P. 1
Sejarah Nilai Tukar Rupiah Terhadap US

Sejarah Nilai Tukar Rupiah Terhadap US

4.0

|Views: 5,705|Likes:
Published by ari nabawi

More info:

Published by: ari nabawi on Aug 13, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

Sejarah nilai tukar rupiah terhadap US$. Nilai tukar rupiah terhada.

US$ tahun 1999 melakukan recovery menjadi sebesar Rp. 7.810/US$, tahun 2000 kembali melemah sebesar Rp. 8.530/US$, tahun 2001 melemah lagi menjadi Rp. 10.265/US$, tahun 2002 kembali menguat menjadi Rp. 9.260/US$, tahun 2003 menguat menjadi Rp. 8.570/US$ dan pada tahun 2004 sebesar Rp.8.985/US$. Pada tahun 2005, melambungnya harga minyak dunia yang sempat menembus level US$70/barrel memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap meningkatnya permintaan valuta asing sebagai konsekuensi negara pengimpor minyak. Kondisi ini menyebabkan nilai tukar rupiah melemah terhadap US$ dan berada kisaran Rp. 9.200 sampai Rp. 10.200 per US$. Nilai tukar rupiah merupakan satu indikator ekonomi makro yang terkait dengan besaran APBN. Asumsi nilai tukar rupiah berhubungan dengan banyaknya transaksi dalam APBN yang terkait dengan mata uang asing, seperti penerimaan pinjaman dan pembayaran utang luar negeri, penerimaan minyak dan pemberian subsidi BBM. Dengan demikian, variabel asumsi dasar ekonomi makro tersebut sangat menentukan besarnya penerimaan dan pengeluaran negara, termasuk dana perimbangan serta besarnya pembiayaan anggaran. Pada tahun 2004, asumsi nilai rupiah ditetapkan sebesar Rp. 8.600 per US$. Dalam realisasinya, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap US$ selama tahun 2004 adalah sebesar Rp. 8.930, atau mengalami penyimpangan sebesar 3,5 persen (under-estimated). Demikian pula pada tahun 2005, asumsi nilai tukar rupiah ditetapkan sebesar Rp9.300 per US$, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap US$ sampai dengan Oktober 2005 sebesar Rp. 9.590 per US$, atau menyimpang sebesar 3 persen (Tabel 1). Penetapan asumsi nilai tukar rupiah yang ternyata lebih rendah sekitar 3 persen dari realisasi, adalah merupakan sesuatu yang wajar. Hal ini mengingat asumsi nilai tukar yang ditetapkan dapat pula berfungsi sebagai. "anchor" nilai tukar sehingga dapat meredam ekspektasi masyarakat yang berlebihan. Tetapi disisi lain, apabila asumsi tersebut jauh dari realita yang diekspektasikan pasar, maka pasar akan menolak, sehingga asumsi tersebut tidak dipercaya lagi. Dan kondisi ini, diperlukan kehati-hatian dalam menentukan

asumsi nilai tukar sehingga dari kedua sisi, baik pemerintah maupun pelaku pasar dapat sama-sama terwakili

Sejak kenaikan harga BBM pada Oktober 2005, kegiatan ekonomi menderita perlambatan dan berlangsung hingga triwulan I-2006. Pertumbuhan menurun dalam konsumsi rumah tangga, pembentukan modal, dan ekspor bersih. Pengeluaran pemerintah tidak dapat mengimbangi perlambatan itu. Bahkan, dalam triwulan I-2006 pengeluaran konsumsi pemerintah turun tajam dibandingkan triwulan IV-2005. Di tengah perlambatan itu terjadi gejolak kecil di pasar keuangan. Indeks harga saham turun kuat, demikian juga nilai tukar rupiah, seraya memicu kepanikan kecil. Tandatanda dini yang dilaporkan Badan Pusat Statistik bersama Bank Indonesia dalam Indeks Tendensi Bisnis dan Indeks Tendensi Konsumen mengarah bukan ke penguatan, melainkan pelemahan di triwulan II-2006. Pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen masih lebih tinggi sedikit dari rata-rata dunia. Masalahnya, pertumbuhan Indonesia itu, pertama, jauh di bawah rata- rata kawasan berkembang Asia, yang tumbuh 8 persen lebih. Kedua, tingkat itu tak cukup memuaskan permintaan rakyat Indonesia akan perbaikan kesejahteraan melalui perluasan lapangan kerja. Ketiga, rakyat memercayai bahwa yang kurang di Indonesia bukanlah potensi, melainkan modal manusia bagi penggerakan potensi tersebut. Masih dalam kaitan konteks besar episode sekitar 12 tahun terakhir adalah episode erosi daya saing internasional bagi Indonesia yang bermula dalam kebangkitan China sebagai negara niaga yang sangat kompetitif pada awal 1990-an. Sampai kini Indonesia belum menemukan resep pemulihan daya saing internasionalnya. Rakyat Indonesia juga menyadari, dunia di sekitarnya pada awal abad ke-21 bukanlah dunia yang ramah sempurna bagi pertumbuhan cepat yang tersebar bias. Karena berbagai alasan, perusahaan multinasional menggencarkan globalisasi "rantai nilai" dalam 25 tahun terakhir sampai-sampai sebagian perusahaan melepas

seluruh kegiatan manufaktur dan memusatkan diri dalam rancangan dan distribusi. Melalui globalisasi rantai nilai itu, industri pengolahan dunia direlokasi besarbesaran ke China dan ekonomi maju barn yang lain. Sejumlah kecil pemenang itu seolah memenangi segalanya, mulai dari industri pengolahan padat keahlian rendah sampai industri pengolahan padat keahlian tinggi. Sayang. Indonesia belum termasuk dalam arcs pokok globalisasi rantai nilai itu. Baru serpihan-serpihan kecil yang sudah masuk. Munculnya raksasa ekonomi baru yang memenangi globalisasi rantai nilai itu, yaitu China dan beberapa ekonomi Asia Timur lain, menimbulkan akibat lanjutan. Pertama, harga-harga komoditas primer naik, terutama minyak bumi, seraya meredam kecepatan pertumbuhan ekonomi dunia. Bersamaan globalisasi rantai nilai dan lonjakan harga minyak bumi tabungan dunia juga bergeser ke ekonomi yang tidak membutuhkan injeksi makro. Cadangan devisa triliunan dollar disterilisasi dalam proses itu. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semula relatif menguat, namun dengan kenaikan harga minyak internasional dan kasus subprime mortgage rupiah dalam beberapa bulan terakhir mengalami pelemahan. Sampai hari terakhir tahun 2007 kurs rupiah mencapai Rp 9.419 per dolar AS, sehingga secara rata-rata nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.139 per dolar AS. Kenyataan bahwa cadangan devisa mencapai lebih dari 57 miliar dolar AS (meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 41,6 miliar dolar AS) ternyata tidak membantu banyak terhadap penguatan rupiah. Nilai cadangan devisa yang cukup besar sementara nilai tukar relatif melemah dalam beberapa bulan terakhir di tahun 2007, dapat dikatakan sebagai anomali yang terjadi dalam nilai tukar rupiah kita. Realisasi inflasi tahun 2007 lebih tinggi dari yang diperkirakan pemerintah, namun masih dalam batas kisaran yang ditetapkan pemerintah. Inflasi mencapai 6,59 persen lebih tinggi sedikit dibanding perkiraan point pemerintah yang berada pada 6,0 persen. Hal yang paling menonjol dari perkembangan inflasi selama kurun waktu 2007 adalah gejolak harga sektor pangan (volatile food). Sektor pangan menyumbang inflasi yang cukup besar, yakni sekitar 11,26 persen, sementara sektor nonpangan terutama disumbang oleh pendidikan sebesar 8,8 persen.

Perkembangan cukup menggembirakan adalah menurunnya tingkat suku bunga. Penurunan suku bunga ini penting bukan hanya akan mampu menggerakan investasi, namun juga meningkatkan kegiatan konsumsi yang mengalami kelesuan pascakenaikan harga BBM pada Oktober 2005 lalu. Kegairahan transaksi ekonomi dan kepercayaan yang cukup tinggi dari pelaku pasar juga tercermin dari kegiatan transaksi di pasar modal. Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencapai 2745,8 atau naik 52 persen dibanding awal tahun 2007 yang mencapai level 1836. Meki sempat terpuruk pada level yang rendah akibat goncangan kasus subprime mortgage di AS pada Juli-Agustus 2007 yang lalu, kenaikan indeks ini merupakan terbaik kedua saham di Asia setelah bursa di China. Salah satu harapan masyarakat adalah lebih berperannya APBN dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kinerja APBN tahun 2007 secara keseluruhan lebih balk dari tahun 2006 antara lain dengan berhasil ditekannya defisit APBN dari 1,54 persen dari yang diperkirakan menjadi sekitar 1,1 persen, di tengah-tengah tekanan harga minyak internasional yang cukup tinggi dan banyaknya bencana alam di beberapa daerah. Hal ini berkat meningkatnya pendapatan dan efisiensi alokasi anggaran belanja yang dipandang tidak terlalu penting. Perhatian khusus perlu diberikan kepada subsidi BBM mengingat perlu dipahami bahwa pemberian subsidi BBM yang cukup besar tanpa meningkatkan harga BBM dalam negeri merupakan bentuk "pengorbanan" pemerintah dan cerminan kepedulian pemerintah yang cukup besar atas nasib warganya. Masalah di lapangan adalah seringnya terjadi kelangkaan minyak tanah maupun BBM lainnya. Ini harus diselidiki apakah memang terjadi penyelundupan atau permainan antara oknum yang terkait dengan distribusi dan pengamanan pasokan BBM di lapangan. Aka hal ini terjadi pelaku harus dihukum seberat-beratnya untuk menimbulkan efek jera

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->