“PERKARA SI BUNGKUK DAN SI PANJANG”

Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit sebagai ternyata dari contoh yang di bawah ini : Hatta maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. Maka dicaharinya perahu hendak menyeberang, tiada dapat perahu itu. Maka ditantinya 1) kalau-kalau ada orang lalu berperahu. Itu pun tiada juga ada lalu perahu orang. Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. Sebermula adapun istri orang itu terlalu baik parasnya. Syahdan maka akan suami perempuan itu sudah tua, lagi bungkuk belakangnya. Maka pada sangka orang tua itu, air sungai itu dalam juga. Katanya, "Apa upayaku hendak menyeberang sungai ini?" Maka ada pula seorang Bedawi duduk di seberang sana sungai itu. Maka kata orang itu, "Hai tuan hamba, seberangkan apalah kiranya hamba kedua ini, karena hamba tiada dapat berenang; sungai ini tidak hamba tahu dalam dangkalnya." Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya, maka orang Bedawi itu pun sukalah, dan berkata di dalam hatinya, "Untunglah sekali ini!" Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya, hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu, "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini. Maka kata Bedawi itu, "Sebagaimana 3) hamba hendak bawa tuan hamba kedua ini? Melainkan seorang juga dahulu maka boleh, karena air ini dalam." Maka kata orang tua itu kepada istrinya, "Pergilah diri dahulu." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Arkian maka kata Bedawi itu, "Berilah barangbarang bekal-bekal tuan hamba dahulu, hamba seberangkan." Maka diberi oleh perempuan itu segala bekal-bekal itu. Setelah sudah maka dibawanyalah perempuan itu diseberangkan oleh Bedawi itu. Syahdan maka pura-pura diperdalamnya air itu, supaya dikata 4) oleh si Bungkuk air itu dalam. Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu, maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu, "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu, agar supaya tuan hamba, hamba ambit, hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu. Maka kata perempuan itu kepadanya, "Baiklah, hamba turutlah kata tuan hamba itu." Maka apabila sampailah ia ke seberang sungai itu, maka keduanya pun mandilah, setelah sudah maka makanlah ia keduanya segala perbekalan itu. Maka segala kelakuan itu semuanya dilihat oleh orang tua bungkuk itu dan segala hal perempuan itu dengan Bedawi itu. Kalakian maka heranlah orang tua itu. Setelah sudah ia makan, maka ia pun berjalanlah keduanya. Setelah dilihat oleh orang tua itu akan Bedawi dengan istrinya berjalan, maka ia pun berkatakata dalam hatinya, "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini, baiklah aku mati." Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. Maka heranlah ia, karena dilihatnya sungai itu aimya tiada dalam, maka mengarunglah ia ke seberang lalu diikutnya Bedawi itu. Dengan hal yang demikian itu maka sampailah ia kepada dusun tempat Masyhudulhakk itu. Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. Maka kata Masyhudulhakk, "Istri siapa perempuan ini?" Maka kata Bedawi itu, "Istri hamba perempuan ini. Dari kecil lagi ibu hamba pinangkan; sudah besar dinikahkan dengan hamba." Maka kata orang tua itu, "Istri hamba, dari kecil nikah dengan hamba."

“Jika sungguh istrimu perempuan ini." Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk. "Hai orang tua. siapa mentuanya laki-laki dan perempuan dan di mana tempat duduknya Maka Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. jangan lagi ia berbuat pekerjaan demikian itu. Setelah itu maka dipanggilnya pula orang tua itu. Maka diperjauhkannyalah laki-laki itu keduanya." Kemudian maka dikatakannya. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk perjauhkan. "Baik kepada seorang-seorang aku bertanya. "Si Panjang itulah suami hamba. siapa nama mentuamu laki-laki dan mentuamu perempuan. supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu. Maka kata perempuan itu. "Berkata benarlah engkau. Syahdan maka gemparlah. datang melihat hal mereka itu ketiga. Sungguhkah perempuan itu istrimu?" Maka kata Bedawi itu. "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba. Maka kata Masyhudulhakk. Maka kata Masyhudulhakk.Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. Setelah itu maka dibawa pula si Panjang itu. . Kemudian maka disuruhnya tobat Bedawi itu. Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu. "Jika sungguh ia suamimu siapa mentuamu laki-laki dan siapa mentuamu perempuan dan di mana tempat duduknya?" Maka tiada terjawab oleh perempuan celaka itu. Maka hendaklah disakiti oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu. Demikian juga perempuan celaka itu. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar." Syahdan maka Masyhudulhakk pun tertawa. Maka disuruh oleh Masyhudulhakk jauhkan laki-laki Bedawi itu. seraya berkata. siapa suamimu antara dua orang laki-laki ini?" Maka kata perempuan celaka itu. sungguhlah perempuan itu istrimu sebenar-benamya?" Maka kata orang tua itu. "Si Panjang inilah suami hamba." Maka kata Masyhudulhakk. dan di mana kampung tempat ia duduk?" Maka tiadalah terjawab oleh laki-laki itu. "Berkata benarlah engkau ini. Maka bertanyalah Masyhudulhakk kepada perempuan itu. "Daripada mula awalnya. mengatakan hamba ini tentulah suaminya. Arkian maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Maka orang pun berhimpun.

suka berbohong. ú hamba jadikan istri hamba." Maka berbagai-bagailah katanya akan perempuan itu. egois. baik hati. ú Maka Bedawi itu pun turunlah ia ke dalam sungai itu merendahkan dirinya. mengatakan hamba ini tentulah suaminya. dari kecil nikah dengan hamba. supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu. "Baiklah.Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Hikayat Perkara Si Bungkuk Dan Si Panjang Judul : Hikayat Mashudulhakk (perkara si bungkuk dan si panjang) Unsur intrinsik :   Tema Tokoh : Kesetiaan dan Pengkhianatan dalam Cinta : Masyhudulhakk : arif."Baik kepada seorang-seorang aku bertanya. Maka kata perempuan itu. Si Panjang / Bedawi : licik.Maka pikirlah 5) Masyhudulhakk.. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu. "Bahwa perempuan itu telah nyatalah istri hamba.Maka kata perempuan itu kepadanya. : turunlah perempuanitu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Waktu : Tidak diketahui Alur : Alur maju . ú …Masyhudulhakk pun besarlah. Syahdan maka gemparlah. : Tepi sungai Sungai  Suasana Menegangkan : Maka pada sangka orang tua itu. ú Maka kata orang tua itu. "Pergilah diri dahulu. baiklah aku mati. cerdik. suka mengalah. "Si Panjang itulah suami hamba.maka diperiksa pula oleh Masyhudulhakk. hingga lehernya juga ia berjalan menuju orang tua yang bungkuk laki-istri itu. Maka kata orang tua itu. lagi pula perempuan itu sendiri sudah berikrar. ú Maka kata orang tua itu kepada istrinya. Istri Si Bungkuk : mudah dirayu. Mengecewakan : "Daripada hidup melihat hal yang demikian ini. dan berkata di dalam hatinya. "Istri hamba. air sungai itu dalam juga. bijaksana. "Tuan hamba seberangkan apalah 2) hamba kedua ini. ú …. suka menolong. "Untunglah sekali ini! ú Maka kata Bedawi itu.Setelah itu maka terjunlah ia ke dalam sungai itu. mudah percaya." Setelah itu maka turunlah perempuan itu ke dalam sungai dengan orang Bedawi itu. Membingungkan : Maka dengan demikian jadi bergaduhlah mereka itu. ú …. Si Bungkuk : setia pada istrinya. egois. maka orang Bedawi itu pun sukalah.   Setting Tempat : Maka ia pun berhentilah di tebing sungai itu dengan istrinya. ú Setelah didengar oleh Bedawi kata orang tua bungkuk itu dan serta dilihatnya perempuan itu baik rupanya. ú Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu. tidak setia.

(Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Jangan mengambil keputusan sesaat yang belum dipikirkan dampaknya. Syukurilah jodoh yang telah diberikan Tuhan.serta dilihatnyaperempuan itu baik rupanya. maka orang Bedawi itu pun sukalah. Mengapa maka tuan hamba berlakikan orang tua bungkuk ini? Baik juga tuan hamba buangkan orang bungkuk itu.  Poin of View : orang ke-3 : Maka bertambah-tambah masyhurlah arif bijaksana Masyhudulhakk itu. Demikian juga perempuan celaka itu. Janagn seperti yang ada pada hikayat mashudulhakk. Eksposisi : Mashudulhakk arif bijaksana dan pandai memutuskan perkara-perkara yang sulit maka berapa lamanya Masyhudulhakk pun besarlah. Jangan pernah merasa iri dengan apa yang tidak kita miliki karena apa yang te. "Baik kepada seorang-seorang aku bertanya. Maka pada suatu hari adalah dua orang laki-istri berjalan. Maka sampailah ia kepada suatu sungai. karena bagaimanapun juga kebenaran akan mengalahkan ketidak benaran. Bantulah dengan ikhlas orang yang membutuhkan bantuan. merupakan dosa. dan berkata di dalam hatinya. Jadilah orang yang bijaksana dalam mengatasi suatu masalah. Maka Bedawi itu pun mengakulah salahnya. hamba jadikan istri hamba. · Nilai moral : Janganlah sekali-kali kita memutar balikkan fakta. yakini bahwa jodoh itu baik untuk kita. dan hanya akan menimbulkan kerugian pada diri kita sendiri.  Ending : Masyhudulhakk dengan sekalian orang banyak itu pun tahulah akan salah Bedawi itu dan kebenaran orang tua itu. Lalu didera oleh Masyhudulhakk akan Bedawi itu serta dengan perempuan celaka itu seratus kali. Maka Bedawi itu pun datanglah dengan perempuan itu. agar supaya tuan hamba.  Complication : …. pada hikayat ini diterangkan bahwa seorang yang melakukan keslahan seperti berbohong maka akan did era sebanyak seratus kali. · Nilai social budaya : Sebuah kesalahan pastilah akan mendapat sebuah balasan.ah diberikan Allah kepada kita adalah sesuatu yang memang terbaik untuk kita. "Untunglah sekali ini!  Rising action : Maka sampailah kepada pertengahan sungai itu. mengatakan bahwa yang salah itu benar dansebaliknya.) . hamba ambit. Kalakian maka bertambah-tambah cerdiknya dan akalnya itu.       Amanat : Jangan berbohong karena berbohong itu tidak baik. maka kata Bedawi itu kepada perempuan itu. Unsur ekstrinsik : · Nilai religiusitas : Kita harus selalu bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah. Setelah itu maka disuruh oleh Masyhudulhakk panggil Bedawi itu. Masyhudulhakk."  Turning point : Maka orang tua itu pun datanglah mengadu kepada Masyhudulhakk. supaya berketahuan siapa salah dan siapa benar di dalam tiga orang mereka itu. "Akan tuan ini terlalu elok rupanya dengan mudanya.

d. v.F. Dinantinya. dengan alamat "Masyudhak".. Wall) dengan diubah di sana-sini setelah dibandingkan dengan buku yang diterbitkan oleh A.Dalam Volksalmanak Melayu 1931 (Balai Pustaka) isi naskah yang dipakai v.· Kepengarangan : Hikayat mashudulhakk ini dari salah satu naskah lama (Collectie v. Wall (menurut naskah yang lain dalam kumpulan yang tersebut).d. .d. Wall itu diringkaskan dan sambungannya dimuat pula.

pulangnya membawa mempelam dan makananmakanan yang lain. dicarinya ahli-ahli nujum dari Negeri Antah Berantah. Tidak lama kemudian.” Si Miskin pergi ke pasar. Itulah sebabnya kemudian ia dikenal sebagai si Miskin. oleh para ahli nujum itu dikatakan bahwa Marakarmah dan Nila Kesuma itu kelak hanyalah akan mendatangkan celaka saja bagi orangtuanya. Dengan takdir Allah terdirilah di situ sebuah kerajaan yang komplet perlengkapannya. Sepanjang perjalanan menangislah si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. seorang raja keinderaan beserta permaisurinya bibuang dari keinderaan sehingga sengsara hidupnya. Maka. didapatnya sebuah tajau yang penuh berisi emas yang tidak akan habis untuk berbelanja sampai kepada anak cucunya. dengan hati yang berat dan amat terharu disuruhnya pergi selamalamanya putra-putrinya itu. pulanglah ia segera. Ketika menggali tanah untuk keperluan membuat teratak sebagai tempat tinggal. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga bengkak-bengkak dan berdarahdarah tubuhnya. Jikalau dapat. Negerinya diberi nama Puspa Sari. Maka berkatalah si Miskin. pergilah si Miskin menghadap raja memohon mempelam. Ketika isterinya mengandung tiga bulan. Biar Kakanda pergi mencari buah mempelam itu. Tuan jangan menangis. Waktu malam tidur di hutan. dengan hati yang sebal dan penuh ketakutan. “Diamlah. Ramalan palsu para ahli nujum itu menyedihkan hati Maharaja Indera Angkasa. Ketika Maharaja Indera Angkasa akan mengetahui pertunangan putraputrinya. Si Miskin laki-bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan mencari rezeki berkeliling di Negeri Antah Berantah di bawah pemerintahan Maharaja Indera Dewa.“Si Miskin” Karena sumpah Batara Indera. lahirlah anaknya yang kedua. bernama Nila Kesuma. Si Miskin lalu berganti nama Maharaja Indera Angkasa dan isterinya bernama Tuan Puteri Ratna Dewi. perempuan. Kakanda berikan kepada tuan. Setelah ditolak oleh isterinya. Si Miskin menyatakan keberatannya untuk menuruti keinginan isterinya itu. lahirlah anaknya yang pertama laki-laki bernama Marakarmah (=anak di dalam kesukaran) dan diasuhnya dengan penuh kasih sayang. Maharaja Indera Angkasa terlalu adil dan pemurah sehingga memasyurkan kerajaan Puspa Sari dan menjadikan iri hati bagi Maharaja Indera Dewa di negeri Antah Berantah. Isterinya menyambut dengan tertawa-tawa dan terus dimakannya mangga itu. Atas bujukan jahat dari raja Antah Berantah. Setelah diperolehnya setangkai mangga. . ia menginginkan makan mangga yang ada di taman raja. Setelah genap bulannya kandunga itu. Demikian seterusnya. tetapi istri itu makin menjadi-jadi menangisnya. siangnya berjalan mencari rezeki.

Kemudian. kemudian dilemparkan ke laut. Marakarmah dipukuli orang banyak. Marakarmah dan Nila Kesuma berlindung di bawah pohon beringin. Waktu Cahaya Chairani berjalan–jalan di tepi pantai. yang menjadi sebab dapat bertemu kembali antara suami-isteri itu. Marakarmah menjadi anak angkat Nenek Kebayan yang kehidupannya berjual bunga. Nila Kesuma ditemu oleh Raja Mengindera Sari. sampai Marakarmah dapat keluar dengan tak bercela. Timbul birahi nahkoda kapal itu kepada Cahaya Chairani. Karena cerita Nenek Kebayan mengenai putera Raja Mangindera Sari menemukan seorang puteri di bawah pohon beringin yang sedang menangkap burung. maka didorongnya Marakarmah ke laut. Kemudian. Marakarmah selalu menolak menggubah bunga. maka ditemuinyalah. yang pada akhirnya menjadi isteri putera mahkota itu dan bernama Mayang Mengurai. dijumpainya Marakarmah dalam keadaan terikat tubuhnya. yang seterusnya ditelan oleh ikan nun yang membuntuti kapal itu menuju ke Palinggam Cahaya. tahulah Marakarmah bahwa puteri tersebut adiknya sendiri. Nahkoda kapal yang jahat itu dibunuhnya. teruslah dia hanyut dan akhirnya terdampar di pangkalan raksasa yang menawan Cahaya Chairani (anak raja Cina) yang setelah gemuk akan dimakan.Tidak lama kemudian sepeninggal putra-putrinya itu. Negeri Puspa Sari musnah terbakar. gubahan bunga Marakarmah dikenal oleh Cahaya Chairani. putera mahkota dari Palinggam Cahaya. Marakarmah mencari ayah bundanya yang telah jatuh miskin kembali. . Marakarmah dan Cahaya Chairani berusaha lari dari tempat raksasa dengan menumpang sebuah kapal. Alasannya. Akan nasib Marakarmah di lautan. Ditangkapnya seekor burung untuk dimakan. Waktu mencari api ke kampung. ikan nun terdampar di dekat rumah Nenek Kebayan yang kemudian terus membelah perut ikan nun itu dengan daun padi karena mendapat petunjuk dari burung Rajawali. Dengan kesaktiannya diciptakannya kembali Kerajaan Puspa Sari dengan segala perlengkapannya seperti dahulu kala. Selanjutnya. Dilepaskan tali-tali dan diajaknya pulang. Negeri Antah Berantah dikalahkan oleh Marakarmah. Sesampai di tengah hutan. yang kemudian dirajai oleh Raja Bujangga Indera (saudara Cahaya Chairani). Marakarmah pergi ke negeri mertuanya yang bernama Maharaja Malai Kisna di Mercu Indera dan menggantikan mertuanya itu menjadi Sultan Mangindera Sari menjadi raja di Palinggam Cahaya. karena disangka mencuri. Akhirnya.

hidupmu tidak akan senangkaena dimusuhi semua orang. dan baik budi. menyayangi diluar batas. menasehati yang berikiran sempit. namun Ibnu Hasan sama suka bersolek. katanya “Sekarang saatnya anakku. pesan Ibu akan kuperhatikan. perilakunya kalem.” Ibnu Hasan menjawab dengan takzim. mengasihi fakir miskin. Ibnu Hasan sedang lucu-lucuya.”Apa yang Ibu katakan. bertempat tinggal du negeri Bagdad. akan hamba turuti. ibunya tidak tahan menangis terisak-isak. karena itu banyak pengikutnya. namun demikian anak itu. tapi. kalau judes akan mendapatkan kesusahan. walaupun harus mengeluarkan biaya. pandai-pandailah menjaga diri. berusia sekitar tujuh tahun. ketempat merantau. pendiam. terkenal kesetiap negeri. zaman dahulu kala. pergilah ke Mesir.” Singkat cerita. diajari ilmu yang baik. tidak sombong. memiliki seorang anak. apalagi orang tuanya. harus berpisah dengan putranya. menyayangi yang kekurangan. sebagai kota yang paling ramai saat itu. “Kelak. merupakan orang terkaya. hati-hatilah menjaga diri jangan menganggap enteng segala hal. hatinya sangat sedih. bernama Syekh Hasan. semoga jangan sampai menempuh jalan yang salah. Ibnu Hasan yang akan berangkat kepesantren. Ibnu Hasan namanya. tidak akan ku tolak.“IBNU HASAN” Syahdan. berupa pakaian atau uang. karena itulah kedua orang tuanya sangat menyayanginya. Syekh Hasan saudagar yang kaya raya. tanpa pertimbangan. jangankan jalan menuju kemuliaan. karena jauh dari orang tua.” Dipanggilnya putranya. Ayahnya berfikir. siang malam hanya perintah Ayah Ibu yang hamba nantikan. mengingatkan orang yang bodoh. merasa diri orang kaya lalu menghina sesama. banyak harta banyak uang.”Alangkah salahnya aku. kalau celaka tidak akan diperhatikan. dimirkai Allah Yang Agung. siang dan malam. angkuh dan menyombongkan diri. tak dapat mendidik anak. bagaimana kalau akhirnya.” Ibnu Hasan menjawab. tidak akan ada yang mau menolong. apabila ananda sudah sampai. Syekh Hasan sangat bijaksana. berada dirantau orang. semua orang senang melihatnya. bahwa Ia harus mengaji. berpisah dengan kedua orangtuanya. diusap-usapnya putranya sambil dinasihati. Kalau begitu perbuatanmu.” . jangan keras kepala. ada seorang kaya hartawan. semua kehendak orang tua. doakanah aku agar selamat. belum cukup usia. carilah jalan menuju keutamaan. walaupun hidupnya dimanjakan. sebenarnya aku kuatir. laki-laki yang sangat tampan. yang terkenal kemana-mana. akan selalu kuingat dan kucatat dalam hati. merasa lebih dari yang lain. tidak kekurangan sandang. mengkaji ilmu yang bermanfaat. yang masih sangat kecil. aku pasti durhaka.”Ayah jangan ragu-ragu. harus tahu ilmunya hidup. jalan kematianpun hamba jalani. Anak itu segera mendatanginya.

dengan selamat berkat do’a Ayah dan Ibunda. akan sangat memalukan seandainya ayah sudah tiada. harus menjadi buruh. ternyata tidak terurus karena saya tidak teliti akhirnya harta itu habis. saatba’da zuhur. tidak kekurangan uang. kepanasan. menjawab agak malu.Singkat cerita Ibnu Hasan sudah berangkat dikawal dua pengasuhnya sejak kecil. Bukan bertambah mashur. betapa girang hatinya. di segera pulang. dan terhadap sesama. tepatnya tempat belajar. . guna mencari ilmu. selama perjalanan yang makan waktu berhari-hari namun akhirnya sampai juga dipusat kota Negara Mesir.” Kyai berkata demikian. Mairin dan Mairun. Tapi. yang baru pulang dari sekalah.” Begitu Ibnu Hasan mendengar penjelasan tersebut. tujuan untuk menguji muridnya.”Saya pulang sekolah.”Hamba ingin menjelaskan mengapa hamba besusah payah tanpa mengenal lelah. sopan santun terhadap yang lebih tua dan yang lebih muda. Perasaan sedih prihatin. menghadap kyai dan meminta izinya. ibaratnya anak seorang patih. paling tidak harus sama dengan orang tua. Memang sangkaan orang begitu karena ayahku kaya raya. Ibnu Hasan sedang di jalan. walaupun tidak melebihiorang tua.mereka berangkat berjalan kaki. yakinlah kyai itu akan bauk muridnya. ternaknyapun banyak. kehujanan. Ibnu Hasan menyapa. mengeja. terus berguru padanya. pendapat hamba tidak demikian. asalnya anak orang kaya.” Maka. Mairun memikul semua perbekalan dan pakaian. Pada suatu hari. berhitung.”Anda pulang dari mana?” Saleh menjawab dengan sopan. hamba tidak usah bekerja. untuk belajar disekolah. harus sesuai dengan aturan. bertemu seseorang bernama Saleh. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya kamu harapkan. menulis. Ibnu Hasan menunduk. dan tidak akan melakukan. bukan bertambah.”Apakah anda belum tahu?” “sekolah itu tempat ilmu. Begitulah pendapat saya karena modal sudah ada saya hanya tinggal melanjutkan.” Sekolah itu apa? Coba jelaskan padaku!” yang ditanya menjawab. karena tidak akan kekurangan. apalagi kalau lebih miskin. belajar tatakrama. sudah menunggal dunia. apakah betul-betul ingin mencari ilmu atau hanya alasan supaya mendapat pujian. mencari ilmu.” Ibnu Hasan bertanya lagi. segera Ian menemui seorang alim ulama. Pangkat anakpun begitu pula. selanjutnya. semua hartanya jatuh ketangan hamba. Namun. Distulah terlihat ternyata kalau hamba ini bodoh. sesekali menggantikan tugas Mairun. sementara Mairin mengikuti dari belakang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful