P. 1
Etika Profesi Kedokteran

Etika Profesi Kedokteran

|Views: 51|Likes:
Published by Kamilah Nasar
Seorang pasien berusia 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien yang masih cukup sadar berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar tentang kondisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaan saja.
Oleh karena itu, ia meminta kepada dokter apabila ia mendekati ajalnya agar menerima terapi minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll) dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.
Seorang pasien berusia 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien yang masih cukup sadar berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar tentang kondisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaan saja.
Oleh karena itu, ia meminta kepada dokter apabila ia mendekati ajalnya agar menerima terapi minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll) dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.

More info:

Categories:Types, Presentations
Published by: Kamilah Nasar on Nov 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/09/2014

pdf

text

original

ETIKA PROFESI KEDOKTERAN KELOMPOK ENAM

• • • • • • • • • • • •

Akhmad Kurniadi 03010016 Bima Ghovaroliy 03010056 Gita Citra Pratiwi 03010116 Kamilah Nasar 03010146 Maria Yosephina 03011176 Meiria Sari 03011186 Nadya Marsha 03011206 Noor Hasbil Hakim 03011216 Olga Andrienne 03011226 Putri Nadhira 03011236 Reynold Yusmar 03011246 Risadayanti 03011256

LAPORAN KASUS
Seorang pasien berusia 62 tahun datang ke rumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien yang masih cukup sadar berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar tentang kondisi kesehatannya dan keterbatasan kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya menjelang ajalnya dirawat di ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat menderita dan alat-alat tersebut tampaknya hanya memperpanjang penderitaan saja. Oleh karena itu, ia meminta kepada dokter apabila ia mendekati ajalnya agar menerima terapi minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU dll) dan ia ingin mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap setuju apabila ia menerima obat-obatan penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.

Identitas pasien
• • • • • Nama Usia Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan

: 62 tahun : Perempuan

identifikasi masalah
• • • • • Pasien 62 tahun Karsinoma kolon stadium terminal Pasien masih cukup sadar Pasien berpendidikan cukup tinggi Pasien meminta terapi minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU, dll)

ASPEK HUKUM
PERMENKES No.1419/MENKES/PER/2005 tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter dan Dokter Gigi
Pasal 17 : “

Hak pasien atas informasi penyakit & tindakan medis dari aspek hukum kedokteran  “Menerima pelayanan praktik kedokteran mempunyai hak mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis yang akan diterimanya” (Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 52)
mencakup : • Diagnosis dan tata cara tindakan medis • Tujuan tindakan medis yang dilakukan • Alternatif tindakan lain dan resikonya • Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi • Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan (pasal 45 ayat 3).

EUTHANASIA
Euthanasia aktif : tindakan dokter mempercepat kematian pasien dengan memberikan suntikan ke dalam tubuh pasien tersebut.
Alasan : – Pengobatan yang diberikan hanya akan memperpanjang penderitaan pasien – Tidak mengurangi keadaan sakitnya yang memang sudah parah.

Euthanasia pasif Tindakan dokter berupa penghentian pengobatan pasien yang menderita sakit keras, yang secara medis sudah tidak mungkin lagi dapat disembuhkan dan berakibat mempercepat kematian pasien.
Alasan : – Karena keadaan ekonomi pasien yang terbatas – Fungsi pengobatan menurut perhitungan dokter sudah tidak efektif lagi.

Tindakan upaya dokter menghentikan pengobatan terhadap pasien yang menurut penelitian medis masih mungkin bisa sembuh.
Alasan : Ketidakmampuan pasien dari segi ekonomi padahal biaya pengobatannya yang dibutuhkan sangat tinggi.

Voluntary euthanasia : euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien atau korban itu sendiri (secara yuridis formal dalam hukum pidana positif di indonesia hanya dikenal voluntary euthanasia)

EUTHANASIA
Pasal 344 KUHP “barang siapa merampas nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun”.6 Pasal 338 KUHP “ Barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”

 Pasal 340 KUHP “ Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dulu merampas nyawa oranglain diancam, karena pembunuhan berencana, dengan pidana mati atau pidana penjaraseumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama dua puluh tahun”  Pasal 356 (3) KUHP “Penganiayaan yang dilakukan dengan memberikan bahan yang berbahaya bagi nyawa dan kesehatan untuk dimakan atau diminum”  Pasal 304 KUHP “Barang siapa dengan sengaja menempatkan atau membiarkan seorang dalam keadaan sengsara, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan, dia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau pemeliharaan kepada orang itu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah”  Pasal 306 (2) KUHP “Jika mengakibatkan kematian, perbuatan tersebut dikenakan pidana penjara maksimal sembilan tahun”

aspek etika
etik deskriptif : bidang sains yang mempelajari moralitas merupakan pengatuan empiris tentang moralitas dan menjelaskan pandangan moral tentang isu-isu yang terjadi pada ketika itu.

1. Etika normatif : Penegakan terhadap apa yang benar secara moral dan mana yang salah secara moral dalam kaitannya. 2. Etika metaetik : Memperlihatkan analisis dari kedua konsep moral yang telah disebutkan.

dalam kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI)
 Pasal 2 : “seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi”
Seorang dokter dalam melakukan kegiatan kedokterannya sebagai seorang profesi dokter harus sesuai dengan ilmu kedokteran mutakhir, hukum dan agama.

 Pasal 7d : “setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani” Setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan manusia.

Dalam menjalankan profesinya seorang dokter tidak boleh melakukan:
1. Menggugurkan kandungan (abortus provocatus) 2. Mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak mungkin akan sembuh lagi (euthanasia)

aspek etika
Sumpah dokter yang dikenal sumpah hippocrates Berisi : kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap atau seperti code of conduct bagi dokter.1 Kode Etik Kedokteran Indonesia (kodeki) Dibuat dengan mengacu kepada kode etik kedokteran internasional yang berunsurkan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap sesame dan kewajiban terhadap diri sendiri.

kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI)
Pasal 1: Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter. Pasal 2: Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar profesi yang tertinggi. Pasal 3: Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi. Pasal 4: Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri. Pasal 5: Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan pasien. Pasal 6: Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat pasal 7: Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri kebenarannya. Pasal 7a: Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia. Pasal 7b: Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam menangani pasien Pasal 7c: Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien Pasal 7d: Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pasal 8: Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya. Pasal 9: Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.2

kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI)
KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP PASIEN Pasal 10: Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. Pasal 11: Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah lainnya. Pasal 12: Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia. Pasal 13: Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya. 2 KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP TEMAN SEJAWAT Pasal 14: Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. Pasal 15: Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis. 2 KEWAJIBAN DOKTER TERHADAP DIRI SENDIRI Pasal 16: Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik. Pasal 17: Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran/kesehatan. 2

salah satu cabang dari etik normatif di atas.
bioetik atau biomedical ethics : etik yang berhubungan dengan praktek kedokteran dan atau penelitian di bidang biomedis.

contoh pertanyaan di dalam bioetika adalah
• Apakah seorang dokter berkewajiban secara moral untuk memberitahukan kepada seorang yang berada dalam stadium terminal bahwa ia sedang sekarat? • Apakah membuka rahasia kedokteran dapat dibenarkan secara moral? • Apakah aborsi ataupun euthanasia dapat dibenarkan secara moral?

Prinsip-Prinsip Etika Kedokteran
ETIKA : disiplin ilmu yang mempelajari baik-buruk /benar-salahnya suatu sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. 1. Teori DEONTOLOGI (ajaran agama, tradisi dan budaya)
baik buruk suatu tindakan dilihat dari tindakan itu sendiri

2. Teori TELEOLOGI
baik buruk suatu tindakan dilihat dari hasil atau akibatnya
(penalaran (reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian)

4 kaidah dasar moral untuk mencapai keputusan etik

Beauchamp & Childress (1994)
1. PRINSIP OTONOM : prinsip moral yang menghormati hakhak pasien, terutama hak otonomi pasien  informed consent 2. PRINSIP BENEFIENCE : prinsip moral yang mengutamakan tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien. Tidak hanya ditujukan kepada perbuatan baik saja melainkan juga perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar dari pada sisi buruknya (mudharat) 3. PRINSIP NON-MALEFIENCE : prinsip moral yang melarang tindakan yang memmperburuk keadaan pasien. 4. PRINSIP JUSTICE : prinsip moral yang mementingkan fairness dan keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya

Rules derivatnya adalah 1. veracity (berbicara benar, jujur dan terbuka) 2. privacy (menghormati hak privasi pasien) 3. confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien) 4. fidelity (loyalitas dan promise keeping)

PERATURAN YANG TERKAIT
Amandemen UUD 45 pasal 286: 1) setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat dan harta benda yg dibawah kekuasaannya serta berhak atas rasa aman & perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain

2)

Doktrin informed consent tidak berlaku pada : 1) 2) 3) keadaan darurat medis ancaman terhadap kesmas pelepasan hak memberikan consent

4)
5)

clinical privilage
pasien tidak kompeten

• Komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien • Bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien • Persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain • Pemberian informed consent : Dinyatakan secara lisan Dinyatakan secara tertulis Tidak dinyatakan

Informed Consent

• Threshold elements Pemberi consent haruslah orang yang kompeten • Information element Pengertian “berdasarkan pemahaman yang adekuat” • Consent elements Voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) Autohorization (pesetujuan) pasien juga harus bebas dari “tekanan”

3 Element Informed Consent

• Pemberi consent haruslah orang yang kompeten. • (Hukum) kompeten :
• Umur 21 tahun / pernah menikah • Sadar dan berada dalam keadaan mental yang baik

1. Threshold elements

• adalah “berdasarkan pemahaman yang adekuat”
disclosture (pengungkapan) understanding {pemahaman)

• memberikan informasi kepada pasien dapat mencapai pemahamannya yang adekuat. Informasi dilihat dari 3 standart :
o standart praktek profesi o standart subyektif o standart pada reasonable person

2. Information element

1. voluntariness (kesukarelaan, kebebasan ) 2. autohorization (pesetujuan) Pasien juga harus bebas dari “tekanan”

Consent dapat diberikan : • Lisan • Tertulis : dalam tindakan yang invasif / yang beresiko mempengaruhi kesehatan pasien secara bermakna. • Tidak ditanyakan : consent ini yang tidak dimiliki bukti, banyak dilakukan dalam praktek sehari-hari

3. Consent elements

PROSEDUR TINDAKAN MEDIS
mencapai kesembuhan penyakit kanker. pada penderita kanker yang sudah tidak memungkinkan kembali dicapainya kesembuhan.

kanker terjadi di dalam dinding kolon.
kanker telah menyebar hingga ke lapisan otot kolon. kanker telah menyebar ke kelenjar-kelenjar limfa. kanker telah menyebar ke organ-organ lain.

PROSEDUR TERAPI
1. 2. 3. 4. Tindakan medis Reseksi bedah Kemoterapi Paliatif

RESEKSI SECARA BEDAH
 Terapi pilihan walaupun telah terjadi metastasis  Dapat menghindari terjadinya obstruksi usus /perdarahan

 Kolon dobunag dengan cara kolektomi segmental / hemikolektomi.
 Tindakan bedah tergantung :  luasnya tumor  batasnya dari tepi anus  keadaan umum pasien.

TERAPI KEMOTERAPI AJUVANS tujuannya : mengeradikasi metastasis mikroskopik pada pasien yang telah direseksi secara kuratif tapi masih beresiko tinggi untuk kambuh karena adanya metastasis ke KGB atau pasien dengan prognosis buruk.
diberikan :

1. fluorouracil & levamisol (obat dengan aktivitas
imunomoulator). 2. / dikombinasi dengan iradiasi pasca bedah.

PALIATIF
1. Meredakan nyeri akibat kanker 2. Mengantarkan pasien dengan proses kematian yang lebih manusiawi 3. Bukan untuk menunda kematian 4. Merupakan terapi terintegrasi baik fisik, psikologis dan spiritual 5. Menyediakan konseling bagi keluarga pasien yang merawatnya

Rekam Medis
PERMENKES No: 269/MENKES/PER/III/2008 Berkas yang berisi catatan dan dokumen :  identitas pasien  hasil pemeriksaan  pengobatan yang telah diberikan  tindakan  pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.  berupa manual yaitu tertulis lengkap dan jelas.

Pasien Rawat Jalan
data pasien rawat inap yang dimasukkan dalam medical record :

Pasien Rawat Inap
data pasien rawat inap yang dimasukkan dalam medical record :

kepemilikan bekas rekam medis adalah milik sarana kesehatan sedangkan isi rekam medis milik pasien (UU praktik kedokteran) memperoleh isi rekam medis = salah satu hak pasien.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil skenario yang kami dapatkan.Kelompok kami berpendapat bahwa kami setuju atas hak pasien yang telah disahkan dalam Declaration of Lisbon World Medical Association “the right to accept or to refuse treatment after receiving adequate information” dengan kata lain bahwa tidakan dokter telah melalui prosedur yang tepat, kami memberikan informasi yang sejelasjelasnya serta akibatnya kepada pasien beserta keluarganya.

Daftar Pustaka
1. Sampurna B, Syamsu Z, Dwidja T. Bioetik dan Hukum Kedokteran. 2nd Ed. Pustaka Dwipar. Jakarta: 2007. 2. Guwandi, J., 1995. Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent), Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 3. Bahder Johan Nasution, Hukum Kesehatan Pertanggungjawaban Dokter, Rineka Cipta, Surabaya, 2005.

TERIMA KASIH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->