P. 1
Bab II

Bab II

4.5

|Views: 1,067|Likes:
Published by ibenk_karawang3666
tinjauan teoritis
tinjauan teoritis

More info:

Published by: ibenk_karawang3666 on Aug 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/24/2013

pdf

text

original

Hal ini bertujuan agar peserta program siap dengan keterampilannya yang

akan digunakan dalam dunia kerja yang akan digelutinya. Dan tolak ukurnya

yaitu ketika para peserta sudah bekerja atau berusaha dengan jenis pekerjaan

yang sesuai dengan keahliannya itu.

5.Meningkatkan pendapatan peserta program

Program pelatihan kerja Yayasan Nurul Falah Sunyar ini bertujuan agar

dengan pelaksanaan program di dusun Sunyar Kutawaluya, pendapatan

peserta dapat bertambah. Dengan bertambahnya pendapatan peserta, maka

daya beli dan pemenuhan kebutuhan akan meningkat dan secara tidak

langsung hal ini dapat menyebabkan peserta akan terlepas dari kriteria

mustahiq.

Tolak ukur tujuan ini adalah adanya pendapatan yang meningkat dari sebelum

mengikuti pelatihan keterampilan kerja ke setelah mendapatkan pelatihan

keterampilan kerja, sehingga dengan demikian telah mengembangkan

ekonomi peserta itu sendiri.

6.Meningkatkan kesejahteraan peserta program

Tujuan ini dimaksudkan agar setelah program selesai dan peserta telah mampu

melakukan usaha menghasilkan produk atau jasa, maka peserta dapat

meningkatkan kesejahteraannya dalam hal pemenuhan kebutuhan mereka.

Tolak ukurnya adalah ketika peserta telah merasakan peningkatan pada

perekonomiannya yang secara otomatis akan meningkat pula kualitas

pemenuhan kesejahteraannya pada saat setelah pelatihan dan melakukan usaha

yang sesuai dengan keahliannya.

C.FAKIR MISKIN

1.Pengertian Fakir Miskin

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, “fakir” yang berarti orang yang

sangat kekurangan atau orang yang terlalu miskin, “miskin” berarti tidak berharta

benda; serba kekurangan (berpenghasilan sangat rendah), dan “kemiskinan

berarti hal miskin atau keadaan miskin. Kata lain yang hampir sama

menggambarkan seperti ini adalah orang yang sengaja membuat dirinya dalam

serba kekurangan untuk mencapai kesempurnaan batin.

Istilah kemiskinan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang asing

dalam kehidupan kita. Kemiskinan yang dimaksud disini adalah kemiskinan

ditinjau dari dari segi material (ekonomi). Menurut Prof. Dr. Emil Salim yang

dimaksud dengan kemiskinan adalah merupakan suatu keadaan yang dilukiskan

sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok.

Atau dengan istilah lain kemiskinan merupakan ketidakmampuan dalam

memenuhi kebutuhan pokok, sehingga mengalami keresahan, kesengsaraan atau

kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya (Aridin Noor 1999 : 288).

Sedangkan kata miskin dalam bahasa arab berasal dari kata sakana yang

berarti diam atau tenang, sedang fakir berasal dari kata faqr yang berarti tulang

punggung. Fakir adalah orang yang patah tulang punggungnya dalam arti bahwa

beban yang dipikulnya sedemikian berat sehingga “mematahkan tulang

punggungnya”.

Fakir dan miskin dapat juga dijumpai secara bergandengan dalam Al-

47

Qur’an ketika membicarakan orang-orang mustahiqqun dalam penerimaan zakat,

yaitu pada surat At-Taubah ayat 60. Thabari secara tegas membedakan arti

keduanya, yaitu bahwa fakir adalah orang yang dalam kebutuhan tetapi dapat

menjaga diri untuk tidak meminta-minta dan miskin adalah orang yang dalam

kebutuhan dan suka merengek-rengek dan meminta-minta. Pendapat ini

didasarkan pada arti kata maskanah yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-

Baqarah ayat 61 dan Ali Imran ayat112, dan pada hadits riwayat Bukhari (Quraisy

Syihab 1996: 449).

Menurut Djamal Doa, fakir adalah orang yang sangat miskin tidak berharta

dan tidak pula berkuasa untuk bekerja atau berusaha guna memenuhi nafkahnya,

sedangkan orang yang menanggungnya tidak ada. Sedangkan miskin adalah orang

yang tidak mencukupi hajat nafkahnya, meskipun punya harta atau berusaha tetapi

usahanya belum mencukupi nafkahnya menurut keawjaran minimum (Djamal

Doa 2004: 1).

Taqiyyudin Abu Bakar menyatakan, fakir adalah orang yang tidak

memiliki harta atau pekerjaan, atau harta dan pekerjaan tetapi tidak mencukupi

kebutuhannya, misalnya: seseorang membutuhkan Rp. 25.000,-/hari tetapi ia

hanya memiliki Rp. 22.000,-/hari. Sedangkan miskin adalah golongan orang yang

memiliki harta untuk mencukupi kebutuhan hidup tetapi tidak memenuhi standar,

atau orang yang lemah dan tidak berdaya (cacat) karena telah lanjut usia, sakit

atau karena akibat peperangan, baik yang mampu bekerja maupun tidak, tetapi

tidak memperoleh penghasilan yang memadai untuk menjamin kebutuhan sendiri

dan keluarganya, misalnya: seseorang membutuhkan Rp. 10.000,-hari akan tetapi

hanya mempunyai Rp. 7000,-/hari (Bariadi dkk 2005: 11).

Menurut golongan Hanafiah bahwa fakir adalah mereka yang tidak

memiliki apa-apa dibawah nilai nisab menurut hukum zakat atau nilai barang yang

mencapai satu nisab atau lebih, misalnya: perabot rumah tangga dan sebagainya

yang merupakan keperluan pokok sehari-hari. Sedangkan miskin adalah mereka

yang tidak memiliki apa-apa dan inilah yang masyhur diantara mereka.

Sedangkan menurut jumhur ulama fakir dan miskin adalah mereka yang

tidak tercukupi kebutuhannya. Lebih khusus lagi bahwa fakir adalah mereka yang

tidak memiliki harta atau penghasilan yang layak dalam memenuhi kebutuhannya,

baik sandang, pangan, papan serta kebutuhan pokok lainnya, baik untuk keperluan

pribadinya maupun tanggungannya. Misalnya: mereka membutuhkan sepuluh,

tetapi yang ada hanya dua, tiga atau empat. Miskin adalah mereka yang

mempunyai harta atau penghasilan yang layak dalam memenuhi kebutuhannya

dan kebutuhan tanggungannya, tetapi tidak sepenuhnya tercukupi. Misalnya:

mereka membutuhkan sepuluh, tetapi yang ada hanya tujuh, delapan atau

sembilan, walaupun sudah sampai satu nisab atau lebih (Qardhawi 1994: 545).

Menurut Yusuf Qardhawi, termasuk pula fakir atau miskin mereka yang

mempunyai tempat tinggal yang layak tetapi kebutuhan hidupnya tidak

mencukupi meskipun tidak harus menjual rumahnya itu. Demikian juga mereka

yang mempunyai ladang namun penghasilannya tidak mencukupi tetap dianggap

sebagai fakir atau miskin. Termasuk pula mereka yang mempunyai sesuatu yang

diperlukan atau dipakai seperti : pakaian, perhiasan, buku-buku dan sebagainya.

Orang yang memiliki kekayaan tetapi tidak dapat memanfaatkan kekayaannya itu

karena sesuatu hal, misalnya: ditahan oleh penguasa atau berada ditempat yang

jauh atau orang yang berpiutang lebih dari satu nisab tetapi tidak termasuk dalam

49

kategori miskin atau miskin.

Dari uraian di atas, batasan kemiskinan sangatlah sulit untuk ditetapkan

karena para fuqaha masing-masing menganggap miskin mereka yang meskipun

memiliki harta yang sampai satu nisab atau lebih tetapi apabila tidak memenuhi

kebutuhannya tetap dianggap orang miskin. Karena itu, orang yang memiliki harta

yang melimpah sekalipun bila tidak dapat memenuhi kebutuhannya masih belum

dianggap sebagai orang kaya.

Yang jelas dari uraian di atas bahwa masalah kemiskinan, sebagaimana

dikemukakan oleh para fuqaha sangat tergantung pada tiga faktor, yaitu: pertama,

harta benda yang dimiliki dan berada ditempat; kedua, mata pencaharian yang sah

menurut hukum; dan ketiga, kecukupan akan hidup yang pokok.

Atas dasar itulah, Ali Yafi merumuskan definisi miskin sebagai berikut :

“Miskin adalah barangsiapa yang memiliki harta benda atau mata
pencaharian tetap, hal mana salah satunya (harta atau mata pencaharian)
atau dua-duanya hanya menutupi seperdua atau lebih dari kebutuhan
pokoknya, misalnya ditetapkan indeks dengan angka sepuluh, maka
seseorang yang memiliki atau memperoleh penghasilan lima hingga
sembilan itulah dia yang digolongkan sebagai orang miskin. Dalam hal ini
tidak termasuk adanya ia memiliki tempat tinggal, pelayan, pakaian, buku-
buku ilmu pengetahuan, dan harta benda yang berada di tempat yang jauh
atau hartanya itu terkait dengan suatu waktu tertentu sehingga tidak berada
dalam kekuasaannya” (Ali Yafi 1995 : 170).

Dari sejumlah definisi yang dikemukakan di atas, maka penulis

menyimpulkan bahwa setidak-tidaknya kemiskinan meliputi:

a.Tidak mempunyai apa-apa, baik harta maupun mata pencaharian;

b.Memiliki harta yang nilainya kurang dari satu nisab;

c.Tidak terpenuhinya kebutuhan pokok bagi diri sendiri, keluarga

dan orang yang menjadi tanggungannya, meskipun memiliki harta

mencapai satu nisab atau lebih;

d.Hanya memiliki harta yang diperlukan atau dipergunakan sehari-

hari.

2.Penyebab Kemiskinan

Para ahli ilmu sosial sependapat bahwa sebagaimana dinyatakan Supardi

Suparlan bahwa sebab utama yang melahirkan kemiskinan adalah sistem ekonomi

yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, tetapi kemiskinan itu sendiri

bukanlah gejala yang terwujud semata-mata hanya karena sistem ekonomi. Dalam

kenyataannya, kemiskinan merupakan perwujudan dari interaksi yang melibatkan

hampir semua aspek yang dimiliki manusia dalam kehidupannya. (Supardi

Suparlan 1984 : 11)

Berdasarkan pendirian tersebut, Zubair mengemukakan bahwa sebab-

sebab terjadi kemiskinan adalah:

a.Faktor alam

Keadaan alam yang kurang kondusif dapat menjadi penghalang bagi

terciptanya kesejahteraan manusia.

b.Faktor intern manusia

Sebab-sebab ini berkaitan dengan kondisi manusia itu sendiri yang kurang

percaya pada kemampuannya, keengganan mengaktualisasikan potensi yang

ada dalam bentuk kerja nyata yang serius, dan keengganan memberikan respek

optimal terhadap perputaran waktu.

c.Faktor struktur sosial

Salah satu sebab kemiskinan yang berkaitan dengan kondisi sosial adalah

51

terkonsentrasinya modal di tangan orang-orang kaya sehingga menyebabkan

orang-orang fakir tidak memiliki kesempatan untuk mengaktualisasikan

potensi-potensinya demi meraih potensi di bidang ekonomi (Zubair 2001:16).

Sedangkan menurut Arifin Noor ada beberapa faktor yang menyebabkan

timbulnya kemiskinan, yaitu:

1)Pendidikan yang terlampau rendah

Dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang

kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam

kehidupannya. Keterbatasan pendidikan yang dimiliki menyebabkan

keterbatasan kemampuan untuk masuk dunia kerja. Atas dasar itulah dia

miskin karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi kebutuhan

pokoknya.

2)Malas bekerja

Sikap malas menyangkut mentaliter dan kepribadian seseorang. Adanya sikap

malas ini bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah dalam bekerja, atau

bersikap pasif dalam hidupnya. Sikap malas ini cenderung untuk

menggantungkan hidupnya pada orang lain yang dipandang mempunyai

kemampuan untuk menanggung kebutuhan hidup mereka.

3)Keterbatasan sumber alam

Kemiskinan akan melanda suatu masyarakat apabila sumber alamnya tidak

lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Sering dikatakan oleh

para ahli bahwa masyarakat itu misikin karena memang dasar alamiahnya

miskin kekayaan alamnya. Dengan demikian layaklah kalau miskin sumber

daya alam, miskin juga masyarakatnya.

4)Terbatasnya lapangan kerja

Keterbatasan akan lapangan kerja membawa konsekuensi kemiskinan bagi

masyarakat. Secara ideal banyak orang yang mengatakan bahwa seharusnya

seseorang harus mampu untuk menciptakan lapangan kerja baru. Tetapi secara

faktual hal tersebut kecil kemungkinannya, karena adanya keterbatasan

kemampuan berupa skill maupun modal.

5)Keterbatasan Modal

Seseorang miskin sebab mereka tidak mempunyai modal untuk melengkapi

alat maupun bahan dalam rangka menerapkan keterampilan yang mereka

miliki dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan.

6)Beban keluarga

Semakin banyak anggota keluarga akan semakin banyak pula beban hidup

yang harus dipenuhi. Jumlah keluarga akan bertambah jika:

a)Fertilitas (kelahiran) lebih tinggi dari mortalitas (kematian).

b)Mortalitas lebih rendah dari fertilitas, tetapi terdapat migrasi

masuk; atau

c)Tidak ada migrasi; atau

d)Ada migrasi keluar, tetapi tidak cukup besar untuk mengimbangi

lebihan fertilitas.

e)Mortalitas sama dengan fertilitas dan terdapat migrasi masuk.

(Narwoko 2004 : 291)

Kenaikan pendapatan yang dibarengi dengan pertambahan jumlah anggota

keluarga, berakibat kemiskinan akan melanda dirinya dan sifatnya latent (Arifin

53

Noor 1997 : 288). Sedangkan menurut Ali Yafi yang dapat menimbulkan

kemiskinan yaitu:

1)Kelemahan. Meliputi kelemahan hati dan semangat, kelemahan akal

dan ilmu, atau kelemahan fisik. Semuanya itu menyebabkan

mengurangnya daya pilih dan daya upaya sehingga tidak dapat

menjalankan fungsinya sebagai pencipta, pembangun dan untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya.

2)Kemalasan. Tidak diragukan lagi bahwa sifat ini merupakan pangkal

utama dari kemiskinan.

3)Ketakutan. Keberhasilan seseorang dalam merintis atau melanjutkan

suatu pekerjaan banyak bergantung dari keberanian yang ada pada

dirinya.

4)Kepelitan. Sifat ini bagi si kaya tanpa disadari membantu untuk tidak

mengurangi kemiskinan, dan menjadi sasaran untuk dibenci oleh si

miskin.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->