P. 1
PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: SEBUAH PARADIGMA YANG PARADOKSAL

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: SEBUAH PARADIGMA YANG PARADOKSAL

4.5

|Views: 980|Likes:
Published by WIDIATMOKO
Di dalam naskah Standards for Foreign Language Learning: Preparing for the 21st Century, ditemukan kutipan yang merupakan pernyataan filosofis di dalam pembelajaran bahasa asing di Amerika. Pernyataan tersebut adalah ‘language and communication are the heart of the human experience’. Melalui penjabarannya, kemudian diringkas menjadi lima kata sederhana yang mencerminkan filsafat pendidikan bahasa asing yang dianut untuk menghadapi abad ke-21. Kata-kata itu adalah communication, cultures, connections, comparisons, dan communities. Kelima kata tersebut saling berkelindan (integrated) di dalam implementasinya.
Di dalam naskah Standards for Foreign Language Learning: Preparing for the 21st Century, ditemukan kutipan yang merupakan pernyataan filosofis di dalam pembelajaran bahasa asing di Amerika. Pernyataan tersebut adalah ‘language and communication are the heart of the human experience’. Melalui penjabarannya, kemudian diringkas menjadi lima kata sederhana yang mencerminkan filsafat pendidikan bahasa asing yang dianut untuk menghadapi abad ke-21. Kata-kata itu adalah communication, cultures, connections, comparisons, dan communities. Kelima kata tersebut saling berkelindan (integrated) di dalam implementasinya.

More info:

Published by: WIDIATMOKO on Aug 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2012

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS: SEBUAH PARADIGMA YANG PARADOKSAL

Oleh

Widiatmoko
moko.geong@gmail.com http://widiatmoko.blog.com Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta

PENGANTAR Di dalam naskah Standards for Foreign Language Learning: Preparing for the 21st Century, ditemukan kutipan yang merupakan pernyataan filosofis di dalam pembelajaran bahasa asing di Amerika. Pernyataan tersebut adalah ‘language and communication are the heart of the human experience’. Melalui penjabarannya, kemudian diringkas menjadi lima kata sederhana yang mencerminkan filsafat pendidikan bahasa asing yang dianut untuk menghadapi abad ke-21. Kata-kata itu adalah communication, cultures, connections, comparisons, dan communities. Kelima kata tersebut saling berkelindan (integrated) di dalam implementasinya. BAHASAN Pertama, communication merupakan kompas di dalam pembelajaran bahasa asing dan bahasa kedua, di samping bahasa ibu. Hampir semua negara di dunia memiliki kebijakan melalui kementerian pendidikan (pengajaran) untuk mempelajari bahasa asing atau bahasa kedua kepada para pelajar di sekolahnya. Di Amerika, bahasa kedua yang diajarkan meliputi bahasa Jerman, bahasa Spanyol, atau bahasa lainnya. Di Australia, bahasa kedua yang diajarkan termasuk bahasa Indonesia. Di Singapura, bahasa kedua yang sudah lumrah adalah bahasa Inggris, di samping bahasa ibu yang mencakupi bahasa Melayu,
1

bahasa Cina, atau bahasa Tamil. Di Malaysia, sebagaimana di Singapura, bahasa kedua yang diajarkan adalah bahasa Inggris, di samping bahasa ibu (bahasa Melayu, bahasa Cina, atau bahasa Tamil). Di Indonesia, bahasa asing pertama yang diajarkan adalah bahasa Inggris, di samping bahasa ibu, yakni bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Hampir semua bahasa asing atau bahasa kedua yang diajarkan di negaranegara tersebut memiliki tujuan yang sama yakni untuk berkomunikasi. Khusus pembelajaran bahasa Inggris, tiga negara terakhir (Singapura, Malaysia, dan Indonesia) telah menggariskan tujuan yang sama, yakni untuk berkomunikasi. Namun, Indonesia masih mengalami ketidakberhasilan di dalam meraih tujuan pembelajaran bahasa Inggris tersebut. Ditengarai, ketidakberhasilan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya bertalian dengan kualifikasi guru bahasa Inggris, seperti banyaknya guru bahasa Inggris yang berlatar pendidikan yang tidak atau kurang relevan dan adanya disparitas kualifikasi guru bahasa Inggris sebagai akibat keragaman etnik, letak geografi, strata sosial, sebaran informasi teknologi, dan budaya (Widiatmoko, 2006). Memang, untuk mengatasi kelemahan sistem pembelajaran bahasa Inggris itu, melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), pemerintah Indonesia mulai berbenah dengan membuat ancangan

standarisasi (PP No. 19/2005). Dari delapan standar yang diamanatkan, sorotan pertama yang dianggap signifakan terhadap peningkatan mutu pembelajaran adalah standar kompetensi. Ini kemudian dijadikan tujuan umum pembelajaran bahasa Inggris, yakni agar siswa mampu mangkomunikasikan gagasan dengan menggunakan bahasa Inggris lisan dan tulis secara akurat (Saukah, 2006). Kedua, cultures merupakan salah satu iringan di samping pengetahuan sebagai dampak dari pembelajaran bahasa Inggris. Pemahaman budaya yang benar tentu akan mengantarkan pada penguasaan bahasa yang dipelajari. Dengan demikian, dapat diungkapkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dilakukan melalui bahasa, khususnya bahasa Inggris. Pemahaman bahasa tersebut tidak akan lepas dari pemahaman budayanya. Budaya yang dimaksud mengacu pada pola perilaku masyarakat penuturnya yang dapat diterima oleh masyarakat lainnya. Ketiga, connections merupakan dasar filosofis dalam pembelajaran bahasa Inggris yang bermakna bahwa pembelajaran kini memiliki pengertian yang luas yang memungkinkan setiap individu saling bertukar pengetahuan yang berbeda. Pertukaran pengetahuan tersebut dilakukan melalui pendalaman bahasa Inggris. Pendalaman bahasa Inggris yang baik tentu memiliki dampak pada peningkatan pengetahuan di bidang lain yang ditekuninya, seperti ilmu komputer, ilmu kedokteran, ilmu ekonomi, ilmu teknik, dan sebagainya. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Inggris di sekolah kini lazim menekankan pada kompetensi wacana (discourse competence). Kompetensi ini dikembangkan melalui jenis teks yang beragam yang memiliki tujuan untuk komunikasi. Individu yang memiliki kompetensi wacana adalah individu yang mampu berpartisipasi dalam penciptaan teks. Peristiwa penciptaan teks tersebut dapat dilakukan antarindividu tersebut melalui peristiwa komunikasi, baik lisan maupun tulis (Agustien, 2006).

Keempat, comparisons mengandung pengertian bahwa setiap individu yang mempelajari bahasa Inggris dimungkinkan untuk memahami sistem bahasa dan sistem budayanya. Pemahaman sistem bahasa dan sistem budaya akan mengantarkan individu tersebut memiliki kemampuan analitis, sintesis kritis, dan evaluatif di dalam dimensi yang lebih luas di luar telaah bahasanya. Kompetensi wacana yang menonjolkan ragam teks di dalam kurikulum 2006 memfasilitasi peserta didik untuk mendalami perbandingan budaya lokal dengan budaya masyarakat di mana bahasa Inggris berasal. Itulah dimensi yang dapat diambil oleh peserta didik melalui pembelajaran bahasa Inggris yang berpijak pada kurikulum 2006 tersebut. Dengan demikian, pengetahuan budaya di dalam kurikulum 2006 itu merupakan salah satu prinsip pembelajaran bahasa Inggris dengan pendekatan literasi yang memungkinkan peserta didik memiliki cara berpikir analitis, kritis, dan evaluatif (Agustien, 2006). Cara berpikir tersebut tentu sangat dibutuhkan oleh individu di dalam kehidupan bermasyarakat di abad ke-21 yang berbasis pengetahuan (Madya, 2006). Kelima, communities merupakan kata yang merepresentasikan kaitan antara bahasa dan kemasyarakatan. Ini bermakna bahwa mempelajari bahasa Inggris tidak lepas dari mempelajari masyarakat penuturnya. Individu yang mempelajari bahasa Inggris dimungkinkan untuk dapat hidup di tengah masyarakat yang berbeda. Masyarakat yang berbeda yang hidup di abad ke-21 merupakan masyarakat berteknologi yang memiliki beberapa karakteristik, seperti cepat berubah, tidak permanen, dan otonom (Madya, 2006). Dengan demikian, dasar filosofis di mana individu mempelajari bahasa Inggris tidak akan lepas dari penyiapan individu itu untuk dapat hidup di tengah masyarakat maju tersebut. PENUTUP Dari pemerian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Inggris secara

2

periodik selalu mengalami pergeseran. Pijakan kurikulum dari masa ke masa terus berubah, demikian pula dengan paradigma pendekatan pembelajarannya. Namun, dasar filosofis pembelajaran bahasa Inggris masih tetap bersandar pada 5C (communication, cultures, connections, comparisons, communities). Oleh karena itu, diharapkan agar para guru bahasa Inggris di negeri ini untuk tidak merasa panik ketika menghadapi segala perubahan yang terjadi bertalian dengan pembelajaran bahasa Inggris sebab substansi sesungguhnya terletak di dasar filosofisnya itu sendiri. PUSTAKA RUJUKAN Agustien, Helena I.R. (2006). Competence, process, and assessment standards: Towards autonomy in ELT. Makalah yang disajikan pada Konferensi JETA Nasional 3. Towards the autonomy in EFL curriculum development. Universitas Negeri Yogyakarta, 3-4 Juli. Madya, Suwarsih. (2006). EFL teacher development in the context of educational reform. Makalah yang disajikan pada Konferensi JETA Nasional 3. Towards the autonomy in EFL curriculum development. Universitas Negeri Yogyakarta, 3-4 Juli. National Standards in Foreign Language Education (Tanpa Tahun). Standards for foreign language learning: Preparing for the 21st century. Yonkers, NY: American Council on the Teaching of Foreign Languages, Inc. Tersedia: http://www.actfl.org/files/public/ execsumm.pdf.pdf [30 Mei 2006]. Saukah, Ali. (2006). 2006 standards of competence for public schools and the implication to the teaching of English. Makalah yang disajikan pada Konferensi JETA Nasional 3. Towards the autonomy in EFL curriculum development. Universitas Negeri Yogyakarta, 3-4 Juli.

Widiatmoko. (2006). EFL teacher certification and students’ competence: An enigma or stigma? Makalah yang disajikan pada Konferensi JETA Nasional 3. Towards the autonomy in EFL curriculum development. Universitas Negeri Yogyakarta, 3-4 Juli. ***

3

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->