MAKALAH

Manajemen Perbankan “Reformasi Perbankan di Indonesia” DISUSUN OLEH: Kelompok IX Rivandi Sukmanda Haryadi Nata Guna Rio Dwitra Marfiza Zulhelmi Husni Mubaraq 1005170009 1005170016 1005170033 1005170048 1005170052

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA 2013

KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami Panjatkan ke Hadirat Allah Subhana wa Ta’ala karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun Makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Reformasi Perbankan di Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Allah Subhana wa Ta’ala. Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangatlah kami harapkan untuk penyempurnaan Makalah selanjutnya. Akhir kata semoga Makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Medan, 01 Oktober 2013

KELOMPOK IX

tingginya biaya fiskal ini tentu akan menyebabkan instabilitas bagi makroekonomi. Kedua. Alasan utamanya adalah karena cadangan devisa Bank Sentral sudah lagi tidak mampu menangkal tingginya pressure dari aksi spekulatif para investor.REFORMASI PERBANKAN DI INDONESIA Secara ringkas apa yang dialami oleh beberapa negara di Asia termasuk Indonesia adalah Twin Crises atau krisis ganda. mismanagement serta moral hazard. yang ditandai oleh runtuhnya rezim nilai tukar (Currency crises) dan runtuhnya sistem perbankan (Banking crises). dan membiarkan rupiah berfluktuasi bebas. meskipun krisis perbankan terjadi karena dipicu oleh melemahnya nilai tukar yang terlalu tajam. Dalam jangka panjang. . krisis nilai tukar (Currency crises) telah menyebabkan Bank Sentral harus melepaskan band nilai tukarnya. Di satu sisi restrukturisasi perbankan memang sangat dibutuhkan guna mengembalikan perekonomian ke keadaan yang stabil. Pertama. namun terjadinya krisis perbankan di tanah air disebabkan oleh permasalahan yang kompleks yang menyangkut nilai historis. namun disisi lain restrukturisasi perbankan telah menggores permasalahan baru bagi perekonomian karena tingginya biaya fiskal yang harus dikeluarkan untuk upaya restrukturisasi.

meningkat menjadi 158 bank di tahun 1991. Dalam kurun waktu 1 tahun saja jumlah pendirian bank meningkat dari 124 bank di tahun 1988. Pada tahun-tahun selanjutnya. Sejalan dengan peningkatan bank dan kantor cabang. . reformasi di sektor perbankan sangat signifikan terjadi ditahun 1988 (PAKTO) dengan ide dasar untuk memberikan kebebasan bagi bank untuk berkompetisi dan berkembang. Kebijakan tersebut juga mengawali tumbuh kembangnya sektor perbankan secara cepat. Peningkatan ini juga dibarengi dengan peningkatan jumlah kantor cabang yang meningkat hingga 1112 unit dalam kurun waktu satu tahun. peningkatan dana masyarakat yang berhasil dihimpun masyarakat masih berlanjut seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup signifikan. jumlah dana masyarakat yang dihimpun perbankan meningkat hingga 43.8% sehingga menjadi Rp54.4 triliun pada akhir tahun 1989. Namun. Dalam 1 tahun sejak paket deregulasi tersebut diluncurkan. jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh perbankan tanah air juga meningkat pesat.Perjalanan Singkat Sejarah Reformasi Perbankan Tanah Air Restrukturisasi perbankan telah dimulai sejak tahun 1983 dengan tujuan utama untuk mengurangi intervensi pemerintah dalam menstimulasi perekonomian dan meningkatkan kapabilitas bank untuk memobilisasi dana tabungan dan deposito.

nisbah M2 terhadap PDB hanya sebesar 0. 2000) Deregulasi tersebut telah mendorong peningkatan penggunaan uang (financial deepening) dalam perekonomian Indonesia. Prosentase yang semakin besar tersebut menunjukkan bahwa semakin besar tingkat penggunaan uang dalam perekonomian oleh masyarakat sebagai akibat deregulasi sektor keuangan tersebut. Namun patut disayangkan bahwa pertumbuhan yang cepat di sektor perbankan tidak dibarengi dengan regulasi dan supervisi yang baik. Inability of banks to be immune from foreign exchange and interest rate volatility during crisis is the best example that banks in Indonesia were not equipped with prudential tools with respect to market risk. (Santoso.28.40 dan sebesar 0. Jika pada akhir tahun 1988. sehingga menimbulkan kerentanan dan resiko yang tinggi dalam industri perbankan tanah air dalam kurun waktu 1988-1997. namun pada tahun 1990 nisbah tersebut meningkat menjadi 0. Secara umum reformasi perbankan dalam periode 1988-1990 diwarnai dengan beberapa paket reformasi.In general. deregulation created more fragile operation on banks because of the absence of proper banking supervision. tujuan utamanya adalah untuk memperbaiki efektivitas fungsi intermediasi perbankan dalam sistem keuangan serta memperbaiki stabilitas perbankan. Financial deepening yang diukur dari nisbah uang beredar dalam artian luas (M2) dengan produk domestik bruto (PDB) meningkat cukup pesat sejak deregulasi keuangan dikeluarkan.55 pada tahun 1996 (satu tahun sebelum krisis). paket reformasi keuangan tersebut antara lain: . Secara umum.

Implementasi regulasi prinsip kehati-hatian seperti adopsi NOP (Net Open Position) dan implementasi basle capital accord of 1988 untuk menghitung kecukupan modal dan batas pinjaman. Namun karena kurangnya pengawasan dan supervisi yang kuat. Peningkatan tingkat kompetisi antar bank dengan mengizinkan pembukaan bank-bank baru. memperluas cabang. 2. Reformasi Sektor Perbankan tahun 1988-1990 Reformasi sektor perbankan yang memang diarahkan ke sistem pasar menuai implikasi yang luas terhadap industri perbankan tanah air. Dalam jangka waktu dua tahun. BI telah memberikan lisensi pada 73 bank komersil baru dengan 301 cabang. Salah satunya adalah. aliran modal tidak terdistribusi secara baik melainkan mengalir pada grup-grup atau sektor usaha yang memiliki kedekatan khusus dengan pihak bank.1. 4. Tumbuhnya jumlah bank secara pesat telah mendorong peningkatan kompetisi antar bank dalam mengumpulkan dana tabungan dan deposito dari masyarakat. Praktek-praktek . sejak implementasi PAKTO 1988 jumlah aplikasi untuk mendirikan Bank meningkat dengan tajam. Promosi efektivitas instrument pasar uang. Pengenalan system suku bunga dan nilai tukar yang lebih mengambang. mengurangi segmentasi antara bank swasta dan pemerintah dan memberikan independensi pada bank dalam membuat keputusan. 3. Sebagian besar dari mereka berasal dari perusahaan atau grup perusahaan yang menunggu untuk masuk dalam industri perbankan.

Tingginya saluran pinjaman yang berhubungan (sizeable connected lending) baik pada individu maupun grup bisnis. yang juga mentrigger terjadinya krisis perbankan. Kurangnya efektvitas regulasi perbankan ditengah-tengah tingginya jumlah dan aktivitas perbankan. seperti menyalurkan kredit di sector property dan melakukan aktivitas keuangan valas tanpa dilindungi (unhedged foreign exchange transactions). Berdasarkan Hadad (1999) ada lima faktor utama yang berkontribusi terhadap kerentanan di sektor perbankan. 3. Namun pada akhirnya jaminan terselubung (implicit guarantee) dari bank sentral inilah yang mendorong terjadinya Moral Hazard pihak bank untuk melakukan aktivitas beresiko tinggi. Alasan kuatnya adalah karena sector perbankan memiliki peran yang luas terhadap perekonomian dalam menjalani fungsi intermediasi. . Hal ini secara langsung mempengaruhi operasional perbankan yang seringkali melanggar prinsip-prinsip kehatihatian.inilah yang pada akhirnya telah meningkatkan resiko kredit yang pada akhirnya mendorong tingginya tingkat NPL dalam industri perbankan tanah air. sehingga jika operasi usahanya diberhentikan akan mengakibatkan resiko sistemik terhadap perekonomian. 2. yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi tingkat NPL. 1. Adanya jaminan terselubung (implicit guarantee) dari bank sentral yang beranggapan bahwa sector perbankan tidak seharusnya dibiarkan collapse atau ”too big too fail” .

Gambaran Krisis Dan Kebijakan Perbankan Indonesia Kesehatan sistem pembayaran yang tercermin dari kesehatan sektor perbankan. Ketidakpastian dalam perekonomian ini telah menyebabkan sektor usaha mengalami penurunan bisnis. Keadaan ini juga berakibat pada lemahnya Kontrol social masyarakat dan disiplin pasar.4. Kurangnya transparansi terhadap informasi kondisi perbankan sehingga menyebabkan lemahnya analisis keadaaan perbankan. mengalami saat-saat kronis setelah krisis nilai tukar 1997. Kurangnya skill para pelaku perbankan yang menyebabkan lemahnya pengaturan manajemen asset yang berkualitas dan tingginya keterbukaan resiko. lemahnya kredibilitas dan kepercayaan pihak asing terhadap performa ekonomi Indonesia ditambah permasalahan instabilitas politik dalam negri menambah keruhnya permasalahan krisis perbankan tanah air. Tingginya NPL atau kredit macet tentu akan memperburuk kualitas aktiva perbankan yang tercermin dari rendahnya CAR (Capital Adequate Ratio). sehingga menyebabkan tingginya kredit macet bagi perbankan. Volatilitas kurs dan suku bunga yang tinggi telah menyebabkan ketidakpastian dalam perekonomian. Selain kelima hal diatas. Keadaan ini juga diperburuk dengan kepanikan atau bank run yang dilakukan oleh sebagian penabung. . yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi performa perbankan tanah air. 5. dengan menarik tabungannya secara besar-besar sehingga menyebabkan keringnya likuiditas perbankan.

Permasalahan krisis perbankan di tanah air semakin parah sejak penutupan 16 Bank yang menyebabkan permasalahan semakin kompleks. collapsenya sistem perbankan tentu mengancam kelangsungan ekonomi dan memperlambat proses recovery ekonomi. karena krisis perbankan akan menghambat proses intermediasi keuangan. Krisis perbankan akan berefek domino terhadap sektor riil. namun tahun tersebut mengalami perbaikan seiring dengan program restrukturisasi perbankan. hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator ROA (Return On Assets). Sumber : Data Bank Indonesia Krisis perbankan secara umum telah menyebabkan menurunnya performa perbankan. Selain itu. krisis perbankan akan menyebabkan formulasi kebijakan moneter menjadi kurang efektif karena set of quantitative target serta parameter bunga sebagai instrumen moneter sulit direspon secara tepat oleh lembaga keuangan yang tidak sehat. Berdasarkan tabel dibawah dapat dilihat perkembangan ROA yang sempat negatif di tahun 1998-1999. Penutupan 16 Bank telah mengakibatkan terjadinya bank runs (self-fullfilling prophecy). Salah satu indikator pengalihan uang tersebut dapat dilihat dari tingkat perkembangan uang kartal yang meningkat drastis saat krisis. CAR (Capital Adequate Ratio) dan NPL (Non Performning Loans).Secara makro. . karena para penabung khawatir akan terjadi penutupan bank susulan sehingga mendorong mereka untuk melakukan penarikan uang secara besar-besaran.

42. Namun tingkat LDR perbankan tanah air mengalami tren yang menurun sejak terjadinya krisis nilai tukar yang mempengaruhi performa keuangan bank secara umum. Pada tahun 1996 tingkat LDR (Loan to Deposit Ratio) perbankan mencapai 78. Fenomena ini ditandai oleh pertumbuhan pinjaman per jumlah deposito (LDR) yang mencapai tingkat yang cukup tinggi pada saat itu. sektor perbankan mengalami perkembangan ROA yang negatif selama tahun 1998-1999. Sumber : Bank Indonesia Secara umum krisis nilai tukar yang berasosiasi dengan peningkatan inflasi. Secara umum rendahnya performa perbankan dan stagnasi di sektor riil telah mengakibatkan penurunan tingkat keuntungan bank. tingkat NPL (Non Performing Loans) perbankan mengalami saat kritis di tahun 1998 dengan ditandai dengan peningkatan jumlah kredit macet yang tidak mampu terbayar oleh sektor usaha akibat tingginya resiko di sektor riil. Hal ini juga membuktikan bahwa krisis tidak hanya membuat sektor perbankan mengalami kesulitan likuiditas namun juga mengalami permasalahan insolvensi akibat semakin rendahnya . Berdasarkan nilai ROA (Return on Assets) semasa krisis. Di tahun tersebut tingkat NPL mencapai 50%. dan merangkak turun seiring dengan program rekapitulasi perbankan oleh BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Berdasarkan data Bank Indonesia.62. dan nilai ini terus meningkat di tahun 1997 pada posisi 86. suku bunga serta tingginya resiko usaha telah menyebabkan tingkat pengembalian aset perbankan menurun drastis.Awal terjadinya krisis perbankan secara umum juga dapat dijelaskan oleh perilaku perbankan yang cenderung agresif pada saat sebelum krisis.

8.31LDR) Rasio Alat Likuid / Simpanan Rp **) BMPK (Jumlah Bank Melanggar) 1995 10.76 1999 32.a.95 9.1 3.01 38.19 137 -9.82 n.8 1.31 86.76 -15.8 5.13 92 1996 9. 11. Keterangan Non Performing Loan (Gross) Non Performing Loan (Net) Return on Assets (ROA) BO/PO *) Rasio Modal (CAR) Loan to Deposit Ratio n. struktur perbankan yang sehat dapat menjamin kelancaran proses transmisi kebijakan moneter sehingga efektivitasnya dapat menopang pemulihan ekonomi. 1. 1.a. Pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia 2.16 33 78.56 2001 12. antara lain: 1. Program Penjaminan Pemerintah 3.42 5.50 52 7.kualitas aset-aset yang dimiliki.34 n.19 1998 50 n. -18.a.a. Pendirian Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) .16 8.14 154.a.60 n.a.1 1.11 26. Selain berfungsi dalam sistem pembayaran nasional.68 72.85 11. 12.88 n.37 8.37 0.24 9.1 n.01 n.6 1.36 56 *) BO = Biaya Operasional / PO = Pendapatan Operasional **) Alat Likuid terdiri dari Kas Bank dan Giro Bank pada Bank Indonesia Sumber: Bank Indonesia Dengan melihat strategisnya peran perbankan dalam perekonomian nasional sebagai penunjang bergeraknya sektor riil dalam perekonomian maka maka diupayakan proses restrukturisasi perbankan untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi. 1.46 19.14 2000 18.44 33.(78.a.1 2.a.45 2002 8.41 33.96 148.3 -6.5 n. Dalam mengatasi krisis perbankan ada empat kebijakan utama yang dilakukan oleh Pemerintah dan BI pada saat krisis.8 7.22 92 1997 8. 3.41 94.4 n.a. 8. tingginya beban hutang tak terbayar serta semakin sempitnya ruang gerak bagi ekspansi kredit di sektor rill karena krisis.16 98.a.12 98.93 22.

4. 4. Pemberian BLBI secara umum dilakukan untuk mengembalikan tingkat kepercayaan masyarakat. Fasilitas dalam rangka penyehatan (nursing atau rescue) bank dalam bentuk kredit likuiditas darurat (KLD) dan kredit sub-ordinasi (SOL). antara lain: 1. baik dalam jangka pendek (fasilitas diskonto 1) maupun jangka panjang (fasilitas diskonto 2). sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya bank run. Pada dasarnya BLBI terdiri dari beberapa jenis fasilitas. 2. 3. Fasilitas dalam rangka mempertahankan kestabilan sistem pembayaran yang bisa terganggu karena adanya mismatch atau kesenjangan antara permintaan dan penarikan dana perbankan. Restrukturisasi Perbankan Pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Seperti diuraikan sebelumnya penutupan bank telah mengakibatkan terjadinya penarikan dana besar-besaran (Bank Runs) pada sejumlah bank. Hal ini bila tidak disikapi tentu akan menimbulkan resiko sistemik pada perekonomian. Fasilitas untuk menjaga kestabilan sistem perbankan dan sistem pembayaran sehubungan dengan adanya penarikan dana perbankan secara besar-besaran. . Fasilitas dalam rangka Operasi Pasar Terbuka sejalan dengan program moneter dalam bentuk SPBU lelang maupun bilateral. hal ini jugalah yang mendasari perbankan nasional dan pemerintah untuk memberikan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).

diperpanjang s/d akhir 2003 dan secara bertahap akan dikurangi dan dihapus setelah pendirian LPS (Lembaga Penjamin Simpanan). masa tugas BPPN 5 tahun. Sesuai dengan PP No.Program Penjaminan Pemerintah Berbeda dengan BLBI yang ditujukan khusus pada bank untuk memperbaiki likuiditasnya. yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya penarikan dana besar-besaran (bank runs) pada bank swasta nasional. Untuk mencegah meluasnya bank runs. Pembentukan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) BPPN didirikan dengan maksud agar terdapat lembaga tersendiri untuk menyehatkan perbankan bermasalah sehingga BI dapat lebih berkonsentrasi mengawasi dan membina bank. Pemerintah memberikan blanket guarantee pada akhir bulan Januari 1998 sesuai dengan Keputusan Presiden No. program penjaminan pemerintah ditujukan khusus untuk menjamin dana nasabah untuk menghindari meluasnya bahaya penarikan dana bank secara besar-besaran. Tidak terdapatnya program penjaminan nasabah pada saat penutupan bank menimbulkan permasalahan besar yaitu hilangnya kepercayaan nasabah terhadap bank. 26 tahun 1998 tanggal 26 Januari 1998. Pada awal penjaminan s/d akhir 2001. Kebijakan blanket guarantee merupakan pemberian jaminan atas kewajiban bank terhadap deposan dan kewajiban kreditur dalam dan luar negeri. BPPN didirikan berdasarkan Keppres No. 17 tanggal 27 Februari 1998. 27 tanggal 27 Februari 1998. dengan tugas-tugas antara lain : 1. Melakukan penyehatan bank yang ditetapkan dan diserahkan oleh BI .

Tujuan pemerintah melakukan rekapitalisasi modal perbankan adalah untuk menghindari dampak negatif dari sistem perbankan yang rapuh terhadap perkembangan ekonomi. Dalam program penyehatan perbankan. Mengupayakan pengembalian uang negara yang telah tersalur di bankbank Restrukturisasi Perbankan Indonesia Restrukturisasi perbankan secara umum terbagi menjadi dua agenda besar. Dalam hal rekapitalisasi. pemerintah dan bank sentral menitik beratkan pada upaya rekapitulasi bank untuk meningkatkan nilai bank melalui konsolodasi/merger dan melakukan divestasi kepemilikan pemerintah di bank-bank rekap melaui penerbitan dan penempatan obligasi pemerintah.2. Pentingnya program rekapitalisasi secara internal bank adalah untuk meningkatkan efisiensi operasional bank. pemerintah mengupayakan penerbitan Obligasi Pemerintah yang menjadi modal bagi bank rekap. antara lain : program penyehatan perbankan dan program pemantapan ketahanan system perbankan. dan Pemerintah akan memperoleh kembali dana rekap tersebut secara umum bank mampu memperbaiki performanya. Bank yang tidak memiliki kecukupan modal akan mengalami kesulitan dalam menghadapi shock ekonomi yang dapat menurunkan asset bank secara signifikan. Menyelesaikan aset bank baik aset phisik maupun non phisik melalui unit pengelolaan aset 3. .

sehingga penangannannya pun diperlukan Law enforcement yang jelas dan kuat.Serangkaian proses restrukturisasi perbankan dalam perjalanannya mengalami permasalahan seperti masalah penyalahgunaan BLBI dan pengembalian fungsi vital perbankan “intermediasi”. Selain itu sektor usaha (corporate sector) mengalami struktur keuangan yang memburuk. yaitu “moral hazard”. Selanjutnya masalah yang kedua berkaitan dengan keengganan bank untuk menyalurkan kreditnya kepada dunia usaha atau dikenal dengan istilah credit crunch. Masalah yang pertama mudah sekali ditebak penyebabnya. Keadaan ini pada dasarnya bukan disebabkan oleh permasalahan supply. bahkan bisa dibilang jumlah kelebihan dana yang ada pada perbankan sangat mencukupi. fenomena menurunnya kredit perbankan pada sektor riil dapat dilihat dari 2 sisi. yaitu : sisi permintaan (demand) dan sisi penawaran (supply). tergambar dari neraca keuangan perusahaan. karena depresiasi nilai tukar . Hal ini disebabkan karena sebelum krisis mereka dihadapkan pada kondisi leverage atau pinjaman yang tinggi yang berasal dari dalam negri dan luar negri. Namun lebih disebabkan oleh alasan perbankan untuk memperbaiki CAR sebagaimana ketentuan regulator (BI). Secara teoritis. Depresiasi nilai tukar dan tingginya suku bunga tentu mempengaruhi net worth posisi keuangan mereka. Penurunan kredit perbankan dari sisi permintaan lebih disebabkan oleh lemahnya investasi sektor bisnis mengingat masih sempitnya ruang ekspansi usaha serta masih tingginya resiko di sektor riil. Tentunya faktor historis “pembredelan atau likuidasi bank-bank di saat krisis” berkontribusi pada perilaku bank yang konservatif ini.

Dengan kata lain. . Keadaan inilah yang mewarnai proses restrukturisasi perbankan tanah air. antara lain: penetapan CAR dan NPL yang dilakukan Bank Indonesia sebesar 5% dan 8%. hal ini dilakukan untuk menjaga tingkat kesehatan bank yang tercermin dari nilai CAR dan NPL. lebih disebabkan karena tidak terdapatnya ruang ekspansi untuk menciptakan kredit baru. Ketentuan ini semakin menambah permasalahan terhadap kondisi neraca perbankan. mereka harus mencari sumber pendanaan dan membatasi kredit yang keluar. Di sisi penawaran beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fenomena credit crunch. perbankan tanah air juga mengalami masalah Moral Hazard yang dilakukan oleh para bankir-bankir nakal dengan menjaminkan obligasi pemerintah kepada bank asing untuk melakukan spekulasi valas. Kinerja perbankan yang belum mampu melaksanakan fungsi intermediasinya. volume usaha pada situasi krisis sangat terbatas. Selain itu penutupan beberapa bank juga berkontribusi terhadap ketakutan bank untuk mendistribusikan kredit. Disisi lain. Selain itu. yang secara tidak langsung juga mempengaruhi lamanya proses recovery ekonomi di tanah air. ada beberapa indikasi negatif yang dilakukan para bankir-bankir tersebut dengan menempatkan dana BLBI di bank-bank luar negri. karena untuk mencapai rasio kecukupan modal (CAR-Capital Adequate Ratio) dan mengurangi kredit Macet (NPL).dan tingginya suku bunga telah meningkatkan kewajiban hutang mereka terhadap bank.

Dari sisi fiskal tentu bantuan likuiditas akan menjadi beban keuangan negara. Bagan dibawah merupakan guideline atau pedoman umum yang dapat dijadikan acuan dalam proses restrukturisasi perbankan. Tentu dalam jangka panjang hutang yang terakumulasi dapat menyebabkan permasalahan tersendiri bagi perekonomian domestik. Reformasi perbankan tentu harus dilakukan demi memulihkan fungsi vital perbankan “fungsi intermediasi”. Secara umum proses restrukturisasi harus dapat menjamin kesehatan perbankan dengan mempertimbangkan efeknya secara makro. mempunyai efek di sisi fiskal maupun moneter. Secara umum pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sulit antara menyelamatkan bank-bank bermasalah untuk memelihara stabilitas keuangan sekarang. namun dengan konsekuensi meningkatnya instabilitas keuangan di masa mendatang akibat tingginya biaya fiskal. Sebagai contoh. jika sumber pembiayaannya berasal dari hutang maka bantuan likuiditas akan meningkatkan hutang luar negri pemerintah. bantuan likuiditas (liquidity support) yang ditujukan untuk membantu likuiditas bank.Reformasi perbankan Krisis yang terjadi di sektor keuangan memiliki implikasi yang negatif terhadap perekonomian. . pencegahan terhadap krisis keuangan (perbankan) harus dilakukan secara dini agar tidak mengganggu sistem pembayaran dan arus kredit dalam perekonomian. Oleh karena itu. Dengan berjalannya fungsi intermediasi diharapkan mobilisasi dana. alokasi sumber-sumber keuangan dapat dilakukan secara lebih efisien dan dapat mendorong penurunan suku bunga.

Dalam penanganan krisis. Kesuksesan restrukturisasi perbankan akan sangat tergantung pada konsistensi penjagaan stabilitas moneter. Berdasarkan uraian tersebut. efek jangka panjang dari salah satu upaya restrukturisasi yaitu liquidity support harus dipertimbangkan dengan seksama agar pengaruh negatif yang diberikan dapat dikurangi sebesar mungkin sehingga tidak mengancam perekonomian makro dalam jangka panjang. Merosotnya kepercayaan kepada keamanan sistem perbankan mengakibatkan mobilisasi dana oleh perbankan dapat mengalami penurunan yang sangat tajam sehingga mengancam kehidupan bank yang pada dasarnya amat tergantung atas sumber dana dari masyarakat. Demikian pula bila kemacetan dan kerusakan yang dialami di sector riil terus berlangsung. Adanya saling keterkaitan ini menunjukkan bahwa strategi restrukturisasi perbankan tidaklah cukup bila hanya memperhitungkan aspek mikro penyehatan bank saja. kinerja perbankan dalam mencapai keuntungan akan terganggu meskipun proses penyehatan bank telah dilakukan secara cermat. Keduanya saling berhubungan erat dan saling mempengaruhi. Hal ini sangat berkaitan. restrukturisasi sektor perbankan sangat berkaitan dengan kondisi makroekonomi dan keberhasilan dalam restrukturisasi di sektor riil. Secara umum ekspansi moneter akibat tingginya jumlah bantuan likuiditas ini tentu akan memberikan tekanan pada inflasi. bantuan likuiditas dapat diartikan sebagai ekspansi moneter. Selain itu dalam upaya restrukturisasi perbankan juga dibutuhkan pembangunan kembali kepercayaan masyarakat pada sektor perbankan. Hal ini dibutuhkan guna mengurangi kemungkinan terjadinya Bank run atau Bank panics.Selanjutnya di sisi moneter. karena upaya .

restrukturisasi membutuhkan dukungan dana/subsidi pemerintah untuk membail out bank. Oleh karena itu. Jatuhnya industri perbankan tidak hanya berakibat buruk terhadap sistem perbankan itu sendiri. Arsitektur Perbankan Indonesia Industri perbankan merupakan suatu industri yang bersifat capital intensive dan memiliki risiko usaha yang sangat tinggi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut. banking architecture yang bagus dan . Meskipun dari sudut mikro penyediaan dana ini berdampak positif pada penyelesaian masalah perbankan. namun secara makro tingginya biaya fiskal tersebut dapat menimbulkan konflik dengan upaya menjaga kestabilan moneter dan disiplin anggaran. melainkan juga berpengaruh terhadap kestabilan sektor keuangan secara keseluruhan yang pada akhirnya akan berdampak langsung terhadap kelangsungan sektor riil. Runtuhnya industri perbankan nasional setelah krisis moneter yang terjadi pada tahun 1997 membuktikan bahwa industri perbankan saat itu tidak mampu mengatasi external shocks yang datang secara bergelombang. perlu dicermati agar restrukturisasi perbankan dapat berjalan dengan baik tanpa mengancam stabilitas makroekonomi dimasa depan. Ketidak mampuan sistem perbankan nasional menghadapi external shocks tersebut yang berakibat pada runtuhnya sistem perbankan pada saat itu membuktikan bahwa sistem perbankan kita masih belum siap secara keseluruhan dalam mengahadapi krisis besar yang yang terjadi secara tiba-tiba. Untuk itu kestabilan sistem perbankan maupun keuangan harus dipertahankan secara berkesinambungan dan dapat dicegah sedini mungkin. sehingga biaya dari exit policy akan menjadi sangat mahal.

Akibat salah satu pialangnya. Dalam konteks ini. . 2003) Serba-Serbi Kejahatan Dalam Perbankan : Pembobolan Bank Prancis (Societe Generale) Media dunia baru saja dikejutkan berita pembobolan bank terbesar di Dunia. Kedua. Nick Leesson. dengan berbagai macam penyalahgunaan dan penipuan dengan memanfaatkan kelemahan pengawasan internal. Bagaimana keadaan ini bisa terjadi di negara yang notabene maju dengan sistem pengawasan dan perangkatnya? Pembobolan Bank tidak hanya terjadi di prancis. Akibat ulah pembobol. (Sugiarto. Bank tersebut harus rela menelan kerugian hingga 67 Milyar rupiah. Pertama. pembobolan yang dilakukan dengan teknik penipuan yang lihai yang populer dengan istilah ”white collar crime” atau kejahatan kerah putih. pembobolan yang dimaksud pada Bank Barings dan Bank Societe Generale Prancis adalah jenis yang kedua.komprehensif diharapkan mampu menjadi salah satu supporting infrastructure kestabilan sistem keuangan secara kseluruhan. 10 tahun silam Barings Bank (Bank tertua di Inggris) juga mengalami nasib yang sama. Secara umum kata ”pembobolan” dalam konteks perbankan bisa dimaknai menjadi dua arti. yang terjadi di Paris (Societe Generale). pembobolan yang berarti pencurian secara fisik pada bank dengan membongkar brangkas. Bank Barings harus rela menutup usahanya. Tentu yang kedua ini dilakukan dengan teknik yang cantik.

bank lebih agresif melakukan penetrasi di pasar keuangan dibandingkan dengan investasi di sektor riil. Secara ideal. seperti kredit dan investasi pada aset-aset keuangan di pasar keuangan (saham.Permasalahan utama yang dihadapi oleh Bank Barings dan Bank Societe Generale Prancis secara umum sama. Akibatnya adalah. Jika tidak maka . komoditas dan valas). komoditas dan valas). negara atau dalam konteks ini Bank Sentral harus bersiap siaga sebagai Lender of Last Resort untuk membayar kerugian para nasabah. tentu dengan kompensasi resiko yang tinggi. Implikasi yang lain adalah ”kerugian negara”. seharusnya bank memiliki proporsi investasi kredit lebih besar dibandingkan dengan investasi pada pasar keuangan. Kelemahan yang terjadi pada Bank Barings dan Bank Societe Generale Prancis adalah kedua Bank tersebut tidak waspada dengan pengawasan internal mereka untuk membatasi transaksi-transaksi spekulatif di pasar keuangan. bank-bank tersebut tidak menyadari bahwa bank mereka dihadapkan pada tingkat resiko yang tinggi akibat ulah oknum stafnya di pasar keuangan. yang menguras uang nasabah mereka. Namun fenomena yang terjadi saat ini. Bank sebagai lembaga intermediasi memiliki kemampuan untuk mendistribusikan deposito dari masyarakat ke berbagai jenis aset (teori diversifikasi untuk menyebar resiko). Hal ini tentu sangat berkaitan dengan iming-iming keuntungan yang cepat dan tinggi di pasar keuangan. kedua bank tersebut merugi akibat tingginya resiko/kerugian yang dialami dari transaksi di pasar keuangan (saham. Mereka baru menyadarinya ketika kerugian riil sudah terlanjur terjadi.

Pertama. krisis keuangan dan krisis ekonomi. pengawasan internal harus dilakukan baik secara formal maupun informal (intelejen) karena sebagian permasalahan pembobolan perbankan disebabkan akibat fraud risk atau kejahatan penipuan yang melibatkan staf internal. . Transaksi-transaksi off balance sheet yang sebagian besar adalah spekulasi di pasar keuangan tentu akan menciptakan keterbukaan resiko yang tinggi bagi bank. Suatu hal yang sangat berharga yang diajarkan dalam syariah economics bahwa spekulasi atau gharar sangat dilarang. Hal ini mudah sekali dipelajari dari beberapa episode krisis yang terjadi di Eropa. bahwa krisis terjadi disebabkan oleh ulah para spekulan di pasar valas. dan nasabah tentunya. Oleh karena itu perilaku-perilaku yang memperjualbelikan uang (menganggap uang sebagai komoditas) pada akhirnya dapat mendorong terjadinya krisis keuangan dan krisis ekonomi. Amerika Latin dan seluruh negara di Asia. Dan uang sebagai alat tukar harus dikembalikan pada fungsi dasarnya sedia kala. Hal ini tentu bisa menjadi pelajaran yang berharga bagi perbankan tanah air. Jika transaksi-transaksi ini tidak diatur secara baik maka akan berdampak pada krisis pada sistem pembayaran dan sistem keuangan. Bank Indonesia harus lebih waspada pada transaksi-transaksi off balance sheet yang dilakukan oleh perbankan tanah air. yang malah mengancam sistem perbankan dan sistem pembayaran negara tersebut. bagi perbankan. Kedua. yang pada akhirnya mentrigger terjadinya krisis perbankan.ancaman Bank Run dan penularan krisis perbankan akan terjadi.

dan antisipasi resiko ”kerugian negara”. tentu negara ini harus concern pada perbaikan sektor keuangan atau sektor perbankan. dan mengurangi setinggi mungkin transaksi-transaksi yang sifatnya spekulatif di pasar keuangan. .Jika indonesia ingin mengembalikan perekonomiannya pada keadaan yang lebih baik. seperti yang terjadi pada Bank Barings dan Bank Societe Generale Prancis. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi resiko. BI harus dapat mengembalikan fungsi bank sebagai intermediasi di sektor riil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful