HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA

(Lanjutan : Pendahuluan)
Asas-asas Hukum Acara Peradilan Agama A.1. Asas Umum Lembaga Peradilan Agama 1) Asas Bebas Merdeka Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia. Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo. Pasal 1 Undangundang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertia n di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya, dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisial kecuali dalam hal yang diizinkan undang-undang.” 2) Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. 3) Asas Ketuhanan Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam, sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimatBasmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa.” 4) Asas Fleksibelitas Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Untuk itu, pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut. Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas, mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran. Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim, maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum.

5)

6)

Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis, rinci dan transparan, serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan. Asas Non Ekstra Yudisial Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana. Asas Legalitas Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. Asas ini diatur dalam pasal 3 (2), pasal 5 (2), pasl 6 (1) UU No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Pasal 2 UU No.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang, sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan. Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum, mulai dari tindakan pemanggilan, penyitan, pemeriksaan di persidangan, putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan, semuanya harus berdasar atas hukum. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim, tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum.

A.2. Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Ke-islaman Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama, hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama. Ketentuan yang melekat pada UU No. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah : a) Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam. b) Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqoh, dan ekonomi syari’ah. c) Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam, oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Khusus mengenai perkara perceraian, yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam, apabila terjadi sengketa perkawinan, perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama, walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad), baik dari pihak suami atau isteri, tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan, artinya, setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung, bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa.

3)

4)

5)

6)

Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum, artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. Jika seseorang mengaku beragama Islam, pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. Faktanya dapat ditemukan dari KTP, sensus kependudukan dan surat keterangan lain. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum, ditentukan oleh dua syarat : Pertama, pada saat terjadinya hubungan hukum, kedua pihak sama-sama beragama Islam, dan Kedua, hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam, oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. 2) Asas Ishlah (Upaya perdamaian) Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo. Pasal 31 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tentang perkawinan jo. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Pasal 115 KHI, jo. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. Karena itu, tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”, sebab bagaimanapun adil nya suatu putusan, pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian. Asas Terbuka Untuk Umum Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradila Agama jo. Pasal 19 (3 dan 4) UU No. 4 Tahun 2004. Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum, kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama). Asas Equality Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya, sehingga tidak ada perbedaan yang bersi fat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah : a. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”. b. Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law” c. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”. Asas “Aktif” memberi bantuan Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis, hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. Asas Upaya Hukum Banding

B. yang memuat tuntutan hak yang hak yang didalamnya mengandung sengketa dan sekaligus landasan pemeriksaan perkara dan pembuktian kebenaran. Bersifat partai. Tidak dilakukan secara sepihak 5. apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang. C.7) 8) 9) Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Asas Upaya Hukum Kasasi Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan. Ciri-Ciri Gugatan : 1. Terjadi sengketa antara para pihak 3. Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Pemeriksaan harus dilakukan secara kontradiktor dari awal sampai dengan putusan. kecuali undang-undang menentukan lain. Syarat Formil Gugatan . memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili RESUME HUKUM ACARA PENGADILAN AGAMA I GUGATAN DAN PERMOHONAN A. Mengandung sengketa 2. Surat Gugatan : Surat yang diajukan oleh penggugat pada ketua pengadilan agama yang berwenang. pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali. kecuali Undang-undang menentukan lain. satu pihak sebagai penggugat dan yang lain sebagai tergugat 4. artinya memberikan hak dan kesempatan pada tergugat untuk membantah dalil penggugat.

Harus dibuat dan ditanda tangani sendiri oleh penggugat atau kuasa hukumnya D. Obyektif: Gabungan beberapa tuntutan terhadap beberapa peristiwa hukum dalam suatu gugatan G. Harus memuat fakta kejadian 5. Harus diajukan pada pengadilan agama yang berwenang 2. Harus mempunyai dasar hokum 6. Gugatan harus berisi alas an yang dibenarkan oleh hokum 2. Terdapat gugatan yang erat antara gugatan satu dengan yang lain b. Jika syarat formil dan materiil belum lengkap. Ishbat nikah b. Subyektif: Gabungan beberapa penggugat atau tergugat dalam suatu gugatan. Misal: Ahli waris. Gabungan Gugatan (kumulasi) 1. Kumulasi: a.1. Harus memuat tuntutan tuntutan secara rinci 7. Ciri-cirinya : . Syarat Materiil Gugatan 1. Penggugat harus memiliki hubungan dan kepentingan hokum dengan pokok gugatan 4. Memuat identitas penggugat dan tergugat 3. Permohonan : Suatu permohonan yang berisi tuntutanhak perdata oleh suatu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa H. Syaratnya: a. maka hakim harus memberikan petunjuk E. Terdapat hubugan hukum F.

Syarat Materiil : Harus ada alasan yang dibenarkan oleh hukum Hakim harus member petunjuk jika belum memenuhi syarat formil dan materiil MEKANISME PERSIDANGAN 1. diserahkan pada meja 1 untuk didaftar 2. Bagi yang menggunakan advokad maka surat kuasa dilengkapi dengan surat kuasa dengan surat kuasa khusus yang dilegalisir 3. Gugatan antara permohonan disampaikan pada ketua pengadilan. Membayar biaya perkara —> Pasal 12i HIR ayat 4 Yang merupakan syarat imperative (memaksa) atas pendaftaran perkara 4. umur.Bersifat kepentingan sepihak Tidak ada sengketa dengan pihak lain Tidak ada pihak ke-3 sebagai lawan I. Syarat Formil : Identitas permohonan meliputi nama. Setelah berkas diterima ketua pengadilan agama maka ketua pengadilan agama membuat penetapan majelis hakim (PMH) untuk menyidang perkara lalu majelis hakim membuat penetapan hari siding . domisili Fatwa peristiwa Fatwa hukum Tuntutan Hubungan yang relevan antara posita dan petitum Ditanda tangani pemohon atau orang yang diberi kuasa J.

Pembuktian : Upaya yang dilakukan para pihak dalam berperkara untuk menguatkan dan membuktikan dalil-dalil yang diajukan agar dapat meyakinkan hakim yang memeriksa perkara B. Isi surat : Nama yang dipanggil Hari. Alat bukti : Segala sesuatu yang menurut undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan . Menunggu surat panggilan siding oleh jurusita pengganti 6. Bukti : Segala sesuatu yang dapat meyakinkan akan kebenaran suatu dalil atau pendirian C. Menghadiri sidang sesuai jadwal PEMANGGILAN 1. Panggilan sidang : Menyampaikan secara resmi dan patut pada pihak-pihak yang terlibat dalam perkara agar memenuhi dan melaksanakan hal-hal yang diminta dan diperintahkan pengadilan Panggilan sidang sah : jika dilakukan oleh jurusita atau jurusita pengganti yang telah disumpah untuk jabatannya Resmi : jika surat itu disampaikan secara tertulis oleh jurusita atau jurusita pengganti dalam wilayah hukum pengadilan yang bersangkutan Patut : Setidaknya 3 hari kerja sebelum hari persidangan 2.5. jam dan tempat sidang Membawa saksi-saksi Membawa surat-surat yang digunakan Penegasan dapat menjawab gugatan dengan surat 11 PEMBUKTIAN A.

Batas minimal Suatu jumlah alat bukti yang sah paling sedikit harus terpenuhi agar alat bukti tersebut mempunyai nilai alat bukti pembuktian untuk mendukung kebenaran yang didalilkan. Pembagian menurut sifat . saksi dan persangkaan H. Macam-macam Alat bukti: Alat bukti tertulis Saksi Persangkaan Pengakuan Sumpah E. disangka atau dibantah oleh lawan Peristiwa-peristiwa atau kejadian yang berkaitan adanya atau menimbulkan suatu hak F. I. Bukti surat : bukti berupa tulisan yang berisi tentang suatu peristiwa keadaan atau hal-hal tertentu. . dibenarkan oleh pihak lawan Segala sesuatu yang dilihat oleh hakim Segala sesuatu yang merupakan kebenaran yang bersifat umum G. Hal-hal yang tidak perlu dibuktikan : Segala sesuatu yang diakui.D. Berasal dari diri para pihak : pengakuan dan sumpah Berasal dari luar pihak : surat. Hal-hal yang perlu dibuktikan : Segala sesuatu yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak Segala sesuatu yang didalilkan.

B. sehingga penggugat akan meminta pada majelis hakim agar dikabulkan sebaliknya penggugat ditolak. apakah terbukti atau tidak. Dasar hukum musyawarah : Pasal 178 HIR/189 RBG .1. Manfaat bagi penggugat : Para pihak dapat menganalisis dalil-dalil tambahan-tambahannya melaui pembuktian yang didapatkan selama persidangan sehingga dapat kesimpulan. Dasar hukum kesimpulan : Kesimpulan para pihak diatur dalam pasal 28 (yurisprudensi) karena tidak diatur maka hukum boleh mengajukan atau tidak (bebas). F. Tujuan diadakan musyawarah : Untuk menyamakan persepsi agar terhadap perkara yang sedang diadili itu dapt dijatuhkan putusan yang seadil-adilnya. Musyawarah hakim : Suatu sikap yang terdapat yang diambil oleh majelis hakim yang menyidangkan suatu perkara masing-masing mengemukakan pendapat hukumnya atau alasannya yang dilakukan secara rahasia dan tertutup sebelum hakim mengucapkan keputusannya. C. Kesimpulan adalah : Suatu ringkasan yang dibuat oleh pihak yang berperkara yang tanpa ihtiar suatu gugatan baik jawaban atau bantahan yang dibuat dengan bukti-bukti di persidangan dan berisi suatu permintaan atas suatu gugatan atau bantahan atau jawaban agar majelis akhir mengabulkan gugatan penggugat dan atau menolaknya. sesuai ketentuan hukum yang berlaku. D. Macam-macamnya: Surat biasa : Surat yang dibuat dengan maksud tidak dijadikan alat bukti. surat yang tidak disengaja dijadikan bukti dan tidak dibuat secara formal Akta otentik : Akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang dan mempunyai nilai pembuktian yang sempurna sepanjang tidak dibuktikan lain Akta dibawah tangan : Akta yang dibuat oleh pejabat yang berwenang dengan kekuatan nilai pembuktian yang sempurna apabila isi dan tanda tangan diakui oleh para pihak KESIMPULAN MUSYAWARAH SIDANG A. E.

. 2. Jika tidak ada kesepakatan dilakukan voting dan pendapat yang kalah merupakan dissenting opinion. maksudnya apa yang dihasilkan dalam rapat majelis hakim tersebut hanya diketahui oleh majelis hakim yang memeriksa perkara sampai putusan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. Majelis menyepakati pendapat ulama yang memenuhi ketentuan hukum yang berlaku dan memenuhi rasa keadilan serta serta asas manfaat. 5.Pasal 14. 3. 51 dan 53 UU No. Ketua majelis hakim mempersilahkan kepada hakim yang lebih senior dan hakim senior anggota 1 untuk menyampaikan pendapatnya berupa fakta-fakta yang sudah terbukti dan tidak terbukti dasar hukum apa yang disampaikan dan pertimbangan keadilan dan kemanfaatan hukum secara tertulis. 48/2009 G. Dasar hukum dissenting opinion : Pasal 14 ayat (3) UU No. Pendapat para hakim anggota dan ketua majelis dicatat dalam ikhtisar musyawarah yang ditanda tangani oleh ketua majelis dan panitera sidang dilampirkan dalam berita acara persidangan terakhir. 4. Langkah-langkah/ teknis musyawarah majelis : 1.48/2009 Tata cara memuat dissenting opinion dalam putusan : Pendapat hakim yang berbeda dimuat dalam pertimbangan hakim setelah pertimbanagan hakim lainnya yang menjadi dasar putusan dengan menyebutkan nama hakim yang berbeda pendapat tersebut Subtansi dan teknik musyawarah majelis : Musyawarah majelis hakim dilaksanakan secara rahasia. Jika tiga hakim majelis berbeda pendapat maka yang digunakan adalah pendapat ketua majelis.

7 tersebut mengandung beberapa kelemahan. UU Peadilan Umum No. yaitu UU No. 2 Tahun 1986 dan UU Peradilan Tata Usaha Negara No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. jauh sejak zaman penjajahan Belanda. juga merupakan hukum yang sebagaian besar dianut oleh Bangsa Indonesia. Memberikan hak hidup kepada hukum Islam sama artinya dengan memberikan peluang hidup terhadap hukum bangsa Indonesia. 7 tersebut dibandingkan dengan landasan lain bagi Peradilan Umum. 5 Tahun 1986. dan tidak pula seragam. putusannya ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela. tetapi hingga diundangkannya UU No. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. terdapat hak opsi dalam penyelesaian perkara waris bagi orang-orang yang beragama Islam di . Pada tanggal 29 Desember 1989. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989. dengan lahirnya UU No. Namun kini Peradilan Agama telah mempunyai UU tersendiri. Selama itu hingga sekarang. PTUN dan lainnya. Memang agak terlambat lahirnya UU No. Kekuasaannya kadangkala berbenturan dengan Peradilan Umum karena memang disengaja dibuat tidak jelas oleh Pemerintah Jajahan. tentang Peradilan Agama di Pulau Jawa – Madura. Peradilan Agama berjalan. Undang-undang tersebut merupakan rangkaian dari undangundang yang mengatur kedudukan dan kekuasaan Peradilan di negara RI. melainkan tersebar dalam berbagai peraturan perundangundangan yang tidak merupakan kesatuan. UU tersebut melengkapi UU Mahkamag Agung No.ASAS DAN SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA ASAS DAN SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA BAB I PENDAHULUAN A. UU No. 14 Tahun 1985. kedudukan dan kekuasaan Pengadilan Agama setara dengan Lembaga Pengadilan lainnya. Diantaranya. sebab Pemerintah Jajahan sejak semula memang sangat khawatir terhadap hukum Islam lantaran hukum islam itu. yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl. disamping bertentangan dengan agama mereka. tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai Hari Jadinya. Peradilan Agama telah ada sejak abad ke-16. Namun demikian. LATAR BELAKANG Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan “Peradilan Agama” telah ada di berbagai tempat di Nusantara. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul “Seabad Peradilan Agama di Indonesia”. Yang patut disayangkan. Bahkan menurut pakar Sejarah Peradilan. Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri tentang susunan. kekuasaan dan acara. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.1882152. Selain itu. disahkan dan diundangkan UU No.

dalam perkara-perkara perdata Islam tertentu. Dua Peradilan Khusus lainnya adalah Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara. 7 tentang Peradilan Agama di Indonesia. Menurut pasal 2 UU No. maka lahirlah UU No. dan Peradilan Tata Usaha Negara. Peradilan Agama adalah Peradilan Islam di Indonesia.Pengadilan Agama atau di Pengadilan Negeri. Untuk mengetahui asas-asas yang terdapat dalam hukum acara Peradilan agama di Indonesia 2. Apakah asas-asas yang terdapat dalam Hukum Acara Peradilan Agama ? 2. BAB II TINJAUAN UMUM PENGERTIAN HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA Sebelum membahas perihal pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Peradilan Militer. sebab dari jenis-jenis perkara yang ia boleh mengadilinya. Peradilan Agama adalah salah satu diantara tiga Peradilan Khusus di Indonesia. Peradilan Agama adalah sebutan (titelateur) resmi bagi salah satu diantara empat lingkungan Peradilan Negara atau Kekuasaan Kehakiman yang resmi dan sah di Indonesia. B. akan dikemukanan terlebih dahulu tentang pengertian Peradilan Agama dan Peradilan Islam. Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah : 1. Dikatakan peradilan khusus karena Peradilan Agama mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongn rakyat tertentu. Peradilan Agama hanya berwenang di bidang perdata tertentu saja. Dengan adanya desakan dan masukan dari praktisi hukum maupun masyarakat yang beragama Islam. TUJUAN PENULISAN Setiap pembahasan pasti memiliki tujuan tertentu karena dengan adanya tujuan yang jelas maka akan memberikan arah yang jelas pula untuk mencapai tujuan tersebut. Untuk mengetahui sumber hukum Acara Peradilan Agama di Indonesia. tidak pidana dan pula tidak hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia. seluruhnya adalah jenis perkara menurut agama Islam. Dengan adanya UU ini Peradilan Agama akan lebih mantap dalam menjalankan fungsinya. 3 Tahun 2006 bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaku . 3 Tahun 2006 yang merevisi dan melengkapi UU No. Dalam hal ini. Peradilan Agama adalah Peradilan Islam limitatif yang telah disesuaikan (dimutatis mutandiskan) dengan keadaan di Indonesia. Pengadilan Agama tidak berwenang menangani sengketa hak milik dan sebagainya. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas. tidak mencakup seluruh perkara perdata Islam. Apakah sumber hukum Acara Peradilan Agama ? C. Tiga lingkungan Peradilan Negara lainnya adalah Peradilan Umum.

3 tahun 2006 adalah “ Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini ”. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. jadi ia harus mengindahkan peraturan perundang-undangan Negara dan syariat Islam sekaligus. maka rumusan tersebut juga ikut berubah. Untuk menghindari kekeliruan pemahaman. bukan hanya untuk suatu bangsa atau untuk suatu Negara tertentu saja. memutus dan menyelesaikan perkara perdata tertentu bagi orang yang beragama Islam sebagaimana yang dirumuskan dalam pasal 2 UU No. Pengadilan Agama merupakan salah satu kekuasaan kehakiman yang bertugas dan berwenang memeriksa. dimaksudkan adalah Peradilan Islam secara universal. Dalam definisi PENGADILAN AGAMA tersebut kata “Perdata” dihapus. Perkawinan . 7 tahun 1989 diperbaharui dengan UU No. memutus. apabila yang dimaksudkan adalah “Peradilan Islam di Indonesia” maka cukup digunakan istilah “Peradilan Agama”. hal ini karena berkaitan dengan ruang lingkup kekuasaan dan wewenang pengadilan agama bertambah. Dalam pasal 49 UU No. Setelah UU No. Memberi dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan pelanggaran atas undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya. Oleh karena itu. 7 tahun 1989 tentang PA “Pengadilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam undang-undang ini ”. dimana-mana asas peradilannya mempunyai prinsipprinsip kesamaan sebab hukum Islam itu tetap satu dan berlaku atau dapat diberlakukan di mana pun. dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang : a. 2. Dengan demikian keberadaan Pengadilan Agama dikhususkan kepada warga negara Indonesia yang beragama Islam. Peradilan Islam itu meliputi segala jenis perkara menurut ajaran Islam secara universal. rumusan Hukum Acara Peradilan Agama adalah diusulkan sebagai berikut : “Segala peraturan baik yang bersumber dari peraturan perundang-undangan negara maupun dari syariat Islam yang mengatur tentang bagaimana cara orang bertindak ke muka Pengadilan Agama tersebut menyelesaikan perkaranya. Oleh karena itu. Dengan adanya perubahan tersebut maka rumusan yang terdapat dalam pasal 2 UU No.3 tahun 2006.kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. Untuk memperkuat landasan hukum Mahkamah Syariah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan Qonun. Adapun maksud dari dihapusnya kata “perdata” adalah: 1. Sebagaimana diketahui bahwa Peradilan Agama adalah Peradilan Perdata dan Peradilan Islam di Indonesia. untuk mewujudkan hukum material Islam yang menjadi kekuasaan Peradilan Agama”. Kata “Peradilan Islam” yang tanpa dirangkaian dengan kata-kata “di Indonesia”.

Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.” d) Asas Fleksibelitas . wasiat. Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertian di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya. lingkungan peradilan tata usaha Negara. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. c) Asas Ketuhanan Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam. direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisialkecuali dalam hal yang diizinkan undangundang. dan c. lingkungan peradilan militer. Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. ASAS-ASAS DALAM HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA 1. Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo.” b) Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Asas Umum Lembaga Peradilan Agama a) Asas Bebas Merdeka Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimat Basmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia. Kewarisan. lingkungan peradilan agama. dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Wakaf dan shadaqoh BAB III PEMBAHASAN A. dan kebebasan dari paksaan.b.

cepat. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan. rinci dan transparan.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. semuanya harus berdasar atas hukum. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim.Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana. Untuk itu. pasl 6 (1) UU No. pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut. sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan. mulai dari tindakan pemanggilan. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum. Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis. pasal 5 (2). Pasal 2 UU No. Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang. tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum. maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum. . Asas ini diatur dalam pasal 3 (2). penyitan. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim. putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. f) Asas Legalitas Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas. dan biaya ringan. e) Asas Non Ekstra Yudisial Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. pemeriksaan di persidangan. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana. mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran.

bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa. walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad). dan Kedua. hibah. 1 Tentang perkawinan jo. yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. sensus kependudukan dan surat keterangan lain. wakaf. Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam. perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama.2. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. shodaqoh. pada saat terjadinya hubungan hukum. ditentukan oleh dua syarat : Pertama. 2) Asas Ishlah (Upaya perdamaian) Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. b. waris. Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam. Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan. hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Faktanya dapat ditemukan dari KTP. kedua pihak sama-sama beragama Islam. Ketentuan yang melekat pada UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo. artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. Pasal 31 PP No. wasiat. apabila terjadi sengketa perkawinan. c. infaq. baik dari pihak suami atau isteri. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum. setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah : a. dan ekonomi syari’ah. artinya. tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan. jo. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. Pasal 115 KHI. Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Ke-islaman Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama. Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum. . Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama. zakat. oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Khusus mengenai perkara perceraian. hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. Jika seseorang mengaku beragama Islam.

Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law” c. hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. Pasal 19 (3 dan 4) UU No. Karena itu. 4 Tahun 2004. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah : a. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama). 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. kecuali undang-undang menentukan lain. Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum. b.Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. 4) Asas Equality Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. . 7) Asas Upaya Hukum Kasasi Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan. 5) Asas “Aktif” memberi bantuan Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. sehingga tidak ada perbedaan yang bersifat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. 3) Asas Terbuka Untuk Umum Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No. 6) Asas Upaya Hukum Banding Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. kecuali Undang-undang menentukan lain. pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian. Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. sebab bagaimanapun adilnya suatu putusan. tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”.

Rsv (Reglement op de Burgelijke Rechtsvordering) yang zaman jajahan Belanda dahulu berlaku untuk Raad van Justitie. yang berlaku sejak tanggal diundangkan (29 Desember 1989). maksudnya untuk Luar Jawa-Madura. yang diberi wewenang oleh peraturan perundang-undangan Negara. RBg (Rechts Reglemen Buitengewesten) atau disebut juga Reglemen untuk Daerah Seberang. HIR (Het Herziene Inlandsche Reglement) atau disebut juga RIB (Reglemen Indonesia yang di Baharui). setelah terbitnya UU No. Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali. dan (2) yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum. untuk mewujudkan hukum material Islam dalam batas-batas kekuasaannya. 9) Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. B. Untuk melaksanakan tugas pokoknya (menerima. Pasal 54 UU No. pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. c. memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara) dan fungsinya (menegakkan hukum dan keadilan) maka peradilan agama dahulunya mempergunakan Acara yang terserak-serak dalam berbagai peraturan perundangundangan. 7 Tahun 1989 ini berbunyi sebagai berikut : “Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan agama adalah Hukum acara Perdata yang berlaku dalam lingkunganPeradilan Umum. yakni Peradilan Islam di Indonesia. bahkan juga Acara dalam hukum tidak tertulis (maksudnya hukum formal Islam yang belum diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan Negara Indonesia). yaitu : (1) yang terdapat dalam Uu No. disamping sebagai Peradilan Khusus. . apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang. 7 tahun 1989. b. SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA Peradilan Agama adalah Peradilan Negara yang sah. memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Peraturan perundang-undangan yang menjadi inti Hukum Acara Perdata Peradilan Umum. Menurut pasal di atas. antara lain : a. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”. maka hukum Acara Peradilan Agama menjadi konkret.8) Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 7 tahun 1989. Hukum Acara Peradilan Agama sekarang bersumber (garis besarnya) kepada dua aturan. Namun kini.

dan pegadaian syari’ah. memutus. Kewarisan. Hal ini dimaksudkan untuk: 1) Memberi dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan pelanggaran atas undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya. Selama ini apabila terjadi konflik dalam bidang ekonomi syari’ah harus melalui peradilan umum. Perkawinan b. hal ini karena berkaitan dengan ruang lingkup kekuasaan dan wewenang pengadilan agama bertambah. 2) Untuk memperkuat landasan hukum Mahkamah Syariah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan Qonun Dalam pasal 49 UU No. c) UU No. 3 tahun 2006 adalah “ Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini ”. UU No. dan hibahyang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Setelah UU No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (sekarang UUNo. Dalam definisi pengadilan agama tersebut kata “Perdata” dihapus. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 9 Tahun 1975 tentang perkawinan dan Pelaksanaannya.7 Tahun 1989. 48 Tahun 2009) b) UU No. dan c. ditambah dengan 8 macam peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan tadi. Perkembanagan ini tentunya juga berdampak pada perkembangan sengketa atau konflik dalam pelaksanaannya. 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman dan direvisi kembali menjadi UU No. khususnya yang berkaitan dengan muamalah. Menyadari hal ini. maka dalam . Lembagalembaga ekonomi syari’ah tumbuh berkembang mulai dari lembaga perbankan syari’ah. Wakaf dan shadaqoh Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi salah satu faktor pendorong berkembangnya hukum Islam di Indonesia. dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang : a. asuransi syari’ah.d. 7 tahun 1989 diperbaharui dengan UU No. maka rumusan tersebut juga ikut berubah. wasiat. Jika demikian halnya maka Peradilan agama dalam Hukum Acaranya minimal harus memperhatikan UU No. Peraturan perundang-undangan tentang Acara Perdata yang sama-sama berlaku bagi lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan agama adalah : a) UU No. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. 2 Tahun 1998 tentang Peradilan Umum). (sekarang UU initelah direvisi menjadi UU No. 1 Tahun 1974 dan PP No.3 tahun 2006. pasar modal syari’ah. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiaman. Dengan adanya perubahan tersebut maka rumusan yang terdapat dalam pasal 2 UU No.

Wakaf f. 3 tahun 2006 atas perubahan UU No. Wasiat d. Hibah e. Dalam pasal 50 UU No. Shadaqah h. Zakat g. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan lain daalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 49. Ekonomi syari’ah Dalam penjelasan pasal 49 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syari’ah adalah :            Bank syari’ah Asuransi syari’ah Reasuransi syari’ah Reksadana syari’ah Obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah Sekuritas syari’ah Pembiayaan syari’ah Pegadaian syari’ah Dana pensiun lembaga keuangan syari’ah Bisnis syari’ah.Undang-Undang No. . dan Lembaga keuangan mikro syari’ah Kedua: diberikan tugas dan wewenang penyelesaian sengketa hak milik atau keperdataan lainnya. dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orangorang yang beragama Islam di bidang : a. memutus. dan i. Infaq. Kewarisan c. Perkawinan b. 7 tahun 1989 maka ruang lingkup Peradilan Agama diperluas ruang lingkup tugas dan wewenang Pengadilan Agama Yaitu : Pertama: memeriksa.

Selama ini Pengadilan Agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap orang yang telah melihat atau menyaksikan awal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadlan. 7 Tahun 1989 dinyatakan. Tujuan diberinya wewenang tersebut kepada Pengadilan Agama adalah untuk menghindari upaya memperlambat atau mengulur waktu penyelesaian sengketa karena alasan adanya sengketa hak milik atau keperdataan lainnya tersebut yang sering dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan dengan adanya gugatan di Peradilan Agama. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini”. khususnya mengenai obyek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. yakni asas Umum Lembaga Peradilan Agama dan Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama. . Hukum Acara Peradilan Agama Bersifat “Lex Specialis” Dalam Pasal 54 UU No. obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49. Berdasarkan bunyi pasal 54 tersebut di atas. Ketiga: diberi tugas dan wewenang memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun hijriyah.”Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Dimana kedua asas tersebut terbagi lagi dalam beberapa asas. BAB IV PENUTUP 1. awal bulan Syawal dan tahun baru Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk rukyat Hilal.7 tahun 1989 diubah menjadi dua ayat yaitu : Ayat (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lainnya dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49. ayat (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam.maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus terlebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Demi terbentuknya pengadilan yang cepat dan efesien maka pasal 50 UU No. berlaku asas “Lex Specialis derogot Lex Generalis” yang berarti disamping acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan Pengadilan Agama berlaku Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. namun secara khusus berlaku Hukum Acara yang hanya dimiliki oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. SIMPULAN Adapun simpulan yang dapat dirumuskan dari rumusan masalah dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut : a) Bahwa asas dalam Hukum Acara Peradilan Agama dapat di bagi dua.

SARAN-SARAN Adapun saran-saran yang dapat diberikan terhadap permasalahan dan pembahasan di atas adalah : a) Diharapkan agar asas-asas dalam acara Peradilan Agama dapat diterapkan secara factual agar tercipta suatu peradilan yang benar-benar member keadilan bagi pihak-pihak di dalamnya. Meskipun saat ini telah berlaku UU No. . 3 Tahun 2006.b) Bahwa sumber hukum acara peradilan agama saat ini adalah UU No. b) Diharapkan agar segala sumber hukum dalam Hukum Acara Peradilan Agama dapat dijadikan pedoman bagi berjalannya proses beracara di Pengadilan Agama dan proses penyelesaian perkara yang diajukan di Pengadilan Agama sehingga tidak ada lagi keluhan-keluhan tentang kesulitan beracara di Pengadilan Agama. 3 Tahun 2006 tetap berlaku UU No. 3 Tahun 2006 namun terhadap hal-hal yang tidak mengalami perubahan dalam UU No. 2. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

Oleh karena itu. Selanjutnya. Ketentuan tersebut menunjukan bahwa terdapat Hukum Acara Perdata yang secara umum berlaku pada lingkungan Peradilan Umum dan Perdailan Agama. Hukum acara yang khusus diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 yang meliputi cerai talak. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”. kita mengenal adanya permohonan dan gugatan. Permohonan Dan Gugatan Di dalam Hukum Acara Perdata.Hukum Acara Peradilan Agama BAB I PENGERTIAN A.Menurut ketentuan pasal 54 UU Nomor 7 Tahun 1989 “hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. cerai gugat dan cerai dengan alasan zina. maka bagi mereka yang buta huruf dibuka kemungkinan untuk mengajukan gugatan secara lisan kepada Ketua Pengadilan Negeri berdasarkan ketentuan pasal 12 HIR akan membuat atau menyuruh membuat gugatan yang dimaksud. Surat gugat ini isinya harus memuat tanggal. yang mana isinya adalah memuat alasan-alasan berdasarkan keadaan dan bagian yang memuat . menyebut dengan jelas nama penggugat dan tergugat lengkap dengan alamatnya. dalam makalah ini dijelaskan terlebih dahulu tentang Hukum Acara Perdata yang berlaku juga untuk Pengadilan Agama dan Hukum Acara khusus tetang ceai talak. Gugatan ini harus diajukan kepada dimana si tergugat itu tinggal. tetapi orang yang dirasa melanggar hak tersebut tidak mau meyerahkannya secara sukarela. dan ada pula hukum acara yang hanya berlaku pada Peradilan Agama. a. Sumber Hukum Acara Peradilan Agama Mengenai hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama diatur dalam Bab IV UU Nomor 7 Tahun 1989 mulai pasal 54 sampai dengan pasal 105. Perbedaan antara permohonan dan gugatan adalah dalam suatu gugatan ada suatu sengketa yang harus diselesaikan dan diputuskan oleh pengadilan. Dalam suatu gugatan ada seorang atau lebih yang merasa bahwa haknya atau hak mereka telah ada yang melanggar. Oleh karena gugat harus diajukan dengan surat. Dalam bahasa latin hal ini disebut dengan “Actor Sequitur Forum Rei”. bagian yang disebut dengan posita. cerai gugat dan cerai karena alasan zina. Menurut ketentuan pasal 118 HIR gugat harus diajukan dengan surat permintaan yang ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya.

Mediasi ini dipimpin oleh seorang mediator yang sudah memiliki sertifikat mediator yaitu pihak yang bersifat netral dan tidak memihak yang berfungsi membantu para pihak dalam mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa.alasan-alasan yang berdasar hukum. 1. sedangkan apabila tergugat yang tidak hadir maka berlakulah perstek. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari para pihak. Perihal Pemeriksaan Dan Pembuktian Dalam Sidang Pengadilan Adapun tahapan-tahapan pemeriksaan perkara secara umum. 1. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan yang esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus. Petitum ini merupakan bagian yang terpenting karena merupakan yang diinginkan. Kebijakan MA-RI memberlakukan mediasi ke dalam proses perkara di Pengadilan didasari atas beberapa alasan sebagai berikut : . Tergugat atau para tergugat kesemuanya tidak dating pada haris sidang yang telah ditentukan 2. Petitum tidak melawan hak 5. diputuskan. Petitum beralasan c. atau diperintahkan oleh hakim. Ia atau mereka tidak mengirimkan wakil atau kuasanya yang syah untuk menghadap 3. Untuk putusan perstek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut sebagaimana yang tercantum dalam pasal 125 ayat 1 HIR. Perihal Acara Istimewa Jika pada hari sidang yang telah ditentukan untuk mengadili perkara tertentu. maka tidak boleh ada paksaan untuk menerima atau menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses mediasi berlangsung. Mediasi Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Bagian akhir harus ada petitum. Ia atau mereka telah dipanggil dengan patut 4. b. terutama perkara gugatan dalam perkara persdangan itu adalah sebagai berikut. baik itu penggugat maupun tergugat atau tidak menyuruh wakilnya untuk menghadap pada sidang yang telah ditentukan maka berlakulah acara istimewa yang diatur diatur dalam pasal 124 dan 125 HIR. salah satu pihak atau semuanya. Apabila penggugat yang tidak hadir dan tidak mengirimkan wakilnya secara syah dan telah dipanggil dengan patut maka gugat digugurkan. Sesuai dengan hakikat perundingan atau musyawarah atau konsensus. ditetapka.

sehingga mereka tidak akan mengajukan upaya hukum. literatur memang sering menyebutkan bahwa penggunaan mediasi atau bentuk-bentuk penyelesaian yang termasuk ke dalam pengertian alternative dispute resolution (ADR) merupakan proses penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah dibandingkan proses litigasi. terutama pihak yang kalah. Mahkamah Agung tetap menganggap perlu untuk mewajibkan para pihak menempuh upaya perdamaian yang dibantu oleh mediator. para pihak tidak akan menempuh upaya hukum kasasi karena perdamaian merupakan hasil dari kehendak bersama para pihak. maka para pihak dengan sendirinya dapat menerima hasil akhir karena merupakan hasil kerja mereka yang mencerminkan kehendak bersama para pihak. proses mediasi diharapkan dapat mengatasi masalah penumpukan perkara. jumlah perkara yang harus diperiksa oleh hakim akan berkurang pula. pemberlakuan mediasi diharapkan dapat memperluas akses bagi para pihak untuk memperoleh rasa keadilan.Pertama. Pandangan dan penilaian hakim belum tentu sejalan dengan pandangan para pihak. yaitu HIR dan Rbg. Di Indonesia memang belum ada penelitian yang membuktikan asumsi bahwa mediasi merupakan proses yang cepat dan murah dibandingkan proses litigasi. dari sejak pemeriksaan di Pengadilan tingkat pertama hingga pemeriksaan tingkat kasasi Mahkamah Agung. masyarakat pencari keadilan pada umumnya dan para pihak yang bersengketa pada khususnya dapat terlebih dahulu mengupayakan penyelesaian atas sengketa mereka melalui pendekatan musyawarah mufakat yang dibantu oleh seorang penengah yang disebut mediator. Selain logika seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Rasa keadilan tidak hanya dapat diperoleh melalui proses litigasi. banding maupun kasasi. tetapi juga melalui proses musyawarah mufakat oleh para pihak. Jika sengketa dapat diselesaikan melalui perdamaian. Kedua. Pada akhirnya semua perkara bermuara ke Mahkamah Agung yang mengakibatkan terjadinya penumpukan perkara. jika perkara dapat diselesaikan dengan perdamaian. tidak saja karena ketentuan hukum acara yang berlaku. Akan tetapi. jika perkara diputus oleh hakim. pihak yang kalah seringkali mengajukan upaya hukum. Sebaliknya. Sebaliknya. sehingga pihak yang kalah selalu menempuh upaya hukum banding dan kasasi. jika didasarkan pada logika seperti yang telah diuraikan pada alasan pertama bahwa jika prkara diputus. Dengan diberlakukannya mediasi ke dalam sistem peradilan formal. mewajibkan hakim untuk terlebih dahulu mendamaikan para pihak sebelum proses memutus dimulai. Ketiga. proses mediasi dipandang sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih. tetapi . maka putusan merupakan hasil dari pandangan dan penilaian hakim terhadap fakta dan kedudukan hukum para pihak. sehingga membuat penyelesaian atas perkara yang bersangkutan dapat memakan waktu bertahun-tahun. cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi. Meskipun jika pada kenyataannya mereka telah menempuh proses musyawarah mufakat sebelum salah satu pihak membawa sengketa ke Pengadilan. Jika para pihak dapat menyelesaikan sendiri sengketa tanpa harus diadili oleh hakim.

Dalam tanggapan atas gugatan yang diajukan ada dua macam. bahwa lembaga pengadilan tidak hanya memutus. replik itu dijawab kembali oleh tergugat (duplik). Selain 2 jenis eksepsi diatas masih ada eksepsi yang sering kita dengar misalnya eksepsi dilatoir adalah eksepsi yang menyatakan bahwa gugatan penggugat belum dapat dikabulkan. bahwa penyelesaian yang lebih baik dan memuaskan adalah proses penyelesaian yang memberikan peluang bagi para pihak untuk bersama-sama mencari dan menemukan hasil akhir. selanjutnya. tetapi juga mendamaikan. Eksepsi ini diajukan sebelum tergugat menjawab pokok perkara secara lisan maupun tertulis. yaitu hakim dan advokat. dengan diberlakukannya PERMA tentang Mediasi diharapkan fungsi mendamaikan atau memediasi dapat berjalan seiring dan seimbang dengan fungsi memutus. a) Jawaban yang langsung mengenai pokok perkara (verweer ten principale) b) Jawaban yang tidak langsung mengenai pokok perkara (tangkisan atau eksepsi) Tentang tangkisan atau eksepsi. PERMA tentang Mediasi memberikan panduan untuk dicapainya perdamaian. Eksepsi peremptoir adalah eksepsi yang menghalangi dikabulkannya gugatan. PERMA tentang Mediasi diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang para pelaku dalam proses peradilan perdata.I. kemudian jawaban atas tanggapan tergugat (replik). Tahapan replik dan duplik Dalam tahapan ini dilakukan pembacaan surat gugatan/permohonan. Keempat. ksepsi kekuasaan absolute adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan tersebut tidak berwenang dalam perkara tersebut yang mana merupakan wewenang pengadilan lain dalam berbeda pengadilan. 2. Jika pada masa-masa lalu fungsi lembaga pengadilan yang lebih menonjol adalah fungsi memutus. H. yaitu. Eksepsi kekuasaan relative adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan tersebut tidak berwenang dalam menangani kasus tersebt tetapi merupakan wewenang pengadilan lain dalam lingkungan pengadilan yang sama.juga karena pandangan. Eksepsi kekuasaan absolute dapat disampaiakan setiap waktu selama pemeriksaan perkara berlangsung.R hanya mengenal satu macam eksepsi ialah eksepsi perihal tidak berkuasanya hakim. tanggapan atas gugatan yang diajukan. Eksepsi ini terdiri dari dua macam yaitu eksepsi kekuasaan absolute dan kekuasaan relatif. 3. Pembuktian Pembuktian merupakan suatu cara untuk meyakinkan Majelis Hakim terhadap kebenaran dalil-dalil yang dikemukakan dalam gugatan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh pihak . institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa.

Misalnya. 1. 3. Putusan comdemnatoir adalah putusan yang berisi penghukuman. 1. Misalnya. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT PERTAMA • Penggugat atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan gugatan yang diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri pada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata. menegaskan suatu keadaan hukum semata-mata. yaitu. adalah putusan perceraian. Dalam hal ini maka putusannya adalah putusan declatoir. Sumpah 4. Saksi-saksi 3. Putusan prepatoir 2. Diantaranya adalah sebagai berikut. Putusan constitutive adalah putusan yang meniadakan suatu kedaan hukum atau menimbulkan keadaan hokum yang baru. Keputusan Pengadilan Keputusan pengadilan pada dasarnya merupakan penerapan hukum terhadap suatu peristiwa. Putusan ini terdiri dari dua jenis yaitu putusan sela dan putusan akhir. Misalnya adalah sekelompok ahli waris datang ke pengadilan agar mendapat ketetapan mereka masing-masing menurut Hukum Islam. Persangkaan 4. yaitu. Putusan sela ini ada bermacam-macam. Bukti surat 2. Putusan declatoir adalah putusan yang hanya bersifat menerangkan. Putusan sela dilakukan apabila tergugat melakukan eksepsi relative pada hari sidang pertama.R disebutkan bahwa alat-alat bukti yang sah itu ada 5 macam. Putusan provisional Putusan akhir ini terdiri dari 3 macam. oleh kerena itu Majelis Hakim wajib memmutuskan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kepada pemeriksaan pokok perkara. Dalam ketentuan pasal 125 H. Putusan insidenti 3. adalah harus member nafkah.Surat . dalam hal ini pekara yang memerlukan penyelesaian melalui kekuasaan Negara. Pengakuan 5.tergugat untuk menyanggah dalil-dalil yang diajukan oleh pihak penggugat. dengan beberapa kelengkapan/syarat yang harus dipenuhi : a.I. 1. 2. HUKUM ACARA PERDATA A.

dengan beberapa kelengkapan / syarat yang harus dipenuhi : a. • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Gugatan • Menunggu Surat Panggilan sidang dari Pengadilan Negeri Palembang yang disampaikan oleh Juru Sita Pengganti • Menghadiri Sidang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan B. Pemohon diberikan jangka waktu 14 hari untuk datang ke Pengadilan Negeri setempat untuk mempelajari berkas • Menunggu Surat Pemberitahuan Kontra Memori Banding dan salinan Kontra Memori Banding • Menunggu kutipan putusan dari Pengadilan Tinggi yang akan disampaikan oleh Juru Sita Pengganti C.Pemohon atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT KASASI • 1. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT BANDING • Pemohon atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata.Permohonan/Gugatan b. dengan beberapa kelengkapan / syarat yang harus dipenuhi : a.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) c.Memori Banding • Pemohon / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyiapkan bukti asli untuk arsip • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Permohonan • Menunggu Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Berkas (Inzage). Pemohon diberikan jangka waktu 14 hari untuk datang ke Pengadilan Negeri setempat untuk mempelajari berkas • Menunggu Surat Pemberitahuan Kontra Memori Kasasi dan salinan Kontra Memori .Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) • Penggugat / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyimpan bukti asli untuk arsip.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) c.Surat Permohonan Banding b.Surat Permohonan Kasasi b.Memori Kasasi • Pemohon / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyimpan bukti asli untuk arsip • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Permohonan • Menunggu Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Berkas (Inzage).

c. mengadili dan memutus. Pengadilan Agama mempunyai tugas dan kewenangan tertentu seperti tersebut pada Pasal 49 UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009. memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragam Islam di bidang : a. melakukan eksekusi melalui hakim dalam lingkungan peradilan perdata. Wasiat d. Zakat g. memeriksa. BAB II PERBEDAAN A. Kewenangan hukum acara perdata umum Hukum acara perdata adalah hukum yang mengatur bagaimana cara mengajukan gugatan. yang menyatakan : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. Hukum Acara Yang Berlaku di Peradilan Agama Pasal 54 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dan ditambah . yaitu bahwa bila terjadi suatu proses acara perdata di pengadilan maka ketentuannya tidak dapat dilanggar melainkan harus ditaati oleh para pihak. Perkawinan b. b. ( hukum formil ) Hukum acara perdata bersifat mengikat atau bersifat memaksa. Hibah e.Kasasi • Menunggu kutipan putusan dari Mahkamah Agung yang akan disampaikan oleh Juru Sita Pengganti. Hukum Acara Pengadilan Agama khusus (masyarakat yang beragama islam) Sebagai peradilan khusus. Perbedaan dalam kewenangan a. Ekonomi Syari’ah Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragama Islam sedangkan bagi yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum . Shodaqoh i. Wakaf f. Infaq h. Kewarisan c.

Padahal menurut azasnya perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara contensios. rekopensi) d. Pembuktian (pembuktian oleh masing-masing pihak apakah benar/ tidak statemen masing2) g. Bidang Teknis Peradilan. Peradilan Agama. Replik (penggugat. Mediasi c. pokok perkara. maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. Urutan Beracara Perdata Urutan beracara a. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini” . Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. d. Duplik (tergugat. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan kepada isteri dalam hal di Pengadilan . Gugatan b. Kesimpulan h. halaman 216-234 diatur hal-hal yang ringkasnya sebagai berikut : 1) Bidang Perkawinan Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara voluntoir. Bagian Kedua. Jawaban (eksepsi. lugas) e. Perkara voluntoir tersebut adalah : a)Permohonan dispensasi umur kawin b)Permohonan izin kawin c)Permohonan penetapan wali adhol d)Permohonan penetapan perwalian e)Permohonan penetapan asal-usul anak 2)Bidang Perceraian a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. penggugat rekopensi) f. Urutan Beracara di Peradilan Agama Hukum Acara Khusus dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo.dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : “Hukum acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Putusan e.

oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara waris/ wasiat apabila pewaris (si mayit) beragama Islam. b) c) d) (1)) e) Untuk melindungi isteri maupun anak. nafkah isteri dan harta bersama-sama perkara dibebankan kepada Penggugat atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1)) dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para pihak. 236 a HIR. deposito di Bank. (2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (pasal 73 (2)). PP 45 Tahun 1990). nafkah anak. dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya (PP 10 Tahun 1983 jo.Agama mana perceraian diajukan. UU Nomor 3 Tahun 2006. 4) Sengketa Milik Pasal 50 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. f) Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang Pegawai Negeri. Hal ini Permohonan penguasaan anak. 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana . UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau menang. b) c) Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam apabila timbul sengketa Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris misalnya untuk mengambil adalah menjadi kewenangan Pengadilan Agama. Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan Hukum Islam a) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 jo. d) Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat dilakukan berdasarkan pasal 107 UU Peradilan Agama jo. dapat dibuat akta di bawah tangan kemudian dimintakan pengesahan (gewaasmarker) kepada Ketua Pengadilan Agama. (1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)). 3) Bidang Waris. dengan permohonan cerai talak/ gugat cerai ataupun sesudahnya (Pasal 66 ayat (5) 86 ayat Tahun 2009 menganut azas personalitas keislaman. sehingga biaya Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) dan 80). Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak.

B. khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.dimaksud dalam pasal 49. pembuktian dan kesimpulan. obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. Tata cara berperkara Hukum acara perdata yaitu gugatan. duplik. replik. mediasi. jawaban. sedangkan sumber hukum acara perdata ialah. (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. Hukum acara peradilan agama hanya berlaku bagi masyrakat yang beragama islam (khusus) sedangkan hukum acara perdata berlaku bagi masyarakat umum. BAB III KESIMPULAN A. Sumber hukum acara peradilan agama ialah UU no 7 tahun 1989 tentang peradilan agama . HIR (dalam jawa) dan RBG (luar jawa dan madura) C. Sendangkan dalam acara peradilan agama contoh alam bidang perkawinan • Permohonan dispensasi umur kawin • Permohonan izin kawin • Permohonan penetapan wali adhol • Permohonan penetapan perwalian • Permohonan penetapan asal-usul anak D. sedangkan hukum acara perdata . Hukum acara peradilan agama hanya memperkarakan kasus kasus tertentu atau khusus.

pelaksanaan putusan pengadilan.1. kehakiman demi adalah kekuasaan Negara negara Hukum yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan terselenggaranya Republik Indonesia. administrasi. dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan peralihan. Selain itu dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan yang menegaskan kedudukan hakim sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman serta panitera. Dan semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum.Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari keempat lingkungan peradilan. dan juru sita sebagai pejabat peradilan. panitera pengganti. Kekuasaan Pancasila. 14/1970 Yang Diganti Dengan UU No. Hukum acara peradilan agama. 4/2004 Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman.1 Disarankan para mahasiswa menambah lagi wawasan dari berbagai referensi. Untuk memberikan kepastian dalam proses pengalihan organisasi. lingkungan peradilan tata usaha negara. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. SARAN 1. asas-asas penyelengaraan kekuasaan kehakiman.2 Sukuri apa yang telah allah berikan kepada kita agar kita bisa tetap menerima diri kita apa adanya dan tidak berpuas dalam mencari ilmu (hukum) dan fokus pada cita cita BAB 1 SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA A. UU No. 1. . dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. lingkungan peradilan militer. bantuan hukum. jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan. Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. lingkungan peradilan agama.

bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.Dalam Undang-undang ini ditentukan prinsip-prinsip atau azas-azas mengenai perkawinan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang telah disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. UU No. putusnya perkawinan serta akibatnya. Azas-azas atau prinsip-prinsip yang tercantum dalam undang. Selain itu dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan yang menegaskan kedudukan hakim sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman serta panitera. syarat-syarat Dalam perkawinan. pencegahan perkawinan. Dalam Undang-undang ini dinyatakan.undang ini adalah sebagai berikut: 1. administrasi. dan ketentuan penutup.itu. ketentuan peralihan. 2. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. Untuk memberikan kepastian dalam proses pengalihan organisasi. dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan peralihan. pelaksanaan putusan pengadilan. B. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut . bantuan hukum. kedudukan anak. asas-asas penyelengaraan kekuasaan kehakiman. dan juru sita sebagai pejabat peradilan. harta benda dalam perkawinan. perwalian.Bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia adalah mutlak adanya Undang-undang Perkawinan Nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai golongan dalam masyarakat kita. perjanjian perkawinan. 1 tahun 1974 Undang-Undang ini diatur mengenai dasar perkawinan. ketentuan-ketentuan lain. hak dan kewajiban suami istri. hak dan kewajiban antara orang tua dan anak. panitera pengganti.Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman. batalnya perkawinan. agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan sprituil dan material. jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan.

5. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumahtangga maupun dalam pergaulan masyarakat. 14/1985 Yang Telah Diganti Dengan UU No. maka undang-undang ini menentukan batas umur untuk kawin baik bagi pria maupun bagi wanita. 2 (dua) wakil ketua. dan beberapa orang ketua muda. hakim anggota. Disamping itu.undang ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian. Pimpinan dan hakim anggota Mahkamah Agung adalah hakim agung dan hakim agung paling banyak 60 orang. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan diantara calon suami isteri yang masih dibawah umur. Namun demikian perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isteri. danseorang sekretaris. harus ada alasan-alasan tertentu serta harus dilakukan di depan Sidang Pengadilan. Ternyatalah bahwa batas umur yang lobih rendah bagi seorang wanita untuk kawin mengakibatkan laju kelahiran yang lebih tinggi. ialah 19 (sembilan belas) tahun bagi pria dan 16 (enam belas) tahun bagi wanita.peraturan perundang-undangan yang berlaku. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia kekal dan sejahtera. Undang-undang ini menganut prinsip. Susunan Mahkamah Agung terdiri atas pimpinan. 4. karena hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkan. kematian yang dinyatakan dalam Surat-surat keterangan. 3. sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan C. Pimpinan Mahkamah Agung terdiri atas seorang ketua. Berhubung dengan itu. Undang-undang ini menganut azas monogami. suatu akte resmi yang juga dimuat dalam pencatatan. hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan. dan diputuskan bersama oleh suami-isteri. misalnya kelahiran. agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. maka undang. 6.Wakil Ketua . UU No. seorang suami dapat beristeri lebih dari seorang. meskipun hal itu dikehendaki oleh pihak.pihak yang bersangkutan. 5/2004 Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman Mahkamah sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa calon suami isteri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan. panitera. perkawinan mempunyai hubungan dengan masalah kependudukan. Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan.

peradilan militer.Mahkamah Agung terdiri atas wakil ketua bidang yudisial dan wakil ketua bidang nonyudisial. ketua muda militer. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. serta beberapa substansi yang menyangkut hukum acara. khususnya dalam melaksanakan tugas dan kewenangan dalam memeriksa dan memutus pada tingkat kasasi serta dalam melakukan hak uji terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung. Undang-Undang ini memuat perubahan terhadap berbagai substansi Undang-Undang No. Perubahan tersebut. dan kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang. ditentukan pula Mahkamah Agung mempunyai wewenang mengadili pada tingkat kasasi. Wakil Ketua. ketua muda agama.Pada setiap pembidangan. Mahkamah melakukan pengkhususan bidang hukum tertentu yang diketuaioleh ketua muda. ketua muda pidana.Wakil ketua bidang non-yudisial membawahi ketua muda pembinaan dan ketuamuda pengawasan. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi hakim agung. untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Masa jabatan Ketua. peradilan agama. Berbagai substansi perubahan dalam Undang-Undang ini antara lain tentangpenegasan kedudukan Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan bahwa Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. juga didasarkan atas UndangUndangUndangmengenai kehakiman baru yang menggantikan UndangNomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakimansebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentangPerubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuanketentuan pokok kekuasaan kehakiman. di samping Mahkamah Konstitusi. dan Ketua Muda Mahkamah Agung selama 5 (lima) tahun. Selain itu. dan Agung ketua dapat muda tata usahanegara. Pembatasan ini di samping dimaksudkan untuk mengurangi kecenderungan setiap perkara diajukan ke Mahkamah Agung sekaligus dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitasputusan pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding sesuai dengannilai-nilai hukum dan keadilan dalam . dan peradilan tata usaha negara adalah pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka.Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. di sampingguna disesuaikan dengan arah kebijakan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia kekuasaan Tahun 1945.

hibah. dan finansial dari semua lingkungan peradilan ke Mahkamah Agung. UU No. administrasi. kalimat yang terdapat dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang menyatakan: "Para Pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian warisan". maka organisasiMahkamah Agung perlu dilakukan pula penyesuaian. Oleh karena itu. waris. Penggantian dan perubahan Undang-Undang tersebut secara tegas telah mengatur pengalihan organisasi. Pengalihan ke Mahkamah Agung telah dilakukan. keberadaan pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama perlu diatur pula dalam Undang-Undang ini. Dalam kaitannya dengan perubahan Undang-Undang ini pula. hal ini sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. D. Untuk memenuhi ketentuan dimaksud perlu pula diadakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. administrasi. Dengan penegasan kewenangan Peradilan Agama tersebut dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum . wasiat. infaq. wakaf. 7/1989 Yang Telah Diganti Dengan UU No.masyarakat. administrasi. khususnya masyarakat muslim. shadaqah. zakat. Dengan bertambahnya ruang lingkup tugas dan tanggung jawab Mahkamah Agungantara lain di bidang pengaturan dan pengurusan masalah organisasi. Dengan demikian. Kehakiman menegaskanadanya pengadilan khusus yang dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan dengan undang-undang. dan finansial badan peradilan di lingkungan Peradilan Agama yang sebelumnya masih berada di bawah Departemen Agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama perlu disesuaikan. 3/2006 Dalam Undang-Undang ini kewenangan pengadilan di lingkungan Peradilan Agama diperluas.dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung. organisasi. dan ekonomi syari'ah. Perluasan tersebut antara lain meliputi ekonomi syari'ah. Peradilan Agama merupakan salah satu badan peradilan pelaku kekuasaan kehakiman untuk menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan. Undang-Undang Nomor 4 dinyatakan Tahun 2004 tentang Kekuasaan dihapus.

tatacara pelaksanaan perkawinan. Hal melakukan tugas kepolisian. dan RV HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement) Reglemen tentang melakukan tugas kepolisian.kepada pengadilan agama dalam menyelesaikan perkara tertentu tersebut. Departemen Kehakiman dan Departemen Dalam Negeri. Rbg. 9 Tahun 1975 Peraturan Pemerintah ini memuat ketentuan-ketentuan tentang masalah pencatatan perkawinan. PP No. E. termasuk pelanggaran atas Undang-Undang tentang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya serta memperkuat landasan hukum Mahkamah Syar'iyah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan ganun. hal-hal yang menyangkut perkara pidana diatur dengan Kitab Undang-undang HukumAcara Pidana dan peraturan pelaksanaannya. cara mengajukan gugatan perceraian. Pengadilan agama berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota. HIR. khususnya dari Departemen Agama. yang meliputi kepala desa dan semua bawahan polisi yang Lain . F. Pengadilan tinggi agama berkedudukan di ibu kota provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi. Dalam Reglemen Indonesia yang Diperbarui (RIB) ini hanya dimuat hal-hal yang berkaitan dengan perkara perdata. mengadili perkaraperdata dan penuntutan hukuman bagi bangsa Indonesia danbangsa Timur Asing di Jawa dan Madura. sehingga segala sesuatu dapat berjalan tertib dan lancar. Dalam reglemen ini memuat: 1. pembatalan perkawinan dan ketentuan dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang dan sebagainya. tenggang waktu bagi wanita yang mengalami putus perkawinan. Karena untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini diperlukan langkah-langkah persiapan dan serangkaian petunjuk petunjuk pelaksanaan dari berbagai Departemen atau Instansi yang bersangkutan. maka perlu ditetapkan jangka waktu enam bulan sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah ini untuk mengadakan langkah-langkah persiapan tersebut. tatacara perceraian.

Dalam reglemen ini memuat: 1. Pelaksanaan keputusan hukum Beberapa acara khusus Izin berperkara tanpa biaya 2. mengadili dan memutus serta menyelesaikan perkara perdata tertentu antara orang-orang yang beragama Islam. Cara mengadili perkara perdata yang dalam tingkat pertama menjadi wewenang pengadilan Negeri yang meliputi:       Pemeriksaan di Sidang pengadilan Musyawarah dan Keputusan pengadilan Banding. Tapi ternyata tidak cocok dengan Indonesia. . terjadi ketidak sesuaian dengan daerah luar Jawa dan Madura. perlu diketahui bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang telah diubah dengan UndangUndang Nomor 35 Tahun 1999 serta dengan melihat UU No. Hal mengadili perkara perdatayang termasuk wewenang pengadilan negeri. Tugas utama Peradilan Agama ialah menerima. 5 th. Bukti dalam perkara perdata RV (Reglement of de Rechtsvordering) RV adalah hukum perdata eropa yang dibawa oleh belanda ke Indonesia.2. memeriksa. oleh karena itu kemudian diadakan penyesuaianpenyesuaian dan dibentuklah HIR. Kemudian setelah beberapa lama.2004. BAB II HUBUNGAN HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DENGAN HUKUM ACARA PERDATA A. RBG (Rechtsreglement Buitengewesten) Reglemen Untuk Daerah Seberang berlaku untuk daerah luar Jawa dan Madura. Pengertian Hukum Acara Perdata Sebelum membicarakan pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. maka dibentuklah RBg.

memeriksa serta memutusnya dan pelaksanaan daripada putusannya. Untuk mengetahui hukum acara Peradilan Agama. maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa hukum acara Peradilan Agama ialah pertaturan hukum yang mengatur tentang bagaimana mentaati dan melaksanakan hukum perdata materiel dengan perantaraan Pengadilan Agama termasuk bagaimana cara bertindak mengajukan tuntutan hak atau permohonan . hukum acara perdata ialah rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan itu harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan berjalanya peraturan hukum perdata.ialah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiil dengan perantara hakim. memeriksa serta memutuskan dan pelaksanaan dari pada putusanya. 2006). Dari dua pengertian tersebut di atas.H.(Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama jo pasal 49 & 50 UU No. terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian hukum acara perdata karena Peradilan Agama hanya berwenang memeriksa perkara-perkara perdata dan menurut ketentuan pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. Dengan perkataan lain hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materiel. 4 Th. Tuntutan hak dalam hal ini tidak lain adalah tindakan yang bertujuan memperolah perlindungan hukum yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah ―eigenrichting‖ atau tindakan menghakimi sendiri. Lebih konkrit lagi dapatlah dikatakan bahwa hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya memajukan tuntutan hak. Menurut Wirjono Prodjodikoro. Sudikno Mertokusumo. Hukum acara perdata yang mengatur bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak. Menurut Prof. Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiel dengan perantaraan Hakim. hukum acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini. Dr. Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materiil. S.

tetapi hingga diundangkannya UU No. Bahkan menurut pakar Sejarah Peradilan. Selama itu hingga sekarang. tentang Peradilan Agama di Pulau Jawa – Madura. Peradilan Agama berjalan. Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri tentang susunan. jauh sejak zaman penjajahan Belanda. tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai Hari Jadinya. B. putusannya ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela. Peradilan Agama telah ada sejak abad ke-16. Hubungan Peradilan Agama Dengan Hukum Perdata Seperti telah diuraikan di atas bahwa berdasarkan ketentuan pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. Jadi hubungan hukum acara Peradilan Agama dengan hukum acara perdata adalah sumber hukumnya dan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagian besar adalah sama. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul ―Seabad Peradilan Agama di Indonesia‖. Kesimpulan Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan Peradilan Agama telah ada di berbagai tempat di Nusantara. yaitu UU No. Namun kini Peradilan Agama telah mempunyai UU tersendiri. dan tidak pula seragam. hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersebut. kekuasaan dan acara. oleh karena itu ketentuan-ketentuan umum yang berlaku dalam hukum acara perdata berlaku juga dalam hukum acara Peradilan Agama.dan bagaimana cara Hakim bertindak agar hukum perdata materiel yang menjadi kewenangan Peradilan Agama berjalan sebagaimana mestinya. yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl. 7 Tahun .1882-152. BAB III PENUTUP A. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989. melainkan tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak merupakan kesatuan.

Daftar Pustaka:   Prof. Yahya Harahap. Hj. Selain itu. A.      Ringkasan Buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia Ringkasan Buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia. kedudukan dan kekuasaan Pengadilan Agama setara dengan Lembaga Pengadilan lainnya. 2 Tahun 1986 dan UU Peradilan Tata Usaha Negara No.H. Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. Konsep-Konsep Dasar . Prof. Departemen Agama. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. Dr. Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama. Pada tanggal 29 Desember 1989. Undang-undang tersebut merupakan rangkaian dari undang-undang yang mengatur kedudukan dan kekuasaan Peradilan di negara RI. MH.M. Hukum Acara Perdata Indonesia. disahkan dan diundangkan UU No. 2001. UU tersebut melengkapi UU Mahkamag Agung No. Buku II Edisi Revisi. Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Islam. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Sudikno Mertokusumo. Mukti Arto. LL. SH. 1996. SIP. Sulaikin Lubis. Dengan lahirnya UU No. 5 Tahun 1986. Wismar Ain Marzuki SH. SH. SH. 1989. Penerbit Mandar Maju. H.. Bandung.H. Pustaka Pelajar. S. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta. 1990.. M.1989 tentang Peradilan Agama. 1997. Praktek Perkara Pada Pengadilan Agama..Hum. UU Peadilan Umum No. H. Author: Hj. Drs.M BAB I KONSEP-KONSEP DASAR DAN SUMBER – SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA A. Retnowulan Sutantio. Mahkamah Agung RI. Gemala Dewi SH. SH. Drs... Pustaka Kartini. SH dan Iskandar Oeripkartawinata.. S. Abdul Manan. 14 Tahun 1985. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Dalam Lingkungan Peradilan Agama.

maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf.1.kecuali mereka mengangkat pimpinan salah satu seorang dari mereka” (HR Ahmad) (23) b) c) . Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan. dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Barangsiapa berbuat demikian. padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? "Tuhan berfirman:" Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ". Pengadilan agama adalah tempat di mana dilakukan usaha mencari keadilan dan kebenaran yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa yakni melalui suatu majelis Hakim atau Mahkamah. Al-Baqarah (1): 231 : Apabila kamu mentalak isteri-isterimu. Hakim adalah penjabat yang berwenang menghukumi suatu tindak pidana atau suatu pertengkaran dengan menjatuhi hukuman kepada pelaku pidana atau dengan memerintahkan kepada pihak yqang terkalahkan untuk mengembalikan hak kepada pihak yang terkalahkan untuk mengembalikan hak kepada pihak yang sebenarnya dan menolak kezhaliman. 3. Sumber-Sumber Hukum Dasar Hukum Peradilan Agama dan pentingnya keputusan hakim antara lain: 1. QS.(13) 2. Sesungguhya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. lalu mereka mendekati akhir iddahnya. Dasar Hukum Al-Qu’ran a) QS. B. atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Mereka berkata:" Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketah (11) QS. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan. 7 Tahun 1989 jo UU No. dan ingatlah nikmat Allah padamu. Putusan adalah pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontentius) ”Putusan hakim peradilan agama” adalah pernyataan yang dituangkan dalam bentuk tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di lingkungan Peradilan Agama yang berkekuatan hukum yang sah dalam hal sengketa milik atau keperdataan lain yang terkait dengan kewenangan Peradilan Agama sebaimana diatur dalam UU No. Dasar Hukum Hadist a) ”Warta dari Abdullah bin ’Amr menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: ”Tidak halal bagi tiga orang yang berada di tanah lapang. karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah. Al-Baqarah (1): 30 : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ". Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. 3 tahun 2006 ” 2.. An-Nisa (4) : 58 : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

dasar inilah yang membedakan hukum Islam secara fundamental dengan hukum yang lain yang semata-mata lahir dari kebiasaan hasil pemikiran atau buatan manusia belaka. (HR.b) Dari Abi Said bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: apabila keluar tiga orang dengan maksud hendak bepergian . maka ia mendapatkan satu pahala. Abu Daud) Dari Amar bin Ash ra. Ali Said menegaskan bahwa di samping hukum adat dan hukum eks barat. c) BAB II KEDUDUKAN DAN PELAKSANAAN HUKUM ISLAM DALAM NEGARA REBUPLIK INDONESIA A. Bahsanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Apabila Hakim menjatuhkan hukum dengan berijtihat dan ijtihatnya itu benar. Jalur kedua yaitu jalur peraturan perundang-undangan Pelaksanaan hukum Islam bidang muamalah Melalui BAMUI (badan Arbitrase Muamalah Indonesia) yang didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat ini para pengusaha. hendaklah salah satu diantaranya ada yang dijadikan penanggung jawab. Pelaksanaan Hukum Islam Pelaksanaan hukum Islam di Indonesia dilakukan melalui berbagai jalur 1) 2) 3) 4) Jalur pertama adalah jalur iman dan takwa. Hukum Islam dasarnya ditetapkan oleh Allah melalui wahyu Nya yang dijelaskan oleh nabi Muhammad saw sebagai rasulNya melalui sunnah beliau. Hukum Islam Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari dan merupakan bagian agama Islam. hukum Islam yang merupakan salah satu komponenin tata hukum Indonesia menjadi salah satu bahan baku pembentukan hukum nasional Indonesia B. maka ia mendapat dua pahala dan kalau dia menjatuhkan hukum dengan berijtihat kemudian ijtihatnya salah. pedagang dan industriawan atas kesepakatan bersama dapat memilih hukum Islam untuk menyelesaikan sengketa mereka secara damai (di luar pengadilan) Jalur kelima melaksanakan dalam makna menerapkan hukum Islam dilakukan oleh lembaga pusat penelitian obat/kosmetik dan makanan (LPPOM) yang juga didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia 5) .

yaitu. di antara anggota masyarakat. Masa (Perode) Tauliyah Ketika masyarakat Islam telah berkembang menjadi kerajaan Islam.6) Jalur keenam yaitu jalur pembinaan atau pembangunan hukum nasional BAB III SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA A. berupa suatu kumpulan aturan hukum perkawinan dan hukum kewarisan menurut hukum Islam. yaitu pengangkatan atas seorang yang dipercaya ahli oleh majelis atau kumpulan orang-orang terkemuka dalam masyarakat. Berlakunya hukum perdata Islam diakui oleh VOC dengan Resolutie der Indische Regeling tanggal 25 Mei 1760. Instruksi tersebut tidak dapat dilaksanakan karena mengalami kesulitan akibat perlawanan dari pihak Islam. antara lain dalam soal kewarisan. Tahkim kepada Muhakam Ketika pemeluk agama Islam masih sedikit. jabatan hakim atau qadhi dilakukan secara pemilihan dan baiat oleh ahlul hilli wal’aqdi. 3. Sedang masalah hukuman badan dan hukuman mati tidak ditanggapi oleh masyarakat Islam. yang pada perkembangannya dikenal pembentukannya dalam 3 (tiga) periode yaitu : 1. pengangatan jabatan hakim (qadhi) dilakukan dengan pemberian “tauliyah” yakni pemberian atau pendelegasian kekuasaan dari penguasa. Orang yang bertindak sebagai hakim. Masa (periode) Transisi Pada tanggal 4 Maret 1620 dikeluarikan instruksi agar di daerah yang dikuasai kompeni (VOC) harus diberlakukan hukum sipil Belanda. wujud Peradilan Agama belum seperti sekarang ini. atau compendium freijer. pada masa itu bila terjadi perselisihan atau sengketa. di selesaikan dengan cara bertahkim kepada guru atau mubaligh yang dianggap mampu dan berilmu agama. B. Masa (periode Ahlul Hilli Wal’Aqdi) Ketika penganut agama Islam telah bertambah banyak dan terorganisir dalam kelompok masyarakat yang teratur. . disebut muhakam. untuk dipergunakan pada pengadulan VOC. 2. Masa (periode) Prapemerintahan Hindia Belanda Praktik pelaksanaan hukum acara Peradilan Agama pada waktu itu masih sangat sederhana.

dan Snouck Hurgrounje. orang Moor. yaitu dengan Stbl. van Vollenhoven. sehingga dinyatakan bahwa : “Dalam hal terjadi perkara peerdata antara sesame orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila hukum adat mereka menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan suatu ordonansi”. . bermulalah suatu masa dimana seakan-akan masyarakat Indonesia telah merasakan sebagai suatu hal yang benar dan biasa saja bahwa hukum Islam itu bukan hukum di Indonesia dan telah tertanam dalam pikiran orang khususnya kalangan sarjana hukum bahwa yang berlaku adalah hukum adat. Dan dalam kaitannya dengan lembaga Peradilan Agama. pada tahun 1929 baru diadakan perubahan mengenai isi dari IS. dan Makasar. yaitu Cirebon.Juga terdapat kumpulan-kumpulan hukum perkawinan dan hukum kewarisan menurut hukum Islam yang dibuat dan dipakai di daerah-daerah lain. Pasal 109 merupakan penjelasan lebih lanjut dari kedua pasal di atas. Masa Pemerintahan Hindia Belanda II Theorie Receptie : Masa itu terjadi perubahan-perubahan mengenai pasal-pasal RR tersebut. Sejak saat itu. 129 dan sekaligus dimuat di dalam Stbl. 2) 3) 4) D. Dalam pasal 75. Pasal 78 (2) : “Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka. 2. Pada tahun 1925 regering reglement diubah namanya menjadi : IS (Wet Op de Staats Inrichting Van Nederlands Indie). orang Cina dan semua mereka yang beragama Islam dan orang-orang yang tidak beragama. instelling dan kebiasaan itu juga dipakai untuk mereka oleh hakim Eropa pada pengadilan yang lebih tinggi. 1855 : 2 ditegaskan berlakunya undang-undang (hukum) Islam bagi orang Islam Indonesia. Dan hanyalah kalau hukum Islam itu menjadi hukum adat barulah menjadi hukum. 78 dan 109 Regeerings Reglement (RR) Stbl. Masa Pemerintahan Hindia Belanda Pada tahun 1854 Pemerintah Belanda mengeluarkan pernyataan politik yang dituangkan dalam “Reglement op het beleid der regeerings van Nederlandsch Indie” yang disingkat menjadi Regeerings Reglement (RR) dan dimuat di dalam Stbl. Semarang. terjemahan dari bunyi pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pasal 75 ayat (3) : “Oleh hakim Indonesia hendaklah diberlakukan UU Agama (godsdienstige wetten) dan kebiasaan penduduk Indonesia”. Tahun 1929 No. Secara rinci. Antara lain atas anjuran C. Belanda 1854 No. 221 Pemerintah Hindia Belanda mengubah pasal 134 ayat (2) IS. yaitu orang Arab. Hindia Belanda Tahun 1855 No. maka mereka tunduk kepada putusan hakim agama atau kepala masyarakat mereka menurut UU agama (godsdienstige weeten) atau ketentuan-ketentuan lama mereka. C. Dengan Stbl 1925 tersebut. bila terjadi pemeriksaan banding”. Pasal ini berbunyi sebagai berkut : “Ketentuan termaksud dalam pasal 75 dan 78 itu berlaku pula bagi mereka yang dipersamakan dengan “inlander”. Pasal 75 ayat (4): “UU agama.

32 tahun 1954. tempat kediaman (maskan) mut’ah dan sebagainya. 1 Tahun 1951 belum ada sama sekali. seperti yang dimaksud dalam undangundang Darurat No. Sejarah Singkat Pengadilan Agama Islam di Indonesia (Bab I dan II). tetap berdiri dan dibiarkan dalam bentuknya semula. 22 tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah. 45 tahun 1957 disebutkan wewenang Pengadilan Agama / Mahkamah Syari’ah adalah. yakni Sumatera adalah termasuk daerah Angkatan Darat yang berpusat di Shonanto (Singapura). demikian juga memutuskan perkara perceraian dan mengesahkan bahwa syrat taklik sudah berlaku. kalau untuk perkara-perkara itu berlaku lain daripada hukum agama Islam. sedekah. Perubahan lembaga ini hanyalah dengan memberikan atau mengubah nama saja. dan segala perkara yang menurut hukum yang hidup diputus menurut hukum agama Islam yang berkenaan dengan Nikah. Dalam penjelasan Pasal 39 ayat 2 UU No. Pasal 2 ayat 2 Perkawinan harus dicatat dalam undang-undang ini tercakup ketentuan Hukum Perkawinan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Dalam pasal 4 ayat 1 PP No. Talak.M. fasach.E. 2. Meninjau secara ringkas tentang keadaan peradilan di seluruh Indonesia pada zaman Jepang adalah sukar sekali. Namun. F. Jawa Madura dan Kalimantan adalah daerah Angkatan Darat yang berpusat di Jakarta. 9 tahun 1975 sebagai Peraturan Pelaksanaan Undang-undang ini. ruju’. dalam buku Kedudukan dan Kekuasaan Peradilan Agama di Indonesia (Bab I dan II) serta H. Masa Setelah Kemerdekaan Indonesia 1. Maluku dan Nusa Tenggara adalah daerah Angkatan Laut yang berpusat di Makasar. peraturan tentang pelaksanaan tugas Peradilan Agama. Dalam pasal 4 ayat 2 disebutkan bahwa. 1 tahun 1974 disebutkan enam (6) alasan perceraian. Tahun 1945 – 1957 Pada tahun 1946 dikeluarkan Undang-undang No. Sedang Sulawesi. nafaqah. mas kawin (mahar). dan Rujuk yang berlaku untuk seluruh Indonesia dengan Undang-undang No. yaitu Sooryoo Hooin untuk Pengadilan Agama dan Kaikyoo Kootoo Hooin untuk Mahkamah Islam Tinggi (Pengadilan Tinggi Agama). yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No. No. thalaq. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. oleh karena daerah kekuasaan yang berbeda. memeriksa dan memutuskan perselisihan antara suami isteri yang beragama Islam. perkara waris mal waris. Tahun 1957-1974 Pada masa itu pemerinah sedang menyusun suatu Undang-undang Perkawinan. Pengadilan Agama / Mahkamah Syari’ah tidak berhak memeriksa perkara-perkara yang tersebut dalam ayat 1. dalam hal ini dicantumkan kembali dalam pasal 19 PP. Dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa Perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum agamanya masing-masing. Zaini Ahmad Noeh. Djamil Latif. Uraian lebih lanjut mengenai pendirian Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah diluar Jawa dan Madura dapat dibaca dan dipelajari H. . Masa (Periode) Penjajahan Jepang Pada masa pemerintahan Jepang ini lembaga Pengadilan Agama yang sudah ada pada masa penjajahan Belanda. baitulmal dan lain-lain yang berhubungan dengan itu. hadhanah. wakaf. hibah.

administrative dan finansial Peradilan Agama berada di bawah Mahkamah Agung. yang menyatakan bahwa secara organisatoris. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh lainnya. Tahun 1974-1989 Dengan Keputusan Menteri Agama No. nama Pengadilan Agama yang berbedabeda untuk seluruh Indonesia. 7 tahun 1989. Dalam pasal 1 ditetapkan bahwa. terdapat 16 hal yang merupakan wewenang Pengadilan Agama.Dalam pasal 63 ayat 1 ditegaskan bahwa. Setelah berlakunya UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Meskipun ada perubahan terhadap pasal 11 UU No. Mahkamah Agung adalah lembaga tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia No. 3. 3 tahun 1975 tentang kewajiban Pegawai pencatat nikah. 1 tahun 1974 dan setalah berlakunya UU No. 35 Tahun 1999 Serta UU No. di seragamkan dengan sebutan atau istilah “Pengadilan Agama” untuk Pengadilan Tingkat Pertama. Pada tahun 1985 dikeluarkan UU No. 7 tahun 1989. 1 tahun 1990. Selanjutnya dikeluarkan peraturan Menteri Agama (PMA) No. 35 Tahun 1999. 14 Tahun 1970 jo. UU No. dikeluarkan tiga peraturan. 6 tahun 1980. Peradilan Agama tidak mengalami perubahan seperti yang ditentukan terhadap lingkungan peradilan yang lain yaitu dalam waktu lima tahun secara bertahap sudah harus berada di di bawah Mahkamah Agung. yang dimaksud dengan pengadilan dalam undangundang ini ialah : a) b) Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam Pengadilan umum bagi lainnya. dan “Pengadilan Tinggi Agama” untuk Pengadilan Tingkat Banding di seluruh Indonesia. Surat Edaran Menteri Agama nomor 2 tahun 1990 tentang petunjuk Pelaksanaan UU no. Dalam pasal 2 ditetapkan bahwa Mahkamah Agung adalah pengadilan Negara tertinggi dari semua lingkungan peradilan. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. namun baik sebelum atau sesudah lahirnya UU No. . yaitu : a) Surat Edaran Mahkamah Agung No. 7 tahun 1989 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. 7 1989. Tahun 1989-1999 Setelah berlakunya UU No. tanggal 2 Maret 1990 tentang Petunjuk Pembuatan Penetapan sesuai pasal 84 ayat 4 UU No. 14 Tahun 1970. 4. b) c) 5. III MPR/1978. Peradilan Agama dalam Sistem Peradilan Menurut UU No.

Periode 1971 sampai dengan 1981 Tahap dimana langka-langkah kongrit telah dilakukan secara peraturan perundang-undangan oleh departemen agama dengan dilandasi oleh peraturan UU No. Proses penyiapan RUU PA terhambat oleh proses persiapan RUU peradilan umum dan RUU tentang MA. 14 tahun 1970 pasal 10 (1) serta Instruksi presiden no 15 tahun 1970 tentang tata cara Persiapan RUU dan PP pasal 1. yaitu : 1. 7 tahun 1989 yang berbunyi “Pembinaan teknis peradilan. Periode 1981 sampai dengan 1988 Berdasarkan tata tertip DPR. Periode 1961 sampai dengan 1971 Pada masa 10 tahun persiapan intern.” Sedangkan pada pasal 1 angka 6 juga terdapat penyesuaian terhadap bunyi Pasal 12 ayat (1) UU Peradilan Agama tersebut sehingga berbunyi : “ Pembinaan dan pengawasan umum terhadap hakim dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung. 2. dan RUU tentang Acara Pradilan Agama. Latar Belakang Penyusunan UU No.Saat ini pengaturan mengenai struktur organisasi. maka pembicaraan RUU PA melalui tahap-tahap : . dan finansial pengadilan dilakukan oleh Mahkamah Agung. 3. administrasi dan finansial lembaga Peradilan Agama ke “satu atap” yaitu di bawah Mahkamah Agung telah semakin kokoh dengan keluarnya UU No. maka kekuasaan peradilan agama diperluas dalam menagani kasus perkawinan. organisasi. atas landasan inilah menteri agama mengajukan 2 draf rancangan undang-undang. financial berada pada departemen masing-masing. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama Dalam kurun waktu 28 tahun proses pembentukan UU No 7 tahun 1989. dapatlah dibagi kedalam 4 periode penting. 3 tahun 2006 yang mengaturnya lebih lanjut pada Pasal I angka 4 mengenai perubahan bunyi Pasal 5 ayat (1) UU No. dimulai dengan keluarnya UU No 19 tahun 1964 mengenai Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dimana dinyatakan bahwa peradilan agama merupakan salah satu ruang lingkup peradilan di Indonesia dengan Makamah Agung sebagai puncaknya dan secara organasatoris. 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA A. administrasi. Pada priode inilah departemen agama menghasilkan dua Rancangan undang-undang.” BAB IV KERANGKA HISTORIS PEMBENTUKAN UU No. MA mengeluarkan peraturan no 1/1977 yang memberlakukan acara kasasi peradilan perdata umum terhadap perkawinan yang berasal dari peradilan agama. Dengan disyahnkannya UU perkawinan. Pada tahun 1977. RUU tentang susunan dan kekuasaan agama.

a)

Pada tingkat pertama, terjadi perdebatan yang sangat singit, dimana kelompok yang tidak menyetujui RUU PA dibahas mempermasalahkan dasar pembentukan RUU PA berupa UUD 1945 pasal 24 dan pasal 25 serta UU No 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Pada tahap kedua, dimana disampaikannya pandangan umum fraksi-fraksi dan pendapat pemerintah berjalan cukup memadai. Pada tahap ketiga, dibentuknya pansus RUU PA, dan pansus membentuk rencana kerja sebagai persiapan pengesahan RUU PA menjadi UU pada tahap ke Empat. Pada tahap ke empat, pada tanggal 29 Desemer 1989 RUU PA disahkan.

b)

c)

d)

B. Sistematika UU PA UU No 7 Tahun 1989 terdiri dari 7 Bab dan 108 pasal, dengan susunan sebagai berikut : 1) BAB I Tentang ketentuan umum Memuat mengenai pengertian, kedudukan dan pembinaan pengadilan dalam lingkup peradilan agama. BAB II Mengenai susunan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi. BAB III Mengenai Kekuasaan Pengadilan dalam lingkup peradilan agama. BAB IV Mengatur Hukum Acara BAB V menyebut ketentuan-ketentuan lain mengenai administrasi peradilan, pembagian tugas para hakim, panitera dan juru sita. BAB VI mengenai peraturan peralihaan BAB VII mengenai ketentuan penutup

2) 3) 4) 5)

6) 7)

C. Beberapa Perubahaan Yang Terjadi Setelah Berlakuknya UU No 7 Tahun1989 Dengan disahkannya UU No 7 tahun1989, maka terajdi perubahan-perubahan dalam lingkup peradilan agama. Yaitu perubahaan mengenai : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peradilan agama menjadi peradilan yang mandiri Seragamnya peradilan agama seluruh RI Perlindungan terhadap wanita lebih ditingkatkan Adanya juru sita, dan tidak diperlukannya lagi pengukuhan keputusan dari Pengadilan Umum Terlaksananya ketentuan pokok undang-undang kehakiman Terlaksananya pembangunan hokum berwawaskan nusantara.

BAB V ASAS-ASAS UMUM YANG TERDAPAT DALAM UU NO. 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

A. Asas Personal Keislaman Asas personalita keislaman dimana yang dapat tunduk dalam kekuasaan lingkungan Peradilan Agama yani hanya mereka yang mengakui pemeluk Agama Islam. Penganut Selain agama Islam atau non Islam tidak tunduk dan tidak dapat dipaksa tunduk kepada lingkungan Pengadilan Agama.

B. Asas Kebebasan Dalam hal ini agar hokum dapat ditegakan berdasarkan pancasila, akan tetapi kebebasan kehakiman bukanlah kebebasan yang membabi buta akan tetapi terbatas dan relative.diantaranya: · · · Bebas dari campur tangan kekuasaan negara lain, Bebas dari paksaan Kebebasan melaksanakan wewenang judical (peradilan)

C. Asas Wajib Mendamaikan Asas mendamaikan dalam Peradilan Agama sejalan dengan konsep Islam yang dinamakanIshlah. Untuk itu layak sekali para hakim Peradilan Agama menyadari dan mengemban fungsi “mendamaikan” karena bagaimanapun seadil-adilnya putusan jauh lebih baik dan lebih adil jika perkara diselesaikan dengan perdamaian.

D.

Asas Sederhana, Cepat Dan Biaya Ringan

Sebuah Peradilan apalagi Peradilan Agama yang menjadi harapan masyarakat muslim untuk mencari keadilan, dengan adanya Asas Sederhana , cepat dan biaya ringan akan selalu dikehendaki oleh masyarakat..

E.

Asas Terbuka Untuk Umum

Setiap pemeriksaan berlangsung disidang pengadilan, siapa saja yang ingin berkunjung, menghadiri, menyaksikan, dan mendengarkan jalanya persidangna tidak boleh dihalangi dan dilarang, maka untuk memenuhi syarat formal atas asas ini, sebelum hakim melakukan pemeriksaan lebih dahulu menyatakan dan mengumumkan ”persidangan terbuka untuk umum”. F. Asas Legalitas Dan Persaman

Yakni pengadilan mengadili menurut ketentuan-ketentuan hukum. Karena hakim berfungsi dan berwenang mengerkan roda jalanya peradilan melalui badan pengadilan, semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan, mesti menurut hukum

G. Asas Aktif Memberi Bantuan Dalam asas ini hakim hendaknya dapat memberi bantuan secara akif dilihat dari tujuan dari memberi bantuan diarahkan untuk mewujudkan peraktek peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

BAB VI SUSUNAN PERADILAN AGAMA DAN APARATNYA

A. Susunan Oranisasi Pengadilan Agama Susunan Pengadilan Agama yang terdapat dalam pasal 9 undang-undang nomor 7 tahun 1989 adalah tidak berbeda dengan susunan pengadilan negeri, yaitu terdiri dari pimpinan, hakim anggota, panitera, sekretaris dan juru sita sedangkan susunan Pengadilan Tinggi Agama adalah pimpinan, hakim anggota, panitera, dan sekretaris. 1) Pimpinan Pimpinan Pengadilan Agama terdiri dari seorang ketua dan seorang wakil ketua. 2) Hakim Anggota Pada umumnya ketentuan yang menyangkut persyaratan untuk menjadi hakim dan lain sebagainya antara Hakim . Syarat-syarat untuk menjadi hakim agama haruslah beragama Islam dan Sarjana Syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam.

3)

Panitera Di Pengadilan Agama seorang panitera harus beragama Islam dan berlatar belakang pendidikan Islam atau menguasai hukum Islam. Untuk Pengadilan Tinggi Agama persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi panitera adalah orang tersebut memiliki ijazah sarjana syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam, sedangkan persyaratan yang lainnya tidak berbeda dengan persyaratan untuk menjadi panitera Pengadilan Tinggi.

4)

Sekretaris

Wewenang mutlak adalah menyangkut pembagian kekuasaan antar badan-badan peradilan. BAB VII WEWENANG ATAU KOMPETENSI PERADILAN AGAMA A. yang dalam bahasa Belanda disebut distributie van rechtsmacht. Azas ini dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan ”A ctor Sequitur orum Rei”. 1 Th. bahwa tempat tinggal seorang adalah tempat dimana seseorang menempatkan pusat kediamannya. beragama Islam. Sedang tempat kediaman adalah dimana seseorang berdiam. diisyaratkan harus mempunyai pengalaman minimal 5 (lima) tahun sebagai juru sita pengganti. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Azasnya adalah ”yang berwenang Pengadilan Agama di tempat tergugat”. 15 Jakarta. mungkin di rumah peristirahatannya di Puncak. Wewenang mutlak menjawab pertanyaan badan peradilan macam apa yang berwenang untuk mengadili sengketa ini ? B. Misalnya persoalan mengenai perceraian bagi mereka yang beragama Islam berdasarkan ketentuan pasal 63 ayat 1) huruf a UU No. Sehingga apabila seseorang pindah tanpa meninggalkan alamat barunya. utang-putang. dan tempat tinggalnya ataupun tempat kediamannya tidak diketaui. oleh karena dalam pasal 118 HIR di samping tempat tinggal menyebut pula tempat kediaman. selain itu orang tersebut haruslah Warga Negara Indonesia. dan juga tercatat sebagai penduduk. Pasal 17 BW menyatakan. Apa itu tempat tinggal ? dan apa pula yang dimaksud dengan tempat kediaman ? Perbedaan ini perlu dipahami dengan sebaik-baiknya. Pasal 118 HIR menyangkut kekuasaan relatif. dan dalam bahasa Belanda disebut attributie van rechtmacht. dilihat dari macamnya pengadilan menyangkut pemberian kekuasaan untuk mengadili.Di Pengadilan Agama juga ada sekretaris yang dipimpin oleh seorang sekretaris dan dibantu oleh seorang wakil sekretaris dimana jabatan sekretaris dirangkap oleh panitera pengadilan 5) Juru Sita Untuk menjadi juru sita. gadai adalah merupakan wewenang pengadilan negeri. Sehingga gugatan diajukan ke Pengadilan Agama di Jakarta. umpamanya di Jalan Kramat No. sewa-menyewa. . 1974 adalah wewenang pengadilan agama. Sedangkan persoalan warisan.Pusat. Kompetensi Relatif Kompetensi Relatif mengatur pembagian kekuasaan mengadili antara pengadilan Agama yang serupa. jual-beli. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kompetensi Absolut. sekarang alamat tidak diketahui”. dan berijazah serendah-rendahnya sekolah lanjutan tingkat atas. tergantung dari tempat tinggal tergugat. maka ia digugat pada pengadilan tempat tinggalnya yang terakhir dan dalam surat gugatan disebutkan ”paling akhir bertempat tinggal .

2) 3) b) Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah : 1) Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon ( pasal 66 ayat (2) UU no 7 tahun 1989 ). Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum. 2) 3) 4) c) Permohonan tersebut memuat : . Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman diluar negeri. Prosedur a) Langkah yang harus dilakukan Pemohon (suami / kuasanya) : 1) Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 66 UU nomor 7 tahun 1989 ). Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah tentang tata cara membuat surat permohonan ( pasal 119 HIR 143 Rbg jo pasal 58 UU nomor 7 tahun 1989 ). Jika Termohon telah menjawab surat permohonan tersebut harus atas persetujuan Termohon.BAB VIII PROSES ADMINISTRASI DAN PENGAJUAN PERMOHONAN DI PENGADILAN AGAMA A. maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon ( pasal 66 ayat (3) UU no 7 tahun 1989 ). maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkan pernikahan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta pusat ( pasal 66 ayat (4) UU no 7 tahun 1989 ). Perkara Cerai Talak 1. Bila Termohon berkediaman diluar negeri. maka permohonan harus diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon ( pasal 66 ayat (2) UU no 7 tahun 1989 ). Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Pemohon.

Tahap persidangan. Setelah putusan memperoleh kekuatan hokum tetap. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita). agama. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan. Penyelesaian Perkara a) b) Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum. c) d) e) B. pekerjaan. Prosedur Langkah yang harus dilakukan Penggugat (istri / kuasanya) : a) Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 73 UU nomor 7 tahun 1989 ).. Penyelesaian Perkara a) b) Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah : b) c) d) 2. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah tentang tata cara membuat surat gugatan ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 58 UU nomor 7 tahun 1989 ). Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan tersebut harus atas persetujuan Tergugat.1) 2) 3) Nama. Perkara Cerai Gugat 1. selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak. 2. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum).. Putusan Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. . maka panitera Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak. dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon. umur.

yakin (terbukti 100%) 2. Tingkatan keyakinan hakim sebagai berikut: 1. sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tertentu Yamin : suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu member janji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan dan percaya bahwa siapa yang menberi keterang atau janji yang tidak benar akan dihukum oleh-Nya Riddah : pernyataan seseorang bahwa ia telah keluar dari agama Islam Maktubah : maktubah ada 2 macam yaitu: akta dan surat keterangan 3) 4) 5) . Putusan Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. syubhat (terbukti 50%) 4. waham (terbukti < 50%) B. tentang suatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat. f) BAB IX PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ISLAM DAN PRAKTIKNYA DI PENGADILAN AGAMA A. zhaan (terbukti 75-99%) 3. Syahadah : seseorang yang memberikan keterangan di muka sidang dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pengertian Pembuktian Pembuktian adalah upaya para pihak yang berperkara untuk meyakinkan hakim akan kebenaran peristiwa atau kejadian yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa dengan alat-alat bukti yang telah ditetapkan undang-undang. Alat-Alat Bukti Yang Diakui Dalam Pembuktian Menurut Yang Digunakan Di Pengadilan Agama Alat-alat bukti tersebut sebagai berikut: 1) 2) Ikrar : pernyataan seseorang tentang dirinya sendiri yang bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan pihak lain. selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak.c) d) e) Tahap persidangan. maka panitera Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak. dengar dan ia alami sendiri. Setelah putusan memperoleh kekuatan hokum tetap.

Anak yang tidak diketahui benar umurnya sudah 15 tahun Orang gila. untuk memelihara obyektifitas saksi dan kejujurannya. meskipun ia kadang-kadang mempunyai ingatan yang terang. yaitu misalnya kesaksian atau surat-surat. Persangkaan-persangkaan hakim sebagai alat bukti mempunyai kekuatan bebas. setiap orang dapat menjadi saksi. yang membuktikan bahwa suatu peristiwa adalah terang ternyata. maka dalam hal ini yang dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu. melainkan alat-alat bukti lain. Alat bukti surat – surat (tertulis) Alat bukti surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda bacaan yang di maksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang yang di pergunakan sebagai pembuktian.6) Tabayyun : upaya perolehan penjelasan yang dilakukan oleh pemeriksaan majelis pengadilan yang lain daripada majelis pengadilan yang sedang memeriksa. 4. baru kemudian disimpulkan adanya suatu peristiwa tertentu. 4. Alat bukti saksi Pada prinsipnya. C. Surat sebagai alat bukti tertulis dapat dibedakan dalam 2 jenis yaitu: surat akta otentik dan surat akta tidak otentik (dibawah tangan) 2. karena adanya hubungan tertentu dengan para pihak. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak menurut keturunan yang sah 2. Istri atau suami dari salah satu pihak meskipun sudah ada perceraian 3. Alat bukti persangkaan Oleh karena persangkaan itu merupakan kesimpulan belaka. atau karena keadaan tertentu orang tidak boleh di dengar sebagai saksi adalah : 1. ada orang tertentu oleh Undang-undang tidak dapat diperkenankan menjadi saksi sebagai dasar untuk memutus perkara. seberapa jauh di akan memberi kekuatan bukti kepada persengketaanpersengketaan yang didapat pada pemeriksaan perkara. Namun demikian. atau pengakuan salah satu pihak. Alat bukti pengakuan Ada tiga macam pengakuan yaitu : a) Pengakuan murni : ialah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan . Alat-Alat Bukti Yang Digunakan Di Pengadilan Agama Alat-alat bukti itu sebagai berikut: 1. yaitu terserah kepada kebijaksanaan hakim. 3.

Putusan. Putusan ialah pernyatan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontensius) Penetapan ialah pernyataan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara permohonan (volunteer) Akta Perdamaian ialah akta yang dibuat oleh Hakim berisi hasil musyawarah/ kesepakatan antara para pihak dalam sengketa kebendaan untuk mengakhiri sengketa dan berlaku sebagai putusan. 5. Akta Perdamaian. Kekuatan pembuktian sumpah aestimatoir ini sama dengan sumpah supletoir. 182 RBg dan 1940 BW yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa sebagai dasar putusannya. Alat bukti sumpah HIR menyebutkan 3 macam sumpah sebagai alat bukti yaitu : c) a) Sumpah supletoir diatur dalam pasal 155 HIR.. Sumpah penaksir.b) Pengakuan dengan kualifikasi : ialah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari tuntutan. b) c) BAB X PRODUK-PRODUK PERADILAN AGAMA DAN PELAKSAANNYA A. 3. Penetapan. bersifat sempurna dan masih memungkinkan pembuktian lawan. Pengakuan dengan klausula : adalah suatu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersipat membebaskan. Produk-Produk Peradilan Agama Ada 3 (tiga) macam produk Hakim yaitu : 1. Macam dan Jenis Putusan . 1. 2. Sumpah decisoir atau pemutus adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya (Pasal 156 HIR/Pasal 183 RBg/Pasal 1930 BW} Pihak yang meminta lawannya mengucapkan sumpah disebut deferent. sedang pihak yang harus bersumpah disebut delaat.

Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara ada 2 (dua) macam putusan yaitu : a) Putusan Akhir ialah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan baik melalui semua tahapan pemerikasaan maupun yang belum melalui semua tahapan pemeriksaan. (Pasal 148 RBg/Pasal 125 HIR) Putusan Kontradiktoir ialah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak dihadiri oleh salah satu pihak atau para pihak akan tetapi dalam pemeriksaan penggugat dan tergugat pernah hadir. b) c) Dilihat dari Isinya terhadap gugatan putusan terbagi kepada 3 macam yaitu : a) b) Putusan negatif yaitu menolak atau tidak menerima gugatan. Misalnya Menghukum Tergugat untuk menyerahkan seperdua bagian dari harta bersama kepada Penggugat. Putusan sela ialah putusan yang dijatuhkan pada saat masih dalam proses pemerikasaan perkara dengan tujuan memperlancar jalannya pemeriksaan. . Putusan konstitutif ialah putusan yang menciptakan atau menimbulkan hukum baru. putusan sela tidak mengakhiri pemerikasaan tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan. Misalnya putusan tentang gugatan cerai dengan alasan ta’lik talak. berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. Misalnya menetapkan sahnya pernikahan (isbat nikah) Putusan kondemnatoir ialah putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan untuk memenuhi prestasi. (Pasal 148 RBg dan Pasal 124 HIR) Putusan Verstek ialah putusan yang dijatuhan karena tergugat/termohon tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya bukan karena halangan yang sah dan juga tidak mengajukan eksepsi mengenai kewenangan. b) Dilihat dari hadir tidaknya para pihak berperkara pada saat putusan dijatuhkan/diucapkan maka dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu : a) Putusan gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena penggugat/pemohon tidak hadir dalam sidang dan telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya itu bukan karena halangan yang sah. Putusan Positif yaitu mengabulkan atau menerima seluruh isi gugatan. b) c) Dilihat dari segi Sifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan maka putusan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam putusan yaitu : a) Putusan diklatoir ialah putusan yang menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai suatu yang resmi menurut hukum.

Suatu putusan hakim terdiri dari : a. dalam amar putusan memuat juga pembebanan biaya perkara.c) Putusan Positif-negatif yaitu menerima atau mengabulkan sebagian dan tidak menerima atau menolak sebagian. Rincian biaya perkara. bukti-bukti dan saksi serta kesimpulan para pihak.(termasuk nama kuasa hukum apabila ada) Tentang duduk perkara yaitu memuat kronlogis duduk perkara mulai dari usaha perdamaian. 2. replik. Susunan dan Isi Putusan Putusan Hakim harus dibuat dengan tertulis dan harus ditanda tangani oleh Hakim/Majelis Hakim termasuk Panitera/Panitera Pengganti sebagi dokumen resmi. Tentang hukumnya yaitu memuat bagaimana Hakim mengkwalifisir fakta atau kejadian dan mempertimbangkanya secara baik dan dasar-dasar hukum yang dipergunakan dalam menilai fakta dan memutus perkara. Pelaksanaan Putusan/Eksekusi c) d) e) f) g) h) i) j) k) . B. Pertimbangan (konsideran) yang memuat tentang Duduk Perkaranya dan Pertimbangan Hukum d. Kepala Putusan b. Amar putusan yaitu merupakan kesimpulan akhir oleh hakim atas perkara yang diperiksanya. jawaban tergugat. Hadir tidaknya para pihak ketika putusan dibacakan. Amar atau dictum putusan Secara detail suatu putusan harus memuat hal-hal berikut : a) b) Judul dan Nomor Putusan (Nomor Putusan sama dengan Nomor perkara) Khusus putusan/penetapan Pengadilan Agama diawali dengan kalimat :”Bismillahirrahmanir rahiem” dan “Demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa” Nama dan tingkat pengadilan yang memutus. Tanggal putusan yaitu memuat hari dan tanggal pengucapan putusan dalam sidang yang dinyatakan dalam akhir putusan. Nama Hakim/Majelis Hakim yang memutus perkara termasuk Panitera/PP. duplik. dalildalil penggugat. Identitas Para Pihak c. Identitas dan kedudukan pihak-pihak berperkara.

pasal 218 ayat (2) R. 7/1989. Jenis-Jenis Pelaksanaan Putusan Terdapat beberapa macam pelaksanaan putusan.1. Putusan Yang Dapat Dieksekusi Putusan yang dapat dieksekusi adalah yang memenuhi syarat-syarat untuk dieksekusi. Pelaksanaan (eksekusi) Grose akta Ø Putusan tidak dijalankan oleh pihak terhukum secara sukarela meskipun ia telah diberi peringatan (aan maning) oleh Ketua Pengadilan Agama Ø Putusan hakim yang bersifat kondemnatoir Putusan yang bersifat deklaratoir atau konstitutif tidak diperlukan eksekusi. Dan sebagai akibat dari ketentuan UU Peradilan Agama diatas adalah: a) b) Ketentuan tentang eksekutoir verklaring dan pengukuhan oleh Pengadilan Negeri dihapuskan. Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . Putusan ini disebut juga Eksekusi Riil. Pada setiap Pengadilan Agama diadakan Juru Sita untuk dapat melaksanakan putusan-putusannya 2. Pelaksanaan putusan serta merta. putusan yang dapat dilaksanakan lebih dulu b. Pelaksanaan putusan provisionil c. Hal ini diatur dalam pasal 200 ayat (1) HIR.Bg 3. Hal ini diatur dalam pasal 196 HIR. dan kasasi. Hal ini diatur dalam pasal 1033 Rv.yaitu: § Putusan yang menghukum salah satu untuk membayar sejumlah uang. banding. Pengadilan Agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman dapat melaksanakan segala putusan yang dijatuhkannya secara mandiri tanpa harus melalui bantuan Pengadilan Negeri. pasal 208 R. pasal 259 R. § Eskekusi riil dalam bentuk penjualan lelang. yaitu : Ø Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. kecuali dalam hal: a.Bg § Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk mengosongkan suatu benda tetap. Putusan kondemnatoir . Pelaksanaan Akta Perdamaian d. Hal ini diatur dalam pasal 225 HIR. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Agama Pelaksanaan putusan /eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. Hal ini berlaku setelah ditetapkannya UU No.Bg § Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan.

dan merupakan bagian dari putusan deklaratoir. a) b) c) d) e) Diajukan oleh pihak-pihak dalam perkara. Pengajuan Banding Pengertian banding ialah permohonan pemeriksaan ulang kepada pengadilan yang lebih tinggi (dalam hal ini Pengadilan Tinggi Agama) terhadap suatu perkara yang telah diputus oleh tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atau tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama tersebut. karena sebelum bersifat menghukum terlebih dahulu ditetapkan suatu keadaan hukum Ø Eksekusi dilakukan atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan Agama. Membayar panjar biaya banding.20/1947) b) . Bagi pihak yang berada di luar wilayah pengadilan agama yang memutus perkara tersebut. DAN PENINJAUAN KEMBALI 1. Masa Pengajuan banding : a) Bagi pihak berperkara yang berada dalam wilayah hukum pengadilan yang memutus perkara adalah selama 14 hari terhitung mulai hari berikutnya sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan kepada yang bersangkutan. dengan ketentuan sebagai berikut . a) Permohonan banding diajukan kepada pengadilan tinggi dalam daerah hukum meliputi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara. Membuat akta permohonan banding dengan menghadap pejabat kepaniteraan pengadilan. (Pasal 7 ayat (1). Diajukan masih dalam tenggang waktu banding. Putusan tersebut menurut hukum diperbolehkan banding. Permohonan banding diajukan melalui pengadilan yang memutus perkara tersebut. masa bandingnya selama 30 hari terhitung hari berikutnya isi putusan disampaikan kepada yang bersangkutan. (2) dan (3) UU No. KASASI.tidak mungkin berdiri sendiri. b) Syarat-syarat banding. BAB XI UPAYA BANDING.

Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat banding menurut hukum dapat dimintakan kasasi. Pengertian Peninjauan Kembali ialah meninjau kembali putusan perkara perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena diketemukan hal-hal atau bukti baru yang pada pemeriksaan terdahulu tidak diketahui oleh Hakim. Pihak yang tidak menerima atau tidak puas atas putusan pengadilan tinggi agama atau pengadilan agama (dalam perkara volunteer) dapat mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung dengan syarat-syarat tertentu. Peninjaun Kembali hanya dapat diperiksa oleh Mahkamah Agung. Ketua PA melaporkan ke Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi tidak diteruskan ke MA (Peraturan MARI Nomor 1 Tahun 2001) 3. Peninjauan Kembali. Syarat-syarat permohonan PK a) Diajukan oleh pihak yang berperkara. Membayar panjar biaya kasasi. Syarat-syarat kasasi a) b) c) d) e) f) Diajukan oleh yang berhak. Apabila syarat-syarat kasasi tersebut tidak terpenuhi. Panitera Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut membuat keterangan bahwa permohonan kasasi atas perkara tersbut tidak memenuhi syarat formal. Membuat memori kasasi. . Membuat akta permohonan kasasi di kepaniteraan pengadilan agama yang bersangkutan Adapun tenggang waktu pengajuan kasasi sama dengan pengajuan banding. Pengajuan Kasasi Pengertian Kasasi ialah pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung terhadap putusan pengadilan yang lebih rendah (pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama) karena kesalahan dalam penerapan hukum. maka berkas perkaranya tidak dikirim ke Mahkamah Agung. Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi.2.

9)Memberi penjelasan tata cara verzet dan rekonvensi. membela dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien. Pengertian Bantuan Hukum Bantuan hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu. 3)Menyarankan penyempurnaan surat kuasa. 5)Memberi penjelasan alat bukti yang sah. mendampingi. 6)Memberi penjelasan cara mengajukan bantahan dan jawaban. BAB XII BANTUAN HUKUM DAN YURISPRUDENSI PERADIALAN AGAMA A. Bantuan Hukum 1. Ada bukti baru yang belum pernah diajukan pada pemeriksaan terdahulu. Adapun definisi jasa hukum adalah jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi. 8)Memberi bantuan upaya hukum. Adapun organisasi advokat atau lembaga bantuan hukum adalah organisasi profesi yang didirikan berdasarkan undang-undang.b) c) d) e) f) g) Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Diajukan dalam tenggang waktu menurut undang-undang. Membayar panjar biaya peninjauan kembali. 2)Memberi pengarahan tata cara izin “prodeo”. Membuat akta permohonan Peninjauan Kembali di Kepaniteraan Pengadilan Agama. Pemberian Bantuan Oleh Hakim Ada berberapa masalah formal yang tercakup kedalam objek fungsi memberi bantuan dan nasihat yaitu: 1)Membuat gugatan bagi yang buta huruf. 2. 7)Bantuan memanggil saksi secara resmi. dan 10)Mengarahkan dan membantu memformulasi perdamaian . baik di dalam maupun luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang. Masa pengajuan permohonan Peninjauan Kembali adalah 180 hari terhitung mulai ditemukannya novum atau bukti baru dan sebelum berkas permohoan Peninjauan Kembali dikirim ke Mahkamah Agung. Sedangkan advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum. mewakili. 4). Membuat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-alasannya.Menganjurkan perbaikan surat gugatan. Pemohon harus disumpah oleh Ketua Pengadilan tentang penemuan novum tersebut. menjalankan kuasa.

Keputusan hakim mempunyai kekuasaan (gezag) terutama apabila keputusan itu dibuat oleh Pengadilan Tinggi atau oleh Mahkamah Agung 2. Menurut Utrecht ada 3 (tiga) sebab hakim menurut keputusan seorang hakim lain: 1. Yurisprudensi Peradilan Agama Yurisprudensi Peradilan agama sama makna dan unsurnya dengan yurisprudensi perdialan umum . yang sebab persesuaian pendapat. maka seseorang hakim menurut keputusan yang telah diberi oleh seorang hakim yang berkedudukannya lebih tinggi.B. Pengertian Yurisprudensi Yurisprudensi adalah keputusan pengadilan/keputusan hakim yang terdahulu terutama dari mahkamah agung (untuk Indonesia). Yurisprudensi 1. Ruang Lingkup Yurisprudensi Peradilan Agama terbatas pada hukum yang menjadi wewenangnya dan hukum acara peradilan agama . yang berbeda adalah ruang lingkupnya. ada sebab: hakim menurut keputusan hakim lain. Di samping sebab yang psikhologis itu ada juga sebab praktis. 2. Akhirnya. karena ia menyetujui isi keputusan hakim lain itu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful