P. 1
widodo

widodo

4.0

|Views: 1,888|Likes:
Published by dedenede

More info:

Published by: dedenede on Aug 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR KIMIA SISWA KELAS X SEMESTER 1 SMA SWADHIPA MELALUI METODE EKSPERIMEN BERBASIS LINGKUNGAN Oleh

Sunyono 1), Rini Sugiarti 2) ABSTRACT Student learning is an integrated part of teaching process, as we realize that student learning is a product of effective teaching. Demonstration, discussion, and talkative methods applying in teaching chemistry at class X in semester I SMA Swadhipa Natar are not optimum to improve of student achievement and activity in study, especially the demonstration were carried out rarely, because of limitedness chemical substances in school. Using experiment method by substances from environment of student area is an alternative experiment method to exceed of limitedness chemical substances. This research has an objective to know improvement of student achievement and activity in laboratories (psychomotor) by applying experiment method by use substances from environment of student area in teaching chemistry at class X in semester 1 on 2006 year. Subject of this research are 37 students of class X in semester 1 SMA Swadhipa Natar, consists of 11 male and 26 female. The research was carried out in three cycles, and every cycle consists of planning, implementation, evaluation, and reflection. The teaching process was carried out trough experiment, discussion, presentation, and homework. The result of the research showed that there are improvement of student achievement and activity in study from cycle to cycle. Key Words: Chemical Substances, environment, achievement. PENDAHULUAN Berdasarkan observasi awal dan diskusi dengan guru kimia kelas X SMA Swadhipa Natar Lampung Selatan diperoleh bahwa hasil belajar kimia siswa kelas X selama ini sangat rendah (rata-rata 4,85), meskipun telah dilakukan berbagai upaya yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hasil belajar siswa, namun hasilnya masih jauh dari harapan. Dari pengamatan guru selama proses pembelajaran berlangsung selama ini nampak bahwa hanya sekitar 40% siswa kelas X yang mendapat nilai ≥ 6,0. Kondisi ini difuga akibat

minat, aktivitas di laboratorium, dan peran serta siswa dalam pembelajaran sangat rendah. Siswa tidak pernah siap untuk belajar di kelas, sehingga pembelajaran cenderung pasif 1) Dosen PS Kimia Jurusan PMIPA – FKIP Universitas Lampung. 2) Guru Kimia SMA Swadhipa Natar Rendahnya aktivitas, minat, dan hasil belajar kimia siswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: (1) Penyampaian materi kimia oleh guru dengan metode demonstrasi yang hanya sekali-kali dan diskusi cenderung membuat siswa jenuh, siswa hanya dijejali informasi yang kurang konkrit dan diskusi yang kurang menarik karena bersifat teoritis; (2) Siswa tidak pernah diberi pengalaman langsung dalam mengamati suatu reaksi kimia, sehingga siswa menganggap materi pelajaran kimia adalah abstrak dan sulit difahami; (3) Metode mengajar yang digunakan guru kurang bervariasi dan tidak inovatif, sehingga membosankan dan tidak menarik minat siswa. Hasil diskusi dengan guru SMA Swadhipa Natar Lampung Selatan disepakati bahwa untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa terhadap materi pelajaran kimia perlu adanya perbaikan dalam pembelajaran, yaitu strategi pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen berwawasan lingkungan. Metode eksperimen berwawasan lingkungan adalah eksperimen dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar siswa dan murah harganya, sehingga eksperimen dilaboratorium dapat dilaksanakan secara kontinyu. Oleh sebab itu rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah penerapan metode eksperimen berwawasan lingkungan pada pembelajaran kimia di kelas X Semester I dapat meningkatkan aktivitas belajar siswaf ?” Beberapa penelitian telah menemukan bahwa kehgagalan siswa dalam belajar kimia, karena mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam mempelajari kimia dan tidak tahu untuk apa mereka belajar kimia. Penelitian yang dilakukan oleh Muh Farid, dkk (2001) di SMUN 1 Bandar Lampung, menemukan bahwa kebanyakan dari siswa yang gagal dalam belajar kimia, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam belajar dan mereka tidak mempunyai metode belajar yang efektif untuk menguasai materi kimia dalam waktu

tertentu. Di samping itu, guru kurang mempunyai pengetahuan dan wawasan dalam memvariasikan metode mengajarnya. Padahal, tugas utama seorang guru adalah membantu siswa dalam belajar, yakni berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran melalui penerapan berbagai metode yang tepat. Guru harus profesional, sesuai dengan tuntutannya sebagai pendidik, fasilitator, mediator, dan catalytic agent dalam pendidikan (Sunyono, 2007). Kegiatan pembelajaran melalui pendekatan keterampilan proses menyebabkan siswa dapat menemukan fakta-fakta, konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan proses dan sikap ilmiah siswa sendiri (Soetarjo dan Soejitno, 1998). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nina Kadaritna, dkk (2000) di SMU YP Unila menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan keterampilan proses dengan metode demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar dan minat siswa terhadap pelajaran kimia. Dalam metode eksperimen siswa dapat memperoleh kepandaian yang diperlukan dan langkah-langkah berfikir ilmiah (Tim Didaktik, 1995). Namun, metode eksperimen memiliki beberapa kelemahan, seperti keterbatasan alat dan bahan kimia yang relatif mahal dapat menghambat pelajaran selanjutnya. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, eksperimen dapat dilaksanakan dengan menggunakan peralatan sederhana yang didesain sendiri oleh guru dengan menggunakan barang-barang bekas yang ada di sekitar kita. Demikian pula bahan-bahan kimia tersedia cukup banyak di alam sekitar kita, yaitu bahan sehari-hari. Eksperimen kimia dengan menggunakan bahan alam yang ada di sekitar kita untuk pembelajaran kimia telah banyak dilakukan antara lain; Duffy (1995) dan Derr (2000) melakukan percobaan dengan menggunakan proses pelarutan garam dapur sebagai contoh perubahan fisika dan reaksi antara cuka dengan soda kue yang menghasilkan karbondioksida sebagai contoh perubahan kimia. Synder (1992) mempelajari reaksi kesetimbangan pada botol minuman soda yang diberi indikator asam-basa, sedangkan cara yang berbeda dilakukan oleh Kanda (1995) untuk mempelajari pengaruh konsentrasi asambasa

pada reaksi kesetimbangan indikator alam. Selanjutnya Solomon (1996) melakukan eksperimen tentang pembuatan ester. Percobaan Solomon dilakukan dengan cara memanaskan campuran alkohol dan cuka selama beberapa menit, terbentuknya ester ditandai dengan terciumnya bau harum yang khas, atau dengan terbentuknya dua lapisan bila dicampurkan dengan air. Di samping itu, hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sunyono (2005) menunjukkan bahwa pembelajaran kimia dengan eksperimen menggunakan bahan seharihari (bahan yang ada di lingkungan) di kelas XI semester 1 SMA Swadhipa Natar dapat meningkatkan aktivitas, minat, dan penguasaan materi kimia siswa secara signifikan. Oleh sebab itu, dalam penelitian tindakan kelas ini dikembangkan pendekatan keterampilan proses melalui metode eksperimen berwawasan lingkungan. METODE PENELITIAN Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan secara kolaboratif antara dosen FKIP Unila dengan guru-guru kimia SMA Swadhipa Natar Lampung Selatan. Penelitian dilaksanakan di kelas X–4 semester I Tahun Pelajaran 2005/2006. Jumlah siswa yang menjadi objek penelitian adalah 37 orang dengan rincian 11 orang siswa laki-laki dan 26 orang siswa perempuan. Penelitian dilaksanakan selama lebih kurang 9 bulan sejak Maret hingga November 2005 mulai tahap persiapan (penyusunan Silabus, LKS, persiapan alat dan bahan, uji coba praktikum, dan penyempurnaan LKS), sampai dengan tahap pelaksanaan (pembelajaran di sekolah) dan tahap pelaporan. Penelitian tindakan kelas ini dibagi menjadi tiga siklus tindakan dan setiap siklus terdiri dari satu atau dua materi pokok. Proses pembelajaran untuk setiap siklus terdiri dari 3 – 4 kali pertemuan dengan materi pokok yang menjadi fokus penelitian adalah Pengenalan Kimia dan Tatanama Kimia, Persamaan Reaksi Kimia Sederhana, Hukum Dasar Kimia, dan Perhitungan Kimia. Setiap selesai satu materi pokok diadakan tes formatif untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa terhadap konsep kimia yang ada pada materi pokok yang bersangkutan. Eksperimen (praktikum) dilakukan melalui kelompok (tiap kelompok

terdiri dari 5 – 8 orang anggota) dan untuk tiap siklusnya dilaksanakan sebanyak 2 – 3 kali percobaan di bawah bimbingan guru. Pada setiap siklus dilakukan observasi sebanyak 2 kali oleh dosen mitra dan guru lain sesuai dengan pembagian tugas. Observasi dilakukan terhadap guru yang sedang mengajar, maupun terhadap siswa yang sedang belajar melalui praktikum untuk melihat aktivitasnya di laboratorium, juga dilakukan wawancara dengan siswa. Wawancara dilakukan oleh dosen mitra dan semua anggota peneliti (guru mitra). Selain itu juga akan diadakan refleksi oleh pengamat yang terdiri dari 1 orang guru kimia, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, dan 1 orang dosen mitra untuk membicarakan halhal yang sudah dilakukan dengan tepat, maupun kekurangan-kekurangan yang masih ada pada siklus tersebut, yang akan menjadi bahan pertimbangan dan perbaikan dalam pelaksanaan siklus berikutnya. Berdasarkan data hasil observasi dan evaluasi selanjutnya dilakukan analisis data sebagai bahan kajian pada kegiatan refleksi. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan hasil yang telah dicapai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan sebelumnya. Indikator keberhasilan tindakan kelas adalah apabila terjadi peningkatan hasil belajar pada setiap siklusnya dan lebih dari 80 % siswa memperoleh nilai ¡Ý 70 baik nilai kognitif maupun psikomotornya. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini telah dilakukan pengembangan beberapa aspek, antara lain; (1) Metode instruksional, dimana diskusi dan tanya jawab dikembangkan melalui penyelenggaraan praktikum dan presentasi yang dilakukan oleh siswa, (2) Proses pembelajaran, dalam hal ini dikembangkan metode eksperimen berwawasan lingkungan. dan pembahasan hasil eksperimen oleh siswa melalui presentasi serta latihan soal sebagai umpan balik siswa dalam belajar mandiri., (3) Tugas rumah, yang diberikan untuk setiap selesainya satu – dua sub materi pokok, berupa soal-soal yang menyangkut baik pemahaman maupun analisis. Penilaian terhadap tugas pekerjaan rumah (PR) tidak dijadikan data penelitian, namun

penilaian tersebut ditujukan sebagai diagnostik terhadap kelemahan dan kesulitan belajar siswa. Hasil pengamatan/observasi dan wawancara selama proses pembelajaran pada setiap siklus dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Prosentase Siswa yang Mencapai Keberhasilan Tindakan (Dilihat dari Nilai Psikomotor) Nilai Siklus I II III Jumlah (org) % Jumlah (org) % Jumlah (org) % < 60,00 1 2,70 0 0 0 0 60 – 69,90 13 35,14 3 8,11 2 5,41 ≥ 70,00 23 62,16 34 91,89 35 94,59 Rata-rata 69,82 75,94 79,40 Tabel 2. Prosentase Siswa yang Mencapai Ketuntasan Belajar dan Kriteria Keberhasilan Tindakan (Hasil Belajar/Hasil Tes Tiap Siklus) Nilai Siklus I II III Jumlah (org) % Jumlah (org) % Jumlah (org) % < 60,00 27 72,97 16 43,24 4 10,81 60 – 69,90 8 21,62 12 32,43 4 10,81 ≥ 70,00 2 5,41 9 24,32 29 78,38 Rata-rata 50,27 62,30 74,61 Tabel 3. Hasil Wawancara dengan Siswa terhadap Pelaksanaan Pembelajaran dan Praktikum dari 12 orang Responden yang Menjawab Positif. Pointer Siklus I II III Jumlah (org) % Jumlah (org) % Jumlah (org) % 1 3 25,00 5 41,67 10 83,33 2 4 33,33 4 33,33 9 75,00

3 6 50,00 8 66,67 11 91,67 4 3 25,00 7 58,33 10 83,33 5 5 41,67 9 75,00 12 100,00 6 2 16,,67 8 66,67 11 91,67 Siklus I berlangsung selama 4 x 2 x 45 menit atau empat kali pertemuan. Materi yang diajarkan dalam proses pembelajaran ini adalah Pengenalan Kimia dan Tatanama Senyawa. Praktikum yang dilaksanakan pada siklus I sebanyak 2 kali eksperimen, yaitu tentang Pengenalan Kimia dan Rumus Kimia. Setelah proses pembelajaran pada siklus I selesai, selanjutnya pada akhir siklus dilakukan evaluasi terhadap hasil belajar siswa (tes) untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyerap materi yang telah dibahas. Dari hasil tes pada siklus I diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 50,27 (Tabel 2) dan jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan sekkolah (nilai ≥ 60,00) hanya 10 orang atau 27,03% (Tabel 2). Bila dilihat dari ketuntasan belajar secara klasikal, hasil tindakan pada siklus I belum menunjukkan keberhasilan yang memuaskan karena masih jauh di bawah 80%. Demikian pula indikator keberhasilan tindakan yang ingin dicapai dalam penelitian ini (80% siswa memperoleh nilai ≥ 70,00) masih jauh dari yang diharapkan. Dari hasil evaluasi (Tabel 2) hanya 5,41% siswa yang memperoleh nilai ≥ 70,00. Hasil observasi dan penilaian terhadap aktivitas di laboratorium (nilai psikomotor) pada kegiatan praktikum (Tabel 1) juga menunjukkan bahwa pada siklus I kriteria keberhasilan tindakan belum tercapai (hanya 62,16% siswa yang memperoleh nilai psikomotor 70,00). Hal ini menunjukkan bahwa eksperimen dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh dan terdapat di lingkungan siswa belum dapat memotivasi dan membangkitkan minat siswa terhadap mata pelajaran kimia terutama keterampilan berpraktikum di laboratorium. Keadaan ini disebabkan banyaknya siswa yang masih menunjukkan tingkahlaku yang tidak diinginkan (seperti bermainmain, ganggu teman, ngobrol) ketika praktikum berlangsung. Faktor tidak tercapainya indikator keberhasilan yang dilihat dari nilai hasil tes dan nilai psikomotor tersebut di atas adalah kurang maksimalnya metode yang dilaksanakan dalam

pembelajaran, terutama pemberi konstribusi yang cukup besar terhadap kurang berhasilnya penelitian ini adalah banyak siswa (27 orang) yang memperoleh nilai kurang 60,00 dan hanya 2 orang siswa yang memperoleh nilai > 70,00. Hasil wawancara dengan siswa diperoleh 75,00% siswa merasa belum yakin bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum dapat menggantikan bahan kimia sintetik dan dapat dijadikan bahan kajian teoritis untuk membahas materi pokok dalam mencapai kompetensi dan hanya 25,00% siswa yang merasa yakin (Tabel 3), oleh sebab itu, perlu ada penyesuaian dari siswa melalui bimbingan dari guru. Berdasarkan hasil observasi terhadap guru dan refleksi pada siklus I, keadaan ini disebabkan oleh: 1. paradigma lama guru masih sangat kental yang dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran yang masih didominasi guru, guru tidak banyak memberikan kesempatan pada siswa untuk berfikir sendiri dalam menemukan konsepkonsep kimia. 2. guru kurang persiapan, sehingga praktikum yang dilaksanakan masih banyak mengalami hambatan dan harus dilakukan berulang-ulang untuk mencapai keberhasilan praktikum (pendapat siswa pointer 6). 3. beberapa alat praktikum yang di buat oleh siswa sendiri belum baik untuk digunakan, karena persiapan awal yang belum optimal. 4. guru kurang memantau kesulitan belajar siswa, sehingga diagnostik yang diberikaan guru kurang dirasakan oleh siswa. 5. guru kurang memberikan waktu tunggu yang cukup kepada siswa untuk menjawab pertanyaan. 6. guru tidak memberikan contoh konkrit penerapan materi kimia yang sedang dibahas dengan kehidupan sehari-hari dan tidak memberikan penjelasan yang cukup tentang bagaimana hasil percobaan yang dilakukan jika bahannya adalah bahan kimia sintetik yang dibeli dari toko kimia. Siklus II berlangsung selama 3 x 2 x 45 menit atau tiga kali pertemuan. Materi yang diajarkan dalam proses pembelajaran ini adalah Persamaan Reaksi Kimia. Praktikum yang dilaksanakan pada siklus II sebanyak 2 kali eksperimen, yaitu tentang reaksi yang menghasilkan gas dan reaksi pembakaran.. Berdasarkan pengamatan, ternyata pada siklus II siswa lebih antusias dalam pembelajaran

dibandingkan pada siklus I. Hal ini dapat dilihat dari ketetapatan mengumpulkan tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru dan pada siklus II menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar siswa lebih tinggi dibanding siklus I. Dari hasil tes pada siklus II diperoleh nilai kognitif (prestasi belajar) rata-rata siswa sebesar 62,30 (Tabel 2) dan jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah dengan nilai ≥ 60,00 sebanyak 21 orang atau 56,75% (Tabel 2). Bila dilihat dari ketuntasan belajar siswa yang ditetapkan sekolah, hasil tindakan pada siklus II sudah menunjukkan keberhasilan yang memuaskan, namun bila dilihat dari kriteria keberhasilan tindakan, prestasi belajar yang dicapai pada siklus II ini juga masih belum mencapai hasil yang diinginkan (80% siswa memperoleh nilai ≥ 70,00). Dari hasil evaluasi (Tabel 2) hanya 24,32% siswa yang memperoleh nilai ≥ 70,00. Meskipun hasil ini belum memenuhi indikator keberhasilan tindakan, tetapi jika dibandingkan dengan nilai kognitif rata-rata siswa pada siklus I, pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 23,93%. Sedangkan terhadap nilai psikomotor atau aktivitas praktikum siswa (Tabel 1) menunjukkan menunjukkan bahwa pada siklus II kriteria keberhasilan tindakan sudah tercapai (91,89% siswa yang memperoleh nilai psikomotor 70,00). Jika dibandingkan dengan nilai psikomotor siswa pada siklus I, maka pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 8,77%. Hasil wawancara dengan siswa (terutama pointer 4) menunjukkan bahwa pada siklus II terdapat siswa yang masih merasa belum yakin bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum dapat menggantikan bahan kimia sintetik dan dapat dijadikan bahan kajian teoritis untuk membahas materi pokok dalam mencapai kompetensi sebanyak 6 orang (58,33%), siswa lainnya sudah merasa yakin (Tabel 3). Demikian pula, pointer-pointer lainnya mengalami peningkatan jumlah siswa yang menjawab positif dibandingkan pada sikjlus I. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa agar siswa yakin betul dengan pembelajaran yang dikembangkan, maka pada pada siklus berikutnya masih diperlukan bimbingan dari guru yang lebih intensif.

Berdasarkan hasil observasi dan refleksi, semua tim peneliti menyatakan bahwa pembelajaran pada siklus II masih memiliki beberapa kelemahan dan merupakan indikasi belum tercapainya indikator keberhasilan tindakan. Kelemahan pembelajaran yang muncul pada siklus II adalah 1. paradigma lama guru masih terlihat, dalam hal ini guru masih dominan dalam pembelajaran. 2. diagnostik dan pembimbingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar oleh guru belum maksimal. 3. guru masih belum memberikan waktu tunggu yang cukup kepada siswa untuk menjawab pertanyaan, disebabkan waktu yang terbatas. Siklus III berlangsung selama 4 x 2 x 45 menit atau empat kali pertemuan. Materi yang diajarkan dalam proses pembelajaran ini adalah Hukum Dasar Kimia. Proses pembelajaran berlangsung sebagaimana siklus I dan siklus II dengan perbaikan beberapa teknik pembelajaran sesuai hasil refleksi pada siklus II. Praktikum yang dilaksanakan pada siklus III sebanyak 4 kali praktikum, yaitu tentang Hukum Lavoisier, Hukum Proust, Konsep Mol, dan Volume Molar. Sebagaimana pada siklus II, ternyata pada siklus III siswa sangat antusias dalam pembelajaran, demikian pula bila dilihat dari ketetapatan mengumpulkan tugas pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru pada siklus III juga menunjukkan bahwa minat dan motivasi belajar siswa sangat tinggi. Tes hasil belajar yang dilakukan pada akhir siklus III diperoleh nilai rata-rata siswa sebesar 74,61 (Tabel 2) dan jumlah siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan belajar yang ditetapkan sekolah dengan nilai ≥ 60,00 sudah mencapai 89,19% (Tabel 2). Bila dilihat dari kriteria keberhasilan tindakan, nilai hasil belajar yang dicapai pada siklus III ini juga masih belum mencapai hasil yang diinginkan (80% siswa memperoleh nilai ≥ 70,00). Dari hasil evaluasi (Tabel 2) siswa yang memperoleh nilai ≥ 70,00 sebanyak 78,38%. Meskipun hasil ini belum memenuhi indikator keberhasilan tindakan, tetapi jika dibandingkan dengan nilai rata-rata hasil belajar yang dicapai siswa pada siklus II, pada siklus III mengalami

peningkatan sebesar 19,76 %. Hasil penilaian terhadap aktivitas praktikum siswa atau nilai psikomotor (Tabel 1) menunjukkan bahwa pada siklus III sama dengan siklus II, yaitu indikator keberhasilan tindakan sudah terpenuhi (94,59% siswa memperoleh nilai psikomotor ≥ 70,00). Jika dibandingkan dengan nilai psikomotor rata-rata yang dicapai siswa pada siklus II, maka pada siklus III mengalami peningkatan sebesar 4,56%. Hasil wawancara dengan siswa (Tabel 3. pointer 1, 2, dan 5) menunjukkan bahwa sebagian siswa menganggap pembelajaran yang dikembangkan guru memang menarik namun materi yang dibahas lebih rumit dibanding materi sebelumnya. Di samping itu, presentasi yang dilakukan oleh siswa secara kelompok pada setiap akhir praktikum tidak banyak memperoleh ide dan masukan atau pendapat dari temannya atau anggota kelompoknya. Namun, bila dilihat dari pointer lain, menunjukkan bahwa lebih dari 75,00% siswa sudah merasa yakin bahwa pembelajaran dengan metode eksperimen menggunakan bahan sehari-hari dapat menggantikan bahan kimia sintetik dan dapat dijadikan bahan kajian teoritis untuk membahas materi pokok dalam mencapai kompetensi. Pada kegiatan refleksi dinyatakan bahwa pembelajaran pada siklus III masih memiliki beberapa kelemahan, antara lain: 1. guru masih belum memberikan waktu tunggu yang cukup kepada siswa untuk menjawab pertanyaan dan menyampaikan pendapatnya. 2. bimbingan guru pada siswa untuk membuat kesimpulan sendiri melalui kelompok belum maksimal, disebabkan keterbatasan waktu dan banyaknya siswa yang membutuhkan bimbingan secara individu. Di samping itu, beberapa saran siswa yang berhasil diperoleh melalui wawancara (pointer 8) adalah 1. hendaknya guru dapat merinci soal-soal yang tidak dapat dikerjakan siswa, dan menginventarisir konsep-konsep essensial yang tidak mudah disampaikan melalui kegiatan praktikum, diskusi, dan presentasi, terutama dengan menggunakan bahan sehari-hari. 2. diskusi yang diselenggarakan hendaknya disesuaikan dengan waktu jam pelajaran, sehingga tidak sering melebihi waktu jam pelajaran.

3. pemanfaatan waktu belajar dan praktikum kurang efektif, dimana pengaturan waktu praktikum, latihan, penjelasan guru, diskusi, dan presentasi mestinya diperhitungkan secara proporsional, sehingga tidak mengganggu jam pelajaran lain. Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa pemanfaatan bahan-bahan lingkungan untuk kegiatan praktikum kimia di kelas X SMA Swadhipa Natar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa baik prestasi kognitif maupun prestasi psikomoriknya. Hasil penelitian ini tidak berbeda dengan penelitian terdahulu (Sunyono, 2003 dan 2005). Penelitian ini juga telah dapat menerapkan dan mengambangkan prakarsa Synder (1992), Duffy (1995), dan Kanda (1995). KESIMPULAN Berdasarkan hasil peneltian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kimia kelas X semester 1 SMA Swadhipa Natar melalui metode eksperimen berbasis lingkungan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dari siklus ke siklus, baik prestasi kognitif maupun prastasi psikomorik siswa. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapapan terimaksih penulis sampaikan kepada Kepala SMA Swadhipa Natar, sebagai mitra dalam penelitian ini, dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi (PPTK & KPT), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional yang telah membiayai penelitian tindakan kelas ini melalui Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor: 237/8104/P2TK&KPT/2006, Tanggal 3 Maret 2006. DAFTAR PUSTAKA Duffy, D.G., Show, S.A., Bare, W.D., and Goldsby, K.A., 1995. More Chemistry in a Soda Bottle, A Conversation of Mass Activity., Journal of Chemical Education, 72 (8), 734 – 736. Derr, H.R., Lewis, T., and Derr, B.J., 2000. Gas Me Up, or A Baking Powder Diver. Journal of Chemical Education, 77 (2), 171 – 172. Kanda, N., Asano, T., and Itoh, T., 1995. Preparing Chamelon Balls from Natural Plants, Simple Handmade pH Indicator and Teaching Material for Chemical Equilibrium. Journal of Chemical Education, 72 (12), 1131 – 1132.

Muh Farid., Sunyono., dan Diah Eko Ermiwanti., 2001. Upaya Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas I Cawu 3 SMU Negeri 1 Bandar Lampung melalui Penerapan Tes Awal dan Tes Akhir. Laporan Penelitian Tindakan Kelas – Proyek PGSM Dikti., Universitas Lampung. Nina Kadaritna., Sunyono., Sungkowo, dan Haria Etty, S.M., 2000. Penggunaan Pendekatan Keterampilan Proses dalam Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Kimia pada Siswa Kelas II SMU YP Unila Bandar Lampung Tahun Pelajaran 1999/2000. Laporan Penelitian Tindakan Kelas – Proyek PGSM Dikti., Universitas Lampung. Soetarjo, dan Soejitno, PO., 1998. Proses Belajar Mengajar dengan Metode Pendekatan Keterampilan Proses. Penerbit: SIC, Surabaya. Solomon, S., Hur, C., Lee, A., and Smith, K., 1996. Synthesis of Ethyl Salicylate Using Household Chemicals. Journal of Chemical Education,73(2),173-175. Sunyono, 2003., Penerapan Pembelajaran dengan Eksperimen Menggunakan Bahan Sehari-hari dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas I Semester Genap SMU Negeri Natar T.P.2001/2002. Laporan Hasil Penelitian. Universitas Lampung. ------------, 2005., Optimalisasi Pembelajaran Kimia pada Siswa Kelas XI Semester 1 SMA Swadhipa Natar melalui Penerapan Metode Eksperimen Menggunakan Bahan yang Ada di Lingkungan., Laporan Hasil Penelitian (PTK), Dit.PPTK & KPT Ditjen Dikti, 2005. ------------., 2007. Srtifikasi dan Profesionalisme Guru. Lampung Post (Rubrik Opini). Tanggal 21 September 2007, halaman 12. Synder, C.A., Synder, D.C., and DiStefano., 1992. Simple Soda Bottle Solubility and Equilibria. Journal of Chemical Education., 69 (7), 573.

Apakah PTK (Penelitian Tindakan Kelas), Karya Tulis Ilmiah
Posted on March 27, 2009 by mashudismada

APAKAH PTK ITU? PTK merupakan kajian reflektif untuk: Meningkatkan kemantapan rasional tindakan pembelajaranν Memperdalam pemahaman tindakan pembelajaranν Memperbaiki kondisi praktik pembelajaran (bertolak dari permasalahan pembelajaran)ν Penelitian tindakan kelas (PTK) adalah sebuah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya sendiriν (dilakukan dalam pembelajaran biasa bukan kelas khusus)ν dengan jalan merancang, melaksanakan, dan merefleksikan tindakanν secara kolaboratif dan partisipatif dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat. (Guru berperan sebagai pengajarν ν & pengumpul data) MENGAPA PERLU PTK? Penelitian akademik yang biasa dilakukan oleh expert tidak secara langsung dapat dimanfaatkan oleh guruν Penelitian tindakan kelas berhubungan langsung dengan upaya penyelesaian masalah pembelajaranν Guru berperan aktif dalam penelitian dinamika kelasν MENGAPA GURU PENTING MELAKUKAN PTK? Guru mempunyai otonomi untuk menilai kinerjanyaν Temuan penelitian tradisional sering sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaranν Guru merupakan orang yang paling akrab dengan kelasnyaν Interaksi guru-siswa berlangsung secara unikν Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan inovatif yang bersifatν pengembangan mempersyaratkan guru untuk mampu melakukan PTK di kelasnya. KARAKTERISTIK PTK Masalah : berawal dari guru (ditentukan oleh guru)ν Tujuannya : memperbaiki/meningkatkan kualitas pembelajaranν Metode utama: refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitianν

Fokus penelitian : kegiatan pembelajaranν Guru bertindak sebagai : pengajar dan peneliti.ν TUJUAN PTK Peningkatan mutu pembelajaran secara berkesinambunganν Mencobakan secara sistematis berbagai tindakan alternatif dalam memecahkan masalah pembelajaranν Menjamin proses pertumbuhan profesionalitas guruν MANFAAT PTK Meningkatkan kemandirian guru dalam melakukan inovasi pembelajaranν Memantapkan keyakinan epistemologis guruν Memantapkan “teori kecil” yang dibangun sendiri oleh guruν Wahana yang potensial untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikanν

PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA 3 SMA NEGERI 1 NATAR DENGAN METODE INQUIRY
• •

View clicks

Posted May 18th, 2009 by a.ifano

Administrasi Bisnis/Niaga

abstraks: PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA 3 SMA NEGERI 1 NATAR DENGAN METODE INQUIRY Oleh: (Guru SMA Negeri 1 Natar Lampung Selatan) ABSTRAK Hasil belajar siswa merupakan tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Berdasarkan penilaian sebelumnya hasil belajar biologi kelas XI SMA Negeri I Natar masih rendah, yaitu rata-rata 58, sedangkan kriteria ketuntasan belajar minimum, yaitu 68. Rendahnya hasil belajar tersebut diduga karena aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran masih rendah akibat dominasi metode ceramah, sehingga dalam hal ini diperlukan metode yang lebih tepat. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi untuk materi ”Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan” dengan metode inquiry pada siswa kelas XI IPA-3 SMA Negeri I Natar. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan September—November 2007 di kelas XI IPA-3 SMA Negeri I Natar Kabupaten Lampung Selatan, dengan jumlah siswa 39 orang. Data penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Cara pengambilan data ini menggunakan tes tertulis untuk mengukur hasil belajar siswa dan lembar observasi aktivitas siswa untuk menilai aspek psikomotorik dan afektif

siswa. Data yang diperoleh dari proses dan hasil pembelajaran diolah secara persentase dan tabel statistik sederhana, serta dianalisis secara diskriptif. Dari hasil observasi selama kegiatan PTK ini didapatkan data nilai psikomotorik siswa, yaitu secara klasikal, pada siklus I ketuntasan belajar belum tercapai, baru 32 orang (82,05%), sedangkan pada siklus II 35 orang (89,74) dan III semuanya (100%) sudah tercapai KKM. Dari aspek afektif yang sudah dapat melibatkan sebagian besar siswa hanya kegiatan diskusi, dan pengumpulan tugas tepat waktu, tetapi untuk semua aspek afektivitas terjadi peningkatan. Dari aspek kognitif, berdasarkan hasil tes formatif diperoleh data bahwa siswa yang sudah mencapai KKM pada siklus I 30 orang (76,92%), siklus II 34 orang (87,17%), dan siklus III 36 orang (92,30%) Dengan kata lain, bahwa aktivitas belajar dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. ___________ Kata kunci: peningka PENINGKATAN HASIL BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS XI IPA 3 SMA NEGERI 1 NATAR DENGAN METODE INQUIRY Oleh: (Guru SMA Negeri 1 Natar Lampung Selatan) ABSTRAK Hasil belajar siswa merupakan tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Berdasarkan penilaian sebelumnya hasil belajar biologi kelas XI SMA Negeri I Natar masih rendah, yaitu rata-rata 58, sedangkan kriteria ketuntasan belajar minimum, yaitu 68. Rendahnya hasil belajar tersebut diduga karena aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran masih rendah akibat dominasi metode ceramah, sehingga dalam hal ini diperlukan metode yang lebih tepat. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar biologi untuk materi ”Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan” dengan metode inquiry pada siswa kelas XI IPA-3 SMA Negeri I Natar. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan September—November 2007 di kelas XI IPA-3 SMA Negeri I Natar Kabupaten Lampung Selatan, dengan jumlah siswa 39 orang. Data penelitian ini berupa data kualitatif dan kuantitatif. Cara pengambilan data ini menggunakan tes tertulis untuk mengukur hasil belajar siswa dan lembar observasi aktivitas siswa untuk menilai aspek psikomotorik dan afektif siswa. Data yang diperoleh dari proses dan hasil pembelajaran diolah secara persentase dan tabel statistik sederhana, serta dianalisis secara diskriptif. Dari hasil observasi selama kegiatan PTK ini didapatkan data nilai psikomotorik siswa, yaitu secara klasikal, pada siklus I ketuntasan belajar belum tercapai, baru 32 orang (82,05%), sedangkan pada siklus II 35 orang (89,74) dan III semuanya (100%) sudah tercapai KKM. Dari aspek afektif yang sudah dapat melibatkan sebagian besar siswa hanya kegiatan diskusi, dan pengumpulan tugas tepat waktu, tetapi untuk semua aspek afektivitas terjadi peningkatan. Dari aspek kognitif, berdasarkan hasil tes formatif diperoleh data bahwa siswa yang sudah mencapai KKM pada siklus I 30 orang (76,92%), siklus II 34 orang (87,17%), dan siklus III 36 orang (92,30%) Dengan kata lain, bahwa aktivitas belajar dan hasil belajar siswa

mengalami peningkatan. ___________

Jumat, 2008 November 21
MERANGSANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI
MERANGSANG AKTIVITAS BELAJAR MANDIRI DENGAN STRATEGI “PEMBERIAN TUGAS TERPADU “ Scolastika Mariani , Sunarmi FMIPA, Universitas Negeri Semarang ABSTRAK . Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menerapkan belajar mandiri dengan strategi “pemberian tugas terpadu” (sebagai variabel yang diteliti) pada mahasiswa Jurusan Pendidikan Matematika UNNES Semester V. Penelitian tindakan kelas ini diterapkan pada mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang Semester V yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II. Data dianalisis secara deskriptif untuk hasil observasi dan membandingkan pretes dengan postes menggunakan uji t. Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus, tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan berdasarkan skenario pembelajaran yang sebelumnya telah disusun , pemantauan dengan lembar observasi untuk mahasiswa dan dosen , refleksi, evaluasi dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan. Hasil penelitian adalah sebagai berikut : secara umum ada peningkatan ketrampilanketrampilan menyelesaikan soal pada mahasiswa yaitu : kemampuan menganalisis masalah /soal untuk mencari cara penyelesaian, kelancaran mengerjakan soal-soal, kecermatan mengambil langkah-langkah dalam mengerjakan soal (dengan mengevaluasi jawaban soal-soal) dan kreativitas menemukan trik-trik dalam menyelesaikan soal-soal, beberapa aspek yang meningkat pada dosen antara lain : semangat dan kemampuan dosen dalam berkomunikasi dan menciptakan komunikasi yang timbal balik, semangat dan kemampuan dosen membimbing mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal dan kemampuan dosen menyemangati (memberi dorongan secara emosional) kepada

mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Nilai pretes berbeda secara statistik terhadap nilai postes pada siklus I, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, yaitu rata-rata nilai pretes siklus I = 70 dan nilai postes siklus I = 74, Hasil analisis pada siklus II mirip dengan hasil Siklus I, nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus II, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, rata-rata nilai pretes siklus II = 75,6667 dan nilai postes siklus II = 79,5556 , dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus II. Kata Kunci : Belajar mandiri dengan strategi “pemberian tugas terpadu”. PENDAHULUAN Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang diterapkan di Jurusan Matematika UNNES. Yang melatar belakangi masalah penelitian ini adalah : 1. Keprihatinan peneliti sebagai dosen di Universitas Negeri Semarang tentang prestasi mahasiswa yang kurang optimal. Diduga penyebabnya adalah kekurang-mampuan para mahasiswa mengelola, memotivasi, mengatur, mendisiplin diri dalam aktivitas belajar mandiri, sebab mahasiswa adalah orang dewasa yang diharapkan mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki sebaik mungkin, tanpa ketergantungan kepada dosen atau teman sebagai sumber belajar yang sangat terbatas. 2. Kemungkinan juga penyebabnya adalah dosen yang cenderung mengabaikan tugas mandiri mahasiswa atau persepsi para dosen yang kurang tepat tentang belajar mandiri, bahwa belajar mandiri merupakan usaha mengisolasi mahasiswa dari bimbingan dosen sehingga dosen sama sekali lepas dari proses belajar mahasiswa dan strategi dosen dalam pemberian tugas kurang terprogram, evaluasi proses belajar tidak serius, dan sebagainya. 3. Belajar mandiri membutuhkan kesiapan kondisi kognitif, afektif dan psikomotor serta fasilitas tertentu, dosen sebagai fasilitator dan pembimbing mahasiswa dalam belajar mandiri diharapkan memahami kondisi awal mahasiswa dan merencanakan benar-benar program belajar mandiri meliputi berbagai aspek dalam bentuk pemberian tugas dan teknik mengevaluasi tugas secara terpadu. 4. Dari daftar hadir mahasiswa di Perpustakaan baik Pusat maupun Jurusan secara umum maupun secara khusus yaitu mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika, tampak masih sedikit mahasiswa yang memanfaatkan perpustakaan sebagai sarana dan sumber belajar, padahal belajar mandiri dengan menggunakan sarana perpustakaan dan sarana-sarana lain strategis untuk memaksimalkan hasil belajar. 5. Tidak mungkin mengandalkan perkuliahan tatap muka dengan waktu yang terbatas untuk menuntaskan belajar apalagi mengharapkan mahasiswa memiliki wawasan yang lebih luas dari apa yang ditargetkan dosen dalam tujuan instruksional perkuliahan, kecuali mahasiswa mencari dan mendalami sendiri materi dari sumber-sumber lain melalui belajar mandiri. Dari uraian diatas muncul permasalahan yaitu : 1. Apakah pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa? 2. Apakah Lembaran Tugas Mandiri yang diberikan mampu merangsang mahasiswa

menggali informasi sebanyak-banyaknya dari Perpustakaan dan sumber belajar lain ? 3. Bagaimana hasil pemantauan dengan Lembar Observasi terhadap proses belajar mandiri terpadu tersebut di atas dipandang dari sudut mahasiswa dan dosen? Belajar mandiri didefinisikan sebagai usaha individu mahasiswa yang otonomi untuk mencapai suatu kompetensi akademis (Kozma, Belle, Williams, 1978: 201). Ketrampilan ini jika sudah dimiliki, dapat diterapkan dalam berbagai situasi, tidak hanya terbatas pada satu mata kuliah. Dengan ketrampilan tersebut mahasiswa akan mampu mengatasi tantangan baru tanpa ketergantungan pada pemecahan masalah tradisional atau pada orang lain. Belajar mandiri tidak sama dengan “pengajaran individu” (individualized instruction). Personalized System of Instruction (Keller), Computer Assisted Instruction, Programmed Instruction (Skinner) merupakan contoh dari pengajaran individu, namun bukan belajar mandiri. Walaupun demikian, sistem pengajaran individu merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengembangkan dan meningkatkan proses belajar mandiri ma hamahasiswa. Belajar mandiri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menentukan tujuan belajarnya, merencanakan proses belajarnya, menggunakan sumber-sumber belajar yang dipilihnya, membuat keputusan-keputusan akademis, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dipilihnyauntuk mencapai tujuan belajarnya. (Brookfield, 1984: 50). Mahasiswa secara aktif berpartisipasi dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana cara belajarnya. Belajar mandiri bukan merupakan usaha mengisolasi mahasiswa dari bimbingan dosen, karena dosen berfungsi sebagai sumber, pemandu dan memberi semangat. Belajar mandiri menunjukkan bahwa mahasiswa tidak tergantung pada supervisi dan pengarahan dosen yang terus menerus, tetapi mahasiswa juga mempunyai kreativitas dan inisiatif sendiri, serta mampu untuk bekerja sendiri dengan merujuk pada bimbingan yang diperolehnya (Self Directed Learning, Knowles, 1975: 23). Ketidakhadiran dosen, tidak adanya pertemuan tatap muka di kelas, dan ketidakhadiran teman-teman sesama mahasiswa bukan merupakan ciri utama belajar mandiri. Yang menjadi ciri utama dalam belajar mandiri adalah pengembangan dan peningkatan ketrampilan dan kemampuan mahasiswa untuk melakukan proses belajar secara mandiri, tidak tergantung pada faktor-faktor dosen, kelas, teman, dll. Peran utama dosen dalam belajar mandiri adalah sebagai konsultan dan fasilitator, bukan sebagai otoritas dan satu-satunya sumber ilmu. Dalam belajar mandiri , mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar atas proses belajarnya. Belajar mandiri mengharuskan mahasiswa menyelesaikan suatu tugas atau masalah melalui analisis, sintesis dan evaluasi suatu topik matakuliah secara mendalam, kadang-kadang juga melalui suatu kombinasi antara pengetahuaanya dengan pengetahuan yang diperoleh dari matakuliah lain. (Adderly & Ashwin, 1976). Dalam belajar mandiri mahasiwa mendapatkan pengalaman dan ketrampilan dalam hal penelusuran literatur, penelitian, analisis dan pemecahan masalah dan mereka mendapat kepuasan belajar melalui tugas-tugas yang diselesaikannya. Yang lebih penting lagi, ialah bahwa belajar mandiri dapat digunakan untuk mencapai tujuan akhir dari pendidikan, yaitu mahasiswa dapat menjadi dosen bagi dirinya sendiri. Aplikasi belajar mandiri menurut Paulina Pannen dalam “Belajar Mandiri” mencakup beberapa aspek, yaitu : a. Materi Penerapan belajar mandiri adalah untuk mencapai tujuan instruksional berdasarkan ranah kognitif dari jenjang terendah sampai tertinggi, misalnya menurut taksonomi Bloom dari

jenjang pengetahuan sampai evaluasi. Tujuan akhir belajar mandiri adalah pengembangan kompetensi intelektual mahasiswa. Belajar mandiri dapat membantu mahasiswa menjadi seseorang yang terampil dalam memecahkan masalah, menjadi manajer waktu yang unggul dan menjadi pembelajar yang trampil dalam belajar. b. Mahasiswa Mahasiswa dapat belajar mandiri jika ia telah menguasai ketrampilan-ketrampilan prasyarat, misalnya ketrampilan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia. Dengan demikian mahasiswa memerlukan bantuan dosen untuk menguasai ketrampilanketrampilan prasyarat. Tidak berarti hanya mahasiswa senior yang sudah mampu belajar mandiri. Mahasiswa yang mampu belajar mandiri adalah mahasiswa yang mampu mengontrol dirinya sendiri, mempunyai motivasi belajar yang tinggi, yakin akan dirinya, mempunyai orientasi/ wawasan yang luas, dan luwes. Biasanya mahasiswa yang luwes, mandiri dan tidak konformis akan dapat belajar mandiri. Namun dukungan dan bimbingan dosen biasanya tetap diperlukan oleh mahasiswa yang sudah dapat belajar mandiri. c. Dosen Peran dosen dalam proses belajar mandiri mahasiswa sangat penting dan sensitif. Dosen harus mampu memahami dan mengerti tujuan belajar mahasiswa, tanpa harus mengubah tujuan belajar mahasiswa menjadi tujuan pengajaran dosen, dosen harus membantu mahasiswa untuk menerjemahkan tujuan itu menjadi langkah-langkah belajar yang operasional dan membantu mahasiswa menerapkan langkah-langkah tersebut. Penentuan tujuan, sumber belajar, proses belajar, dan evaluasi harus dilakukan oleh dosen bersama mahasiswa. Kebutuhan dan harapan dari kedua belah pihak harus diperhitungkan dalam proses penentuan tersebut. Dosen juga diharapkan mempunyai waktu khusus untuk berdiskusi dan mengevaluasi hasil belajar mandiri mahasiswa. 4. Lingkungan Lingkungan yang mendukung proses belajar mandiri adalah lingkungan yang menantang, terbuka pada resiko, luwes, interdisiplin, dan tidak tradisional. Belajar mandiri memerlukan waktu yang dapat mengakomodasi kesalahan-kesalahan konsep dan memungkinkan terjadinya efek yang kumulatif. Dalam hal ini dosen harus memberikan waktu yang cukup serta penghargaan yang cukup agar mahasiswa dapat belajar mandiri. Beberapa strategi Belajar Mandiri adalah sebagai berikut : 1. Cara Pengajaran Pengembangan ketrampilan belajar mandiri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dosen membekali mahasiswa dengan strategi kognitif, dan dosen membimbing mahasiswa melalui kontrak perkuliahan. Berbekal strategi kognitif dan kontrak perkuliahan, mahasiswa akan melalui proses belajar secara mandiri. Dalam hal ini proses belajar yang akan dilalui adalah proses belajar yang sudah disetujui oleh mahasiswa dan dosen terutama mengenai topik, tujuan instruksional dan penilaian instruksionalnya. 2. Tujuan Belajar Mandiri Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah penentuan tujuan proses belajar mandiri dari suatu matakuliah, apakah untuk pencapaian ketrampilan atau pengetahuan tertentu atau untuk pengembangan kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri ? Jika mahasiswa diasumsikan sudah menguasai strategi kognitif yang dapat digunakan untuk belajar mandiri, maka tujuan proses belajar mandiri dari suatu matakuliah adalah pencapaian ketrampilan dan pengetahuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional matakuliah

tersebut. Kondisi ini dapat diterapkan untuk mahasiswa yang sudah terlatih untuk belajar mandiri, atau sudah mempunyai bekal strategi kognitif untuk belajar mandiri ( misalnya mahasiswa yang sudah cukup senior). Untuk mahasiswa yang baru saja masuk ke perdosenan tinggi, atau yang masih berada di semester rendah, maka tujuan proses belajar mandiri dari suatu matakuliah akan lebih banyak untuk pencapaian kebiasaan dan kemampuan belajar mandiri. Dosen perlu menyadari hal ini, sehingga pola bimbingan belajar dan pola pemberian tugas belajar mandiri bagi mahmahasiswa di semester rendah hendaknya berbeda dari pola bagi mahasiswa di semester lanjut. Belajar mandiri dapat juga dikembangkan melalui penggunaan materi instruksional yang tercetak maupun terekam yang diintegrasikan dengan perkuliahan. Contoh materi pekuliahan tercetak adalah handout, outline, tugas membaca terencana, buku kerja, silabus, buku pegangan mahasiswa dan modul. Contoh materi instruksional terekam adalah kaset audio, video, microfische/ microfilm, computer assisted instruction dan video interaktif. 3. Kriteria Evaluasi Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah kriteria untuk mengevaluasi proses belajar. Evaluasi harus berfokus pada pencapaian perilaku belajar mandiri yang dapat diukur, termasuk menentukan tujuan belajar, memilih sumber belajar, menganalisis dan mengevaluasi masalah dan memecahkan masalah. Dosen perlu membahas tentang kriteria evaluasi proses dan hasil belajar ketika membuat kontrak perkuliahan dengan mahasiswa, sehingga jelas bagi mahasiswa tentang kriteria keberhasilan mereka. Agar proses belajar lebih efektif, mahasiswa perlu menerapkan cara belajar yang membuat dirinya terlibat secara langsung, menunjukkan aktivitas mental dan fisiknya selama proses belajar tersebut. (Paulina Pannen, 1997: 25) Gagne (1974) mengidentifikasi delapan fase psikologis pokok yang terjadi dalam diri setiap orang yang sedang belajar, yakni : fase motivasi (afektif), fase pemerhatian (afektif), fase pemerolehan (kognitif), fase penyimpanan (kognitif), fase pengingatan (kognitif), fase generalisasi (kognitif), fase kinerja (psikomotor), fase umpan balik (kognitif & psikomotor), fase-fase ini harus dilalui mahasiswa agar dapat menyelesaikan tugas mandiri yang diberikan dosen dengan baik, yang dalam penelitian ini disebut sebagai kondisi awal prasyarat pengerjaan tugas mandiri. METODE Subyek Penelitian ini adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Semarang Program Studi Pendidikan Matematika Semester V yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II. Variabel yang akan diukur dalam penelitian ini adalah : (1). kinerja dosen selama perkuliahan dengan pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, (2). hasil belajar mahasiswa, (3). Kinerja mahasiswa selama perkuliahan dan proses belajar mandiri terpadu tersebut di atas. Data Variabel (1). kinerja dosen selama perkuliahan dengan pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor diambil dengan Lembar Observasi, variabel (2). hasil belajar mahasiswa diambil dengan tes, variabel (3). kinerja mahasiswa selama perkuliahan dan proses belajar mandiri terpadu tersebut di atas diambil dengan Lembar Observasi. Data kinerja dosen selama perkuliahan dengan pemberian tugas mandiri mahasiswa secara terpadu dengan memperhatikan berbagai aspek meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor dan kinerja mahasiswa selama perkuliahan dan proses belajar mandiri terpadu tersebut

dianalisis secara deskriptif dan hasil belajar mahasiswa dianalisis dengan uji t. Untuk menjawab permasalahan diatas, ada beberapa faktor yang akan diselidiki. Faktorfaktor tersebut adalah : · Faktor Mahasiswa : Akan diselidiki kondisi awal mahasiswa dengan menggunakan pretes (kognitif dan psikomotor) dan pedoman wawancara (afektif), sejauh mana keterlibatan dan partisipasi mahasiswa dalam proses belajar mandirinya diamati dengan pedoman pemantauan tugas, dan diselidiki ada tidaknya kenaikan hasil belajar mahasiswa setelah diterapkan “Pemberian Tugas Terpadu”, dengan membandingkan pre-tes dan postes. · Faktor Dosen : Mengamati kerja dosen (Peneliti) sebagai perencana, fasilitator, dan evaluator program perkuliahan mandiri mahasiswa dengan “Pemberian Tugas Terpadu” , diamati dengan pedoman observasi sistematis. Prosedur penelitian tindakan kelas ini terdiri 2 siklus . Tiap siklus dilaksanakan mulai perencanaan, persiapan tindakan , pelaksanaan tindakan , pemantauan, refleksilus, dan dilakukan penyimpulan-penyimpulan. a. Perencanaan · Menyusun tujuan instruksional. · Membuat skenario perkuliahan mandiri mahasiswa. · Menyusun pre-tes dan pos-tes · Mendesain Pedoman Pemantauan belajar mandiri mahasiswa. · Mendesain Pedoman Observasi Sistematis bagi kerja dosen selama Pelaksanaan Tindakan. b. Persiapan Tindakan · Melaksanakan pre-tes. · Melaksanakan wawancara pada mahasiswa. · Analisis pre-tes dan wawancara untuk menentukan karakteristik tugas mandiri yang diberikan pada mahasiswa. · Penyusunan Tugas Mandiri bagi mahasiswa. · Mempersiapkan media dan alat bantu yang diperlukan. · Memberikan pengarahan kepada mahasiswa tentang hakekat belajar mandiri dan tentang tugas yang akan diberikan. c. Pelaksanaan Tindakan Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah melaksanakan skenario yang direncanakan dan satuan perkuliahan yang dibuat, menugasi mahasiswa dengan tugas mandiri yang telah didesain. d. Observasi Pada tahap ini, mahasiswa menyelesaikan tugas mandiri dan dosen melakukan pemantauan (dengan Pedoman Pemantauan) terhadap kerja mahasiswa, sementara dosen lain (peneliti) mengamati kerja dosen sebagai fasilitator yang memberi tugas mandiri mahasiswa (dengan Pedoman Observasi Sistematis). Selanjutnya nilai pre-tes dan postes. e. Analisis, Refleksi dan Evaluasi HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan, dianalisis, dan dievaluasi oleh tim peneliti, kemudian dosen dapat merefleksi diri tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, faktor-faktor pendukung, penghambat, dari aspek

internal dan eksternal dosen dan mahasiswa. Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilaman perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi Secara umum aspek yang diobservasi pada mahasiswa ada peningkatan, terutama untuk hal-hal yang berhubungan dengan ketrampilan-ketrampilan menyelesaikan soal yaitu : kemampuan menganalisis masalah /soal untuk mencari cara penyelesaian, kelancaran mengerjakan soal-soal, kecermatan mengambil langkah-langkah dalam mengerjakan soal (dengan mengevaluasi jawaban soal-soal) dan kreativitas menemukan trik-trik dalam menyelesaikan soal-soal. Hal ini dapat dipahami sebab memang dalam tindakan kelas mahasiswa diberi stimuli yang bervariasi untuk menyelesaikan tugas-tugas mandiri, antara lain sebelum perkuliahan suatu topik, dijelaskan kegunaan topik tersebut untuk topik-topik lain dalam matematika atau kegunaannya dalam kehidupan sehari–hari, untuk soal-soal yang relatif sukar diberi sedikit petunjuk dan mahasiswa sering ditanya tentang kesulitannya dalam mengerjakan tugas mandiri bila bertemu diluar perkuliahan untuk memotivasi meskipun bila waktunya mendesak bertanyanya sambil lalu sudah menambah semangat Pembahasan Hasil Observasi untuk Dosen mereka. Tidak banyak perubahan dan peningkatan aspek-aspek yang diobservasi pada dosen, beberapa hal meningkat sehubungan dengan tuntutan penelitian ini yaitu hal-hal yang berkaitan dengan pemberian tugas terutama peningkatan pemberian stimuli pada mahasiswa agar lebih bersemangat dan gigih mengerjakan soal-soal atau tugas yang umumnya tidak mudah, antara lain : semangat dan kemampuan dosen dalam berkomunikasi dan menciptakan komunikasi yang timbal balik, semangat dan kemampuan dosen membimbing mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal dan kemampuan dosen menyemangati (memberi dorongan secara emosional) kepada mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Uji t untuk Nilai Pre-tes dan Pos-tes Siklus I Tabel 1. Ringkasan Perhitungan Siklus I Ringkasan Perhitungan Siklus I Rata- rata N Simpangan Baku Rata-rata Galat Baku Siklus I Pos-tes 74.0000 45 11.9469 1.7809 Pre-tes 70.0000 45 12.0133 1.7908

Tabel 2. Ringkasan Perhitungan Korelasi Siklus I Ringkasan Perhitungan Korelasi N Korelasi Signifikansi Siklus I Pos-tes & Pre-tes 45 .412 .005 Tabel 3. Ringkasan Perhitungan Uji t Siklus I Ringkasan Perhitungan Uji t Perbedaan Pasangan t dk Taraf Signifikansi (2 ekor) Rata- rata Simpangan Baku Rata- rata Galat Baku 95% Interval Konfidensi Bawah Atas Siklus I Postes - Pretes 4.0000 12.9948 1.9371 9.594E-02 7.9041 2.065 44 .045 Uji t untuk Nilai Pre-tes dan Pos-tes Siklus II Tabel 4. Ringkasan Perhitungan Siklus II

Ringkasan Perhitungan Siklus II Rata- rata N Simpangan Baku Rata-rata Galat Baku Siklus II Pos-tes 79.5556 45 8.6486 1.2893 Pre-tes 75.6667 45 8.5679 1.2772 Tabel 5. Ringkasan Perhitungan Korelasi Siklus II Ringkasan Perhitungan Korelasi N Korelasi Signifikansi Siklus II Pos-tes & Pre-tes 45 .257 .088 Tabel 6. Ringkasan Perhitungan Uji t Siklus II Ringkasan Perhitungan Uji t Perbedaan Pasangan t dk Taraf Signifikansi (2 ekor) Rata- rata Simpangan Baku Rata- rata Galat Baku 95% Interval Konfidensi

Bawah Atas Siklus II Postes - Pretes 3.8889 10.4929 1.5642 .7365 7.0413 2.486 44 .017 Perhatikan Tabel 3. , taraf signifikansi untuk uji t = 0,045 yang harganya kurang dari 0,05 tetapi lebih dari 0,01 (harga a) berarti nilai t hitung pada daerah penolakan, tetapi tidak ditolak dengan kuat sebab untuk a = 0,01 nilai t hitung pada daerah penerimaan. Sehingga dapat disimpulkan nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus I, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan. Perhatikan pula Tabel 1. bahwa rata-rata nilai pretes siklus I = 70 dan nilai postes siklus I = 74, tampak nilai postes secara nominal berbeda dengan nilai pretes, secara statistik berbeda tetapi tidak sangat berbeda. Dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus I. Dari hasil pengamatan , perenungan dan diskusi tim peneliti, dapat disimpulkan penyebab hasil tes di atas menjadi demikian, yaitu antara lain karena mahasiswa sudah terbiasa menerima tugas-tugas, baik tugas terstruktur maupun tugas mandiri dan penelitian tindakan kelas ini diterapkan pada mahasiswa semester atas yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II, umumnya mahasiswa tersebut sudah dewasa baik secara usia maupun kepribadian sehingga dengan stimuli yang diberikan untuk mengerjakan tugas-tugas mandiri mereka tidak sangat mempengaruhi kinerja maupun belajar mereka selama mengerjakan tugas mandiri. Kepribadian mahasiswa tersebut di atas sudah dewasa sehingga disiplin diri mereka sudah terbentuk, emosional mereka sudah mulai stabil, kesadaran mereka sudah tinggi tentang kuliah dan masa depan, sehingga stimuli yang diberikan memang berpengaruh tetapi tidak begitu tinggi. Perhatikan Tabel 6. , taraf signifikansi = 0,017 yang harganya kurang dari 0,05 tetapi lebih dari 0,01 (harga a) berarti nilai t hitung pada daerah penolakan, tetapi tidak ditolak dengan kuat sebab untuk a = 0,01 nilai t hitung pada daerah penerimaan. Hasil analisis ini mirip dengan hasil Siklus I. Sehingga dapat disimpulkan nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus II, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan. Perhatikan pula Tabel 4, bahwa rata-rata nilai pretes siklus II = 75,6667 dan nilai postes siklus II = 79,5556 , tampak nilai postes secara nominal berbeda dengan nilai pretes, secara statistik berbeda tetapi tidak sangat berbeda. Dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus II. SIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu : 1. Secara umum ada peningkatan ketrampilan-ketrampilan menyelesaikan soal pada

mahasiswa yaitu : kemampuan menganalisis masalah /soal untuk mencari cara penyelesaian, kelancaran mengerjakan soal-soal, kecermatan mengambil langkah-langkah dalam mengerjakan soal (dengan mengevaluasi jawaban soal-soal) dan kreativitas menemukan trik-trik dalam menyelesaikan soal-soal. 2. Tidak banyak perubahan dan peningkatan aspek-aspek pada dosen, beberapa hal yang meningkat antara lain : semangat dan kemampuan dosen dalam berkomunikasi dan menciptakan komunikasi yang timbal balik, semangat dan kemampuan dosen membimbing mahasiswa dalam mengerjakan soal-soal dan kemampuan dosen menyemangati (memberi dorongan secara emosional) kepada mahasiswa dalam proses belajar mengajar. 3. Nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus I, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, yaitu rata-rata nilai pretes siklus I = 70 dan nilai postes siklus I = 74, hal ini disebabkan antara lain karena mahasiswa sudah terbiasa menerima tugas-tugas, baik tugas terstruktur maupun tugas mandiri dan penelitian tindakan kelas ini diterapkan pada mahasiswa semester atas yang menempuh matakuliah Statistika Matematika II, umumnya mahasiswa tersebut sudah dewasa baik secara usia maupun kepribadian sehingga dengan stimuli yang diberikan untuk mengerjakan tugas-tugas mandiri mereka tidak sangat mempengaruhi kinerja maupun belajar mereka selama mengerjakan tugas mandiri. 4. Hasil analisis siklus II mirip dengan hasil Siklus I, nilai pretes berbeda secara statistik dengan nilai postes pada siklus II, tetapi tidak sangat berbeda, perbedaan itu tidak sangat signifikan, rata-rata nilai pretes siklus II = 75,6667 dan nilai postes siklus II = 79,5556 , dapat disimpulkan ada kenaikan, tetapi tidak begitu berarti antara nilai pretes dan postes siklus II. Dari hasil penelitian ini dapat disarankan beberapa hal : 1. Untuk perkuliahan-perkuliahan yang sukar dan banyak latihan soal/ tugas seperti Statistika Matematika II sangat cocok diterapkan perkuliahan dengan pemberian tugas terpadu, terutama untuk semester-semester rendah yang mahasiswanya masih membutuhkan banyak bimbingan dan stimuli dalam pemecahan-pemecahan masalah atau soal. 2. Dalam perkuliahan dan pemberian tugas baik tugas mandiri maupun tugas terstruktur sebaiknya dosen menerapkan pemberian stimuli yang kompleks meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. DAFTAR PUSTAKA Houle, C. 1961. The Inquiring Mind. University of Madison Press. Madison. Lily Budiardjo, Dra., M.Sc. 1997. Dosen dan Pemberian Tugas. (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta. Paulina Pannen, Dr., Ida Malati S.,M.Ed., Drh. 1997. Pendidikan Orang Dewasa (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

Paulina Pannen, Dr. 1997. Belajar Mandiri (Dalam “Mengajar di Perguruan Tinggi bagian II”). PAU PPAI Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA MELALUI PEMBELAJARAN INKUIRI (PTK pada Siswa Kelas VIII-B SMPN 1 Kotaagung Semester Genap) Oleh Reni Dewi Mailani1, Agus Suyatna2, I Dewa Putu Nyeneng2
1

Alumnus Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Unila 2 Dosen Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Unila

Abstract. Base on the result of science interview in SMP Negeri I Kota Agung found that the cause of low achievement result is the use of classical method. The aim of this research are; to identify the increase of student activities and increase result study of students by using inquiry method especially for Force , Newton Law, work and energy subject matter. Steps used in inquiry method are questioning, problem formulating, formulating hypothesis, plan experiment, doing experiment to prove hvpothesis, and doing discussion.The result of the research are ; (1) students activities increased ; 60,15, in first cycle, decrease to 57,78 in second cycle,increase again to75,97in thirtd cycle;and become 80,23 in fourth cycle (2) the average of students achievement is 68,01 in first cycle,decrease to 62,31, increase to 75,00 in third cycle, and 80,41 in fourth cycle and 87,15. Keywords: inquiry method , activities, achievement. PENDAHULUAN
Berdasarkan wawancara dengan guru bidang studi IPA di SMP N 1 Kotaagung, diperoleh informasi bahwa selama ini metode pembelajaran yang digunakan masih klasikal, keterlibatan guru selama pembelajaran masih dominan, sehingga siswa tidak terlibat secara langsung selama pembelajaran. Siswa cenderung selalu menerima apa saja yang diberikan guru, tidak termotivasi

untuk turut aktif selama pembelajaran, dan tidak memiliki buku penuntun lain selain LKS yang disediakan dari sekolah. Selain itu, peralatan laboratorium yang kurang lengkap mengakibatkan tidak dimanfaatkannya semaksimal mungkin selama pembelajaran, sehingga siswa kurang terlatih untuk melakukan suatu eksperimen dalam rangka menjawab pertanyaan dan melakukan penemuan untuk memperoleh pemahaman baru. Sesuai dengan informasi tersebut, diketahui bahwa siswa kurang aktif dalam pembelajaran, hal ini sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Akibat kekurangaktifan siswa selama pembelajaran, mengakibatkan hasil belajar menjadi rendah. Salah satu metode pembelajaran yang diketahui dapat mengaktifkan siswa yaitu metode inkuiri. Metode pembelajaran inkuiri merupakan metode pembelajaran yang berupaya menanamkan dasar-dasar berfikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa dilibatkan untuk lebih aktif dan mengembangkan kreativitas dalam memecahkan masalah.

Kardi (2003) menyatakan bahwa inkuiri pada dasarnya dipandang sebagai suatu proses untuk menjawab pertanyaan dan memecahkan masalah berdasarkan fakta dan observasi. Dari sudut pandang pembelajaran, model umum inkuiri adalah strategi belajar mengajar yang dirancang untuk membimbing siswa bagaimana meneliti masalah dan pertanyaan berdasarkan fakta. Sedangkan menurut Roestiyah (1991), inkuiri adalah cara guru mengajar yang pelaksanaannya guru memberi tugas meneliti sesuatu masalah di kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugas di dalam kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan, lalu dibuat laporan yang tersusun dengan baik. Keunggulan-keunggulan metode inkuiri menurut Roestiyah (1998) yaitu: 1) dapat mem-bentuk dan mengembangkan “sel-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik; 2) membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru; 3) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka; 4) mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri; 5) memberi kepuasan yang bersifat intrinsik; 6) situasi proses belajar menjadi lebih merangsang; 7) dapat mengem-bangkan bakat atau kecakapan individu; 8) memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri; (9) siswa dapat menghindari siswa dari cara-cara belajar yang tradisional; 10) dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Pembelajaran inkuiri dapat mengoptimalkan keterlibatan pengalaman langsung siswa dalam proses pembelajaran. Peran guru di dalam pembelajaran inkuiri sebagai pemberi bimbingan, arahan jika diperlukan oleh siswa. Tahapantahapan inkuiri menurut Hamalik (2004) yaitu: 1) mengajukan pertanyaanpertanyaan; 2) merumuskan masalah; 3) merumuskan hipotesis-hipotesis; 4) merancang pendekatan investigatif yang meliputi eksperimen; 5) melaksanakan eksperimen; 6) mensintesiskan pengetahuan;7) memiliki sikap ilmiah, antara lain objektif, ingin tahu, keterbukaan, menginginkan dan menghormati model-model teoritis, serta bertanggung jawab. Sedangkan Langkah-langkah inkuiri menurut

Sanjaya (2007:199) yaitu: 1) orientasi; 2) merumuskan masalah; 3) mengajukan hipotesis; 4) mengumpulkan data; 5) menguji hipotesis; dan 6) merumuskan kesimpulan.
Dalam penelitian ini, langkah-langkah pembelajaran inkuiri menggunakan langkah-langkah dari gabungan pendapat Hamalik dan Sanjaya, yaitu: 1) mengajukan pertanyaan-pertanyaan, 2) merumuskan masalah; 3) merumuskan hipotesis-hipotesis; 4) mengumpulkan data; dan 5) merumuskan kesimpulan. Keberhasilan kegiatan pembelajaran ditentukan oleh bagaimana kegiatan interaksi dalam pembelajaran tersebut. Semakin aktif siswa selama pembelajaran, semakin banyak pula pengalaman belajar yang akan diperoleh siswa dan tujuan pembelajaran akan tercapai. Aktivitas merupakan segala sesuatu yang dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan. Tanpa ada aktivitas maka proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar, maka proses pembelajaran yang terjadi akan semakin baik. Menurut Sardiman (1994), belajar adalah berbuat dan sekaligus proses yang membuat anak didik harus aktif. Aktivitas belajar merupakan prinsip atau azas yang sangat penting di dalam interaksi belajar mengajar. Ibrahim dan Syaodih (1996) menyatakan bahwa dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya merencanakan pengajaran yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Aktivitas yang diamati pada penelitian ini yaitu diskusi dalam kelompok, membuat hipotesis, merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, dan mengambil kesimpulan. Hasil belajar merupakan bukti dari usaha yang dilakukan dalam kegiatan belajar dan merupakan nilai yang diperoleh siswa dari proses belajar. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Abdurrahman (1999) bahwa hasil belajar merupakan kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Dimyati dan Mudjiono (1999) berpendapat bahwa hasil belajar adalah hasil dari suatu interaksi dari tindak belajar dan tindak mengajar. Bagi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar. Sedangkan dari sisi guru hasil belajar merupakan suatu pencapaian tujuan pengajaran.

Berdasarkan uraian di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pakah pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi peningkatan aktivitas siswa melalui pembelajaran inkuiri dan peningkatan hasil belajar siswa melalui pembelajaran inkuiri. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi: 1) siswa, untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran; 2) guru, sebagai masukan dalam kegiatan pembelajaran fisika melalui pembelajaran inkuiri dan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa dan menentukan bentuk tindakan yang sesuai guna meningkatkan hasil belajar fisika siswa. METODE PENELITIAN Subjek penelitian ini adalah siswa SMP N 1 Kota Agung, kelas VIIIB semester genap tahun pelajaran 2007/2008. Jumlah siswa kelas VIIIB adalah 48 siswa, terdiri dari 22 siswa laki-laki dan 26 siswa perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam 4 siklus dengan proses kajian berdaur ulang yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan,

tindakan, observasi dan refleksi. Tahap-tahap yang dilakukan dalam penelitian ini diadaptasi dari rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) oleh Hopkins (1993) dalam Aqib (2007). Pelaksanaan Pembelajaran terdiri atas 4 siklus. Pada siklus I diawali dengan pembagian atau pendistribusian siswa ke dalam suatu kelompok belajar. Satu kelompok belajar beranggotakan 8 orang siswa, dimana setiap anggota kelompok memiliki karakteristik yang heterogen. Setelah dikelompokkan, terdapatlah 6 buah kelompok belajar. Selain itu, guru juga memperkenalkan secara singkat mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan. Selama pembelajaran pada siklus II, III, dan IV, tetap menggunakan kelompok belajar yang telah dibentuk pada siklus I. Pada masing-masing siklus, guru memberikan suatu permasalahan yang sama kepada setiap kelompok, kemudian guru membimbing siswa untuk menghubungkan pengalaman yang ada dengan permasalahan yang dihadapkan pada siswa dengan tujuan untuk merumuskan hipotesis dari permasalahan yang telah ada. Guru membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok, dan meminta masing-masing kelompok untuk melakukan percobaan guna memperoleh data yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis. Masing-masing kelompok melakukan percobaan yang sama, namun guru berkeliling ke tiap kelompok untuk membantu jika kelompok kesulitan dalam melakukan percobaan. Presentasi dilakukan setelah tiap kelompok selesai melakukan percobaan. Presentasi dilakukan oleh dua buah kelompok yang dilakukan secara acak. Melalui presentasi ini, guru dapat membimbing siswa pada pemahaman tentang konsep dari materi yang dipelajari Guru memberi penguatan materi dengan menanamkan konsep yang benar yang tetap mengacu pada permasalahan-permasalahan yang diberikan. Diakhir setiap siklus dilakukan tes untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi yang sudah dipelajari setelah diterapkannya pembelajaran inkuiri. Data penelitian ini berupa: a) data kualitatif, yaitu data aktivitas siswa dan guru peneliti, dan b) data kuantitatif, yaitu data hasil belajar siswa berupa aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Data aktivitas siswa dan guru peneliti diperoleh dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa dan guru peneliti. Data hasil belajar siswa untuk aspek kognitif diperoleh dengan tes formatif yang dilakukan pada setiap akhir siklus, untuk aspek afektif siswa diperoleh dengan menggunakan angket afektif, dan untuk aspek psikomotor diperoleh dengan menggunakan lembar penilaian untuk mengetahui kemampuan siswa. Data hasil observasi aktivitas siswa dianalisis dengan menggunakan rumus: % Aktivitas siswa = Skor yang diperoleh Skor maksimal setiap siswa x 100%

Nilai rata-rata aktivitas siswa = Σ % Skor aktivitas setiap siswa Σ Siswa Untuk menentukan kategori aktivitas siswa digunakan pedoman menurut Memes (2001): Bila nilai aktivitas siswa ≥ 75,6, maka dikategorikan aktif. Bila 59,4 ≤ nilai aktivitas < 75,6, maka dikategorikan cukup aktif. Bila nilai aktivitas < 59,4, maka diketegorikan kurang aktif. Data hasil belajar siswa diperoleh dari total penjumlahan nilai aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam penelitian ini, nilai total diperoleh dari 10% afektif, 70% kognitif dan 20% psikomotor. Nilai rata-rata hasil belajar siswa secara keseluruhan, diperoleh dengan perhitungan menggunakan rumus: Nilai rata-rata hasil belajar siswa = Σ Nilai total hasil belajar setiap siswa Σ Siswa
Penilaian hasil belajar menurut Arikunto (2001), menyatakan bahwa: Bila nilai siswa ≥ 66, maka dikategorikan baik, bila 55 ≤ nilai siswa < 66 maka dikategorikan cukup baik, bila nilai siswa < 55 maka dikategorikan kurang baik.

Aspek yang diamati pada lembar observasi aktivitas guru peneliti meliputi keterampilan merencanakan kegiatan pembelajaran, keterampilan melaksanakan kegiatan pembelajaran dan hubungan pribadi antara siswa dan guru. Hasil persentase rata-rata nilai setiap aspek yang teramati dikonversikan dengan pedoman penilaian yang dimodifikasi dari supervisi kelas diSMP N 3 Bandar Lampung, kriteria A nilai 76-100 predikat baik sekali, kriteria B nilai 66-75 predikat baik, kriteria C nilai 55-65 predikat cukup, dan kriteria D nilai 0-55 predikat kurang baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Observasi Aktivitas Siswa Hasil observasi aktivitas siswa dari siklus ke siklus dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut: Tabel 1. Data distribusi aktivitas siswa
Siklus I Kategori Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Jumlah Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Jumlah Aktif Cukup Aktif Jumlah 5 18 25 48 4 16 27 47 28 18 % Siswa 10,42 37,50 52,08 100 8,51 34,04 57,45 100 58,33 37,50 % Aktivitas Siswa 60,14

II

57,78

III

75,97

IV

Kurang Aktif Jumlah Aktif Cukup Aktif Kurang Aktif Jumlah

2 48 40 3 5 48

4,17 100 83,33 6,25 10,42 100

80,23

Hasil Observasi Aktivitas Guru Peneliti Hasil observasi aktivitas guru dari siklus ke siklus dapat dilihat pada Tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Data aktivitas guru peneliti
Siklus I II III IV Keterampilan Merencanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan kegiatan pembelajaran Hubungan pribadi antara siswa dan guru Merencanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan kegiatan pembelajaran Hubungan pribadi antara siswa dan guru Merencanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan kegiatan pembelajaran Hubungan pribadi antara siswa dan guru Merencanakan kegiatan pembelajaran Melaksanakan kegiatan pembelajaran Hubungan pribadi antara siswa dan guru Nilai 82,50 78,00 76,00 86,00 79,3 80,5 86 80,67 80,5 89,50 82,89 82,50 Huruf Mutu A A A A A A A A A A A A Predikat Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Baik sekali Rataan 78,83 81,93 82,39 84,96

Hasil Belajar Fisika Siswa Data hasil belajar siswa dari siklus ke siklus dapat dilihat pada Tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3. Data hasil belajar siswa Aspek Rata-rata nilai hasil belajar siswa Siklus I Siklus II Siklus III Kognitif 69,95 64,11 77,50 Afektif 67,21 68,29 73,73 Psikomotor 50,36 54,25 66,94 Nilai Total 68,01 62,31 75,00 Pembahasan Deskripsi aktivitas siswa dalam pembelajaran
Aktivitas siswa tidak selalu mengalami peningkatan tiap siklusnya. Pada siklus I, persentase aktivitas siswa sebesar 60,14% dengan kategori cukup aktif. Pada siklus ini, masing-masing kelompok terlihat cukup aktif pada saat merumuskan hipotesis dan merencanakan kegiatan. Kecukupaktifan tersebut dikarenakan siswa merasa senang dengan pembelajaran inkuiri yang baru pertama kalinya mereka dapatkan. Hal ini tampak ketika guru memberikan suatu permasalahan kepada masing-masing kelompok, mereka terlihat cukup aktif untuk memberikan hipotesis. Selain itu, pada saat merencanakan percobaan, sebagian besar siswa cukup aktif

Siklus IV 83,26 74,10 73,61 80,41

bertanya bagaimana cara penggunaan peralatan khususnya neraca pegas, sehingga mereka tidak mengalami kesulitan saat menggunakannya. Pada siklus II, persentase aktivitas siswa sebesar 57,78% dengan kategori kurang aktif dan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan siklus I sebesar 2,36%. Hal ini disebabkan karena adanya kekurangaktifan siswa pada saat melaksanakan kegiatan dan diskusi. Meskipun guru telah menyediakan lembar kerja untuk masing-masing kelompok guna melakukan eksperimen dan bahkan telah membimbing secara langsung,tetapi masih ada juga kelompok yang kurang memperhatikan petunjuk-petunjuk yang ada pada lembar kerja sehingga kurang sistematis dalam melakukan eksperimen. Pada saat diskusi pun, mereka malu untuk bertanya atau mengemukaan pendapat, mereka cenderung diam dan pasif. Pada siklus III, persentase aktivitas siswa sebesar 75,97% dengan kategori aktif dan mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan siklus II sebesar 18,19%. Hal ini dikarenakan siswa mulai kembali tampak serius selama pembelajaran berlangsung. Masing-masing kelompok telah menunjukkan kerja sama yang baik selama pembelajaran berlangsung. Mereka terlihat aktif ketika merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, serta melaksanakan percobaan sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang ada pada lembar kerja, sehingga kesistematisan dalam melakukan percobaan mulai terlihat kembali. Pada siklus IV, persentase aktivitas siswa sebesar 80,23% dengan kategori aktif dan mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan siklus III sebesar 4,26%. Pada siklus ini, terlihat adanya peningkatan yang signifikan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Secara umum aktivitas siswa tergolong aktif, mulai dari merumuskan hipotesis hingga mengambil kesimpulan. Mereka menyadari bahwa keseriusan mereka mengikuti pembelajaran dengan lebih baik akan mempengaruhi hasil belajar mereka sendiri. Hasil analisis dari keempat siklus tersebut, menunjukkan adanya peningkatan aktivitas siswa dalam berbagai aspek yang diamati, meskipun pada siklus II mengalami penurunan, namun pada siklus III dan IV kembali meningkat. Deskripsi aktivitas guru peneliti Pada siklus I, aktivitas guru peneliti tergolong baik sekali. Meskipun demikian, ada beberapa indikator yang belum guru peneliti lakukan secara baik, misalnya membimbing siswa menentukan hipotesis, mengarahkan siswa dalam menyimpulkan hasil diskusi, volume suara yang kecil saat menjelaskan materi di dalam kelas, membimbing siswa untuk saling bekerja sama dalam kelompoknya. Pada siklus II, aktivitas guru dalam pembelajaran inkuiri lebih baik jika dibandingkan dengan siklus I. Sebagian besar aktivitas guru yang sesuai dengan pembelajaran inkuiri dapat diterapkan dengan baik sekali. Guru telah mengarahkan siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi dengan baik sekali. Selain itu, guru telah menunjukan adanya adanya kemajuan yang lebih baik saat membimbing siswa untuk merumuskan hipotesis. Namun pada saat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya belum dilakukan dengan lebih baik. Pada siklus III, telah menunjukkan adanya peningkatan yang lebih baik dibandingkan dengan siklus I dan II. Kekurangan siklus ini adalah guru belum mampu memotivasi siswa dan menciptakan kondisi kelas yang kondusif untuk pembelajaran dengan lebih baik lagi. Pada siklus IV, pembelajaran inkuiri yang dikelola guru peneliti dinilai guru mitra semakin baik lagi bila dibandingkan tiga siklus sebelumnya. Hal ini ini terlihat dari semua aspek aktivitas yang sesuai dengan pembelajaran inkuiri telah dilakukan guru peneliti dengan baik sekali, didukung oleh antusiasme dari siswa itu sendiri yang semakin baik dibandingkan siklus-siklus sebelumnya. Deskripsi hasil belajar siswa

Berdasarkan data hasil belajar siswa, dapat dilihat bahwa rata-rata hasil belajar siswa mengalami penurunan pada siklus II, namun kembali meningkat pada siklus III dan IV. Pada siklus I, untuk ranah kognitif siswa mempunyai rata-rata sebesar 69,95 dengan kategori aktif. Nilai terendah 35 dan nilai tertinggi 90. Pada siklus II , untuk ranah kognitif siswa mencapai 64,11 dengan kategori cukup aktif. Nilai terendah 40 dan nilai tertinggi 90. Pada siklus II ini mengalami penurunan karena pada siklus ini siswa masih belum melibatkan diri secara optimal dalam pembelajaran dan berakibat siswa tidak bisa menjawab dengan benar pertanyaan yang diajukan pada tes tertulis siklus II yang sebagian besar berhubungan dengan pengamatan hasil eksperimen dan pengenalan materi yang disampaikan guru peneliti. Pada siklus III , untuk ranah kognitif siswa mencapai 77,50 dengan kategori aktif. Nilai terendah 37,50 dan nilai tertinggi 100. Sedangkan pada siklus IV , untuk ranah kognitif siswa mencapai 83,26 dengan kategori aktif. Nilai terendah 37,50 dan nilai tertinggi 100. Meningkatnya ranah kognitif siswa pada siklus III dan IV dikarenakan guru dalam hal penyampaian materi pelajaran telah baik, siswa memiliki antusias dalam belajar sehingga mereka tampak bersemangat dalam belajar. Pada siklus I, untuk ranah psikomotor memiliki rata-rata sebesar 50,36, pada siklus II mempunyai rata-rata sebesar 54,25, pada siklus III mempunyai rata-rata sebesar 66,94, dan pada siklus IV mempunyai rata-rata sebesar 73,61. Meningkatnya rata-rata tersebut untuk setiap siklusnya dikarenakan percobaan yang dilakukan merupakan percobaan yang sederhana dan secara tidak sengaja sering mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Pada siklus I, untuk ranah afektif mempunyai rata-rata sebesar 67,21, pada siklus II mempunyai rata-rata sebesar 68,29, pada siklus III mempunyai rata-rata sebesar 73,73, dan pada siklus IV mempunyai rata-rata sebesar 74,10. Meningkatnya rata-rata tersebut untuk setiap siklusnya dikarenakan siswa memiliki antusias serta motovasi yang tinggi selama mengikuti pembelajaran dengan metode inkuiri, selain itu mereka sangat senang sekali dengan pembelajaran inkuiri karena mereka dapat terlibat lebih aktif dalam pembelajaran, dan mereka dapat menemukan sendiri konsep pengetahuan melalui pembuktian hipotesis atas permasalahan yang dihadapi. Dengan meningkatnya ranah kognitif, psikomotor, dan afektif, maka hasil belajar siswa ikut meningkat. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian pada pembelajaran inkuiri yang dilaksanakan di SMP N 1 Kotaagung, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1) rata-rata aktivitas siswa yang sesuai dengan aspek yang diamati selama pembelajaran inkuiri pada siklus I sebesar 60,14. Pada siklus II mengalami penurunan menjadi 57,78. Sedangkan pada siklus III kembali meningkat sebesar 75,97, kemudian pada siklus IV lebih meningkat lagi menjadi 80,23; 2) rata-rata hasil belajar siswa terhadap pelajaran fisika setelah diterapkannya pembelajaran inkuiri pada siklus I sebesar 68,01. Hasil belajar siswa pada siklus II menurun menjadi 62,31. Sedangkan pada siklus III meningkat menjadi 75,00, dan pada siklus IV menjadi lebih meningkat menjadi 80,41. Saran Berdasarkan hasil refleksi pada beberapa siklus pembelajaran inkuiri yang telah dilaksanakan di SMP N 1 Kotaagung, disarankan: 1) penerapan pembelajaran inkuiri hendaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk menyampaikan materi yang bersifat eksperimen dan konsep untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa; 2) hendaknya guru dapat meningkatkan penyajian eksperimen dan demonstrasi sesering mungkin agar siswa dapat lebih

mudah menerima, memahami dan mengingat materi yang disampaikan;3) hendaknya alat yang digunakan dalam melaksanakan eksperimen dan demonstrasi merupakan alat-alat yang mudah dijumpai di sekitar lingkungan siswa, sehingga siswa dapat mencoba sendiri di luar kelas;4) guru harus lebih memperhatikan setiap anggota kelompok yang tidak hadir saat pembelajaran berlangsung, kemudian memberikan Lembar Kerja Kelompok yang menjadi tanggungjawab anggota kelompok yang tidak hadir kepada kelompoknya untuk dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Yrama Widya. Bandung. Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Dep. Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta. Ibrahim, R dan Syaodih S, Nana. 1996. Perencanaan Pengajaran. Rineka Cipta. Jakarta. Kardi, 2003. Merancang Pembelajaran Menggunakan Model Inkuiri. Surabaya. Roestiyah. 1991. Sterategi Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta. Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana Prenada. Jakarta. Sardiman, A.M. 2004. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

btu, 2009 Mei 30
Proporsi
Pada saat siswa mempelajari dan berlatih tentang rasio, atau perbandingan, mereka mulai mempunyai pengalaman tentang berbagai perbandingan, termasuk perbandinganperbandingan yang mempunyai rasio sama. Misalnya, dalam kesebangunan geometri, rasio sebarang dua sisi dari bangun yang lebih kecil sama dengan rasio sisi-sisi yang bersesuaian dari bangun yang lebih besar. Suatu Proporsi adalah pernyataan tentang kesamaan dua rasio. Dua notasi yang berbeda yang biasa digunakan seperti berikut : 2 : 5 = 6 : 15 atau 2/5 = 6/15 dibaca 2 berbanding 5 sama dengan 6 berbanding 15, atau 2 per 5 sama dengan 6 per 15. Ada perbedaan yang jelas antara suatu proporsi dan konsep pecahan senilai (sama, ekuivalen). Dua pecahan yang senilai menyatakan bilangan, jumlah, atau kuantitas sama, tetapi lambangnya berbeda, yaitu dua bilangan rasional yang sama dalam bentuk yang berbeda. Proporsi terkait dengan fakta dari dua keadaan atau lebih, misalnya dalam satu tas terdapat 2 pensil dan 5 pulpen, dan tas yang lain terdapat 6 pensil dan 15 pulpen. Banyaknya pensil dan pulpen dalam kedua tas adalah jelas berbeda, tetapi perbandingan banyaknya pensil dan pulpen dari tas pertama dan tas kedua adalah sama. Jika dalam suatu proporsi diketahui tiga bilangan dan bilangan keempat dicari, maka pekerjaan ini disebut penjelasan suatu proporsi. Penyelesaian proporsi dilakukan dengan menggunakan sifat dua bilangan rasional yang sama, yaitu : a/b = c/d jika dan hanya jika ad = bc. Sumber : Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka. Diposkan oleh m_win_afgani di 02:28 0 komentar Label: pembelajaran

Rasio
Suatu rasio suatu pasangan terurut bilangan atau pengukuran yang digunakan untuk menyatakan perbandingan bilangan atau pengukuran. Permasalahan sehari-hari yang terkait dengan rasio bilangan atau pengukuran antara lain adalah panjang atau jarak terhadap waktu, jumlah barang dan harga barang, panjang dengan panjang, luas dengan luas, volume dengan volume, berat barang dengan harga barang, nilai uang dengan nilai uang, umur orang dengan umur orang, dan temperatur (suhu) dengan temperatur. Pada dasarnya rasio dan pecahan mempunyai makna yang sama sebagai perbandingan. Pecahan dimaksudkan untuk membandingkan bagian terhadap keseluruhan. Pecahan 2/3 adalah perbandingan 2 bagian terhadap 3 bagian pembentuk keseluruhan, yang mana bagian dan keseluruhan diukur menurut pertigaan. Rasio adalah suatu perbandingan bagian terhadap keseluruhan, berarti semua pecahan adalah rasio, tetapi tidak semua rasio adalah pecahan. Suatu keadaan yang mana mempunyai rasio 5 dengan 0 dapat terjadi karena bagian pertama memperoleh 5 dan bagian yang kedua memperoleh 0, tetapi 5/0 bukan pecahan karena pembagian dengan nol tidak ada atau tidak didefinisikan. Suatu pecahan selalu merupakan perbandingan bagian-bagian terhadap keseluruhan, sedangkan rasio merupakan perbandingan suatu bagian dari keseluruhan terhadap bagian yang lain. Misalnya terdapat 15 kelereng, 5 kelereng berwarna merah dan 10 kelereng berwarna putih. Rasio atau pecahan dari kelereng merah terhadap keseluruhan adalah lima dari 15, atau 1/3 dari kelereng adalah merah. Perbandingan banyaknya kelereng merah terhadap putih bukan merupakan suatu pecahan, tetapi merupakan rasio suatu bagian terhadap bagian yang lain. Banyaknya kelereng merah dan kelereng putih mempunyai rasio terhadap 10, atau 1 terhadap 2. Sumber : Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka. Diposkan oleh m_win_afgani di 02:24 0 komentar Label: pembelajaran

Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual berangkat dari suatu keyakinan bahwa seseorang tertarik untuk belajar apabila ia melihat makna dari apa yang dipelajarinya. Orang akan meilhat makna dari apa yang dipelajarinya apabila ia dapat menghubungkan informasi yang diterima dengan pengetahuan dan pengalamannya terdahulu. Sistem pembelajaran kontekstual didasarkan pada anggapan bahwa makna memancar dari hubungan antara isi dan konteksnya. Konteks memberi makna pada isi. Lebih luas konteks, dalam mana siswa dapat membuat hubungan-hubungan, lebih banyak makna isi ditangkap oleh siswa. Bagian terbesar tugas guru, dengan demikian, adalah menyediakan konteks. Apabila siswa dapat semakin banyak menghubungkan pelajaran sekolah dengan konteks ini, maka lebih banyak makna yang akan mereka peroleh dari pelajaran-pelajaran tersebut.

Menemukan makna dalam pengetahuan dan keterampilan membawa pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. (Johnson dalam Hadi, 2005) Ketika siswa menemukan makna dari pelajaran di sekolah, mereka akan memahami dan mengingat apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa mampu menghubungkan pelajaran di sekolah dengan konteks nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga mengetahui makna apa yang dipelajari. Pembelajaran kontekstual memperluas konteks pribadi mereka, sehingga dengan menyediakan pengalaman-pengalaman baru bagi para siswa akan memacu otak mereka untuk membuat hubungan-hubungan yang baru, dan sebagai konsekuensinya, para siswa dapat menemukan makna yang baru. (Johnson dalam Hadi, 2005) Pembelajaran kontekstual merupakan sistem yang holistik (menyeluruh). Ia terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan, yang apabila dipadukan akan menghasilkan efek yang melebihi apa yang dapat dihasilkan oleh suatu bagian secara sendiri (tunggal). Jadi, bagian-bagian yang terpisah dari CTL melibatkan proses yang berbeda, apabila digunakan secara bersama-sama, memungkinkan siswa membuat hubungan untuk menemukan makna. Setiap elemen yang berbeda dalam sistem CTL memberikan kontribusi untuk membantu siswa memahami makna pelajaran atau tugas-tugas sekolah. Digabungkan, elemen-elemen tersebut membentuk sesuatu yang memungkinkan siswa melihat makna dari pelajaran sekolah, dan menyimpannya. (Johnson dalam Hadi, 2005) Sumber : Hadi, S. 2005. Pendidikan Matematika Realistik. Tulip: Banjarmasin Diposkan oleh m_win_afgani di 02:18 0 komentar Label: pembelajaran

Kamis, 2009 Maret 05
Fungsi Evaluasi Pendidikan
Bagi pendidik, secara didaktik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi, yaitu :

1. Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh peserta didiknya. Di sini, evaluasi dikatakan berfungsi memeriksa (= mendiagnose), yaitu memeriksa pada bagian-bagian manakah para peserta didik pada umumnya mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, untuk selanjutnya dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara pemecahannya. Jadi, di sini evaluasi mempunyai fungsi diagnostik.

2. Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya. Dalam hubungan ini, evaluasi sangat diperlukan untuk dapat menentukan secara pasti, pada kelompok manakah kiranya seorang peserta didik seharusnya ditempatkan. Dengan kata lain, evaluasi pendidikan berfungsi menempatkan peserta didik menurut kelompoknya masing-masing, misalnya kelompok atas (= cerdas), kelompok tengah (= rata-rata), dan kelompok bawah (= lemah). Jadi, di sini evaluasi memiliki fungsi placement.

3. Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik. Dalam hubungan ini, evaluasi pendidikan dilakukan untuk menetapkan, apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus, dapat dinyatakan naik kelas ataukah tinggal kelas, dapat diterima pada jurusan tertentu ataukah tidak, dapat diberikan bea siswa, ataukah tidak dan sebagainya. Dengan demikian, evaluasi memiliki fungsi selektif.

4. Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya. Berlandaskan pada hasil evaluasi, pendidik dimungkinkan untuk dapat memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para peserta didik, misalnya tentang bagaimana cara belajar yang baik, cara mengatur waktu belajar, cara membaca dan mendalami buku pelajaran dan sebagainya, sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam proses pembelajaran dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Dalam keadaan seperti ini, evaluasi dikatakan memiliki fungsi bimbingan.

5. Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai. Di sini evaluasi dikatakan memiliki fungsi instruksional, yaitu melakukan perbandingan antara Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang telah ditentukan untuk masing-masing mata pelajaran dengan hasil-hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik bagi masing-masing mata pelajaran tersebut, dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Adapun secara administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi, yaitu :

1. Memberikan Laporan Dalam melakukan evaluasi, akan dapat disusun dan disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Laporan mengenai perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik itu pada umumnya tertuang dalam bentuk Buku Laporan Kemajuan Belajar Siswa, yang lebih dikenal dengan istilan Rapor (untuk peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah), atau Kartu Hasil Studi (KHS), bagi peserta didik di lembaga pendidikan tinggi, yang selanjutnya disampaikan kepada orang tua peserta didik tersebut pada setiap catur wulan atau akhir semester.

2. Memberikan Bahan-bahan Keterangan (Data) Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkap dan akurat. Dalam hubungan ini, nilai-nilai hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, adalah merupakan data yang sangat penting untuk keperluan pengambilan keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan : apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan tamat belajar, dapat dinyatakan naik kelas, tinggal kelas, lulus ataukah tidak lulus, dan sebagainya.

3. Memberikan Gambaran Gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam proses pembelajaran tercermin antara lain dari hasil-hasil belajar peserta didik setelah dilakukannya evaluasi hasil belajar. Dari kegiatan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan untuk berbagai jenis mata pelajaran misalnya, akan dapat tergambar bahwa dalam mata pelajaran tertentu (misalnya Bahasa Arab, matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) pada umumnya kemampuan peserta didik masih sangat memprihatinkan. Sebaliknya, untuk mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Ilmu Pengetahuan Sosial misalnya, hasil belajar siswa pada umumnya sangat menggembirakan. Gambaran tentang kualitas hasil belajar peserta didik juga diperoleh berdasar data yang berupa Nilai Ebtanas Murni (NEM), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lain-lain.

Sumber :

Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Diposkan oleh m_win_afgani di 23:31 0 komentar

Selasa, 2009 Februari 17
Kelebihan dan Kekurangan E-Learning
Menyadari bahwa di internet dapat ditemukan berbagai informasi dan informasi itu dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja dan dimana saja, maka pemanfaatan internet menjadi suatu kebutuhan. Bukan itu saja, pengguna internet bisa berkomunikasi dengan pihak lain dengan cara yang sangat mudah melalui teknik e-moderating yang tersedia di internet. Dengan mengambil contoh SMART School di Malaysia, setiap introduksi suatu teknologi pendidikan tertentu yang baru seperti pemanfaatan internet, maka ada empat hal yang perlu disiapkan, yaitu : a. Melakukan penyesuaian kurikulum. Kurikulum sifatnya holistik di mana pengetahuan, keterampilan dan nilai (values) diintegrasikan dengan kebutuhan di era informasi ini. Kurikulumnya bersifat competency-based curriculum. b. Melakukan variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan bantuan komputer. c. Melakukan penilaian dengan memanfaatkan teknologi yang ada (menggunakan komputer, online assessment system), dan d. Menyediakan material pembelajaran seperti buku, komputer, multimedia, studio, dan lain-lain yang memadai. Materi pembelajaran yang disimpan di komputer dapat diakses dengan mudah baik oleh guru maupun siswa Pihak pengelola SMART School beranggapan bahwa penggunaan ICT khususnya internet bisa mendorong murid menjadi lebih aktif belajar (active learners), dimungkinkan adanya berbagai variasi yang dapat dilakukan dalam proses belajar dan mengajar, diperolehnya keterampilan yang berganda dan dicapainya efisiensi. Harian Sunday Star (30 Juni 2002) menyebut SMART School adalah contoh sekolah masa depan. Sekolah-sekolah percontohan dengan menggunakan perangkat teknologi informasi ini menjadi model yang dilaksanakan oleh berbagai negara. Di Singapura ada "Excellent School", di Thailand ada "Progressive School", di Filipina disebut "Pilot School", dan sebagainya. Di Indonesia, sekolah yang menggunakan teknologi informasi dalam proses belajar ini ternyata bisa menarik banyak siswa. Para orang tua juga cenderung mengirim anaknya ke sekolah yang demikian walaupun biayanya relatif lebih mahal dibandingkan sekolah lainnya yang tidak menggunakan teknologi informasi tersebut.

Dari berbagai pengalaman dan juga dari berbagai informasi yang tersedia di literatur, memberikan petunjuk tentang manfaat penggunaan internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh (Elangoan, 1999 ; Soekartawi, 2002 ; Mulvihil, 1997 ; Utarini, 1997), antara lain dapat disebutkan sebagai berikut : * Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu. * Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari. * Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. * Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet. *Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. * Berubahnya peran siswa dari biasanya pasif menjadi aktif. * Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri, dan sebagainya. Walaupun demikan pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2001 ; Beam, 1997), antara lain dapat disebutkan sebagai berikut : * Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar-siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar. * Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis / komersial. * Berubahnya peran guru dari semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT. * Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

* Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer) * Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet, dan * Kurangnya penguasaan bahasa komputer. Sumber : Sokartawi. E-Learning untuk Pendidikan Khususnya Pendidikan Jarak-Jauh dan Aplikasinya di Indonesia. dalam Prawiradilaga, Dewi Salma dan Siregar, Eveline. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Jakarta : Kencana. Diposkan oleh m_win_afgani di 22:35 0 komentar Label: media pembelajaran

Minggu, 2009 Februari 08
Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran
Selain untuk menyajikan pesan, sebenarnya ada beberapa fungsi lain yang dapat dilakukan oleh media. Namun jarang sekali ditemukan seluruh fungsi tersebut dipenuhi oleh media komunikasi dalam suatu sistem pembelajaran. Sebaliknya suatu program media tunggal sering kali dapat mencakup beberapa fungsi sekaligus secara simultan. Fungsi-fungsi tersebut antara lain : 1. Memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar Pada permulaan pembelajaran, siswa perlu diberi tahu tentang pengetahuan yang akan diperolehnya atau keterampilan yang akan dipelajarinya. Kepada siswa harus dipertunjukkan apa yang diharapkan darinya, apa yang harus dapat ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahan pelajaran dan tingkat kemahiran yang diharapkan. Untuk pembelajaran dalam kawasan perilaku psikomotor atau kognitif, media visual khususnya yang menampilkan gerak dapat mempertunjukkan kinerja (performance) yang harus dipelajari siswa. Dengan demikian dapat menjadi model perilaku yang diharapkan dapat dipertunjuukannya pada akhir pembelajaran. 2. Memotivasi siswa Salah satu peran umum dari media komunikasi adalah memotivasi siswa. Tanpa motivasi, sangat mungkin pembelajaran tidak menghasilkan belajar. Usaha untuk memotivasi siswa sering kali dilakukan dengan menggambarkan sejelas mungkin keadaan di masa depan, di mana siswa perlu menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Jiak siswa menjadi yakin tentang relevansi pembelajaran dengan kebutuhannya di masa depan, ia akan termotivasi mengikuti pembelajaran. Media yang sesuai untuk menggambarkan keadaan masa depan adalah media yang dapat menunjukkan (show) sesuatu atau menceritakan (tell) hal tersebut. Bila teknik bermain peran digunakan (seperti lawak atau

drama), pengalaman yang dirasakan siswa akan lebih kuat. Film juga sering kali diproduksi dan digunakan untuk tujuan motivasi dengan cara yang lebih alami. 3. Menyajikan informasi Dalam sistem pembelajaran yang besar yang terdiri dari beberapa kelompok dengan kurikulum yang sama, media seperti film dan televisi dapat digunakan untuk menyajikan informasi. Guru kelas bebas dari tugas mempersiapkan dan menyajikan pelajaran, ia dapat menggunakan energinya kepada fungsi-fungsi yang lain seperti merencanakan kegiatan siswa, mendiagnosa masalah siswa, memberikan konseling secara individual. Ada tiga jenis variasi penyajian informasi : (a) penyajian dasar (basic), membawa siswa kepada pengenalan pertama terhadap materi pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan diskusi, kegiatan siswa atau "review" oleh guru kelas. (b) penyajian pelengkap (supplementary), setelah penyajian dasar dilakukan oleh guru kelas, media digunakan untuk membawa sumber-sumber tambahan ke dalam kelas, melakukan apa yang tidak dapat dilakukan di kelas dengan cara apa pun. (c) penyajian pengayaan (enrichment), merupakan informasi yang bukan merupakan bagian dari tujuan pembelajaran, digunakan karena memiliki nilai motivasi dan dapat mencapai perubahan sikap dalam diri siswa. 4. Merangsang diskusi Kegunaan media untuk merangsang diskusi sering kali disebut sebagai papan loncat (springboard), diambil dari bentuk penyajian yang relatif singkat kepada sekelompok siswa dan dilanjutkan dengan diskusi. Format media biasanya menyajikan masalah atau pertanyaan, sering kali melalui drama atau contoh pengalaman manusia yang spesifik. Penyajian dibiarkan terbuka (open-ended), tidak ada penarikan kesimpulan atau saran pemecahan masalah. Kesimpulan atau jawaban diharapkan muncul dari siswa sendiri dalam interaksinya dengan pemimpin atau dengan sesamanya. Penyajian media diharapkan dapat merangsang pemikiran, membuka masalah, menyajikan latar belakang informasi dan memberikan fokus diskusi. Film atau video sering kali digunakan untuk tujuan ini. 5. Mengarahkan kegiatan siswa Pengarahan kegiatan merupakan penerapan dari metode pembelajaran yang disebut kinerja (performance) atau metode penerapan (application). Penekanan dari metode ini adalah pada kegiatan melakukan (doing). Media dapat digunakan secara singkat atau sebentar-sebentar untuk mengajak siswa mulai dan berhenti. Dengan kata lain program media digunakan untuk mengarahkan siswa melakukan kegiatan langkah demi langkah (step-by-step). Penyajian bervariasi, mulai dari pembelajaran sederhana untuk kegiatan siswa, seperti tugas pekerjaan rumah sampai pengarahan langkah demi langkah untuk percobaan laboratorium yang kompleks. Permainan merupakan metode pembelajaran yang sangat disukai khususnya bagi siswa sekolah menengah, memiliki nilai motivasional yang tinggi, melibatkan siswa lebih baik daripada metode pembelajaran

yang lain. 6. Melaksanakan latihan dan ulangan Dalam belajar keterampilan, apakah itu bersifat kognitif atau psikomotor. Pengulangan respons-respons dianggap sangat penting untuk kemajuan kecepatan dan tingkat kemahiran. Istilah "drill" digunakan untuk jenis respons yang lebih sederhana seperti menerjemahkan kata-kata asing atau mengucapkan kata-kata asing. "Practice" biasanya berhubungan dengan kegiatan yang lebih kompleks yang membutuhkan koordinasi dari beberapa keterampikan dan biasanya merupakan penerapan pengetahuan, misalnya latihan olahraga timi atau individual, memecahkan berbagai bentuk masalah. Penyajian latihan adalah proses mekanis murni dan dapat dilakukan dengan sabar dan tak kenal lelah oleh media komunikasi, khususnya oleh media yang dikelola oleh komputer. Laboratorium bahasa juga salah satu contoh media yang digunakan untuk pengulangan dan latihan. 7. Menguatkan belajar Penguatan sering kali disamakan dengan motivasi, atau digolongkan dalam motivasi. Penguatan adalah kepuasan yang dihasilkan dari belajar, di mana cenderung meningkatkan kemungkinan siswa merespons dengan tingkah laku yang diharapkan, setelah diberikan stimulus. Penguatan paling efektif diberikan beberapa setelah saat setelah respons diberikan. Karena itu harus terintegrasi dengan fungsi media yang membangkitkan respons siswa, seperti fungsi 3, 4, 5, 6, 8. Jenis penguatan yang umum digunakan adalah pengetahuan tentang hasil (knowledge of results). Suatu program media bertanya kepada siswa, kemudian siswa meyusun jawabannya atau memilih dari beberapa kemungkinan jawaban. Setelah siswa menentukan jawaban, ia sangat termotivasi untuk segera mengetahui jawaban yang benar. Jika jawaban benar dan ia tahu, ia dikuatkan, bahkan jika jawabannya salah, evaluasi dari jawabannya, menunjukkan seberapa dekat jawabannya mendekati kebenaran, juga dapat menguatkan. Media apa pun yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi juga mampu menyajikan pertanyaan dan merangsang siswa untuk menjawab. Media apa pun yang mampu melakukan fungsi ini, ia juga mampu memberikan jawaban benar terhadap responsnya (actions or manipulations), sehingga memberikan latihan terhadap perilaku yang kompleks yang membutuhkan lingkungan khusus. Contoh yang sering ditemui adalah simulator mobil yang digunakan dalah latihan mengendara dan simulator pesawat. 8. Memberikan pengalaman simulasi Simulator adalah alat untuk menciptakan lingkungan buatan yang secara realistis dapat merangsang siswa dan bereaksi, seperti pelatihan pilot. Instruktur biasanya menjadi bagian dari sistem, memberikan penilaian segera dan menyelipkan kerusakan pada sistem untuk memberikan siswa latihan mengatasi masalah. Media komunikasi sering kali memegang peranan penting dalam simulasi, sejak siswa harus mengkomunikasikan informasi kepada mesin dan sebaliknya mesin meninformasikan pengguna tentang pencapaiannya. Simulator tidak terbatas pada sistem yang konkret dan "self-contained",

tetapi dapat diaplikasikan pada sistem yang lebih abstrak seperti ekonomi nasional dari negara kuno, anggaran belanja sistem sekolah atau fungsi bantuan kedutaan dalam negara Afrika. Program komputer dapat memungkinkan simulasi sistem yang kompleks, menerima masukan dari siswa, menghitung hasil dan menginformasikan kepada siswa melalui media komunikasi tentang perubahan yang dilakukan dalam sistem. Jenis lain dari simulasi adalah permainan, mensimulasikan sistem yang kompetitif dengan dua atau lebih siswa atau kelompok belajar berinteraksi satu sama lain. Karena sangat mirip dengan simulator yang dapat merefleksikan kenyataan, permainan dapat mengembangkan respons yang siap ditransfer ke dunia yang sebenarnya. Bermain peran (role playing) juga merupakan bagian dari teknik simulasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan tentang hubungan antarmanusia. Media, biasanya film, video digunakan untuk merekam suatu pertemuan antara siswa dan seseorang yang mensimulasikan kehidupan nyata seseorang, siswa dilatih berinteraksi dengannya. Sumber : Sudirjo, Sudarsono dan Siregar, Eveline. Media Pembelajaran sebagai Pilihan dalam Strategi Pembelajaran. dalam Prawiradilaga, Dewi Salma dan Siregar, Eveline. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta. Diposkan oleh m_win_afgani di 00:05 0 komentar Label: media pembelajaran

Jumat, 2009 Februari 06
AL-KHUYANDI : Teori Matematikanya "Mengilhami" Teorema Fermat yang Mengguncang Dunia
Bulan juni 1993, media-media cetak dan elektronika sempat gonjang-ganjing. Dunia ilmu pengetahuan gempar berat. Dan kegemparan itu berpangkal pada Prof. Dr. Andrew Wiles seorang matematikawan muda (40 tahun) yang ahli teori bilangan dari Universitas Priceton AS yang dinilai sukses besar dalam membuktikan dan memecahkan teka-teki teori terakhir Fermat yang telah berusia 356 tahun - setelah menyuntuki selama kurang lebih 5 tahun. Dalam wujud kalimat, teorema atau dalim itu berbunyi : "jika x, y, dan z masing-masing merupakan bilangan bulat positif, maka x berpangkat n ditambah y berpangkat n mustahil akan menghasilkan z berpangkat n, keculai bila n berupa bilangan bulat dan maksimal sama dengan dua". (yang dimaksud bilangan bulat positif adalah 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya. Jadi bukan pecahan seperti 0,2 atau 0,3 atau 1/2, 1/4 dan semacamnya). Sedang dalam bentuk persamaan dapat ditulis : , untuk n > 2 Tapi, jika n = 2 maka akan sama persis dengan persamaan dari teorema Phytagoras yang sudah jamak bagi siswa sekolah menengah atau santri madrasah. "Teka-teki" teori Fermat baru muncul jika n > 2

misalkan n = 3 maka 4^3 + 3^3 tak sama dengan 5^3 sebab 64 + 27 = 91 sedangkan 5^3 itu sendiri adalah 125. Dengan kata lain 91 bukanlah 5^3. Jadi teori tersebut sangatlah benar. Yang payah ialah membuktikan kebenarannya itu. Cobalah umpamanya mencari bilangan z yang bulat untuk persamaan-persamaan dengan n > 2 berikut : 2^3 + 3^3 = z^3, maka z = ? 1^4 + 2^4 = z^4, maka z = ? puyeng, saking sulitnya ! Teka-teki besar yang berusia 3 abad lebih inilah yang kabarnya telah mampu dibuktikan oleh Prof. Dr. Wiles pada tahun 1993 lalu, dan sebelumnya oleh pendekar matematika negeri Nippon, Yutaka Taniyama pada 1954 - walau secara tidak langsung. Lantas apa kaitannya dengan Al-Khuyandi yang hidup sekitar 700 tahun sebelum lahirnya Pierre De Fermat, pencetus teori tersebut ?. Ilmuwan legendaris Al-Biruni dalam "Tahdid Nihayat Al Amakin" dalam RIMA viii (1962) mengakui dan menyanjung-nyanjung Khuyandi sebagai cendekiawan yang "Awhad Zamanihi" (tiada tandingan dan tiada bandingan di masanya) terutama di bidang konstruksi aneka rupa peralatan astrolabe dan peralatan astronomis lain. Sejumlah manuskrip yang telah diabadikan dari risalahnya "Fi'amal al-Ala al-Amma" mendeskripsikan suatu instrumen universal yang disebut "al-Ala al-Amma" atau "alShamila". Ini biasanya digunakan sebagai pengganti asrolabe atau quadrant-alat berbentuk seperempat lingkaran. Astronom dan matematikawan spesialis geometri ini pintar pula merencang bangun sebuah sfera perlengkapan militer dan perlengkapan lain. Untuk merekayasa semua instrumen tersebut tentunya Al-Khuyandi telah habis-habisan berkubang dalam berbagai masalah teoritis bidang-bidang terkait, termasuklah umpamanya yang menyangkut tata letak rancangan sebuah astrolabe. Dari eksperimen-eksperimen itulah Khuyandi berhasil pula menemukan setidak-tidaknya 2 metode seperti yang digunakan Abu Nasr Mansur, untuk menentukan posisi dan lingkaran-lingkaran dari azimut pada astolabe melalui titik potong atau persimpangan antara khatulistiwa (equator) dan mukantarat (risala fi mujazat dawa'ir al-Sumut fi'l Asturlab' dalam "rasa'il ila al-Biruni", Hyderabad 1948). Karya terpenting Khuyandi dalam sfera instrumen-instrumen astronomis adalah sekstan yang disebut "al-Suda al-Fakhri" (dipersembahkan khusus kepada Fakhr al-Dawla) yang dirancang untuk menentukan kemiringan ekliptik. Peralatan tersebut dan bermacam observasi yang dilakukan dengan memakai instrumen itu dilukiskannya dalam buku "risala fi'il mayl wa 'ard al-balad" (editor L.Cheikho, dalam "Machriq", 1908). Al-Biruni sendiri memberikan analisis terinci tentang ini dalam kitabnya "tahdid" yang dianggap dilandaskan pada "makalah fi tashih al-mayl" karangan Khuyandi (mungkin diidentikkan dengan "risala fi'l mayl" yang dikutip di atas). Sekstan tersebut memiliki diameter 40 dhira' atau cubit (1 cubit kira-kira sama dengan

18-22 inchi), sedang sekstannya al-Biruni beridiameter 80 cubit. Dibuatnya di Tabruk dekat Rayy serta diselaraskan dengan perencanaan untuk menentukan meridian (garis bujur); dikelilingi dengan dinding-dinding dan bagian atasnya dilingkupi semacam atap dan dibagian tertentu terdapat semacam kubah atau kolong dengan sebuah celah bergaris tengah 3 shibr (= jengkal) berada persis di pusat sekstan. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur cahaya matahari, melalui proses pemantulan cahaya matahari yang kemudian terlempar masuk ke dalam bolongan bulat pada sekstan tersebut. Dan untuk menentukan pusatnya, Khuyandi menggunakan sebuah lingkaran yang berjari-jari sama dengan 2 diameter yang tegak lurus dan ditempatkan dilingkaran tersebug sehingga dapat diterpa cahaya. Intelektual yang gegap gempita dengan prestasi besar ini menekankan dan mengklaim bahwa sekstan merupakan hasil temuannya dan dengan itu, katanya, "Aku dapat membuat perhitungan-perhitungan hingga ke atom-atom terkecilnya". Instrumen serupa tampaknya telah digunakan pula dalam observatori-observatori di Maragha (didirikan sebelum tahun 660/1261 - 1262) dan di Samarkand (ditegakkan pada 823/1420). Dengan "Suds al-Fakhri" ini, Khuyandi mengamati ketinggian meridian dititik balik matahari (soltice) musim kemarau dan dititik balik matahari musim dingin tahun 384/994. Prosedurnya meliputi kegiatan observasi-observasi selama 2 hari berturut-turut pada saat titik balik matahari dan dalam pemetaan, momentum yang tepat lewat matahari masuk ke titik baliknya. Semua ini dapat dilaksanakan sekitar bulan juni, namun observasi ulangan dengan prosedur sama, yang dilakukan di bulan desember mengalami hambatan oleh awan sehingga ketepatan dan keseksamaan seluruh observasi turut berpengaruh. Observasi-observasi tersebut dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan sekelompok intelektual peneliti senior, termasuk dalam hal penggarapan laporan-laporannya. Hasil nya adalah sigma = 23 derajat 32 menit 19 detik (sedang versi al-Biruni dalam "al-Kanun Al Mas'udi", Hyderabad 1954, adalah sigma = 23 derajat 32 menit 21 detik, terpaut 2 detik). Hasil tersebut jika diperbandingkan dengan pengamatan astronom-astronom india (24 derajat) dan Ptolemy (23 derajat 51 menit) akan semakin mengokohkan justifikasi pada keyakinan Khuyandi dalam masalah reduksi progresif pada kemiringan ekliptika. Al-Biruni sendiri percaya bahwa harga sigma itu konstan (dalam "Tahdid" dan "Kanun") menegaskan bahwa Khuyandi mengatakan kepadanya bahwa celah kolong yang dimasuki berkas cahaya matahari itu telah dipindahkan ke sebelah bawah sekitar sejengkal sebelum dilaksanakan observasi-observasi mengenai titik balik matahari musim dingin. Sehingga dengan demikian ia tidaklah tepat benar dengan pusat sekstan. Fakta ini dapat menjelaskan tentang berkurangnya harga sigma pada penentuanpenentuan lain yang dilakukan secara kasar di waktu-waktu yang sama. Selain itu, Khuyandi melancarkan pula serentetan observasi ilmiah lain semisal menentukan garis lintang kota Rayy pada 35 derajat 34 menit 39 detik, disamping menegaskan bahwa ia juga telah mengobservasi planet-planet untuk (dipersembahkan hasilnya kepada) Fakhr al-Dawla dengan menggunakan sfera-sfera untuk keperluan kemiliteran dan peralatan astronomi lain. Hasil akhir dari penelitian tersebut dikompilasi dalam sebuah buku bertajuk "al-Zij al-

Fakhri". Selain itu, sebuah salinan dari sebuah "Zij" berbahasa Persia, diabadikan dalam Majlis Library di Teheran Iran, diduga didasarkan pada observasi-observasi ilmiah alKhuyandi. Periode yang tercantum pada tabel-tabel pergerakan-pergerakan rerata itu adalah 600 tahun dari era Yazdagirdi, atau seputar 2 abad setelah kemangkatan alKhuyandi (lihat E.S. Kennedy, "A Surve 0f Islamic Astronomical Tables", sebuah survey perihal tabel-tabel astronomi islam, 1956). Nama resmi ilmuwan asal Khuyand Transoxania ini adalah Abu Mahmud Hamid bin alKhidr al-Khuyandi. ia hidup di masa pemerintahan Buwayhid Fakhr al-Dawla (366387/976 - 997) dan wafat ditahun 390/1000 dengan mewariskan sejumlah karya ilmiah dibidang astronomi dan matematika, khususnya geometri. Di antara begitu banyak karya matematikanya, yang pada umunya telah menguap entah ke mana, sebagian masih bisa dijumpai di Kairo yaitu dalam wujud manuskrip dari sebuah risala tentang geometri. Dan perhatian utamanya difokuskan khusus pada resolusi atau penguraian persamaan-persamaan berpangkat 3 dengan metode-metode geometri. Dari kekhusyuan mengkaji dan ketekunannya menelaah ia berhasil menciptakan satu rumusan atau dalil atau teorema yang berbunyi bahwa "jumlah dua bilangan berpangkat 3 tak akan membuahkan bilangan berpangkat 3 lainnya" (The sum of two cubed numbers cannot be another cube). Kendati bunyi kalimat kedua teorema tersebut (versi Fermat dan versi Khuyandi) tampak berbeda namun jika dicermati baik-baik, apalagi kalau disertai dengan elaborasi intelektual yang memadai maka akan terasa adanya nuansa kemiripan. Atau mungkin, dengan kalimat yang bijaksana dapat dikatakan bahwa teori Fermat tersebut bukanlah gagasan murni Pierre De Fermat melainkan merupakan pengembangan berantai dari ide atau teorem al-Khuyandi yang telah berumur kurang lebih 1000 tahun itu. Atau paling tidak, Khuyandi memiliki saham utama bagi munculnya teka-teki teori Fermat. Perlu pula diingatkan bahwa dalil tersebut ditulis Fermat hanya dalam bentuk catatan-catatan lepas di tepi halaman bukunya. Lalu menyebutkan bahwa ia telah menemukan bukti-buktinya namun tidak dituliskannya, dengan alasan kekurangan tempat di halaman buku tersbut. Di samping teori itu, Khuyandi pun terbilang penemu "Kaidah Sinus" yang diistilakannya sebagai "Kaidah Astronomis". Nasir al-Din al-Tusi dalam "kitan Shakl al-Katta", Istambul 1891 menegaskan bahwa Abu'l Wafa' al-Buzajani, Abu Nasr Mansur bin Ali bin Irak dan al-Khuyandi merupakan 3 serangkai penulis yang memiliki peran dan jasa besar dalam penemuan "Kaidah Sinus", (atau "Kaidah Astronomis" (Kanun al-Hay'a menurut istilah Khuyandi, lantaran kerapnya digunakan dalam astronomi)). Meskipun demikian, P.Luckey dalam salah satu bukunya, pada prinsipnya menolak pera al-Khuyandi dengan alasan bahwa ia adalah "intelektual lapangan". Kendati karyanya merupakan karya-karya unggulan yang menghentak emosi namun dia lebih sibuk bergerak di ladang astronomis praktis. Sumber :

Arsyad, Natsir. 2000. Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Diposkan oleh m_win_afgani di 22:45 0 komentar Label: Agama Islam Posting Lama Langgan: Entri (Atom)

Sekarang, Jam ... Anda pengunjung yang keFree Counter The following text will not be seen after you upload your website, please keep it in order to retain your counter functionality vegas blackjack

Arsip Blog

▼ 2009 (12) o ▼ Mei (3)  Proporsi  Rasio  Pembelajaran Kontekstual o ► Maret (1)  Fungsi Evaluasi Pendidikan o ► Februari (8)  Kelebihan dan Kekurangan E-Learning  Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran  AL-KHUYANDI : Teori Matematikanya "Mengilhami" Teo...  Tahap-Tahap Memecahkan Persoalan Secara Numerik  Aspek Inteligensi Seseorang  Fungsi Penilaian  Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi  Komponen Strategi Pembelajaran ► 2008 (49) o ► Desember (2)  Foto Penelitian Tesis di SMA N 1 Palembang  Foto Sidang Tesis o ► September (2)

o o

o

o

o

o o •

Motivasi dan Pengajaran Motivasi Siswa ► Agustus (1)  Sumber-Sumber Masalah Penelitian Pendidikan ► Juni (12)  TEORI URUTAN PADA GARIS  POSTULAT SEJAJAR EUCLID  Geometri Riemann  Geometri Lobachevsky  Teori Belajar Aliran Behavioristik  Pelajaran dari ALam  Lingkungan Komputer  Emoticon and Abbreviations list  Tata Aturan dalam Penulisan e-Mail  Manfaat e-Education  Pengaruh Negatif Teknologi Komputer  Foto Seminar Nasional Pend.Matematika, 16 Januari ... ► Mei (4)  Foto Seminar Proposal Tesis  Tempat download mp3 gratis  Download anything what you want !  Persamaan Pada Bidang Koordinat ► April (13)  Turunan  Koordinat titik potong antara dua persamaan garis ...  Persamaan garis lurus melalui dua titik  Tujuh Langkah dalam Membuat Mind Map  Tahukah anda bahwa...?  Foto-foto Angkatan 2000 MIPA Matematika Universit...  Troubleshooting Harddisk  Karakteristik Hardisk  Penilaian Menyeluruh dan Berkelanjutan  Lembar Observasi Sikap Siswa  Ilmu Metafisik  Hadits : P e R n I k A h A n  Cendekiawan Muslim : Abdul Rahman As-Sufi ► Maret (9)  Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran  Orasi Terakhir Nabi Muhammad SAW  Pidato Abu Bakar, Khalifah Pertama  MEDIA SELECTION ► Februari (2) ► Januari (4)
 

► 2007 (1) o ► September (1)

Talking, talking Only. OK
<a href="http://www4.shoutmix.com/?winz0010">View shoutbox</a> Free chat widget @ ShoutMix

i am what i am

Lihat profil lengkapku

btu, 2009 Mei 30
Proporsi
Pada saat siswa mempelajari dan berlatih tentang rasio, atau perbandingan, mereka mulai mempunyai pengalaman tentang berbagai perbandingan, termasuk perbandinganperbandingan yang mempunyai rasio sama. Misalnya, dalam kesebangunan geometri, rasio sebarang dua sisi dari bangun yang lebih kecil sama dengan rasio sisi-sisi yang bersesuaian dari bangun yang lebih besar. Suatu Proporsi adalah pernyataan tentang kesamaan dua rasio. Dua notasi yang berbeda yang biasa digunakan seperti berikut : 2 : 5 = 6 : 15 atau 2/5 = 6/15 dibaca 2 berbanding 5 sama dengan 6 berbanding 15, atau 2 per 5 sama dengan 6 per 15. Ada perbedaan yang jelas antara suatu proporsi dan konsep pecahan senilai (sama, ekuivalen). Dua pecahan yang senilai menyatakan bilangan, jumlah, atau kuantitas sama, tetapi lambangnya berbeda, yaitu dua bilangan rasional yang sama dalam bentuk yang berbeda. Proporsi terkait dengan fakta dari dua keadaan atau lebih, misalnya dalam satu tas terdapat 2 pensil dan 5 pulpen, dan tas yang lain terdapat 6 pensil dan 15 pulpen. Banyaknya pensil dan pulpen dalam kedua tas adalah jelas berbeda, tetapi perbandingan banyaknya pensil dan pulpen dari tas pertama dan tas kedua adalah sama. Jika dalam suatu proporsi diketahui tiga bilangan dan bilangan keempat dicari, maka pekerjaan ini disebut penjelasan suatu proporsi. Penyelesaian proporsi dilakukan dengan menggunakan sifat dua bilangan rasional yang sama, yaitu : a/b = c/d jika dan hanya jika ad = bc.

Sumber : Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka. Diposkan oleh m_win_afgani di 02:28 0 komentar Label: pembelajaran

Rasio
Suatu rasio suatu pasangan terurut bilangan atau pengukuran yang digunakan untuk menyatakan perbandingan bilangan atau pengukuran. Permasalahan sehari-hari yang terkait dengan rasio bilangan atau pengukuran antara lain adalah panjang atau jarak terhadap waktu, jumlah barang dan harga barang, panjang dengan panjang, luas dengan luas, volume dengan volume, berat barang dengan harga barang, nilai uang dengan nilai uang, umur orang dengan umur orang, dan temperatur (suhu) dengan temperatur. Pada dasarnya rasio dan pecahan mempunyai makna yang sama sebagai perbandingan. Pecahan dimaksudkan untuk membandingkan bagian terhadap keseluruhan. Pecahan 2/3 adalah perbandingan 2 bagian terhadap 3 bagian pembentuk keseluruhan, yang mana bagian dan keseluruhan diukur menurut pertigaan. Rasio adalah suatu perbandingan bagian terhadap keseluruhan, berarti semua pecahan adalah rasio, tetapi tidak semua rasio adalah pecahan. Suatu keadaan yang mana mempunyai rasio 5 dengan 0 dapat terjadi karena bagian pertama memperoleh 5 dan bagian yang kedua memperoleh 0, tetapi 5/0 bukan pecahan karena pembagian dengan nol tidak ada atau tidak didefinisikan. Suatu pecahan selalu merupakan perbandingan bagian-bagian terhadap keseluruhan, sedangkan rasio merupakan perbandingan suatu bagian dari keseluruhan terhadap bagian yang lain. Misalnya terdapat 15 kelereng, 5 kelereng berwarna merah dan 10 kelereng berwarna putih. Rasio atau pecahan dari kelereng merah terhadap keseluruhan adalah lima dari 15, atau 1/3 dari kelereng adalah merah. Perbandingan banyaknya kelereng merah terhadap putih bukan merupakan suatu pecahan, tetapi merupakan rasio suatu bagian terhadap bagian yang lain. Banyaknya kelereng merah dan kelereng putih mempunyai rasio terhadap 10, atau 1 terhadap 2. Sumber : Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Jakarta : Universitas Terbuka. Diposkan oleh m_win_afgani di 02:24 0 komentar Label: pembelajaran

Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual berangkat dari suatu keyakinan bahwa seseorang tertarik untuk belajar apabila ia melihat makna dari apa yang dipelajarinya. Orang akan meilhat makna dari apa yang dipelajarinya apabila ia dapat menghubungkan informasi yang diterima

dengan pengetahuan dan pengalamannya terdahulu. Sistem pembelajaran kontekstual didasarkan pada anggapan bahwa makna memancar dari hubungan antara isi dan konteksnya. Konteks memberi makna pada isi. Lebih luas konteks, dalam mana siswa dapat membuat hubungan-hubungan, lebih banyak makna isi ditangkap oleh siswa. Bagian terbesar tugas guru, dengan demikian, adalah menyediakan konteks. Apabila siswa dapat semakin banyak menghubungkan pelajaran sekolah dengan konteks ini, maka lebih banyak makna yang akan mereka peroleh dari pelajaran-pelajaran tersebut. Menemukan makna dalam pengetahuan dan keterampilan membawa pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. (Johnson dalam Hadi, 2005) Ketika siswa menemukan makna dari pelajaran di sekolah, mereka akan memahami dan mengingat apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa mampu menghubungkan pelajaran di sekolah dengan konteks nyata dalam kehidupan sehari-hari sehingga mengetahui makna apa yang dipelajari. Pembelajaran kontekstual memperluas konteks pribadi mereka, sehingga dengan menyediakan pengalaman-pengalaman baru bagi para siswa akan memacu otak mereka untuk membuat hubungan-hubungan yang baru, dan sebagai konsekuensinya, para siswa dapat menemukan makna yang baru. (Johnson dalam Hadi, 2005) Pembelajaran kontekstual merupakan sistem yang holistik (menyeluruh). Ia terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan, yang apabila dipadukan akan menghasilkan efek yang melebihi apa yang dapat dihasilkan oleh suatu bagian secara sendiri (tunggal). Jadi, bagian-bagian yang terpisah dari CTL melibatkan proses yang berbeda, apabila digunakan secara bersama-sama, memungkinkan siswa membuat hubungan untuk menemukan makna. Setiap elemen yang berbeda dalam sistem CTL memberikan kontribusi untuk membantu siswa memahami makna pelajaran atau tugas-tugas sekolah. Digabungkan, elemen-elemen tersebut membentuk sesuatu yang memungkinkan siswa melihat makna dari pelajaran sekolah, dan menyimpannya. (Johnson dalam Hadi, 2005) Sumber : Hadi, S. 2005. Pendidikan Matematika Realistik. Tulip: Banjarmasin Diposkan oleh m_win_afgani di 02:18 0 komentar Label: pembelajaran

Kamis, 2009 Maret 05
Fungsi Evaluasi Pendidikan
Bagi pendidik, secara didaktik evaluasi pendidikan itu setidak-tidaknya memiliki lima macam fungsi, yaitu :

1. Memberikan landasan untuk menilai hasil usaha (prestasi) yang telah dicapai oleh

peserta didiknya. Di sini, evaluasi dikatakan berfungsi memeriksa (= mendiagnose), yaitu memeriksa pada bagian-bagian manakah para peserta didik pada umumnya mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran, untuk selanjutnya dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara pemecahannya. Jadi, di sini evaluasi mempunyai fungsi diagnostik.

2. Memberikan informasi yang sangat berguna, guna mengetahui posisi masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya. Dalam hubungan ini, evaluasi sangat diperlukan untuk dapat menentukan secara pasti, pada kelompok manakah kiranya seorang peserta didik seharusnya ditempatkan. Dengan kata lain, evaluasi pendidikan berfungsi menempatkan peserta didik menurut kelompoknya masing-masing, misalnya kelompok atas (= cerdas), kelompok tengah (= rata-rata), dan kelompok bawah (= lemah). Jadi, di sini evaluasi memiliki fungsi placement.

3. Memberikan bahan yang penting untuk memilih dan kemudian menetapkan status peserta didik. Dalam hubungan ini, evaluasi pendidikan dilakukan untuk menetapkan, apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus, dapat dinyatakan naik kelas ataukah tinggal kelas, dapat diterima pada jurusan tertentu ataukah tidak, dapat diberikan bea siswa, ataukah tidak dan sebagainya. Dengan demikian, evaluasi memiliki fungsi selektif.

4. Memberikan pedoman untuk mencari dan menemukan jalan keluar bagi peserta didik yang memang memerlukannya. Berlandaskan pada hasil evaluasi, pendidik dimungkinkan untuk dapat memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para peserta didik, misalnya tentang bagaimana cara belajar yang baik, cara mengatur waktu belajar, cara membaca dan mendalami buku pelajaran dan sebagainya, sehingga kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam proses pembelajaran dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Dalam keadaan seperti ini, evaluasi dikatakan memiliki fungsi bimbingan.

5. Memberikan petunjuk tentang sudah sejauh manakah program pengajaran yang telah ditentukan telah dapat dicapai.

Di sini evaluasi dikatakan memiliki fungsi instruksional, yaitu melakukan perbandingan antara Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang telah ditentukan untuk masing-masing mata pelajaran dengan hasil-hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik bagi masing-masing mata pelajaran tersebut, dalam jangka waktu yang telah ditentukan.

Adapun secara administratif, evaluasi pendidikan setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi, yaitu :

1. Memberikan Laporan Dalam melakukan evaluasi, akan dapat disusun dan disajikan laporan mengenai kemajuan dan perkembangan peserta didik setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Laporan mengenai perkembangan dan kemajuan belajar peserta didik itu pada umumnya tertuang dalam bentuk Buku Laporan Kemajuan Belajar Siswa, yang lebih dikenal dengan istilan Rapor (untuk peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah), atau Kartu Hasil Studi (KHS), bagi peserta didik di lembaga pendidikan tinggi, yang selanjutnya disampaikan kepada orang tua peserta didik tersebut pada setiap catur wulan atau akhir semester.

2. Memberikan Bahan-bahan Keterangan (Data) Setiap keputusan pendidikan harus didasarkan kepada data yang lengkap dan akurat. Dalam hubungan ini, nilai-nilai hasil belajar peserta didik yang diperoleh dari kegiatan evaluasi, adalah merupakan data yang sangat penting untuk keperluan pengambilan keputusan pendidikan dan lembaga pendidikan : apakah seorang peserta didik dapat dinyatakan tamat belajar, dapat dinyatakan naik kelas, tinggal kelas, lulus ataukah tidak lulus, dan sebagainya.

3. Memberikan Gambaran Gambaran mengenai hasil-hasil yang telah dicapai dalam proses pembelajaran tercermin antara lain dari hasil-hasil belajar peserta didik setelah dilakukannya evaluasi hasil belajar. Dari kegiatan evaluasi hasil belajar yang telah dilakukan untuk berbagai jenis mata pelajaran misalnya, akan dapat tergambar bahwa dalam mata pelajaran tertentu (misalnya Bahasa Arab, matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) pada umumnya kemampuan peserta didik masih sangat memprihatinkan. Sebaliknya, untuk mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila dan Ilmu Pengetahuan Sosial misalnya, hasil belajar siswa pada umumnya sangat menggembirakan. Gambaran tentang kualitas hasil

belajar peserta didik juga diperoleh berdasar data yang berupa Nilai Ebtanas Murni (NEM), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dan lain-lain.

Sumber : Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Diposkan oleh m_win_afgani di 23:31 0 komentar

Selasa, 2009 Februari 17
Kelebihan dan Kekurangan E-Learning
Menyadari bahwa di internet dapat ditemukan berbagai informasi dan informasi itu dapat diakses secara lebih mudah, kapan saja dan dimana saja, maka pemanfaatan internet menjadi suatu kebutuhan. Bukan itu saja, pengguna internet bisa berkomunikasi dengan pihak lain dengan cara yang sangat mudah melalui teknik e-moderating yang tersedia di internet. Dengan mengambil contoh SMART School di Malaysia, setiap introduksi suatu teknologi pendidikan tertentu yang baru seperti pemanfaatan internet, maka ada empat hal yang perlu disiapkan, yaitu : a. Melakukan penyesuaian kurikulum. Kurikulum sifatnya holistik di mana pengetahuan, keterampilan dan nilai (values) diintegrasikan dengan kebutuhan di era informasi ini. Kurikulumnya bersifat competency-based curriculum. b. Melakukan variasi cara mengajar untuk mencapai dasar kompetensi yang ingin dicapai dengan bantuan komputer. c. Melakukan penilaian dengan memanfaatkan teknologi yang ada (menggunakan komputer, online assessment system), dan d. Menyediakan material pembelajaran seperti buku, komputer, multimedia, studio, dan lain-lain yang memadai. Materi pembelajaran yang disimpan di komputer dapat diakses dengan mudah baik oleh guru maupun siswa Pihak pengelola SMART School beranggapan bahwa penggunaan ICT khususnya internet bisa mendorong murid menjadi lebih aktif belajar (active learners), dimungkinkan adanya berbagai variasi yang dapat dilakukan dalam proses belajar dan mengajar, diperolehnya keterampilan yang berganda dan dicapainya efisiensi. Harian Sunday Star (30 Juni 2002) menyebut SMART School adalah contoh sekolah masa depan. Sekolah-sekolah percontohan dengan menggunakan perangkat teknologi informasi ini menjadi model yang dilaksanakan oleh berbagai negara. Di Singapura ada "Excellent

School", di Thailand ada "Progressive School", di Filipina disebut "Pilot School", dan sebagainya. Di Indonesia, sekolah yang menggunakan teknologi informasi dalam proses belajar ini ternyata bisa menarik banyak siswa. Para orang tua juga cenderung mengirim anaknya ke sekolah yang demikian walaupun biayanya relatif lebih mahal dibandingkan sekolah lainnya yang tidak menggunakan teknologi informasi tersebut. Dari berbagai pengalaman dan juga dari berbagai informasi yang tersedia di literatur, memberikan petunjuk tentang manfaat penggunaan internet, khususnya dalam pendidikan terbuka dan jarak jauh (Elangoan, 1999 ; Soekartawi, 2002 ; Mulvihil, 1997 ; Utarini, 1997), antara lain dapat disebutkan sebagai berikut : * Tersedianya fasilitas e-moderating di mana guru dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan dengan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu. * Guru dan siswa dapat menggunakan bahan ajar atau petunjuk belajar yang terstruktur dan terjadwal melalui internet, sehingga keduanya bisa saling menilai sampai berapa jauh bahan ajar dipelajari. * Siswa dapat belajar atau me-review bahan ajar setiap saat dan di mana saja kalau diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer. * Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat melakukan akses di internet. *Baik guru maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak, sehingga menambah ilmu pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. * Berubahnya peran siswa dari biasanya pasif menjadi aktif. * Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi atau sekolah konvensional, bagi mereka yang sibuk bekerja, bagi mereka yang bertugas di kapal, di luar negeri, dan sebagainya. Walaupun demikan pemanfaatan internet untuk pembelajaran atau e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan. Berbagai kritik (Bullen, 2001 ; Beam, 1997), antara lain dapat disebutkan sebagai berikut : * Kurangnya interaksi antara guru dan siswa atau bahkan antar-siswa itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar dan mengajar. * Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis / komersial.

* Berubahnya peran guru dari semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT. * Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal. * Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun komputer) * Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet, dan * Kurangnya penguasaan bahasa komputer. Sumber : Sokartawi. E-Learning untuk Pendidikan Khususnya Pendidikan Jarak-Jauh dan Aplikasinya di Indonesia. dalam Prawiradilaga, Dewi Salma dan Siregar, Eveline. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Universitas Negeri Jakarta : Kencana. Diposkan oleh m_win_afgani di 22:35 0 komentar Label: media pembelajaran

Minggu, 2009 Februari 08
Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran
Selain untuk menyajikan pesan, sebenarnya ada beberapa fungsi lain yang dapat dilakukan oleh media. Namun jarang sekali ditemukan seluruh fungsi tersebut dipenuhi oleh media komunikasi dalam suatu sistem pembelajaran. Sebaliknya suatu program media tunggal sering kali dapat mencakup beberapa fungsi sekaligus secara simultan. Fungsi-fungsi tersebut antara lain : 1. Memberikan pengetahuan tentang tujuan belajar Pada permulaan pembelajaran, siswa perlu diberi tahu tentang pengetahuan yang akan diperolehnya atau keterampilan yang akan dipelajarinya. Kepada siswa harus dipertunjukkan apa yang diharapkan darinya, apa yang harus dapat ia lakukan untuk menunjukkan bahwa ia telah menguasai bahan pelajaran dan tingkat kemahiran yang diharapkan. Untuk pembelajaran dalam kawasan perilaku psikomotor atau kognitif, media visual khususnya yang menampilkan gerak dapat mempertunjukkan kinerja (performance) yang harus dipelajari siswa. Dengan demikian dapat menjadi model perilaku yang diharapkan dapat dipertunjuukannya pada akhir pembelajaran. 2. Memotivasi siswa Salah satu peran umum dari media komunikasi adalah memotivasi siswa. Tanpa motivasi, sangat mungkin pembelajaran tidak menghasilkan belajar. Usaha untuk memotivasi siswa sering kali dilakukan dengan menggambarkan sejelas mungkin keadaan di masa depan, di

mana siswa perlu menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya. Jiak siswa menjadi yakin tentang relevansi pembelajaran dengan kebutuhannya di masa depan, ia akan termotivasi mengikuti pembelajaran. Media yang sesuai untuk menggambarkan keadaan masa depan adalah media yang dapat menunjukkan (show) sesuatu atau menceritakan (tell) hal tersebut. Bila teknik bermain peran digunakan (seperti lawak atau drama), pengalaman yang dirasakan siswa akan lebih kuat. Film juga sering kali diproduksi dan digunakan untuk tujuan motivasi dengan cara yang lebih alami. 3. Menyajikan informasi Dalam sistem pembelajaran yang besar yang terdiri dari beberapa kelompok dengan kurikulum yang sama, media seperti film dan televisi dapat digunakan untuk menyajikan informasi. Guru kelas bebas dari tugas mempersiapkan dan menyajikan pelajaran, ia dapat menggunakan energinya kepada fungsi-fungsi yang lain seperti merencanakan kegiatan siswa, mendiagnosa masalah siswa, memberikan konseling secara individual. Ada tiga jenis variasi penyajian informasi : (a) penyajian dasar (basic), membawa siswa kepada pengenalan pertama terhadap materi pembelajaran, kemudian dilanjutkan dengan diskusi, kegiatan siswa atau "review" oleh guru kelas. (b) penyajian pelengkap (supplementary), setelah penyajian dasar dilakukan oleh guru kelas, media digunakan untuk membawa sumber-sumber tambahan ke dalam kelas, melakukan apa yang tidak dapat dilakukan di kelas dengan cara apa pun. (c) penyajian pengayaan (enrichment), merupakan informasi yang bukan merupakan bagian dari tujuan pembelajaran, digunakan karena memiliki nilai motivasi dan dapat mencapai perubahan sikap dalam diri siswa. 4. Merangsang diskusi Kegunaan media untuk merangsang diskusi sering kali disebut sebagai papan loncat (springboard), diambil dari bentuk penyajian yang relatif singkat kepada sekelompok siswa dan dilanjutkan dengan diskusi. Format media biasanya menyajikan masalah atau pertanyaan, sering kali melalui drama atau contoh pengalaman manusia yang spesifik. Penyajian dibiarkan terbuka (open-ended), tidak ada penarikan kesimpulan atau saran pemecahan masalah. Kesimpulan atau jawaban diharapkan muncul dari siswa sendiri dalam interaksinya dengan pemimpin atau dengan sesamanya. Penyajian media diharapkan dapat merangsang pemikiran, membuka masalah, menyajikan latar belakang informasi dan memberikan fokus diskusi. Film atau video sering kali digunakan untuk tujuan ini. 5. Mengarahkan kegiatan siswa Pengarahan kegiatan merupakan penerapan dari metode pembelajaran yang disebut kinerja (performance) atau metode penerapan (application). Penekanan dari metode ini adalah pada kegiatan melakukan (doing). Media dapat digunakan secara singkat atau sebentar-sebentar untuk mengajak siswa mulai dan berhenti. Dengan kata lain program media digunakan untuk mengarahkan siswa melakukan kegiatan langkah demi langkah

(step-by-step). Penyajian bervariasi, mulai dari pembelajaran sederhana untuk kegiatan siswa, seperti tugas pekerjaan rumah sampai pengarahan langkah demi langkah untuk percobaan laboratorium yang kompleks. Permainan merupakan metode pembelajaran yang sangat disukai khususnya bagi siswa sekolah menengah, memiliki nilai motivasional yang tinggi, melibatkan siswa lebih baik daripada metode pembelajaran yang lain. 6. Melaksanakan latihan dan ulangan Dalam belajar keterampilan, apakah itu bersifat kognitif atau psikomotor. Pengulangan respons-respons dianggap sangat penting untuk kemajuan kecepatan dan tingkat kemahiran. Istilah "drill" digunakan untuk jenis respons yang lebih sederhana seperti menerjemahkan kata-kata asing atau mengucapkan kata-kata asing. "Practice" biasanya berhubungan dengan kegiatan yang lebih kompleks yang membutuhkan koordinasi dari beberapa keterampikan dan biasanya merupakan penerapan pengetahuan, misalnya latihan olahraga timi atau individual, memecahkan berbagai bentuk masalah. Penyajian latihan adalah proses mekanis murni dan dapat dilakukan dengan sabar dan tak kenal lelah oleh media komunikasi, khususnya oleh media yang dikelola oleh komputer. Laboratorium bahasa juga salah satu contoh media yang digunakan untuk pengulangan dan latihan. 7. Menguatkan belajar Penguatan sering kali disamakan dengan motivasi, atau digolongkan dalam motivasi. Penguatan adalah kepuasan yang dihasilkan dari belajar, di mana cenderung meningkatkan kemungkinan siswa merespons dengan tingkah laku yang diharapkan, setelah diberikan stimulus. Penguatan paling efektif diberikan beberapa setelah saat setelah respons diberikan. Karena itu harus terintegrasi dengan fungsi media yang membangkitkan respons siswa, seperti fungsi 3, 4, 5, 6, 8. Jenis penguatan yang umum digunakan adalah pengetahuan tentang hasil (knowledge of results). Suatu program media bertanya kepada siswa, kemudian siswa meyusun jawabannya atau memilih dari beberapa kemungkinan jawaban. Setelah siswa menentukan jawaban, ia sangat termotivasi untuk segera mengetahui jawaban yang benar. Jika jawaban benar dan ia tahu, ia dikuatkan, bahkan jika jawabannya salah, evaluasi dari jawabannya, menunjukkan seberapa dekat jawabannya mendekati kebenaran, juga dapat menguatkan. Media apa pun yang dapat digunakan untuk menyajikan informasi juga mampu menyajikan pertanyaan dan merangsang siswa untuk menjawab. Media apa pun yang mampu melakukan fungsi ini, ia juga mampu memberikan jawaban benar terhadap responsnya (actions or manipulations), sehingga memberikan latihan terhadap perilaku yang kompleks yang membutuhkan lingkungan khusus. Contoh yang sering ditemui adalah simulator mobil yang digunakan dalah latihan mengendara dan simulator pesawat. 8. Memberikan pengalaman simulasi Simulator adalah alat untuk menciptakan lingkungan buatan yang secara realistis dapat merangsang siswa dan bereaksi, seperti pelatihan pilot. Instruktur biasanya menjadi

bagian dari sistem, memberikan penilaian segera dan menyelipkan kerusakan pada sistem untuk memberikan siswa latihan mengatasi masalah. Media komunikasi sering kali memegang peranan penting dalam simulasi, sejak siswa harus mengkomunikasikan informasi kepada mesin dan sebaliknya mesin meninformasikan pengguna tentang pencapaiannya. Simulator tidak terbatas pada sistem yang konkret dan "self-contained", tetapi dapat diaplikasikan pada sistem yang lebih abstrak seperti ekonomi nasional dari negara kuno, anggaran belanja sistem sekolah atau fungsi bantuan kedutaan dalam negara Afrika. Program komputer dapat memungkinkan simulasi sistem yang kompleks, menerima masukan dari siswa, menghitung hasil dan menginformasikan kepada siswa melalui media komunikasi tentang perubahan yang dilakukan dalam sistem. Jenis lain dari simulasi adalah permainan, mensimulasikan sistem yang kompetitif dengan dua atau lebih siswa atau kelompok belajar berinteraksi satu sama lain. Karena sangat mirip dengan simulator yang dapat merefleksikan kenyataan, permainan dapat mengembangkan respons yang siap ditransfer ke dunia yang sebenarnya. Bermain peran (role playing) juga merupakan bagian dari teknik simulasi yang dapat digunakan untuk mengajarkan keterampilan tentang hubungan antarmanusia. Media, biasanya film, video digunakan untuk merekam suatu pertemuan antara siswa dan seseorang yang mensimulasikan kehidupan nyata seseorang, siswa dilatih berinteraksi dengannya. Sumber : Sudirjo, Sudarsono dan Siregar, Eveline. Media Pembelajaran sebagai Pilihan dalam Strategi Pembelajaran. dalam Prawiradilaga, Dewi Salma dan Siregar, Eveline. 2007. Mozaik Teknologi Pendidikan. Jakarta : Universitas Negeri Jakarta. Diposkan oleh m_win_afgani di 00:05 0 komentar Label: media pembelajaran

Jumat, 2009 Februari 06
AL-KHUYANDI : Teori Matematikanya "Mengilhami" Teorema Fermat yang Mengguncang Dunia
Bulan juni 1993, media-media cetak dan elektronika sempat gonjang-ganjing. Dunia ilmu pengetahuan gempar berat. Dan kegemparan itu berpangkal pada Prof. Dr. Andrew Wiles seorang matematikawan muda (40 tahun) yang ahli teori bilangan dari Universitas Priceton AS yang dinilai sukses besar dalam membuktikan dan memecahkan teka-teki teori terakhir Fermat yang telah berusia 356 tahun - setelah menyuntuki selama kurang lebih 5 tahun. Dalam wujud kalimat, teorema atau dalim itu berbunyi : "jika x, y, dan z masing-masing merupakan bilangan bulat positif, maka x berpangkat n ditambah y berpangkat n mustahil akan menghasilkan z berpangkat n, keculai bila n berupa bilangan bulat dan maksimal sama dengan dua". (yang dimaksud bilangan bulat positif adalah 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya. Jadi bukan pecahan seperti 0,2 atau 0,3 atau 1/2, 1/4 dan semacamnya). Sedang dalam bentuk persamaan dapat ditulis : , untuk n > 2

Tapi, jika n = 2 maka akan sama persis dengan persamaan dari teorema Phytagoras yang sudah jamak bagi siswa sekolah menengah atau santri madrasah. "Teka-teki" teori Fermat baru muncul jika n > 2 misalkan n = 3 maka 4^3 + 3^3 tak sama dengan 5^3 sebab 64 + 27 = 91 sedangkan 5^3 itu sendiri adalah 125. Dengan kata lain 91 bukanlah 5^3. Jadi teori tersebut sangatlah benar. Yang payah ialah membuktikan kebenarannya itu. Cobalah umpamanya mencari bilangan z yang bulat untuk persamaan-persamaan dengan n > 2 berikut : 2^3 + 3^3 = z^3, maka z = ? 1^4 + 2^4 = z^4, maka z = ? puyeng, saking sulitnya ! Teka-teki besar yang berusia 3 abad lebih inilah yang kabarnya telah mampu dibuktikan oleh Prof. Dr. Wiles pada tahun 1993 lalu, dan sebelumnya oleh pendekar matematika negeri Nippon, Yutaka Taniyama pada 1954 - walau secara tidak langsung. Lantas apa kaitannya dengan Al-Khuyandi yang hidup sekitar 700 tahun sebelum lahirnya Pierre De Fermat, pencetus teori tersebut ?. Ilmuwan legendaris Al-Biruni dalam "Tahdid Nihayat Al Amakin" dalam RIMA viii (1962) mengakui dan menyanjung-nyanjung Khuyandi sebagai cendekiawan yang "Awhad Zamanihi" (tiada tandingan dan tiada bandingan di masanya) terutama di bidang konstruksi aneka rupa peralatan astrolabe dan peralatan astronomis lain. Sejumlah manuskrip yang telah diabadikan dari risalahnya "Fi'amal al-Ala al-Amma" mendeskripsikan suatu instrumen universal yang disebut "al-Ala al-Amma" atau "alShamila". Ini biasanya digunakan sebagai pengganti asrolabe atau quadrant-alat berbentuk seperempat lingkaran. Astronom dan matematikawan spesialis geometri ini pintar pula merencang bangun sebuah sfera perlengkapan militer dan perlengkapan lain. Untuk merekayasa semua instrumen tersebut tentunya Al-Khuyandi telah habis-habisan berkubang dalam berbagai masalah teoritis bidang-bidang terkait, termasuklah umpamanya yang menyangkut tata letak rancangan sebuah astrolabe. Dari eksperimen-eksperimen itulah Khuyandi berhasil pula menemukan setidak-tidaknya 2 metode seperti yang digunakan Abu Nasr Mansur, untuk menentukan posisi dan lingkaran-lingkaran dari azimut pada astolabe melalui titik potong atau persimpangan antara khatulistiwa (equator) dan mukantarat (risala fi mujazat dawa'ir al-Sumut fi'l Asturlab' dalam "rasa'il ila al-Biruni", Hyderabad 1948). Karya terpenting Khuyandi dalam sfera instrumen-instrumen astronomis adalah sekstan yang disebut "al-Suda al-Fakhri" (dipersembahkan khusus kepada Fakhr al-Dawla) yang dirancang untuk menentukan kemiringan ekliptik. Peralatan tersebut dan bermacam observasi yang dilakukan dengan memakai instrumen itu dilukiskannya dalam buku "risala fi'il mayl wa 'ard al-balad" (editor L.Cheikho, dalam "Machriq", 1908).

Al-Biruni sendiri memberikan analisis terinci tentang ini dalam kitabnya "tahdid" yang dianggap dilandaskan pada "makalah fi tashih al-mayl" karangan Khuyandi (mungkin diidentikkan dengan "risala fi'l mayl" yang dikutip di atas). Sekstan tersebut memiliki diameter 40 dhira' atau cubit (1 cubit kira-kira sama dengan 18-22 inchi), sedang sekstannya al-Biruni beridiameter 80 cubit. Dibuatnya di Tabruk dekat Rayy serta diselaraskan dengan perencanaan untuk menentukan meridian (garis bujur); dikelilingi dengan dinding-dinding dan bagian atasnya dilingkupi semacam atap dan dibagian tertentu terdapat semacam kubah atau kolong dengan sebuah celah bergaris tengah 3 shibr (= jengkal) berada persis di pusat sekstan. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur cahaya matahari, melalui proses pemantulan cahaya matahari yang kemudian terlempar masuk ke dalam bolongan bulat pada sekstan tersebut. Dan untuk menentukan pusatnya, Khuyandi menggunakan sebuah lingkaran yang berjari-jari sama dengan 2 diameter yang tegak lurus dan ditempatkan dilingkaran tersebug sehingga dapat diterpa cahaya. Intelektual yang gegap gempita dengan prestasi besar ini menekankan dan mengklaim bahwa sekstan merupakan hasil temuannya dan dengan itu, katanya, "Aku dapat membuat perhitungan-perhitungan hingga ke atom-atom terkecilnya". Instrumen serupa tampaknya telah digunakan pula dalam observatori-observatori di Maragha (didirikan sebelum tahun 660/1261 - 1262) dan di Samarkand (ditegakkan pada 823/1420). Dengan "Suds al-Fakhri" ini, Khuyandi mengamati ketinggian meridian dititik balik matahari (soltice) musim kemarau dan dititik balik matahari musim dingin tahun 384/994. Prosedurnya meliputi kegiatan observasi-observasi selama 2 hari berturut-turut pada saat titik balik matahari dan dalam pemetaan, momentum yang tepat lewat matahari masuk ke titik baliknya. Semua ini dapat dilaksanakan sekitar bulan juni, namun observasi ulangan dengan prosedur sama, yang dilakukan di bulan desember mengalami hambatan oleh awan sehingga ketepatan dan keseksamaan seluruh observasi turut berpengaruh. Observasi-observasi tersebut dilakukan di bawah bimbingan dan pengawasan sekelompok intelektual peneliti senior, termasuk dalam hal penggarapan laporan-laporannya. Hasil nya adalah sigma = 23 derajat 32 menit 19 detik (sedang versi al-Biruni dalam "al-Kanun Al Mas'udi", Hyderabad 1954, adalah sigma = 23 derajat 32 menit 21 detik, terpaut 2 detik). Hasil tersebut jika diperbandingkan dengan pengamatan astronom-astronom india (24 derajat) dan Ptolemy (23 derajat 51 menit) akan semakin mengokohkan justifikasi pada keyakinan Khuyandi dalam masalah reduksi progresif pada kemiringan ekliptika. Al-Biruni sendiri percaya bahwa harga sigma itu konstan (dalam "Tahdid" dan "Kanun") menegaskan bahwa Khuyandi mengatakan kepadanya bahwa celah kolong yang dimasuki berkas cahaya matahari itu telah dipindahkan ke sebelah bawah sekitar sejengkal sebelum dilaksanakan observasi-observasi mengenai titik balik matahari musim dingin. Sehingga dengan demikian ia tidaklah tepat benar dengan pusat sekstan. Fakta ini dapat menjelaskan tentang berkurangnya harga sigma pada penentuanpenentuan lain yang dilakukan secara kasar di waktu-waktu yang sama. Selain itu, Khuyandi melancarkan pula serentetan observasi ilmiah lain semisal menentukan garis lintang kota Rayy pada 35 derajat 34 menit 39 detik, disamping

menegaskan bahwa ia juga telah mengobservasi planet-planet untuk (dipersembahkan hasilnya kepada) Fakhr al-Dawla dengan menggunakan sfera-sfera untuk keperluan kemiliteran dan peralatan astronomi lain. Hasil akhir dari penelitian tersebut dikompilasi dalam sebuah buku bertajuk "al-Zij alFakhri". Selain itu, sebuah salinan dari sebuah "Zij" berbahasa Persia, diabadikan dalam Majlis Library di Teheran Iran, diduga didasarkan pada observasi-observasi ilmiah alKhuyandi. Periode yang tercantum pada tabel-tabel pergerakan-pergerakan rerata itu adalah 600 tahun dari era Yazdagirdi, atau seputar 2 abad setelah kemangkatan alKhuyandi (lihat E.S. Kennedy, "A Surve 0f Islamic Astronomical Tables", sebuah survey perihal tabel-tabel astronomi islam, 1956). Nama resmi ilmuwan asal Khuyand Transoxania ini adalah Abu Mahmud Hamid bin alKhidr al-Khuyandi. ia hidup di masa pemerintahan Buwayhid Fakhr al-Dawla (366387/976 - 997) dan wafat ditahun 390/1000 dengan mewariskan sejumlah karya ilmiah dibidang astronomi dan matematika, khususnya geometri. Di antara begitu banyak karya matematikanya, yang pada umunya telah menguap entah ke mana, sebagian masih bisa dijumpai di Kairo yaitu dalam wujud manuskrip dari sebuah risala tentang geometri. Dan perhatian utamanya difokuskan khusus pada resolusi atau penguraian persamaan-persamaan berpangkat 3 dengan metode-metode geometri. Dari kekhusyuan mengkaji dan ketekunannya menelaah ia berhasil menciptakan satu rumusan atau dalil atau teorema yang berbunyi bahwa "jumlah dua bilangan berpangkat 3 tak akan membuahkan bilangan berpangkat 3 lainnya" (The sum of two cubed numbers cannot be another cube). Kendati bunyi kalimat kedua teorema tersebut (versi Fermat dan versi Khuyandi) tampak berbeda namun jika dicermati baik-baik, apalagi kalau disertai dengan elaborasi intelektual yang memadai maka akan terasa adanya nuansa kemiripan. Atau mungkin, dengan kalimat yang bijaksana dapat dikatakan bahwa teori Fermat tersebut bukanlah gagasan murni Pierre De Fermat melainkan merupakan pengembangan berantai dari ide atau teorem al-Khuyandi yang telah berumur kurang lebih 1000 tahun itu. Atau paling tidak, Khuyandi memiliki saham utama bagi munculnya teka-teki teori Fermat. Perlu pula diingatkan bahwa dalil tersebut ditulis Fermat hanya dalam bentuk catatan-catatan lepas di tepi halaman bukunya. Lalu menyebutkan bahwa ia telah menemukan bukti-buktinya namun tidak dituliskannya, dengan alasan kekurangan tempat di halaman buku tersbut. Di samping teori itu, Khuyandi pun terbilang penemu "Kaidah Sinus" yang diistilakannya sebagai "Kaidah Astronomis". Nasir al-Din al-Tusi dalam "kitan Shakl al-Katta", Istambul 1891 menegaskan bahwa Abu'l Wafa' al-Buzajani, Abu Nasr Mansur bin Ali bin Irak dan al-Khuyandi merupakan 3 serangkai penulis yang memiliki peran dan jasa besar dalam penemuan "Kaidah Sinus", (atau "Kaidah Astronomis" (Kanun al-Hay'a menurut istilah Khuyandi, lantaran kerapnya digunakan dalam astronomi)). Meskipun demikian, P.Luckey dalam salah satu bukunya, pada prinsipnya menolak pera al-Khuyandi dengan alasan bahwa ia adalah "intelektual

lapangan". Kendati karyanya merupakan karya-karya unggulan yang menghentak emosi namun dia lebih sibuk bergerak di ladang astronomis praktis. Sumber : Arsyad, Natsir. 2000. Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibie. Jakarta : RajaGrafindo Persada. Diposkan oleh m_win_afgani di 22:45 0 komentar Label: Agama Islam Posting Lama Langgan: Entri (Atom)

Sekarang, Jam ... Anda pengunjung yang keFree Counter The following text will not be seen after you upload your website, please keep it in order to retain your counter functionality vegas blackjack

Arsip Blog

▼ 2009 (12) o ▼ Mei (3)  Proporsi  Rasio  Pembelajaran Kontekstual o ► Maret (1)  Fungsi Evaluasi Pendidikan o ► Februari (8)  Kelebihan dan Kekurangan E-Learning  Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran  AL-KHUYANDI : Teori Matematikanya "Mengilhami" Teo...  Tahap-Tahap Memecahkan Persoalan Secara Numerik  Aspek Inteligensi Seseorang  Fungsi Penilaian  Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi  Komponen Strategi Pembelajaran ► 2008 (49)

o

o

o o

o

o

o

o

► Desember (2)  Foto Penelitian Tesis di SMA N 1 Palembang  Foto Sidang Tesis ► September (2)  Motivasi dan Pengajaran  Motivasi Siswa ► Agustus (1)  Sumber-Sumber Masalah Penelitian Pendidikan ► Juni (12)  TEORI URUTAN PADA GARIS  POSTULAT SEJAJAR EUCLID  Geometri Riemann  Geometri Lobachevsky  Teori Belajar Aliran Behavioristik  Pelajaran dari ALam  Lingkungan Komputer  Emoticon and Abbreviations list  Tata Aturan dalam Penulisan e-Mail  Manfaat e-Education  Pengaruh Negatif Teknologi Komputer  Foto Seminar Nasional Pend.Matematika, 16 Januari ... ► Mei (4)  Foto Seminar Proposal Tesis  Tempat download mp3 gratis  Download anything what you want !  Persamaan Pada Bidang Koordinat ► April (13)  Turunan  Koordinat titik potong antara dua persamaan garis ...  Persamaan garis lurus melalui dua titik  Tujuh Langkah dalam Membuat Mind Map  Tahukah anda bahwa...?  Foto-foto Angkatan 2000 MIPA Matematika Universit...  Troubleshooting Harddisk  Karakteristik Hardisk  Penilaian Menyeluruh dan Berkelanjutan  Lembar Observasi Sikap Siswa  Ilmu Metafisik  Hadits : P e R n I k A h A n  Cendekiawan Muslim : Abdul Rahman As-Sufi ► Maret (9)  Kegunaan Media Komunikasi dalam Pembelajaran  Orasi Terakhir Nabi Muhammad SAW  Pidato Abu Bakar, Khalifah Pertama  MEDIA SELECTION ► Februari (2)

o •

► Januari (4)

► 2007 (1) o ► September (1)

Talking, talking Only. OK
<a href="http://www4.shoutmix.com/?winz0010">View shoutbox</a> Free chat widget @ ShoutMix

i am what i am

Lihat profil lengkapku

KISI-KISI PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2005

Tujuan Judul Pengusul

Institusi Pengusul Metoda Seleksi Monitoring dan Semi-nar Biaya Jangka Waktu Penyerahan usulan

Memberikan pembinaan bagi peneliti muda sekaligus memberikan p proposal dan melakukan penelitian secara baik. Sesuai dengan bidang yang ditekuni dan ada relevansinya dengan m peneliti. a. Jabatan Asisten Ahli (Golongan IIIa atau IIIb), mempunyai NIP bukan oleh seorang Pembimbing dari Fakultas yang bersangkutan, b. Seorang Dosen hanya diperbolehkan mengajukan satu usulan peneliti c. Susunan Tim Peneliti terdiri atas Ketua Peneliti dan 2 Anggot Mahasiswa S1 atau S2. Fakultas a. Desk evaluation, b. Presentasi Lembaga Penelitian Rp 4.200.000,00 (Empat juta dua ratus ribu rupiah) 7(tujuh) bulan 2(dua) eksemplar, selambat-lambatnya tanggal 4 April 2005 pk. 12.00 wib.

Témplate Proposal (click di sini)

LEMBAR PENILAIAN USULAN PENELITIAN DOSEN MUDA TAHUN ANGGARAN 2005
NOMOR ID: UGM/………../.........../2005 (lihat sudut kanan atas sampul usulan)
KRITERIA PENILAIAN NO. 1 2 3 4 5 6 KRITERIA Intisari Latar Belakang Tinjauan Pustaka Landasan Teori dan Hipotesis Cara Penelitian Kelayakan Penelitian ACUAN PENILAIAN USULAN PENELITIAN Judul; Tujuan Penelitian; Cara penelitian Permasalahan; Keaslian Penelitian; Faedah yang di-harapkan; Tujuan Penelitian Tinjauan Pustaka dan Daf-tar Pustaka Landasan Teori dan Hipo-tesis Cara Penelitian dan Anali-sis Hasil Ruang Lingkup; Jadwal Pe-nelitian; Perkiraan Biaya; Tim Peneliti Jumlah BOBOT, % 5 25 15 15 25 15 100 SKOR 1,2,4,5

Hasil penilaian

: Diterima / Ditolak

Saran/Rekomendasi untuk usulan yang diterima (jika tempat yang tersedia tidak cukup dapat ditulis di halaman sebaliknya) Catatan: Passing Grade=350

DAFTAR PENERIMA HIBAH PENELITIAN DOSEN MUDA SUMBER DANA: DIPA UGM TAHUN 2005
NO. 1 2 3 4 5 JUDUL PENELITIAN FAKULTAS BIOLOGI Hubungan Kekerabatan Beberapa Provenan Jati (Tectona grandis, Lf.) Secara Fenetik Optimasi Pertumbuhan Kultur Dunaliella salina Isolat Jepara, Jawa Tengah Melalui Variasi Media Tumbuh FAKULTAS FARMASI Kultur Suspensi Sel: Produksi Kalus Friabel dari Bagian Akar Bunga Pukul Empat (Mirabilis jalapa L.) Isolasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Fraksi Etil Asetat Ekstrak Buah Mengkudu FAKULTAS FILSAFAT Filsafat Pendidikan Dalam Film Kartun Anak Disney: Studi Nilai-nilai Pedagogis Dalam

P A. Razaq Eko Agus

Djoko San

Abdul Roh

Siti Murtin

6 7 8 9 10 1 11

Petualangan Film Kartun Winnei The Pooh, Micky Mouse, dan Donald Duck. Tauhid Al-Wujud Syeh Siti Jenar dan Unio Mystica Bima: Sebuah Studi Komparasi

Agus Hi M.Ag.

FAKULTAS GEOGRAFI Model Fisik Sederhana untuk Mengetahui Laju Pelindian Nitrat pada Tanah di Dekat Visi Asrini Kali Sembung, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta Pengembangan Pusat Pelayanan Ekonomi di Daerah Pinggiran Sebagai Alternatif Rini Rach Penanganan Problematik Ruang di Kota Yogyakarta Transformasi Wilayah Pedesaan di Pinggiran Kota Ygyakarta Andri Kurn FAKULTAS HUKUM Analisis Yuridis Terhadap Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Source Code Piranti Lunak Komputer: Studi Kasus Kepemilikan Hak Cipta antara Outsource dan Perusahaan Piranti Lunak di Yogyakarta 2 FAKULYAS ILMU BUDAYA Dari Mantri Hingga Dokter Jawa: Studi tentang Kebijakan Pemerintah Kolonial Dalam Penanganan Penyakit Cacar dan Pengaruhnya terhadap Pelayananan Kesehatan Masyarakat Jawa pada Abad XIX dan Awal Abad XX FAKULTAS KEDOKTERAN Studi Kohort Prevalensi Obesitas Siswa-siswi Sekolah Lanjutan Pertama (SLTP) Kotamadya Yogyakarta Perbedaan Komposisi Badan dan Dimorfisme Seksual Anak Umur 12-15 Tahun di Dataran Tinggi Samigaluh dan Dataran Rendah Galur Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta Minimalisasi Metode Invasif untuk Penilaian Defisiensi Besi di Daerah Perifer FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN Isolasi dan Identifikasi Virus Penyebab Penyakit pada Kasus Terdiagnosa Avian influenza Studi Morfologi Sistem Syaraf pada Esophagus Kelelawar Daniar R.

Baha’uddi

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

dr. Emy H

Janatin Ha

dr. Tri Rat

drh. M. Ha drh. Dewi

Perbandingan Struktur Anatomis dan Distribusi Kandungan Beberapa Jenis Lektin drh. Arian Dalam Lambung Codot (Rosettus sp.) dan Lawa (Hipposiderus galeritus) FAKULTAS KEHUTANAN Dinamika Ruang Dalam Sistem Agroforestry Priyono S Peningkatan Kualitas Tempat Tumbuh Cemara Udang (Casuarina sp.) untuk Mengatasi Cekaman Air FAKULTAS MIPA Kinetika Peningkatan Cd(II) oleh Asam Humat yang Diisolasi dari Tanah Gambut Toksisitas Ekstrak Etanol Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (scheff) boerl) dan Efeknya terhafap Ekspresi Gen p53 dan Bcl-2 Sel Normal Sisntesis 4-(3,4-Dimetoksi-Fenil)-3-Buten-2-on dan 4-(4-Hidroksi-3-Metoksi-Feniil)-3Buten-2-on serta Uji Aktivitasnya Sebagai Atraktan Lalat Buah FAKULTAS PERTANIAN Kajian Genesis dan Watak Lapisan Padas Olah pada Tanah-tanah Sawah di Yogyakarta Infeksi Anisakis sp. Pada Layur (Trichiurus sp.) di Pantai Selatan Kabupaten Purworejo FAKULTAS PETERNAKAN

Dra. Wina

Sri Sudion Dra. Enda

Deni Pran

Makruf Nu

Eko Setyo

25 26 27

28 29 30

Pemanfaatan Limbah Litter Ayam Potong Sebagai Upaya Recovery Lahan Kritis Bagi Pengembangan Hijauan Makanan Ternak Pembuatan Paket Mikrobia Aditif Pakan untuk Proses Konservasi Hijauan Makanan Ternak Studi Perbandingan Keragaman Genetik Antar Populasi Sapi Peranakan Ingole (PO) dan Silangan Sapi PO (Sapi Simpo dan Limpo) Berdasarkan Polimorfisme Protein Darah FAKULTAS TEKNIK Penggunaan Model Numerik Tsunami untuk Menentukan Tinggi dan Waktu Tempuh Penjalaran Gelombang Tsunami FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN Penerapan Distinct Element Method untuk Analisis Interaksi Tanah dengan Roda Sarang Traktor Tangan Formulasi untuk Memperbaiki Flavor Buah Alpukat Hasil Restrukturisasi

Bambang

Nafiatul U

Dyah Mah

Abdul Bas

Rudiati M.Dev. Te Zaki Utam

Menentukan Skor
Untuk menentukan skor akhir peserta ujian akhir di SD Perlanjasira ditetapkan ketentuan sebagai berkut: -Jawaban benar dikali 4 -Jawaban tidak diisi dikali 0 -Jawaban salah dikali -1 Dari 5 soal ujian yang diberikan, diperoleh hasil ujian 4 siswa seperti berikut: Buatlah program komputer untuk menentukan skor nilai dari pelajar di atas. Nama Betra Rido Irvan Rio 1 A C A C 2 B A A B 3 C A A A 4 D B B A 5 B A A

Algoritma 0. Mulai 1. Tentukan nama, nilaibenar,nilaisalah,nilaikosong 2. Tentukan banyak siswa, mis N 3. Ulangi I mulai dari 1 s.d N 4. Ulangi J mulai dari 1 s.d. 50 Jika Soal(I) adalah Benar maka

Skor(I)=Skor(I) * 4 Jika Soal(I) adalah Salah maka Skor(I)=Skor(I)*1 Jika tidak Skor(I)=Skor(I)-0 5. Ulangi ke J 6. Ulangi Ke I 7. Cetak nama dan skor 8. Selesai Implementasi
Private Sub Form_Activate() Option Base 1 Dim Nama(4) As String * 15, Jawaban(4,5) As String * 1 Dim Kunci(4) As String * 1 Dim Skor(5) As Integer Dim I,J,N As Byte Nama(1)="Betra" : Nama(2)="Rido" : Nama(3)="Irvan" : Nama(4)="Rio" 'Jawaban Betra Jawaban(1,1)="A" : Jawaban(1,2)="A" : Jawaban(1,3)="A" : Jawaban(1,4)="A" Jawaban(1,5)="A" 'Jawaban Rido Jawaban(2,1)="A" : Jawaban(2,2)="A" : Jawaban(2,3)="A" : Jawaban(2,4)="A" Jawaban(2,5)="A" 'Jawaban Irvan Jawaban(3,1)="A" : Jawaban(3,2)="A" : Jawaban(3,3)="A" : Jawaban(3,4)="A" Jawaban(3,5)="A" 'Jawaban Rio' Jawaban(4,1)="A" : Jawaban(4,2)="A" : Jawaban(4,3)="A" : Jawaban(4,4)="A" Jawaban(4,5)="A" 'Kunci Jawaban Kunci(1)="A" : Kunci(2)="A" : Kunci(3)="A" : Kunci(4)="A" : Kunci(5)="A" For I=1 to 4 Step 1 Skor(I)=0 For J=1 To 5 Step 1 IF Jawaban(I,J)=Kunci(I) Then Nilai=4 ElseIf Jawaban(I,J)="K" Then Nilai=0 Else Nilai=-1 End IF Skor(I)=Skor(I)+Nilai

Next J Next I 'Cetak nama dan skor For I=1 To 3 Step 1 Print Nama(I);Skor(I) Next I End Sub Tulisan ini dikirim pada pada Rabu, Juni 10th, 2009 8:08 am dan di isikan dibawah Menentukan Skort. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->