Betapa Pentingnya Penataan Ruang Laut Pesisir Pendahuluan Pembangunan yang dilakukan di wilayah pesisir laut dan pulau

-pulau kecil sering memicu munculnya berbagai persoalan. Semuanya ini terkait erat dengan penataan ruang di kawasanpesisir laut dan pulau-pulau kecil. Sebut saja misalnya beberapakasus seperti penambangan pasir laut, rusaknya prasarana dan sarana wisata di kawasan pantai akibat terjangan gelombang besar, pencemaran sampai pada konflik pemanfaatan ruang.Pertanyaan yang patut diajukan melihat contohcontoh kasus itu adalah, “Mengapa itu semua dapat terjadi? Apakah tidak ada aturan tentang perencanaan, pemanfaatan dan pegendalian pemanfaatan ruang? Mengapa prasarana dan sarana wisata di pantai dibangun di tempat yang jaraknya sangat dekat dengan bibir pantai? Kenapa masyarakat pesisir khususnya nelayan masih kurang sejahtera?” Pertanyaan lain yang juga muncul adalah, “Apakah rencana tata ruang dapat meminimalkan akibat negatif tersebut dan dapat meminimalkan konflik kepentingan yang terjadi?” Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu dicermati dalam menata ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil yaitu: 1. Adanya perbedaan kepentingan yang dapat menimbulkanconflict of interest antar sektor dan atau antar stakeholders 2. Lemahnya kerangka hukum dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil 3. Rendahnya peran serta masyarakat dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil

Kompleksitas Pengaturan Sebuah aturan dibuat tentu dengan maksud agar semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) dapat terjamin kebutuhan dan kelangsungan kegiatan atau usahanya. Mengingat kawasan pesisir laut dan pulau-pulau kecil di Indonesia sudah semakin sarat penggunaan dan pemanfaatannya, maka sudah selayaknya bila kawasan ini memiliki aturan yang disepakati para pihak yang berkepentingan.Keberadaan tata ruang di kawasan ini dapat mengurangi dampakburuk pengelolaan sumber daya yang tidak terkendali dan dapat mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya yang ada.Mengingat keragaman pemanfaatan sumber daya di kawasan ini yang amat besar, mulai dari aspek pariwisata, spiritual, penangkapan ikan (dan produk perikanan lainnya), konservasi sumber daya biososiofisik dan pendidikan hingga aspek pertahanan-keamanan. Segala macam kepentingan itu, bila tidak diatur dengan jelas, maka suatu saat akan menimbulkan pergesekan kepentingan yang tidak jarang akan mengakibatkan konflik. Tingginya tingkat keragaman penggunaan kawasan pesisir laut dan pulaupulau kecil, sebagaimana disebutkan di atas turut meningkatkan pula kompleksitas pengaturan tata ruang di kawasan ini. Apakah sudah disiapkan suatu rencana tata ruang yang komprehensif dan terpadu sehingga dapat mengakomodasi kepentingan seluruh pihak di kawasan pesisirlaut dan pulau-pulau kecil? Pesimis vs Optimis Satu sisi pesimis atau dampak negatif dari pengaturan tata ruang di kawasan pesisir laut dan pulau-

Konsep Penataan Ruang Laut Pesisir dan PulauPulau Kecil . Model yang sama tentu dapat diterapkan untuk menyusun master plan tata ruang di kawasan pesisir laut dan pulau-pulau kecil. tapi juga memberi peluang untuk pengembangan kawasan di masa datang. utamanya pemberdayaan sumber daya manusianya (baca: nelayan) yang umumnya miskin dan terbelakang. Produk tata ruang inijuga dapat menjadi nilai jual yang menarik bagi investor yang berminat menanamkan modal di kawasan pesisir laut dan pulau-pulau kecil. Rencana tata ruang pesisir laut dan pulau-pulau kecil merupakan sebuah cetak biru (blue print) arahan pembangunan dalam kurun waktu tertentuyang tidak saja memberi ruang gerak dan usaha yang semakin jelas bagi para stakeholders. karenapembangunan kawasan pesisir laut dan pulaupulau kecil sarat dengan berbagai kepentingan yang sudah tumpang-tindih dan tidak jelas skala prioritasnya. tata ruang pesisir laut dan pulau-pulau kecil penting untuk dikaji secara lebih mendalam. Di lain pihak. adalah timbulnya konflik kepentingan. sisi optimis atau untungnya antara lain menyangkut efektivitas pengaturan. efisiensi ekonomi. dan pemerataan distribusi (bdk Fauzi. Pertimbangan negatif-positif atau untung-rugi (cost benefit analysis) sudah sangat biasa diterapkan dalam proses pengambilan keputusan di masa kini. seperti disebutkan di atas. Secara khusus. keberadaan tata ruang kawasan pesisir laut dan pulau-pulau kecil juga akan sangat membantu proses pembangunan sumber daya yang ada. 2005). Namun demikian.pulau kecil.

Melihat keterbatasan sumberdaya alam darat. Ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan negara kepulauan berciri Nusantara. Didalam lautan terkandung sumber pangan yang sangat besar seperti ikan. rumput laut. dan berhasil guna dengan berpedoman pada kaidah penataan ruang sehingga kualitas ruang wilayah nasional dapat terjaga keberlanjutannya demi terwujudnya kesejahteraan umum dan keadilan sosial sesuai dengan landasan konstitusional Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UU No. baik sebagai kesatuan wadah yang meliputi ruang darat. semakin berkurang akibat eksploitasi yang berlangsung sejak lama dan akibat menurunnya kualitas lingkungan. ruang laut. perlu ditingkatkan upaya pengelolaannya secara bijaksana. Tetapi sumberdaya alam darat seperti minyak dan gas bumi serta mineralmineral tertentu dan hasil-hasil perkebunan dan pertanian. dan ruang udara.Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang. pemanfaatan ruang. maupun sebagai sumber daya. merupakan salah satu modal dasar pembangunan bangsa saat ini. Sumberdaya laut lainnya adalah bahan tambang lepas . dll. 26 thn 2007). Pentingnya Penataan Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Sumberdaya pesisir dan lautan. disamping sumberdaya alam darat. berdaya guna. sudah saatnya melirik dan memanfaatkan potensi sumberdaya lautan. termasuk ruang di dalam bumi.

sumberdaya hayati seperti mangrove (hutan bakau). luasnya sumberdaya lautan dan pesisir menimbulkan permasalahan. serta sumberdaya mineral seperti minyak bumi dan gas alam (yang masih dalam penelitian) termasuk bahan tambang lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi. swasta dan masyarakat.pantai yang berperan penting untuk menyuplai energi.Disamping itu. selain itu juga wilayah pesisir memiliki potensi keindahan dan kenyamanan sebagai tempat rekreasi dan pariwisata. Kekayaan alam kelautan dan sumberdaya pesisir yang dimiliki Indonesia antara lain berupa sumberdaya perikanan. Pada sisi lain. menerapkan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan serta pendekatan pembangunan secara hati-hati. Kegiatan yang tidak terpadu itu selain kurang bersinergi juga sering saling mengganggu dan merugikan antar kepentingan. maka pemanfaatan sumberdaya pesisir secara optimal dan berkesinambungan hanya dapat terwujud jika pengelolaannya dilakukan secara terpadu. serta masih banyak lagi potensi sumberdaya hayati dan non hayati laut lainnya sehingga peranan sumberdaya pesisir dan laut semakin penting untuk memicu pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat. kini banyak terungkap bahwa wilayah lautan memiliki banyak harta karun yang melimpah di dasar laut akibat kapal-kapal pelayaran niaga yang karam pada masa lalu. terumbu karang. berupa ketidak terpaduan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir. Pada skala tertentu hal ini dapat menyebabkan dan memicu konflik antar kepentingan sektor. Dengan karakteristik wilayah pesisir seperti di atas. padang lamun. seperti .

kurangnya koordinasi antar pelaku pembangunan dan lemahnya penegakan hukum. sehingga di dalam proses perencanaan tata ruang yang demokratis dan akomodatif. swasta dan masyarakat) dalam pemanfaatan ruang.kegiatan industri yang polutif dengan kegiatan budidaya perikanan yang berdampingan. rendahnya kualitas sumberdaya manusia. Pengalamanpengalaman masa lalu banyak menunjukkan bahwa perencanaan yang prosedural. kemiskinan masyarakat pesisir. Untuk mengatasi permasalahan dalam pemanfaatan ruang wilayah pesisir diperlukan prinsip penataan ruang secara terpadu. Peran serta Pembangunan Masyarakat dan Pelaku Penataan ruang dapat dilihat sebagai kebijakan publik yang mengoptimalisasikan kepentingan antar pelaku pembangunan (pemerintah. Rencanarencana seperti itu selain kurang aspiratif juga cenderung . Prinsip Penataan Ruang Laut Pesisir dan PulauPulauKecil 1. Permasalahan lain yang merupakan permasalahan klasik meliputi keterbatasan sumber dana pembangunan. menjadi kurang dapat diimplentasikan karena menghadapi berbagai kendala di lapangan. termasuk tata ruang pesisir dan lautan. normatif dan kurang mengakomodasikan kepentingan para pelaku pembangunan yang ada di dalam proses penyusunannya. semua kepentingan pelaku pembangunan dapat diintegrasikan.

tetapi tetap diperlukan adanya konsistensi baik hal keterpaduan substansi maupun kesamaan visi-misi secara nasional.32/2004 tentang pemerintah daerah memberi peluang kepada daerah agar leluasa mengatur dan melaksanakan kewenangan atas dasar prakarsa sendiri sesuai dengan kepentingan masyarakat setempat dan potensi setiap daerah. pengawasan. baik terhadap timbulnya dampak lingkungan fisik ataupun sosial-ekonomi. tidak diterima dan tidak ditaati didalam pelaksanaannya. pengendalian dan evaluasi pada semua bidang. ataupun aspek kompensasi terhadap konsekuensi-konsekuensi biaya dampak yang ditimbulkan oleh akibat diberlakukannya rencana tata ruang pada suatu kawasan. pemerintah pusat berkepentingan dalam merumuskan kebijakan-kebijakan strategis dan pedoman-pedoman teknis yang berlaku secara umum. meskipun daerah diberikan otonomi secara luas. pelaksanaan. 3. utuh dan bulat yang meliputi perencanaan.Dalam kerangka negara kesatuan. Kompensasi Masyarakat selama ini tidak mengetahui ataupun diberi hak untuk menegosiasikan penyelesaian konflik. 2.tidak diakui.Pembangunan yang terpadu dan berkelanjutan . Kewenangan daerah tersebut dilaksanakan secara luas. 4. Oleh karena itu sesuai dengan kewenangannya. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Undang-Undang No.

tetapi mayoritas dapat berlokasi di wilayah pesisir-nya.Prinsip pembangunan berkelanjutan yang diterapkan pada penataan ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil memerlukan pemahaman bahwa ruang harus tetap dilihat sebagai satu kesatuan sistem yang perencanaannya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. tetapi belum tentu berakibat pada wilayah daratannya. sudut pandang ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Hal lain yang perlu dicermati sebagai dasar penyusunan perencanaan terpadu adalah jangkauan skala pelayanan yang harus dipandang secara utuh. misalnya kabupaten pesisir tertentu yang akan menentukan sentra-sentra aktivitasnya atau dalam UU Penataan Ruang dikenal sebagai istilah pusat-pusat permukiman yang membentuk struktur ruang. 5. Satu daerah. Sebaliknya aktivitas yang dilakukan di wilayah darat akan berpengaruh pada daratan itu sendiri dan juga akan berpengaruh pada wilayah lautannya. Prinsip penataan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan salah satu dasar pemikiran bahwa penataan ruang dilakukan secara terpadu khususnya antara darat dan laut. Hal ini dapat berimplikasi pada penentuan lokasi pusat-pusat permukiman yang tidak terdominasi di wilayah daratannya. maka variabel ekonomi yang diperhitungkan merupakan keseluruhan variabel sumberdaya yang ada di darat dan di laut. Penentuan Sektor Unggulan Sektor unggulan merupakan sektor potensial untuk dikembangkang pada wilayah pesisir laut dan pulau-pulau . Aktivitas yang dilakukan di laut berakibat pada laut itu sendiri.

sektor potensial harus seminimal mungkin mengganggu keberlangsungan ekosistem pesisir dan laut yang ada. seperti sasi di Maluku. Hak adat atau ulayat di wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil di Indonesia sudah berkembang sejak lama. Penataan ruang juga menterpadukan secara spatial fungsifungsi kegiatan pemanfaatan ruang. dan media partisipatif lainnya. yaitu: penghasil devisa. Hak Adat/ Tradisional Keputusan terhadap konflik kepentingan dalam kegiatan pemanfaatan ruang yang terjadi antara para pelaku pembangunan diselesaikan melalui pendekatan musyawarah. awig-awig di BaliNusa Tenggara. baik antar sektor maupun antar wilayah administrasi pemerintahan agar . Sektor tersebut memiliki kriteria. 6. Eksistensi hak adat ini tetap menjadi perhatian utama dalam perencanaan tata ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil.kecil. panglima laot di Aceh. Penataan ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil sangat penting memperhatikan dan mengadopsi akan adanya hak adat/tradisional dan hak-hak lainnya yang sudah hidup dan berlaku dalam sistem tatanan sosial setempat. Pendekatan Perencanaan Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Penataan ruang merupakan kebijakan publik yang bermaksud mengoptimalisasikan kepentingan antar pelaku pembangunan dalam kegiatan pemanfaatan ruang. menyerap tenaga kerja banyak dan yang terpenting dalam perencanaan tata ruang laut pesisir dan pulaupulau kecil.

adanya peran serta aktif dan kesepakatankesepakatan antar pelaku pembangunnan di dalam penyusunan rencana . dimensi ruang laut perlu dipandang lebih kompleks. Dalam perencanaan tata ruang perlu memperhatikan faktorfaktor yang menentukan terjadinya produk rencana. produk rencana diakui.Legal aspek. yaitu : . Melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin .Konsensus. Dalam konteks perencanaan ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil. baik terhadap biaya dampak lingkungan fisik maupun sosial-ekonomi. secara teknis ada kesamaan materi dengan rencana-rencana pada tingkat makro .Konsistensi. memperhatikan konsekuensi-konsekuensi biaya dampak yang ditimbulkan oleh akibat rencana tata ruang dilaksanakan. khususnya di wilayah laut (perairan). dapat diterima dan ditaati oleh semua pelaku pembangunan (karena memperhatikan faktor konsensus di atas) . yang tidak harus mematikan salah satu potensi sumber daya. Skala prioritas harus dipandang sebagai suatu konsensus.Legitimasi.Kompensasi. Ketiga layer ini dapat memiliki beragam potensi sumberdaya yang bisa dikembangkan. Penataan ruang meliputi proses perencanaan tata ruang. layer kolom laut dan dasar laut. pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. ada layer permukaan laut.bersinergi positif dan tidak mengganggu. produk rencana mempunyai kekuatan dan kepastian hukum .

berkembang. Pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan dalam penataan ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil akan melibatkan berbagai sektor yang berkompeten. optimalisasi ini dapat dilakukan dengan mengeksploitasi potensi sumberdaya-sumberdaya yang ada secara bersamaan. departemen dalam negeri. pekerjaan umum. departemen kelautan dan perikanan. diantaranya: kementerian kebudayaan dan pariwisata. departemen perindustrian. Sinkronisasi program dan kegiatan menjadi kunci utama dalam penyelenggaraan pemanfaatan ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil yang efektif dan efisien. departemen perhubungan. melalui pengaturan-pengaturan pemanfaatan yang terintegrasi. Lebih dari 5 (lima) sektor yang memiliki kepentingan dalam pembangunan pesisir laut dan pulau-pulau kecil. departemen kehutanan. TNI-AL. dll. dalam hal ini termasuk sebagai pelaku pembangunan. Pemanfaatan dan Pengendalian dalam Penataan Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Pemerintah. sehinggapemanfaatan dan pengendalian ruang dapat lebih didekatkan kepada masyarakat ataupun pelaku pembangunan. tetapi dituntut peranannya sebagai fasilitator dalam kegiatan penataan ruang. departemen. sebaiknya bukan hanya sebagai pengambil keputusan kebijakan tata ruang. Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan untuk mewujudkan ruang wilayah nasional . departemen perdagangan.

sehingga masyarakat dan seluruh stakeholders akan mengawal konsistensi rencana tata ruang yang ada 3. hal ini dapat diwujudkan melalui upaya-upaya seluruh pihak yang berkompeten untuk berkomitmen menyelenggarakan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang yang sudah disepakati dan ditetapkan. swasta dan masyarakat 4. produktif dan Bagaimana penataan ruang dapat mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman. Bagaimana agar antar sektor dapat menghilangkan konflik kepentingan yang ada 2. Bagaimana agar pemerintah dapat mensinkronkan segala program dan kegiatan yang dilakukan oleh semua pihak yaitu pemerintah. Bagaimana agar pelanggaran terhadap arahan rencana tata ruang yang sudah ditetapkan dapat dihilangkan. Meningkatkan Ekonomi Bangsa Melalui Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir Luas laut kita yang merupakan 70 persen dari luas keseluruhan total dengan panjang pantai sepanjang 81. Bagaimana agar masyarakat dapat memahami dan menyepakati perencanaan tata ruang.yang aman. Selain itu diketahui pula bahwa potensi sumber daya kelautan Indonesia terutama . berkelanjutan nyaman. Beberapa hal diantaranya adalah: 1.000 km beserta jumlah pulau-pulau kecil sebesar 17.408 pulau merupakan potensi yang sangat besar yang dapat dikelola dan dimanfaatkan. nyaman. produktif dan berkelanjutan? Dalam konteks penataan ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil.

hal ini diperlihatkan dari data secara kasat mata bahwa masyarakat pesisir yang merupakan masyarakat yang paling dekat dengan sumberdaya pesisir dan laut umumnya masih tergolong pada masyarakat miskin atau dikategorikan sebagai masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah. karena paradigma pembangunan kita umumnya masih memusatkan perhatiannya untuk mengalokasikan sumberdaya pembangunan yang ada kepada sektor-sektor atau wilayah-wilayah yang berpotensi besar dalam menyumbang kepada pertumbuhan ekonomi. Namun pada kenyataannya sektor perikanan dan kelautan nasional masih belum dimanfaatkan secara optimal. yang pada umumnya berlokasi di kawasan darat. Kondisi ini juga dapat kita tarik kesimpulan bahwa arahan pembangunan nasional belum atau masih sangat minim menyentuh wilayah pesisir dan laut kita. (Budiharsono S. 2001).26 juta ton per tahun. pertambangan dan energy kelautan yang sebagian besar memanfaatkan potensi sumberdaya laut dan pesisir nusantara. Besarnya peluang-peluang ekonomi kita dari pemanfaatan potensi sumberdaya laut dan pesisir yang sedemikian besar ini sudah sepatutnya memberikan kontribusi yang besar pula bagi peningkatan perekonomian bangsa.. bahkan sudah sepatutnya pula menjadi sektor pengerak ekonomi nasional yang dominan. .potensi sumber daya ikan laut di seluruh perairan Indonesia (tidak termasuk ikan hias) diperkirakan mencapai sebesar 6. hal ini belum dihitung besarnya akumulasi ekonomi yang dapat diciptakan oleh sektor pariwisata. perhubungan laut.

Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam rangka peningkatan ekonomi nasional adalah melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.Dalam rangka peningkatan ekonomi nasional. Hal ini dilakukan sebagai indikator dasar bahwa peningkatan ekonomi masyarakat pesisir sudah tentu merupakan indikasi bahwa adanya perkembangan ekonomi yang sangat signifikan melalui pemanfaatan sumberdaya pesisir. Secara ekologis sumberdaya di wilayah pesisir. Pembangunan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang Berkelanjutan Upaya pembangunan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil perlu memperhatikan karakteristik sumberdayanya. sehingga perlakuan pada satu ekosistem akan mempengaruhi ekosistem lainnya. laut dan pulau-pulau kecil memiliki keterkaitan antar ekosistem yang erat. Perhatian terhadap kondisi fisik dan karakteristik ekosistem sumberdaya di wilayah pesisir. dengan dampak yang sangat signifikan bagi masing-masing ekosistem. laut dan pulaupulau kecil merupakan faktor yang paling penting menjadi perhatian dalam setiap keputusan pembangunan yang akan diambil. . Hal ini dilakukan karena karakteristik sumberdaya di wilayah pesisir. pemanfaatan dan pengelolaan yang optimal. pemanfaatan sumberdaya pesisir laut dan pulau-pulau kecil perlu menjadi perhatian lebih melalui perencanaan. laut dan pulau-pulau kecil sangat unik. laut dan pulaupulau kecil secara nasional yang sudah tentu memberikan kontribusi yang besar pula kepada struktur dan skema ekonomi nasional.

Hal yang paling krusial pada konsep ini adalah menemukan cara meningkatkan kesejahteraan masyarakat sambil menggunakan sumber daya alam secara bijaksana. Optimalisasi Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Laut dan Pulau-Pulau Kecil Peningkatan optimalisasi pembangunan sektor ekonomi berbasis sumberdaya pada wilayah pesisir. sehingga keberlanjutan sumberdaya itu sendiri menjadi hal yang perlu dijaga. laut dan pulau-pulau kecil merupakan upaya yang dapat meningkatkan pendapatan nasional secara besar. sehingga sumber daya alam terbarukan dapat dilindungi. laut dan pulau-pulau kecil. sebab inti pemanfaatan dan pembangunan di wilayah pesisir dan laut lebih dominan melakukan eksplorasi pemanfaatan sumberdaya hayati dibandingkan non hayati. dan penggunaan sumber alam yang dapat habis (tidak terbarukan) pada tingkat di mana kebutuhan generasi mendatang masih tetap akan terpenuhi. Pemanfaatan yang dilakukan hendaklah secara bijaksana yang berarti bahwa bagaimana mengelola segenap kegiatan pembangunan yang terdapat di suatu wilayah . konsentrasi pertimbangan lingkungan perlu lebih kental menjadi perhatian. Dalam konsep pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa membahayakan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya.Berkiblat pada kondisi ini. upaya pembangunan yang dilakukan berbasis pada konsep pembangunan berkelanjutan dimana pada konteks pembangunan di wilayah pesisir.

rencana pengeloaan dan rencana aksi di wilayah pesisir. sehingga total permintaan (demand) terhadap sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan tidak melampaui kemampuan suplainya. Dengan demikian. Dalam hal ini perlu adanya perencanaan dan pengelolaan yang komprehensif yang dapat mendefinisikan arahan pembangunan pada setiap pemanfaatan yang akan dilakukan. Dalam undang-undang ini dituangkan upaya pemanfaatan sumberdaya melalui rencana strategis. Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pesisir. Melalui konsep perencanaan yang komprehensif. Undang-undang ini merupakan langkah awal dari pemerintah pusat dalam rangka mengoperasionalkan. laut dan pulau-pulau kecil dapat berkelanjutan. laut dan pulau-pulau kecil. maka pola dan laju pembangunan harus dikelola sedemikian rupa. perlu adanya arahanarahan pemanfaatan yang sesuai dengan karakteristik fisik dan peluang yang akan dikembangkan. terarah. Salah satu upaya pemerintah dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pesisir. rencana zonasi.yang berhubungan dengan wilayah pesisir. .27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Dimensi ini memberikan suatu informasi tentang daya dukung (kemampuan suplai) sistem alam di wilayah pesisir. laut dan pulau-pulau kecil dalam menopang segenap kegiatan pembangunan dan kehidupan manusia. laut dan pulaupulau kecil agar total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya. mengatur dan mengoptimalkan segala kegiatan di wilayah pesisir. agar pembangunan di wilayah pesisir. laut dan pulau-pulau kecil. laut dan pulau-pulau kecil adalah dengan terbitnya UU No. laut danpulau-pulau kecil.

laut dan pulua-pulau kecil diharapkan sertiap perencanaan yang dilakukan dapat mengakomodir kepentingan masyarakat sebagai obyek pembangunan. Pengembangan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Berbasis Ekosistem Pesisir dan Laut . laut dan pulaupulau kecil dapat terwujud. Melalui peningkatan peran serta masyarakat dalam penataan ruang pesisir. maupun pengendalian pemanfaatan tata ruang menjadi sangat relevan dalam rangka menciptakan wilayah yang humanopolis yaitu suatu wilayah yang dibangun dengan mengacu secara inovatif pada penataan ruang yang mengutamakan dan melibatkan kepentingan masyarakat.Peran serta masyarakat dalam penataan ruang baik dalam tahap perencanaan. Perlibatan ini diharapkan juga dapat meningkatkan pengawasan setiap pelaksanaan pembangunan oleh masyarakat sendiri agar sesuai dengan rencana.terpadu dan berkelanjutan diharapkan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir. pemanfaatan. sehingga tujuan kita semua dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir pada khususnya dan ekonomi nasional pada umumnya dapat terjadi. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Penataan Ruang Laut Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Salah satu faktor yang menjadi stimulan pembangunan adalah peran masyarakat dalam setiap kegiatan pembangunan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka eksistensi sumberdaya di wilayah pesisir. laut dan pulau-pulau kecil. dimana pendekatan ekonomi sangat kental dalam setiap keputusan pembangunan yang akan dilakukan. laut dan pulau-pulau kecil haruslah dijaga dan di pertahankan kelestarian agar keberlanjutan ekonomi juga dapat berlangsung.Konsep yang akan dikembangkan dalam Pengembangan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kemudian secara garis besar akan secara dominan berbasis pada pendekatan ekosistem pesisir dan laut. seringkali melupakan pertimbangan lingkungan atau dinomor duakan bahkan di lupakan. laut dan pulau-pulau kecil secara garis besar berbeda dengan konsep pembangunan yang diterapkan pada di wilayah darat. pertimbangan ekosistem merupakan hal yang paling krusial di . Pendekatan Perencanaan Tata Ruang Laut. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Berbasis pada Ekosistem Pesisir Kegiatan pembangunan yang akan di kembangkan di wilayah pesisir. laut dan pulau-pulau kecil. Konsep pembangunan di wilayah darat lebih dikenal dengan pengembangan wilayah. Terkadang. akibat pendekatan ekonomi yang cenderung ekspansif. Lain halnya dengan konsep perencanaan tata ruang dan pembangunan yang akan di lakukan di wilayah pesisir. Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan bahwa keberadaan sumberdaya hayati di pesisir dan laut merupakan sumberdaya yang paling potensial dan dominan dikembangkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi pada wilayah pesisir.

bahwa pertimbangan ini dilakukan karena secara ekologi keterkaitan ekosistem pada wilayah pesisir. Berangkat dari konsep yang dikembangkan ini berarti setiap perencanaan ruang dan arahan pemanfaatan sumberdaya yang akan dilakukan adalah bagaimana merencanakan dan mengelola segenap kegiatan pembangunan yang terdapat di suatu wilayah yang berhubungan dengan wilayah pesisir. Jadi kegiatan yang dihasilkan harus saling terintegrasi satu sama lain. Oleh karena itu pengelolaan yang dilakukan perlu memperhatikan aspek lingkungan dan keterkaitan ekosistem yang ada untuk menghindari dampak kerusakan lingkungan yang akan mengganggu keseimbangan dan keberadaan sumberdaya dan keanekaragaman hayati di laut.perhatikan. Seperti yang telah di bahas sebelumnya. Perencanaan Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulaupulau Kecil Berbasis Mitigasi Bencana . sehingga setiap perlakuan pembangunan yang akan diterapkan perlu memperhatikan aspek ekosistem pada wilayah pesisir dan laut. Selain itu arahan kebijakannya seoptimal mungkin lebih ditekankan pada aspek konservasi dengan pemanfaatan terbatas dan berkelanjutan. laut dan pulau-pulau kecil sangatlah erat satu sama lain. laut dan pulau-pulau kecil agar setiap kegiatan yang dikembangkan maupun yang akan dikembangkan sesuai atau tidak bertentangan dengan karakterisitk fisik dan ekosistemnya dengan batasan kegiatan dimana total dampaknya tidak melebihi kapasitas fungsionalnya.

Keterkaitan UU No. penurunan permukaan tanah. terutama bencana gempa bumi bahkan tsunami seperti di wilayah lepas pantai Selatan Indonesia dari Sumatera. Jawa. wilayah pesisir kita juga sangat rawan terhadap bencana lainnya yang perlu menjadi perhatian besar baik akibat dampak dari pembangunan maupun yang terjadi akibat faktor alam seperti banjir akibat pasang air laut. maka dalam perencanaan selanjutnya pertimbangan fisik kawasan dan pertimbangan dan pendekatan aspek mitigasi bencana kemudian perlu menjadi perhatian dalam melakukan setiap perencanaan di wilayah pesisir.Wilayah pesisir laut dan pulau-pulau kecil kita secara garis besar memiliki karakteristik fisik yang unik. intrusi air laut dan lain sebagainya. sebagian besar wilayah pesisir. Dari beberapa hasil penelitian. Selain potensi bencana gempa dan tsunami. laut dan pulau-pulau kecil kita memiliki potensi besar terhadap bencana. longsor. Berdasarkan kondisi dan karakteristik yang umumnya terjadi pada kawasan pesisir. sedimentasi. abrasi dan akresi. Bali dan Nusa Tenggara serta Laut Sulawesi di Utara. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan UU No. laut dan pulau-pulau kecil dalam rangka mengeliminasi dampak lingkungan yang akan muncul di kemudian hari. laut dan pulau-pulau kecil. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan PulauPulau Kecil Keterkaitan antara Rencana Tata Ruang Laut Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil dan Rencana .

dan ruang udara. Kabupaten dan Kota akan disahkan dengan peraturan daerah dan harus memuat arahan perencanaan untuk matra darat. UU no. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil mengamanatkan untuk menata kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil secara . termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah (UU no. Faktanya keruangan kawasan lautan dan pesisir.. ruang laut. undang-undang Penataan Ruang mengamanatkan bahwa ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat. 26/2007).Zonasi Wilayah Pesisir Laut dan Pulau-Pulau Kecil Undang-Undang Penataan Ruang tahun 2007 mengamanatkan beberapa hal yang merupakan penyempurnaan dari UU Penataan Ruang sebelumnya (tahun 1992). Fakta tersebut seharusnya menyadarkan kita akan jati diri kita sebagai negara maritim.7 juta km2. dalam UUpenataan ruang ini masih sangat terkesan land vision. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. laut dan udara secara terpadu. Provinsi. Dalam kaitan dengan rencana tata ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil. Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas 17. sehingga dalam isu tata ruang lautan dan pesisir dapatmengakomodasi operasionalisasi dari UU pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil ini dalam kerangka yang akan lebih dilihat tidak hanya dari sudut pandang continental vision. Semua tahu.508 buah pulau dan memiliki pantai terpanjang kedua di dunia (kira-kira sepanjang 81 ribu Km2) setelah Canada dengan luas Zona Ekonomi Eksklusif lautan sebesar 7.

Contohnya. antar pemerintah dan pemerintah daerah. 27 tahun 2007 ini merupakan dasar pengelolaan sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil secara optimal yang akan dikemas dalam pengaturan-pengaturan hak-hak dilaut. Rencana zonasi merupakan komplementer dan sebagai satu dasar pertimbangan bagi penentuan muatan rencana tata ruang laut pesisir dan pulau-pulau kecil. Operasionalisasi pengelolaan ini dituangkan dalam produk rencana zonasi yang menjadi tools dalam pembangunan wilayah pesisir dan pulaupulau kecil. Penataan kawasan pesisir laut dan pulau-pulau kecil akan terdominasi oleh isu-isu diantaranya: perbatasan negara. antara ekosistemdarat dan laut. 27/2007). Setelah 2(dua) peristiwa . dan kemiskinan masyarakat pesisir. dalam UU ini dikenal sebagai Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3). serta antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat (UU no. 27/2007). pengawasan. illegal fishing. dan pengendalian sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil antar sektor. persoalan penanganan dan pengawasan daerah perbatasan menjadi sesuatu yang tidak mudah. UU No.berkelanjutan. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan. Sementara itu rencana zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumberdaya tiaptiap satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelahmemperoleh izin (UU no. pemanfaatan. degradasi lingkungan.

Sekatung di Kepulauan Natuna. . Berhala dan Nipah di Selat Malaka. baik daratan maupun pulau-pulau terluar.penting masing-masing lepasnya bekas propinsi Timor Timur tahun 1999 dan menjadi negara merdeka. nyaman. sehingga wilayah-wilayah perbatasan negara dikelola secara lebih optimal. Miangas. serta Pasir di selatan Nusa Tenggara Timur. Pengelolaan perbatasan sebaiknya tidak melulu mengutamakan pada pendekatan keamanan (security approach) daripada pendekatan kesejahteraan (prosperity approach). Inilah sebagai salah satu yang diterjemahkan dalam pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. sehingga telah mengakibatkan wilayah perbatasan. kurangnya infrastruktur dan pusat-pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masyarakatnya menjadi relatif miskin dan tertinggal. Untuk cakupan yang lebih luas wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil diharapkan dapat menjadi wilayah yang aman. dan tetap dikelola secara arif dan berkelanjutan. Pulaupulau yang berpotensimenimbulkan konflik adalah . sehingga yang melatarbelakangi pula maraknya kegiatan-kegiatan illegaltermasuk illegal fishing. menjadi daerah yang nyaris tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan. dan menangnya pihak Malaysia dalam sidang Mahkamah Internasional di Den Haag tahun 2003 terhadap kepemilikan Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan. Beras di Papua. Marore. Rondo di Sabang.

Penataan Ruang menurut UU26/2007 vs Rencana Zonasi menurut UU27/2007 Hirarki Perencanaan Menurut Undang Undang no 27 tahun 2007 .

Hirarki Rencana Zonasi menurut UU27/2007 Wilayah Perencanaan Zonasi Pesisir .

Konservasi. Alur dan Strategis Nasional Tertentu Site Plan Budidaya Rumput Laut di Bali Timur Yang Tidak Selaras dengan Rencana Zonasi .Empat Kawasan menurut Rencana Zonasi: Pemanfaatan Umum.

Sekedar Contoh Lain ttg Penataan Zonasi Yang Baik .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful