HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA

(Lanjutan : Pendahuluan)
Asas-asas Hukum Acara Peradilan Agama A.1. Asas Umum Lembaga Peradilan Agama 1) Asas Bebas Merdeka Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia. Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo. Pasal 1 Undangundang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertia n di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya, dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisial kecuali dalam hal yang diizinkan undang-undang.” 2) Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. 3) Asas Ketuhanan Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam, sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimatBasmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa.” 4) Asas Fleksibelitas Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Untuk itu, pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut. Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas, mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran. Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim, maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum.

5)

6)

Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis, rinci dan transparan, serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan. Asas Non Ekstra Yudisial Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana. Asas Legalitas Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. Asas ini diatur dalam pasal 3 (2), pasal 5 (2), pasl 6 (1) UU No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Pasal 2 UU No.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang, sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan. Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum, mulai dari tindakan pemanggilan, penyitan, pemeriksaan di persidangan, putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan, semuanya harus berdasar atas hukum. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim, tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum.

A.2. Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Ke-islaman Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama, hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama. Ketentuan yang melekat pada UU No. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah : a) Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam. b) Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqoh, dan ekonomi syari’ah. c) Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam, oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Khusus mengenai perkara perceraian, yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam, apabila terjadi sengketa perkawinan, perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama, walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad), baik dari pihak suami atau isteri, tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan, artinya, setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung, bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa.

3)

4)

5)

6)

Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum, artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. Jika seseorang mengaku beragama Islam, pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. Faktanya dapat ditemukan dari KTP, sensus kependudukan dan surat keterangan lain. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum, ditentukan oleh dua syarat : Pertama, pada saat terjadinya hubungan hukum, kedua pihak sama-sama beragama Islam, dan Kedua, hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam, oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. 2) Asas Ishlah (Upaya perdamaian) Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo. Pasal 31 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tentang perkawinan jo. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Pasal 115 KHI, jo. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. Karena itu, tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”, sebab bagaimanapun adil nya suatu putusan, pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian. Asas Terbuka Untuk Umum Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradila Agama jo. Pasal 19 (3 dan 4) UU No. 4 Tahun 2004. Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum, kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama). Asas Equality Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya, sehingga tidak ada perbedaan yang bersi fat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah : a. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”. b. Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law” c. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”. Asas “Aktif” memberi bantuan Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis, hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. Asas Upaya Hukum Banding

Tidak dilakukan secara sepihak 5. apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang. pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Bersifat partai. Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali. B. Surat Gugatan : Surat yang diajukan oleh penggugat pada ketua pengadilan agama yang berwenang. satu pihak sebagai penggugat dan yang lain sebagai tergugat 4. Terjadi sengketa antara para pihak 3. kecuali Undang-undang menentukan lain. Pemeriksaan harus dilakukan secara kontradiktor dari awal sampai dengan putusan. Syarat Formil Gugatan . Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili RESUME HUKUM ACARA PENGADILAN AGAMA I GUGATAN DAN PERMOHONAN A.7) 8) 9) Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Ciri-Ciri Gugatan : 1. artinya memberikan hak dan kesempatan pada tergugat untuk membantah dalil penggugat. Mengandung sengketa 2. Asas Upaya Hukum Kasasi Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan. C. kecuali undang-undang menentukan lain. yang memuat tuntutan hak yang hak yang didalamnya mengandung sengketa dan sekaligus landasan pemeriksaan perkara dan pembuktian kebenaran.

Obyektif: Gabungan beberapa tuntutan terhadap beberapa peristiwa hukum dalam suatu gugatan G. Terdapat gugatan yang erat antara gugatan satu dengan yang lain b. Jika syarat formil dan materiil belum lengkap. Harus diajukan pada pengadilan agama yang berwenang 2. Syaratnya: a. Kumulasi: a. Ishbat nikah b. Permohonan : Suatu permohonan yang berisi tuntutanhak perdata oleh suatu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa H. Harus memuat tuntutan tuntutan secara rinci 7. Gabungan Gugatan (kumulasi) 1. Gugatan harus berisi alas an yang dibenarkan oleh hokum 2. Harus memuat fakta kejadian 5.1. Terdapat hubugan hukum F. Penggugat harus memiliki hubungan dan kepentingan hokum dengan pokok gugatan 4. Memuat identitas penggugat dan tergugat 3. Syarat Materiil Gugatan 1. Harus dibuat dan ditanda tangani sendiri oleh penggugat atau kuasa hukumnya D. Harus mempunyai dasar hokum 6. Misal: Ahli waris. Ciri-cirinya : . Subyektif: Gabungan beberapa penggugat atau tergugat dalam suatu gugatan. maka hakim harus memberikan petunjuk E.

domisili Fatwa peristiwa Fatwa hukum Tuntutan Hubungan yang relevan antara posita dan petitum Ditanda tangani pemohon atau orang yang diberi kuasa J. Syarat Formil : Identitas permohonan meliputi nama.Bersifat kepentingan sepihak Tidak ada sengketa dengan pihak lain Tidak ada pihak ke-3 sebagai lawan I. Gugatan antara permohonan disampaikan pada ketua pengadilan. Setelah berkas diterima ketua pengadilan agama maka ketua pengadilan agama membuat penetapan majelis hakim (PMH) untuk menyidang perkara lalu majelis hakim membuat penetapan hari siding . Membayar biaya perkara —> Pasal 12i HIR ayat 4 Yang merupakan syarat imperative (memaksa) atas pendaftaran perkara 4. Syarat Materiil : Harus ada alasan yang dibenarkan oleh hukum Hakim harus member petunjuk jika belum memenuhi syarat formil dan materiil MEKANISME PERSIDANGAN 1. umur. diserahkan pada meja 1 untuk didaftar 2. Bagi yang menggunakan advokad maka surat kuasa dilengkapi dengan surat kuasa dengan surat kuasa khusus yang dilegalisir 3.

5. Menunggu surat panggilan siding oleh jurusita pengganti 6. Bukti : Segala sesuatu yang dapat meyakinkan akan kebenaran suatu dalil atau pendirian C. Menghadiri sidang sesuai jadwal PEMANGGILAN 1. Isi surat : Nama yang dipanggil Hari. Alat bukti : Segala sesuatu yang menurut undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan . Pembuktian : Upaya yang dilakukan para pihak dalam berperkara untuk menguatkan dan membuktikan dalil-dalil yang diajukan agar dapat meyakinkan hakim yang memeriksa perkara B. Panggilan sidang : Menyampaikan secara resmi dan patut pada pihak-pihak yang terlibat dalam perkara agar memenuhi dan melaksanakan hal-hal yang diminta dan diperintahkan pengadilan Panggilan sidang sah : jika dilakukan oleh jurusita atau jurusita pengganti yang telah disumpah untuk jabatannya Resmi : jika surat itu disampaikan secara tertulis oleh jurusita atau jurusita pengganti dalam wilayah hukum pengadilan yang bersangkutan Patut : Setidaknya 3 hari kerja sebelum hari persidangan 2. jam dan tempat sidang Membawa saksi-saksi Membawa surat-surat yang digunakan Penegasan dapat menjawab gugatan dengan surat 11 PEMBUKTIAN A.

Bukti surat : bukti berupa tulisan yang berisi tentang suatu peristiwa keadaan atau hal-hal tertentu. Hal-hal yang tidak perlu dibuktikan : Segala sesuatu yang diakui. disangka atau dibantah oleh lawan Peristiwa-peristiwa atau kejadian yang berkaitan adanya atau menimbulkan suatu hak F. I. saksi dan persangkaan H.D. Berasal dari diri para pihak : pengakuan dan sumpah Berasal dari luar pihak : surat. Hal-hal yang perlu dibuktikan : Segala sesuatu yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak Segala sesuatu yang didalilkan. dibenarkan oleh pihak lawan Segala sesuatu yang dilihat oleh hakim Segala sesuatu yang merupakan kebenaran yang bersifat umum G. Macam-macam Alat bukti: Alat bukti tertulis Saksi Persangkaan Pengakuan Sumpah E. Pembagian menurut sifat . Batas minimal Suatu jumlah alat bukti yang sah paling sedikit harus terpenuhi agar alat bukti tersebut mempunyai nilai alat bukti pembuktian untuk mendukung kebenaran yang didalilkan. .

Kesimpulan adalah : Suatu ringkasan yang dibuat oleh pihak yang berperkara yang tanpa ihtiar suatu gugatan baik jawaban atau bantahan yang dibuat dengan bukti-bukti di persidangan dan berisi suatu permintaan atas suatu gugatan atau bantahan atau jawaban agar majelis akhir mengabulkan gugatan penggugat dan atau menolaknya.1. sehingga penggugat akan meminta pada majelis hakim agar dikabulkan sebaliknya penggugat ditolak. surat yang tidak disengaja dijadikan bukti dan tidak dibuat secara formal Akta otentik : Akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang dan mempunyai nilai pembuktian yang sempurna sepanjang tidak dibuktikan lain Akta dibawah tangan : Akta yang dibuat oleh pejabat yang berwenang dengan kekuatan nilai pembuktian yang sempurna apabila isi dan tanda tangan diakui oleh para pihak KESIMPULAN MUSYAWARAH SIDANG A. Macam-macamnya: Surat biasa : Surat yang dibuat dengan maksud tidak dijadikan alat bukti. apakah terbukti atau tidak. C. Manfaat bagi penggugat : Para pihak dapat menganalisis dalil-dalil tambahan-tambahannya melaui pembuktian yang didapatkan selama persidangan sehingga dapat kesimpulan. Musyawarah hakim : Suatu sikap yang terdapat yang diambil oleh majelis hakim yang menyidangkan suatu perkara masing-masing mengemukakan pendapat hukumnya atau alasannya yang dilakukan secara rahasia dan tertutup sebelum hakim mengucapkan keputusannya. F. Dasar hukum musyawarah : Pasal 178 HIR/189 RBG . D. B. E. sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Tujuan diadakan musyawarah : Untuk menyamakan persepsi agar terhadap perkara yang sedang diadili itu dapt dijatuhkan putusan yang seadil-adilnya. Dasar hukum kesimpulan : Kesimpulan para pihak diatur dalam pasal 28 (yurisprudensi) karena tidak diatur maka hukum boleh mengajukan atau tidak (bebas).

48/2009 G. Dasar hukum dissenting opinion : Pasal 14 ayat (3) UU No. 2.Pasal 14. Jika tidak ada kesepakatan dilakukan voting dan pendapat yang kalah merupakan dissenting opinion. Jika tiga hakim majelis berbeda pendapat maka yang digunakan adalah pendapat ketua majelis. maksudnya apa yang dihasilkan dalam rapat majelis hakim tersebut hanya diketahui oleh majelis hakim yang memeriksa perkara sampai putusan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum. 5. . Langkah-langkah/ teknis musyawarah majelis : 1. 51 dan 53 UU No. Pendapat para hakim anggota dan ketua majelis dicatat dalam ikhtisar musyawarah yang ditanda tangani oleh ketua majelis dan panitera sidang dilampirkan dalam berita acara persidangan terakhir. Majelis menyepakati pendapat ulama yang memenuhi ketentuan hukum yang berlaku dan memenuhi rasa keadilan serta serta asas manfaat. 3. Ketua majelis hakim mempersilahkan kepada hakim yang lebih senior dan hakim senior anggota 1 untuk menyampaikan pendapatnya berupa fakta-fakta yang sudah terbukti dan tidak terbukti dasar hukum apa yang disampaikan dan pertimbangan keadilan dan kemanfaatan hukum secara tertulis. 4.48/2009 Tata cara memuat dissenting opinion dalam putusan : Pendapat hakim yang berbeda dimuat dalam pertimbangan hakim setelah pertimbanagan hakim lainnya yang menjadi dasar putusan dengan menyebutkan nama hakim yang berbeda pendapat tersebut Subtansi dan teknik musyawarah majelis : Musyawarah majelis hakim dilaksanakan secara rahasia.

Namun demikian. kedudukan dan kekuasaan Pengadilan Agama setara dengan Lembaga Pengadilan lainnya. Selain itu.ASAS DAN SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA ASAS DAN SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA BAB I PENDAHULUAN A. 2 Tahun 1986 dan UU Peradilan Tata Usaha Negara No. PTUN dan lainnya. disahkan dan diundangkan UU No. 7 tersebut mengandung beberapa kelemahan. Namun kini Peradilan Agama telah mempunyai UU tersendiri. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. UU No. yaitu UU No. kekuasaan dan acara. sebab Pemerintah Jajahan sejak semula memang sangat khawatir terhadap hukum Islam lantaran hukum islam itu. dengan lahirnya UU No. Yang patut disayangkan. 7 tersebut dibandingkan dengan landasan lain bagi Peradilan Umum. tentang Peradilan Agama di Pulau Jawa – Madura. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989. Pada tanggal 29 Desember 1989. UU Peadilan Umum No. tetapi hingga diundangkannya UU No. putusannya ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul “Seabad Peradilan Agama di Indonesia”. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Undang-undang tersebut merupakan rangkaian dari undangundang yang mengatur kedudukan dan kekuasaan Peradilan di negara RI. disamping bertentangan dengan agama mereka. Peradilan Agama telah ada sejak abad ke-16. LATAR BELAKANG Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan “Peradilan Agama” telah ada di berbagai tempat di Nusantara. Memang agak terlambat lahirnya UU No. 5 Tahun 1986. Kekuasaannya kadangkala berbenturan dengan Peradilan Umum karena memang disengaja dibuat tidak jelas oleh Pemerintah Jajahan. yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl. 14 Tahun 1985. terdapat hak opsi dalam penyelesaian perkara waris bagi orang-orang yang beragama Islam di . Diantaranya. Peradilan Agama berjalan. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri tentang susunan. Bahkan menurut pakar Sejarah Peradilan. juga merupakan hukum yang sebagaian besar dianut oleh Bangsa Indonesia. Selama itu hingga sekarang. jauh sejak zaman penjajahan Belanda. UU tersebut melengkapi UU Mahkamag Agung No. tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai Hari Jadinya. Memberikan hak hidup kepada hukum Islam sama artinya dengan memberikan peluang hidup terhadap hukum bangsa Indonesia. melainkan tersebar dalam berbagai peraturan perundangundangan yang tidak merupakan kesatuan.1882152. dan tidak pula seragam.

tidak pidana dan pula tidak hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia. Dengan adanya UU ini Peradilan Agama akan lebih mantap dalam menjalankan fungsinya. 7 tentang Peradilan Agama di Indonesia. Peradilan Agama hanya berwenang di bidang perdata tertentu saja. 3 Tahun 2006 yang merevisi dan melengkapi UU No. Dikatakan peradilan khusus karena Peradilan Agama mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongn rakyat tertentu. Peradilan Militer. B. Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah : 1. Dua Peradilan Khusus lainnya adalah Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara. dalam perkara-perkara perdata Islam tertentu. Peradilan Agama adalah Peradilan Islam di Indonesia. Apakah sumber hukum Acara Peradilan Agama ? C. TUJUAN PENULISAN Setiap pembahasan pasti memiliki tujuan tertentu karena dengan adanya tujuan yang jelas maka akan memberikan arah yang jelas pula untuk mencapai tujuan tersebut. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas. sebab dari jenis-jenis perkara yang ia boleh mengadilinya. Untuk mengetahui sumber hukum Acara Peradilan Agama di Indonesia. Untuk mengetahui asas-asas yang terdapat dalam hukum acara Peradilan agama di Indonesia 2. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Menurut pasal 2 UU No. 3 Tahun 2006 bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaku . Peradilan Agama adalah Peradilan Islam limitatif yang telah disesuaikan (dimutatis mutandiskan) dengan keadaan di Indonesia. Dengan adanya desakan dan masukan dari praktisi hukum maupun masyarakat yang beragama Islam. Apakah asas-asas yang terdapat dalam Hukum Acara Peradilan Agama ? 2. BAB II TINJAUAN UMUM PENGERTIAN HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA Sebelum membahas perihal pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. dan Peradilan Tata Usaha Negara. tidak mencakup seluruh perkara perdata Islam. Tiga lingkungan Peradilan Negara lainnya adalah Peradilan Umum.Pengadilan Agama atau di Pengadilan Negeri. Peradilan Agama adalah salah satu diantara tiga Peradilan Khusus di Indonesia. Peradilan Agama adalah sebutan (titelateur) resmi bagi salah satu diantara empat lingkungan Peradilan Negara atau Kekuasaan Kehakiman yang resmi dan sah di Indonesia. seluruhnya adalah jenis perkara menurut agama Islam. Pengadilan Agama tidak berwenang menangani sengketa hak milik dan sebagainya. maka lahirlah UU No. Dalam hal ini. akan dikemukanan terlebih dahulu tentang pengertian Peradilan Agama dan Peradilan Islam.

memutus. 7 tahun 1989 diperbaharui dengan UU No. Oleh karena itu. hal ini karena berkaitan dengan ruang lingkup kekuasaan dan wewenang pengadilan agama bertambah. 2. Dengan adanya perubahan tersebut maka rumusan yang terdapat dalam pasal 2 UU No.3 tahun 2006. Dalam definisi PENGADILAN AGAMA tersebut kata “Perdata” dihapus. maka rumusan tersebut juga ikut berubah. Sebagaimana diketahui bahwa Peradilan Agama adalah Peradilan Perdata dan Peradilan Islam di Indonesia. 3 tahun 2006 adalah “ Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini ”. Setelah UU No. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. Kata “Peradilan Islam” yang tanpa dirangkaian dengan kata-kata “di Indonesia”. dimaksudkan adalah Peradilan Islam secara universal. apabila yang dimaksudkan adalah “Peradilan Islam di Indonesia” maka cukup digunakan istilah “Peradilan Agama”. Adapun maksud dari dihapusnya kata “perdata” adalah: 1. Pengadilan Agama merupakan salah satu kekuasaan kehakiman yang bertugas dan berwenang memeriksa. Dalam pasal 49 UU No. dimana-mana asas peradilannya mempunyai prinsipprinsip kesamaan sebab hukum Islam itu tetap satu dan berlaku atau dapat diberlakukan di mana pun. untuk mewujudkan hukum material Islam yang menjadi kekuasaan Peradilan Agama”. Untuk memperkuat landasan hukum Mahkamah Syariah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan Qonun. Oleh karena itu. 7 tahun 1989 tentang PA “Pengadilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam undang-undang ini ”. Peradilan Islam itu meliputi segala jenis perkara menurut ajaran Islam secara universal. jadi ia harus mengindahkan peraturan perundang-undangan Negara dan syariat Islam sekaligus. bukan hanya untuk suatu bangsa atau untuk suatu Negara tertentu saja. Memberi dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan pelanggaran atas undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya. Perkawinan . rumusan Hukum Acara Peradilan Agama adalah diusulkan sebagai berikut : “Segala peraturan baik yang bersumber dari peraturan perundang-undangan negara maupun dari syariat Islam yang mengatur tentang bagaimana cara orang bertindak ke muka Pengadilan Agama tersebut menyelesaikan perkaranya. Dengan demikian keberadaan Pengadilan Agama dikhususkan kepada warga negara Indonesia yang beragama Islam. Untuk menghindari kekeliruan pemahaman.kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang : a. memutus dan menyelesaikan perkara perdata tertentu bagi orang yang beragama Islam sebagaimana yang dirumuskan dalam pasal 2 UU No.

b. Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. lingkungan peradilan militer.” b) Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. lingkungan peradilan agama. lingkungan peradilan tata usaha Negara.” d) Asas Fleksibelitas . Kewarisan. ASAS-ASAS DALAM HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA 1. Wakaf dan shadaqoh BAB III PEMBAHASAN A. sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimat Basmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. dan kebebasan dari paksaan. demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia. Asas Umum Lembaga Peradilan Agama a) Asas Bebas Merdeka Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. wasiat. Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertian di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya. Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisialkecuali dalam hal yang diizinkan undangundang. c) Asas Ketuhanan Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam. dan c. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam.

Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana. mulai dari tindakan pemanggilan.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Untuk itu. rinci dan transparan. mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. pasal 5 (2). serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis. dan biaya ringan. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum. pasl 6 (1) UU No. Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas. Pasal 2 UU No. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim. semuanya harus berdasar atas hukum. Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang. putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum. Asas ini diatur dalam pasal 3 (2). . penyitan. sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan. e) Asas Non Ekstra Yudisial Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. cepat. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan. Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim. maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. f) Asas Legalitas Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran. pemeriksaan di persidangan.

Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Ke-islaman Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama. 2) Asas Ishlah (Upaya perdamaian) Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. 1 Tentang perkawinan jo. perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. hibah. jo. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah : a. Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama. artinya. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. zakat. hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. wakaf. ditentukan oleh dua syarat : Pertama. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. b. Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam. waris. apabila terjadi sengketa perkawinan. Khusus mengenai perkara perceraian. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam. Ketentuan yang melekat pada UU No. c. bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa. oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. Jika seseorang mengaku beragama Islam. Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan. hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam. walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad). . baik dari pihak suami atau isteri. infaq. dan ekonomi syari’ah. oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Pasal 115 KHI. dan Kedua. sensus kependudukan dan surat keterangan lain. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam.2. pada saat terjadinya hubungan hukum. kedua pihak sama-sama beragama Islam. Faktanya dapat ditemukan dari KTP. Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum. yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. wasiat. shodaqoh. setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung. Pasal 31 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo.

hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”. Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”. Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian. 4 Tahun 2004. kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. sebab bagaimanapun adilnya suatu putusan. Karena itu. tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama). b. 4) Asas Equality Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya. Pasal 19 (3 dan 4) UU No.Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 5) Asas “Aktif” memberi bantuan Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah : a.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. . kecuali Undang-undang menentukan lain. sehingga tidak ada perbedaan yang bersifat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. 7) Asas Upaya Hukum Kasasi Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan. kecuali undang-undang menentukan lain. Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law” c. 3) Asas Terbuka Untuk Umum Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. 6) Asas Upaya Hukum Banding Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan.

RBg (Rechts Reglemen Buitengewesten) atau disebut juga Reglemen untuk Daerah Seberang. setelah terbitnya UU No. 9) Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Rsv (Reglement op de Burgelijke Rechtsvordering) yang zaman jajahan Belanda dahulu berlaku untuk Raad van Justitie. . Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali. memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara) dan fungsinya (menegakkan hukum dan keadilan) maka peradilan agama dahulunya mempergunakan Acara yang terserak-serak dalam berbagai peraturan perundangundangan.8) Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. yaitu : (1) yang terdapat dalam Uu No. dan (2) yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum. 7 tahun 1989. Hukum Acara Peradilan Agama sekarang bersumber (garis besarnya) kepada dua aturan. disamping sebagai Peradilan Khusus. Menurut pasal di atas. Untuk melaksanakan tugas pokoknya (menerima. yang berlaku sejak tanggal diundangkan (29 Desember 1989). 7 Tahun 1989 ini berbunyi sebagai berikut : “Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan agama adalah Hukum acara Perdata yang berlaku dalam lingkunganPeradilan Umum. Peraturan perundang-undangan yang menjadi inti Hukum Acara Perdata Peradilan Umum. yang diberi wewenang oleh peraturan perundang-undangan Negara. c. memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. Namun kini. apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang. SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA Peradilan Agama adalah Peradilan Negara yang sah. 7 tahun 1989. untuk mewujudkan hukum material Islam dalam batas-batas kekuasaannya. b. yakni Peradilan Islam di Indonesia. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”. antara lain : a. maksudnya untuk Luar Jawa-Madura. HIR (Het Herziene Inlandsche Reglement) atau disebut juga RIB (Reglemen Indonesia yang di Baharui). Pasal 54 UU No. B. bahkan juga Acara dalam hukum tidak tertulis (maksudnya hukum formal Islam yang belum diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan Negara Indonesia). maka hukum Acara Peradilan Agama menjadi konkret.

c) UU No.3 tahun 2006. Lembagalembaga ekonomi syari’ah tumbuh berkembang mulai dari lembaga perbankan syari’ah. hal ini karena berkaitan dengan ruang lingkup kekuasaan dan wewenang pengadilan agama bertambah. memutus.d. dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang : a. 48 Tahun 2009) b) UU No. dan hibahyang dilakukan berdasarkan hukum Islam. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (sekarang UUNo. (sekarang UU initelah direvisi menjadi UU No. dan pegadaian syari’ah. maka rumusan tersebut juga ikut berubah.7 Tahun 1989. 1 Tahun 1974 dan PP No. 9 Tahun 1975 tentang perkawinan dan Pelaksanaannya. Perkawinan b. ditambah dengan 8 macam peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan tadi. asuransi syari’ah. Wakaf dan shadaqoh Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi salah satu faktor pendorong berkembangnya hukum Islam di Indonesia. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. UU No. Peraturan perundang-undangan tentang Acara Perdata yang sama-sama berlaku bagi lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan agama adalah : a) UU No. Kewarisan. dan c. 2) Untuk memperkuat landasan hukum Mahkamah Syariah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan Qonun Dalam pasal 49 UU No. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. Setelah UU No. 7 tahun 1989 diperbaharui dengan UU No. maka dalam . pasar modal syari’ah. Perkembanagan ini tentunya juga berdampak pada perkembangan sengketa atau konflik dalam pelaksanaannya. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiaman. khususnya yang berkaitan dengan muamalah. Jika demikian halnya maka Peradilan agama dalam Hukum Acaranya minimal harus memperhatikan UU No. wasiat. Dalam definisi pengadilan agama tersebut kata “Perdata” dihapus. 2 Tahun 1998 tentang Peradilan Umum). 3 tahun 2006 adalah “ Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini ”. Hal ini dimaksudkan untuk: 1) Memberi dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan pelanggaran atas undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya. 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman dan direvisi kembali menjadi UU No. Dengan adanya perubahan tersebut maka rumusan yang terdapat dalam pasal 2 UU No. Menyadari hal ini. Selama ini apabila terjadi konflik dalam bidang ekonomi syari’ah harus melalui peradilan umum.

Undang-Undang No. 3 tahun 2006 atas perubahan UU No. dan i. . Wakaf f. dan Lembaga keuangan mikro syari’ah Kedua: diberikan tugas dan wewenang penyelesaian sengketa hak milik atau keperdataan lainnya. 7 tahun 1989 maka ruang lingkup Peradilan Agama diperluas ruang lingkup tugas dan wewenang Pengadilan Agama Yaitu : Pertama: memeriksa. Hibah e. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan lain daalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 49. dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orangorang yang beragama Islam di bidang : a. Zakat g. Kewarisan c. Infaq. Wasiat d. Shadaqah h. Perkawinan b. Ekonomi syari’ah Dalam penjelasan pasal 49 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syari’ah adalah :            Bank syari’ah Asuransi syari’ah Reasuransi syari’ah Reksadana syari’ah Obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah Sekuritas syari’ah Pembiayaan syari’ah Pegadaian syari’ah Dana pensiun lembaga keuangan syari’ah Bisnis syari’ah. Dalam pasal 50 UU No. memutus.

khususnya mengenai obyek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus terlebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. berlaku asas “Lex Specialis derogot Lex Generalis” yang berarti disamping acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan Pengadilan Agama berlaku Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Tujuan diberinya wewenang tersebut kepada Pengadilan Agama adalah untuk menghindari upaya memperlambat atau mengulur waktu penyelesaian sengketa karena alasan adanya sengketa hak milik atau keperdataan lainnya tersebut yang sering dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan dengan adanya gugatan di Peradilan Agama. . Demi terbentuknya pengadilan yang cepat dan efesien maka pasal 50 UU No. yakni asas Umum Lembaga Peradilan Agama dan Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama. namun secara khusus berlaku Hukum Acara yang hanya dimiliki oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. Berdasarkan bunyi pasal 54 tersebut di atas.”Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. 7 Tahun 1989 dinyatakan. BAB IV PENUTUP 1. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini”. ayat (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. Selama ini Pengadilan Agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap orang yang telah melihat atau menyaksikan awal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadlan. Dimana kedua asas tersebut terbagi lagi dalam beberapa asas. SIMPULAN Adapun simpulan yang dapat dirumuskan dari rumusan masalah dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut : a) Bahwa asas dalam Hukum Acara Peradilan Agama dapat di bagi dua. Hukum Acara Peradilan Agama Bersifat “Lex Specialis” Dalam Pasal 54 UU No. Ketiga: diberi tugas dan wewenang memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun hijriyah. awal bulan Syawal dan tahun baru Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk rukyat Hilal. obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49.7 tahun 1989 diubah menjadi dua ayat yaitu : Ayat (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lainnya dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49.

Meskipun saat ini telah berlaku UU No.b) Bahwa sumber hukum acara peradilan agama saat ini adalah UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 3 Tahun 2006 namun terhadap hal-hal yang tidak mengalami perubahan dalam UU No. 3 Tahun 2006. . b) Diharapkan agar segala sumber hukum dalam Hukum Acara Peradilan Agama dapat dijadikan pedoman bagi berjalannya proses beracara di Pengadilan Agama dan proses penyelesaian perkara yang diajukan di Pengadilan Agama sehingga tidak ada lagi keluhan-keluhan tentang kesulitan beracara di Pengadilan Agama. 2. SARAN-SARAN Adapun saran-saran yang dapat diberikan terhadap permasalahan dan pembahasan di atas adalah : a) Diharapkan agar asas-asas dalam acara Peradilan Agama dapat diterapkan secara factual agar tercipta suatu peradilan yang benar-benar member keadilan bagi pihak-pihak di dalamnya. 3 Tahun 2006 tetap berlaku UU No.

Hukum acara yang khusus diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 yang meliputi cerai talak. Permohonan Dan Gugatan Di dalam Hukum Acara Perdata. maka bagi mereka yang buta huruf dibuka kemungkinan untuk mengajukan gugatan secara lisan kepada Ketua Pengadilan Negeri berdasarkan ketentuan pasal 12 HIR akan membuat atau menyuruh membuat gugatan yang dimaksud. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”. yang mana isinya adalah memuat alasan-alasan berdasarkan keadaan dan bagian yang memuat . dan ada pula hukum acara yang hanya berlaku pada Peradilan Agama. Dalam bahasa latin hal ini disebut dengan “Actor Sequitur Forum Rei”. bagian yang disebut dengan posita. Oleh karena itu. kita mengenal adanya permohonan dan gugatan. a. Sumber Hukum Acara Peradilan Agama Mengenai hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama diatur dalam Bab IV UU Nomor 7 Tahun 1989 mulai pasal 54 sampai dengan pasal 105. Surat gugat ini isinya harus memuat tanggal. Gugatan ini harus diajukan kepada dimana si tergugat itu tinggal. Selanjutnya. Oleh karena gugat harus diajukan dengan surat. Menurut ketentuan pasal 118 HIR gugat harus diajukan dengan surat permintaan yang ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya. menyebut dengan jelas nama penggugat dan tergugat lengkap dengan alamatnya. tetapi orang yang dirasa melanggar hak tersebut tidak mau meyerahkannya secara sukarela. Dalam suatu gugatan ada seorang atau lebih yang merasa bahwa haknya atau hak mereka telah ada yang melanggar. dalam makalah ini dijelaskan terlebih dahulu tentang Hukum Acara Perdata yang berlaku juga untuk Pengadilan Agama dan Hukum Acara khusus tetang ceai talak. cerai gugat dan cerai karena alasan zina. Perbedaan antara permohonan dan gugatan adalah dalam suatu gugatan ada suatu sengketa yang harus diselesaikan dan diputuskan oleh pengadilan.Hukum Acara Peradilan Agama BAB I PENGERTIAN A. cerai gugat dan cerai dengan alasan zina.Menurut ketentuan pasal 54 UU Nomor 7 Tahun 1989 “hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Ketentuan tersebut menunjukan bahwa terdapat Hukum Acara Perdata yang secara umum berlaku pada lingkungan Peradilan Umum dan Perdailan Agama.

Petitum beralasan c. sedangkan apabila tergugat yang tidak hadir maka berlakulah perstek. Mediasi Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari para pihak. Sesuai dengan hakikat perundingan atau musyawarah atau konsensus. diputuskan. Ia atau mereka tidak mengirimkan wakil atau kuasanya yang syah untuk menghadap 3. Untuk putusan perstek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut sebagaimana yang tercantum dalam pasal 125 ayat 1 HIR. b. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan yang esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus. ditetapka. atau diperintahkan oleh hakim. Bagian akhir harus ada petitum. 1. Petitum tidak melawan hak 5. terutama perkara gugatan dalam perkara persdangan itu adalah sebagai berikut. Perihal Pemeriksaan Dan Pembuktian Dalam Sidang Pengadilan Adapun tahapan-tahapan pemeriksaan perkara secara umum. Perihal Acara Istimewa Jika pada hari sidang yang telah ditentukan untuk mengadili perkara tertentu. Kebijakan MA-RI memberlakukan mediasi ke dalam proses perkara di Pengadilan didasari atas beberapa alasan sebagai berikut : . Tergugat atau para tergugat kesemuanya tidak dating pada haris sidang yang telah ditentukan 2.alasan-alasan yang berdasar hukum. Apabila penggugat yang tidak hadir dan tidak mengirimkan wakilnya secara syah dan telah dipanggil dengan patut maka gugat digugurkan. baik itu penggugat maupun tergugat atau tidak menyuruh wakilnya untuk menghadap pada sidang yang telah ditentukan maka berlakulah acara istimewa yang diatur diatur dalam pasal 124 dan 125 HIR. Ia atau mereka telah dipanggil dengan patut 4. Petitum ini merupakan bagian yang terpenting karena merupakan yang diinginkan. 1. salah satu pihak atau semuanya. maka tidak boleh ada paksaan untuk menerima atau menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses mediasi berlangsung. Mediasi ini dipimpin oleh seorang mediator yang sudah memiliki sertifikat mediator yaitu pihak yang bersifat netral dan tidak memihak yang berfungsi membantu para pihak dalam mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa.

tetapi juga melalui proses musyawarah mufakat oleh para pihak. terutama pihak yang kalah. maka putusan merupakan hasil dari pandangan dan penilaian hakim terhadap fakta dan kedudukan hukum para pihak. Selain logika seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Jika para pihak dapat menyelesaikan sendiri sengketa tanpa harus diadili oleh hakim. dari sejak pemeriksaan di Pengadilan tingkat pertama hingga pemeriksaan tingkat kasasi Mahkamah Agung. Di Indonesia memang belum ada penelitian yang membuktikan asumsi bahwa mediasi merupakan proses yang cepat dan murah dibandingkan proses litigasi. sehingga mereka tidak akan mengajukan upaya hukum. Dengan diberlakukannya mediasi ke dalam sistem peradilan formal. sehingga pihak yang kalah selalu menempuh upaya hukum banding dan kasasi. Ketiga. para pihak tidak akan menempuh upaya hukum kasasi karena perdamaian merupakan hasil dari kehendak bersama para pihak. jika perkara dapat diselesaikan dengan perdamaian.Pertama. pemberlakuan mediasi diharapkan dapat memperluas akses bagi para pihak untuk memperoleh rasa keadilan. maka para pihak dengan sendirinya dapat menerima hasil akhir karena merupakan hasil kerja mereka yang mencerminkan kehendak bersama para pihak. Meskipun jika pada kenyataannya mereka telah menempuh proses musyawarah mufakat sebelum salah satu pihak membawa sengketa ke Pengadilan. masyarakat pencari keadilan pada umumnya dan para pihak yang bersengketa pada khususnya dapat terlebih dahulu mengupayakan penyelesaian atas sengketa mereka melalui pendekatan musyawarah mufakat yang dibantu oleh seorang penengah yang disebut mediator. Mahkamah Agung tetap menganggap perlu untuk mewajibkan para pihak menempuh upaya perdamaian yang dibantu oleh mediator. tidak saja karena ketentuan hukum acara yang berlaku. Sebaliknya. proses mediasi dipandang sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih. mewajibkan hakim untuk terlebih dahulu mendamaikan para pihak sebelum proses memutus dimulai. Pada akhirnya semua perkara bermuara ke Mahkamah Agung yang mengakibatkan terjadinya penumpukan perkara. yaitu HIR dan Rbg. literatur memang sering menyebutkan bahwa penggunaan mediasi atau bentuk-bentuk penyelesaian yang termasuk ke dalam pengertian alternative dispute resolution (ADR) merupakan proses penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah dibandingkan proses litigasi. banding maupun kasasi. cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi. jika perkara diputus oleh hakim. Kedua. jumlah perkara yang harus diperiksa oleh hakim akan berkurang pula. Pandangan dan penilaian hakim belum tentu sejalan dengan pandangan para pihak. Rasa keadilan tidak hanya dapat diperoleh melalui proses litigasi. jika didasarkan pada logika seperti yang telah diuraikan pada alasan pertama bahwa jika prkara diputus. proses mediasi diharapkan dapat mengatasi masalah penumpukan perkara. Sebaliknya. sehingga membuat penyelesaian atas perkara yang bersangkutan dapat memakan waktu bertahun-tahun. tetapi . pihak yang kalah seringkali mengajukan upaya hukum. Jika sengketa dapat diselesaikan melalui perdamaian. Akan tetapi.

Selain 2 jenis eksepsi diatas masih ada eksepsi yang sering kita dengar misalnya eksepsi dilatoir adalah eksepsi yang menyatakan bahwa gugatan penggugat belum dapat dikabulkan. Jika pada masa-masa lalu fungsi lembaga pengadilan yang lebih menonjol adalah fungsi memutus. Eksepsi kekuasaan absolute dapat disampaiakan setiap waktu selama pemeriksaan perkara berlangsung. Eksepsi kekuasaan relative adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan tersebut tidak berwenang dalam menangani kasus tersebt tetapi merupakan wewenang pengadilan lain dalam lingkungan pengadilan yang sama. bahwa penyelesaian yang lebih baik dan memuaskan adalah proses penyelesaian yang memberikan peluang bagi para pihak untuk bersama-sama mencari dan menemukan hasil akhir. Pembuktian Pembuktian merupakan suatu cara untuk meyakinkan Majelis Hakim terhadap kebenaran dalil-dalil yang dikemukakan dalam gugatan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh pihak . bahwa lembaga pengadilan tidak hanya memutus. selanjutnya. yaitu. kemudian jawaban atas tanggapan tergugat (replik). replik itu dijawab kembali oleh tergugat (duplik). yaitu hakim dan advokat. tanggapan atas gugatan yang diajukan. PERMA tentang Mediasi memberikan panduan untuk dicapainya perdamaian.I. Eksepsi ini diajukan sebelum tergugat menjawab pokok perkara secara lisan maupun tertulis. dengan diberlakukannya PERMA tentang Mediasi diharapkan fungsi mendamaikan atau memediasi dapat berjalan seiring dan seimbang dengan fungsi memutus. Tahapan replik dan duplik Dalam tahapan ini dilakukan pembacaan surat gugatan/permohonan. 2. tetapi juga mendamaikan.juga karena pandangan. ksepsi kekuasaan absolute adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan tersebut tidak berwenang dalam perkara tersebut yang mana merupakan wewenang pengadilan lain dalam berbeda pengadilan. Eksepsi peremptoir adalah eksepsi yang menghalangi dikabulkannya gugatan.R hanya mengenal satu macam eksepsi ialah eksepsi perihal tidak berkuasanya hakim. 3. H. Dalam tanggapan atas gugatan yang diajukan ada dua macam. a) Jawaban yang langsung mengenai pokok perkara (verweer ten principale) b) Jawaban yang tidak langsung mengenai pokok perkara (tangkisan atau eksepsi) Tentang tangkisan atau eksepsi. Keempat. Eksepsi ini terdiri dari dua macam yaitu eksepsi kekuasaan absolute dan kekuasaan relatif. PERMA tentang Mediasi diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang para pelaku dalam proses peradilan perdata. institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa.

Putusan sela dilakukan apabila tergugat melakukan eksepsi relative pada hari sidang pertama. Sumpah 4. Putusan sela ini ada bermacam-macam. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT PERTAMA • Penggugat atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan gugatan yang diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri pada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata. Putusan comdemnatoir adalah putusan yang berisi penghukuman. Saksi-saksi 3. Pengakuan 5. oleh kerena itu Majelis Hakim wajib memmutuskan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kepada pemeriksaan pokok perkara. Dalam hal ini maka putusannya adalah putusan declatoir. Misalnya.R disebutkan bahwa alat-alat bukti yang sah itu ada 5 macam. Putusan prepatoir 2. 1. Putusan insidenti 3. yaitu. Putusan provisional Putusan akhir ini terdiri dari 3 macam. Putusan declatoir adalah putusan yang hanya bersifat menerangkan. 1. Diantaranya adalah sebagai berikut. Dalam ketentuan pasal 125 H. 2. dengan beberapa kelengkapan/syarat yang harus dipenuhi : a. dalam hal ini pekara yang memerlukan penyelesaian melalui kekuasaan Negara. Persangkaan 4.I. Putusan constitutive adalah putusan yang meniadakan suatu kedaan hukum atau menimbulkan keadaan hokum yang baru. menegaskan suatu keadaan hukum semata-mata. Putusan ini terdiri dari dua jenis yaitu putusan sela dan putusan akhir. Bukti surat 2. Misalnya. Keputusan Pengadilan Keputusan pengadilan pada dasarnya merupakan penerapan hukum terhadap suatu peristiwa. Misalnya adalah sekelompok ahli waris datang ke pengadilan agar mendapat ketetapan mereka masing-masing menurut Hukum Islam.Surat . adalah harus member nafkah. adalah putusan perceraian. 3.tergugat untuk menyanggah dalil-dalil yang diajukan oleh pihak penggugat. yaitu. HUKUM ACARA PERDATA A. 1.

Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) • Penggugat / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyimpan bukti asli untuk arsip.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) c.Surat Permohonan Kasasi b.Surat Permohonan Banding b.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) c. Pemohon diberikan jangka waktu 14 hari untuk datang ke Pengadilan Negeri setempat untuk mempelajari berkas • Menunggu Surat Pemberitahuan Kontra Memori Kasasi dan salinan Kontra Memori . PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT BANDING • Pemohon atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata.Permohonan/Gugatan b.Pemohon atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT KASASI • 1.Memori Kasasi • Pemohon / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyimpan bukti asli untuk arsip • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Permohonan • Menunggu Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Berkas (Inzage). dengan beberapa kelengkapan / syarat yang harus dipenuhi : a.Memori Banding • Pemohon / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyiapkan bukti asli untuk arsip • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Permohonan • Menunggu Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Berkas (Inzage). Pemohon diberikan jangka waktu 14 hari untuk datang ke Pengadilan Negeri setempat untuk mempelajari berkas • Menunggu Surat Pemberitahuan Kontra Memori Banding dan salinan Kontra Memori Banding • Menunggu kutipan putusan dari Pengadilan Tinggi yang akan disampaikan oleh Juru Sita Pengganti C. • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Gugatan • Menunggu Surat Panggilan sidang dari Pengadilan Negeri Palembang yang disampaikan oleh Juru Sita Pengganti • Menghadiri Sidang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan B. dengan beberapa kelengkapan / syarat yang harus dipenuhi : a.

Kasasi • Menunggu kutipan putusan dari Mahkamah Agung yang akan disampaikan oleh Juru Sita Pengganti. Hukum Acara Yang Berlaku di Peradilan Agama Pasal 54 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dan ditambah . Infaq h. Kewenangan hukum acara perdata umum Hukum acara perdata adalah hukum yang mengatur bagaimana cara mengajukan gugatan. Perbedaan dalam kewenangan a. Ekonomi Syari’ah Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragama Islam sedangkan bagi yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum . memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragam Islam di bidang : a. memeriksa. melakukan eksekusi melalui hakim dalam lingkungan peradilan perdata. yang menyatakan : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. Kewarisan c. Perkawinan b. yaitu bahwa bila terjadi suatu proses acara perdata di pengadilan maka ketentuannya tidak dapat dilanggar melainkan harus ditaati oleh para pihak. Shodaqoh i. b. Zakat g. Hukum Acara Pengadilan Agama khusus (masyarakat yang beragama islam) Sebagai peradilan khusus. Wasiat d. Pengadilan Agama mempunyai tugas dan kewenangan tertentu seperti tersebut pada Pasal 49 UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009. Wakaf f. ( hukum formil ) Hukum acara perdata bersifat mengikat atau bersifat memaksa. c. mengadili dan memutus. BAB II PERBEDAAN A. Hibah e.

Perkara voluntoir tersebut adalah : a)Permohonan dispensasi umur kawin b)Permohonan izin kawin c)Permohonan penetapan wali adhol d)Permohonan penetapan perwalian e)Permohonan penetapan asal-usul anak 2)Bidang Perceraian a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Putusan e. Mediasi c. Duplik (tergugat.dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : “Hukum acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. Peradilan Agama. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini” . Jawaban (eksepsi. Pembuktian (pembuktian oleh masing-masing pihak apakah benar/ tidak statemen masing2) g. halaman 216-234 diatur hal-hal yang ringkasnya sebagai berikut : 1) Bidang Perkawinan Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara voluntoir. Urutan Beracara Perdata Urutan beracara a. Bagian Kedua. maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. lugas) e. d. Bidang Teknis Peradilan. rekopensi) d. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan kepada isteri dalam hal di Pengadilan . pokok perkara. Replik (penggugat. Urutan Beracara di Peradilan Agama Hukum Acara Khusus dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Gugatan b. penggugat rekopensi) f. Padahal menurut azasnya perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara contensios. Kesimpulan h.

Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan Hukum Islam a) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 jo. dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. (2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (pasal 73 (2)). dengan permohonan cerai talak/ gugat cerai ataupun sesudahnya (Pasal 66 ayat (5) 86 ayat Tahun 2009 menganut azas personalitas keislaman. 4) Sengketa Milik Pasal 50 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. 3) Bidang Waris. f) Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang Pegawai Negeri. 236 a HIR. d) Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat dilakukan berdasarkan pasal 107 UU Peradilan Agama jo. Hal ini Permohonan penguasaan anak. PP 45 Tahun 1990). dapat dibuat akta di bawah tangan kemudian dimintakan pengesahan (gewaasmarker) kepada Ketua Pengadilan Agama. deposito di Bank. UU Nomor 3 Tahun 2006. dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya (PP 10 Tahun 1983 jo. b) c) Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam apabila timbul sengketa Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris misalnya untuk mengambil adalah menjadi kewenangan Pengadilan Agama. sehingga biaya Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) dan 80). oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara waris/ wasiat apabila pewaris (si mayit) beragama Islam. nafkah isteri dan harta bersama-sama perkara dibebankan kepada Penggugat atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1)) dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para pihak. (1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)). 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana . nafkah anak.Agama mana perceraian diajukan. b) c) d) (1)) e) Untuk melindungi isteri maupun anak. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau menang.

Hukum acara peradilan agama hanya berlaku bagi masyrakat yang beragama islam (khusus) sedangkan hukum acara perdata berlaku bagi masyarakat umum. mediasi. replik. Tata cara berperkara Hukum acara perdata yaitu gugatan. BAB III KESIMPULAN A. pembuktian dan kesimpulan. Sumber hukum acara peradilan agama ialah UU no 7 tahun 1989 tentang peradilan agama . obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. Hukum acara peradilan agama hanya memperkarakan kasus kasus tertentu atau khusus. HIR (dalam jawa) dan RBG (luar jawa dan madura) C. duplik. khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. sedangkan sumber hukum acara perdata ialah. (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. B.dimaksud dalam pasal 49. sedangkan hukum acara perdata . jawaban. Sendangkan dalam acara peradilan agama contoh alam bidang perkawinan • Permohonan dispensasi umur kawin • Permohonan izin kawin • Permohonan penetapan wali adhol • Permohonan penetapan perwalian • Permohonan penetapan asal-usul anak D.

panitera pengganti. lingkungan peradilan agama. jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan. Untuk memberikan kepastian dalam proses pengalihan organisasi. dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman.1. dan juru sita sebagai pejabat peradilan. Selain itu dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan yang menegaskan kedudukan hakim sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman serta panitera. Kekuasaan Pancasila. 1. UU No. Hukum acara peradilan agama. bantuan hukum.2 Sukuri apa yang telah allah berikan kepada kita agar kita bisa tetap menerima diri kita apa adanya dan tidak berpuas dalam mencari ilmu (hukum) dan fokus pada cita cita BAB 1 SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA A. asas-asas penyelengaraan kekuasaan kehakiman. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. lingkungan peradilan tata usaha negara.Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari keempat lingkungan peradilan. SARAN 1. dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan peralihan. Dan semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. pelaksanaan putusan pengadilan. 4/2004 Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman. 14/1970 Yang Diganti Dengan UU No. Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum.1 Disarankan para mahasiswa menambah lagi wawasan dari berbagai referensi. lingkungan peradilan militer. kehakiman demi adalah kekuasaan Negara negara Hukum yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan terselenggaranya Republik Indonesia. administrasi. .

undang ini adalah sebagai berikut: 1. dan ketentuan penutup. dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan peralihan. Untuk memberikan kepastian dalam proses pengalihan organisasi. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. pelaksanaan putusan pengadilan. ketentuan-ketentuan lain. dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut . 1 tahun 1974 Undang-Undang ini diatur mengenai dasar perkawinan. panitera pengganti. Azas-azas atau prinsip-prinsip yang tercantum dalam undang. kedudukan anak. bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. ketentuan peralihan. Selain itu dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan yang menegaskan kedudukan hakim sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman serta panitera. harta benda dalam perkawinan. putusnya perkawinan serta akibatnya. perjanjian perkawinan. B. Dalam Undang-undang ini dinyatakan. hak dan kewajiban suami istri. asas-asas penyelengaraan kekuasaan kehakiman. perwalian. agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan sprituil dan material. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi. administrasi.Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman. hak dan kewajiban antara orang tua dan anak.Bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia adalah mutlak adanya Undang-undang Perkawinan Nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai golongan dalam masyarakat kita.Dalam Undang-undang ini ditentukan prinsip-prinsip atau azas-azas mengenai perkawinan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang telah disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. batalnya perkawinan.itu. syarat-syarat Dalam perkawinan. 2. dan juru sita sebagai pejabat peradilan. bantuan hukum. jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan. pencegahan perkawinan. UU No.

ialah 19 (sembilan belas) tahun bagi pria dan 16 (enam belas) tahun bagi wanita. Namun demikian perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isteri. 2 (dua) wakil ketua.peraturan perundang-undangan yang berlaku. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia kekal dan sejahtera. Disamping itu. 4.undang ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian. 6. hakim anggota. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang. misalnya kelahiran. karena hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkan. Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan diantara calon suami isteri yang masih dibawah umur. Berhubung dengan itu. maka undang. Pimpinan Mahkamah Agung terdiri atas seorang ketua. Undang-undang ini menganut prinsip. perkawinan mempunyai hubungan dengan masalah kependudukan.Wakil Ketua . hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan. Pimpinan dan hakim anggota Mahkamah Agung adalah hakim agung dan hakim agung paling banyak 60 orang. agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. harus ada alasan-alasan tertentu serta harus dilakukan di depan Sidang Pengadilan. 3. meskipun hal itu dikehendaki oleh pihak. dan beberapa orang ketua muda. UU No. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumahtangga maupun dalam pergaulan masyarakat. Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan. seorang suami dapat beristeri lebih dari seorang. panitera. Undang-undang ini menganut azas monogami. maka undang-undang ini menentukan batas umur untuk kawin baik bagi pria maupun bagi wanita. 14/1985 Yang Telah Diganti Dengan UU No. sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan C.pihak yang bersangkutan. danseorang sekretaris. suatu akte resmi yang juga dimuat dalam pencatatan. kematian yang dinyatakan dalam Surat-surat keterangan. dan diputuskan bersama oleh suami-isteri. Ternyatalah bahwa batas umur yang lobih rendah bagi seorang wanita untuk kawin mengakibatkan laju kelahiran yang lebih tinggi. 5/2004 Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman Mahkamah sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bahwa calon suami isteri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan. Susunan Mahkamah Agung terdiri atas pimpinan. 5.

ditentukan pula Mahkamah Agung mempunyai wewenang mengadili pada tingkat kasasi. dan Ketua Muda Mahkamah Agung selama 5 (lima) tahun. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang. serta beberapa substansi yang menyangkut hukum acara. dan kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang. Berbagai substansi perubahan dalam Undang-Undang ini antara lain tentangpenegasan kedudukan Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. peradilan agama. ketua muda pidana. syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi hakim agung. juga didasarkan atas UndangUndangUndangmengenai kehakiman baru yang menggantikan UndangNomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakimansebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentangPerubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuanketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Mahkamah melakukan pengkhususan bidang hukum tertentu yang diketuaioleh ketua muda. dan Agung ketua dapat muda tata usahanegara. Pembatasan ini di samping dimaksudkan untuk mengurangi kecenderungan setiap perkara diajukan ke Mahkamah Agung sekaligus dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitasputusan pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding sesuai dengannilai-nilai hukum dan keadilan dalam .Pada setiap pembidangan. untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. di sampingguna disesuaikan dengan arah kebijakan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia kekuasaan Tahun 1945. ketua muda militer. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan bahwa Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. Perubahan tersebut. di samping Mahkamah Konstitusi. Undang-Undang ini memuat perubahan terhadap berbagai substansi Undang-Undang No.Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. Wakil Ketua. ketua muda agama.Wakil ketua bidang non-yudisial membawahi ketua muda pembinaan dan ketuamuda pengawasan.Mahkamah Agung terdiri atas wakil ketua bidang yudisial dan wakil ketua bidang nonyudisial. dan peradilan tata usaha negara adalah pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka. Selain itu. peradilan militer. khususnya dalam melaksanakan tugas dan kewenangan dalam memeriksa dan memutus pada tingkat kasasi serta dalam melakukan hak uji terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung. Masa jabatan Ketua.

