prinsip latihan olahraga

HAKIKAT KEPELATIHAN

Hakikat kepelatihan (disebut juga coashing) dalam bidang apapun ialah meningkatkan ilmu, keterampilan, dan kinerja peserta pelatihan setinggi mungkin dalam bidang yang ditekuninya. Demikian pula dalam pelatihan olahraga tanding. Hakikat da tujuan kepelatihan olahraga ialah juga meningkatkan ketiga unbsur tersebut agar para pertandingannya (olahragawannya) mampu mencapai prestasi maksimal mungkin. Krena itu tugas pelatih ialah membantu atlet-atlenya untuk meningkatkan prestasi olahraganya setinggi mungkin. Dalam asperk apasaja pelatih bias membantu atletnya?sedikitnya ada 4 aspek yang perlu dipeerhatikan pelatih kepada para atletnya untuk memungkinkan mereka mencapai prestasi maksimalnya, yaitu : a. b. c. d. Aspek fisik Aspek teknik Aspek taktik Aspek mental

Aspek tersebut harus diterapkan secara sistematik , berencana, serempak, dan sinergis. Satu saja aspek tidak dilatih, tak mungkin perstasi maksimal akan terwujud.

PRINSIP – PRINSIP LATIHAN Untuk memungkinkan meningkatkan prestasi, latihanb haruslah berpedoman pada teoriu-teori seerta prinsif-prinsif latihan tertentu. Tanpa terpedoman pada teori serta prinsip-prinsip latihan yang benar, latihan seringkali menjurus ke peraktik mala-latih (mal-practice) dan latihan yang yang tidak sistematik-metodis sehingga peningkatan prestasi pun sukar di peroleh. Oleh karena itu kita perlu pahami apa batasan (depenisi)training itu. “Training adalah suatu proses yang sistematis dari berlatih yang dilakukan secara berulang – ulang , dengan kian hari kian menambah jumlah beban latihannya.” Sistematis : berencana, menurut jadwal, menurut pola dan system, tertentu, metodis, dari mudah ke sukar, dari sederhana ke yang lebih komplek, latihan teratur, dan sebagainya.

. . maka berapa lamapun kita latihan maka prestasi tidak aka meningkat. yaitu misalnya setelah latihan puncak. Selanjutnya akan disajikan secara ringkas beberapa prinsip latihanyang paling penting untuk menjadi pedoman bagi siapapun yang ingin meningkatkan perporma pelatihannya atau prestasi olahraganya. d. dan antara proses-proses faallah dan psikologis. secara periodic. dan erflektif pelaksanaannya sehingga menghemat energy. serta di selingi denga periode-periode pemulihan atau penurunan intensitas latihan dan volume latihan. Jadi : a.progresif. Kian hari ditambah bebannya: maksudnya ialah setiap kali. otomatis. dan mana kala sudah tiba saatnya untuk ditambah. c. pelatih sebaiknya jangan etrlalu membatasi atlet dalam program latihan yang menjurus pada perkembangan spesialisasi yang sempit di masa usia terlalu dini. Karena system faallah tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan rangsangan – rangsangan latihan. Istirahat yang cukupsetiap hari adalah penting. kalau beban tidak lpernah bertambah maka prestasipun tidak akan meningkat.kalau beban latihan terlalu ringan . Bberdasarkan teori tersebut. Perencanaan latiha harus disusun dalam sikluss-siklus.Berulang-ulang : maksudnya ialah agar gerakan – gerakan yang semula sukar dilakukan menjadi semakin mudah. bebannya harus di peerberat. Prinsip perkembanga multilateraldidasarkan pada pakta bahwa selaluada saling ketergantungan (interdependensi) antara semua organ dan system tubuh manusia. Latihan kemudian diturunkan intensitasnya dan volumenya. atau di atas batas ambang-ambang rangsangan atlet. Agar efektif hasilnya latihan overload sebaiknya menganut “sistem tangga” (step -tipeapproach) PERKEMBANGAN MULTILATERAL: prinsip perkebangan multilateral atau menyelluruh sebaiuknya diterapkan pada atlet-atlet usia muda. Penerapan rangsangan overload hrus dilakukan secara bertahap. Hari-hari latihan berat harus di selingi dengan hari-hari latihan ringan. b. PRINSIP BEBAN LEBIH : prinsip beban lebih (overload) adala prinsip latihan yang meneklankan pada pembebanan yang lebih berat daripada yang mampu dilakukan oleh atlet. Pada permulaan belajar mereka harus dilibatkan dalam beragam kegiatan agar demikian mereka memiliki dasar yang lebih kokoh guna menunjang spesialisnya kelak. peningkatan perestasi tidak akan mungkin.

teratur. kalau kita behenti berlatih. sipat latiha bagi dia bias mulai menuju sesialisasi. PRINSIP REVERSIBILITY: prinsip reversibility (kebalikan)mengatakan bahwa. daya tahan PRINSIP SPESIFIK : prinsip spesifik (ke khasan. istirahatnya ialah antara 3 – 5 menit. kelentuka dan sebagainya. specificity)mengatakan bahwa manfaat yang bias diperolleh dari rangsangan latihan bahwa akan terjadi kalau ransangan tersebut mirip atau menyerupai gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga tersebut. smess akan menurun. DENSITAS LATIHAN: densitas latihan bias diterjemahkan dengan kepekatan. Kalau kita lama tidak main tenis. Houston (pyke : 1991) menemukan bahwa setelah 15 hari tidak latihan (endurance)pelari-pelari menurun secara sicnifik. . Jadi. pesenam nadal dari Rumania. Hal serupa juga akan terjadi dengan komponen-komponen fisik lainnya seperti kekuatan. kekerapan.Prisif multilaterak ini telah dianut banyak atlet didunia. maka teknik pukul. Nadia Comanecl. dan perkembangan fisiknya sudah memadai. sedikitnya 3-4 kali dlam seminggu agar factor – factor biomotorik dan keterampilan tidak akan menurun. dan prestasinya bias bertahan lebih lama. servis. dan sistematis. Hal ini juga akan terjadi pada hteknik-teknik gerakan dan skill. Contohnya untuk menguasai permainan bulu tangkis. orang harus melakukan gerakan-gerakan yang di perlukan dalam bulu tangkis. kepadatan. Yang dimaksud dengan kepekatan latihan ialah frekuensi atau kekerapan atlet dalam melakuka suatu rangkaian (serie) rangsangan per satuan waktu. Kalau latihannya tidak continue maka unsure-unsur tersebut juga akan berkurang kemampuannya. kecepatan. Istirahat (interval) antara dua rangsangan latihan bergantung pada intensitas latihan da lamanya setiap rangsangan. Karena itu kita harus berlatih secara continue. tubuh kita akan kembali ke keadaan semula atau kondisinya tidak aka meingkat . Rangsanga diatas intensitas sub maksimal membutuhkan istirahat yang cukup lama ketimbang kalau rangsangan tidak begitu tinggi. juara dasa lomba Olimpiade Montreal. Untuk latiha kekuatan terutama latihan untuk meningkatkan power atau kekuatan maksimal. antara lain bruce jenner. Penelitian saun dkk (pyke : 1991) menemukan bahwa tiga minggu istirahat akan menurunkan VO2 max sebesar 25%. Dengan demikian maka jalan menuju top prestasi biasanya juga akan lebih mulus. Untuk kembali ke kondisi semula dibutuhkan waktu 4-6 minggu latihan. Barulah kelak kalau atlet sudah milai dewasa dan cukup matang untuk memasuki tahap latihan berikutnya. istilah kepekatan mengacu pada hubunga yang dinyatakan antara kerja dan fase istirahat dalam latihan.

taktik. Intensif tidaknya latihan tergantung dari beberapa paktor (Bompa :1994) a. Misalnya : lempar 60 bola dalam 1 menit adalah lebih intensip daripada lempar bola 30 bola dalam satu menit.(berarti volume latihanya adalah 4000 m) Jadi volume latihan ialah jumlah aktifitas yang dilakukan dalam latihan. VOLUME LATIHAN : volume latihan merupakan bagian yang penting dalam latihan. Misalnya lari 400 m sebanyak 10 repetisi. Total waktu berlangsung latihan Jarak yang harus ditempuh atau beban beban yang harus diangkat persatuan waktu. yaitu latihan yang secara progresif menambah program kerja. Intensitas latihan mengacu pada jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu unit waktu tetentu. semakim banyak pula jumlah volume latihan yang harus dilakukan. Bompa (1994) juga mengatakan bahwa terdapat korelasi yang tinggi anatara volume latihan per tahun dengan prestos yang ingin dicapai oleh atlet. Jumlah volume latihan. c. atau dalam melatih suatu unsure teknik atau keterampilan tertentu. Volume latihan ialah kuantitas beban latihan atau banyaknya materi latiha yang bias dinyatakan dalam : a. PRINSIP SUPERKOMPENSASI. b. Semakin tinggi tingkat prestasi atlet. jumlah ulangan gerakan (repetisi). Atau sebaliknya. Latihan . makin tinggi intensitas kerjanya. Makin banyak kerja yang dilakukan dalam suatu unit waktu tertentu.Jadi kita lihat disini istirahat sama pentingnya dengan latihan. serta kadar intensitas dari repetisi tersebut. Perubahan fisiologis dan pskologis yang positif hanyalah mungkin bila atlet berlatih melalui suatu program latihan yang intensif. maupun fisi volume latihan tidak sama dengan lamanya (duration). baik untuk latihan teknik. Beban latihan . Prinsip ini mengacu pada dampak latihan dan regeneerasi organism tubuh kita yang menjadi dasar biologis untuk persiapanuntuk persiapan fisik dan mental dalam menghadapi latihan atau pertandingan berikutnya INTENSITAS LATIHAN. Latihan berlangsung lama namun tanpa dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. bias saja latihan berlangsung singkat namun materinya banyak. Jumlah repetisi dalam melakukan suatu latihan.

da setiap kesalahan segera diperbaiki.( Kg yang diangkat 1 m melawan daya tarik bumi (gravitasi). . Zona intensitas latihan. d. Apabila latihan dan dril-dril yang diberikan memang benar-benar bermanfaat dan sesuai dengana kebutuhan atlet. Menciptakan stress yang tiba-tiba dan tidak di duga-duga sebelumnya oleh atlet. maupun mental. bermutu.klasifikasi mengenaiintensitas yang didasarkan pada DJ (denyut jantung)sebagaimana dianjurkan Nikiforov (1974) adalah sebagai berikut : KUALITAS LATIHAN. Klasifikasi zona intenstas latihan yang didasarkan pada penemuan Intensitas berdasarkakn pada denyut jantung. khususnya denyut jantung. Untuk latihan – latihan yang mengandung unsure kecepatan. intensitas intensitas mlakukan gerakan diukur dalam suatu jarak per detik atau per menit. Karena itu prestasinya tidak akan meningkat. Latihan yang dilakukan melawan suatu tahanan (resistance) diukur dalam kg atau kgm. Lalu apa yag dimaksud dengan latihan yang berkualitas itu? Latihan yag berlkualitas adalah : a. Kecepatan dalam melakukan gerakan – gerakan Lama singkatnya interval diantara refetisi-refetisi Stress mental yang di tuntut dalam latihan Berat ringan nya intensitas : berat ringannnya intensitas suatu latihan dapat diukur dengan tipe atau sipat latihan tesebut. kadar intensitas kerja yang dilakukan atlet biasanya beragam. Selama latihan. pelatih dapat memonitor intensitas program latihan. baik dalam aspek teknik.didasarkan pada perubahan – perubahan faal tersebut. Apabila korelasi – kkorelasi yang tepat dan konsumtif sering diberikan c. d. b. c. tetapi isi latihannya tidak bermutu. Contoh model training 1. Berlatih secara intensif saja belum bermanfaat apabila latihan atau drildril yang diberiklan tidak berbobot.b. Orang bias saja berlatihkeras sampai habis napas dan tenaga. berkualitas. kadang – kadang medium/rendah.. Apabila pengawasan dilakukan oleh pelatih sampai gerakan – gerakan yang paling rinci. taktik. Organism tubuh kita menyesuaikan diri dengan kadar intensitas tersebut dengan cara meningkatkan fungsi – fungsi faallah agar bias menyesuaikan diri dengan tuntutan latihan. Apabila prinsip overload diterapkan. Kadang – kadang tinggi.

Situasi demikian akan dijumpai oleh atlet kelak pada waktu perlombaan. Contoh sasaran yang tidak spesifik dan tidak objektif adalah seperti ini “setelah latihan 2 bulan. baik dalam teknik. Atau mengangkat barbell seberat 30 kg sebanyak 8 kalii maksimal. Situasi dan peraturan perlombaan yang sebenarnya. TEST TRIAL. kondisi fisik atlet harus sudah mencapai tingkat optimal” . konsentrasi.ah ada keseimbangan yang wajar. goal) dalam latiuhan. Maksud latihan demikian adalah untuk mempersiapkan atlet untuk berdikari dan agar atlet mampu memecahkan masalah – masalahnya sendiri kalau dalam latihan terjadi kesalahan – kesalahan. dan semangat atlet untuk berlatih.atih guna memungkinkan atlet memperbaiki kekurangnkekuranganya. mental. baik sasaran jangka panjang. MENETAPKAN SASARAN Stiap atlet harus mempunyai sasaran (tujuan. sehingga akan terdorong untuk menggapai sasran yang lebih tinggi. akan pula dapat membantu dia untuk lebih mengenal akan tugas-tugas yang harus dikerjakan. Misalnya. Dalam latihan isolasi ini atlet untuk beberapa waktu harus berlatih sendiri tanpa dihadiri scara langsung oleh pelatihnya. fisik. Kalau sasaran berhasil dicapai. Beberapa ketentuan dalam menetapkan sasaran : 1. kecuali dapat menumbuhkan rasa percaya diri pada atlet. Yang penting adalah bahwa tujuan test trial adalah untuk mengevaluasi sampai dimana kemajuan (atau kemunduran) atlet setelah berlatih sekian lama. dan jangkka pendek (misalnya lemparanya harus mencapai 30 m) 2. taktik. dalam 2 bulan atlet diharap sudah kuat lari sejauh 2531 m dalam jangka waktu 12 menit.2. Kesalahan banyak pelatih adalah bahwa mereka terlalu sering melakukan test ujicoba dan bahwa dlam dalam setiap test uji coba atlet harus menang. menengah. Harus ditetapkan jangka panjang (misalya juara PON)jangka menengah (misalnya kondisi fisik yang baik). atlet akan memperoleh keppuasan untuk kebanggaan tersendiri. Oleh karena itu antara test trials haruslah ada waktu yang cukup untuk erl. Antara jadwal latihan dan jadwal pertandingan atau test trial harus. sasaran adalah penting karena : 1. Demikian pula akan membulka matanya akan kekurangan-kekurangannya. Latihan isolasi. Sasaran harus spesifikda dapat diukur subjektif mungkin. maupun sasaran jangka pendek. 2. Atlet secara mental akan merasa wajib dan terikat untuk mencapai sasaran tersebut 3. serta pengaturan taktik dan stategi sebelum dan selama perlombaan. Akan dapat meningkatkan motivasi. Training yang baik dibarengi dengan perencanaan test trial yang cerdik dan seksama.

Banyak pelatih atau pemandu bakat menentukan berbakat tidaknya seorang anak hanya atas dasar prestasi anak dalam pertandingan. Deikian terhadap kemajuan prestasinya. Pada dasarnya. menentukan bakat atau tidak berbakatnya seorang anak untuk suatu cabang olahraga tertentu harus dilakukan dengan cara melihat. Atlet-atlet muda sebaiknya juga anak-anak yang tergolong pandai disekolah. Kondisi – kondisi social biasanya juga berpengaruh terhadap kemajuan prestasi anak dalam latihan. Dengan memperhatikan annak tersebut berlatih kita akan dapat memperkirakan : a. Apakah dia bias menerima dengan wajar dan baik stress-stress yang dialaminya dalam latihan. e. Apakah dari waktu-kewaktu Nampak jelas perkembanganya dalam kemampuan dan potensi olahraga.ah pilih.PEMANDUAN BAKAT OLAHRAGA PRASAYAR PENENTUAN BAKAT Perkembangan prestasi seorang atlet akan lebih mulus apabila atlet tersebut berlatihdalam cabang olahraga yang paling sesuai baginya dan memiliki potensi yang dibutuhkan untuk melakukan cabang olahraga tersebut. Kondisi social. Keikut sertaan anak dalam latihan-latihan adalah kondisi eksternal yang penting untuk menentukan apakah anak berbakat dan cocok untuk cabang olahraga yang dilakukan. b. Atlet-atlet yang pandai dan senang kerja keras biasanya juga lebih mengerti dan dapat lebih cepat menyesuaikan diri denga proses latihan yang makin lama makin komplek. sehingga setelah di bina dan dilatih beberapa lama ternyata anak tidak meunjukan bakat- . Apakah dia mudah dan cepat mempelajari suatu skill yang masih baru baginya (motor educability). Bagaimana motifasinya dalam berlatih. Apakah interesse atau perhatianya dalam olahraga meningkat. dan mengawasi dengan seksama bagaimana anak tersebut berkiprah dalam latihan – latihan. Contohnya : perhatian serta dorongan orang tuaakan amat berpengaruh terhadap perkembangan olahraga anak muda tersebut. d. Jadi mengidentifikasi apakah seorang anak berbakat olahraga atau tidak sebetulnya merupakan suatu usaha observasi jangka panjang (long term obsevasion). malah seringkali dalam satu pertandingan saja. Cara demikian menyebabkan sa. Karena itu. c. memperhatikan.

pikiran. Dengan demikian atlet muda tersebut akan mempunyai lebih banyak waktu untuk berlatih sebelum mencapai gol. Haree (1982)menambahkan bahwa anak yang berbakat adalah anak yang bisa menyelesaikan program latihanjuniornyaaa dengan baik. meskipun factor internalnya baik namun kalau factor eksternalnya tidak menunjang. Pengidentifikasian bakat juga menganut factor-faktor internal dan eksternal. (Harsono 1988). Artinya anak yang berbakat adalah anak yang memiliki factor-faktor internalyang baik. dan beberapa cabang olahraga lainya. beratr badan. Penting pula diikuti pertumbuhan fisik si anak. gizi yang baik. Analisis yang menyeluruh dan lengkap mengenai kondisi fisik da mental anak. Beberapa factor determinan utama lain yang penting dipantau guna menentukan bakat olahraga ialah : a.den akhirnya. dan sebagainya. permainan dengan bola. sarana dan prasarana latihan terjamin. renang. seperti tinggi badan. ketahanan terhadap stress dan sebagainya. Dengan sendirinya hal ini menyebabkan pemborosan dalam dana. Selain itu. Berbagai hasil study menunjukan bahwa tinggi dan berat badan merupakan factor determinan untuk memperoleh efisiensi yang tinggi dalam olahraga. apakah menginjak dewasa kelak. Sebagai patokan bisa dipakai pedoman bahwa : . Karakteristik antropometriknya. kesejahtraan hidup terjamin. tenaga. ambisi. demikian pula sebaliknya. 2. PEMANDUAN DAN REKOKNISI DINI Sebaiknya pemanduan bakat dimulai sedini mungkin. pertumbuhan tinggi dan berat badanya baik. Sedangkan factor-faktor eksternal adalah misalnya fisk yang baik. Semakin cepat atlet muda tersebut memperlihatkan kemampuan dan kecocokanya untuk cabang olahraga yang diikutinya. tekad.bakat istimewa sebagaimana diharapkan. pelatih yang baik. kegemaran olahraga. beberapa aspek dan karakteristik yang perlu diperhatikan adalah : 1. dan yang dengan perhitungan yang wajar (reasonable measure of sentainty) akan mampu menjalani latihan ditahap-tahap selanjutnya. maka bakat anak akan tetap tinggal bakat tinggal saja. semakin sukses dia akan emnyelesaikan program juniornya. terutama dalam olahraga atletik. sarana. oleh karena itu aspek-aspek tersebut merupakan dasar guna memilih (screening)dan men-sleksi anak yang diharapkan dan dapat memenuhi ketentuan-ketentuan standar untuk prestasi olahraga. Tujuan utama pemanduan bakat adalah untuk memprediksi dengan probabilitas yang tinggi sebeapa besar pelung seorang untuk mampu mencapai prestasi maksimal. atau melaluimelalui pertandingan-pertandingan. Caranya adalah dengan melihat dan memantau anak yang berolahraga disekolah-seklah atau di club-club olahraga. yang kalau ditunjang oleh factor-faktor eksternal yang optimal akan mampu mencapai prestasi maksimal. Factor-faktor internal adalah antara lain motivasi. serta kaitannya dengan parameter fisik tertentu.

maka anak – anak yang larinya cepat harus di sleksi sedini mungkin. Kemampuan demikian akan terlihat pada pelajaran senam disekolah. dan lain-lain. Koordinasi. Suatu factor determinan lainya ialah kemampuan anak untuk membaca.adalah anak-anak yang waktu kecil memiliki kemampuan untuk belajar gerak motorik dengan baik. c. judo. Indicator tentang tempo atau cepat tidaknya perkembangannya dalam olahraga setelah mengikuti suaatu program latihan. Kemampuan tersebut sangat penting dalam cabang olahraga seperti gulat. dan apakah berpotensi untuk berkembang terus. kecepatan lari bisa dijadikan indicator dari speed-strengthuntuk cabang olahraga lainya. pada umumnya juga akan tinggi pada masa dewasa Anak yang kedua orangtuanya tinggi.ahraga yang menuntut teknik yang rumit dan koordinasi geerak seperti senam. mereka juga memilki motor educability yang baik. apakah naik-turunya prestasinya tidak stabil. atau untuk menghapus kemungkina salah pilih. b. anak yang memiliki bakat.Anak yang tinggi sebelum masa pubertas. 1. Jadi anak dengan kemampuan-kemampuan tersebut diatas berpeluang untuk cabang olahraga tersebut. 3. renang ritmik.. tinju. peningkatan prestasinya lebih cepat daripada anak yang tidak berbakat. Indicator tentang tingkat prestasi atau perpormaya dibandingkan dengan teman-teman seusianya. . INDIKATOR LAINNYA Untukl mengurangi sebanyak mungkin. koordinasi juga sangat dominan dalam cabang olahraga gulat. dan menganalisis situasi-situasi dalam permainan. mengantisipasi. tinju. yang dimaksud disana adalah mereka pada waktu kanak-kanak larinya cepat. seringkali lebih tinggi dari ukuran rata-rata setelah dewasa (Herre :1982). atau salah seorang diantara kedua orang tuanya tinggi. dan cabang olahraga permainan dengan bola. Indicator apakah peningkatan prestasinya stabil. Kemampuan analisis dan antisipasi dalam permainan. Artinya mereka cepat dan mudah mempelajari suatu gerakan atau skill yang masih baru bagi mereka. d. 2. Dan kemampuanlari lari dengan cepat diperlukan dalam banyak cabang olahraga. Selain itu untuk cabang olahraga senam dan loncat indah. Atlet-atlet muda yang kelak akan spesialisasi dalam cabang ol. loncat indah. serta kemampuannya untuk merespon secara tepat dan benar terhadap situasi-situasi tersebut. Oleh karena itu sspeed-strength sangat penting utnuk semua cabang olahraga. Sampai suatu batas tertentu. Selain itu. Speed – strength. kecepatan tertentu. maka beberapa indicator kemampuan olahraga lainya yang bisa dijadikan pedoman dalam menentukan bakat olahraga.

apakah mampu menyesuaikan diri dengan pembebanan latihan yang intensitas dan volumenya semakin meningkat. di klub-klub olahraga. intrinsic atau ekstrinsik. 2. Bagaimana partisifasinya dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat.4. Beberapa aspeek psikologis dan social penting pula untuk dipertimbangkan dalam mengevaluasi bakat anak. Indicator keuggulan atau cirri – cirri prestasi yang unik di lingkungan sekolah. Bagaimana motifasi berolahraganya. 3. baik disekolah maupun di luar sekolah. Bagaimana perhatianya (interese) anak akan olahraga pada umumnya. . 4. 5. dan lain-lain. Bagai mana perhatianya dalam olahraga. Antara lain ialah : 1. Indicator mengenai toleransi dan ketahanannya terhadap beban latihan yang diberikan.