UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KIMIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN IBL (Inquiry-Based Learning) PADA

KELAS XI SMA 12 SEMARANG

SKRIPSI Diajukan dalam rangka penyelesaian Studi Strata-1 Untuk mencapai Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh Rosyda Safrida Ariyani 4301402012 Pendidikan Kimia

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian pada: Hari Tanggal : :

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Sri Muryati, Apt., M.Kes NIP.130529533

Dra. Nanik Wijayati, M.Si. NIP. 132150428

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang pada: Hari Tanggal : :

Panitia Ujian

Ketua

Sekretaris

Drs. Kasmadi IS., MS. NIP. 130781011

Drs. Edy Cahyono, M.Si. NIP. 131876212

Penguji I

Penguji II

Dra. Murbangun Nuswowati, M.Si. NIP. 131386647

Dra. Sri Muryati, Apt. M.Kes. NIP. 130529533

Penguji III

Dra. Nanik Wijayati, M.Si. NIP. 132150428

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Agustus 2006

Rosyda Safrida Ariyani NIM. 4301402012

iv

MOTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (Q. Al-Baqoroh: 286) ”Kegagalan bukanlah akhir dari sebuah usaha. jadi janganlah kau sia-siakan” PERSEMBAHAN Kupersembahkan karya kecilku ini untuk: Bapak dan ibu tercinta Adik-adikku tersayang v . tetapi sebuah awal dari keberhasilan” ”Hargailah waktu dan dirimu dengan melakukan usaha yang berguna untukmu.S. ingatlah kesempatan berlaku hanya sekali dalam seumur hidupmu.

Dra. Sugiyanti selaku guru bidang studi kimia kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang yang telah membantu pelaksanaan penelitian 5. selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini 3. selaku Ketua Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang 6.Si.. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan perkembangan dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1.Kes selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini 2. Sri Muryati. Penulis sadar bahwa skripsi ini dapat selesai berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. M. Dra. Kasmadi IS. M.Si. M. Drs.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. M. Semua pihak yang telah membantu dan memberikan masukan bagi penyusunan skripsi ini. atas limpahan rahmat. Murbangun Nuswowati. Agustus 2006 Penulis vi . selaku Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang 7.S. Dra. Drs. M. Nanik Wijayati. Apt. Edy Cahyono. Dra. Semarang. hidatah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul ”Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI Melalui Model Pembelajaran dengan Pendekatan IBL (Inquiry-Based Learning) Di SMA 12 Semarang”.Si selaku Penguji yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana 4.

31. dan III berturutturut adalah 72. kreativitas guru perlu ditingkatkan untuk menjadikan model pembelajaran dengan pendekatan IBL lebih menarik. II. Rata-rata hasil belajar afektif siklus I. data hasil belajar afektif diperoleh dari hasil angket siswa. Tiap siklus terdiri dari perencanaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui peningkatan hasil belajar kimia siswa dengan menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan IBL.21% dan rata-rata nilai untuk materi Stoikiometri adalah 61. Skripsi.61 dengan ketuntasan klasikal 27. pelaksanaan. Fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.39.72%.31. Disarankan agar dalam penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL hendaknya guru harus bisa memotivasi siswa agar aktif dalam proses pembelajaran baik di kelas maupun di laboratorium. UNNES. dan refleksi. Hal ini disebabkan karena pembelajaran didominasi dengan metode ceramah yang berpusat pada guru. Permasalahan dalam penelitian ini adalah rendahnya hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang tahun ajaran 2005/2006. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dapat meningkat melalui penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL. 77. pengamatan. Pendekatan IBL Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMA 12 Semarang ternyata hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang masih rendah yaitu nilai rata-rata untuk materi larutan asam dan basa adalah 56. dan 78. Kata kunci: Hasil belajar. (2) bagi guru dapat menambah informasi tentang penelitian tindakan kelas yang cocok untuk mata pelajaran kimia dan adanya inovasi model pembelajaran kimia oleh guru yang menitik beratkan pada pendekatan IBL. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas XI Melalui Model Pembelajaran Dengan Pendekatan IBL (InquiryBased Learning) Di SMA 12 Semarang.58%. Pada siklus II mencapai 86. Apakah penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa?.91% menjadi 77.77 dengan ketuntasan klasikal 100%. Jurusan Kimia.42 dengan ketuntasan klasikal 83. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa. 85% siswa mencapai ketuntasan belajar minimal 65%. Dengan menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan IBL siswa diberi tugas untuk membuat pertanyaan yang disertai dengan jawaban. Dari hasil penelitian. perlunya penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA tersebut. vii . 2006. 76. dan 80. FMIPA. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat: (1) bagi siswa hasil belajar siswa kelas XI SMA 12 Semarang dalam mata pelajaran kimia meningkat dan pemahaman siswa terhadap konsep kimia meningkat. Pada siklus III mencapai 89. dan III berturut-turut adalah 72. rata-rata hasil belajar kognitif pada siklus I meningkat dari 47. Sedangkan rata-rata hasil belajar psikomotorik pada siklus I.SARI Ariyani.16 dengan ketuntasan klasikal 25.74 dengan ketuntasan klasikal 37.78. II. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Rosyda Safrida. Indikator keberhasilan penelitian ini dilihat hasil belajar siswa yaitu secara klasikal. melakukan penyelidikan dan akhirnya menemukan sendiri konsep-konsep materi yang dibahas. Data hasil belajar kognitif diperoleh dari nilai tes di akhir siklus.89 dengan ketuntasan klasikal 100%. sedangkan data hasil belajar psikomotorik diperoleh dari hasil observasi. (3) bagi sekolah sebagai masukan kepada sekolah tempat penelitian. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang.09.

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING .................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................... iii PERNYATAAN................................................................................................. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN .................................................................... v KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi SARI .................................................................................................................. vii DAFTAR ISI ..................................................................................................... viii DAFTAR TABEL ............................................................................................. x DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................. 1 B. Identifikasi Masalah ..................................................................... 3 C. Permasalahan ............................................................................... 4 D. Cara Pemecahan Masalah ............................................................ 4 E. Tujuan Penelitian ......................................................................... 5 F. Manfaat Hasil Penelitian .............................................................. 5 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Belajar dan Hasil Belajar ................................ 7 1. Pengertian Belajar ................................................................... 7 2. Prinsip-Prinsip Belajar ............................................................ 8 3. Hasil Belajar ............................................................................ 9 4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar ...................................................................................... 11 B. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Dengan Pendekatan IBL .............................................................................................. 11 C. Tinjauan Tentang Sistem Koloid ................................................. 17

viii

D. Dukungan Konseptual................................................................... 26 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ........................................................................... 29 B. Subyek Penelitian .......................................................................... 29 C. Fokus Penelitian ............................................................................ 29 D. Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas .................................... 29 E. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 34 F. Uji Alat Evaluasi ............................................................................ 35 G. Analisis Data ................................................................................. 39 H. Indikator Kerja .............................................................................. 40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ............................................................................ 41 1. Hasil Uji Alat Evaluasi ............................................................. 41 2. Observasi Awal ........................................................................ 43 2. Siklus I ..................................................................................... 44 3. Siklus II .................................................................................... 50 4. Siklus III ................................................................................... 55 B. Pembahasan .................................................................................. 60 BAB V PENUTUP A. Simpulan ...................................................................................... 66 B. Saran ............................................................................................. 67 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 68 LAMPIRAN ...................................................................................................... 70

ix

DAFTAR TABEL Tabel Halaman

1. Jenis dan Tingkatan Inkuiri .............................................................. 13 2. Perbedaan Larutan, Koloid, dan Suspensi ......................................... 17 3. Jenis-jenis Koloid .............................................................................. 18 4. Perbandingan sifat sol hidrofil dan sol hidrofob ................................ 23 5. Hasil analisis Validitas soal uji coba ................................................. 41 6. Hasil analisis Indeks Kesukaran soal uji coba ................................... 42 7. Hasil analisis Daya Pembeda soal uji coba ........................................ 42 8. Hasil analisis Reliabilitas soal uji coba ............................................. 43 9. Kriteria Soal ....................................................................................... 43 10. Ringkasan Hasil Belajar Kognitif Siswa ............................................ 59 11. Ringkasan Hasil Belajar Afekitif Siswa ............................................. 59 12. Ringkasan Hasil Belajar Psikomotorik Siswa .................................... 60

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Spiral Penelitian Tindakan Kelas ......................................................... 30 2. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Belajar Kognitif Siswa Siklus I ......... 46 3. Histogram Ketuntasan Belajar Klasikal siklus I ................................... 47 4. Hasil Belajar Afektif Siswa Siklus I ...................................................... 47 5. Hasil BelajarPsikomotorik Siswa Siklus I ............................................. 48 6. Histogram Keaktifan Siswa Siklus I ..................................................... 47 7. Histogram Nilai Rata-rata hasil belajar kognitif siswa siklus II ........... 51 8. Histogram Ketuntasan Belajar Klasikal siklus II .................................. 51 9. Hasil Belajar Afektif Siswa Siklus II..................................................... 52 10. Hasil Belajar Psikomotorik Siswa Siklus II........................................... 53 11. Histogram Keaktifan Siswa Siklus II .................................................... 53 12. Histogram Nilai Rata-rata hasil belajar Kognitif Siswa Siklus III ....... 55 13. Histogram Ketuntasan Belajar Klasikal III ........................................... 56 14. Hasil Belajar Afektif Siswa Siklus II..................................................... 57 15. Hasil BelajarPsikomotorik Siswa Siklus II............................................ 58 16. Histogram Keaktifan Siswa Siklus I ..................................................... 58

xi

.. 100 16.......................................................... 97 13................ Penilaian Afektif Siklus II ................ Rekapitulasi hasil Analisis Soal Uji Coba Siklus I ....... 101 17..................................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1......................... Daftar Nilai Siswa SMA 12 Semarang tahun Pelajaran 2005/2006 Halaman materi larutan asam basa dan stoikiometri ................................. 110 21... 94 11........... Perhitungan Reliabilitas Butir Soal Siklus I ........ 121 26................. 74 6............................................... 71 3.............. 96 12.................... 72 4....................................................... Rekapitulasi hasil Analisis Soal Uji Coba Siklus III ............................... 98 14............................. 105 19.......................... II........................... Perhitungan Validitas Butir Soal Siklus I ............................................. Rencana Pembelajaran 1 ........................ Rekapitulasi hasil Analisis Soal Uji Coba Siklus II ....................... 70 2........................ Kisi-kisi Soal Tes Uji Coba Siklus I ........... Perhitungan Tingkat Kesukaran Butir Soal Siklus I ............................ 102 18..... Lembar Kerja Siswa (Perbedaan Larutan..................................... Rencana Pembelajaran 6 ..................................................... Rencana Pembelajaran 2 ......... 115 23...... 79 7....... Lembar Kerja Siswa (Pembuatan Koloid) ........................ 99 15.......................................................... 107 20.............. 119 25....................... Contoh Hasil Analisis Uji Coba Soal Siklus I ..... Kunci Jawaban Soal Uji Coba Siklus I........... Kisi-kisi Soal Tes Uji Coba Siklus II ....................... 73 5............... Koloid dan Suspensi) .......... 91 10....... Rencana Pembelajaran 5 .................................. Rencana Pembelajaran 3 .......................... 125 xii ............................... Rencana Pembelajaran 4 ........................................... III .... Soal Uji Coba Siklus I ................................................... 85 8........................................ 90 9......................................... 117 24............... Lembar Kerja Siswa (Sifat Koloid) ......... 113 22.... Perhitungan Daya Pembeda Butir Soal Siklus I ... Kisi-kisi Soal Tes Uji Coba Siklus III ... Soal Uji Coba Siklus III ......................... Penilaian Afektif Siklus I .............................................................................................................. Soal Uji Coba Siklus II ........ 123 27................................

................. Surat Ijin Penelitian ... 135 36............................................... 138 xiii ............ 137 38........... 129 30..................................................... Data Nilai Kognitif Siswa ............... 127 29........................................................................................................ Data Nilai Psikomotorik Siswa .................................................... 130 31............................................. Kisi-kisi Penilaian Psikomotorik Siswa ...................28....... Data Hasil Observasi Pelaksanaan Tindakan Guru .............................. Data Hasil Observasi Keaktifan Siswa ......... Pedoman Penskoran Penilaian Afektif ..... Data Hasil Angket Refleksi Siswa ......... 134 35................................................... 136 37........... 133 34................................................................. Penilaian Afektif Siklus III ..... 131 32.............. Foto Kegiatan Pembelajaran ................................. 132 33..................... Data Nilai Afektif Siswa ......

21% dan rata-rata nilai untuk materi stoikiometri adalah 61.74 dengan ketuntasan klasikal 37. antara lain: a. Akibatnya siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak dilatih untuk menemukan pengetahuan dan konsep.58%. Kesulitan mengaitkan konsep dengan kehidupan sehari-hari yang mereka alami atau di lingkungan sekitar. Latar Belakang Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan di SMA 12 Semarang ternyata hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang masih rendah yaitu nilai rata-rata untuk materi larutan asam dan basa adalah 56. Kesulitan dalam hitungan kimia karena kurangnya latihan c. Kesulitan dalam memahami dan menghafal konsep kimia yang abstrak b. Hal ini disebabkan karena pembelajaran didominasi dengan metode ceramah yang berpusat pada guru.16 dengan ketuntasan klasikal 25.1 BAB I PENDAHULUAN A. Guru lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa. Hasil wawancara dengan siswa (tahun 2006) tentang permasalahan dalam mata pelajaran kimia. . Rendahnya hasil belajar kimia di kelas SMA 12 Semarang tersebut menunjukkan rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep kimia. sehingga siswa cenderung lebih cepat bosan dalam mengikuti pelajaran yang berdampak pada rendahnya hasil belajar.

Kaliangkrek Tahun Pelajaran 2004/2005 hasil belajarnya juga meningkat. ternyata hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan. salah satunya adalah dengan menerapkan metode pembelajaran dengan pendekatan IBL. Umiyati yang meneliti penerapan pembelajaran Inkuiri terbimbing untuk meningkatkan hasil belajar Sains pokok bahasan Cahaya pada siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri Ngijo 03 Tahun Ajaran 2004/2005 juga menunjukkan hasil belajar yang meningkat. Penelitian dengan menggunakan pendekatan IBL ini pernah dilakukan oleh Amin Suyitno yang mengeksperimenkan tentang penggunaan model pembelajaran dengan pendekatan IBL sebagai strategi yang berasosiasi dengan CTL (Contextual Teaching and Learning) di SMP 2 Semarang kelas II program percepatan. Selain itu.2 Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan melakukan terobosan dalam pembelajaran kimia sehingga tidak menyajikan materi yang bersifat abstrak tetapi juga harus melibatkan siswa secara langsung di dalam pembelajaran. Pendekatan ini diharapkan dapat menarik minat siswa untuk belajar kimia sehingga diharapkan hasil belajarnya akan meningkat. kemudian dengan informasi yang mereka dapat siswa melakukan percobaan untuk . Penelitian lain oleh Siti Kotijah menunjukkan bahwa dengan metode penemuan terbimbing pada pokok bahasan bangun segi empat siswa kelas VII MTs. karena siswa diajak langsung untuk mencari informasi. Perbedaan penelitian ini dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah siswa lebih diaktifkan dalam mencari informasi dan pengetahuan mengenai materi dengan jalan siswa membuat soal yang disertai dengan jawabannya. melakukan penyelidikan atau percobaan untuk menemukan konsep tentang materi pelajaran.

Pada akhir kegiatan. Pemahaman konsep dan daya serap siswa masih rendah c. B.74 dengan ketuntasan klasikal 37. siswa menyimpulkan konsep materi yang dibahas. Hasil belajar kimia masih di bawah tuntutan kurikulum. peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul“ Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Kimia Melalui Model Pembelajaran dengan Pendekatan IBL (Inquiry Based-Learning) pada Kelas XI SMA 12 Semarang”. Kurang mengoptimalkan sarana dan prasarana yang tersedia . Kondisi Guru a. Dengan kegiatan ini diharapkan pemahaman siswa akan meningkat yang berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa. Identifikasi Masalah Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh: 1.3 membuktikan teori yang ditemukan oleh para ahli.21% sedangkan untuk materi Stoikiometri adalah 61. Cara mengajar masih dilakukan secara konvensional b. Kondisi siswa a. Masih banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran kimia sulit d. yaitu rata-rata hasil ulangan untuk materi Larutan Asam dan Basa adalah 56. Berdasarkan latar belakang diatas. 2. Potensi siswa belum dimanfaatkan secara optimal. Semangat belajar siswa kurang b.16 dengan ketuntasan klasikal 28.58% e.

Permasalahan Berdasarkan observasi didapatkan bahwa hasil belajar kimia pada kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang tahun 2005/2006 masih rendah. Kemudian siswa melakukan percobaan. alat evaluasi. . Cara Pemecahan Masalah Cara pemecahan masalah diatas adalah dengan memperbaiki pembelajaran yang masih bersifat konvensional menjadi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning) dengan menerapkan pendekatan IBL. Dalam hal ini peneliti mempersiapkan rencana pembelajaran. Pembelajaran didominasi dengan metode ceramah b. dari kegiatan ini kemudian siswa menyimpulkan konsep materi dengan bimbingan dari guru. Penerapan metode yang mengaktifkan siswa masih kurang sehingga pembelajaran dua arah belum terjadi c. kurang antusias C. Langkah-Langkah Pemecahan Masalah adalah sebagai berikut: 1.4 3. lembar observasi. Apakah penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL dapat meningkatkan hasil belajar siswa? D. tugas untuk siswa. Siswa bersikap pasif. Membuat rencana pengajaran yang dirancang sebagai penelitian tindakan kelas. Kondisi Proses Pembelajaran a. Melaksanakan tindakan yaitu siswa diberi tugas mandiri untuk membuat pertanyaan yang disertai jawabannya tentang materi yang dibahas. lembar kerja siswa. 2.

F. Tujuan Penelitian 1. Pemahaman siswa terhadap konsep kimia meningkat . E. Tujuan Umum Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar kimia siswa kelas XI melalui model pembelajaran dengan pendekatan IBL . 2. Tujuan Khusus Secara khusus tujuan penelitian ini adalah siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran dengan mendapat nilai minimal 65 dan sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa mampu mencapai batas minimal tersebut. Manfaat Hasil Penelitian Manfaat hasil penelitian yang diharapkan adalah sebagai berikut: 1. Dari pelaksanaan dan observasi oleh pengamat kemudian ditindaklanjuti dengan refleksi untuk pelaksanaan siklus berikutnya. Bagi Siswa a. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam tiga siklus dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2006.5 3. Hasil belajar siswa kelas XI SMA 12 Semarang dalam mata pelajaran kimia meningkat. b. Siklus berikutnya pada dasarnya merupakan perbaikan hasil tindakan pada siklus sebelumnya. Demikian seterusnya sampai peneliti mengetahui adanya peningkatan hasil belajar selama proses pembelajaran.

Menambah informasi tentang penelitian tindakan kelas yang cocok untuk mata pelajaran kimia. Bagi Sekolah Sebagai masukan kepada sekolah tempat penelitian. . perlunya penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan prestasi belajar siswa SMA tersebut. 3. b. Bagi Guru a. Adanya inovasi model pembelajaran kimia oleh guru yang menitik beratkan pada pendekatan IBL.6 2.

Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. mereka mengemukakan definisi belajar menurut pendapat mereka masing-masing. Oleh karena itu. kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Slameto (2003:2) mengemukakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan. Siswa akan mendapat pengalaman dengan menempuh langkah-langkah atau prosedur yang disebut belajar. setiap guru perlu memahami sebaik-baiknya tentang proses belajar murid agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi murid-murid.7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Belajar Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Jadi belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan. Hamalik (2003:16) mengemukakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Tinjauan Tentang Belajar dan Hasil Belajar 1. Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan oleh para ahli pendidikan. 7 .

pengetahuan dan sikap-sikap. Oleh sebab itu apabila setelah belajar peserta didik tidak ada perubahan dalam tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah maka dikatakan bahwa belajarnya belum sempurna. Berdasarkan prasyarat yang diperlukan untuk belajar 1) dalam belajar setiap siswa harus diusahakan partisipasi aktif. meningkatkan minat dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional 2) belajar dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional b). Berdasarkan beberapa definisi tentang belajar diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya. maka harus tahap demi tahap menurut perkembangannya 2) belajar adalah proses organisasi. adaptasi. belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan.8 Dalam situs internet http://artikel. Sesuai hakikat belajar 1) belajar itu proses kontinyu. 2. Prinsip-Prinsip Belajar Menurut Slameto (2003: 27-28) prinsip-prinsip belajar meliputi: a).html. eksplorasi dan discovery .us/art05-65.

Syarat keberhasilan belajar 1) belajar memerlukan sarana yang cukup. sehingga siswa dapat belajar dengan tenang 2) repetisi dalam proses belajar perlu ulangan berkali-kali agar pengertian/ ketrampilan/sikap itu mendalam pada siswa 3. Menurut Sudjana (1989: 22) hasil belajar dibagi dalam tiga ranah yaitu: . sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya 2) belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksioanl yang harus dicapainya d). Hasil belajar merupakan hal yang penting yang akan dijadikan sebagai tolak ukur sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam belajar. penyajian yang sederhana. Dari hasil belajar. Stimulus yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan c). Hasil Belajar Sudjana (1989:22) menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuankemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. untuk selanjutnya bisa diterapkan atau tidak dalam proses pembelajaran. Sesuai materi yang harus dipelajari 1) belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur.9 3) belajar adalah proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. guru dapat menilai apakah sistem pembelajaran yang diberikan berhasil atau tidak.

. Ranah Afektif Berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan. keharmonisan/ ketepatan. penilaian. Ranah Kognitif Berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri atas enam aspek yaitu pengetahuan/ ingatan. dan evaluasi. Ranah Psikomotorik Berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. kemampuan perseptual. Dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa hasil belajar kimia adalah kemampuan yang telah dicapai siswa baik kemampuan kognitif. afektif dan psikomotorik. pemahaman. aplikasi. Ada enam aspek ranah psikomotorik. yaitu gerakan refleks. Hasil belajar psikomotorik siswa berkaitan dengan keterampilan dan kemampuan bertindak siswa untuk pelajaran kimia. hasil belajar psikomotorik siswa diperoleh dari hasil pengamatan terhadap keterampilan siswa ketika melakukan percobaan atau eksperimen. dan gerakan ekspresif dan interpretatif. keterampilan gerakan dasar. gerakan keterampilan kompleks. sintesis. Hasil belajar kognitif berasal dari nilai ulangan harian atau nilai ulangan semester dari siswa. diperoleh dari hasil angket. analisis. Tetapi untuk kurikulum 2004 sekarang. organisasi. afektif dan psikomotorik setelah mengalami proses belajar. jawaban atau reaksi. dan internalisasi.10 a. Pada kurikulum 1994 hanya hasil belajar kognitif yang dijadikan tolak ukur keberhasilan siswa dalam belajar. Sedangkan untuk hasil belajar afektif siswa. hasil belajar siswa meliputi hasil belajar kognitif. b. c.

11 4. relasi antar anggota keluarga. Sedangkan menurut Gulo (2005:84) inkuiri berarti pertanyaan atau pemeriksaan. kurikulum. alat pelajaran. keadaan gedung. menanyakan keterangan. Inquiry is defined as a seeking for truth. disiplin sekolah.org/edonline/consept2class/inquiry/index. pengertian orang tua). Tinjauan Tentang Model Pembelajaran dengan Pendekatan IBL 1. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu. keadaan ekonomi keluarga. waktu sekolah. relasi siswa dengan siswa. suasana rumah. information or knowledge ---seeking information by . metode belajar. penyelidikan. Dalam situs internet http://www. bakat. relasi guru dengan siswa. faktor sekolah (metode mengajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya tetapi secara umum dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu faktor intern dan faktor ekstern.html. perhatian. tugas rumah) dan faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat. standar belajar diatas ukuran. faktor intern meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis (intelegensi. Pengertian Pendekatan IBL Kata “Inquiry” berasal dari Bahasa Inggris yang berarti mengadakan penyelidikan. minat. thirteen. bentuk kehidupan masyarakat) B. 2003: 323). motif. Faktor ekstern meliputi faktor keluarga (cara orang tua mendidik. melakukan pemeriksaan (Echols dan Hassan Shadily. kematangan dan kesiapan) b. a. mass media. teman bergaul.

antara lain: tanya jawab. dari yang paling sederhana sampai kepada yang ideal. 2. . Pembelajaran dengan pendekatan IBL selalu mengusahakan agar siswa selalu aktif secara mental maupun fisik. diskusi. atau mempelajari suatu gejala. seperti yang terlihat dalam tabel 1. Apapun metode yang dipilih hendaknya tetap mencerminkan ciriciri pembelajaran dengan pendekatan inkuiri. mencari pengetahuan (informasi). Ada beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan dengan pendekatan inkuiri. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberitahukan dan diterima oleh siswa. eksperimen dan lain-lain. Sasaran utama kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan IBL ini adalah: 1). tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru. Pembelajaran dengan pendekatan inkuiri dapat menggunakan berbagai macam metode. Mengembangkan sikap percaya pada diri sendiri (self-belief) pada diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses inkuiri.12 questioning. Jenis dan Tingkatan dari Inkuiri Menurut Susanto (2004) ada beberapa jenis/ tingkatan inkuiri. Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar mengajar 2). Pendekatan IBL adalah suatu pendekatan yang digunakan dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan. demonstrasi.

Tidak diberi pertolongan pada tahap apapun Kesimpulan Kesimpulan I T Dibantu dalam penyelidikan pemecahan masalah. Jenis dan Tingkatan Inkuiri A. B. Dibimbing penuh dalam memformulasikan dan mendefinisikan masalah S C.13 Tabel 1. Kesimpulan tidak ditetapkan sebelumnya U A S Kesimpulan I Tidak diberi pertolongan dalam penyelidikan pemecahan masalah Kesimpulan . Dibimbing penuh dalam tahap pendek. Dibimbing penuh dalam memformulasikan masalah dan mendefinisikan masalah F. Diberi beberapa pertolongan dalam memformulasikan masalah dan mendefinisikan masalah G. Kesimpulan sudah ditetapkan lebih dulu. Diberi beberapa pertolongan dalam memformulasikan dan mendefinisikan masalah D. Tidak diberi pertolongan dalam memformulasikan masalah dan mendefinisikan masalah E.

sedangkan siswa hanya sebagai subjek yang harus menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Model pembelajaran IBL dapat dilakukan dengan cara guru membagi tugas untuk membuat pertanyaan yang disertai dengan jawabannya. Setelah hasil kerja mereka dalam kelompok didiskusikan. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. 3. Kemudian mereka mempelajari.14 Dalam penelitian ini. guru dianggap sebagai sumber informasi. kemudian guru juga memberi tugas untuk meneliti suatu masalah ke kelas. dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kesimpulan tidak ditetapkan sebelumnya. kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik. guru lebih aktif sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa. Dari diskusi kelas inilah kesimpulan akan dirumuskan sebagai konsep materi yang sedang dibahas. Dalam kegiatan ini guru menyediakan petunjuk yang cukup luas kepada siswa dan sebagian perencanaannya dibuat oleh guru. Akhirnya hasil laporan kerja kelompok dilaporkan dalam diskusi kelas. Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan IBL Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. kemudian baru pada tahap selanjutnya kesimpulan diambil. Akibatnya siswa memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak pernah dilatih untuk menemukan pengetahuan dan . yaitu siswa diberi beberapa pertolongan dalam memformulasikan dan mendefinisikan masalah kemudian dibantu dalam penyelidikan pemecahan masalah. tingkatan inkuiri yang dipilih adalah tipe C. meneliti dan membahas tugasnya didalam kelompok.

b. f. Situasi proses belajar menjadi merangsang. Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru. d. karena dengan pendekatan ini siswa dilibatkan secara aktif dalam kegiatan. Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. j. sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik. g. serta cepat lupa dengan materi pelajaran yang diajarkan. i. Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri. bersikap obyektif. Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa.15 konsep sehingga siswa cenderung lebih cepat bosan dalam mengikuti pelajaran. Adapun kelebihan model pembelajaran dengan pendekatan IBL ini menurut Roestiyah (2001: 76-77) adalah: a. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri. e. Siswa dapat menghindari dari cara-cara belajar yang tradisional. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri. h. Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik. Masalah demikian dapat diatasi dengan cara menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan IBL dalam kegiatan pembelajaran. . jujur dan terbuka. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa model pembelajaran IBL mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode ceramah. c. Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.

4. yang memberi rangsangan agar siswa aktif dalam berfikir b. Sebagai rewarder.16 Disamping kelebihan yang telah disebutkan diatas. Perlu adanya proses penyesuaian/adaptasi dari metode tradisional ke pendekatan ini. b. Sebagai pengarah. Diharuskan adanya kesiapan mental pada siswa. Sebagai administrator. Sebagai motivator. Sebagai fasilitator. yang memberi penghargaan pada prestasi yang dicapai dalam rangka peningkatan belajar siswa. waktu dan organisasi kelas. e. yang bertanggung jawab terhadap kegiatan di kelas. Sebagai manager. . diantaranya: a. yang memimpin arus kegiatan berfikir siswa ke tujuan yang diharapkan. c. Peran Guru dalam Pembelajaran dengan Pendekatan IBL Menurut Gulo (2005: 86-87) guru dalam menciptakan kondisi belajar dengan pendekatan inkuiri mempunyai berbagai macam peran. yang menunjukkan jalan keluar jika ada hambatan dalam proses berfikir siswa. Sebagai penanya. pendekatan IBL juga mempunyai kekurangan antara lain: a. g. yang mengelola sumber belajar. d. untuk menyadarkan siswa dari kekeliruan yang mereka perbuat dan memberi keyakinan pada diri sendiri. f.

J. Rachmawati. fase terdispersi yaitu zat yang didispersikan ke dalam zat lain b. tak dapat dibedakan walaupun dengan menggunakan mikroskop ultra <10-7 cm satu fase stabil tidak dapat disaring Koloid Secara makroskopis bersifat homogen tetapi heterogen jika diamati dengan mikroskop ultra 10-7 – 10-5 cm dua fase pada umumnya stabil tidak dapat disaring. kecuali dengan menggunakan mikroskop ultra susu santan cat Suspensi Heterogen Bentuk campuran Ukuran partikel Jumlah fase Kestabilan Penyaringan >10-5 cm dua fase tidak stabil dapat disaring Contoh Larutan gula Larutan garam Larutan cuka pasir dengan air tanah dengan air kopi dan air . Koloid. dan Suspensi Larutan sejati Homogen. koloid.M.17 C. yaitu: a. Pengertian Sistem Koloid Sistem koloid adalah suatu campuran zat yang terdiri dari fase terdispersi dan medium pendispersi dimana partikel-partikel fase terdispersi yang berukuran koloid tersebar merata dalam medium pendispersinya (Johari . Tinjauan tentang Sistem Koloid 1. dan M. 2004:300). dan suspensi kasar disimpulkan pada tabel 2 sebagai berikut: Tabel 2. Perbedaan Larutan.C. medium pendispersi yaitu fase yang digunakan untuk mendispersikan Perbedaan antara larutan sejati. Komponen koloid dibagi menjadi dua macam.

Penggunaan Koloid Dalam kenyataannya. dan jeli. . bahan bangunan. yaitu susu. krim salad. seperti pada tabel 3 sebagai berikut: Tabel 3. baik sebagai bahan makanan. cat kayu. Jenis-jenis Koloid Fase terdispersi Gas Gas Cair Cair Cair Padat Padat Padat Medium pendispersi Cair Padat Gas Cair Padat Gas Cair Padat Jenis koloid Buih Buih padat Aerosol cair Emulsi Emulsi padat Aerosol padat Sol Sol padat Contoh Busa sabun Krim kocok Batu apung Karet busa Kabut Awan Susu Santan Mentega Keju Asap Debu Sol emas Tinta Gelas berwarna Intan hitam 3. Contoh sistem koloid yang berupa bahan makanan. lem kayu. Dalam bahan bangunan. dan lem plastik. mayones. maupun produk-produk lain. misalnya cat tembok. Dalam industri farmasi. banyak hasil dari produk industri yang diperlukan dalam kehidupan sekarang ini berupa zat-zat yang berupa koloid. Jenis-jenis Koloid Berdasarkan fase terdispersi dam medium pendispersinya. contohnya kapsul dari gelatin dan emulsi obat-obatan yang distabilisasi dengan protein. cat besi.18 2. koloid dapat dibedakan menjadi delapan golongan. margarin. lem kaca.

Contoh: 1). Efek Tyndall Efek Tyndall adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid jika seberkas cahaya dilewatkan pada koloid. Gerak Brown Gerak Brown adalah gerakan acak dari partikel koloid dalam medium pendispersinya. 4. . sehingga dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama. terutama dalam bentuk cairan. Berkas cahaya proyektor tampak jelas di gedung bioskop yang banyak asap rokoknya 3). Sifat-sifat Koloid a). Cahaya matahari jelas sekali berkasnya si sela-sela pohon yang sekitarnya berkabut 2). Gerak Brown terjadi akibat tumbukan yang tidak seimbang antara molekul medium terhadap partikel koloid. Sorot cahaya lampu mobil berkasnya tampak jelas pada daerah yang berkabut b).19 Mengapa sistem koloid digunakan dalam produk industri? Salah satu ciri khas koloid yaitu partikel padat dari suatu zat dapat tersuspensi dalam zat lain. Disamping itu juga bersifat stabil. Penggunaan koloid juga dapat menghasilkan campuran hasil industri tanpa saling melarutkan secara homogen. Hal ini merupakan dasar dari berbagai hasil industri yang dibutuhkan manusia.

Contoh: 1). Koagulasi Koagulasi adalah peristiwa penggumpalan partikel koloid. Elektroforesis dapat digunakan untuk menentukan jenis muatan koloid. Pengikatan atau penyerapan terhadap ion positif/ ion negatif dari partikel koloid menyebabkan koloid bermuatan listik. Pemutihan gula tebu d). dengan penambahan larutan elektrolit . Penyembuhan sakit perut yang disebabkan oleh bakteri 3).20 c). pendinginan. Koloid Fe(OH)3 dalam air akan menyerap ion H+ sehingga bermuatan positif 2). pengadukan 2) Cara kimia. e). Koagulasi dapat terjadi dengan tiga cara: 1) Cara mekanik. misal: pemanasan. Contoh: 1). Koloid As2S3 dalam air akan menyerap ion S2-sehingga bermuatan negatif Sifat adsorbsi partikel koloid sangat penting karena berdasarkan sifat tersebut banyak manfaat yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Elektroforesis Elektroforesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektrode. Adsorbsi Adsorbsi adalah peristiwa penyerapan pada permukaan koloid. Penjernihan air 2).

Pada pembuatan As2S3 terdapat ion H+ dan S2- . misalAl(OH)3 bermuatan positif dicampur dengan As2S3 yang bermuatan negatif maka akan membentuk endapan Contoh peristiwa koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industri.dan H+ b). antara lain: 1) Pembentukan delta di muara sungai terjadi karena koloid tanah liat (lempung) dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut 2) Karet dalam lateks digumpalkan dengan menambahkan asam format 3) Asap atau debu dari pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik dari Cottrel f). Contoh: a). Koloid Pelindung Koloid pelindung adalah koloid yang ditambahkan ke dalam sistem koloid agar menjadi stabil. Dialisis Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatan-muatan yang menempel pada permukaan. Tujuan dialisis untuk menghindari koagulasi dari ionion pengganggu. Pada pembuatan sol Fe(OH)3 terdapat ion Cl.21 3) Percampuran dua koloid yang berbeda muatan. Contoh: Penambahan gelatin pada pembuatan es krim 5.

Ginjal yang berfungsi sebagai selaput semi permeabel dapat melewatkan ion-ion atau molekul-molekul sederhana yang mengotori darah. Contoh: sabun. Prinsip dialisis saat ini digunakan sebagai proses cuci darah bagi penderita gagal ginjal. bagian luar terus menerus dialiri air. tetapi tidak dapat melewatkan butir-butir darah yang bersifat koloid. sol Fe(OH)3 Jika medium dispersi yang dipakai air.22 Caranya. Contoh: sol belerang. Jika ginjal seseorang rusak maka fungsi ginjal diganti oleh mesin yang disebut dialisator. koloid dimasukkan dialisator. maka disebut koloid hidrofil dan koloid liofob. Perbandingan antara sol hidrofil dan sol hidrofob disajikan dalam tabel 4. . 6. zat yang terdapat koloid misal ion-ion dan molekul dapat menembus membran semi permeabel sehingga dalam dialisator tinggal koloidnya saja. detergen. Koloid liofob mempunyai gaya tarik-menarik sangat lemah atau tidak ada sama sekali. Koloid liofil mempunyai gaya tarik-menarik yang cukup besar antara zat terdispersi dengan mediumnya. sol emas. Koloid liofil dan liofob Koloid liofil adalah koloid sol dengan partikel koloid sebagai fase terdispersi suka pada pendispersinya. agar-agar dalam air Koloid liofob adalah koloid sol dengan partikel koloid tidak senang atau takut pada cairannya. yang dikenal dengan blood dialysis.

Pasir berfungsi sebagai penyaring. a. pasir. Klorin atau kaporit berfungsi sebagai pembasmi hama. Membersihkan dari kekeruhan/ proses koagulasi Untuk mengendapkan kotoran dibubuhi tawas K2SO4 Al2(SO4)3. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pengolahan air adalah tawas. Pengolahan air secara sederhana 1).(Purba. Pengolahan Air Kotor Pengolahan air kotor didasarkan pada sifat-sifat koloid. klorin atau kaporit. 24H2O . kapur tohor. yaitu koagulasi dan adsorbsi. Tawas berguna untuk menggumpalkan lumpur koloidal sehingga lebih mudah disaring. Tawas juga membentuk koloid Al(OH)3 yang dapat mengadsorbsi zat-zat warna atau zat-zat pencemar.23 Tabel 4. sedangkan kapur tohor berguna untuk menaikkan pH. 2004:159). dan karbon aktif. Perbandingan sifat sol hidrofil dan sol hidrofob Sol hidrofil Mengadsorbsi mediumnya Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relatif besar Tidak mudah digumpalkan dengan penambahan elektrolit Viskositas lebih besar daripada mediumnya Bersifat reversible Efek Tyndall lemah Koloid organik Gerak brown tidak jelas Sol hidrofob Tidak mengadsorbsi mediumnya Hanya stabil pada konsentrasi kecil Mudah menggumpal pada penambahan elektrolit Viskositas hampir sama dengan mediumnya Tidak reversible Efek Tyndall lebih jelas Umumnya koloid anorganik Gerak Brown jelas 7. yaitu untuk menetralkan keasaman yang terjadi karena penggunaan tawas. Apabila tingkat kekeruhan air yang diolah terlalu tinggi maka digunakan karbon aktif disamping tawas.

6). Air dialirkan ke bak ventury. kerikil. 3). molekul-molekul. . Dialirkan ke bak acelator. Pengolahan air di Perusahaan Air Minum 1). 5). 3). Air yang sudah memenuhi standar air bersih dialirkan ke dalam reservoir. 4). Membersihkan dari kuman/ desinfeksi Proses desinfeksi dengan menambah kaporit Ca(OCl)2. atom-atom. -:63). 2). Penyaring yang digunakan berupa lapisan pasir.24 Gumpalan yang terjadi karena proses koagulasi dipisahkan dengan penyaringan. kemudian ke konsumen (Nur’aini dan Cahyono. Air yang cukup bersih ditampung dalam bak siphon. 2). untuk menghilangkan bau klor digunakan arang. 8. b. terjadi proses koagulasi. Pembuatan Koloid a) Cara kondensasi adalah pembuatan koloid dengan menggabungkan ion-ion. atau partikel yang lebih halus membentuk partikel yang lebih besar dan sesuai dengan ukuran partikel koloid. di siniditambah kapur untuk menaikkan pH dan gas klorin untuk mematikan hama. tahap ini ditambah tawas dan gas klorin. Air yang sudah setengah bersih dialirkan ke bak saringan pasir. dan ijuk. -:63). Membersihkan dari zat-zat kimia Untuk menghilangkan rasa anyir pada air yang mengandung zat besi atau mangan dapat menggunakan kapur (Nur’aini dan Cahyono. Air sungai dipompakan ke dalam bak prasedimentasi dan dibiarkan mengendap.

25 1) Reaksi redoks yaitu reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi. FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3 (koloid) + 3HCl(aq) a). Apabila ke dalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3 akan terbentuk sol Fe(OH)3. . b) Cara dispersi adalah dengan menghaluskan butit-butir zat yang bersifat makroskopis (kasar) menjadi butir-butir zat yang bersifat mikroskopis (halus). Dekomposisi rangkap Contoh: Sol As2S3 dapat dibuat dari reaksi antara larutan H3AsO3 dengan larutan H2S 2H3AsO3(aq) + 3H2S(aq) As2S3 (koloid) + 6H2O(l) 4) Penggantian pelarut Contoh: Apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol akan terbentuk suatu koloid berupa gel. Cara ini dapat dilakukan dengan: 1) Cara mekanik Partikel-partikel yang besar atau kasar digerus sampai halus sekali. Contoh: Pembuatan sol belerang dari reaksi antara H2S dengan SO2. yaitu dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2 2H2S(g) + SO2(aq) 2H2O(l) + 3S(koloid) 2) Hidrolisis yaitu reaksi suatu zat dengan air Contoh: Pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3. sesuai dengan ukuran partikel koloid. kemudian dicampur dengan medium pendispersi.

D. . Contoh: Agar-agar dipeptisasi oleh air Karet dipeptisasi oleh bensin 3) Cara busur Bredig Cara busur bredig digunakan untuk membuat sol-sol logam. Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai elektrode yang dicelupkan dalam medium dispersi. 2) Cara peptisasi Cara peptisasi adalah pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah).26 Contoh: Sol belerang dapat dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama-sama dengan suatu zat inert seperti gula pasir kemudian mencampur serbuk halus itu dengan air. Zat pemeptisasi memecahkan butir-butir kasar menjadi butir-butir koloid. Untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa. guru perlu memilih secara tepat model pembelajaran yang menuntut aktivitas yang tinggi dari para siswa. Jadi cara busur bredig ini merupakan gabungan cara dispersi dan cara kondensasi. lalu atom-atom tersebut mengalami kondensasi sehingga membentuk partikel koloid. kemudian diberi loncatan listrik di antara kedua ujungnya. Mulamula atom-atom logam akan terlempar ke dalam air. Dukungan Konseptual Kurikulum yang berlaku saat ini sangat menuntut adanya aktivitas siswa yang lebih dominan dibanding dengan intervensi guru.

Paradigma diaplikasikan pendidikan yang dikembangkan kimia dengan oleh UNESCO dapat model terhadap dalam pembelajaran menggunakan pembelajaran dengan pendekatan IBL. learning to live together yaitu pengembangan pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menumbuhkan sikap-sikap positif keragaman dan kemajemukan kehidupan. learning to be yaitu pengembangan pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun kepercayaan diri sekaligus membangun jati diri dan kepribadiannya. dimana siswa diberi tugas untuk mencari pengetahuannya sendiri sehingga dalam diri siswa akan tumbuh pemahaman dan pengetahuan yang dibangun oleh diri mereka sendiri. learning to know yaitu pengembangan pembelajaran yang memungkinkan siswa membangun pemahaman dan pengetahuannya. yaitu pengembangan pembelajaran yang akan memberdayakan siswa agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungan.27 Paradigma pendidikan pada tataran nasional difokuskan pada empat pilar pendidikan yang dikembangkan UNESCO yaitu: lerning to do. Proses pembelajaran seperti ini menyiratkan suatu kondisi pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning) (Nurhadi dalam Koestantionah: 2003). Keempat pilar pendidikan diatas dapat dijabarkan dalam pembelajaran yang aktif. kreatif. efektif dan menyenangkan. Dengan pengetahuan tersebut dapat menjadikan tumbuhnya kepercayaan diri pada siswa dan dapat . Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan adalah dengan pendekatan “siswa berusaha menemukan sendiri” atau dapat diistilahkan dengan inkuiri.

The activity results not only increased learning and retention of content but also in improved thinking skills. Hal ini dikuatkan oleh Eggen dan Kauchack dalam Suyitno (2005:9) yang menulis bahwa Effective learning occurs when student are actively in organizing and finding relationship in the information by inquiry. Dengan demikian hasil pengajaran tidak hanya menghasilkan pengetahuan tetapi juga meningkatkan ketrampilan berpikir. Penelitian dengan menggunakan pendekatan IBL pernah dilakukan oleh Amin Suyitno. Siti Kotijah. Siswa tidak hanya menerima materi pengajaran yang diberikan oleh guru melainkan siswa berusaha menggali dan mengembangkannya sendiri. The encounter rather than being passive recipient of teacher-delivered bodies of knowledge. dan Umiyati.28 mereka aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat membantu dalam menjaga dan melestarikan kelangsungan hidup umat manusia beserta lingkungannya. Menurut Suyitno (2005:6) keterlibatan siswa untuk turut belajar aktif melalui merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Penelitian-penelitian tersebut menghasilkan peningkatan hasil belajar siswa. . Dari sini tampak bahwa untuk lebih meningkatkan hasil belajar siswa maka model pembelajaran dengan pendekatan IBL layak diterapkan di kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang .

Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di SMA 12 Semarang yang beralamat di Jalan Raya Gunung Pati Semarang. A. Masing-masing siklus meliputi perencanaan. Prosedur Kerja Penelitian Tindakan Kelas 1. Dari data tersebut kemudian dianalisis melalui beberapa tahapan dalam siklus-siklus tindakan. observasi dan refleksi seperti yang disajikan pada gambar 1. Prosedur Penelitian Prosedur kerja dalam penelitian ini merupakan siklus kegiatan yang terdiri dari tiga siklus. tindakan. C.29 BAB III METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang menggunakan data pengamatan langsung terhadap jalannya proses pembelajaran di kelas. B. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang yang terdiri dari 43 siswa (31 siswa perempuan dan 12 siswa laki-laki). 29 . pada tanggal 26 Mei-8 Juni 2006. Fokus penelitian Fokus yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar kimia D.

Alokasi waktu tiap siklus adalah 4 x 45 menit. Spiral Penelitian Tindakan Kelas (Tim Pelatih Proyek PGSM.30 Plan Reflective Action/ observation Revised Plan Reflective Action/ observation Revised Plan Reflective Action/ observation Gambar 1. Siklus I membahas . 1999: 7) 2. Rencana Tindakan Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus.

Adapun tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut: a. pelaksanaan tindakan. dan refleksi. Perencanaan Pada tahap perencanaan ini dilakukan persiapan yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran inkuiri. pembuatan lembar kerja siswa. pembuatan rencana pembelajaran. siklus II membahas sifat-sifat koloid dan siklus III membahas tentang pembuatan koloid. pembuatan lembar pengamatan siswa dan guru. serta memberikan tes di akhir siklus. membimbing siswa melakukan percobaan. c. seperti identifikasi masalah. Pengumpulan data pada tahap ini meliputi data nilai hasil belajar siswa dan data observasi. b. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan merupakan kegiatan dilaksanakannya skenario pembelajaran yang telah direncanakan. membentuk kelompok. Setiap siklus terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan. pembuatan angket.31 tentang penggolongan koloid dan penggunaannya dalam industri. pengamatan. Adapun tindakan yang dilakukan oleh guru adalah memberi tugas mandiri kepada siswa. d. penyediaan alat yang akan digunakan untuk percobaan. Dengan data observasi. Refleksi Refleksi berkenaan dengan proses dan dampak yang akan dilakukan. Pengamatan Pengamatan adalah suatu kegiatan mengamati jalannya pelaksanaan tindakan untuk memantau sejauh mana efek tindakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan IBL pada pokok materi sistem koloid. guru dapat merefleksi diri apakah dengan pendekatan IBL .

Lembar observasi terdiri dari dua jenis yaitu lembar observasi untuk mengamati kondisi siswa dan lembar observasi untuk mengamati kinerja guru. Observasi dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai guru dan guru mitra secara kolaborasi untuk mengamati kegiatan secara keseluruhan. Merancang skenario pembelajaran dengan pendekatan IBL meliputi rencana pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa. . Menyusun alat evaluasi untuk mengukur penguasaan materi pelajaran baik dari segi kognitif.32 telah dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil dari refleksi adalah diadakannya perbaikan terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan. e. Langkah-langkah Penelitian Perencanaan a. yang akan digunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada siklus selanjutnya. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati situasi dan kondisi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Menyiapkan lembar angket refleksi siswa Pelaksanaan a. afektif . c. b. Permasalahan diidentifikasi melalui pengambilan data hasil ulangan dan wawancara dengan guru kelas. Guru memberikan informasi awal tentang jalannya pembelajaran dan tugas yang harus dilaksanakan siswa. maupun psikomotorik d. 3.

Guru membagi siswa menjadi enam kelompok yang tiap kelompok beranggotakan tujuh siswa. . Guru mengamati kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil percobaan. d. e. Guru mengadakan pre-test untuk mengetahui kesiapan siswa dalam proses pembelajaran. f. Ini merupakan prinsip inkuiri. Secara mandiri. i. Guru membimbing siswa melakukan percobaan untuk memecahkan masalah yang diberikan dan mencatat hasil pengamatan dalam LKS. j. Pengamatan a. dengan menggunakan metode tanya jawab guru membahas materi berikutnya. Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas dalam kelompoknya. g. c. c. siswa diminta membuat pertanyaan yang disertai jawaban mengenai pokok materi yang dipelajari . Setelah selesai wakil dari kelompok masing-masing mempresentasikan hasil percobaan untuk didiskusikan dan ditarik kesimpulan. Guru memberikan tes akhir siklus. Guru memeriksa tugas siswa untuk mengidentifikasi kemampuan siswa dalam belajar mandiri b. Guru membagi Lembar Kerja Siswa.33 b. d. Pada pertemuan berikutnya. Menganalisis data hasil tes siklus 1 serta hasil observasi. Guru memeriksa tugas siswa. h.

observasi psikomotorik siswa. . mengetahui permasalahan yang muncul.34 Refleksi a. E. sedangkan untuk observasi aktivitas belajar siswa dilakukan oleh peneliti dan guru mitra. berulang-ulang sampai diperoleh hasil yang memuaskan sesuai dengan tujuan peneliti. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian dilakukan dengan cara: 1. Observasi tindakan guru (peneliti) dan observasi psikomotorik siswa dilakukan oleh guru mitra. Observasi ini digunakan untuk mengukur indikator kerja. b. dan faktor-faktor yang dijadikan dalam pertimbangan sebelum dimulainya pelaksanaan tindakan berikutnya. Demikian seterusnya penelitian tindakan kelas ini meliputi kegiatan perencanaan. Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam tiga siklus. Mendiskusikan hasil analisis untuk tindakan perbaikan pada pelaksanaan kegiatan penelitian dalam siklus II.dan observasi aktivitas belajar siswa. Observasi yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini meliputi observasi pelaksanaan tindakan guru. Mengadakan observasi Observasi merupakan suatu teknik untuk mengumpulkan data yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis (Arikunto 2002:30). tindakan. Guru membuat simpulan sementara terhadap pelaksanaan pengajaran siklus 1. observasi dan refleksi.

Uji Alat Evaluasi Sebelum alat evaluasi digunakan. Penyebaran angket dilakukan setiap akhir siklus. Angket yang disebar berupa angket tertutup. Penyebaran angket Angket merupakan sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden) (Arikunto 2002:28). dan daftar nilai. F. Tes yang digunakan berbentuk pilihan ganda (multiple choice) dengan lima pilihan jawaban. yang berguna untuk mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan setelah berlangsungnya proses tindakan. 4. Hasil tes ini juga berfungsi sebagai indikator kerja dan standar kesesuaian antara silabus.35 2. 3. perlu dilakukan uji coba terlebih dahulu supaya dapat diketahui apakah alat evaluasi tersebut dapat digunakan. Dokumentasi ini diperlukan untuk mendapatkan data berupa daftar nama siswa. rencana pembelajaran dan materi yang disampaikan. jadi tes akhir siklus dilakukan sebanyak tiga kali. Angket yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis. Dari hasil . Peneliti secara langsung dapat mengambil bahan dokumentasi yang sudah ada dan memperoleh data yang dibutuhkan. Dokumentasi Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data bersumber pada benda yang tertulis. yaitu angket untuk mengukur afektif siswa dan angket refleksi. Tes akhir siklus Penelitian ini terdiri dari tiga siklus.

apabila harga thitung > ttabel maka butir soal valid 2. 1989: 12).36 tes uji coba kemudian dihitung validitas. Indeks kesukaran ditentukan dengan rumus sebagai berikut: . Validitas Validitas adalah ketetapan alat penilaian terhadap konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai (Sudjana. dan realibilitas. 1998: 270) rpbis = Koefisien validitas tiap item Mp Mt p q St = Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal = Rata-rata skor total = Proporsi siswa yang menjawab benar pada setiap butir soal = Proporsi siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal = Standar deviasi skor total t hitung = rpbis n − 2 2 1 − rpbis Hasil perhitungan dengan korelasi point biserial dapat dikonsultasikan dengan harga thitung . Validitas butir soal dicari dengan korelasi point biserial dengan rumus: rpbis = keterangan: M p −Mt St p q (Suharsimi Arikunto. daya pembeda. 1. Tingkat Kesukaran Analisis tingkat kesukaran soal bertujuan untuk dapat membedakan soalsoal kategori mudah. Tingkat kesukaran suatu butir soal dinyatakan dengan bilangan yang disebut Indeks Kesukaran. sedang dan sukar. tingkat kesukaran.

30 < IK ≤ 0. diklasifikasikan indeks kesukarannya dengan pedoman sebagai berikut: IK = 0 0.00 < IK ≤ 0.00 3.00 IK = 1.70 < IK ≤ 1.30 0.70 0.37 IK = JB A + JBB JS A + JS B Keterangan: IK JBA = Indeks Kesukaran = Jumlah yang benar pada butir soal kelompok atas atau kelompok yang mempunyai kemampuan lebih tinggi JBB = Jumlah yang benar pada butir soal kelompok bawah atau kelompok yang mempunyai kemampuan lebih rendah JSA = Jumlah siswa pada kelompok atas atau kelompok yang mempunyai kemampuan lebih tinggi JSB = Jumlah siswa pada kelompok bawah bawah atau kelompok yang mempunyai kemampuan lebih rendah Data yang diperoleh. Daya pembeda dari setiap soal ditentukan dengan rumus sebagai berikut: . Daya Pembeda : terlalu sukar : sukar : sedang : mudah : telalu mudah (Suherman 1990: 213) Daya pembeda sebuah butir soal adalah kemampuan butir soal itu untuk membedakan antara siswa yang pandai atau berkemampuan tinggi dengan siswa yang bodoh.

00 4.40 0.40 < DP ≤ 0.00 < DP ≤ 0. Reliabilitas ditentukan dengan rumus K-R 21 sebagai berikut: ⎛ k ⎞ ⎛ M (k − M ) ⎞ ⎟ r11 = ⎜ ⎜ k −1 ⎟ ⎟⎜ ⎜1 − k V ⎟ ⎝ ⎠⎝ t ⎠ (Arikunto.70 0.00 0. 1989: 16). 1998: 185) Keterangan: r11 = Reliabilitas instrumen k = Banyaknya butir soal atau butir pertanyaan .70 < DP ≤ 1. 1990: 213) Reliabilitas adalah ketetapan atau keajegan alat evaluasi dalam menilai apa yang dinilainya (Sudjana.20 < DP ≤ 0.38 DP = JB A − JBB JS A Keterangan: DP JBA = Daya Pembeda = Jumlah yang benar pada butir soal kelompok atas atau kelompok yang mempunyai kemampuan lebih tinggi JBB = Jumlah yang benar pada butir soal kelompok bawah atau kelompok yang mempunyai kemampuan lebih rendah JSA = Banyaknya siswa pada kelompok atas Data yang diperoleh diklasifikasikan dengan pedoman sebagai berikut: DP ≤ 0.20 0. Reliabilitas : sangat jelek : jelek : cukup : baik : baik sekali (Suherman.

2 = sangat rendah 0.8 < r11 ≤ 1.8 = cukup 0.4 < r11 ≤ 0. siklus II. Merekapitulasi hasil belajar sebelum dilakukan tindakan dan nilai tes akhir siklus I.6 = agak rendah 0. 2001:181) . 1998: 260) G.6 < r11 ≤ 0. dan siklus III.4 = rendah 0. Rata-rata hasil belajar siswa dihitung dengan menggunakan rumus: X= ΣX N (Slameto. siklus II. Menghitung nilai rerata dan ketuntasan belajar klasikal hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan dengan hasil belajar setelah dilakukan tindakan pada siklus I. 2. dan siklus III untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar. diklasifikasikan reliabilitasnya dengan pedoman sebagai berikut: r11 ≤ 0.39 M = Skor rata-rata Vt = Varians total Data yang diperoleh.0 = tinggi (Arikunto. Analisis Data Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif dengan membandingkan hasil belajar sebelum tindakan dengan hasil belajar setelah tindakan.2 < r11 ≤ 0. Data dihitung dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1.

. Indikator kerja Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila terjadi peningkatan hasil belajar siswa yaitu secara klasikal. 2003:13) Hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Nilai = ∑ skor perolehan x100 ∑ skor maksimal H. 2004:99).40 Keterangan: X = nilai rerata hasil belajar = jumlah nilai seluruh siswa = banyaknya siswa ∑X N Ketuntasan belajar klasikal siswa dihitung dengan menggunakan rumus: P= Keterangan: P Σ n1 Σn Σn1 x 100 % Σn = Nilai ketuntasan belajar klasikal = Jumlah siswa tuntas belajar individu (nilai ≥ 65) = Jumlah total siswa Hasil belajar kognitif siswa dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: Nilai = ∑ jawaban benar x100 ∑ seluruh soal (Departemen Pendidikan Nasional. 85% siswa mencapai ketuntasan belajar minimal 65 (Mulyasa.

2. 11. 13. 17. 23. 11. 19. 8. 24. Hasil Uji Alat Evaluasi a. 10. 9. 14. 23. 15. . 4. 26. 15. 12. Validitas Hasil analisis validitas soal disajikan dalam tabel 5. 27. 10 2. dan sukar. b. 16. 5. 29. 28. 4. 16. 7. 6. 20. 18. 21. 7. 21. 9. 3. 13. 22. 17. 6. 18. 15. 19. hanya diperoleh tiga kriteria soal yaitu mudah. 25. Tabel 5. 4. Hasil Analisis Validitas Soal Uji Coba S i I K r Valid Tidak Valid II Valid Tidak Valid III Valid Tidak Valid J u 23 2 23 7 16 4 N o 1. 10. 25 8. 30 1. 5. sedang. 14. 19. 2. 9. 22. 3. Hasil Penelitian 1. 7. 20. 11. 17. Hasil analisis indeks kesukaran disajikan pada tabel 6. 5. 20 3. 24 1. 18 13. 8.41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. 6. 16. 12. 12. Tingkat Kesukaran Berdasarkan hasil perhitungan. 14.

5. 12. 15. 21. 11. 26. 23 6. 8. 8. 3. 19 c. 5. 11. 10. 8. 6. Hasil analisis daya pembeda disajikan pada tabel 7. 20 1. 24. Tabel 7. 7. 22. 13. 25 2. 8. 19 3.42 Tabel 6. 13. 2. 9. 8. 9. 20. 25. 5. 14. 18.8. 17. 22. 11. 9. 19. 24 4. 26. 10. 12. 22. 12. 13. 3. 6. 6. 3. 11. 5. 22. 18. 29 24 4. 16. 9. 10. 16. 13. 18. Daya Pembeda Dari hasil analisis diperoleh soal dengan kriteria daya pembeda sangat jelek. 11. 3. dan baik. 10. 7. 17. 23. 29 1.27 2. 14. 9. . 21. 7. 2. 13. jelek. 23. 25 6. 4. 30 4. 18. 5. 20 1. seperti yang disajikan pada tabel 8. 28 12 2. 15. 21. 5. Hasil analisis Indeks Siklus keI kriteria Sukar Sedang Mudah Sukar Sedang Mudah Sukar Sedang Mudah Jumlah soal 5 9 11 6 13 11 1 12 7 41 Kesukaran soal uji coba Nomor soal II III 1. 19. Hasil analisis Daya Pembeda soal uji coba Siklus keI II Kriteria Baik Cukup Jelek Baik Cukup Jelek Sangat jelek Baik Cukup Jelek Jumlah soal 6 11 8 5 19 5 1 3 12 5 Nomor soal 1. 4. 15. 30 1. 17. 15. 16. 3. 15. 7. 17 . 18 III d. 14. 14. cukup. 9. 20. 17. 4 . 20. 14. 16. 28. 23 2. 25. 21. 7. 11. 15. 20. 19. 12. 16. 16. 27. 14. 7. Reliabilitas Dari analisis reliabilitas diketahui bahwa reliabilitas untuk ketiga siklus masing-masing bernilai cukup. 24 6. 13. 12. 19. 18. 10. 17. 10.

58%. 17. 2.21% dan rata-rata nilai untuk materi stoikiometri adalah 61. 18.16 dengan ketuntasan klasikal 25. 27. 12. 4. 8. 14. 15. 15. hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang yaitu nilai rata-rata untuk materi larutan asam dan basa adalah 56. tingkat kesukaran. 9. 13. 21. 11. 18 16. 19. 17. 16. 20 2. 8. 5. 18. daya pembeda. 4. 29 15. 25 18. 26. 7. 23. 6. 9. 13.43 Tabel 8. Masih rendahnya hasil belajar kimia menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep-konsep kimia. 7. 2. 11. 24. 4. Tabel 9. dan reliabilitas maka diperoleh dua kriteria soal yaitu soal dibuang dan soal dipakai seperti yang disajikan pada tabel 9 dan lampiran 16. 25. 6. 22. 13. Observasi Awal Berdasarkan pengamatan awal sebelum diterapkan penelitian tindakan kelas yang berupa penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL. 5. 12. 9. 8. 12. 20.74 dengan ketuntasan klasikal 37. 20. 19. 14. 17. 3. 22. 10. 16. 11. 24 2. 3. 14. Hasil analisis reliabilitas soal uji coba Siklus keI II III Kriteria Cukup Cukup Cukup Dari hasil analisis soal uji coba yang didasarkan pada validitas. 21. 30 1. 5. 19. 10. 28. Kriteria Soal Siklus keI II III Kriteria soal Dipakai Dibuang (No Soal) (No Soal) 1. 23. 10. Hal ini dikarenakan beberapa . 1. 7. 6. 3. 17.

afektif . Dikatakan kurang bervariasi. karena guru mendominasi pembelajaran dengan metode ceramah dan tidak melibatkan siswa secara aktif. maupun psikomotorik 3). Pelaksanaan model pembelajaran dengan pendekatan IBL diterapkan pada materi sistem koloid. Siklus I materi yang dipelajari adalah penggolongan koloid dan penggunaan koloid dalam industri. dengan masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. siklus II sifat-sifat koloid. Menyusun alat evaluasi untuk mengukur penguasaan materi pelajaran baik dari segi kognitif. Merancang skenario pembelajaran dengan pendekatan IBL meliputi rencana pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa. sedangkan siklus III pembuatan koloid. maka perlu diterapkan metode pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa serta menarik minat siswa. Selain itu juga disebabkan oleh metode pembelajaran yang diterapkan guru bersifat monoton dan kurang bervariasi. Perencanaan 1). hal ini sesuai dengan pendapat Suyitno bahwa keterlibatan siswa untuk turut aktif melalui model pembelajaran IBL merupakan salah satu indikator keefektifan belajar. Penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL merupakan salah satu strategi untuk mengaktifkan siswa.44 konsep yang ada dalam kimia bersifat abstrak. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. 3. Dengan keadaan seperti itu. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati situasi dan kondisi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Observasi dilakukan oleh peneliti yang bertindak sebagai guru dan guru mitra secara kolaborasi untuk . 2). Siklus I a.

8). 3). 7). 10). 4). . b. dengan menggunakan metode tanya jawab guru membahas materi berikutnya. Pelaksanaan 1). 2). Menyiapkan lembar angket refleksi siswa. Guru membagi siswa menjadi tujuh kelompok yang tiap kelompok beranggotakan enam siswa. 5). Guru memberikan informasi awal tentang jalannya pembelajaran dan tugas yang harus dilaksanakan siswa. Guru mengadakan pre-test untuk mengetahui kesiapan siswa dalam proses pembelajaran. lembar angket refleksi dan lembar afektif siswa. Pada akhir siklus guru memberikan soal tes siklus I. Lembar observasi terdiri dari dua jenis yaitu lembar observasi untuk mengamati kondisi siswa dan lembar observasi untuk mengamati kinerja guru. Secara mandiri. 6). 9). Ini merupakan prinsip inkuiri. siswa diminta membuat pertanyaan yang disertai jawaban mengenai pokok materi yang dipelajari. 4). Setelah selesai wakil dari kelompok masing-masing mempresentasikan hasil percobaan untuk didiskusikan dan ditarik kesimpulan. Guru membagi Lembar Kerja Siswa. Pada pertemuan berikutnya. Guru memeriksa tugas siswa.45 mengamati kegiatan secara keseluruhan. Guru membimbing siswa melakukan percobaan untuk memecahkan masalah yang diberikan dan mencatat hasil pengamatan dalam LKS.

61 menjadi 77. Guru dan guru mitra mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas dalam kelompoknya. 3). 4).43 Pre Tes Siklus I Gambar 2. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Belajar Kognitif Siswa Siklus I Dari gambar 2 terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar kognitif dari pre tes ke siklus I. Guru mengamati kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil percobaan.43.46 c. 90 Nilai rata-rata hasil belajar kimia 80 70 60 50 40 30 20 10 0 47. Data hasil belajar kognitif siswa sesuai dengan lampiran 31 dan disajikan pada gambar 2 dan 3.61 77. Rata-rata naik dari 47. Menganalisa data hasil tes siklus 1 serta hasil observasi. . Pengamatan 1). Guru memeriksa tugas siswa untuk mengidentifikasi kemampuan siswa dalam belajar mandiri 2).

47 90 Ketuntasan belajar klasikal (%) 80 70 60 50 40 30 20 10 0 27.72 Pre Tes Siklus I Gambar 3.91% menjadi 83.91 83. . Ketuntasan belajar klasikal naik dari 27. 120 100 100 80 60 40 20 0 siklus I 72. Histogram Ketuntasan Belajar Klasikal Siklus I Dari gambar 3 terlihat adanya peningkatan ketuntasan belajar klasikal dari pre tes ke siklus I. Data hasil belajar afektif siswa sesuai dengan lampiran 32 dan disajikan pada gambar 4. Hasil Belajar Afektif Siswa Siklus I Dari gambar 4 dapat dilihat bahwa rata-rata hasil belajar afektif untuk siklus I adalah 72.31 dan ketuntasan klasikal 100%.31 rata-rata ketuntasan belajar klasikal (%) Gambar 4.72%.

masih ada beberapa siswa yang belum serius dalam mengikuti pelajaran (23.74 74. Hasil Belajar Psikomotorik Siswa Siklus I Berdasarkan gambar 5 dapat dilihat bahwa rata-rata hasil belajar psikomotorik siswa adalah 72. 120 100 100 Keaktifan siswa (%) 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 aspek yang diamati 76.46 93. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 5.26%) . 120 100 80 60 40 20 0 siklus I rata-rata 72.67 ketuntasan belajar klasikal (%) Gambar 5.02 100 Keterangan: 1.09 dengan ketuntasan klasikal 100%. Keaktifan siswa dalam percobaan 3. Sesuai dengan lampiran 35.42 60. Keserisan siswa dalam mengejakan tes Gambar 6.09 97. Histogram Keaktifan Siswa pada Siklus I Dari gambar 6 dapat dilihat bahwa: a).48 Data hasil belajar psikomotorik siswa sesuai dengan lampiran 33 dan disajikan pada gambar 5. Persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran 6. Keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan 4. Keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran 2. pengamatan terhadap keaktifan siswa disajikan dengan gambar 6.

guru lebih meningkatkan minat siswa yaitu dengan memotivasi siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan cara lebih membuka wawasan siswa untuk melihat fenomena alam yang ada dan mengaitkan dengan materi yang diajarkan. 2). semua siswa telah serius dalam mengerjakan tes Pengamatan terhadap guru menghasilkan: a) guru kurang memberi motivasi siswa saat pembelajaran berlangsung b) guru kurang membawa siswa untuk mengaitkan materi dengan peristiwa kehidupan c) teknik bertanya yang dimiliki guru belum maksimal d) pengelolaan kelas kurang optimal e) pengelolaan waktu kurang optimal d.54%) e). Pada tindakan siklus I didapatkan hasil sebagai berikut: 1). Refleksi Setelah melaksanakan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas kemudian diadakan refleksi dari tindakan yang telah dilakukan. semua siswa telah aktif dalam percobaan c). masih ada beberapa siswa yang belum aktif bertanya (25. pengelolaan kelas harus lebih baik .49 b). teknik bertanya yang dimiliki guru perlu ditingkatkan 3).58%) d). pengelolaan waktu harus lebih baik 4). semua siswa telah siap dalam mengikuti pembelajaran f). masih ada beberapa siswa yang belum aktif dalam menjawab pertanyaan (39.

Guru membimbing siswa melakukan percobaan untuk memecahkan masalah yang diberikan dan mencatat hasil pengamatan dalam LKS. 6). Menyusun alat evaluasi untuk mengukur penguasaan materi pelajaran baik dari segi kognitif. a. Siklus II merupakan kelanjutan dari siklus I. 2). Menyiapkan lembar angket refleksi siswa. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati situasi dan kondisi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. Guru memeriksa tugas siswa. maupun psikomotorik 3). 2). 5). Ini merupakan prinsip inkuiri. 4). Secara mandiri.50 4. afektif . Siklus II Berdasarkan hasil observasi dan refleksi dapat diidentifikasi masalahmasalah yang dapat menghambat naiknya hasil belajar siswa sehingga dapat diambil langkah perbaikan pada siklus II ini. . Pelaksanaan 1). 3). Guru membagi siswa menjadi tujuh kelompok yang tiap kelompok beranggotakan enam siswa. 4). Perencanaan 1). Guru mengadakan pre-test untuk mengetahui kesiapan siswa dalam proses pembelajaran. siswa diminta membuat pertanyaan yang disertai jawaban mengenai pokok materi yang dipelajari . Guru membagi Lembar Kerja Siswa. b. Merancang skenario pembelajaran dengan pendekatan IBL meliputi rencana pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa.

4). 8). 9). Guru mengamati kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil percobaan. lembar angket refleksi dan lembar afektif siswa. Pengamatan 1). Guru memeriksa tugas siswa untuk mengidentifikasi kemampuan siswa dalam belajar mandiri 2). Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas dalam kelompoknya. Pada akhir siklus guru memberikan soal tes siklus II . c. Setelah selesai wakil dari kelompok masing-masing mempresentasikan hasil percobaan untuk didiskusikan dan ditarik kesimpulan. Menganalisa data hasil tes siklus II serta hasil observasi. dengan menggunakan metode tanya jawab guru membahas materi berikutnya. Data hasil belajar kognitif siswa sesuai dengan lampiran 31 dan disajikan pada gambar 7 dan 8.43 86. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Belajar Kognitif Siswa Siklus II Nilai rata-rata hasil belajar kimia .61 Pre Tes Siklus I Siklus II 77.51 7).89 Gambar 7. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 47. 3). Pada pertemuan berikutnya.

Hasil Belajar Afektif Siswa Siklus II .72 80 Pre Tes 60 40 20 0 27.52 Dari gambar 7 terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar kognitif dari pre tes.31 77 100 Gambar 9. maupun siklus III.72% pada siklus I.43 pada siklus I kemudian naik lagi menjadi 86.91% menjadi 83. siklus I maupun siklus II. siklus I.61 menjadi 77.91 Siklus I Siklus II Gambar 8. Histogram Ketuntasan Belajar Klasikal Siswa Siklus II Dari gambar 8 terlihat adanya peningkatan ketuntasan belajar klasikal dari pre tes. Ketuntasan belajar klasikal naik dari 27. 120 100 100 80 60 40 20 0 siklus I rata-rata siklus II ketuntasan belajar klasikal (%) 72. 120 Ketuntasan belajar klasikal (%) 100 100 83. Data hasil belajar afektif siswa sesuai dengan lampiran 32 dan disajikan dalam gambar 9. kemudian naik lagi menjadi 100%. Rata-rata naik dari 47.89 pada siklus II.

Keserisan siswa dalam mengejakan tes Gambar 11. Hasil Belajar Psikomotorik Siswa Siklus II Dari gambar 10 dapat dilihat adanya kenaikan rata-rata hasil belajar psikomotorik siswa. pengamatan terhadap keaktifan siswa dapat disajikan dengan gambar 11. Keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran 2.09 pada siklus I. Histogram Keaktifan Siswa pada Siklus II . Keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan 4.09 97. Keaktifan siswa dalam percobaan 3. Persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran 6.39 100 100 Keterangan: 1. dan 76. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 5.37 81.53 Dari gambar 9 dapat dilihat adanya peningkatan rata-rata hasil belajar afektif yaitu dari 72.39 81.67 76. yaitu 72.31 100 Gambar 10.31 pada siklus I naik menjadi 77 pada siklus II.31 pada siklus II. 120 100 100 Keaktifan siswa (%) 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 6 aspek yang diamati 88. Data hasil belajar psikomotorik siswa siklus II sesuai dengan lampiran 33 dan disajikan pada gambar 10. 120 100 80 60 40 20 0 siklus I rata-rata siklus II ketuntasan belajar klasikal (%) 72. Sesuai dengan lampiran 35.

masih ada beberapa siswa yang belum aktif bertanya (18. b).63%) b). guru telah meningkatkan minat dan motivasi siswa selama proses pembelajaran dengan mengaitkan materi yang dibahas dengan kehidupan sehari-hari.61%) d). . guru sudah meningkatkan teknik bertanya c).54 Dari gambar 11 dapat dilihat bahwa: a).61%) e). masih ada beberapa siswa yang belum aktif dalam menjawab pertanyaan (18. guru dalam mengelola waktu perlu ditingkatkan d). semua siswa telah siap dalam mengikuti pembelajaran f). semua siswa telah aktif dalam percobaan c). masih ada beberapa siswa yang belum serius dalam mengikuti pelajaran (11. semua siswa telah serius dalam mengerjakan tes Pengamatan terhadap guru menghasilkan: a). guru dalam mengelola kelas telah baik d. Refleksi Setelah melaksanakan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas kemudian diadakan refleksi dari tindakan yang telah dilakukan. Pada tindakan siklus II didapatkan hasil bahwa guru perlu meningkatkan dalam hal pengelolaan waktu.

Ini merupakan prinsip inkuiri. Guru membagi Lembar Kerja Siswa. Guru membagi siswa menjadi enam kelompok yang tiap kelompok beranggotakan tujuh siswa. Guru mengadakan pre-test untuk mengetahui kesiapan siswa dalam proses pembelajaran. Secara mandiri. . 5). Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati situasi dan kondisi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. 4). b. Guru memeriksa tugas siswa.55 5. siswa diminta membuat pertanyaan yang disertai jawaban mengenai pokok materi yang dipelajari. maupun psikomotorik 3). 3). Pelaksanaan 1). Menyusun alat evaluasi untuk mengukur penguasaan materi pelajaran baik dari segi kognitif. Siklus III merupakan kelanjutan dari siklus II. 2). Menyiapkan lembar angket refleksi siswa. a. 4). Siklus III Berdasarkan hasil observasi dan refleksi dapat diidentifikasi masalahmasalah yang dapat menghambat naiknya hasil belajar siswa sehingga dapat diambil langkah perbaikan pada siklus III ini. afektif . Merancang skenario pembelajaran dengan pendekatan IBL meliputi rencana pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa. Perencanaan 1). 2).

Guru membimbing siswa melakukan percobaan untuk memecahkan masalah yang diberikan dan mencatat hasil pengamatan dalam LKS.6 77.77 Pre Tes Siklus I Siklus II Siklus III . 3). Pada pertemuan berikutnya. Data hasil belajar kognitif siswa sesuai dengan lampiran 31 dan disajikan pada gambar 12 dan 13. lembar angket refleksi dan lembar afektif siswa. Pada akhir siklus guru memberikan soal tes siklus III. Pengamatan 1). Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dan menilai kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas dalam kelompoknya. Guru mengamati kemampuan siswa dalam mempresentasikan hasil percobaan. c.56 6). Setelah selesai wakil dari kelompok masing-masing mempresentasikan hasil percobaan untuk didiskusikan dan ditarik kesimpulan. 7). 9).43 86. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 47. dengan menggunakan metode tanya jawab guru membahas materi berikutnya. Guru memeriksa tugas siswa untuk mengidentifikasi kemampuan siswa dalam belajar mandiri 2). Menganalisa data hasil tes siklus 1 serta hasil observasi. 4). 8).89 Nilai rata-rata hasil belajar kimia 89.

siklus II maupun siklus III.91 Gambar 13. Rata-rata naik dari 47. Ketuntasan belajar klasikal naik dari 27.89 pada siklus II dan pada siklus III rata-ratanya naik menjadi 89.57 Gambar 12.91% menjadi 83. Histogram ketuntasan Belajar Klasikal Siswa Siklus III Dari gambar13 terlihat adanya peningkatan ketuntasan belajar klasikal dari pre tes.72 80 60 40 20 0 Pre Tes Siklus I Siklus II Siklus III 27. 120 100 100 80 60 40 20 0 siklus I siklus II siklus III 72.61 menjadi 77. Data hasil belajar afektif siswa sesuai dengan lampiran 32 dan disajikan pada gambar 14.31 77 80. Histogram Nilai Rata-rata Hasil Belajar Kognitif Siklus III Dari gambar 12 terlihat adanya peningkatan nilai rata-rata hasil belajar kognitif dari pre tes. siklus I. siklus II maupun siklus III.39 100 100 rata-rata persentase ketuntatasan belajar klasikal (%) .43 pada siklus I kemudian naik menjadi 86.72% pada siklus I kemudian naik menjadi 100% pada siklus II dan siklus III. 120 Ketuntasan Belajar Klasikal (%) 100 100 100 83. siklus I.77.

09 97. 120 100 80 60 40 20 0 siklus I rata-rata siklus II siklus III 72.02 88. Keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan 4. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan 5. semua siswa telah aktif dalam percobaan .67 76. Keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran 2.31 pada siklus I.37 86. Keserisan siswa dalam mengejakan tes Gambar 16. Persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran 6. yaitu 72.78 100 ketuntasan belajar klasikal (%) Gambar 15. pengamatan terhadap keaktifan siswa dapat disajikan dengan gambar 16.39 pada siklus III.58 Gambar 14.98%) b).05 100 100 Keterangan: 1. 77 pada siklus II dan 80. masih ada beberapa siswa yang belum serius dalam mengikuti pelajaran (6. Hasil Belajar Psikomotorik Siswa Siklus III Sesuai dengan lampiran 35. Hasil Belajar Afektif Siswa Siklus III Dari gambar 14 dapat dilihat kenaikan rata-rata hasil belajar afektif siswa. 105 100 100 Keaktifan siswa (%) 95 90 85 80 75 1 2 3 4 5 6 aspek yang diamati 93. Histogram Keaktifan Siswa pada Siklus III Dari gambar 16 dapat dilihat bahwa: a).31 100 78. Keaktifan siswa dalam percobaan 3. Data hasil belajar psikomotorik siswa sesuai dengan lampiran 33 dan disajikan pada gambar 15.

3 3. Nilai terendah 60 69 3. d. Nilai tertinggi 83.89 89.2 73. Keterangan Sebelum Setelah Tindakan Tindakan Siklus I Siklus II Siklus III 1. Keterangan Siklus I Siklus II 1.59 c). Rata-rata nilai 47. Refleksi Refleksi dilakukan terhadap segala kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran.39 100 .94 68.77 70. Nilai terendah 17.95%) e). Siswa telah aktif dalam pembelajaran 2). masih ada beberapa siswa yang belum aktif dalam menjawab pertanyaan (13. Ringkasan Hasil Belajar Kognitif Siswa No. Ringkasan Hasil Belajar Afektif Siswa No.72 100 100 Tabel 11. Ketuntasan (%) 100 100 Siklus III 90.75 88 2.65 52.47 94.21 100 100 2. masih ada beberapa siswa yang belum aktif bertanya (11.31 77 4.91 83.77 80.63%) d). Guru tidak mendominasi dalam proses belajar mengajar dan hanya bertindak sebagai fasilitator. Motivasi siswa meningkat dengan dilaksanakannya pendekatan IBL 3). semua siswa telah serius dalam mengerjakan tes Pengamatan terhadap guru menghasilkan bahwa guru telah melakukan pengelolaan waktu dengan baik. Ketuntasan (%) 27. 1).77 4. Nilai tertinggi 76. Berdasarkan hasil pengamatan dari siklus I sampai siklus III maka hasil belajar siswa dapat disajikan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 10.43 86. semua siswa telah siap dalam mengikuti pembelajaran f).61 77. Rata-rata nilai 72.

78 Ketuntasan (%) 97.5 Nilai terendah 62.60 No.61 meningkat menjadi 77. Hasil Belajar Siswa a. 4.75 75 Rata-rata nilai 72.72% pada siklus I dan meningkat lagi menjadi 100% pada siklus II dan siklus III. 86.91 % menjadi 83. Besarnya ketuntasan belajar pada siklus II sudah memenuhi target yang ditetapkan dalam indikator keberhasilan yakni sekurang-kurangnya 85% siswa mendapat nilai ≥ 65.09 76. Berdasarkan pada tabel 10 dapat diketahui bahwa setelah diterapkan model pembelajaran dengan pendekatan IBL. . 2.31 78. Pembahasan 1.77 pada siklus III. hasil belajar kognitif siswa mengalami peningkatan. Soal tes siklus yang digunakan untuk mengukur penguasaan kompetensi dan tingkat pemahaman siswa sebelum digunakan telah diujicobakan terlebih dahulu pada siswa kelas tiga yang telah memperoleh materi sistem koloid.5 68. Peningkatan hasil belajar kognitif ini juga diiringi dengan peningkatan ketuntasan belajar secara klasikal yaitu dari 27. Soal yang tidak memenuhi syarat dibuang dan yang memenuhi syarat digunakan. Ringkasan hasil Belajar Psikomotorik Siswa Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III Nilai tertinggi 75 87.5 87. Peningkatan hasil belajar tersebut menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran kimia semakin meningkat. Nilai rata-rata dari 47. 3.43 pada siklus I. Tabel 12. Hasil Belajar Kognitif Penilaian hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari tes pada tiap akhir siklus.67 100 100 B. 1.89 pada siklus II dan meningkat lagi menjadi 89.

keterampilan membaca hasil percobaan dan keterampilan mengkomunikasikan hasil pengamatan. namun siklus III tetap perlu dilaksanakan. keterampiolan melakukan percobaan. dan 80. Aspek yang diamati adalah keterampilan menyiapkan alat dan bahan. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata psikomotorik siswa yaitu 72.31 pada siklus I. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata afektif siswa. kecakapan social dan kecakapan akademik siswa. Sehingga secara klasikal hasil belajar afektif siswa pada siklus I. yaitu dari 72. b. maupun siklus III mencapai 100%. 76. dan 78. meliputi aspek kesadaran diri. Hasil Belajar Psikomotorik Penilaian psikomotorik siswa diukur dari pengamatan langsung saat melakukan praktikum.61 Walaupun pada siklus II sudah terjadi peningkatan dalam pembelajaran dan sudah mencapai ketuntasanm belajar. Hasil Belajar Afektif Penilaian afektif siswa diperoleh dengan melakukan penyebaran angket pada tiap akhir siklus.39 pada siklus III. c. siklus II. Penilaian afektif siswa diukur dari beberapa aspek. kecakapan berfikir rasional. Peningkatan hasil belajar psikomotorik ini juga ditandai dengan .09 pada siklus I.78 pada siklus III. Berdasarkan tabel 11 dapat dikletahui bahwa terjadi peningkatan hasil belajar afektif siswa. Dari hasil angket tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui ketuntasan belajar afektif siswa. Berdasarkan tabel 12 dapat diketahui terjadi peningkatan hasil belajar psikomotorik siswa. Sedangkan ketuntasan klasikal untuk siklus I. Hal ini untuk mengetahui apakah pembelajaran dengan pendekatan IBL benar-benar dapat digunakan untuk meningkatkan hasil belajar. sklus II.31 pada siklus II. meningkat menjadi 77 pada siklus II. dan siklus III sudah tuntas.

09% siswa dapat menerima pelajaran yang diajarkan dengan mudah.62 peningkatan ketuntasan secara klasikal. 83. yaitu 97. 79.35% siswa senang dengan metode yang digunakan guru dan 93.02% siswa dapat menerima pelajaran dengan mudah. 95. Untuk siklus II. siklus II. 100% siswa senang dengan suasana pembelajaran. maupun psikomotorik.67 % pada siklus I kemudian meningkat menjadi 100% pada siklus II dan siklus III. 100% siswa senang dengan suasana pembelajaran. baik hasil belajar kognitif. dan siklus III memperlihatkan bahwa penggunaan model pembelajaran dengan pendekatan IBL dapat meningkatkan hasil belajar kimia siswa. . afektif.72% siswa senang dengan metode yang digunakan guru. Ketertarikan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan pendekatan IBL merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa. maupun siklus III sudah tuntas.7% siswa senang dengan metode yang digunakan guru dan 88. Hal ini diperkuat dengan hasil analisis refleksi siswa pada lampiran 36. Berdasarkan deskripsi hasil belajar pada siklus I. Untuk siklus III. Dari hasil angket refleksi siswa terhadap pembelajaran kimia setelah diterapkan model pembelajaran dengan pendekatan IBL didapatkan hasil antara lain untuk siklus I. Berdasarkan hasil pengamatan dari siklus I sampai siklus III ternyata keaktifan siswa juga mengalami peningkatan. Hal ini sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Umiyati (2005) yaitu penggunaan pembelajaran Inkuiri terbimbing mampu meningkatkan hasil belajar. siklus II. Keaktifan siswa terhadap pembelajaran dengan menggunakan IBL juga dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. 90. Ini berarti bahwa hasil belajar psikomotorik siswa baik pada siklus I.37% siswa dapat menerima pelajaran yang diajarkan dengan mudah. 100% siswa senang dengan suasana pembelajaran.

Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan juga mengalami peningkatan yaitu 60. Sedangkan persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran juga mengalami peningkatan.42% pada siklus I. Persiapan siswa ini meliputi persiapan dalam mebuat pertanyaan yang disertai dengan jawabannya dan persiapan dalam membawa sumber belajar.37% pada siklus II. persiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. baik dalam menyiapkan tugas maupun membawa sumber belajar. menjadi 81. Keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan juga mengalami peningkatan. gambar 11. gambar 16. Hal ini dikarenakan guru selalu memberikan motivasi kepada siswa untuk selalu mempersiapkan hal-hal yang diperlukan dalam proses pembelajaran.05% pada siklus III.02% pada siklus III.39% pada siklus II. dan 93. yaitu 76. keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan. meningkat menjadi 81.46% pada siuklus I. Namun pada siklus selanjutnya semua siswa telah menunjukkan kesiapannya dalam mengikuti pembelajaran. dan keseriusan siswa dalam mengerjakan tes. yaitu 93. yaitu 74. Dari hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa pada siklus I masih ada beberapa siswa yang belum siap dalam mengikuti pembelajaran. dan 86. Untuk aspek keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran terjadi peningkatan prosentase jumlah siswa dari siklus I sampai siklus III. Aspek keaktifan siswa dalam percobaan dan keseriusan dalam mengerjakan tes telah mencapai 100% untuk ketiga siklusnya. . dan 88.39% pada siklus II. keaktifan siswa dalam mengajukan pertanyaan. keaktifan siswa dalam percobaan.63 Hal ini sesuai dengan gambar 6.74% pada siklus I menjadi 88. Aspek yang diamati untuk mengukur keaktifan siswa dalam proses pembelajaran meliputi keseriusan siswa dalam mengikuti pelajaran. Ini menunjukkan bahwa semua siswa telah aktif dalam percobaan dan telah serius dalam mengerjakan tes.37% pada siklus III.02% pada siklus I menjadi 100% pada siklus II dan siklus III. dan lampiran 35.

fasilitator dan rewarder (Gulo. Berdasarkan percobaan tersebut kemudian ditarik kesimpulan tentang materi yang dibahas dengan bimbingan guru. guru memberikan penghargaan atas hasil yang telah dicapai oleh siswa. Dari informasi yang mereka dapatkan kemudian siswa disuruh membuat pertanyaan yang disertai dengan jawabannya. yaitu siswa diberi tugas untuk mencari informasi tentang materi yang akan dibahas baik melalui buku. maupun literature lain. . Hal tersebut sesuai dengan peranan guru dalam menciptakan kondisi yang mendukung yaitu motivator. Kegiatan selanjutnya adalah siswa melakukan percobaan untuk membuktikan informasi yang mereka peroleh. Penghargaan tersebut diberikan kepada siswa yang mau mempresentasikan hasil penemuannya di depan kelas. 2. 2005: 86-87). Untuk lebih memotivasi siswa.64 Adanya peningkatan ketertarikan dan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran diduga karena siswa memperoleh hal-hal baru yang menarik dan tidak menjenuhkan bagi siswa karena dalam pembelajaran dengan pendekatan IBL dituntut keaktifan yang tinggi pada diri siswa. Kegiatan Guru Sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar. internet. karena guru merupakan salah satu komponen yang mempengaruhi hasil belajar siswa. guru terlebih dahulu menjelaskan hal-hal yang harus dikerjakan oleh siswa. Peningkatan dan pencapaian hasil belajar yang sudah sesuai dengan yang diharapkan tidak lepas dari peran guru selama proses pembelajaran. Untuk itu upaya yang dapat dilakukan guru agar hasil belajar siswa dapat lebih optimal adalah dengan mempertinggi mutu penmgajaran dan kualitas proses pembelajaran.

teknik bertanya yang dimiliki guru belum maksimal. . siklus II. maupun siklus III terjadi peningkatan nilai rata-rata. Kekurangan dari siklus II ini kemudian diperbaiki pada siklus III dan didapatkan hasil bahwa guru sudah dapat melakukan pengelolaan waktu dengan baik.65 Dari hasil observasi kegiatan guru pada siklus I. yaitu untuk siklus I nilai rata-ratanya mencapai 3. Berdasarkan kekurangan pada siklus I kemudian dilakukan perbaikan pada siklus II.41. dan untuk siklus III mencapai 3.29. untuk siklus II mencapai 3. Dari siklus II didapatkan hasil bahwa guru sudah memotivasi siswa saat pembelajaran berlangsung yaitu dengan cara mengaitkan materi dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Pada siklus I guru mengalami beberapa kekurangan diantaranya adalah guru kurang memberi motivasi siswa saat pembelajaran berlangsung. guru kurang membawa siswa untuk mengaitkan materi dengan peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. pengelolaan kelas dan pengelolaan waktu kurang optimal. Hasil observasi ketiga siklus tersebut menunjukkan kriteria baik. teknik bertanya dan pengelolaan kelas sudah baik namun masih ada kekurangan dalam hal pengelolaan waktu.

dan 80. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL pada mata pelajaran kimia khususnya pada pokok bahasan sistem koloid dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA 12 Semarang. dan meningkat lagi menjadi 89.dan 78. Dengan demikian target peneliti telah tercapai. dan siklus III. siklus II.61 dengan ketuntasan 27. 77 pada siklus II.31.66 BAB V PENUTUP A.77 dengan ketuntasan klasikal 100% pada siklus III. Hal ini ditandai dengan meningkatnya nilai rata-rata hasil belajar siswa.39 pada siklus III.31 pada siklus I. Sedangkan hasil belajar psikomotorik siswa juga mengalami peningkatan dari siklus I. Hasil belajar afektif siswa mengalami peningkatan dari 72. 66 . berturut-turut nilai rata-ratanya adalah 72.91% dan setelah penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL menjadi 77. kemudian meningkat menjadi 86.42 dengan ketuntasan klasikal 83.72% pada siklus I.78.89 dengan ketuntasan klasikal 100% pada siklus II.09:76. Sebelum penerapan model pembelajaran dengan pendekatan IBL nilai rata-rata kognitif siswa 47..

2. Disarankan agar disamping menggunakan metode konvensional.67 B. Kreativitas guru perlu ditingkatkan untuk menjadikan model pembelajaran dengan pendekatan IBL lebih menarik . Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan. peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. guru juga perlu menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan IBL.

Dewi Nur dan Sabar Cahyono. Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian. Margono. Adrian. Karakteristi. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. J. Purba. Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa. Michael. Departemen Pendidikan Nasional. Grasindo.C. -. Rineka Cipta. Abstrak. Jakarta: PT. Nur’aini. What is Inquiry. 2004. . Jakarta: PT. John M. 09:50. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). 2003.Based Learning?.(---). 1998. Jakarta: PT. E. Rachmawati. 2003. Gramedia. Koestantionah. Jakarta: Rineka Cipta. 2001. 9-02-2006.org/edonline/concept2class/inquiry/index.00 Arikunto. Suharsimi. Kimia untuk SMA Kelas 2B. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep. Echols. Implementasi dan Inovasi. Surakarta: CV. Jakarta: Rineka Cipta. Roestiyah N. Jakarta: Bumi Aksara. Kamus Inggris-Indonesia. Pembelajaran Sains Sekolah dasar dengan Mengoptimalkan Kompetensi Siswa Melalui Pembelajaran PAKEM. 2003. http://www. 20-10-2004. dan Hasan Shadily. Jakarta: Erlangga Slameto.html. Kimia untuk SMA. Mulyasa.thirteeen. 14. 2005. ------------------------.1977. 2004. Strategi Belajar Mengajar.us/art05-65. W. http://artikel. dan M. Surakarta: Widya Duta. Gulo. 2002. Grahadi. 2004. Johari. K. Strategi Belajar Mengajar. Simpati Kimia Semester 2 Kelas XI. Bandung: PT. 2003.66 DAFTAR PUSTAKA -----. 2004.html. Jakarta: esis. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.M. Remaja Rosda Karya. Kimia SMA untuk kelas XI.

Evaluasi Pendidikan untuk Matematika. Bumi Aksara. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). 1989. Bandung: Wijaya Kusuma Susanto.00 Sudjana. 3979-Ind. Hadi. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Skripsi. Penerapan Pembelajaran Inquiry Terbimbing untuk Meningkatkan hasil belajar Sains Pokok Bahasan Cahaya Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Ngijo 03 Tahun Ajaran 2004/ 2005.67 ---------. S. Makalah. 2001.com/web/content/view/10202/7/. Penelitian Dosen. Makalah. 2004. 1999. 2005. Penyusunan Proposal Skripsi Pendidikan dan Pengefektifan Bimbingan Skripsi.riaupos. Disajikan pada pelatihan penyusunan proposal Skripsi Pendidikan. Amin.2005. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: PT. Erman. Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas II Program Percepatan SMP 2 semarang dalam Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran dengan Pendekatan IBL (Inquiry Based Learning) sebagai Strategi yang Berasosiasi dengan CTL (ContextualTeaching Learning). Reformulasi Otonomi Pendidikan. Umiyati. 1990. Tri. 10. A. http://www. Remaja Rosda Karya Suherman. Tim Pelatih Proyek PGSM. Muslim M (2006). Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi PGSM IBRD Loan No. Widodo. dkk. Bandung: PT. 2005. Pembelajaran Fisika dengan Pendekatan Inquiry. 28-03-206. Nana. Suyitno. Disajikan dalam rangka perencanaan dan implementasi kurikulum fisika 2004. Evaluasi Pendidikan. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful