Hak Milik atas Tanah (oleh: Melianawaty

)
OPINI | 04 July 2010 | 11:20 Dibaca: 12006 Kompasianer menilai Bermanfaat Komentar: 11 1 dari 1

Tanah merupakan salah satu sumber kehidupan yang sangat vital bagi manusia, baik dalam fungsinya sebagai sarana untuk mencari penghidupan (pendukung mata pencaharian) di berbagai bidang seperti pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, industri, maupun yang dipergunakan sebagai tempat untuk bermukim dengan didirikannya perumahan sebagai tempat tinggal. Ketentuan yuridis yang mengatur mengenai eksistensi tanah yaitu terdapat dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (selanjutnya disebut UUPA), yang merupakan pelaksanaan dari ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Adapun pengejawantahan lebih lanjut mengenai hukum tanah banyak tersebar dalam berbagai peraturan perundang-undangan lainnya seperti Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai atas Tanah; Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak atas Tanah; dan lain-lain. Dalam ruang lingkup agraria, tanah merupakan bagian dari bumi yang disebut permukaan bumi. Tanah yang dimaksudkan di sini bukan mengatur tanah dalam segala aspeknya, melainkan hanya mengatur salah satu aspeknya yaitu tanah dalam pengertian yuridis yang disebut hak. Tanah sebagai bagian dari bumi disebutkan dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA yaitu “atas dasar hak menguasai dari negara sebagai yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang baik sendiri maupun bersamasama dengan orang lain serta badan-badan hukum. Konsep hak-hak atas tanah yang terdapat dalam hukum agraria nasional membagi hakhak atas tanah dalam dua bentuk:2 1. hak-hak atas tanah yang bersifat primer yaitu hak-hak atas tanah yang dapat dimiliki atau dikuasai secara langsung oleh seorang atau badan hukum yang mempunyai waktu lama dan dapat dipindahtangankan kepada orang lain atau ahli warisnya seperti Hak Milik (HM), Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan (HGB), Hak Pakai (HP). 2. hak-hak atas tanah yang bersifat sekunder yaitu hak-hak atas tanah yang bersifat sementara seperti hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak menumpang, dan hak menyewa atas tanah pertanian.

.Dari berbagai macam hak atas tanah tersebut. tidak terbatas.Pasal 6 : Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial. . Terkuat artinya hak milik atas tanah lebih kuat dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain. Terpenuh artinya hak milik atas tanah memberi wewenang kepada pemiliknya lebih luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain. dan penggunaan tanahnya lebih luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain. hak milik merupakan satu-satunya hak primer yang mempunyai kedudukan paling kuat dibandingkan dengan hak-hak yang lainnya.3 Pernyataan di atas mengandung pengertian betapa penting dan berharganya menguasai hak atas tanah dengan title “Hak Milik” yang secara hukum memiliki kedudukan terkuat dan terpenuh sehingga pemilik hak dapat mempertahankan haknya terhadap siapapun. yang dapat dipunyai orang atas tanah.Pasal 21 ayat (1) : Hanya Warga Negara Indonesia dapat mempunyai hak milik. tidak mempunyai batas waktu tertentu.Pasal 18 : Untuk kepentingan umum. dengan memberi ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang diatur dengan undangundang. . Hal ini dipertegas dalam ketentuan Pasal 20 ayat (1) UUPA yang berbunyi: “Hak milik adalah hak turun temurun. hak-hak atas tanah dapat dicabut.Pasal 17 : Dengan mengingat ketentuan dalam pasal 7 maka untuk mencapai tujuan yang dimaksud dalam pasal 2 ayat (3) diatur luas maksimum dan/atau minimum tanah yang boleh dipunyai dengan sesuatu hak tersebut dalam pasal 16 oleh satu keluarga atau badan hukum.Pasal 7: Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan.” Turun temurun artinya hak milik atas tanah dapat berlangsung terus selama pemiliknya masih hidup dan bila pemiliknya meninggal dunia. dapat menjadi induk bagi hak atas tanah yang lain. mudah dipertahankan dari gangguan pihak lain. dan tidak dapat diganggu gugat. terpenuh. Seseorang tidak dibenarkan mempergunakan atau tidak mempergunakan hak miliknya (atas tanah) semata hanya untuk kepentingan pribadinya. . dengan mengingat ketentuan dalam Pasal 6. dan tidak mudah hapus. terkuat. Pembatasan yang paling nyata diatur dalam ketentuan UUPA antara lain terdapat dalam pasal-pasal sebagai berikut: . . karena dalam situasi dan kondisi tertentu hak milik ini dapat pula dibatasi. maka hak miliknya dapat dilanjutkan oleh ahli warisnya sepanjang memenuhi syarat sebagai subjek hak milik. Namun demikian bukan berarti bahwa sifat terkuat dan terpenuh yang melekat pada hak milik menjadikan hak ini sebagai hak yang mutlak. termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. apalagi jika hal itu dapat merugikan kepentingan masyarakat karena sesuai dengan asas fungsi social ini hak milik dapat hapus jika kepentingan umum menghendakinya.

Sistem publikasi positif. Asas ini bertujuan untuk melindungi orang yang beritikad baik. termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya. Adapun mengenai jaminan perlindungan dan kepastian hukum bagi hak milik atas tanah terdapat penegasannya lebih lanjut yaitu melalui suatu mekanisme yang dinamakan „Pendaftaran Tanah” atau “Recht Kadaster.” Pasal 1 angka (1) Ketentuan Umum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dinyatakan bahwa Pendaftaran Tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus. 5 . Dari kedua asas tersebut melahirkan 2 sistem pendaftaran tanah. pengolahan.Asas itikad baik. berkesinambungan dan teratur. yaitu: . yaitu asas itikad baik dan asas nemo plus yuris. oleh karena itu ada dorongan bagi setiap orang untuk mendaftarkan haknya. yaitu bahwa orang yang memperoleh sesuatu hak dengan itikad baik akan tetap menjadi pemegang hak yang sah menurut hukum. pertama asas “Nemo plus juris transfere potest quam ipse habel”. artinya tidak seorangpun mengubah bagi dirinya atau kepentingan pihaknya sendiri. dalam bentuk peta dan daftar mngenai bidangbidang tanah dan satuan-satuan rumah susun. meliputi pengumpulan.4 Kedua asas tersebut semakin mengukuhkan kekuatan sifat terkuat dan terpenuh hak milik atas tanah. telah dikenal dua asas. . pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis. Kekurangannya adalah bahwa pendaftaran tersebut tidak lancar dan dapat saja terjadi pendaftaran atas nama orang yang tidak berhak dapat menghapuskan hak orang yang berhak.Asas nemo plus yuris. dan segala keistimewaan dari hak milik mempunyai nilai keabsahan dan kehalalan yang dijamin kedua asas tersebut. tujuan dari penggunaan objeknya. Kedua. asas “Nemo sibi ipse causam possessionis mutare potest”. artinya tidak seorangpun dapat mengalihkan atau memberikan sesuatu kepada orang lain melebihi hak miliknya atau apa yang dia punyai. Kewenangan yang luas dari pemiliknya untuk mengadakan tindakan-tindakan di atas tanah hak miliknya. yaitu bahwa apa yang sudah terdaftar itu dijamin kebenaran data yang didaftarkannya dan untuk keperluan itu pemerintah meneliti kebenaran dan sahnya tiap warkah yang diajukan untuk didaftarkan sebelum hal itu dimasukkan dalam daftar-daftar. kekuatan pemiliknya untuk selalu dapat mempertahankan hak miliknya dari gangguan pihak lain. Asas ini bertujuan melindungi pemegang hak yang selalu dapat menuntut kembali haknya yang terdaftar atas nama siapapun. Jadi kelebihan pada sistem pendaftaran ini adalah adanya kepastian dari pemegang hak.Mengenai keabsahan dan kehalalan hak milik. . yaitu bahwa orang tidak dapat mengalihkan hak melebihi hak yang ada padanya. Berkaitan dengan hal ini terdapat 2 macam asas hukum.

meletakan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional yang akan merupakan alat untuk membawakan kemakmuran. 3.Sistem publikasi negatif. kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan rakyat. kenyataan ini malah akan semakin menyeret pada proses pemiskinan penduduk yang entah disadari atau tidak oleh para pembuat kebijakan bahwa proses pemiskinan tersebut ternyata malah lahir dari para pelaksana kebijakan itu sendiri. pencabutan hak atas tanah milik yang tidak dilandasi amanat Pasal 18 UUPA seringkali terjadi. Ironisnya. Bagi penduduk yang masih memiliki lahan luas. bukan hal mudah untuk mewujudkan cita-cita pembentukan UUPA tersebut karena konflik kepentingan antara berbagai pihak senantiasa menjadi duri dalam pencapaian tujuan tersebut sehingga pelaksanaan kebijakan yang mengatur masalah hak-hak atas tanah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tetapi kekurangannya adalah bahwa orang yang terdaftarkan akan menanggung akibatnya bila hak yang diperolehnya berasal dari orang yang tidak berhak sehingga orang menjadi enggan untuk mendaftarkan haknya. Masyarakat dituntut untuk melepaskan haknya dengan alih-alih untuk kepentingan umum dengan diperkuat oleh asas fungsi sosial hak atas tanah yang termuat dalam pasal 6 UUPA. mungkin hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan. Kebijakan hukum tentang pembatasan kepemilikan hak atas tanah yang diterapkan dalam pasal-pasal UUPA tersebut dalam tatanan teoritis idealis tampak mencerminkan cita-cita dari pembentukan UUPA itu sendiri yang pada pokoknya bertujuan untuk: 1. kenyataan pahit ini harus diterimanya dengan terpaksa. Dalam praktek. dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur. meletakan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan. dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan. terutama rakyat tani. . yaitu bahwa daftar umum tidak mempunyai kekuatan hukum sehingga terdaftarnya seseorang dalam daftar umum tidak merupakan bukti bahwa orang tersebut yang berhak atas hak yang telah didaftarkan. namun bagi sebagian besar penduduk yang hanya memiliki sebidang lahan sempit.. 2. Kelebihan dari system pendaftaran ini yaitu kelancaran dalam prosesnya dan pemegang hak yang sebenarnya tidak dirugikan sekalipun orang yang terdaftar bukan orang yang berhak. Perselisihan yang terjadi baik secara horizontal maupun vertikal banyak mewarnai ranah pertanahan Indonesia. Dalam tatanan praktis. khususnya mengenai hak milik ini sehingga pada akhirnya banyak melahirkan sengketa hak milik. meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hakhak atas tanah bagi rakyar keseluruhan. tetapi ganti kerugian yang diberikan tidak seimbang dengan nilai hak yang dilepaskan sehingga banyak masyarakat yang pada akhirnya tidak dapat bermukim kembali secara layak karena ganti kerugian yang diterima tidak mampu untuk menggantikan kedudukannya seperti sedia kala.

persoalan utama yang menjadi landasan terciptanya konflik dan pemiskinan besarbesaran penduduk desa tersebut adalah sosok aparat pemerintah yang bersekutu dengan pemilik modal dalam memanfaatkan pengelolaan sumber daya alam di pedesaan yang terjadi di Indonesia selama berkuasanya rejim Orde Baru yang merupakan produk strategi pembangunan berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. . ternyata tidak mendapatkan kembali tanah mereka yang didistribusikan kepada orang-orang lain. Salah satu rumusan strategi pertumbuhan ekonomi tersebut didasarkan pada strategi pinjaman utang luar negeri guna pengembangan infrastruktur modern yang kemudian harus dibayar oleh pemerintah dari dana yang diperolehnya melalui eksploitasi sumber daya alam di Indonesia. Lahan-lahan pertanian mengalami konversi. Konflik pertama yang muncul di desa tersebut berawal dengan adanya “program pembangunan” pemerintah yang merencanakan dengan membangun kompleks perkebunan kelapa hibrida yang akan menjadi komoditi ekspor yang menguntungkan bagi pemerintah pada awal tahun 1980an. buah-buahan dan lain sebagainya. Dari semua persoalan pertanian yang dihadapi petani di Tegalbuleud. Rakyat menanami tanah tersebut dengan tanaman cengkeh. Banyak tanah rakyat yang dijual ke tangan pembeli bermodal besar maupun investor akibat desakan ekonomi.Contoh kasus yang menunjukkan terjadinya proses pemiskinan penduduk terjadi di desa Tegal Buleud kabupaten Sukabumi yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian di bidang pertanian. dengan memperhatikan pihak ekonomi lemah. termasuk menambah kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang. Ironisnya tanah-tanah yang dibiarkan terlantar itu tidak ditindak lanjuti oleh pemerintah untuk diamankan padahal berdasarkan ketentuan Pasal 10 ayat (1) UUPA setiap orang dan badan hukum mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian pada asasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakan sendiri secara aktif dengan mencegah cara-cara pemerasan. badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu. maka semua tanaman yang ditanam rakyat ditebangi dengan paksa. Tanah yang sekarang menjadi tanah PIR-BUN seluas 2000 hektar merupakan tanah yang sebelumnya dikelola oleh masyarakat masing-masing seluas 2 hektar. kebanyakan petani yang sebelumnya mengelola tanah tersebut. Selain itu. maupun kebutuhan akan lahan pertanian.  Kasus-kasus ini muncul saat penguasaan tanah di Indonesia dirasakan terpusat pada sekelompok orang. dan kerapkali menimbulkan konflik maupun sengketa di atas tanah tersebut. Banyaknya tanah terlantar di perkotaan maupun pedesaan sangat mencolok sekali di tengah kebutuhan mendesak akan pemukiman bagi warga. akibat para petani menjual tanah kepada investor yang kemudian tidak mengolah tanah tersebut. Hal ini membuat masyarakat merasa termarginalkan di daerahnya sendiri. Jadi konsekuensi dari ketentuan Pasal 10 ayat (1) ini adalah bahwa tanah pertanian itu tidak boleh dibiarkan terlantar sehingga keberadaannya menjadi tidak bermanfaat dan rusak sedangkan menurut ketentuan Pasal 15 UUPA bahwa memelihara tanah. Ketika proyek PIR memutuskan agar tanah tersebut ditanami oleh kelapa hibrida. Tidak mengherankan bila pada tingkat lokal. implementasi strategi tersebut membuahkan berbagai konflik di mana negara yang tengah berupaya keras memenuhi kas pendapatannya harus berhadapan dengan para petani yang harus kehilangan tanahnya melalui program-program pembangunan tersebut.

48. Meskipun secara normative pemerintah telah mengeluarkan ketentuan tentang pendaftaran tanah yang diatur dalam Pasal 19 UUPA dan ditindak lanjuti dengan Peraturan Pelaksana 27 Nomor tahun 1997.  Down to Earth Nr. hlm 64. 3 Urip Santoso. op. ibid. Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarannya. hlm 117-121. petani. hlm 10. 2007.  Urip Santoso.Masalah penelantaran tanah ini berkaitan dengan masalah kepemilikan secara besarbesaran oleh perorangan yang tentunya jika dibiarkan akan terjadi apa yang dinamakan dengan “monopoli tanah” oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.suarakarya-online.cit. 25 juni 2005.com/news. Reformasi. .  http://www. 2 Supriadi. Penguasaan/kepemilikan tanah yang melampaui batas ini tidak sesuai dengan amanat dari Pasal 7 UUPA yang menyatakan bahwa “ Untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan. hlm 90-91. Jakarta. Hukum Agraria. Oleh karena itu segala permasalahan tersebut perlu dianalisis lebih cermat baik terhadap pihak pelaksana kebijakan yang seringkali menyelewengkan amanat dari pembuat kebijakan maupun terhadap masyarakat luas yang juga berperan serta memperuncing segala permasalahan yang terjadi berkaitan dengan hak milik ini. hlm8-9. hlm 2. 5 Adrian Sutedi. Selain permasalahan di atas. Sinar Grafika. Jakarta. 2008. Sinar Grafika. Hukum Agraria & Hak-hak atas Tanah. Lahir dua pemikiran terhadap segala persoalan terkait dengan hak milik atas tanah sebagaimana diuraikan di atas bahwa hal tersebut timbul tidak hanya akibat dari kekeliruan pemerintah dalam penerapan kebijakan tetapi juga tidak lepas dari peran serta masyarakatnya yang tampak berupaya untuk berontak/melepaskan diri dari kebijakan hukum pemerintahan yang bersangkutan. (Proletar) Sengketa Tanah dan Urgensi Peradilan Agraria. dan aksi buka lahan.html?id=112985. 4 Adrian Sutedi. 2007. Februari 2001.”Namun dalam kenyataannya hal ini sulit untuk dihindari. namun dalam kenyataannya masalah ini tetap melahirkan banyak fenomena memprihatinkan di masyarakat seperti keengganan masyarakat untuk melakukan sertifikasi karena berbagai alasan yang pada umumnya berkisar pada alasan ekonomis. namun sebaliknya terdapat pula kepemilikan sertifikat oleh banyak orang. Kencana Prenada Media Group. Jakarta. yang tidak kalah pentingnya adalah masalah jaminan kepastian hukum kepemilikan hak atas tanah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful