HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA

(Lanjutan : Pendahuluan)
Asas-asas Hukum Acara Peradilan Agama A.1. Asas Umum Lembaga Peradilan Agama 1) Asas Bebas Merdeka Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia. Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo. Pasal 1 Undangundang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertia n di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya, dan kebebasan dari paksaan, direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisial kecuali dalam hal yang diizinkan undang-undang.” 2) Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. 3) Asas Ketuhanan Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam, sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimatBasmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa.” 4) Asas Fleksibelitas Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Untuk itu, pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut. Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas, mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran. Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim, maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum.

5)

6)

Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis, rinci dan transparan, serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan. Asas Non Ekstra Yudisial Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana. Asas Legalitas Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. Asas ini diatur dalam pasal 3 (2), pasal 5 (2), pasl 6 (1) UU No.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Pasal 2 UU No.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang, sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan. Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum, mulai dari tindakan pemanggilan, penyitan, pemeriksaan di persidangan, putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan, semuanya harus berdasar atas hukum. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim, tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum.

A.2. Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Ke-islaman Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama, hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama. Ketentuan yang melekat pada UU No. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah : a) Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam. b) Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infaq, shodaqoh, dan ekonomi syari’ah. c) Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam, oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Khusus mengenai perkara perceraian, yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam, apabila terjadi sengketa perkawinan, perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama, walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad), baik dari pihak suami atau isteri, tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan, artinya, setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung, bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa.

3)

4)

5)

6)

Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum, artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. Jika seseorang mengaku beragama Islam, pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. Faktanya dapat ditemukan dari KTP, sensus kependudukan dan surat keterangan lain. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum, ditentukan oleh dua syarat : Pertama, pada saat terjadinya hubungan hukum, kedua pihak sama-sama beragama Islam, dan Kedua, hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam, oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. 2) Asas Ishlah (Upaya perdamaian) Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo. Pasal 31 PP No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tentang perkawinan jo. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Pasal 115 KHI, jo. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. Karena itu, tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”, sebab bagaimanapun adil nya suatu putusan, pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian. Asas Terbuka Untuk Umum Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradila Agama jo. Pasal 19 (3 dan 4) UU No. 4 Tahun 2004. Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum, kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama). Asas Equality Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya, sehingga tidak ada perbedaan yang bersi fat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah : a. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”. b. Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law” c. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”. Asas “Aktif” memberi bantuan Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis, hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. Asas Upaya Hukum Banding

Tidak dilakukan secara sepihak 5. Surat Gugatan : Surat yang diajukan oleh penggugat pada ketua pengadilan agama yang berwenang. Pemeriksaan harus dilakukan secara kontradiktor dari awal sampai dengan putusan. artinya memberikan hak dan kesempatan pada tergugat untuk membantah dalil penggugat. yang memuat tuntutan hak yang hak yang didalamnya mengandung sengketa dan sekaligus landasan pemeriksaan perkara dan pembuktian kebenaran. Terjadi sengketa antara para pihak 3. Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. Bersifat partai. Mengandung sengketa 2. pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili RESUME HUKUM ACARA PENGADILAN AGAMA I GUGATAN DAN PERMOHONAN A. satu pihak sebagai penggugat dan yang lain sebagai tergugat 4. Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali. B. apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang. Ciri-Ciri Gugatan : 1. Asas Upaya Hukum Kasasi Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan. Syarat Formil Gugatan . C.7) 8) 9) Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. kecuali Undang-undang menentukan lain. kecuali undang-undang menentukan lain.

Syarat Materiil Gugatan 1. Gugatan harus berisi alas an yang dibenarkan oleh hokum 2. Terdapat gugatan yang erat antara gugatan satu dengan yang lain b. Penggugat harus memiliki hubungan dan kepentingan hokum dengan pokok gugatan 4.1. Memuat identitas penggugat dan tergugat 3. Misal: Ahli waris. Harus memuat fakta kejadian 5. Harus diajukan pada pengadilan agama yang berwenang 2. Gabungan Gugatan (kumulasi) 1. maka hakim harus memberikan petunjuk E. Harus dibuat dan ditanda tangani sendiri oleh penggugat atau kuasa hukumnya D. Ishbat nikah b. Subyektif: Gabungan beberapa penggugat atau tergugat dalam suatu gugatan. Terdapat hubugan hukum F. Kumulasi: a. Harus memuat tuntutan tuntutan secara rinci 7. Permohonan : Suatu permohonan yang berisi tuntutanhak perdata oleh suatu pihak yang berkepentingan terhadap suatu hal yang tidak mengandung sengketa H. Jika syarat formil dan materiil belum lengkap. Harus mempunyai dasar hokum 6. Syaratnya: a. Ciri-cirinya : . Obyektif: Gabungan beberapa tuntutan terhadap beberapa peristiwa hukum dalam suatu gugatan G.

Syarat Formil : Identitas permohonan meliputi nama.Bersifat kepentingan sepihak Tidak ada sengketa dengan pihak lain Tidak ada pihak ke-3 sebagai lawan I. Syarat Materiil : Harus ada alasan yang dibenarkan oleh hukum Hakim harus member petunjuk jika belum memenuhi syarat formil dan materiil MEKANISME PERSIDANGAN 1. Membayar biaya perkara —> Pasal 12i HIR ayat 4 Yang merupakan syarat imperative (memaksa) atas pendaftaran perkara 4. diserahkan pada meja 1 untuk didaftar 2. Setelah berkas diterima ketua pengadilan agama maka ketua pengadilan agama membuat penetapan majelis hakim (PMH) untuk menyidang perkara lalu majelis hakim membuat penetapan hari siding . Bagi yang menggunakan advokad maka surat kuasa dilengkapi dengan surat kuasa dengan surat kuasa khusus yang dilegalisir 3. umur. domisili Fatwa peristiwa Fatwa hukum Tuntutan Hubungan yang relevan antara posita dan petitum Ditanda tangani pemohon atau orang yang diberi kuasa J. Gugatan antara permohonan disampaikan pada ketua pengadilan.

Menunggu surat panggilan siding oleh jurusita pengganti 6. Pembuktian : Upaya yang dilakukan para pihak dalam berperkara untuk menguatkan dan membuktikan dalil-dalil yang diajukan agar dapat meyakinkan hakim yang memeriksa perkara B. Menghadiri sidang sesuai jadwal PEMANGGILAN 1.5. Bukti : Segala sesuatu yang dapat meyakinkan akan kebenaran suatu dalil atau pendirian C. Alat bukti : Segala sesuatu yang menurut undang-undang dapat dipakai untuk membuktikan . Panggilan sidang : Menyampaikan secara resmi dan patut pada pihak-pihak yang terlibat dalam perkara agar memenuhi dan melaksanakan hal-hal yang diminta dan diperintahkan pengadilan Panggilan sidang sah : jika dilakukan oleh jurusita atau jurusita pengganti yang telah disumpah untuk jabatannya Resmi : jika surat itu disampaikan secara tertulis oleh jurusita atau jurusita pengganti dalam wilayah hukum pengadilan yang bersangkutan Patut : Setidaknya 3 hari kerja sebelum hari persidangan 2. jam dan tempat sidang Membawa saksi-saksi Membawa surat-surat yang digunakan Penegasan dapat menjawab gugatan dengan surat 11 PEMBUKTIAN A. Isi surat : Nama yang dipanggil Hari.

Berasal dari diri para pihak : pengakuan dan sumpah Berasal dari luar pihak : surat. Hal-hal yang tidak perlu dibuktikan : Segala sesuatu yang diakui. Batas minimal Suatu jumlah alat bukti yang sah paling sedikit harus terpenuhi agar alat bukti tersebut mempunyai nilai alat bukti pembuktian untuk mendukung kebenaran yang didalilkan. Hal-hal yang perlu dibuktikan : Segala sesuatu yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak Segala sesuatu yang didalilkan. Bukti surat : bukti berupa tulisan yang berisi tentang suatu peristiwa keadaan atau hal-hal tertentu. saksi dan persangkaan H. I. . Macam-macam Alat bukti: Alat bukti tertulis Saksi Persangkaan Pengakuan Sumpah E. Pembagian menurut sifat . dibenarkan oleh pihak lawan Segala sesuatu yang dilihat oleh hakim Segala sesuatu yang merupakan kebenaran yang bersifat umum G. disangka atau dibantah oleh lawan Peristiwa-peristiwa atau kejadian yang berkaitan adanya atau menimbulkan suatu hak F.D.

F.1. Manfaat bagi penggugat : Para pihak dapat menganalisis dalil-dalil tambahan-tambahannya melaui pembuktian yang didapatkan selama persidangan sehingga dapat kesimpulan. Tujuan diadakan musyawarah : Untuk menyamakan persepsi agar terhadap perkara yang sedang diadili itu dapt dijatuhkan putusan yang seadil-adilnya. Macam-macamnya: Surat biasa : Surat yang dibuat dengan maksud tidak dijadikan alat bukti. sehingga penggugat akan meminta pada majelis hakim agar dikabulkan sebaliknya penggugat ditolak. E. Dasar hukum kesimpulan : Kesimpulan para pihak diatur dalam pasal 28 (yurisprudensi) karena tidak diatur maka hukum boleh mengajukan atau tidak (bebas). C. D. Kesimpulan adalah : Suatu ringkasan yang dibuat oleh pihak yang berperkara yang tanpa ihtiar suatu gugatan baik jawaban atau bantahan yang dibuat dengan bukti-bukti di persidangan dan berisi suatu permintaan atas suatu gugatan atau bantahan atau jawaban agar majelis akhir mengabulkan gugatan penggugat dan atau menolaknya. surat yang tidak disengaja dijadikan bukti dan tidak dibuat secara formal Akta otentik : Akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang berwenang dan mempunyai nilai pembuktian yang sempurna sepanjang tidak dibuktikan lain Akta dibawah tangan : Akta yang dibuat oleh pejabat yang berwenang dengan kekuatan nilai pembuktian yang sempurna apabila isi dan tanda tangan diakui oleh para pihak KESIMPULAN MUSYAWARAH SIDANG A. Musyawarah hakim : Suatu sikap yang terdapat yang diambil oleh majelis hakim yang menyidangkan suatu perkara masing-masing mengemukakan pendapat hukumnya atau alasannya yang dilakukan secara rahasia dan tertutup sebelum hakim mengucapkan keputusannya. apakah terbukti atau tidak. Dasar hukum musyawarah : Pasal 178 HIR/189 RBG . sesuai ketentuan hukum yang berlaku. B.

. 5. Dasar hukum dissenting opinion : Pasal 14 ayat (3) UU No. 2. Ketua majelis hakim mempersilahkan kepada hakim yang lebih senior dan hakim senior anggota 1 untuk menyampaikan pendapatnya berupa fakta-fakta yang sudah terbukti dan tidak terbukti dasar hukum apa yang disampaikan dan pertimbangan keadilan dan kemanfaatan hukum secara tertulis. Majelis menyepakati pendapat ulama yang memenuhi ketentuan hukum yang berlaku dan memenuhi rasa keadilan serta serta asas manfaat. Jika tiga hakim majelis berbeda pendapat maka yang digunakan adalah pendapat ketua majelis. 51 dan 53 UU No.Pasal 14.48/2009 Tata cara memuat dissenting opinion dalam putusan : Pendapat hakim yang berbeda dimuat dalam pertimbangan hakim setelah pertimbanagan hakim lainnya yang menjadi dasar putusan dengan menyebutkan nama hakim yang berbeda pendapat tersebut Subtansi dan teknik musyawarah majelis : Musyawarah majelis hakim dilaksanakan secara rahasia. 3. 4. 48/2009 G. Jika tidak ada kesepakatan dilakukan voting dan pendapat yang kalah merupakan dissenting opinion. Pendapat para hakim anggota dan ketua majelis dicatat dalam ikhtisar musyawarah yang ditanda tangani oleh ketua majelis dan panitera sidang dilampirkan dalam berita acara persidangan terakhir. Langkah-langkah/ teknis musyawarah majelis : 1. maksudnya apa yang dihasilkan dalam rapat majelis hakim tersebut hanya diketahui oleh majelis hakim yang memeriksa perkara sampai putusan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum.

PTUN dan lainnya. tetapi hingga diundangkannya UU No. Pada tanggal 29 Desember 1989. 7 tersebut mengandung beberapa kelemahan. yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl. Peradilan Agama telah ada sejak abad ke-16. Memang agak terlambat lahirnya UU No. juga merupakan hukum yang sebagaian besar dianut oleh Bangsa Indonesia. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989.ASAS DAN SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA ASAS DAN SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA BAB I PENDAHULUAN A. kekuasaan dan acara. Diantaranya.1882152. terdapat hak opsi dalam penyelesaian perkara waris bagi orang-orang yang beragama Islam di . dengan lahirnya UU No. kedudukan dan kekuasaan Pengadilan Agama setara dengan Lembaga Pengadilan lainnya. Selain itu. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul “Seabad Peradilan Agama di Indonesia”. sebab Pemerintah Jajahan sejak semula memang sangat khawatir terhadap hukum Islam lantaran hukum islam itu. yaitu UU No. Undang-undang tersebut merupakan rangkaian dari undangundang yang mengatur kedudukan dan kekuasaan Peradilan di negara RI. Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri tentang susunan. Namun demikian. tentang Peradilan Agama di Pulau Jawa – Madura. UU tersebut melengkapi UU Mahkamag Agung No. jauh sejak zaman penjajahan Belanda. UU Peadilan Umum No. disamping bertentangan dengan agama mereka. Memberikan hak hidup kepada hukum Islam sama artinya dengan memberikan peluang hidup terhadap hukum bangsa Indonesia. 5 Tahun 1986. Bahkan menurut pakar Sejarah Peradilan. 2 Tahun 1986 dan UU Peradilan Tata Usaha Negara No. Yang patut disayangkan. putusannya ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela. UU No. melainkan tersebar dalam berbagai peraturan perundangundangan yang tidak merupakan kesatuan. Peradilan Agama berjalan. disahkan dan diundangkan UU No. dan tidak pula seragam. 14 Tahun 1985. 7 tersebut dibandingkan dengan landasan lain bagi Peradilan Umum. tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai Hari Jadinya. Kekuasaannya kadangkala berbenturan dengan Peradilan Umum karena memang disengaja dibuat tidak jelas oleh Pemerintah Jajahan. LATAR BELAKANG Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan “Peradilan Agama” telah ada di berbagai tempat di Nusantara. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Namun kini Peradilan Agama telah mempunyai UU tersendiri. Selama itu hingga sekarang.

Dua Peradilan Khusus lainnya adalah Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha Negara. Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah : 1. tidak pidana dan pula tidak hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia. Untuk mengetahui sumber hukum Acara Peradilan Agama di Indonesia. Tiga lingkungan Peradilan Negara lainnya adalah Peradilan Umum. maka lahirlah UU No. 3 Tahun 2006 yang merevisi dan melengkapi UU No. Pengadilan Agama tidak berwenang menangani sengketa hak milik dan sebagainya. 3 Tahun 2006 bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaku . Peradilan Agama adalah Peradilan Islam di Indonesia. Peradilan Agama adalah salah satu diantara tiga Peradilan Khusus di Indonesia. B. seluruhnya adalah jenis perkara menurut agama Islam. Dengan adanya UU ini Peradilan Agama akan lebih mantap dalam menjalankan fungsinya. Dalam hal ini. Menurut pasal 2 UU No. Apakah asas-asas yang terdapat dalam Hukum Acara Peradilan Agama ? 2. Apakah sumber hukum Acara Peradilan Agama ? C. Peradilan Militer. maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Dikatakan peradilan khusus karena Peradilan Agama mengadili perkara-perkara tertentu atau mengenai golongn rakyat tertentu. TUJUAN PENULISAN Setiap pembahasan pasti memiliki tujuan tertentu karena dengan adanya tujuan yang jelas maka akan memberikan arah yang jelas pula untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan adanya desakan dan masukan dari praktisi hukum maupun masyarakat yang beragama Islam. sebab dari jenis-jenis perkara yang ia boleh mengadilinya.Pengadilan Agama atau di Pengadilan Negeri. tidak mencakup seluruh perkara perdata Islam. 7 tentang Peradilan Agama di Indonesia. Untuk mengetahui asas-asas yang terdapat dalam hukum acara Peradilan agama di Indonesia 2. Peradilan Agama hanya berwenang di bidang perdata tertentu saja. dalam perkara-perkara perdata Islam tertentu. Peradilan Agama adalah sebutan (titelateur) resmi bagi salah satu diantara empat lingkungan Peradilan Negara atau Kekuasaan Kehakiman yang resmi dan sah di Indonesia. akan dikemukanan terlebih dahulu tentang pengertian Peradilan Agama dan Peradilan Islam. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas. BAB II TINJAUAN UMUM PENGERTIAN HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA Sebelum membahas perihal pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. dan Peradilan Tata Usaha Negara. Peradilan Agama adalah Peradilan Islam limitatif yang telah disesuaikan (dimutatis mutandiskan) dengan keadaan di Indonesia.

memutus. Sebagaimana diketahui bahwa Peradilan Agama adalah Peradilan Perdata dan Peradilan Islam di Indonesia. memutus dan menyelesaikan perkara perdata tertentu bagi orang yang beragama Islam sebagaimana yang dirumuskan dalam pasal 2 UU No. bukan hanya untuk suatu bangsa atau untuk suatu Negara tertentu saja. Dalam pasal 49 UU No. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. Dengan demikian keberadaan Pengadilan Agama dikhususkan kepada warga negara Indonesia yang beragama Islam. jadi ia harus mengindahkan peraturan perundang-undangan Negara dan syariat Islam sekaligus. untuk mewujudkan hukum material Islam yang menjadi kekuasaan Peradilan Agama”. rumusan Hukum Acara Peradilan Agama adalah diusulkan sebagai berikut : “Segala peraturan baik yang bersumber dari peraturan perundang-undangan negara maupun dari syariat Islam yang mengatur tentang bagaimana cara orang bertindak ke muka Pengadilan Agama tersebut menyelesaikan perkaranya. Adapun maksud dari dihapusnya kata “perdata” adalah: 1. Kata “Peradilan Islam” yang tanpa dirangkaian dengan kata-kata “di Indonesia”. 3 tahun 2006 adalah “ Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini ”. Dengan adanya perubahan tersebut maka rumusan yang terdapat dalam pasal 2 UU No. Perkawinan . maka rumusan tersebut juga ikut berubah. apabila yang dimaksudkan adalah “Peradilan Islam di Indonesia” maka cukup digunakan istilah “Peradilan Agama”. Dalam definisi PENGADILAN AGAMA tersebut kata “Perdata” dihapus. 2. Memberi dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan pelanggaran atas undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya. hal ini karena berkaitan dengan ruang lingkup kekuasaan dan wewenang pengadilan agama bertambah. dimana-mana asas peradilannya mempunyai prinsipprinsip kesamaan sebab hukum Islam itu tetap satu dan berlaku atau dapat diberlakukan di mana pun. Peradilan Islam itu meliputi segala jenis perkara menurut ajaran Islam secara universal. Untuk memperkuat landasan hukum Mahkamah Syariah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan Qonun. Oleh karena itu. Pengadilan Agama merupakan salah satu kekuasaan kehakiman yang bertugas dan berwenang memeriksa.kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini. dimaksudkan adalah Peradilan Islam secara universal. 7 tahun 1989 tentang PA “Pengadilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam undang-undang ini ”. dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang : a. 7 tahun 1989 diperbaharui dengan UU No.3 tahun 2006. Untuk menghindari kekeliruan pemahaman. Oleh karena itu. Setelah UU No.

dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. lingkungan peradilan agama. Dalam penjelasan Pasal 1 UU Nomor 4 tahun 2004 ini menyebutkan “Kekuasaan kehakiman yang medeka ini mengandung pengertian di dalamnya kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan pihak kekuasaan Negara lainnya. Pasal 1 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Pada dasarnya azas kebebasan hakim dan peradilan yang digariskan dalam UU Nomor 3 Tahun 2006 tentang perubahan atas UU Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama adalah merujuk pada pasal 24 UUD 1945 dan jo.” b) Asas Sebagai Pelaksana Kekuasaan Kehakiman Penyelenggara kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. Kewarisan. dan hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam. Dan peradilan Negara menerapkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila.” d) Asas Fleksibelitas . Wakaf dan shadaqoh BAB III PEMBAHASAN A. dan kebebasan dari paksaan. demi terselenggaranya Negara hukumRepublik Indonesia. sehingga pembuatan putusan ataupun penetapan harus dimulai dengan kalimat Basmalah yang diikuti dengan irah-irah “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhan Yang Maha Esa. ASAS-ASAS DALAM HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA 1. dan c.b. lingkungan peradilan tata usaha Negara. Semua peradilan di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan Negara dan ditetapkan dengan undang-undang. wasiat. c) Asas Ketuhanan Peradilan agama dalam menerapkan hukumnya selalu berpedoman pada sumber hokum Agama Islam. Asas Umum Lembaga Peradilan Agama a) Asas Bebas Merdeka Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negarayang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. direktiva atau rekomendasi yang datang dari pihak ekstra yudisialkecuali dalam hal yang diizinkan undangundang. lingkungan peradilan militer.

Sebab apabila terjebak pada formalitas-formalitas yang berbelit-belit memungkinkan timbulnya berbagai penafsiran. Sehingga setiap orang dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud akan dipidana.4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman jo. Biaya ringan yang dimaksud adalah harus diperhitungkan secara logis. Sebab tingginya biaya perkara menyebabkan para pencari keadilan bersikap apriori terhadap keberadaan pengadilan. tapi harus menurut kehendak dan kemauan hukum. sehingga hak asasi yang berkenaan dengan persamaan hak dan derajat setiap orang di muka persidangan Pengadilan Agama tidak terabaikan. e) Asas Non Ekstra Yudisial Segala campur tangan dalam urusan peradilan oleh pihak lain di luar kekuasaan kehakiman dilarang kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebut dalam UUD RI Tahun 1945. rinci dan transparan. semuanya harus berdasar atas hukum. Cepat yang dimaksud adalah dalam melakukan pemeriksaan hakim harus cerdas dalam menginventaris persoalan yang diajukan dan mengidentifikasikan persolan tersebut untuk kemudian mengambil intisari pokok persoalan yang selanjutnya digali lebih dalam melalui alat-alat bukti yang ada. Asas legalitas dapat dimaknai sebagai hak perlindungan hukum dan sekaligus sebagai hak persamaan hokum. maka tidak ada cara lain kecuali majelis hakim harus secepatnya mangambil putusan untuk dibacakan dimuka persidangan yang terbuka untuk umum. f) Asas Legalitas Peradilan agama mengadili menurut hokum dengan tidak membeda-bedakan orang. dan biaya ringan. pasl 6 (1) UU No. Asas ini diatur dalam pasal 3 (2).Pemeriksaan perkara di lingkungan peradilan agama harus dilakukan dengan sederhana. Apabila segala sesuatunya sudah diketahui majelis hakim. pasal 5 (2). penyitan. Untuk itu semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan harus berdasar atas hokum. Tidak boleh menurut atau atas dasar selera hakim. Adapun asas ini diatur dalam pasal 57 (3) UU Nomor 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama jo pasal 4 (2) dan pasal 5 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. putusan yang dijatuhkan dan eksekusi putusan. Pasal 2 UU No. mudah difahami dan tidak berbelit-belit serta tidak terjebak pada formalitas-formalitas yang tidak penting dalam persidangan. Pada asasnya Pengadilan Agama mengadili menurut hukum agama Islam dengan tidak membeda-bedakan orang. pemeriksaan di persidangan. mulai dari tindakan pemanggilan.3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama. pengadilan agama wajib membantu kedua pihak berperkara dan berusaha menjelaskan dan mengatasi segala hambatan yang dihadapi para pihak tersebut. Untuk itu. Yang dimaksud sederhana adalah acara yang jelas. cepat. serta menghilangkan biaya-biaya lain di luar kepentingan para pihak dalam berperkara. .

tidak dapat menggugurkan asas personalitas ke-Islaman yang melekat pada saat perkawinan tersebut dilangsungkan. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan UU No.2. infaq. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. hibah. shodaqoh. baik dari pihak suami atau isteri. sensus kependudukan dan surat keterangan lain. apabila terjadi sengketa perkawinan. Sedangkan mengenai patokan asas personalitas ke-Islaman berdasar saat terjadinya hubungan hukum. b. Ketentuan yang melekat pada UU No. . 2) Asas Ishlah (Upaya perdamaian) Upaya perdamaian diatur dalam Pasal 39 UU No. Faktanya dapat ditemukan dari KTP. yang digunakan sebagai ukuran menentukan berwenang tidaknya Pengadila Agama adalah hukum yang berlaku pada waktu pernikahan dilangsungkan. wakaf. Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama 1) Asas Personalitas Ke-islaman Yang tunduk dan yang dapat ditundukkan kepada kekuasaan peradilan agama. dan ekonomi syari’ah. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. wasiat. walaupun salah satu pihak tidak beragam Islam lagi (murtad). waris. hubungan hukum yang melandasi keperdataan tertentu tersebut berdasarkan hukum Islam. pada dirinya sudah melekat asas personalitas ke-Islaman. zakat. jo. oleh karena itu cara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. Pasal 65 dan Pasal 82 (1 dan 2) UU No. artinya patokan menentukan ke-Islaman seseorang didasarkan pada factor formil tanpa mempersoalkan kualitas ke-Islaman yang bersangkutan. hanya mereka yang mengaku dirinya beragama Islam. c. Pasal 16 (2) UU Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman. ditentukan oleh dua syarat : Pertama. Para pihak yang bersengketa harus sama-sama beragama Islam. artinya. Perkara perdata yang disengketakan mengenai perkawinan. oleh karena itu acara penyelesaiannya berdasarkan hukum Islam. kedua pihak sama-sama beragama Islam. Sehingga apabila seseorang melangsungkan perkawinan secara Islam. 1 Tentang perkawinan jo. perkaranya tetap menjadi kewenangan absolute peradilan agama. pada saat terjadinya hubungan hukum. bukan berdasar agama yang dianut pada saat terjadinya sengketa. Jika seseorang mengaku beragama Islam. Letak asas personalitas ke-Islaman berpatokan pada saat terjadinya hubungan hukum. 3 Tahun 2006 Tentang asas personalitas ke-islaman adalah : a. setiap penyelesaian sengketa perceraian ditentukan berdasar hubungan hukum pada saat perkawinan berlangsung. Pasal 31 PP No. dan Kedua. Khusus mengenai perkara perceraian. Pasal 115 KHI. Asas personalitas ke-islaman diatur dalam UU nomor 3 Tahun 2006 Tentang perubahan atas UU Nomor 7 tahun 1989 Tentang peradilan agama Pasal 2 Penjelasan Umum alenia ketiga dan Pasal 49 terbatas pada perkara-perkara yang menjadi kewenangan peradilan agama. Hubungan hukum yang melandasi berdsarkan hukum islam. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan jo.

tepat bagi para hakim peradilan agama untuk menjalankn fungsi “mendamaikan”. 7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. b.7 Tahun 1989 yang tidak diubah dalam UU No. 4 Tahun 2004. kecuali Undang-Undang menentukan lain atau jika hakim dengan alasan penting yang dicatat dalam berita acara siding memerintahkan bahwa pemeriksaan secara keseluruhan atau sebagianakan dilakukan dengan siding tertutup. sehingga tidak ada perbedaan yang bersifat “diskriminatif” baik dalam diskriminasi normative maupun diskriminasi kategoris. 3 tahun 2006 Tentang Peradilan Agama). 4) Asas Equality Setiap orang yang berperkara dimuka sidang pengadilan adalah sama hak dan kedudukannya. pasti lebih cantik dan lebih adil hasil putusan itu berupa perdamaian. kecuali Undang-undang menentukan lain. kecuali undang-undang menentukan lain.Islam menyuruh untuk menyelesaikan setiapperselisihan dengan melalui pendekatan “Ishlah”. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama jo. Hak perlindungan yang sama oleh hukum atau “equal protection on the law” c. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum atau “equal justice under the law”. . Adapun pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama yang harus dilakukan dengan siding tertutup adalah berkenaan dengan pemeriksaan permohonan cerai talak dan atau cerai gugat (pasal 68 (2) UU No. hukum acara perdata yang diatur dalam HIR dan RBg sebagai hukum acara yang berlaku untuk lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan Agama sebagaimana yang tertuang pada Pasal 54 UU No. Adapun patokan yang fundamental dalam upaya menerapkan asas “equality” pada setiap penyelesaian perkara dipersidangan adalah : a. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan atau “equal before the law”. 6) Asas Upaya Hukum Banding Terhadap putusan pengadilan tingkat pertama dapat dimintakan banding kepada Pengadilan Tinggi oleh pihak-pihak yang bersangkutan. 7) Asas Upaya Hukum Kasasi Terhadap putusan pengadilan dalam tingkat banding dapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung oleh para pihak yang bersangkutan. Karena itu. Pasal 19 (3 dan 4) UU No. 3) Asas Terbuka Untuk Umum Asas terbuka untuk umum diatur dalam pasal 59 (1) UU No. sebab bagaimanapun adilnya suatu putusan. Sidang pemeriksaan perkara di Pengadilan Agama adalah terbuka untuk umum. 5) Asas “Aktif” memberi bantuan Terlepas dari perkembangan praktik yang cenderung mengarah pada proses pemeriksaan dengan surat atau tertulis. 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama.

Namun kini. maksudnya untuk Luar Jawa-Madura. untuk mewujudkan hukum material Islam dalam batas-batas kekuasaannya. Untuk melaksanakan tugas pokoknya (menerima. Rsv (Reglement op de Burgelijke Rechtsvordering) yang zaman jajahan Belanda dahulu berlaku untuk Raad van Justitie. 7 tahun 1989. 7 tahun 1989. Peraturan perundang-undangan yang menjadi inti Hukum Acara Perdata Peradilan Umum. 7 Tahun 1989 ini berbunyi sebagai berikut : “Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan agama adalah Hukum acara Perdata yang berlaku dalam lingkunganPeradilan Umum. Hukum Acara Peradilan Agama sekarang bersumber (garis besarnya) kepada dua aturan. . yaitu : (1) yang terdapat dalam Uu No. disamping sebagai Peradilan Khusus. 9) Asas Pertimbangan Hukum (Racio Decidendi) Segala putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan tersebut. antara lain : a. c. HIR (Het Herziene Inlandsche Reglement) atau disebut juga RIB (Reglemen Indonesia yang di Baharui). memuat pula paal tertentu dan peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili. memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan perkara) dan fungsinya (menegakkan hukum dan keadilan) maka peradilan agama dahulunya mempergunakan Acara yang terserak-serak dalam berbagai peraturan perundangundangan.8) Asas Upaya Hukum Peninjauan Kembali Terhadap putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Menurut pasal di atas. pihak-pihak yang bersangkutan dapat mengajukan peninjauan kembali kepada Mahkamah Agung. Pasal 54 UU No. b. bahkan juga Acara dalam hukum tidak tertulis (maksudnya hukum formal Islam yang belum diwujudkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan Negara Indonesia). setelah terbitnya UU No. RBg (Rechts Reglemen Buitengewesten) atau disebut juga Reglemen untuk Daerah Seberang. B. yang diberi wewenang oleh peraturan perundang-undangan Negara. Dan terhadap putusan peninjauan kembali tidak dapat dilakukan peninjauan kembali. yang berlaku sejak tanggal diundangkan (29 Desember 1989). SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA Peradilan Agama adalah Peradilan Negara yang sah. dan (2) yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”. yakni Peradilan Islam di Indonesia. maka hukum Acara Peradilan Agama menjadi konkret. apabila terdapat hal atau keadaan tertentu yang ditentukan dalam undang-undang.

2) Untuk memperkuat landasan hukum Mahkamah Syariah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan Qonun Dalam pasal 49 UU No.3 tahun 2006. dan c. 9 Tahun 1975 tentang perkawinan dan Pelaksanaannya.7 Tahun 1989. Peraturan perundang-undangan tentang Acara Perdata yang sama-sama berlaku bagi lingkungan Peradilan Umum dan Peradilan agama adalah : a) UU No. pasar modal syari’ah.d. Hal ini dimaksudkan untuk: 1) Memberi dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan pelanggaran atas undangundang perkawinan dan peraturan pelaksanaannya. 48 Tahun 2009) b) UU No. Lembagalembaga ekonomi syari’ah tumbuh berkembang mulai dari lembaga perbankan syari’ah. c) UU No. 2 Tahun 1998 tentang Peradilan Umum). wasiat. Wakaf dan shadaqoh Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam menjadi salah satu faktor pendorong berkembangnya hukum Islam di Indonesia. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiaman. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa Peradilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. 1 Tahun 1974 dan PP No. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum (sekarang UUNo. dan pegadaian syari’ah. (sekarang UU initelah direvisi menjadi UU No. hal ini karena berkaitan dengan ruang lingkup kekuasaan dan wewenang pengadilan agama bertambah. Perkembanagan ini tentunya juga berdampak pada perkembangan sengketa atau konflik dalam pelaksanaannya. ditambah dengan 8 macam peraturan perundang-undangan yang telah disebutkan tadi. 3 tahun 2006 adalah “ Pengadilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam undang-undang ini ”. Menyadari hal ini. maka rumusan tersebut juga ikut berubah. 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan kehakiman dan direvisi kembali menjadi UU No. Jika demikian halnya maka Peradilan agama dalam Hukum Acaranya minimal harus memperhatikan UU No. Dalam definisi pengadilan agama tersebut kata “Perdata” dihapus. memutus. Perkawinan b. Selama ini apabila terjadi konflik dalam bidang ekonomi syari’ah harus melalui peradilan umum. Kewarisan. Dengan adanya perubahan tersebut maka rumusan yang terdapat dalam pasal 2 UU No. dan hibahyang dilakukan berdasarkan hukum Islam. UU No. dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam dalam bidang : a. Setelah UU No. 7 tahun 1989 diperbaharui dengan UU No. khususnya yang berkaitan dengan muamalah. asuransi syari’ah. maka dalam .

Wakaf f. dan i. dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orangorang yang beragama Islam di bidang : a. Kewarisan c. Dalam pasal 50 UU No. memutus. Perkawinan b. Infaq. Shadaqah h. Hibah e. Ekonomi syari’ah Dalam penjelasan pasal 49 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan ekonomi syari’ah adalah :            Bank syari’ah Asuransi syari’ah Reasuransi syari’ah Reksadana syari’ah Obligasi syari’ah dan surat berharga berjangka menengah syari’ah Sekuritas syari’ah Pembiayaan syari’ah Pegadaian syari’ah Dana pensiun lembaga keuangan syari’ah Bisnis syari’ah. 7 tahun 1989 disebutkan bahwa dalam hal terjadi sengketa mengenai hak milik atau keperdataan lain daalam perkara-perkara sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 49. Wasiat d. 7 tahun 1989 maka ruang lingkup Peradilan Agama diperluas ruang lingkup tugas dan wewenang Pengadilan Agama Yaitu : Pertama: memeriksa. Zakat g. .Undang-Undang No. dan Lembaga keuangan mikro syari’ah Kedua: diberikan tugas dan wewenang penyelesaian sengketa hak milik atau keperdataan lainnya. 3 tahun 2006 atas perubahan UU No.

yakni asas Umum Lembaga Peradilan Agama dan Asas Khusus Kewenangan Peradilan Agama. khususnya mengenai obyek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.7 tahun 1989 diubah menjadi dua ayat yaitu : Ayat (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lainnya dalam perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49. Demi terbentuknya pengadilan yang cepat dan efesien maka pasal 50 UU No.”Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. awal bulan Syawal dan tahun baru Hijriyah dalam rangka Menteri Agama mengeluarkan penetapan secara nasional untuk rukyat Hilal. . 7 Tahun 1989 dinyatakan.maka khusus mengenai objek yang menjadi sengketa tersebut harus diputus terlebih dahulu oleh pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. Tujuan diberinya wewenang tersebut kepada Pengadilan Agama adalah untuk menghindari upaya memperlambat atau mengulur waktu penyelesaian sengketa karena alasan adanya sengketa hak milik atau keperdataan lainnya tersebut yang sering dibuat oleh pihak yang merasa dirugikan dengan adanya gugatan di Peradilan Agama. ayat (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. Selama ini Pengadilan Agama diminta oleh Menteri Agama untuk memberikan penetapan (itsbat) terhadap orang yang telah melihat atau menyaksikan awal bulan pada setiap memasuki bulan Ramadlan. SIMPULAN Adapun simpulan yang dapat dirumuskan dari rumusan masalah dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut : a) Bahwa asas dalam Hukum Acara Peradilan Agama dapat di bagi dua. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini”. namun secara khusus berlaku Hukum Acara yang hanya dimiliki oleh pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama. Berdasarkan bunyi pasal 54 tersebut di atas. Hukum Acara Peradilan Agama Bersifat “Lex Specialis” Dalam Pasal 54 UU No. Dimana kedua asas tersebut terbagi lagi dalam beberapa asas. obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam pasal 49. Ketiga: diberi tugas dan wewenang memberikan itsbat kesaksian rukyat hilal dalam penentuan awal bulan pada tahun hijriyah. berlaku asas “Lex Specialis derogot Lex Generalis” yang berarti disamping acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan Pengadilan Agama berlaku Hukum Acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. BAB IV PENUTUP 1.

2.b) Bahwa sumber hukum acara peradilan agama saat ini adalah UU No. . Meskipun saat ini telah berlaku UU No. 3 Tahun 2006 tetap berlaku UU No. b) Diharapkan agar segala sumber hukum dalam Hukum Acara Peradilan Agama dapat dijadikan pedoman bagi berjalannya proses beracara di Pengadilan Agama dan proses penyelesaian perkara yang diajukan di Pengadilan Agama sehingga tidak ada lagi keluhan-keluhan tentang kesulitan beracara di Pengadilan Agama. 3 Tahun 2006. 3 Tahun 2006 namun terhadap hal-hal yang tidak mengalami perubahan dalam UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. SARAN-SARAN Adapun saran-saran yang dapat diberikan terhadap permasalahan dan pembahasan di atas adalah : a) Diharapkan agar asas-asas dalam acara Peradilan Agama dapat diterapkan secara factual agar tercipta suatu peradilan yang benar-benar member keadilan bagi pihak-pihak di dalamnya.

Ketentuan tersebut menunjukan bahwa terdapat Hukum Acara Perdata yang secara umum berlaku pada lingkungan Peradilan Umum dan Perdailan Agama. kita mengenal adanya permohonan dan gugatan. Oleh karena gugat harus diajukan dengan surat. dan ada pula hukum acara yang hanya berlaku pada Peradilan Agama. Perbedaan antara permohonan dan gugatan adalah dalam suatu gugatan ada suatu sengketa yang harus diselesaikan dan diputuskan oleh pengadilan. Gugatan ini harus diajukan kepada dimana si tergugat itu tinggal.Hukum Acara Peradilan Agama BAB I PENGERTIAN A. cerai gugat dan cerai karena alasan zina. Menurut ketentuan pasal 118 HIR gugat harus diajukan dengan surat permintaan yang ditandatangani oleh penggugat atau wakilnya. Sumber Hukum Acara Peradilan Agama Mengenai hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama diatur dalam Bab IV UU Nomor 7 Tahun 1989 mulai pasal 54 sampai dengan pasal 105. yang mana isinya adalah memuat alasan-alasan berdasarkan keadaan dan bagian yang memuat . Hukum acara yang khusus diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 1989 yang meliputi cerai talak. maka bagi mereka yang buta huruf dibuka kemungkinan untuk mengajukan gugatan secara lisan kepada Ketua Pengadilan Negeri berdasarkan ketentuan pasal 12 HIR akan membuat atau menyuruh membuat gugatan yang dimaksud. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam undang-undang ini”. menyebut dengan jelas nama penggugat dan tergugat lengkap dengan alamatnya. dalam makalah ini dijelaskan terlebih dahulu tentang Hukum Acara Perdata yang berlaku juga untuk Pengadilan Agama dan Hukum Acara khusus tetang ceai talak. tetapi orang yang dirasa melanggar hak tersebut tidak mau meyerahkannya secara sukarela. a.Menurut ketentuan pasal 54 UU Nomor 7 Tahun 1989 “hukum acara yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum. Surat gugat ini isinya harus memuat tanggal. Permohonan Dan Gugatan Di dalam Hukum Acara Perdata. Dalam bahasa latin hal ini disebut dengan “Actor Sequitur Forum Rei”. Selanjutnya. Oleh karena itu. Dalam suatu gugatan ada seorang atau lebih yang merasa bahwa haknya atau hak mereka telah ada yang melanggar. bagian yang disebut dengan posita. cerai gugat dan cerai dengan alasan zina.

Petitum beralasan c. 1. maka tidak boleh ada paksaan untuk menerima atau menolak sesuatu gagasan atau penyelesaian selama proses mediasi berlangsung. Mediasi ini dipimpin oleh seorang mediator yang sudah memiliki sertifikat mediator yaitu pihak yang bersifat netral dan tidak memihak yang berfungsi membantu para pihak dalam mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa. baik itu penggugat maupun tergugat atau tidak menyuruh wakilnya untuk menghadap pada sidang yang telah ditentukan maka berlakulah acara istimewa yang diatur diatur dalam pasal 124 dan 125 HIR. Mediasi Mediasi adalah proses penyelesaian sengketa melalui proses perundingan atau mufakat para pihak dengan dibantu oleh mediator yang tidak memiliki kewenangan memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Petitum ini merupakan bagian yang terpenting karena merupakan yang diinginkan. Tergugat atau para tergugat kesemuanya tidak dating pada haris sidang yang telah ditentukan 2. Sesuai dengan hakikat perundingan atau musyawarah atau konsensus. b.alasan-alasan yang berdasar hukum. Ciri utama proses mediasi adalah perundingan yang esensinya sama dengan proses musyawarah atau konsensus. Segala sesuatunya harus memperoleh persetujuan dari para pihak. Untuk putusan perstek harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut sebagaimana yang tercantum dalam pasal 125 ayat 1 HIR. Perihal Acara Istimewa Jika pada hari sidang yang telah ditentukan untuk mengadili perkara tertentu. Kebijakan MA-RI memberlakukan mediasi ke dalam proses perkara di Pengadilan didasari atas beberapa alasan sebagai berikut : . Petitum tidak melawan hak 5. 1. Ia atau mereka tidak mengirimkan wakil atau kuasanya yang syah untuk menghadap 3. terutama perkara gugatan dalam perkara persdangan itu adalah sebagai berikut. Apabila penggugat yang tidak hadir dan tidak mengirimkan wakilnya secara syah dan telah dipanggil dengan patut maka gugat digugurkan. Ia atau mereka telah dipanggil dengan patut 4. Perihal Pemeriksaan Dan Pembuktian Dalam Sidang Pengadilan Adapun tahapan-tahapan pemeriksaan perkara secara umum. atau diperintahkan oleh hakim. salah satu pihak atau semuanya. sedangkan apabila tergugat yang tidak hadir maka berlakulah perstek. ditetapka. diputuskan. Bagian akhir harus ada petitum.

yaitu HIR dan Rbg. mewajibkan hakim untuk terlebih dahulu mendamaikan para pihak sebelum proses memutus dimulai. Sebaliknya. tidak saja karena ketentuan hukum acara yang berlaku. Kedua. Dengan diberlakukannya mediasi ke dalam sistem peradilan formal. jika perkara diputus oleh hakim. Pandangan dan penilaian hakim belum tentu sejalan dengan pandangan para pihak. pemberlakuan mediasi diharapkan dapat memperluas akses bagi para pihak untuk memperoleh rasa keadilan. Pada akhirnya semua perkara bermuara ke Mahkamah Agung yang mengakibatkan terjadinya penumpukan perkara. banding maupun kasasi. literatur memang sering menyebutkan bahwa penggunaan mediasi atau bentuk-bentuk penyelesaian yang termasuk ke dalam pengertian alternative dispute resolution (ADR) merupakan proses penyelesaian sengketa yang lebih cepat dan murah dibandingkan proses litigasi. sehingga membuat penyelesaian atas perkara yang bersangkutan dapat memakan waktu bertahun-tahun. Ketiga. Rasa keadilan tidak hanya dapat diperoleh melalui proses litigasi. tetapi . Meskipun jika pada kenyataannya mereka telah menempuh proses musyawarah mufakat sebelum salah satu pihak membawa sengketa ke Pengadilan. maka para pihak dengan sendirinya dapat menerima hasil akhir karena merupakan hasil kerja mereka yang mencerminkan kehendak bersama para pihak. jumlah perkara yang harus diperiksa oleh hakim akan berkurang pula. Selain logika seperti yang telah diuraikan sebelumnya. masyarakat pencari keadilan pada umumnya dan para pihak yang bersengketa pada khususnya dapat terlebih dahulu mengupayakan penyelesaian atas sengketa mereka melalui pendekatan musyawarah mufakat yang dibantu oleh seorang penengah yang disebut mediator. pihak yang kalah seringkali mengajukan upaya hukum. dari sejak pemeriksaan di Pengadilan tingkat pertama hingga pemeriksaan tingkat kasasi Mahkamah Agung. jika perkara dapat diselesaikan dengan perdamaian. maka putusan merupakan hasil dari pandangan dan penilaian hakim terhadap fakta dan kedudukan hukum para pihak. proses mediasi diharapkan dapat mengatasi masalah penumpukan perkara. Sebaliknya. para pihak tidak akan menempuh upaya hukum kasasi karena perdamaian merupakan hasil dari kehendak bersama para pihak. Akan tetapi. cepat dan murah dibandingkan dengan proses litigasi. Mahkamah Agung tetap menganggap perlu untuk mewajibkan para pihak menempuh upaya perdamaian yang dibantu oleh mediator. proses mediasi dipandang sebagai cara penyelesaian sengketa yang lebih. jika didasarkan pada logika seperti yang telah diuraikan pada alasan pertama bahwa jika prkara diputus. tetapi juga melalui proses musyawarah mufakat oleh para pihak. Di Indonesia memang belum ada penelitian yang membuktikan asumsi bahwa mediasi merupakan proses yang cepat dan murah dibandingkan proses litigasi. Jika sengketa dapat diselesaikan melalui perdamaian. sehingga pihak yang kalah selalu menempuh upaya hukum banding dan kasasi. terutama pihak yang kalah. sehingga mereka tidak akan mengajukan upaya hukum. Jika para pihak dapat menyelesaikan sendiri sengketa tanpa harus diadili oleh hakim.Pertama.

Pembuktian Pembuktian merupakan suatu cara untuk meyakinkan Majelis Hakim terhadap kebenaran dalil-dalil yang dikemukakan dalam gugatan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh pihak . Eksepsi peremptoir adalah eksepsi yang menghalangi dikabulkannya gugatan. a) Jawaban yang langsung mengenai pokok perkara (verweer ten principale) b) Jawaban yang tidak langsung mengenai pokok perkara (tangkisan atau eksepsi) Tentang tangkisan atau eksepsi. kemudian jawaban atas tanggapan tergugat (replik). Eksepsi kekuasaan relative adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan tersebut tidak berwenang dalam menangani kasus tersebt tetapi merupakan wewenang pengadilan lain dalam lingkungan pengadilan yang sama. tetapi juga mendamaikan. yaitu hakim dan advokat. Eksepsi ini terdiri dari dua macam yaitu eksepsi kekuasaan absolute dan kekuasaan relatif. PERMA tentang Mediasi diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang para pelaku dalam proses peradilan perdata.R hanya mengenal satu macam eksepsi ialah eksepsi perihal tidak berkuasanya hakim. 2. yaitu. Eksepsi ini diajukan sebelum tergugat menjawab pokok perkara secara lisan maupun tertulis. replik itu dijawab kembali oleh tergugat (duplik). ksepsi kekuasaan absolute adalah eksepsi yang menyatakan bahwa pengadilan tersebut tidak berwenang dalam perkara tersebut yang mana merupakan wewenang pengadilan lain dalam berbeda pengadilan. Keempat. 3. Selain 2 jenis eksepsi diatas masih ada eksepsi yang sering kita dengar misalnya eksepsi dilatoir adalah eksepsi yang menyatakan bahwa gugatan penggugat belum dapat dikabulkan.juga karena pandangan. bahwa penyelesaian yang lebih baik dan memuaskan adalah proses penyelesaian yang memberikan peluang bagi para pihak untuk bersama-sama mencari dan menemukan hasil akhir. Jika pada masa-masa lalu fungsi lembaga pengadilan yang lebih menonjol adalah fungsi memutus. selanjutnya. bahwa lembaga pengadilan tidak hanya memutus. dengan diberlakukannya PERMA tentang Mediasi diharapkan fungsi mendamaikan atau memediasi dapat berjalan seiring dan seimbang dengan fungsi memutus.I. PERMA tentang Mediasi memberikan panduan untuk dicapainya perdamaian. Dalam tanggapan atas gugatan yang diajukan ada dua macam. H. Eksepsi kekuasaan absolute dapat disampaiakan setiap waktu selama pemeriksaan perkara berlangsung. Tahapan replik dan duplik Dalam tahapan ini dilakukan pembacaan surat gugatan/permohonan. institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa. tanggapan atas gugatan yang diajukan.

Putusan declatoir adalah putusan yang hanya bersifat menerangkan.I. Saksi-saksi 3.tergugat untuk menyanggah dalil-dalil yang diajukan oleh pihak penggugat. 1. Keputusan Pengadilan Keputusan pengadilan pada dasarnya merupakan penerapan hukum terhadap suatu peristiwa. HUKUM ACARA PERDATA A. 1. Pengakuan 5. Putusan sela ini ada bermacam-macam. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT PERTAMA • Penggugat atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan gugatan yang diajukan kepada Ketua Pengadilan Negeri pada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata. Putusan insidenti 3. dengan beberapa kelengkapan/syarat yang harus dipenuhi : a. yaitu. Putusan prepatoir 2. Misalnya. adalah putusan perceraian. Diantaranya adalah sebagai berikut.Surat . Putusan sela dilakukan apabila tergugat melakukan eksepsi relative pada hari sidang pertama. Persangkaan 4. dalam hal ini pekara yang memerlukan penyelesaian melalui kekuasaan Negara.R disebutkan bahwa alat-alat bukti yang sah itu ada 5 macam. Misalnya. Dalam ketentuan pasal 125 H. 1. 2. Bukti surat 2. menegaskan suatu keadaan hukum semata-mata. Dalam hal ini maka putusannya adalah putusan declatoir. yaitu. Sumpah 4. Putusan constitutive adalah putusan yang meniadakan suatu kedaan hukum atau menimbulkan keadaan hokum yang baru. Misalnya adalah sekelompok ahli waris datang ke pengadilan agar mendapat ketetapan mereka masing-masing menurut Hukum Islam. Putusan ini terdiri dari dua jenis yaitu putusan sela dan putusan akhir. oleh kerena itu Majelis Hakim wajib memmutuskan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kepada pemeriksaan pokok perkara. Putusan provisional Putusan akhir ini terdiri dari 3 macam. 3. adalah harus member nafkah. Putusan comdemnatoir adalah putusan yang berisi penghukuman.

• Menerima tanda bukti penerimaan Surat Gugatan • Menunggu Surat Panggilan sidang dari Pengadilan Negeri Palembang yang disampaikan oleh Juru Sita Pengganti • Menghadiri Sidang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan B. dengan beberapa kelengkapan / syarat yang harus dipenuhi : a. Pemohon diberikan jangka waktu 14 hari untuk datang ke Pengadilan Negeri setempat untuk mempelajari berkas • Menunggu Surat Pemberitahuan Kontra Memori Banding dan salinan Kontra Memori Banding • Menunggu kutipan putusan dari Pengadilan Tinggi yang akan disampaikan oleh Juru Sita Pengganti C.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) c.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) c. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT BANDING • Pemohon atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata.Surat Kuasa yang sudah dilegalisir (apabila menggunakan Advokat) • Penggugat / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyimpan bukti asli untuk arsip.Memori Kasasi • Pemohon / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyimpan bukti asli untuk arsip • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Permohonan • Menunggu Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Berkas (Inzage).Memori Banding • Pemohon / Kuasanya membayar biaya gugatan / SKUM di Kasir • Memberikan SKUM yang telah dibayar dan menyiapkan bukti asli untuk arsip • Menerima tanda bukti penerimaan Surat Permohonan • Menunggu Surat Pemberitahuan Pemeriksaan Berkas (Inzage).Surat Permohonan Banding b.Permohonan/Gugatan b.Surat Permohonan Kasasi b. PELAKSANAAN PENDAFTARAN GUGATAN TINGKAT KASASI • 1.Pemohon atau melalui Kuasa Hukumnya mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Palembang di bagian Perdata. dengan beberapa kelengkapan / syarat yang harus dipenuhi : a. Pemohon diberikan jangka waktu 14 hari untuk datang ke Pengadilan Negeri setempat untuk mempelajari berkas • Menunggu Surat Pemberitahuan Kontra Memori Kasasi dan salinan Kontra Memori .

Shodaqoh i. ( hukum formil ) Hukum acara perdata bersifat mengikat atau bersifat memaksa. Hibah e. Ekonomi Syari’ah Pengadilan Agama berkuasa atas perkara perkawinan bagi mereka yang beragama Islam sedangkan bagi yang selain Islam menjadi kekuasaan Peradilan Umum . Kewarisan c. BAB II PERBEDAAN A. Perbedaan dalam kewenangan a. b. memeriksa. Infaq h. mengadili dan memutus. yaitu bahwa bila terjadi suatu proses acara perdata di pengadilan maka ketentuannya tidak dapat dilanggar melainkan harus ditaati oleh para pihak. Kewenangan hukum acara perdata umum Hukum acara perdata adalah hukum yang mengatur bagaimana cara mengajukan gugatan. Wakaf f. Pengadilan Agama mempunyai tugas dan kewenangan tertentu seperti tersebut pada Pasal 49 UU Nomor 7 Tahun 1989 tentang Pengadilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009. yang menyatakan : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa. memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragam Islam di bidang : a. melakukan eksekusi melalui hakim dalam lingkungan peradilan perdata. Hukum Acara Pengadilan Agama khusus (masyarakat yang beragama islam) Sebagai peradilan khusus. Wasiat d. Perkawinan b. c. Hukum Acara Yang Berlaku di Peradilan Agama Pasal 54 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dan ditambah .Kasasi • Menunggu kutipan putusan dari Mahkamah Agung yang akan disampaikan oleh Juru Sita Pengganti. Zakat g.

Kesimpulan h. Pembuktian (pembuktian oleh masing-masing pihak apakah benar/ tidak statemen masing2) g. penggugat rekopensi) f. Mediasi c. pokok perkara. Urutan Beracara Perdata Urutan beracara a. Bagian Kedua. Duplik (tergugat. Gugatan b. Replik (penggugat. Jawaban (eksepsi. halaman 216-234 diatur hal-hal yang ringkasnya sebagai berikut : 1) Bidang Perkawinan Beberapa perkara berikut dapat diajukan dan diperiksa serta diputus secara voluntoir. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 memberi kemudahan dan perlindungan kepada isteri dalam hal di Pengadilan . Padahal menurut azasnya perkara terdiri dari dua pihak yang sedang bersengketa atau disebut perkara contensios.dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : “Hukum acara yang berlaku pada pengadilan di lingkungan peradilan agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan peradilan umum. rekopensi) d. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 Dalam buku II Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. maksudnya : berbentuk permohonan yang hanya terdiri dari pihak Pemohon saja dan tidak terdapat sengketa. Urutan Beracara di Peradilan Agama Hukum Acara Khusus dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. lugas) e. d. Perkara voluntoir tersebut adalah : a)Permohonan dispensasi umur kawin b)Permohonan izin kawin c)Permohonan penetapan wali adhol d)Permohonan penetapan perwalian e)Permohonan penetapan asal-usul anak 2)Bidang Perceraian a) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo. Bidang Teknis Peradilan. kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini” . Putusan e. Peradilan Agama.

dalam perkara perceraian dapat menghukum pihak suami untuk memberi nafkah isteri maupun anaknya (Pasal 44 c UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. oleh karena itu Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara waris/ wasiat apabila pewaris (si mayit) beragama Islam. b) c) Hibah yang dilakukan oleh orang Islam kepada orang Islam apabila timbul sengketa Bagi orang yang menghendaki surat keterangan ahli waris misalnya untuk mengambil adalah menjadi kewenangan Pengadilan Agama. dapat dibuat akta di bawah tangan kemudian dimintakan pengesahan (gewaasmarker) kepada Ketua Pengadilan Agama. deposito di Bank. dengan permohonan cerai talak/ gugat cerai ataupun sesudahnya (Pasal 66 ayat (5) 86 ayat Tahun 2009 menganut azas personalitas keislaman. 4) Sengketa Milik Pasal 50 UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. (1) Suami mengajukan cerai talak di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (isteri) (Pasal 66 (2)). 236 a HIR. (2) Isteri mengajukan cerai gugat di Pengadilan Agama yang di daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat (isteri) (pasal 73 (2)). nafkah anak. 78 huruf b UU Nomor 7 Tahun 1989 jo. Hal ini Permohonan penguasaan anak.Agama mana perceraian diajukan. f) Hak bekas isteri maupun anaknya atas bagian bekas suaminya yang Pegawai Negeri. nafkah isteri dan harta bersama-sama perkara dibebankan kepada Penggugat atau Pemohon (Pasal 89 ayat (1)) dimaksudkan untuk menjaga rahasia pribadi para pihak. PP 45 Tahun 1990). Wasiat dan Hibah yang Dilakukan Berdasarkan Hukum Islam a) Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 jo. b) c) d) (1)) e) Untuk melindungi isteri maupun anak. UU Nomor 3 Tahun 2006. 3) Bidang Waris. d) Akta comparisi pembagian harta waris di luar sengketa dapat dilakukan berdasarkan pasal 107 UU Peradilan Agama jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Tahun 2009 menyatakan : (1) Dalam hal terjadi sengketa hak milik atau sengketa lain dalam perkara sebagaimana . Hakim Pengadilan Agama baik diminta atau tidak. dapat dituntut dan diputus dalam perkara perceraiannya (PP 10 Tahun 1983 jo. 78 a UU Nomor 7 Tahun 1989 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 3 Tahun 2006 dan 45 ayat (2) dan 49 ayat (2) UU Nomor 1 Tahun 1974 jo. UU Nomor 3 Tahun 2006 dan UU Nomor 50 Dalam perkara perceraian tidak ada pihak yang kalah atau menang. sehingga biaya Pemeriksaan perkara perceraian dalam sidang tertutup (pasal 68 (2) dan 80).

HIR (dalam jawa) dan RBG (luar jawa dan madura) C. (2) Apabila terjadi sengketa hak milik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang subyek hukumnya antara orang-orang yang beragama Islam. sedangkan hukum acara perdata . Tata cara berperkara Hukum acara perdata yaitu gugatan. Hukum acara peradilan agama hanya berlaku bagi masyrakat yang beragama islam (khusus) sedangkan hukum acara perdata berlaku bagi masyarakat umum. Sumber hukum acara peradilan agama ialah UU no 7 tahun 1989 tentang peradilan agama . duplik. sedangkan sumber hukum acara perdata ialah. BAB III KESIMPULAN A. mediasi. jawaban.dimaksud dalam pasal 49. Sendangkan dalam acara peradilan agama contoh alam bidang perkawinan • Permohonan dispensasi umur kawin • Permohonan izin kawin • Permohonan penetapan wali adhol • Permohonan penetapan perwalian • Permohonan penetapan asal-usul anak D. pembuktian dan kesimpulan. Hukum acara peradilan agama hanya memperkarakan kasus kasus tertentu atau khusus. B. obyek sengketa tersebut diputus oleh Pengadilan Agama bersama-sama perkara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49. replik. khusus mengenai objek sengketa tersebut harus diputus lebih dahulu oleh Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum.

14/1970 Yang Diganti Dengan UU No. panitera pengganti. lingkungan peradilan tata usaha negara. Hukum acara peradilan agama. Dan semua putusan pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum. dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. . UU No. Untuk memberikan kepastian dalam proses pengalihan organisasi. administrasi. kehakiman demi adalah kekuasaan Negara negara Hukum yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan terselenggaranya Republik Indonesia. jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan. 4/2004 Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman. dan juru sita sebagai pejabat peradilan. Penyelenggaraan kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. asas-asas penyelengaraan kekuasaan kehakiman. bantuan hukum.1 Disarankan para mahasiswa menambah lagi wawasan dari berbagai referensi. Kekuasaan Pancasila. pelaksanaan putusan pengadilan.1. lingkungan peradilan agama. dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan peralihan.2 Sukuri apa yang telah allah berikan kepada kita agar kita bisa tetap menerima diri kita apa adanya dan tidak berpuas dalam mencari ilmu (hukum) dan fokus pada cita cita BAB 1 SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA A.Mahkamah Agung merupakan pengadilan negara tertinggi dari keempat lingkungan peradilan. dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. SARAN 1. Selain itu dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan yang menegaskan kedudukan hakim sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman serta panitera. 1. lingkungan peradilan militer.

hak dan kewajiban antara orang tua dan anak. dan ketentuan penutup.Dalam Undang-undang ini ditentukan prinsip-prinsip atau azas-azas mengenai perkawinan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan yang telah disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Azas-azas atau prinsip-prinsip yang tercantum dalam undang. administrasi. pencegahan perkawinan. B. syarat-syarat Dalam perkawinan. kedudukan anak. asas-asas penyelengaraan kekuasaan kehakiman. panitera pengganti. putusnya perkawinan serta akibatnya. ketentuan-ketentuan lain. 1 tahun 1974 Undang-Undang ini diatur mengenai dasar perkawinan. ketentuan peralihan. dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan peralihan.undang ini adalah sebagai berikut: 1.Dalam Undang-Undang ini diatur mengenai badan-badan peradilan penyelenggara kekuasaan kehakiman. perjanjian perkawinan. hak dan kewajiban suami istri. Untuk itu suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi. dan disamping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut . batalnya perkawinan. dan juru sita sebagai pejabat peradilan. perwalian. 2. Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Mahaesa. pelaksanaan putusan pengadilan. Untuk memberikan kepastian dalam proses pengalihan organisasi. Selain itu dalam Undang-Undang ini diatur pula ketentuan yang menegaskan kedudukan hakim sebagai pejabat yang melakukan kekuasaan kehakiman serta panitera. bantuan hukum.itu. Dalam Undang-undang ini dinyatakan. agar masing-masing dapat mengembangkan kepribadiannya membantu dan mencapai kesejahteraan sprituil dan material. jaminan kedudukan dan perlakuan yang sama bagi setiap orang dalam hukum dan dalam mencari keadilan. dan badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman. UU No. harta benda dalam perkawinan.Bagi suatu Negara dan Bangsa seperti Indonesia adalah mutlak adanya Undang-undang Perkawinan Nasional yang sekaligus menampung prinsip-prinsip dan memberikan landasan hukum perkawinan yang selama ini menjadi pegangan dan telah berlaku bagi berbagai golongan dalam masyarakat kita. bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya.

Untuk itu harus dicegah adanya perkawinan diantara calon suami isteri yang masih dibawah umur. Disamping itu. ialah 19 (sembilan belas) tahun bagi pria dan 16 (enam belas) tahun bagi wanita. bahwa calon suami isteri itu harus telah masak jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan. dan beberapa orang ketua muda. danseorang sekretaris. meskipun hal itu dikehendaki oleh pihak. 2 (dua) wakil ketua. agar supaya dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang baik dan sehat. maka undang-undang ini menentukan batas umur untuk kawin baik bagi pria maupun bagi wanita. panitera. 5. sehingga dengan demikian segala sesuatu dalam keluarga dapat dirundingkan C. hanya dapat dilakukan apabila dipenuhi berbagai persyaratan tertentu dan diputuskan oleh Pengadilan. 5/2004 Agung adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman Mahkamah sebagaimanadimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. seorang suami dapat beristeri lebih dari seorang. 4.pihak yang bersangkutan. Hak dan kedudukan isteri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami baik dalam kehidupan rumahtangga maupun dalam pergaulan masyarakat. Berhubung dengan itu. UU No. misalnya kelahiran. harus ada alasan-alasan tertentu serta harus dilakukan di depan Sidang Pengadilan. Namun demikian perkawinan seorang suami dengan lebih dari seorang isteri. Ternyatalah bahwa batas umur yang lobih rendah bagi seorang wanita untuk kawin mengakibatkan laju kelahiran yang lebih tinggi. 6. Undang-undang ini menganut prinsip. Pimpinan Mahkamah Agung terdiri atas seorang ketua. hakim anggota.Wakil Ketua . Hanya apabila dikehendaki oleh yang bersangkutan. Susunan Mahkamah Agung terdiri atas pimpinan. Pimpinan dan hakim anggota Mahkamah Agung adalah hakim agung dan hakim agung paling banyak 60 orang. suatu akte resmi yang juga dimuat dalam pencatatan. 14/1985 Yang Telah Diganti Dengan UU No. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang.peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka undang. Undang-undang ini menganut azas monogami. 3.undang ini menganut prinsip untuk mempersukar terjadinya perceraian. dan diputuskan bersama oleh suami-isteri. karena hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkan. kematian yang dinyatakan dalam Surat-surat keterangan. Karena tujuan perkawinan adalah untuk membentuk keluarga yang bahagia kekal dan sejahtera. perkawinan mempunyai hubungan dengan masalah kependudukan.

serta beberapa substansi yang menyangkut hukum acara. ketua muda militer. di samping Mahkamah Konstitusi. dan Agung ketua dapat muda tata usahanegara. Undang-Undang ini memuat perubahan terhadap berbagai substansi Undang-Undang No. peradilan agama. juga didasarkan atas UndangUndangUndangmengenai kehakiman baru yang menggantikan UndangNomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakimansebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 1999 tentangPerubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang ketentuanketentuan pokok kekuasaan kehakiman. khususnya dalam melaksanakan tugas dan kewenangan dalam memeriksa dan memutus pada tingkat kasasi serta dalam melakukan hak uji terhadap peraturan perundang-undangan di bawah undapat dimintakan kasasi kepada Mahkamah Agung. menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang.Wakil ketua bidang yudisial membawahi ketua muda perdata. Selain itu. Berbagai substansi perubahan dalam Undang-Undang ini antara lain tentangpenegasan kedudukan Mahkamah Agung sebagai pelaku kekuasaan kehakiman. ketua muda pidana. peradilan militer. Wakil Ketua. dan peradilan tata usaha negara adalah pelaku kekuasaan kehakiman yang merdeka.Wakil ketua bidang non-yudisial membawahi ketua muda pembinaan dan ketuamuda pengawasan. Mahkamah melakukan pengkhususan bidang hukum tertentu yang diketuaioleh ketua muda. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan bahwa Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum. dan kewenangan lainnya yang diberikan oleh undang-undang.Mahkamah Agung terdiri atas wakil ketua bidang yudisial dan wakil ketua bidang nonyudisial. untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. di sampingguna disesuaikan dengan arah kebijakan yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia kekuasaan Tahun 1945. syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi hakim agung. ketua muda agama. ditentukan pula Mahkamah Agung mempunyai wewenang mengadili pada tingkat kasasi.Pada setiap pembidangan. dan Ketua Muda Mahkamah Agung selama 5 (lima) tahun. Pembatasan ini di samping dimaksudkan untuk mengurangi kecenderungan setiap perkara diajukan ke Mahkamah Agung sekaligus dimaksudkan untuk mendorong peningkatan kualitasputusan pengadilan tingkat pertama dan pengadilan tingkat banding sesuai dengannilai-nilai hukum dan keadilan dalam . Masa jabatan Ketua. Perubahan tersebut.

7/1989 Yang Telah Diganti Dengan UU No. shadaqah. Dengan bertambahnya ruang lingkup tugas dan tanggung jawab Mahkamah Agungantara lain di bidang pengaturan dan pengurusan masalah organisasi. khususnya masyarakat muslim. Dengan demikian. dan finansial badan peradilan di lingkungan Peradilan Agama yang sebelumnya masih berada di bawah Departemen Agama berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama perlu disesuaikan. administrasi. zakat. waris. infaq.masyarakat. maka organisasiMahkamah Agung perlu dilakukan pula penyesuaian. administrasi. Dengan penegasan kewenangan Peradilan Agama tersebut dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum . Untuk memenuhi ketentuan dimaksud perlu pula diadakan perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Penggantian dan perubahan Undang-Undang tersebut secara tegas telah mengatur pengalihan organisasi. UU No. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. D. keberadaan pengadilan khusus dalam lingkungan Peradilan Agama perlu diatur pula dalam Undang-Undang ini. kalimat yang terdapat dalam penjelasan umum Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang menyatakan: "Para Pihak sebelum berperkara dapat mempertimbangkan untuk memilih hukum apa yang dipergunakan dalam pembagian warisan". Pengalihan ke Mahkamah Agung telah dilakukan. Undang-Undang Nomor 4 dinyatakan Tahun 2004 tentang Kekuasaan dihapus. wakaf.dan finansial badan peradilan di bawah Mahkamah Agung. Perluasan tersebut antara lain meliputi ekonomi syari'ah. hibah. Oleh karena itu. administrasi. hal ini sesuai dengan perkembangan hukum dan kebutuhan hukum masyarakat. Dalam kaitannya dengan perubahan Undang-Undang ini pula. Peradilan Agama merupakan salah satu badan peradilan pelaku kekuasaan kehakiman untuk menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan. dan ekonomi syari'ah. 3/2006 Dalam Undang-Undang ini kewenangan pengadilan di lingkungan Peradilan Agama diperluas. Kehakiman menegaskanadanya pengadilan khusus yang dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan dengan undang-undang. dan finansial dari semua lingkungan peradilan ke Mahkamah Agung. organisasi. wasiat.

tatacara perceraian.kepada pengadilan agama dalam menyelesaikan perkara tertentu tersebut. hal-hal yang menyangkut perkara pidana diatur dengan Kitab Undang-undang HukumAcara Pidana dan peraturan pelaksanaannya. F. termasuk pelanggaran atas Undang-Undang tentang Perkawinan dan peraturan pelaksanaannya serta memperkuat landasan hukum Mahkamah Syar'iyah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan ganun. pembatalan perkawinan dan ketentuan dalam hal seorang suami beristeri lebih dari seorang dan sebagainya. Rbg. maka perlu ditetapkan jangka waktu enam bulan sejak diundangkannya Peraturan Pemerintah ini untuk mengadakan langkah-langkah persiapan tersebut. dan RV HIR (Het Herziene Indonesisch Reglement) Reglemen tentang melakukan tugas kepolisian. Departemen Kehakiman dan Departemen Dalam Negeri. Dalam Reglemen Indonesia yang Diperbarui (RIB) ini hanya dimuat hal-hal yang berkaitan dengan perkara perdata. tenggang waktu bagi wanita yang mengalami putus perkawinan. Pengadilan agama berkedudukan di ibu kota kabupaten/kota dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota. mengadili perkaraperdata dan penuntutan hukuman bagi bangsa Indonesia danbangsa Timur Asing di Jawa dan Madura. PP No. HIR. Dalam reglemen ini memuat: 1. 9 Tahun 1975 Peraturan Pemerintah ini memuat ketentuan-ketentuan tentang masalah pencatatan perkawinan. khususnya dari Departemen Agama. Karena untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah ini diperlukan langkah-langkah persiapan dan serangkaian petunjuk petunjuk pelaksanaan dari berbagai Departemen atau Instansi yang bersangkutan. cara mengajukan gugatan perceraian. yang meliputi kepala desa dan semua bawahan polisi yang Lain .tatacara pelaksanaan perkawinan. Pengadilan tinggi agama berkedudukan di ibu kota provinsi dan daerah hukumnya meliputi wilayah provinsi. Hal melakukan tugas kepolisian. sehingga segala sesuatu dapat berjalan tertib dan lancar. E.

Hal mengadili perkara perdatayang termasuk wewenang pengadilan negeri. Cara mengadili perkara perdata yang dalam tingkat pertama menjadi wewenang pengadilan Negeri yang meliputi:       Pemeriksaan di Sidang pengadilan Musyawarah dan Keputusan pengadilan Banding. memeriksa. Tugas utama Peradilan Agama ialah menerima. Tapi ternyata tidak cocok dengan Indonesia. oleh karena itu kemudian diadakan penyesuaianpenyesuaian dan dibentuklah HIR. 5 th. Kemudian setelah beberapa lama. mengadili dan memutus serta menyelesaikan perkara perdata tertentu antara orang-orang yang beragama Islam. maka dibentuklah RBg. RBG (Rechtsreglement Buitengewesten) Reglemen Untuk Daerah Seberang berlaku untuk daerah luar Jawa dan Madura. Bukti dalam perkara perdata RV (Reglement of de Rechtsvordering) RV adalah hukum perdata eropa yang dibawa oleh belanda ke Indonesia. terjadi ketidak sesuaian dengan daerah luar Jawa dan Madura. Pelaksanaan keputusan hukum Beberapa acara khusus Izin berperkara tanpa biaya 2.2. Dalam reglemen ini memuat: 1. Pengertian Hukum Acara Perdata Sebelum membicarakan pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. perlu diketahui bahwa Peradilan Agama adalah salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman di Indonesia sesuai dengan ketentuan pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman yang telah diubah dengan UndangUndang Nomor 35 Tahun 1999 serta dengan melihat UU No.2004. BAB II HUBUNGAN HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA DENGAN HUKUM ACARA PERDATA A. .

memeriksa serta memutusnya dan pelaksanaan daripada putusannya.ialah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiil dengan perantara hakim. Dengan perkataan lain hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materiel. hukum acara perdata ialah rangkaian peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak terhadap dan dimuka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan itu harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan berjalanya peraturan hukum perdata. Tuntutan hak dalam hal ini tidak lain adalah tindakan yang bertujuan memperolah perlindungan hukum yang diberikan oleh pengadilan untuk mencegah ―eigenrichting‖ atau tindakan menghakimi sendiri. terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian hukum acara perdata karena Peradilan Agama hanya berwenang memeriksa perkara-perkara perdata dan menurut ketentuan pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. Menurut Wirjono Prodjodikoro. Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang mengatur bagaimana caranya menjamin ditaatinya hukum perdata materiel dengan perantaraan Hakim. hukum acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang ini. 4 Th. Untuk mengetahui hukum acara Peradilan Agama.(Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama jo pasal 49 & 50 UU No. Hukum acara perdata yang mengatur bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak. Dr. Dari dua pengertian tersebut di atas. Lebih konkrit lagi dapatlah dikatakan bahwa hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya memajukan tuntutan hak. S. Hukum acara perdata adalah peraturan hukum yang menentukan bagaimana caranya menjamin pelaksanaan hukum perdata materiil. Menurut Prof. memeriksa serta memutuskan dan pelaksanaan dari pada putusanya. 2006). Sudikno Mertokusumo. maka dapat ditarik suatu pengertian bahwa hukum acara Peradilan Agama ialah pertaturan hukum yang mengatur tentang bagaimana mentaati dan melaksanakan hukum perdata materiel dengan perantaraan Pengadilan Agama termasuk bagaimana cara bertindak mengajukan tuntutan hak atau permohonan .H.

yaitu berbarengan dengan diundangkannya ordonantie stbl. Peradilan Agama telah ada sejak abad ke-16. BAB III PENUTUP A.dan bagaimana cara Hakim bertindak agar hukum perdata materiel yang menjadi kewenangan Peradilan Agama berjalan sebagaimana mestinya. tentang Peradilan Agama di Pulau Jawa – Madura. Hubungan Peradilan Agama Dengan Hukum Perdata Seperti telah diuraikan di atas bahwa berdasarkan ketentuan pasal 54 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. Jadi hubungan hukum acara Peradilan Agama dengan hukum acara perdata adalah sumber hukumnya dan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagian besar adalah sama. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama pada tanggal 29 Desember 1989. Selama itu hingga sekarang. putusannya ditaati dan dilaksanakan dengan sukarela. Peradilan Agama belum pernah memiliki undang-undang tersendiri tentang susunan. Dalam sejarah yang dibukukan oleh Departemen Agama yang berjudul ―Seabad Peradilan Agama di Indonesia‖. hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama adalah hukum acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-Undang tersebut. Bahkan menurut pakar Sejarah Peradilan. tanggal 19 Januari 1882 ditetapkan sebagai Hari Jadinya. Kesimpulan Peradilan Islam di Indonesia yang selanjutnya disebut dengan Peradilan Agama telah ada di berbagai tempat di Nusantara. oleh karena itu ketentuan-ketentuan umum yang berlaku dalam hukum acara perdata berlaku juga dalam hukum acara Peradilan Agama. jauh sejak zaman penjajahan Belanda. Peradilan Agama berjalan. tetapi hingga diundangkannya UU No. Namun kini Peradilan Agama telah mempunyai UU tersendiri.1882-152. dan tidak pula seragam. kekuasaan dan acara. B. yaitu UU No. 7 Tahun . melainkan tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang tidak merupakan kesatuan.

Pustaka Pelajar. Konsep-Konsep Dasar . Yahya Harahap.Hum. Departemen Agama. Yogyakarta. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. A. Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek. Pedoman Pelaksanaan Tugas dan Administrasi Pengadilan. SIP. Pada tanggal 29 Desember 1989. Mukti Arto.. Daftar Pustaka:   Prof. Praktek Perkara Pada Pengadilan Agama. Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama. Drs. LL. Sulaikin Lubis. Buku II Edisi Revisi. Sudikno Mertokusumo. Undang-undang tersebut merupakan rangkaian dari undang-undang yang mengatur kedudukan dan kekuasaan Peradilan di negara RI. Bandung. 1989. Dr. 2001. Hj. H.      Ringkasan Buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia Ringkasan Buku Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia. 1996. SH.H. Drs.. Mahkamah Agung RI.. 5 Tahun 1986.M. Direktorat Pembinaan Peradilan Agama Islam.M BAB I KONSEP-KONSEP DASAR DAN SUMBER – SUMBER HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA A. S. S. MH. UU Peadilan Umum No..1989 tentang Peradilan Agama. Gemala Dewi SH. H.. Author: Hj. 1997. SH dan Iskandar Oeripkartawinata. UU tersebut melengkapi UU Mahkamag Agung No. disahkan dan diundangkan UU No. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Dalam Lingkungan Peradilan Agama. Penerbit Mandar Maju. Wismar Ain Marzuki SH. M. SH. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Penerapan Hukum Acara Perdata di Lingkungan Peradilan Agama. kedudukan dan kekuasaan Pengadilan Agama setara dengan Lembaga Pengadilan lainnya. Retnowulan Sutantio. 14 Tahun 1985.H. Hukum Acara Perdata Indonesia. Selain itu. Dengan lahirnya UU No.. SH. SH. 2 Tahun 1986 dan UU Peradilan Tata Usaha Negara No. 1990. Pustaka Kartini. Abdul Manan. Prof.

dan ingatlah nikmat Allah padamu. maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? "Tuhan berfirman:" Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ". Putusan adalah pernyataan hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan oleh hakim dalam sidang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontentius) ”Putusan hakim peradilan agama” adalah pernyataan yang dituangkan dalam bentuk tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di lingkungan Peradilan Agama yang berkekuatan hukum yang sah dalam hal sengketa milik atau keperdataan lain yang terkait dengan kewenangan Peradilan Agama sebaimana diatur dalam UU No. Pengadilan agama adalah tempat di mana dilakukan usaha mencari keadilan dan kebenaran yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa yakni melalui suatu majelis Hakim atau Mahkamah. atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan. 3 tahun 2006 ” 2. Dasar Hukum Al-Qu’ran a) QS.kecuali mereka mengangkat pimpinan salah satu seorang dari mereka” (HR Ahmad) (23) b) c) . Dasar Hukum Hadist a) ”Warta dari Abdullah bin ’Amr menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: ”Tidak halal bagi tiga orang yang berada di tanah lapang. An-Nisa (4) : 58 : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Hakim adalah penjabat yang berwenang menghukumi suatu tindak pidana atau suatu pertengkaran dengan menjatuhi hukuman kepada pelaku pidana atau dengan memerintahkan kepada pihak yqang terkalahkan untuk mengembalikan hak kepada pihak yang terkalahkan untuk mengembalikan hak kepada pihak yang sebenarnya dan menolak kezhaliman.(13) 2. Sesungguhya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.. QS. 3. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketah (11) QS. Barangsiapa berbuat demikian. B. Al-Baqarah (1): 231 : Apabila kamu mentalak isteri-isterimu. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu.1. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan. maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf. 7 Tahun 1989 jo UU No. Al-Baqarah (1): 30 : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi ". lalu mereka mendekati akhir iddahnya. dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah. Sumber-Sumber Hukum Dasar Hukum Peradilan Agama dan pentingnya keputusan hakim antara lain: 1. Mereka berkata:" Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah.

hendaklah salah satu diantaranya ada yang dijadikan penanggung jawab. Abu Daud) Dari Amar bin Ash ra. Bahsanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: Apabila Hakim menjatuhkan hukum dengan berijtihat dan ijtihatnya itu benar. maka ia mendapat dua pahala dan kalau dia menjatuhkan hukum dengan berijtihat kemudian ijtihatnya salah. c) BAB II KEDUDUKAN DAN PELAKSANAAN HUKUM ISLAM DALAM NEGARA REBUPLIK INDONESIA A. dasar inilah yang membedakan hukum Islam secara fundamental dengan hukum yang lain yang semata-mata lahir dari kebiasaan hasil pemikiran atau buatan manusia belaka. Hukum Islam Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dari dan merupakan bagian agama Islam. hukum Islam yang merupakan salah satu komponenin tata hukum Indonesia menjadi salah satu bahan baku pembentukan hukum nasional Indonesia B. Jalur kedua yaitu jalur peraturan perundang-undangan Pelaksanaan hukum Islam bidang muamalah Melalui BAMUI (badan Arbitrase Muamalah Indonesia) yang didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat ini para pengusaha. maka ia mendapatkan satu pahala. Hukum Islam dasarnya ditetapkan oleh Allah melalui wahyu Nya yang dijelaskan oleh nabi Muhammad saw sebagai rasulNya melalui sunnah beliau.b) Dari Abi Said bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: apabila keluar tiga orang dengan maksud hendak bepergian . Pelaksanaan Hukum Islam Pelaksanaan hukum Islam di Indonesia dilakukan melalui berbagai jalur 1) 2) 3) 4) Jalur pertama adalah jalur iman dan takwa. pedagang dan industriawan atas kesepakatan bersama dapat memilih hukum Islam untuk menyelesaikan sengketa mereka secara damai (di luar pengadilan) Jalur kelima melaksanakan dalam makna menerapkan hukum Islam dilakukan oleh lembaga pusat penelitian obat/kosmetik dan makanan (LPPOM) yang juga didirikan oleh Majelis Ulama Indonesia 5) . Ali Said menegaskan bahwa di samping hukum adat dan hukum eks barat. (HR.

yang pada perkembangannya dikenal pembentukannya dalam 3 (tiga) periode yaitu : 1. di selesaikan dengan cara bertahkim kepada guru atau mubaligh yang dianggap mampu dan berilmu agama.6) Jalur keenam yaitu jalur pembinaan atau pembangunan hukum nasional BAB III SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA A. wujud Peradilan Agama belum seperti sekarang ini. Masa (Perode) Tauliyah Ketika masyarakat Islam telah berkembang menjadi kerajaan Islam. atau compendium freijer. jabatan hakim atau qadhi dilakukan secara pemilihan dan baiat oleh ahlul hilli wal’aqdi. Tahkim kepada Muhakam Ketika pemeluk agama Islam masih sedikit. yaitu. disebut muhakam. antara lain dalam soal kewarisan. Sedang masalah hukuman badan dan hukuman mati tidak ditanggapi oleh masyarakat Islam. 2. Orang yang bertindak sebagai hakim. Berlakunya hukum perdata Islam diakui oleh VOC dengan Resolutie der Indische Regeling tanggal 25 Mei 1760. yaitu pengangkatan atas seorang yang dipercaya ahli oleh majelis atau kumpulan orang-orang terkemuka dalam masyarakat. B. . Masa (periode) Transisi Pada tanggal 4 Maret 1620 dikeluarikan instruksi agar di daerah yang dikuasai kompeni (VOC) harus diberlakukan hukum sipil Belanda. pada masa itu bila terjadi perselisihan atau sengketa. Masa (periode) Prapemerintahan Hindia Belanda Praktik pelaksanaan hukum acara Peradilan Agama pada waktu itu masih sangat sederhana. pengangatan jabatan hakim (qadhi) dilakukan dengan pemberian “tauliyah” yakni pemberian atau pendelegasian kekuasaan dari penguasa. untuk dipergunakan pada pengadulan VOC. Masa (periode Ahlul Hilli Wal’Aqdi) Ketika penganut agama Islam telah bertambah banyak dan terorganisir dalam kelompok masyarakat yang teratur. berupa suatu kumpulan aturan hukum perkawinan dan hukum kewarisan menurut hukum Islam. Instruksi tersebut tidak dapat dilaksanakan karena mengalami kesulitan akibat perlawanan dari pihak Islam. di antara anggota masyarakat. 3.

Antara lain atas anjuran C. yaitu orang Arab. Dalam pasal 75. dan Makasar. instelling dan kebiasaan itu juga dipakai untuk mereka oleh hakim Eropa pada pengadilan yang lebih tinggi. Tahun 1929 No. yaitu dengan Stbl. Dan dalam kaitannya dengan lembaga Peradilan Agama. bila terjadi pemeriksaan banding”. Pada tahun 1925 regering reglement diubah namanya menjadi : IS (Wet Op de Staats Inrichting Van Nederlands Indie). 2) 3) 4) D. Sejak saat itu. sehingga dinyatakan bahwa : “Dalam hal terjadi perkara peerdata antara sesame orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila hukum adat mereka menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan suatu ordonansi”. Semarang. 129 dan sekaligus dimuat di dalam Stbl. Pasal 109 merupakan penjelasan lebih lanjut dari kedua pasal di atas. Masa Pemerintahan Hindia Belanda Pada tahun 1854 Pemerintah Belanda mengeluarkan pernyataan politik yang dituangkan dalam “Reglement op het beleid der regeerings van Nederlandsch Indie” yang disingkat menjadi Regeerings Reglement (RR) dan dimuat di dalam Stbl. Belanda 1854 No. Masa Pemerintahan Hindia Belanda II Theorie Receptie : Masa itu terjadi perubahan-perubahan mengenai pasal-pasal RR tersebut. 2. Dengan Stbl 1925 tersebut. C. 221 Pemerintah Hindia Belanda mengubah pasal 134 ayat (2) IS. Pasal ini berbunyi sebagai berkut : “Ketentuan termaksud dalam pasal 75 dan 78 itu berlaku pula bagi mereka yang dipersamakan dengan “inlander”. dan Snouck Hurgrounje. yaitu Cirebon. terjemahan dari bunyi pasal-pasal tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pasal 75 ayat (3) : “Oleh hakim Indonesia hendaklah diberlakukan UU Agama (godsdienstige wetten) dan kebiasaan penduduk Indonesia”. . van Vollenhoven. pada tahun 1929 baru diadakan perubahan mengenai isi dari IS. orang Moor. maka mereka tunduk kepada putusan hakim agama atau kepala masyarakat mereka menurut UU agama (godsdienstige weeten) atau ketentuan-ketentuan lama mereka. orang Cina dan semua mereka yang beragama Islam dan orang-orang yang tidak beragama. Hindia Belanda Tahun 1855 No.Juga terdapat kumpulan-kumpulan hukum perkawinan dan hukum kewarisan menurut hukum Islam yang dibuat dan dipakai di daerah-daerah lain. Pasal 78 (2) : “Dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang Indonesia atau yang dipersamakan dengan mereka. Secara rinci. 1855 : 2 ditegaskan berlakunya undang-undang (hukum) Islam bagi orang Islam Indonesia. Pasal 75 ayat (4): “UU agama. Dan hanyalah kalau hukum Islam itu menjadi hukum adat barulah menjadi hukum. 78 dan 109 Regeerings Reglement (RR) Stbl. bermulalah suatu masa dimana seakan-akan masyarakat Indonesia telah merasakan sebagai suatu hal yang benar dan biasa saja bahwa hukum Islam itu bukan hukum di Indonesia dan telah tertanam dalam pikiran orang khususnya kalangan sarjana hukum bahwa yang berlaku adalah hukum adat.

oleh karena daerah kekuasaan yang berbeda. Pasal 2 ayat 2 Perkawinan harus dicatat dalam undang-undang ini tercakup ketentuan Hukum Perkawinan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. hadhanah. mas kawin (mahar). baitulmal dan lain-lain yang berhubungan dengan itu. dalam buku Kedudukan dan Kekuasaan Peradilan Agama di Indonesia (Bab I dan II) serta H. 1 Tahun 1951 belum ada sama sekali. Dalam pasal 4 ayat 1 PP No. . memeriksa dan memutuskan perselisihan antara suami isteri yang beragama Islam. fasach.M. yaitu Sooryoo Hooin untuk Pengadilan Agama dan Kaikyoo Kootoo Hooin untuk Mahkamah Islam Tinggi (Pengadilan Tinggi Agama). demikian juga memutuskan perkara perceraian dan mengesahkan bahwa syrat taklik sudah berlaku. thalaq. tempat kediaman (maskan) mut’ah dan sebagainya. Djamil Latif. 2. sedekah. dan segala perkara yang menurut hukum yang hidup diputus menurut hukum agama Islam yang berkenaan dengan Nikah. Pengadilan Agama / Mahkamah Syari’ah tidak berhak memeriksa perkara-perkara yang tersebut dalam ayat 1. Dalam pasal 4 ayat 2 disebutkan bahwa. Meninjau secara ringkas tentang keadaan peradilan di seluruh Indonesia pada zaman Jepang adalah sukar sekali. Namun. 22 tahun 1946 tentang Pencatatan Nikah. Zaini Ahmad Noeh. tetap berdiri dan dibiarkan dalam bentuknya semula. peraturan tentang pelaksanaan tugas Peradilan Agama. Uraian lebih lanjut mengenai pendirian Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah diluar Jawa dan Madura dapat dibaca dan dipelajari H. 1 tahun 1974 disebutkan enam (6) alasan perceraian. Masa (Periode) Penjajahan Jepang Pada masa pemerintahan Jepang ini lembaga Pengadilan Agama yang sudah ada pada masa penjajahan Belanda. Dalam pasal 2 ayat 1 disebutkan bahwa Perkawinan sah bila dilakukan menurut hukum agamanya masing-masing. hibah. wakaf. F. Tahun 1957-1974 Pada masa itu pemerinah sedang menyusun suatu Undang-undang Perkawinan. Talak. Dalam penjelasan Pasal 39 ayat 2 UU No. seperti yang dimaksud dalam undangundang Darurat No. 32 tahun 1954. nafaqah. 45 tahun 1957 disebutkan wewenang Pengadilan Agama / Mahkamah Syari’ah adalah. ruju’. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 9 tahun 1975 sebagai Peraturan Pelaksanaan Undang-undang ini. Perubahan lembaga ini hanyalah dengan memberikan atau mengubah nama saja. Masa Setelah Kemerdekaan Indonesia 1. kalau untuk perkara-perkara itu berlaku lain daripada hukum agama Islam. yakni Sumatera adalah termasuk daerah Angkatan Darat yang berpusat di Shonanto (Singapura). dalam hal ini dicantumkan kembali dalam pasal 19 PP. dan Rujuk yang berlaku untuk seluruh Indonesia dengan Undang-undang No. Maluku dan Nusa Tenggara adalah daerah Angkatan Laut yang berpusat di Makasar. Jawa Madura dan Kalimantan adalah daerah Angkatan Darat yang berpusat di Jakarta. perkara waris mal waris. yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang No. No. Tahun 1945 – 1957 Pada tahun 1946 dikeluarkan Undang-undang No. Sejarah Singkat Pengadilan Agama Islam di Indonesia (Bab I dan II). Sedang Sulawesi.E.

Tahun 1989-1999 Setelah berlakunya UU No. dikeluarkan tiga peraturan. tanggal 2 Maret 1990 tentang Petunjuk Pembuatan Penetapan sesuai pasal 84 ayat 4 UU No. administrative dan finansial Peradilan Agama berada di bawah Mahkamah Agung. Dalam pasal 1 ditetapkan bahwa. 4. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman Meskipun ada perubahan terhadap pasal 11 UU No. 1 tahun 1974 dan setalah berlakunya UU No. . 14 Tahun 1970. yaitu : a) Surat Edaran Mahkamah Agung No. 35 Tahun 1999 Serta UU No. UU No. 1 tahun 1990. Tahun 1974-1989 Dengan Keputusan Menteri Agama No. Selanjutnya dikeluarkan peraturan Menteri Agama (PMA) No. Pada tahun 1985 dikeluarkan UU No. terdapat 16 hal yang merupakan wewenang Pengadilan Agama. 14 Tahun 1970 jo. yang dimaksud dengan pengadilan dalam undangundang ini ialah : a) b) Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam Pengadilan umum bagi lainnya. yang menyatakan bahwa secara organisatoris. namun baik sebelum atau sesudah lahirnya UU No. yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah dan pengaruh-pengaruh lainnya. dan “Pengadilan Tinggi Agama” untuk Pengadilan Tingkat Banding di seluruh Indonesia. Setelah berlakunya UU No. Mahkamah Agung adalah lembaga tinggi Negara sebagaimana dimaksud dalam ketetapan Majelis Permusyawaratan Republik Indonesia No. Surat Edaran Menteri Agama nomor 2 tahun 1990 tentang petunjuk Pelaksanaan UU no. 6 tahun 1980.Dalam pasal 63 ayat 1 ditegaskan bahwa. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 7 tahun 1989. b) c) 5. 7 tahun 1989 dan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam. Peradilan Agama tidak mengalami perubahan seperti yang ditentukan terhadap lingkungan peradilan yang lain yaitu dalam waktu lima tahun secara bertahap sudah harus berada di di bawah Mahkamah Agung. Dalam pasal 2 ditetapkan bahwa Mahkamah Agung adalah pengadilan Negara tertinggi dari semua lingkungan peradilan. di seragamkan dengan sebutan atau istilah “Pengadilan Agama” untuk Pengadilan Tingkat Pertama. Peradilan Agama dalam Sistem Peradilan Menurut UU No. 3 tahun 1975 tentang kewajiban Pegawai pencatat nikah. nama Pengadilan Agama yang berbedabeda untuk seluruh Indonesia. 7 1989. 7 tahun 1989. III MPR/1978. 3. 35 Tahun 1999.

maka kekuasaan peradilan agama diperluas dalam menagani kasus perkawinan.” Sedangkan pada pasal 1 angka 6 juga terdapat penyesuaian terhadap bunyi Pasal 12 ayat (1) UU Peradilan Agama tersebut sehingga berbunyi : “ Pembinaan dan pengawasan umum terhadap hakim dilakukan oleh Ketua Mahkamah Agung. dan finansial pengadilan dilakukan oleh Mahkamah Agung. MA mengeluarkan peraturan no 1/1977 yang memberlakukan acara kasasi peradilan perdata umum terhadap perkawinan yang berasal dari peradilan agama. administrasi. dan RUU tentang Acara Pradilan Agama.” BAB IV KERANGKA HISTORIS PEMBENTUKAN UU No. 7 tahun 1989 yang berbunyi “Pembinaan teknis peradilan. administrasi dan finansial lembaga Peradilan Agama ke “satu atap” yaitu di bawah Mahkamah Agung telah semakin kokoh dengan keluarnya UU No. Periode 1961 sampai dengan 1971 Pada masa 10 tahun persiapan intern. 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA A.Saat ini pengaturan mengenai struktur organisasi. Pada priode inilah departemen agama menghasilkan dua Rancangan undang-undang. 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama Dalam kurun waktu 28 tahun proses pembentukan UU No 7 tahun 1989. atas landasan inilah menteri agama mengajukan 2 draf rancangan undang-undang. dapatlah dibagi kedalam 4 periode penting. organisasi. Periode 1971 sampai dengan 1981 Tahap dimana langka-langkah kongrit telah dilakukan secara peraturan perundang-undangan oleh departemen agama dengan dilandasi oleh peraturan UU No. 3. Periode 1981 sampai dengan 1988 Berdasarkan tata tertip DPR. financial berada pada departemen masing-masing. 14 tahun 1970 pasal 10 (1) serta Instruksi presiden no 15 tahun 1970 tentang tata cara Persiapan RUU dan PP pasal 1. 2. dimulai dengan keluarnya UU No 19 tahun 1964 mengenai Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman dimana dinyatakan bahwa peradilan agama merupakan salah satu ruang lingkup peradilan di Indonesia dengan Makamah Agung sebagai puncaknya dan secara organasatoris. RUU tentang susunan dan kekuasaan agama. maka pembicaraan RUU PA melalui tahap-tahap : . Proses penyiapan RUU PA terhambat oleh proses persiapan RUU peradilan umum dan RUU tentang MA. yaitu : 1. Pada tahun 1977. Dengan disyahnkannya UU perkawinan. 3 tahun 2006 yang mengaturnya lebih lanjut pada Pasal I angka 4 mengenai perubahan bunyi Pasal 5 ayat (1) UU No. Latar Belakang Penyusunan UU No.

a)

Pada tingkat pertama, terjadi perdebatan yang sangat singit, dimana kelompok yang tidak menyetujui RUU PA dibahas mempermasalahkan dasar pembentukan RUU PA berupa UUD 1945 pasal 24 dan pasal 25 serta UU No 14 tahun 1970 tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman. Pada tahap kedua, dimana disampaikannya pandangan umum fraksi-fraksi dan pendapat pemerintah berjalan cukup memadai. Pada tahap ketiga, dibentuknya pansus RUU PA, dan pansus membentuk rencana kerja sebagai persiapan pengesahan RUU PA menjadi UU pada tahap ke Empat. Pada tahap ke empat, pada tanggal 29 Desemer 1989 RUU PA disahkan.

b)

c)

d)

B. Sistematika UU PA UU No 7 Tahun 1989 terdiri dari 7 Bab dan 108 pasal, dengan susunan sebagai berikut : 1) BAB I Tentang ketentuan umum Memuat mengenai pengertian, kedudukan dan pembinaan pengadilan dalam lingkup peradilan agama. BAB II Mengenai susunan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi. BAB III Mengenai Kekuasaan Pengadilan dalam lingkup peradilan agama. BAB IV Mengatur Hukum Acara BAB V menyebut ketentuan-ketentuan lain mengenai administrasi peradilan, pembagian tugas para hakim, panitera dan juru sita. BAB VI mengenai peraturan peralihaan BAB VII mengenai ketentuan penutup

2) 3) 4) 5)

6) 7)

C. Beberapa Perubahaan Yang Terjadi Setelah Berlakuknya UU No 7 Tahun1989 Dengan disahkannya UU No 7 tahun1989, maka terajdi perubahan-perubahan dalam lingkup peradilan agama. Yaitu perubahaan mengenai : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Peradilan agama menjadi peradilan yang mandiri Seragamnya peradilan agama seluruh RI Perlindungan terhadap wanita lebih ditingkatkan Adanya juru sita, dan tidak diperlukannya lagi pengukuhan keputusan dari Pengadilan Umum Terlaksananya ketentuan pokok undang-undang kehakiman Terlaksananya pembangunan hokum berwawaskan nusantara.

BAB V ASAS-ASAS UMUM YANG TERDAPAT DALAM UU NO. 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA

A. Asas Personal Keislaman Asas personalita keislaman dimana yang dapat tunduk dalam kekuasaan lingkungan Peradilan Agama yani hanya mereka yang mengakui pemeluk Agama Islam. Penganut Selain agama Islam atau non Islam tidak tunduk dan tidak dapat dipaksa tunduk kepada lingkungan Pengadilan Agama.

B. Asas Kebebasan Dalam hal ini agar hokum dapat ditegakan berdasarkan pancasila, akan tetapi kebebasan kehakiman bukanlah kebebasan yang membabi buta akan tetapi terbatas dan relative.diantaranya: · · · Bebas dari campur tangan kekuasaan negara lain, Bebas dari paksaan Kebebasan melaksanakan wewenang judical (peradilan)

C. Asas Wajib Mendamaikan Asas mendamaikan dalam Peradilan Agama sejalan dengan konsep Islam yang dinamakanIshlah. Untuk itu layak sekali para hakim Peradilan Agama menyadari dan mengemban fungsi “mendamaikan” karena bagaimanapun seadil-adilnya putusan jauh lebih baik dan lebih adil jika perkara diselesaikan dengan perdamaian.

D.

Asas Sederhana, Cepat Dan Biaya Ringan

Sebuah Peradilan apalagi Peradilan Agama yang menjadi harapan masyarakat muslim untuk mencari keadilan, dengan adanya Asas Sederhana , cepat dan biaya ringan akan selalu dikehendaki oleh masyarakat..

E.

Asas Terbuka Untuk Umum

Setiap pemeriksaan berlangsung disidang pengadilan, siapa saja yang ingin berkunjung, menghadiri, menyaksikan, dan mendengarkan jalanya persidangna tidak boleh dihalangi dan dilarang, maka untuk memenuhi syarat formal atas asas ini, sebelum hakim melakukan pemeriksaan lebih dahulu menyatakan dan mengumumkan ”persidangan terbuka untuk umum”. F. Asas Legalitas Dan Persaman

Yakni pengadilan mengadili menurut ketentuan-ketentuan hukum. Karena hakim berfungsi dan berwenang mengerkan roda jalanya peradilan melalui badan pengadilan, semua tindakan yang dilakukan dalam rangka menjalankan fungsi dan kewenangan peradilan, mesti menurut hukum

G. Asas Aktif Memberi Bantuan Dalam asas ini hakim hendaknya dapat memberi bantuan secara akif dilihat dari tujuan dari memberi bantuan diarahkan untuk mewujudkan peraktek peradilan yang sederhana, cepat dan biaya ringan.

BAB VI SUSUNAN PERADILAN AGAMA DAN APARATNYA

A. Susunan Oranisasi Pengadilan Agama Susunan Pengadilan Agama yang terdapat dalam pasal 9 undang-undang nomor 7 tahun 1989 adalah tidak berbeda dengan susunan pengadilan negeri, yaitu terdiri dari pimpinan, hakim anggota, panitera, sekretaris dan juru sita sedangkan susunan Pengadilan Tinggi Agama adalah pimpinan, hakim anggota, panitera, dan sekretaris. 1) Pimpinan Pimpinan Pengadilan Agama terdiri dari seorang ketua dan seorang wakil ketua. 2) Hakim Anggota Pada umumnya ketentuan yang menyangkut persyaratan untuk menjadi hakim dan lain sebagainya antara Hakim . Syarat-syarat untuk menjadi hakim agama haruslah beragama Islam dan Sarjana Syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam.

3)

Panitera Di Pengadilan Agama seorang panitera harus beragama Islam dan berlatar belakang pendidikan Islam atau menguasai hukum Islam. Untuk Pengadilan Tinggi Agama persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi panitera adalah orang tersebut memiliki ijazah sarjana syari’ah atau sarjana hukum yang menguasai hukum Islam, sedangkan persyaratan yang lainnya tidak berbeda dengan persyaratan untuk menjadi panitera Pengadilan Tinggi.

4)

Sekretaris

dilihat dari macamnya pengadilan menyangkut pemberian kekuasaan untuk mengadili. Sedang tempat kediaman adalah dimana seseorang berdiam. diisyaratkan harus mempunyai pengalaman minimal 5 (lima) tahun sebagai juru sita pengganti. Apa itu tempat tinggal ? dan apa pula yang dimaksud dengan tempat kediaman ? Perbedaan ini perlu dipahami dengan sebaik-baiknya. Sedangkan persoalan warisan. mungkin di rumah peristirahatannya di Puncak. utang-putang. gadai adalah merupakan wewenang pengadilan negeri. umpamanya di Jalan Kramat No. Azasnya adalah ”yang berwenang Pengadilan Agama di tempat tergugat”. Kompetensi Absolut. dan berijazah serendah-rendahnya sekolah lanjutan tingkat atas. Pasal 17 BW menyatakan. maka ia digugat pada pengadilan tempat tinggalnya yang terakhir dan dalam surat gugatan disebutkan ”paling akhir bertempat tinggal . 1 Th. . Sehingga apabila seseorang pindah tanpa meninggalkan alamat barunya. Misalnya persoalan mengenai perceraian bagi mereka yang beragama Islam berdasarkan ketentuan pasal 63 ayat 1) huruf a UU No. dan juga tercatat sebagai penduduk. sekarang alamat tidak diketahui”. Wewenang mutlak adalah menyangkut pembagian kekuasaan antar badan-badan peradilan. dan tempat tinggalnya ataupun tempat kediamannya tidak diketaui. Pasal 118 HIR menyangkut kekuasaan relatif. tergantung dari tempat tinggal tergugat. oleh karena dalam pasal 118 HIR di samping tempat tinggal menyebut pula tempat kediaman.Pusat. 15 Jakarta. 1974 adalah wewenang pengadilan agama.Di Pengadilan Agama juga ada sekretaris yang dipimpin oleh seorang sekretaris dan dibantu oleh seorang wakil sekretaris dimana jabatan sekretaris dirangkap oleh panitera pengadilan 5) Juru Sita Untuk menjadi juru sita. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. dan dalam bahasa Belanda disebut attributie van rechtmacht. Azas ini dalam bahasa Latin dikenal dengan sebutan ”A ctor Sequitur orum Rei”. setia kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sewa-menyewa. selain itu orang tersebut haruslah Warga Negara Indonesia. bahwa tempat tinggal seorang adalah tempat dimana seseorang menempatkan pusat kediamannya. BAB VII WEWENANG ATAU KOMPETENSI PERADILAN AGAMA A. yang dalam bahasa Belanda disebut distributie van rechtsmacht. Kompetensi Relatif Kompetensi Relatif mengatur pembagian kekuasaan mengadili antara pengadilan Agama yang serupa. Wewenang mutlak menjawab pertanyaan badan peradilan macam apa yang berwenang untuk mengadili sengketa ini ? B. jual-beli. beragama Islam. Sehingga gugatan diajukan ke Pengadilan Agama di Jakarta.

BAB VIII PROSES ADMINISTRASI DAN PENGAJUAN PERMOHONAN DI PENGADILAN AGAMA A. Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum. maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkan pernikahan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta pusat ( pasal 66 ayat (4) UU no 7 tahun 1989 ). Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Pemohon. maka permohonan diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon ( pasal 66 ayat (3) UU no 7 tahun 1989 ). maka permohonan harus diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon ( pasal 66 ayat (2) UU no 7 tahun 1989 ). Jika Termohon telah menjawab surat permohonan tersebut harus atas persetujuan Termohon. Bila Termohon berkediaman diluar negeri. Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman diluar negeri. 2) 3) 4) c) Permohonan tersebut memuat : . Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah tentang tata cara membuat surat permohonan ( pasal 119 HIR 143 Rbg jo pasal 58 UU nomor 7 tahun 1989 ). 2) 3) b) Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah : 1) Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon ( pasal 66 ayat (2) UU no 7 tahun 1989 ). Prosedur a) Langkah yang harus dilakukan Pemohon (suami / kuasanya) : 1) Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 66 UU nomor 7 tahun 1989 ). Perkara Cerai Talak 1.

selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak mengubah posita dan petitum. Penyelesaian Perkara a) b) Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan. Perkara Cerai Gugat 1. agama. Setelah putusan memperoleh kekuatan hokum tetap. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum).. . pekerjaan. dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon. Putusan Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah.1) 2) 3) Nama. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah untuk menghadiri persidangan. maka panitera Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak. Tahap persidangan. Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan tersebut harus atas persetujuan Tergugat.. 2. Prosedur Langkah yang harus dilakukan Penggugat (istri / kuasanya) : a) Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 73 UU nomor 7 tahun 1989 ). c) d) e) B. Penyelesaian Perkara a) b) Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita). umur. Gugatan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah : b) c) d) 2. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah tentang tata cara membuat surat gugatan ( pasal 118 HIR 142 Rbg jo pasal 58 UU nomor 7 tahun 1989 ).

f) BAB IX PEMBUKTIAN DALAM HUKUM ISLAM DAN PRAKTIKNYA DI PENGADILAN AGAMA A. tentang suatu peristiwa atau keadaan yang ia lihat. waham (terbukti < 50%) B. syubhat (terbukti 50%) 4. Putusan Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah. selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak. Syahadah : seseorang yang memberikan keterangan di muka sidang dengan memenuhi syarat-syarat tertentu. Pengertian Pembuktian Pembuktian adalah upaya para pihak yang berperkara untuk meyakinkan hakim akan kebenaran peristiwa atau kejadian yang diajukan oleh para pihak yang bersengketa dengan alat-alat bukti yang telah ditetapkan undang-undang. yakin (terbukti 100%) 2. dengar dan ia alami sendiri. Alat-Alat Bukti Yang Diakui Dalam Pembuktian Menurut Yang Digunakan Di Pengadilan Agama Alat-alat bukti tersebut sebagai berikut: 1) 2) Ikrar : pernyataan seseorang tentang dirinya sendiri yang bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan pihak lain. Tingkatan keyakinan hakim sebagai berikut: 1. Setelah putusan memperoleh kekuatan hokum tetap. zhaan (terbukti 75-99%) 3. maka panitera Pengadilan Agama / Mahkamah Syar’iyah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak. sebagai bukti terjadinya peristiwa atau keadaan tertentu Yamin : suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu member janji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan dan percaya bahwa siapa yang menberi keterang atau janji yang tidak benar akan dihukum oleh-Nya Riddah : pernyataan seseorang bahwa ia telah keluar dari agama Islam Maktubah : maktubah ada 2 macam yaitu: akta dan surat keterangan 3) 4) 5) .c) d) e) Tahap persidangan.

Alat bukti pengakuan Ada tiga macam pengakuan yaitu : a) Pengakuan murni : ialah pengakuan yang sifatnya sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan . 4. seberapa jauh di akan memberi kekuatan bukti kepada persengketaanpersengketaan yang didapat pada pemeriksaan perkara. setiap orang dapat menjadi saksi. untuk memelihara obyektifitas saksi dan kejujurannya. Namun demikian. ada orang tertentu oleh Undang-undang tidak dapat diperkenankan menjadi saksi sebagai dasar untuk memutus perkara.6) Tabayyun : upaya perolehan penjelasan yang dilakukan oleh pemeriksaan majelis pengadilan yang lain daripada majelis pengadilan yang sedang memeriksa. yaitu terserah kepada kebijaksanaan hakim. Surat sebagai alat bukti tertulis dapat dibedakan dalam 2 jenis yaitu: surat akta otentik dan surat akta tidak otentik (dibawah tangan) 2. Alat bukti surat – surat (tertulis) Alat bukti surat adalah segala sesuatu yang memuat tanda bacaan yang di maksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang yang di pergunakan sebagai pembuktian. meskipun ia kadang-kadang mempunyai ingatan yang terang. 4. Alat bukti saksi Pada prinsipnya. 3. melainkan alat-alat bukti lain. yaitu misalnya kesaksian atau surat-surat. atau karena keadaan tertentu orang tidak boleh di dengar sebagai saksi adalah : 1. Persangkaan-persangkaan hakim sebagai alat bukti mempunyai kekuatan bebas. baru kemudian disimpulkan adanya suatu peristiwa tertentu. atau pengakuan salah satu pihak. yang membuktikan bahwa suatu peristiwa adalah terang ternyata. Alat-Alat Bukti Yang Digunakan Di Pengadilan Agama Alat-alat bukti itu sebagai berikut: 1. Keluarga sedarah dan keluarga semenda dari salah satu pihak menurut keturunan yang sah 2. Istri atau suami dari salah satu pihak meskipun sudah ada perceraian 3. Anak yang tidak diketahui benar umurnya sudah 15 tahun Orang gila. C. maka dalam hal ini yang dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu. Alat bukti persangkaan Oleh karena persangkaan itu merupakan kesimpulan belaka. karena adanya hubungan tertentu dengan para pihak.

sedang pihak yang harus bersumpah disebut delaat. Alat bukti sumpah HIR menyebutkan 3 macam sumpah sebagai alat bukti yaitu : c) a) Sumpah supletoir diatur dalam pasal 155 HIR. 182 RBg dan 1940 BW yaitu sumpah yang diperintahkan oleh hakim karena jabatannya kepada salah satu pihak untuk melengkapi pembuktian peristiwa yang menjadi sengketa sebagai dasar putusannya. Macam dan Jenis Putusan . 2. Pengakuan dengan klausula : adalah suatu pengakuan yang disertai dengan keterangan tambahan yang bersipat membebaskan. Produk-Produk Peradilan Agama Ada 3 (tiga) macam produk Hakim yaitu : 1.b) Pengakuan dengan kualifikasi : ialah pengakuan yang disertai dengan sangkalan terhadap sebagian dari tuntutan. Sumpah decisoir atau pemutus adalah sumpah yang dibebankan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya (Pasal 156 HIR/Pasal 183 RBg/Pasal 1930 BW} Pihak yang meminta lawannya mengucapkan sumpah disebut deferent. 5. Akta Perdamaian. Putusan. 1. bersifat sempurna dan masih memungkinkan pembuktian lawan. Kekuatan pembuktian sumpah aestimatoir ini sama dengan sumpah supletoir.. 3. Putusan ialah pernyatan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (kontensius) Penetapan ialah pernyataan Hakim yang dituangkan dalam bentuk tertulis dan diucapkan dalam sidang yang terbuka untuk umum sebagai hasil dari pemeriksaan perkara permohonan (volunteer) Akta Perdamaian ialah akta yang dibuat oleh Hakim berisi hasil musyawarah/ kesepakatan antara para pihak dalam sengketa kebendaan untuk mengakhiri sengketa dan berlaku sebagai putusan. b) c) BAB X PRODUK-PRODUK PERADILAN AGAMA DAN PELAKSAANNYA A. Penetapan. Sumpah penaksir.

b) c) Dilihat dari Isinya terhadap gugatan putusan terbagi kepada 3 macam yaitu : a) b) Putusan negatif yaitu menolak atau tidak menerima gugatan. putusan sela tidak mengakhiri pemerikasaan tetapi akan berpengaruh terhadap arah dan jalannya pemeriksaan. Putusan konstitutif ialah putusan yang menciptakan atau menimbulkan hukum baru. . (Pasal 148 RBg/Pasal 125 HIR) Putusan Kontradiktoir ialah putusan akhir yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak dihadiri oleh salah satu pihak atau para pihak akan tetapi dalam pemeriksaan penggugat dan tergugat pernah hadir. b) c) Dilihat dari segi Sifatnya terhadap akibat hukum yang ditimbulkan maka putusan dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam putusan yaitu : a) Putusan diklatoir ialah putusan yang menyatakan suatu keadaan tertentu sebagai suatu yang resmi menurut hukum. Putusan Positif yaitu mengabulkan atau menerima seluruh isi gugatan. (Pasal 148 RBg dan Pasal 124 HIR) Putusan Verstek ialah putusan yang dijatuhan karena tergugat/termohon tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya bukan karena halangan yang sah dan juga tidak mengajukan eksepsi mengenai kewenangan. Misalnya putusan tentang gugatan cerai dengan alasan ta’lik talak. Misalnya menetapkan sahnya pernikahan (isbat nikah) Putusan kondemnatoir ialah putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan untuk memenuhi prestasi. b) Dilihat dari hadir tidaknya para pihak berperkara pada saat putusan dijatuhkan/diucapkan maka dapat dibagi menjadi 3 (tiga) macam yaitu : a) Putusan gugur adalah putusan yang menyatakan bahwa gugatan/permohonan gugur karena penggugat/pemohon tidak hadir dalam sidang dan telah dipanggil dengan patut dan tidak menyuruh orang lain sebagai wakilnya yang sah serta ketidak hadirannya itu bukan karena halangan yang sah. Misalnya Menghukum Tergugat untuk menyerahkan seperdua bagian dari harta bersama kepada Penggugat. berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. Putusan sela ialah putusan yang dijatuhkan pada saat masih dalam proses pemerikasaan perkara dengan tujuan memperlancar jalannya pemeriksaan.Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara ada 2 (dua) macam putusan yaitu : a) Putusan Akhir ialah putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan baik melalui semua tahapan pemerikasaan maupun yang belum melalui semua tahapan pemeriksaan.

Amar atau dictum putusan Secara detail suatu putusan harus memuat hal-hal berikut : a) b) Judul dan Nomor Putusan (Nomor Putusan sama dengan Nomor perkara) Khusus putusan/penetapan Pengadilan Agama diawali dengan kalimat :”Bismillahirrahmanir rahiem” dan “Demi keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa” Nama dan tingkat pengadilan yang memutus. Hadir tidaknya para pihak ketika putusan dibacakan. Identitas Para Pihak c. Pertimbangan (konsideran) yang memuat tentang Duduk Perkaranya dan Pertimbangan Hukum d. B. Rincian biaya perkara. dalildalil penggugat. Nama Hakim/Majelis Hakim yang memutus perkara termasuk Panitera/PP. 2.(termasuk nama kuasa hukum apabila ada) Tentang duduk perkara yaitu memuat kronlogis duduk perkara mulai dari usaha perdamaian. Amar putusan yaitu merupakan kesimpulan akhir oleh hakim atas perkara yang diperiksanya. bukti-bukti dan saksi serta kesimpulan para pihak. duplik. Tanggal putusan yaitu memuat hari dan tanggal pengucapan putusan dalam sidang yang dinyatakan dalam akhir putusan. Pelaksanaan Putusan/Eksekusi c) d) e) f) g) h) i) j) k) . Identitas dan kedudukan pihak-pihak berperkara.c) Putusan Positif-negatif yaitu menerima atau mengabulkan sebagian dan tidak menerima atau menolak sebagian. replik. Susunan dan Isi Putusan Putusan Hakim harus dibuat dengan tertulis dan harus ditanda tangani oleh Hakim/Majelis Hakim termasuk Panitera/Panitera Pengganti sebagi dokumen resmi. Suatu putusan hakim terdiri dari : a. Kepala Putusan b. jawaban tergugat. dalam amar putusan memuat juga pembebanan biaya perkara. Tentang hukumnya yaitu memuat bagaimana Hakim mengkwalifisir fakta atau kejadian dan mempertimbangkanya secara baik dan dasar-dasar hukum yang dipergunakan dalam menilai fakta dan memutus perkara.

Pelaksanaan (eksekusi) Grose akta Ø Putusan tidak dijalankan oleh pihak terhukum secara sukarela meskipun ia telah diberi peringatan (aan maning) oleh Ketua Pengadilan Agama Ø Putusan hakim yang bersifat kondemnatoir Putusan yang bersifat deklaratoir atau konstitutif tidak diperlukan eksekusi. Hal ini diatur dalam pasal 200 ayat (1) HIR. pasal 218 ayat (2) R. banding. Pengadilan Agama sebagai salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman dapat melaksanakan segala putusan yang dijatuhkannya secara mandiri tanpa harus melalui bantuan Pengadilan Negeri.1. Jenis-Jenis Pelaksanaan Putusan Terdapat beberapa macam pelaksanaan putusan. Pelaksanaan Akta Perdamaian d. pasal 208 R. Putusan kondemnatoir . pasal 259 R.Bg § Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk mengosongkan suatu benda tetap. Hal ini berlaku setelah ditetapkannya UU No. Hal ini diatur dalam pasal 225 HIR. Putusan yang sudah berkekuatan tetap adalah putusan yang sudah tidak mungkin lagi dilawan dengan upaya hukum verzet. Putusan Yang Dapat Dieksekusi Putusan yang dapat dieksekusi adalah yang memenuhi syarat-syarat untuk dieksekusi. Hal ini diatur dalam pasal 196 HIR. Putusan ini disebut juga Eksekusi Riil.yaitu: § Putusan yang menghukum salah satu untuk membayar sejumlah uang. § Eskekusi riil dalam bentuk penjualan lelang.Bg § Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan. 7/1989. Pada setiap Pengadilan Agama diadakan Juru Sita untuk dapat melaksanakan putusan-putusannya 2. dan kasasi. yaitu : Ø Putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.Bg 3. putusan yang dapat dilaksanakan lebih dulu b. Hal ini diatur dalam pasal 1033 Rv. Dan putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) . Pelaksanaan putusan serta merta. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Agama Pelaksanaan putusan /eksekusi adalah putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan. Dan sebagai akibat dari ketentuan UU Peradilan Agama diatas adalah: a) b) Ketentuan tentang eksekutoir verklaring dan pengukuhan oleh Pengadilan Negeri dihapuskan. Pelaksanaan putusan provisionil c. kecuali dalam hal: a.

BAB XI UPAYA BANDING. DAN PENINJAUAN KEMBALI 1. a) b) c) d) e) Diajukan oleh pihak-pihak dalam perkara. masa bandingnya selama 30 hari terhitung hari berikutnya isi putusan disampaikan kepada yang bersangkutan.20/1947) b) . dengan ketentuan sebagai berikut . Permohonan banding diajukan melalui pengadilan yang memutus perkara tersebut. Masa Pengajuan banding : a) Bagi pihak berperkara yang berada dalam wilayah hukum pengadilan yang memutus perkara adalah selama 14 hari terhitung mulai hari berikutnya sejak putusan dijatuhkan atau diberitahukan kepada yang bersangkutan. dan merupakan bagian dari putusan deklaratoir. Membuat akta permohonan banding dengan menghadap pejabat kepaniteraan pengadilan. Membayar panjar biaya banding.tidak mungkin berdiri sendiri. Diajukan masih dalam tenggang waktu banding. karena sebelum bersifat menghukum terlebih dahulu ditetapkan suatu keadaan hukum Ø Eksekusi dilakukan atas perintah dan dibawah pimpinan Ketua Pengadilan Agama. (Pasal 7 ayat (1). Putusan tersebut menurut hukum diperbolehkan banding. Bagi pihak yang berada di luar wilayah pengadilan agama yang memutus perkara tersebut. b) Syarat-syarat banding. a) Permohonan banding diajukan kepada pengadilan tinggi dalam daerah hukum meliputi pengadilan tingkat pertama yang memutus perkara. Pengajuan Banding Pengertian banding ialah permohonan pemeriksaan ulang kepada pengadilan yang lebih tinggi (dalam hal ini Pengadilan Tinggi Agama) terhadap suatu perkara yang telah diputus oleh tingkat pertama (Pengadilan Agama) karena merasa tidak puas atau tidak menerima putusan pengadilan tingkat pertama tersebut. (2) dan (3) UU No. KASASI.

2. Putusan yang dijatuhkan oleh pengadilan tingkat banding menurut hukum dapat dimintakan kasasi. Apabila syarat-syarat kasasi tersebut tidak terpenuhi. Syarat-syarat permohonan PK a) Diajukan oleh pihak yang berperkara. Membuat akta permohonan kasasi di kepaniteraan pengadilan agama yang bersangkutan Adapun tenggang waktu pengajuan kasasi sama dengan pengajuan banding. Membuat memori kasasi. Pihak yang tidak menerima atau tidak puas atas putusan pengadilan tinggi agama atau pengadilan agama (dalam perkara volunteer) dapat mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung dengan syarat-syarat tertentu. Peninjaun Kembali hanya dapat diperiksa oleh Mahkamah Agung. Diajukan masih dalam tenggang waktu kasasi. Membayar panjar biaya kasasi. . Peninjauan Kembali. Pengertian Peninjauan Kembali ialah meninjau kembali putusan perkara perdata yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena diketemukan hal-hal atau bukti baru yang pada pemeriksaan terdahulu tidak diketahui oleh Hakim. Panitera Pengadilan Agama yang memutus perkara tersebut membuat keterangan bahwa permohonan kasasi atas perkara tersbut tidak memenuhi syarat formal. maka berkas perkaranya tidak dikirim ke Mahkamah Agung. Ketua PA melaporkan ke Mahkamah Agung bahwa permohonan kasasi tidak diteruskan ke MA (Peraturan MARI Nomor 1 Tahun 2001) 3. Pengajuan Kasasi Pengertian Kasasi ialah pembatalan putusan oleh Mahkamah Agung terhadap putusan pengadilan yang lebih rendah (pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama) karena kesalahan dalam penerapan hukum. Syarat-syarat kasasi a) b) c) d) e) f) Diajukan oleh yang berhak.

Adapun organisasi advokat atau lembaga bantuan hukum adalah organisasi profesi yang didirikan berdasarkan undang-undang. 2. mewakili. Pemberian Bantuan Oleh Hakim Ada berberapa masalah formal yang tercakup kedalam objek fungsi memberi bantuan dan nasihat yaitu: 1)Membuat gugatan bagi yang buta huruf. 8)Memberi bantuan upaya hukum. Masa pengajuan permohonan Peninjauan Kembali adalah 180 hari terhitung mulai ditemukannya novum atau bukti baru dan sebelum berkas permohoan Peninjauan Kembali dikirim ke Mahkamah Agung. dan 10)Mengarahkan dan membantu memformulasi perdamaian . 3)Menyarankan penyempurnaan surat kuasa. Sedangkan advokat adalah orang yang berprofesi memberi jasa hukum. Pemohon harus disumpah oleh Ketua Pengadilan tentang penemuan novum tersebut. Membuat permohonan peninjauan kembali yang memuat alasan-alasannya. Bantuan Hukum 1. 2)Memberi pengarahan tata cara izin “prodeo”. Membayar panjar biaya peninjauan kembali.b) c) d) e) f) g) Putusan telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Adapun definisi jasa hukum adalah jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi. BAB XII BANTUAN HUKUM DAN YURISPRUDENSI PERADIALAN AGAMA A. mendampingi.Menganjurkan perbaikan surat gugatan. membela dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien. 5)Memberi penjelasan alat bukti yang sah. 6)Memberi penjelasan cara mengajukan bantahan dan jawaban. Membuat akta permohonan Peninjauan Kembali di Kepaniteraan Pengadilan Agama. 9)Memberi penjelasan tata cara verzet dan rekonvensi. baik di dalam maupun luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang. Diajukan dalam tenggang waktu menurut undang-undang. 7)Bantuan memanggil saksi secara resmi. 4). Pengertian Bantuan Hukum Bantuan hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh advokat secara cuma-cuma kepada klien yang tidak mampu. Ada bukti baru yang belum pernah diajukan pada pemeriksaan terdahulu. menjalankan kuasa.

yang sebab persesuaian pendapat. Akhirnya. Ruang Lingkup Yurisprudensi Peradilan Agama terbatas pada hukum yang menjadi wewenangnya dan hukum acara peradilan agama . Menurut Utrecht ada 3 (tiga) sebab hakim menurut keputusan seorang hakim lain: 1. ada sebab: hakim menurut keputusan hakim lain. Pengertian Yurisprudensi Yurisprudensi adalah keputusan pengadilan/keputusan hakim yang terdahulu terutama dari mahkamah agung (untuk Indonesia).B. karena ia menyetujui isi keputusan hakim lain itu. 2. Keputusan hakim mempunyai kekuasaan (gezag) terutama apabila keputusan itu dibuat oleh Pengadilan Tinggi atau oleh Mahkamah Agung 2. yang berbeda adalah ruang lingkupnya. Di samping sebab yang psikhologis itu ada juga sebab praktis. maka seseorang hakim menurut keputusan yang telah diberi oleh seorang hakim yang berkedudukannya lebih tinggi. Yurisprudensi Peradilan Agama Yurisprudensi Peradilan agama sama makna dan unsurnya dengan yurisprudensi perdialan umum . Yurisprudensi 1.