Pengertian dan Konsep Perikatan

“Segala kebendaan debitor, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.”, demikianlah rumusan Pasal 1131 KUH Perdata. Ketentuan tersebut memberikan dua pengertian. Pertama, bah a setiap subjek hukum adalah penyandang hak dan ke ajibannya sendiri, yang dalam hal ini ter ujud dalam kepemilikan harta kekayaan, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang dimiliki oleh subjek hukum tersebut. Kedua, bah a harta kekayaan seseorang dapat berubah dari aktu ke aktu, karena perikatan yang dibuat, dilakukan, maupun yang terjadi atas diri subjek hukum tersebut dari aktu ke aktu. !engan demikian terdapat suatu hubungan yang sangat erat antara kebendaan yang merupakan harta kekayaan seseorang dengan perikatan yang dibuat, dilakukan, maupun yang terjadi atas perorangan tersebut. Selanjutnya perlu diperhatikan bah a hukum kebendaan berbi"ara mengenai hubungan hukum antara subjek hukum dengan objek hukum se"ara langsung, yang menunjuk pada hubungan kepemilikan atau penguasaan atau suatu kebendaan atau hak yang melekat pada diri kebendaan tertentu tersebut, yang bersi#at mutlak bagi diri orang perorangan tersebut. Sedangkan perikatan mengatur mengenai hubungan hukum antara subjek hukum dengan subjek hukum, yang melahirkan ke ajiban pada salah satu subjek hukum dalam perikatan tersebut. $danya ke ajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum perikatan tersebut, akan melahirkan hak pada pihak lainnya dalam hubungan hukum perikatan tersebut. Hak ini adalah juga suatu bentuk kebendaan, karena hanya merupakan ubungan hukum antara dua atau lebih subjek hukum. Pengertian Perikatan !alam buku ini digunakan se"ara har#iah kata “perikatan” sebagai terjemahan istilah “%erbintenis”, yang merupakan pengambilalihan dari kata “obligation” dalam &ode &i%il Peran"is. !engan demikian berarti perikatan adalah ke ajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum perikatan tersebut. Kitab Undang'Undang Hukum Perdata tidak memberikan rumusan, de#inisi, maupun istilah “perikatan”. !ia ali dengan ketentuan pasal 1(33, yang menyatakan bah a ) “tiap'tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang' undang”, ditegaskan bah a setiap ke ajiban perdata dapat terjadi karena dikehendaki oleh pihak'pihak yang terkait dalam perikatan yang se"ara sengaja dibuat oleh mereka, ataupun karena ditentukan oleh Undang'Undang yang berlaku”. !engan demikian berarti perikatan adalah hubungan hukum antara dua orang atau lebih orang*pihak+ dalam bidang, lapangan harta kekayaan, yang melahirkan ke ajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum tersebut.

&reated by aris

1

KUH Perdata sangat menekankan sekali pada pentingnya penentuan ke ajiban yang harus dipenuhi oleh pihak yang berke ajiban. pemenuhan prestasi yang berhubungan dengan kedua hal tersebut terletak dipundak salah satu pihak dalam perikatan. yang tidak berke ajiban untuk memenuhinya. !alam hal ini terdapat &reated by aris ( .. berhubungan dengan persoalan tanggung ja ab hukum atas pelaksanaan prestasi tersebut oleh pihak yang berke ajiban *s"huld+. melakukan sesuatu. dimana dinyatakan bah a “tiap'tiap perikatan adalah untuk memberikan sesuatu. dan atau untuk tidak melakukan sesuatu. dimana pemenuhan prestasinya tidak dapat dituntut oleh pihak terhadap siapa ke ajiban harus dipenuhi *kreditor+ oleh karena tidak ada harta kekayaan yang dijaminkan untuk memenuhi perikatannya tersebut. hubungan hukum tersebut melahirkan ke ajiban pada salah satu pihak dalam perikatan. untuk berbuat sesuatu. Prestasi untuk melaksanakan ke ajiban tersebut diatas memiliki dua unsur penting. maka dapat kita lihat bah a KUH Perdata sangat menekankan pada ke ajiban pemenuhan perikatan. !alam hal ini yang dipersoalkan adalah siapa yang berke ajiban untuk melaksanakan prestasi. Pertama. hubungan hukum tersebut adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan. Ke ajiban dan Prestasi Seperti telah diungkapan pada uraian terdahulu. Ke ajiban untuk memberikan sesuatu. melakukan sesuatu dan atau untuk tidak melaukan sesuatu tersebut disebut dengan prestasi. juga dapat dimintakan pertanggung ja abannya untuk memenuhi ke ajiban yang dibebankan padanya berdasarkan pada perikatan yang lahir dari hubungan hukum diantara para pihak dalam perikatan tersebut dari harta kekayaan debitor tersebut. yaitu dalam bentuk ke ajiban untuk memberikan sesuatu. juga dapat terjadi bah a suatu prestasi dipenuhi oleh suatu pihak tertentu. sekurang'kurangnya memba a serta didalamnya empat unsur. Pada pihak lain. 0alau demikian.Pada umumnya dalam setiap perikatan. KUH Perdata.!alam rumusan diatas dapat diketahui bah a suatu perikatan. tanpa memperhatikan siapa pihak yang berke ajiban untuk memenuhi ke ajiban tersebut *Ha#tung+. Hal kedua berkaitan dengan pertanggung ja aban pemenuhan ke ajiban dari harta kekayaan pihak yang berke ajiban tersebut. atau untuk tidak berbuat sesuatu”. tidak tertutup kemungkinan bah a terdapat hubungan hukum. $tau dengan kata lain dimungkinkan terbentuknya perikatan yang menimbulkan s"huld tetapi tanpa ha#tung. bah a perikatan itu adalah suatu hubungan hukum(. /adi setiap pihak yang berke ajiban untuk memenuhi perikatan. yaitu ) 1. yang dikelompokan menjadi tiga ma"am. hubungan hukum tersebut melibatkan dua orang atau lebih orang *pihak+3. /ika kita perhatikan dengan seksama rumusan diberikan dalam pasal 1(3. /adi dalam hal ini dimungkinkan terjadinya perikatan yang prestasinya ada tetapi tidak dapat dituntut pelaksanaanya *natuurlijke %erbintenis+. yang pada umumnya disebut “debitor”. tanpa mempersoalkan apakah pemenuhan ke ajiban tersebut dapat dituntut oleh pihak terhadap siapa ke ajiban tersebut ajib dipenuhi*kreditor+.

Sedangkan jenis prestasi kedua.ha#tung atas kebendaan yang dijaminkan. yurisprudensi dan doktrin'doktrin hukum yang dapat kita temui dari aktu ke aktu. !itinjau dari si#at prestasi yang harus dilakukan. Sehubungan dengan kemampuan untuk melaksanakan prestasi. Debitor dan Kreditor !alam setiap hubungan yang melibatkan dua pihak atau lebih. meskipun keberadaannya bergantung pada keberadaan debitor tertentu. maka dari sudut pihak yang berhak atas pelaksanaan prestasi tersebut. menjadi aturan'aturan hukum positi# yang tertulis. keberadaan pihak yang berke ajiban untuk melakukan prestasi atau debitor pada satu sisi. kedudukan debitor sangat dipentingkan. tetapi tidak ada s"huld pada pihak yang pemberi jaminan kebendaan. Hak atas piutang dapat dialihkan dari satu kreditor kepada kreditor lainnya. para praktisi hukum. namun pada umumnya perikatan yang lahir dari perjanjian merupakan yang paling banyak terjadi dalam kehidupan manusia sehari'hari. namun demikian pelaksanaannya dapat dilakukan tanpa kehadiran atau tanpa bantuan debitor sendiri. Kemampuan subjekti#. sedangkan ke ajiban untuk memenuhi piutang tidak boleh dipindahtangankan dari debitor yang satu ke debitor yang lainnya. Perikatan dan perjanjian menunjuk pada dua hal yang berbeda. Prestasi yang pertama bersi#at spesi#ik. tanpa persetujuan kreditor yang berkepentingan. Hal ini adalah akibat dari si#at pemenuhan prestasi yang dijamin dengan harta kekayaan debitor. ke"uali dalam perkatan alamiah. se"ara teoritis dikenal dua ma"am prestasi. Perikatan adalah suatu istilah atau pernyataan yang bersi#at abstrak. dikenal adanya dua ma"am kemampuan. yaitu prestasi yang hanya dapat dipenuhi atau dilaksanakan oleh debitor sendiri. yaitu kemampuan yang melekat pada diri indi%idu yang berke ajiban untuk melaksanakan suatu prestasi tertentu *debitor+. dimana hubungan hukum tersebut melahirkan ke ajiban kepada salah satu pihak yang terlibat dalam hubungan hukum tersebut. serta juga pada "endikia an hukum. /adi Undang'Undang memberikan perlindungan terhadap siapa prestasi tersebut harus dipenuhi. yang keberadaannya dan pelaksanaanya semata'mata digantungkan pada keahlian diri pribadi debitor. Pihak yang berhak disebut pihak berpiutang atau kreditor. yaitu ) 1. serta dikembangkan se"ara luas oleh para legislator. pada umumnya disertai dengan pihak yang berhak atas prestasi yang ajib dipenuhi oleh debitor. Kemampuan objekti#. !alam konstruksi KUH Perdata. hak atas pemenuhan prestasi disebut piutang. (. dan yang juga ternyata banyak dipelajari oleh ahli hukum. dan pada umumnya merupakan ke ajiban atau prestasi yang lahir dari perikatan untuk melakukan sesuatu. dan prestasi yang pemenuhannya dapat dilakukan tanpa kehadiran debitor atau prestasi yang tidak perlu dilaksanakan sendiri oleh debitor sendiri. yang menunjuk pada hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan antara dua atau lebih orang atau pihak. /ika ke ajiban atau prestasi untuk melakukan sesuatu dari sudut debitor disebut hutang. 1eskipun bukan yang paling dominant. 2ksistensi perjanjian sebagai salah satu sumber perikatan dapat kita temui landasannya pada ketentuan Pasal 1(33 Kitab Undang'Undang Hukum Perdata &reated by aris 3 . yaitu kemampuan untuk melaksanakan ke ajibanatau prestasi tanpa memperhatikan pihak yang melaksanakan ke ajiban atau prestasi tersebut. dengan menentukan siapa yang berhak untuk memenuhinya.

sedangkan perikatan yang lahir dari undang'undang diadakan oleh undang'undang diluar kemauan para pihak yang bersangkutan. Perhubungan antara dua orang atau dua pihak tadi. ada perikatan yang lahir dari perjanjian dengan nama undang'undang. . Perikatan yang lahir dari perjanjian. yang berarti bah a hak si berpiutang itu dijamin oleh hukum atau undang' undang. !alam bentuknya. lebih sempit karena ditujukan kepada perjanjian atau persetujuan yang tertulis. sedangkan pihak yang berke ajiban memenuhi tuntutan dinamakan debitur atau si berutang. perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji'janji atau kesanggupan yang diu"apkan atau ditulis. maka mereka bermaksud supaya antara mereka berlaku suatu perikatan hukum. Perjanjian merupakan sumber terpenting yang melahirkan perikatan. si berpiutang dapat menuntutnya di depan hakim. ada perikatan yang lahir dari perjanjian dan ada perikatan yang lahir dari undang'undang. tetapi sebagaimana sudah dikatakan tadi. hubungan antara perikatan dan perjanjian adalah bah a perjanjian menerbitkan perikatan. Pihak yang berhak menuntut sesuatu. dinamakan kreditur atau si berpiutang. Sungguh'sungguh mereka itu terikat satu sama lain karena janji yang telah mereka berikan. memang dikehendaki oleh dua orang atau dua pihak yang membuat suatu perjanjian. !ari peristi a ini. Sumebr'sumber lain ini ter"akup dengan nama undang'undang. timbullah suatu hubungan antara dua orang tersebut yang dinamakan perikatan. berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu hal dari pihak yang lain.yang menyatakan bah a ) “3iap'tiap perikatan dilahirkan. ada juga sumber'sumber lain yang melahirkan perikatan. Perkataan kontrak. $pabila dua orang mengadakan suatu perjanjian. 1emang perikatan itu paling banyak diterbitkan oleh suatu perjanjian. baik karena perjanjian baik karena undang'undang” Hubungan antara perikatan dan perjanjian $pakah yang dinamakan perikatan itu4 Suatu perikatan adalah suatu perhubungan hukum antara dua orang atau dua pihak. di sampingnya sumber'sumber lain. Perjanjian itu menerbitkan suatu perikatan antara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. dan pihak yang lain berke ajiban untuk memenuhi tuntutan itu. /adi. &reated by aris . !engan demikian. Perjanjian adalah sumber perikatan. $pabila tuntutan itu tidak dipenuhi se"ara sukarela. 3ali perikatan ini barulah putus kalau janji itu sudah dipenuhi. /adi. karena dua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan. !apat dikatakan bah a dua perkataan *perjanjian dan persetujuan+ itu adalah sama artinya. adalah suatu perhubungan hukum.

1. Seperti telah dijelaskan dimuka. namun dari rumusan yang ditemukan dalam pasal 1(36 KUH Perdata dapat kita ketahui bah a yang dimaksudkan dengan periktan untuk memberikan sesuatu adalah perikatan yang me ajibkan debitor untuk menyerahkan suatu kebendaan. Perikatan yang Bersumber dari Perjanjian Seperti telah disebutkan di atas ketentuan tentang Pasal 1(33 ayat *1+. a. !alam hubungannya dengan ke ajiban yang harus dilaksanakan oleh debitor terhadap kreditor tersebut. a. yaitu perikatan yang lahir dari Undang'Undang sebagai akibat dari suatu perbuatan manusia yang diperbolehkan oleh hukum dan perikatan yang lahir dari Undang'Undang sebagai akibat dari suatu perbuatan manusia yang bertentangan dengan hukum. bagaimana halnya jika debitor tidak dapat memenuhi ke ajibannya4 Hal tersebut dikatakan anprestasi. termasuk didalamnya peristi a hukum. maupun merupakan suatu perbuatan hukum yang tidak dikehendaki oleh para pihak dalam perikatan tersebut. peristi a hukum. untuk menja ab hal tersebut. Pembagian Menurut Isi Perikatan Pasal 1(33 KUH Perdata membagi perikatan menurut isinya kedalam ) ' perikatan ditunjukan untuk memberikan sesuatu• perikatan untuk berbuat sesuatu. 5ni berarti diantara para pihak yang membuat perjanjian lahirlah perikatan. Selanjutnya. timbul pertanyaan bagi kita semua. se"ara umum dapat dikatakan bah a debitor telah anprestasi jika ) &reated by aris 6 .dan • perikatan untuk tidak melakukan sesuatu. pernyataan ini memba a konsek ensi bah a hubungan hukum yang menerbitkan ke ajiban atau prestasi dalam lapangan harta kekayaan dapat terjadi dari perbuatan hukum. Untuk yang terakhir ini sering kali disebut dengan istilah perbuatan mela an hukum atau perbuatan melanggar hukum. !engan membuat perjanjian salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian tersebut mengikatkan dirinya untuk memenuhi ke ajiban sebagaimana yang dijanjikan. diolongkan lagi kedalam dua jenis. jika kita men"oba merumuskan se"ara berlainan. maupun karena Undang'Undang”. !alam golongan yang pertama. Perikatan Untuk Memberikan Sesuatu KUH Perdata tidak memberikan de#inisi dari perikatan untuk memberikan sesuatu. Perikatan yang bersumber pada Undang Undang KUH Perdata membagi perikatan yang lahir dari Undang'Undang ini kedalam perikatan yang lahir karena Undang'Undang saja. Perbuatan hukum tersebut dapat merupakan perbuatan yang memang dikehendaki dan dien"anakan oleh para pihak yang terikat dalam perikatan tersebut. terhadap perikatan yang lahir dari Undang'Undang disertai perbuatan manusia.Bab II Pembagian Perikatan Menurut Doktrin 1. Pembagian Perikatan Menurut Sumber Lahirnya Perikatan Ketentuan Pasal 1(33 ayat *1+ menyatakan bah a “tiap'tiap perikatan dilahirkan. maupun karena suatu keadaan hukum. baik Karena suatu persetujuan. maka dapat kita katakan bah a perjanjian merupakan salah satu sumber lahirnya perikatan. dan perikatan yang lahir karena Undang'Undang yang disertai dengan perbuatan manusia. b.

kerugian dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan. apabila kreditor tidak memenuhi ke ajibannya. Perikatan Untuk Me!akukan Sesuatu /ika kita perhatikan 7agian 3iga 7ab Satu buku 555 KUH Perdata diba ah judul perikatan untuk berbuat sesuatu atau untuk tidak berbuat sesuatu. mendapatkan penyelesaiannya dalam ke ajiban memberikan penggantian biaya. ". Ketentuan tersebut langsung menunjuk pada upaya hukum yang dapat dilakukan oleh kreditor atas anprestasi pihak debitor. dapat kita katakan bah a perikatan untuk berbuat atau melakukan sesuatu merupakan perikatan yang berhubungan dengan ke ajiban deditor untuk melaksanakan “pekerjaan” atau “jasa” tertentu untuk kepentingan kreditor. dan atau ' menghapus segala sesuatu yang dilakukan se"ara bertentangan dengan perikatan.dan atau ' membayarsegal biaya dan ongkos yang dikeluarkan oleh kreditorguna mengembalikan segala sesuatu yang dilakukan oleh debitor se"ara bertentangan dengan perikatan. dalam hal debitor tidak melaksanakan sendiri ke ajibannya untuk menghapuskan segala sesuatuyang telah dibuatnya se"ara bertentangan dengan perikatan. yang menerbitkan kerugian pada kreditor. yaitu untuk ) ' memberikan penggantian biaya. setelah dinyatakan lalai &reated by aris 9 . ' d. $danya rumusan Pasal 1(38 yang menyatakan bah a ) “ tiap'tiap perikatan untuk berbuat sesuatu. barulah mulai di ajibkan. kerugian dan bunga sebagai akibat dilakukannya perbuatan yang tidak diperbolehkan tersebut. Ketentuan untuk #idak Me!akukan Sesuatu Perikatan bersi#at larangan yang jika dilangar akan menyebabkan debitor terikat pada suatu perikatan baru. KUH Perdata dikatakan bah a ) “ penggantian biaya.' ' ' ' ' ' debitor tidak menyerahkan kebendaan yang harus diserahkan pada aktunyadebitor tidak memelihara kebendaan yang akan diserahkan sehingga kebendaan tersebut tidak dapat diserahkan pada aktunyadebitor tidak menyerahkan kebendaan tersebut sama sekalidebitor tidak memelihara kebendaan yang akan diserahkan sehingga kebendaan tersebut tidak dapat diserahkan sama sekalidebitor menyerahkan sesuatu kepada debitor tetapi tidak sesuai dengan apa yang telah ditentukandebitor tidak memelihara kebendaan yang akan diserahkan sehingga kebendaan tersebut tidak dapat diserahkan sesuai dengan yang telah ditentukan. apabila debitor. atau untuk tidak berbuat sesuatu. Mengenai Penggantian Biaya$ Kerugian$ dan Bunga !alam rumusan Paal 1(3. b. rugi dan bunga “. Se"ara logis. akan kita lihat bah a tidak banyak hal yang diatur dalam bagian ketiga tersebut.

tetap melalaikannya.memenuhi perikatannya. &reated by aris : . Sudah tepat. maka ketentuan yang diatur dalam ) Pasa! 1&'( !ebitor adalah ber ajib memberikan ganti biaya. 1enurut Pasal 1999 KUH Perdata ) “Hibah adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pemberi hibah.rugi dan bunga kepada kreditor. 7entuk ketiadalaksanaan ini dapat ter ujud dalam beberapa bentuk. atau untuk tidak berbuat sesuatu. 0anprestasi tersebut dapat terjadi karena kesengajaan debitor untuk tidak mau melaksanakannya. e. dan Pasa! 1&') 3iap'tiap perikatan untuk berbuat sesuatu. atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya dalam tenggang aktu yang telah dilampaukannya”.melaksanakan ke ajibannya tetapi tidak sebaimana mestinya' debitor melaksanakan sesuatu yang tidak diperbolehkan. %anprestasi dan Ke!a!aian 0anprestasi adalah suatu istilah yang menunjuk pada ketiadalaksanaanya prestasi oleh debitor. apabila ia telah memba a dirinya dalam keadaan tidak mampu untuk menyerahkan kebendaannya atau telah mera atnya sepatutnya guna menyelamatkannya. Selain perjanjian yang bertimbal balik. dengan "uma'"uma dan dengan tidak dapat ditarik kembali. !alam hal debitor memang se"ara sengaja tidak mau melaksanakannya. apabila kreditor tidak memenuhi ke ajibannya. KUH Perdata juga mengakui adanya perjanjian yang hanya melahirkan perikatan pada salah satu pihak dalam perjanjian. Pembagian Perikatan Berdasarkan Ke*ajiban Pihak Da!am Perikatan Untuk Me!akukan Prestasi Selanjutnya dalam uraian sebelumnya juga telah dikatakan bah a dalam suatu perikatan terlibat atau terikat dua pihak. mendapatkan penyelesaian dalam ke ajiban memberikan penggantian biaya. Sedangkan kreditor adalah pihak yang berhak atas suatu prestasi yang harus diberikan oleh debitor. oleh karena tidak memungkinkan debitor dapat dipaksa untuk melakukan segala sesuatu yang tidak dikehendakinya. rugi dan bunga. Perjanjian yang demikian disebut dengan nama perjanjian sepihak. maupun karena kelalaian debitor untuk tidak melaksanakannya. yaitu ) ' debitor sama sekali tidak melaksanakan ke ajibannya' debitor tidak melaksanakannya ke ajibannya sebagaimana mestinya. menyerahkan sesuatu benda guna keperluan penerima hibah yang menerima penyerahan itu. yaitu debitor dan kreditor. sebagaimana dapat kita temukan dalam ketentuan Pasal 1999 KUH Perdata yang mengatur mengenai hibah. di aktu hidupnya. !ebitor adalah pihak yang berke ajiban untuk melaksanakan suatu prestasi yang telah ditetapkan pada aktu yang telah disepakati para pihak.

Kedua ma"am perikatan tersebut. maupun se"ara membatalkan perikatan menurut terjadi atau tidak terjadinya peristi a tersebut”. dengan pengertian bah a salah satu pihak memberikan prestasi atau ke ajiban tanpa membebankan pihak lain untuk melakukan kontra prestasi atau kontra ke ajiban.asal maupun perikatan tambahan dapat lahir karena Undang'Undang maupun karena perjanjian para pihak. Perikatan dengan Syarat #angguh Pengaturan khusus mengenai perikatan dengan syarat tangguh dapat ditemukan pada Pasal 1(93 KUH Perdata. b. yang merumuskan ) “suatu perikatan dengan suatu syarat tanguh adalah suatu perikatan yang tertanggung pada suatu peristi a yang masih akan datang dan belum akan terjadi. maka perjanjian *sepihak+ ini seringkali juga disebut dengan nama perjanjian tanpa beban. baik perikatan pokok. kerugian. yaitu ) ' Syarat yang menangguhkan berlakunya perikatan ' Syarat yang membatalkan perikatan a. sebagaimana diatur dalam pasal 1(63 KUH Perdata dirumuskan dalam suatu pernyataan yang se"ara lengkap berbunyi “suatu perikatan adalah bersyarat manakala ia digantungkan pada suatu peristi a yangmasih akan datang dan masih belum tentu akan terjadi. . Sedangkan yang disebut dengan perikatan tambahan adalah periktan yang lahir sebagai akibat tidak dipenuhinya perikatan pokok. <ang dimaksud dengan perikatan asal adalah perikatan yang semula terbentuk diantara para pihak dalam perikatan. Ke ajiban untuk melaksanakan prestasi hanya ada di pihak pemberi hibah tanpa kontra prestasi dari pihak penerima hibah.asal dengan perikatan tambahan. Pembagian Perdata Perikatan Menurut Undang Undang Hukum Perikatan Bersyarat Dan Perikatan Sederhana Perikatan bersyarat. dan bunga. !ari rumusan diatas. !ari rumusan diatas dapat kita lihat hibah adalah perikatan yang lahir dari perjanjian sepihak. yang ter ujud dalam bentuk penggantian biaya. baik se"ara menangguhkan perikatan hingga terjadinya peristi a sema"am itu.leh karena perikatannya hanya lahir pada salah satu pihak.asal.Undang'undang tidak mengakui lain'lain hibah selainnya hibah'hibah diantara orang'orang yang masih hidup”.Perikatan dengan Syarat Bata! &reated by aris = . Pembagian Perikatan Menurut Si+at Keutamaan Perikatan !alam berbagai uraian terdahulu telah kita bi"arakan mengenai perikatan pokok. terdapat adanya dua ma"am syarat dalam perikatan. atau yang tergantung pada suatu hal yang sudah terjadi tetapi tidak diketahui oleh kedua belah pihak”.

Syarat da!am perjanjian berdasarkan Saat Pemenuhannya 7erdasarkan pada aktu pemenuhannya. peristi a atau kejadian yang berada diluar perjanjian. maupun suatu prestasi yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh salah satu pihak dalam perjanjian. Syarat yang mengikuti *"ondition subse>uent+ ) Syarat ini merupakan syarat yang dengan terjadinya keadaan. seolah'olah tidak pernah ada suatu perikatan”. ". Pada umumnya syarat tersurat ini merupakan suatu bentuk perjanjian bersyarat dimana jika syarat tersebut tidak dipenuhi. yaitu) Syarat !imuka ) syarat dimuka atau "ondition pre"edent merupakan syarat yang ter ujud dalam suatu keadaan. d. atau kejadian yang disyaratkan akan membebaskan salah satu pihak dalam perjanjian dari ke ajibannya untuk melaksanakan prestasinya yang telah terbit sehubungan dengan perjanjian yang mendasarinya. maka pihak dalam perjanjian ini tidak di ajibkan untuk melaksanakan prestasi yang telah ditentukan dalam perjanjian. yaitu) “suatu syarat batal adalah syarat yang bila dipenuhi. pihak lainnya telah menunjukan itikad baik atau kehendak untuk melaksanakan prestasinya. peristi a. Syarat konkuren ) Syarat ini hanya ada pada perjanjian timbale balik.Pasal 1(96 KUH Perdata mengatur mengenai perikatan dengan syaratperikatan dengan syarat batal. Pembata!an Perjanjian o!eh Sa!ah Satu Pihak da!am Perjanjian 1eskipun ketentuan Pasal 1(99 KUH Perdata tampak dibuat untuk kepentingan para pihak dalm perikatan atau perjanjian. $lasan'alasan yang dikenal dalam ilmu hukum sebagai alasan &reated by aris 8 . baik sebelum perikatan perjanjian itu dilaksanakan maupun setelah perikatan perjanjian tersebut dilaksanakan. !alam hal ini pihak yang jika dengan dilaksanakannya perikatan atau perjanjian tersebut akan menderita kerugian dapat mengajukan pembatalan atas perikatan atau perjanjian tersebut. sebelum perjanjian yang dibuat tersebut melahirkan ke ajiban pada pihak lainnya untuk melaksanakan prestasi lebih lanjut. a. rumusan tersebut hanya dibuat untuk kepentingan pihak yang beritikad baik dalam perikatan atau perjanjian. b. namun jika diteliti lebih jauh. praktik hukum mengenal tiga ma"am syarat. ' Syarat yang tersirat adalah adakalanya dalam perjanjian tertentu dapat kita temukan adanya ketentuan'ketentuan tersirat yang mengsyratkan terjadinya suatu peristi a atau perbuatan hukum atau prestasi tertentu yang harus dilaksanakan terlebih dahulu sebelum suatu prestasi lainnya dalam perjanjian tersebut dilaksanakan. Mengenai Syarat #ersurat dan Syarat #ersirat ' Syarat tersurat ini merupakan syarat yang se"ara tegas disebutkan dalam perjanjian. menghentikan perikatan dan memba a segala sesuatu kembali pada keadaan semula. Perikatan atau Perjanjian yang dapat Dibata!kan KUH Perdata memberikan kemungkinan bah a suatu perikatan atau Perjanjian dapat dibatlkan jika perjanjian tersebut dalam pelaksannannya akan merugikan indi%idu tertentu. dimana ke ajiban dari salah satu pihakuntuk melaksanakan prestasi baru terbit jika telah terdapat "ukup bukti yang menunjukan bah a pada aktu yang dijanjikan.

karena berhubungan dengan diri dari subjek yang menerbitkan perikatan tersebut. Perikatan Dengan Ketetapan %aktu 7erbeda dengan perikatan bersyarat. !emikianlah Pasal 1(9= KUH Perdata menyatakan bah a “Suatu ketetapan aktu tidak menangguhkan pelaksannanya”. +. hanya saja pelaksnaan ke ajibannya atau prestasi tersebut baru dilakukan pada suatu aktu yang ditentukan di masa yang akan datang.enteng atau Perikatan #anggung Menangung Perikatan tanggung renteng adalah ) ' suatu perikatan dengan lebih dari satu kreditor di satu sisi dengan satu debitor. e. atau ' suatu perikatan dengan lebih dari satu debitor pada satu sisi dengan satu kreditor dengan sisi lain. masing'masing kreditor berhak untuk menuntut pemenuhan perikatannya dari debitor. ' dimana ) ' dalam hal terdapat lebih dari satu kreditor. jika terjadi pelanggaran terhadap syarat objekti#sahnya suatu perjanjia. suatu perikatan dikatakan sebagai perikatan dengan ketetapan aktu jika perikatan tersebut menetapkan suatu aktu dalam pelaksanaannya. Perjanjian yang Bata! Demi Hukum Suatu perjanjian dikatakan batal demi hukum. KUH Perdata mengakui hak dari seseorang pihak ketiga yang dirugikan untuk melakukan penuntutan pembatalan atas perikatan yang dibuat oleh suatu pihak tertentu. tetapai penetapan aktu tersebut tidaklah menununda eksistensi perikatan itu sendiri hingga aktu yang telah ditentukan tersebut. KUH Perdata. Pembatalan perjanjian dapat dimintakan jika ) ' telah terjadi kesepakatan se"ara palsu dalam suatu perjanjian karena telah terjadi kekhila#an. dan disebut mutlak jika kebatalan tersebut berlaku umum terhadap seluruh anggota masyarakat tanpa ke"uali. !engan demikian perikatan dengan ketetapan aktu adalah perikatan sederhana yang berlaku seketika pada saat perikatan dibentuk. Perikatan #anggung . di sisi lain.subjekti#. dirumuskan dalam pasal 133( sampai dengan 133. '.yang diikuti dengan pasal 1336 sampai dengan pasal 1339 KUH Perdata yang mengatur mengenai rumusan "ausa yang halal. Pembata!an Perjanjian o!eh Pihak Ketiga di Luar Perjanjian Pada prinsipnya perjanjian hanya mengikat para pihak yang membuat.e!ati+ dan Kebata!an Mut!ak Suatu kebatalan disebut dengan relati#. yaitu "ausa yang diperbolehkan oleh Undang' Undang. Hak tersebut yang diatur dalam Pasal 13. di sisi lain. !isebut subjekti# . ' Salah satu pihak dalam perjanjian tidak "akap untuk bertindak dalam hukum *pasal 133? sampai dengan pasal 1331 KUH Perdata+. paksaan atau penipun pada salah stu pihak dalam perjanjian pada saat perjanjian itu dibuat *pasal 13(1 sampai dengan pasal 13(= KUH Perdata+. Keharusan akan adanya objek dalam perjanjian. dengan pengertian bah a ke ajiban debitor sudah ada semenjak perikatan dibuat. atau ' suatu perikatan dengan lebih dari suatu kreditor di satu sisi dengan lebih dari satu debitor. g. Kebata!an . jika kebatalan tersebut hanya berlaku terhadap indi%idu tertentu saja.1 ayat *1+ KUH Perdata yang disebut dengan a"tio pauliana. 0alau demikian untuk melindungi kepentingan pihak ke tiga yang beritikad baik. &reated by aris 1? . &.

dan ' perikatan tanggung renteng atau perikatan tanggung menanggung yang bersi#at pasi#. perikatan bersyarat. di ajibkan untuk melakukan sesuatu. Perikatan dengan . Perikatan dalam bentuk yang paling sederhana ini dinamakan perikatan bersahaja atau perikatan murni. pemenuhan perikatan kepada salah satu kreditor adalah pemenuhan perikatan kepada semua kreditor ' dalam hal terdapat lebih dari satu debitor. masing'masing debitor dapat dituntut untuk memenuhi seluruh isi perikatannya oleh kreditor. ' &reated by aris 11 . dan pemenuhan perikatan kepada salah satu kreditor adalah pmenuhan perikatan kepada semua kreditor. yaitu perikatan dengan lebih dari satu debitor. berdasarkan mana pihak yang satu berhak menuntut sesuatu dari pihak yang lain. manakala perikatan tersebut tidak dipenuhi olehnya. yaitu ) ' perikatan tanggung renteng atau perikatan tanggung menanggung yang bersi#at akti#. sedangkan sesuatu yang dapat dituntut hanya berupa satu hal. maka perikatan ini merupakan bentuk yang paling sederhana. sebagi jaminan pelaksanaan suatu perikatan.n"aman Hukuman Pasal 13?. $pabila di masing'masing pihak hanya ada satu orang. Berma"am ma"am perikatan yang !ain Perikatan merupakan suatu hubungan hukum antara dua pihak. melainkan dengan hanya menyatakan bah a debitor yang lalai dapat dikenakan ke ajiban untuk melakukan sesuatu. dan pihak yang lain berke ajiban memenuhi tuntutan itu. ' !ikenak ada dua ma"am perikatan tanggung renteng atau perikatan tanggung menanggung.dalam hal terdapat lebih dari satu debitor. dan penuntutan ini dapat dilakukan seketika. adalah) a. KUH Perdata tidak membatasi jenis hukuman yang dapat dikenakan. ' dan ) ' dalam hal terdapat lebih dari satu kreditor. KUH Perdata memberikan de#inisi perikatan dengan an"aman hukumna sebagai suatu perikatan yang menempatkan seseorang. yaitu suatu perikatan adalah bersyarat apabila ia digantungkan pada suatu peristi a yang masih akan datang dan masih belum tentu akan terjadi baik se"ara menangguhkan lahirnya perikatan hingga terjadinya peristi a sema"am itu. -. yaitu suatu perikatan dengan lebih dari satu kreditor berhak untuk menuntut pemenuhan perikatannya dari debitor. pemenuhan perikatan oleh salah satu debitor adalah pemenuhan periktan oleh semua debitor. 7entuk'bentuk yang lain itu. hukum perdata mengenal pula berbagai ma"am perikatan yang agak lebih rumit. maupun se"ara membatalkan perikatan menurut terjadinya atau tidak terjadinya peristi a tersebut. !isamping bentuk yang paling sederhana itu. dan pemenuhan perikatan oleh salah satu debitor adalah pemenuhan perikatan oleh semua debitor. dimana masing'masing debitor dapat dituntut untuk memenuhi seluruh isi perikatannya oleh kreditor.

segera setelah orang'orang tersebut men"apai kesepakatan atau "onsensus. ". Perikatan dengan ketetapan aktu. d. !engan sendirinya pembayaran yang dilakukan oleh salah seorang debitur membebaskan debitur'debitur lainnya. disalah satu pihak terdapat beberapa orang. pada perikatan ini. $sas Konsensualitas. Perikatan tanggung'menanggung.b. adalah suatu perikatan di mana ditentukan bah a si berutang untuk jaminan pelaksanaan perikatannya. Penetapan hukuman ini dimaksudkan sebagai gantinya penggantian kerugian yang diderita oleh si berpiutang karena tidak dipenuhinya atau dilanggarnya perjanjian. #. Perikatan mana suka *alternati#+. !alam hal beberapa orang terdapat di pihak kreditur. suatu perikatan dapat atau tak dapat dibagi adalah sekedar prestasinya dapat dibagi menurut imbangan. !ari rumusan tersebut dapat diketahui bah a pada dasarnya suatu perjanjian yang dibuat oleh seseorang dalam kapasitasnya sebagai indi%idu. subyek hukum pribadi hanya akan berlaku dan menngikat untuk dirinya sendiri.sas asas umum hukum perjanjian 7erikut ini dibahas asas'asas umum hukum perjanjian yang diatur dalam Kitab Undang'Undang Hukum Perdata. pembagian mana tidak boleh mengurangi hakekat prestasi itu. Hak memilih ada pada si berutang jika hak ini tidak se"ara tegas diberikan pada si berpiutang. Perikatan yang dapat dibagi dan yang tak dapat dibagi. yang berbunyi ) “sahnya perjanjian diperlukan empat syarat ) &reated by aris 1( . $sas Personalia. $sas ini diatur dan dapat kita temukan dalam ketentuan Pasal 1316 Kitab Undang'undang Hukum Perdata. maka tiap'tiap kreditur berhak menuntut pembayaran seluruh utang. di ajibkan melakukan sesuatu apabila perikatannya tidak dipenuhi. tetapi juga dapat disimpulkan dari maksudnya perikatan itu. meskipun kesepakatan tersebut telah di"apai se"ara lisan semata'mata. berlainan dengan suatu syarat suatu ketetapan aktu tidak menangguhkan lahirnya suatu perjanjian atau perikatan. dalam perikatan sema"am ini si berutang dibebaskan jika ia menyerahkan salah satu dari dua barang yang disebutkan dalam perjanjian. bah a pada dasarnya suatu perjanjian yang dibuat se"ara lisan antara dua atau lebih orang telah mengikat dan karenanya telah melahirkan ke ajiban bagi salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian tersebut. b. e. melainkan hanya menangguhkan pelaksanaannya ataupun menentukan lama aktu berlakunya suatu perjanjian atau perikatan. . a. tetapi ia tidak boleh memaksa si berpiutang untuk menerima sebagian dari barang yang satu dan sebagian barang yang lainnya. !alam hal beberapa orang terdapat di pihak debitur *dan ini yang paling la@im+ maka tiap'tiap debitur itu dapat dituntut untuk memenuhi seluruh utang. Perikatan dengan an"aman hukuman. begitu pula pembayaran yang dilakukan kepada salah seorang kreditur membebaskan si berutang terhadap kreditur'kreditur lainnya. Ketentuan yang mengatur mengenai konsensualitas ini dapat kita temui dalam rumusan Pasal 13(? Kitab Undang'Undang Hukum Perdata. Soal dapat atau tidak dapat dibaginya prestasi itu terba a oleh si#at barang yang tersangkut di dalamnya. yang berbunyi “Pada umumnya tak seorangpun dapat mengikatkan diri atas nama sendiri atau meminta ditetapkannya suatu janji selain untuk dirinya sendiri”. 1emperlihatkan pada kita semua.

asas kebebasan berkontrak menemukan dasar hukumnya pada rumusan Pasal 13(? Kitab Undang'Undang Hukum Perdata sebagaimana yang ter"antum diatas. dua unsure pokok lainnya yang berhubungan langsung dengan obyek perjanjian *unsur obyekti#+. !alam hal yang demikian se"ara yuridis dari semula tidak &reated by aris 13 .. Unsur ini dalam perjanjian me akili ketentuan'ketentuan berupa prestasi'prestasi yang ajib dilakukan oleh salah satu atau lebih pihak. yang men"erminkan si#at dari perjanjian tersebut. 1isalnya dalam perjanjian yang mengandung unsur esensialia jual beli. 1erupakan unsur pelengkap dalam suatu perjanjian. ke"akapan untuk membuat suatu perikatan3. pasti akan terdapat unsur naturalia berupa ke ajiban dari penjual untuk menanggung kebendaan yang dijual dari "a"at'"a"at tersembunyi. ". sesuai dengan kehendak para pihak yang merupakan persyaratan khusus yang ditentukan se"ara bersama'sama oleh para pihak. digolongkan ke dalam ) a. 1erupakan unsur yang pasti ada dalam suatu perjanjian tertentu setelah unsur esensialianya diketahui se"ara pasti. Seperti halnya asas konsensualitas. Bata! dan pembata!an suatu perjanjian !alam hal mengenai syarasyarat untuk sahnya perjanjian. Unsur aksidentalia. yang membedakannya se"ara prinsip dari jenis perjanjian lainnya. Unsur ini pada umumnya dipergunakan dalam memberikan rumusan. yang merupakan ketentuan'ketentuan yang dapat diatur se"ara menyimpang oleh para pihak. Unsur unsur da!am perjanjian !alam perkembangan doktrin ilmu hukum dikenal adanya tiga unsure dalam perjanjian ) a. suatu pokok persoalan tertentud. $sas Kebebasan 7erkontrak. Unsur naturalia. !engan asas kebebasan berkontrak ini para pihak yang membuat dan mengadakan perjanjian diperbolehkan untuk menyusun dan membuat kesepakatan atau perjanjian yang melahirkan ke ajiban apa saja selama dan sepanjang prestasi yang ajib dilakukan tersebut bukanlah sesuatu yang terlarang. dan b. b. Syarat syarat sahnya perjanjian Untuk sahnya perjanjian'perjanjian. diperlukan empat syarat ) *Pasal 13(? Kitab Undang'Undang Hukum Perdata+ a. suatu sebab yang tidak terlarang. dalam doktrin ilmu hukum yang 7erkembang. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinyab. ke"akapan untuk membuat suatu perikatan". Unsur esensialia. de#inisi atau pengertian dari suatu perjanjian. bah a apabila suatu syarat obyekti# tidak terpenuhi *hal tertentu atau "ausa yang halal+ maka perjanjiannya adalah batal demi hukum. suatu pokok persoalan tertentu. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya(. dua unsur pokok yang menyangkut subyek *pihak+ yang mengadakan perjanjian *unsur subyekti#+. suatu sebab yang tidak terlarang Ke empat unsur tersebut selanjutnya.1. ".

IK. Pihak ini adalah pihak yang tidak "akap menurut hukum dan pihak yang memberikan peri@inannya atau menyetujui perjanjian itu se"ara tidak bebas. Sepuluh "ara tersebut diatas belum lengkap karena masih ada "ara'"ara yang tidak disebutkan. $pabila pada aktu pembuatan perjanjian ada kekurangan mengenai syarat yang subyekti# sebagaimana dapat dilihat. SUMB0. maka perjanjian itu bukannya batal demi hukum tetapi dapat dibatalkan oleh salah satu pihak. pembaharuan utangd.#. telah gagal. pembayaranb.ada suatu perjanjian dan tidak ada pula suatu perikatan antara orang'orang yang bermaksud membuat perjanjian itu.2 P. le atnya aktu. per"ampuran utang#. misalnya berakhirnya suatu ketetapan aktu dalam suatu perjanjian atau meninggalnya salah satu pihak dalam beberapa perjanjian.D. /ara "ara hapusnya perikatan Pasal 13=1 Kitab Undang'Undang Hukum Perdata menyebutkan sepuluh "ara hapusnya suatu perikatan. pena aran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpangan atau penitipan". UMUM23. perjumpaan utang atau kompensasie. seperti meninggalnya seorang pesero dalam suatu perjanjian #irma dan pada umumnya dalam perjanjian' perjanjian dimana prestasi hanya dapat dilaksanakan oleh si debitur sendiri dan tidak oleh seorang lain. 3ujuan para pihak untuk meletakkan suatu perikatan yang mengikat mereka satu sama lain. pembebasan utangg. batal atau pembatalani. berlakunya suatu syarat batal dan j.$ o!eh Kartini dan 4una*an serta Subekti &reated by aris 1. . 1 P0. &ara'"ara tersebut adalah ) a. musnahnya barang yang terutangh.

&reated by aris 16 .