Pos Obat Desa Pos Obat Desa adalah

Unit pelayanan di tingkat desa yang menyediakan obat-obat dasar dan diselenggarakan oleh masyarakat melalui kader kesehatannya di bawah bimbingan Puskesmas; dalam pelaksanaan kader akan menanyakan keluhan penderita, kemudian memberikan obat sederhana yang sesua

Pos Obat Desa ( POD ) Pos obat desa merupakan wujud peran serta masyarakat dalam hal pengobatan sederhana. Kegiatan ini dapat dipandang sebagai perluasan kuratif sederhana, melengkapi kegiatan preventif dan promotif yang telah di laksanakan di posyandu. Dalam implementasinya POD dikembangkan melalui beberapa pola di sesuaikan dengan stuasi dan kondisi setempat . Beberapa pengembangan POD itu antara lain : POD murni, tidak terkait dengan UKBM (upaya kesehatan bersumberdaya manusia) lainnya. a. POD yang di integrasikan dengan Dana Sehat ;

b. POD yang merupakan bentuk peningkatan posyandu: c. POD yang dikaitkan dengan pokdes/ polindes ; POD jumlahnya belum memadai sehingga bila ingin digunakan di unit –unit desa , maka seluruh ,diluar kota yang jauh dari sarana kesehatan sebaiknya mengembangkan Pos Obat Desa masing – masing

d. Pos Obat Pondok Pesantren ( POP ) yang dikembangkan di beberapa pondok pesantren ;

tujuan Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mendeteksi dan mengatasi masalah kesehatan desa secara mandiri. Program desa ini membawa pesan implisit bahwa pemerintah akan melepaskan (alias “ngeculke”) tanggung jawab finansial pemerintah dalam mewujudkan kesehatan kepada masyarakat. Memang tidak dipungkiri bahwa sehat tidak hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi masyarakat sendiri juga berperan. Sehingga, pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu kunci. Pemberdayaan masyarakat ini bukanlah sulapan. Memberdayakan masyarakat berarti memberikan informasi kesehatan yang tepat dan lengkap kepada masyarakat, agar mereka mengerti tentang baik-buruknya alternatif yang tersedia serta bertanggung jawab terhadap pilihannya. Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat juga terkait dengan kompleksitas pengambilan keputusan. Pilihan bersalin kepada dukun atau bidan diserahkan kepada masyarakat. Masalahnya

banyak sekali Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya tidak optimal sebagai lembaga yang berada di depan untuk promosi dan pencegahan penyakit. Namun sayangnya. Saya tidak hafal target Depkes. informasi yang terinci mengenai berbagai risiko di wilayah desa serta potensi (ambulans desa. Berbagai metode komunikasi (dari manual dan elektronik). sangat membutuhakn fasilitas tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup mereka beserta keluarga. dukungan operasional. Kurangnya komitmen pelayanan. jargon yang muncul adalah kerjasama lintas sektoral. tetapi semestinya 24 jam. pemerintah menargetkan membangun pos kesehatan desa yang diharapkan dapat dikawal oleh seorang bidan dan 2 kader desa. terutama yang jauh dari akses kesehatan. mengapa tidak mengadvokasi agar pemerintah kabupaten melakukan inovasi pemanfaatan ADD untuk mendukung program desa siaga. Sementara itu masyarakat. Agar pos kesehatan desa benarbenar dimiliki oleh masyarakat desa tersebut. Menjadi tugas pemerintah untuk mengikis asimetri tersebut termasuk dengan menyediakan infrastruktur. dan tingkat korupsi tinggi terhadap dana kesehatan menjadi penyebab ketidakoptimalan ini. meningkatkan dan memperbaiki fasilitas kesehatan masyarakat pun kurang menjadi perhatian pemerintah saat ini . petugas yang kompeten) harus dimiliki oleh pos kesehatan desa. Pendekatan birokrasi justru jangan sampai menjadikan pos kesehatan desa tersebut malah menjadi penghambat alur informasi.adalah sampai sekarang (atau sampai kapanpun?) terjadi asimetri informasi kesehatan. Menurut saya. Semenjak diundangkannya UU no 32 tahun. dan Posyandu. Pos kesehatan desa semestinya juga bukan bangunan fisik yang hanya buka jam 8-1 siang. Di tingkat kabupaten. Klinik atau tenaga kesehatan yang melayani pasien dari daerah kumuh di perkotaan dapat difungsikan sebagai pos kesehatan desa juga. tetapi implementasi di lapangan bersifat spasial (dibatasi wilayah administratif desa). Kata kuncinya adalah pelembagaan pos kesehatan desa. polindes. Melalui program desa siaga. tidak berarti bahwa pos kesehatan ada harus ada di setiap desa jika masyarakat dalam wilayah tersebut sudah mampu mengatasi masalah kesehatan secara mandiri. Program Pos Obat Desa dan Pelatihan Kader Lokal Persoalan utama yang dihadapi oleh desa dan masyarakat marjinal di Indonesia adalah sangat minimnya keberadaan fasilitas dan kualitas kesehatan seperti Puskesmas. desa berhak mendapatkan dan mengelola Alokasi Dana Desa (ADD). Pos kesehatan desa juga harus memiliki dukungan fasilitas informasi dan komunikasi yang memadai untuk menjalankan fungsi deteksi masalah kesehatan secara dini serta merujuk masalah kesehatan secara cepat ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Sayangnya. tapi bisa tanya sama mbah Google.

CD Bethesda memfasilitasi berjalannya post obat desa yang dikelola oleh kader kesehatan lokal yang sebelumnya dilatih oleh pemerintah dan CD Bethesda mengenai pelayanan kesehatan tingkat dasar. Kegiatannya adalah penjualan dan penyuluhan obat kepada masyarakat yang membutuhkan. agar pengadaan obat bisa berkelanjutan.Oleh karena itu. dan CD menyediakan petunjuk penggunaan obat. mengurangi angka penyakit. post kesehatan desa bisa secara mandiri melaksanakan pelayanan kesehatan dengan melibatkan partisipasi dari pasien dalam bentuk kontribusi. Kader lokal yang ada juga diharapkan mampu kampanye dan promosi kesehatan disamping menyediakan pelayanan kesehatan. maka POD yang dibentuk banyak yang tidak berfungsi. guna memberikan kemudahan dalam memperoleh obat yang bermutu dan terjangkau. jelaslah bahwa masyarakat membutuhkan pos obat desa yang dikelola oleh mereka sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut. mampu memberdayakan masyarakat desa untuk mengelola dan merawat kesehatannya sendiri. Tujuan umum . CD Bethesda mensubsidi suplai obat kepada post kesehatan desa. maka presiden RI pada tahun 1992 mencanangkan pembentukan Pos obat desa (POD) yang merupakan wahana edukasi dalam alih pengetahuan dan ketrampilan tentang obat dan pengobatan sederhana dari petugas kepada kader dan dari kader kepada masyarakat. Tujuan kami untuk mengadakan pelayanan kesehatan dan penyediaan pengobatan alami dan alternative agar dapat diakses oleh masyarakat yang selama ini jauh dari akses pelayanan kesehatan. Pembentukan Posyandu yang bersifat promotif dan preventif dimulai pada tahun 1986. Warung obat desa (WOD) adalah tempat dimana masyarakat pedesaan dapat dengan mudah memperoleh obat bermutu dan terjangkau untuk pengobatan sendiri. Kami mengharapkan post kesehatan desa juga menjadi tempat pusat informasi tentang kesehatan dan pertolongan pertama apabila terjadi kecelakaan. dan memastikan bahwa mereka mampu berjuang untuk mengusahakan pemenuhan hak dasar kesehatan secara mandiri. Kami mengharapkan bahwa dengan subsidi dari CD Bethesda. maka POD dikembangkan menjadi WOD yang dicanangkan kembali oleh presiden RI pada tahun 2004 4). Dengan berjalannya waktu. Kemudian untuk mendekatkan pelayanan obat kepada masyarakat dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kemudian timbul kebutuhan masyarakat untuk mengenal dan menanggulangi penyakit ringan yang mereka derita.

Sedangkan tujuan khusus WOD adalah: (a) memperluas keterjangkauan obat bagi masyarakat pedesaan. WOD dapat menarik keuntungan dari pelayanan obat sesuai dengan kemampuan masyarakat setempat 4). WOD diselenggarakan oleh kader kesehatan yang telah dilatih atau tenaga kesehatan. di bawah pengawasan dokter puskesmas. Sasarannya adalah kelompok masyarakat yang masih rendah keterjangkauannya dalam hal obat dan pengobatan 4). dan (d) meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di puskesmas. Pembinaan penyelenggaraan WOD dilakukan oleh kepala desa dan pembinaan teknis dilakukan oleh puskesmas melalui bidan di poskesdes. Pelayanan . 983/Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan WOD sebagai berikut 4) : Pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan oleh puskesmas. (c) meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengobatan sendiri yang benar. Pembinaan pengelolaan obat mengacu pada pedoman pengelolaan obat WOD di bawah pengawasan apoteker/ asisten apoteker puskesmas. (b) menyediakan obat untuk pengobatan sendiri yang akan memudahkan anggota masyarakat yang sakit untuk mendapat pertolongan pertama secepatnya. Pembinaan Pelayanan penggunaan obat mengacu pada pedoman pengobatan WOD. Gambaran kegiatan pelayanan kesehatan pada masyarakat berdasarkan SK Menkes no. Kader WOD minimal berpendidikan tamat SD/ sederajat yang ditentukan oleh kepala desa. Penyelenggaraan WOD mencakup pelayanan penggunaan obat dan pengelolaan obat.kegiatan WOD adalah meningkatkan peran serta masyarakat dalam memperluas akses pelayanan kesehatan serta memajukan ekonomi rakyat pedesaan.

guru. Manfaat penelitian adalah memberikan informasi tambahan kepada Dinas kesehatan kabupaten/ kota. Kabupaten Lombok Barat (Propinsi Nusa Tenggara Barat). kepala dusun. serta Bidan Poskesdes dan Kader WOD. serta faktor pendukung/ faktor penghambatnya. dan Kabupaten Temanggung (Propinsi Jawa Tengah). Hasil A. Kabupaten Karanganyar (Propinsi Jawa Tengah). Tujuan Penelitian adalah mengembangkan indikator WOD. menilai kegiatan WOD yang ada berdasarkan indikator. Kabupaten Konawe Selatan (Propinsi Sulawesi Tenggara). Masalah penelitian adalah program WOD yang dicanangkan pada tahun 2004 belum secara tegas menyebutkan indikator yang dapat digunakan untuk penilaian kegiatan WOD. serta mengetahui faktor pendukung dan penghambat kegiatan WOD. Dinas kesehatan provinsi dan Depkes RI untuk perumusan kebijakan WOD yang terkait dengan poskesdes dan desa siaga. Metode Penelitian Rancangan penelitian yang dipilih adalah studi kualitatif pada masyarakat di 7 Kabupaten yang ditentukan berdasarkan adanya kegiatan WOD. kader posyandu dan penjual obat yang jumlahnya adalah 10 orang per WOD. sedangkan kader WOD melakukan pelayanan obat dalam upaya pengobatan sendiri oleh masyarakat. Data yang dikumpulkan adalah bentuk dan kegiatan WOD. Kabupaten Denpasar Selatan (Propinsi Bali). maka dikembangkan indikator untuk penilaian kegiatan WOD sebagai berikut 4) : Tabel 1. Bidan di poskesdes melakukan pelayanan persalinan dan pengobatan penyakit ringan. mewakili Dinas Kesehatan Kabupaten dan Puskesmas. Kabupaten Subang (Propinsi Jawa Barat).kesehatan yang merupakan swadaya masyarakat adalah poskesdes dan WOD. Analisis data dilakukan dengan metode triangulasi sumber data dan cara pengumpulan data untuk mencegah bias dalam penarikan kesimpulan. Informan WD adalah individu yang diharapkan memiliki banyak informasi tentang WOD di kabupatennya. pengurus PKK. tokoh agama. Penelitian dilakukan antara bulan Agustus sampai dengan Desember 2006. Lokasi penelitian adalah Kabupaten Banjar (Propinsi Kalimantan Selatan). Pengumpulan data dilakukan oleh peneliti melalui cara wawancara mendalam (WD) terhadap informan. Indikator Kegiatan WOD . Informan DKT adalah tokoh masyarakat yang mewakili perangkat desa. diskusi kelompok terarah (DKT) dengan tokoh masyarakat dan observasi 2 WOD di tiap kabupaten. Pengembangan Indikator WOD Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/ SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Warung Obat Desa.

WOD berfungsi sebagai UKBM poskesdes INDIKATOR LUARAN Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluh an/ konseling obat 4. ada dukungan dari melayani . masyarakat sebulan sekali bersamaan dengan kegiatan posyandu. 6. lokasi jauh dari pelayanan kesehatan. menyediakan obat terbatas. 4. menyediakan obat terbatas. WOD di Kabupaten Banjar (Propinsi Kalimantan Selatan) berlokasi di rumah kader posyandu yang jauh dari pelayanan kesehatan. 2. kurang dukungan dari desa dan puskesmas. mendapat dukungan dari kepala desa. menyediakan obat terbatas. dipimpin oleh bidan poskesedes dan dibantu kader obat. 2. kurang pembinaan dari puskesmas. sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri 2. Ada kader terlatih atau tenaga kesehatan Tersedia jenis obat yang dibutuhkan masyarakat Waktu pelayanan obat setiap hari Ada dukungan dari kepala desa Ada pembinaan oleh puskesmas B. 3. WOD di Kabupaten Denpasar Selatan (Propinsi Bali) berlokasi di posyandu lokasi jauh dari poskesdes. ada dukungan dari puskesmas. 3. 5. WOD berfungsi 1. Kegiatan WOD berdasarkan indikator 1. WOD di Kabupaten Konawe Selatan (Propinsi Sulawesi Tenggara) dibentuk tahun 2007 berlokasi di poskesdes. melayani masyarakat setiap hari. dikelola oleh 5 kader posyandu. kurang dukungan dari kepala desa. 2.INDIKATOR MASUKAN 1. dan ada buku catatan penggunaan obat. WOD di Kabupaten Karanganyar (Propinsi Jawa Tengah) berlokasi di rumah kader posyandu. menyediakan obat untuk kegiatan poskesdes dan pengobatan sendiri. melayani masyarakat miskin setiap hari. dipimpin oleh bidan poskesedes yang dibantu oleh 5 kader posyandu. Lokasi WOD di desa yang tidak ada sarana yankes INDIKATOR PROSES 1.

menyediakan obat terbatas. menyediakan obat lengkap. kurang dukungan dari kepala desa. + +/- +/- + + + + 4. menyediakan obat untuk kegiatan poskesdes. 7. 5. melayani masyarakat setiap hari. 5. kurang dukungan dari puskesmas. melayani masyarakat setiap waktu dan ada catatan penggunaan obat dan kartu status pasien. melayani masyarakat setiap waktu dan ada kartu status pasien.kepala desa dan kepala puskesmas. kurang pembinaan dari puskesmas. dipimpin oleh bidan poskesedes. dan tidak ada buku catatan penggunaan obat. Penilaian kegiatan WOD berdasarkan indikator. WOD di Kabupaten Lombok Barat (Propinsi Nusa Tenggara Barat) berlokasi di rumah kader. 2006 INDIKATOR WOD 1. WOD di Kabupaten Temanggung (Propinsi Jawa Tengah) dibentuk tahun 2007 berlokasi di poskesdes. milik kader. Lokasi di desa yang tidak ada sarana yankes Adanya kader terlatih atau tenaga kesehatan Tersedianya obat yang di butuhkan masyarakat Waktu pelayanan obat setiap hari Ada dukungan kepala desa 1 + 2 + KABUPATEN 3 4 5 + + 6 + 7 - 2. 6. kurang dukungan dari kepala desa. dimiliki oleh kader posyandu. WOD di Kabupaten Subang (Propinsi Jawa Barat) berlokasi di rumah kader posyandu berfungsi sebagai toko obat. + +/- + + + + + 3. ada dukungan dari kepala desa dan kepala puskesmas. Hasil observasi dan wawancara mendalam di atas dirangkum dalam tabel berikut Tabel 2. + + - + +/- + + + + + - + + . berfungsi sebagai penjual obat yang melayani masyarakat setiap hari.

2. setelah praktek tenaga kesehatan (dokter. Ada pembinaa oleh puskesmas 7. WOD di Kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Temanggung merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes sebagai tempat praktek bidan. sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri 8. Kabupaten Konawe Selatan (Propinsi Sulawesi Tenggara) 5. bidan) yang ada hampir di setiap di desa. Kader WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes dilakukan oleh bidan poskesdes. Kabupaten Karanganyar (Propinsi jawa Tengah) 4. 3. Lokasi WOD umumnya di desa yang tidak ada sarana pelayanan kesehatan. Kabupaten Denpasar Selatan (Propinsi Bali).6. Kabupaten Lombok Barat (Propinsi Nusa Tenggara Barat) 6. Ada catatan jumlah pendu-duk yang mendapat obat 10. Ada catatan penduduk yg mendapat penyuluhan obat + - + + + - + + + - - + - + - - + - + + + - - + - - - - - - - Keterangan nomor : 1. Penjual obat umumnya ada hampir di setiap dusun/ RW sebagai pesaing utama. . perawat. meski ada yang belum. Kabupaten Temanggung (Propinsi Jawa Tengah) Kegiatan WOD yang ada berdasarkan indikator pada tabel 2 sebagai berikut : 1. yaitu di rumah kader atau di posyandu. Berfungsinya WOD sebagai UKBM poskesdes 9. Kader umumnya sudah dilatih oleh puskesmas. Kabupaten Subang (Propinsi Jawa Barat) 7. Kabupaten Banjar (Propinsi Kalimantan Selatan) 2. Berfungsinya WOD sbg.

10. WOD umumnya belum berfungsi WOD sebagai UKBM. WOD yang merangkap sarana pelayanan obat poskesdes. 5. dimana kader mengelola dan menjual obat dalam upaya pengobatan . Ketersediaan jenis obat umumnya kurang karena keterbatasan modal. konsumen dapat berkonsultasi tentang obat dengan bidan atau menjadi pasien bidan. 4. 8. meskipun banyak konsumen melakukan konseling sebelum mendapat obat di WOD. Waktu pelayanan obat setiap hari bila lokasi WOD dekat atau di rumah kader. yaitu WOD mandiri yang berasal dari POD masa lalu. Kegiatan WOD yang ada secara global ada 2 bentuk. catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan/ konseling obat umumnya tidak ada. WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes buka setiap hari setelah puskesmas tutup. 9. WOD berfungsi sebagai pelayanan obat untuk pengobatan sendiri. Catatan jumlah penduduk yang mendapat obat umumnya baik pada WOD yang dikelola oleh kader atau bidan poskesdes. 7. ada juga hanya melayani pengobatan sendiri untuk masyarakat miskin karena obatnya bersubsidi. belum sampai pada sosialisasi keberadaan WOD kepada masyarakat. ada juga yang membantu pembelian obat. 6. Dukungan dari kepala desa umumnya sebatas penyediaan kader. Pembinaan pada WOD yang merangka sebagai sarana pelayanan obat poskesdes lebih baik karena bidan umumnya pegawai puskesmas.3. kecuali WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes. kecuali WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat poskesdes lengkap. tetapi ada yang setiap bulan bersamaan dengan kegiatan posyandu karena kurang pembeli. Pembinaan oleh Puskesmas umumnya dalam pelatihan kader.

4. sarana pelayanan obat WOD berfungsi sebagai UKBM poskesdes Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat pelayanan obat WOD BAGIAN DARI POSKESDES Di poskesdes Kader terlatih Bidan dan kader terlatih Ketersediaan obat yang sesuai kebutuhan masyarakat terbatas karena kurang modal Waktu pelayanan setiap saat apabila WOD di rumah kader Kurang dukungan sosialisasi Pembinaan oleh puskesmas kalau ada program Sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri Tersedia obat sesuai dengan jenis penyakit umum pasien Waktu pelayanan tiap sore. 3. dan WOD yang merangkap sebagai sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes yang ada di kabupaten Konawe Selatan dan Kabupaten Temanggung. setelah puskesmas tutup Dukungan kepala desa adalah bangunan poskesdes Bidan umumnya pegawai puskesmas Belum berfungsi Sarana pengobatan sendiri dan sarana pelayanan obat pada bidan di poskesdes WOD merupakan bagian dari poskesdes Tidak ada catatan Ada catatan pada kartu status pasien . 7. Bentuk Kegiatan WOD berdasarkan indikator. 5. 9. 8. 2. Lokasi WOD di desa yang tidak ada sarana yankes Ada kader terlatih atau tenaga kes Tersedia obat yang dibutuhkan masyarakat Waktu pelayanan obat setiap hari Ada dukungan dari kepala desa Ada pembinaan oleh puskesmas WOD berfungsi sbg. 6. 2006 BENTUK KEGIATAN WOD INDIKATOR KEGIATAN WOD WOD MANDIRI Di desa yang tidak ada sarana yankes 1. Penilaian kedua bentuk kegiatan tersebut berdasarkan indikator WOD yang dikembangkan sebagai berikut : Tabel 3.sendiri.

WOD merangkap sarana Jumlah & jenis obat terbatas karena kurang modal WOD kurang pembeli/ tidak menguntungkan kader sehingga malas . Adanya kader terlatih atau tenaga kesehatan 3. Faktor Pendukung dan Penghambat kegiatan WOD berdasarkan indikator. tersedia jenis obat sesuai penyakit umum yang ada di masyarakat. Lokasi WOD di desa yang tidak ada sarana pelayanan kesehatan 2. menunjukkan kelebihan WOD mandiri adalah lokasi di desa yang tidak ada sarana pelayanan kesehatan. C. dan fungsi utama sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri. ada pembinaan oleh puskesmas. meski tanpa imbalan WOD merupakan bagian pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes Lokasi WOD dekat/ di rumah kader. dan ada pencatatan jumlah penduduk yang mendapat obat. ada kader terlatih. berfungsi sebagai UKBM poskesdes. Sedangkan kelebihan WOD sebagai bagian dari poskesdes adalah lokasi di sarana pelayanan kesehatan. 2006 INDIKATOR WOD 1.10. Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan obat Tidak ada catatan penduduk yang melakukan konsultasi pada saat pembelian obat Ada catatan konsultasi pada saat pembelian obat/ sebagai pasien poskesdes Tabel 3. Faktor pendukung dan penghambat kegiatan WOD Tabel 4. ada kader terlatih dan atau bidan. ada dukungan dari kepala desa. waktu pelayanan obat setiap hari bila lokasi di rumah kader. Waktu pelayanan obat setiap hari FAKTOR PENDUKUNG FAKTOR PENGHAMBAT Penjual obat ada di setiap dusun/RW Perawat dan bidan praktek hampir ada di tiap desa Masih ada penduduk yang mau menjadi kader. Tersedianya jenis obat yang dibutuhkan masyarakat 4.

WOD milik perorangan. Ada pembinaan oleh puskesmas WOD merangkap sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes Kekhawatiran terjadi kesalahan obat apabila orang awam menyediakan obat bebas. 7. pembeli obat tercatat pada kartu status pasien - Pendidikan formal kader umumnya rendah. WOD berfungsi sebagai UKBM poskesdes 9. bebas terbatas. Ada dukungan dari kepala desa menunggu konsumen Sosialisasi WOD kepada masyarakat masih kurang. Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat 10 Ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan obat Pembahasan Sumber obat dari apotek. sehingga informasinya kurang dipercaya Kegiatan WOD yang ada di masyarakat ada 2 bentuk yaitu WOD mandiri yang berasal dari bentuk POD masa lalu dan WOD bagian dari Poskesdes yang dibentuk kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/SK/ VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan warung obat desa. . sehingga pembentukan WOD baru sebagai UKBM desa pada desa siaga disarankan mengambil bentuk WOD merupakan sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes. bahkan obat keras. WOD berfungsi sebagai pelayanan obat untuk pengobatan sendiri 8. sehingga harga jual obat lebih mahal dari penjual obat sekitarnya WOD merangkap sarana pelayanan obat poskesdes - WOD merangkap sarana pelayanan obat poskesdes.pelayanan obat poskesdes 5. sehingga kurang dukungan 6. Tampaknya WOD yang merupakan bagian pelayanan obat poskesdes lebih banyak kelebihannya daripada WOD mandiri.

Tersedia obat yang Dipilih penjual obat sesuai kebutuhan yang menyediakan masyarakat jenis obat lengkap sesuai kebutuhan 4. Ada catatan jumlah dilakukan setelah penduduk yang dapat WOD berjalan penyuluhan obat INDIKATOR KEGIATAN WOD . WOD berfungsi Sudah berfungsi sebagai sarana sebagai sarana pelayanan obat pelayanan obat 8.Apabila alternatif yang dipilih adalah pembentukan WOD mandiri untuk melengkapi desa siaga. Ada dukungan dari Perlu dukungan kepala desa oleh kepala desa 6. Keuntungan dan kerugian penjual obat yang sudah ada sebagai dilatih sebagai kader WOD dalam upaya pembentukan WOD baru di setiap poskesdes sebagai berikut : Tabel 5. Waktu pelayanan obat Pelayanan obat setiap setiap hari hari sebagai mata pencaharian 5. Ada kader terlatih/ Perlu dilakukan tenaga kesehatan pelatihan kader WOD 3. Analisis pelatihan penjual obat sebagai kader WOD berdasarkan indikator. WOD berfungsi sebagai dilakukan setelah UKBM poskesdes WOD berjalan 9. 2006 PENJUAL OBAT SEBAGAI KADER WOD KEUNTUNGAN KERUGIAN 1. Ada catatan penduduk Ada catatan jumlah dilakukan setelah yang mendapat dan jenis obat yang WOD berjalan pelayanan obat terjual 10. Lokasi WOD di desa Dipilih penjual obat yang tidak ada sarana yang ada di desa yang yankes tidak ada sarana yankes 2. Nurullita (2003) mendapatkan bahwa penjual obat di desa mempunyai peran dalam penyediaan obat malaria dan berpotensi untuk dilatih sebagai pos obat desa dalam penyediaan obat malaria 5). maka dapat dilakukan dengan pengalihan penjual obat yang sudah maju menjadi WOD. Ada pembinaan oleh Perlu pembinaan puskesmas oleh puskesmas 7.

(b) ketersediaan jenis obat terbatas karena kurang modal. (c) sehingga tidak buka setiap hari karena kurang pembeli. Kegiatan WOD di masyarakat ada 2 bentuk. Kesimpulan dan Saran Kesimpulan penelitian sebagai berikut . Faktor pendukung kegiatan WOD adalah (a) masih ada penduduk yang mau menjadi kader. (d) kurang dukungan kepala . 1. serta (c) indikator luaran yaitu ada catatan jumlah penduduk yang mendapat obat dan ada catatan jumlah penduduk yang mendapat penyuluhan obat 2. maka yang dibutuhkan adalah biaya pelatihan kader. dan WOD merangkap sebagai sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes. ada dukungan dari kepala desa dan ada pembinaan oleh puskesmas. meski tanpa imbalan. waktu pelayanan obat setiap hari. kegiatan WOD yang ada di lokasi penelitian belum ada yang memenuhi semua indikator yang dikembangkan berdasarkan Kepmenkes RI no. dukungan dari kepala desa dan pembinaan oleh bidan poskesdes. tersedia obat yang dibutuhkan masyarakat. yaitu WOD sebagai sarana pelayanan obat dalam upaya pengobatan sendiri. dan WOD berfungsi sebagai UKBM binaan poskesdes. (b) lokasi dekat/ di rumah kader sehingga bisa buka setiap hari. Pelatihan penjual obat terpilih sebagai kader WOD kelihatannya lebih ekonomis dan memiliki prospek untuk kelangsungan hidupnya daripada pembentukan WOD mandiri baru. 3. Berdasarkan indikator yang disusun.Apabila melatih penjual obat terpilih menjadi kader WOD. Faktor penghambat kegiatan WOD adalah: (a) lokasi dekat dengan penjual obat dan atau praktek tenaga kesehatan. ada kader atau tenaga kesehatan. dan (c) WOD merangkap pelayanan obat pada poskesdes 4.983/ 2004. (b) indikator proses yaitu WOD berfungsi sebagai sarana pelayanan obat untuk pengobatan sendiri. Indikator kegiatan WOD mencakup (a) indikator masukan yaitu lokasi di desa yang tak ada sarana pelayanan kesehatan.

5. Apabila perlu dilakukan pembentukan WOD mandiri sebaiknya melatih penjual obat terpilih dari yang ada hampir di setiap dusun/ RW sebagai kader WOD karena lebih ekonomis dan memiliki prospek untuk kelangsungan hidupnya.digilib.edu/opac/libri2/ detail/isp?id=77545&lokasi=lokal 2. Ucapan terima kasih Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Lombok Barat. Jakarta. dan (g) pendidikan formal kader rendah sehingga informasinya kurang dipercaya. Departemen Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 574/ Menkes/SK/VI/2000 tentang Indonesia Sehat 2010 Departemen Kesehatan. Pengembangan dan Penyelenggaraan Pos Kesehatan Desa. Karanganyar. Faktor-faktor yang berhubungan dengan praktek penjaja warung dalam pengobatan malaria di Kota Sabang.ui. (f) sumber obat WOD berasal dari apotek. 4. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 983/ Menkes/SK/VIII/2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan warung obat desa Nurullita. 3. http://www. . Disarankan agar dalam pembentukan WOD baru pada poskesdes menganut pola WOD merangkap sarana pelayanan obat pada praktek bidan di poskesdes.desa dalam sosialisasi WOD. 2006. 2003. Pedoman Pengembangan Desa Siaga. Jakarta. Konawe Selatan. sehingga harga jual obat lebih mahal dari penjual obat sekitarnya.2006. dan Temanggung yang telah memberikan ijin penelitian dan kepada petugas puskesmas di wilayahnya yang telah membantu pengumpulan data penelitian ini. Subang. bahkan obat keras. Daftar Pustaka 1. (e) kurang pembinaan puskesmas karena kekhawatiran terjadi kesalahan obat apabila orang awam menyediakan obat bebas/ bebas terbatas. Denpasar Selatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful