P. 1
cerpen cita-cita.docx

cerpen cita-cita.docx

|Views: 7|Likes:
Published by Sahirah Zahra Indy
sebuah perasaan seorang anak yang ingin meraih cita-citanya. cita-cita yang begitu susah untuk dicapai yang harus banyak pengorbanan untu mendapatkannya
sebuah perasaan seorang anak yang ingin meraih cita-citanya. cita-cita yang begitu susah untuk dicapai yang harus banyak pengorbanan untu mendapatkannya

More info:

Published by: Sahirah Zahra Indy on Nov 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial
List Price: $0.99 Buy Now

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

08/31/2015

$0.99

USD

pdf

text

original

NAURAH RANAINDY NO ABS :22 KELAS: XI 7

Sejarahku Menemukan Cita-Citaku

Berawal ketika aku masih kecil, aku yang selalu sakit-sakitan membuatku semakin mengenal tentang kesehatan. Kesehatan yang bagiku waktu itu sangat berarti untukku. Untuk tertawa aja membuatku langsung sakit. Ingin tertawa aja membuatku tersiksa batin sendiri. Disisi pihak ku ingin tertawa disisi lain jika aku tertawa aku akan sakit yang membuatku harus terlentang di kamar. Entah salah apa sampai aku dihukum oleh Tuhan pikirku waktu itu. Oleh karena itu, aku dikenal sebagai anak yang pendiam. Karena kecilku yang selalu sakit-sakitan, aku sudah mengenal namanya obat, rumah sakit, dokter sampai-sampai aku merasa rumah sakit adalah rumah keduaku setelah rumahku. Semua anak yang seumuranku waktu itu pada ketakutan pada rumah sakit dan suntik sehingga menangis, tetapi aku tidak. Aku masuk rumah sakit sperti masuk rumah sendiri. Ketika aku harus disuntik, aku hanya bisa pasrah dan meringis bukan seperti anak lainnya. Aku waktu itu hanya berpikir aku ingin sehat seperti teman-temanku yang bisa berlari kesana kemari. Aku ingin sehat. Aku pun beranjak besar. Kesehatanku sudah mulai membaik walupun tetap kategori sakit-sakitan. Aku sudah mulai bisa tertawa, berlarian. Tetapi jika aku terlalu lelah, aku pun juga akan jatuh sakit sehingga ibuku selalu marah kalau aku main kejar-kejaran. Semua orang merasa kasihan padaku karena pikiran mereka bahwa aku itu terlalu dikekang oleh ibuku yang sampai main seperti itu saja sampai tak boleh. Tetapi kondisiku yang begitu lemah hanya diketahui oleh orang tuaku dan guruku saja sehingga maklum aja kalau mereka berpikiran seperti itu kepadaku. Tetapi aku juga sempat menyesal mengapa aku begitu lemah? Mengapa aku melakukan hal yang wajar di masaku malah dimarahin? Mengapa kok aku? Banyak pertanyaan yang berputar pada pikiranku tetapi itu semua hanya pertanyaan tanpa jawaban. Karena fisikku yang begitu lemah sampai tak boleh ngapa-ngapain, aku mulai nakal. Aku mulai melakukan hal yang bertentangan dengan aturan ibukku. Mulai dari makanan

Lain hal tentang diriku. Sebenarnya aku merasa marah atas diriku akan tetapi aku merasa ini jalan tebaik bagi jalanku karena jalan yang buruk terjadi ketika aku masih kecil sehingga aku tidak menikmatinya. aku harus begitu kerja keras karena saingan untuk masuk sekolah kedokteran saja berjuta-juta orang ingin masuk kesana. . mengatur waktu. Oleh karena itu. aku menutupinya dengan berbagai kegiatanku yang begitu banyak sehingga aku hanya merasakan kesenangan. belajar. Entah kenapa aku ingin sekali dokter waktu itu. aku hanya bisa memanfaatkan waktuku ini untuk bersenang-senang. Akan tetapi di kenyataan yang berbeda. bukan orang yang kaya yang bisa saja lewat jalur yang membayar. dan kecapaian atas apa yang aku lakukan berbagai kegiatan. Akan tetapi perasaan keinginan itu. nilaiku mulai begitu turun. kebahagiaan bersama teman. Akan tetapi. Jika saya tidak tekun. disisi pihak aku ingin menikmati masa remajaku yang katanya orang-orang masa remaja adalah masa yang begitu menyenangkan. Aku pun beranjak remaja dimana orang-orang menganggap kalau remaja itu sudah bisa mengatur dirinya sendiri. Hanya itulah dasarku aku mulai nakal. Kan juga mana ada besok besar aku melakukan hal ini”. terindah danlain-lain. Orang berpikiran aku diam. Saya bukan keluarga keturunan dokter. aku harus bisa ngobati sendiri tanpa merepotkan orang lain dan aku berpikiran hanya jadi dokter aku tau obat-obatan yang aku perlukan. aku mau jadi apa? Aku pun langsung menjawab dokter. Ditambah lagi jika aku ingin menjadi dokter. yah sudah dipastikan saya akan mengalami kesusahan. Pada masa itu. saya hanya bisa masuk dengan kecerdasan saja. saya menyibukkan diri di berbagai kegiatan. aku ingin kembali pada masa kecilku yang menurutku suram banget. Tetapi aku akhirnya juga berakhir sakit. Bukan untuk bersenang-senang. Tetapi kenyataan menuntutku untuk lebih bisa mandiri.sampai main hujan-hujanan. Toh nanti juga berakhir sakit aja kok. Jika sakit. aku pernah ditanyain oleh orang jika aku besar. Aku berpikiran “ngapain aku sakit duluan? Mending aku seneng-seneng dulu. Oleh karena itu. Bukan karena ingin nolong orang malah memikirkan pribadi pada masa itu. nurut tetapi segelintir orang tau kalau aku itu anak yang bandel kalau diberitau. Walaupun begitu saya sebenarnya ingin sekali tekun belajar supaya bisa masuk kedokteran dan bisa menyembuhkan penyakit anak kecil sehingga tidak mengalami apa yang aku rasakan selama ini. tak terlupakan. Aku hanya berpikir kalau aku itu harus sehat. Tetapi sia-sia aku berharap begitu karena waktu tak akan terulang kembali.

Untuk jalur yang biasa aja. orangtuaku harus kerja keras. Jangan terlena dengan kesenangan sekarang yang akan tetapi membuatku menderita dimasa mendatang. Karena kegiatan itulah. Ibuku juga bilang kalau dia mengerti posisiku tetapi aku juga jangan lupa untuk tetap pada status pelajarku. Ibuku mulai memberitahuku kalau kamu ingi masuk kedokteran itu yang serius. Jika aku menyianyiakan apa yang fasilitas ibu berikan mending berikan fasilitas tersebut kepada adikmu yang masih membutuhkan begitulah pesan ibuku. Lebih baik aku susah sekarang daripada susah pada keesokan harinya. dan hanya belajar terus. Aku marah atas ketidakperasaannya ketika kebahagiaanku waktu kecil sudah direnggut oleh penyakitku sedangkan pada masa aku sudah besar. Aku sudah mulai jenuh akan dunia ini. tetapi aku juga punya dua adik yang juga memerlukan pendidikan yang layak juga tidak hanya aku. Ibuku ingin seimbangkanlah belajarku dengan kegiatanku. Aku hanya bisa marah mengapa ibuku sendiri tidak mengerti perasaanku sendiri. Bukan karena mereka pelit. . Akan tetapi. Aku pun mulai sadar jadi selama ini. aku juga capai sehingga fisikku sering drop dan akhirnya jatuh sakit. Aku ingi menjadi dokter untuk menolong anak-anak di saat posisiku sehingga tidak mengalami apa yang aku rasakan dulu. Jangan terlalu banyak juga. aku hanya terlalu emosi untuk membahagiakanku semata bukan untuk mengejar cita-citaku yang begitu besar tetapi aku tak mau melakukan usaha apapun untuk meraihnya. Kegiatan itu pula yang menyebabku capai jika terlalu capai juga akan jatuh sakit lagi yang begitu merepotkan ibuku. Pada suatu saat ketika aku curhat-curhatan ke ibuku. Emang aku sekarang susah atas apa yang kamu lakukan. Ibuku juga bilang bukan berarti aku kuper dalam lingkunganku. Kebahagiaan yang semata hanya menimbulkan bahagia sesaat akan tetapi kebahagiaan yang berasal dari usahanya akan menimbulkan kebahagiaan dalam hidup. Aku pun bertekad untu dapat mengalahkan rasa malasku. cuek dengan lingkunganku.Berbagai cara pula ibuku menyadarkaknku atas berbagai kegiatan yang terlalu banyak. Siklus yang membuatku malas. kebahagiaanku akan direnggut kembali oleh belajar. Aku pun mulai sadar kalau memang aku terlalu banyak kegiatan sehingga aku pun kurang fokus atas apa yang menjadi tanggung jawabku. Ibuku juga bilang kalau beliau tidak punya uang untuk membiayaiku jika lewat jalur mandiri. untuk masa depanku. aku sudah dapat mengambil hikmahnya seperti memetik buah. Belajarlah yang rajin apalagi nilaiku menurun khususnya biologi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->