P. 1
REVIEW Beberapa Cara Perbaikan Tanam Pada Tanaman Tebu Ratoon

REVIEW Beberapa Cara Perbaikan Tanam Pada Tanaman Tebu Ratoon

5.0

|Views: 4,383|Likes:
Published by mhtrainingcenter
BEBERAPA CARA PERBAIKAN TANAM PADA TANAMAN TEBU RATOON

Oleh :
Memet Hakim¹) & Mahfud Arifin2)

1) Mahasiswa Program Doktor (By Research ), Fakultas Pertanian, Unpad
NPM : 1501 3008 0026
2).Direktur Program Pasca Sarjana, Unpad, Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, Ketua Tim Promotor
BEBERAPA CARA PERBAIKAN TANAM PADA TANAMAN TEBU RATOON

Oleh :
Memet Hakim¹) & Mahfud Arifin2)

1) Mahasiswa Program Doktor (By Research ), Fakultas Pertanian, Unpad
NPM : 1501 3008 0026
2).Direktur Program Pasca Sarjana, Unpad, Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, Ketua Tim Promotor

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: mhtrainingcenter on Aug 03, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2015

pdf

text

original

BEBERAPA CARA PERBAIKAN TANAM PADA TANAMAN TEBU RATOON

Oleh : Memet Hakim¹) & Mahfud Arifin2)

1) Mahasiswa Program Doktor (By Research ), Fakultas Pertanian, Unpad NPM : 1501 3008 0026 2). Direktur Program Pasca Sarjana, Unpad, Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, Ketua Tim Promotor

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia kini masih menjadi negara pengimpor gula, keinginan agar Indonesia tidak melaksanakan impor gula mulai tahun 2010, sebenarnya dapat dicapai, dengan syarat seluruh stakeholder mempunyai komitmen bersama untuk mengutamakan kepentingan nasional. Bahkan pemerintah (IKAGI,2008), pada kesempatan kongres Ikatan Ahli Gula Indonesia menyatakan swasembada gula merupakan suatu keharusan bagi bangsa Indonesia. Di lain pihak Tim Percepatan Peningkatan Produktivitas Gula, Direktorat Jendral Perkebunan, Departemen Pertanian, menunjukkan bahwa kenaikan produksi gula saat ini masih ditunjang oleh adanya pertambahan areal tanam atau ekstensifikasi (Media Perkebunan, 2008) Nahdodin (1999), menjelaskan bahwa pada lahan sawah usaha tani tebu mengalami penurunan produktivitas yaitu sekitar 16 sampai 17 ton hablur pada

1

tahun 1930an menjadi 5 sampai 7 ton hablur pada tahu 1990an. Pada lahan tegalan produktivitas usaha tani tebu di pulau Jawa sangat rendah dibandingkan dengan PG swasta di luar Jawa yang sekitar 6 sampai 7.5 ton hablur/ha. Di Thailand produktivitasnya mencapai 4 sampai 6 ton hablur/ha dan di Australia antara 9 sampai 14 ton hablur/ha. Rachmat M, 1996 (vide Nahdodin, 2000) mengemukakan bahwa terjadi penggunaan pupuk dan tenaga kerja di bawah optimal. Penurunan produktivitas gula ini tidak lepas dari perubahan sistem yakni dari sistim sewa tanah masyarakat menjadi sistim kerjasama antara pabrik gula dan petani tebu yang memperoleh kredit dari pemerintah berbunga murah. Pad sistem ini petani mendapat bimbingan teknologi dari pihak pabrik gula. Sistem ini dikenal dengan nama Tebu Rakyat Intensifikasi atau TRI. Dalam perkembangan perubahan sistem di atas, telah terjadi berbagai masalah sosial ekonomi, baik bagi petani, pabrik gula maupun lembaga terkait lainnya (Agus Pakpahan, 1999) Dampak lainnya adalah terhadap masalah teknis seperti pada banyak kasus agronomi antara lain masalah pemupukan (dosis, jenis, cara, frekuensi) dan mutu keprasan yang kurang baik dan yang paling terlihat adalah turunnya produktivitas hablur secara tajam. Tebu memerlukan curah hujan yang merata sepanjang masa

pertumbuhannya, idealnya antara 1.500 – 2.000 mm per tahun dengan hari hujan antara 150- 200 hari per tahun dengan musim kemarau pada saat tebang, namun bukan berarti tebu tidak dapat tumbuh di daerah yang kering atau basah. Tebu yang tumbuh di daerah kering memerlukan irigasi, sedang yang tumbuh di daerah basah tinggal mengatur pengairannya. Untuk mengetahui pengaruh iklim, maka

2

perlu pencatatan data iklim untuk kemudian dihitung berapa banyak defisit air bulanan dan tahunan. ”Water deficit” sampai di atas 500 mm per tahun dapat menurunkan produktivitas sampai 70 %, kecuali jika diberi pengairan secukupnya maka produktivitas tebu dan rendemennya bahkan akan meningkat. Curah hujan yang cukup (di atas 5 mm) per hari hujan yang merata sepanjang masa pertumbuhan dan kering 2-3 bulan pada saat menjelang masa tebang,

merupakan iklim yang paling cocok untuk tebu. Pengairan pada tebu diperlukan terutama pada wilayah yang musim keringnya relatif panjang. Selain itu banyaknya embung atau kolam air atau danau-danau kecil sangat membantu upaya pengairan dan membentuk mikro klimat yang relatif lebih lembab. Yahya et al (2000), mengemukakan bahwa penggunaan pupuk anorganik secara berlebih dan terus menerus dalam pertanian intensif sangatlah merugikan. Hal ini terutama dapat menurunkan tingkat kesuburan lahan karena perubahan sifat kimia dan fisika tanah serta menurunnya kehidupan biologis dalam tanah. Kesuburan tanah dapat ditingkatkan dengan memberikan zat organik dan mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman. Hal ini dapat meningkatkan kadar humus tanah, kegemburan tanah dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk organik. Bahan organik sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui mekanisme ketersediaan hara, sifat fisik tanah, pengendalian erosi tanah, sumber energi jazad renik, kapasitas pertukaran kation , adsorpsi pestisida dan hubungannya dengan patogen tanah. Diluar itu bahan organik dapat menyimpan air seberat bahan organik itu sendiri. Potensi limbah padat organik dari pabrik gula antara lain ampas tebu sebesar 32-34 %, blotong 3 %, abu ketel 0.3 % (Paturau 1989 vide Yahya et al

3

2000), namun jumlahnya tentu saja tidak akan cukup untuk digunakan pada seluruh lahan di areal diwilayah pabrik gula. Selain itu sampah kota dan kotoran hewan merupakan sumber bahan organik yang besar. Bahan tersebut dapat diolah jadi kompos dan diperkaya dengan bahan lainnya seperti mikroba pelarut fosfat, abu sebagai sumber kalium dan mikroba yang mampu memfiksasi nitrogen. Bahan bahan inilah yang perlu diteliti dampaknya pada pertumbuhan tanaman tebu. Disbun Jatim (2009), menyatakan turunnya produktivitas tidak lepas dari turunnya populasi tanaman tebu pada tanaman ratoon, penggunaan bibit, pengairan, perawatan akar yang tidak optimal dan pola pemupukan yang tidak mendukung produktivitas tanaman. Pada akhir abad ke 20, tercatat bahwa proporsi luas areal tebu keprasan terhadap luas areal tebu pertama (plant cane) sangat fantastis, yaitu dengan perbandingan 9 : 1. Kenyataan ini menjadi sangat tidak menguntungan, karena komposisi kategori tanaman jauh di bawah ideal yaitu maksimal adalah 4 : 1. Kondisi komposisi kategori tanaman yang tidak ideal tersebut diduga sebagai penyebab rendahnya perolehan produktivitas tebu. Keadaan tersebut diperburuk lagi oleh situasi komposisi tanaman keprasan yang ada dengan dominasi tanaman ratoon yang dikepras secara berulang-ulang lebih dari 3 kali dan bahkan di beberapa tempat dijumpai pengeprasan tanaman tebu lebih dari 10 kali. Fakta menunjukkan bahwa budidaya tebu keprasan sampai pada kondisi ratoon tertentu sangat menguntungkan. Dibanding dengan budidaya tanaman baru, budidaya keprasan membutuhkan biaya relatif lebih kecil. Ini karena terdapat penghematan dengan tidak diperlukannya biaya pembelian bibit dan pengolahan tanah. Namun demikian, budidaya keprasan juga tidak selamanya

4

menguntungkan karena pada tingkat keprasan perolehan produksi yang rendah tidak sebanding dengan pembiayaan. Pada kondisi tebu keprasan yang sudah tidak menguntungkan seharusnya tanaman tersebut dibongkar dan diganti dengan tanaman tebu baru). Pada umumnya sampai kepada ratoon ketiga budidaya keprasan masih menguntungkan dan hal demikian yang diharapkan oleh petani tebu sehingga budidaya keprasan sangat menjanjikan. Tindakan pengeprasan diperlukan apabila sisa tebangan masih tinggi di atas permukaan tanah. Hal ini dilakukan untuk memacu keluarnya tunas keprasan dari dongkelan bagian bawah. Tindakan penyulaman diperlukan karena banyak tanaman yang mati karena kekeringan, tergenang air, terlindas kendaraan, terserang penyakit dan lain lain penyebab. Penyulaman dilakukan pada gaps atau bagian barisan tebu keprasan yang kosong karena rumpun-rumpun tebunya mati. Pemupukan memberikan pengaruh penting pada pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Pada tanaman ratoon kondisi tanah telah mulai mengeras, sehingga “daya cengkam air” dan daya tembus oksigen dalam tanah berkurang. Itulah sebabnya pemberian pupuk organik diperlukan selain pupuk kimia. Pupuk organik dapat membantu perbaikan sifat fisik tanah yakni memelihara kegemburan tanah dan sifat biologi untuk memelihara perkembangan mikroba dalam tanah. Sifat tanah yang indikasinya terlihat pada kadar C organik, merupakan indikator kesuburan tanah. Apabila kandungan hara dalam pupuk organik tergolong rendah, maka perlu dibantu dengan pupuk buatan. Keunggulan pupuk organik lainnya adalah kandungan mikroba, baik yang alami maupun yang dibudidayakan, karena beberapa jenis mikroba dapat melarutkan hara dalam tanah yang tadinya tidak tersedia menjadi tersedia untuk tanaman.

5

1.2. Permasalahan Penyebab rendahnya produktivitas pada tanaman tebu memang cukup banyak, salah satu yang cukup dominan adalah masalah pemupukan. Pemupukan dengan pupuk buatan yang terus menerus ternyata membuat tanah menjadi keras sehingga produktivitasnya cenderung semakin rendah. Penggunaan pupuk organik demikian juga. Namun penggunaan keduanya akan menghasilkan sinergi positip yang dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Permasalahan timbul seberapa banyak dosis pupuk organik dan pupuk kimia yang diperlukan tanaman tebu untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman, kandungan hara dalam daun dan

produktivitas optimum ? Masalah inilah yang akan dibahas lebih lanjut. Masalah lain adalah seberapa jauh analisa daun hasilnya dapat diterapkan pada pembuatan rekomendasi pemupukan atau yang dikenal dengan ”diagnosis and recommendation integrated system (DRIS), menggantikan cara lama yakni dengan analisa tanah saja. Ada empat masalah pokok yang mengakibatkan rendahnya produktivitas tebu ini yakni (1) Sampai seberapa jauh pengurangan populasi tanaman pada tanaman ratoon dapat ditolerir. (2) Seberapa akuratnya pembuatan rekomendasi pemupukan. (3) Bagaimana pembibitan, yang sampai saat ini masih

menggunakan pola empat tahap yakni dimulai dengan Kebun Bibit Pokok, Nenek, Induk, dan Datar dimana lokasinya terus berpindah-pindah sehingga sulit dapat dipertahankan mutunya. Pembibitan seperti ini rawan terhadap penyimpangan mutu (4) Seberapa jauh perawatan akar dilaksanakan ( tebu berakar serabut), yang

6

jika seluruh potensi tumbuhnya akar diperhatikan dengan benar tentu penyerapan haranya akan bertambah optimal. Contoh yang sering dilupakan adalah pembumbunan, pemutusan akar samping, dan keprasan pendek yang semuanya akan menghasilkan tunas jadi per rumpun yang lebih banyak.

7

II . KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Kajian Pustaka Tebu merupakan tanaman yang memerlukan hara dalam jumlah yang tinggi untuk dapat tumbuh secara optimum. Di dalam 1 ton hasil panen tebu terdapat 1,95 kg N; 0,30 - 0,82 kg P2O5 dan 1,17 - 6,0 kg K2O yang berasal dari dalam tanah (Hunsigi, 1993; Halliday dan Trenkel, 1992). Ini berarti pada setiap panen tebu akan terjadi pengurasan hara N, P, dan K yang sangat besar dari dalam tanah. Oleh karena itu pada sistem budidaya tebu diperlukan pemupukan N, P dan K yang cukup tinggi agar hasil panen tebu tetap tinggi dan daya dukung tanah dapat dipertahankan. (Ismail, 2007) Untuk melakukan pendekatan perhitungan kebutuhan pupuk untuk tebu, kita perlu mengetahui berapa zat hara yang diperlukan setiap ton tebu yang diambil ke pabrik. Kemudian perlu diketahui hasil analisa tanahnya serta kandungan unsur hara dalam daun, sehingga “prediksi” dosis pupuk pada tanaman tebu akan lebih akurat. Jika produktivitas yang direncanakan sudah diketahui, maka perkiraan kebutuhan hara dapat diketahui, namun tentu saja tidak cukup dengan cara tersebut, masih ada pertimbangan lainnya antara lain adanya gangguan organisme pengganggu tanaman, gejala defisiensi, jenis tanah. Penurunan produktivitas lahan saat ini disebabkan oleh penggunaan pupuk an-organik yang terus menerus dalam dosis makin tinggi sehingga kandungan bahan organik tanah semakin menurun. Tisdale et al. (1975) dan Bastari (1996) menambahkan bahwa pemberian pupuk yang melebihi kebutuhan tanaman yang dilakukan untuk meningkatkan produksi apabila dilakukan secara terus-menerus

8

dan tanpa upaya pengembalian unsur-unsur yang diserap tanaman tentunya akan berakibat merugikan kesuburan tanah dan merusak sifat fisik dan kimia tanah.

Tabel 1 : Perbandingan unsur hara makro yang diambil tebu dari dalam tanah URAIAN N (Nitrogen)  ZA  Urea P2O5 (Phosphat)  RP  SP 36 K2O (Kalium) UNSUR HARA YANG DIAMBIL TEBU 1 ton tebu 70 ton tebu 100 ton tebu 150 ton tebu 1.0 70 100 150 4.76 2.10 0.6 2.31 1.68 2.25 333 146 42 161 117 157 262 476 210 60 231 168 225 382 714 315 90 346 252 337 573

 KCl(MoP) 3.82 Sumber : diolah dari Sundaran B, 1998

Pemupukan yang tidak berimbang akan mempercepat terkurasnya hara dalam tanah. Menurut Taslim et al. (1989), penggunaan pupuk an-organik secara terus menerus akan menyebabkan penurunan kandungan C-organik, P-tersedia dan KTK tanah. Bahkan sebagian besar tanah sawah di Jawa menurut Karama (2000), mempunyai kandungan C-organik di bawah 1%, sehingga menyebabkan terjadinya kemerosotan kualitas lahan ( Arifin, 2005) Setelah itu ternyata masih diperlukan perhitungan lebih lanjut apabila produktivitas masih ingin ditingkatkan pada level yang lebih baik. Kebutuhan hara tanaman tebu dibedakan sesuai dengan tingkat produktivitasnya, semakin tinggi produktivitas akan semakin tinggi kebutuhan haranya, sebagai berikut :

Tabel 2 : Kebutuhan hara pada peningkatan produktivitas tebu lebih lanjut

9

Perkiraan kasar Unsur Hara yang diperlukan untuk URAIAN N (Nitrogen)  ZA  Urea P2O5 (Phosphat)  RP  SP 36 K2O (Kalium) 1 ton 2.25 10.7 4.9 0.6 3.3 1.7 1.25 meningkatkan setiap ton tebu 40 ton 70 ton 90 157 43 20 24 13 7 50 749 343 42 23 12 87 140 100 ton 225 1.070 490 60 33 17 125 200

 KCl(MoP) 2.0 80 Sumber :Diolah dari Sundaran B, 1998

Arifin (2005), menyimpulkan dalam penelitiannya tentang adanya peningkatan produksi hablur dan efisiensi biaya pemupukan an-organik pada tanaman tebu Plant Cane dicapai yakni dengan menggunakan pupuk Mixed G (pupuk organik) 1400 kg/ha + Urea 150 kg/ha + ZA 200 kg/ha. Pada pertanaman tebu Ratoon Cane menggunakan pupuk Mixed-G 1400 kg/ha + Urea 150 kg/ha + ZA 200 kg/ha diperoleh pengurangan biaya pemupukan, namun terjadi penurunan produksi hablur sehingga pendapatan usahatani tebu lebih rendah dibanding pemupukan an-organik standard pabrik gula (ZA 800 kg/ha + SP-36 100 kg/ha + KCl 100 kg/ha). Adanya kandungan bahan organik tanah sering dikaitkan sebagai indikator tanah subur. Tanah subur apabila kandungan C-organik tanah di atas 3 %. Peranan bahan organik dalam tanah mempunyai peranan langsung dengan tanaman, karena kemampuannya untuk menjadi media yang cocok bagi perkembangan mikroba, terutama yang “dapat melarutkan hara”, sehingga unsur hara yang tadinya tidak tersedia buat tanaman, menjadi tersedia buat tanaman. Keunggulan lainnya adalah memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah.

10

Bahan organik mempunyai kemampuan menyimpan air dalam ronggarongga (pori-pori) dalam tanah dan meningkatkan aerasi serta meningkatkan efisiensi penyerapan hara bagi tanaman. Bagi mikroba yang hidup dalam tanah, bahan organik, disamping berfungsi sebagai aerator dan pelembab tanah juga berfungsi sebagai sumber energi untuk kehidupan organisme tanah. Ukuran yang biasa digunakan sebagai parameter adalah kadar C organik. Tanah yang subur dinyatakan dengan C organiknya ≥ 3 %, tanah yang sedang tingkat kesuburannya ≥ 2 % dan yang tergolong miskin ≤ 1 %. Bokhtiar, et al (2002), dalam penelitiannya di Bangladesh, memperlihatkan pengaruh yang nyata atas pemberian pupuk organik dan pupuk kimia pada produktivitas tanaman seperti pertumbuhan tunas, batang dan kwalitas jus sebesar 22-74 %. Penambahan campuran pupuk kandang dan blotong sebesar 12.5 ton/ha, sedang penambahan blotong sendiri, hanya dapat meningkatkan produktivitas sebesar 16-20 % saja. Apabila kita mengetahui tingkat kesuburan lahan rendah tentu sebaiknya diberikan tambahan bahan organik dengan antara lain kompos yang umumnya tersedia dimana saja. Kompos dapat berasal dari bahan apa saja, seresah tanaman, jerami, bagas, kotoran hewan, sampah kota, dll. Ada juga yang membuat pupuk organik menjadi bentuk granular, dengan tingkat kekeringan sampai di bawah 10 %. Lengkapnya dapat dilihat pada table sebagai berikut : Tabel 3 : Pengelompokan Tingkat Kesuburan Tanah Tanah C-Org. Sangat Rendah <1.00 Rendah 1–2 Sedang 2.01-3.0 Tinggi 3.01-5.00 Sangat Tinggi >5.00
11

N-Org. C/N P2O5 HCl 25 % (mg/100 g) P2O5 Bray 1 (ppm P) P2O5 Olsen (ppm P) K2O HCL 25% (mg/100 g) Ca (me/100g) Mg (me/100g) K (me/100g) Na (me/100g) KTK (me/100g) Kejenuhan Basa (%) Kejenuhan Al (%) Cadangan Mineral % Na-dd (%) Sumber: BPBPI, 2005

<0.10 <5 <15 <4 <5 <10 <2 <0.3 <0.1 <0.1 <5 <20 <5 <5 <2

0.10-0.20 5-10 15-20 4-7 5-10 10-20 2-5 0.4-1.0 0.1-0.3 0.1-0.3 5-16 20-40 5-10 5-10 2-4

0.21-0.50 11-15 21-40 8-10 11-15 21-40 6-10 1.1-2.0 0.4-0.5 0.4-0.7 17-24 41-60 11-20 11-20 5-10

0.51-0.75 16-25 41-60 11-15 16-20 41-60 11-20 2.1-8.0 0.6-1.0 0.8-1.0 25-40 61-80 20-40 20-40 10-15

>0.75 >25 >60 >15 >20 >60 >20 >8.0 >1.0 >1.0 >40 80-100 >40 >40 >15

Abro, et al(2002), dalam penelitiannya di Pakistan memperlihatkan hasil yang positip atas pemberian pupuk organik yakni tinggi batang meningkat dari 1.4 m menjadi 3.1 m, ruas meningkat jadi dari 12 ruas (kontrol) menjadi 27.25, lilit batang dari 0.25 cm (kontrol) menjadi 2.5 cm, Tabel 4 : Pedoman Penambahan Bahan Organik Penambahan Bahan Organik (C-Organik) 0.1 % 0.2 % 0.5 % 0.8 % 1% 2% 3% Kesetaraan Per ton Tanah (kg/ton) 1 2 5 8 10 20 30 Kesetaraan per ha lahan Kedalaman 20 cm (ton/ha) 2 4 10 16 20 40 60 Kesetaraan per ha lahan Kedalaman 10 cm (ton/ha) 1 2 5 8 10 20 30

12

4% 5%

40 50

80 100

40 50

C-Organik kriteria sedang kadarnya antara 2-3 % Sumber : Basuki, BPBPI, 2006 Selain itu untuk meningkatkan produktivitas tebu perlu diketahui titik kritis status hara dalam daun yang biasa dikenal dengan istilah “Nutrient Critical Level” sebagai pedoman untuk menjaga agar tanaman tidak kekurangan hara. Dengan pedoman ini,dapat diambil tindakan korektif untuk periode pemupukan selanjutnya. Standar kandungan hara dapat berbeda untuk tempat yang berbeda diuraikan sebagai berikut : Tabel 5 : Standar Kandungan Hara pada Daun Tebu di India Kriteria N P Kandungan Unsur Hara K Mg 0.12 0.10 Fe 0.30 0.25

+ Baik 2.00 0.12 2.30 + Medium 1.70 0.10 2.20 + Kurang 1.40 0.08 2.10 Sumber : Diolah dari Sundara, B, 1998.

0.80

0.20

Tabel 6 : Standar Kandungan hara pada daun Tebu di Australia Unsur Hara Nilai Kritis % Nitrogen (N) Phosphorus (P) Potassium (K) 1.80 0.19 0.90 Kadar Optimum % 2.00-2.60 0.22-0.30 1.00-1.60

13

Sumber : Anderson and Bowen (1990) Tabel 7 : Standar Kandungan Hara pada daun Tebu di Brazil Kandungan Hara Makro N 1.80% Sumber : Gascho, , 2000 Menurut penelitian Widyatmoko (2002), kemasaman tanah menjadi penting sebagai indikator kesuburan tanah, karena disamping secara langsung dapat berinteraksi dari ion hydrogen dengan perakaran tanaman, juga parameter ini memiliki hubungan yang luas dengan ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. Pengelompokkan pH sebagai berikut : Tabel 8 : Pengelompokan Jenis Tanah berdasarkan pH (H20) Uraian pH (H20) Sangat Masam < 4.5 Masam 4.5 – 5.5 Agak Masam 5.6 – 6.5 Netral 6.6 - 7.5 Agak Alkalis 7.6 - 8.5 Alkalis > 8.5 Sumber : PPT (1982), TOR-Tipe-As Survai Kapabilitas Tanah Misalnya ketersediaan hara P dan hara mikro dikontrol oleh pH tanah serta ketersedian unsur yang bersifat racun seperti Al dikontrol pula oleh kemasaman tanah. Pada pH tanah rendah, ketersediaan Al meningkat dan dapat meracuni perakaran tanaman. Kandungan hara yang terdapat dalam tanah dapat dikelompokkan atas beberapa katagori yakni kurang sampai sangat baik, namun kadar N agak sulit digunakan sebagai pedoman jika waktu analisa tanahnya sudah berlangsung P 0.19% K 0.90%

14

beberapa bulan karena sifatnya yang sangat mobil. Tabel 9 menyajikan katagori kadar hara utama tanah untuk pengelolaan kebun sebagai berikut : Tabel 9. Kriteria kadar hara utama tanah untuk pengelolaan tebu Kategori Sangat Baik Baik Sedang Kurang Kadar N tanah (%) > 2,0 1,0-2,0 0,1-1,0 < 0,1 Kadar P Tanah (ppm) > 50 25-50 15-25 < 25 Kadar K Tanah (me/100g) > 0,4 0,3-0,4 0,2-0,3 < 0,2

Sumber : Olahan dari Widyatmoko (2002) Pemberian kalium melalui pemupukan pada tanaman tebu sering dilakukan. Pada kondisi kadar K tanah sangat tinggi tidak perlu lagi diberikan pupuk K, karena K tersedia dalam tanah dalam bentuk K dapat ditukarkan sangat efektif diserap oleh akar. Karena K dibutuhkan banyak pada fase pemanjangan batang, maka pemberiaan pupuk K dapat dilakukan pada saat bersamaan tanam (dikarenakan K tidak mudah hilang tercuci) atau pada saat tanaman tebu berumur 1-2 bulan. Diperlukan catatan khusus tentang pemupukan, namun biasanya catatan ini tidak ada. Catatan ini disebut kartu tanaman dimana catatan tersebut bergabung dengan catatan tindakan agronomi lainnya. Kartu ini memuat semua data tanaman yang telah dikerjakan dalam petak atau blok tertentu yang telah dibuat sebelumnya. Blok tersebut disebut Leaf Sample Unit, satuan luas ini “dianggap” homogeny dalam semua hal, sehingga dianggap satu satuan. (contoh terlampir). Gawander, et al(2002), dalam penelitiannya menyatakan bahwa kandungan K dalam tanah dapat dipengaruhi oleh (1) pemberian K dalam bentuk pupuk (2) adanya “run on” atau pemindahan hara dari atas kebawah misalnya (3) erosi (4)

15

pencucian (5)“run off” akibat pengolahan tanah. K yang dapat dipertukarkan sangat penting peranannya dalam pertumbuhan tanaman, karena hanya K tersebut dan larutan K yang tersedia bagi tanaman. K yang tersedia ini umumnya berada dilapisan atas tanah dan tergantung dari jenis tanahnya juga. Hasil analisa daun terutama pada tiga elemen utama (unsur N,P,K) harus di “cross check” dengan “gejala defisiensi“ pada pemeriksaan visual dilapangan sebagai hasil akhir atau respon tanaman terhadap perlakuan yang terlihat oleh mata, sehingga jika terdapat kesalahan dalam proses analisa daun akan terlihat. Untuk memudahkan analisa hasil pengamatan gejala defisiensi ini dibuat dalam skore 0-5, sehingga kelak dapat diuji secara statistik. Mabry McCray et al (2005), menyatakan bahwa gejala visual dari defisiensi hara dan toksisitas sering dijumpai dilapangan, yang mengalami masalah penterapan unsur hara. Gejala yang diketahui ini segara perlu dikoreksi dengan penambahan dosis pupuk korektif. Seberapa banyak gejala ini diketemukan dilapangan dibandingkan dengan hasil analisa daun, karena ada saja kemungkinan hasil analisa daun di laboratorium tidak sama dengan pengamatan visual. Faktor lain seperti pengairan sangat menunjang peningkatan produktivitas tanaman, namun kelebihan atau kekurangan air dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu. Tebu memerlukan air pada saat pertumbuhan kecambah, pertunasan dan pertumbuhan. Delapan sampai 13 minggu sebelum panen tanaman tebu harus dikeringkan untuk mendapatkan produktivitas tanaman tertinggi (Bamber et al, 2002 ). Pendekatan perhitungan defisit air diuraikan pada tabel 10. Diperkirakan setiap 100 mm air hujan ( 1.000.000 liter air/ha) menghasilkan 5-15

16

ton tebu/ha (Bristow, 2002). Metoda pengairan sangat bervariasi antar lokasi sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Untuk itulah perhitungan water deficit, amat membantu pertimbangan saat tanam, dan waktu serta jumlah pemupukan. Aplikasi irigasi dapat mengandalkan perhitungan water deficit seperti ini, hasilnya akan lebih efisien dibanding tanpa pedoman. Perhitungan kekurangan air ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air atau water use efisiency. Dengan asumsi water holding capacity sebanyak 100 mm (untuk kelapa sawit 200 mm karena perakarannya lebih dalam) dan evapotranspirasi pada hari hujan < 11 hari 150 mm, >12 hari 120 mm, maka perhitungan menjadi seperti disajikan pada tabel 10 berikut ini.

Curah Hujan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Jan. Feb. Mart April Mei Juni Juli Agust. Serpt Okt Nov. Des. Total mm 350 220 267 188 132 65 48 0 0 89 365 427 2151

Hari Hujan mm 21 14 12 16 15 5 6 0 0 6 19 23 137

Pers. Air di Tanah mm 100 100 100 100 100 100 15 0 0 0 0 100

Evapo Trans Pirasi mm 120 120 120 120 120 150 150 150 150 150 120 120 1590

Sisa air mm 330 200 247 168 112 15 0 0 0 0 245 407

Stok Air mm 100 100 100 100 100 15 0 0 0 0 100 100

Water Deff. mm (> 0 = 0) 0 0 0 0 0 0 87 150 150 61 0 0 448

Catatan : Water Holding Capacity dianggap 100 mm 1. CH ≥ 11 : Evapotranspirasi 120 mm 3. Persediaan air dalam tanah bulan ke 1 dianggap 100 mm 2. CH < 10 : Evapotranspirasi 150 mm 4. Pers.air dlm tanah ≥ 0 = Water Deficit = 0

Tabel 10. Perhitungan Water Defisit untuk Tanaman Tebu

17

Serangan hama/penyakit menuntut adanya pemupukan ekstra untuk membantu recovery pertumbuhan tanaman. Hama penggerek batang dapat dikendalikan secara biologis, dengan menggunakan predator yang dapat dikembangkan. Hama boktor dikendalikan dengan mengembangkan parasitnya. Mengingat umur tanaman di atas 4 tahun, maka perhitungan target produksi minimal harus 3 tahun ke depan, walaupun pemupukan tebu hasilnya langsung terlihat pada tahun ybs. Tahun pertama setelah pemupukan hanya berat batang, tinggi dan berat dapat berubah. Tahun kedua dan tahun ketiga berat batang , tinggi dan jumlah batang tebu sebagai faktor pokok produksi sudah memperlihatkan perkembangan yang diinginkan.

18

Membuat Tahun Tahun Sulam target Ke batang/ha ke 1 2 Ke 3 m/batang kg/batang

batang/ha m/batang kg/batang

batang/ha m/batang kg/batang

19

Gambar 1 : Skema membuat target produksi 6.4. Waktu Pemupukan Pemupukan akan efektip dilaksanakan jika tanahnya mengandung air, jadi kondisi di atas terjadi pada awal musim hujan sampai akhir hujan. Pada saat hujan atau hari akan hujan pemupukan tidak dianjurkan. Risiko aplikasi pemupukan pada saat hujan, zat haranya akan mengalir (run off) ketempat yang lebih rendah dan kesungai. Idealnya pada awal musim hujan dan pada akhir musim hujan , dimana curah hujan tidak terlalu tinggi. Waktu ini akan berbeda setiap daerah, karena disamping ada iklim tahunan juga ada ilklim mikro yang

mempengaruhinya. Pagi sampai siang hari merupakan waktu yang ideal untuk aplikasi pemupukan dilapangan. Semakin pagi aplikasinya semakin baik, karena pagi hari jarang turun hujan. Idealnya aplikasi pemupukan dilaksanakan pada saat akar dalam kondisi baik, artinya tanah dalam kondisi lembab atau basah. Pada musim yang kemaraunya di bawah 1 bulan, pemupukan dapat dilaksanakan kapan saja dengan frekuensi minimal 2 kali yakni pada saat tanam atau tebang dan pada umur 3 bulan, dimana tebu sedang bertunas. Pada daerah dengan musim kemarau di atas 3 bulan, aplikasi pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi perakaran tebu, misalnya pada akhir musim kemarau, akar di permukaan tanah (0 – 30 cm) biasanya kering dan mati sehingga

20

harus menunggu perkembangan akar terlebih dahulu. Itulah sebabnya pada kondidi demikian diperlukan irigasi. Mengingat bidang pertanian termasuk perkebunan sangat tergantung dari kondisi iklim, maka perhitungan waktu pemupukan juga harus disesuaikan dengan iklim. Sehubungan dengan hal tersebut manajemen logistik perkebunan, khususnya ketersediaan pupuk harus dijaga agar stok minimal harus tersedia. Aplikasi pemupukan sebaiknya 3-4 kali pada masa tanam sampai masa pertumbuhan, namun minimal 2 kali setahun. Semakin sering frekwensi aplikasi hasilnya akan semakin baik, terutama bagi jenis pupuk yang cepat larut dalam air.
: Waktu Pemupukan Waktu Keterangan : Sumber : Memet Hakim, Wk uP m p k nId a a t e uu a el Ideal pemupukan
Hari dan mm Hujan

2008

Agu stu s September

September

September Oktober

November Desember

Desember

20 05

20 06

20 07

B la /T h n u n au

Pada akhir musim kemarau panjang, akar banyak yang mati , itulah sebabnya waktu pemupukan harus menunggu pada saat akar mulai tumbuh kembali sekitar 1- 1.5 bulan setelah hujan pertama datang.

21

November

Oktober November

Febru ari

Febru ari Mart

J anu ari Febru ari

J u li Agu stu s

Agu stu s

Oktober

J anu ari

J anu ari

Mart April

J u ni J u li

Mei J u ni

Mart

April

April Mei

J u ni J u li

Mei

20 5 20 0 10 5 10 0 5 0 0

Gambar 2 : Skema waktu pemupukan 6.5. Sulaman/Sisipan Meningkatkan jumlah tanaman, agar sesuai dengan norma yakni menjadi 100.000 batang/ha atau sekitar 120 rumpun dengan jumlah batang 8 batang/rumpun dengan cara : a. Menanam dengan bibit yang baik dan seragam (1 varitas) dengan jumlah yang cukup (120.000 mata atau lebih), sehingga menghasilkan sekitar 100.000 batang/ha. b. Sulaman pada ratoon dilakukan pada minggu pertama setelah tebang dengan bibit yang telah disiapkan dalam polybag. c. Bibit Sulaman/sisipan ditanam dalam polibeg 1.5-2 bulan sebelum tebang. Bibit dalam polybag belum biasa digunakan dalam tanaman tebu, namun jika hal ini dapat dilaksanakan tentu produktivitas tanaman tebu akan meningkat. Bibit dapat disiapkan oleh masing masing petani atau perusahaan. Secara ekonomis pola penyulaman dengan bibit polibeg lebih menguntungkan dibandingkan dengan stek.

22

Gambar 3 : Persiapan tanam bibit polibeg dilapangan

6.6. Perakaran Akar tebu adalah akar serabut, yang tumbuh pada ruas batang, akar-akar ini harus dirawat dan diperliharan dengan baik agar pertumbuhannya optimal. Sebagai bagian tanaman yang ”menyerap” unsur hara dari tanah, akar dapat mendukung laju peningkatan produktivitas tanaman. Jumlah akar baik yang hidup maupun yang mati sekitar 0.9-1.1 kg/m2, sedang panjang akar (14.0-17.5 km/m2). Berat akar tanaman baru (plant cane) 0.75 kg/m2 dan pada akhir tanaman ratoon 13.8 km/m2. Akar yang mati selama 2 minggu sebelum tanaman ratoon dipanen ada sekitar 0.15 kg/m2, jadi sekitar 17 % dari total akar yang ada. Kematian akar di atas terjadi pada kondisi tanpa adanya tebu bakar atau pembakaran klaras atau seresah tebu. Sebagian kecil dari jumlah akar ada dalam lapisan di bawah seresah yakni, sebesar 1% dari total massa dan 3% dari panjang (Ball-Coelho et al, 1991)

23

Gambar 4 : Akar Bibit Tebu dalam polibag

Pada ujung akar terdapat banyak sekali bulu-bulu akar, yang berfungsi untuk menyerap unsur hara dan air kedalam tanaman melalui proses osmosa dan respirasi. Jika tanah mengandung cukup bahan organik, tentu disekitar bulu-bulu akar terjadi proses dimana unsur hara yang tadinya tidak tersedia dalam tanah menjadi tersedia. Unsur hara ini semakin banyak tersedian tentu semakin banyak dapat diserap tanaman.

24

Gambar 5 : Ujung dan Bulu Akar Tanah yang gembur memungkinkan udara masuk ke dalam ruanganruangan yang terbentuk, demikian juga air akan tertahan dalam ruangan tersebut. Ujung akar akan mudah tumbuh pada kondisi demikian. Bulu akar adalah organ terdepan tanaman yang menyerap unsur hara dan air di dalam tanah. Jumlah bulu akar ini sangat dipengaruhi antara lain oleh: 1. Jumlah akar yang tumbuh 2. Diameter akar 3. Diameter batang 4. Panjang akar Jadi semakin banyak jumlah bulu akar, akan semakin tinggi kemampuan akar dalam menyerap tanaman. Apabila mikroba tumbuh dengan baik di sekitar tudung akar, maka unsur hara yang tersedia dan dapat diserap oleh tanaman melalui akar akan semakin banyak jumlahnya. Apalagi jika ditunjang oleh perakaran yang baik dan jumlah akar aktif maka kemampuan penyerapan unsur hara semakin tinggi. Stek yang ditanam tentu saja belum tumbuh akarnya. Akar stek ini baru tumbuh setelah 2 minggu ditanam sampai sekitar 8 mingguan. Itulah sebabnya pemupukan pada tanaman baru lebih tepat dilaksanakan pada minggu ke 4 setelah tanam, disusul minggu ke-8 dan 12 serta 16. Bagian pucuk biasanya bertunas terlebih dahulu, disusul bagian tengahnya dan terakhir bagian pangkal batangnya.

25

Namun berdasarkan pengamatan banyaknya akar tidak ditentukan oleh cepatnya tumbuh tunas. Gambar 6 : Stek yang telah tumbuh tunas serta akarnya (Sumber : Memet Hakim & Netasim vide wwww.google.co.id ,2007)

26

Sumber :Memet Hakim, 2007

27

Gambar 7 : Akar baru (shoot root) tumbuh diantara akar asli (sett root) Akar baru tumbuh berukuran lebih besar, mempunyai akar rambur lebih banyak dan lebih panjang dibanding akar lama yang tumbuh dari ruas. Ada beberapa alasan mengapa biasanya produktivitas ratoon menurun antara lain adalah : 1. Karena tanaman ratoon dianggap sebagai tanaman sisa, sehingga perawatan pada tanaman sisa ini tidak optimal. 2. Kerapatan batang tebu berkurang karena pertumbuhan tunas berkurang. 3. Banyak tanaman yang mati akibat berbagai sebab. 4. Berkurangnya kesuburan tanah. 5. Tanah semakin keras dan padat. 6. Semakin banyak serangan hama dan penyakit. Fakta bahwa produktivitas ratoon menurun akan berubah dengan

diperbaikinya kelemahan di atas dengan empat pilar teknis agronomis di atas yakni perbaikan pola kebun bibit, penyulaman sejak plant cane, penerapan teknik analisa daun dan diterapkannya manajemen perakaran. Secara logika dengan sulaman/sisipan yang cukup jumlah batang tebu akan bertambah menjadi sesuai norma yakni 100.000 batang. Jika 1 batang rata-rata beratnya 1 kg saja, maka berat tebu akan menjadi 100.000 ton/ha/tahun. Serangan

28

hama penggerek tetap akan terkendali apabila pelepasan predator berjalan dengan semestinya. Perawatan akar, pemupukan (termasuk penggunaan pupuk organik) yang baik dibantu dengan teknik analisa daun dan percobaan lapangan akan memperbaiki pertumbuhan tanaman tebu. Dengan asumsi pertambahan berat batang tebu 0.2 kg saja per batang, maka berat rata-rata batang tebu menjadi 1,2 kg, artinya produktivitas tanaman tebu akan menjadi 120 ton/ha/tahun. Realitas saat ini umumnya produktivitas tebu hanya mencapai sekitar 60 ton per ha. Dalam percobaan pengairan oleh Robertson et al. Vide Inman-Bamber et al. di Ayr, Queensland, Australian, 1994-1996, produktivitasnya dapat mencapai 159 ton tebu per ha atau 26.7 ton gula per ha. Perbaikan kesuburan biologi tanah dan fisika tanah dengan menambahkan kompos atau bahan organik lainnya sangat membantu ”daya cengkam air” atau ”water holding capacity” dan ”aerasi” dalam tanah. Kedua faktor tadi menjadikan kompos sebagai penjaga kelembaban tanah dan sebagai bioreaktor tanah yang sangat membantu pertumbuhan akar dalam tanah. Selain itu kompos dapat menjadi tempat berkembang biaknya mikroba, beberapa diantaranya yang berfungsi sebagai pelarut unsur hara dan kemudian akan lebih mudah diserap oleh akar. Kemudian akan terjadi siklus pembuatan bahan organik dari air (H2O) dan karbondioksida (CO2) dan unsur hara. Kesuburan kimia tanahnya dapat diberikan sebagian kecil dari kompos atau bahan organik lainnya dan penggunaan pupuk buatan (pupuk tunggal atau majemuk). Semakin banyak akar aktif yang tumbuh, akan semakin banyak unsur hara yang diserap tanaman. Selanjutnya pertumbuhan batang dan daun akan

29

semakin baik, artinya proses metabolisme pada tanaman dan fotosintesanya akan semakin optimal. Dengan demikian tingkat produktivitas tanaman akan semakin baik.

2.2. Kerangka Pemikiran Tanaman tebu mayoritas bukan lagi merupakan tanaman semusim karena dipelihara ratoonnya, sehingga menjadi lebih dari 4 tahun umurnya, bahkan ada yang sampai 25 tahun. Dengan demikian perlakuan dan pemikiran terhadap tanaman ini harus bersifat jangka menengah dan jangka panjang. Pemikiran dan perlakuan jangka pendek seperti pada pola tanaman semusim perlu diperbaiki. Analisa Daun sangat bermanfaat dalam ”memotret” kondisi tanaman pada masa pertumbuhan. Analisa daun ini efektif dan efisien khususnya dalam menetapkan jumlah pupuk yang nilainya sangat besar. Pengamatan tanaman dilakukan lebih detil dan lebih terarah. Produktivitas dapat diatur sesuai dengan keinginan kita (pada batas-batas tertentu tentunya sesuai dengan hukum ”the law of diminishing return”). Untuk itu diperlukan perubahan paradigma dalam mengelola tanaman tebu. Sebagai gambaran trend produktivitas yang ideal apabila tanaman ratoon dipelihara dengan baik adalah sebagai berikut :
PC Ratoon

30

t/ha

0

1

2

3

4

5

Gambar 8 : Tren Produksi Tebu jika diurus dengan baik Umumnya bahkan telah menjadi norma, bahwa tanaman keprasan produktivitasnya lebih rendah dari tanaman baru. Produktivitas tanaman keprasan akan semakin rendah lagi jika ratoonnya seiring dengan lamanya keprasan dikelola. Rendahnya produktivitas tanaman keprasan, adalah suatu akibat logis karena tidak ada penyulaman, mutu keprasan tidak baik , perawatan akar dan perawatan tanaman tidak optimal. Hal ini terjadi karena tanaman keprasan dianggap sebagai tanaman sisa. Apabila dikelola sebagai tanaman tahunan, tentu pola pikir dan pola tanam menjadi berbeda. Tanaman keprasan bukan lagi dianggap tanaman sisa tapi merupakan tanaman harapan. Berpikir jangka panjang untuk merawat tanaman tebu, tidak dapat dihindari adanya penyulaman untuk menjaga populasi tanaman dan perbaikan mutu keprasan untuk menjaga agar setiap tunas yang tumbuh akan jadi batang yang diharapkan. Penyulaman umumnya dilakukan dengan stek pucuk yang banyak ditinggalkan dilapangan setelah tebang. Stek yang ditanam akan tertinggal tumbuhnya oleh tanaman yang ada, karena tanaman yang disulam telah

31

mempunyai akar yang banyak dan kuat, sedang stek sulaman belum mempunyai akar dan selanjutnya kalah bersaing untuk mendapatkan sinar matahari dan penyerapan hara dari dalam tanah. Sebagai jalan keluar, penyulaman dilakukan dengan bibit dalam polibeg yang ditanam 2 bulan sebelum tebang. Syarat bibit harus sehat, seragam dan sama varitasnya. Bibit tersebut dapat ditanam dilapangan ataupun secara khusus di pembibitan, yang penting lahan pembibitan harus dekat sumber air. Biaya pembuatan bibit dalam polibeg ini nilainya sama dengan 1 batang tebu, sehingga jika tiap rumpun menghasilkan 7 batang, keuntungannya menjadi 6 batang Pada saat panen (tebang), dalam banyak hal tunggul batang tebu ditinggalkan setinggi 5-20 cm, karena alasan praktis, yakni tenaga kerja terbatas sehingga toleransi terhadap kesalahan ini tinggi sekali. Tunggul batang yang seharusnya adalah 0 cm. Pada tunggul yang panjang, tunas tumbuh dan berakar di atas tanah, sehingga tunas tersebut akan mati sebelum akarnya menyentuh tanah. Jika tunas tunggul tersebut tumbuh dari batang yang berada dalam tanah, maka tunasnya akan tumbuh dengan baik dan normal. Bagaimanapun tanaman tebu memerlukan air pada saat pembentukan akar, pembentukan tunas (tillering) dan pada waktu pertumbuhan, tapi perlu kering menjelang panen atau tebang. Pengairan perlu dilakukan pada saat a) Waktu tanam, b) Waktu pertumbuhan tunas, c) Tanaman berada pada fase pertumbuhan. Jumlah air yang diperlukan identik dengan yang menguap (evapotranspirasi). Bristow, KL, 2002, sumber air seperti yang berada dalam tanah, curah hujan yang disimpan dalam tanah semua tersedia bagi tanaman. Sisanya mengalir dipermukaan dan sebagian masuk ke permukaan air tanah (water table).

32

Diperkirakan secara kasar tiap 100 mm air hujan ( 1.000 M³) dapat membuat 5 sampai 15 ton tebu/ha. Tentu sesuai dengan jenis tanah kemampuan tanah menyimpan air berbeda-beda. Sundara, 1998, menyatakan bahwa dibanyak negara umumnya tanaman ratoon produktivitasnya menurun, tetapi 10 % diantaranya mempunyai produktivitas yang sama dengan tanaman baru, bahkan ada yang lebih baik dari tanaman baru. Terbukti dari percobaan Arifin dan Prahardini (2006), memperlihatkan bahwa tebu ratoon produktivitas tebunya dapat lebih tinggi yakni 118,77 ton/ha dibanding tebu plant cane 111.84 ton/ha. Realita yang saat ini menjadi minoritas dapat diperbaiki menjadi mayoritas, karena hal ini merupakan potensi nyata dari tebu ratoon. Rendahnya produktivitas tanaman ratoon karena (a) produksi ratoon dianggap sebagai tanaman sisa, (b) Populasi tanaman yang terus berkurang, (c) Adanya penurunan kadar hara dalam daun, (d) pengerasan tanah dan kesuburan fisik menurun, (e) adanya serangan hama dan penyakit (f) pembiayaan yang lebih kecil. Teori tentang tanaman tebu bukan tanaman semusim banyak ditentang dan masih kontroversi dikalangan masyarakat pergulaan, oleh karena itu penelitian ini akan menjelaskan secara ilmiah mengapa tanaman ratoon harus lebih tinggi produktivitasnya dibanding tanaman barunya. Dengan bantuan analisa daun, pengamatan gejala defisiensi hara, percobaan pemupukan, analisa tanah, tentu akan memberikan data yang lebih lengkap dalam membuat rekomendasi pemupukan.

33

III. DISKUSI

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa rendahnya produktivitas tebu terutama diakibatkan oleh ”pandangan” terhadap tanaman tebu yang kurang tepat, mereka menganggap bahwa tebu yang dipelihara ratoonnya masih merupakan tanaman musiman. Padahal tanaman tenu di atas sudah masuk ke dalam kelompok tanaman tahunan. Akibat pandangan tadi, banyak tanaman ratoon dianggap ”tanaman sisa”, sehingga tidak ada upaya perawatan lebih lanjut, jadi sangat logis apabila tanaman tebu ini terus merosot produktivitasnya. Sebagai contoh di Lampung, Sunaryo (2009), menjelaskan data di kebun PT Gunung Madu Plantation memperlihatkan gejala seperti di atas, misalnya tahun 2008, produktivitas plant cane = 89.9 ton/ha , ratoon 1 = 81.6 ton/ha , ratoon 2 = 75.4 ton/ha , ratoon 3 = 72.7 ton/ha. Sri Nuryanti (2007), meneliti di Yogyakarta dan Jawa Tengah, mengemukakan bahwa produktivitas plant cane dilahan sawah = 95,4 ton/ha, sedang ratoon = 91.7 ton/ha, ratoon 1-3 = 91,2 dan ratoon di atas tahun ke 3 =

34

88.6. Produktivitas tanaman tebu ditegalan plant cane = 71.3 ton/ha, ratoon = 46.3 ton/ha, ratoon 1-3 = 60.9 dan ratoon di atas tahun ke 3 = 48.6 ton/ha. Sama halnya di PTPN II (2009), taksasi produksi 2008/2009 pada tebu sendiri (TS) sebagai berikut : plant cane =76.52 ton/ha, ratoon 1 = 64.85, ratoon 2 = 60.13 ton/ha, ratoon 3 = 52.55 ton/ha, sedang pada tanaman tebu rakyat (TR) : plant cane = 63.28 ton/ha, ratoon 1 = 56.86 ton/ha, ratoon 2 = 52.67 ton/ha, ratoon 3 = 45.00 ton/ha. Tabel 11 : Produktivitas tebu sesuai tingkat (Umur Tanaman) tanaman di Sumatra Produktivitas tebu ( ton/ha) Uraian PT GMP* TS N2** TR N2** Potensi PC 89.9 76.52 63.28 90 R1 81.6 64.85 56.86 100 R2 75.4 60.13 52.67 110 R3 72.7 52.55 45 120

Catatan : *) Tahun 2007/2008 **) Tahun 2008/2009
R PC 3 2 1 Ton/ha

35

Gambar 8 : Sisa tebangan biasanya (kiri) dan pendek (kanan) Sumber : Memet Hakim (2009) Dari penelitian ini diharapkan juga dapat ditemukan titik efiensi ekonomisnya, sehingga tidak terjadi pemborosan pupuk seperti yang terjadi saat ini. Pada dasarnya untuk menghasilkan output yang optimal tentu inputnya harus sesuai dan prosesnya harus optimal. Sehubungan dengan hal tersebut, daun sebagai alat untuk fotosintesis dan akar sebagai organ yang bertugas menyerap hara harus tumbuh optimal, agar batang dapat tumbuh optimal. Bagaimanapun hasil akhir tanaman berupa produktivitas (out put) akan tergantung dari masukan (input) yang akan diberikan serta sejauh mana proses fotosintesis dan

metabolisme dalam tanaman dapat mendukung proses mengolah input menjadi output yang optimal.

INP OUTP PROS UT ES

Gambar 9. : Skema Input, proses dan output

36

Pupuk organik dan pupuk buatan jika diberikan secara bersama akan bersinergi positip terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Namun jika diberikan sendiri-sendiri akan memberikan respon yang lebih rendah karena sifat masing-masing jenis pupuk yang mempunyai kelemahan. Kelemahan pupuk organik adalah kandungan hara yang rendah, serta mutunya tidak sama, tergantung dari bahan asal organik. Kelemahan pupuk buatan jika diberikan secara terus menerus akan mengeraskan tanah, membunuh mikroba penyubur tanah. Namun jika keduanya digunakan akan terjadi keseimbangan tergantung rasio campuran kedua jenis pupuk tersebut.

IV. SIMPULAN Paradigma terhadap tanaman tebu perlu ada perubahan, dengan memperlakukan tanaman tebu sebagai tanaman tahunan, maka pola perencanaan, tindakan dan kontrol akan mengacu pada pola jangka panjang. Artinya tidak ada lagi anggapan bahwa tanaman ratoon merupakan tanaman sisa.
37

Selanjutnya

teknis

agronomi

yang

perlu

dilakukan

adalah

1)

penyulaman/sisipan (paling baik dengan polibeg) 2) tebang atau kepras pandes atau maksimal 0.5 cm di atas permukaan tanah 3) perbaikan pola pembuatan rekomendasi pemupukan 4) perbaikan pola pembibitan 5) melakukan pengairan jika memungkinkan dan 6) pengendalian hama dan penyakit secara alami. Dengan penyulaman produktivitas dapat meningkat sebesar jumlah penyulaman itu sendiri yakni antara 10-40 %, dengan tebang pandes produktivitas tebu yang diangkut ke pabrik dan rendemen akan meningkat minimal sebesar 5 %, dengan perbaikan pola pembuatan rekomendasi pemupukan akan terjadi efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas yang jumlahnya sangat tergantung pada kondisi lapangan, dengan perbaikan pola pembibitan dapat meningkatkan keseragaman tanaman dan menekan biaya bibit, dengan pengairan produktivitas akan meningkat di atas 20 % bahkan dapat mencapai 74 %, adanya intensifikasi pengendalian organisme pengganggu tanaman tentu dapat meningkatkan produktivitas tanaman melalui penekanan investasi serangan organisme

pengganggu tanaman. Dengan luasan lahan sebesar sekitar 80 % dari total lahan di Indonesia sebesar 430.000 ha, maka perbaikan pandangan ini akan dapat meningkatkan produktivitas gula rata-rata di atas 20 %, suatu jumlah yang sangat besar. Pola intensifikasi pada ratoon sangat mungkin mencapai di atas 100 ton/ha, dibandingkan saat ini yang hanya mencapai 40-60 ton/ha.

38

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->