P. 1
peranan partai politik dalam pendidikan politik

peranan partai politik dalam pendidikan politik

|Views: 16,985|Likes:
Published by adhy vivaldhy

More info:

Categories:Types, Research
Published by: adhy vivaldhy on Aug 19, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/20/2013

pdf

text

original

Salah satu persoalan mendasar dalam sistem politik kita saat ini yakni

tidak adanya kedewasaan serta kearifan berpolitik yang dilandasi oleh sebuah

idealisme politik. Para elit serta masyarakat yang terlibat langsung maupun tidak

dengan wilayah politik belum mampu menghadirkan nalar kritis serta rasionalitas

politik untuk melahirkan kedewasaan dalam berpolitik. Momentum pemilu 2004

dan perhelatan pilkada menjadi indikuasi kuat dan sangat riil betapa pragmatisme

politik masih mendarah daging dalam sistem politik bangsa Indonesia.

Fenomena pragmatisme politik jelang 2009 sepertinya tidak mengalami

perubahan yang signifikan. Pragmatisme itu mulai dibaca ketika peroses

perumusan perundang-undangan yang mengatur tentang mekanisme pelaksanaan

Pemilu. Baik UU Partai Politik, UU Pemilu maupun UU Pemilihan Presiden

masih menjadi permainan oleh para elit politik di DPR dengan tujuan bersama

menjaga dan melesarikan hegemoni pragmatisme berpolitik dalam bingkai

oligarki partai politik yang dijalankan oleh eksekutuf dan legislatif. Sehingga

tidak bisa dihindari, perhelatan demokrasi tahun 2009 yang seharusnya menjadi

momentum untuk mengembalikan kekuasaan di atas kedaulatan rakyat hanyalah

menjadi praktek rutinitas dan formalitas semata. Komposisi dan konfigurasi elit

politik yang akan menjadi penguasa di negeri ini, tidak akan bergeser dari

komposisi saat ini. Bahkan pendatang barupun seperti Partai Demokrat dan PKS

saat ini disinyalir juga sudah dimasuki oleh kakuatan lama.

10 Ramlan Surbakti, op.cit 1992. Hal. 117

Pragmatisme elit politik mulai nampak dari ketidakmampuan partai

politik melalui anggotanya di DPR mengapresiasi kebutuhan publik terhadap

eksistensi partai politik. RUU partai politik yang saat ini dibahas seharusnya

menjadi momentum memperkuat legitimasi partai politik di mata rakyat. Namun,

menyimak materi RUU partai politik sepertinya keberadaan partai politik tidak

mampu memberi nilai yang cukup positip terhadap kehidupan berdemokrasi.

Salah satu alasannya adalah diabaikannya fungsi parpol untuk melakukan

pendidikan politik bagi rakyat. Dalam RUU partai politik yang justru

dikedepankan adalah pendidikan politik terbatas pada anggota internal partai

semata. Sementara untuk masyarakat luas, agenda pendidikan politik tidak

memiliki ruang yang cukup signifikan. Pasal 31 RUU Parpol berbunyi; Ayat

(1) Partai politik melakukan pendidikan politik bagi masyarakat dalam rangka

meningkatkan kesadaran warga negara Indonesia atas hak dan kewajibannya

dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bandingkan dengan

ayat 2 yang berbunyi: (2) Partai politik melakukan pendidikan politik bagi

anggota dan pengurus partai politik bertujuan untuk:

a.Meningkatkan solidaritas politik dalam rangka memelihara dan

menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

b. meningkatkan pemahaman tugas, fungsi, hak dan kewajiban partai

politik.

c. meningkatkan kemampuan dan kinerja anggota dan pengurus partai

politik.

Perbedaan ayat 1 dan 2 menunjukkan adanya apresiasi yang berbeda

17

dalam pelaksanaan pendidikan politik antara anggota partai politik dan non partai

politik. Selain itu, minimnya perhatian partai politik dalam melaksanakan

pendidikan politik juga terlihat dari tidak adanya dana alokasi khusus dari partai

politik untuk melaksanakan pendidikan politik. Sehingga dana publik yang secara

rutin masuk ke setiap partai politik tidak memiliki nilai akuntabilitas karena

publik tidak merasakan mafaat dari program partai politik. Selama ini pendidikan

politik yang menjadi syarat penting dari satu partai politik tidak mampu

dijalankan secara nyata oleh partai politik. Sehingga yang terjadi adalah

pemanfaatan suara rakyat atas nama kedaulatan rakyat di balik kepentingan

pragmatisme politik para elit politik.

Bahkan yang menjadi runyam adalah beberapa partai politik yang selama

ini mengklaim diri didukung oleh rakyat bawah, kaum abangan, wong cilik,

justru memanfaatkan kecilikan rakyat untuk melakukan pembodohan politik

dengan harapn mendapat suara yang signifikan. Partai Politik sepertinya sengaja

tidak maksimal melakukan pemberdayaan dan pendidikan politik kepada rakyat

kecil karena mereka sadar kalau rakyat cerdas, kritis dan rasional, maka partai

politik tidak mungkin dipilih, sebab rakyat pasti akan sadar dengan kebobrokan

partai politik tersebut. Sementara mereka sangat menngandalkan suara rakyat

kecil yang tidak tahu apa-apa sebab jumlahnya cukup signifikan.

Dengan orientasi politik yang demikian itu, maka perilaku elit poltik

selama tahapan pemilu pun akan serba pragmatis. Kasus ijazah palsu, tanda

tangan palsu, money politik untuk menjadi caleg di nomor urut jadi, mobilisasi

selebriti menjadi caleg, politisasi agama di wilayah politik serta money politik

dalam tahapan kampanye menjadi fenomena dalam dinamika pemilu kita selama

ini. Para elit politik yang saat ini berkuasa dan calon elit politik yang ingin

berkuasa tidak memiliki komitemen untuk mengedepankan serta membumikan

visi politik mereka yang sebenarnya sudah termaktub dalam plat form partai

mereka. Kalimat-kalimat dalam plat form tersebut hanyalah menjadi teks suci

yang tidak pernah diejawantahkan dalam kondisi riil politik masyarakat saat ini.

Perilaku pragmatisme politik tersebut semakin menjadikan masyarakat

dan arus bawah tidak memilki ruang untuk melakukan penyadaran serta

pendidikan poltik yang sehat. Rakyat tidak dapat menikmati proses demokratisai

yang sehat yakni kaduakatn yang berangkat dari kehendak serta idelaisme poltik

rakyat itu sendiri bukan kehendak elit. Kondisi saat ini sudah agak sulit bagi

rakyat memilih sebuah pilihan politik atas nama idealisme politik mereka.

Mereka akan menentukan pilihan politik mereka berdasarkan pertimbangan-

pertimbanagn pragmatisme. Tidak ada lagi kelompok masyarakat yang berduyun-

duyun karena kampanye sebuah partai politik atas kesadaran dan pemahaman

politik terhadap visi dan misi partai poltik tertentu. Akan tetapi sebagai besar

merak berangkat karena sebelumnya sudah mendapat segepok uang, bebarapa

lembar kaos partai, sticker dll. Bahkan sampai detik-detik pemilihan pun

sebagain besar masyarakat kita masih merindukan Serangan Fajar yang mau

membeli suara mereka dengan lembaran uang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->