P. 1
WIDIATMOKO: MENELAAH MAKNA TUTURAN

WIDIATMOKO: MENELAAH MAKNA TUTURAN

4.5

|Views: 1,273|Likes:
Published by WIDIATMOKO
Bahasa adalah alat komunikasi antarpenutur untuk menyampaikan ide atau informasi. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menggunakan bahasa dalam berinteraksi sosial. Blakemore mengatakan ‘We communicate our knowledge and our ignorance, our anger and our pleasure, our needs and our intentions. Just as communication serves a variety of purposes it assumes a variety of forms. We may communicate by writing a book or making a speech, with a torrent of words or with one, with a grunt or with silence, by waving our arms or by raising our eyebrows. In some cases the means is chosen with great deliberation and care. In others the choice is spontaneous and virtually unconscious’ (1992).
Bahasa adalah alat komunikasi antarpenutur untuk menyampaikan ide atau informasi. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menggunakan bahasa dalam berinteraksi sosial. Blakemore mengatakan ‘We communicate our knowledge and our ignorance, our anger and our pleasure, our needs and our intentions. Just as communication serves a variety of purposes it assumes a variety of forms. We may communicate by writing a book or making a speech, with a torrent of words or with one, with a grunt or with silence, by waving our arms or by raising our eyebrows. In some cases the means is chosen with great deliberation and care. In others the choice is spontaneous and virtually unconscious’ (1992).

More info:

Published by: WIDIATMOKO on Aug 05, 2009
Copyright:Public Domain

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2012

MENELAAH MAKNA TUTURAN

Oleh Widiatmoko e.: moko.geong@gmail.com w.: http://mokogeong.multiply.com

Bahasa adalah alat komunikasi antarpenutur untuk menyampaikan ide atau informasi. Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menggunakan bahasa dalam berinteraksi sosial. Blakemore mengatakan ‘We communicate our knowledge and our ignorance, our anger and our pleasure, our needs and our intentions. Just as communication serves a variety of purposes it assumes a variety of forms. We may communicate by writing a book or making a speech, with a torrent of words or with one, with a grunt or with silence, by waving our arms or by raising our eyebrows. In some cases the means is chosen with great deliberation and care. In others the choice is spontaneous and virtually unconscious’ (1992). Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang berterima artinya betapapun tuturan atau ujaran yang disampaikan secara gramatikal salah, namun ia bisa dimengerti oleh pendengar atau lawan bicara. Namun sebaliknya, seorang pembelajar bahasa asing, khususnya bahasa Inggris, penggunaan ungkapan ketika berinteraksi sosial di masyarakat akan cenderung berbeda dari bahasa ibunya, bahasa yang digunakan sehari-hari. Terkadang, seorang pembelajar bahasa Inggris akan mematuhi aturan tata bahasa untuk berkomunikasi secara tidak formal sekalipun. Padahal, manakala aspek keformalan yang digunakan secara ketat, sulit sekali dibedakan antara bahasa yang digunakan di dalam forum-forum resmi dan bahasa yang digunakan di dalam situasi takresmi. Memang, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyatakan sebuah proposisi yang relevan sebagaimana deskripsi dunianya, seperti dalam kalimat: There is a snake in the grass. Pembicara kalimat tersebut memiliki klaim bahwa ‘ada seekor ular’ atau ‘mengingatkan pendengar bahwa di sana ada seekor ular.’ Bahasa juga dapat digunakan untuk membuat perjanjian seperti pada kalimat I promise that I will not smoke, untuk mempengaruhi tindakan, seperti pada kalimat Stop smoking, dan untuk menjalin hubungan sosial, seperti pada kalimat I pronounce you man and wife. Dengan kata lain, bahasa bisa digunakan tidak hanya untuk menggambarkan suasana hati tetapi juga untuk mencipta hal-hal lain. Oleh karena itu, menurut teori tindak tutur, komunikasi bukanlah suatu hal di mana maksud seseorang dapat dimengerti melainkan hal di mana maksud seseorang digunakan untuk melakukan jenis

tindak tutur yang telah dikenal (Blakemore, 1992). Demikian pula halnya, pengguna bahasa asing jarang atau boleh disebut tidak mengetahui penggunaan ungkapan dalam konteks sosial di mana bahasa itu digunakan. Misalnya, ungkapan Hello, sir, where are you going? adalah tidak lazim digunakan kepada penutur asing ketika dimaksudkan sebagai sapaan. Ketidakmengertian penggunaan ungkapan sebagai alat penyampai ide atau gagsan bisa disebabkan oleh berbagai hal. Manakala mengacu pada deiksis, ungkapan tersebut merupakan deiksis spasial (spatial deixis) sebab jawaban yang diharapkan bisa jadi menjadi salah dipahami oleh pendengar atau lawan bicara. Apa yang dimaksud oleh pembicara adalah untuk sapaan, sedangkan pendengar atau lawan bicara menganggap ungkapan tersebut merupakan ungkapan deiksis spasial yang memerlukan jawaban lokasi. Semua ini tentu akan sangat bergantung pada pembicara dan pendengar dalam interaksi berbicara semuka (face-toface spoken interaction) (Yule, 1996). Deiksis spasial menekankan ‘hither’ (ke tempat ini) dan ‘thence’ (dari tempat itu). Seorang pembicara dengan deiksis spasial mampu memproyeksikan dirinya ke lokasi lain sebelum benar-benar berada di tempat tersebut (Yule, 1996). Manakala ungkapan tersebut dilihat dari tindak tutur, ia mengandung tiga tindak: tindak lokusi (tindak dasar tuturan yang menghasilkan ekspresi atau ungkapan linguistik bermakna), tindak ilokusi (tuturan komunikatif sebagai tujuan pembicara dalam komunikasi), dan tindak perlokusi (dampak yang dipahami oleh pendengar akibat komunikasi) (Yule, 1996). Oleh karena itu, ungkapan di atas diuraikan sebagai ilokusi manakala pembicara hendak mengungkapkan ‘sapaan’, perlokusi manakala pendengar menyimpulkan ungkapan tersebut sebagai sesuatu yang memerlukan jawaban ‘lokasi’, dan lokusi manakala ungkapan tersebut berbentuk pertanyaan. Pembelajaran bahasa Inggris diharuskan untuk mengetahui aspek-aspek yang mempertimbangkan kepada siapa pemakai bahasa berkomunikasi dan ragam bahasa apa yang seharusnya digunakan. Hal ini tentu bisa dilakukan oleh setiap orang pemakai bahasa Inggris sebagai bahasa internasional di mana pemahaman antarbudaya yang terkandung di dalamnya turut berperanan dalam mempengaruhi komunikasi. Komunikasi yang terjadi berkembang seiring dengan tindak tutur yang turut berkembang pula. Clyne mengatakan ‘Moreover, because of the intercultural nature of the communication, it is possible to focus on cultural variation (as well as gender variation and variation between workplace) in the incidence of particular speech acts and the way in which they are performed.’ Oleh karena itu, peranan seseorang bertutur dirasa begitu penting untuk mempengaruhi pendengar agar secara timbal balik berkomunikasi secara interaktif, terlebih di dalam bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Pragmatik dalam Komunikasi Manakala ditilik ke belakang, di sana terjadi awal kajian bahasa yang kemudian dinamai pragmatik, akan dijumpai penemuan yang dilakukan oleh Katz bersama kawan-kawannya tentang bagaimana mengintegrasikan makna dalam teori linguistik. Mulai tahun-tahun ini keberadaan semantik diperhitungkan oleh para ahli bahasa,

kemudian Lakoff dan Ross (1971) menandaskan bahwa sintaksis tidak dapat dipisahkan dari kajian pemakaian bahasa (Kaswanti Purwo, 1990). Hal senada juga diungkapkan oleh Leech, ‘So pragmatics was henceforth on the linguistic map. Its colonization was only the last stage of a wave-by-wave expansion of linguistics from a narrow discipline dealing with the physical data of speech to a broad discipline taking in form, meaning, and context’ (Leech, 1983). Manakala makna telah diakui sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari bahasa, sulit diingkari pentingnya konteks pemakaian bahasa karena makna itu selalu berubahubah berdasarkan konteks pemakaian itu. Ditilik bagaimana para ahli menempatkan makna sebagai hal yang penting, Gilbert H. Harman (1971) menyebutkan tiga pendekatan yang digunakan, yakni: a) kelompok Carnap, Ayer, Lewis, Firth, Hempel, Sellars, Quine yang memandang makna bertalian dengan bukti dan inferensi, b) kelompok Morris, Stevenson, Grice, Katz yang memandang makna sebagai suatu ide, gagasan, perasaan, atau gerakan sebuah ungkapan bisa digunakan untuk berkomunikasi, c) kelompok Wittgenstein, Austin, Hare, Nowell-Smith, Searle, Alston yang memandang makna sebagai sesuatu yang bertalian dengan tindak tutur (Steinberg dan Jacobovits, 1971). Teori yang pertama dipahami sebagai teori yang mengabdikan aspek sosial bahasa. Dalam pandangannya, teori ini juga menerima bahasa privat di mana seseorang akan mengungkapkan gagasannya tanpa harus mengkomunikasikannya dengan orang lain. Namun ini sangat tidak argumentatif. Teori kedua memiliki dua sudut pandang. Menurut Katz, seseorang memahami kata-kata yang diungkapkan seseorang dengan men-decode kata-kata tersebut ke dalam gagasan yang bertalian. Sedangkan menurut Grice, seseorang mengartikan ‘P’ dengan kata-kata dalam komunikasi manakala seseorang menggunakannya ketika menarik perhatian seseorang untuk memikirkannya. Teori ketiga adalah teori yang mendapat perhatian dari Chomsky. Dia berpendapat teori ini mengabaikan aspek-aspek kreatif penggunaan bahasa. Bahasa ada disebabkan oleh ungkapan untuk berpendapat secara bebas. Oleh karena itu, telaah pragmatik dapat dibedakan atas pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan dan pragmatik sebagai sesuatu yang mewarnai tindakan mengajar. Pragmatik sebagai sesuatu yang diajarkan dibagi menjadi pragmatik sebagai bidang kajian linguistik dan pragmatik sebagai salah satu segi di dalam bahasa (sebagai fungsi komunikatif) yang lazimnya disampaikan di dalam pengajaran bahasa asing (Kaswanti Purwo, 1990). Pragmatik menurut Charles Morris sebagaimana dikutip oleh Kaswanti Purwo (1990) didefinisikan sebagai telaah mengenai hubungan di antara lambang dan penafsirnya. Dia membuat pembatasan definisi untuk membuat penegasan antara semantik dan pragmatik. Kaswanti Purwo (1990) memberi definisi yang tegas bahwa pragmatik adalah telaah mengenai segala aspek makna yang tidak tercakup di dalam teori semantik. Dia menekankan pada telaah makna tuturan (utterance) yang merupakan pengujaran kalimat pada konteks yang sesungguhnya atau makna yang terikat konteks (context-dependent) (Kaswanti Purwo, 1990). Wijana memberi penjelasan pengertian antara semantik dan pragmatik sebagai cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual, hanya saja semantik mempelajari makna secara eksternal (Wijana, 1996). Kata ‘bagus’ secara

eksternal bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, dan kata ‘presiden’ secara internal bermakna ‘kepala negara’, seperti terlihat dalam kalimat-kalimat di bawah ini. (1) Prestasi kerjanya yang bagus membuat ia dapat diangkat untuk masa jabatan yang kedua. (2) Presiden itu sedang menuruni tangga pesawat. Secara eksternal, bila dilihat dari penggunaannya, kata ‘bagus’ tidak selalu bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’. Begitu pula ‘presiden’ tidak selalu bermakna ‘kepala negara’, seperti terlihat dalam dialog berikut ini. (3) Ayah: Bagaimana ujian matematikamu? Ali: Wah, hanya dapat 45, Pak. Ayah: Bagus, besok jangan belajar. Nonton terus saja. (4) Awas presidennya datang! Kata ‘bagus’ dalam (3) tidak bermakna ‘baik’ atau ‘tidak buruk’, tetapi sebaliknya. Sementara itu, bila kalimat (4) digunakan untuk menyindir, kata ‘presiden’ tidak bermakna ‘kepala negara’, tetapi bermakna ‘seseorang yang secara ironis pantas mendapatkan sebutan itu’. Dari uraian di atas terlihat bahwa makna yang ditelaah oleh semantik adalah makna yang bebas konteks (context-independent), sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah makna yang terikat konteks (context-dependent). Peccei (1999) mengadakan eksplorasi makna atas makna yang dibedakan antara semantik dan pragmatik. Keduanya adalah dua wilayah kajian linguistik yang melihat pada pengetahuan yang digunakan untuk menyimpulkan makna ketika seseorang mendengar atau membaca, dan menyampaikan makna ketika seseorang berbicara atau menulis. Semantik, menurutnya, menekankan pada makna yang berasal dari pengetahuan linguistik secara murni, sedangkan pragmatik menekankan pada aspekaspek makna yang tidak bisa diramalkan dengan pengetahuan linguistik dan mempertimbangkan pengetahuan tentang dunia fisik dan sosial (Peccei, 1999). Kalimat It’s cold in here memiliki dua interpretasi yaitu makna semantik atau lebih dikenal sebagai parafrase semantik dan makna pragmatik atau dikenal sebagai parafrase pragmatik. Manakala konteks yang digunakan adalah Ali and Ani are in the living room. Ali asks Ani whether she’d like to eat dinner in the living room or the kitchen. Ani replies: It’s cold in here,’ makna semantiknya adalah The temperature in this place is frigid, sedangkan makna pragmatiknya adalah Let’s eat in the kitchen. Manakala konteks yang digunakan adalah The lecturer and her student, Ani, are in the drawing room. The window is open. The lecturer says, ‘It’s cold in here,’ makna semantiknya The temperature in this place is frigid, sedangkan makna pragmatiknya Ani, shut the window. Dari dua contoh konteks yang berbeda, diketahui bahwa penekanan analisis pragmatik adalah pada makna tuturan pembicara daripada makna kata atau kalimat sebagaimana dalam semantik. Perbedaan antara semantik dan pragmatik memang tidak terlalu jelas. Namun, manakala ditelusuri lebih jauh, perbedaan keduanya adalah sebagaimana diungkapkan oleh Leech. Menurutnya, semantik dan pragmatik samasama membahas makna. Namun, makna dalam pragmatik bersifat relatif bagi pengguna

bahasa, sedangkan makna dalam semantik secara murni sebagai sesuatu yang dimiliki dalam ungkapan pada suatu bahasa. Makna yang dikaji oleh semantik bersifat diadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apa makna X itu? Makna yang ditelaah oleh pragmatik bersifat triadis. Makna itu dapat dirumuskan dengan kalimat Apakah yang kamu maksud dengan berkata X itu? (Leech, 1983). Yule mendefinisikan semantik sebagai studi yang membahas tentang hubungan antara bentuk-bentuk dan entitas-entitas linguitsik di dunia yaitu bagaimana kata-kata secara literal berhubungan dengan sesuatu. Sedangkan pragmatik membahas hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan para pengguna bentuk-bentuk tersebut (Yule, 1996). Dengan demikian, banyak sekali definisi tentang pragmatik. Yang jelas, simpul pemahaman linguis satu dengan lainnya adalah serupa. Analisis pragmatik mencakupi (1) suatu satuan lingual (atau kalimat) dapat dipakai untuk mengungkapkan sejumlah fungsi di dalam komunikasi, dan (2) suatu fungsi komunikatif tertentu dapat diungkapkan dengan sejumlah satuan lingual (Kaswanti Purwo, 1990). Untuk memahami makna tersebut, seseorang akan memiliki interpretasi yang bergantung pada pengetahuan linguistik dan pengetahuan nonlinguistik di mana terjadi pada konteks sosial yang berbeda (Blakemore, 1992). Pragmatik sebagaimana Recanati (1987) yang dinukil oleh Blakemore lebih memiliki perbedaan terminologi dengan semantik. Keberterimaan suatu ujaran lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar grammatical well-formedness sehingga suatu ujaran bisa saja mengandung kalimat gramatikal tetapi belum berterima atau kalimat takgramatikal bisa jadi sebagai penghasil ujaran yang berterima (Blakemore, 1992). Yule juga mendefinisikan pragmatik sebagai studi makna sebagaimana disampaikan oleh pembicara atau penulis dan dipahami oleh pendengar atau pembacanya. Akibatnya, ini akan bertalian dengan analisis terhadap apa yang dimaksudkan melalui tuturan-tuturan pembicara daripada kata-kata atau frasa-frasa yang ada di dalam tuturan itu sendiri. Oleh karena itu, pragmatik disebut juga sebagai kajian makna pembicara. Pragmatik di samping itu mengkaji interpretasi apa yang dimaksudkan oleh seorang pembicara di dalam konteks tertentu dan bagaimana konteks tersebut mempengaruhi apa yang hendak diungkapkan. Seorang pembicara akan mempertimbangkan dengan siapa dia akan berbicara atau menyampaikan maksudnya, di mana, kapan, dan keadaan seperti apa. Oleh karena itu, pragmatik disebut sebagai studi yang mengkaji makna berdasarkan pada konteksnya. Pragmatik pada sisi lain mengkaji bagaimana pendengar memahami apa yang dikatakan oleh pembicara untuk selanjutnya menyimpulkannya. Kajian ini lebih menitikberatkan pada berapa banyak apa yang tidak dikatakan bisa dikenali sebagai bagian apa yang disampaikan oleh pembicara. Oleh karena itu, pragmatik merupakan bidang yang mengkaji bagaimana mendapatkan apa yang disampaikan daripada apa yang dikatakan (Yule, 1996). Menurut Green, pragmatik adalah studi yang mengkaji pemahaman tindakan intensional manusia yang melibatkan interpretasi tindakan yang diambil untuk memenuhi tujuan (Green, 1989). Levinson membuat definisi tentang pragmatik sebagai studi tentang bahasa dari perspektif fungsional yang berusaha menjelaskan aspek

linguistik dengan sebab-sebab dan pengaruh-pengaruh nonlinguistik (Levinson, 1983). Namun, definisi ini tidak mampu membedakan pragmatik linguistik dengan disiplin ilmu lain, seperti sosiolinguistik maupun psikolinguistik yang tertarik dengan pendekatan fungsional terhadap bahasa. Levinson sangat apresiatif terhadap pendapat Chomsky bahwa pragmatik bertalian dengan prinsip-prinsip penggunaan bahasa dan tidak bertalian dengan penggambaran struktur linguistik. Untuk membedakan kompetensi dan performansi, Chomsky menambahkan definisi pragmatik sebagai suatu studi yang bertalian dengan prinsip-prinsip kinarya (performance) dari penggunaan bahasa. Oleh karena itu, Katz dan Fodor (1963) sebagaimana dikutip oleh Levinson (1983) mengatakan bahwa teori pragmatik atau lazim disebut teori setting selection bertalian dengan penolakan ketaksaan kalimat-kalimat pada konteksnya di mana mereka dituturkan (Levinson, 1983). Secara nyata bahwa konteks berfungsi lebih banyak daripada hanya memilah sumber semantik suatu kalimat. Pada pendapat selanjutnya, Levinson membatasi pengertian pragmatik pada suatu studi yang mengkaji aspek-aspek struktur linguistik dan studi tentang aspek-aspek kegunaan bahasa yang tidak relevan secara gramatika (Levinson, 1983). Lingkup pragmatik yang demikian ini mencakupi kajian tentang deiksis yang terdiri atas honorifics dan sejenisnya, presupposition, dan speech acts (Levinson, 1983). Pragmatik sebagaimana Leech ungkapkan adalah pragmatik umum. Hal ini untuk membedakan kajian tentang kondisi-kondisi umum tentang penggunaan (use) bahasa secara komunikatif dan menanggalkan kondisi-kondisi ‘lokal’ yang lebih spesifik tentang penggunaan (use) bahasa (Leech, 1983). Pragmatik umum ini mencakupi sosiopragmatik yang mengkhususkan budaya (culture specific) dan bertalian dengan cooperative principle dan politeness principle yang digunakan di dalam kultur dan masyarakat pengguna bahasa yang berbeda dan pragmalinguistik yang mengkhususkan bahasa (linguistic specific) (Leech, 1983). Bahasan tentang pragmatik umum ini pada akhirnya bertalian dengan kajian tentang komunikasi linguistik terutama prinsipprinsip percakapan. Studi tentang pragmatik akan bertalian dengan situasi berbicara yang menurut Leech mencakupi pengirim (addresser) atau penerima (addressee), konteks tuturan (context of utterance), tujuan tuturan (goals of utterance), tuturan sebagai bentuk kegiatan (utterance as a form of act or activity), dan tuturan sebagai produk tindak verbal (utterance as a product of a verbal act) (Leech, 1983). Simpulan Komunikasi antarmanusia menggunakan bahasa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang berterima oleh pendengar. Begitupun seseorang ketika berkomunikasi dalam bahasa asing dituntut untuk memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara. Ini memang tidak mudah, sebab diperlukan pemahaman makna yang ada dalam pikiran pembicara untuk bisa dikomunikasikan kembali oleh pendengar kepada pembicara sehingga terjadi interaksi sosial. Dengan menggunakan bahasa yang benar dan berterima, seseorang bisa menyampaikan pesan-pesannya kepada pendengar. Apapun konteks sosial yang ada, bahasa akan ada. Itu sebab, telaah makna adalah

bagian yang tidak terpisahkan dari linguistik. Pragmatik adalah salah satu wilayah kajian yang menelaah makna tuturan dan bukan sebagaimana semantik bahas – telaah makna kalimat. Pustaka Acuan Blakemore, Diane. 1992. Understanding Utterances. Oxford: Blackwell. Clyne, Michael. 1994. Intercultural Communication at Work: Cultural Values in Discourse. Cambridge: Cambridge University. Green, George. 1989. Pragmatics and Natural Language Understanding. Lawrence Erlbaum. Kaswanti Purwo, Bambang. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa: Menyibak Kurikulum 1984. Yogyakarta: Kanisius. Leech, Geoffrey N. 1983. Principles of Pragmatics. England: Longman. Levinson, Stephen C. 1983. Pragmatics. Cambridge: Cambridge University. Peccei, Jean Stilwell. 1999. Pragmatics. London: Routledge. Steinberg, Danny D. dan Leon A. Jakobovits. 1971. Semantics: An interdisciplinary Reader in Philosophy, Linguistics, and Psychology. Cambridge: Cambridge University. Wijaya, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Offset. Yule, George. 1996. Pragmatics. Oxford: Oxford University

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->