P. 1
Indeks Keanekaragaman Serangga Di Padang Rumput

Indeks Keanekaragaman Serangga Di Padang Rumput

|Views: 22|Likes:
Published by Sri Susanti

More info:

Published by: Sri Susanti on Nov 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/11/2014

pdf

text

original

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM

PERCOBAAN IX INDEKS KEANEKARAGAMAN SERANGGA DI PADANG RUMPUT

NAMA NIM KELOMPOK

: : :

TGL. PRAKTIKUM : ASISTEN :

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2010

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Keanekaragaman hayati merupakan kekayaan hidup organisme di bumi, yang berupa tumbuhan, hewan, mikroorganisme, dan genetika yang

dikandungnya, serta ekosistem yang dibangunnya menjadi lingkungan hidup. Dimana kita ketahui bahwa ekosistem adalah suatu sistem dialam yang terdapat hubungan timbal balik antara organisme dengan organisme lainnya, juga dengan lingkungannya (Umar. 2010). Pengendalian hayati pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Pengendalian hayati sangat dilatar belakangi oleh pengendalian alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami yang terdiri dari parasitoid, predator, dan patogen merupakan pengendali utama hama yang bekerja secara density-deprndent (Untung. 1996).

I.2 Tujuan Percobaan Tujuan percobaan ini, yaitu : 1. Menentukan indeks keanekaragaman serangga yang terdapat di padang rumput dengan menggunakan indeks Kennedy. 2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam menerapkan teknik-teknik sampling organisme dan rumus-rumus sederhana dan cepat dalam memprediksi keadaan suatu komunitas.

I.3 Waktu dan Tempat Percobaan Percobaan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 24 April 2010, pukul 11.00 – 16.00 WITA, di Laboratorium Biologi Dasar Lantai I, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar dan pengambilan sampel di padang rumput Universitas Hasanuddin, pada pukul 06.00 – 07.00 WITA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Indonesia merupakan salah satu negara “Mega Biodiversity” setelah Brazil dan Madagaskar. Diperkirakan 25 % aneka spesies dunia berada di Indonesia, yang mana dari setiap spesies jenis tersebut terdiri dari ribuan plasma nutfah dalam kombinasi yang cukup unik sehingga terdapat aneka gen dalam individu. Secara total keanekaragaman hayati di Indonesia adalah sebesar 325.350 jenis flora dan fauna. Keanekaragaman adalah variabilitas antar mahluk hidup dari semua sumber daya, termasuk di daratan, ekosistem-ekosistem perairan, dan komplek ekologis termasuk juga keanekaragaman dalam spesies di antara spesies dan ekosistemnya. Sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam, suaka margasatwa, taman nasional, hutang lindung, dan sebagian lagi bagi kepentingan pembudidayaan plasma nutfah, dialokasikan sebagai kawasan yang dapat memberi perlindungan bagi keanekaragaman hayati (Arief. 2001). Serangga adalah salah satu anggota kerajaan binatang yang mempunyai jumlah anggota yang terbesar. Hampir lebih dari 72 % anggota binatang termasuk kedalam golongan serangga. Serangga telah hidup di bumi kira-kira 350 juta tahun, dibandingkan dengan manusia yang kurang dari dua juta tahun. Selama kurun ini mereka telah mengalami perubahan evolusi dalam beberapa hal dan menyesuaikan kehidupan pada hampir setiap tipe habitat. Serangga dapat berperan sebagai pemakan tumbuhan (serangga jenis ini yang terbanyak anggotanya). Sebagai parasitoid (hidup secara parasit pada serangga lain), sebagai predator

(pemangsa), sebagai pemakan bangkai, sebagai penyerbuk (misalnya tawon dan lebah) dan sebagai penular (vektor) bibit penyakit tertentu (Putra. 1994). Serangga dapat dijumpai di semua daerah di atas permukaan bumi. Di darat, laut, dan udara dapat dijumpai serangga. Mereka hidup sebagai pemakan tumbuhan, serangga atau binatang lain, bahkan mengisap darah manusia dan mamalia. Serangga hidup sebagai suatu keluarga besar di dalam sebuah kehidupan sosial yang rumit, seperti yang dilakukan oleh lebah, semut dan rayap yang hidup di dalam sebuah koloni (Putra. 1994). Ekologi adalah kajian mengenai interaksi timbal-balik jasad individu, diantara dan didalam populasi spesies yang sama, atau diantara komunitas populasi yang berbeda-beda dan berbagai faktor non hidup (abiotik) yang banyak jumlahnya yang merupakan lingkungan yang efektif tempat hidup jasad, populasi atau komunitas. Indeks keanekaragaman dapat digunakan untuk menyatakan hubungan kelimpahan spesies dalam komunitas. Keanekaragaman spesies terdiri dari 2 komponen yakni (Wikipedia. 2010) : 1. Jumlah spesies dalam komunitas yang sering disebut kekayaan spesies. 2. Kesamaan spesies. Kesamaan menunjukkan bagaimana kelimpahan spesies itu (jumlah individu, biomassa, penutup tanah, dsb) tersebar antara banyak spesies. Keanekaragaman dengan banyak variabel yang menggolongkan struktur komunitas (Wikipedia. 2010) : 1. Jumlah spesies. 2. Kelimpahan relatif spesies (kesamaan). 3. Homogenitas dan ukuran dari area sampel.

Ekosistem merupakan kesatuan alam yang sangat kompleks susunan dan fungsinya. Ekosistem yang belum dicampur manusia ekosistem alami, sedangkan yang sudah dikelola atau dibuat oleh manusia disebut agroekosistem, seperti ladang, sawah, kebun, empang, dan sungai buatan. Akuarium juga merupakan ekosistem buatan (Oka. 1995). Ada perbedaan antara ekosistem alamiah dengan ekosistem buatan manusia (agroekosistem). Ekosistem alamiah keragamannya sangat tinggi, artinya dalam setiap kesatuan luas/ ruang terdapat sangat banyak spesies tumbuhan dan binatang. Masing-masing speaies tumbuhan dan bainatang membentuk populasi sendiri-sendiri, namun populasi-populasi tersebut saling berinteraksi satu sama lain. Sejumlah populasi yang saling berinteraksi disebut komunitas (Oka. 1995) Perbedaan diantara ekosistem ini juga dapat diakibatkan oleh pengaruh faktor abiotik dari daerah tersebut, dimana perbedaan antara ekosistem itu terjadi karena adanya (Oka. 1995) : 1. Perbedaan kondisi iklim (hutan hujan tropis, hutan musim, dan hutan savana). 2. Letak di atas permukaan laut, topogarfi dan formasi geologi (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai, formasi lava dan sebagainya). 3. Kondisi tanah dan air tanah (misalnya pasir, lempung, basah, kering). Komunitas yang mengalami situasi lingkungan yang keras dan tidak menyenangkan di mana kondisi fisik terus menerus menderita, kadangkala atau secara berkala, cenderung terdiri atas sejumlah kecil spesies yang berlimpah. Dalam lingkungan yang kunak, atau menyenangkan, jumlah spesies besar, namun tidak ada yang satupun yang berlimpah. Keragaman spesies dapat diambil untuk

menandai jumlah spesies dalam suatu daerah tertentu atau sebagian jumlah spesies diantara jumlah total individu dari seluruh spesies ada. Hubungan ini dapat dinyatakan secara numerik sebagai indeks keanekaragaman. Jumlah spesies dalam suatu komunitas adalah penting dari segi ekologi karena keragaman spesies tampaknya bertambah bila komunitas menjadi lebih stabil. Gangguan parah menyebabkan penurunan yang nyata dalam keragaman. Keragaman yang besar mencirikan ketersediaan sejumlah besar ceruk (Oka. 1995). Keragaman jenis adalah sifat komunitas yang memperlihatkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada didalamnya. Ada 6 faktor yang saling berkaitan menentukan derajat naik turunnya keragaman jenis, yaitu (Wikipedia. 2010) : 1. Waktu, keragaman komunitas bertambah sejalan dengan waktu, berarti komunitas tua yang sudah lama berkembang, lebih banyak terdapat organisme dari pada komunitas muda yang belum berkembang. Waktu dapat berjalan dalam ekologi lebih pendek atau hanya sampai puluhan generasi. 2. Heterogenesis ruang, semakin heterogen suatu lingkungan fisik semakin kompleks komunitas flora dan fauna disuatu tempat tersebar dan semakin tinggi keragaman jenisnya. 3. Kompetisi, terjadi apabila sejumlah organisme menggunakan sumber yang sama yang ketersediaannya kurang, atau walaupun ketersediaannya cukup, namun persaingan tetap terjadi juga bila organisme-organisme itu

memanfaatkan sumber tersebut, yang satu menyerang yang lain atau sebaliknya.

4. Pemasangan, yang mempertahankan komunitas populasi dari jenis bersaing yang berbeda dibawah daya dukung masing-masing selalu memperbesar kemungkinan hidup berdampingan sehingga mempertinggi keragaman, apabila intensitas dari pemasangan terlalu tinggi atau rendah dapat menurunkan keragaman jenis. 5. Kestabilan iklim, makin stabil, suhu, kelembaban, salinitas, pH dalam suatu lingkungan tersebut. Lingkungan yang stabil, lebih memungkinkan

keberlangsungan evolusi. 6. Produktifitas, juga dapat menjadi syarat mutlak unuk keanekaragaman yang tinggi. Keenam faktor ini saling berinteraksi untuk menetapkan keanekaragaman jenis dalam komunitas yang berbeda. Keanekaragaman spesies sangatlah penting dalam menentukan batas kerusakan yang dilakukan terhadap sistem alam akibat turut campur tangan manusia (Oka. 1995). Faktor-faktor yang mengatur kepadatan suatu populasi dapat dibagi 2 golongan yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal antara lain persaingan antar individu dalam satu populasi atau dengan spesies lain, perubahan lingkungan kimia akibat adanya sekresi atau metabolisme, kekurangan makanan, serangan predator/ parasit/ penyakit, emigrasi, faktor iklim kisalnya cuaca, suhu, dan kelembaban. Sedangkan faktor internal perubahan genetik dari populasi (Oka. 1995).

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.1 Alat-alat Percobaan Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini diantaranya yaitu botol pembunuh, pinset, botol sampel, dan Sweeping net.

III.2 Bahan-bahan Percobaan Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu alkohol 70 % dan kapas.

III.3 Prosedur Percobaan Pada percobaan ini dilakukan prosedur kerja sebagai berikut : 1. Pilihlah lokasi di padang rumput yang ada di sekitar kampus, kemudian lakukan penangkapan serangga dengan menggunakan jaring serangga. 2. Ayungkan ke kiri dan ke kekanan Sweeping net di permukaan padang rumput, setiap melangkah 1 kali ayunkan, lakukan 20-30 ayunan (20-30 langkah). 3. Gulung jaringa sweeping net agar serangga tidak lepas, kemudian masukkan kedalam botol pembunuh yang berisi alkohol 70% dengan kapas. Biarkan sebentar sampai serangga mati, kemudian masukkan kedalam botol sampel. 4. Lakukan penjaringan serangga dengan Sweeping net sebanyak 10 kali pada lokasi yang berbeda di padang rumput. 5. Di laboratorium, dilakukan pengamatan dan perhitungan.

6. Usahakan serangga yang tadi diambil satu per satu secara acak.

7. Amati serangga no.1, kemudian pada lembar kerja berilah tanda + , ambillah serangga no.2 dan letakkan berdampingan dengan serangga no.1 dan amati. Jika serangga no.2 berbeda dengan no.1 beri tanda + pada lembar kerja, tetapi apabila sama, maka beri tanda 0 pada lembar kerja. 8. Masukkan serangga no.1 kembali kedalam botol yang lain, kemudian lanjutkan pengamatan dengan mengambil sampel no.3, lakukan seperti point 7 sampai semua sampel teramati. 9. Perhatikan bahwa tiap serangga yang diambil hanya dibandingkan dengan hewan sebelumnya. 10. Setelah selesai pengamatan sampel, lakukan perhitungan indeks

keanekaragaman atau indeks diversitas (LD) Kennedy :

11. Lakukan pengamatan beberapa kali dan ambil harga rata-ratanya.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, 2001, Hutan dan Kehutanan. Kanisium. Jakarta. Oka, I.N., 1995, Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di indonesia. Universitas Gadja Mada-Press. Yokyakarta. Putra, N.S., 1994, Serangga di sekitar kita. Kanisius. Yokyakarta. Umar, R., 2010, Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas Hasanuddin. Makassar. Untung, K., 1996, Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Universitas Gadja Mada-press. Yokyakarta. Wikipedia, 2010, Indeks Keanekaragaman . http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 26 April 2010.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil IV.1.1 Tabel pengamatan Urutan Spesimen jumlah tanda +

+ + + + + + + + + + +

+ + + + + + + + + 0 +

+ + + + + + + + + + 0

+ + + + + + + 0 + + +

+ + + + + + + + + + +

+ + + 0 + + + + + + 0

0 + + + + + + + + + 0

0 0 + + + + + + + + 0

+ + + + + + 0 + + + 0

+ + + + + + + 0 0 0 0

8 9 10 9 10 10 9 8 9 8 4
Total = 94

Total Spesimen = 110

IV.2 Analisis Data Total jumlah spesimen = 110 Total jumlah tanda + = 94 ID K =

= = 0,85 (tingkat keanekaragaman sedang)

IV.3 Pembahasan Pada percobaan ini dilakukan penangkapan serangga dengan

menggunakan sweeping net. Penangkapan ini dilakukan 5-10 kali penangkapan dengan tempat yang berbeda. Dari hasil pengkapan dengan menggunakan sweeping net diperoleh serangga atau spesimen sebanyak 110, dimana dari 110 tersebut jumlah + hanya 94. Untuk mengetahui apakah serangga yang kita peroleh termasuk golongan tingkat keanekaragaman tinggi, sedang atau rendah, maka kita perlu menggunakan indeks Kennedy. Serangga yang kita peroleh dari penangkapan tersebut dan telah diuji dengan menggunakan indeks Kennedy, maka serangga termasuk golongan tingkat keanekaragaman sedang karena jumlah yang kita peroleh dari uji indeks Kennedy yaitu 0,85. Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk menentukan indeks keanekaragaman suatu komunitas, sangat diperlukan pengetahuan atau

keterampilan dalam mengidentifikasin hewan. Pada dasarnya, jumlah hewan yang berada di daerah tropis jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan daerah temperata dan daerah beriklim dingin.

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Dari penangkapan serangga pada tempat yang berbeda, jumlah serangga yang diperoleh yaitu 110 dan jumlah tanda + yaitu 94. 2. Tempat penangkapan serangga memiliki tingkat keanekaragaman sedang, dimana telah diuji dengan menggunakan indeks Kennedy. 3. Dibutuhkan keterampilan dalam mengidentifikasi hewan atau serangga.

V.1 Saran Dalam percobaan ini diperlukan peralatan yang cukup agar dapat mengefisienkan waktu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->