P. 1
DAMPAK VARIABEL EKONOMI MAKRO TERHADAP KINERJA EKONOMI INDONESIA TAHUN 1990-2012

DAMPAK VARIABEL EKONOMI MAKRO TERHADAP KINERJA EKONOMI INDONESIA TAHUN 1990-2012

|Views: 68|Likes:
Published by Hamdi Rafiqi
statistik ekonomi
statistik ekonomi

More info:

Published by: Hamdi Rafiqi on Nov 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $4.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

04/22/2014

$4.99

USD

pdf

text

original

DAMPAK VARIABEL EKONOMI MAKRO TERHADAP KINERJA EKONOMI INDONESIA TAHUN 1990-2012

Diajukan Sebagai Syarat Menyelesaikan Mata Kuliah Time Series Dosen: Dr. Budiasih

Nama Nim Kelas

: : :

Hamdi Rafiqi 10.6298 3 SE 1

SEKOLAH TINGGI ILMU STATISTIK JAKARTA 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan atau Kinerja Ekonomi ekonomi sebagai sebuah proses peningkatan output dari waktu ke waktu menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu Negara (Todaro, 2005). Oleh karena itu identifikasi berbagai macam faktor yang mempengaruhinya termasuk peran pemerintah menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam. Menurut teori dasar pertumbuhan ekonomi Neoklasik dari Solow dan Swan (1956) tidak terdapat pengaruh peran pemerintah terhadap pertumbuhan baik dalam bentuk pengeluaran maupun pajak (Kneller et al., 1999). Pertumbuhan atau / Kinerja Ekonomi hanya dipengaruhi oleh stok kapital, tenaga kerja dan teknologi yang bersifat eksogen. Pemerintah dapat mempengaruhi pertumbuhan populasi yang akan mempengaruhi ketersediaan tenaga kerja namun tidak berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Teori pertumbuhan endogen (endogeneous growth theory) menjelaskan bahwa investasi pada modal fisik dan modal manusia berperan dalam menentukan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Kontribusi pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi dapat dijelaskan melalui pengaruhnya dalam melakukan perubahan konsumsi atau pengeluaran untuk investasi publik dan penerimaan dari pajak. Kelompok teori ini juga menganggap bahwa keberadan infrastruktur, hukum dan peraturan, stabilitas politik, kebijakan pemerintah, birokrasi, dan dasar tukar internasional sebagai faktor penting yang juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran pemerintah sebagai bentuk nyata dari campur tangan pemerintah dalam perekonomian telah menjadi objek penting untuk diteliti. Penelitian terhadap negara di Asia di antaranya dilakukan oleh Cheng (1997). Dengan pendekatan Vector Autoregressive (VAR) Cheng membuktikan adanyapengaruh positif signifikan antara pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi di Korea Selatan. Penelitian lain yang juga menunjukkan bahwa ekspansi pengeluaran pemerintah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi antara lain ditemukan oleh Singh dan Sahni (1984) dan Ram (1986). Di sisi lain terdapat pula penelitian yang menunjukkan signifikansi hubungan kedua variabel tersebut namun dengan pola hubungan yang cenderung negatif.

Penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh Landau (1986) dan Russek (1990). Di Indonesia sektor pemerintah memiliki peranan besar dalam sejarah perekonomian. Peran tersebut dituangkan pemerintah dalam bentuk pelaksanaan kebijakan fiskal untuk mencapai tujuan utama pembangunan berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi, mengurangi pengangguran dan mengendalikan inflasi. Kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah Indonesia memiliki dua instrumen utama yaitu perpajakan dan pengeluaran. Pengeluaran pemerintah sebagai salah satu instrumen penting kebijakan fiscal diharapkan mampu mendorong kegiatan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah mengoptimalkan peran tersebut dengan meningkatkan pengeluaran (share) terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Secara riil pengeluaran pemerintah juga meningkat sejalan dengan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB). Peran pemerintah dalam perekonomian ditunjukan oleh pengeluaran untuk bidang ekonomi dalam persentase dari total pengeluaran cenderung meningkat. Pengeluaran pemerintah sebagai salah satu instrumen kebijakan fiskal merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Beberapa pertanyaan penelitian yang akan dijawab adalah apakah pertumbuhan ekonomi periode sebelumnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi periode berikutnya secara signifikan? Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis pengaruh dampak variable-variabel ekonomi (suku bunga , nilai tukar , Pendapatan Nasional Bruto, Indeks harga grosir, dan Indeks Harga Konsumen ) terhadap pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Sementara itu, manfaat penelitian ini diharapkan dapat menambah literatur di bidang ekonomi publik dan sebagai referensi penelitian selanjutnya, serta memberi masukan dan informasi bagi pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan semua pihak yang tertarik dengan kajian pengaruh anggaran pemerintah terutama pengeluaran terhadap pertumbuhan ekonomi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas, maka rumuskan masalah dari penelitian adalah sebagai berikut : 1. Apakah Variabe- variable makro ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Ekonomi Indonesia periode 1990-2012 ? 2. Seberapa besar dan bagaimana arah hubungan antara kedua jenis kelompok Variabel Independen dan Dependen dalam persamaan Kinerja Ekonomi jangka pendek dan jangka panjang dengan menggunakan model Error Correction Model (ECM).

3. Bagaimana efektifitas dari proses mekanisme penyesuaian jangka panjang yang dipengaruhi oleh proses mekanisme jangka pendek sehingga Kinerja Ekonomi dapat diidentifikasi dengan tepat melalui representasi koefisien Error Correction Term (ECT). 1.3 Tujuan Penelitian Dengan rumusan masalah yang ada, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk menganalisis pengaruh variabe- variable makroekonomi terhadap Kinerja Ekonomi Indonesia periode 1990-2012 ? 2. Untuk menganalisis seberapa besar dan bagaimana arah hubungan antara kedua jenis kelompok Variabel Independen dan Dependen dalam persamaan Kinerja Ekonomi jangka pendek dan jangka panjang dengan menggunakan model Error Correction Model (ECM). 3. Untuk menganalisis efektifitas dari proses mekanisme penyesuaian jangka panjang yang dipengaruhi oleh proses mekanisme jangka pendek sehingga Kinerja Ekonomi dapat diidentifikasi dengan tepat melalui representasi koefisien Error Correction Term (ECT).

1.4

Manfaat Penelitian 1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan manfaat bagi pemerintah sehingga dapat menentukan kebijakan ekonomi yang berkaitan

dengan masalah perekonomian guna meningkatkan Kinerja Ekonomi di Indonesia. 2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada peneliti lain untuk dapat digunakan sebagai referensi pada penelitian yang sejenis.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Teori

2.1.1 Definisi Pertumbuhan Ekonomi Prof. Simon Kuznets memenangkan Hadiah Nobel di tahun 1971 atas analisisnya mengenai batasan mengenai pertumbuhan ekonomi di suatu negara sebagai tumbuhnya kemampuan untuk meningkatkan penawaran berbagai bendabenda ekonomi dalam jangka waktu yang lama bagi penduduknya. Kenaikan itu sendiri beberapa faktor dalam negara itu sendiri seperti : (1) akumulasi kapital yang mencakup semua investasi baru berupa tanah dan sumberdaya manusia; (2) pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja; dan (3) kemajuan teknologi (Todaro, 1985). Prof. Kuznets dalam Todaro (1985) menambahkan definisi pertumbuhan ekonomi memiliki 3 komponen pokok, yakni : meningkatnya output nasional secara terus-menerus, adanya perkembangan teknologi, dan padanya penyesuaian lembagalembaga dan inovasi di bidang sosial. Dalam analisanya Prof. Kuznets juga menjelaskan 6 karaktreistik mengenai gambaran atau proses pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh beberapa negara maju, yaitu: a. Laju pertumbuhan output perkapita yang tinggi dan pertambahan penduduk. b. Produktivitas tenaga kerja yang meningkat dengan pesat. c. Transformasi struktural ekonomi yang tinggi. d. Transformasi sosial dan ideologi yang tinggi. e. Kecenderungan negara maju untuk melakukan ekspansi ke belahan dunia yang lain untuk pemasaran output dan eksplorasi sumber bahan mentah. f. Terbatasnya penyebaran pertumbuhan ekonomi yang hanya meliputi sepertiga penduduk dunia saja. Pertumbuhan ekonomi juga dapat didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan output perkapita jangka panjang yang terjadi apabila ada kecenderungan output naik yang bersumber dari

Tingkat kemajuan teknologi yang terlihat dari peningkatan keterampilan atau kemajuan teknik sehingga produktivitas perkapita meningkat. pengeluaran pemerintah (G). yakni masyarakat yang pola kehidupannya masih menggunakan caracara sangat sederhana dan tingkat produktivitasnya sangat terbatas.E) Teori pertumbuhan ekonomi menurut Harrod-Domar menyatakan setiap penambahan stok modal melalui investasi masyarakat akan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan output. bukan berasal dari luar atau bersifat sementara. pertumbuhan angkatan kerja (L). L. investasi (I). Dengan adanya kemajuan teknologi. Masyarakat tradisional.1 Ringkasan Teori Pertumbuhan Ekonomi Teori ekonomi klasik yang dipelopori oleh Adam Smith menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan terjadi apabila ada peningkatan jumlah kapital dan spesialisasi kerja. Sasaran pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu tujuan utama suatu negara dan merupakan suatu determinan penting dalam menilai kesejahteraan masyarakat di suatu negara. dan kemajuan teknologi (E) berinteraksi dalam perekonomian. Teori pertumbuhan ekonomi menurut Solow menunjukkan bagaimana persediaan modal (K). 2. .1. Perhitungan pertumbuhan ekonomi diperoleh dengan persamaan di bawah ini : GDP growth = ( ) ( ( ) ) Dimana GDP merupakan akumulasi dari konsumsi masyarakat (C). Sedangkan Rostow membagi tahapan pertumbuhan ekonomi kedalam lima tahapan yakni: a.kekuatan yang berada dalam perekonomian itu sendiri. dan ekspor netto yakni selisih dari ekspor dan impor X-M). model Solow menjelaskan kenaikan yang berkelanjutan dalam standar hidup masyarakat dengan fungsi produksi sebagai berikut : Y = f (K. Fungsi produksi ditambahkan satu variabel E yakni teknologi sebagai faktor eksternal dalam teori Solow. Teori David Ricardo pada umumnya sama dengan teori Adam Smith secara garis besar tapi lebih menekankan faktor keterbatasan lahan dan pertumbuhan penduduk.1.

d. WPI diperbarui setiap minggu dan berdasarkan kemungkinan rentang waktu yang paling pendek. Ada banyak keuntungan menggunakan WPI. 2. dan sebagai bahan dalam menganalisa pasar dan memonitor keadaan. organisasi. c. WPI mengurutkan ratusan jenis barang dan membantu para pembuat kebijakan untuk membuat keputusan yang terkait dengan ekonomi. WPI adalah indikator untuk mengikuti pertumbuhan ekonomi secara umum. WPI sangat komprehensif. Masyarakat tingkat kematangan. yakni masyarakat yang mulai sadar akan pembangunan ekonomi. yaitu dua minggu. e. Ketiga.b. Sudah mulai mengembangkan industri dan jasa yang diikuti dengan penggunaan sumberdaya secara optimal. WPI adalah indikator ekonomi yang digunakan untuk memberikan informasi dan mengukur perubahan tingkat harga rata-rata trade goods yang diperdagangkan pada pasar besar atau harga pada penjualan besar. Keuntungan-keuntungan ini menjadikan WPI populer di hampir semua industri.1. Ini adalah data yang sangat komprehensif. Masyarakat konsumsi tinggi. Masyarakat prasyarat untuk lepas landas. Kehidupan perekonomiann ditopang dengan penggunaan sumberdaya alam dan sumber daya alam yang matang.2 WPI (Tingkat Harga Luar Negeri) Variabel yang digunakan untuk menunjukkan tingkat harga luar negeri adalah Wholesale Price Index (WPI) / Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat. WPI adalah indeks yang mendeskripsikan pergerakan harga komoditas dalam perdagangan dan transaksi. terdapat peranan ilmu pengetahuan yang aktif. Pertama. . yakni sudah dapat mengatasi ketergantungan kepada negara lain. Ini adalah salah satu indeks terbaik untuk menangkap perubahan harga dengan cara yang komprehensif. yakni perkembangan IPTEK digunakan dalam menunjang kegiatan perekonomian. WPI adalah indikator ekonomi yang tersedia untuk para pembuat kebijakan. Kedua. Ratusan data komoditas pada tingkat harga dipisahkan. Masyarakat lepas landas. yakni masyarakat yang pendapatan perkapitanya sangat tinggi. WPI digunakan secara luas sebagai indikator harga di banyak negara. dan memberikan banyak informasi tentang apa yang terjadi terhadap harga umum komoditas. WPI tersedia secara luas di setiap negara.

di mana setiap sektor terdiri dari kelompok subkomoditas. Suku bunga nominal adalah suku bunga yang masih mengandung faktor inflasi sedangkan suku bunga rill merupakan tingkat suku bunga yang didapat dari keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar keuangan. Kebanyakan WPI dibagi ke beberapa kelompok yang sangat umum. WPI dikeluarkan oleh Bureau of Labor Statistics and U.S. Nilai tersebut mewakili perubahan bulanan dalam harga rata-rata dari barang-barang yang dibeli oleh Manufaktur (Pabrik). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut : i= r-π . harga dari semua komoditas diambil sehingga semua industri tercakup.3 Teori Suku Bunga Suku bunga merupakan harga yang dibayar atas kepemilikan sejumlah dana atau modal. Dengan cara ini semua komoditas tercakup dari semua sektor dan harga rata-rata semua komoditas dihitung di tingkat pusat (Seelan. Department of Labor.1. Impor. Suku bunga menurut Irving Fisher membedakan suku bunga dalam dua jenis yakni suku bunga nominal (nominal interest rate) dan suku bunga rill (real interest rate). WPI dihitung dengan dihitung dengan mengumpulkan data dari pusat – pusat kota. Saat ini. 2. Manufaktur. dan sektor pemerintah. 2007). Mereka mungkin merepresentasikan perusahaan yang terkait dengan usaha yang berbeda dan dengan cara ini. Pertambangan. Responden dipilih dari tipe perusahaan yang berbeda. dan Ekspor. WPI dibagi ke dalam kelompok-kelompok yang berbeda. WPI menggunakan tahun dasar 2000 (2000=100). propinsi. ini merupakan cara terbaik untuk menganalisa apa yang sedang terjadi di luar bisnis atau organisasi karena WPI (dan beberapa indikator lainnya) memberikan alat untuk mengukur harga barang dalam bisnis yang secara langsung atau secara tidak langsung terkait dalam setiap bisnis. Dalam perhitungan WPI hanya kota-kota besar atau ibukota negara yang dipilih karena diasumsikan bahwa di kota-kota besar dan ibukota negara terdapat perusahaan dan bisnis besar.bisnis. WPI juga secara umum digunakan sebagai indikator tingkat inflasi dalam ekonomi. seperti: Pertanian. Data Price Index (WPI) / Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari International Financial Statistics (IFS). Untuk ahli ekonomi. WPI menghitung tingkat inflasi yang dialami manufaktur. yang merepresentasikan industri dan bisnis. ibukota propinsi atau ibukota negara.

Hal ini akan meningkatkan besaran suku bunga dengan asumsi jumlah uang yang beredar tetap. r = suku bunga rill. Domestic money market Besaran suku bunga ditentukan dari keseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar keuangan domestik. . Expected inflation Harapan akan meningkatnya tingkat harga ditandai dengan terjadinya infalasi di waktu yang akan datang. Dengan pasar uang yang stabil juga mendorong terjadinya efisiensi dalam pasar uang. Untuk kasus di Indonesia yang memiliki sistem ekonomi terbuka kecil. c. π = tingkat inflasi. Dalam sistem ekonomi terbuka kecil tingkat besaran suku bunga yang berlaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni : a. akan meningkatkan permintaan terhadap uang. yakni terbuka akan mobilisasi sumber kapital global walau peranannya kecil dalam perekonomian global. Expected rate of devaluation Harapan akan menguatnya nilai uang di masa yang akan datang juga akan menentukan besaran suku bunga sebab ekspektasi terhadap nilai mata uang yang akan lebih besar di masa yang akan datang ak kan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk memegang uang. Imported interest rate Mengingat Indonesia adalah negara dengan perekonomian terbuka kecil pasti akan ikut terpengaruhi oleh peerkonomian internasional.dimana. cateris paribus. i = suku bunga nominal. Term asuk variabel suku bunga yang akan ditetapkan sebagai suku bunga nasional. cenderung dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi di negara ekonomi terbuka besar. Pasar keuangan yang stabil akan mendorong terciptanya keseimbangan tingkat suku bunga. Hal ini akan meningkatkan besaran suku bunga dengan asumsi jumlah uang yang beredar tidak berubah. cateris paribus. b. d.

2. Pergerakan nilai tukar di pasar dapat dipengaruhi oleh faktor fundamental dan non fundamental. Penyesuaian terhadap eksternal balance dapat dilakukan melalui pengurangan dalam capital inflow. kurva internal balance berslope negatif yang menunjukan bahwa kenaikan pada domestik absorption akan diikuti oleh apresiasi pada Q sebagai pengalihan pengeluaran dari barang domestik.P*/P) maka Y= C+I+G+(X-M).1) Kurva eksternal balance berslope positif yang menunjukan bahwa kenaikan pada A akan mengurangi net ekspor. Bagian kiri dari kurva internal balance menunjukan kelebihan permintaan dan bagian kanan adalah penawaran. nilai tukar mencerminkan keseimbangan produksi dan konsumsi dari barang trade dan non trade. perkembangan ekspor dan impor. dengan kurva konsumsi berslope negatif maka depresiasi yang terjadi pada Q akan menaikkan harga barang trade terhadap barang non trade (PT/PN). Sementara itu dalam eksternal balance dapat dinatakan dalam: TB = TB(A.Q) – M(Y.1. apresiasi nilai tukar nominal atau lewat kebijakan fiskal dan moneter. akibatnya akan terjadi .Q) = X(Y*. Dengan menggunakan model persamaan identitas pendapatan nasional dapat dijelaskan penentuan nilai tukar dari sisi keseimbangan ekonomi makro. maka G mengalami depresiasi untuk mengalihkan pengeluaran terhadap barang domestik. Jika internal balance dinyatakan dalam: Y= Y(A. Sedangkan Krugman (2000) mengartikan nilai tukar adalah harga sebuah mata dari suatu negara yang diukur atau dinyatakan dalam mata uang yang lain. merupakan harga mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain (Pilbeam. laju inflasi. Proses penyesuaian dalam internal balance dapat dilakukan melalui inflasi. pengurangan tarif impor dan kuota Dari sisi ekonomi mikro. Teori penentuan nilai tukar dapat dijelaskan melalui sisi keseimbangan makro dan keseimbangan mikro dalam keseimbangan makro nilai tukar mencerminkan keseimbangan internal dan keseimbangan eksternal. Faktor fundamental tercermin dari variabel-variabel ekonomi makro. dimana A adalah domestik absorption (C+I+G) dan Q adalah nilai tukar riil (S. 2006). seperti pertumbuhan ekonomi. Nilai tukar suatu mata uang dapat didefinisikan sebagai harga relatif dari mata uang terhadap mata uang negara lainnya. Jika konsumsi barang trade dan non trade dinyatakan dalam CT/CN.Q) (2.4 Nilai Tukar Nilai tukar atau kurs.Q).

sebaliknya kenaikan permintaan impor akan menyebabkan mata uang terdepresiasi pada jangka panjang. tanpa melihat tempat dimana produk tersebut diproduksi.1) Kurva eksternal balance berslope positif yang menunjukan bahwa kenaikan pada A akan mengurangi net ekspor. trade barriers.pengurangan pada konsumsi barang trade terhadap non trade (CT/CN). dengan kurva produksi yang berslope positif maka depresiasi pada Q akan menaikkan harga barang trade terhadap barang non trade (PT/PN) akibatnya akan terjadi kenaikan pada produksi trade terhadap non trade FT/FN. Ketika kita membicarakan perilaku nilai tukar pada jangka panjang. dengan transpotastion cost dan trade barriers yang amat rendah. maka konsep ini berkaitan dengan konsep law of one price dan theory purchasing power parity. preferences for domestic vs foreign goods. Kenaikan permintaan ekspor akan menyebabkan mata uang terappresiasi pada jangka panjang.Q) – M (Y. Proses penyesuaian dalam internal balance dapat dilakukan melalui inflasi. Besarnya share produksi dan konsumsi barang trade terhadap perubahan Q lebih ditentukan oleh kesimbangan dari sisi ekonomi makro. Law of One Price berarti jika kedua negara memproduksi barang yang identik. Sementara itu dalam external balance dapat dinyatakan dalam : TB = TB (A. Sedangkan theory purchasing power parity amerupakan teori yang menyatakan bahwa nilai tukar antara kedua mata uang akan mencerminkan perubahan tingkat harga di kedua negara tersebut. Ketika trade barriers meningkat.Q) = X (Y*. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku nilai tukar pada jangka panjang yaitu relative price levels. Penyesuaian terhadap external balance dapat ketika produktifitas suatu negara . Ketika tingkat harga suatu negara meningkat (relatif pada tingkat harga luar negeri luar negeri) maka mata uang negara tersebut akan terdepresiasi pada jangka panjang. dengan transportation cost dan trade barriers yang sangat rendah. Dan internal balance menunjukan kelebihan permintaan dan bagian kanan adalah kelebihan penawaran. maka mata uang di negara tersebut akan terappresiasi pada jangka panjang. Dengan asumsi barang-barang yang diproduksi identik dikedua negara. dan produktifitas. maka G mengalami depresiasi untuk mengalihkan pengeluaran terhadap barang domestik.Sedangkan untuk rasio produksi barang trade dan non trade dinyatakan dalam FT/FN. maka harga barang tersebut harus sama.Q) (2. apresiasi nilai tukar nominal atau lewat kebijakan fiskal dan moneter.

Dalam realitasnya asumsi yang dibuat dalam teori absolut PPP sangat sukar untuk ditemui. tarif dan pajak tidak langsung.P*. maka proses adjustment melalui penurunan harga barang domestik jika rejim nilai tukarnya adalah tetap (fixed exchange rate). Dimana θ menunjukkan nilai konstan pada biaya. tarif. dimana nilai tukar adalah asset. Dengan fokus pada perubahan nilai tukar. yang diukur dalam indeks harga seperti WPI. Maka modifikasi teori absolud PP menjadi: S = θ. Persamaan ini dapat menunjukkan bagaimana hubungan antara nilai tukar dan tingkat harga domestik.P*). Untuk menjelaskan pengaruh nilai tukar terhadap tingkat harga digunakan teori absolute power parity (PPP) yang diperkenalkan oleh Gustav Cassel (1921.P* Dimana tingkat harga domestik (P) sama dengan tingkat harga internasional yang dikonversi dalam harga domestik (S. yakni pandangan tradisional dan pandangan modern. indeks harga tidak penting bagi barang trade namun indeks harga yang lebih besar seperti GNP deflator atau CPI. Hal ini dapat mengimplikasikan bahwa semakin tinggi tingkat harga domestik relatih terhadap harga internasional. Oleh karena itu perbedaaan harga antar negara yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan. maka mata uang negara tersebut akan terappresiasi. terdapat biaya transaksi. Bagi pendukung sistem nilai tukar fleksibel percaya bahwa . Dalam hal ini jika P>S. Karakteristik utama dari teori ini adalah: (i) barang trade yang homogen dan harga barang non trade yang fleksibel. maka persamaan diatas ditansformasi menjadi: S = P/P*. (iii) biaya transpotasi yang kecil. Sementara itu menurut pandangan modern teori PPP didasarkan pada pendekatan capital acount. dan (iv) pengukuran inflasi yang sebanding. maka teori relatif PPP dapat dibuat sebagai berikut: π = π* + Δ S. Proses adjustment dalam pandangan tradisional dilakukan oleh arbitrase dalam perdagangan internasional. P / P*.1922). Menurut pandangan tradisional teori PPP didasarkan pada pendekatan perdagangan internasional yang diwujudkan dalam harga barang traded. Meskipun untuk barang homogen. ditambah dengan banyaknya barang dan jasa yang berbentuk non traded. maka semakin tinggi pula nilai tukarnya dalam rangka memelihara purchasing power parity tetap konstan.meningkat. Oleh karena itu. dan pajak. Untuk mengekspresikan keberadaan nilai tukar. Dalam teori PPP terdapat dua intrepretasi utama. Dengan karakteristik tersebut maka teori absolute PPP dapat dinyatakan dengan: P = S. (ii) tidak terdapat hambatan dalam perdagangan internasional. atau melalui depresiasi nilai tukar jika rejim nilai tukarnya fleksibel.

diperlukan suatu cara untuk mengubah satuan uang menjadi satuan lain yang dapat lebih langsung menunjukkan daya beli.negara akan memilih tingkat inflasi sesuai dengan preferensi yang diinginkan untuk itu dalam nilai tukar yang fleksibel akan secara pasif mengimbangi perbedaaan inflasi. Setiap bulan. sedangkan dalam jangka pendek akan terjadi deviasi yang disebabkan oleh tingkat inflasi yang tinggi dan besarnya volatilitas nilai tukar khususnys pada rejim nilai tukar fleksibel. kebijakan nilai tukar suatu negara diarahkan untuk mendukung neraca pembayaran dan membantu efektifitas kebijakan moneter. Inilah pekerjaan para ahli statistik yang biasa disebut dengan Indeks Harga Konsumen (IHK).1. Untuk melihat bagaimana sesungguhnya data-data . Fenomena ini hanya dapat berlangsung dalam jangka panjang. Pada umumnya. Sehubungan dengan itu. IHK lazim digunakan untuk memantau berbagai perubahan biaya hidup dari waktu ke waktu. Dalam kaitannya dengan kebijakan moneter. Pada saat IHK ini meningkat. maka kebijakan nilai tukar yang tepat merupakan faktor penting dalam perkenomian suatu negara. Laju inflasi (inflation rate) adalah persentase perubahan tingkat harga pada suatu waktu tertentu dibandingkan dengan tingkat harga pada periode sebelumnya. Badan Pusat Statistik menghitung IHK. Ketika Badan Pusat Statistik menghitung IHK dan tingkat Infasi. depresiasi nilai tukar yang berlebihan dapat mengakibatkan tingginya laju inflasi sehingga menganggu tujuan akhir kebijakan moneter untuk memelihara stabilitas harga. Sebagai alternatif. banyak negara mengadopsi sistem nilai tukar tetap yang bersesuian dengan tingkat inflasi yang rendah. Teori umum PPP menjelaskan bahwa nilai tukar dan tingkat harga akan bergerak dalam satu arah. Para ekonom menggunakan istilah inflasi (inflation) untuk menggambarkan situasi ekonomi di mana keseluruhan harga mengalami kenaikan.5 Indeks Harga Konsumen Untuk membandingkan uang di masa lalu dengan di masa kini. 2. Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index. CPI) adalah ukuran keseluruhan biaya yang harus dibayar oleh seorang konsumen guna memperoleh berbagai barang dan jasa guna memenuhi kebutuhan hidupnya. maka rata-rata keluarga harus membelanjakan lebih banyak uang untuk mempertahankan standar hidup yang sama seperti sebelumnya. lembaga tersebut menggunakan data harga-harga ribuan jenis barang dan jasa.

Dalam contoh yang disajikan pada tabel. Dengan demikian. dapat diandaikan sebuah perekonomian rekaan yang sangat sederhana. Langkah kedua perhitungan Indeks Harga Konsumen adalah mengetahui harga dari setiap barang dan jasa yang ada dalam keranjang belanjaan rata-rata konsumen tersebut dari waktu ke waktu. 2. Langkah keempat adalah memilih salah satu tahun sebagai tahun dasar. Tetapkan Harga. Dalam contoh pada Tabel 2. Pada tahun dasar tersebut. untuk .statistik ini dibentuk. yang akan menjadi patokan perhitungan dan perbandingan tahuntahun lain. kita mengisolasikan dampak perubahan harga dari dampak perubahan kuantitas barang dalam isi keranjang belanjaan rata-rata konsumen yang sebenarnya bisa saja terjadi bersamaan. Dalam contoh pada Tabel 2. memaparkan lima tahapan yang dilakukan oleh Biro dalam menghitung IHK tersebut (Mankiw. 3. maka tentunya harga hotdog lebih penting daripada harga hamburger. Pilih Tahun Dasar. satu keranjang hotdog dan hamburger berharga $ 8. Hasilnya adalah Indeks Harga Konsumen. Jika kebanyakan konsumen membeli lebih banyak hotdog daripada hamburger. Untuk menghitung indeks. Langkah pertama indeks harga konsumen adalah menetapkan harga-harga apa saja yang paling penting bagi rata-rata konsumen. Tetapkan isi Keranjang. Dalam tabel di bawah telah menunjukkan untuk masing-masing tiga tahun yang tercakup. Dengan meneteapkan isi keranjang selalu sama (4 hotdog dan 2 hamburger). kemudian akan ditetapkan bobot-bobot untuk setiap harga melalui serangkaian survei konsumen guna mengetahui barang dan jasa apa saja yang dibeli oleh ratarata konsumen. lalu rasio ini dikalikan 100.1 di bawah menunjukkan harga-harga hotdog dan hamburger pada waktu yang berlainan.1 di bawah disebutkan bahwa keranjang belanjaan dari rata-rata konsumen berisikan 4 hotdog dan 2 hamburger. 2000). Dalam kalkulasi ini hanya harga-harga yang berubah. Hitung Indeksnya. Langkah ketiga dalam menggunakan data harga untuk menghitung biaya atau harga keseluruhan isi keranjang dari waktu ke waktu. tahun 2001 adalah tahun dasar. akan diberikan bobot lebih besar pada harga hotdog daripada harga hamburger dalam perhitungan biaya hidup. yakni hotdog dan hamburger. Hitung Harga Isi Keranjang. yakni: 1. harga sekeranjang barang dan jasa setiap tahun dibagi dengan harganya di tahun dasar. 4. Atas dasar itu. yang hanya mengkonsumsi dua macam barang.

Langkah kelima dan yang terakhir adalah menghitung Indeks Harga Konsumen untuk menghitung tingkat inflasi. GNP tidak memperhitungkan keseimbangan pendapatan lintas negara.mengetahui pergerakan harganya dari waktu ke waktu. Sebagai contoh. keuntungan dari perusahaan yang beroperasi milik AS di Inggris hanya akan dihitung terhadap US GNI dan GDP Inggris. tapi tidak menurun PDB. PNB per kapita adalah pendapatan nasional bruto dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. ini akan tercermin dalam GNI menurun tetapi tidak menurun PDB. yakni persentase perubahan dalam Indeks Harga Konsumen pada suatu saat dibandingkan dengan yang ada pada periode sebelumnya. dan NNI. rekening GNP untuk nilai produk dan jasa berdasarkan kewarganegaraan pemilik daripada wilayah kegiatan. Berbeda dengan GNI. Berbeda dengan PDB. Jika suatu negara menjual sumber daya untuk entitas di luar negara mereka ini juga akan tercermin dari waktu ke waktu menurun GNI. PNB per kapita dalam dolar AS dikonversikan dengan menggunakan metode Atlas Bank Dunia. seperti bunga dan dividen. GDP. Hitung Tingkat Inflasi. Jika suatu negara menjadi dililit hutang. harga pada suatu tahun dibagi $8 lalu dikalikan 100. (Indeks selalu 100 pada tahun dasar). Ini berarti harga keranjang belanjaan di tahun 2002 adalah 175 persen lebih mahal ketimbang harganya di tahun dasar. jadi. 2. GNP adalah sebuah konsep yang sejalan dengan GNI. Ini digunakan untuk menghitung tingkat inflasi baik bulan ke bulan maupun dari tahun ke tahun.6 Pendapatan Nasional Bruto Pendapatan nasional bruto (GNI) adalah jumlah dari nilai tambah oleh semua produsen penduduk ditambah pajak produk (dikurangi subsidi) tidak termasuk dalam penilaian output ditambah penerimaan bersih penghasilan utama (kompensasi karyawan dan pendapatan properti) dari luar negeri.1. PDB tampak lebih menarik bagi negara-negara dengan meningkatnya utang nasional dan aset menurun. dan membayar sejumlah besar bunga untuk membayar hutang ini. Oleh karena itu. . Selanjutnya Indeks Harga Konsumen di tahun 2002 adalah 175. Indeks Harga Kosumen di tahun 2001 adalah 100. 5.

Suku Bunga( BI rate) Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Gambar 2.Sebagai GNI adalah menambahkan Laba Bersih dari luar negeri dan PDB. Sebagai contoh. Indeks Harga Konsumen (CPI/IHK) 4.000. Nilai Tukar (Kurs) 5.000. pendapatan domestik dari tenaga kerja 3. GNI = GDP + (FL-DL) + NCI = C + I + G + (X-M) + (FL-DL) + NCI Ketika FL dan DL adalah masing-masing pendapatan asing dan domestik dari tenaga kerja. 2. jika sebuah negara A PDB nominal adalah $ 20. Tingkat Harga Luar Negeri (WPI) 3.2 Kerangka Pemikiran Adapun variable ekonomi yang dimaksud : 1.000 dari organisasi amal negara lain. seseorang dapat menghitung GNI dengan rumus berikut.000. GNI negara A akan $ 32. Pendapatan Nasional Bruto (GNI) 2. dan NCI capital inflow bersih. dan negara menerima sumbangan $ 10.000 dan pendapatan asing dari tenaga kerja $ 5.1 Kerangka Pemikiran Teoritis GNI (𝑋 ) WPI (𝑋2 ) CPI/IHK (𝑋3 ) Pertumbuhan / Kinerja Ekonomi (GDP) (Y) Kurs (𝑋4 ) Suku Bunga (𝑋5 ) .

3. Tingkat Harga Luar Negeri. Indeks Harga Konsumen.3 Penelitian Terkait Penelitian yang dilakukan oleh Gagan Deep Sharma. Suku Bunga dan Kurs terhadap Kinerja Ekonomi. 2. Tingkat Harga Luar Negeri. Hipotesis ketiga yang diajukan adalah untuk mengetahui pengaruh . Suku Bunga dan Kurs yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Ekonomi. . dan Kurs secara bersamaan terhadap Kinerja Ekonomi. Indeks Harga Konsumen. Hipotesis pertama yang diajukan adalah untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Nasional Bruto . Suku Bunga.Gurvinder Singh dan Sanjeet Singhpada tahun 2011 dengan judul “Dampak variabel ekonomi makro terhadap kinerja ekonomi: Sebuah Studi Empiris dari India dan Sri Lanka”. Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara Pendapatan Nasional Bruto terhadap Kinerja Ekonomi. Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara antara Pendapatan Nasional Bruto terhadap Kinerja Ekonomi. : = 2= 3= 4 = 5 0 Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara Pendapatan Nasional Bruto .4 Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. : = 0. : ≠ 0. Artinya minimal ada satu variable antara Pendapatan Nasional Bruto . : > 0. Hipotesi kedua yang diajukan adalah untuk mengetahui pengaruh Pendapatan Nasional Bruto secara parsial terhadap Kinerja Ekonomi. Tingkat Harga Luar Negeri. Indeks Harga Konsumen. 2.2. Tingkat Harga Luar Negeri secara parsial terhadap Kinerja Ekonomi.

Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara Kurs terhadap Kinerja Ekonomi. Hipotesis keempat yang diajukan adalah untuk mengetahui pengaruh Indeks Harga Konsumen secara parsial terhadap Kinerja Ekonomi. 4. : 4 > 0. Artinya ada penagruh positif dan signifikan antara mesin terhadap produksi kopi dan teh. Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara Kurs terhadap Kinerja Ekonomi. 5. Hipotesis kelima yang diajukan adalah untuk mengetahui pengaruh Suku Bunga secara parsial terhadap Kinerja Ekonomi. Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara Tingkat Harga Luar Negeri terhadap Kinerja Ekonomi. : 3 > 0. Hipotesis keenam yang diajukan adalah untuk mengetahui pengaruh Kurs secara parsial terhadap Kinerja Ekonomi.. : 2 > 0. Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara Indeks Harga Konsumen terhadap Kinerja Ekonomi.. Artinya ada pengaruh positif dan signifikan antara Suku Bunga terhadap Kinerja Ekonomi.. : 3 = 0. Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara Tingkat Harga Luar Negeri terhadap Kinerja Ekonomi. : 5 > 0.. . : 4 = 0.: 2 = 0. 6.. : 5 = 0. Artinya tidak ada pengaruh positif dan signifikan antara Suku Bunga terhadap Kinerja Ekonomi.

dan Tingkat Harga Luar Negeri dalam triwulan dari tahun 1990 kuartal 1 sampai 2012 kuartal 3. Data yang digunakan dalam analisis ini berjumlah 91 observasi.BAB III METODOLOGI 3. Kurs. 3.2 Metode Analisis 3. Pendapatan Nasional Bruto.2. Suku bunga.1 Analisis Inferensia Permasalahan dalam penelitian ini dijawab dengan analisis inferensia dengan pendekatan model ekonometrika untuk data time series dengan tahapan analisis dan pembentukan model dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: .Indeks Harga Konsumen.1 Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari IFS Statistik (BPS) RI. Data yang diperoleh berupa data Produk Domestik Bruto.

maka penelitian ini dijelaskan dalam dua bentuk persamaan sebagai berikut: 1. Sebagai upaya identifikasi awal dan sesuai dengan kerangka pikir. Persamaan Jangka Pendek : 2 2 3 3 4 4 5 5 Keterangan: = tahun t = Koefisien intersep pada persamaan ke-i Perubahan Produk Duomestik Bruto / Perubahan Kinerja Ekonomi pada .Gambar Diagram Tahapan Analisis dan Pembentukan Model Seluruh tahapan analisis dan pembentukan model di atas menggunakan alat bantu software Eviews7.

5) = 2 3 4 5 PTingkat Harga Luar Negeri pada tahun t = Indeks Harga Konsumen pada tahun t = = Nilai Tukar Rupiah pada tahun t Suku Bunga pada tahun t = Tingkat Harga Luar Negeri pada tahun t = error pada persamaan ke-i pada tahun t .2.3.2) variabel prediktor ke-j Perubahan Tingkat Harga Luar Negeri pada tahun t Perubahan Indeks Harga Konsumen pada tahun t Perubahan Nilai Tukar Rupiah pada tahun t Perubahan Suku Bunga pada tahun t Perubahan Tingkat Harga Luar Negeri pada tahun t Speed of Adjusment error pada persamaan ke-i pada tahun t = = = = = = 2.3. Persamaan Jangka Panjang: 2 2 22 2 23 3 24 4 5 5 Keterangan : = Produk Duomestik Bruto / Kinerja Ekonomi pada tahun t = koefisien intersep pada persamaan ke-i = koefisien slope pada persamaan ke-i (i=1.= (j=1.4.5) = 2 3 4 5 koefisien slope pada persamaan ke-i (i=1.2) variabel prediktor ke-j (j=1.2.4.

Kedua persamaan tersebut dianalisis dan dibuatkan model secara terpisah sesuai dengan tujuan penelitian. Berikut dapat dijelaskan masing-masing tahapan analisis dan pembentukan model penelitian ini. statistik uji. dan kovarian pada setiap lag adalah konstan setiap waktu. 2. dan daerah kritis sebagai berikut.05). Uji Kausalitas Uji kausalitas digunakan untuk melihat hubungan sebab akibat antar variabel dalam penelitian. maka diperlukan langkah untuk membuat data menjadi stasioner melalui transformasi data dengan cara diferensiasi. 2009: 324). Hipotesis : H0 : X tidak Granger cause Y (X tidak menyebabkan Y) . Uji Stasionaritas Data time series dikatakan stasioner jika rata-rata. yang sering disebut uji derajat integrasi (Widarjono. Uji kausalitas yang digunakan dalam penelitian ini Uji Pairwise Granger Causality dengan hipotesis. 1. (data mengandung unit root/tidak stasioner) (data tidak mengandung unit root/stasioner) Jika dalam uji ADF menghasilkan kesimpulan bahwa data tidak stasioner yang artinya data mengandung unit root. dan daerah kritis sebagai berikut. varian. Uji stasionaritas yang digunakan dalam penelitian adalah uji Augmented Dickey-Fuller (ADF) dengan hipotesis. statistik uji. Hipotesis : H0 : H1 : Statistik uji: ̂ ( ̂) Tolak H0 jika | | atau p-value < α (dimana α = 0.

untuk melakukan koreksi dan penyesuaian ketidakseimbangan tersebut digunakan ECM dengan persamaan yang akan diidentifikasi dalam penelitian ini. Tolak H0 jika atau p-value < α (dimana α = 0. Pendugaan Parameter. Analisis. dimana .H1 : X Granger cause Y (X menyebabkan Y) Statistik uji yang digunakan adalah uji F (Fob). Sehingga. 1. 2 2 3 3 4 4 5 5 2. dan Diagnosis Model Error Correction Model (ECM) Menurut Engle-Granger. Analisis ECM dijelaskan oleh parameter (speed of adjusment) yaitu seberapa cepat waktu yang diperlukan untuk signifikan dan bernilai negatif.05). mendapatkan nilai keseimbangan. namun belum tentu seimbang dalam jangka pendek. 3. 2 2 22 2 23 3 24 4 5 5 Persamaan di atas menggunakan asumsi lag optimal sebesar 2. jika seluruh variabel tidak stasioner pada level dan stasioner pada diferens yang sama dan saling terkointegrasi yang artinya mempunyai hubungan jangka panjang.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini dibahas hasil-hasil yang diperoleh dari aktivitas pengolahan data dengan menggunakan model penelitian yang telah dipilih.504727 -2.584738 -3.01.895109 -2. 4.0000 Tolak Ho critical t-Statistic Probability Keterangan .584126 -3.1 Pengujian Stasioneritas Untuk dalam menentukan model terbaik maka variable yang digunakan di cek stasioneritasnya.87976 0.894332 -2.1 Test Variabel Taraf Nyata (α) 1% GDP 5% 10% 1% WPI 5% 10% 1% CPI 5% 10% value -3.0000 Tolak Ho -9.0003 Tolak Ho -5.621951 0.505595 -2. Model error correction (ECM) yang digunakan bertujuan untuk dapat mengidentifikasi hubungan jangka pendek dan hubungan jangka panjang antar variabel dalam model dan dapat pula diidentifikasi seberapa cepat penyesuaian menuju ke keseimbangan jangka panjang. 0.05 dan 0. Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model dinamik error correction.584325 -4. Pada data ini bersifat stasioner hal ini dapat dibuktikan H0 : ρ ≥ 1 (data mengandung unit root) H1 : ρ ˂ 1 (data tidak mengandung unit root / stasioner) Taraf signifikansi : 0.507394 -2. Data yang diuji adalah data yang bersifat flow.893956 -2.455534 0.

E-05 2.508326 -2.665418 0.504727 -2.584325 -14.1% Kurs 5% 10% 1% BI rate 5% 10% 1% GNI 5% 10% -3.0000 Tolak Ho -7. 4.893956 -2.2 Uji Kausalitas Setelah diuji Stasioner maka diuji kausalitasnya dengan Granger Causility Lag 2 Pairwise Granger Causality Tests Date: 07/14/13 Time: 22:01 Sample: 1990Q1 2012Q4 Lags: 2 Null Hypothesis: DLCPI does not Granger Cause DLBR DLBR does not Granger Cause DLCPI DLER does not Granger Cause DLBR DLBR does not Granger Cause DLER DLGDP does not Granger Cause DLBR 89 89 Obs 88 F-Statistic Prob.0001 Tolak Ho -6.895512 -2.57539 0.584126 -3.8282 .18898 0.97111 0.06467 0.894332 -2.0000 Tolak Ho Statistik uji : Augmented Dickey Fuller with intercept Keputusan : Tolak Ho Kesimpulan : Semua variable bersifat stasioneritas.1235 0.0742 5.505595 -2.1458 4.584952 -3. 1.0130 11.040714 0.14489 0.

6835 0.10945 0.2619 15.12690 0.6781 .0229 0.3859 4.6888 3.0092 2.5174 0.1034 0.E-11 2.DLBR does not Granger Cause DLGDP DLGNI does not Granger Cause DLBR 88 DLBR does not Granger Cause DLGNI DLWPI does not Granger Cause DLBR 88 DLBR does not Granger Cause DLWPI DLER does not Granger Cause DLCPI DLCPI does not Granger Cause DLER DLGDP does not Granger Cause DLCPI 88 DLCPI does not Granger Cause DLGDP DLGNI does not Granger Cause DLCPI 88 DLCPI does not Granger Cause DLGNI DLWPI does not Granger Cause DLCPI 88 DLCPI does not Granger Cause DLWPI DLGDP does not Granger Cause DLER 89 DLER does not Granger Cause DLGDP DLGNI does not Granger Cause DLER 88 DLER does not Granger Cause DLGNI DLWPI does not Granger Cause DLER 88 DLER does not Granger Cause DLWPI DLGNI DLGDP DLGDP does not Granger Cause DLGNI DLWPI DLGDP DLGDP does not Granger Cause DLWPI does not Granger Cause 88 does not Granger Cause 88 88 0.13231 0.45302 0.28609 0.6373 0.20763 0.0195 4.66413 0.38232 0.0455 1.0671 3.35532 0.96194 0.8645 0.9684 0.E-06 2.0887 11.36170 0.14582 0.7560 3.73724 0.7020 10.0706 0.8965 0.7519 3.33227 0.03212 0.96317 0.49464 0.0001 2.1135 32.23363 0.E-05 4.0196 0.39025 0.

Error 0.003905 0.E.603625 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.034475 0.D. 4.451541 0.1 Model Jangka Pendek Dependent Variable: DLGDP Method: Least Squares Date: 07/08/13 Time: 10:02 Sample (adjusted): 1990Q2 2012Q3 Included observations: 90 after adjustments Variable DLGNI DLWPI DLCPI DLBR DLER RESID02(-1) C R-squared Coefficient Std.064054 0.5985 Mean dependent var 0.113264 0.0018 -1.83613 0.808302 .5477 -0. dependent var 0.0002 0.012079 0.185329 0.918272 45.022853 0.042238 0.3 Pembentukan Model 4.794998 0.DLWPI does not Granger Cause DLGNI 88 DLGNI does not Granger Cause DLWPI 9.0932 0.776547 Durbin-Watson stat 1.43868 0. -0.698453 0.7991 -2.660523 Hannan-Quinn criter.165444 -0.758646 -0.457938 0.224645 Prob. 0.035266 S. Dalam hal ini model VAR tidak dapat digunakan.152025 1.182110 t-Statistic 3.9726 0.246538 -0.528548 0.766922 0.162335 Adjusted R-squared 0.4370 Berdasarkan tabel di atas maka dapat dikatakan tidak terjadi hubungan dua arah pada semua variable.47285 3.009003 Akaike info criterion -0.893319 0.122986 S.854952 Schwarz criterion -0.080114 0.3.255303 0.0049 0.

79 %.45 %. Sedangkan variable lainnya yaitu Perubahan Suku Bunga. Perubahan Indeks Harga Konsumen dan Perubahan Tingkat Harga Luar Negeri tidak menunjukkan hasil yang signifikan dalam mempengaruhi Perubahan GDP . Tingkat Perubahan Suku Bunga pada periode t ( 4 ) memiliki koefisien sebesar - dan arah tandanya negatif sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat Perubahan . Berikut ini adalah analisis Empiris lebih lanjut dari hasil estimasi tersebut. yaitu Tingkat Perubahan Pendapatan Nasional Bruto pada periode t ( ) memiliki koefisien sebesar dan arah tandanya positif sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat Perubahan Pendapatan Nasional Bruto pada periode t ( ) meningkat sebesar 1 % maka perubahan GDP / Kinerja Ekonomi akan meningkat sebesar 0. 77 %. variable tersebut adalah tingkat Perubahan Pendapatan Nasional Bruto( GNI) pada periode t dan variable Error Correction Term pada periode t-1 (RESID02(-1)).Model yang terbentuk: 2 4 5 3 Interpretasi : Hasil Regresi ECM untuk Kinerja ekonomi jangka pendek menunjukkan bahwa hanya 2 variabel yang signifikan mempengaruhi Perubahan GDP /Perubahan Kinerja Ekonomi pada periode t. Tingkat Perubahan Indeks Harga Konsumen pada periode t ( sebesar 3 ) memiliki koefisien dan arah tandanya positif sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat 3 Perubahan Indeks Harga Konsumen pada periode t ( ) meningkat sebesar 1 % maka perubahan GDP / Kinerja Ekonomi akan meningkat sebesar 0. Tingkat Perubahan Harga Luar Negeri pada periode t ( sebesar 2 ) memiliki koefisien dan arah tandanya negative sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat 2 Perubahan Harga Luar Negeri pada periode t ( ) meningkat sebesar 1 % maka perubahan GDP / Kinerja Ekonomi akan menurun t sebesar 0. Perubahan Kurs.

3. F(1.003788 Prob. Tingkat Perubahan Nilai Tukar/ Kurs pada periode t ( sebesar 5 ) memiliki koefisien dan arah tandanya positif sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat 5 Perubahan Nilai Tukar/ Kurs pada periode t ( ) meningkat sebesar 1 % maka perubahan GDP/ Kinerja Ekonomi akan meningkat sebesar 0.9509 . Karena jika nilai tersebut bertanda negative berarti arahnya memang mendekati keseimbangan GDP/ Kinerja Ekonomi jangka panjangnya.Suku Bunga pada periode t (( 4 ) meningkat sebesar 1 % maka perubahan GDP/ Kinerja Ekonomi akan menurun sebesar 0.87) 0.003703 0. Sedangkan Nilai parameter ECT yaitu dengan nilai yang tidak terlalu besar. menunjukkan bahawa proses penyesuaian (Speed of adjustment) berlangsung dengan tidak terlalu capat.04 %.1 Uji Asumsi (Persamaan Jangka Pendek) : 4. Keadaan ini dapat memberikan interpretasi ekonomi bahwa variable – variable independen dalam persamaan ini cukup bisa untuk mempengaruhi variable dependentnya.1 Uji Heteroskedastisitas 1) 2 2 2) α = 5% 3 )Statistic uji : Heteroskedastik ARCH 4) Tolak jika Atau tolak jika 5) Uji Statistik Heteroskedasticity Test: ARCH F-statistic Obs*R-squared 0.004 %. Tanda negative yang menyertai nilai koefisien dari tersebut menggambarkan bahwa nilai parameter ECT memang seperti yang diharapkan. Chi-Square(1) 0.1.3. 4.9516 Prob.

4644 Prob.Melalui nilai p-value di atas maka dapat kita bandingkan bahwa p-value > 0.2 Uji Autokorelasi 1) ( ( 2) 3) 4) 5) Statistic uji : Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: Tolak jika Atau tolak jika ada ) ) Uji Statistik Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 0. F(2.1.774392 1.05 1) Keputusan : tidak tolak 2) Kesimpulan : Data memiliki asumsi homoskedastik (asumsi terpenuhi) 4.81) 0.688584 Prob. Chi-Square(2) 0.4299 Melalui nilai p-value di atas maka dapat kita bandingkan bahwa p-value > 0.05 6) 7) Keputusan : tidak tolak Kesimpulan : Data memiliki asumsi nonautokorelasi (asumsi terpenuhi) .3.

4.3.3 Uji Normalitas Berdasarkan grafik di atas dan dengan menggunakan uji Jarque Bera maka model bersifat normal .1.

Error 1.000000 Akaike info criterion 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.404571 2.124009 0.196078 Prob.0000 4.008076 252.0097 2.646371 0.0129 -1.429465 Hannan-Quinn criter.330703 Durbin-Watson stat 0.080142 -6.2 Model Jangka Panjang Dependent Variable: LGDP Method: Least Squares Date: 07/15/13 Time: 21:59 Sample (adjusted): 1990Q1 2012Q3 Included observations: 91 after adjustments Variable LGNI LWPI LCPI LBR LER C R-squared Coefficient Std.0001 -2.D.333409 0.267453 6.3.166771 -2.936896 t-Statistic 4.538342 -0.452503 Model yang terbentuk: 2 3 4 5 .933184 S.423809 0.246597 0.3979 0. dependent var 1.582369 0.382987 0.4.14670 S. 0.254765 -2.034685 Adjusted R-squared 0. 0.220127 0.104734 0.541269 0.277164 0.263914 Schwarz criterion 0.069014 0.0001 -6.1860 Mean dependent var 12.995633 2.E.

Tingkat Indeks Harga Konsumen pada periode t ( ) memiliki dan arah tandanya positif sehingga menunjukkan bahwa apabila 3 Tingkat Indeks Harga Konsumen pada periode t ( Kinerja ( 4 ) meningkat sebesar 1 % maka GDP/ Ekonomi akan meningkat sebesar ) memiliki koefisien sebesar %. yaitu Tingkat Pendapatan Nasional Bruto pada periode t ( ) memiliki koefisien sebesar dan arah tandanya positif sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat Pendapatan Nasional Bruto pada periode t ( sebesar ) meningkat sebesar 1 % maka GDP/ Kinerja Ekonomi akan meningkat 2 %. Tingkat Suku Bunga pada periode t dan arah tandanya negatif sehingga 4 menunjukkan bahwa apabila Tingkat Suku Bunga pada periode t ( 1 % maka GDP/ Kinerja Ekonomi akan menurun sebesar periode t ( 5 ) meningkat sebesar %. Berikut ini adalah analisis Empiris lebih lanjut dari hasil estimasi tersebut. Nilai Tukar/ Kurs pada ) memiliki koefisien sebesar dan arah tandanya positif sehingga 5 menunjukkan bahwa apabila Nilai Tukar/ Kurs pada periode t ( maka GDP / Kinerja Ekonomi akan meningkat sebesar %.Interpretasi : Hasil Regresi ECM untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang menunjukkan bahwa semua variabel signifikan mempengaruhi GDP/ Kinerja Ekonomi pada periode t. Tingkat Harga Luar Negeri pada periode t ( ) memiliki koefisien sebesar dan arah tandanya negative sehingga menunjukkan bahwa apabila Tingkat Harga Luar Negeri pada periode t ( menurun t sebesar koefisien sebesar 2 ) meningkat sebesar 1 % maka GDP/ Kinerja Ekonomi akan 3 %. ) meningkat sebesar 1 % .

3. Chi-Square(1) 0.2. F(1.74331 Prob.2 Uji Asumsi : 4.0000 Prob. Uji Heteroskedastisitas 1) 2 2 2) α = 5% 3 )Statistic uji : Heteroskedastik ARCH 4) Tolak jika Atau tolak jika 5)Uji Statistik Heteroskedasticity Test: ARCH F-statistic Obs*R-squared 302.4.88) 0.1.05 6)Keputusan : tolak 7)Kesimpulan : Model jangka panjangnya bersifat heteroskedastik (Spourius regssesion) .9819 69.0000 Melalui nilai p-value di atas maka dapat kita bandingkan bahwa p-value > 0.3.

4.2 Uji Autokorelasi 1) ( ( ) ) 2) 3) Statistic uji : Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: 4) Tolak jika Atau tolak jika ada 5) Uji Statistik Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 66.83) 0.0000 Melalui nilai p-value di atas maka dapat kita bandingkan bahwa p-value > 0.96522 Prob.0000 Prob. Chi-Square(2) 0. F(2.2.05 6) 7) Keputusan : tolak Kesimpulan : Data memiliki asumsi autokorelasi (Spurious regression) .3.29287 55.

4.2 -0.259918 -0.2.938464 0.240580 3. .528893 1.6 -0. Dev.3 Uji Normalitas 12 10 Series: Residuals Sample 1990Q1 2012Q3 Observations 91 Mean Median Maximum Minimum Std.617683 -0.011858 0.04e-17 0. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.0 0.669733 0.379374 2 0 Berdasarkan grafik di atas dan dengan menggunakan uji Jarque Bera maka model bersifat normal.4 0.3.2 0.4 -0.6 8 6 4 -6.

5. Tingkat Harga Luar Negeri. 2.1 Kesimpulan. semua variable makro ekonomi berpengaruh secara signifikan terhadap Kinerja Ekoonomi Indonesia. Agar tidak terdapat siklus ekonomi yang panjang sehingga stabilitas ekonomi dapat dicapai. Saran terhadap penelitian berikutnya adalah lebih baik juga untuk dapat memasukkan variable lain yang dapat berpengaruh terhadapa Kinerja Ekonomi Indonesi dengan jangka pendek. .2 Saran Bagi pemerintah selaku otoritas perekonomian. Pada Model Jangka pendek. Dari hasil penelitian atas peranan variabel makro ekonomi terhadap Kinerja Ekonomi Indonesia dengan jangka pendek dan jangka panjang diperoleh beberapa kesimpulansebagai berikut : 1. Suku Bunga. Pada bab ini akan disajikan kesimpulan atas hasil penelitian yang dilakukandengan menggunakan model ECM. jangka menengah dan jangka panjang. Indeks Harga Konsumen. Variabel-variabel makro ekonomi yang digunakan sebagai variabel bebas dalam penelitian ini yaitu Pendapatan Nasional Bruto . Penelitian ini terbatas hanya meneliti pengaruh variabel makroekonomi terhadap Kinerja Ekonomidalam jangka pendek dan jangka panjnag. hanya 1 variabel makro ekonomi yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap Perubahan Kinerja Ekonomi yaitu Perubahan Pendapatan Nasional Bruto( GNI).BAB V PENUTUP 5. yaitu sebagai pengambil kebijakan ekonomi dan pelaksanaan anggaran belanja pemerintah (APBN) agar dilakukan dengan jadwal yang ditentukan dengan memperhatikan kebutuhan ekonomi untuk mencapai pertumbuhan yang sehat dan berkesinambungan. dan Kurs dengan jangka pendek dan dalam jangka panjang . Sedangkan pada jangka panjang.

2. Robert Z. Hariyatmoko. (1974) Monetary Independence Under Floating Exchange Rate. (2010).Desember 2009.(2010). Jakarta. Rachmat. (Juni 2010). Pengaruh Kebijakan BI Rate terhadap Suku Bunga Kredit Investasi Bank Umum Periode Juli 2005 . Ronaldo. Aliber. (Mei 2010). Jakarta. Pengaruh Variabel Makroekonomi Dan Kecepatan Penyesuaian Keseimbangan Dalam Memilih Obligasi Pemerintah Berdasarkan Tenor. (25 Juli 2008). . Jakarta: FE UI. The Jurnal of Finance. Analisis Determinasi Model Permintaan Uang Beredar Ruang Lingkup Artian Luas (M2). (2008). Vol 30 No.DAFTAR PUSTAKA Wibisono. Jakarta: FE UI. Jakarta. Jakarta: FE UI. Nurcahyo.

79 19.18 28659. Data Penelitian Periode Q1 1990 Q2 Q3 Q4 Q1 1991 Q2 Q3 Q4 Q1 1992 Q2 Q3 Q4 Q1 1993 Q2 Q3 Q4 Q1 1994 Q2 Q3 Q4 GDP 28106.2 91142.09 17.00 2062.25 18.00 18.34 19.44 WPI 15.00 85625.8 Bank rates 13.00 2110.49 20.7 85605 87888.00 1968.74 9.00 2038.00 53866.00 44746.00 82335.65 18.00 58937.5 33883.47 17.06 32416.98 30575.00 2108.44 17.68 19.7 79380.66 13.00 54865.3 31661.00 1954.55 12.18 19.96 CPI 17.80 22.94 11.00 1932.55 18.82 8.00 2181.34 78529.95 24.75 16.00 61069.61 Exchange rates 1823.45 9.66 30423.5 18.35 19.09 19.21 19.51 20.00 1844.00 74188.00 GNI 49958.82 28607.00 2071.67 23.02 23.13 16.21 23.46 26.00 2160.64 30564.00 65067.09 18.00 1864.00 68765.08 18.00 51682.LAMPIRAN Lampiran 1.00 1992.1 86611.00 66641.5 85254.64 29843.9 90004.00 2088.94 17.25 21.00 97056.99 18.00 2033.00 77423.97 21.62 21.04 25.68 18.00 73473.08 26.24 32161.00 2143.13 19.94 32723.00 98619.91 15.00 2017.83 23.00 1901.75 20.79 20.00 .99 16 14.00 2200.5 12.00 83277.00 61200.53 18.11 8.18 19.44 17.5 10.27 25.63 18.53 18.00 90672.

46 33.00 415226.80 22.70 67.02 12.07 10.2 105260.00 2308.00 8730.46 22.00 108503.00 7085.57 17.82 62.3 98293.03 11.00 163253.77 58.83 25.7 91742 94258.76 15.00 8025.40 61.38 30.6 106562.00 8685.13 28.75 58 68.22 78.00 2419.71 78.34 28.73 29.00 11440.77 25.00 142105.7 96940.79 31.74 13.4 94654 98244.00 2340.00 14900.4 356240.00 217520.00 438341.05 13.61 40.99 13.51 28.8 98595.00 398073.86 32.53 15.96 12.00 255107.00 257357.55 22.00 2450.8 100634.7 109904.59 31.00 4650.00 .53 60.Q1 1995 Q2 Q3 Q4 Q1 1996 Q2 Q3 Q4 Q1 1997 Q2 Q3 Q4 Q1 1998 Q2 Q3 Q4 Q1 1999 Q2 Q3 Q4 Q1 2000 Q2 Q3 Q4 Q1 2001 Q2 Q3 Q4 2002 Q1 Q2 92563.76 38.9 105867.96 62.00 7590.4 375720.9 14.99 13.00 425641.85 45.99 13.24 30.04 51.5 22 20 27.00 103185.08 24.74 14.00 397005.14 61.28 47.90 23.1 94340.00 60.00 257846.23 59.00 133068.00 341192.95 30.00 205735.07 77.96 62.9 100535.00 2342.13 14.00 144932.00 305275.00 10400.11 21.51 77.50 76.51 11.51 30.00 253932.62 16.68 24.00 314075.8 11.00 9675.02 24.00 6726.00 159067.4 368650.00 8780.00 113867.4 97874.65 17.00 8325.00 337066.46 63.88 76.72 74.32 75.00 8386.24 24.58 64.1 93387.49 66.00 374967.78 27.95 70.00 119172.00 2383.00 3275.00 10700.12 72.29 70.00 9655.13 72.9 100862.02 13.00 2275.00 9595.58 16.00 255193.92 2219.5 98191.9 100717.6 356114.84 22.67 57.62 14.64 58.09 64.2 94371.00 2337.00 2246.1 112212.2 89839.61 55.00 140531.94 58.00 10400.00 115593.9 360533 367517.46 59.1 108726.00 125526.33 68.00 8735.44 37.00 248996.

00 10225.00 810800.00 9400.74 80.27 82.94 140.15 163.53 8.13 78.40 90.00 1331100.87 135.00 1264470.00 8285.70 127.75 122.12 120.56 85.39 84.63 151.57 118.4 9.00 9170.Q3 Q4 Q1 2003 Q2 Q3 Q4 Q1 2004 Q2 Q3 Q4 Q1 2005 Q2 Q3 Q4 Q1 2006 Q2 Q3 Q4 Q1 2007 Q2 Q3 Q4 Q1 2008 Q2 Q3 Q4 Q1 2009 Q2 Q3 Q4 387919.5 6.28 84.96 88.1 475641.00 1409980.00 8587.7 426612.00 665960.39 7.3 448597.25 8 8 8.00 475883.38 115.93 93.20 137.00 9235.00 9415.14 91.75 9 8.00 1187310.00 9480.00 9137.97 111.81 78.41 129.08 113.00 571455.03 98.31 7.75 12.00 840876.00 458824.00 9419.8 519204.00 9217.00 706107.00 9020.00 8908.66 8.22 12.00 637746.51 95.94 173.34 7.12 96.17 86.00 1238420.1 13.31 79.20 138.6 538641 519391.00 569874.7 439484.67 130.10 92.00 909724.6 372925.00 9681.23 137.1 448485.00 944914.5 505218.00 9225.3 457636.8 561637 548479.00 8465.01 137.00 840064.44 8.25 9.3 411935.5 405607.07 78.1 436121.00 .7 528056.37 116.5 386743.37 118.45 159.00 9054.25 9.5 77.00 981518.00 9290.00 9300.00 534104.5 466101.22 161.93 11.75 12.56 174.7 488421.5 423852.76 108.00 497629.42 7.8 474903.37 108.25 7.00 1001120.00 9075.00 734632.80 88.5 540677.00 9118.45 81.72 113.00 478828.67 143.56 9015.00 1276330.00 1404440.00 483921.00 10310.6 390199.58 110.5 9.93 99.25 10 12.00 10950.00 515043.9 394620.00 11575.34 112.77 161.45 115.51 164.00 9830.1 506933 493331.00 575748.88 126.00 444513.43 7.00 9378.94 80.00 712497.5 11.23 97.00 8389.3 418131.5 8.67 119.00 8940.75 7 6.45 85.3 402597.00 9713.47 87.

00 8991.00 1768920.76 184.503879 -2.05 186.427434 -3.9081 .00 8823.00 LAMPIRAN 2 : Analisis dan Pembentukan Model pada Persamaan Jangka Pendek dan Jangka Panjang 1.48 149.00 9588.2 671780.00 1987380.5655 GNI t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic -0.09 169.23 170.00 1622860.893589 -2.4 574712.64 154.583931 Prob.00 8597.6 585812 595784.8 594250.75 5.15 189.43 181.00 1706970.6 623864.59 157. Uji stasionaritas Y1 – level GDP t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -1.00 1873410.00 9068.98 191.8 6.00 8924.00 1540240.00 9480.34 193.45 161.00 8709.00 9083.75 5.00 1866090.63 158.00 1925630.00 2061400.3 633243 651107.Q1 2010 Q2 Q3 Q4 Q1 2011 Q2 Q3 Q4 Q1 2012 Q2 Q3 559683.373815 Prob.20 147.00 1632600.25 143.97 151.75 6.26 142.75 6 5.29 9115.00 1459600.5 6.5 6.56 173.75 6.5 6.* 0.44 151.75 167.37 155.6 612200 632827.00 9180.5 6.91 179.* 0.

895512 -2.584325 WPI t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -0.584325 Prob.505595 -2.* 0.894332 -2.584738 Prob.895109 -2.075471 -3.6689 .* 0.507394 -2.505595 -2.* 0.9050 CPI t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -1.894332 -2.584952 Prob.205822 -3.508326 -2.Test critical values: 1% level 5% level 10% level -3.391700 -3.7225 BI rate t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -1.

893956 -2.* 0.879760 -3.893956 -2.0000 GNI t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic -14.4829 Y1 – diferens pertama GDP t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -9.* 0.584126 Prob.591194 -3.504727 -2.504727 -2.* 0.584126 Prob.0001 .Kurs t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -1.06467 Prob.

665418 -3.508326 -2.* 0.* 0.894332 -2.584325 -5.584325 WPI t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level CPI t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -4.0000 Prob.0000 .894332 -2.505595 -2.895109 -2.584738 Prob.Test critical values: 1% level 5% level 10% level -3.* 0.507394 -2.0003 BI rate t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -6.621951 -3.584952 Prob.505595 -2.895512 -2.455534 -3.

1458 4.18898 0.1235 0.57539 0.3859 .040714 -3.0742 5.8282 0.97111 0. Uji Kausalitas Pairwise Granger Causality Tests Date: 07/14/13 Time: 22:01 Sample: 1990Q1 2012Q4 Lags: 2 Null Hypothesis: DLCPI does not Granger Cause DLBR DLBR does not Granger Cause DLCPI DLER does not Granger Cause DLBR DLBR does not Granger Cause DLER DLGDP does not Granger Cause DLBR 89 DLBR does not Granger Cause DLGDP DLGNI does not Granger Cause DLBR 88 89 Obs 88 F-Statistic Prob.0130 11.96317 0.Kurs t-Statistic Augmented Dickey-Fuller test statistic Test critical values: 1% level 5% level 10% level -7.E-05 2.0000 2.9684 0.893956 -2.14489 0.504727 -2.03212 0.584126 Prob.* 0. 1.

8645 0.14582 0.1034 0.23363 0.2619 15.0001 2.4370 .38232 0.0092 2.12690 0.96194 0.E-05 4.0229 0.6781 9.33227 0.7519 3.8965 0.0887 11.DLBR does not Granger Cause DLGNI DLWPI does not Granger Cause DLBR 88 DLBR does not Granger Cause DLWPI DLER does not Granger Cause DLCPI DLCPI does not Granger Cause DLER DLGDP does not Granger Cause DLCPI 88 DLCPI does not Granger Cause DLGDP DLGNI does not Granger Cause DLCPI 88 DLCPI does not Granger Cause DLGNI DLWPI does not Granger Cause DLCPI 88 DLCPI does not Granger Cause DLWPI DLGDP does not Granger Cause DLER 89 DLER does not Granger Cause DLGDP DLGNI does not Granger Cause DLER 88 DLER does not Granger Cause DLGNI DLWPI does not Granger Cause DLER 88 DLER does not Granger Cause DLWPI DLGNI DLGDP DLGDP does not Granger Cause DLGNI DLWPI DLGDP DLGDP does not Granger Cause DLWPI DLWPI does not Granger Cause DLGNI 88 DLGNI does not Granger Cause DLWPI does not Granger Cause 88 does not Granger Cause 88 88 4.10945 0.E-06 2.83613 0.39025 0.1135 32.6888 3.0195 4.0671 3.35532 0.0002 0.0706 0.7020 10.6835 0.13231 0.6373 0.0455 1.36170 0.66413 0.20763 0.73724 0.43868 0.5174 0.7560 3.E-11 2.45302 0.0196 0.28609 0.49464 0.

0049 0.D.451541 0.185329 0. -0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.064054 0.182110 t-Statistic 3. 0.776547 Durbin-Watson stat 1.009003 Akaike info criterion -0.766922 0.698453 0.246538 -0. Error 0.003905 0.5985 Mean dependent var 0.794998 0.080114 0.893319 0.113264 0.9726 0.603625 0.47285 3.022853 0.255303 0.224645 Prob.0018 -1.758646 -0.152025 1.162335 Adjusted R-squared 0.7991 -2.528548 0.165444 -0.854952 Schwarz criterion -0.457938 0.122986 S.034475 0. dependent var 0.0932 0.042238 0.660523 Hannan-Quinn criter.E.808302 .4 Uji Asumsi Model Jangka Pendek Dependent Variable: DLGDP Method: Least Squares Date: 07/08/13 Time: 10:02 Sample (adjusted): 1990Q2 2012Q3 Included observations: 90 after adjustments Variable DLGNI DLWPI DLCPI DLBR DLER RESID02(-1) C R-squared Coefficient Std.012079 0.035266 S.918272 45.5477 -0.

Uji Heteroskedastik Heteroskedasticity Test: ARCH F-statistic Obs*R-squared 0.129533 Adjusted R-squared -0. dependent var 0.9516 Mean dependent var 0.006524 0.014000 -0.003703 0.107209 0.9516 Prob. 0.003703 0.160229 Hannan-Quinn criter.060850 0.011451 S. F(1.E.000043 t-Statistic 1. -1.9509 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 07/15/13 Time: 23:52 Sample (adjusted): 1990Q3 2012Q3 Included observations: 89 after adjustments Variable C RESID^2(-1) R-squared Coefficient Std.021673 0.476482 56.003788 Prob.D.11883 0.1253 -0.951618 Akaike info criterion -1.193612 Durbin-Watson stat 2.548005 Prob.130273 1.216154 Schwarz criterion -1.000104 . Error 0. Chi-Square(1) 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.021532 S.87) 0.

081611 0.779369 0.070167 0.4644 Prob.018762 t-Statistic Prob.189507 0.625175 0. Error -0.Uji Autocorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 0.142485 0.9487 1.688584 Prob.001480 0.006366 0. Chi-Square(2) 0.152361 0. F(2.81) 0.113690 -0.002874 0.064502 0.055995 0. Variable DLGNI DLWPI DLCPI DLBR DLER RESID02(-1) C RESID(-1) RESID(-2) R-squared Coefficient Std.774392 1.110193 0.248399 -0.5336 Mean dependent var 1.8085 0.869590 0.022951 0.9125 -0.083900 0.202039 0.243154 0.093850 -0.027372 0.000477 0. -0.2329 0.4299 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 07/15/13 Time: 23:53 Sample: 1990Q2 2012Q3 Included observations: 90 Presample missing value lagged residuals set to zero.9977 -0.67E-17 .165969 -0.3871 -0.134203 0.8793 0.9555 -0.171273 0.460534 0.

Adjusted R-squared -0.991104 S.829448 Schwarz criterion -0. dependent var 0.146812 Akaike info criterion -0. -0.579467 Hannan-Quinn criter.728641 Durbin-Watson stat 2.D.152440 1.E.078150 S.882281 46.32517 0.193598 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.011979 Uji Normalitas Model Jangka Panjang Dependent Variable: LGDP Method: Least Squares Date: 07/13/13 Time: 13:06 Sample (adjusted): 1990Q1 2012Q3 Included observations: 91 after adjustments .

E.582369 0.246597 0.330703 Durbin-Watson stat 0.333409 0. Error 0.3979 0.933184 S. Chi-Square(1) 0.538342 -0.196078 0.034685 Adjusted R-squared 0.0001 -2.254765 -2.452503 Uji Heteroskedastik Heteroskedasticity Test: ARCH F-statistic Obs*R-squared 302.000000 Akaike info criterion 0.429465 Hannan-Quinn criter.14670 S. 0.382987 0.0001 -6.124009 Prob.404571 -2.166771 2.0097 4.995633 2.1860 Mean dependent var 12.936896 t-Statistic 2.74331 Prob.263914 Schwarz criterion 0.069014 0.080142 -6. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.Variable LER LCPI LBR LGNI LWPI C R-squared Coefficient Std.9819 69.0129 0. F(1.267453 6.D.104734 1.0000 -1.220127 0.0000 Test Equation: Dependent Variable: RESID^2 Method: Least Squares Date: 07/15/13 Time: 23:55 Sample (adjusted): 1990Q2 2012Q3 Included observations: 90 after adjustments .423809 0. dependent var 1.646371 0.277164 0.541269 4.88) 0. 0.0000 Prob.008076 252.

307670 0.591867 0.008676 0.230235 140.0000 Test Equation: Dependent Variable: RESID Method: Least Squares Date: 07/15/13 Time: 23:56 Sample: 1990Q1 2012Q3 Included observations: 91 Presample missing value lagged residuals set to zero. dependent var 0. Error 0.E.96522 Prob.086141 Schwarz criterion -3.0000 Prob.107208 Adjusted R-squared 0.030590 Hannan-Quinn criter.320846 0.D.878542 0.29287 55.83) 0.2261 -0.000000 Akaike info criterion -3.219465 0.095012 0.050472 0.006365 0.Variable C RESID^2(-1) R-squared Coefficient Std.160529 0.1763 0. -0. F(2. 0.40638 Prob.774926 t-Statistic 1.9819 0. -3.304393 Uji Autocorelasi Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test: F-statistic Obs*R-squared 66.8763 302.363077 17. Error -0.772368 S.5555 1.3933 .0000 Mean dependent var 0.067549 S. Variable LGNI LWPI LCPI Coefficient Std.358565 t-Statistic Prob. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.858059 0.051150 0.063740 Durbin-Watson stat 2. Chi-Square(2) 0.263104 -0.

6 8 6 4 -4.810749 0.995168 Uji Normalitas 12 10 Series: Residuals Sample 1990Q1 2012Q3 Observations 91 Mean Median Maximum Minimum Std.42250 18. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.6 -0.D.18e-15 0.702897 0.855642 1.080875 0.415173 0. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.379374 2 0 .617683 -0.072567 0.240580 3.18E-15 S. -0.076429 0.0 0.522047 0.167937 2.646648 Schwarz criterion -0.109560 -0.056145 0.115059 0.0000 -0.528893 1.6030 0.259918 -0.067415 0.2 -0.340840 37. dependent var 0.582533 S.94082 0.669733 0.E.4841 Mean dependent var -4.615002 -1.259918 Adjusted R-squared 0.011858 0.4 0.LBR LER C RESID(-1) RESID(-2) R-squared -0. Dev.2849 0.4 -0.604620 7.425913 Hannan-Quinn criter.938464 0.557596 Durbin-Watson stat 1.000000 Akaike info criterion -0.5471 0.2 0.107548 0.855749 0.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->