Pasca-Strukturalisme: Mendekonstruksikan Diskursus Negara-Bangsa Oleh: Semmy Tyar Armandha

Abstrak Kajian hubungan internasional yang lahir sejak 1919 tidak dapat dilepaskan dari kajian terhadap sistem negara-bangsa. Karena menyinggung hubungan antar-negara, maka negara menjadi titik sentral analisis. Sistem negara-bangsa ini sejatinya telah lahir sejak perjanjian Westphalia pada 1648, yang mengakhiri perang 30 tahun di daratan Eropa. Lahirnya sistem ini kemudian diikuti pula oleh serangkaian revolusi, di antaranya revolusi pencerahan (aufklärung), kemudian Renaisans (Renaissance), dan lahirnya kapitalisme pada revolusi industri di Inggris diikuti lahirnya liberalisme dalam Revolusi Perancis. Munculnya sistem negara-bangsa dengan demikian merupakan salah satu rangkaian terjadinya revolusi-revolusi yang terjadi di abad pertengahan tersebut. Makalah ini sedianya akan mengulas secara singkat bagaimana revolusi-revolusi tersebut dapat melahirkan kajian hubungan internasional, yang dalam terminologi sosiologi-filsafat disebut sebagai era modernisme. Beberapa penteori utama pasca-modernisme seperti Jacques Derrida dan Michel Foucault akan diulas sebagai penteori awal. Ulasan tersebut kemudian akan digunakan sebagai titik tolak pembahasan bagaimana pasca-strukturalisme (yang merupakan ‘anak’ dari posmodernisme) dapat menjadi kritik tajam terhadap sistem negara-bangsa (sebagai produk modernisme), yang mana menjadi perhatian utama Richard Ashley dan Robert B.J Wakler.

Makalah ini sedianya akan membahas secara deskriptif masuknya pemikiran pascastrukturalisme ke dalam khasanah ilmu hubungan internasional. Makalah ini pertama-tama akan menarasikan pemikiran pasca-modernisme sebagai landasan utama teori-teori pascastrukturalisme dalam dimensi filsafat-sosiologi. Kemudian penjelasan akan dilanjutkan dengan masuknya pasca-strukturalisme ke HI. Modernitas dan Modernisme Modernitas lahir sejak zaman pencerahan dan renaisans. Modernitas merupakan masa dimana munculnya kesadaran bahwa manusia adalah pusat dari ilmu pengetahuan. Manusia otonom dari unsur apapun termasuk alam dan agama. Semangat modernisme dengan demikian ditunjukkan sebagai semangat sekularisasi pengetahuan dari agama. Modernitas juga ditandai dengan hadirnya sistem negara-bangsa, kapitalisme, dan liberalisme; yang juga merupakan hasil sekularisasi pengetahuan dan pengakuan manusia sebagai subjek yang otonom. Periode modernitas mengandung berbagai unsur. Pertama, antroposentrisme pada kelanjutannya membawa konsekuensi lahirnya pemisahan antara subjek dan objek pengetahuan, yaitu manusia dan ilmu pengetahuan. Hasil dari sekularisasi antroposentris

terjadilah Revolusi Perancis yang melahirkan liberalisme. Unsur kedua adalah munculnya sistem negara-bangsa. Tentunya kebenaran mutlak menurut masing-masing mazhab pemikiran. Fundasionalisme mendukung pula lahirnya logosentrisme. . Unsur ketiga adalah kapitalisme. Fundasionalisme merupakan filsafat yang mengakui bahwa semua pengetahuan memiliki penjelasan yang kuat dan utuh serta memiliki fondasi masing-masing. sedangkan pengetahuan yang lain akan dianggap salah. Emile Durkheim.ini adalah lahirnya fundasionalisme. adalah tiga pemikir utama pada masa modernitas. yang mana beranggapan bahwa fenomena dapat diukur dari penjelasan yang berpola dan logis. Kehadiran sistem ekonomi ini menandai berakhirnya era feodalisme. Pertama. Inggris dan Jerman. masing-masing kerajaan memiliki teritori yang tidak boleh dilanggar negara lain. Salah satu traktat paling penting adalah kesepakatan akan adanya garis demarkasi yang memisahkan antar satu kedaulatan dengan kedaulatan lain. Negara menjadi semakin sedikit andilnya dalam globalisasi yang mana telah digantikan oleh aktoraktor korporat. Revolusi industri di Inggris adalah peristiwa momentum lahirnya kapitalisme dimana sistem buruh-upahan muncul menggantikan sistem upeti kerajaan. pengetahuan sejatinya dapat dicari kebenaran mutlaknya. Liberalisme hadir menggantikan sistem merkantilisme-proteksionis yang menjadi sistem perdagangan internasional saat itu. dan Max Weber. Kebenaran dapat ditemukan dan menjadi pengetahuan yang sesungguhnya. Kehadiran liberalisme diiringi oleh semangat kebebasan dan hak asasi kemanusiaan (yang juga diakari oleh pemikiran antroposentrisme dan rasionalisme). Dengan kata lain. Dimensi logis ini kemudian berkaitan dengan lahirnya rasionalisme. Perang ini terjadi di Eropa antara kekaisaran Roma. Pemikiran mereka meski berbeda satu sama lain. Setiap manusia dianggap rasional (penuh rasio) dalam setiap tindakannya. Karl Marx. dan tak mampu lagi dijawab oleh paradigma-paradigma modernisme. Menurut mereka. Tak lama setelah Revolusi Industri. mulai lunturnya peran dan kontrol negara dalam perekonomian yang ditandai dengan munculnya neo-liberalisme. Fondasionalisme inilah yang kemudian akan dikritik oleh para pemikir pasca-modernisme. Rasionalisme merupakan pemikiran yang berlandaskan pemakaian rasio dalam setia dimensi perilaku manusia. mengandung benih yang sama: yaitu fondasionalisme pengetahuan. Pasca-Modernisme Pembahasan akan dilanjutkan langsung menuju era 1960-an dimana modernitas sedikit demi sedikit mengalami degradasi setelah munculnya berbagai peristiwa dan fenomena yang tak mampu lagi dirangkul oleh modernitas. Kondisi modernitas ini tercatat telah melahirkan pemikir-pemikir besar. Sistem ini adalah hasil dari perjanjian Westphalia pada 1648 yang mengakhiri Perang Tiga Puluh tahun.

Para pemikir pasca-strukturalisme beranggapan sebaliknya. Kebenaran dengan demikian merupakan konstruksi semata. sedangkan pengetahuan adalah manifestasi dari bahasa. Jaqcues Derrida. adalah paradigma yang diciptakan untuk menjelaskan kondisi realitas pasca-modernitas. Jacques Lacan. dan sebagainya. Pendekatan mereka juga didasarkan pada bahasa. . untuk mengantisipasi hadirnya era baru: yakni pasca-modernitas. Dari pembagian kedua terminologi tersebut. dan liyan. maka dari itu harus selalu dibongkar hingga mencapai mendekati kebenaran yang sesungguhnya. Julia Kristeva. Judith Butler. Ferdinand Saussure. Claude Levi Strauss. dan dijelaskan dengan modernisme. Deretan pemikir-pemikir tersebut memiliki pandangan (episteme dalam terminologi Foucault) bahwasannya realitas dunia tidak lagi dapat dijelaskan dengan kerangka rasionalisme-fundasionalisme. Kedua fenomena material ini membawa dunia tidak lagi bisa direngkuh dalam kondisi modernitas. pada 1960-an hingga 1970-an bergeser drastis menjadi mode kerja dan produksi yang fleksibel. mode kerja yang semakin fleksibel membawa konsekuensi pada urgensitas untuk menciptakan kondisi paradigma baru dalam pegetahuan: yakni pascamodernisme. Pasca-modernisme berisikan berbagai pemikir kontemporer diantaranya Michel Foucault. bahasa adalah produk struktur yang mana reproduksinya dilakukan oleh individu. bahasa selalu disentralistisasi dalam otoritas birokrasi. menuruti permintaan dan penawaran. Menurut Foucault. Felix Guatari. dimanapun. bahasa adalah selalu produk dari struktur dan bersifat universal (sama). Bahasa. dengan demikian merupakan partikel yang harus dikaji berulang-ulang. Untuk memaknai praktik bahasa dalam mengkonstruksi pengetahuan dan kebenaran. karena bahasa adalah penamaan yang mampu menjelaskan dan menggambarkannya. Sementara pasca-modernisme. Oleh karenanya kebenaran tidak dapat dicapai sampai kapanpun. Dengan demikian. Jean Francois Lyotard. neo-liberalisme sebagai mazhab baru yang mengedepankan pasar. ternyata lahir dari berubahnya paradigma produksi dan manajemen pekerja dalam mekanisme perusahaan di barat. yang mana tidak lagi bertumpu pada tonggak realitas modernitas. kekuasaan. Manusia menginterpretasikan suatu realita dan fenomena melalui bahasa. Menurut kaum strukturalisme. dan dengannya tanpa fondasi apapun. Sistem negara-bangsa yang semakin terkikis oleh pasar. Yang membedakan strukturalisme dan pasca-strukturalisme adalah pemahaman akan bahasa. sebenarnya tidak diawali para pemikir pasca-modernisme (pascastrukturalisme). Gilles Deleuze. Mode kerja dan produksi yang tadinya berorientasi massal dan kaku serta saintifik (Fordisme). Mode kerja ini menurut Manuel Castell melahirkan apa yang disebut masyarakat jaringan. dan Martin Heidegger adalah sederet pemikir yang diberi label ‘strukturalisme’. kiranya jelas distingsinya: pascamodernitas merupakan gambaran realitas kehidupan praktis. Kebenaran sejatinya adalah konstruksi yang dapat diubah sedemikian rupa menuruti interpretasi manusia. Kebenaran adalah hasil dari manifestasi pengetahuan.Kedua.

Derrida terinspirasi gagasan ‘destruksi’ dari Heidegger mengenai penghancuran sistem bahasa. Bagaimana pengetahuan dapat menjadi episteme (cara pandang). Misal. Metanarasi dapat dikatakan sebagai suatu rancangan bangun besar akan konstruksi kebenaran dan pengetahuan. Lyotard sekaligus mengkritik fondasionalisme pengetahuan. Ada kalanya yang benar menjadi salah. Benar-salah dilihat sebagai objek yang saling berdialektik. Praktik ini menurut Derrida bukan untuk ditelusuri benar-salahnya. yakni mengenai kebenaran. dan dengannya tidak pengetahuan yang dapat dinilai sebagai benar atau salah. yang membawa pascamodernisme ke ranah filsafat mengatakan: ‚Simplifying to the extreme. yang dibuat demi melanggengkan suatu praktik tertentu. Diskursus dapat dikatakan sebagai satu set bangunan oposisi biner. Dengan diskursus. Biner dimaknai sebagai dua sisi yang berbeda. Foucault sejalan dengan Derrida. namun memiliki terminologi sendiri yakni diskursus. Namun perlu diingatkan lagi. dikatakan oposisi karena saling membelakangi seperti dua sisi mata uang. Fondasionalisme menganggap bahwa kebenaran dapat dicapai semurni-murninya dan se-objektik-objektifnya. Narasi unggul ini maksudnya adalah narasi yang berhasil mengalahkan narasi lain. Karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak. Jean Francois Lyotard. Lyotard mengatakan bahwa kebenaran sejatinya selalu berada dalam wilayah ego manusia. Pengetahuan hanya dapat ditelusuri bagaimana ia dapat menentukan mana yang benar dan mana yang salah. melainkan bagaimana praktik tersebut dapat melahirkan metanarasi. Foucault beranggapan bahwa pengetahuan manusia akan yang benar. kemudian menjadi 1 John Bayliss dan Steve Smith. Untuk membongkar bahasa sebagai bagian konstitutif pengetahuan dan diskursus. adalah hasil dari penentuan mana yang salah. sehingga yang benar dapat diterima.Individu menerima bahasa (dalam terminologi Foucault adalah sebagai diskursus/wacana) dan menginterpretasikannya baik secara simbolik maupun praktis. Berbeda dengan destruksi Heidegger. The globalization of world politics . Derrida menggagas suatu alat analisa yang bertujuan memeriksa secara linguistik makna dari suatu konsep atau teori atau apa yang disebut metanarasi. yang mana merupakan narasi unggul. narasi kapitalisme mengalahkan narasi komunisme. Menurut Foucault benar-salah adalah hasil dari konstruksi kekuasaan.”1 Dari pernyataan ini. dimana set tersebut menentukan mana yang benar dan mana yang salah. I define post-modern as incredulity towards metanarratives. dan relasinya selalu lepas dari ego manusia tersebut. Dengan kata lain pengetahuan merupakan produk yang dihasilkan oleh manusia. Pasca-Strukturalisme Hubungan Internasional: Mendekonstruksi Fondasionalisme Negara-Bangsa Perlawanan terhadap metanarasi merupakan gerakan paling mendasar dalam pemikiran-pemikiran pasca-modernisme. Derrida memberikan kompleksitas lebih lengkap yakni dekonstruksi. dan adakalanya yang salah menjadi benar. benar-salah dalam terminologi Foucault tidak dibentuk dalam rangka menjustifikasi.

Menurut Foucault diskursus selalu identik dengan kekuasaan. Kondisi pardigmatik mainstream HI ini yang menjadikan negara sebagai rezim kebenaran dan metanarasi. sehingga mengesampingkan aktor-aktor selain negara yang notabene juga berinteraksi satu sama lain. Relasi ini dapat dilihat dari lahirnya suatu kebudayaan dan tata cara hidup manusia mengenai yang tabu dan yang benar. dengan cara-cara fasis seperti Hitler. Implikasi terhadap analisis kontemporernya juga panjang. disertasi. dan sebagainya. pertama karena menilai benar atau salah. Secara epistimologis. Stalin. yakni studi HI akan selalu di-impose mendukung dan memperkuat kebijakan (negara-bangsa).diskursus (wacana). Dengan demikian. oleh karena itu pengetahuan selalu erat kaitannya dengan kekuasaan. tesis. Kekuasaan di sini tidak dimaknai sebagai otokrasi ortodoks suatu organisasi negara terhadap warganya. 2 . maka pembuat diskursus itulah yang berkuasa. sehingga tatanan selain negara-bangsa dapat langsung dikatakan sebagai komposisi argumen yang salah. Metanarasi yang menjadi fokus perhatian paling utama adalah sistem negara-bangsa (Westphalian Order).J Walker kemudian terilhami untuk menggunakan strategi-strategi analisis guna menjawab problem di ranah hubungan internasional kontemporer. dan kemudian menjadi oposisi biner (salah dan benar). Apabila suatu diskursus menguasai (dengan berhasil menentukan benar-salah suatu masyarakat-baik domestik maupun global).2 Hal ini mengakibatkan analisis pada skripsi. Lantas dengan diakuinya pengetahuan selalu terkait dengan kekuasaan. dan kedua karena mengesampingkan kejadian-kejadian kecil dalam wilayah yang cenderung lebih sempit. dll. baik secara epistimologis maupun ontologis. maka pemikiran pasca-modernisme selalu berlawanan dengan sentralitas. mereka akan selalu bertentangan dengan teori-teori besar dan episteme yang universal. menjadi conduct of conduct (pengaturan berjenjang). Foucault menyebut metanarasi sebagai rezim kebenaran. Richard Ashley dan Robert B. Dari pemikiran-pemikiran yang melawan metanarasi tersebut. baru dianggap ‚HI‛ hanya jika membahas kebijakan yang berkenaan dengan negara. Oleh karenanyala pasca-modernis selalu diidentikan dengan pascastrukturalis. dimana pemikiran ini akan selalu mempertanyakan segala sesuatu yang sudah mapan dan dianggap benar. karena mengandung premis struktural namun menolak menerima strukturalisasi. Kekuasaan selalu ditunjukkan dengan penguasaan diskursus. Teori dan episteme yang besar/general dan universal tersebut.. yang selanjutnya dioperasionalisasi oleh diskursus. karena semua paradigma hubungan internasional mainstream selalu bertumpu pada negara. pemikiran yang mendasari para pasca-modernis dapat dikatakan sebagai anti-fondasionalis. Konstruktivisme-pun pada akhirnya melihat entitas negara sebagai satu-satunya yang tidak dikonstruksi alias natural. dimana tata cara hidup manusia diatur dalam satu set pengetahuan. Mao Tse tung. yang menurut pasca-modernis gagal menjelaskan fenomena sosial kontemporer.

Pendapat-pendapat tersebut adalah prakondisi ideal menurut pemikiran masing-masing. negara harus mampu mengupayakan penyatuan seluruh komponennya: dari aparatur negara hingga rakyat jelata. Hal ini dapat dilihat dari perdebatan-perdebatan yang tak kunjung berhenti di antara penteori HI. Dekonstruksi sendiri adalah pencarian kebenaran tanpa henti yang dilakukan dengan meninjau teks-teks dan bahasa yang membentuk narasi dan metanarasi. adalah pertanyaan yang belum habis terjawab dan belum bisa dijelaskan oleh teori-teori HI mainstream. Ashley mempertanyakan bagaimana secara historis negara dapat diterima sebagai entitas yang natural. berbagai pandangan melihat negara harus begini harus begitu.Richard Ashley menggunakan strategi genealogi Foucaldian dalam mencari rezim kebenaran yang mengkonstitusi konstruk negara bangsa. Seperti yang diketahui. Robert Walker dengan strategi dekonstruksinya. Pandangan Hobbesian mengenai leviathan dikesampingkan dalam terminologi manusia sebagai masyarakat. Sedangkan Rob Walker menggunakan strategi dekonstruksi. Keinginan ini tak pelak mengharuskan negara menekan warganya sendiri: dengan justifikasi nasionalisme. Sebagai contoh realisme berpendapat perdamaian hanya dapat dicapai ketika dunia anarki. adalah studi sejarah yang menelusuri bagaimana suatu rezim kebenaran (dalam hal ini negara-bangsa) dapat menjadi konsep yang kuat dan mampu menegasikan konsep-konsep lain. bela negara (dengan berperang sekalipun). sehingga negara mampu memiliki pendiriannya sendiri di antara negara-negara berdaulat lainnya. Adalah utopis menurut Walker. menantang konsep kedaulatan yang menjadi ‚kesatuan beragam‛ dalam hubungan internasional. ternyata menimbulkan opresi dan represi terhadap warga negaranya sendiri. apabila negara selalu ingin mengutuhkan suaranya dalam satu otoritas. Problem/permasalahan ini muncul dari skeptisisme Robert Walker memandang upaya pengutuhan negara dalam satu suara bulat. adalah masalah perang. adalah masalah keinginan negara untuk selalu berdaulat seutuhnya. yang mana tetap mensyaratkan berdirinya entitas negara. bekerja banting tulang. kemudian liberalisme berpendapat negara harus bekerjasama dengan negara lain dan membangun supranasional agar terciptanya perdamaian. dan konstruktivisme menekankan norma dan nilai. karena di dalam negara itu sendiri terjadi anarki. Mengapa dan bagaimana perang bisa terjadi. Strategi genealogi yang digagas Foucault ini. Kedua. Lalu apa masalahnya hingga negara-bangsa harus didekonstruksi rezim kebenarannya? Pertama. Kesatuan ini yang . yang notabene melahirkan studi hubungan internasional itu sendiri. Dengan strategi ini. sebagai gantinya leviathan dikerucutkan dalam konteks negara. warga harus rela membayar pajak. Dekonstruksi mempertanyakan bagaimana suatu bahasa membangun diskursus dan membangun realitas. dan yang paling buruk didiskriminasi. Untuk menjadi berdaulat.

membatasi ‚dunia‛ menjadi ‚internasional‛. Maumere: Ledalero Jones. Dalam diskursus hubungan internasional. melahirkan pula unsur-unsur dan fondasi yang mengkonstitusi zaman tersebut. (2009) After the Globe Before the World. Kedaulatan menjadi problematis ketika ia selalu mensyaratkan ‘penghapusan anarki’ domestik. (2009) Pengantar Teori-teori Sosial: Dari Teori Fungsioalisme Hingga Post-Modernisme. Terjemahan Achmad Saifuddin. New York: Routledge . seperti argumen besar Walker dalam bukunya After the Globe Before the World: "my overall argument. sistem negara-bangsa memainkan peran penting dalam membentuk pengetahuan dan teoriteorinya. karena ia akan selalu berusaha merepresi guna mendapatkan keutuhannya. (2004) Normative Theory in International Relations: A Pragmatic Approach. yakni sekularisasi pengetahuan. John dan Steve Smith. Simon. New York: Continuum International Publishing Group Cohran. dan kapitalisme.B. borders and limits of a politics orchestrated within the international that simultaneously imagines the possibility and impossibility of a move across the boundaries. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia Walker. (2011) Filsafat PostModernisme Jean-Francois Lyotard." Kesimpulan Lahirnya zaman modern. menggunakan strategi-strategi dekonstruksi untuk mempertanyakan gagasan kedaulatan. munculnya negara-bangsa. Pip. Deleuze. Molly. (2001) The Globalization of World Politics: An Introduction to International Relations.J. London: Oxford University Press Choat. atau disebut modernitas. yang mana menjadi sentral dalam studi HI. Willy. to put it briefly. R. New York: Cambridge University Press Gaut. borders and limits distinguishing itself from some world beyond. Oleh karenanya Richard Ashley dan Rob Walker. (2010) Marx Through Post-Structuralism: Lyotard. Foucault. and to pay far greater attention to what goes on at the boundaries. akibat sifat anarki –sebagai prasyarat kedaulatan. Derrida. Kedaulatan dengan demikian menjadi semakin problematis ketika dalam upaya mencapai keutuhannya. Referensi Bayliss. melalui pemikiran pascamodernisme – pasca-strukturalisme. is that anyone seeking to reimagine the possibilities of political life under contemporary conditions would be wise to resist ambitions expressed as a move from a politics of the international to a politics of the world. selalu cenderung menegasikan kedaulatan lain.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful