P. 1
Prinsip-prinsip latihan

Prinsip-prinsip latihan

|Views: 53|Likes:
prinsip-prinsip latihan
prinsip-prinsip latihan

More info:

Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2014

pdf

text

original

prinsip latihan olahraga

HAKIKAT KEPELATIHAN

Hakikat kepelatihan (disebut juga coashing) dalam bidang apapun ialah meningkatkan ilmu, keterampilan, dan kinerja peserta pelatihan setinggi mungkin dalam bidang yang ditekuninya. Demikian pula dalam pelatihan olahraga tanding. Hakikat da tujuan kepelatihan olahraga ialah juga meningkatkan ketiga unbsur tersebut agar para pertandingannya (olahragawannya) mampu mencapai prestasi maksimal mungkin. Krena itu tugas pelatih ialah membantu atlet-atlenya untuk meningkatkan prestasi olahraganya setinggi mungkin. Dalam asperk apasaja pelatih bias membantu atletnya?sedikitnya ada 4 aspek yang perlu dipeerhatikan pelatih kepada para atletnya untuk memungkinkan mereka mencapai prestasi maksimalnya, yaitu : a. b. c. d. Aspek fisik Aspek teknik Aspek taktik Aspek mental

Aspek tersebut harus diterapkan secara sistematik , berencana, serempak, dan sinergis. Satu saja aspek tidak dilatih, tak mungkin perstasi maksimal akan terwujud.

PRINSIP – PRINSIP LATIHAN Untuk memungkinkan meningkatkan prestasi, latihanb haruslah berpedoman pada teoriu-teori seerta prinsif-prinsif latihan tertentu. Tanpa terpedoman pada teori serta prinsip-prinsip latihan yang benar, latihan seringkali menjurus ke peraktik mala-latih (mal-practice) dan latihan yang yang tidak sistematik-metodis sehingga peningkatan prestasi pun sukar di peroleh. Oleh karena itu kita perlu pahami apa batasan (depenisi)training itu. “Training adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang – ulang , dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihannya.” Sistematis : berencana, menurut jadwal, menurut pola dan system, tertentu, metodis, dari mudah ke sukar, dari sederhana ke yang lebih komplek, latihan teratur, dan sebagainya.

dan erflektif pelaksanaannya sehingga menghemat energy.Berulang-ulang : maksudnya ialah agar gerakan – gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah. Hari-hari latihan berat harus di selingi dengan hari-hari latihan ringan. Kian hari ditambah bebannya: maksudnya ialah setiap kali. otomatis. Penerapan rangsangan overload hrus dilakukan secara bertahap. Istirahat yang cukupsetiap hari adalah penting. secara periodic. peningkatan perestasi tidak akan mungkin. Jadi : a. . dan mana kala sudah tiba saatnya untuk ditambah. kalau beban tidak lpernah bertambah maka prestasipun tidak akan meningkat.progresif. atau di atas batas ambang-ambang rangsangan atlet. maka berapa lamapun kita latihan maka prestasi tidak aka meningkat. d. Bberdasarkan teori tersebut. PRINSIP BEBAN LEBIH : prinsip beban lebih (overload) adala prinsip latihan yang meneklankan pada pembebanan yang lebih berat daripada yang mampu dilakukan oleh atlet. c.. Agar efektif hasilnya latihan overload sebaiknya menganut “sistem tangga” (step -tipeapproach) PERKEMBANGAN MULTILATERAL: prinsip perkebangan multilateral atau menyelluruh sebaiuknya diterapkan pada atlet-atlet usia muda. Pada permulaan belajar mereka harus dilibatkan dalam beragam kegiatan agar demikian mereka memiliki dasar yang lebih kokoh guna menunjang spesialisnya kelak. dan antara proses-proses faallah dan psikologis. bebannya harus di peerberat. Karena system faallah tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rangsangan – rangsangan latihan. Latihan kemudian diturunkan intensitasnya dan volumenya. serta di selingi denga periode-periode pemulihan atau penurunan intensitas latihan dan volume latihan. yaitu misalnya setelah latihan puncak. b. Perencanaan latiha harus disusun dalam sikluss-siklus. pelatih sebaiknya jangan etrlalu membatasi atlet dalam program latihan yang menjurus pada perkembangan spesialisasi yang sempit di masa usia terlalu dini. Prinsip perkembanga multilateraldidasarkan pada pakta bahwa selaluada saling ketergantungan (interdependensi) antara semua organ dan system tubuh manusia. Selanjutnya akan disajikan secara ringkas beberapa prinsip latihanyang paling penting untuk menjadi pedoman bagi siapapun yang ingin meningkatkan perporma pelatihannya atau prestasi olahraganya.kalau beban latihan terlalu ringan .

daya tahan PRINSIP SPESIFIK : prinsip spesifik (ke khasan. istirahatnya ialah antara 3 – 5 menit. Istirahat (interval) antara dua rangsangan latihan bergantung pada intensitas latihan da lamanya setiap rangsangan. kepadatan. kelentuka dan sebagainya. tubuh kita akan kembali ke keadaan semula atau kondisinya tidak aka meingkat . Dengan demikian maka jalan menuju top prestasi biasanya juga akan lebih mulus. Kalau latihannya tidak continue maka unsure-unsur tersebut juga akan berkurang kemampuannya.Prisif multilaterak ini telah dianut banyak atlet didunia. kecepatan. Kalau kita lama tidak main tenis. Rangsanga diatas intensitas sub maksimal membutuhkan istirahat yang cukup lama ketimbang kalau rangsangan tidak begitu tinggi. Hal serupa juga akan terjadi dengan komponen-komponen fisik lainnya seperti kekuatan. orang harus melakukan gerakan-gerakan yang di perlukan dalam bulu tangkis. Penelitian saun dkk (pyke : 1991) menemukan bahwa tiga minggu istirahat akan menurunkan VO2 max sebesar 25%. Nadia Comanecl. specificity)mengatakan bahwa manfaat yang bias diperolleh dari rangsangan latihan bahwa akan terjadi kalau ransangan tersebut mirip atau menyerupai gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut. kalau kita behenti berlatih. Yang dimaksud dengan kepekatan latihan ialah frekuensi atau kekerapan atlet dalam melakuka suatu rangkaian (serie) rangsangan per satuan waktu. juara dasa lomba Olimpiade Montreal. antara lain bruce jenner. PRINSIP REVERSIBILITY: prinsip reversibility (kebalikan)mengatakan bahwa. pesenam nadal dari Rumania. dan perkembangan fisiknya sudah memadai. sedikitnya 3-4 kali dlam seminggu agar factor – factor biomotorik dan keterampilan tidak akan menurun. Houston (pyke : 1991) menemukan bahwa setelah 15 hari tidak latihan (endurance)pelari-pelari menurun secara sicnifik. teratur. maka teknik pukul. sipat latiha bagi dia bias mulai menuju sesialisasi. Contohnya untuk menguasai permainan bulu tangkis. dan prestasinya bias bertahan lebih lama. Barulah kelak kalau atlet sudah milai dewasa dan cukup matang untuk memasuki tahap latihan berikutnya. dan sistematis. servis. Untuk latiha kekuatan terutama latihan untuk meningkatkan power atau kekuatan maksimal. Untuk kembali ke kondisi semula dibutuhkan waktu 4-6 minggu latihan. . Karena itu kita harus berlatih secara continue. kekerapan. smess akan menurun. Jadi. DENSITAS LATIHAN: densitas latihan bias diterjemahkan dengan kepekatan. Hal ini juga akan terjadi pada hteknik-teknik gerakan dan skill. istilah kepekatan mengacu pada hubunga yang dinyatakan antara kerja dan fase istirahat dalam latihan.

Semakin tinggi tingkat prestasi atlet. Makin banyak kerja yang dilakukan dalam suatu unit waktu tertentu. semakim banyak pula jumlah volume latihan yang harus dilakukan. Volume latihan ialah kuantitas beban latihan atau banyaknya materi latiha yang bias dinyatakan dalam : a. Jumlah repetisi dalam melakukan suatu latihan. maupun fisi volume latihan tidak sama dengan lamanya (duration). baik untuk latihan teknik. Perubahan fisiologis dan pskologis yang positif hanyalah mungkin bila atlet berlatih melalui suatu program latihan yang intensif. taktik. Intensif tidaknya latihan tergantung dari beberapa paktor (Bompa :1994) a. Latihan berlangsung lama namun tanpa dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. PRINSIP SUPERKOMPENSASI. Latihan . Beban latihan . b. VOLUME LATIHAN : volume latihan merupakan bagian yang penting dalam latihan. bias saja latihan berlangsung singkat namun materinya banyak. Atau sebaliknya. c. Jumlah volume latihan. Intensitas latihan mengacu pada jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu unit waktu tetentu.(berarti volume latihanya adalah 4000 m) Jadi volume latihan ialah jumlah aktifitas yang dilakukan dalam latihan. serta kadar intensitas dari repetisi tersebut. Misalnya lari 400 m sebanyak 10 repetisi. Total waktu berlangsung latihan Jarak yang harus ditempuh atau beban beban yang harus diangkat persatuan waktu. Bompa (1994) juga mengatakan bahwa terdapat korelasi yang tinggi anatara volume latihan per tahun dengan prestos yang ingin dicapai oleh atlet. makin tinggi intensitas kerjanya. jumlah ulangan gerakan (repetisi). yaitu latihan yang secara progresif menambah program kerja. Misalnya : lempar 60 bola dalam 1 menit adalah lebih intensip daripada lempar bola 30 bola dalam satu menit. Prinsip ini mengacu pada dampak latihan dan regeneerasi organism tubuh kita yang menjadi dasar biologis untuk persiapanuntuk persiapan fisik dan mental dalam menghadapi latihan atau pertandingan berikutnya INTENSITAS LATIHAN.Jadi kita lihat disini istirahat sama pentingnya dengan latihan. atau dalam melatih suatu unsure teknik atau keterampilan tertentu.

Orang bias saja berlatihkeras sampai habis napas dan tenaga. Zona intensitas latihan. berkualitas. Apabila pengawasan dilakukan oleh pelatih sampai gerakan – gerakan yang paling rinci. Latihan yang dilakukan melawan suatu tahanan (resistance) diukur dalam kg atau kgm. Klasifikasi zona intenstas latihan yang didasarkan pada penemuan Intensitas berdasarkakn pada denyut jantung. Menciptakan stress yang tiba-tiba dan tidak di duga-duga sebelumnya oleh atlet. kadar intensitas kerja yang dilakukan atlet biasanya beragam. Apabila latihan dan dril-dril yang diberikan memang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengana kebutuhan atlet.klasifikasi mengenaiintensitas yang didasarkan pada DJ (denyut jantung)sebagaimana dianjurkan Nikiforov (1974) adalah sebagai berikut : KUALITAS LATIHAN. Karena itu prestasinya tidak akan meningkat. d. Contoh model training 1. maupun mental.b. taktik. d. c. da setiap kesalahan segera diperbaiki. Lalu apa yag dimaksud dengan latihan yang berkualitas itu? Latihan yag berlkualitas adalah : a. Berlatih secara intensif saja belum bermanfaat apabila latihan atau drildril yang diberiklan tidak berbobot. khususnya denyut jantung. Apabila korelasi – kkorelasi yang tepat dan konsumtif sering diberikan c. baik dalam aspek teknik. Untuk latihan – latihan yang mengandung unsure kecepatan. Kadang – kadang tinggi.. pelatih dapat memonitor intensitas program latihan. b. Apabila prinsip overload diterapkan. intensitas intensitas mlakukan gerakan diukur dalam suatu jarak per detik atau per menit. kadang – kadang medium/rendah. Organism tubuh kita menyesuaikan diri dengan kadar intensitas tersebut dengan cara meningkatkan fungsi – fungsi faallah agar bias menyesuaikan diri dengan tuntutan latihan.( Kg yang diangkat 1 m melawan daya tarik bumi (gravitasi). Selama latihan. .didasarkan pada perubahan – perubahan faal tersebut. tetapi isi latihannya tidak bermutu. bermutu. Kecepatan dalam melakukan gerakan – gerakan Lama singkatnya interval diantara refetisi-refetisi Stress mental yang di tuntut dalam latihan Berat ringan nya intensitas : berat ringannnya intensitas suatu latihan dapat diukur dengan tipe atau sipat latihan tesebut.

Contoh sasaran yang tidak spesifik dan tidak objektif adalah seperti ini “setelah latihan 2 bulan. Demikian pula akan membulka matanya akan kekurangan-kekurangannya. konsentrasi. dalam 2 bulan atlet diharap sudah kuat lari sejauh 2531 m dalam jangka waktu 12 menit. taktik. Akan dapat meningkatkan motivasi. serta pengaturan taktik dan stategi sebelum dan selama perlombaan. Misalnya. 2. Harus ditetapkan jangka panjang (misalya juara PON)jangka menengah (misalnya kondisi fisik yang baik).2. sasaran adalah penting karena : 1.atih guna memungkinkan atlet memperbaiki kekurangnkekuranganya. Maksud latihan demikian adalah untuk mempersiapkan atlet untuk berdikari dan agar atlet mampu memecahkan masalah – masalahnya sendiri kalau dalam latihan terjadi kesalahan – kesalahan. akan pula dapat membantu dia untuk lebih mengenal akan tugas-tugas yang harus dikerjakan. mental. fisik. sehingga akan terdorong untuk menggapai sasran yang lebih tinggi. baik dalam teknik.ah ada keseimbangan yang wajar. Beberapa ketentuan dalam menetapkan sasaran : 1. dan jangkka pendek (misalnya lemparanya harus mencapai 30 m) 2. Training yang baik dibarengi dengan perencanaan test trial yang cerdik dan seksama. Situasi dan peraturan perlombaan yang sebenarnya. Sasaran harus spesifikda dapat diukur subjektif mungkin. Kesalahan banyak pelatih adalah bahwa mereka terlalu sering melakukan test ujicoba dan bahwa dlam dalam setiap test uji coba atlet harus menang. Atlet secara mental akan merasa wajib dan terikat untuk mencapai sasaran tersebut 3. atlet akan memperoleh keppuasan untuk kebanggaan tersendiri. Atau mengangkat barbell seberat 30 kg sebanyak 8 kalii maksimal. Situasi demikian akan dijumpai oleh atlet kelak pada waktu perlombaan. Yang penting adalah bahwa tujuan test trial adalah untuk mengevaluasi sampai dimana kemajuan (atau kemunduran) atlet setelah berlatih sekian lama. Antara jadwal latihan dan jadwal pertandingan atau test trial harus. baik sasaran jangka panjang. Latihan isolasi. goal) dalam latiuhan. Kalau sasaran berhasil dicapai. maupun sasaran jangka pendek. MENETAPKAN SASARAN Stiap atlet harus mempunyai sasaran (tujuan. Dalam latihan isolasi ini atlet untuk beberapa waktu harus berlatih sendiri tanpa dihadiri scara langsung oleh pelatihnya. menengah. kecuali dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada atlet. dan semangat atlet untuk berlatih. Oleh karena itu antara test trials haruslah ada waktu yang cukup untuk erl. TEST TRIAL. kondisi fisik atlet harus sudah mencapai tingkat optimal” .

Kondisi – kondisi social biasanya juga berpengaruh terhadap kemajuan prestasi anak dalam latihan. Cara demikian menyebabkan sa.ah pilih. e. sehingga setelah di bina dan dilatih beberapa lama ternyata anak tidak meunjukan bakat- . menentukan bakat atau tidak berbakatnya seorang anak untuk suatu cabang olahraga tertentu harus dilakukan dengan cara melihat. Kondisi social. Apakah interesse atau perhatianya dalam olahraga meningkat. Bagaimana motifasinya dalam berlatih. Deikian terhadap kemajuan prestasinya. Atlet-atlet yang pandai dan senang kerja keras biasanya juga lebih mengerti dan dapat lebih cepat menyesuaikan diri denga proses latihan yang makin lama makin komplek. b. Keikut sertaan anak dalam latihan-latihan adalah kondisi eksternal yang penting untuk menentukan apakah anak berbakat dan cocok untuk cabang olahraga yang dilakukan. Apakah dia mudah dan cepat mempelajari suatu skill yang masih baru baginya (motor educability). Apakah dia bias menerima dengan wajar dan baik stress-stress yang dialaminya dalam latihan. c. malah seringkali dalam satu pertandingan saja. dan mengawasi dengan seksama bagaimana anak tersebut berkiprah dalam latihan – latihan. Karena itu. Atlet-atlet muda sebaiknya juga anak-anak yang tergolong pandai disekolah. memperhatikan. Jadi mengidentifikasi apakah seorang anak berbakat olahraga atau tidak sebetulnya merupakan suatu usaha observasi jangka panjang (long term obsevasion). Banyak pelatih atau pemandu bakat menentukan berbakat tidaknya seorang anak hanya atas dasar prestasi anak dalam pertandingan. Contohnya : perhatian serta dorongan orang tuaakan amat berpengaruh terhadap perkembangan olahraga anak muda tersebut. Dengan memperhatikan annak tersebut berlatih kita akan dapat memperkirakan : a. Pada dasarnya. Apakah dari waktu-kewaktu Nampak jelas perkembanganya dalam kemampuan dan potensi olahraga.PEMANDUAN BAKAT OLAHRAGA PRASAYAR PENENTUAN BAKAT Perkembangan prestasi seorang atlet akan lebih mulus apabila atlet tersebut berlatihdalam cabang olahraga yang paling sesuai baginya dan memiliki potensi yang dibutuhkan untuk melakukan cabang olahraga tersebut. d.

terutama dalam olahraga atletik. sarana. Sedangkan factor-faktor eksternal adalah misalnya fisk yang baik. serta kaitannya dengan parameter fisik tertentu. Beberapa factor determinan utama lain yang penting dipantau guna menentukan bakat olahraga ialah : a. meskipun factor internalnya baik namun kalau factor eksternalnya tidak menunjang. apakah menginjak dewasa kelak. Tujuan utama pemanduan bakat adalah untuk memprediksi dengan probabilitas yang tinggi sebeapa besar pelung seorang untuk mampu mencapai prestasi maksimal. yang kalau ditunjang oleh factor-faktor eksternal yang optimal akan mampu mencapai prestasi maksimal. dan sebagainya. sarana dan prasarana latihan terjamin. Dengan demikian atlet muda tersebut akan mempunyai lebih banyak waktu untuk berlatih sebelum mencapai gol. Berbagai hasil study menunjukan bahwa tinggi dan berat badan merupakan factor determinan untuk memperoleh efisiensi yang tinggi dalam olahraga. Caranya adalah dengan melihat dan memantau anak yang berolahraga disekolah-seklah atau di club-club olahraga. demikian pula sebaliknya. Analisis yang menyeluruh dan lengkap mengenai kondisi fisik da mental anak. 2. ambisi. pertumbuhan tinggi dan berat badanya baik. dan yang dengan perhitungan yang wajar (reasonable measure of sentainty) akan mampu menjalani latihan ditahap-tahap selanjutnya. seperti tinggi badan. Artinya anak yang berbakat adalah anak yang memiliki factor-faktor internalyang baik. beberapa aspek dan karakteristik yang perlu diperhatikan adalah : 1. Sebagai patokan bisa dipakai pedoman bahwa : .bakat istimewa sebagaimana diharapkan. PEMANDUAN DAN REKOKNISI DINI Sebaiknya pemanduan bakat dimulai sedini mungkin. beratr badan. Penting pula diikuti pertumbuhan fisik si anak. permainan dengan bola. gizi yang baik. kegemaran olahraga. kesejahtraan hidup terjamin. (Harsono 1988). tenaga. ketahanan terhadap stress dan sebagainya. oleh karena itu aspek-aspek tersebut merupakan dasar guna memilih (screening)dan men-sleksi anak yang diharapkan dan dapat memenuhi ketentuan-ketentuan standar untuk prestasi olahraga. tekad.den akhirnya. pelatih yang baik. Dengan sendirinya hal ini menyebabkan pemborosan dalam dana. Selain itu. Semakin cepat atlet muda tersebut memperlihatkan kemampuan dan kecocokanya untuk cabang olahraga yang diikutinya. pikiran. atau melaluimelalui pertandingan-pertandingan. semakin sukses dia akan emnyelesaikan program juniornya. Karakteristik antropometriknya. Haree (1982)menambahkan bahwa anak yang berbakat adalah anak yang bisa menyelesaikan program latihanjuniornyaaa dengan baik. Pengidentifikasian bakat juga menganut factor-faktor internal dan eksternal. maka bakat anak akan tetap tinggal bakat tinggal saja. dan beberapa cabang olahraga lainya. Factor-faktor internal adalah antara lain motivasi. renang.

dan apakah berpotensi untuk berkembang terus. maka anak – anak yang larinya cepat harus di sleksi sedini mungkin. atau salah seorang diantara kedua orang tuanya tinggi. Atlet-atlet muda yang kelak akan spesialisasi dalam cabang ol. dan lain-lain. peningkatan prestasinya lebih cepat daripada anak yang tidak berbakat. Sampai suatu batas tertentu. . INDIKATOR LAINNYA Untukl mengurangi sebanyak mungkin. pada umumnya juga akan tinggi pada masa dewasa Anak yang kedua orangtuanya tinggi. dan menganalisis situasi-situasi dalam permainan. Kemampuan demikian akan terlihat pada pelajaran senam disekolah. tinju. Selain itu untuk cabang olahraga senam dan loncat indah. Suatu factor determinan lainya ialah kemampuan anak untuk membaca. mereka juga memilki motor educability yang baik. tinju. 2. 1. koordinasi juga sangat dominan dalam cabang olahraga gulat. Artinya mereka cepat dan mudah mempelajari suatu gerakan atau skill yang masih baru bagi mereka. Oleh karena itu sspeed-strength sangat penting utnuk semua cabang olahraga. Indicator tentang tingkat prestasi atau perpormaya dibandingkan dengan teman-teman seusianya. 3. atau untuk menghapus kemungkina salah pilih. maka beberapa indicator kemampuan olahraga lainya yang bisa dijadikan pedoman dalam menentukan bakat olahraga.Anak yang tinggi sebelum masa pubertas. loncat indah. anak yang memiliki bakat.. d. mengantisipasi. Indicator tentang tempo atau cepat tidaknya perkembangannya dalam olahraga setelah mengikuti suaatu program latihan. kecepatan tertentu. Kemampuan tersebut sangat penting dalam cabang olahraga seperti gulat. Jadi anak dengan kemampuan-kemampuan tersebut diatas berpeluang untuk cabang olahraga tersebut. Dan kemampuanlari lari dengan cepat diperlukan dalam banyak cabang olahraga. apakah naik-turunya prestasinya tidak stabil. dan cabang olahraga permainan dengan bola. Speed – strength. Kemampuan analisis dan antisipasi dalam permainan. yang dimaksud disana adalah mereka pada waktu kanak-kanak larinya cepat. c. Selain itu. b. renang ritmik. Koordinasi. serta kemampuannya untuk merespon secara tepat dan benar terhadap situasi-situasi tersebut. judo.adalah anak-anak yang waktu kecil memiliki kemampuan untuk belajar gerak motorik dengan baik. kecepatan lari bisa dijadikan indicator dari speed-strengthuntuk cabang olahraga lainya. Indicator apakah peningkatan prestasinya stabil.ahraga yang menuntut teknik yang rumit dan koordinasi geerak seperti senam. seringkali lebih tinggi dari ukuran rata-rata setelah dewasa (Herre :1982).

Bagaimana perhatianya (interese) anak akan olahraga pada umumnya. Antara lain ialah : 1. Bagaimana motifasi berolahraganya. baik disekolah maupun di luar sekolah. Indicator mengenai toleransi dan ketahanannya terhadap beban latihan yang diberikan. Indicator keuggulan atau cirri – cirri prestasi yang unik di lingkungan sekolah. di klub-klub olahraga. dan lain-lain. 5. Bagaimana partisifasinya dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat. intrinsic atau ekstrinsik.4. Bagai mana perhatianya dalam olahraga. 4. 2. apakah mampu menyesuaikan diri dengan pembebanan latihan yang intensitas dan volumenya semakin meningkat. . Beberapa aspeek psikologis dan social penting pula untuk dipertimbangkan dalam mengevaluasi bakat anak. 3.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->