MAKALAH SEMINAR AUDIT

SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL Perkembangan dan Penerapan dalam Audit

Fenny Suryani Azmar | 8335103011

S1 Akuntansi Reguler 2010

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

di Amerika Serikat muncul undang-undang yang kita kenal dengan SOX (Sarbanes Oxley Act) dimana didalamnya mengatur tentang tanggung jawab manajemen terhadap lingkungan pengendalian internal perusahaan. salah satu penyebab terjadinya skandal tersebut adalah tidak adanya kontrol atau sistem pengendalian yang baik dalam perusahaan tersebut. Karena suatu perusahaan tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya sistem pengendalian internal yang baik. Sayangnya. dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. Standar pekerjaan lapangan kedua dalam auditing menyatakan bahwa pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat. Sistem pengendalian intern juga adalah suatu hal yang sangat memegang peranan penting dalam auditing. Dan di dalam akuntansi. Sistem Pengendalian Internal (SPI) merupakan kebijakan dan prosedur yang melindungi aktiva dari penyalahgunaan. Sistem pengendalian internal dapat digunakan lebih efektif untuk mencegah penggelapan atau penyimpangan. Hal ini mengakibatkan manajemen harus percaya pada laporan-laporan serta analisis untuk operasi pengendalian internal yang efektif. Sesaat setelah menguaknya skandal tersebut. saat. SPI yang berlaku dalam perusahaan/entitas merupakan faktor yang menentukan keandalan laporan keuangan yang dihasilkan oleh entitas tersebut. Kite tentu tahu skandal keuangan yang terjadi pada Worldcom ataupun Enron. Salah satu aspek penting pada suatu perusahaan adalah sistem pengendalian internal. di Indonesia belum ada peraturan yang jelas mengenai sistem pengendalian internal dalam perusahaan ini padahal hal tersebut merupakan salah satu aspek penting untuk keberlangsungan perusahaan dimana banyak manfaat yang dapat diperoleh perusahaan jika menerapkan sistem pengendalian internal yang baik.LATAR BELAKANG SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL Dunia usaha di Indonesia saat ini sudah cukup maju dan berkembang. Oleh karena . bisa dilihat dari semakin banyaknya berdiri usaha-usaha baru yang didirikan oleh masyarakat.

Menjaga keandalan pelaporan keuangan entitas b. bervariasi dan memiliki tujuan utama : a. DEFINISI SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL Sistem Pengendalian Internal (SPI) adalah suatu hal yang sangat memegang peranan penting dalam auditing. Menjaga kepatuhan hukum dan peraturan yang berlaku Dilihat dari tujuan tersebut maka sistem pengendalian intern dapat dibagi menjadi dua yaitu pengendalian intern akuntansi (preventive controls) dan pengendalian intern administratif (feedback controls). Melihat begitu besar peranan sistem pengendalian intern dalam perusahaan maupun dalam pelaksanaan audit. Auditor meletakkan kepercayaan atas efektivitas SPI dalam mencegah terjadinya kesalahan yang material dalam proses akuntansi. manajemen. Pengendalian intern akuntansi dibuat untuk mencegah terjadinya inefisiensi yang tujuannya adalah menjaga kekayaan perusahaan dan memeriksa . Dengan demikian sistem pengendalian intern merupakan rangkaian proses yang dijalankan entitas. Dalam Standar Profesional Akuntan Publik pada SA 319. (b) efektivitas dan efisiensi operasi dan (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku. dan personel lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini: (a) keandalan pelaporan keuangan.itu dalam memberikan pendapat atas kewajaran laporan yang di auditnya. Par 06 dikemukakan bahwa: Pengendalian Intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris. maka melalui makalah ini akan dibahas secara mendalam tentang pemahaman sistem pengendalian internal serta perkembangan dan penerapannya dalam audit. Menjaga efektivitas dan efesiensi operasi yang dijalankan c. yang mana proses tersebut mencangkup berbagai kebijakan dan prosedur sistematis.

yang akan digunakan kemudian untuk melakukan penaksiran resiko pengendalian untuk asersi yang terdapat dalam saldo akun. sistem pengendalian intern dapat digunakan secara efektif untuk mencegah penggelapan maupun penyimpangan. . adalah tidak praktis bagi auditor untuk melakukan pengauditan secara menyeluruh atau secara detail untuk hampir semu transaksi perusahaan dalam waktu dan biaya terbatas Bagi perusahaan. Pengendalian administratif dibuat untuk mendorong dilakukannya efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakkan manajemen (dikerjakan setelah adanya pengendalian akuntansi) Contoh : pemeriksaan laporan untuk mencari penyimpangan yang ada. untuk kemudian diambil tindakan. ARTI PENTING SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL Arti pentingnya SPI bagi manajemen dan auditor independen sudah lama diakui dalam profesi akuntansi. auditor dapat mencari pengurangan lebih lanjut tingkat resiko pengendalian taksiran untuk asersi tertentu. Setelah memperolah pemahaman dan menaksir resiko pengendalian. dan komponen pengungkapan dalam laporan keuangan. 2. Semakin luas lingkup dan ukuran perusahaan mengakibatkan di dalam banyak hal manajemen tidak dapat melakukan pengendalian secara langsung atau secara pribadi terhadap jalannya perusahaan. dan pengakuan tersebut makin meluas dengan alasan : 1. Auditor berkepentingan untuk memperoleh pemahaman atas struktur pengendalian intern.keakuratan data akuntansi. Pengecekan dan review yang melekat pada sistem pengendalian intern yang baik dapat akan pula melindungi dari kelemahan manusia dan mengurangi kekeliruan dan penyimpangan yang akan terjadi 3. golongan transaksi. Di lain pihak. Contoh : adanya pemisahan fungsi dan tanggung jawab antar unit organisasi.

Keterbatasan bawaan tersebut diakibatkan antara lain oleh a) faktor manusia yang melakukan fungsi prosedur pengendalian b) pengendalian tidak dapat mengarah pada seluruh transaksi. Kewajaran atau Keyakinan Rasional yang Memadai Manajemen bukan mencari tingkat absolut atau mutlak kualitas struktur pengendalian intern manajemen mencari tingkat “wajar”.KONSEP DASAR SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL Ada beberapa konsep dasar yang berkaitan dengan struktur pengendalian intern. Konsep dasar tersebut meliputi: 1. . Keterbatasan Bawaan Sistem pengendalian intern mempunyai keterbatasan bawaan yang melekat pada sistem pengendalian intern tersebut. karakteristik organisasi dan kepemilikan. keanekaragaman dan kompleksitas operasinya. persyaratan perundangan-undangan yang harus dipatuhi 2. Pengendalian-pengendalian khusus yang harus termasuk pada tiga elemen struktur pengendalian intern untuk suatu perusahaan tergantung pada besar kecilnya entitas. Ada alasan mengapa digunakan kata wajar dan bukan tingkat absolut. diantarnya a) kriteria biaya-manfaat merupakan suatu titik kritis bagi manajemen dalam setiap pengambilan keputusan ekonomi b) realisasi bahwa pengendalian tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap efisiensi dan profatabilitas perusahaan 3. metode pemrosesan data. sifat kegiatan usahanya. Hal ini digunakan untuk memastikan bahwa sasaran struktur pengendalian intern dapat tercapai. Pertanggungjawaban Manajemen Manajemen bertanggung jawab untuk menetapkan dan mempertahankan struktur pengendalian intern.

dan terintegrasi dengan proses manajemen. memberikan disiplin dan struktur. mempengaruhi kesadaran pengendalian dari para anggotanya. Cara Manajemen untuk menentukan wewenang dan tanggung jawab. Walaupun komponenkomponen tersebut dapat diterapkan kepada semua entitas.4. Metode Pengolahan Data Konsep pengendalian yang dibicarakan dapat diterapkan baik untuk sistem pengolahan data manual maupun terkomputerisasi atau EDP. Filosofi manajemen dan Gaya Operasi. namun pengendalian internal tetap dapat berjalan dengan efektif. Faktor lingkungan pengendalian termasuk :    Integritas. dan  Perhatian dan arahan yang diberikan dewan direksi. KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL (COSO) Pengendalian internal terdiri dari 5 (lima) komponen yang saling berhubungan. perusahaan yang kecil dan menengah dapat menerapkannya berbeda dengan perusahaan besar. . Dalam hal ini pengendalian dapat tidak terlalu formal dan tidak terlalu terstruktur. Sistem manual biasanya dipakai dalam perusahaan yang kecil sedangakan sistem EDP banyak digunakan dalam bisnis pemanufakturan internasional dan perusahaan multinasional. Komponen ini didapat dari cara manajemen menjalankan bisnisnya. mengorganisasikan dan mengembangkan orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar bagi komponen Pengendalian Internal lainnya. nilai etika dan kemampuan orang-orang dalam entitas. Control Environment Lingkungan pengendalian memberikan nada pada suatu organisasi. Adapun 5 (lima) komponen Pengendalian internal tersebut adalah : 1.

seperti :        Penyetujuan (Approvals) Otorisasi (Authorization) Verifikasi (Verifications) Rekonsiliasi (Reconciliations) Review terhadap performa operasi (Reviews of Operating Performance) Keamanan terhadap Aset (Security of Assets) Pemisahan tugas (Segregation of duties) 4. Karena kondisi ekonomi. 3. Information and Communication Informasi yang bersangkutan harus diidentifikasi. Control Activities terjadi pada seluruh organisasi. Informasi dan Komunikasi tidak hanya menghadapi data-data yang dihasilkan internal. Risk Assesment Seluruh entitas menghadapi berbagai macam resiko dari luar dan dalam yang harus ditaksir. pada seluruh level. Control activities termasuk berbagai kegiatan yang berbeda-beda. regulasi. industri. yang terhubung antara tingkatan yang berbeda. Sistem informasi menghasilkan laporan. membentuk sebuah basis untuk menentukan bagaimana resiko dapat diatur. maka diperlukan mekanisme untuk mengidentifikasi dan menghadapi resiko-resiko spesial terkait dengan perubahan tersebut. yang membuatnya mungkin untuk menjalankan dan mengendalikan bisnis. tetapi juga kejadian . Prasyarat dari Risk Assessment adalah penegakan tujuan. dan operasi selalu berubah. finansial. tergambar dan terkomunikasi dalam sebuah form dan timeframe yang memungkinkan orang-orang menjalankan tanggung jawabnya. Risk Assessment adalah proses mengidentifikasi dan menganalisis resiko-resiko yang relevan dalam pencapaian tujuan. Control Activities membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah diambil dalam menghadapi resiko sehingga tujuan entitas dapat tercapai. dan terpenuhinya keperluan sistem. Control Activities Control Activities adalah kebijakan dan prosedur membantu meyakinkan manajemen bahwa arahannya telah dijalankan. dan seluruh fungsi. dan konsisten secara internal. yang berisi informasi operasional.2.

menyajikan informasi yang diandalkan . sebagaimana mereka mengerti bahwa kegiatan individu mereka berhubungan dengan pekerjaan orang lain. Global Crossing dan lainnya di tahun 2001 – dan dengan diterapkannya Sarbanes-Oxley Act menuntut pengendalian internal untuk menyajikan keyakinan yang memadai yang benar benar mencerminkan adanya proses untuk menjaga aset perusahaan. Mereka harus memiliki niat untuk mengkomunikasikan informasi yang signifikan kepada atasannya. Tyco. dan Pemegang Saham. Monitoring Sistem pengendalian internal perlu diawasi.eksternal. kegiatan dan kondisi yang diperlukan untuk memberikan informasi dalam rangka pembuatan keputusan bisnis dan laporan eksternal. Para personel harus mengerti peran mereka dalam sistem pengendalian internal. ke samping dan ke atas organisasi. Luas dan frekuensi evaluasi terpisah. Ketergantungan sistem pengendalian harus dilaporkan kepada atasan. Kegiatan ini termasuk manajemen dan supervisi yang reguler. evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya. awalnya dipicu oleh banyaknya temuan kecurangan pada profesi akuntansi global yang merugikan stakeholder – terutama sejak kasus Enron. dengan masalah yang serius juga dilaporkan kepada manajemen teratas dan dewan direksi. Komunikasi yang efektif juga harus terjadi dalam hal yang lebih luas. mengalir ke bawah. Seluruh personel harus menerima dengan jelas pesan dari manajemen teratas bahwa pengendalian tanggung jawab diambil dengan serius. dan kegiatan lainnya yang dilakukan personel dalam menjalankan tugasnya. sebuah proses untuk menentukan kualitas performa sistem dari waktu ke waktu. regulator. Proses ini terselesaikan melalui kegiatan pengawasan yang berkesinambungan. supplier. PERKEMBANGAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL Sejarah perkembangan sistem pengendalian intern yang seperti dikenal sekarang ini. seperti customer. akan tergantung pada terutama penaksiran resiko dan efektifnya prosedur monitoring yang sedang berlangsung. Selain itu juga dibutuhkan komunikasi efektif dengan pihak eksternal. Xerox. Worldcom. 5.

pada awal tahun 80-an konsep tersebut dinilai banyak pihak sudah tidak aplicabel lagi. Proses bisnis atau proses pemberian pelayanan public merupakan fokus utama dalam menilai perancangan dan pengelolaan pengendalian internal. dan McVay (2006) menemukan bahwa salah satu penyebab kelemahan material pengendalian internal menurut section 302 dan 404 Sarbanex-Oxley Act adalah kompleksitas proses operasi. yang menggiring ke sebuah pengendalian yang baru atau terbaharui. Doylea. menyebabkan pemutakhiran kembali penilaian risiko pada proses bisnis atau proses pemberian pelayanan public tersebut. dan mendorong keselarasan dengan kebijakan manajemen. dan COSO Enterprise Risk Management. Namun istilah tersebut baru dinyatakan secara institutional oleh AICPA pada tahun 1949 melalui laporan khusus yang berjudul “Pengendalian Internal – Elemen-elemen Sistem yang Terkoordinasi dan Pentingnya Pengendalian bagi Manajemen dan Akuntan Independen”. Sementara Namiri dan Stojanovic (2007) mengemukakan bahwa rancangan pengendalian harus mengendalikan ke arah mana sebuah proses bisnis dilaksanakan. Perkembangan berikutnya. Bennet menyebutkan definisi Internal Control. Sejumlah kerangka acuan pengendalian telah diajukan dan dikembangkan untuk membantu perusahaan dalam menciptakan sistem pengendalian internal yang baik. George E. termasuk pengujiannya. Selanjutnya konsep tersebut berkembang pesat dengan yang kita kenal 8 (delapan) unsur Pengendalian Internal. Satu temuan yang penting dari kerangka acuan dan temuan penelitian sebelumnya adalah pentingnya analisis proses bisnis untuk perusahaan dan proses pemberian pelayanan public untuk organisasi pemerintah. mendukung dan meningkatkan efisiensi operasional. Geb.dan akurat. COSO Internal Control Framework. Untuk pertama kali. Sebuah perancangan ulang proses bisnis pun (business process reengineering) atau proses pemberian pelayanan publik. diantaranya COBIT. Sebenarnya konsep pengendalian internal atau internal control telah bergulir sejak tahun 1930-an. Semakin kompleksnya dunia bisnis dan .

PENERAPAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL DALAM AUDIT Struktur pengendalian intern mempunyai kaitan erat dengan auditor. Menjaga kekayaan dan catatan organisasi Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi Mendorong efisiensi Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen . b. Kebijakan dan prosedur yang relevan dengan audit adalah kebijakan dan prosedur mengenai kemampuan entitas dalam mengolah data transaksi menjadi informasi laporan keuangan. Pada tahun 1992. Semakin banyak keluhan dari perusahaan dan institusi yang telah menerapkan konsep internal control sebagaimana dikembangkan oleh American Institute of Certified Public Accountant (AICPA). d. c. Laporan COSO tersebut memberikan suatu pandangan baru tentang konsep Internal Control yang lebih luas dan terintegrasi serta sesuai dengan perkembangan dunia usaha untuk mencegah terjadinya penyimpangan . Konsep ini mendapat akseptasi yang luas dari berbagai pihak. namun masih mengalami kegagalan.teknologi membuat konsep pengendalian internal tersebut tidak efektif dalam mendorong tercapainya tujuan perusahaan. maka konsep COSO memiliki pandangan yang lebih luas yaitu dengan melakukan pengendalian atas perilaku seluruh komponen organisasi. Struktur pengendalian intern yang efektif dirancang dengan tujuan pokok sebagai berikut: a.Jika pada konsep sebelumnya hanya menekankan pada proses penyusunan laporan keuangan saja. The Commitee of Sponsoring Organization of The Treadway Commission (COSO) menerbitkan laporan yang berjudul “Internal Control-Integrated Framework”. dan kebijakan serta prosedur lainnya yang menyangkut data yang dipakai auditor dalam menerapkan prosedur audit misalnya data statistik penjualan untuk yang dipakai dalam prosedur analitik. Auditor mempunyai kepentingan dengan kebijakan dan prosedur sasaran finansial.

Mengidentifikasi salah saji potensial 2.Dari berbagai macam kebijakan dan prosedur yang ditetapkan dan dijalankan oleh entitas ada beberapa yang benar – benar relevan dengan audit atas laporan keuangan. auditor harus memperoleh pemahaman masing-masing dari lima komponen pengendalian intern yang cukup untuk merencanakan audit dengan melaksanakan prosedur untuk memahami desain pengendalian yang relevan dengan suatu audit laporan keuangan. pengetahuan tersebut digunakan untuk: 1. Yang tidak relevan seperti kebijakan dan prosedur mengenai efektivitas proses pengambilan keputusan manajemen tertentu. Fokus yang diutamakan dalam standar pekerjaan lapangan kedua adalah pentingnya struktur pengendalian intern dan komponen – komponen yang ada dalam suatu entitas. memproses. mengikhtisarkan dan melaporkan data keuangan sesuai dengan asersi yang termuat dalam laporan keuangan. Ikatan Akuntan Indonesia melalui seksi ini khususnya memberikan panduan tentang pengimplementasian standar pekerjaan lapangan kedua. dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. yaitu: Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat. sehingga tidak perlu dipertimbangkan. Relevansi kebijakan dan prosedur terhadap audit atas laporan keuangan misalnya adalah kemampuan satuan usaha untuk mencatat. Mendesain pengujian subtantif . Auditor berkepentingan untuk memperoleh bukti yang cukup atas struktur pengendalian intern klien. Mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap resiko salah saji material 3. penentuan besarnya aktivitas periklanan dan lain – lain. dan apakah pengendalian tersebut dioperasikan. misal tentang penentuan harga produk yang layak. Hal ini disebabkan karena struktur pengendalian intern merupakan salah satu tipe bukti audit. Dalam semua audit. saat. Hal tersebut memang penting bagi entitas tetapi tidak berkaitan langsung dengan audit atas laporan keuangan. Dalam perencanaan audit.

perancangan pengujian substantif. . tidak praktis bagi auditor untuk melakukan pengauditan secara menyeluruh atau secara detail untuk hampir semua transaksi perusahaan dalam waktu dan biaya terbatas. salah saji material yang potensial dapat terjadi. (b) efektivitas dan efisiensi operasi. auditor meletakkan kepercayaan atas efektivitas SPI dalam mencegah terjadinya kesalahan yang material dalam proses akuntansi. Pemahaman auditor tentang struktur pengendalian intern yang berkaitan dengan suatu asersi adalah untuk digunakan dalam kegiatan mungkin atau tidaknya audit dilaksanakan. KESIMPULAN Sistem pengendalian intern merupakan salah satu faktor penting dalam pelaksanaan. SPI didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini : (a) keandalan pelaporan keuangan. selanjutnya auditor dapat menilai dan menganilisis resiko dan apa saja yang ada pada perusahaan tersebut dan dapat menentukan prosedur audit apa yang harus dijalankan berdasarkan resiko tersebut atau yang kini kita kenal dengan Risk Based Audit (RBA). resiko deteksi. Arti pentingnya SPI bagi manajemen dan auditor independen karena manajemen tidak dapat melakukan pengendalian secara langsung atau secara pribadi terhadap jalannya perusahaan. Pengecekan dan review yang melekat pada sistem pengendalian intern yang baik dapat akan pula melindungi dari kelemahan manusia dan mengurangi kekeliruan dan penyimpngan yang akan terjadi. Oleh karena itu dalam memberikan pendapat atas kewajaran laporan yang di auditnya.Setelah auditor mendapat pemahaman mengenai sistem pengendalian perusahaan yang diaudit. dan (c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

com/2013/01/14/pemahaman-spi-sistem-pengendalian-intern/ .com/2009/12/pengendalian-intern-auditing.html http://kurniawanbudi04.com http://eleks-mulyadi.blogspot.com/2012/11/25/komponen-pengendalian-intern-coso/ http://standarpengendalianinternal.wordpress.DAFTAR PUSTAKA http://zzzfadhlan.wordpress.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful