P. 1
Sumbangan Kompetensi Gramatika terhadap Keterampilan Berbicara: Analisis Korelasi Kanonik

Sumbangan Kompetensi Gramatika terhadap Keterampilan Berbicara: Analisis Korelasi Kanonik

4.67

|Views: 1,333|Likes:
Published by WIDIATMOKO
Pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia dimulai sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Disebut sebagai bahasa asing karena ia bukan sebagai bahasa pengantar resmi pemerintahan dan pembelajarannya dilaksanakan pada saat seseorang telah sebelumnya menguasai bahasa ibunya dan terkadang bahasa lainnya seperti bahasa Indonesia (Rahayu S. Hidayat, 1990: 2), serta pemerolehannya dilakukan secara formal (Sri Utari Subyakto-Nababan, 1992: 88). Karena pemerolehannya secara formal di sekolah, tujuan pembelajarannya ditentukan oleh kurikulum yang berlaku.
Pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia dimulai sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Disebut sebagai bahasa asing karena ia bukan sebagai bahasa pengantar resmi pemerintahan dan pembelajarannya dilaksanakan pada saat seseorang telah sebelumnya menguasai bahasa ibunya dan terkadang bahasa lainnya seperti bahasa Indonesia (Rahayu S. Hidayat, 1990: 2), serta pemerolehannya dilakukan secara formal (Sri Utari Subyakto-Nababan, 1992: 88). Karena pemerolehannya secara formal di sekolah, tujuan pembelajarannya ditentukan oleh kurikulum yang berlaku.

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: WIDIATMOKO on Aug 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF or read online from Scribd
See more
See less

10/19/2010

Sumbangan Kompetensi Gramatika terhadap Keterampilan Berbicara: Survei dengan Pendekatan Analisis Korelasi Kanonik

Widiatmoko moko.geong@gmail.com http://widiatmoko.blog.com PPPPTKB, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta
Pengantar Latar Belakang Masalah Pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di Indonesia dimulai sejak Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. Disebut sebagai bahasa asing karena ia bukan sebagai bahasa pengantar resmi pemerintahan dan pembelajarannya dilaksanakan pada saat seseorang telah sebelumnya menguasai bahasa ibunya dan terkadang bahasa lainnya seperti bahasa Indonesia (Rahayu S. Hidayat, 1990: 2), serta pemerolehannya dilakukan secara formal (Sri Utari SubyaktoNababan, 1992: 88). Karena pemerolehannya secara formal di sekolah, tujuan pembelajarannya ditentukan oleh kurikulum yang berlaku. Untuk mencapai tujuan tersebut, seorang guru dituntut untuk memadukan metoda pengajaran yang tepat agar tujuan dapat tercapai. Tujuan tersebut adalah agar siswa mampu memahami berbagai jenis komunikasi. Namun, hal ini tidak berarti pencapaian tujuan yang lain diabaikan. Kompetensi lain yang berperan penting untuk meningkatkan keterampilan berbicara adalah kompetensi gramatika. Oleh karena itu, kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara merupakan indikator kualitas bahasa Inggris lulusan sekolah. Dengan demikian, ketika lulusan ini melanjutkan studinya di perguruan tinggi, mereka tidak lagi menghadapi persoalan dengan bahasa Inggris. Perumusan Masalah Masalah-masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan, sebagai berikut. 1. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara? 2. Berapa besar hubungan antara variabel kompetensi gramatika dan variabel keterampilan berbicara? 3. Variabel apa yang dominan atau berperan penting terhadap kompetensi gramatika? 4. Variabel apa yang dominan atau berperan penting terhadap keterampilan berbicara? 5. Variabel-variabel apa pada kompetensi gramatika yang memiliki pengaruh kuat terhadap keterampilan berbicara? 6. Variabel-variabel apa pada keterampilan berbicara yang memiliki pengaruh kuat terhadap kompetensi gramatika? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini dijabarkan, sebagai berikut. 1. untuk mengetahui hubungan antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara, 2. untuk mengetahui besar hubungan antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara, 3. untuk mengetahui variabel yang dominan terhadap kompetensi gramatika, 4. untuk mengetahui variabel yang dominan terhadap keterampilan berbicara,

5.

untuk mengetahui variabel pada kompetensi gramatika yang berpengaruh terhadap keterampilan berbicara, dan 6. untuk mengetahui variabel pada keterampilan berbicara yang berpengaruh terhadap kompetensi gramatika. Hakikat Keterampilan Berbicara 1. Pemahaman Makna Eksperimen yang dilakukan oleh Yerkes sebagaimana dikutip oleh Vygotsky terhadap simpanse menunjukkan bahwa simpanse tidak memiliki sistem bahasa seperti yang dimiliki manusia. Menurut pendapatnya, kemampuan berbicara membutuhkan kemampuan menggunakan intelek dalam berbagai situasi. Ditambahkan olehnya bahwa pikiran dan bahasa mempunyai hubungan yang erat, dan ini tidak dimiliki oleh simpanse (Vygotsky, 1962: 68-79). Dari penjelasan Vygotsky, disimpulkan bahwa berbicara adalah cara-cara penyampaian informasi dengan menggunakan alat komunikasi yakni bahasa lisan serta pengembangannya didasarkan pada kapasitas daya imajinasi manusia untuk memecahkan masalah. Fries mengatakan bahwa untuk menguasai suatu bahasa harus dimulai dengan lisan atau ucapan karena ia merupakan dasar dari penguasaan suatu bahasa, sedangkan bahasa tulis hanya sebagai pelambangan kedua dari suatu bahasa (Fries, 1945: 6-7). 2. Kaidah Tata Bahasa Sebagaimana dikatakan oleh Dunbar (1996) yang dikutip oleh Dessalles bahwa manusia dari berbagai ragam budaya menghabiskan 20% aktivitas harian mereka untuk berbicara. Mereka menggunakan bahasa yang memiliki tujuan utamanya untuk berbicara. Yang menarik tentang berbicara adalah bahwa di dalam berbicara terkandung cara-cara yang sistematik atau terstruktur (Dessalles, 2003: 1). Kesistematikan ini yang menjadikan suatu bahasa mudah dipahami oleh pendengar. Pembicara-pendengar mampu memahami pesan yang diungkapkan secara spontan dan lancar karena keduanya memahami pentingnya sinyal yang diberikan satu sama lain untuk berbagi maksud atau makna (Skoyles, 2003: 1). 3. Kosa Kata Teori berbicara bertalian dengan bagaimana seseorang menirukan atau menghasilkan sejumlah kata yang telah dan belum pernah didengar sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh fungsi pada diri manusia yang berupa sejumlah neuron untuk melakukan peniruan. Oleh karena itu, pembicaraan yang dilakukan seseorang akan selalu bertalian dengan kosa kata. Ini berarti bahwa beribu-ribu kosakata yang dimiliki tersebut diperoleh dari para pembicara di sekelilingnya. Apabila seseorang tidak mengalami ini, kosakata tidak akan dimiliki. Noam Chomsky (1968: 100) mengatakan: Having mastered a language, one is able to understand an indefinite number of expressions that are new to one’s experience, that bear no simple physical resemblance that constitute one’s linguistic experience; and one is able, with greater or less facility, to produce such expressions on an appropriate occasion, despite their novelty and independently of detectable stimulus configurations, and to be understood by others who share this still mysterious ability. Oleh karena itu, seseorang tidak hanya belajar bagaimana mengatakan kata-kata secara terpisah melainkan ia juga belajar bagaimana memahami makna melalui penggunaan kata-kata tersebut yang digunakan ketika seseorang berbicara. Hockett (1954) sebagaimana dikutip oleh Jusczyk (1997: 1) mengatakan bahwa bahasa melibatkan dua pola, yakni, ‘On the one hand, there are patterns that pertain to the way that sounds are organised; on the other hand, there are patterns that relate to how meanings are organised.’ Dengan demikian, apabila seseorang tidak mengucapkan secara lancar atau tidak dapat dipahami oleh pendengar, kata-kata yang diungkapkan menjadi tidak bermakna. 4. Kelancaran Lado mengartikan kemampuan berbicara sebagai kesanggupan mengungkapkan situasi kehidupan pembicara sendiri atau kesanggupan untuk bercerita, melaporkan sesuatu, dan mengungkapkan sesuatu itu dengan lancar (Lado, 1961: 240). Harris mengatakan bahwa kemampuan berbicara tidak hanya ditunjang oleh berfungsinya alat-alat bicara dalam proses

penyandian suatu ujaran, tetapi juga oleh cara bagaimana ujaran dengan tepat dapat diujarkan dan diterima oleh pendengar. Di dalam berbicara yang diperhatikan adalah penguasaan ucapan termasuk unsur-unsur segmental, vokal, tekanan, intonasi, kosa kata, dan penguasaan materi agar pesan dapat diterima dengan efektif dan baik oleh pendengar (Harris, 1969: 82). Unsurunsur itu mempengaruhi kelancaran seseorang di dalam berbicara. Di samping itu, faktor-faktor lain agar seseorang lancar berbicara adalah bagaimana ia belajar atau memperoleh bahasa. Krashen dan Terrel mengatakan bahwa bahasa dapat dikuasai melalui pemerolehan dan belajar. Yang pertama biasanya dikaitkan dengan penguasaan bahasa ibu secara alamiah, sedangkan yang kedua dikaitkan dengan penguasaan bahasa selain bahasa ibu dengan usaha sadar, biasanya dari guru (Krashen dan Terrel, 1983: 26). Dengan demikian istilah yang paling tepat terhadap penguasaan bahasa Inggris yang merupakan bahasa asing adalah belajar bahasa. Akibat belajar dan berlatih bahasa, sesorang memiliki kemampuan khusus yang disebut keterampilan. Dengan demikian, keterampilan berbicara seseorang, khususnya bahasa Inggris, dipengaruhi oleh pemerolehan dan belajar. Kebiasaan dan belajar berbahasa Inggris mempengaruhi pada kelancaran berbahasanya. Hakikat Kompetensi Gramatika Gramatika menurut Richards adalah sebagai sebuah frasa, klausa, atau kalimat yang berterima disebabkan ia mengikuti aturan tata bahasa. Sedangkan tata bahasa (grammar) adalah sebuah deskripsi suatu struktur bahasa dan cara di mana unit-unit linguistik, seperti kata dan frasa dikombinasikan untuk menghasilkan kalimat-kalimat dalam bahasa tersebut serta mempertimbangkan makna dan fungsi bahasa yang terdapat dalam kalimat-kalimat tersebut secara keseluruhan. 1. Fungsi dan Kategori Gramatikal Istilah gramatikal melekat pada kata-kata lain, yakni fungsi gramatikal dan kategori gramatikal. Fungsi gramatikal berarti hubungan antara satu konstituen dan konstituen lainnya berada dalam satu kalimat. Sedangkan kategori gramatikal adalah sekelompok butir yang menempati fungsi-fungsi yang sama dalam bahasa tertentu, seperti: case, person, tense, dan asepct. 2. Jenis Kata Sementara beberapa linguis mengartikan tata bahasa sebagai kelompok kata yang saling berhubungan, seperti kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata keterangan. Pengkategorian semacam ini sering disebut sebagai part of speech. Hubungan antarkata ini terjadi di dalam kalimat, dan kalimat-kalimat ini kemudian membentuk hubungan antarkata, baik kata benda dengan kata kerja, kata benda dengan kata sifat, dan sebagainya. Oleh Wilkinson, jenis kata dibagi menjadi content words dan structure words. Content words meliputi kata benda, kata kerja, dan kata keterangan. Sedangkan structure words meliputi determiner, modal, negative, intensifier, conjunction, preposition, subordinate, dan personal pronoun (Wilkinson, 1971: 27). 3. Sistem Bunyi Harmer mendeskripsikan gramatika sebagai apa yang diketahui oleh penutur asli mengenai bahasanya. Gramatika ini meliputi tekanan kalimat, jeda, dan intonasi (Harmer, 1983: 74). Model ini memungkinkan seseorang untuk menggunakan kalimat secara lebih hidup. Ini berarti bahwa untuk membuat kalimat, tidak hanya mengacu pada aspek kata, frasa, dan klausa, tetapi juga memadukan dengan bagaimana kalimat yang disusunnya digunakan sebagai alat komunikasi dengan mempertimbangkan tekanan, jeda, dan intonasi. Dengan demikian, keberterimaan pesan bergantung pada hal ini. 4. Bentukan Kalimat Pengertian gramatika menurut Savignon adalah bentukan kalimat. Demikian pula, yang dimaksudkan dengan kompetensi gramatika sebagai kemampuan untuk mengenali kalimat dari segi bentukannya dan memanipulasikannya dalam bentuk satuan-satuan yang lebih kecil, seperti kata dan morfem maupun satuan-satuan yang lebih besar, seperti paragraf dan wacana (Savignon, 1983: 37). Deskripsi kemampuan ini dimaksudkan bagi pembicara untuk

U1 = a'1 X U2 = a'2 X . . . Uq = a'q X

V1 = b'1Y V2 = b'2Y . dan . . Vq = b'qY yang dihasilkan adalah kalimat-kalimat yang dapat dipahami berkomunikasi. Kalimat-kalimat oleh pendengar di mana pendengar mampu menangkap makna antarkalimat yang didengarnya. Demikian juga kalimat-kalimat yang dihasilkannya merupakan kalimat yang berfungsi secara komunikatif efektif. Hubungan antara Kompetensi Gramatika dan Keterampilan Berbicara Telah dijelaskan bahwa berbicara mencakupi aktivitas tukar menukar informasi melalui bahasa lisan yang melibatkan dua orang atau lebih. Pembicara mengungkapkan pikiran dan perasaannya secara tepat sehingga dapat diterima oleh pendengar. Sebaliknya, pendengar memahami secara tepat apa yang dikatakan oleh pembicara sehingga ia dapat memberi respon secara tepat pula sesuai dengan yang dikehendakinya. Kompetensi ini disebut keterampilan berbicara. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, orang perlu memiliki kompetensi-kompetensi tertentu. Salah satunya adalah kompetensi gramatika. Dengan kompetensi ini, seseorang mampu menghasilkan dan memahami kalimat-kalimat yang jumlahnya tidak terbatas. Seseorang memungkinkan untuk dapat mengidentifikasi dan sekaligus memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Dengan memadukan hubungan antarunsur suatu kalimat dan mengetahui kaidah-kaidah untuk berbahasa dengan benar diharapkan seseorang mampu menyampaikan pesan-pesan melalui komunikasi. Pengetahuan tentang kaidah-kaidah gramatika berfungsi sebagai monitor ketika seseorang hendak berbicara. Atas dasar pemikiran itu, diduga bahwa kompetensi gramatika memiliki hubungan pengaruh pada keterampilan berbicara. Analisis Korelasi Kanonik 1. Persamaan Kanonik dan Korelasinya Korelasi kanonik merupakan perluasan dari regresi berganda dengan lebih dari satu variabel terikat. Analisis korelasi kanonik merupakan analisis regresi berganda dengan p buah variabel terikat dan m buah variabel bebas. Apabila variabel terikat itu Y1, Y2, . . . . , Yp dan variabel bebas X1, X2,..., Xm, data hasil penelitian dinyatakan dalam bentuk matriks. Struktur data pengamatan untuk n respon dinyatakan dalam bentuk matriks berikut ini (Dillon dan Goldstein, 1984: 343).

Pemikiran dasar tentang korelasi kanonik adalah menggunakan kombinasi linear, satu dibentuk dari variabel terikat Y1, Y2, . . . . , Yp dan yang lain dibentuk dari variabel bebas X1, X2, . . . , Xm. Kemudian dengan menggunakan metoda kuadrat terkecil, dicari koefisien korelasi antarkedua kombinasi linear tersebut. Kombinasi linear yang dibentuk oleh X1, X2,..., Xm dan Y1, Y2,...,Yp masing-masing dinyatakan sebagai berikut (Dillon dan Goldstein, 1984: 341). X* = a1X1 + a2X2 + . . . + am Xm Y*= b1Y1 + b2Y2 + . . . + bpYp Dalam bentuk vektor kombinasi linear, variabel bebas X dan variabel terikat Y dituliskan (Johnson, 1982: 440). U = a'X V = b'Y Pasangan U = a'X dan V = b'Y disebut variabel kanonik. Apabila q minimum di antara m dan p, ditulis q = min (m,p), yang berarti ada sebanyak q buah pasangan kombinasi linear yang dibentuk oleh variabel bebas dan variabel terikat, yang dapat dinyatakan sebagai berikut.

 X 11   X 21   X  n1

X 12  X 1m Y11 Y12  Y1 p   X 22  X 2 m Y21 Y22  Y2 p       X n 2  X nm Yn1 Yn 2  Ynp  

01028bee220001028bee2200010001028bee22000112835800030f01000b0112836e00024500710075006100740069006f006e0020004e0061007400690076006500000000 e00024500710075006100740069006f006e0020004e00610074006900760065000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000020000200ffffffffffffffffffff 4900f8ab49000000000003010103010a011283590002863d0003010000010501010104010000000112835900030f01000b0102883100001100000a0112835900030f01000b01028832000011000 0001028bee2200010001028bee22000112835800030f01000b0112836e00024500710075006100740069006f006e0020004e006100740069007600650000000000000000000

dengan vektor konstanta

sedangkan vektor variabel bebas dan vektor variabel terikat

Kombinasi linear Uq dan Vq digunakan untuk mencari korelasi kanonik, yakni dengan menentukan pasangan kombinasi linear yang memiliki sifat U1 dan V1 terbesar korelasinya, korelasi U2 dan V2 terbesar kedua dan tidak berkorelasi dengan pasangan kanonik pertama, korelasi U3 dan V3 terbesar ketiga dan tidak berkorelasi dengan pasangan kanonik pertama dan kedua, korelasi U4 dan V4 terbesar keempat dan tidak berkorelasi dengan pasangan kanonik pertama, kedua, dan ketiga, demikian seterusnya untuk semua pasangan yang mungkin yang banyaknya adalah q = min (k, p). Untuk mencari korelasi kanonik adalah dengan memanfaatkan gabungan matriks varians-kovarians untuk variabel-variabel bebas dan variabel-variabel terikat. Kemudian dengan menggunakan kombinasi linear Uq dan Vq, diperoleh persamaan karakteristik. Dari persamaan karakteristik ini, dicari eigen value dan eigen vector, dan akar-akar inilah yang menghasilkan korelasi kanonik. Korelasi antara U dan V yang dinyatakan sebagai fungsi a' dan b' dirumuskan sebagai berikut. a ' ∑12 b Corr (U , V ) = [(a ' ∑11 a )(b' ∑22 b)] di mana Var (U) = a' ∑11 a Var (V) = b' ∑22 b Cov(U,V) = a' ∑12 b ∑12 = matriks kovarians gugus variabel X dengan gugus variabel Y Vektor a dan vektor b dicari dengan menyelesaikan persamaan berikut ini. 1 1 (∑ − ∑ ∑ − ∑ − λI )a = 0 11 12 22 21 1 1 ∑− ∑ (∑ − ∑ − λ )a = 0 I Persamaan ini menghasilkan eigen value λ12, λ22, . . . , λq2 dan eigen vektor a dan b yang bersesuaian dengan eigen value λ12, λ22, . . . , λq2. Akar positif dari eigen value λi2 adalah | λ1| yang merupakan koefisien korelasi kanonik antara variabel kanonik Uq dan Vq. Eigen vektor a dan b adalah vektor pembobot kanonik (Gittins, 1985: 16-7). Dari korelasi kanonik, dihitung korelasi antara variabel asal dan variabel kanoniknya, baik pada gugus variabel X maupun pada gugus variabel Y. Korelasi ini disebut beban kanonik
22 21 11 12

atau korelasi intraset. Besar nilai dan tanda pada beban kanonik ini menggambarkan kontribusi variabel-variabel asal terhadap variabel kanoniknya, dan dari sini dapat dilihat variabel-variabel yang memiliki peran dominan dalam gugus variabel bebas maupun dalam gugus variabel terikat. Variabel yang memiliki peran dominan dalam gugus adalah variabel yang mempunyai muatan signifikan, yakni lebih besar dari 0,30 (Tabachnick dan Fidell, 1989: 228). 2. Variansi yang Dijelaskan Variat Kanonik Besarnya variansi gugus variabel asal X yang dijelaskan oleh variabel kanonik (U) dinyatakan dengan rumus.

R
di mana,

2 (i ) x

=∑
j= 1

m

(r

UX

j

)

2

m = banyaknya variabel asal X rUxj = korelasi antara variabel asal Xj dan variabel kanonik(U), j = 1, 2, . . .m Korelasi ini disebut dengan bobot kanonik (loading) dari variabel kanonik U. Besarnya variansi gugus variabel asal Y yang dijelaskan oleh variabel kanonik (V) dinyatakan dengan rumus.

m

R
di mana

2 ( j )Y

=∑
i= 1

p

(r

UYi

)

2

p

p = banyaknya variabel asal Y rVYi = korelasi antara variabel asal Yi dan variabel kanoniknya.(V), i = 1, 2, . . .p Korelasi ini disebut juga dengan bobot kanonik (loading) dari variabel kanonik V. Besarnya variansi dari setiap variabel asal Y yang dijelaskan oleh variabel kanonik U (yang dibentuk dari variabel bebas X) dinyatakan dengan rumus.

R
di mana

2 ( i )Y | X

λ
2 i

= λ .R
2 i

2 (i )Y

= eigen value ke-i (i = 1, 2, . . . p)

= variansi gugus variabel Y yang dijelaskan oleh variabel kanonik (V). Total varians redundansi yang menjelaskan total varians gugus variabel Y yang dijelaskan oleh variabel kanonik U dirumuskan (Gittins, 1985: 57): Redy|x =

R

2 ( i )Y

∑R( i ) Y | X i= 1

m

Hipotesis Korelasi Kanonik Hipotesis untuk analisis korelasi kanonik, secara statistik, dinyatakan sebagai berikut (Dillon dan Goldstein, 1984: 353). H0: ∑ XY = 0 H1: ∑ XY ≠ 0 H0 menyatkan bahwa korelasi antara variabel kanonik X dan variabel kanonik Y adalah nol atau tidak ada hubungan yang signifikan. H1 menyatakan bahwa korelasi antara variabel kanonik X dan variabel kanonik Y tidak sama dengan nol atau terdapat hubungan yang signifikan. Hipotesis tersebut dapat juga dituliskan sebagai berikut (Gittins, 1985: 57). H0: ρ12 = ρ22 = . . . = ρq2 = 0 H1: ρk2 ≠ 0 H0 menyatakan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan di antara pasangan variabel kanonik. H1 menyatakan paling sedikit ada satu pasang variabel kanonik yang memiliki korelasi signifikan. Untuk menguji signifikansi hipotesis ini dapat digunakan prosedur menurut Bartlett (Tabachnick dan Fidell, 1989: 353) yang didefinisikan sebagai berikut.

Di mana N adalah banyaknya kasus (individu), kx banyaknya variabel bebas dan ky banyaknya variabel terikat. Hipotesis nol ditolak apabila χ2 > χ2 tabel dengan derajat bebas mp dan taraf nyata α. Asumsi terhadap Data Asal Beberapa asumsi yang diperlukan bertalian dengan korelasi kanonik adalah data asal berdistribusi multinormal, gugus variabel asal dapat dibentuk dalam suatu kombinasi linear (linearity), dan homosedastik (homoscedastic). Asumsi multinormal diperlukan apabila digunakan pendekatan likelihood dalam pendugaan parameter. Selain asumsi-asumsi yang disebutkan itu, hal-hal lain yang perlu diperiksa sebelum analisis dilakukan adalah screening data, yang meliputi: data hilang (missing data), data pencilan (outlier), dan multikolinearitas (multicolinerarity) (Tabachnick dan Fidell, 1989: 195-96). Asumsi linearitas dan homosedastik diperlukan karena analisis korelasi kanonik dalam prosesnya dibentuk oleh matriks korelasi dan matriks variansi-kovariansi variabel asal yang sangat sensitif dengan kedua asumsi ini. Sedangkan data hilang, pencilan (outlier), dan multikolinearitas diperlukan untuk menyelesaikan matriks yang dibentuk oleh data asal. Apabila terdapat data hilang, pencilan (outlier), atau multikolinearitas akan menimbulkan masalah penyelesaian matriks yang dibentuk oleh data asal. Dalam hal ini, matriks menjadi tidak berpangkat penuh sehingga tidak memberikan solusi. Metodologi Penelitian Variabel Penelitian Dalam penelitian ini, terdapat dua gugus variabel, yaitu gugus variabel bebas dan gugus variabel terikat. Gugus variabel bebas terdiri atas 4 variabel indikator, yakni: X1: Fungsi dan Kategori Gramatikal X2: Jenis Kata X3: Sistem Bunyi X4: Bentukan Kalimat Sedangkan gugus variabel terikat terdiri atas 4 variabel indikator, yakni: Y1: Pemahaman Makna Y2: Kaidah Tata Bahasa Y3: Kosa Kata Y4: Kelancaran Metoda Penelitian Sesuai dengan tujuan penelitian di muka, penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metoda survei dengan korelasi kanonik. Penggunaan metoda survei ini dimaksudkan untuk membahas derajat hubungan antarvariabel di dalam penelitian ini. Di dalam penelitian ini, terdapat dua gugus variabel, yakni gugus variabel bebas dan gugus variabel terikat. Gugus variabel bebas adalah kompetensi gramatika (X) dan gugus variabel terikat adalah keterampilan berbicara (Y). Sumber Data Data dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang telah tersedia sebanyak 30 variabel, kemudian dipilih 8 variabel. Variabel yang terpilih dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu gugus variabel bebas yang dinamakan variabel kompetensi gramatika (X) dan gugus variabel terikat yang dinamakan variabel keterampilan berbicara (Y). Masing-masing gugus variabel ini terdiri atas beberapa variabel indikator sebagaimana telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dari sumber data, dipilih X1, X2, X3, dan X4 sebagai variabel indikator kompetensi gramatika (X), dan dipilih Y1, Y2, Y3, dan Y4 sebagai variabel indikator keterampilan berbicara

M = (1 λ ∏ −(j) ) j= 1 kx + y + k 1 χ 2 =[(N − ( − 1− )]ln Λ m 2 Λ m

Y1 Y1 X1 U Vk k X2 X2 Y2 Y2 X3 Y3 Y3 X3 X4 Y4 4 Y4 X(Y). Data dalam penelitian ini merupakan hasil pengukuran dari 120 individu, sehingga setiap

1

variabel terdiri atas 120 data hasil pengamatan.

Desain Penelitian Desain hubungan antarvariabel tersebut digambarkan sebagai berikut.

Desain hubungan antara variabel indikator dan variat kanoniknya digambarkan sebagai berikut. Variabel indikator Variabel kanonik

Variabel indikator

Variabel kanonik

Metoda Analisis Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah, sebagai berikut. 1. Melakukan pemeriksaan data (screening data), meliputi pemeriksaan data hilang dan data pencilan (outlier). 2. Melakukan pemeriksaan matriks korelasi antarvariabel indikator dengan menggunakan korelasi product moment. Tujuannya, untuk melihat keeratan hubungan antarvariabel indikator. Analisis korelasi kanonik bermanfaat apabila antarvariabel indikator saling berkorelasi, sehingga memenuhi asumsi bahwa variabel-varibel itu tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, tetapi harus dianalisis secara simultan. Korelasi yang diinginkan tidak terlalu tinggi, yaitu lebih kecil dari 0,90 (Tabachnick dan Fidell, 1989: 87). Korelasi yang terlalu tinggi menyebabkan adanya multikolinearitas, dan ini akan melahirkan masalah pada penyelesaian matriks korelasi maupun matriks variansikovariansi dalam analisis korelasi kanonik. 3. Melakukan perhitungan korelasi kanonik. Analisis ini digunakan matriks variansikovariansi karena variabel penelitian dianggap memiliki satuan ukur yang sama. Dalam analisis ini, dilihat besarnya korelasi kanonik antara gugus variabel bebas X dan gugus variabel terikat Y, dilihat besarnya eigen value antarpasangan variabel kanonik, dan besarnya proporsi data asal yang dijelaskan oleh variabel kanoniknya. Kriteria yang digunakan adalah Lambda Willk's pada taraf nyata α = 0,05. Apabila nilai signifikan

yang dihasilkan lebih kecil dari 0,05, H0 ditolak, dan apabila sebaliknya, H0 diterima. 4. Melihat korelasi antara variabel asal dan variat kanoniknya melalui korelasi antara sekor setiap variabel asal dan sekor variat kanonik. Besarnya korelasi ini dilihat dari nilai beban kanonik atau koefisien variat kanonik. Dari korelasi ini diketahui variabel indikator yang memiliki korelasi tinggi dengan variat kanonik yang dibentuk. Korelasi yang tinggi menggambarkan peran penting atau dominasi variabel indikator. 5. Sebelum simpulan dibuat berdasarkan pada hasil analisis, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan asumsi normalitas, linearitas, dan homosedastik. Pemeriksaan terhadap asumsi ini dilakukan dengan melihat distribusi sekor variat kanonik yang dihasilkan. Apabila distribusi menunjukkan normal, asumsi homosedastik juga dipenuhi. Demikian pula, apabila asumsi multivariat normal dipenuhi, semua kombinasi linear adalah berdistribusi normal (Tabachnick dan Fidell, 1989: 82). Jadi, pemenuhan terhadap distribusi normal berarti pula pemenuhan asumsi linearitas dan homosedastik. Untuk pemeriksaan asumsi ini digunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Indikasi normal adalah apabila plot dari sekor variat kanonik mendekati sebuah garis linear atau memberikan nilai signifikan yang lebih besar dari 0,05. 6. Setelah asumsi dipenuhi, dibuat interpretasi dan simpulan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan bantuan komputer, program SPPS 10.1 dan SAS. SPPS digunakan untuk pemeriksaan data hilang dan korelasi antarvariabel indikator. SAS digunakan untuk memperoleh persamaan kanonik (variat kanonik), eigen value, korelasi kanonik, beban kanonik, serta nilai signifikansi korelasi kanonik. Pemilihan program dalam analisis ini didasarkan pada fasilitas yang tersedia dari setiap program dan kemudahan dalam menginterpretasikan hasil yang dikeluarkan. Analisis Data Deskripsi Data Deskripsi data hasil penelitian dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum mengenai data gugus variabel kompetensi gramatika dan gugus variabel keterampilan berbicara. Dari analisis simpangan baku dan rerata, disimpulkan bahwa rerata tertinggi terjadi pada variabel fungsi dan kategori gramatikal (X1) pada gugus variabel kompetensi gramatika sebesar 40,54 dengan simpangan baku 2, 91; dan pada variabel pemahaman makna (Y 1) pada gugus variabel keterampilan berbicara sebesar 45,83 dengan simpangan baku 12,99. Dari korelasi antarvariabel kompetensi gramatika, disimpulkan bahwa masing-masing variabel di dalam variabel kompetensi gramatika saling berkorelasi. Ini merupakan syarat korelasi kanonik. Dari korelasi antarvariabel keterampilan berbicara, disimpulkan bahwa masing-masing variabel di dalam variabel keterampilan berbicara saling berkorelasi. Ini juga merupakan syarat korelasi kanonik. Dari korelasi antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara, disimpulkan bahwa variabel-variabel indikator pada masing-masing gugus variabel saling berkorelasi. Dari korelasi kanonik, disimpulkan bahwa korelasi kanonik sebesar 0,74 yang berarti bahwa antara variabel kompetensi gramatika dan variabel keterampilan berbicara memiliki hubungan yang kuat dengan ditandainya sumbangan kompetensi gramatika terhadap variabel keterampilan berbicara sebesar 0,55. Dari perhitungan eigen value, disimpulkan bahwa besar variansi dari variabel asal yang dijelaskan oleh 1,19 sebesar 0,69. Demikian pula, besar variansi dari variabel asal yang dijelaskan oleh 0,39 sebesar 0,23 dan kumulatif sebesar 0,92. Dari perhitungan korelasi kanonik antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara, disimpulkan bahwa korelasi kanonik antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara sangat signifikan yang ditunjukkan oleh probabilitas lebih besar dari nilai F 0,0001. Dengan menggunakan perhitungan statistika multivariat Wilks Lambda, disimpulkan bahwa keempat pasang kanonik yang dihasilkan adalah signifikan yang ditunjukkan dengan nilai sebesar 0,29. Dari analisis korelasi kanonik untuk kompetensi gramatika, disimpulkan bahwa variabel asal yang dominan yang menjelaskan kompetensi gramatika yakni X4 sebesar 0,05. Dari analisis korelasi kanonik untuk keterampilan berbicara, disimpulkan bahwa variabel

asal yang dominan atau berperan penting yang menjelaskan keterampilan berbicara yakni Y 1 sebesar 0,047. Dari perhitungan kompetensi gramatika dan variabel kanoniknya, disimpulkan bahwa variabel asal yang membentuk korelasi yang kuat terhadap variabel kanonik adalah X3 sebesar 0,719. Dari perhitungan keterampilan berbicara dan variabel kanoniknya, disimpulkan bahwa variabel asal yang membentuk korelasi yang kuat terhadap variabel kanonik adalah Y 1 sebesar 0,883. Dari perhitungan korelasi kompetensi gramatika dengan variabel kanonik keterampilan berbicara, disimpulkan bahwa variabel X2, X3, dan X4 dari kompetensi gramatika memiliki korelasi yang signifikan dengan variabel kanonik keterampilan berbicara sebesar 0,52; 0,53; dan 0,53. Dari perhitungan korelasi keterampilan berbicara dengan variabel kanonik kompetensi gramatika, disimpulkan bahwa variabel Y1, Y2, dan Y3 dari keterampilan berbicara memiliki korelasi yang signifikan dengan variabel kanonik kompetensi gramatika sebesar 0,65; -0,42; -0,33. Uji Persyaratan Uji persyaratan yang dipenuhi untuk analisis data adalah pemeriksaan data hilang dan asumsi data berdistribusi normal. Dari perhitungan dengan menggunakan SPSS 10.1 diketahui bahwa syarat-syarat tersebut dipenuhi. Setelah ini dipenuhi, maka keeratan hubungan antarvariabel indikator dihitung dengan menggunakan program SAS. Simpulan Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa. 1. Uji persyaratan yang berupa data hilang telah terpenuhi yakni tidak ada data yang hilang sehingga memungkinkan untuk dilakukannya korelasi kanonik. 2. Data pencilan sebagaimana persyaratan juga telah terpenuhi sehingga memungkinkan untuk dilakukannya korelasi kanonik. 3. Bahwa variabel-variabel indikator pada kompetensi gramatika saling berkorelasi dengan variabel-variabel indikator pada keterampilan berbicara. 4. Bahwa variabel-variabel indikator saling berkorelasi dengan dirinya baik pada kompetensi gramatika maupun pada keterampilan berbicara. 5. Bahwa besarnya variansi dari variabel asal yang dijelaskan oleh variabel kanonik sebesar 0,69. 6. Bahwa korelasi kanonik antara kompetensi gramatika dan keterampilan berbicara sangat signifikan. 7. Bahwa variabel asal yang dominan yang menjelaskan kompetensi gramatika adalah X 1 (Fungsi dan Kategori Gramatikal). 8. Bahwa variabel asal yang dominan yang menjelaskan keterampilan berbicara adalah Y1 (Pemahaman Makna). 9. Bahwa variabel asal yang membentuk korelasi kuat terhadap variabel kanonik kompetensi gramatika adalah X1 (Fungsi dan Kategori Gramatikal). 10. Bahwa variabel asal yang membentuk korelasi kuat terhadap variabel kanonik keterampilan berbicara adalah Y1 (Pemahaman Makna). Pustaka Acuan Chomsky, Noam. Language and Mind. USA: Harcourt Brace Jovanovich, 1968. Corder, S. Pit. Introducing Applied Linguistics. Great Britain: Hazell Watson & Viney Ltd., 1973. Dillon, William R. and Matthew Goldstein, Multivariate Analysis, Methods and Applications. John Wiley & Sons. Inc. New York, 1984. Fries, C.C. Teaching and Learning English as a Foreign Language. Ann Arbor: Michigan University, 1986. Gittins, R. Canonical Analysis, A Review with Applications in Ecology. Springer-Verlag, Berlin Heidelberg New York, Tokyo, 1985.

Harris, David P. Testing English as a Second Language. New York: McGraw Hill, 1969. Hidayat, Rahayu S. Pengetesan Kemampuan Membaca secara Komunikatif. Jakarta: Intermasa, 1990. Johnson, Richard A. Aplied Multivariate Statistical Analysis. Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey, 1982. Jusczyk, Peter W. The Discovery of Spoken Language. USA: Massachussetts Institute of Technology, 1997. Krashen, Stephen D. dan Tracy D. Terrel. The Natural Approach: Language Acquisition in the Classroom. Oxford: Pergamon, 1983. Lado, Robert. Language Testing. London: Longman, 1961. Lyons, John. Pengantar Teori Linguistik. Jakarta: Gramedia, 1995. Oller, John W. Language Tests at School. London: Longman, 1979. Robins, R.H. Linguistik Umum: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius, 1992. Savignon, Sandra J. Communicative Competence: Theory and Classroom Practice. USA: Addison Wesley Publishing Co., 1983. Tabachnick, Barbara G., Linda S. Fidell. Using Multivariate Statistics. Harper Collins Publishers, Inc. New York, 1989. Wilkinson, Andrew. The Foundations of Language. London: Oxford University, 1971.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->