P. 1
Tes Bahasa Ditilik Dari Macam Dan Syaratnya

Tes Bahasa Ditilik Dari Macam Dan Syaratnya

4.33

|Views: 2,172|Likes:
Published by WIDIATMOKO
Sebelum mengenali aneka macam tes bahasa, akan saya ulas sedikit pengertian evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes. Hal ini dimaksudkan agar istilah yang bertalian dengan tes tidak menjadi rancu. Kita sering mendengar kata ‘evaluasi’ yang dipahami sebagai kegiatan penilaian pada akhir suatu program kegiatan. Di dalam banyak literatur, istilah evaluasi dapat kita temukan sebagai istilah yang bertalian dengan bidang psikologi, pendidikan, manajemen, dan sebagainya. Di dalam kamus linguistik terapan, Richards et.al (1985) mendefinisikan evaluasi sebagai pengumpulan informasi secara sistematik untuk keperluan pengambilan keputusan. Di dalam terminologi penelitian, istilah evaluasi digunakan secara silih berganti dengan istilah metoda, maka digunakanlah metoda kuantitatif (seperti: tes) dan metoda kualitatif (seperti: observasi dan kiraan). Di dalam penelitian evaluasi, bahkan, sebagaimana ditemukan istilah evaluasi oleh Anderson et.al (1975) di dalam Encyclopedia of Educational Evaluation, dipahami sebagai program yang bertujuan memberikan informasi untuk pengambilan keputusan. Dipertegas di dalam pengertiannya, Patton (1980) di dalam pengantarnya memahami evaluasi sebagai istilah penelitian, yaitu administrasi tes baku pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bertalian dengan program pembelajaran bahasa, evaluasi dipahami sebagai keputusan yang dibuat tentang kualitas program dan keputusan tentang individu di dalam program tersebut. Naga (2002) memberikan definisi evaluasi sebagai proses untuk melakukan pertimbangan nilai tentang sesuatu (produk, kinerja, tujuan, proses, prosedur, program, pendekatan, fungsi).
Sebelum mengenali aneka macam tes bahasa, akan saya ulas sedikit pengertian evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes. Hal ini dimaksudkan agar istilah yang bertalian dengan tes tidak menjadi rancu. Kita sering mendengar kata ‘evaluasi’ yang dipahami sebagai kegiatan penilaian pada akhir suatu program kegiatan. Di dalam banyak literatur, istilah evaluasi dapat kita temukan sebagai istilah yang bertalian dengan bidang psikologi, pendidikan, manajemen, dan sebagainya. Di dalam kamus linguistik terapan, Richards et.al (1985) mendefinisikan evaluasi sebagai pengumpulan informasi secara sistematik untuk keperluan pengambilan keputusan. Di dalam terminologi penelitian, istilah evaluasi digunakan secara silih berganti dengan istilah metoda, maka digunakanlah metoda kuantitatif (seperti: tes) dan metoda kualitatif (seperti: observasi dan kiraan). Di dalam penelitian evaluasi, bahkan, sebagaimana ditemukan istilah evaluasi oleh Anderson et.al (1975) di dalam Encyclopedia of Educational Evaluation, dipahami sebagai program yang bertujuan memberikan informasi untuk pengambilan keputusan. Dipertegas di dalam pengertiannya, Patton (1980) di dalam pengantarnya memahami evaluasi sebagai istilah penelitian, yaitu administrasi tes baku pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bertalian dengan program pembelajaran bahasa, evaluasi dipahami sebagai keputusan yang dibuat tentang kualitas program dan keputusan tentang individu di dalam program tersebut. Naga (2002) memberikan definisi evaluasi sebagai proses untuk melakukan pertimbangan nilai tentang sesuatu (produk, kinerja, tujuan, proses, prosedur, program, pendekatan, fungsi).

More info:

Published by: WIDIATMOKO on Aug 05, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2010

TES BAHASA DITILIK DARI MACAM DAN SYARATNYA

Oleh Widiatmoko E.: moko.geong@gmail.com W.: http://widiatmoko.blog.com

Pengertian Sebelum mengenali aneka macam tes bahasa, akan saya ulas sedikit pengertian evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes. Hal ini dimaksudkan agar istilah yang bertalian dengan tes tidak menjadi rancu. Kita sering mendengar kata ‘evaluasi’ yang dipahami sebagai kegiatan penilaian pada akhir suatu program kegiatan. Di dalam banyak literatur, istilah evaluasi dapat kita temukan sebagai istilah yang bertalian dengan bidang psikologi, pendidikan, manajemen, dan sebagainya. Di dalam kamus linguistik terapan, Richards et.al (1985) mendefinisikan evaluasi sebagai pengumpulan informasi secara sistematik untuk keperluan pengambilan keputusan. Di dalam terminologi penelitian, istilah evaluasi digunakan secara silih berganti dengan istilah metoda, maka digunakanlah metoda kuantitatif (seperti: tes) dan metoda kualitatif (seperti: observasi dan kiraan). Di dalam penelitian evaluasi, bahkan, sebagaimana ditemukan istilah evaluasi oleh Anderson et.al (1975) di dalam Encyclopedia of Educational Evaluation, dipahami sebagai program yang bertujuan memberikan informasi untuk pengambilan keputusan. Dipertegas di dalam pengertiannya, Patton (1980) di dalam pengantarnya memahami evaluasi sebagai istilah penelitian, yaitu administrasi tes baku pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bertalian dengan program pembelajaran bahasa, evaluasi dipahami sebagai keputusan yang dibuat tentang kualitas program dan keputusan tentang individu di dalam program tersebut. Naga (2002) memberikan definisi evaluasi sebagai proses untuk melakukan pertimbangan nilai tentang sesuatu (produk, kinerja, tujuan, proses, prosedur, program, pendekatan, fungsi).

Berbeda halnya dari evaluasi, penilaian dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengukur kadar pencapaian tujuan. Definisi ini muncul karena Nurgiyantoro (1995) menggunakan istilah penilaian di dalam konteks pendidikan dan pengajaran sebagai proses. Tuckman (1975) yang dinukil oleh Burhan (1995) memberi arti penilaian sebagai suatu proses untuk mengetahui (menguji) apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai atau belum dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Di dalam dunia pendidikan, penilaian memang dapat diartikan sebagai pemberian nilai atau pertimbangan hasil belajar pembelajar, cara mengajar pendidik, kegiatan belajar mengajar, kurikulum atau program pendidikan. Sedangkan pengukuran, sebagaimana didefinisikan oleh Naga (2002), adalah pemberian bilangan pada atribut dari subjek (makhluk, benda, peristiwa) menurut aturan. Bilangan yang diberikan itu adalah sekor (data), sedangkan atribut dari subjek itu adalah sasaran ukur (sasaran ukur atribut dan sasaran ukur subjek atau responden). Gronlund (1981) membedakan pengukuran dari evaluasi. Pengukuran menurutnya dipandang sebagai deskripsi perilaku secara kuantitatif, dalam hal ini ia berupa sekor tes. Dalam proses belajar mengajar, kita akan banyak bersinggungan dengan istilah tes. Tes, secara umum, dipahami sebagai prosedur untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, atau kinerja. Istilah tes tentu digunakan juga di dalam banyak hal. Ada yang dikenal dengan tes bakat di dalam psikologi; TOEFL (Test of English as a Foreign Language), TOEIC (Test of English for International Communication), IELTS (The International English Language Testing System) di dalam bahasa Inggris; tes tengah semester, tes akhir akhir semester di dalam pendidikan; dan sebagainya. Istilah tes di sini sering digunakan secara silih berganti dengan istilah ujian. Tes sebagaimana didefinisikan di dalam Webster’s Collegiate adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kapasitas, atau bakat seseorang. Pada definisi lain, para ahli mendefinisikan tes untuk menunjuk pada alat untuk membedakan individu atau kelompok bertalian dengan pengalaman yang dialaminya. Tes di dalam terminologi penelitian sering dianggap sebagai salah satu alat ukur (instrumen) di samping alat ukur lain yang berupa nontes (observasi, skala sikap). Dalam tulisan ini, akan disinggung tes secara khusus, yakni tes bahasa. Oller (1979) sebelum mendefinisikan tes bahasa telah mengetahui bahwa tes yang dimaksud adalah tes bahasa asing. Dengan demikian definisi yang dimaksud adalah alat yang digunakan untuk menilai seberapa besar seseorang telah belajar bahasa asing tersebut. Bagi kebanyakan sekolah, tes bahasa asing merupakan salah satu tes yang diberikan selain tes bidang studi yang lain. Tes

bahasa sebagaimana tes yang lain merupakan bagian integral di dalam proses belajar mengajar di mana ia diputuskan sebagai penentu yang sesuai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa atau mahasiswa di kelas di dalam suatu periode program pembelajaran. Seiring dengan perkembangan metoda pengajaran bahasa, tes bahasa juga mengalami perubahan yang kini lebih sering terdengar istilah tes bahasa secara komunikatif. Oleh karena itu, pengertian tes bahasa merupakan definisi yang lebih sering digunakan di dalam pembelajaran bahasa yang merupakan rangkaian akhir pembelajaran setelah perhatian pada kurikulum atau silabus dan proses pembelajaran dengan metodanya.

Macam-macam Tes Bahasa Di dalam banyak literatur tes bahasa, ditemukan sejumlah macam tes bahasa. Namun secara mendasar, sebelum tes diberikan kepada siswa atau mahasiswa, dikenali secara baik alasan-alasan mengapa suatu tes diberikan. Heaton (1990) menyajikan alasan-alasan suatu tes diberikan, yakni mencari kemajuan belajar, memotivasi belajar, menemukan kesulitan belajar, mengetahui prestasi belajar, mengetahui tingkat kemampuan, menyeleksi calon pembelajar, dan mengetahui kelancaran berbahasa. Manakala tes diberikan dengan alasan untuk mencari kemajuan belajar siswa atau mahasiswa, tes tersebut adalah progress test. Jenis tes ini memiliki karakteristik, seperti kecenderungan 80% - 90% terdapat nilai B (baik) atau A (baik sekali), mencakupi materi yang tidak banyak dalam rentang waktu yang pendek, dan diberikan secara sedikit tidak formal. Jenis tes ini juga dapat dimaksudkan untuk mencari kesulitan belajar siswa atau mahasiswa. Ini berarti bahwa tes ini selain sebagai alat untuk memotivasi belajar juga mencari materimateri yang masih lemah dikuasai. Harapan bahwa nilai sebagian besar siswa atau mahasiswa tinggi, ternyata yang ditemui sebaliknya, maka tes ini pun digunakan sebagai alat ukur untuk mendeteksi kesulitan belajar. Dengan demikian, siswa atau mahasiswa mampu melakukan perbaikan dalam masa pengayaan (remedial teaching) sehingga ketinggalan materi ajar dapat diikuti. Secara sederhana, progress test pada saat tertentu dapat berfungsi sebagai diagnostic test. Waktu pelaksanaannya sama dengan progress test, hanya saja diagnostic test sedikit lebih formal sehingga persiapannya pun sedikit lebih baik. Sedangkan jenis tes yang dimaksudkan untuk mengetahui prestasi belajar siswa atau mahasiswa, tes formatif atau tes sumatif atau lebih dikenal dengan tes tengah semester atau tes akhir semester biasa diberikan. Karakteristik antarkeduanya sedikit berbeda. Tes formatif mencakupi jumlah materi yang lebih sedikit dibandingkan dengan yang ada pada tes sumatif. Tes formatif

diberikan dalam rentang waktu yang lebih pendek dari suatu program pembelajaran, sedangkan tes sumatif diberikan dalam rentang waktu yang lebih lama dari suatu program pembelajaran. Tes formatif diberikan selama proses pembelajaran, sedangkan tes sumatif diberikan pada akhir program. Meskipun terdapat perbedaan, kedua jenis tes tersebut juga memiliki kesamaan, yakni kedua jenis tersebut diberikan dalam keadaan yang lebih formal, memiliki kecenderungan rentangan nilai yang merata dari yang terendah hingga tertinggi dan berdistribusi normal. Selain jenis-jenis tes di atas yang diberikan pada saat proses pembelajaran berlangsung dan pada akhir program pembelajaran, jenis tes tersebut juga diberikan pada awal program. Jenis tes ini meliputi tes seleksi dan tes penempatan. Tes seleksi bertujuan untuk memilih calon pembelajar yang terbaik. Selain itu, tes ini juga memiliki karakteristik, seperti menggunakan standar penilaian kriteria (criterion reference test), mencakupi jumlah materi yang bersifat umum dan luas, membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk memenuhi jumlah pembelajar, dan lebih memberatkan pihak penyelenggara karena pada suatu saat tidak diperoleh calon pembelajar yang terbaik. Biasanya yang melakukan kegiatan ini adalah sekolah atau kampus unggulan. Sebaliknya, tes penempatan adalah tes yang bertujuan untuk memilih calon pembelajar sesuai dengan tingkatnya, misalnya tingkat mahir, tingkat semenjana (intermediate), tingkat novice, dan sebagainya. Biasanya yang sering menggunakan jenis tes ini adalah penyelenggara kursus bahasa. Namun, tidak menutup kemungkinan jenis tes ini dipadukan dengan jenis tes seleksi. Ini dapat dilakukan manakala penyelenggara tes memiliki calon pembelajar dalam jumlah yang sangat banyak, sedangkan yang dibutuhkan hanya separonya. Dengan demikian, tes seleksi dilakukan untuk mencari separo calon pembelajar terbaik. Selain itu, dari separo jumlah peserta yang diterima tersebut, diklasifikasikan menurut nilai capaian yang mereka dapatkan, misalnya 20 pembelajar bernilai terbaik berada di kelas A, 20 berikutnya di kelas B, dan seterusnya. Ada juga tes yang diberikan tidak pada awal, proses, dan akhir program, melainkan berdiri sendiri. Jenis tes ini lazim ditemui, seperti proficiency test. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemahiran berbahasa seseorang. Biasanya seseorang yang melakukan tes ini pernah belajar bahasa tersebut dalam kurun waktu tertentu. Tes ini mencakupi TOEFL (Test of English as a Foreign Language), TOEIC (Test of English for International Communication), dan sebagainya. Tes pertama dimaksudkan untuk tujuan akademik, sedangkan tes kedua untuk tujuan vokasional. Di berbagai negara kedua jenis ini sering dilakukan. Reliabilitas Tes

Agar tes bahasa dapat digunakan sebagai alat ukur, ia harus memenuhi persyaratan, yang meliputi, yakni reliabilitas. Reliabilitas suatu tes, menurut Nurgiyantoro (1995) berarti bahwa tes tersebut bersifat konsisten di mana ia akan memperoleh hasil ukur yang kurang lebih sama pada sesuatu yang diukur, jawaban siswa atau mahasiswa relatif tetap, dan hasil tes diperiksa oleh siapa pun akan menghasilkan sekor yang kurang lebih sama. Naga (2002) mendefinisikan reliabilitas sebagai tingkat kecocokan antara hasil ukur dan keadaan sesungguhnya pada responden. Ada sejumlah jenis reliabilitas yang dapat digunakan, yakni jenis konsistensi internal, stabilitas, dan ekivalensi. Konsistensi internal terdiri atas pilah paruh Spearman-Brown, koefisien Alpha Cronbach, Kuder-Richardson 20 (KR-20), Kuder-Richardson 21 (KR-21). Stabilitas terdiri atas uji-uji ulang. Ekivalensi terdiri atas uji-uji setara. Uji pilah paruh (split-half) dilakukan dengan cara memisahkan sekor hasil tes ke dalam kelompok ganjil dan kelompok genap. Kemudian dilakukan perhitungan jumlah sekor kelompok ganjil dan jumlah sekor kelompok genap. Kedua jumlah sekor tersebut dikorelasikan untuk mendapatkan koefisien korelasi (r). Akhirnya kita menghitung koefisien korelasi seluruh tes, dengan rumus r = (2xr)/(1+r), di mana r adalah reliabilitas. Koefisien Alpha Cronbach diterapkan pada tes yang memiliki sekor berskala atau politomi, artinya sekor tes itu memiliki sejumlah kemungkinan yang berjenjang, misalnya 1-5 atau yang lain bergantung pada maksud penyusunannya. Pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan koefisien reliabilitas Alpha Cronbach ini adalah mengenai sikap, minat, motivasi, dan lainlain yang jawabannya berskala. Rumus koefisien Alpha Cronbach adalah r = [K/(k-1)] x [1-(ΣSi2)/(St2)], K adalah jumlah butir, ΣSi2 adalah jumlah variansi butir, St2 adalah variansi total. Pengujian reliabilitas dengan menggunakan KR-20 dan KR-21 dilakukan dengan membandingkan sekor butir-butir tes. Manakala butir-butir tes menunjukkan tingginya tingkat kecocokan, disimpulkan bahwa tes tersebut akurat atau mengukur secara akurat. Penggunaan KR-20 menghasilkan koefisien lebih besar daripada dengan KR-21. KR-20 juga lebih rumit. Tetapi manakala untuk menguji tes yang bersifat heterogen dan mencakupi berbagai pokok bahasan, KR-20 lebih direkomendasikan. Sebaliknya KR-21 sekalipun lebih sederhana dan mengukur secara lebih akurat dalam memberikan penafsiran, ia tidak mampu menguji alat tes yang heterogen. Rumus KR-20 adalah r = [n/(n-1)] x [1-(Σpq)/(S2)], n adalah jumlah butir, p adalah proporsi jawaban betul, q proporsi jawaban salah, dan S2 variansi. Sedangkan rumus KR-21 adalah r = [n/(n-1)] x [1-{μ(n-μ)}/{nS2}], μ adalah rataan (means). Uji-uji ulang digunakan untuk memperkirakan tingkat stabilitas tes dengan melakukan kegiatan pengukuran dua kali pada tes yang sama kepada siswa atau

mahasiswa yang sama. Hasil tes pertama dan kedua kemudian dikorelasikan. Manakala koefisien korelasi (r) tinggi, tes yang diujicobakan dinyatakan stabil atau reliabel. Teknik uji-uji ulang memiliki beberapa kelemahan, antara lain: sulit untuk menghilangkan pengaruh jawaban tes yang pertama, adanya kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tes kedua, misalnya berupa meningkatnya kemampuan siswa atau mahasiswa sebagai hasil belajar, sulit menciptakan dua kondisi penyelenggaraan dua kali tes, dan menuntut siswa atau mahasiswa mengalami dua kali tes yang dirasa kurang menguntungkan dan memberatkan siswa atau mahasiswa. Uji-uji setara digunakan untuk menguji tingkat reliabilitas tes yang dilakukan terhadap dua perangkat tes yang setara. Kedua tes tersebut memiliki jumlah butir, susunan, tingkat kesulitan, dan tujuan pengukuran yang sama. Ini dilakukan dengan cara mengujicobakan kedua tes tersebut kepada subjek yang sama, kemudian hasilnya dikorelasikan. Pengujian ini hampir sama dengan ujiuji ulang. Tetapi, yang membedakan adalah bahwa uji-uji setara terdiri atas dua perangkat tes yang berbeda. Untuk menyiapkan perangkat tes ini tentu bukan pekerjaan yang mudah, sehingga dapat dikatakan bahwa uji-uji setara pun juga memiliki kelemahan. Validitas Tes Naga (2002) mendefinisikan validitas sebagai kecocokan antara alat ukur dan sasaran ukur. Harrison (1983) mendefinisikan validitas sebagai sejauh mana alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas terdiri atas validitas isi, validitas kriteria, dan validitas konstruk. Sebagian ahli membagi validitas menjadi validitas isi, validitas prediktif, validitas serentak, dan validitas konstruk. Validitas isi menunjuk pada pengertian apakah alat tes itu memiliki kesesuaian dengan tujuan dan deskripsi bahan ajar. Manakala butir-butir tes secara jelas dimaksudkan untuk mengukur tujuan-tujuan tertentu dan mewakili bahan yang diajarkan, dikatakan tes tersebut memiliki validitas isi. Pemenuhan validitas isi dilihat dari tersedianya kisi-kisi yang baik yang dipakai sebagai dasar penyusunan butir-butir tes di samping juga ketepatan masing-masing butir itu sendiri. Validitas isi pada dasarnya tidak memerlukan perhitungan statistik. Dengan demikian, sebenarnya validitas isi hampir sama dengan validitas wajah yang hanya memperhatikan kesesuaian elemen-elemen yang harus dipenuhi dalam kisi-kisi tes. Validitas konstruk bertalian dengan konstruk atau konsep bidang bahasa atau bidang lainnya yang akan diuji validitasnya. Ini menunjuk pada pengertian apakah tes yang disusun itu telah sesuai dengan konsep ilmu yang diteskan tersebut. Untuk menentukan tingkat validitas konstruk, penyusunan butir

dilakukan dengan mendasarkan diri pada kisi-kisi. Jenis validitas konstruk digunakan untuk mempertimbangkan tingkat validitas butir yang berhubungan dengan masalah sikap, motivasi, minat, dan lain-lain yang menggunakan skala bertingkat. Validitas kriteria menunjuk pada pengertian seberapa jauh siswa atau mahasiswa yang sudah diajarkan bidang bahasa atau bidang lainnya menunjukkan kemampuan yang lebih tinggi daripada mereka yang belum diajarkan. Naga (2002) menyebutkan validitas ini bertujuan untuk menentukan kecocokan antara hasil ukur berdasarkan pada sasaran ukur prediktor dan sasaran ukur kriteria. Hasil ukur atau sekor prediktor merupakan hasil ukur yang diperoleh melalui penerapan alat ukur pada subjek yang validitasnya diperiksa. Sedangkan hasil ukur kriteria merupakan acuan untuk melihat kecocokannya dengan hasil ukur prediktor. Validitas ini tediri atas dua, yakni validitas serentak dan validitas prediksi. Validitas serentak merupakan validitas di mana hasil ukur kriteria dan hasil ukur prediktor terjadi pada waktu yang sama. Alat ukur kriteria merupakan alat ukur baku yang biasa dipakai, sedangkan alat ukur prediktor merupakan alat ukur hasil rakitan baru yang biasanya dibuat oleh guru atau dosen. Validitas prediksi merupakan validitas di mana hasil ukur kriteria terjadi kemudian setelah hasil ukur prediktor. Hasil ukur prediktor digunakan untuk memprediksi keadaan kemudian, misalnya hasil ukur ujian masuk sekolah atau perguruan tinggi memprediksi hasil belajar kemudian. Hasil ukur kriteria diperoleh kemudian dengan membuat alat ukur kriteria. Rumus koefisien validitas adalah ρval = ρAxAy, di mana ρval adalah koefisien validitas, Ax adalah hasil ukur prediktor, dan Ay adalah hasil ukur kriteria. Kepraktisan Kepraktisan yang dimaksud di sini adalah bahwa tes harus mempertimbangkan nilai ekonomi, kemudahan pelaksanaan, kemudahan pensekoran, dan kemudahan penafsiran. Pertimbangan ekonomis merupakan salah satu syarat tes yang diperlukan. Tidak mungkin kita melakukan tes tanpa mempertimbangkan hal ini sekalipun syarat valid dan reliabel dipenuhi. Kemudahan pelaksanaan berarti bahwa pelaksanaan tes tidak menuntut berbagai fasilitas yang rumit dan tidak tersedia di pihak penyelenggara. Pemilihan alat tes hendaknya juga mempertimbangkan kemudahan pensekoran pada hasil pekerjaan siswa atau mahasiswa. Dipertimbangkan juga pedoman penilaian, khususnya tes bentuk uraian. Kemudahan penafsiran juga merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan. Ini berarti bahwa tes yang baik harus disertai pedoman bagaimana menafsirkan hasil tes tersebut, apakah ia menuntut ditafsirkan dengan menggunakan acuan normatif atau acuan kriteria.

Simpulan Agar seorang guru atau dosen mampu memberikan penilaian hasil belajar siswa atau mahasiswanya, ia terlebih dahulu harus memahami pengertian yang saling tumpang tindih di antara evaluasi, penilaian, pengukuran, dan tes. Seorang guru atau dosen bahasa tentu saja akan bersinggungan dengan itu semua. Tes sebagaimana dipahami sebagai prosedur untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, atau kinerja. Demikian pula halnya dengan tes bahasa, tentu untuk mengukur kemampuan, pengetahuan, atau kinerja bahasa seseorang. Ada banyak macam tes bahasa berdasarkan alasan-alasan mengapa suatu tes diberikan. Secara mendasar, ada tes yang diberikan pada awal suatu program, selama proses pembelajaran, maupun pada akhir suatu program, dan ada pula yang terlepas dari suatu program. Yang terakhir biasanya berupa tes kemahiran, dalam bahasa Inggris dijumpai banyak ragamnya, seperti TOEFL, TOEIC, IELTS, dan sebagainya. Seorang guru atau dosen selain mengenal macam dan alasannya suatu tes diberikan, juga yang paling mendasar adalah bagaimana ia menyusun perangkat tes yang memenuhi syarat tes yang baik. Syarat ini mencakupi validitas, reliabilitas, dan kepraktisan. Pustaka Acuan Anderson, Scarvia B., Samuel Ball. Encyclopedia of Educational Evaluation. San Francisco: Jossey Bass, Inc. 1975. Nurgiyantoro, Burhan. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE. 1995. Naga, Dali S. Pengantar Teori Sekor pada Pengukuran Pendidikan. Jakarta: Gunadarma. 1992. Naga, Dali S. Teori Tes dan Pengukuran. Jakarta: Program Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta. 2002. Harrison, Andrew. A Language Testing Handbook. London: Macmillan Press. 1983. Heaton, J.B. Classroom Testing. London: Longman Group. 1990. McDonald, Roderick P. Test Theory: A Unified Treatment. New Jersey: Lawrence Erlbaum. 1999. Oller, John W. Language Tests at School. London: Longman Group. 1979. Patton, Michael Quinn. Qualitative Evaluation Methods. California: Sage Publications, Inc. 1980. Richards Jack, John Plat, dan H. Weber. Longman Dictionary of Applied Linguistics. England: Longman Group. 1985. Weir, Cyril J. Communicative Language Testing. United Kingdom: Prentice Hall. 1990.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->