P. 1
skripsi pemalsuan uang

skripsi pemalsuan uang

5.0

|Views: 9,782|Likes:
Published by ari nabawi

More info:

Published by: ari nabawi on Aug 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

Sections

uang

Pada prinsipnya asas-asas hukum pidana yang dapat digunakan dalam

membahas anlisa kejahatan pemalsuan uang dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Asas yang dirumuskan di dalam KUHP atau perundang-undangan lainnya

-Asas berlakunya undang-undang hukum pidana menurut tempat, yang

mempunyai arti penting bagi penentuan tentang sampai di mana

49

berlakunya Undang-undang hukum pidana sesuatu negara itu berlaku

apabila terjadi perbuatan pidana.

-Asas berlakunya undang-undang hukum pidana menurut waktu, yang

mempunyai arti penting bagi penentuan saat kapan terjadinya perbuatan

pidana.

-Asas berlakunya undang undang hukum pidana menurut orang sebagai

pembuat atau peserta, yang mempunyai arti penting untuk terjadinya

perbuatan pidana. dari penuntutannya terhadap seseorang dalam suatu

negara maupun yang berada di luar wilayah negara.

Ketiga pembagian tersebut didasarkan pada ajaran pembagian wilayah

berlakunya sesuatu perbuatan hukum.

b. Asas yang tidak dirumuskan dan menjadi asas hukum pidana yang tidak

tertulis dan dianut dalam Yurisprudensi

Para ahli sebenarnya mengakui berlakunya asas tidak tertulis dalam hukum

pidana, yaitu asas "geen straf zonder schuld" yang artinya (tiada pidana tanpa

kesalahan )

Disamping itu juga dikenal beberapa asas yang berlaku sangat luas dalam

ilmu pengetahuan hukum pidana, tetapi dalam beberapa hal telah ada yang

dirumuskan terbatas dalam undang-undang:

-Alasan pembenar (rechtsvaaigingsgronden) yaitu menghapuskan sifat

melawan hukumnya perbuatan, sehingga menjadi perbuatan yang benar

50

-Alasan pemaaf (schould uitsluitings gronden) yaitu menghapuskan sifat

kesalahan dari terdakwa meskipun perbuatannya bersifat melawan hukum

tetapi tidak dipidana (tidak dihukum)

-Alasan penghapusan penuntutan (onverbolgbaarheid), yaitu pernyataantidak

menuntut karena tidak dapat diterima oleh badan penuntut umum yang

disebabkan konflik kepentingan dengan lebih mengutamakan kernanfataannya

tidak dituntut (Mr. J.E. Jonkers)

C. Unsur-unsur Tindak Pidana Pemalsuan Uang

1. Unsur Melawan hukum

Pengertian melawan hukum yang tercantum di dalam pasal-pasal

Undang undang Hukum Pidana, ada tiga pengertian yang berbeda yaitu

sebagai berikut:

a.Menurut Simons, "melawan hukum" artinya "bertentangan dengan

hukum" bukan saja dengan hak orang lain (hukum subyektif), melainkan

juga dengan hukum obyektif, seperti dengan hukum perdata, dan hukum

tata usaha negara. Menurut Pompe, memberikan taksiran yang lebih luas,

bahwa "bertentangan dengan hukum" itu ialah tidak saja dengan hukum

tertulis, melainkan juga dengan hukum yang tidak tertulis.

b.Noyon mengatakan, bahwa "melawan hukum" artinya "bertentangan

dengan hak orang lain"

51

c.Hoge raad (Hakim tertinggi) di Negeri Belanda, artinya "melawan hukum

itu ialah tanpa wewenang atau tanpa hak" (arrest 18-12 1911 W.9263)

Dengan demikian timbul dua penafsiran yang berbeda dalam hal apakah

unsur "melawan hukum itu harus diartikan bertentangan dengan hukum

tertulis (hukum positif) saja, atau haruS diartikan bertentangan lebih luas lagi,

yaitu bertentangan dengan hukum tidak tertulis. Dalam hal ini menimbulkan 2

penafsiran yang berbeda yaitu sebagai berikut:

a) Ajaran melawan hukum meteriil

Yang disebut melawan hukum itu bukanlah hanya sekedar bertentangan

dengan hukum tertulis saja, tetapi juga apabila bertentangan dengan

hukum yang tidak tertulis.

Golongan ini berpendapat bahwa unsur "melawan hukum" itu adalah

merupakan unsur yang berdiri sendiri, tidak perduli lagi apakah unsur itu

secara tegas disebut di dalam pasalnya atau tidak.

Golongan ini berpendirian bahwa diluar ketegasan di dalam Undang-

undang unsur "melawan hukum" itu tidak dapat dilepaskan sama sekali.

Sebab, barulah perbuatan yang merupakan peristiwa pidana itu dapat

dikenakan hukuman, apabila ternyata bahwa secara obyektif perbuatan itu

merupakan suatu hal yang tidak dapat dibenarkan, bail( dilihat dari sudut

kepentingan masyarakat maupun dilihat dari sudut kepentingan yang

dilindungi oleh hukum.

52

Van Harrel berpendirian apabila Hakim merasa ragu-ragu apakah tidak ada

hal-hal yang dapat membuktikan, bahwa perbuatan terdakwa

sesungguhnya tidak melawan hukum, maka Hakim berkewajiban

menyelidiki hal itu.

Dan apabila ia setelah mengadakan penyelidikan itu tetap tidak

mempunyai keyakinan bahwa terdakwa dalam perbuatan melawan hukum

menurut -Van Hamel, Hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman.

b) Ajaran melawan hukum yang formel

Ajaran ini berpendapat bahwa yang disebut malawan hukum itu adalah

yang bertentangan dengan hukum tertulis.

Menurut Simons "Untuk dapat dipidana, perbuatan harus mencocoki

rumusan delik yang tersebut dalam Undang-undang. Jika biasanya tidak

perlu lagi menyelidiki, apakah perbuatan itu melawan hukum ataukah

tidak"

Simons berpendirian suatu tindak pidana hanyalah dapat dianggap tidak

berlawanan dengan hukum dan dapat dilepaskan dari hukuman apabila di

dalam Undang-undang tersedia dasar-dasarnya yang dapat melepaskan

yang berbuat itu dari sanksi atas perbuatan itu. Jika tidak terdapat

pengecualian-pengecualian di dalam Undang-undang terhadap berlakunya

sanksi atas tindak pidana itu, maka menurut Simons Hakim tidak boleh

tidak harus menghukum orang itu. Ia tidak menyetujui bahwa ketentuan

53

yang telah ditetapkan oleh Pembuat Undang-undang dapat diletakkan di

bawah kontrol keyakinan hukum dari Hakim.

Golongan yang menganut paham ini berpei dapat bahwa unsur "melawan

hukum" itu. Meskipun betul merupakan unsur peristiwa pidana tetapi tidak

merupakan suatu unsur yang berdiri sendiri.

Bagaimana sikap kita terhadap pertentangan pendapat formeel dan

materiil mengenai sifat melawan hukum itu?

Kita bangsa Indonesia mengikuti ajaran materiil, bagi bangsa Indonesia

belum pernah ada saat bahwa hukum dan Undang-undang adalah sama.

Bahkan sebaliknya sebagian besar dari hukum adat terdiri dari aturan-aturan

tidak tertulis. Benar bahwa Hakim adalah terikat kepada sistem hukum yang

berlaku, tetapi Hakim Indonesia adalah "bebas" untuk rneninjau secara

mendalam apakah penetapan-penetapan yang diambil pada waktu yang

lampau, masih dapat dan hams dipertahankan berhubung dengan adanya

perubahan-perubahan di dalam masyarakat, berhubung dengan adanya

pertumbuhan perasaan-perasaan keadilan ham. Dan kita telah sama-sama

ketahui, bahwa pembentukan Undang-undang selalu terbelakang dari

pertumbuhan dan perkembangan hukum. Bagaimana dapat mernpertahankan

pendapat pula bahwa pengecualian atas sifat-sifat melawan hukumnya

perbuatan harus dicantumkan dulu dalam Undang-undang, baru dapat

digunakan oleh Hakim.

54

Masyarakat adalah hidup, bergerak berhubungan dengan itu rasa

keadilan masyarakat rakyat bergerak pula. Lebih-lebih diingat pendapat Van

Hatt-um dan Langemeyer bahwa dengan perumusan-perumusan delik tidak

akan bisa diadakan gambaran yang sempurna mungkin tentang aneka bentuk

daripada hidup ini.

Menurut Soepomo dalam bukunya yang berjudul "Bab-bab tentang

Hukum Adat" mengatakan sebagai berikut:

"Didalarn rangka system hukum adat, Hakim berwenang bahkan

berkewajiban jika terhadap suatu soal belum ada peraturan hukum yang

positif, memberi putusan yang mencerminkan rasa keadilan rakyat yang

bertumbuh baru. Hakim sebagai pemimpin masyarakat wajib memberi

concrelisering, wajib mewujudkan secara konkrit di dalam putusannya, apa

yang menurut anggapannya sesuai dengan aliran masyarakat"

Jiwa dari pada Hakim seperti ini hanya dapat dipenuhi oleh mereka yang

mengikuti pandangan yang materiil, tidak oleh yang formil.

Dengan demikian fungsi negatif dari ajaran melawan hukum materiil

adalah suatu perbuatan yang dilarang oleh Peraturan Undang-undang dapat

dikecualikan oleh aturan hukum tidak tertulis, sehingga lalu tidak lagi

merupakan perbuatan pidana.

2. Unsur Kesengajaan

Di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak dimuat suatu

keterangan, apa yang dimaksudkan dengan "sengaja" itu, tetapi pernah dimuat

55

dalam Crimineel Wetboek, tahun 1809 (pasal 11) bahwa yang dimaksud

dengan "sengaja" ialah:

"membuat sesuatu atau tidak membuat sesuatu yang dilarang atau

diperintahkan oleh undang-undang"

Definisi ini juga tidak dimasukkan dalam KUHP Belanda tahun 1881,

oleh sebab itu dengan sendirinya juga tidak dimasukkan ke dalam W.v.S.I

(KUHP Indonesia tahun 1915)

Menurut memori perjalanan tentang rencana Undang-undang tersebut

dikatakan, bahwa perbuatan yang dilakukan dengan sengaja itu ialah

perbuatan yang bertekad dan dilakukan dengan penuh kesadaran.

Dalam membahas kata "dengan sengaja" kita memerlukan sebuah

memori Van Toelichting Nederland tentang kata "dengan sengaja"

(opzettelijk).

Kata "dengan sengaja" (opzetelijk) (Lto ini banyak terdapat dalam pasal-

pasal KUHP) adalah sama dengan "Willens en wettens" (dikehendaki dan

diketahui), menurut R. Tresna dalam bukunya "Asas-asas Hukum Pidana"

mempergunakan kata-kata sebagai berikut: kata "dikehendaki" = "tekad". kata

"diketahui" = "cita", "dibayangkan"

Untuk membahas kata "dikehendaki" dan "diketahui" ada dua aliran

(teori). Kedua teori tersebut adalah:

1. Von Hippel dengan teori "kehendak" (wilstheorie) = teori pangkal tekad,

yang mengatakan "bahwa: "sengaja" adalah kehendak membuat suatu

56

tindakan dan kehendak menimbulkan suatu akibat karena tindakan itu.

Dengan kata lain adalah "sengaja" apabila akibat suatu tindakan

dikehendaki; dan boleh dikatakan bahwa "akibat dikehendaki", apabila

akibat itu menjadi maksud benar-benar dari tindakan yang dilakukan

tersebut.

Contoh: A menyediakan sebuah alat teknologi untuk membuat sebuah

percetakan ternyata alat tersebut digunakan untuk membuat mata uang

palsu"

Adalah "sengaja" apabila A benar-benar ingin membuat mata uang palsu.

-Menurut VOS "teori kehendak" ini dianut oleh Memori Van

Toeklichting buktinya adalah istilah "willens en wetten" yang terdapat

dalam WvT itu.

-Ada yang berpendirian, bahwa kehendak atau tekad (niat) untuk

melakukan sesuatu perbuatan itu tidak juga meliputi akibat-akibat

perbuatan itu.

-Akibat itu hanya dapat dibayangkan atau dicita-citakan (diketahui)

saja oleh orang yang melakukan perbuatan itu.

-Pendapat tersebut malahirkan ajaran (teori, aliran) berpangkal cita atau

teori membayangkan (voorstelings theorie).

2. Teori berpangkal cita (membayangkan, dikemukakan oleh Frank dalam

`Festschrift Gieszen, 1907; karangan Ueber den Autbau des

Schuldbegriffs) Menurut Frank mendasarkan alasan psychologis, maka

57

tidak mungkinlah hal suatu akibat dapat dikehendaki. Manusia tidak

mungkin dapat menghendaki suatu akibat "manusia hanya dapat

mengharapkan, membayangkan, mengetahui (kemungkinan) adanya suatu

akibat"! Rumus Frank Berbunyi:

"adalah sengaja, apabila suatu akibat (yang ditimbulkan karena suatu

tindakan) yang dibayangkan sebagai maksud (tindakan itu) clan oleh

sebab itu tindakan yang bersangkutan dilakukan sesuai dengan bayangan

yang terlebih dahulu telah dibuat tersebut"

Dengan kata lain: "menitikberatkan pada apa yang diketahui, apa yang

akan terjadi pada waktu akan'berbuat."

lni dinamakan "teori pengetahuan" atau "teori membayangkan"

(voorstellings theorie) menurut R Tresna: "teori berpangkal cita" Contoh:

A membayangkan keuntungan yang akan diperoleh dan saran-saran yang

akan dicapai yaitu terhadap peredaran mata uang palsu, maka A memberi

sejumlah uang kepada B agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Tidak

boleh dikatakan bahwa A menghendaki B untuk melakukan peredaran

uang palsu. A hanya mempunyai bayangan (keinginan) tentang Pembuatan

dan Pemalsuan uang dengan memperalat B. berdasarkan alasan

Psikologis, maka tidak mungkinkah A menghendaki B untuk melakukan

Pembuatan dan peredaran uang palsu. Yang hanya dapat dikehendaki ialah

suatu tindakan yang mungkin menyebabkan B melakukan peredaran mata

uang palsu. Pembuatan dan peredaran mata uang palsu yang dilakukan B.

58

tindakan itu adalah menyuruh melakukan pembuatan dan peredaran uang

palsu. Pembuatan dan Peredaran mata uang palsu pada waktu A

merencanakan tindakannya berubah suatu bayangan (voorstelling) saja.

Sedangkan perbedaan kedua teori tersebut adalah:

- Pada "teori kehendak" (berpangkal tekad): unsur sengaja itu letaknya

pada niat (tekad) untuk berbuat semata-mata. A berniat membuat mata

uang palsu maka A memberi peralatan mesin cetak yang canggih dan

merekrut B untuk mengoperasikannya sebagai tenaga ahli.

-Pada teori membayangkan (teori berpangkal cita atau teori

pengetahuan) maka unsur disengaja itu letaknya pada apa yang dicita-

citakan (dibayangkan) dengan perbuatan itu.

B berniat memperoleh keuntungan yang besar dan keuntungan itu

dapat diperoleh dengan membuat dan mengedarkan uang palsu.

Oleh karma itu is sengaja melakukan pembuatan dan peredaran uang

palsu dengan niat untuk memperoleh keuntungan yang besar.

Ada dua macam opzet yaitu:

a.Formil Opzet

Perbuatan disengaja yang ditujukan semata-mata kepada perbuatannya

saja

b.Materiil Opzet

Perbuatan disengaja yang ditujukan kepada akibat dari suatu tindakan

perbuatan.

59

Hubungan antara keadaan jasa orang dengan perbuatan yang

disengaja, meliputi masalah-masalah sebagai berikut:

a) Apakah orang itu hares mengetahui atau setidak-tidaknya harus dapat

mengetahui, bahwa perbuatannya itu adalah suatu perbuatan yang

dilarang atau yang melawan hukum maupun yang bertentangan

dengan kewajibannya ataukah

b) Sudah cukup jika perbuatannya itu merupakan sesuatu yang dilarang.

- Menurut hukum pidana yang berlaku, untuk menetapkan adanya

unsur " dengan sengaja" itu, sudah cukuplah apabila orang semata-

mata melakukan perbuatan perbuatan yang dilarang, atau

membiarkan apa yang diharuskan dalam undang-undang dengan

tidak perlu dibuktikan bahwa orang itu mengetahui atau sadar

bahwa perbuatannya itu bertentangan dengan hukum atau undang-

undang.

Di dalam lapangan teori hukum pidana, hal ini dinamakan

"kleurloos opzet" atau "kesengajaan yang tidak berwarna"

Artinya sengaja berbuat itu tidak perlu mengetahui, bahwa

kelakuannya itu dilarang.

- Sedang "boos opzet" atau "niat jahat semata", di mana yang

berbuat itu memang mengetahui bahwa apa yang ia lakukan atau

biarkan rnemang diancam hukuman.

60

Dengan di undangkannya sesuatu peraturan hukum menurut cara-

cara yang syah maka setiap orang dianggap mengetahui isinya.

3. Unsur Meniru atau memalsukan

Meniru berarti membuat sedemikian rupa sehingga menyerupai yang

asli. Sedangkan yang ditiru disini adalah mata uang negara yang

merupakan alat pembayaran sah dari negarai yang dibuat dari logam dan

kertas.

Dalam pemalsuan uang ini tidak saja meliputi mata uang Indonesia

tetapi juga mata uang asing. Saeorang yang melukis mata uang kertas

negara Seorang yang melukis uang kertas negara demikian rapi sehingga

sama dengan aslinya, tetapi tidak disertai maksud untuk menjalankannya

sebagai uang kertas yang sah, tidak dapat dituntut dengan pasal 244

KUHP

Pelanggaran ini biasanya dilakukan oleh percetakan atau toko-toko

yang mencetak atau menyebarkan barang-barang cetakan yang

menyerupai uang kertas negara, uang kertas bank, mata uang atau

perangko sebagai reklame atau tukang emas yang menjual perhiasan

seperti tusuk konde, kancing baju dan sebagainya yang menyerupai mata

uang. Dalam pengertian ":mata uang" termasuk juga mata uang asing.

4. Unsur Menyimpan, mengeluarkan, menerrim dan Mesuk i ke Daerah

Republik Indonesia

61

Dalam unsur menyimpan ini terkait beberapa hal yang merupakan

suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk nmenyimpan mata uang

palsu ini. Dalam hal ini banyak pengertian yang hampir sama sehingga

memerlukan sebuah analisa yang mendalam terhadap beberapa hal sebagai

berikut:

a. Orang yang dengan sengaja mengeluarkan mata uang yang telah

dikurangi sendiri harganya, dengan maksud untuk mengeluarkan atau

menyuruh mengeluarkan sebagai mata uang yang tidak rusak.

b.Orang yang pada waktu menerima mata uang atau uang kertas negara

ataii uang kertas bank mcngetahui akan kepalsuan atau dipalsukan itu

dengan sengaja mengeluarkan mata uang atau uang kertas negara atau

uang kertas bank tersebut sebagai mata uang atau uang uang kertas

negara atau uang kertas bank asli dan yang tidak dipalsukan

c.Orang yang menyimpan atau memasukkan ke daerah Republik

Indonesia mata uang dan uang kertas negara atau uang kertas bank

yang palsu atau dipalsukan dengan maksud untuk mengeluarkan atau

menyuruh mengeluarkan sebagai yang ash dan tidak dipalsukan.

Secara singkat yang diancam hukuman dalam pasal ini adalah orang yang

dengan sengaja mengeluarkan, menerima, menyimpan, atau memasukkan ke

daerah Republik Indonesia mata uang dan uang kertas negara atau uang kertas

bank yang palsu atau dipalsukan, dengan maksud untuk diedarkan atau menyuruh

mengedarkan sebagai yang asli dan tidak dipalsukan.

62

BAB IV

ANALISA YURIDIS 'J ERIIADAP PERKARA No. 1425/PID.B/PN.TNG

TENTANG TINDAK PIDANA PEMALSUAN UANG

Dalam penelitian skripsi ini akan meneliti perkara No

1425/PJD.B/2005/PN.TNG dengan terdakwa Muktar Als. Tar Bin Muhamad Latif

tentang perkara tindak pidana mengedarkan uang palsu.

A. Identitas Terdakwa

Nama lengkap

:Muktar Als. Tar Bin Muharnad Latif

Tempat lahir

: Meulaboh

Umur/tenggal lahir : 23 tahun/22 April 1982

63

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Kebangsaan

:Indonesia

Tempat Tinggal

:J1. Jati Padang Rt. 006/009 Kel. Jati Padang

Kec Pasar Minggu, Jakarta Selatan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta (penjual tas sekolah)

Pendidikan

: SMP

B. Susunan Persidangan

Maha Nikmah, SH

sebagai Hakim Ketua

Majelis Wahyu Sektianingsih, SH, MH

sebagai Hakim anggota

Suprapto, SH. M.Hum

sebagai Hakim Anggota

Alawi Muharmansyah, SH

sebagai Jaksa Penuntut Umum

H. Abdul Mukti

sebagai Panitera Pengganti

C.Uraian Kejadian

Bahwa Muktar Als. Tar bin Muhamad Latif pada hari Rabu tanggal 17

Agustus 2005 sekitar jam 00.30 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu tertentu

dalam bulan Agustus 2005 bertempat di Pasar Cikokol Kel. Babakan, Kecamatan

Tangerang, Kota Tangerang atau setidak tidaknya pada suatu tempat tertentu yang

masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Tangerang dengan

sengaja mengeluarkan mata uang atau uang kertas negara atau uang kertas bank

64

yang ditirunya atau dipalsukannya sendiri atau yang pada waktu diterimanya

diketahui akan palsu atau dipalsukan itu, sebagai mata uang atau uang kertas

negara atau uang kertas bank asli dan yang tidak dipalsukan ataupun yang

menyimpan atau memasukkan ke daerah Republik Indonesia mata uang dan uang

kertas negara atau uang kertas bank yang demikian dengan maksud untuk

mengeluarkan atau menyuruh mengeluarkan sebagai yang asli dan tidak

dipalsukan. Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cars sebagai berikut:

-Pada mulanya hari Rabu tanggal 17 Agustus 2005 sekira jam 00.30 Wib di

saat saksi Marjalena sedang menunggu warung kelontong miliknya, di pasar

Cikokol Kel. Babakan, Kee. Tangerang, Kota Tangerang kemudian datang

terdakwa dan membeli satu (1) bungkus rokok Dji Sam Soe seharga Rp.

7000,- (Tujuh ribu Rupiah) dengan menyerahkan uang Rp. 100.000,- (seratus

ribu rupiah) dan saat saksi Marjalena menerima uang tersebut saksi Marjalena

merasa curiga atas keaslian uang tersebut karena saat saksi meraba uang

tersebut agak licin dan warnanya agak pudar. Tidak sebagaimana Hang pada

umumnya. Selanjutnya saksi Marjalena menanyakan kepada terdakwa atas

keaslian uang tersebut dan terdakwa berusaha meyakinkan saksi Marjalena

dengan mengayakan bahwa Hang tersebut benar-benar asli sehingga saksi

Marjalena memberikan uang kembalian sebesar Rp. 93.000,-(Sembilan puluh

tiga ribu rupiah) dan selanjutnya terdakwa meninggalkan warung tersebut.

-Karena masih penasaran dengan keaslian uang tersebut kemudian saksi

memeriksa kembali uang tersebut dengan menerawangkan uang tersebut ke

65

arah lampu sehingga saksi merasa yakin kalau uang yang diberikan oleh

terdakwa tersebut palsu, lalu saksi mengejar terdakwa yang belum jauh yang

akhirnya terdakwa ditangkap oleh petugas keamanan pasar dan saat digeledah

dalam tas dan dompet terdakwa di temukan sebanyak 27 (dua puluh tujuh)

lembar uang kertas pecahan Rp.100.000,- (seratus ribu rupiah) yang palsu dan

saat ditanyakan terdakwa mengaku mendapatkan uang tersebut dari saudara

Faisal (dalam pencarian).

-Berdasarkan pemeriksaan laboratorik kriminalistik Polri Nomor: LAB:

4950/DUF/2005 dengan kesimpulan: 27 (dua puluh tujuh) lembar uang rupiah

pecahan Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) serf gambar Proklamator Dr Ir

Soekarno dan Dr H. Moh Hatta tahun emisi 2004 dengan nomor serf AAK

228326 sebanyak 8 (delapan) lembar, BAP 330206 sebanyak 8 (delapan)

lembar, CAT 123438 sebanyak 1 (satu) lembar, GAO 334005 sebanyak 10

(sepuluh lembar) PALSU.

-Kepalsuan uang rupiah tersebut merupakan basil cetak PRINTER

BERWARNA

-Sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 245 KUH Pidana

D. Keterangan Saksi-Saksi

I. Saksi Ina Sutisna

Di bawah sumpah pada pokoknya memberikan keterangannya sebagai

berikut:

66

-Bahwa benar terjadinya pada hari Rabu tanggal 17 Agustus 2005 sekira

jam 00.30 WIB bertempat di pasar Cikokol Kecamatan Tangerang Kota

Tangerang terdakwa telah melakukan mengedarkan uang kertas pecahan

Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) palsu

-Bahwa benar saat terdakwa membelanjakan uang palsu tersebut saksi

sedang berada di pintu masuk pasar Cikokol sedang jaga sebagai

keamanan pasar bersama-sama dengan saudara Agus Sopian dan saudara

Sanan

-Bahwa benar terdakwa telah membelanjakan uang kertas pecahan

Rp.100.000 yang palsu di waning kelontong yang pemiliknya adalah saksi

korban Marjalena

-Bahwa benar awalnya saksi melihat terdakwa dengan saksi korban

Marjalena dengan bertengkar adu mulut yang kemudian saksi

menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi kemudian korban

menceritakan bahwa terdakwa telah membeli rokok Dji Samsoe dan

mernbayar menggunakan uang Rp.100.000,- yang palsu yang kemudian

saksi menangkap terdakwa dan mengamankannya di pos keamanan dan

saat saksi melakukan penggeledahan saksi menemukan di dalam dompet

terdakwa 27 lembar uang Rp.100.000,- palsu selanjutnya saksi

menyerahkannya kepada pihak kepolisian

-Bahwa benar saksi membenarkan barang bukti yang diajukan dalam

persidangan dan membenarkannya.

67

-Atas keterangan saksi tersebut terdakwa membenarkannya

2. Saksi Gufron di bawah sumpah pada pokoknya memberikan keterangan

sebagai berikut:

-Bahwa benar terjadinya pada hari Rabu tanggal 17 Agustus 2005 sekira

jani 00.30 W1B bertempat di pasar Cikokol Kecamatan Tangerang Kota

Tangerang terdakwa telah melakukan mengedarkan uang kertas pecahan

Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) palsu

-Bahwa benar saksi mengetahui kejadian tersebut sekira jam 01.00 Wib

setelah saksi menerima informasi melalui telpon dari pihak keamanan

pasar Cikokol

-Bahwa benar sewaktu kejadian saksi sedang melakukan tugas piket

Reskrim di Polsekta Tangerang dan mendapatkan informasi bahwa telah

terjadi tindak pidana pengedaran uang palsu kemudian saksi mendatangi

tempat kejadian dan disana saksi melihat terdakwa telah diamankan ole'h

keamanan Pasar.

-Bahwa benar selanjutnya saksi mengamankan terdakwa beserta barang

buktinya berupa uang kertas Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) sebanyak

27 (dua puluh tujuh) lembar yang dibawa oleh terdakwa di dalam

dompetnya.

-Bahwa benar saat dilakukan interogasi terdakwa mengakui bahwa uang

palsu tersebut terdakwa peroleh dari sdr. Faisal (belum tertangkap) Atas

keterangan saksi tersebut terdakwa membenarkannya

68

3.Saksi Marjalena di bawah sumpah pada pokoknya memberikan keterangan

sebagai berikut:

-Bahwa benar terjadinya pada hari Rabu tanggal 17 Agustus 2005 sekira

jam 00.30 WIB bertempat di pasar Cikokol Kecamatan Tangerang Kota

Tangerang terdakwa telah melakukan mengedarkan uang kertas pecahan

Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) palsu

-Bahwa benar awalnya saksi berada di warung rokok miliknya lalu datang

terdakwa membeli sebungkus rokok Dji Sam Soe seharga Rp. 7000,-

(tujuh ribu rupiah) dengan membayar dengan uang kertas pecahan Rp.

100.000,-

-Bahwa benar kemudian saksi merasa curiga dengan uang yang diberikan

oleh terdakwa karena disaat saksi meraba uang tersebut agak licin dari

warnanya agak pudar tidak sebagaimana uang Rp. 100.000,-pada um

umnya.

-Bahwa kemudian saksi menanyakan kepada terdakwa tentang keaslian

uang tersebut `Apakah uang ini palsu?' Kemudian dijawab ole~~ terdakwa

bahwa uang tersebut tidak palsu.

-Bahwa benar setelah terdakwa berusaha meyakinkan saksi kemudian saksi

mengembalikan uang tersebut Rp. 93.000,- kemudian terdakwa pergi.

-Bahwa benar setelah terdakwa pergi kemudian saksi melihat kembali uang

tersebut ke arah lampu sehingga saksi merasa yakin kalau uang tersebut

69

adalah palsu, kemudian saksi mengejar pelaku dan memulangkan uang

yang diberikan oleh terdakwa sehingga terjadi cekcok mulct.

-Bahwa benar tak lama kemudian datang keamanan pasar lalu

mengamankan terdakwa dan membawanya ke Pos Keamanan Bahwa

benar setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak keamanan di dalam tas

dan dompet terdakwa diketemukan 27 (dua pulah tujuh) lembar uang Rp.

100.000,- palsu

-Atas keterangan saksi tersebut terdakwa membenarkannya

4. Saksi Yopi Ahmad Yani Bin Muhammad Yusuf di bawah sumpah pada

pokoknya memberikan keterangan sebagai berikut:

-Bahwa benar terjadinya pada hari Rabu tanggal 17 Agustus 2005 sekira

jam 00.30 WIB bertempat di pasar Cikokol Kecamatan Tangerang Kota

Tangerang terdakwa telah melakukan mengedarkan uang kertas pecahan

Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) palsu

-Bahwa benar saat terdakwa membelanjakan uang palsu tersebut saksi

sedang berada dipintu masuk pasar Cikokol sedang jaga sebagai keamanan

pasar bersama-pasar dengan sdr. Ivan Sutisna dan bahwa benar terdakwa

telah membelanjakan uang kertas pecahan Rp. 100.000,-yang palsu

diwarung kelontong yang pemiliknya adalah saksi korban Marjalena

-Bahwa benar awalnya saksi melihat terdakwa dengan saksi korban

Marjalena sedang bertengkar adu mulut yang kemudian saksi

menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi kemudian korban

70

menceritakan bahwa terdakwa telah memberi rokok Dji Sam Soe dan

membayar menggunakan uang keamanan dan saat saksi melakukan

penggeledahan saksi menemukan di dalam dompet terdakwa 27 lembar

uang Rp. 100.000,- palsu selanjutnya saksi menyerahkannya kepada pihak

kepolisian

-Bahwa benar saksi membenarkan barang bukti yang diajukan dalam

persidangan dan membenarkannya

-Atas keterangan saksi tersebut terdakwa membenarkannya

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->