onsep Dasar Cedera Kepala Untuk memperkaya pemahaman akan konsep Cedera Kepala, berikut ini aka dibahas

tentang pengertian, etiologi, tipe trauma, mekanisme, klasifikasi, perdarahan intrakranial, patofisiologi, meifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan. 1. Pengertian Cedera Kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstitial dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak (Muttaqin, 2008). Cedera Kepala adalah kerusakan otak akibat perdarahan atau pembengkakan otak sebagai respon terhadap cedera dan menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial (Smeltzer, 2000 : 2210). Trauma kepala adalah suatu trauma yang mengenai daerah kulit kepala, tulang tengkorak, atau otak yang terjadi akibat injury baik secara langsung maupun tidak langsung pada kepala (Suriadi dan Rita juliani, 2001). 2. Etiologi Menurut Tarwoto (2007), penyebab dari Cedera Kepala adalah : a. Kecelakaan lalu lintas. b. Terjatuh c. Pukulan atau trauma tumpul pada kepala. d. Olah raga e. Benturan langsung pada kepala. f. Kecelakaan industri. 3. Mekanisme Cedera Kepala Menurut tarwoto (2007) mekanisme cedera memegang peranan yang sangat sadar dalam berat ringannya dari trauma kepala. Mekanisme cedera kepala dapat dibagi menjadi : a. Cedera Percepatan (akselerasi) yaitu jika benda yang bergerak membentur kepala yang diam, misalnya pada orang-orang diam kemudian terpukul atau terlempar batu. b. Cedera Perlambatan (Deselerasi) yaitu jika kepala bergerak membentur benda yang diam, misalnya pada saat kepala terbentur. c. Deformitas adalah perubahan atau kerusakan pada bagian tubuh yang terjadi akibat trauma, misalnya ada fraktur kepala, kompresi, ketegangan atau pemotongan pada jaringan otak. 4. Patifisiologi Menurut Tarwoto, dkk (2007 : 127) adanya cedera kepala dapat mengakibatkan kerusakan struktur, misalnya kerusakan pada parenkim otak, kerusakan pembuluh darah, perdarahan, edema, dan gangguan biokimia otak seperti penurunan adenosis tripospat, perubahan permeabilitas vaskuler. Patofisiologi cedera kepala dapat digolongkan menjadi 2 proses yaitu cedera kepala primer dan cedera kepala sekunder. Cedera kepala primer merupakan suatu proses biomekanik yang dapat terjadi secara langsung saat kepala terbentur dan memberi dampak cedera jaringan otak. Pada cedera kepala sekunder terjadi akibat cedera kepala primer, misalnya akibat hipoksemia, iskemia dan perdarahan. Perdarahan serebral menimbulkan hematoma, misalnya pada epidural hematoma yaitu berkumpulnya antara periosteum tengkorak dengan durameter, subdural hematoma akibat berkumpulnya darah pada ruang antara durameter dengan sub arakhnoid dan intra serebral hematom adalah berkumpulnya darah di dalam jaringan serebral. Kematian pada cedera kepala disebabkan karena hipotensi karena gangguan autoregulasi, ketika terjadi autoregulasi menimbulkan perfusi jaringan serebral dan berakhir pada iskemia jaringan otak, Gambaran mengenai masalah keperawatan yang mungkin muncul pada kasus Cedera Kepala secara rinci dapat

dilihat pada skema 2.1. Skema 2.1. Pathways Cedera Kepala

(Sumber : Arif Muttaqin, 2008) 5. Klasifikasi Cedera Kepala Menurut Eka J. Wahjoepramono (2005 : 21) Cedera Kepala diklasifikasikan berdasarkan keadaan klinis dan kelainan patologis. a. Klasifikasi Klinis Klasifikasi keadaan klinis adalah penilaian terhadap tingkat kesadaran. Berdasarkan skala koma Glasgow (Glasgow Koma Scale), yaitu Cedera Kepala Ringan (CKR), Cedera Kepala Sedang dan Cedera Kepala Berat. b. Klasifikasi Patologis Klasifikasi patologis terbagi menjadi kerusakan primer dan sekunder : 1) Cedera kepala primer adalah kerusakan yang terjadi pada masa akut, yaitu terjadi segera saat benturan terjadi. Kerusakan primer ini dapat bersifat (fokal) local maupun difus. a) Kerusakan fokal yaitu kerusakan jaringan yang terjadi pada bagian tertentu saja dari kepala, sedangkan bagian relatif tidak terganggu. b) Kerusakan difus yaitu kerusakan yang sifatnya berupa disfungsi menyeluruh dari otak dan umumnya bersifat makroskopis. 2) Cedera kepala sekunder adalah kelainan atau kerusakan yang terjadi setelah terjadinya trauma/benturan dan merupakan akibat dari peristiwa yang terjadi pada kerusakan primer.

Berdasarkan kerusakan jaringan otak : 1) Komusio Serebri (gegar otak) : gangguan fungsi neurologik ringan tanpa adanya kerusakan struktur otak, terjadi hingga kesadaran kurang dari 10 menit atau tanpa disertai amnesia, mual muntah, nyeri kepala. 2) Kontusio Serebri (memar) : gangguan fungsi neurologic disertai kerusakan jaringan otak tetapi kontinuitas jaringan masih utuh, hingga kesadaran lebih dari 10. 3) Konfusio Serebri : gangguan fungsi neurologik disertai kerusakan otak yang berat dengan fraktur tengkorak, massa otak terkelupas keluar dari rongga intrakranial. 6. Tipe Trauma Kepala Tipe trauma kepala terbagi menjadi 2 macam, yaitu : a. Trauma Terbuka Trauma ini menyebabkan fraktur pada tulang tengkorak, laserasi durameter, dan kerusakan otak jika tulang tengkorak menusuk otak. b. Trauma Tertutup Trauma kepala tertutup terbagi menjadi 2 macam, yaitu komusio serebri/gegar otak dan kontusio serebri/memar otak. 1) Komusio serebri/gegar otak adalah merupakan bentuk trauma kapitis ringan. 2) Kontusio serebri atau memar otak merupakan perdarahan kecil pada jaringan otak akibat pecahnya pembuluh darah kapiler, hal ini bersama-sama dengan rusaknya jaringan saraf atau otak yang menimbulkan edema jaringan otak di daerah sekitarnya. Bila daerah yang mengalami edema cukup luas akan terjadi peningkatan terkanan intrakranial. 7. Perdarahan Intrakranial

sub araknoidal atau araknoidal disertai robekan araknoid. a. atau pembuluh darah yang ada pada permukaan jaringan otak. Perdarahan dibelakang membrane timpani c. Perdarahan subdural terjadi karena ruptural vena jembatan dan robekan pembuluh darah kortikal.3. subdural dan sub araknoid. 8. Pusing kepala. Hematoma Sub Araknoid Hematoma subaraknoid terjadi akibat rupturnya bridging vein pada ruang subaraknoid. e. Hilangnya kesadaran. b. 9. Terdapat hematom. di bawah ini. Pemeriksaan Laboratorium Pada Kasus Cedera Kepala No Tes Fungsi 1 2 3 4 . Hematom Epidural Hematom epidural adalah keadaaan dimana terjadi penumpukkan darah di antara durameter tulang tengkorak. Hematoma Intraserebri Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan (parenkim) otak. Bila fraktur mungkin adanya cairan serebrospinal yang keluar dari hidung (rhinorrohea) dan telinga (otorhea) bila fraktur tulang temporal. c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan mencakup pemeriksaan laboratorium darah dan pemeriksaan radiologi. Pemeriksaan Laboratorium Adapun pemeriksaan laboratorium darah yang berguna pada kasus cedera kepala yaitu : Tabel 2. a. Gambar perdarahan intrakranial dapat dilihat pada gambar 2. f. Umumnya disebabkan karena trauma pada kepala yang mengakibatkan fraktur linear. g.1. Manifestasi Klinis Manifestasi klinis yang biasa timbul pada kasus cedera kepala di antaranya : a. Hematom Subdural Hematoma subdural adalah penggumpalan darah diantara durameter dan dasar otak. Mual dan muntah. d. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusio jaringan otak yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut. Ekimosis pada periorbital d. b.Perdarahan vaskuler yang utama dari trauma meliputi perdarahan epidural.

Untuk salah satu indikator berat ringannya cedera kepala yang terjadi. pemberian manitol tidak boleh dilakukan pada fungsi ginjal yang tidak baik. Memeriksa fungsi ginjal.5 6 7 8 Hemoglobin Leukositosis Golongan Darah GDS Fungsi Ginjal Analisa Gas Darah Elektrolit Toksikologi Sebagai salah satu fungsi adanya perdarahan yang berat. PCO2 yang tinggi dan PO2 yang rendah akan memberikan prognosis yang kurang baik. Memonitor agar jangan sampai terjadi hipoglikemia maupun hiperglikemia. Atau mengetahui adanya masalah ventilasi perfusi atau oksigenisasi yang dapat meningkatkan TIK. . SaO2 > 95 % dan PCO2 30-50 mmHg. Persiapan bila diperlukan transfusi darah pada kasus perdarahan yang berat. oleh karenanya perlu dikontrol PO2 tetap > 90 mmHg. Adanya gangguan elektrolit menyebabkan penurunan kesadaran.

Infeksi Cedera kepala yang disertai dengan robeknya lapisan kulit akan memiliki resiko terjadinya infeksi. pergeseran jaringan otak. trauma. 5) Sinar X Mendeteksi adanya perubahan struktur tulang tengkorak. Hidrisefalus .Mendeteksi obat yang mungkin menimbulkan penurunan kesadaran. Cedera Otak Sekunder akibat hipoksia dan hipotensi Hipoksia dapat terjadi akibat adanya trauma di daerah dada yang terjadinya bersamaan dengan cedera kepala. Pemeriksaan Radiologi 1) CT Scan Adanya nyeri kepala. Komplikasi Komplikasi yang terjadi pada pasien cedera kepala menurut Eka J. dan dapat pula akibat terjadinya kelainan parenkim otak yaitu berupa edema serebri. mengidentifikasi adanya hemoragi. sebagaimana pelukaan di daerah tubuh lainnya. 3) EEG (Electro Encephalografi) Memperlihatkan keberadaan/perkembangan gelombang patologis. Osteomilietis tulang tengkorak. yaitu pada perdarahan selaput otak (misalnya hematoma epidural dan subdural). perdarahan. Herniasi Jaringan Otak Adanya penambahan volume dalam ruang tengkorak (misalnya karena adanya hematoma) akan menyebabkan semakin meningkatnya tekanan intrakranial. misalnya daerah infark. Empyema subdural. c. Sampai batas tertentu kenaikan ini akan dapat ditoleransi. Namun bila tekanan semakin tinggi akhirnya tidak dapat diltoleransi lagi dan terjadilah komplikasi berupa pergeseran dari struktur otak tertentu kearah celah-celah yang ada. 2) Angiografi Serebral Menunjukkan kelainan sirkulasi cerebral seperti pergeseran cairan otak akibat oedema. Peningkatan Tekanan Intra Kranial Tekanan intrakranial dapat meningkat karena beberapa sebab. Adanya obstruksi saluran nafas. Pada perdarahan dalam jaringan otak (misalnya laserasi dan hematoma serebri). d. hemoragik. b. Edema Serebral Edema adalah tertimbunnya cairan yang berlebihan di dalam jaringan. 4) MRI (Magnetic Resonance Imaging) Mengidentifikasi perfusi jaringan otak. mual. atelektasis. muntah. Ensefalitis. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial yang selanjutnya juga berakibat penurunan perfusi jaringan otak. Wahjoepramono (2005 : 90) antara lain : a. 10. kejang. atau gangguan gerak pernafasan dapat berdampak pasien mengalami kesulitan bernafas dan pada akhirnya mengalami hipoksia. b. penurunan kesadaran. 6) Test Orientasi dan Amnesia Galveston (TOAG) Untuk menentukan apakah penderita trauma kepala sudah pulih daya ingatnya. f. e. Infeksi yang terjadi dapat menyebabkan terjadinya Meningitis. aspirasi. pneumotoraks. bahkan abses otak. Edema serebral akan menyebabkan bertambah besarnya massa jaringan otak di dalam rongga tulang tengkorak yang merupakan ruang tertutup.

Vertigo. C. khususnya bila cedera kepala cukup berat. Agitasi. tinnitus. 11. yang diselingi dengan bradikardia. masalah dalam keseimbangan. ataksia cara berjalan tak tegap. 5) Antibiotik : Jika terjadi luka yang besar. kraniotomi. Makanan/Cairan Gejala : Mual/muntah dan mengalami perubahan selera. 4) Kontrol tanda-tanda vital. berkeringat. perubahan frekuensi jantung (bradikardia. Sirkulasi Gejala : Perubahan tekanan darah atau normal (Hipertensi). bingung. Tanda : Cemas. Aktivitas/Istirahat Gejala : Merasa lemah. valium. b. mudah tersinggung. Tanda : Muntah (mungkin proyektil). 2) Antikonvulsan : Untuk menghentikan kejang misalnya dilantin. 1) Monitor respirasi : bebaskan jalan nafas. bahkan oksigen bila perlu. f. Menilai sirkulasi 1) Diuretik : Untuk mengurangi edema serebral misalnya manitol 20 %. e. Delirium. dispagia). lelah. Eliminasi Gejala : Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi. distritmia).Hidrosefalus merupakan salah satu komplikasi cedera kepala yang cukup sering terjadi. 5) Keseimbangan cairan elektrolit. otot spastik. Amnesia seputar kejadian. 2000). debridemen luka. d. Integritas Ego Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis). Sinkope. b. kehilangan tonus otot. dkk (2007 : 130) penatalaksanaan medis pada cedera kepala sebagai berikut : a. takikardia. 3) Kortikosteroid : Untuk menghambat pembentukkan edema misalnya dengan dexamethasone. 2) Monitor tekanan intrakranial. Pengkajian a. Penatalaksanaan Medis Menurut Tarwoto. Neurosensori Gejala : Kehilangan kesadaran sementara. ranitidine. hilang keseimbangan. c. penurunan massa otot/lemak subkutan. letargi. c. gangguan menelan (batuk. pemeriksaan AGD. quadriplegia. cedera (trauma) ortopedi. furosemid (lasik). hemisparase. Penatalaksanaan Umum Bersihkan jalan nafas dari debris dan muntahan. 1. depresi dan impulsif. lepaskan gigi palsu. kehilangan . kaku. 3) Atasi syok bila ada. Tanda : Perubahan kesalahan. penurunan berat badan. 4) Antagonis histamin : Mencegah terjadinya iritasi lambung karena hipersekresi akibat trauma kepala misalnya dengan cimetidine. Operasi Dilakukan untuk mengeluarkan darah pada intraserebral. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Cedera Kepala (Doengoes. air liur keluar. monitor keadaan ventilasi. fegretol. pertahankan tulang servikal segaris dengan badan dengan memasang kolar servikal.

i. Kehilangan pengindraan seperti pengecapan. Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Penggunaan alkohol atau obat lain. transportasi. Pernafasan Tanda : Perubahan pola nafas (apnoe yang diselingi oleh hiperventilasi). (kemungkinan adanya aspirasi). 3) Pertahankan kepala/leher pada posisi tengah atau posisi sejajar. merintih. ketidakmampuan mengikuti). Nyeri/kenyamanan Gejala : Sakit kepala intensitas dan lokasi yang berbeda. kerusakan persepsi atau kognitif . kehilangan sensasi sebagian tubuh. fotofobia. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penghentian aliran darah . Tujuan : Memaksimalkan perfusi/meningkatkan fungsi serebral. gelisah tidak dapat beristirahat. 2. hindari pemakaian bantal besar pada kepala. disartria. perubahan tata ruang. . b. tingling. adanya aliran (drainage) dari telinga/hudung (CSS). berbicara tanpa arti. genggaman lemah. nafas berbunyi stridor. Tanda : Wajah menyeringai. ronkhi. Rencana pemulangan : membutuhkan bantuan pada perawatan diri. dan pemanfaatan fasilitas lainnya di rumah sakit. quadriplegia. wajah tidak simetris. Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan kerusakan neurovaskuler . j. k. perubahan warna. belanja. menyiapkan makan. kehilangan sebagian lapang pandang. gangguan kognitif. biasanya lama. bicara berulang-ulang. tidak seimbang. gangguan rentang gerak. abrasi. perawatan. g. perubahan status mental. perubahan pola dalam penglihatan seperti ketajamannya. Tanda : Fraktur/dislokasi. pengobatan. gangguan penglihatan. perubahan pupil (respon terhadap cahaya simetris/deviasi pada mata. penciuman dan pendengaran. ambulasi. respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat. Kulit : laserasi. kejang. demam dan gangguan dalam regulasi suhu tubuh. kekuatan secara umum mengalami pralisis. Intervensi : 1) Kaji status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar (seperti GCS). gangguan pengecapan dan penciuman Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma. tugas-tugas rumah tangga. baal pada ekstrimitas. Interaksi Sosial Tanda : Afasia motorik atau sensorik. diagnosa keperawatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan (Cedera Kepala) adalah sebagai berikut : a. seperti “raccoon eye” tanda battle disekitar telinga (merupakan tanda adanya trauma). Keamanan Gejala : Trauma baru/trauma karena kecelakaan.pendengaran. penurunan TD sistemik/hipoksia. Diagnosa Keperawatan Menurut Doenges (2000). mengi positif. 4) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. h. edema serebral . tersedak. tonus otot hilang. 2) Pantau tanda-tanda vital. sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. 5) Berikan obat-obatan sesuai indikasi. diplopia. reflex tendon dalam tidak ada atau lemah. apraksia.

Philadelphia : Pengylvania. (Alih bahasa oleh : I Made Kariasa. 5) Lekukan penghisapan dengan hati-hati. dan terapi kognitif. (2001). mencegah komplikasi. 2) Catat kopetensi reflek gigi/menelan dan kemampuan klien untuk melindungi nafas. DAFTAR PUSTAKA Ali. Memahami Aspek-aspek Penting Dalam Pengelolaan Penderita Cedera Kepala. dkk). 3) Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya. kemampuan berbicara. USA : Human Anatomy Mosby. Doenges. Dasar-dasar Keperawatan Profesional. Prederic H. Lippokarawaci : Universitas Pelita Harapan. dan fungsi persepsi. Edisi 3. (2007). jangan sampai lebih dari 10-15 menit. Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia. Suriadi. 5) Rujuk pada ahli fisioterapi. al. Edisi 3. tranmisi dan atau integrasi (trauma atau defisit neurologis). Edisi 3. Smeltzer. (2004). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perwatan Pasien. (2007). Pontianak : STIKEP Muhammadiyah. Funtcion Human Anatomy. Jakarta : EGC. Valerie C. Jakarta : EGC. (1996). Tarwoto. et. terapi wicara. Wahjoepramono. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. (2006). Keperawatan Medikal Bedah. Tujuan : Mempertahankan pola pernafasan normal/efektif. (2000). Zaidin. Arif. Iskandar. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan. terapi okupasi.obstruksi trakeobronkial. Catat adanya penurunan persepsi pada catatan dan letakkan pada tempat tidur klien. 2) Kaji kesadaran sensori seperti respon sentuhan. Tujuan : mengoptimalkan fungsi otak. Proses dan Dokumentasi Perawatan : Konsep dan Praktek. et al. catat ketidakteraturan pernafasan. Lindsay. Jakarta: EGC. Jakarta : Salemba Medika Scanton. David. (2008). Suzanna C. Syaifuddin. 7) Lakukan kolaborasi dalam pemeriksaan gas darah. (2005). Jakarta : PT. Edition 5 : ISBN. . Muttaqin. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Nursalam. 3) Observasi prilaku klien. Intervensi : 1) Evaluasi / pantau secara teratur perubahan orientasi. Edisi 8. tingkat kesadaran. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan resepsi sensori. Foundamentals of Anatomy & Physiology. Essentials of Anatomy and Physiology. Martini. Marilynn E. (2001). Jakarta : Sagung Seto. Manajemen Luka. Cedera Kepala. Jakarta : Widya Medika. Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika. Intervensi : 1) Pantau frekuensi irama dan kedalaman pernafasan. Brunner dan Suddart. (2001). (Alih bahasa Agung Waluyo). 4) Anjurkan klien untuk melakukan nafas dalam yang efektif jika klien sadar. posisi miring sesuai indikasi. c. alam perasaan / efektif sensorik dan proses piker. (2006). 4) Berikan keamanan terhadap klien. Eka. 6) Kolaborasi dalam pemberian oksigen. (2001).

diperkirakan sekitar 49% dari kasus. Januari – Desember 2011 sebanyak 435 orang 3. Sedangkan dari data rekam medik RSUD Ade Mohammad Djoen Sintang tiga tahun terakhir adalah sebagai berikut: 1. prevalensi cedera kepala di Amerika Serikat ada 2 juta kasus yang terjadi setiap tahunnya. di samping tenaga medis dan para medis.000 kasus. satu setengah juta merupakan cedera ringan yang ditangani sebagai klien rawat jalan. 20%-28% lainnya karena jatuh. penilaian dan tindakan awal dan di ruang gawat darurat sangat menentukan penatalaksanaan dan prognosis selanjutnya (Mansjoer A. 2009). Di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut. disamping penanganan di lokasi kejadian dan selama transportasi korban ke rumah sakit. kegiatan olah raga dan rekreasi (Irwana. Angka kejadian cedera kepala di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut Miller (1978) dalam Saanin (2007).BAB I PENDAHULUAN A. cedera kepala merupakan penyebab separuh dari seluruh kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor. serta dengan bertambahnya populasi manula di Amerika Serikat. Sedangkan yang sampai rumah sakit. 80% dikelompokkan sebagai cedera kepala ringan (CKR). dan lebih dari 50% penderita cedera berat disertai oleh cedera sistematik berat. Menurut Oman. 2009). 10% meninggal dunia sebelum tiba dirumah sakit. orang muda memiliki insiden cedera kepala yang paling tertinggi. dkk. dkk (2008). . kejadian cedera kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500. Latar Belakang Cedera kepala adalah salah satu masalah kesehatan yang merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif dan sebagian besar terjadi kecelakaan lalu lintas. memperkirakan kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab yang paling sering terjadinya cedera kepala. dan orang tua merupakan kelompok berikutnya yang mempunyai angka insiden tertinggi. Penanganan akan berlanjut dalam jangka waktu lama dan melibatkan banyak pihak termasuk keluarga. dan 3%-9% disebabkan oleh tindakan kekerasan. jumlah tersebut memprediksikan besarnya kemungkinan menghadapi klien cedera kepala. Januari – Desember 2010 sebanyak 420 orang 2. dan 10% termasuk dalam cedera kepala sedang (CKS).dan 10% sisanya adalah digolongkan sebagai cedera kepala berat (CKB).000 kasus mengalami cedera kepala yang cukup parah dan memerlukan perawatan dirumah sakit. KS. Klien dengan kecelakaan kendaraan bermotor biasanya disertai cedera berganda. Sedangkan jatuh lebih sering terjadi pada anak-anak serta biasanya dalam derajat yang kurang berat. Insiden cedera kepala terutama terjadi pada kelompok usia produktif antara 15-44 tahun. orangorang di lingkungan sekitar. insiden tersebut akan meningkat. biasanya dengan derajat cedera kepala yang lebih berat dan lebih sering mengenai usia 15-24 tahun. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab 48%-53% dari insiden cedera kepala. sedangkan 500. Januari – Juli 2012 sebanyak 378 orang.

penulis mampu: a. Y dengan Cedera Kepala Sedang di Ruang Perawatan Bedah RSUD Ade Mohammad Djoen Sintang. Melaksanaankan implementasi keperawatan pada klien dengan Cedera Kepala Sedang. Membandingkan perbedaan antara konsep Cedera Kepala Sedang secara teoritis dengan kasus yang terjadi di lapangan. Y dengan Cedera Kepala Sedang di Ruang Perawatan Bedah RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang yang berorientasikan pada penerapan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan. Tujuan umum Agar penulis dapat memperoleh gambaran nyata dalam melaksanakan Asuhan Keperawatan pada Tn. dari tanggal 5 Juli 2012 sampai dengan tanggal 7 Juli 2012. Tujuan Penulisan 1. Melakukan pengkajian pada klien dengan Cedera Kepala Sedang. 2. d. infeksi. Menyusun diagnosa keperawatan pada klien dengan Cedera Kepala Sedang. Tujuan khusus Tujuan khusus dari penulisan kasus ini. C. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas.Melihat banyaknya kasus Cedera Kepala Sedang berdasarkan hasil data rekam medik RSUD Ade Mohammad Djoen Sintang. Memahami Askep dan Teori klien dengan Cedera Kepala Sedang b. Menyusun perencanaan keperawatan pada klien dengan Cedera Kepala Sedang e. B. maka penulis merasa tertarik untuk mengambil kasus mengenai Asuhan Keperawatan pada Tn. D. Metode Penulisan Penulis dalam menyelesaikan Laporan Kasus ini menggunakan metodedeskriptif yaitu metode ilmiah yang bersifat mengumpulkan data. Ruang Lingkup Penulisan Adapun ruang lingkup penulisan Laporan Kasus ini. c. . menganalisa dan menarik kesimpulan. maka rumusan masalah dalam Laporan Kasus ini adalah: Bagaimana gambaran Asuhan Keperawatan pada Tn. dan hernia. penulis hanya membatasi masalah pada Asuhan Keperawatan pada Tn. Ydengan Cedera Kepala Sedang diruang Perawatan Bedah RSUD Ade Muhammad Djoen Sintang. edema serebral. Y dengan Cedera Kepala Sedang yang dirawat di Ruang Perawatan Bedah RSUD Ade Mohammad Djoen Sintang selama 3 hari. g. E. f. dan fokus pemberian asuhan keperawatan adalah untuk meminimalkan risiko komplikasi yaitu hemorrhagic. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada klien dengan Cedera Kepala Sedang.

Adapun tujuan dari proses keperawatan ini adalah. perencanaan keperawatan. A. menggunakan metode pemecahan masalah. Proses keperawatan adalah suatu metode pemberian asuhan keperawatan yang logis dan sistematis. diagnosis keperawatan. Bab IV Pembahasan yang terdiri daripengkajian keperawatan. dinamis dan teratur yang memerlukan pendekatan. perencanaan keperawatan. perencanaan dan pelaksanaan asuhan keperawatan yang metodis dan teratur dengan mempertimbangkan ciri-ciri pasien yang bersifat biopsiko-sosio-spiritual maupun masalah kesehatannya. diagnosis keperawatan. ruang lingkup penulisan. teknik. Bab III Aplikasi Asuhan Keperawatan terdiri dari pengkajiankeperawatan. metode penulisan. (Depkes RI. rumusan masalah. profesi keperawatan keperawatan telah mengidentifikasikan proses pemecahan masalah yang menggabungkan elemen yang saling relevan dari system teori. Sistematika Penulisan Penulisan Laporan Kasus ini terdiri atas 5 bab. dan keterampilaninterpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. yang meliputi latar belakang. dan Bab V Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. Untuk sampai pada hal ini. rehabilitas dan preventif keperawatan kesehatan. dengan metode ilmiah (Doenges. dimana menggambarkan masalah yang terjadi pada klien. implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan. baik yang aktual maupun resiko. tujuan penulisan. 2008) Menurut Nursalam (2005). serta sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sebelum memberikan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Cedera Kepala Sedangini. penulis akan membahas mengenai Asuhan Keperawatan pada klien dengan Cedera KepalaSedang secara teoritis dan konsep dasar anatomi fisiologi sistem persyarafan Cedera KepalaSedang. Bab II Tinjauanpustaka yang terdiri dari tinjauan Asuhan Keperawatan dan landasan teori kasus. 2. 2006). F. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu.Tekhnik pengumpulan data adalah sebagai berikut: 1. Studi kepustakaan dengan mencari dan menelaah berbagai referensi yang berkaitan dengan laporan kasus ini. Tinjauan Asuhan Keperawatan Asuhan keperawatan adalah faktor penting dalam survival klien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan. pemahaman perawat tentang teori yang mendasar sangatlah penting. . proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. yaitu Bab I: Pendahuluan. Dalam hal ini perawat mengidentifikasi seluruh kebutuhan yang diperlukan klien. implementasikeperawatan dan evaluasi keperawatan. Studi kasus dengan melakukan observasi dan analisa. pertama. Dalam bab ini.

cedera kepala ringan (trauma ortopedi). menggunakan standar untuk praktik keperawatan. (Rohmah dan Walid. sehingga seluruh kebutuhan perawatan pada klien dapat di identifikasi. kehilangan tonus otot spastik. perencanaan keperawatan. Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam. Gejala: Sehingga perawat dapat menetapkan desain pemecahan masalahnya. diagnosa keperawatan. dan tindakan yang dilakukan perawat merupakan tindakan yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang terjadi pada klien. masalah dalam keseimbangan. Integritas ego Gejala: Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis).1. c. hemiparese. Sirkulasi Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi). yaitu: pengkajian keperawatan.Perubahan frekuensi jantung (bradikardia. Keempat. pengkajian harus dilakukan dengan teliti dan cermat. dan sistematis (urut. Diagnosis yang diangkat akan menentukan desain perencanaan yang ditetapkan. Kedua. disritmia). quardreplegia. Tanda: b. Perubahan kesadaran. memperoleh metode yang dapat dipakai dalam segala situasi. ataksiacara berjalan tak tegap. mempunyai hasil keperawatan yang berkualitas tinggi. dan identifikasi masalah/analisa data. Dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien cedera kepala sedang ini menurut Doenges (2006). lelah. Pengkajian meliputi pengumpulan data. Pengkajian merupakan tahap yang paling menentukan bagi tahap berikutnya. letargi. Kelima. tindakan keperawatan dan evaluasi mengikuti perencanaan yang dibuat. Oleh karena itu. 2005). Jenis pengumpulan data ada dua yaitu pengumpulan data dasar (Data Base Nursing) yang mengumpulkan data secara lengkap pada saat kontrak awal dengan klien dan pengkajian fokus (Fokus Nursing Assesment) yang mengumpulkan data yang berfokus pada masalah keperawatan spesifik yang sudah diidentifikasi dari hasil pengumpulan data dasar sedangkan tipe data ada dua yaitu data subjektif yang didapatkan dari klien dan data objektif yang dapat diobservasi dan diukur. Selanjutnya. dilakukan melalui lima proses keperawatan. Pengorganisasian data adalah mengelompokan berdasarkan kerangka kerja yang dapat membantu mengidentifikasi masalah keperawatan dan analisa data adalah mengelompokan data sesuai dengan keadaan klien. Validasi data untuk meyakinkan bahwa data yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data adalah fakta. a. pengorganisasian data. Kemampuan mengidentifikasi masalah keperawatan yang terjadi pada tahap ini akan menentukan diagnosis keperawatan. takikardia yang diselingi dengan bradikardia. . 2009). memperoleh metode yang baku dan sesuai. Berikut beberapa hal yang perlu dikaji pada klien Cedera Kepala Sedang yaitu: Aktivitas/istirahat Gejala: Merasa lemah. implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan. rasional (logis). Ketiga. rapi). Standar praktik diperlukan untuk menjaga mutu asuhan yang diberikan kepada klien. kaku. validasi data. Pengkajian keperawatan Pengkajian adalah tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan. hilang keseimbangan.

Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah tahap dimana perawat menggunakan kemampuan berfikir kritis dalam menafsirkan analisa data terhadap kekuatan dan masalah klien (Kozier. anomia. gangguan dalam regulasi suhu tubuh. tonus otot hilang. sepertiketajamannya. takar lajak obat/alkohol). Perubahan perfusi jaringan serebral b.Tanda: Cemas. kekuatan secara umum mengalami paralisis. mudah tersinggung. bicara berulang-ulang. i. bicara tanpa arti. abrasi. tingling. agitasi. Tanda: Muntah (mungkin proyektil). Gangguan penglihatan. e. respons menarik pada rangsangan nyeri yang hebat. d. perhatian.edema serebral (respons lokal atau umum pada cedera. mengi positif (kemungkinan karena aspirasi). depresi dan impulsif. Kulit: laserasi. merintih. kejang. Perubahan dalam penglihatan. Tanda: Fraktur/dislokasi. Adanya aliran cairan (drainase) dari telinga/hidung (cairan serebro spinal). Gangguan menelan (batu air liur keluar.deviasi pada mata. baal pada ekstremitas. al. muntah. Tanda: Perubahan kesadaran bisa sampai koma. ketidakmampuan mengikuti. Sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan. simetris). tinnitus. Ronki. j. Kehilangan sensasi sebagian tubuh. Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah. seperti pengecapan. Gangguan kognitif. 2004). et. seperti “raccoon eye”. Kehilangan penginderaan. tidak seimbang. Demam. h. kehilangan pendengaran. sinkope. Adapun diagnosa keperawatan pada klien cedera kepala sedang menurutWahyu. penghentian aliran darah oleh SOL (space occupaying lesion) (hemoragi.Vertigo. dan mengalami perubahan selera. dkk (2008) dan Smeltzer dan Bare (2002) yaitu: a. kewaspadaan. diplopia kehilangan sebagian lapang pandang. Tanda: Wajah menyeringai. Eliminasi Gejala: Inkontinensia kandung kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi. Napas berbunyi. Nyeri /kenyamanan Gejala: Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda biasanya lama. Pernapasan Tanda: Perubahan pola napas (apnea yang diselingi hiperventilasi). bingung. delirium. Wajah tidak simetris. 2. Kesulitan dalam menentukan posisi tubuh. penciuman dan pendengaran. Interaksi sosial Tanda: Afasia motorik/sensorik. Perubahan status mental (orientasi.fotofobia. amnesia seputar kejadian. tanda Batle disekitar telinga (merupakan tanda adanya trauma). penurunan TD (tekanan . gelisah tidak bisa beristirahat. g. konsentrasi. perubahanmetabolik. perubahan warna. Makanan/cairan Gejala: Mual. disfagia).disartria. Gangguan rentang gerak. pengaruh emosi/tingkah laku dan memori). pemecahan masalah. Genggaman lemah. Perubahan pupil (respon terhadap cahaya. Keamanan Gejala: Trauma baru/trauma karena kecelakaan. stridor. hematoma). tersedak. Gangguan pengecapan dan juga penciuman.d trauma kepala. Neuro sensori Gejala: Kehilangan kesadaran sementara. f.

imobilisasi. g. 2008) Risiko tinggi terhadap infeksi b. dkk. peningkatan tekanan intrakranial (PTIK) (Wahyu. penurunan TD (tekanan darah) sistemik/hipoksia (hipovolemia.kognisi. 2002).b. transmisi dan atau integrasi (trauma atau defisit neurologis). (Wahyu. tidak mengenal informasi/sumber-sumber. prosedurinvasif. tirah baring. kurang mengingat/ keterbatasan kognitif. dkk. 2002) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b. (Wahyu. dan ada standar mutu. dkk. hematoma). menelan. dkk. 2008) Defisit perawatan diri b. ketidakpastian tentang hasil/ harapan. Perencanaan Keperawatan Perencanaan atau rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan. misal. kekurangan nutrisi. f. kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah. respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). status hipermetabolik. kerusakan persepsi atau kognitif. efektif dan langsung tertuju pada pemecahan masalah.d kerusakan persepsi atau kognitif. (Smeltzer dan Bare.d kurang pemajanan. Dalam merumuskan tujuan harus memenuhi syarat yaitu seperti. d. 2008) Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. edema serebral (respons lokal atau umum pada cedera. (Wahyu.d penghentian aliran darah olehSOL (space occupaying lesion) (hemoragi. Rencana asuhan keperawatan disusun dengan melibatkan klien secara optimal agar dalam pelaksanaan asuhan keperawatan terjalin suatu kerjasama yang saling membantu dalam proses pencapaian tujuan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. konflik psikologis. perubahan integritassistem tertutup kebocoran cairan serebrospinal (CSS).d kerusakan neurovaskuler (cedera pada pusat pernapasan otak).d perubahan fisiologis. kulit rusak. 2002) Perubahan proses pikir b.penurunan kekuatan/tahanan. dkk. h. 2008) Perubahan persepsi sensori b. . (Smeltzer dan Bare. i. realitas. dapat diukur. perubahan metabolik. (Smeltzer dan Bare.obstruksi trakeobronkial. hal ini dimaksudkan agar tindakan keperawatan yang diberikan tidak menyimpang dari masalah yang dihadapi. c. takar lajak obat/alkohol). Perubahan proses keluarga b. terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan. (Wahyu. stasis cairan tubuh. 2002) Kerusakan mobilitas fisik b. disritmia jantung). Dari diagnosa keperawatan diatas dapat disusun rencana asuhan keperawatan sebagai berikut: a.d kerusakan mobilitas fisik (Wahyu. dan fungsi motorik/sensorik. dkk. (Smeltzer dan Bare.d jaringan trauma. j. dapat dicapai.d transisi dan krisis situasional. 2008) Risiko tinggi terhadap tak efektif pola napas b. Perubahan perfusi jaringan serebral b. penurunan kerja silia. darah)sistemik/hipoksia (hipovolemia.d perubahan resepsi sensori. mendemonstrasikan tanda vital stabil dan tak ada tandatanda tekanan intrakranial. 2008) 3.d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat keasadaran. disritmia jantung). e. 2) Kriteria Hasil: mempertahankan tingkat kesadaran biasa/ perbaikan. 1) Tujuan: Perubahan perfusi jaringan serebral tidak terjadi.. sehingga tindakan menjadi efisien.

Rasional: demam menandakan gangguan hipotalamus. Kecenderungan terjadinya penurunan nilai GCS menandakan adanya peningkatan tekanan intracranial dari normal 0-15 mmHg. 3) Rencana: a) Pantau frekuensi. b. edema dan mencegah terjadinya peningkatan TIK. Risiko tinggi terhadap tak efektif pola napas b. 2) Kriteria Hasil: Pola napas dalam batas normal dengan frekuensi 1420 kali/menit (dewasa) dan iramanya teratur. Rasional: manitol ataugliserol merupakan cairan hipertonis yang berguna untuk menarik cairan dari intraseluler (sel) keekstraseluler (vaskuler). yaitu: pH darah 7. BE-2. Posisi netral tanpahiperekstensi dan fleksi dapat mencegah penekanan pada sarafmedula spinalis yang menambah peningkatan TIK.5. bunyi napas normal tidak ada stridor. gliserol dan lasix. RR.5-+2.d kerusakan neurovaskuler(cedera pada pusat pernapasan otak).3) Rencana: a)Observasi status neurologis. nadi. 1) Tujuan: pola napas efektif dalam batas normal. Rasional: perubahan yang terjadi dari hasil pengkajian berguna dalam menunjukkan adanya komplikasi pulmonal dan luasnya bagian otak yang terkena. pergerakan dada simetris/tidak ada retraksi. kedalaman pernapasan.45. e) Monitor suhu dan atur suhu lingkungan sesuai indikasi.35-7. f) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan antiedema seperti manitol. suhu) minimal setiap jam sampai keadaan klien stabil. Peningkatan kebutuhan metabolik karena demam dan suhu lingkungan yang panas akan meningkatkan TIK.22-26 mEq/L. kerusakan persepsi atau kognitif. untuk mengurangi edema otak. c) Lakukan pengisapan dengan ekstra hati-hati. Rasional: kemampuan memobilisasi atau membersihkan sekresipenting untuk pemeliharaan jalan napas. obstruksi trakeobronkial. d) Monitor masukan dan haluaran setiap 8 jam sekali. tidak ada pernapasancuping hidung. c) Naikkan kepala dengan sudut 15-450 (tidak hiperekstensi dan fleksi) dan posisi netral (dari kepala hingga daerah lumbal dalam garis lurus) Rasional: dengan posisi kepala 15–450 dari badan dan kaki maka akan meningkatkan dan melancarkan aliran balik darah vena kepala sehingga mengurangi kongesti serebrum. Rasional: hasil dari pengkajian dapat diketahui secara dini adanya tanda-tanda PTIK sehingga dapat menentukan arah tindakan selanjutnya. b) Monitor TTV (TD. dullness dan wheezing. b) Catat kompetensi reflek gag/menelan dan kemampuan klien untuk melindungi jalan napas sendiri. nilai AGD arteri normal. PaO2 80-100 mmHg. Rasional: untuk mencegah kelebihan cairan yang dapat menambah edema serebri sehingga terjadi peningkatan TIK. PaCO235-45 mmHg. jangan lebih dari .Lasix untuk meningkatkan ekskresi natrium dan air yang diinginkan. HCO3. Rasional: dapat mendeteksi secara dini tanda-tanda peningkatanTIK. irama. ronchi. Saturasi O2 95-98%.

mengakui perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu. Perubahan proses pikir b. Rasional: penghisapan biasanya dibutuhkan jika klien koma atau dalam keadaan imobilisasi dan tidak dapat membersihkan jalan napasnya sendiri. b) Catat adanya perubahan yang spesifik dalam hal kemampuan seperti memusatkan kedua mata dengan mengikuti instruksi verbal yang sederhana dengan jawaban “ya” atau “tidak”. Rasional: membantu melokalisasi daerah otak yang mengalami gangguan dan mengidentifikasi tanda dan perkembangan terhadap peningkatan fungsi neurologis. dan terapi kognitif. . Rasional: informasi penting untuk keamanan klien. c. Rasional: menurunkan frustasi. terapi okupasi. Rasional: pendekatan antar disiplin dapat menciptakan rencana penatalaksnaan integrasi yang didasarkan atas kombinasi kemampuan/ ketidakmampuan secara individu yang berfokus pada peningkatan evaluasi dan fungsi fisik. transmisi dan /atau integrasi (trauma atau defisit neurologit). kongesti atau obstruksi jalan napas yang membahayakan oksigenasi serebral dan menandakan terjadinya infeksi paru. kognitif. konflik psikologis.d perubahan resepsi sensori. c) Hilangkan suara bising atau stimulasi yang berlebihan sesuai kebutuhan. d. d) Pastikan atau validasi persepsi klien dan berikan umpan balik Rasional: membantu klien untuk memisahakan pada realitas dari perubahan persepsi. 1) Tujuan: perubahan proses pikir tidak terjadi. g) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi. Catat karakter. makan sendiri dengan tangan dominan klien. benda tajam atau tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh. 1) Tujuan: tidak terjadi perubahan persepsi sensori 2) Kriteria hasil: Melakukan kembali atau mempertahankan tingkatkesadaran biasanya dan fungsi persepsi. d) Auskultasi suara napas. e) Kolaborasi berikan oksigen. warna dan kekeruhan dari sekret. mendemonstrasikan perubahan prilaku atau gaya hidup untuk mengkompensasi atau defisit hasil. Rasional: untuk mengidentifikasi adanya masalah paru sepertiatelektasis.d perubahan fisiologis. Perubahan persepsi sensori b. aktivitas. e) Berikan lingkungan terstruktur termasuk terapi. Rasional: meningkatkan konsistensi dan keyakinan yang dapat menurunkan ansietas yang berhubungan dengan ketidaktahun klien tersebut.15 detik. dan keterampilan perseptual. respon emosi yang berlebihan atau bingung yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan. panas atau dingin. Rasional: menurunkan ansietas. f) Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas. terapi wicara. 3) Rencana: a) Kaji kesadaran sensorik seperti respons sentuhan. Rasional: memaksimalkan oksigen pada darah arteri dan membantu dalam pencegahan hipoksia.

Rasional: dapat membantu untuk memfokuskan kembali perhatian klien dan untuk menurunkan ansietas. Rasional: perhatian dan dukungan yang diberikan pada individu akan meningkatkan harga diri dan mendorong kesinambungan usaha tersebut. tromboplebitis dan kontraktur sendi. Tujuan: mampu melakukan aktivitas fisik dan ADL (activity daily living). tirah baring. b) Dengarkan dengan penuh perhatian semua hal yang diungkapkan klien. penurunan kekuatan/tahanan. f. elastisitas kulit dan integritaskulit. mengenali perubahan berpikir/perilaku. Rasional: mempertahankan fungsi sendi dan mencegah penurunan tonus dan kekuatan otot dan mencegah kontraktur. c) Berikan/bantu untuk melakukan latihan rentang gerak. c) Tingkatkan sosialisasi dalam batas-batas yang wajar. misal. terapi pembatasan/kewaspadaan keamanan. tromboplebitis dan kontraktur sendi. Kerusakan mobilitas fisik b. Rasional: penguatan terhadap tingkah laku yang positif (seperti interaksi yang sesuai dengan orang lain) mungkin bermanfaat dalam proses belajar struktur internal. bronkopneumonia. Rasional: Untuk menentukan tingkat aktivitas dan bantuan yang diberikan. Defisit perawatan diri b. bronkopneumonia. mampu melakukan aktivitas ringan pasca akut dan aktivitas sehari-hari pada tahap rehabilitasi sesuai kemampuan. Rasional: meningkatkan sirkulasi. perawatan kulit.d kerusakan persepsi atau kognitif. tidak terjadi dekubitus. Kriteria hasil: Klien mampu dan pulih kembali setelah pasca akut dalam mempertahankan fungsi gerak. imobilisasi. mampu mempertahankan keseimbangan tubuh. berpartisipasi dalam aturan terapeautik. 1) 2) 3) 2) Kriteria hasil: Mempertahankan/melakukan kembali orientasi mental dan realitas biasanya. dan mempertahankan alat alat tenun bersih dan kering. d) Anjurkan untuk melakukan teknik relaksasi. 3) Rencana: a) Pastikan dengan orang terdekat untuk membandingkan kepribadian/tingkah laku klien sebelum mengalami traumadengan respon klien sekarang.e. Rasional: merubah posisi secara teratur dapat meningkatkan sirkulasi seluruh tubuh dan mencegah adanya penekanan pada organ tubuh yang menonjol. Rencana: a) Kaji tingkat kemampuan mobilisasi dengan skala 0–4. Rasional: masa pemulihan cedera kepala ringan meliputi faseagitasi.d kerusakan mobilitas fisik . d) Lakukan massage. tidak terjadi komplikasi dekubitus. respons marah dan berbicara/proses pikir yang kacau. b) Atur posisi dan ubah secara teratur tiap 2 jam sekali.

kekurangan nutrisi. Anjurkan untuk melakukan nafas dalam. badan klien tampak bersih. perubahan integritassistem tertutup kebocoran cairan serebrospinal (CSS).1) Tujuan: klien mampu melakukan aktivitas fisik dan kebutuhan personal hygiene dan kebutuhan sehari-hari klien dapat terpenuhi 2) kriteria hasil: klien mampu dan pulih kembali setelah kecelakaan dan klien tampak segar. Rasional: deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan untuk melakukan tindakan dengan segera dan pencegahan terhadap komplikasi selanjutnya. Rasional: peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan risiko terjadinya pneumonia. Kriteria hasil: tidak terdapat tanda-tanda infeksi seperti rubor. Rencana: a) Observasi daerah luka. kalor. tumor dan fungsiolesa. kuku klien pendek dan bersih. gigi klien tampak bersih. b) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan secara aseptik dan anti septik. ganti alat tenun. 2). e) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat antibiotik . dolor. Risiko tinggi terhadap infeksi b. prosedurinvasif. c) Anjurkan untuk melakukan nafas dalam Rasional: peningkatan mobilisasi dan pembersihan sekresi paru untuk menurunkan resiko terjadinya pneumonia. Ganti alat tenun Rasional: Untuk memenuhi kebutuhan personal hygiene klien e) Anjurkan klien untuk Range of motion jika tidak ada indikasi Rencana: Untuk melatih kekuatan otot dan relaksasi f) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dalam melakukan latihan fisik Rasional: Untuk melatih kekuatan otot dan mencegah artrofi otot g. 3). atelektasis. Tujuan: Infeksi tidak terjadi. penurunan kerja silia. stasis cairan tubuh. tidak ada pus. Rasional: Untuk merelaksasi otot klien c) Kaji kekuatan tonus otot Rasional: Untuk mengetahui kemampuan yang di miliki klien dan untuk mengetahui tingkat kekuatan dan kemampuan klien d) Bantu klien dalam personal hygiene. mandi.d jaringan trauma. Rasional: untuk mencegah infeksi nosokomil. perawatan kuku jari kaki dan tangan. etelektasis. kulit rusak. Rasional: untuk mendeteksi tanda-tanda sepsis. 1). d) Monitor suhu tubuh dan penurunan kesadaran. respon inflamasi tertekan (penggunaan steroid). 3) Rencana: a) Kaji kemampuan klien Rasional: Untuk mengetahui kemampuan yang di miliki klien dan untuk mengetahui tingkat kekuatan dan kemampuan klien b) Bantu klien dalam aktivitas (bantu klien bangun dari tempat tidur). rambut klien tampak bersih dan rapi.

dengan keberadaan/ keterlibatan sistem pendukung. Tujuan: kekurangan nutrisi tidak terjadi. Berikan makanan dalam porsi sering tapi sedikit. Timbang berat badan. 2) Kriteria hasil: mulai mengekspresikan perasaan dengan bebas dan tepat.8– 3. status hipermetabolik. Perubahan proses keluarga b. (1) (2) (3) a) b) c) d) e) f) i. globulin 1. Tinggikan kepala ketika makan. Rasional: kadar leukosit darah dan urin adalah indikator dalam menentukan adanya infeksi. Rasional: mencegah regurgitasi dan aspirasi. Rasional: pengungkapan tentang rasa takut secara terbuka dapat menurunkan ansietas dan meningkatkan koping terhadap realitas. Rasional: menentukan adanya sumber keluarga dan mengindentifikasikan hal-hal yang diperlukan. reflek batuk dan cara mengeluarkan sekret.3 gr %. mendorong dan memungkinkan anggota yang cedera untuk maju untuk ke arah kemandirian. globulin. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b. tanda-tanda nutrisi tidak ada. 1) Tujuan: keluarga dapat beradaptasi terhadap perubahan pengalaman traumatik secara konstruktif. b) Anjurkan keluarga untuk mengungkapkan hal-hal yang menjadi perhatiannya. c) Anjurkan untuk mengakui perasaannya. Rasional: memudahkan proses pencernaan dan toleransi klien terhadap nutrisi. Hb tidak kurang dari 10 gr %) Rencana: Observasi kemampuan mengunyah. menelan. Kolaborasi dengan tim analis untuk pemeriksanaan laboratorium (kadar leukosit).d transisi dan krisis situasionalketidakpastian tentang hasil/ harapan.menelan. 3) Rencana: a) Catat bagian-bagian dari unit keluarga. Kolaborasi dengan tim analis untuk pemeriksaan laboratorium (protein total.d perubahan kemampuan untuk mencerna nutrien (penurunan tingkat keasadaran.6 gr %. Bising usus membantu untuk menentukan pemberian makanan dan mencegah komplikasi. albumin dan Hb) Rasional: untuk mengidentifikasi defisiensi nutrisi.f) h. Rasional: fungsi saluran pencernaan harus tetap dipertahankan pada penderita cedera kepala ringan. Rasional: penimbangan berat badan dapat mendeteksi perkembangan berat badan. kelemahan otot yang diperlukan untuk mengunyah.5–5. . Rasional: dapat menentukan pilihan cara pemberian jenis makanan. Auskultasi bising usus. albumin 3. nilai-nilai hasil laboratorium normal (protein total 6–8 gram %. Rasional: antibiotik berguna untuk membunuh atau memberantas bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh sehingga infeksi dapat dicegah. Perdarahan lambung akan menurunkan peristaltik. Kriteria hasil: BB klien normal (BB normal = TB–100– (10 % TB-100).

2) Kriteria hasil: mengungkapkan pemahaman tentang kondisi. j. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi. Rasional: berbagai tingkat bantuan mungkin perlu direncanakan yang didasarkan atas kebutuhan yang bersifat individual. 2005). intelektual. LOJ. e) Berikan penguatan terhadap pengobatan yang diberikan sekarang. pembatasan. keamanan fisik dan psikologi dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan. 1) Tujuan: dapat berpartisipasi dalam proses belajar. . tidak mengenal informasi/sumber-sumber. implementasi merupakan pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Rasional: dapat membantu menurunkan konsepsi yang keliru. 3) Rencana: a) Evaluasi kemampuan dan kesiapan untuk belajar dari klien dan keluarganya.Rasional: untuk membantu seseorang menyatakan perasaannya tentang apa yang sedang terjadi. c) Berikan instruksi dalam bentuk tulisan. Implementasi keperawatan Pelaksanaan merupakan langkah keempat dalam proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategi keperawatan (tindakan keperawatan yang telah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan (Hidayat AA. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi dan kebutuhan pengobatan b. Menurut Gaffar. Intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat. dan teknikal. 4. aturan pengobatan. 5. penguasaan keterampilan interpersonal. Evaluasi keperawatan Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan. potensial komplikasi. d) Berikan kembali informasi yang berhubungan dengan proses trauma dan pengaruh sesudahnya. Rasional: membantu dalam menciptakan harapan yang realistis dan meningkatkan pemahaman pada keadaan saat ini dan kebutuhannya. d) Berikan penguatan awal terhadap penjelasan tentang luasnya trauma. Rasional: memberikan penguatan visual dan rujukan setelah sembuh. 2004). b) Diskusikan rencana untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri. Rasional: memungkinkan untuk menyampaikan bahan yang didasarkan atas kebutuhan secara individual. rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil dicapai (Nursalam. Rasional: aktivitas. pengobatan yang direkomendasikan diberikan atas dasar pendekatan dan evaluasi amat penting untuk perkembangan pemulihan/pencegahan terhadap komplikasi. kurang mengingat/ keterbatasan kognitif. rencana pengobatan dan prognosisnya.d kurang pemajanan. (2002).

saraf perifer dan medula spinalis. Gambar 1. Struktur – struktur ini berfungsi untuk kontrol dan koordinasi aktivitas sel tubuh melalui impuls-impuls elektrik (Smeltzer dan Bare . Anatomi Fisiologi Cerebri Sistem persyarafan terdiri dari otak. 2002). evaluasi merupakan tahapan akhir dari proses keperawatan. Evaluasi menyediakan nilai informasi mengenai pengaruh intervensi yang telah direncanakan dan merupakan perbandingan dari hasil yang diamati dengan kriteria hasil yang telah dibuat pada tahap perencanaan. (2004). Anatomi Otak manusia ( wikimu: 2008 ) Motor korteks LOBUS FRONTAL Cerebral corteks LOBUS PARIETAL LOBUS OCCIPITAL Corpus collosum Cerebellum LOBUS TEMPORAL Thalamus Hypothalamus Amygdala .Sedangkan menurut Hidayat AA. Landasan Teori Kasus 1. B.

serta mengubah tonus. 2) Otak kecil ( Serebelum) Serebelum terletak di dalam fosa kranii posterior dan ditutupi oleh durameter yang menyerupai atap tenda. meliputi: a) Mengatur otot-otot postural tubuh b) Melakukan program akan gerakan-gerakan pada keadaan sadar maupun bawah sadar. d) Lobus Temporalis Lobus temporalis mencakup bagian korteks serebrum yang berjalan ke bawah dari fisura lateralis dan ke sebelah posterior dari fisura parieto-oksipitalis. Lobus ini menerima informasi yang berasal dari retina mata.a. Lobus ini terlibat dalam interpretasi bau dan penyimpanan memori. Lobus frontalis bertanggung jawab untuk prilaku bertujuan. penentuan keputusan moral. Otak Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting karena merupakan pusat komputer dari semua alat tubuh. Pada otak besar ditemukan beberapa lobus yaitu: a) Lobus Frontal Lobus frontalis mencakup bagian dari korteks serebrum bagian depan yaitu dari sulkus sentralis dan di dasar sulkus lateralis. memori. c) Lobus Oksipitalis Lobus oksipitalis terletak di sebelah posterior dari lobus parietalis dan di atas fisura-oksipitalis. yang memisahkannya dari serebrum. dan kekuatan kontraksi untuk mempertahankan keseimbangan dan sikap tubuh. dan meluas ke belakang ke fisura parieto-oksipitalis. bagian – bagian batang otak terdiri dari: . Ada dua fungsi utama serebelum. yang memisahkannya dari bagian posterior serebrum. dan pemikiran yang kompleks. Serebelum mengkoordinasi penyesuaian secara tepat dan otomatis dengan memelihara keseimbangan tubuh. juga mengatur proses penalaran. Serebelum merupakan pusat refleks yang mengkoordinasi dan memperhalus gerakan otot. Disini terletak pusat-pusat yang mengatur semua kegiatan sensorik dan motorik. yaitu tentorium. Otak terdiri dari: 1) Otak besar ( Serebrum) Serebrum merupakan bagian otak yang paling besar dan yang paling menonjol. 3) Batang otak Batang otak terletak pada fosa anterior. Lobus parietalis merupakan area sensorik primer otak untuk sensasi raba dan pendengaran. dan inteligensi. b) Lobus Parietalis Lonus parietalis terletak di belakang sulkus sentralis. di atas fisura lateralis.

dan muntah. Bagian ini mencakup bagian posterior. Bagian bawah pons berperan dalam pengaturan pernapasan. Saraf-saraf perifer Syaraf kranial terdiri dari: Nervus olfaktorius ( sensorik) Fungsi sebagai penciuman Nervus optikus ( sensorik) Fungsi sebagai penglihatan Nervus okulomotorius ( motorik) Fungsinya sebagai mengangkat kelopak mata atas Nervus troklearis ( motorik) Fungsi sebagai gerakan mata ke bawah dan ke dalam Nervus abdusen ( motorik) Fungsi sebagai deviasi mata ke lateral Nervus trigeminus ( motorik) Otot temporalis dan maseter ( menutup rahang dan mengunyah) gerakan rahang ke lateral Nervus fasialis (motorik) Fungsi sebagai pengecapan. pernapasan. Kolikuli superior berperan dalam refleks penglihatan dan koordinasi gerakan penglihatan. b. misalnya menggerakkan kepala ke arah datangnya suara. yaitu pedunkulus serebri. salivasi. d) Medula oblongata Merupakan pusat refleks yang pentinh untuk jantung. menelan. Nukleus saraf kranial V ( trigeminus). batuk. Fungsi diensefalon adalah memproses rangsang sensorik dan membantu mencetuskan atau memodifikasi reaksi tubuh terhadap rangsang-rangsang tersebut. pengeluaran air liur. bersin. dan VII ( fasialis) terdapat di sini. VI ( abdusen). yaitu tektum yang terdiri atas kolikuli superior dan kolikuli inferior serta bagian anterior. b) Mesensefalon ( otak tengah) Merupakan bagian pendek dari batang otak yang letaknya di atas pons. vasokonstriktor. c) Pons Merupakan serabut yang menghubungkan kedua hemisfer serebelum serta menghubungkan mesensefalon di sebelah atas dengan medula oblongata.a) Diensefalon Diensefalon Bagian batang otak paling atas terdapat diatara serebelum dengan mensensefalon. kolikuli inferior berperan dalam refleks pendengaran. lakrimasi dan pergerakan otot wajah 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) .

Cedera kepala dapat diklasifikasikan menjadi: . Medula spinalis mempunyai 31 pasang saraf spinal. 2005). sensasi lain dari lidah. trauma tumpul atau trauma tusuk. dkk. (Wahyu. 2002) Cedera kepala sedang adalah trauma yang mengenai otak yang disebabkan oleh kekuatan eksternal yang menimbulkan perubahan kemampuan kognitif.medula sepinalis terdiri dari 33 segmen yaitu 7 segmen servikal. 5 lumbal. dura. dan menelan 10) Nervus vagus ( motorik) Fungsi sebagai menelan. monitor kadar oksigendan karbondioksida. dan otak (Smeltzer dan Bare. 5 sakral dan 5 segmen koksigius. dan tekanan darah 11) Nervus aksesorius ( motorik) Fungsi sebagai produksi suara di laring. 2002) & (Syaifuddin. pergerakan kepala dan bahu 12) Nervus hipoglosus ( motorik) Fungsi sebagai pergerakan lidah c. salivasi.8) Nervus vestibularis ( sensorik) Fungsi sebagai keseimbangan Nervus glosofaringeus ( motorik) 9) Fungsi sebagaipengecapan. Medula spinalis dan batang otak membentuk struktur kontinu yang keluar dari hemisfer serebral dengan memberikan tugas sebagai penghubung otak dan saraf perifer. (Smeltzer dan Bare. 2008) Kesimpulan dari cedera kepala sedang adalah suatu trauma atau gangguan fungsi otak yang mengenai kulit kepala. medula spinalis berbebtuk H dengan badan sel saraf dikelilingi traktus asenden dan desenden. Panjangnya kira-kira 45 cm dan menipis pada jari-jari. 2006). 12 torak. araknoid dan pia meter. oleh pengaruh suatu kekuatan atau energi yang diteruskan ke otak dan akhirnya oleh efek percepatan perlambatan pada otak yang terbatas pada kompartemen yang kaku (Price & Wilson. 2. fungsi tingkah laku dan emosional. fungsi fisik. Medula spinalis dikelilingi oleh meningen. tengkorak. Medula spinalis Medula spinalis merupakan bagian susunan syaraf pusat yang terletak didalam kanalis vetebralis. seperti kulit dan otak. tulang tengkorak atau otak yang disebabkan oleh injuri. Pengertian cedera kepala sedang Cidera kepala adalah kerusakan jaringan otak yang diakibatkan oleh adanya trauma (benturan benda atau serpihan tulang) yang menembus atau merobek suatu jaringan otak. Cedera kepala sedang adalah trauma kulit kepala.masing-masing segmen mempunyai satu untuk setiap sisi tubuh.

kecelakaan kendaraan motor. Etiologi Jatuh. Patofisiologi Trauma langsung/ Benturan Cedera fokal cedera difus Memar otak. intraserebral Gangguan fungsional Gelombang kejut Pada seluruh arah Mengubah tekanan jaringan otak Tekanan jaringan otak akan meningkat . Subdural. Cedera kepala ringan/Mild Head Injury (GCS 13-15 dengan kehilangan kesadaran kurang dari 0-15 menit) b. Cedera kepala sedang/Moderat Head Injury (GCS 9-12 dengan kehilangan kesadaran sampai dengan 6 jam) c. 2005) 4. kecelakaan pada saat olahraga.a. Cedera kepala berat/Savere Head Injury (GCS 3-5 dengan kehilangan kesadaran > 6 jam) 3. sepeda dan mobil. (Suriadi dan Yuliani. hematom epidural.

ataustupor) 2) Konkusi 3) Amnesia pasca-trauma 4) Muntah 5) Tanda kemungkinan fraktur kranium (tanda Battle. otorea atau rinoreacairan serebrospinal) . 2005) 5. Respon pupil mungkin lenyap atau secara progesif memburuk e. Patofisiologi Cedera Kepala Sedang (Sjamsuhidayat & jong. Cedera kepala ringan ringan (kelompok risiko rendah) 1) Skor skala koma Glasgow 15 (sadar penuh. atentif. dkk. Pada konkusio. Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang terjadi pada klien cedera kepala sedangmenurut Corwin ( 2009) adalah: a. hemotimpanum. dan orientatif 2) Tidak ada kehilangan kesadaran (misalnya konkusi) 3) Tidak ada intoksikasi alkohol atau obat terlarang 4) Klien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing 5) Klien dapat menderita abrasi. Nyeri kepala dapat muncul segera atau bertahap seiring dengan peningkatan tekanan intrakranium f. segera terjadi kehilangan kesadaran b. kesadaran mungkin hilang segera atau bertahap seiring dengan membesarnya hematom c. latergi. laserasi. Dapat timbul muntah-muntah akibat peningkatan tekananintrakran Menilai tingkat keparahan menurut Mansjoer. mata rabun. magnum/ falks serebrum Iskemi Nekrosis Mati Gambar 2. (2009) adalah: a. Pada hematom.Jaringan otak akan rusak coup Suplay darah keotak menurun Gangguan suplay oksigen dan glukosa pada sel Gangguan metabolisme ( anaerob) Penumpukan asam laktat Udem Herniasi pada foramen tentorium. Cedera kepala ringan sedang (kelompok risiko sedang) 1) Skor skala koma Glasgow 9-14 (konfusi. Pola pernapasan dapat secara progesif menjadi abnormal d. atau hematomakulit kepala 6) Tidak adanya kriteria cedera sedang berat b.

pendarahan b. menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak g. seperti pergeseran jaringan otak akibat edema. Uji neuropsikologis selama fase rehabilitasi untuk menentukan defisit kognitif d. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada klien dengan cedera kepala ringan menurut Corwin (2009) adalah: a. Cedera kepala ringan berat (kelompok risiko berat) 1) Skor skala koma Glasgow 3-8 (koma) 2) Penurunan derajat kesadaran secara progesif 3) Tanda neurologis fokal 4) Cedera kepala ringan penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium 6. PET (Positron Enission Tomography). 2006 ) 7. Sinar X tengkorak dan spinal servikal untuk mengidentifikasifraktur dan dislokasi c. Untuk cedera kepala ringan terbuka di perlukan antibiotik c. BAER (Brain Auditory Evoked Respons). Metode-metode untuk menurunkan tekanan intrakraniumtermasuk pemberian diuretik dan obat anti inflamasi d. Pungsi lumbal: dapat menduga kemungkinan adanya perdarahansubarakhnoid h. Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral. Pemeriksaan diagnostik Pada klien cedera kepala sedang dilakukan pemeriksaan diagnostik sebagai berikut: a. menentukan fungsikorteks dan batang otak f. Mungkin diperlukan ligasi pembuluh darah yang pecah danevakuasi hematoma secara bedah . perdarahan. Tomografi komputerisasi atau pencitraan resonan magnetikuntuk mengidentifikasi dan melokalisir lesi. GDA (Gas Darah Arteri): mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenisasi yang akan dapat meningkatkan TIK ( Doenges. edema serebral. trauma e.6) Kejang c. Konkusio ringan atau sedang biasanya diterapi dengan observasi dan tirah baring b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful