P. 1
Gerakan Sosial Kuliah 4 - Teori Pemikiran Gerakan Sosial Klasik

Gerakan Sosial Kuliah 4 - Teori Pemikiran Gerakan Sosial Klasik

|Views: 900|Likes:
Published by Ruli Insani A

More info:

Published by: Ruli Insani A on Nov 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2014

pdf

text

original

Kuliah Keempat

Teori /Pemikiran Gerakan Sosial Klasik

Gerakan Sosial Klasik Dlm Mind Map

Gersos Klasik
Dipengaruhi

Self scheme
Mempengaruhi

Gerakan Revitalisasi

ID
Faktor pendorong

Generalized belief (kepercayaan)

Generalized belief yang menghasilkan kecenderungankecenderungan individual dalam prespektif Psikologi sosial sangat mempengaruhi individu dalam melakukan aksi-aksi kolektif atau gerakan sosial seperti; ketaatan buta terhadap kepemimpinan kharismatik seorang fuhrer/duce, hasrat untuk meleburkan diri dalam suatu kelompok, mistik keperkasaan dan ketegaran, rasa ingin tahu, nafsu pengkambinghitaman, dan ketakutan mendalam terhadap penyimpangan-penyimpangan. Sehingga pemikiran-pemikiran dalam gersos klasik lebih terfokus pada unsur mikro individualnya saja yang menjadi penyebab lahirnya suatu gerakan sosial dalam suatu masyarakat tersebut. Pemikiran2 barat ini sangat dipengaruhi peristiwa sejarah yakni Naziisme dan fasisisme (setting sosial periode klasik).

Konsep Gerakan Revitalisasi (Antony Wallace) adalah gerakan untuk mewujudkan kondisi yang lebih baik dalam masyarakat, revitalisasi tidak saja melibatkan suatu perubahan yang mempengaruhi pada hal-hal yang hampir punah tetapi juga akan mengarah pada budaya baru. Konsep revitalisasi menjadi akar tujuan pergerakan sosial klasik yg dilandasi kepercayaan umum yg ada pada masyarakat, dalam bentuk gerakan nativistik, mesianik dan milleneal.

Keterkaitan antara gerakan nativistik, gerakan mesianik dan gerakan milleneal adalah saling melengkapi sebagai bagian dari fungsi sebuah teori/pemikiran.
awal

Gersos nativistik

Gersos mesianik

Gersos Milleneal

Masing-masing teori atau pemikiran tersebut saling melengkapi.

Gerakan Nativistik adalah suatu aksi kolektif yang bertujuan untuk menegakkan kembali ke kondisi lampau atau kerajaan kuno yang kondisinya dianggap lebih baik, karena mereka beranggapan bahwa kondisi atau jaman sebelum mereka dianggap lebih baik dari jaman mereka saat itu. Hasrat inilah yang mendorong mereka melakukan civil society in action/ gerakan sosial untuk mendapatkan penghidupan dan perlakukan secara ekonomi yang lebih baik

Gerakan Sosial Mesianik/Messianisme secara umum diartikan dengan akan datangnya seorang juru selamat yang akan membebaskan manusia dari penderitaan yang sekarang sedang dialaminya. Ide tentang messianisme berasal dari agama. Adanya kepercayaan inilah yg mendorong manusia melakukan gerakan sosial Ada tiga agama besar yang membicarakan secara eksplisit tentang messianisme dalam ajarannya. Agama-agama itu ialah Yahudi, Nasrani, (Kristen), dan Islam. Messianisme pada awalnya adalah suatu kepercayaan pokok dalam agama yang ditandai dengan akan datangnya seorang penebus yang akan datang mengakhiri tatanan masa sekarang, baik bagi kelompok besar atau kecil, dan suatu lembaga dengan tatanan baru yang adil dan bahagia.

Messianisme adalah suatu gerakan sosial yang dikendalikan, dan sebagai suatu kepercayaan, messianisme dapat ditemukan dalam Yahudi, Kristen dan Islam. Messianisme sebagai doktrin dalam Yahudi berkaitan erat dengan konsep Messiah. Messiah merupakan doktrin tentang kedatangan seorang penebus yang disambut sebagai pahlawan dan pembangun dengan karakter yang khas, pembangunan itu tidak hanya mempengaruhi pemikiran agama di Barat tetapi juga memberikan inspirasi dalam gerakan sekular modern (Hons Kohn, 1959:356).

Gerakan Sosial Millennial atau kepemimpinan Ratu adil (prespektif Indonesia) adalah adanya pemimpin yg adil yang akan datang dan membawa suatu perubahan kearah yang lebih baik, gerakan sosial ini merupakan perpaduan antara gerakan mesianik dan nativistik, dimana adanya keyakinan (self scheme) akan adanya juru selamat yg akan datang membawa suatu perubahan yg baik berlandaskan keinginan merubah situasi sekarang untuk kembali kemasa lalu yang dipandang lebih baik. Keyakinan itu yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan gerakan sosial dengan tujuan melakukan suatu perubahan sosial dengan cara kembali ke masa lalu yg menurut mereka kondisinya lebih baik (nativistik)

Di Indonesia gerakan ini sudah sangat dikenal, pada rezim kolonial (belanda) pada abad 19 dan 20, seringkali muncul gerakan sosial protes di kalangan para petani di jawa. Para sub kultur petani ini melakukan gerakan yang dimulai dengan memunculkan hadirnya konsep kepemimpinan ratu adil (millennial) yang datang dan memimpin perlawanan bersama mereka untuk menentang kaum/bangsa yang selama ini menindas dan menghisap mereka”. Pengertian ini mencakup berbagai gejala yang menunjukkan adanya kebencian yang kuat terhadap penguasa asing yang dianggap bertanggung jawab akan keruntuhan masyarakat yang sekarang berlangsung dan hasrat untuk kembali kepada masyarakat masa sebelum tibanya orang asing yang biasanya sangat diidamkan.

Gerakan millennial ini kerap dimulai dari corak gerakan keagamaan di tengah masyarakat. Meski motivasinya tidak murni karena motivasi keagamaan, tapi biasanya bercampur dengan menggunakan pola-pola keberagamaan dalam membangun identitas perlawanan.

Selanjutnya ada 3 (tiga ciri utama yg berpengaruh dari gerakan-gerakan keagamaan ini, yakni kepemimpinan karismatik, pola ideologi dan sistem kepercayaan

1. Sosok pemimpin keagamaan dikonstruksikan atau dipersepsikan sebagai seorang prophet, imam mahdi, guru, dukun atau utusan mesias yang memperoleh wahyu atau pulung atau cahaya nurbuat. Para pemimpin yang mempromosikan sebagai ratu adil ini biasanya memiliki pembawaan kharisma sehingga mendatangkan loyalitas yang luar biasa di kalangan para pengikutnya. 2. Penolakan terhadap situasi yang ada dan harapan akan datangnya millennium. Adanya pengharapan yang kuat akan datangnya era keemasan serta kembalinya nilainilai tradisional yakni dunia yg tidak ada lagi ketidakadilan dan penderitaan. Mitos-mitos millennial ini di Indonesia sudah ada sejak jaman hindu-Jawa sebagaimana adanya kepercayaan kekuasaannya Erucakra dan juga adanya ramalan jayabaya pada abad 12.

Sukron

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->