OPERANT CONDITIONING B.F SKINNER (Aplikasi Teori Dalam Praktek Pendidikan) Oleh : Ermis Suryana, S.Ag, M.Pd.

I
(PenulisadalahDosenTetapPadaFakultasTarbiyah IAIN Raden Fatah Palembang danSekolahTinggiIlmuTarbiyah al-IttifaqiyahInderalaya.) Email : suryana@yahoo.co.id

Abstrak

:Teaching and learning process can be implemented effectively, efficientely and optimally if supported by eduquate knowledge of educational theories that apply in general then the study of theories of education have a significant importance, as an affort to enrich the educational insights, especially for teachers and practitioners of education in general. It is intended to find the theoritical foundation of varied, appropriate and useful in the implementation of education. One of the given theory psychology (which application of psychological the theories in educational practice), is the learning theories. This theory tremendous contribution to educational practice, particulary in the areas of curriculum and intruction.

Kata Kunci : Belajar, Pendidikan

A.

Pendahuluan Proses pendidikan dapat dilaksanakan di mana saja, pada situasi apapun

dan berlangsung seumur hidup. Untuk membedakan pelaksanaan pendidikan tersebut, maka dalam istilah kependidikan dikenalkan bahwa terdapat tiga jenis pendidkan yaitu pendidikanan formal, non formal dan informal. Dalam kajian makalah ini pendidikan yang dimaksud lebih terfokus kepada pendidikan formal, meskipun begitu teori yang akan dibahas juga dapat dipergunakan dalam kedua jenis pendidikan yang lain. Proses belajar mengajar dapat terlaksana secara efektif, efisien dan optimal jika didukung oleh pengetahuan yang memadai tentang teori-teori pendidikan yang berlaku secara umum. Dengan demikian kajian terhadap teori-teori peendidkan memiliki urgensi yang segnifikan, sebagai upaya
38

Teori ini besar sekali sumbangannya terhadap praktek pendidkan. pengaruh ini sangat besar. Salah satu teori yang diberikan Psikologi Pendidikan (yang merupakan aplikasi dari teori-teori psikologi dalam praktek pendidkan). Hal ini dimaksudkan untuk mencari landasan teoritis yang variatif. terutama bagi para guru daan praktisi pendidikan pada umumnya. Teori belajar menjelaskan bagaimana seorang individu dapat belajar dengan baik dan mengapa terjadi perubahan tingkah laku manusia melalui belajar. adalah teori-teori belajar. tetapi tidak menjelaskan bagaimana teknik dan cara membantu siswa mencapai tujuan pendidkan berdasarkan kaidah-kaidah yang terdapat dalam teori belajar (Ibid). Menurut Sumadi Suryabrata (1986 : 294). Di antara teoritikus dalam bidang pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap perkembangan teknologi pendidikan ialah B. Pengaruh teori Skinner sangat besar terutama di Amerika Serikat dan negara-negara pengaruhnya.F Skinner Berdasrkan hasil kajian terhadap beberapa literatur yang ada. Sejarah Singkat Teori Operant Conditioning B.memperkaya wawasan kependidikan. khusunya dalam lapangan metodologi dan teknologi pengajaran. B. khususnya dalam bidang kurikulum dan pengajaran (Sudjana. teori-teori belajar menjadi sumber bagi teori-teori pengajaran. Operant Conditioning B. Konsep-konsep behavior control dan behavior modification yang sangat populer di kalangankalangan tertentu juga bersumber pada teori ini. dapat dipahami bahwa teori operant conditioning ini merupakan salah satu dari beberapa teori belajar yang termasuk dalam kelompok behaviorisme 39 . cocok dan berdayaguna dalam pelaksanaan pendidikan. di dalam dunia pendidikan. 1991 : 1).F Skinner 1. Tulisan singkat dalam makalah ini akan mencoba mendeskrifsikan teori operant conditioning B. Secara teriotik.F Skinner dalam hal apa dan bagaimana aplikasi teori dalam pendidikan ? Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadi wacana pembuka dalam memahami teori tersebut dengan lebih baik.F Skinner dengan teori pendidikannya adalah operant conditioning yang merupakan salah satu teori yang menonjol diantara sekian banyak teori behaviorisme yang berdaskan hasil eksperimen.

Menurut Margaret E.F Skinner setuju dengan pendirian yang dulu diambil oleh Jhon Watson. Pengulangan respons-respons tersebut merupakan tahapan-tahapan dalam proses mngubah atau pembentukan tingkah laku. dalam Muhibbin Syah. Teoritikus penciptanya bernama Burhus Frederik Skinner yang lahir tahun 1904. oleh karena itu Skinner mendefenisikan belajar sebagai perubahan tingkah laku (Ibid : 116-117). Dengan kata lain suatu stimulus bervariasi serta akan terjadi pengulangan bila terdapat penguatan (reinforcement). 1986 : 26). maksudnya psikologi dapat menjadi suatu ilmu hanya melalui studi tingkah laku. 1973 : 127).(Muhaimin. 1999 : 88). Hal ini berati bahwa tingkah laku belajar dapat di modifikasi dan diprogram dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Dengan demikian orientasi kajiannya pun tingkah laku manusia (psikomotorik). Dalam kaitan ini kemampuan dan profesionalisme guru memainkan peranan kunci. seorang penganut behaviorisme yang dianggap kontraversial. Teori pembiasaan prilaku respon (operant conditioning) ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda dan masih sangat berpengaruh di kalangan para ahli psikologi belajar masa kini. Operant Conditioning adalah nama yang di pergunakan oleh Skinner (1938) untuk suatu prosedur dimana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas (Walker. Teori Skinner ini kemudian dianggap sebagai dasar dari programprogram inovatif dalam bidang pendidikan. Tema pokok yang mewarnai karyakaryanya adalah bahwa tingkah laku itu sendiri (Bruno. umpamanya pada pernyataan “Stimulus terus menerus memiliki sifat-sifat kekuatan yang tidak mengendur” (Gredler. 40 . pada waktu keluarnya teori-teori S-R (Stimulus-Respons) yang kemudian deikenal dengan model konditioning klasik dari Pavlov yang pada saat itu telah memberi pengaruh yang kuat dalam pelaksanaan penelitian. 1991 : 115). Bell Gredler. Seperti pengajaran berprogram. Azas operant conditioning B.F Skinner mulai muncul dalam tahun 1930an. Munculnya teori Operant Conditioning ini sebagai bentuk reaksi ketidak puasan Skinner atas teori S-R. B.

tt : 211). dapat diambil suatu pemahaman bahwa penciptaan suatu kondisi dalam rangka pengubahan tingkah laku subjek. Pengertian Operant Conditioning Secara terpisah kata operant dan conditioning mempunyai definisi tersendiri. kemudian setiap respons tersebut diberikan penguatan (reinforcement). dalam Muhibin Syah. A subject is operantly conditioned when he has modified his behavior to obtain the reinforcement or reward. 3. yang relatif sesuai dengan yang dikehendaki (misalnya. Dalam hal ini operant diartikan sebagai sejumlah prilaku atau respons yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat (Reber.F Skinner 41 . Sedangkan secara menyeluruh. 1991 : 125). Kemudian margaret E. oleh guru atau pemimpin pendidikan) yaitu dengan mencermati dan mengontrol respons yang muncul. Typically a relationship is established between some form of valuntary behaviour and reinforcement. Bell Gredler dalam kesimpulannya mengartikan operant conditioning sebagai proses mengubah tingkah laku subjek dengan jaalan memberikan penguatan (reinforcement) atas respons-respons yang dikehendaki dengan kehadiran stimulus yang cocok (Gredler. 1998 : 126).mesin mengajar (teaching machine) dan program pengajaran dengan bantuan komputer. Sementara conditioning diartikan sebagai suatu bentuk belajar dimana kesanggupan untuk merespon terhadap rangsangan tertentu dapat dipindahkan pada rangsangan yang lain (Walker. istilah operantconditioning diartikan sebagai suatu situasi belajar dimana suatu respons lebih kuat akibat reinforcement langsung (Wasty. 2. 1973 : 25). Dari beberapa definisi di atas. 1995 : 107). Teori Pokok Operant Conditioning B. A knowledge of the pattern oe reinforcement enables predictions to be made about the individual’s behaviour (Hills. Kemudian dalam ungkapan yang berbeda dinyatakan bahwa : Operant conditioning is the process of aperant conditioning involves the modification of behaviour by its contingences.

Terdapat dua macam penguat yang dapat diberikan dalam rangka memotivasi atau memodifikasi tingkah laku. Dengan demikian tingkah laku yang diinginkan terjadi. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku (Wasty. Skinner menganggap “reward” atau “reinforcement” sebagai faktor terpenting dalam proses belajar. 1991 : 85). misalnya : ujian tiba-tiba. Disinilah kemampuan profesionalisme dan pengalaman seorang guru sangat menentukan. Tetapi Skinner lebih menekankan kepada pemberian reinforcement positif. Respons yang dimaksud di sini adalah respons yang berkondisi yang dikenal dengan respons operant (tingkah laku operant). Macam dari sifat reinforcement ini. 1983 : 121). karena bukan suatu hal yang mustahil reinforcement negatif justru melahirkan respons (tingkah laku) positif. Artinya setiap penguat yang dapat memperkuat tingkah laku respons tetapi bersifat aversif (menimbulkan kebencian dan penghindaran). tidak ada faktor perantara lainnya. Kedua. Reinforcement negatif (punishment) yakni sesuatu yang dapat memperlemah timbulnya respons-respons (Rohani. Stimulus negatif dapat menimbulkan respons emosional bahkan dapat melenyapkan (extinction) tingkah laku atau respons (Gredler : 1991 : 130). dapat digambarkan dan dibentuk secara nyata melalui pemberian reinforcement yang sesuai. Oleh karena itu belajar menurut Skinner diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang dapat diamati dalam kondisi yang terkontrol secara baik. Rumus Skinner : B (behaviour) = F (fungsi) dari S (stimulus) (B = F (S). untuk menerapkannya di lapangan baik dalam konteks kelas maupun terhadap individu dalam kelas. Sedangkan stimulusnya adalah stimulus operant (Sudjana. Pertama. merupakan pilihan atau opsi bagi para guru sebagaii pemilik reinforcement (Baker. 1998 : 119). 42 . Tingkah laku atau respons (R) tertentu akan timbul sebagai reaksi terhadap stimulus tertentu (S). 1995 : 13). Menurut Skinner tingkah laku sepenuhnya ditentukan oleh stimulus. reinforcement positif yakni sesuatu atau setiap penguat yang memperkuat hubungan stimulus respons atau sesuatu yang dapat memperbesar kemungkinan timbulnya suatu respons atau dengan kata lain sesuatu yang dapat memperkuat tingkah laku.Seperti halnya Throndike.

Belajar adalah perubahan dari setiap tingkah laku yang merupakan pendewasaan atau pematangan oleh satu kondisi dari organisme (subjek). menganalisa. mensintesis. C. Skinner mengakui bahwa aplikasi teori operant conditioning ini terbatas. Aplikasi Teori Operant Conditioning Dalam Praktek Pendidikan Belajar dan mengajar merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. melaksanakan dan seterusnya. tetapi ia merasa bahwa ada implikasi praktis bagi pendidikan. Belajar adalah mengingat. karena penguat yang diberikan tersebut akan membuat individu terus berupaya meningkatkan prestasinya. (Anwar. Dengan demikian dapat menyebabkan intensitas dan frekuensinya menjadi turun. Oleh karena itu maka yang terbaik adalah menyusun kemungkinan terjadinya reinforcement yang positif dan apabila ingin memperlemah respons sebaiknya tidak perlu diberikan reinforcement lagi. Konsep melenyapkan adalah proses dimana suatu operant yang telah terbentuk tidak mendapatkan penguat lagi. Dengan kata lain terjadi proses melenyapkan (extinction). memahami. untuk memperbesar peranan peserta didik dalam aktivitas pengajaran. 96.Ada dua konsep operant yang relevan yakni melenyapkan (extinction) dan hukuman. berpikir. Dalam proses pembelajaran. lalu guru tersebut memberikan senyuman sebagai tanda memujinya. ketika seorang guru melihat siswanya rajin mengunjungi perpustakaan.98). percaya. mengerti. Dan mengajar tidaklah mentransfer sumber pengetahuan saja tetapi juga mengubah sikap dan tingkah laku yang nyata. apabila prosedur 43 . Senyum guru itu merupakan reinforcement bagi siswa tersebut yang bermanfaat untuk menggiatkannya lebih sering lagi mengunjungi perpustakaan. Sebagai contoh. mengevaluasi. Hukuman adalah stimulus yang merupakan konsekuensi tingkah laku yang mengurangi kemungkinan terjadinya prilaku serupa di masa yang akan datang (Dimyati dan Mudjiono. berpartisipasi. 1999 : 9). belajar memberikan kekuatan untuk terjadinya respons-respons yang bertingkat dan berkelanjutan. maka reinforcement (penguat) yang diberikan oleh seorang guru sangat diperlukan. Ia mengemukakan bahwa kontrol yang positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhadap pendidikan dan akan lebih efektif bila digunakan. tt : 95. menerangkan. Menurut Skinner.

sementara mengajar berarti memberikan stimulus dan menguatkannya. Dalam proses pembelajaran guru dapat menyusun program pembelajaran berdasarkan pandangan Skinner ini. respons si pembelajar. Dalam belajar dapat di temukan beberapa hal : Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons pembelajar. Menurut Zakiah Daradjat (1982 : 22-23). sedangkan peranan utama dari seorang pendidik (guru) adalah menciptakan kondisi agar tingkah laku yang diinginkan dapat terwujud dan proses belajar berlangsung secara dinamis dan kondusif. Kelima. Pada saat orang belajar. Dan keenam. Fungsi utama pendidikan adalah mencipatakan kondisi agar tingkah laku yang baik dapat di terapkan. yaitu : pemilihan stimulus yang deskriminatif dan penggunaan penguatan. dapat membangkitkan minat murid. kegairahan dan kesediaan untuk mengajar. guru yang profesional minimal harus memiliki enam hal yaitu : Pertama. perilaku respons si pembelajar yang baik diberi hadiah tetapi sebaliknya.penguatan (reinforcement) diatur sedemikian rupa. Dalam menerapkan teori Skinner guru perlu memperhatikan dua hal yang penting. Keempat. Sebaliknya. Ketiga. dan konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut (Dimyati dan Mudjiono. Oleh karena itu dalam proses belajar perlu ditetapkan tingkah prilaku. 1999 : 9). apabila ia tidak belajar maka responsnya akan menurun. Kedua. mengatur proses belajar mengajar. Sebagai ilustrasi. maka responsnya menjadi lebih baik. berpindahnya pengaruh belajar dan pelaksanaannya ke dalam kehidupan yang nyata. Jika yang akan dicapaiadalah 44 . perilaku respons yang tidak baik diberi teguran dan hukuman. Untuk itu dalam prose pendidikan dibutuhkan guru yang profesional dan memiliki wawasan yang luas. Penguatan terjadi pada stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. hubungan manusiawi dalam proses belajar mengajar. Pada diri setiap manusia ada keinginan yang mulia yang dibuatnya sendiri dari lubuk hati yang paling dalam dan telah tertanam sedemikian rupa yang berasal dari hubungannya dengan obyek-obyek kehidupan sekitarnya.menumbuhkan sikap dan bakat yang baik. Sebagai ilistrasi apakah guru akan meminta respons ranah kognitif atau efektif.

seorang siswa berulang-ulang mengganggu teman di depannya. Guru mencari prilaku yang lebih disukai oleh siswa. 3. Membuat daftar penguat dan positif. Langkah-langkah pembelajaran yang dapat ditempuh berdasarkan teori operant comditioning adalah sebagai berikut : 1. 1991 : 54). guru mencatat prilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. penguatan. Programing Pelajaran Dalam konteks pembelajaran menurut Skinner dapat dilihat bahwa tujuan. waktu mempelajari prilaku. Untuk itu guru perlu mempunyai kemampuan menganalisaa pelajaran menjadi unit-unit kecil yang dapat dipelajarri anak dengan kemampuan sendiri. metode dan hasil belajar dikontrol secara ketat (Nasution. Ketidak berhasilan tersebut menjadi catatan penting bagi modifikasi prilaku selanjutnya (Gredler. 45 . 2. Membuat program pembelajaran. 1991 : 154-156).sekedar menyebutkan ibu kota negara Republik Indonesia adalah Jakarta. Oleh karena itu guru juga perlu melakukan programing atau memprogramkan pelajaran menjadi unit-unit kecil dalam urutan yang membawa siswa selangkah demi selangkah ke arah tujuan pelajaran (Ibid : 54). D. Guru yang melihat kelakuan tersebut segera mengamati dan menentukan apa yang akan di lakukannya. memberikan perhatian atau meengacuhkannya sebab kedua pilihan ini dapat menjadi dapat menjadi reinforcement bagi yang bersangkutan. Perilaku positif akan diperkuat dan perilaku negatif diperlemah atau dikurangi. prilaku yang kena hukuman. Program pembelajaran ini berisi urutan prilaku yang dikehendaki. Sebagai ilustrasi ketertiban kelas. pada saat berlangsung proses belajar mengajar. Mempelajari keadaan kelas. Memilih dan menentukan urutan tingkahh laku yang dipelajari serta jenis penguatnya. tentu saja siswa hanya dilatih menghafal. dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran. dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat. 4. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif atau negatif.

khusus-konsep/generalisasi. tujuan dan metode. Urutan speesifik-umum. Urutan sederhana-kompleks. Dalam pemberian stimulus menurut teori ini dapat berupa stimulus positif. 1973 : 139).Tentang bagaimana membuat urutan materi pelajaran. Berkaitan dengan respons terhadap stimulus ini. Matematika dengan urutan logis. Hal ini sangat ditentukan oleh kemampuan analisis guru terhadap materi. 1991 : 52. misalnya :      Sejarah dengan urutan kronologis (progreesif. Programing yang telah dibuat menjadi unit-unit dan berurutan dan diaplikasikan secara bertahap dan konsisten. seorang siswa yang dapat menyelesaikan dengan baik soal matematika yang diberikan oleh seorang guru dan kemudian gguru itu memberrikan penguatan berupa senyuman atau pujian maka siswa tersebut 46 . dan urutan keseluruhan bagian-bagian (Ibid : 55.53). Sebagai contoh. yaitu : Pertama. refresif). kemudian dikontrol secara ketat terhadap respons-respons yang ditimbulkan gina menentukan reinforcement yang akan diberikan. Kemudian respons (RI) menjadi stimulus (S2) yang dapat menimbulkan respons (R2). Operant respons : yaitu respons yang timbul oleh suatu stimulus dan diberikan penguatan (reinforcement) (Suryabrata. misalnya makanan menimbulkan air liur. atau dapat juga dengan stimulus diskriminatif (Sd). Respondent respons : yaitu respons yang ditimbulkan oleh stimulus tertentu dan respons tersebut relatif tetap. respons ini kemudian diberi penguatan (reinforcement). 1991 : 125). (Nasution. selanjutnya diberikan penguatan dan begitu seterusnya. setiap kali ada makanan yang ddidekatkan pada subyek maka secara spontan air liurnya akan muncul. Skinner membedakan adanya ddua macam respons dalam Operant Conditioning.56). 1986 : 227). yaitu sembarang stimulus yang hadir secara ttiba-tiba bila mana suatu respons menerima penguatan (Gredler. yaitu stimulus yang langsung dapat di respons oleh sunjek dan segera diberikan reinforcement (walker. Urutan mudah-sulit. Bentuk nyata oprasionalisasi dari teori ini adalah sebagai berikut : stimulus (SI) akan melahirkan respon (RI). Kedua.

uang. contoh : bunyi gorengan. (Walker. seperti : senyuman. Respons inilah yang menjadi fokus teori Skinner. 1973 :133. Setiap elemen ini saling terkait satu sama lain dan bersifat sircular. Penguat alami. Prinsip utama atau pokok dari teori operant conditioning B. Interval reinforcement. seperti : kesempatan. E. Margaret E.akan terpacu untuk dapat pula menyelesaikan soal-soal yang diberikan selanjutnya. 6. 47 . aroma sate.F Skinner ini adalah pemberian reinforcement (penguatan). Penguat generalisasi : penguat yang berfungsi dalam berbagai situasi dan diasosiasikan dengan penguat primer. Macam-Macam Reinforcement Penguatan (reinforcement) dalam teori Skinner ini dapat dibedakan dalam beberapa bagian sebagai berikut : 1. persetujuan. contoh : makanan. yaitu reinforcement yang diberikan setelah respons muncul dalam jumlah tertentu. Bell Gredler (1991 : 127) mengemukakan reinforcement dalam teori Skinner adalah stimulus yang mengikuti suatu respons dan memperkuat atau memuaskannya atau setiap konsekuensi dari tingkah laku yang mempunyai dampak memperkuat atau memperkokoh tingkah laku. yaitu penguat yang meningkatkan keseringan merespon tanpa perlu latihan untuk itu. bermain. 5. pujian perhatian. yaitu reinforcement yang diberikan setelah respons pertama. Penguat skunder. disebut pula penguat berkondisi. dan bukan merupakan eelemen yang berdiri sendiri yang suatu saat terlepas dari elemen yang lain. 4. Dengan berdasarkan pada urutan-urutan filosofis di atas. maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa secara ringkas teori Skinner memiliki tiga elemen. Istilah konsekuensi yang menguatkan (reinforcement concequence) dan penguatan (reinforcement) digunakan sebagai pengganti untuk istilah ganjaran (reward). Ratio reinforcement. penguat yang ada secara alami. Respons (R) dan Reinfforcement. Penguat primer. karena menurut Skinner penggunaan istilah “ganjaran” menyarankan adanya bentuk-bentuk kompensasi untuk bertingkah laku dalam cara tertentu. 134) 3. yaitu Stimulus (S). yaitu kelompok penguat yang berpengaruh pada tingkah laku melalui pelatihan (conditioning). 2. istilah ini juga mengandung konotasi pengaturan kontrak. sesudah habisnya jangka waktu tertentu atau tidak langsung.

Sebagai contoh. Pemberian reinforcement atas rerespons (R1) menambah semangatnya untuk memahami materi 2.7. Penguat akalan (kontrive) atau yang diatur. 146. Nasution. 129.Reinforcer itu sendiri sesungghnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu. Pemberian penguat inilah yang kemudian menambah semangat siswa untuk memahami materi 2 yaitu bacaan shalat. waktu bebas. tetapi dilaksanakan dengan bijaksana. begitu seterusnya. siswa memberikan respons (R1) berupa pemahaman yang benar terhadap materi tersebut. Reinforcement Stimulus yang mengikuti suatu respons dan yang dapat memuasakan kemungkinan respons dinamakan reinforcer. seperti keluar kelas lebih cepat. siswa diberikan materi 1 dan sekaligus sebagai stimulus (1). setiap respons 48 . piagam. maka guru memberikan materi wudhu’ terlebih dahulu sebagai materi 1. F. (Gredler. 1991 : 128. yaitu : A Materi 1 Respon S1 R1 B R1+Reif(A)+ Materi 2 Respon S2 R2 C R1+Reif(B)+ Materi 3 Respon S3 R3 Reinforcement Reinforcement Reinforcement Secara berurutan. Siswa kemudian memberikan respons dan dapat melakukan wudhu’ dengan benar dan memahami nya lalu guru tersebut memberikan penguat seperti pujian atau senyuman. Berikut ini urutan operasional (operant conditioning) dalam bentuk bingkai (frame). dan seterusnya. Stimulus reinforcement atau stimulus penguat adalah memusatkan perhatian kepada akibat pada orang lain yang sedang belajar (Soekarto. 147). kemudian siswa yang bersangkutan memperoleh reinforcement. yang berperan sebagai stimulus (S2) yang dibangun bersama respons (R1). seorang guru menginginkan siswanya dapat melaksanakan shalat dengan baik dan benar. Modifikasi atau improfisasi dari frame S. 1974 : 25).

Peranan guru lebih diharapkan sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku. sehingga dapat membentik respons yang tepat dikalangan para siswa. Pentingnya penilaian yang terus menerus untuk menetapkan tingkat kemampuan siswa. 4. 2. Prinsif belajar tuntas sebaiknya digunakan agar penguasaan belajar para siswa dapat diperoleh sesuai tingkah laku yang diharapkan. 6. segera dan positif setelah tingkah laku (respons) yang diinginkan atau diprogramkan. 49 . 3. Perlu adanya tujuan yang jelas dan tingkah laku apa yang diharapkan. Latihan ini merupakan latihan yang berhubungan secara spesifik dengan pekerjaan yang dilakukan secara praktis untuk diaplikasikan dengan segera dan materi yang diberikan bersifat praktis. Memberikan tekanan pada iindividu sesuai dengan kesanggupannya. dan segera. praktek. Menurut Nana Sudjana (1991 : 93) ada beberapa prinsip pengajaran yang dapat digunakan berdasarkan operant conditioning yaitu : 1. Prosedur pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas dasar hasil evaluasi dan kemajuan yang dicapainya. dengan cara mengadakan pelatihan yang bersifat spesifik.yang diberikan siswa secara langsung diberikan penguatan oleh guru sehingga semangat siswa untuk melakukan yang lebih baik akan meningkat. Hendaknya digunakan positif reinforcement secara sistematis bervariasi dan segera manakala respons siswa itu terjadi. Dengan demikian tugas guru harus menjadi arsitek dalam membentuk tingkah laku siswa melalui penguatan. 7. Mengajar adalah mengatur kesatuan penguat untuk mempercepat proses belajar. 5. Dalam proses belajar mengajar Skinner menganjurkan untuk melakukan analisis langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam situasi praktis untuk mengenal tingkah laku yang pantas dan tidak pantas secara tepat. Dari urutan-urutan ini terlihat bahwa pemberian reinforcement (penguatan) harus konsisten.

Dalam proses pengajaran operant conditioning menjamin dan memeberi keyakinan adanya respons terhadap stimulus. tidak ada pilihan lain kecuali profesionalisme. memberikan penguatan diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespons secara aktif suatu tingkah laku tertentu dari siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali. Dalam pendidikan.F Skinner ini adalah pemberian reinforcement (penguatan) terhadap organisme (subjek) sesaat setelah memberikan respons tehadap stimulus. kreatifitas. dalam pelaksanaannya memerlukan keahlian. Pemberian Penguatan Dalam Pembelajaran Sebagaimana telah dibicarakan sebelumnya bahwa yang menjadi fokus utama teori Operant Conditioning dalam belajar oleh B. mulai dari perumusan program. guru tak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya ke arah tujuan. bahkan memacu siswa untuk berbuat lebih baik lagi. Dalam proses belajar mengajar. “telaten” dan konsisten. maka reinforcement dalam konteks Skinner ini merupakan motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datangnya dari luar diri siswa. umtuk memperbesar peranan aktif peserta didikdalam aktifitas belajar mengajar. D.Prinsip-prinsip ini. tujuan dan metode yang akan digunakan serta penerapannya. Dalam interaksi didalam kelas. kesabaran. maka imbasnya adalah reinforcement yang diberikan tersebut akan diterima oleh siswa sebagai stimulus yang bermanfaat untuk merangsang siswa mengulangi perbuatannya yang dianggap baik itu. maka reinforcement 50 . Pemberian reinforcement ini diprogramkan sedemikian rupa supaya terjadi pengulangan atau peningkatan respons. Penghargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari yakni mendorong seseorang mmemperbaiki tingkah laku serta meningkatkan kegiatannya atau usahanya. Apabila dikaitkan dengan motivasi. sebab jika sesuatu tidak menunjukkan reaksi-reaksi terhadap stimulus. Dengan demikian jika yang diberi penghargaan itu adalah siswa yang sedang belajar. pemberian reinforcement (penguatan) berarti pemberian penghargaan. Dalam hal ini guru mempunya peranan penting didalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.

Penguatan yang diberikan itu dapat berupa kata-kata atau kalimat pujian yang diciptakan guru. Meningkatkan perhatian siswa. 6. Artinya bahwa jauh sebelum teori reinforcement dari Skinner ini muncul. berbentuk mimik. dan sebagainya. 3. Hal yang paling penting harus diperhatikan dalam rangka pemberian penguatannya ini adalah waktu pemberian penguatan itu sendiir haruslah sesaat setelah siswa memberikan respons (Ibid. Dalam Islam penguatan (reinforcement) sama dengan ganjaran dan dalam Al-qur’an disebutkan bahwa segala sessuatu yang diperbuat oleh manusia dalam kehidupannya di dunia ini akan mendapatkan ganjaran Allah SWT baik di dunia maupun di akherat kelak (QS.(penguatan) yang diberikan seorang guru sangat diperlukan. Sayangnya kegiatan memberikan penghargaan atau penguatan dalam proses belajat mengajar jarang sekali dilaksanakan karena umumnya guru kurangmemperhatikan dan kurang menyadari pentingnya hal ini. Mengembangkan dan mengatur diri sendiri dan belajar. Melancarkan dan memudahkan proses belajar. Padahal peemberian penguatan (reinforcement) dalam interaksi belajar mengajar sangat bermanfaat untuk : 1. dengan pemberian hadiah dan lain-lain. tergantung kepada banyak faktor. misalnya “bagus”. Membangkitkan dan mempertahankan motivasi. 1988 : 58) Pemberian penguatan menurut teori ini bentuknya bisa beragam. 4. gerakan ajah atau menyatakan penguatan dengan sentuhan. 3 : 148). Yang terpenting adalah penguatan harus bermakna bagi siswa. 2. Mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu ke arah tingkah laku yang produktif. Dengan 51 . Islam telah terllebih dahulu menawarkan teori yang senada. : 59-60). 5. Mengarahkan kepada cara berfikir yang baik dan berinisiatif (Hasibuan dan Mudjiono. maka dapat dipahami bahwa kedua teori tersebut saling berhubungan dan adanya kesesuaian. Jika teori Skinner dengan pemberian penguatan atau penghargaan atau reinfercement ini dikaitkan dengan teori pendidikan dalam Islam (Alqur’an).

Dengan kata lain.demikian maka pelajar atau siswa dalam sistem pendidikan Islam harus diberi motivasi sedemikian rupa dengan ganjaran atau penguatan itu tidak boleh berlebihan. Proses ini secara teriotis merupakan upaya pembentukan tingkah laku (operant conditioning). semua jenjang dan usia si terdidik. proses belajar dalam Skinner dipandang dapat diamati secara langsung. E. Yang menjadi fokus utama teori ini adalah pemberian reinforcement (penguatan) terhadap organisme (subyek) sesaat setelahh memberikan respons terhadap suatu stimulus. Pemberian reinforcement ini diprogramkan sedemikian rupa supaya terjadi pengulangan atau peningkatan respons. Bukhari).F Skinner ini dalam dunia pendidikan mempunyai beberapa kelemahan yaitu: Pertama. Dalam konteks pembelajaran. Kesimpulan Dari uraian yang telah dikemukakan di atas. kunci utamanya terletak pada guru. sebab pemberian penguatan yang berlebihan akan berakibat sampingan yang negatif. proses belajar dianggap bersifat otomatis mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin atau robot. dapat ditarik kesimpulan bahwa teori operant conditioning adalah pengembangan teori Pavlov (S-R). Kedua. berhasil atau tidaknya aplikasi teori ini di lapangan. tingkah laku dapat dikondisikan atau diprogramkan sesuai dengan yang dikehendaki. itu tidak dikehenndaki karena berakibat negatif atau tidak baik” (HR. padahal belajar merupakan proses kegiatan mental yang tidak dapt disaksikan dari luar secara menyeluruh kecuali sebagian gejalanya. walaupun pada akhirnya teraplikasi dalam bentuk tingkah laku. Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan teorri operant conditioning B.. padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (pengendalian diri) yang bersifat kognitif sehingga siswa bisa menolak merespons jika ia tidak 52 . Teori tentang pemberian penguatan atau reinforcement atau penghargaan ini dapat berlaku pada keseluruhan bentuk pendidikan. sebagaimana hadist Nabi bahwa “hendaklah engkau memberikan ganjaran seperlunya saja karena apabila memberi hadiah atau ganjaran itu berlebih-lebihan.

Ketiga. keseringan merespons sebagai ukuran belajar bisa berlaku untuk tingkah laku yang sederhana tetapi tidak cocok untuk tingkah laku yang kompleks.menghendaki. 53 .

Anwar. Nana. Malang : IKIP. Nasution. A Dictionary of Education. 1995. Proses Belajar Mengajar. Soekarto. Psikologi Pendidikan. Margaret E. Bagaimana Mengajar Secara Sistematis. Muhibbin. Jakarta : Kanisius. James dan Eva L Baker. Rinda Cipta. Surabaya : Citra Media. Jakarta : Fak. Teknologi Pendidikan. Strategi Belajar Mengajar : Pencapaiannya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama. 1991. Hasibuan. W. Idocji. 1973. 1986. Tt. Terjemahan Munandar. Kepemimpinan dalam proses Belajar Mengajar. 1991. Pengelolaan Pengajaran. Rohani. Teori-teori Belajar untuk Pengajaran.DAFTAR PUSTAKA Ahmadi . Jakarta. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Indrafakhruddin. Jakarta : Bulan Bintang. Jakarta : UI. Belajar dan Membelajarkan. 1996. Hills. S. Daradjat. tt. Kepribadian Guru. Conditioning dan Proses Belajar Instrumental. Psikologi Belajar. Sudjana. Muhaimin. dkk. Bell. Jakarta : Rieneke Cipta. 1983. Bandung : Angkasa Dimyati dan Mudjiono. Walker. Ekonomi UI Suryabrata. 1991. 1982. 1998. Moch. Jakarta : Rajawali Pers. Psikologi Pendidikan. 1999. Zakiyah. 1998. Syah. Jakarta : Rieneke Cipta. Sumadi. PJ. Jakarta : Logis Wacana Ilmu. Belajar dan pembelajaran. Gredler. Ahmad dan Abu Ahmadi. Abu dan Widodo Supriyono. Bandung : Remaja Karya. Jakarta : Rineke Cipta. Popham. 54 . London : Routledge & Kegan Paul. Psikologi Belajar. JJ dan Mudiono. 1974. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful