P. 1
Mrsa

Mrsa

|Views: 6,747|Likes:
Published by krisiori

More info:

Published by: krisiori on Aug 12, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2013

pdf

text

original

(Sumber: Gemmell et al., 2006)

• Vancomycin

Vancomycin merupakan obat pilihan pertama (drug of choice) untuk berbagai macam

infeksi khususnya pada infeksi berat yang disebabkan oleh MRSA. Obat ini tidak boleh

digunakan pada infeksi MSSA (Gemmell et al., 2006; Gorwitz et al., 2006).

Nama generik dari obat ini adalah vancomycin hydrochloride. Vancomycin tidak dapat

diabsorbsi dengan baik pada pemberian oral, sehingga sediaan yang ada dalam bentuk injeksi

36

dan pemberiannya secara intravena. Pemberian secara intramuskular akan menimbulkan nyeri

pada tempat suntikan (Drugs, 2007).

Waktu paruh vancomycin dalam plasma adalah 4-6 jam pada orang dengan fungsi ginjal

normal. Vancomycin akan berikatan 55% dengan protein serum. Setelah pemberian intravena,

konsentrasi vancomycin akan masuk ke dalam pleura, perikardial, cairan asites dan sinovial,

urin, cairan dialisis peritoneal, serta jaringan atrial. Vancomycin tidak masuk secara difusi pada

meningen normal melalui cairan spinal, namun ketika ada inflamasi akan terjadi penetrasi ke

dalam cairan spinal (Drugs, 2007).

Pemberian vancomycin adalah 2 g/hari dalam dosis terbagi 500 mg/6 jam atau 1 g/12

jam. Penyesuaian dosis harus dilakukan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Dosis inisial

yang harus diberikan tidak boleh <15 mg/kg berat badan, walaupun pada pasien dengan

insufisiensi ginjal ringan dan sedang. Pasien yang alergi atau tidak dapat menerima terapi

vancomycin bisa diberikan trimethoprim-sulfamethoxazole, clindamycin, minocycline,

fluoroquinolones, dan doxycycline (Drugs, 2007).

Namun penggunaan vankomisin untuk menangani MRSA menyebabkan munculnya S.

aureus yang resisten intermediat terhadap vankomisin (vancomycin intermediate-resistant S.

aureus [VISA]) dan kemudian menjadi vancomycin resistant S. aureus (VRSA) pada tahun

1990-an (Samathkumar, 2007).

• Trimethoprim-sulfamethoxazole

Pada pasien dengan infeksi MRSA, trimethoprim-sulfamethoxazole (co-

trimoxazole/TMP-SMX) merupakan obat utama yang diberikan untuk SSTI yang disebabkan

oleh strain CA-MRSA dimana banyak diantaranya masih sensitif terhadap obat ini (Gemmell et

al., 2006; Gorwitz et al., 2006).

37

Obat ini diabsorbsi secara cepat setelah pemberian secara oral. Waktu paruh TMP adalah

8-10 jam dan SMX adalah 10 jam. TMP akan berikatan 44% dengan protein serum dan SMX

70%. TMP-SMX akan terdistribusi pada sputum, cairan vagina, dan cairan telinga tengah, serta

akan ikut terekskresi pada air susu ibu. Obat ini akan dieliminasi oleh ginjal melalui fitrasi

glomerulus dan sekresi tubulus. Konsentrasi pada urin lebih tinggi dibanding darah. Dosis yang

diberikan pada pasien yang dicurigai terinfeksi MRSA di kulit dan jaringan lunak adalah TMP

160 mg + SMX 800 mg dalam sediaan 1 tablet tiap 12 jam selama 7-10 hari (Drugs, 2007).

Co-trimoxazole sebaiknya tidak digunakan pada infeksi yang disebabkan oleh

streptococcus grup A. Pada infeksi ini obat yang digunakan adalah clindamycin, erythromycin,

atau beta-lactam (BOP, 2005).

• Clindamycin

Clindamycin efektif digunakan untuk terapai SSTI dan beberapa infeksi invasif lainnya,

seperti osteomielitis, piomiositis, atau empiema pleura yang disebabkan oleh isolat CA-MRSA

pada anak-anak. Obat ini memiliki kelebihan tambahan yaitu kemampuannya pada

penghambatan produksi toksin dari bakteri. Clindamycin memiliki kemampuan penetrasi ke

dalam tulang yang lebih baik jika dibandingkan dengan co-trimoxazole. Dosis clindamycin pada

kasus infeksi MRSA adalah 150-450 mg tiap 6 jam diberikan peroral (Gemmell et al., 2006;

Gorwitz et al., 2006).

• Doxycycline atau minocycline

Pada pasien dengan isolat MRSA yang masih sensitif terhadap tetracycline, maka bisa

diberikan obat doxycycline atau minocycline (long-acting tetracycline) sebagai alternatif terapi

(Gemmell et al., 2006; Gorwitz et al., 2006).

38

Dosis inisial minocyclin dan doxycycline adalah 200 mg pada hari I diikuti dengan 100

mg tiap 12 jam diberikan selama 10 hari (Drugs, 2007).

• Fluoroquinolone

Fluoroquinolone generasi terbaru seperti levofloxacin dan moxifloxacin memiliki

kemampuan yang lebih baik sebagai anti stafilokokal. Kedua obat ini dapat digunakan pada

strain yang resisten terhadap ciprofloxacin. Namun penggunaan kedua agen ini harus hati-hati

dan terbatas karena kemungkinan untuk terjadinya resistensi (Gemmell et al., 2006; Gorwitz et

al., 2006).

Levofloxacin terdapat dalam sediaan pemberian oral dan injeksi. Kedua rute pemberian

ini memiliki kekuatan yang sama. Pada pemberian oral absorbsinya dipengaruhi adanya makanan

yang akan memperpanjang waktu paruh dan kadar maksimalnya, sehingga pemberiannya harus

dengan jarak 1-2 jam setelah atau sebelum makan. Obat ini akan berikatan dengan protein 24-

38%. Ekskresi terbanyak melalui urin. Dosis yang digunakan adalah 750 mg/24 jam

peroral/intravena selama 7-14 hari (Drugs, 2007).

Moxifloxacin terdapat dalam sediaan pemberian oral dan injeksi, berikatan dengan

sebanyak 30-50%. Dosis pemberiannya 400 mg/24 jam peroral/intravena selama 7-21 hari

(Drugs, 2007).

• Quinupristin-dalfopristin

Quinupristin-dalfopristin telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA)

Amerika serikat untuk mengobati infeksi vancomycin resistant enterococcal (VRE), infeksi kulit

terkomplikasi yang disebabkan oleh S. aureus, MRSA, dan VISA (Gemmell et al., 2006;

Gorwitz et al., 2006).

39

Obat ini tersedia dalam bentuk injeksi terdiri dari quinupristin 150 mg dan dalfopristin

350 mg. Quinupristin bekerja menghambat fase akhir sintesis protein dan dalfopristin bekerja

menghambat fase awal sintesis protein. Pemberiannya dengan dosis 7,5 mg/kg berat badan tiap

12 jam dimasukkan dalam infus habis dalam 60 menit selama minimal 7 hari (Drugs, 2007).

• Linezolid

Linezolid merupakan agen anti staphylococcal bakteriostatik yang digunakan untuk

mengobati pneumonia nosokomial dan infeksi kulit terkomplikasi yang disebabkan oleh MRSA.

Obat ini mempunyai kemampuan distribusi jaringan yang sama baiknya antara pemberian oral

dan injeksi. Dosis obat ini adalah 600 mg/12 jam diberikan peroral atau intravena (Gemmell et

al., 2006; Gorwitz et al., 2006; Drugs, 2007).

• Daptomycin

Obat ini akan berikatan dengan membran bakteri dan akan menyebabkan depolarisasi

cepat dari potensial membran, yang akan menghambat sintesis protein, DNA, dan RNA,

sehingga terjadi kematian sel bakteri. Dosis obat ini adalah 4 mg/kg berat badan tiap 24 jam

dalam infus selama 30 menit (Drugs, 2007).

• Tigecycline

Obat bekerja dengan cara menghambat transportasi protein bakteri dengan berikatan pada

subunit ribosomal 30S dan menutup masuknya molekul tRNA amino-acyl. Dosis inisial obat ini

adalah 100 mg intravena pada hari I diikuti dengan 50 mg tiap 12 jam (Drugs, 2007).

40

BAB III

RINGKASAN

Infeksi MRSA telah menjadi problem dalam dunia kesehatan di seluruh dunia selama

beberapa dekade. Beberapa faktor dapat menyebabkan timbulnya resistensi ini, diantaranya

adalah salah pemilihan dan penggunaan dari agen antibiotik.

Ada 2 macam infeksi MRSA, yaitu HA-MRSA dan CA-MRSA. HA-MRSA

didefinisikan sebagai infeksi MRSA yang terdapat pada individu yang pernah dirawat di rumah

sakit atau menjalani tindakan operasi dalam 1 tahun terakhir, memiliki alat bantu medis

permanen dalam tubuhnya, bertempat tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, atau individu

yang menjalani dialisis. Sedangkan infeksi MRSA yang terdapat pada individu yang sebelumnya

tidak ada hubungan dengan infeksi rumah sakit dikenal sebagai CA-MRSA.

Berbagai institusi kesehatan di luar negeri telah banyak yang menerbitkan pedoman

dalam pencegahan, kontrol, dan penanganan MRSA yang disesuaikan dengan keadaan dan strain

MRSA yang ada.

Penularan utama MRSA adalah melalui kontak langsung antar orang per orang, biasanya

dari tangan orang yang terinfeksi atau terkolonisasi. MRSA juga dapat menyebar melalui

pemakaian handuk bersama-sama, alat-alat mandi, alat-alat olahraga, baju, alat-alat pengobatan,

olahraga dengan kontak langsung, atau ketika adanya wabah yang berasal dari makanan.

Setiap dokter atau penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan infeksi MRSA

pada diagnosis bandingnya pada semua pasien dengan adanya gambaran infeksi kulit dan

jaringan lunak atau manifestasi gejala lainnya dari infeksi staphylococcus disertai adanya faktor

risiko untuk terjadinya MRSA.

41

Manajemen penanganan infeksi MRSA harus menyeluruh dan melibatkan pihak pasien

sebagai orang yang terinfeksi atau terkolonisasi, petugas kesehatan dan staf rumah sakit yang

bisa saja terkolonisasi, dokter yang merawat, dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan dalam

bidang kesehatan.

Prinsip pemberian antibiotik pada infeksi MRSA adalah sesuai dengan hasil kultur

bakteri dan pola sensitivitas antibiotik yang ada. Antibiotik empirik dapat diberikan pada

keadaan dimana hasil kultur dan sensitivitas tidak ada. Antibiotik yang digunakan bisa dalam

bentuk kombinasi maupun tunggal.

42

DAFTAR PUSTAKA

Alangaden, G.J. 1997 [cited: December 14, 2007]. Overview of Antimicrobial Resistance.
National Foundation for Infectious Diseases: [9 screens].
http://www.nfid.org/publications/id_archive/antimicrobial.html.
Alston, W.K., Elliott, D.A., Epstein, M.E., Hatcher, V.B., Tang, M., Lowy, F.D. 1997.
Extracellular matrix heparan sulfate modulates endothelial cell susceptibility to
Staphylococcus aureus. J Cell Physiol, 173:102-109.
Anderson, J., Mehlhorn, A., MacGregor, V. 2007. Community-Associated Methicillin-resistant
Staphylococcus aureus. What's in Your Neighborhood? Jobson Medical Information
LLC. US Pharm, 32(8):HS3-HS12.
Anonim. 2005 [cited: December 15, 2007]. Staphylococcus. Kenneth Todar University of
Wisconsin-Madison Department of Bacteriology [19 screens].
http://www.visualunlimited.com/.
Banerjee, S.N., Emori, T.G., Culver, D.H. 1991. Secular trends in nosocomial primary
bloodstream infections in the United States, 1980-1989. Am J Med, 91:Suppl 3B:3B-86S
3B-89S.
BC Centre for Disease Control. 2001. British Columbia Guidelines for Control of Antibiotic
Resistant Organisms (AROs) [Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and
Vancomycin-resistant Enterococci (VRE)].
Borlaug, G., Davis, J.P., Fox, B.C. 2005. Community Associated Methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (CA-MRSA) Guidelines for Clinical Management and Control of
Transmission. http://www.unc.edu/depts/spice/WisconsinCAMRSAGuide.pdf/.
Brown, D.F.J., Edwards, D.I., Hawkey, P.M., Morrison, D., Ridgway, G.L., Towner, K.J., Wren,
M.W.D. 2005. Guidelines for the laboratory diagnosis and susceptibility testing of
methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). J Antimicrob Chemother, 56:1000–
1018.
Carter, A., Heffernan, H., Holand, D., Ikram R., Morris A., et al. 2002. Guidelines for the
Control of Methicillin-resistant Staphylococcus aureus in New Zealand.
http://www.moh.govt.nz/cd/mrsa.
Casewell, M.W., Hill, R.L.R. 1986. The carrier state: Methicillin-resistant Staphylococcus
aureus
. J Antimicrob Chemother, 18:Suppl A:1-12.
Cheung, A.L., Eberhardt, K.J., Chung, E. 1994. Diminished virulence of a sar-agr- mutant of
Staphylococcus aureus in the rabbit model of endocarditis. J Clin Invest, 94:1815-22.
Dellit, T., Duchin, J., Hofmann, J., Olson, E.G. 2004. Interim Guidelines for Evaluation &
Management of Community Associated Methicillin-resistant Staphylococcus aureus
Skin

dand

Soft

Tissue

Infection

in

Outpatient

Settings.

http://www.metrokc.gov/health/providers/epidemiology/MRSA-guidelines.pdf.
Drake, T.A., Pang, M. 1988. Staphylococcus aureus induces tissue factor expression in cultured
human cardiac valve endothelium. J Infect Dis, 157:749-56.
Drugs. 2007 [cited December 17, 2007]. Drug Information Online [44 screens].
http://www.drugs.com/pro.
Duckworth, G., Cookson, B., Humphreys, H., Heathcock, R. 1998. Revised Methicillin-resistant
Staphylococcus aureus Infection Control Guideline for Hospitals, Report of a combined
working party of the British Society for Antimicrobial Chemotherapy, the Hospital

43

Infection Society and the Infection Control Nurses Association. Brit Soc Antimicrob
Chemother
.
Dwiprahasto, I. 2005. Kebijakan untuk Meminimalkan Risiko Terjadinya Resistensi Bakteri di
Unit Perawatan Intensif Rumah Sakit. JMPK, 8(4):177-181.
Elixhauser, A., Steiner, C. 2007. Statistical Brief #35: Infection with Methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA) in U.S. Hospitals, 1993-2005. http://www.hcup-
us.ahrq.gov/reports/statbriefs/sb35.pdf.

Emori, T.G., Gaynes, R.P. 1993. An overview of nosocomial infections, including the role of the
microbiology laboratory. Clin Microbiol Rev, 6:428-442.
Enright, M.C., Robinson, D.A., Randle, G., Feil, E.J., Grundmann, H., Spratt, B.G. 2002. The
evolutionary history of methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). PNAS,
99(11):7687–7692.
EPIC. 2006. Apakah organisme multi-resistan itu dan bagaimana timbulnya? in Essential
Practices in Infection Control. Ansell Cares, 2:1-6.
Gemmell, C.G., Edwards, D.I., Fraise, A.P., Gould, F.K., Ridgway, G.L., Warren, R.E. 2006.
Guidelines for the Prophylaxis and Treatment of Methicillin-resistant Staphylococcus
aureus
(MRSA) infections in the UK. J Antimicrob Chemother, 57:589-608.
Gorwitz, R.J., Jernigan, D.B., Powers, J.H., Jernigan, J.A. 2006. Strategies for Clinical
Management of MRSA in the Community: Summary of an Experts’ Meeting Convened
by

the

Centers

for

Disease

Control

and

Prevention.

http://www.cdc.gov/ncidod/dhqp/pdf/ar/CAMRSA_ExpMtgStrategies.pdf.
Grathwaite, T.L., Fielding, J.E. 2003 [cited December 17, 2007]. FACT SHEET FOR HEALTH
CARE PROVIDERS: Community-Associated Methicillin-resistant Staphylococcus
aureus
Skin Infections. [7 screens]. http://lapublichealth.org/acd/.
Holden, M.T.G., Feil, E.J., Lindsay, J.A., Peacock, S.J., Day, N.J.P., Enright, M.C. 2004.
Complete genomes of two clinical Staphylococcus aureus strains: Evidence for the rapid
evolution of virulence and drug resistance. PNAS, 101(26):9786-9791.
Kowalski, T.J., Berbari, E.F., Osmon D.R. 2005. Epidemiology, Treatment, and Prevention of
Community-Acquired Methicillin-resistant Staphylococcus aureus Infections. Mayo Clin
Proc
, 80(9):1201-1208.
Lowy, F.D. 1998. Staphylococcus Aureus Infections. NEJM, 339(8):520-532.
Naimi, T.S, LeDell, K.H, Boxrud, D.J. 2001. Epidemiology and clonality of community-
acquired methicillin-resistant Staphylococcus aureus in Minnesota, 1996-1998. Clin
Infect Dis
, 33:990.
Navy Environmental Health Center. 2005. Guidelines for the Management of Community
Acquired Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA) Infections in the US
Navy and Marine Corps.
http://www-nehc.med.navy.mil/Downloads/prevmed/CPG_MRSA_20050516_final.pdf.
Noble, W.C., Valkenburg, H.A., Wolters, C.H.L. 1967. Carriage of Staphylococcus aureus in
random samples of a normal population. J Hyg (Lond); 65:567-573.
Royal College of Nursing (RCN). 2005. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA),
Guidance for Nursing Staff. http:/www.rcn.org.uk/mrsa.
Sampathkumar, P. 2007. Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus: The Latest Health Scare.
Mayo Clin Proc, 82(12):1463-1467.

44

Schramm, G.E, Johnson, J.A, Doherty, J.A. 2006. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus
sterile-site infection: The importance of appropriate initial antimicrobial treatment. Crit
Care Med
, 34:20-69.
Steinberg, J.P., Clark, C.C., Hackman, B.O. 1996. Nosocomial and community acquired
Staphylococcus aureus bacteremias from 1980 to 1993: impact of intravascular devices
and methicillin resistance. Clin Infect Dis, 23:255-259.
The Federal Bureau of Prisons (BOP). 2005 [cited: December 17, 2007]. Management of
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) Infections. [43 screens].
http://www.bop.gov/news/PDFs/mrsa.pdf.
Vavra, S.B., Daum, R.S. 2007. Community-acquired methicillin-resistant Staphylococcus
aureus
: the role of Panton–Valentine leukocidin. Lab Investig; 87:3–9.
Wijisaksono, D.P. 2007. Terapi optional “baru” untuk infeksi gram (+): peran vancomycin.
Dalam: M. Sja’bani, S. Nurdjanah, K. Widayati, M.R. Ikhsan, A. Widiatmoko (eds.).
Naskah lengkap Pertemuan Ilmiah Tahunan IX Ilmu Penyakit Dalam FK UGM. Hal. 13-
24. Yogyakarta. PGTKI Press.
Wikipedia. 2007 [cited: December 17, 2007]. Antibiotic Resistance. Wikipedia Organization: [3
screens]. http://en.wikipedia.org/wiki/Antibiotic_resistance.
Yim, G. 2007 [cited: December 17, 2007]. Attack of the Superbug: Antibiotik Resistance. [8
screens]. http://www.scq.ubc.ca.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->