum dalam ayat sebelumnya QS. an-Najm 36-37 : “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menepati janji?”. Jadi hukum yang terdapat dalam QS. an-Najm 39 tidak berlaku bagi umat nabi Muhammad SAW. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa QS. an-Najm 39 itu diperuntukkan untuk orang kafir sehingga tafsirnya menjadi : “Sesungguhnya orang kafir itu tidak disiksa kecuali berdasakan apa yang mereka lakukan” tetapi pendapat ini dinilai lemah karena mengulangi ayat sebelumnya QS. an-Najm 38 : “seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (lihat ar-Ruh li Ibnil Qoyyim Juz 1 Hal 125) b). Ayat QS. an-Najm 39 ditafsirkan kembali dengan mengacu pada hadits-hadits sahih di atas. Penafsiran di atas seakan-akan menafikan hadits-hadits sahih, sehingga perlu penafsiran kembali dengan mengacu pada hadits-hadits tersebut. Alasan dari perlunya penafsiran kembali ini diungkapkan oleh Imam Ibnu Qoyyim karena beliau melihat kelemahan hujjah-hujjah diatas. Kelemahan-kelemahan hujjah tersebut adalah : Pendapat yang mengatakan bahwa QS. an-Najm 39 itu dikhususkan untuk umat nabi Ibrahim as dan umat nabi Musa as, menurut Imam Ibnu Qoyyim merupakan pendapat yang batal karena QS. an-Najm 39 diawali dengan kalimat istifham yang berfungsi untuk menetapkan (taqrir) sehingga apa yang disebutkan sesudahnya itu juga ditetapkan untuk umat ini (Islam). Pendapat ini juga dikuatkan oleh Imam Ahmad asShowi : “QS. an-Najm 39 adalah kalam khobar, dan khobar itu tidak bisa dihapus (lihat tafsir as-Showi Juz 4 hal 184) Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa QS. an-Najm dihapus dengan turunnya ayat QS. at-Thur 22, maka pendapat itu merupakan pendapat yang batal karena kedua ayat tersebut masih bisa dikompromikan (dijama’) jadi tidak bisa dilakukan tarjih (mengambil kesimpulan berdasarkan dalil yang lebih kuat dan menggugurkan dalil yang lemah). Dua ayat (QS. an-Najm 39 dan QS. at-Thur 22) tersebut dapat dikompromikan dengan pemahaman : orang-orang yang beriman dipertemukan oleh Allah dengan anak-anak cucu mereka yang beriman di dalam surga. Dalam ayat diatas disebutkan bahwa anak cucu orang yang beriman masuk ke dalam surga bukan karena bapaknya semata tetapi mereka juga melakukan amal yang dapat memasukkan mereka ke dalam surga yaitu Iman kepada Allah. Setelah mereka masuk ke dalam surga Allah mengangkat derajat mereka dan mengumpulkannya dengan bapak-bapak mereka. Ini adalah anugerah yang diberikan Allah kepada bapak-bapak mereka, karena kenikmatan terbesar bagi seorang bapak adalah berkumpul dengan anaknya. Jadi masuk surganya anak bukan semata-mata karena bapaknya, tetapi juga ada usaha dari anaknya yaitu mempertahankan keimanan terhadap Allah. Hal ini sesuai dengan QS. an-Najm 39.

Syech Muhammad bin Alwi al-Maliki berpendapat : QS. an-Najm 39 tidak menafikan mendapat manfaat dari usaha orang lain, yang dinafikan dalam ayat tersebut adalah kepemilikan manfaat dari usaha orang lain. Dalam ayat tersebut Allah mengabarkan bahwa manusia hanya mendapatkan pahala dari usaha yang dilakukannya artinya pahala dari usaha itu menjadi miliknya. Begitu juga orang lain hanya mendapatkan pahala dari usaha yang dilakukannya, dan pahala yang didapat itu menjadi miliknya. Setelah amal itu dibalas, seseorang dapat memberikan pahala yang dimiliki dari usaha yang dilakukannya kepada orang lain, atau menyimpannya untuk kepentingannya kelak. Hal yang demikian ini tidak bertentangan dengan QS. anNajm 39. (lihat Tahqiqul Amal hal ). Ilustrasi dari pendapat syech Muhammad alMaliki ini biasa terjadi pada sebuah perusahaan, dalam sebuah perusahaan terdapat aturan : “Pekerja hanya akan mendapatkan upah berdasarkan produktifitas kerjanya, apabila pekerja itu rajin maka ia akan mendapatkan upah yang banyak begitu juga sebaliknya”. Upah yang didapat pekerja dari hasil usahanya itu menjadi milik yang sah dari pekerja itu. Apabila pekerja itu memberikan sebagian upahnya kepada pekerja lain, maka hal itu tidak menyalahi aturan perusahaan yang mengatakan “Pekerja hanya akan mendapatkan upah berdasarkan produktifitasnya. Dengan alasan ini hadiah pahala tidak bertentangan dengan QS. an-Najm 39. Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari perkataan Ibnu Umar, tidak bisa digunakan untuk memutar hukum bolehnya menghibahkan pahala kepada orang lain. Alasan penolakan pendapat Ibnu Umar rda ini adalah karena pendapat ini bukan sabda Nabi SAW dan bertentangan dengan hadits yang lebih kuat yang memperbolehan seseorang melakukan puasa, haji, dan shodaqoh atas nama orang lain. Hadits yang menerangkan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan pahala setelah ia meninggal dunia kecuali dari tiga hal yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh tidak dapat dijadikan hujjah untuk menolak bolehnya menghadiahkan pahala kepada orang yang telah meninggal dunia. Karena Rasulullah SAW memungkinkan bagi seorang yang telah meninggal dunia menerima pahala dari orang lain seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi ditanya apakah ibu saya akan mendapatkan pahala, jika saya bersedekah atas namanya. Rasulullah SAW menjawab : “Ya” (HR. Muslim, lihat sahih Muslim hadits No. 1004). Maksud dari hadits di atas bahwa seseorang tidak mungkin melakukan amal kebajikan setelah kematiannya, sehingga ia tidak mungkin mendapatkan pahala dari usaha yang dilakukannya kecuali amal kebajikan yang dulu pernah dilakukannya semasa hidupnya dan memiliki kemanfaatan yang kontinu seperti shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh. Hadits ini tidak menafikan mendapatkan manfaat (pahala) dari usaha yang dilakukan orang lain. Hal ini senada dengan pendapat yang dikeluarkan oleh Imam Ibnu Taimiyah : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa manusia tidak dapat menerima manfaat kecuali dari amal (yang dilakukan)-nya, maka ia telah merusak ijma’ (kesepakatan ulama) (lihat tafsir as-Showi Juz 4 hal 183184). Kesimpulan Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tradisi ritual sya’ban merupakan sebuah tradisi yang berpijak pada dalil yang kuat. Ziarah kubur, membaca al-Qur’an di kuburan dan mengirim pahala (do’a) kepada mayat merupakan sebuah ibadah yang memiliki legitimasi hukum yang kuat sehingga layak untuk dilestarikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->