Undang-Undang Nomor 4 dinyatakan Tahun 2004 tentang Kekuasaan dihapus. hal ini sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat. administrasi. 3/2006 Dalam Undang-Undang ini kewenangan pengadilan di lingkungan Peradilan Agama diperluas. keberadaan pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama perlu diatur pula dalam Undang-Undang ini. Dengan bertambahnya ruang lingkup tugas dan tanggung jawab Mahkamah Agungantara lain di bidang pengaturan dan pengurusan masalah organisasi. administrasi. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. organisasi. shadaqah. khususnya masyarakat muslim. maka organisasiMahkamah Agung perlu dilakukan pula penyesuaian. UU No.masyarakat. dan finansial badan peradilan di lingkungan Peradilan Agama yang sebelumnya masih berada di bawah Departemen Agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama perlu disesuaikan. wasiat. Perluasan tersebut antara lain meliputi ekonomi syari'ah. D. 7/1989 Yang Telah Diganti Dengan UU No. infaq. dan ekonomi syari'ah. Oleh karena itu. hibah. dan finansial dari semua lingkungan peradilan ke Mahkamah Agung. administrasi. Dengan demikian.dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung. zakat. kalimat yang terdapat dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang menyatakan: "Para Pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian warisan". wakaf. Dalam kaitannya dengan perubahan Undang-Undang ini pula. Peradilan Agama merupakan salah satu badan peradilan pelaku kekuasaan kehakiman untuk menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan. Kehakiman menegaskanadanya pengadilan khusus yang dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan dengan undang-undang. Pengalihan ke Mahkamah Agung telah dilakukan. waris. Penggantian dan perubahan Undang-Undang tersebut secara tegas telah mengatur pengalihan organisasi. Dengan penegasan kewenangan Peradilan Agama tersebut dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum . Untuk memenuhi ketentuan dimaksud perlu pula diadakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

yang meliputi kepala desa dan semua bawahan polisi yang Lain . tatacara perceraian. sehingga segala sesuatu dapat berjalan tertib dan lancar. maka perlu ditetapkan jangka waktu enam bulan sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah ini untuk mengadakan langkah-langkah persiapan tersebut. Pengadilan agama berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota. khususnya dari Departemen Agama. E. dan RV HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement) Reglemen tentang melakukan tugas kepolisian. Hal melakukan tugas kepolisian. Pengadilan tinggi agama berkedudukan di ibu kota provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi. PP No. Rbg. Karena untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini diperlukan langkah-langkah persiapan dan serangkaian petunjuk petunjuk pelaksanaan dari berbagai Departemen atau Instansi yang bersangkutan. Dalam Reglemen Indonesia yang Diperbarui (RIB) ini hanya dimuat hal-hal yang berkaitan dengan perkara perdata. 9 Tahun 1975 Peraturan Pemerintah ini memuat ketentuan-ketentuan tentang masalah pencatatan perkawinan. tenggang waktu bagi wanita yang mengalami putus perkawinan. Dalam reglemen ini memuat: 1. pembatalan perkawinan dan ketentuan dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang dan sebagainya.kepada pengadilan agama dalam menyelesaikan perkara tertentu tersebut.tatacara pelaksanaan perkawinan. termasuk pelanggaran atas Undang-Undang tentang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya serta memperkuat landasan hukum Mahkamah Syar'iyah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan ganun. Departemen Kehakiman dan Departemen Dalam Negeri. F. mengadili perkaraperdata dan penuntutan hukuman bagi bangsa Indonesia danbangsa Timur Asing di Jawa dan Madura. HIR. cara mengajukan gugatan perceraian. hal-hal yang menyangkut perkara pidana diatur dengan Kitab Undang-undang HukumAcara Pidana dan peraturan pelaksanaannya.

memeriksa.2004. . Hal mengadili perkara perdatayang termasuk wewenang pengadilan negeri. Tapi ternyata tidak cocok dengan Indonesia. Cara mengadili perkara perdata yang dalam tingkat pertama menjadi wewenang pengadilan Negeri yang meliputi:       Pemeriksaan di Sidang pengadilan Musyawarah dan Keputusan pengadilan Banding.2. Dalam reglemen ini memuat: 1. 5 th. terjadi ketidak sesuaian dengan daerah luar Jawa dan Madura. Kemudian setelah beberapa lama. perlu diketahui bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang telah diubah dengan UndangUndang Nomor 35 Tahun 1999 serta dengan melihat UU No. maka dibentuklah RBg. oleh karena itu kemudian diadakan penyesuaianpenyesuaian dan dibentuklah HIR. Pengertian Hukum Acara Perdata Sebelum membicarakan pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. BAB II HUBUNGAN HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DENGAN HUKUM ACARA PERDATA A. Bukti dalam perkara perdata RV (Reglement of de Rechtsvordering) RV adalah hukum perdata eropa yang dibawa oleh belanda ke Indonesia. mengadili dan memutus serta menyelesaikan perkara perdata tertentu antara orang-orang yang beragama Islam. RBG (Rechtsreglement Buitengewesten) Reglemen Untuk Daerah Seberang berlaku untuk daerah luar Jawa dan Madura. Tugas utama Peradilan Agama ialah menerima. Pelaksanaan keputusan hukum Beberapa acara khusus Izin berperkara tanpa biaya 2.

hukum acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini. Dr. S.ialah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiil dengan perantara hakim. Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiel dengan perantaraan Hakim.(Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama jo pasal 49 & 50 UU No. Dengan perkataan lain hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materiel. hukum acara perdata ialah rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan itu harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan berjalanya peraturan hukum perdata. Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materiil. memeriksa serta memutuskan dan pelaksanaan dari pada putusanya. terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian hukum acara perdata karena Peradilan Agama hanya berwenang memeriksa perkara-perkara perdata dan menurut ketentuan pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa hukum acara Peradilan Agama ialah pertaturan hukum yang mengatur tentang bagaimana mentaati dan melaksanakan hukum perdata materiel dengan perantaraan Pengadilan Agama termasuk bagaimana cara bertindak mengajukan tuntutan hak atau permohonan . 2006). Menurut Wirjono Prodjodikoro.H. Lebih konkrit lagi dapatlah dikatakan bahwa hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya memajukan tuntutan hak. Sudikno Mertokusumo. Menurut Prof. Dari dua pengertian tersebut di atas. memeriksa serta memutusnya dan pelaksanaan daripada putusannya. Tuntutan hak dalam hal ini tidak lain adalah tindakan yang bertujuan memperolah perlindungan hukum yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah ―eigenrichting‖ atau tindakan menghakimi sendiri. Untuk mengetahui hukum acara Peradilan Agama. 4 Th. Hukum acara perdata yang mengatur bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak.

Hubungan Peradilan Agama Dengan Hukum Perdata Seperti telah diuraikan di atas bahwa berdasarkan ketentuan pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989.1882-152. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989. tentang Peradilan Agama di Pulau Jawa – Madura. 7 Tahun . putusannya ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela. jauh sejak zaman penjajahan Belanda. Selama itu hingga sekarang. Jadi hubungan hukum acara Peradilan Agama dengan hukum acara perdata adalah sumber hukumnya dan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagian besar adalah sama. dan tidak pula seragam. Peradilan Agama telah ada sejak abad ke-16. oleh karena itu ketentuan-ketentuan umum yang berlaku dalam hukum acara perdata berlaku juga dalam hukum acara Peradilan Agama. melainkan tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak merupakan kesatuan. hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersebut. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul ―Seabad Peradilan Agama di Indonesia‖. Bahkan menurut pakar Sejarah Peradilan. yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl.dan bagaimana cara Hakim bertindak agar hukum perdata materiel yang menjadi kewenangan Peradilan Agama berjalan sebagaimana mestinya. Peradilan Agama berjalan. BAB III PENUTUP A. tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai Hari Jadinya. yaitu UU No. Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri tentang susunan. Namun kini Peradilan Agama telah mempunyai UU tersendiri. kekuasaan dan acara. Kesimpulan Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan Peradilan Agama telah ada di berbagai tempat di Nusantara. tetapi hingga diundangkannya UU No. B.

Pustaka Kartini.M.M BAB I KONSEP-KONSEP DASAR DAN SUMBER – SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA A. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Daftar Pustaka:   Prof. M.1989 tentang Peradilan Agama. Wismar Ain Marzuki SH. S. Drs. Author: Hj. SH. Undang-undang tersebut merupakan rangkaian dari undang-undang yang mengatur kedudukan dan kekuasaan Peradilan di negara RI. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Dalam Lingkungan Peradilan Agama. SH. Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. Yogyakarta. LL. SIP. Pustaka Pelajar. 1990.. Abdul Manan.. 2 Tahun 1986 dan UU Peradilan Tata Usaha Negara No. SH. Dr. 1989. Prof. Penerbit Mandar Maju. Yahya Harahap. kedudukan dan kekuasaan Pengadilan Agama setara dengan Lembaga Pengadilan lainnya. Buku II Edisi Revisi. Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama. 2001. UU tersebut melengkapi UU Mahkamag Agung No. A.Hum. Hukum Acara Perdata Indonesia. H. Selain itu. SH. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Retnowulan Sutantio. Sudikno Mertokusumo. H. 5 Tahun 1986. Mukti Arto. Konsep-Konsep Dasar .H. Pada tanggal 29 Desember 1989. 14 Tahun 1985. Departemen Agama.      Ringkasan Buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia Ringkasan Buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia. Gemala Dewi SH. Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Islam. Hj.. 1996.H. MH. S. 1997. Praktek Perkara Pada Pengadilan Agama... Dengan lahirnya UU No. Bandung. Mahkamah Agung RI. Drs. SH dan Iskandar Oeripkartawinata.. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. disahkan dan diundangkan UU No. Sulaikin Lubis. UU Peadilan Umum No.

dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. An-Nisa (4) : 58 : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Hakim adalah penjabat yang berwenang menghukumi suatu tindak pidana atau suatu pertengkaran dengan menjatuhi hukuman kepada pelaku pidana atau dengan memerintahkan kepada pihak yqang terkalahkan untuk mengembalikan hak kepada pihak yang terkalahkan untuk mengembalikan hak kepada pihak yang sebenarnya dan menolak kezhaliman. 3 tahun 2006 ” 2. 3. Al-Baqarah (1): 231 : Apabila kamu mentalak isteri-isterimu. 7 Tahun 1989 jo UU No. padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? "Tuhan berfirman:" Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ". dan ingatlah nikmat Allah padamu. Barangsiapa berbuat demikian.1.kecuali mereka mengangkat pimpinan salah satu seorang dari mereka” (HR Ahmad) (23) b) c) .(13) 2. Pengadilan agama adalah tempat di mana dilakukan usaha mencari keadilan dan kebenaran yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa yakni melalui suatu majelis Hakim atau Mahkamah. B. Sesungguhya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan.. Dasar Hukum Al-Qu’ran a) QS. maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf. QS. dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah. Putusan adalah pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontentius) ”Putusan hakim peradilan agama” adalah pernyataan yang dituangkan dalam bentuk tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di lingkungan Peradilan Agama yang berkekuatan hukum yang sah dalam hal sengketa milik atau keperdataan lain yang terkait dengan kewenangan Peradilan Agama sebaimana diatur dalam UU No. Al-Baqarah (1): 30 : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ". maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Mereka berkata:" Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Dasar Hukum Hadist a) ”Warta dari Abdullah bin ’Amr menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: ”Tidak halal bagi tiga orang yang berada di tanah lapang. Sumber-Sumber Hukum Dasar Hukum Peradilan Agama dan pentingnya keputusan hakim antara lain: 1. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketah (11) QS. lalu mereka mendekati akhir iddahnya. Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. karena dengan demikian kamu menganiaya mereka.

b) Dari Abi Said bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: apabila keluar tiga orang dengan maksud hendak bepergian . Hukum Islam Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari dan merupakan bagian agama Islam. Hukum Islam dasarnya ditetapkan oleh Allah melalui wahyu Nya yang dijelaskan oleh nabi Muhammad saw sebagai rasulNya melalui sunnah beliau. Abu Daud) Dari Amar bin Ash ra. Pelaksanaan Hukum Islam Pelaksanaan hukum Islam di Indonesia dilakukan melalui berbagai jalur 1) 2) 3) 4) Jalur pertama adalah jalur iman dan takwa. Bahsanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Apabila Hakim menjatuhkan hukum dengan berijtihat dan ijtihatnya itu benar. Ali Said menegaskan bahwa di samping hukum adat dan hukum eks barat. hukum Islam yang merupakan salah satu komponenin tata hukum Indonesia menjadi salah satu bahan baku pembentukan hukum nasional Indonesia B. c) BAB II KEDUDUKAN DAN PELAKSANAAN HUKUM ISLAM DALAM NEGARA REBUPLIK INDONESIA A. hendaklah salah satu diantaranya ada yang dijadikan penanggung jawab. maka ia mendapatkan satu pahala. (HR. dasar inilah yang membedakan hukum Islam secara fundamental dengan hukum yang lain yang semata-mata lahir dari kebiasaan hasil pemikiran atau buatan manusia belaka. pedagang dan industriawan atas kesepakatan bersama dapat memilih hukum Islam untuk menyelesaikan sengketa mereka secara damai (di luar pengadilan) Jalur kelima melaksanakan dalam makna menerapkan hukum Islam dilakukan oleh lembaga pusat penelitian obat/kosmetik dan makanan (LPPOM) yang juga didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia 5) . Jalur kedua yaitu jalur peraturan perundang-undangan Pelaksanaan hukum Islam bidang muamalah Melalui BAMUI (badan Arbitrase Muamalah Indonesia) yang didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat ini para pengusaha. maka ia mendapat dua pahala dan kalau dia menjatuhkan hukum dengan berijtihat kemudian ijtihatnya salah.

untuk dipergunakan pada pengadulan VOC. jabatan hakim atau qadhi dilakukan secara pemilihan dan baiat oleh ahlul hilli wal’aqdi. yang pada perkembangannya dikenal pembentukannya dalam 3 (tiga) periode yaitu : 1.6) Jalur keenam yaitu jalur pembinaan atau pembangunan hukum nasional BAB III SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA A. atau compendium freijer. Masa (Perode) Tauliyah Ketika masyarakat Islam telah berkembang menjadi kerajaan Islam. wujud Peradilan Agama belum seperti sekarang ini. berupa suatu kumpulan aturan hukum perkawinan dan hukum kewarisan menurut hukum Islam. pengangatan jabatan hakim (qadhi) dilakukan dengan pemberian “tauliyah” yakni pemberian atau pendelegasian kekuasaan dari penguasa. yaitu. Berlakunya hukum perdata Islam diakui oleh VOC dengan Resolutie der Indische Regeling tanggal 25 Mei 1760. B. antara lain dalam soal kewarisan. Masa (periode) Transisi Pada tanggal 4 Maret 1620 dikeluarikan instruksi agar di daerah yang dikuasai kompeni (VOC) harus diberlakukan hukum sipil Belanda. Sedang masalah hukuman badan dan hukuman mati tidak ditanggapi oleh masyarakat Islam. 3. pada masa itu bila terjadi perselisihan atau sengketa. 2. disebut muhakam. Orang yang bertindak sebagai hakim. Masa (periode) Prapemerintahan Hindia Belanda Praktik pelaksanaan hukum acara Peradilan Agama pada waktu itu masih sangat sederhana. Masa (periode Ahlul Hilli Wal’Aqdi) Ketika penganut agama Islam telah bertambah banyak dan terorganisir dalam kelompok masyarakat yang teratur. di selesaikan dengan cara bertahkim kepada guru atau mubaligh yang dianggap mampu dan berilmu agama. Tahkim kepada Muhakam Ketika pemeluk agama Islam masih sedikit. di antara anggota masyarakat. Instruksi tersebut tidak dapat dilaksanakan karena mengalami kesulitan akibat perlawanan dari pihak Islam. . yaitu pengangkatan atas seorang yang dipercaya ahli oleh majelis atau kumpulan orang-orang terkemuka dalam masyarakat.

1855 : 2 ditegaskan berlakunya undang-undang (hukum) Islam bagi orang Islam Indonesia. dan Snouck Hurgrounje. Pasal 75 ayat (4): “UU agama. Pasal 109 merupakan penjelasan lebih lanjut dari kedua pasal di atas. 221 Pemerintah Hindia Belanda mengubah pasal 134 ayat (2) IS. yaitu orang Arab. bermulalah suatu masa dimana seakan-akan masyarakat Indonesia telah merasakan sebagai suatu hal yang benar dan biasa saja bahwa hukum Islam itu bukan hukum di Indonesia dan telah tertanam dalam pikiran orang khususnya kalangan sarjana hukum bahwa yang berlaku adalah hukum adat. Belanda 1854 No. Semarang. Dalam pasal 75. Dengan Stbl 1925 tersebut. C. orang Moor. bila terjadi pemeriksaan banding”. dan Makasar. Dan hanyalah kalau hukum Islam itu menjadi hukum adat barulah menjadi hukum. Pasal ini berbunyi sebagai berkut : “Ketentuan termaksud dalam pasal 75 dan 78 itu berlaku pula bagi mereka yang dipersamakan dengan “inlander”. . van Vollenhoven. 129 dan sekaligus dimuat di dalam Stbl. sehingga dinyatakan bahwa : “Dalam hal terjadi perkara peerdata antara sesame orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila hukum adat mereka menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan suatu ordonansi”. Tahun 1929 No. Masa Pemerintahan Hindia Belanda Pada tahun 1854 Pemerintah Belanda mengeluarkan pernyataan politik yang dituangkan dalam “Reglement op het beleid der regeerings van Nederlandsch Indie” yang disingkat menjadi Regeerings Reglement (RR) dan dimuat di dalam Stbl. yaitu dengan Stbl. instelling dan kebiasaan itu juga dipakai untuk mereka oleh hakim Eropa pada pengadilan yang lebih tinggi.Juga terdapat kumpulan-kumpulan hukum perkawinan dan hukum kewarisan menurut hukum Islam yang dibuat dan dipakai di daerah-daerah lain. Pada tahun 1925 regering reglement diubah namanya menjadi : IS (Wet Op de Staats Inrichting Van Nederlands Indie). Masa Pemerintahan Hindia Belanda II Theorie Receptie : Masa itu terjadi perubahan-perubahan mengenai pasal-pasal RR tersebut. Pasal 78 (2) : “Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka. 78 dan 109 Regeerings Reglement (RR) Stbl. Sejak saat itu. maka mereka tunduk kepada putusan hakim agama atau kepala masyarakat mereka menurut UU agama (godsdienstige weeten) atau ketentuan-ketentuan lama mereka. 2) 3) 4) D. Dan dalam kaitannya dengan lembaga Peradilan Agama. 2. orang Cina dan semua mereka yang beragama Islam dan orang-orang yang tidak beragama. yaitu Cirebon. Antara lain atas anjuran C. Secara rinci. Hindia Belanda Tahun 1855 No. pada tahun 1929 baru diadakan perubahan mengenai isi dari IS. terjemahan dari bunyi pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pasal 75 ayat (3) : “Oleh hakim Indonesia hendaklah diberlakukan UU Agama (godsdienstige wetten) dan kebiasaan penduduk Indonesia”.

baitulmal dan lain-lain yang berhubungan dengan itu. ruju’. Dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa Perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum agamanya masing-masing. Jawa Madura dan Kalimantan adalah daerah Angkatan Darat yang berpusat di Jakarta. Namun. F. Tahun 1945 – 1957 Pada tahun 1946 dikeluarkan Undang-undang No. mas kawin (mahar). 9 tahun 1975 sebagai Peraturan Pelaksanaan Undang-undang ini. wakaf. kalau untuk perkara-perkara itu berlaku lain daripada hukum agama Islam. hadhanah. Tahun 1957-1974 Pada masa itu pemerinah sedang menyusun suatu Undang-undang Perkawinan. Masa (Periode) Penjajahan Jepang Pada masa pemerintahan Jepang ini lembaga Pengadilan Agama yang sudah ada pada masa penjajahan Belanda. 2. No. dalam buku Kedudukan dan Kekuasaan Peradilan Agama di Indonesia (Bab I dan II) serta H. tetap berdiri dan dibiarkan dalam bentuknya semula. yaitu Sooryoo Hooin untuk Pengadilan Agama dan Kaikyoo Kootoo Hooin untuk Mahkamah Islam Tinggi (Pengadilan Tinggi Agama). Zaini Ahmad Noeh. fasach. . Perubahan lembaga ini hanyalah dengan memberikan atau mengubah nama saja. perkara waris mal waris. Dalam penjelasan Pasal 39 ayat 2 UU No. 22 tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah. Pengadilan Agama / Mahkamah Syari’ah tidak berhak memeriksa perkara-perkara yang tersebut dalam ayat 1. thalaq. sedekah. tempat kediaman (maskan) mut’ah dan sebagainya. Pasal 2 ayat 2 Perkawinan harus dicatat dalam undang-undang ini tercakup ketentuan Hukum Perkawinan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Masa Setelah Kemerdekaan Indonesia 1. Meninjau secara ringkas tentang keadaan peradilan di seluruh Indonesia pada zaman Jepang adalah sukar sekali. dan Rujuk yang berlaku untuk seluruh Indonesia dengan Undang-undang No. Sejarah Singkat Pengadilan Agama Islam di Indonesia (Bab I dan II). nafaqah. 32 tahun 1954. dan segala perkara yang menurut hukum yang hidup diputus menurut hukum agama Islam yang berkenaan dengan Nikah. Djamil Latif. hibah.M. Sedang Sulawesi. yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No. 45 tahun 1957 disebutkan wewenang Pengadilan Agama / Mahkamah Syari’ah adalah. 1 tahun 1974 disebutkan enam (6) alasan perceraian. 1 Tahun 1951 belum ada sama sekali. Dalam pasal 4 ayat 1 PP No. dalam hal ini dicantumkan kembali dalam pasal 19 PP. Talak. Uraian lebih lanjut mengenai pendirian Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah diluar Jawa dan Madura dapat dibaca dan dipelajari H. demikian juga memutuskan perkara perceraian dan mengesahkan bahwa syrat taklik sudah berlaku. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. memeriksa dan memutuskan perselisihan antara suami isteri yang beragama Islam. peraturan tentang pelaksanaan tugas Peradilan Agama. Maluku dan Nusa Tenggara adalah daerah Angkatan Laut yang berpusat di Makasar.E. Dalam pasal 4 ayat 2 disebutkan bahwa. seperti yang dimaksud dalam undangundang Darurat No. yakni Sumatera adalah termasuk daerah Angkatan Darat yang berpusat di Shonanto (Singapura). oleh karena daerah kekuasaan yang berbeda.

35 Tahun 1999. Tahun 1989-1999 Setelah berlakunya UU No. yaitu : a) Surat Edaran Mahkamah Agung No. terdapat 16 hal yang merupakan wewenang Pengadilan Agama. 14 Tahun 1970 jo. 1 tahun 1974 dan setalah berlakunya UU No. 7 tahun 1989. 6 tahun 1980. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh lainnya. Tahun 1974-1989 Dengan Keputusan Menteri Agama No. Dalam pasal 1 ditetapkan bahwa. tanggal 2 Maret 1990 tentang Petunjuk Pembuatan Penetapan sesuai pasal 84 ayat 4 UU No. yang menyatakan bahwa secara organisatoris.Dalam pasal 63 ayat 1 ditegaskan bahwa. Peradilan Agama dalam Sistem Peradilan Menurut UU No. Mahkamah Agung adalah lembaga tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia No. 7 tahun 1989 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. b) c) 5. nama Pengadilan Agama yang berbedabeda untuk seluruh Indonesia. III MPR/1978. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Meskipun ada perubahan terhadap pasal 11 UU No. di seragamkan dengan sebutan atau istilah “Pengadilan Agama” untuk Pengadilan Tingkat Pertama. Dalam pasal 2 ditetapkan bahwa Mahkamah Agung adalah pengadilan Negara tertinggi dari semua lingkungan peradilan. yang dimaksud dengan pengadilan dalam undangundang ini ialah : a) b) Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam Pengadilan umum bagi lainnya. 4. 3 tahun 1975 tentang kewajiban Pegawai pencatat nikah. 7 1989. administrative dan finansial Peradilan Agama berada di bawah Mahkamah Agung. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. . 35 Tahun 1999 Serta UU No. UU No. 14 Tahun 1970. Setelah berlakunya UU No. 7 tahun 1989. Peradilan Agama tidak mengalami perubahan seperti yang ditentukan terhadap lingkungan peradilan yang lain yaitu dalam waktu lima tahun secara bertahap sudah harus berada di di bawah Mahkamah Agung. 3. 1 tahun 1990. Pada tahun 1985 dikeluarkan UU No. Surat Edaran Menteri Agama nomor 2 tahun 1990 tentang petunjuk Pelaksanaan UU no. dan “Pengadilan Tinggi Agama” untuk Pengadilan Tingkat Banding di seluruh Indonesia. dikeluarkan tiga peraturan. Selanjutnya dikeluarkan peraturan Menteri Agama (PMA) No. namun baik sebelum atau sesudah lahirnya UU No.

maka kekuasaan peradilan agama diperluas dalam menagani kasus perkawinan. 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA A. Pada tahun 1977. Periode 1981 sampai dengan 1988 Berdasarkan tata tertip DPR.Saat ini pengaturan mengenai struktur organisasi. dan finansial pengadilan dilakukan oleh Mahkamah Agung.” BAB IV KERANGKA HISTORIS PEMBENTUKAN UU No. maka pembicaraan RUU PA melalui tahap-tahap : . 14 tahun 1970 pasal 10 (1) serta Instruksi presiden no 15 tahun 1970 tentang tata cara Persiapan RUU dan PP pasal 1. Periode 1971 sampai dengan 1981 Tahap dimana langka-langkah kongrit telah dilakukan secara peraturan perundang-undangan oleh departemen agama dengan dilandasi oleh peraturan UU No. 3 tahun 2006 yang mengaturnya lebih lanjut pada Pasal I angka 4 mengenai perubahan bunyi Pasal 5 ayat (1) UU No. 7 tahun 1989 yang berbunyi “Pembinaan teknis peradilan. MA mengeluarkan peraturan no 1/1977 yang memberlakukan acara kasasi peradilan perdata umum terhadap perkawinan yang berasal dari peradilan agama. Periode 1961 sampai dengan 1971 Pada masa 10 tahun persiapan intern. dapatlah dibagi kedalam 4 periode penting. Latar Belakang Penyusunan UU No. dimulai dengan keluarnya UU No 19 tahun 1964 mengenai Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dimana dinyatakan bahwa peradilan agama merupakan salah satu ruang lingkup peradilan di Indonesia dengan Makamah Agung sebagai puncaknya dan secara organasatoris. Dengan disyahnkannya UU perkawinan. administrasi dan finansial lembaga Peradilan Agama ke “satu atap” yaitu di bawah Mahkamah Agung telah semakin kokoh dengan keluarnya UU No. 3. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama Dalam kurun waktu 28 tahun proses pembentukan UU No 7 tahun 1989. RUU tentang susunan dan kekuasaan agama. organisasi. Proses penyiapan RUU PA terhambat oleh proses persiapan RUU peradilan umum dan RUU tentang MA. 2. yaitu : 1.” Sedangkan pada pasal 1 angka 6 juga terdapat penyesuaian terhadap bunyi Pasal 12 ayat (1) UU Peradilan Agama tersebut sehingga berbunyi : “ Pembinaan dan pengawasan umum terhadap hakim dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung. administrasi. atas landasan inilah menteri agama mengajukan 2 draf rancangan undang-undang. financial berada pada departemen masing-masing. Pada priode inilah departemen agama menghasilkan dua Rancangan undang-undang. dan RUU tentang Acara Pradilan Agama.

a)

Pada tingkat pertama, terjadi perdebatan yang sangat singit, dimana kelompok yang tidak menyetujui RUU PA dibahas mempermasalahkan dasar pembentukan RUU PA berupa UUD 1945 pasal 24 dan pasal 25 serta UU No 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Pada tahap kedua, dimana disampaikannya pandangan umum fraksi-fraksi dan pendapat pemerintah berjalan cukup memadai. Pada tahap ketiga, dibentuknya pansus RUU PA, dan pansus membentuk rencana kerja sebagai persiapan pengesahan RUU PA menjadi UU pada tahap ke Empat. Pada tahap ke empat, pada tanggal 29 Desemer 1989 RUU PA disahkan.

b)

c)

d)

B. Sistematika UU PA UU No 7 Tahun 1989 terdiri dari 7 Bab dan 108 pasal, dengan susunan sebagai berikut : 1) BAB I Tentang ketentuan umum Memuat mengenai pengertian, kedudukan dan pembinaan pengadilan dalam lingkup peradilan agama. BAB II Mengenai susunan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi. BAB III Mengenai Kekuasaan Pengadilan dalam lingkup peradilan agama. BAB IV Mengatur Hukum Acara BAB V menyebut ketentuan-ketentuan lain mengenai administrasi peradilan, pembagian tugas para hakim, panitera dan juru sita. BAB VI mengenai peraturan peralihaan BAB VII mengenai ketentuan penutup

2) 3) 4) 5)

6) 7)

C. Beberapa Perubahaan Yang Terjadi Setelah Berlakuknya UU No 7 Tahun1989 Dengan disahkannya UU No 7 tahun1989, maka terajdi perubahan-perubahan dalam lingkup peradilan agama. Yaitu perubahaan mengenai : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peradilan agama menjadi peradilan yang mandiri Seragamnya peradilan agama seluruh RI Perlindungan terhadap wanita lebih ditingkatkan Adanya juru sita, dan tidak diperlukannya lagi pengukuhan keputusan dari Pengadilan Umum Terlaksananya ketentuan pokok undang-undang kehakiman Terlaksananya pembangunan hokum berwawaskan nusantara.

BAB V ASAS-ASAS UMUM YANG TERDAPAT DALAM UU NO. 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

A. Asas Personal Keislaman Asas personalita keislaman dimana yang dapat tunduk dalam kekuasaan lingkungan Peradilan Agama yani hanya mereka yang mengakui pemeluk Agama Islam. Penganut Selain agama Islam atau non Islam tidak tunduk dan tidak dapat dipaksa tunduk kepada lingkungan Pengadilan Agama.

B. Asas Kebebasan Dalam hal ini agar hokum dapat ditegakan berdasarkan pancasila, akan tetapi kebebasan kehakiman bukanlah kebebasan yang membabi buta akan tetapi terbatas dan relative.diantaranya: · · · Bebas dari campur tangan kekuasaan negara lain, Bebas dari paksaan Kebebasan melaksanakan wewenang judical (peradilan)

C. Asas Wajib Mendamaikan Asas mendamaikan dalam Peradilan Agama sejalan dengan konsep Islam yang dinamakanIshlah. Untuk itu layak sekali para hakim Peradilan Agama menyadari dan mengemban fungsi “mendamaikan” karena bagaimanapun seadil-adilnya putusan jauh lebih baik dan lebih adil jika perkara diselesaikan dengan perdamaian.

D.

Asas Sederhana, Cepat Dan Biaya Ringan

Sebuah Peradilan apalagi Peradilan Agama yang menjadi harapan masyarakat muslim untuk mencari keadilan, dengan adanya Asas Sederhana , cepat dan biaya ringan akan selalu dikehendaki oleh masyarakat..

E.

Asas Terbuka Untuk Umum

Setiap pemeriksaan berlangsung disidang pengadilan, siapa saja yang ingin berkunjung, menghadiri, menyaksikan, dan mendengarkan jalanya persidangna tidak boleh dihalangi dan dilarang, maka untuk memenuhi syarat formal atas asas ini, sebelum hakim melakukan pemeriksaan lebih dahulu menyatakan dan mengumumkan ”persidangan terbuka untuk umum”. F. Asas Legalitas Dan Persaman

Yakni pengadilan mengadili menurut ketentuan-ketentuan hukum. Karena hakim berfungsi dan berwenang mengerkan roda jalanya peradilan melalui badan pengadilan, semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan, mesti menurut hukum

G. Asas Aktif Memberi Bantuan Dalam asas ini hakim hendaknya dapat memberi bantuan secara akif dilihat dari tujuan dari memberi bantuan diarahkan untuk mewujudkan peraktek peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

BAB VI SUSUNAN PERADILAN AGAMA DAN APARATNYA

A. Susunan Oranisasi Pengadilan Agama Susunan Pengadilan Agama yang terdapat dalam pasal 9 undang-undang nomor 7 tahun 1989 adalah tidak berbeda dengan susunan pengadilan negeri, yaitu terdiri dari pimpinan, hakim anggota, panitera, sekretaris dan juru sita sedangkan susunan Pengadilan Tinggi Agama adalah pimpinan, hakim anggota, panitera, dan sekretaris. 1) Pimpinan Pimpinan Pengadilan Agama terdiri dari seorang ketua dan seorang wakil ketua. 2) Hakim Anggota Pada umumnya ketentuan yang menyangkut persyaratan untuk menjadi hakim dan lain sebagainya antara Hakim . Syarat-syarat untuk menjadi hakim agama haruslah beragama Islam dan Sarjana Syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam.

3)

Panitera Di Pengadilan Agama seorang panitera harus beragama Islam dan berlatar belakang pendidikan Islam atau menguasai hukum Islam. Untuk Pengadilan Tinggi Agama persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi panitera adalah orang tersebut memiliki ijazah sarjana syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam, sedangkan persyaratan yang lainnya tidak berbeda dengan persyaratan untuk menjadi panitera Pengadilan Tinggi.

4)

Sekretaris

diisyaratkan harus mempunyai pengalaman minimal 5 (lima) tahun sebagai juru sita pengganti. Sehingga gugatan diajukan ke Pengadilan Agama di Jakarta. sekarang alamat tidak diketahui”. dan dalam bahasa Belanda disebut attributie van rechtmacht. tergantung dari tempat tinggal tergugat. beragama Islam. jual-beli. Misalnya persoalan mengenai perceraian bagi mereka yang beragama Islam berdasarkan ketentuan pasal 63 ayat 1) huruf a UU No. Apa itu tempat tinggal ? dan apa pula yang dimaksud dengan tempat kediaman ? Perbedaan ini perlu dipahami dengan sebaik-baiknya. Azas ini dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan ”A ctor Sequitur orum Rei”. umpamanya di Jalan Kramat No. dan tempat tinggalnya ataupun tempat kediamannya tidak diketaui.Di Pengadilan Agama juga ada sekretaris yang dipimpin oleh seorang sekretaris dan dibantu oleh seorang wakil sekretaris dimana jabatan sekretaris dirangkap oleh panitera pengadilan 5) Juru Sita Untuk menjadi juru sita. Azasnya adalah ”yang berwenang Pengadilan Agama di tempat tergugat”. utang-putang. Kompetensi Absolut. Sedangkan persoalan warisan. Wewenang mutlak adalah menyangkut pembagian kekuasaan antar badan-badan peradilan. mungkin di rumah peristirahatannya di Puncak. Sehingga apabila seseorang pindah tanpa meninggalkan alamat barunya. 15 Jakarta. Wewenang mutlak menjawab pertanyaan badan peradilan macam apa yang berwenang untuk mengadili sengketa ini ? B.Pusat. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 1 Th. bahwa tempat tinggal seorang adalah tempat dimana seseorang menempatkan pusat kediamannya. 1974 adalah wewenang pengadilan agama. Pasal 118 HIR menyangkut kekuasaan relatif. Kompetensi Relatif Kompetensi Relatif mengatur pembagian kekuasaan mengadili antara pengadilan Agama yang serupa. Sedang tempat kediaman adalah dimana seseorang berdiam. selain itu orang tersebut haruslah Warga Negara Indonesia. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan juga tercatat sebagai penduduk. dan berijazah serendah-rendahnya sekolah lanjutan tingkat atas. . gadai adalah merupakan wewenang pengadilan negeri. yang dalam bahasa Belanda disebut distributie van rechtsmacht. sewa-menyewa. Pasal 17 BW menyatakan. maka ia digugat pada pengadilan tempat tinggalnya yang terakhir dan dalam surat gugatan disebutkan ”paling akhir bertempat tinggal . BAB VII WEWENANG ATAU KOMPETENSI PERADILAN AGAMA A. oleh karena dalam pasal 118 HIR di samping tempat tinggal menyebut pula tempat kediaman. dilihat dari macamnya pengadilan menyangkut pemberian kekuasaan untuk mengadili.

BAB VIII PROSES ADMINISTRASI DAN PENGAJUAN PERMOHONAN DI PENGADILAN AGAMA A. maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon ( pasal 66 ayat (3) UU no 7 tahun 1989 ). maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkan pernikahan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta pusat ( pasal 66 ayat (4) UU no 7 tahun 1989 ). Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Pemohon. 2) 3) b) Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah : 1) Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon ( pasal 66 ayat (2) UU no 7 tahun 1989 ). maka permohonan harus diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon ( pasal 66 ayat (2) UU no 7 tahun 1989 ). Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum. Jika Termohon telah menjawab surat permohonan tersebut harus atas persetujuan Termohon. Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah tentang tata cara membuat surat permohonan ( pasal 119 HIR 143 Rbg jo pasal 58 UU nomor 7 tahun 1989 ). Bila Termohon berkediaman diluar negeri. 2) 3) 4) c) Permohonan tersebut memuat : . Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman diluar negeri. Prosedur a) Langkah yang harus dilakukan Pemohon (suami / kuasanya) : 1) Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 66 UU nomor 7 tahun 1989 ). Perkara Cerai Talak 1.

selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak.. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum). c) d) e) B. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan tersebut harus atas persetujuan Tergugat. . Prosedur Langkah yang harus dilakukan Penggugat (istri / kuasanya) : a) Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 73 UU nomor 7 tahun 1989 ). Penyelesaian Perkara a) b) Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah : b) c) d) 2. Perkara Cerai Gugat 1. Penyelesaian Perkara a) b) Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. maka panitera Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah tentang tata cara membuat surat gugatan ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 58 UU nomor 7 tahun 1989 ). pekerjaan. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita). Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan. Putusan Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. umur.1) 2) 3) Nama. Tahap persidangan. agama.. Setelah putusan memperoleh kekuatan hokum tetap. dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon. 2. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum.

tentang suatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat. Syahadah : seseorang yang memberikan keterangan di muka sidang dengan memenuhi syarat-syarat tertentu.c) d) e) Tahap persidangan. syubhat (terbukti 50%) 4. waham (terbukti < 50%) B. dengar dan ia alami sendiri. yakin (terbukti 100%) 2. f) BAB IX PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ISLAM DAN PRAKTIKNYA DI PENGADILAN AGAMA A. selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak. Alat-Alat Bukti Yang Diakui Dalam Pembuktian Menurut Yang Digunakan Di Pengadilan Agama Alat-alat bukti tersebut sebagai berikut: 1) 2) Ikrar : pernyataan seseorang tentang dirinya sendiri yang bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan pihak lain. maka panitera Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak. Tingkatan keyakinan hakim sebagai berikut: 1. sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tertentu Yamin : suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu member janji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan dan percaya bahwa siapa yang menberi keterang atau janji yang tidak benar akan dihukum oleh-Nya Riddah : pernyataan seseorang bahwa ia telah keluar dari agama Islam Maktubah : maktubah ada 2 macam yaitu: akta dan surat keterangan 3) 4) 5) . Setelah putusan memperoleh kekuatan hokum tetap. Putusan Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. zhaan (terbukti 75-99%) 3. Pengertian Pembuktian Pembuktian adalah upaya para pihak yang berperkara untuk meyakinkan hakim akan kebenaran peristiwa atau kejadian yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa dengan alat-alat bukti yang telah ditetapkan undang-undang.

karena adanya hubungan tertentu dengan para pihak. atau pengakuan salah satu pihak. ada orang tertentu oleh Undang-undang tidak dapat diperkenankan menjadi saksi sebagai dasar untuk memutus perkara. C. atau karena keadaan tertentu orang tidak boleh di dengar sebagai saksi adalah : 1. 4. setiap orang dapat menjadi saksi. Anak yang tidak diketahui benar umurnya sudah 15 tahun Orang gila. Alat bukti pengakuan Ada tiga macam pengakuan yaitu : a) Pengakuan murni : ialah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan . Alat bukti surat – surat (tertulis) Alat bukti surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda bacaan yang di maksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang yang di pergunakan sebagai pembuktian. 4. yaitu misalnya kesaksian atau surat-surat. Persangkaan-persangkaan hakim sebagai alat bukti mempunyai kekuatan bebas. Surat sebagai alat bukti tertulis dapat dibedakan dalam 2 jenis yaitu: surat akta otentik dan surat akta tidak otentik (dibawah tangan) 2. Namun demikian. Alat-Alat Bukti Yang Digunakan Di Pengadilan Agama Alat-alat bukti itu sebagai berikut: 1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak menurut keturunan yang sah 2. melainkan alat-alat bukti lain. yang membuktikan bahwa suatu peristiwa adalah terang ternyata. untuk memelihara obyektifitas saksi dan kejujurannya. meskipun ia kadang-kadang mempunyai ingatan yang terang. Istri atau suami dari salah satu pihak meskipun sudah ada perceraian 3. 3. maka dalam hal ini yang dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu. yaitu terserah kepada kebijaksanaan hakim. Alat bukti persangkaan Oleh karena persangkaan itu merupakan kesimpulan belaka.6) Tabayyun : upaya perolehan penjelasan yang dilakukan oleh pemeriksaan majelis pengadilan yang lain daripada majelis pengadilan yang sedang memeriksa. seberapa jauh di akan memberi kekuatan bukti kepada persengketaanpersengketaan yang didapat pada pemeriksaan perkara. baru kemudian disimpulkan adanya suatu peristiwa tertentu. Alat bukti saksi Pada prinsipnya.

2. Akta Perdamaian. Putusan. 182 RBg dan 1940 BW yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa sebagai dasar putusannya. Penetapan. b) c) BAB X PRODUK-PRODUK PERADILAN AGAMA DAN PELAKSAANNYA A. Pengakuan dengan klausula : adalah suatu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersipat membebaskan. Kekuatan pembuktian sumpah aestimatoir ini sama dengan sumpah supletoir. Macam dan Jenis Putusan . 1.. 3. Putusan ialah pernyatan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontensius) Penetapan ialah pernyataan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara permohonan (volunteer) Akta Perdamaian ialah akta yang dibuat oleh Hakim berisi hasil musyawarah/ kesepakatan antara para pihak dalam sengketa kebendaan untuk mengakhiri sengketa dan berlaku sebagai putusan. bersifat sempurna dan masih memungkinkan pembuktian lawan. Sumpah penaksir. Alat bukti sumpah HIR menyebutkan 3 macam sumpah sebagai alat bukti yaitu : c) a) Sumpah supletoir diatur dalam pasal 155 HIR. Produk-Produk Peradilan Agama Ada 3 (tiga) macam produk Hakim yaitu : 1.b) Pengakuan dengan kualifikasi : ialah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari tuntutan. 5. Sumpah decisoir atau pemutus adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya (Pasal 156 HIR/Pasal 183 RBg/Pasal 1930 BW} Pihak yang meminta lawannya mengucapkan sumpah disebut deferent. sedang pihak yang harus bersumpah disebut delaat.

Putusan konstitutif ialah putusan yang menciptakan atau menimbulkan hukum baru. putusan sela tidak mengakhiri pemerikasaan tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan. berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. b) c) Dilihat dari Isinya terhadap gugatan putusan terbagi kepada 3 macam yaitu : a) b) Putusan negatif yaitu menolak atau tidak menerima gugatan. Misalnya Menghukum Tergugat untuk menyerahkan seperdua bagian dari harta bersama kepada Penggugat. Putusan sela ialah putusan yang dijatuhkan pada saat masih dalam proses pemerikasaan perkara dengan tujuan memperlancar jalannya pemeriksaan. Putusan Positif yaitu mengabulkan atau menerima seluruh isi gugatan.Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara ada 2 (dua) macam putusan yaitu : a) Putusan Akhir ialah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan baik melalui semua tahapan pemerikasaan maupun yang belum melalui semua tahapan pemeriksaan. Misalnya menetapkan sahnya pernikahan (isbat nikah) Putusan kondemnatoir ialah putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan untuk memenuhi prestasi. b) c) Dilihat dari segi Sifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan maka putusan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam putusan yaitu : a) Putusan diklatoir ialah putusan yang menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai suatu yang resmi menurut hukum. (Pasal 148 RBg/Pasal 125 HIR) Putusan Kontradiktoir ialah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak dihadiri oleh salah satu pihak atau para pihak akan tetapi dalam pemeriksaan penggugat dan tergugat pernah hadir. (Pasal 148 RBg dan Pasal 124 HIR) Putusan Verstek ialah putusan yang dijatuhan karena tergugat/termohon tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya bukan karena halangan yang sah dan juga tidak mengajukan eksepsi mengenai kewenangan. . b) Dilihat dari hadir tidaknya para pihak berperkara pada saat putusan dijatuhkan/diucapkan maka dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu : a) Putusan gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena penggugat/pemohon tidak hadir dalam sidang dan telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya itu bukan karena halangan yang sah. Misalnya putusan tentang gugatan cerai dengan alasan ta’lik talak.

Amar putusan yaitu merupakan kesimpulan akhir oleh hakim atas perkara yang diperiksanya.(termasuk nama kuasa hukum apabila ada) Tentang duduk perkara yaitu memuat kronlogis duduk perkara mulai dari usaha perdamaian. Nama Hakim/Majelis Hakim yang memutus perkara termasuk Panitera/PP. duplik. Suatu putusan hakim terdiri dari : a. dalildalil penggugat. replik. Kepala Putusan b. B. Identitas Para Pihak c. Pelaksanaan Putusan/Eksekusi c) d) e) f) g) h) i) j) k) . Tanggal putusan yaitu memuat hari dan tanggal pengucapan putusan dalam sidang yang dinyatakan dalam akhir putusan. Identitas dan kedudukan pihak-pihak berperkara. jawaban tergugat. bukti-bukti dan saksi serta kesimpulan para pihak. Amar atau dictum putusan Secara detail suatu putusan harus memuat hal-hal berikut : a) b) Judul dan Nomor Putusan (Nomor Putusan sama dengan Nomor perkara) Khusus putusan/penetapan Pengadilan Agama diawali dengan kalimat :”Bismillahirrahmanir rahiem” dan “Demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa” Nama dan tingkat pengadilan yang memutus. Susunan dan Isi Putusan Putusan Hakim harus dibuat dengan tertulis dan harus ditanda tangani oleh Hakim/Majelis Hakim termasuk Panitera/Panitera Pengganti sebagi dokumen resmi. 2. Pertimbangan (konsideran) yang memuat tentang Duduk Perkaranya dan Pertimbangan Hukum d. Rincian biaya perkara. Tentang hukumnya yaitu memuat bagaimana Hakim mengkwalifisir fakta atau kejadian dan mempertimbangkanya secara baik dan dasar-dasar hukum yang dipergunakan dalam menilai fakta dan memutus perkara. dalam amar putusan memuat juga pembebanan biaya perkara. Hadir tidaknya para pihak ketika putusan dibacakan.c) Putusan Positif-negatif yaitu menerima atau mengabulkan sebagian dan tidak menerima atau menolak sebagian.

Hal ini berlaku setelah ditetapkannya UU No. Pada setiap Pengadilan Agama diadakan Juru Sita untuk dapat melaksanakan putusan-putusannya 2. Pelaksanaan Akta Perdamaian d. yaitu : Ø Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.Bg § Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk mengosongkan suatu benda tetap. Pengadilan Agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman dapat melaksanakan segala putusan yang dijatuhkannya secara mandiri tanpa harus melalui bantuan Pengadilan Negeri. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . 7/1989. dan kasasi. pasal 208 R. Hal ini diatur dalam pasal 196 HIR. Jenis-Jenis Pelaksanaan Putusan Terdapat beberapa macam pelaksanaan putusan. Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet. Pelaksanaan putusan serta merta.Bg § Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. Hal ini diatur dalam pasal 225 HIR. putusan yang dapat dilaksanakan lebih dulu b.1. Putusan ini disebut juga Eksekusi Riil. Pelaksanaan putusan provisionil c. § Eskekusi riil dalam bentuk penjualan lelang. Hal ini diatur dalam pasal 1033 Rv.yaitu: § Putusan yang menghukum salah satu untuk membayar sejumlah uang. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Agama Pelaksanaan putusan /eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. banding. pasal 259 R. Putusan kondemnatoir . Hal ini diatur dalam pasal 200 ayat (1) HIR.Bg 3. Putusan Yang Dapat Dieksekusi Putusan yang dapat dieksekusi adalah yang memenuhi syarat-syarat untuk dieksekusi. pasal 218 ayat (2) R. kecuali dalam hal: a. Pelaksanaan (eksekusi) Grose akta Ø Putusan tidak dijalankan oleh pihak terhukum secara sukarela meskipun ia telah diberi peringatan (aan maning) oleh Ketua Pengadilan Agama Ø Putusan hakim yang bersifat kondemnatoir Putusan yang bersifat deklaratoir atau konstitutif tidak diperlukan eksekusi. Dan sebagai akibat dari ketentuan UU Peradilan Agama diatas adalah: a) b) Ketentuan tentang eksekutoir verklaring dan pengukuhan oleh Pengadilan Negeri dihapuskan.

KASASI. a) Permohonan banding diajukan kepada pengadilan tinggi dalam daerah hukum meliputi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara. Membuat akta permohonan banding dengan menghadap pejabat kepaniteraan pengadilan. BAB XI UPAYA BANDING. Putusan tersebut menurut hukum diperbolehkan banding. masa bandingnya selama 30 hari terhitung hari berikutnya isi putusan disampaikan kepada yang bersangkutan. Membayar panjar biaya banding.tidak mungkin berdiri sendiri. dengan ketentuan sebagai berikut . a) b) c) d) e) Diajukan oleh pihak-pihak dalam perkara. dan merupakan bagian dari putusan deklaratoir. karena sebelum bersifat menghukum terlebih dahulu ditetapkan suatu keadaan hukum Ø Eksekusi dilakukan atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan Agama. Permohonan banding diajukan melalui pengadilan yang memutus perkara tersebut. DAN PENINJAUAN KEMBALI 1. (Pasal 7 ayat (1). Masa Pengajuan banding : a) Bagi pihak berperkara yang berada dalam wilayah hukum pengadilan yang memutus perkara adalah selama 14 hari terhitung mulai hari berikutnya sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan kepada yang bersangkutan. Bagi pihak yang berada di luar wilayah pengadilan agama yang memutus perkara tersebut.20/1947) b) . Diajukan masih dalam tenggang waktu banding. (2) dan (3) UU No. Pengajuan Banding Pengertian banding ialah permohonan pemeriksaan ulang kepada pengadilan yang lebih tinggi (dalam hal ini Pengadilan Tinggi Agama) terhadap suatu perkara yang telah diputus oleh tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atau tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama tersebut. b) Syarat-syarat banding.

Membuat memori kasasi. Ketua PA melaporkan ke Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi tidak diteruskan ke MA (Peraturan MARI Nomor 1 Tahun 2001) 3. . Membayar panjar biaya kasasi. Syarat-syarat kasasi a) b) c) d) e) f) Diajukan oleh yang berhak. Pengertian Peninjauan Kembali ialah meninjau kembali putusan perkara perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena diketemukan hal-hal atau bukti baru yang pada pemeriksaan terdahulu tidak diketahui oleh Hakim. Membuat akta permohonan kasasi di kepaniteraan pengadilan agama yang bersangkutan Adapun tenggang waktu pengajuan kasasi sama dengan pengajuan banding. Panitera Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut membuat keterangan bahwa permohonan kasasi atas perkara tersbut tidak memenuhi syarat formal. Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat banding menurut hukum dapat dimintakan kasasi.2. maka berkas perkaranya tidak dikirim ke Mahkamah Agung. Peninjauan Kembali. Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi. Syarat-syarat permohonan PK a) Diajukan oleh pihak yang berperkara. Peninjaun Kembali hanya dapat diperiksa oleh Mahkamah Agung. Apabila syarat-syarat kasasi tersebut tidak terpenuhi. Pengajuan Kasasi Pengertian Kasasi ialah pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung terhadap putusan pengadilan yang lebih rendah (pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama) karena kesalahan dalam penerapan hukum. Pihak yang tidak menerima atau tidak puas atas putusan pengadilan tinggi agama atau pengadilan agama (dalam perkara volunteer) dapat mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung dengan syarat-syarat tertentu.

Membayar panjar biaya peninjauan kembali. menjalankan kuasa. Sedangkan advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum. 3)Menyarankan penyempurnaan surat kuasa. Membuat akta permohonan Peninjauan Kembali di Kepaniteraan Pengadilan Agama. Membuat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-alasannya. Diajukan dalam tenggang waktu menurut undang-undang. Pemberian Bantuan Oleh Hakim Ada berberapa masalah formal yang tercakup kedalam objek fungsi memberi bantuan dan nasihat yaitu: 1)Membuat gugatan bagi yang buta huruf. dan 10)Mengarahkan dan membantu memformulasi perdamaian . Adapun definisi jasa hukum adalah jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi.b) c) d) e) f) g) Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Pemohon harus disumpah oleh Ketua Pengadilan tentang penemuan novum tersebut. 5)Memberi penjelasan alat bukti yang sah. Pengertian Bantuan Hukum Bantuan hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu. 7)Bantuan memanggil saksi secara resmi. BAB XII BANTUAN HUKUM DAN YURISPRUDENSI PERADIALAN AGAMA A. 4). membela dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien. mendampingi. 2)Memberi pengarahan tata cara izin “prodeo”. Ada bukti baru yang belum pernah diajukan pada pemeriksaan terdahulu.Menganjurkan perbaikan surat gugatan. 2. Adapun organisasi advokat atau lembaga bantuan hukum adalah organisasi profesi yang didirikan berdasarkan undang-undang. Masa pengajuan permohonan Peninjauan Kembali adalah 180 hari terhitung mulai ditemukannya novum atau bukti baru dan sebelum berkas permohoan Peninjauan Kembali dikirim ke Mahkamah Agung. mewakili. 8)Memberi bantuan upaya hukum. baik di dalam maupun luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang. Bantuan Hukum 1. 9)Memberi penjelasan tata cara verzet dan rekonvensi. 6)Memberi penjelasan cara mengajukan bantahan dan jawaban.

Menurut Utrecht ada 3 (tiga) sebab hakim menurut keputusan seorang hakim lain: 1. Yurisprudensi 1. Keputusan hakim mempunyai kekuasaan (gezag) terutama apabila keputusan itu dibuat oleh Pengadilan Tinggi atau oleh Mahkamah Agung 2. karena ia menyetujui isi keputusan hakim lain itu. Ruang Lingkup Yurisprudensi Peradilan Agama terbatas pada hukum yang menjadi wewenangnya dan hukum acara peradilan agama .B. Yurisprudensi Peradilan Agama Yurisprudensi Peradilan agama sama makna dan unsurnya dengan yurisprudensi perdialan umum . 2. yang berbeda adalah ruang lingkupnya. ada sebab: hakim menurut keputusan hakim lain. maka seseorang hakim menurut keputusan yang telah diberi oleh seorang hakim yang berkedudukannya lebih tinggi. Akhirnya. Di samping sebab yang psikhologis itu ada juga sebab praktis. yang sebab persesuaian pendapat. Pengertian Yurisprudensi Yurisprudensi adalah keputusan pengadilan/keputusan hakim yang terdahulu terutama dari mahkamah agung (untuk Indonesia).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful