P. 1
Antisipasi Konflik Pasca Pemilu

Antisipasi Konflik Pasca Pemilu

4.0

|Views: 77|Likes:

More info:

Published by: Adi Surya (Ucox Unpad) on Aug 07, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/24/2010

pdf

text

original

Antisipasi Konflik Pasca Pemilu

Oleh : Adi Surya Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumedang Mahasiswa FISIP Unpad

Pemilu adalah momen penting untuk menjaring para wakil rakyat dan presiden serta wakilnya yang memperoleh mandat dan kepercayaan rakyat karena pertimbangan integritas dan kompetensinya (Komarudin Hidayat,2006). Pemilu juga dianggap sebagai sarana untuk melakukan perubahan sosial melalui jalan konsitusional. Dalam Selo Soemarjdan(1962),perubahan sosial diartikan sebagai perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat,yang mempengaruhi sistem sosialnya,termasuk di dalamnya nilainilai,sikap dan pola perilaku di antara kelompok masyarakat.Artinya,pemilu adalah harapan dan corong bagi sebuah perubahan yang lebih baik. Pemilu kali ini bahkan dikatakan sebagai pemilu paling buruk

penyelenggaraanya dalam sepanjang sejarah.Inilah yang menyebabkan pemilu dikatakan sebagai angin segar yang menggelisahkan.Pertama,KPU yang notabene adalah penyelenggara tidak mampu mengelola dan menjalankan tugasnya dengan maksimal. Ini dibuktikan mulai dari ketidakberesan persoalan logistik, payung hukum, pertukaran surat suara,DPT yang amburadul,sosialisasi yang kurang dan persoalan-persoalan teknis operasional lainnya.Kasus yang paling hangat adalah banyaknya orang (rakyat) yang dipaksa untuk golput karena tidak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Padahal dalam demokrasi,satu suara yang tidak terjaring akan mencederai kedaulatan rakyat.

Kedua,tingginya angka golput yang mencapai 40 persen.Tingginya angka golput ini sebenarnya mencerminkan dua hal yakni ketidakberesan pemerintah (KPU) dalam mengurus administrasi pemilih juga sebagai cermin tingginya ketidakpercayaan rakyat kepada wakil rakyat. Selama ini,rakyat hanya menjadi korban demokrasi yang teraniaya.Ketiga, dana pemilu sebagai uang rakyat terbuang percuma demi sebuah pemilu yang kurang berkualitas. Tudingan kecurangan mulai menjadi isu hangat yang bergulir di ruang publik. Jika tidak diantisipasi,bukan tidak mungkin akan terjadi konflik horizontal maupun vertikal.Ada dua hal yang bsa dipakai dalam mengantisipasi konflik pemilu.Pertama jalur formal,yakni melalui peraturan yang berlaku.Penyelesaian sengketa pemilu bisa melalui Mahkamah Konstitusi dimana terjadi konflik antara peserta pemilu (parpol) dengan KPU. Berbeda halnya dengan konflik calon dengan dengan calon lainnya dimana yang menjadi subjek adalah personal sehingga masuk dalam ranah pengadilan umum.Kedua,jalur informal,yakni menggunakan cara-cara berdiplomasi dan komunikasi dengan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh atau kekuatan di masyarakat.Semisal,berkomunikasi dengan tokohtokoh parpol untuk menginstruksikan anggota dan konstituen (grass root) tidak anarkis.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->