P. 1
Perbandingan disinfektan H2O2 dan Kaporit.pdf

Perbandingan disinfektan H2O2 dan Kaporit.pdf

|Views: 258|Likes:
Published by ariefmail
Perbandingan kekuatan disinfektan
Perbandingan kekuatan disinfektan

More info:

Published by: ariefmail on Nov 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2014

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Rumusan Masalah
  • 1.3 Tujuan Penelitian
  • 1.4 Manfaat Penelitian
  • 2.1.1 Sifat kimia dan fisika air
  • 2.1.2 Sumber air
  • 2.1.3 Manfaat air
  • 2.1.4 Penggolongan air
  • 2.1.5 Karakteristik air
  • 2.1.6 Air bersih
  • 2.1.7 Air minum
  • 2.1.8 Pencemaran air
  • 2.1.9 Pengolahan air bersih
  • 2.2.1 Pengertian disinfektan
  • 2.2.2 Penggolongan disinfektan
  • 2.3.1 Sifat kimia dan fisika kaporit
  • 2.3.2 Mekanisme kerja kaporit sebagai disinfektan
  • 2.3.3 Dampak klorinasi air
  • 2.4.1 Sifat kimia dan fisika hidrogen peroksida
  • 2.4.2 Mekanisme kerja hidrogen peroksida sebagai disinfektan
  • 2.4.3 Pereaksi Fenton
  • 2.5 Evaluasi Disinfektan
  • 3.1 Kerangka Berpikir
  • 3.2 Konsep Penelitian
  • 3.3 Hipotesis Penelitian
  • 4.1 Rancangan Penelitian
  • 4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
  • 4.3.1 Bahan penelitian
  • 4.3.2 Alat penelitian
  • 4.4.1 Penentuan kadar optimal disinfektan
  • 4.4.2 Penentuan efektivitas disinfektan
  • 4.4.3 Prinsip kerja alat pHmeter
  • 4.4.4 Prinsip kerja alat DOmeter
  • 4.5 Analisis Data
  • 7.1 Simpulan
  • 7.2 Saran

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Air merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup untuk dapat menjalankan

segala aktivitasnya. Pengaruh air sangat luas bagi kehidupan, khususnya untuk makan dan minum. Orang akan mengalami dehidrasi atau terserang penyakit bila kekurangan cairan dalam tubuhnya (Suriawiria, U., 1996). Sekitar 70 % tubuh manusia terdiri dari air. Manusia memerlukan air sekitar 1,5 L per hari untuk minum. Angka tersebut tentunya akan bervariasi dari satu daerah dengan yang lain, tergantung pada situasi, iklim dan suhu setempat. Konsumsi air pada daerah beriklim panas lebih banyak daripada daerah beriklim dingin (Hiskia, A., 1997). Air dibutuhkan oleh organ tubuh manusia untuk melangsungkan metabolisme, sistem asimilasi, menjaga keseimbangan cairan tubuh,

memperlancar proses pencernaan, melarutkan dan membuang racun dari ginjal. Air yang cukup dan layak masuk ke dalam tubuh akan membantu berlangsungnya fungsi tersebut dengan sempurna. Jumlah air yang cukup mutlak diperlukan, lebih dari itu air yang mengandung polutan dapat menyebabkan gangguan kesehatan (Pitojo, S., dan Purwantoyo, E. 2003). Peraturan Menteri Kesehatan nomor 416 tahun 1990 menyebutkan, bahwa yang dimaksud air adalah air minum, air bersih, air kolam renang dan air pemandian umum. Air minum adalah air yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Air bersih adalah air yang digunakan
1

2

untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air kolam renang adalah air di dalam kolam renang yang digunakan untuk olah raga renang dan kualitasnya memenuhi syarat kesehatan. Air pemandian umum adalah air yang digunakan di tempat pemandian umum tidak termasuk pemandian untuk pengobatan tradisional dan kolam renang yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan (Depkes RI, 1990). Beberapa persyaratan yang perlu diketahui mengenai kualitas air tersebut baik secara fisik, kimia dan juga mikrobiologi. Syarat fisik, antara lain: air harus bersih dan tidak keruh, tidak berwarna, tidak berasa, tidak berbau, suhu tidak berbeda lebih dari 3 oC dari suhu udara dan tidak meninggalkan endapan. Syarat kimiawi, antara lain: tidak mengandung bahan kimiawi yang mengandung racun, tidak mengandung zat-zat kimiawi yang berlebihan, cukup yodium, pH air antara 6,5 – 8,5. Syarat mikrobiologi, antara lain: tidak mengandung kuman-kuman penyakit seperti disentri, tipus, kolera, dan bakteri patogen penyebab penyakit (Depkes RI, 2002). Pemerintah dalam hal ini perusahaan daerah air minum berusaha mencukupi kebutuhan masyarakat akan air bersih melalui pengolahan air minum yang bahan bakunya berupa air permukaan. Proses yang dilakukan dalam mengolah air minum meliputi, presedimentasi, koagulasi-flokulasi, klarifikasi, filtrasi, sedimentasi, dan disinfeksi (Depkes RI, 1990). Proses disinfeksi yang banyak digunakan adalah klorinasi, karena klor efektif sebagai disinfektan dan harganya terjangkau . Tujuan klorinasi adalah mengurangi dan membunuh mikroorganisme yang ada di dalam air baku. Kaporit

3

umumnya digunakan sebagai sumber klor. Salah satu kelemahan desinfeksi menggunakan kaporit adalah terbentuknya senyawa trihalometan yang merupakan senyawa yang bersifat karsinogenik dan mutagenik. Ada korelasi positif antara konsentrasi kaporit dengan terbentuknya trihalometan. Semakin tinggi konsentrasi kaporit yang digunakan, semakin tinggi pula konsentrasi trihalometan yang terbentuk (Sururi dkk, 2008). Suatu penelitian menunjukkan bahwa air minum yang mengandung klorin dapat menyebabkan terjadinya serangan kanker kandung kemih, dubur ataupun usus besar. Pada wanita hamil dapat mengakibatkan bayi cacat dengan kelainan otak atau urat syaraf tulang belakang, berat bayi lahir rendah, kelahiran prematur atau bahkan keguguran kandungan (Permanajaya, 2010). Salah satu cara untuk menghindari terbentuknya senyawa yang membahayakan kesehatan tersebut adalah mencari bahan kimia disinfektan alternatif yang tidak menghasilkan senyawa trihalometan (Chandra B, 2007). Diantara alternatifnya adalah hidrogen peroksida (H2O2) dan pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+). Hidrogen peroksida sering digunakan dalam dunia kesehatan sebagai disinfektan karena tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Bahan inipun digunakan sebagai antiseptik pada akuarium. Hidrogen peroksida merupakan antiseptik yang efektif dan nontoksik. Adanya ion-ion logam yang umumnya terdapat di dalam sitoplasma sel menyebabkan terbentuknya radikal superoksida (.O2-) selama pembentukan oksigen yang akan bereaksi dengan gugus bermuatan negatif dalam protein dan selanjutnya akan menginaktifkan sistem enzim yang penting (Pelczar, M.J., dan Chan, E.C.S., 2009).

4

Dalam proses pengolahan air sering digunakan campuran hidrogen peroksida dengan besi(II) sulfat. Pada tahun 1894 Fenton telah melaporkan bahwa campuran besi((II) sulfat dengan hidrogen peroksida merupakan suatu larutan yang mempunyai daya oksidasi yang sangat kuat. Larutan ini selanjutnya disebut sebagai pereaksi Fenton (Zhang et al., 2005).

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan beberapa masalah: a. Berapakah kadar optimal hidrogen peroksida (H2O2), pereaksi Fenton [H2O2/Fe2+), dan kaporit [Ca(OCl)2] sebagai disinfektan? b. Bagaimanakah efektivitas hidrogen peroksida (H2O2), pereaksi Fenton [H2O2/Fe2+), dan kaporit [Ca(OCl)2] sebagai disinfektan?

1.3

Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan : a. Menentukan kadar optimal hidrogen peroksida (H2O2), pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+), dan kaporit [Ca(OCl)2] sebagai disinfektan. b. Menentukan efektivitas hidrogen peroksida (H2O2), pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+), dan kaporit [Ca(OCl)2] sebagai disinfektan

.

4 Manfaat Penelitian a. dan kaporit [Ca(OCl)2] disinfektan. pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+). c. b. sebagai . Memberi masukan kepada perusahaan pengolahan air minum tentang bahan kimia alternatif sebagai disinfektan.5 1. Memberi informasi tentang efektivitas hidrogen peroksida (H 2O2). Sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut.

artinya satu molekul air tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. sedangkan atom hidrogen memiliki nilai 6 . tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar.15 K (0 oC).K (cair pada 20 oC) Air adalah senyawa kimia dengan rumus kimia H 2O. yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) dan suhu 273.92 g/cm³ (padat) : 0 oC : 100 oC : 4184 J/kg.1 Kajian Tentang Air 2. 2010). Atom oksigen memiliki nilai keelektronegatifan yang sangat besar.. dihidrogenmonoksida.0153 g/mol : 0.1. seperti garam. 0. Air mempunyai sifat tidak berwarna. asam. gula. Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting karena mampu melarutkan banyak zat kimia lainnya.998 g/cm³ (cair pada 20 °C) . Hidrogen hidroksida : H2 O : 18.BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sifat kimia dan fisika air Nama Sistematis Nama Alternatif Rumus Molekul Massa Molar Densitas dan Fase Titik Lebur Titik Didih Kalor Jenis : air : aqua. beberapa jenis gas dan senyawa organik (Scientist N.

Hal ini sangat menguntungkan bagi makhluk hidup. Diantara sifat-sifat tersebut adalah : Air memiliki titik beku 0 o C dan titik didih 100 oC (jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan secara teoritis). Sifat-sifat khas air sangat menguntungkan bagi kehidupan makhluk di bumi (Achmad. danau dan badan perairan yang lain mungkin ada dalam bentuk gas ataupun padat. sehingga pada suhu sekitar 0 oC sampai 100 oC yang merupakan suhu yang sesuai untuk kehidupan. Hutchinson (1975) dan Miller (1992) yang menyatakan bahwa air memiliki beberapa sifat khas yang tidak dimiliki oleh senyawa kimia lain. Hal ini selain menyebabkan sifat kepolaran air yang besar juga menyebabkan adanya ikatan hidrogen antar molekul air. Hal sama dikemukakan oleh Dugan (1972).7 keelektronegatifan paling kecil diantara unsur-unsur bukan logam. Sifat ini merupakan penyebab air sebagai penyimpan panas yang baik. Ikatan hidrogen terjadi karena atom oksigen yang terikat dalam satu molekul air masih mampu mengadakan ikatan dengan atom hidrogen yang terikat dalam molekul air yang lain. sehingga makhluk hidup terhindar dari ketegangan akibat perubahan suhu yang mendadak. 2004). sungai. Air mampu melarutkan berbagai jenis senyawa kimia. air berwujud cair. karena tanpa sifat ini. Air memiliki perubahan suhu yang lambat. Sifat ini memungkinkan terjadinya pengangkutan nutrien yang larut ke . Sedangkan yang diperlukan dalam kehidupan adalah air dalam bentuk cair. sehingga disebut sebagai pelarut universal. air yang terdapat pada jaringan tubuh makhluk hidup maupun yang terdapat di laut. Ikatan hidrogen inilah yang menyebabkan air memiliki sifat-sifat yang khas. Suhu lingkungan akan terjaga tetap sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan untuk kehidupan.

Berdasarkan letak sumbernya air dibagi menjadi tiga. danau. Keuntungan dari adanya sistem kapiler dan sifat sebagai pelarut yang baik menyebabkan air dapat membawa nutrien dari dalam tanah ke dalam jaringan tumbuhan (akar. nitrogen dan amonia). Air hujan merupakan sumber utama dari air di bumi. 2. Air tanah berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Air ini pada saat pengendapan dapat dianggap sebagai air yang paling bersih. Air permukaan meliputi badan-badan air semacam sungai. karena air yang membeku hanya ada di permukaan perairan saja. tetapi pada saat di atmosfer cenderung mengalami pencemaran oleh beberapa partikel debu. air permukaan dan air tanah. Sifat ini mengakibatkan air dapat membasahi suatu bahan secara baik. sehingga es akan mengapung di atas air. mikroorganisme dan gas (misal : karbon dioksida.1. Keuntungan yang diperoleh dari sifat ini adalah kehidupan organisme akuatik pada daerah beriklim dingin tetap berlangsung. rawa dan sumur permukaan. waduk. Sebagian besar air permukaan ini berasal dari air hujan dan mengalami pencemaran baik oleh tanah.2 Sumber air Air yang ada di permukaan bumi berasal dari beberapa sumber. batang dan daun). yaitu kemampuan untuk bergerak dalam pipa kapiler. kemudian mengalami .8 seluruh jaringan makhluk hidup dan pengeluaran bahan-bahan toksik yang masuk ke dalam jaringan tubuh makhluk hidup. Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi. yaitu air hujan. Air merupakan satusatunya senyawa yang mengembang ketika membeku. telaga. sampah dan lainnya. Hal ini juga dapat mendukung terjadinya sistem kapiler. Hal ini mengakibatkan densitas es lebih rendah daripada air.

Air dibutuhkan organ tubuh untuk membantu terjadinya proses metabolisme.B. 2007). air digunakan untuk minum. B.. sistem asimilasi. 2. proses pencernaan. Air juga dimanfaatkan untuk keperluan industri. memasak. Proses-proses ini menyebabkan air tanah menjadi lebih baik dibandingkan air permukaan (Chandra. mandi. adalah air yang dapat digunakan untuk keperluan .1. pertanian. tempat rekreasi dan transportasi.1. keseimbangan cairan tubuh. 2.9 penyerapan ke dalam tanah dan penyaringan secara alami.3 Manfaat air Air merupakan zat yang paling penting dalam kehidupan setelah udara. Air golongan B. Sekitar tiga perempat bagian dari tubuh manusia terdiri dari air..4 Penggolongan air Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 1990 tentang pengendalian pencemaran air. adalah air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum. dan Air golongan D. adalah air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Sebagai contoh. adalah air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan lebih dulu. Air golongan C. pelarutan dan pengeluaran racun dari ginjal. Bab III pasal 7 menyebutkan bahwa ada empat golongan air menurut peruntukannya. mencuci dan membersihkan lingkungan rumah. sehingga kerja ginjal menjadi ringan (Chandra. pemadam kebakaran. 2007). yaitu : Air golongan A. Air digunakan untuk mendukung hampir seluruh kegiatan manusia.

1. 2. COD (chemical oxygent demand).2 Karakteristik kimia air Karakteristik kimia air meliputi: pH. seperti lumpur dan limbah industri. yang bentuk tersebut dipengaruhi oleh pH.1. Nilai pH air dapat mempengaruhi rasa dan sifat korosi. BOD (biological oxygent demand).5. Beberapa senyawa beracun lebih toksik dalam bentuk molekul daripada dalam bentuk ion. 2002).1 Karakteristik fisika air Karakteristik fisika air meliputi: kekeruhan. Suhu air mempengaruhi jumlah oksigen terlarut. kesadahan dan senyawa kimia beracun. F.1.10 pertanian dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan usaha perkotaan. suhu.. Dissolved Oxygen menunjukkan jumlah oksigen yang terlarut dalam air.5 Karakteristik air 2.5. Bau dan rasa dapat disebabkan oleh adanya organisme dalam air seperti alga. 2. bahan berwarna yang tersuspensi dan senyawa-senyawa organik. bau dan rasa. juga oleh adanya gas H2S hasil peruraian senyawa organik yang berlangsung secara anaerobik (Hanum. DO (dissolved oxygent). zat padat terlarut. Oksigen terlarut berasal dari hasil fotosintesa selain dari absorbsi atmosfer. Penyebab terjadinya kekeruhan dapat berupa bahan organik maupun anorganik. Makin tinggi suhu air. jumlah oksigen terlarut makin rendah. warna. Warna air dapat dipengaruhi oleh adanya organisme. . Makin tinggi jumlah oksigen terlarut mutu air makin baik. industri dan pembangkit listrik tenaga air.

Adanya senyawa arsen meskipun dalam jumlah yang kecil dapat merupakan racun bagi manusia (Hanum. 2002).11 Biology Oxygen Demand (BOD) menunjukkan jumlah oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organik dalam air secara biologi... Yang dimaksud bersih dan aman adalah memenuhi beberapa kriteria berikut.6 Air bersih Air yang dikonsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Chemical Oxygen Demand (COD) menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk menguraikan bahan organik dalam air secara kimia. Makin tinggi nilai BOD menunjukkan tingginya jumlah bahan organik dan mutu air makin rendah. Jumlah air cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik dan rumah tangga. B. F. Air tidak berasa dan tidak juga berbau. . Kesadahan air mempengaruhi efisiensi pemakaian sabun. Air tidak boleh mengandung bahan kimia yang berbahaya maupun beracun. Air memenuhi standar yang ditentukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) atau Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Chandra. Makin tinggi nilai COD menunjukkan tingginya jumlah bahan organik dan mutu air makin rendah. 2. 2007).1. Kesadahan air disebabkan oleh adanya garam-garam kalsium dan magnesium yang terdapat dalam air. Air harus bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit.

meliputi air untuk minum. Bahan-bahan tersebut masuk ke . tidak berasa dan perbedaan suhu air dengan suhu ruang tidak boleh lebih dari 3 oC. 2. Agar air minum tidak mengganggu kesehatan manusia harus memenuhi persyaratan fisika. Persyaratan tersebut antara lain. disentri dan gastroenteritis.12 2.8 Pencemaran air Pencemaran air disebabkan oleh masuknya bahan pencemar yang dapat berupa gas. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang persyaratan air bersih dan air minum mencantumkan bahwa air minum harus tidak berbau. tidak berwarna. jernih. mandi. Persyaratan bakteriologis meliputi kandungan mikroorganisme atau jasad renik yang terdapat dalam air minum. bahan-bahan terlarut dan partikulat. Persyaratan fisika adalah persyaratan air yang dapat dilihat. dirasa maupun dibau. Air minum tidak boleh mengandung zat kimia yang mengganggu kesehatan manusia dan zat yang bersifat korosif karena dapat merusak pipa air minum.1. memasak. kimia dan bakteriologis yang ditentukan oleh Dinas Kesehatan. mencuci dan membersihkan rumah. Persyaratan kimia meliputi kadar atau kandungan zat kimia dalam air. jumlah kuman yang terdapat dalam air minum tidak boleh lebih dari 100 kuman per satu mili liter air. air minum tidak boleh mengandung bakteri coli begitu pula bakteribakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit cholera.7 Air minum Pengertian air minum adalah air yang diperlukan untuk keperluan hidup rumah tangga. tipus.1.

air hujan atau air tanah dialirkan ke dalam bak penampung dan disimpan.13 dalam badan air melalui atmosfer maupun tanah.1. Oksigen bebas dalam air digunakan oleh bakteri aerobik untuk mengoksidasi bahan-bahan organik dan organisme patogen berangsur-angsur mati (Chandra. Penyaringan dilakukan untuk memisahkan partikel-partikel yang tidak terendapkan selama penyimpanan.. Limbah dari daerah pertanian yang mengandung pestisida dan pupuk. Pengolahan air untuk memperoleh air yang memenuhi persyaratan perlu dilakukan. B. limbah dari daerah pemukiman dan limbah dari daerah perkotaan adalah contoh sumber pencemar yang tersebar. Air baku yang berupa air sungai. Tahapan-tahapan dalam proses pengolahan air adalah penyimpanan.A. Secara fisika partikel terlarut dengan ukuran cukup besar akan mengendap dan terpisah dari air. Sumber pencemar dapat tersebar atau pada lokasi tertentu. 2007).L. M. flokulasi dan sedimentasi. Koagulasi dilakukan dengan penambahan . B. Proses penyaringan ini melibatkan proses koagulasi.. cerobong asap mobil dan saluran limbah industri merupakan contoh sumber pencemar pada lokasi tertentu (Davis. Knalpot mobil. D. 1991).. kimia dan biologis.9 Pengolahan air bersih Air yang dikonsumsi oleh masyarakat harus memenuhi syarat kesehatan karena air merupakan media paling baik untuk berkembangnya mikroorganisme. penyaringan dan klorinasi (Chandra. Air yang disimpan mengalami proses pemurnian secara alami yang meliputi proses fisika. 2007). 2. and Cornwell.

golongan biguanida. karena mikroorganisme sangat cepat berkembang di dalam air (Pelczar. golongan aldehid. Tujuan flokulasi adalah untuk memperbesar ukuran gumpalan yang terbentuk dengan cara memutar secara pelan.. 2. Sedangkan dalam proses sedimentasi terjadi pengendapan gumpalan yang juga mengikat bakteri. bahan pengawet. senyawa hipoklorit.2. antara lain: fenol dan senyawa fenolik. B. Proses pembunuhan kuman atau disinfeksi disebut klorinasi karena yang dilakukan selama ini adalah penambahan senyawa klor. 2. bisfenol.2 Kajian Tentang Disinfektan 2. Disinfeksi adalah proses yang dilakukan dengan tujuan membunuh kuman.2. Penyaringan dilakukan untuk mengambil sisa-sisa partikel yang masih ikut dalam air (Chandra. gas kemosterilisator dan golongan peroksigen (Radji. misal alum [Al2(SO4)3]. 2011). golongan halogen. quat.. 2007).2 Penggolongan disinfektan Disinfektan dibagi dalam beberapa golongan. 2009). 2007). klor dioksida. Senyawa klor yang sering digunakan adalah kalsium hipoklorit (Chandra.J. baik berupa gas klor.C. surfaktan.S. E. Selanjutnya dalam penelitian ini yang dimaksud disinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme. M.. dan Chan.1 Pengertian disinfektan Disinfektan adalah perlakuan fisika atau senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme. B. logam berat dan campurannya. golongan alkohol. bromine klorida ataupun kloramin.14 koagulan.. Disinfeksi terhadap air perlu dilakukan. .

contohnya heksaklorofen. Senyawa ini kadang digunakan sebagai antiseptik lokal untuk pelega tenggorokan. sehingga sel mengalami lisis dan akibatnya isi sel keluar. Klorheksidin yang dikombinasi dengan alkohol atau deterjen digunakan sebagai bahan pencuci tangan sebelum dan sesudah operasi. Senyawa ini dapat menyebabkan iritasi kulit dan memiliki bau yang tidak disukai sehingga jarang digunakan. berbagai jenis jamur dan virus. endospora. Contoh bisfenol lain adalah triklosan. Salah satu disinfektan golongan biguanida yang sering digunakan adalah klorheksidin. Iodin efektif untuk semua jenis bakteri. Klorheksidin digunakan untuk mengontrol mikroba pada kulit atau membran mukosa. Efek antibakteri yang signifikan ditunjukkan oleh fenol pada konsentrasi satu persen. Golongan halogen yang sering digunakan adalah iodin dan klorin. Tujuan modifikasi adalah untuk menurunkan efek iritasi atau menaikkan efek antibakterinya.15 Fenol pertama kali digunakan oleh Listen untuk mencegah terjadinya infeksi di ruang operasi. senyawa ini terkandung dalam sabun antiseptik dan pasta gigi. Senyawa fenolik adalah senyawa fenol yang telah mengalami modifikasi secara kimiawi. Iodin . Yang sering dijumpai adalah iodin dalam bentuk tinctur atau iodoform. Heksaklorofen ini sering digunakan di rumah sakit untuk mengatasi kontaminasi di ruang operasi. Cara kerja disinfektan golongan ini adalah merusak membran plasma yang mengandung lipid. Salah satu senyawa fenolik yang sering digunakan adalah kresol. Golongan bisfenol adalah derivat fenol yang mengandung dua fenolik. Senyawa ini membunuh bakteri dengan cara merusak membran sel bakteri.

Kemampuan logam berat untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme dikenal dengan daya oligodinamik. mikroorganisme dan minyak. Sabun dan deterjen adalah contoh surfaktan. Senyawa lain dari golongan ini adalah kloramin yang terdiri dari klor dan amonia.16 mempunyai sifat mengiritasi. Fungsi penting dari senyawa golongan ini adalah untuk membuang mikroorganisme secara mekanis melalui pencucian. amebisida dan virusida. tetapi tidak efektif untuk endospora dan virus. Alkohol merupakan disinfektan yang sangat efektif membunuh jamur dan bakteri. Klorin sering digunakan baik dalam bentuk gas maupun kombinasi dengan senyawa kimia lain. keringat. Perak. Kulit normal mengandung sel-sel mati. juga merupakan fungisida. merkuri dan perunggu adalah contoh logam dan campurannya yang bersifat sebagai disinfektan. Etanol dan isopropanol adalah dua jenis alkohol yang sering digunakan. Quat bersifat bakterisida kuat terhadap bakteri gram positif. Mekanisme kerja sebagai desinfektan dengan cara . seng. Fungsi surfaktan adalah menurunkan tegangan permukaan antarmolekul pada cairan. debu. Nama lain senyawa quat adalah amonium kuartener. logam berikatan dengan gugus sulfhidril pada protein sehingga terjadi denaturasi protein. materi-materi tersebut diangkat dan dibawa oleh surfaktan pada saat pembilasan dengan air. Melalui proses emulsifikasi. Dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Disinfektan ini mendenaturasi protein dan mengganggu membran serta melarutkan lipid sel mikroba dalam mekanisme kerjanya.

Cara kerja senyawa golongan ini sebagai disinfektan adalah melalui pembentukan ikatan kovalen silang dengan beberapa gugus organik fungsional dalam protein sel mikroorganisme. Bahan pengawet kimia sering ditambahkan ke dalam sediaan farmasi maupun makanan dan minuman untuk memperlambat kerusakan oleh mikroorganisme. Cara kerja disinfektan golongan ini adalah melalui oksidasi komponen sel mikroorganisme. Sedangkan natrium benzoat. Gas ini beracun dan mudah meledak. Penggunaan gas kemosterilisator adalah untuk mensterilkan ruang tertutup. Formaldehid dan glutaraldehid adalah contoh desinfektan golongan aldehid yang sering digunakan. Ozon. . Bahan peroksigen lain yang sering digunakan untuk mengobati luka dan bisul yang terinfeksi bakteri anaerob adalah benzoil peroksida.17 mempengaruhi membran plasma mikroorganisme melalui perubahan permeabilitas sel dan menyebabkan beberapa senyawa dan komponen penting sitoplasma hilang. maka dalam penggunaannya sering dicampur dengan gas karbon dioksida dan nitrogen. asam sorbat dan kalium propionat sering digunakan sebagai pengawet pada makanan. tetapi memerlukan waktu yang lama. hidrogen peroksida dan asam parasetat adalah contoh disinfektan golongan peroksigen yang sering digunakan. Etilen oksida membunuh semua mikroba dan endosperma. Etilen oksida sering digunakan untuk metode ini. Sebagai contoh. sulfur dioksida yang sering digunakan pengawet pada minuman anggur.

3..yang dapat menyebabkan terjadinya hidrolisis dan deaminasi pada berbagai komponen kimia bakteri seperti peptidoglikan. 1999). terurai : 21 g/100 mL.985 g/mol : 2. HOCl akan terurai menghasilkan ion OCl. 2002). Senyawa VHO yang . sangat sukar larut dalam air.3. Bahan kimia ini merupakan padatan putih kekuningan.3.35 g/cm3 (20 °C) : 100 °C : 175 °C. yaitu bentuk kering dan bentuk terhidrat. P.1 Sifat kimia dan fisika kaporit Nama Sistematis Nama Dagang Rumus Molekul Massa Molar Densitas Titik Lebur Titik Didih Kelarutan dalam air : Kalsium hipoklorit : Kaporit : Ca(OCl)2 : 142. Kaporit ada dalam dua bentuk. 2. lipid dan protein sehingga terjadi kerusakan fisiologis dan mempengaruhi mekanisme seluler (EPA.18 2. memiliki bau yang menyengat. 2.3 Kajian Tentang Kaporit 2.3 Dampak klorinasi air Klorinasi pada air yang mengandung bahan-bahan organik dapat menyebabkan terbentuknya senyawa halogen organik yang mudah menguap (volatile halogenated organics) yang sering disingkat VHO. Bentuk terhidrat lebih aman dalam penangannya (Patnaik. bereaksi Kaporit merupakan bahan kimia yang telah digunakan secara luas dalam pengolahan air dan sebagai pemutih.2 Mekanisme kerja kaporit sebagai disinfektan Kaporit ketika dilarutkan dalam air akan membentuk asam hipoklorit (HOCl) yang memiliki sifat desinfektan.

Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone (Patnaik.2 °C : Sangat mudah larut Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H2O2 ditemukan oleh Louis Jacques Thenard di tahun 1818. Dalam suhu dan tekanan ruang hidrogen peroksida sangat stabil dengan laju dekomposisi kurang dari 1% per tahun. .4 Kajian Tentang Hidrogen Peroksida 2. Hidrogen peroksida tidak berwarna.. Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2).19 paling banyak ditemukan adalah jenis trihalometan sering disingkat THM.4. Pada tahap produksi hidrogen peroksida. Senyawa ini merupakan bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat.1 Sifat kimia dan fisika hidrogen peroksida Nama Sistematis Nama Trivial Nama Dagang Rumus Molekul Massa Rumus Densitas Titik Lebur Titik Didih Kelarutan dalam air : Dihidrogen Dioksida : Hidrogen Peroksida : Perhidrol : H2O2 : 34.463 g/cm3 : .. P. B. yang intinya menghasilkan oksigen.0. Trihalometan (THM) dapat memicu terbentuknya sel kanker (Chandra.43 °C : 150. 2. dan larut dalam air. Mayoritas penggunaan hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan merekayasa reaksi dekomposisinya. 2007).0147 g/mol : 1. berbau menyengat . 2002).

.O-O-) dan ion . reaksi dekomposisi hidrogen peroksida juga menghasilkan air dan panas.OH).4.45 kkal/mol Hidrogen peroksida merupakan pengoksidasi yang kuat dengan potensial reduksi (Eo red) = + 1..2 2H2O Eº = +1. M. radikal superoksida (.. Ion Fe3+ bereaksi dengan H2O2 membentuk ion Fe2+ .J.78 volt. M.C.C.20 bahan stabilizer kimia biasanya ditambahkan dengan maksud untuk menghambat laju dekomposisinya. E.78 volt Mekanisme kerja hidrogen peroksida sebagai disinfektan Hidrogen peroksida (H2O2) mudah terurai membentuk air (H2O) dan oksigen (O2). 2000) : H2O2 + 2H+ + 2e2. 2. Larutan ini disebut pereaksi fenton.O2) yang akan bereaksi dengan gugus bermuatan negatif dalam protein dan menginaktifkan sistem enzim (Pelczar. termasuk dekomposisi yang terjadi selama dalam penyimpanan. 2009): H2O2 H2O + 1/2O2 + 23. E..J.G.S. Dalam larutan ini terjadi reaksi antara ion Fe 2+ dengan hidrogen peroksida (H2O2) membentuk ion Fe3+ dan radikal hidroksil (. Persamaan setengah sel dapat ditulis sebagai berikut (Dickson.. dan Chan.4. 2009). dan Chan. Reaksi dekomposisi eksotermis yang terjadi adalah sebagai berikut (Pelczar. Selain menghasilkan oksigen.S.3 Pereaksi Fenton Pemakaian hidrogen peroksida (H2O2) sebagai pengoksidasi dalam pengolahan air sering ditambahkan FeSO4 sebagai katalis. Adanya ion-ion logam dalam sitoplasma sel mikroorganisme dapat menyebabkan terbentuknya radikal superoksida ( .

Suatu prosedur uji yang telah dibakukan adalah metode koefisien fenol. 2000. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pertumbuhan organisme uji. Dalam reaksi ini penambahan ion besi(II) (Fe2+) dan hidrogen peroksida (H2O2) harus pada tempat dan waktu yang sama. Radikal hidroksil (. Langkah-langkah yang dilakukan adalah dengan membuat beberapa tingkat pengenceran larutan bahan kimia uji dan larutan fenol baku dalam tabung reaksi steril.O-O-) bereaksi dengan ion besi(III) (Fe3+) membentuk ion besi(II) (Fe2+) dan gas oksigen (O2-). Pada interval waktu tertentu dilakukan pemindahan dari tabung reaksi ke dalam tabung-tabung yang berisi media steril dan diinkubasikan. Koefisien fenol yang . 1998. Organisme uji yang diketahui jumlahnya dimasukkan ke dalam masing-masing tabung.+ Fe3+ ·OH + kontaminan ·OH + H2O2 Fe3+ + ·OH + OHFe2++ ·O2. meskipun konsentrasi radikal hidroksil ( .OH) dalam pereaksi Fenton sangat rendah yaitu 10-16 sampai 10-14 M. 2001) : H2O2 + Fe2+ H2O2 + Fe3+ ·O2.5 Evaluasi Disinfektan Evaluasi laboratoris terhadap bahan kimia perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan desinfeksi suatu bahan kimia tersebut..OH) memiliki sebuah elektron tidak berpasangan yang membuatnya sangat reaktif.21 hidrogen (H+). Reaksi-reaksi tersebut dapat ditulis sebagai berikut (Huling et al. Radikal superoksida (.+ 2 H+ Fe2+ + O2(g) + 2 H+ hasil samping ·HO2 + H2O (1) (2) (3) (4) (5) 2.

Secara khusus. Koefisien fenol ditentukan melalui perbandingan aktivitas larutan zat kimia dengan pengenceran tertentu yang sedang diuji terhadap aktivitas larutan fenol dengan pengenceran baku. sedangkan untuk larutan fenol baku pada pengenceran satu per sembilan puluh. M. untuk bahan kimia yang tidak mematikan organisme uji dalam waktu lima menit tetapi mematikan semua sel dalam waktu sepuluh menit pada pengenceran satu per seratus delapan puluh.J.S. tingkat pengenceran yang diambil adalah yang tidak mematikan organisme uji dalam waktu lima menit tetapi mematikan semua sel dalam waktu sepuluh menit.. maka koefisien fenol bahan disinfektan tersebut adalah seratus delapan puluh dibagi sembilan puluh atau sama dengan dua (Pelczar. Suatu contoh. dan Chan..C. .22 diperoleh dinyatakan dalam bentuk bilangan. E. 2009).

1 sebagai berikut: Limbah – Sampah Mikroorganisme air minum Badan air tercemar mikroorganisme Baku air minum Disinfektan Air minum bersih bebas kuman (Baku mutu) Desain Penelitian Hipotesis Skema 3. KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.BAB III KERANGKA BERPIKIR.1 Kerangka Berpikir Kerangka berpikir dalam penelitian ini digambarkan dalam skema 3.1 Kerangka Berpikir 23 .

mudah didapat dan efektif. 2007). B.2 Konsep Penelitian Air baku Tanpa disinfektan Disinfektan H2O2 H2O2/Fe2+ Ca(OCl)2 analisis Perbandingan efektivitas Simpulan Saran Skema 3.24 3. .2 Konsep Penelitian Tujuan klorinasi adalah untuk membunuh mikroorganisme yang mencemari air baku air minum. Tetapi dalam penerapannya ternyata bahwa bahan tersebut dapat menghasilkan senyawa yang bersifat karsinogenik yaitu jenis trihalometan (Chandra. Pertimbangan yang diambil adalah bahan kimia ini murah..

Perbandingan efektivitas masing-masing disinfektan dapat digunakan sebagai acuan untuk menentukan desinfektan mana yang paling baik digunakan dalam proses pengolahan air... 3. Bahan kimia yang dimaksud adalah hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+).25 Perlu dicari disinfektan alternatif yang lebih aman dalam hal kesehatan dan secara ekonomis tidak ada masalah jika dibandingkan dengan kaporit. Jika ada perbedaan efektivitas antar jenis disinfektan maka Ho ditolak dan H1 diterima. M. 2011). Diketahui bahwa hidrogen peroksida dalam kerjanya hanya menghasilkan air dan oksigen yang aman terhadap kesehatan lingkungan maupun manusia (Radji. Larutan ini dikenal dengan nama pereaksi Fenton (Huling et al. b. JJika tidak ada perbedaan efektivitas antar disinfektan maka Ho diterima dan H1 ditolak. Pemakaian hidrogen peroksida sering ditambah dengan besi(II) sulfat (FeSO4) untuk meningkatkan daya kerjanya.3 Hipotesis Penelitian a. 1998). .

1 Rancangan Penelitian sampel Penentuan kadar optimal disinfektan Penentuan efektivitas disinfektan data Skema 4.1 Rancangan Penelitian 4. 26 .2 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia Terapan Program Studi Kimia Terapan Program Pasca Sarjana Universitas Udayana mulai tanggal 10 Januari sampai dengan 30 Juli 2011.BAB IV METODE PENELITIAN 4.

Digital Oxygen Meter DO-5510 Lutron.a. hidrogen peroksida 30% Merck p. dan timbangan Digital Ohaus Carat Series.. besi (II) sulfat heptahidrat Merck p... 4. pencatat waktu ( stopwatch). mikro pipet.1 Penentuan kadar optimal disinfektan Penentuan kadar optimal disinfektan meliputi langkah-langkah: penyiapan media.9%. 1991). kaldu nutrisi (Nutrient Broth). tabung reaksi. .a. kemudian dilakukan uji koefisien fenol untuk mengetahui kemampuan disinfeksi masingmasing bahan (Depkes RI.a. dan spiritus. penyiapan larutan baku dan sampel uji.3 Bahan dan Alat Penelitian 4. bakteri Salmonella thyphosa dalam agar nutrisi (sebagai gram negatif) dan bakteri Staphylococcus aureus dalam agar nutrisi (sebagai gram positif) yang diperoleh dari laboratorium mikrobiologi RSU Sanglah. kawat ose.a. pHmeter pHep HI 96107 Pocket-Sized Hanna Instruments. fenol kristal Merck p.1 Bahan penelitian Bahan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini.3. labu ukur. Mc Farland III (109 kuman/mL). penyiapan inokulum. pipet volume.4 Prosedur Penelitian 4. larutan NaCl fisiologis 0. 4.4.27 4.3. kalsium hipoklorit kristal Merck p..2 Alat penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : autoclave. antara lain : akuades yang telah disterilkan. inkubator.

dan 0.25 mL buffer fosfat pH 6.1%.5 mL/tabung.2%. 0. 0.067%. . 0. Komposisi kaldu nutrisi adalah 10 g pepton.28 Media adalah tempat untuk pertumbuhan mikroorganisme.5 Mc Farland III. 5 g garam dapur (NaCl). Larutan baku yang digunakan berupa larutan fenol 5% b/v yang dibuat dengan cara melarutkan 5 g kristal fenol ke dalam akuades steril hingga volume akhir menjadi 100 mL. 1.0125%. Selanjutnya inokulum berupa biakan Salmonella thyphosa yang telah diencerkan diisikan ke dalam tabung reaksi sebanyak 0. Larutan sampel yang digunakan berupa larutan disinfektan uji yaitu kaporit. kemudian dilakukan pengenceran dengan akuades steril hingga diperoleh beberapa larutan dengan konsentrasi 0. kemudian dilakukan pengenceran dengan akuades steril hingga diperoleh beberapa larutan dengan konsentrasi 0.025%. yang berupa kaldu nutrisi (Nutrient Broth).05%.0083% dan 0. dan pereaksi Fenton (H 2O2/Fe2+) yang masingmasing memiliki konsentrasi 5% sebagai larutan induk. Larutan kaporit 5% dibuat dengan melarutkan 5 g kristal kaporit ke dalam akuades steril hingga volume akhir menjadi 100 mL.025%.2%. hidrogen peroksida.8 dan akuades sampai volume akhir 1 L. 0.00625%.1%. 0. 0. 0. 0. 5 g ekstrak daging. 0.9% hingga diperoleh kekeruhan 0. 0. Inokulum berupa biakan bakteri Salmonella thyphosa dan inokulum berupa biakan bakteri Staphylococcus aureus yang diperoleh dari laboratorium mikrobiologi RSU Sanglah masing-masing diencerkan dengan larutan NaCl fisiologis 0. Perlakuan yang sama dikenakan juga terhadap inokulum berupa biakan bakteri Staphylococcus aureus.020%.05%.033%.

5 mL ke dalam tabung reaksi yang telah diisi 0. Larutan uji hidrogen peroksida ini masing-masing dibagi menjadi 2 bagian. Larutan FeSO4 dibuat dengan cara melarutkan 5 g kristal FeSO4 ke dalam akuades steril hingga volume akhir menjadi 100 mL.05%.0125%. 0. 0. dan Tabel 4.00833%.00625%. kemudian diencerkan dengan akuades steril hingga diperoleh beberapa larutan dengan konsentrasi 0.0083%. sedangkan sebagian lagi digunakan untuk uji pereaksi Fenton dengan penambahan larutan FeSO 4 yang konsentrasinya sama tetapi volume berbanding sebagai 5 : 1. 0. Data yang diperoleh diisikan ke dalam Tabel 4.0125%.025%. dan 15 menit. dan 0.1%.1b.2%. Uji koefisien fenol dilakukan dengan menambahkan larutan hasil pengenceran sebanyak 4. Selanjutnya biakan bakteri yang telah ditambah desinfektan diinkubasi pada suhu 37 oC selama 48 jam. 0. Satu bagian digunakan untuk uji hidrogen peroksida. . Larutan FeSO4 ini harus dibuat baru.05%.2%.29 Larutan hidrogen peroksida 5% dibuat dengan memipet sebanyak 10 mL larutan hidrogen peroksida 30% dan ditambah 50 mL akuades steril .4.025%. 0.1a. 10.5 mL biakan bakteri dan masing-masing dibiarkan dalam waktu 5.1%. karena mudah teroksidasi menjadi Fe3+. 0. dan 0.4. 0.00625%. kemudian dilakukan pengenceran dengan akuades steril hingga diperoleh beberapa larutan dengan konsentrasi 0. 0. 0. 0.

Kaporit.067% d : konsentrasi 0.30 Tabel 4. Hidrogen Peroksida (H 2O2). khusus untuk fenol 0.2% b : konsentrasi 0.4.1b Daya Bunuh Larutan Fenol.025% g : konsentrasi 0. dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Berbagai Konsentrasi Terhadap Bakteri Salmonella thyphosa Kode a b c d Sampel Fenol Kaporit H2O2 H2O2/Fe2+ Waktu (menit) 5 10 15 5 10 15 5 10 15 5 10 15 Tabung e f g -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ Kontrol -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ Koef Fenol Tabel 4.0125%.020% kontrol : hanya berisi akuades steril .033% f : konsentrasi 0. khusus untuk fenol 0.4. + : keruh (ada kehidupan bakteri) : jernih (tidak ada kehidupan bakteri) a : konsentrasi 0.025%. Kaporit. Hidrogen Peroksida (H 2O2). Volume sampel dan kontrol yang ditambahkan masing-masing 4.05%.05% e : konsentrasi 0. dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Berbagai Konsentrasi Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Sampel Waktu (menit) 5 10 15 5 10 15 5 10 15 5 10 15 Kode a b c d Tabung e f g Fenol Kaporit H2O2 H2O2/Fe2+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ Kontrol -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ -/+ Koef fenol Keterangan : Masing-masing uji dilakukan sebanyak 3 kali. khusus untuk fenol 0.00625%.00833%. Inkubasi masing-masing dilakukan selama 48 jam pada suhu 37 oC. khusus untuk fenol 0.1a Daya Bunuh Larutan Fenol. khusus untuk fenol 0.1% c : konsentrasi 0.5 mL.

jumlah oksigen terlarut (DO = Dissolved Oxygen) dan suhu dengan alat Digital Oxygen Meter DO-5510 Lutron.4.2 Penentuan efektivitas disinfektan Efektivitas masing-masing disinfektan ditentukan dengan cara membandingkan daya bunuh bahan disinfektan pada pengenceran tertinggi yang mematikan bakteri pada waktu 10 menit tetapi tidak mematikan bakteri pada waktu 5 menit. suhu paling dekat dengan suhu sekitar. Hal ini dikarenakan lapisan tipis dari gelembung kaca akan berinteraksi dengan ion hidrogen yang ukurannya relatif kecil dan aktif.3 Prinsip kerja alat pHmeter Pada prinsipnya pengukuran pH dengan alat pH meter adalah didasarkan pada potensial elektro kimia yang terjadi antara larutan yang terdapat di dalam elektroda gelas yang telah diketahui dengan larutan yang terdapat di luar elektroda gelas yang tidak diketahui. dan harganya paling murah. Elektroda gelas tersebut akan mengukur potensial elektrokimia dari ion hidrogen atau diistilahkan dengan potential of hidrogen. Sebagai catatan. serta kalkulasi harga masing-masing larutan disinfektan. Untuk melengkapi sirkuit elektrik dibutuhkan suatu elektroda pembanding. Elektroda pH meter akan mengukur potensial listrik antara raksa(II) klorida (HgCl2) pada elektroda . 4. DO paling tinggi. pH paling dekat dengan 7. alat tersebut tidak mengukur arus tetapi hanya mengukur tegangan.4.31 4. Selanjutnya dilakukan penentuan pH dengan alat pHmeter pHep HI 96107 Pocket-Sized Hanna Instruments. Disinfektan yang paling efektif adalah yang memiliki daya bunuh bakteri (koefisien fenol) paling tinggi.

Secara keseluruhan elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semipermiabel terhadap oksigen. . 4. Reaksi kimia yang terjadi adalah : Katoda : Anoda : O2 + 2 H2O + 4 e2 Pb + 4 OH4 OH2 PbO + 2 H2O + 4 e- Aliran reaksi yang terjadi tergantung pada aliran oksigen di katoda.4. Oleh karena itu. 4.01 untuk mengetahui kadar optimal dan efektivitas masing-masing bahan disinfektan.4 Prinsip kerja alat DOmeter Prinsip kerja alat DO meter adalah menggunakan elektroda atau probe yang terdiri dari katoda perak (Ag) dan Anoda timbal (Pb) yang direndam dalam larutan elektrolit. Tetapi potensial antara sampel yang tidak diketahui dengan elektroda gelas dapat berubah tergantung sampelnya. Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut. perlu dilakukan kalibrasi dengan menggunakan larutan yang ekivalen lainnya untuk menetapkan nilai pH.5 Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan metode analisis varians (ANOVA) dua arah tanpa interaksi pada tingkat kesalahan 0.32 pembanding dan kalium klorida (KCl) yang merupakan larutan di dalam gelas elektroda serta potensial antara larutan dan elektroda perak.

b.b Daya Bunuh Larutan Fenol. Tabel 5f. pH. Kaporit. Tabel 5. Hidrogen Peroksida (H 2O2). Tabel 5e. Kaporit. Tabel 5. jumlah oksigen terlarut (DO). dan suhu larutan uji dalam berbagai konsentrasi serta hasil analisis variansnya disajikan dalam Tabel 5.a. Hidrogen Peroksida (H 2O2).BAB V HASIL PENELITIAN Data hasil penelitian daya bunuh.d. Tabel 5.h.c. Tabel 5. Tabel 5g dan Tabel 5. dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Beberapa Konsentrasi Terhadap Bakteri Salmonella thyphosa Kode a b c d Sampel Fenol Kaporit H2 O2 H2O2/Fe2+ Waktu (menit) 5 10 15 5 10 15 5 10 15 5 10 15 Tabung e f g - - - + - + + + - + + + + + + + - + + + + + + + + + + - Kontrol + + + + + + + + + + + + Koef fenol 400/100 =4 600/100 =6 600/100 =6 Tabel 5. dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Beberapa Konsentrasi Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Kode a b c d Sampel Fenol Kaporit H2 O2 H2O2/Fe2+ Waktu (menit) 5 10 15 5 10 15 5 10 15 5 10 15 Tabung e f g - - - + - + + + - + + + + + + + - + + + + + + + + + + - Kontrol + + + + + + + + + + + + Koef Fenol 400/100 =4 600/100 =6 600/100 =6 33 .a Daya Bunuh Larutan Fenol.

5 8.0 7.57 kontrol 7.2138 Fhit<Ftab Fhit = KTB/KTG =85. Hidrogen Peroksida (H2O2) dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Beberapa Konsentrasi Ulangan a b c Kode d Tabung e f g Kaporit H2 O2 H2O2/Fe2+ 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 11.0 7.53 5.2% b : konsentrasi 0.97 10.0373/2 = 41.6 5.0 7.6256 F tabel α= 0.05%. khusus untuk fenol 0.8 10.rata Kolom Jumlah Kuadrat (JK) JKK = 0.9 7.9 8.2 5.7 7.5 5.8 4.03 9.93 Rata-rata Baris JKB = 83.0 5.82 α= 0.025% g : konsentrasi 0.5165 Total dbdenum =6x2 = 12 (r.5 10.0 7.1 9.6 4.34 Keterangan : Masing-masing uji dilakukan sebanyak 3 kali.8 5.c Sampel Hasil Pengukuran pH Larutan Kaporit.7 4.00833%. Inkubasi masing-masing dilakukan selama 48 jam pada suhu 37 oC.7 9.k)-1 = (7x3)-1 = 20 KTG = JKG/(r-1)(k-1) = 5.8 10.0 5.0 9. + : keruh (ada kehidupan bakteri) : jernih (tidak ada kehidupan bakteri) a : konsentrasi 0.0 7.7 5.0 7.67 5.4 10.01 db1= 6 dbdenum= 12 Ftab= 4.3 7. khusus untuk fenol 0.97 5.8 9.1 10.03 4.3 7.0 10.7 5.5 5.8536 JKT =89.033% f : konsentrasi 0.0 6.77 8.27 9.5 mL.07 8.d Hasil Analisis Varians (ANOVA) Dua Arah Tanpa Interaksi Pengaruh Konsentrasi (Kolom) dan Jenis Disinfektan (Baris) Terhadap pH Derajat Bebas (db) dbnum 1 = 7-1= 6 Kuadrat Tengah (KT) KTK = JKK/(r-1) = 0.33 5.8536/12 =0.8 9.1 5.2 8.0373 dbnum 2 = 3 –1= 2 KTB = JKB/(k-1) =83.0 Tabel 5.0 7.1 10.025%.4 7.0125%.43 8.0 10.4878 .5 9.0 7.3 8.2 5.0 7.0 5.4 5.1 9.020% kontrol : hanya berisi akuades steril Tabel 5.9 6.53 10.1% c : konsentrasi 0.9 11.6 4.8 8.73 10.23 5.47 8.0 9.0 10. khusus untuk fenol 0. Volume sampel dan kontrol yang ditambahkan masing-masing 4.5 8.83 4.1043 F hitung Fhit = KTK/KTG =0.97 7.2 9.6 7.4 10.3 9.4 9. khusus untuk fenol 0.77 9.5186 Galat JKG = 5.0 7.6 8.11398 Fhit>Ftab Sumber Keragaman (SK) Rata.8 4.6256/6 = 0.5 4. khusus untuk fenol 0.01 db2=2 dbdenum=12 Ftab= 6.20 9.6 7.77 7.1 7.2 8.5 9.7 10.067% d : konsentrasi 0.00625%.0 7.9 7.05% e : konsentrasi 0.8 8.

3 7.4 28.e Hasil Pengukuran DO (mg/L) Larutan Kaporit.7 7.3 28.3 8.93 7.2 28.01 db2=2 dbdenum=12 Ftab= 6.4 28.2 8.k)-1 = (7x3)-1 = 20 Galat JKG =0.3 8.g Hasil Pengukuran Suhu (oC) Larutan Kaporit.1 28.9 7.8 7.3 8.2 7.3 28.4 8.8 6.9 6.13 28.3 28.47 7.4 7.0316 Rata-rata Baris JKK = 4.2 28.3 28.7 6.0 6.2 28.35 Tabel 5.17 28.33885 F hitung Fhit = KTK/KTG = 15.9 8.6777 dbnum 2 =3–1 =2 dbdenum =6x2 = 12 (r.27 28.4 28.3 28.63 7.1 28.30 28.8 7.57 kontrol 7.1 8.0 28.67 8.1 28.6 7.2 8.1 7.9 6.2 28.1 28.27 28.37 28.01 db1= 6 dbdenum= 12 Ftab= 4.8 7.6 8.93 Sumber Keragaman (SK) Rata.4 28.82 α= 0.5 28.3 7.87 8.13 28.9 6.4 8.4 28.5 8.4 28.43 8.6 6.7 7.8 7.9 6.2 28.4 7.f Hasil Analisis Varians (ANOVA) Dua Arah Tanpa Interaksi Pengaruh Konsentrasi (Kolom) dan Jenis Disinfektan (Baris) Terhadap DO Derajat Bebas (db) dbnum 1 = 7-1= 6 Kuadrat Tengah (KT) KTK = JKK/(r-1) =1.3 28.8 7.3 28.3 28.1 28.1 8.4 28.1 8.5 28.0 28.1 8.0 28.1 28.8 7.2 8.20 28.27 7.4 28.2 28.5 28.33 28.0316 /6 = 0.5 8.00 8.3 28.0 28.6 28.07 kontrol 28.7 7.1 28.6777/2 = 2.9 8.6 8. Hidrogen Peroksida (H2O2) dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Beberapa Konsentrasi.8 7.1 28.2 8.5 7.20 7.70 7.1 28. Hidrogen Peroksida (H2O2) dan Pereaksi Fenton (H2O2/Fe2+) Dalam Beberapa Konsentrasi.6 28.3 28.70 7.8 7.5 7.8 7.2 28.1 28.1357 KTG = JKG/(r-1)(k-1) =0.3 28.2 28.1 28.5 8.87 7.8 7.00 8.5 28.4 28.47 28.9779 Fhit>Ftab F tabel α= 0.1 28.33 Tabung e f g Kaporit H2O2 H2O2/Fe2+ 28.1 .1 28.4 8.6 7.4 28.5 28.0113 Total JKT =5.6 7.1 28.2 8.8 7.13 28.3 28.1 28.03 28.7 7.3 8.2 28.3 28.23 28.1 28.8 7.40 6.2 7.8 7.5 7.1 8.50 28.20 8.2124 Fhit>Ftab Fhit = KTB/KTG =206.50 28.1 28.3 28.20 28.1 8.1 28.2 8.0 7.10 28.9 8.40 8.1357 /12 = 0.9 7.1 28.8 7.1 28.2 28.0 8.2 28. Kode a b c d Sampel Ulangan 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 28.00 7.3 7.17 8.rata Kolom Jumlah Kuadrat (JK) JKB = 1.6 6.1 28.8 Tabel 5.1 28.1 28.37 28.1 28.4 28.8449 Tabel 5.3 28.23 7. Ulangan a b c Sampel Kode d Tabung e f g Kaporit H2 O2 H2O2/Fe2+ 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 1 2 3 Rata-rata 6.43 28.17 7.0 8.1719 KTB = JKB/(k-1) =4.2 7.6 28.1 28.

k)-1 = (7x3)-1 = 20 Galat JKG =0.0036 Derajat Bebas (db) dbnum 1 = 7-1= 6 Kuadrat Tengah (KT) KTK = JKK/(r-1) = 0.4168/2 = 0.0006 KTB= JKB/((k-1) =0.2084 KTG = JKG/(r-1)(k-1) =0.5556 Fhit>Ftab F tabel α= 0.93 Sumber Keragaman (SK) Rata.h Hasil Analisis Varians (ANOVA) Dua Arah Tanpa Interaksi Pengaruh Konsentrasi (Kolom) dan Jenis Disinfektan (Baris) Terhadap Suhu Jumlah Kuadrat (JK) JKK = 0.0036 /6 = 0.4315 .36 Tabel 5.0111 /12 = 0.01 db1= 6 dbdenum= 12 Ftab= 4.0111 Total JKT = 0.01 db2=2 dbdenum=12 Ftab= 6.82 α= 0.6667 Fhit<Ftab Fhit = KTB/KTG =231.rata Kolom Rata-rata Baris JKB = 0.0009 F hitung Fhit = KTK/KTG = 0.4168 dbnum 2 =3–1 =2 dbdenum =6x2 = 12 (r.

untuk hidrogen peroksida = + 1.82) antar kolom (konsentrasi disinfektan).BAB VI PEMBAHASAN Berdasarkan data hasil penelitian daya bunuh disinfektan uji terhadap bakteri uji (Salmonella thyphosa dan Staphylococcus aureus) dibandingkan larutan fenol. 2000).2138) lebih kecil daripada F tabel (= 4. 37 . Berdasarkan data hasil penelitian dan analisis varians (ANOVA) dua arah tanpa interaksi untuk pengaruh jenis dan konsentrasi disinfektan terhadap pH menunjukkan harga F hitung (=0. hidrogen peroksida dan pereaksi fenton 6 kali lebih kuat daripada fenol. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi terhadap pH larutan tidak memberikan beda yang bermakna.93). kaporit 4 kali lebih kuat daripada fenol.. sedangkan jenis disinfektan memberikan beda yang bermakna. Sedangkan hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton memiliki nilai yang sama diduga ion Fe2+ hanya berfungsi mempercepat penguraian hidrogen peroksida tanpa mempengaruhi daya oksidasi hidrogen peroksida.51 volt. sedangkan antar baris (jenis disinfektan) Fhitung (=85.78 volt (Dickson.G. Hal ini diduga karena daya oksidasi kaporit lebih rendah daripada kedua disinfektan yang lain. sesuai dengan data potensial elektroda standar (Eo) untuk kaporit = +1.11398) lebih besar daripada F tabel (= 6.

Dalam air kaporit [Ca(OCl)2] mengalami hidrolisis membentuk senyawa Ca(OH)2 yang merupakan basa kuat dan HOCl yang merupakan asam lemah.3 (Brooks G. F. dan H+.07).5 – 8. sehingga perbandingan ion OH .38 Larutan kaporit memiliki pH paling besar ( pH: 9.5 (Depkes RI.5. Bakteri uji Salmonella thyphosa tumbuh dengan baik pada pH 4. sedangkan pH hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton di sekitar pH pertumbuhan bakteri uji. sehingga larutan bersifat asam karena perbandingan ion H+ lebih besar daripada ion OH -.9. 2001). et. maka hidrogen peroksida merupakan desinfektan paling efektif. dan pereaksi Fenton memiliki pH paling kecil (pH: 4.2 . Jika dilihat dari data hasil penelitian seharusnya kaporit mempunyai daya bunuh lebih kuat daripada hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton karena pH kaporit di atas pH pertumbuhan bakteri uji. Ca(OH) 2 segera terurai membentuk ion Ca2+ dan ion OH-.lebih besar daripada ion H+ yang menyebabkan larutan bersifat basa. Begitu pula yang terjadi pada pereaksi Fenton sebagaimana yang tertera pada Bab 2 juga menghasilkan ion H+. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah pH.0 sedangkan Staphylococcus aureus tumbuh dengan baik pada pH 4.33 .57 .97).5 – 8.2 – 9. Hal ini diduga karena pengaruh daya oksidasi yang lebih kuat daripada pengaruh pH. yaitu 6. larutan hidrogen peroksida memiliki pH paling dekat pH netral (pH: 7.. . 2002). Meskipun begitu persyaratan air minum tentang pH air harus menjadi pertimbangan.al.03). Hidrogen peroksida dalam larutan diduga terurai menjadi HO2.10.

2124 untuk antar kolom dan 206. + H2O H2O + 2 On . Harga F hitung adalah 15. sehingga makin kuat daya oksidasi makin banyak pula oksigen yang terserap oleh air.9779 untuk antar baris. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi dan jenis desinfektan memberikan beda yang bermakna terhadap DO. Hal ini diduga karena daya oksidasi kaporit lebih rendah dibandingkan hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton.82 untuk antar kolom dan 6.+ O Reaksi peruraian hidrogen peroksida (Kirk and Othmer. dkk. Dalam reaksi oksidasi ini terjadi pelepasan oksigen.39 Berdasarkan data hasil penelitian dan analisis varians (ANOVA) dua arah tanpa interaksi untuk pengaruh jenis dan konsentrasi disinfektan terhadap jumlah oksigen terlarut (DO) diperoleh harga F hitung lebih besar daripada F tabel baik antar kolom (konsentrasi disinfektan) maupun antar baris (jenis disinfektan). 2008): Ca(OCl)2 + H2O HOCl + H2O OClCa(OH)2 + HOCl H3O+ + OClCl.93 untuk antar baris. Sebagai akibatnya jumlah oksigen yang terlarut juga makin tinggi. Reaksi pengurain kaporit ( Lestari. 2 OH. + OH. 1992) : H2O2 H2O2 + OH. OOH. Sedangkan harga F tabel 4. OOH.

dan harga hidrogen peroksida 30% Rp.82) untuk antar kolom (konsentrasi disinfektan).21. sedangkan F hitung (= 0. Jika dibandingkan dengan larutan kontrol.47 oC. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh jenis disinfektan memberikan beda yang bermakna terhadap suhu larutan.07 – 28. pengaruh ketiga disinfektan uji terhadap suhu tidak lebih dari 3 oC.93) untuk antar baris (jenis disinfektan)..35..5556) lebih besar daripada F tabel (= 6. bahwa harga kaporit Rp.40 Reaksi penguraian perekasi Fenton (Huling et al.+ Fe3+ ·OH + kontaminan ·OH + H2O2 Fe3+ + ·OH + OHFe2+ + ·O2. 2001) : H2O2 + Fe2+ H2O2 + Fe3+ ·O2. larutan hidrogen peroksida 28. 1998.13 – 28.50 oC.000.+ 2 H+ Fe2+ + O2(g) + 2 H+ hasil samping ·HO2 + H2O Berdasarkan data hasil penelitian dan analisis varians (ANOVA) dua arah tanpa interaksi untuk pengaruh jenis dan konsentrasi disinfektan terhadap suhu menghasilkan harga F hitung (=231. Suhu larutan kaporit 28. Jika .50 oC. Berdasarkan data harga disinfektan di pasaran.per kg. Larutan hidrogen peroksida memberikan pengaruh paling rendah.10 oC. dan larutan pereaksi Fenton 28.per liter..000.6667) lebih kecil daripada F tabel (= 4. Larutan kaporit memberikan pengaruh suhu paling tinggi. sedangkan larutan kontrol 28. 2000.03 – 28. sedangkan konsentrasi disinfektan tidak memberikan beda yang bermakna. maka masih memenuhi syarat.

833. sedangkan hidrogen peroksida tidak menghasilkan ion atau senyawa yang tidak dikehendaki..375.00833%. maka diperoleh : Kaporit (100%) membunuh pada konsentrasi 0.0125%.35. maka hidrogen peroksida merupakan desinfektan yang paling efektif dari kaporit dan pereaksi Fenton.000. Hidrogen peroksida (30%) membunuh pada konsentrasi 0. . maka nilai ekonomisnya: 0.5.4.21..41 nilai ini dikalikan konsentrasi disinfektan yang membunuh bakteri pada waktu kontak 10 menit tapi tidak membunuh pada waktu 5 menit.00833% x Rp.0125% x Rp.000. maka nilai ekonomisnya : 0. dimana ion Ca2+ dan ion Fe3+ merupakan ion-ion yang seharusnya dihilangkan dalam air minum.: 30% = Rp. Secara ekonomis kaporit lebih murah dibandingkan hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton. Berdasarkan reaksi penguraiannya kaporit menghasilkan ion Ca 2+ dan pereaksi Fenton menghasilkan ion Fe3+.: 100% = Rp.

suhu dekat dengan suhu sekitar. 42 . karena memiliki daya bunuh paling kuat . 7. DO tinggi. b. dan tidak meninggalkan residu yang membahayakan.2 Saran Saran-saran yang perlu diberikan adalah : a. sedangkan untuk hidrogen peroksida dan pereaksi Fenton 0.BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7.8333%. daya oksidasinya dapat mereduksi pengaruh pH.0125%. sehingga efektif dan efisien. Hidrogen peroksida merupakan disinfektan yang paling efektif daripada kaporit maupun pereaksi Fenton.1 Simpulan Berdasarkan data dan analisis data yang telah diperoleh dapat diambil simpulan : a. Kadar optimal masing-masing disinfektan yang membunuh bakteri Salmonella thyphosa maupun Staphylococcus aureus pada waktu kontak 10 menit untuk kaporit 0. pH paling memenuhi syarat. Perlu pertimbangan konsentrasi yang tepat dalam penggunaan disinfektan.

c. Penelitian terhadap sisa bahan aktif disinfektan perlu dilakukan agar diperoleh disinfektan yang benar-benar aman bagi kesehatan. karena mempengaruhi efisiensi disinfektan tersebut. Perlu dilakukan penelitian terhadap berbagai bakteri gram positif dan negatif. virus.43 b. d. endospora maupun sel-sel vegetatif. Kelarutan bahan disinfektan dalam air perlu diperhatikan. e. . Perlu penelitian lebih lanjut secara in vivo pengaruh disinfektan terhadap lingkungan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->