P. 1
CABAI RAWIT

CABAI RAWIT

|Views: 367|Likes:
Published by Dian Hafiz
Pertanian
Pertanian

More info:

Published by: Dian Hafiz on Dec 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/05/2015

pdf

text

original

CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) Sinonim : C. ,fastigiatum BL, C. minimum Roxb. Familia : solanaceae.

Uraian : Tanaman budidaya, kadang-kadang ditanam di pekarangan sebagai tanaman sayur atau tumbuh liar di tegalan dan tanah kosong yang terlantar. Tumbuhan ini berasal dari Amerika tropik, menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Perdu setahun, percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang, bunga tunggal atau 2-3 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadangkadang ungu. Buahnya buah buni, tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing, panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masa.k berwarna merah terang. Bijinya banyak, bulat pipih, berdiameter 2-2,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabai rawit terdiri dari tiga varietas, yaitu cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya; cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi jingga; dan ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah. Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun muda dapat dikukus untuk lalap.Cabal rawit dapat diperbanyak dengan biji. Nama Lokal : NAMA DAERAH Sumatera: leudeuaarum, l. pentek (Gayo), situdu langit, lacina sipane (Simelungmz), lada limi (Nias), l. mutia (Melayu). Jawa: cabe rawit, c. cengek (SLCnda), lombok jempling, l. jemprit, l. rawit, l. gambir, l. setan, l. cempling (Jawa), cabhi letek, c. taena manok (Madc,rra). Nusa Tenggara: tabia krinyi (Bali), kurus(Alor). Sulawesi: kaluya kapal (bent.), mareta dodi (Mongond.), malita diti (Gorontalo), m. didi (Buol), lada masiwu (Baree), l. marica, l. capa, laso meyong (Mak.),1. meyong, ladang burica, l. marica (Bug.), rica halus, r. padi (Manado). Maluku: Abrisan kubur (Seram), karatupa batawe (Elpaputi), katupu walata

(Waraka), araputa patawe (Atamano), kalapita batawi (Amahai), karatuba manesane (Nuaulu), karatupa. batawi (Sepcc), maricang kekupe (Weda), rica gufu (Ternate). Irian: metrek wakfoh (Sarmi), basen tanah (Barik). NAMA ASING La jiao (C), cayenne peper (B), piment de cayenne (P), piment enrage, guineapfeffer (J), pasites, sili (Tag.), cayenne, chilli (I). NAMA SIMPLISIA Capsici frutescentis Fructus (buah cabe rawit). Penyakit Yang Dapat Diobati : Cabai rawit rasanya pedas, sifatnya panas, masuk meridian jantung dan pankreas. Tumbuhan ini berkhasiat tonik, stimulan kuat untuk jantung dan aliran darah, antirematik, menghancurkan bekuan darah (antikoagulan), meningkatkan nafsu makan (stomakik), perangsang kulit (kalau digosokkan ke kulit akan menimbulkan rasa panas. Jadi, digunakan sebagai campuran obat gosok), peluruh kentut (karminatif), peluruh keringat (diaforetik), peluruh liur, dan peluruh kencing (diuretik). Ekstrak buah cabai rawit mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan Candida albicans. Daya hambat ekstrak cabal rawit 1 mg/ml setara dengan 6,20 mcg/ml nistatin dalam formamid (Tyas Ekowati Prasetyoningsih, FF UNAIR, 1987). Pemanfaatan : BAGIAN YANG DIGUNAKAN Seluruh bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai tanaman obat, seperti buah, akar, daun, dan batang. INDIKASI Cabal rawit digunakan untuk : menambah nafsu makan, menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas, batuk berdahak, melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis, migrain. CARA PEMAKAIAN Untuk obat yang diminum, buah cabai rawit digunakan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini cabai rawit dapat direbus atau dibuat bubuk dan pil. Untuk pemakaian luar, rebus buah cabai rawit secukupnya, lalu uapnya dipakai untuk memanasi bagian tubuh yang sakit atau giling cabai rawit sampai halus, lalu turapkan ke bagian tubuh yang sakit, seperti rematik, jari terasa nyeri karena kedinginan (frosbite). Gilingan daun yang diturapkan ke tempat sakit digunakan untuk mengobati sakit perut dan bisul.

Pada umumnya cabedapat ditanam pada dataran rendah sampai ketinggian 2000 meter dpl. Cabe dapat beradaptasi dengan baik pada temperatur 24 – 27 derajat Celsius dengan kelembaban yang tidak terlalu tinggi. Tanaman cabe dapat ditanam pada tanah sawah maupun tegalan yang gembur, subur, tidak terlalu liat dan cukup air. Permukaan tanah yang paling ideal adalah datar dengan sudut kemiringan lahan 0 sampai 10 derajat serta membutuhkan sinar matahari penuh dan tidak ternaungi, pH tanah yang optimal antara 5,5 sampai 7. Tanaman cabe juga sangat bagus jika intensitas pengairannya cukup, tetapi apabila jumlahnya berlebihan dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi dan merangsang tumbuhnya penyakit jamur dan bakteri (dalam kasus saya dulu, sebelum cabe kriting saya pindah ke tanah/kebun, saya mempergunakan dahulu polybag sebagai media sementara untuk memperkuat akar dan supaya unsur hara dari pupuk kandang dapat terserap optimal, namun proses penyiraman melalui hujan yang terus menerus membuat tanah terlalu basah dan akhirnya beberapa tanaman busuk dan mati), namun sebaliknya juga Jika kekurangan air, tanaman cabe dapat kurus, kerdil, layu dan mati. jadi harus benar2 diperhatikan tingkat pengairannya agar tak terlalu over. Pengairan dapat menggunakan irigasi, air tanah dan air hujan, sebaiknya menghadapai musim kemarau, kita membuat kolam penampung dari pelasti di kebun kita agar pasokan air untuk tanaman dapat terjaga secara optimum. Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terong-terongan (solanaceae.)yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negara-negara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakan cili padi, di Filipina siling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. Di Kerala, India, terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahasa Inggris ia dikenal dengan nama Thai pepper atau bird’s eye chili pepper. Buah cabai rawit berubah warnanya dari hijau menjadi merah saat matang. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada varitas cabai lainnya, ia dianggap cukup pedas karena kepedasannya mencapai 50.000 – 100.000 pada skala Scoville. Cabai rawit biasa di jual di pasar-pasar bersama dengan varitas cabai lainnya. Cabai rawit dapat tumbuh baik didataran tinggi , maupu di dataran rendah . bertanam cabai rawit dapat memberikan nila ekonomi yang cukup tinggi apabila diusahakan dengan sungguh – sungguh .Satu hektar tanaman cabai rawit mampu menghasilkan 8 ton buah cabai rawit karena tanaman cabai rawit dapat kita usahakan selama dua sampai dua setengah tahun selama musim tanam . Tanaman cabai rawit menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5-1.250 m dpl. Perdu setahun, percabangan banyak, tinggi 50-100 cm. Batangnya berbuku-buku atau bagian atas bersudut. Daun tunggal, bertangkai, letak berselingan. Helaian daun bulat telur, ujung meruncing, pangkal menyempit, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 5-9,5 cm, lebar 1,5-5,5 cm, berwarna hijau. Bunga keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk bintang,

bunga tunggal atau 2-3 bunga letaknya berdekatan, berwarna putih, putih kehijauan, kadang-kadang ungu. Buahnya buah buni, tegak, kadang-kadang merunduk, berbentuk bulat telur, lurus atau bengkok, ujung meruncing, panjang 1-3 cm, lebar 2,5-12 mm, bertangkai panjang, dan rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, putih kehijauan, atau putih, buah yang masa.k berwarna merah terang. Bijinya banyak, bulat pipih, berdiameter 22,5 mm, berwarna kuning kotor. Cabai rawit terdiri dari tiga varietas, yaitu cengek leutik yang buahnya kecil, berwarna hijau, dan berdiri tegak pada tangkainya; cengek domba (cengek bodas) yang buahnya lebih besar dari cengek leutik, buah muda berwarna putih, setelah tua menjadi jingga; dan ceplik yang buahnya besar, selagi muda berwarna hijau dan setelah tua menjadi merah. Buahnya digunakan sebagai sayuran, bumbu masak, acar, dan asinan. Daun muda dapat dikukus untuk lalap.Cabal rawit dapat diperbanyak dengan biji.

Jenis cabai rawit yang sering diusahakan adalah sebagai berikut : 1. cabai kecil atau cabai jemprit buahnya kecil dan pendek , lebih pedas dibandingka Janis cabai lainnya. 2. cabai putih atau cabai domba buahnya lebihbesar dari cabai jemprit atau cabai celepik , dan rasanya kurang enak. 3. cabai celepik buahnyalebih besar dari pada cabai jemprit dan lebih keci dari cabai domba. Rasanya tidak sepedas cabai jemprit . sewakti muda berwarna hijau setelah masak berwarna merah cerah . Syarat tumbuh Untuk mendapatkan cabai rawit yang tinggi kita harus mengetahui yang syarat tumbuh yang diinginkan oleh cabai rawit. Adapun syarat nya sebagai berikut : 1. tanah - gembur - subur atau banyak mengandung zat makan - pembuangan airnya baik ( tidak tergenang) , dan - banyak mengandung humus 2. tempat tumbuh ( daerah ) - dataran rendah - dataran tinggi 3. iklim tanaman cabai rawit dapat tumbuh , baik pada daerah yang kurang hujan maupun yang sering hujan . suhu udara yang diperlukan tanaman ini adalah berkisar antara 25* c – 31* Bahan dan Alat

1. alat yang diperlukan untuk menanam cabai rawit Cangkul, garpu tanah, kored, gembor ember, sprayer, ember, meteran, keranjang, timbangan, tali kenca ( pelurus ) 2. bahan – bahan yang diperlukan untuk menanam cabai rawit , benih cabai rawit, pupuk kandang, urea, TSP, Bambo, Insektisida, Fungisida, KCL, Pelastik kecil bumbungan, Lalang atau daun kelapa. BERCOCOK TANAM Pertumbuhan tanaman cabai rawit yang baik dan hasil produksinya tinggi merupakan dambaan dan harapan kita semua . untuk mencapai tahapan tersebut kita harus melakukan kegiatan bercocok tanam cabai rawit yang menggunakan tahapan – tahapan sebagai berikut: Pengolahan tanah dapat dilakukan membajak atau mencangkul sedalam 25 – 30 cm hingga tanah menjadi

gembur . setelah itu biarkan 7 – 14 hari untuk mendapatkan sinar matahari Pembuatan bedeng • • selatan . lebar tinggi bedeng bedeng 100 20 – – 120 30 cm cm

• jarak antara bedeng dengan bedeng lainnya 30 – 45 cm . arah bedeng memanjang ke utara

Syarat pupuk kandang yang baik adalah tidak tidak berwarna kehitam hitaman , berbau panas dan

• • • • benar – benar sudah matang

Jarak tanaman cabai rawit sebagai berikut 50 60 x x 100 70 cm cm

• • • 50 x 90 cm

Cara pembuata jarak tanaman

a. pasang tali kenca ( pelurus ) sejajar dengan panjang bedeng , kira – kira 10 cm dari tepi edeng b. ukur jarak tanaman yang diinginkan pada sepanjang tali kencana tersebut c. buat lubang tanaman sesuai dengan jarak tanaman • pupuk tersebut , kandang kemudian = 1 beri kg pupuk / besar lubang

• • • dibuat Pesemaian

pupuk pupuk pupuk

urea TSP KCI

= = =

d. campurkan ketiga pupuk buatan hinga rata dan masukan pada setiap lubang yang telah

pesemaian merupakan kegiatan untuk menghasilkan bibit tanaman atau calon tanaman yang baik . adapun tahapan pesemaian adalah sebagai berikut :  Membuat bedeng atau tempat pesemaian , ukuran bedeng pesemaian sebagai berikut • • lebar panjang bedeng bedeng 1 3 – – 1,2 5 m m

• tingi bedeng 15 – 20 cm

Penyemaian benih

Kebutuhan benih untuk satu hektar berkisar antar 300 – 500 benih . sebelum benih disemai atau ditabur, tempat pesemaian disiram merata . beberapa cara menyemai benih cabai rawit sebagai – – – semai berkelompok Penanaman Bibit tanaman cabai rawit yang telah berumur 1 bulan segera ditanam . penanaman sebaiknya pada sore hari agar tanaman tidak layu. ciri – ciri bibit yang siap tanam adalah sebagai berikut : • telah berumur satu bulan • tidak terserang hama dan penyakit • pertumbuhan tanaman seragam Cara penanaman • siram bibit yang akan ditanam • pilih bibit yangakan ditanam • lepaskan bumbung atau pelastik dari bibit • padatkan tanah disekeliling tanaman bibit yang telah dimasukan kelubang agar tidak rebah Pemeliharaan tanaman a. penyiraman penyiraman dilakukan 2 kali sehari atau di sesuaikan dengan keadaan tanah. Pada waktu pelepasan air dari petak penanaman harus dilakukan dengan pelan agar tidak terjadi pencucian pupuk dari bedeng tanaman. semai bebas semai berikut atau dalam ditabur : merata baris

b. penyiangan rumpu liar yang tumbuh disekita tanaman harus dicabit atau di siang dengan kored atau sabit c. pemupukan Jumlah pupuk yang dibutuhkan dalam satu hektar adalah • urea = 200 kg • TSP = 200 kg • KCI = 150 kg d. hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman cabai rwit adalah sebagai berikut : - tungau marah - kutu daun berwarna kuning - kutu gurem atau thrips tanda – tanda tanaman terserang - tanaman berwarna seperti perak - tanaman tampak pucat - daun menjadi layu pengendalian - cabut tanaman yang terserang berat - kumpulkan bagian tanaman yang terserang ,lalu dibakar PANEN Panen merupakan kegiatan yang dinanti – nanti untuk menikmati jerih payah selama penanaman , produksi cabai rawit hampir sama dengan cabai besar , hanya saja umur cabai rawit lebih lama yaitu 2 – 3 tahun , sehingga produksi cabai rawit lebih tinggi dari pada cabai besar . Cabai rawit dapat dipanen hijau ( muda ) dan dipanen merah atau sudah masak . bila cabai rawit di panen hijau, cabai kelihatan bernas dan berisi . Pemanenan cabai rawit dapat dilakukan 4 – 7 hari sekali atau tergantung pada situasi harga pasaran . Komposisi Cabe

Komposisi : Buahnya mengandung kapsaisin, kapsantin, karotenoid, alkaloid asiri, resin, minyak menguap, vitamin (A dan C). Kapsaisin memberikan rasa pedas pada cabai, berkhasiat untuk melancarkan aliran darah serta pematirasa kulit. Biji mengandung solanine, solamidine, solamargine, solasodine, solasomine, dan steroid saponin (kapsisidin). Kapsisidin berkhasiat sebagai antibiotik.

Manfaat Cabai Rawit Bagian yang digunakan Seluruh bagian tumbuhan dapat digunakan sebagai tanaman obat, seperti buah, akar, daun, dan batang.

Indikasi Cabai rawit dapat digunakan untuk : 1.Menambah nafsu makan 2.menormalkan kembali kaki dan tangan yang lemas, 3.batuk berdahak, 4.melegakan rasa hidung tersumbat pada sinusitis, 5.migrain.

Cara Pemakaian Untuk obat yang diminum, buah cabai rawit digunakan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini cabai rawit dapat direbus atau dibuat bubuk dan pil. Untuk pemakaian luar, rebus buah cabai rawit secukupnya, lalu uapnya dipakai untuk memanasi bagian tubuh yang sakit atau giling cabai rawit sampai halus, lalu turapkan ke bagian tubuh yang sakit, seperti rematik, jari terasa nyeri karena kedinginan (frosbite). Gilingan daun yang diturapkan ke tempat sakit digunakan untuk mengobati sakit perut dan bisul.

Peenggunaan Cabai Kaki dan tangan lemas (seperti lumpuh) Sediakan 2 bonggol akar cabai rawit, 15 pasang kaki ayam yang dipotong sedikit di atas lutut, 60 g kacang tanah, dan 6 butir hung cao. Bersihkan bahan-bahan tersebut dan potong-potong seperlunya. Tambahkan air dan arak sama banyak sampai bahan-bahan tersebut terendam seluruhnya (kira-kira 1 cm di atasnya). Selanjutnya, tim ramuan tersebut. Setelah dingin, saring dan air saringannya diminum, sehari dua kali, masing-masing separo dari ramuan. Sakitperut Cuci daun muda segar secukupnya, lalu giling sampai halus. Tambahkan sedikit kapur sirih, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian perut yang sakit. Rematik

Giling 10 buah cabai rawit sampai halus. Tambahkan 1/2 sendok teh kapur sirih dan air perasan sebuah jeruk nipis, lalu aduk sampai rata. Balurkan ramuan tersebut pada bagian tubuh yang sakit. Frosbite Buang biji beberapa buah cabai rawit segar, lalu giling sampai halus, kemudiam balurkan ke tempat yang sakit. Catatan: Penderita penyakit saluran pencernaan, sakit tenggorokan, dan sakit mata dianjurkan untuk tidak mengonsumsi cabai rawit. Rasa pedas di lidah menimbulkan rangsangan ke otak untuk mengeluarkan endorfin (opiat endogen) yang dapat menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan perasaan lebih sehat. Hasil penelitian terbaru, cabai rawit dapat mengurangi kecenderungan terjadinya penggumpalan darah (trombosis), menurunkan kadar kolesterol dengan cara mengurangi produksi kolesterol dan trigliserida di hati. Pada sistem reproduksi, sifat cabai rawit yang panas dapat mengurangi rasa tegang dan sakit akibat sirkulasi darah yang buruk. Selain itu, dengan kandungan zat antioksidan yang cukup tinggi (seperti vitamin C dan beta karoten), cabai rawit dapat digunakan untuk mengatasi ketidaksuburan (infertilitas), afrodisiak, dan memperlambat proses penuaan. Syarat Tumbuh Syarat Iklim Pada umumnya cabai dapat ditanam di dataran rendah sampai pegunungan (dataran tinggi) + 2.000 meter dpl yang membutuhkan iklim tidak terlalu dingin dan tidak terlalu lembab. Temperatur yang baik untuk tanaman cabai adalah 240 – 270 C, dan untuk pembentukan buah pada kisaran 160 – 230 C. Setiap varietas cabai hibrida mempunyai daya penyesuaian tersendiri terhadap lingkungan tumbuh. Cabai hibrida Hot Beauty dan Hero dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi + 1200 m dpl.Sedangkan cabai hibrida Long Chili lebih cocok ditanam pada ketinggian antara 800 – 1500 m dpl. Khusus untuk cabai Paprika umumnya hanya cocok ditanam di dataran tinggi. Kisaran temperatur optimum untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman paprika antara 210 – 250 C, sedangkan untuk pembentuk-an buah memerlukan temperatur 18,30. Cabai paprika tidak tahan terhadap intensitas cahaya matahari yang tinggi karena dapat menyebabkan buah seperti terbakar (sunburn) dan juga hasil akhir bobot buah akan sangat rendah. Pada kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, tanaman paprika akan mengalami gugur tunas, gugur bunga dan buah muda, serta ukuran buah sangat kecil. Meskipun cabai paprika umumnya cocok ditanam di dataran tinggi, tetapi dapat pula dikembangkan di dataran menengah mulai ketinggian 600 m dpl; yakni dengan cara memanipulasi lingkungan. Alih teknologi budidaya paprika di dataran menengah antara lain menggunakan sungkup beratapkan plastik bening (transparan). Iklim • Curah hujan 1500-2500 mm pertahun dengan distribusi merata. • Suhu udara 16° - 32 ° C

• Saat pembungaan sampai dengan saat pemasakan buah, keadaan sinar matahari cuku p (10 12 jam). Syarat Tanah Hampir semua jenis tanah yang cocok untuk budidaya tanaman pertanian, cocok pula bagi tanaman cabai. Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas hasil yang tinggi, cabai menghendaki tanah yang subur, gembur, kaya akan organik, tidak mudah becek (menggenang), bebas cacing (nematoda) dan penyakit tular tanah. Kisaran pH tanah yang ideal adalah antara 5.5 – 6.8, karena pada pH di bawah 5.5 atau di atas 6.8 hanya akan menghasilkan produksi yang sedikit (rendah). Pada tanah-tanah yang becek seringkali menyebabkan gugur daun dan juga tanaman cabai mudah terserang penyakit layu. Khusus untuk tanah yang pH-nya di bawah 5.5 (asam) dapat diperbaiki keadaan kimianya dengan cara pengapuran, sehingga pH-nya naik mendekati pH normal. Beberapa angka pH tanah (reaksi tanah), terdiri atas : Paling masam (< 4.0) Sangat asam (4.0 – 4.5) Asam (4.5 – 5.5) Agak asam (5.5 – 6.5) Netral (6.5 – 7.5) Agak basa (7.5 – 8.5) Basa (8.5 – 9.0) Sangat basa (9.0). Pada pH tanah asam, ketersediaan unsur-unsur Fosfor, Kalium, Belerang, Kalsium, Magnesium dan Molibdinum menurun dengan cepat. Pada pH tanah basa akan menyebabkan unsur-unsur Nitrogen, Besi, Mangan, Borium, Tembaga dan Seng ketersediaannya relatif menjadi sedikit. Cabai yang ditanam pada tanah asam pada umumnya keracunan unsur Alumunium (Al), Besi (Fe) dan Mangan (Mn). Sebaliknya pada pH basa, jumlah unsur bikarbonat cukup banyak untuk merintangi penyerapan ion lain, sehingga dapat menghalangi pertumbuhan tanaman secara optimum. Tanah • Tanah berstruktur remah/gembur dan kaya akan bahan organik. • Derajat keasaman (PH) tanah antara 5,5 - 7,0 • Tanah tidak becek/ ada genangan air • Lahan pertanaman terbuka atau tidak ada naungan. Pedoman Teknis Budidaya Penyiapan Benih Benih cabe dapat dibuat sendiri dengan cara sebagai berikut: • Pilih buah cabe yang matang (merah) • Bentuk sempurna, segar • Tidak cacat dan tidak terserang penyakit. • Kemudian keluarkan bijinya dengan mengiris buah secara memanjang • Cuci biji lalu dikeringkan. • Kemudian pilih biji yang bentuk, ukuran dan warna seragam, permukaan kulit bersih, tid ak keriput dan tidak cacat.

Bila kesulitan membuat sendiri, benih cabe dapat dibeli di toko pertanian setempat. Benih yang akan ditanam diseleksi dengan cara merendam dalam air, biji yang terapung dibuang.

PERSIAPAN TANAM
Tahapan pengolahan tanah dilakukan dengan tata cara sebagai berikut : Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman atau perakaran dari pertanaman sebelumnya. Tanah dibajak atau dicangkul sedalam 30 – 40 cm, kemudian dikeringkan selama 7 – 14 hari. Tanah yang sudah agak kering segera dibentuk bedengan-bedengan selebar 110 – 120 cm, tinggi 40 – 50 cm, lebar parit 60 – 70 cm, sedangkan panjang bedengan sebaiknya lebih dari 12 meter. Khusus pada tanah yang banyak mengandung air (mudah becek), sebaiknya parit dibuat sedalam 60 – 70 cm. Di sekeliling lahan kebun cabai dibuat parit keliling selebar dan sedalam 70 centimeter. Pada saat 70% bedengan kasar terbentuk, bedengan dipupuk dengan pupuk kandang (kotoran ayam, domba, kambing, sapi ataupun kompos) yang telah matang sebanyak 1,0 – 1,5 kg/tanaman. Pada tanah yang pH-nya masam, bersamaan dengan pemberian pupuk kandang dilakukan pengapuran sebanyak 100 – 125 gram/tanaman. Pupuk kandang dan kapur pertanian dicampur dengan tanah bedengan secara merata sambil dibalikkan, kemudian dibiarkan diangin – anginkan selama kurang lebih 2 minggu. Catatan : Jika populasi cabai hibrida per hektar antara 18.000 – 20.000 tanaman pada jarak tanam 60 x 70 cm, maka diperlukan pupuk kandang 18 – 30 ton, dan kapur pertanian 1,8 – 2,0 ton.

PERSEMAIAN
Sebelum tanam di tempat permanen, sebaiknya benih disemai dulu dalam wadah semai yang dapat berupa bak plastik atau kayu dengan ketebalan sekitar 10 cm yang dilubangi bagian dasarnya untuk pengaturan air(drainase).

Persiapannya adalah sebagai berikut:
1. Isikan dalam wadah semai media berupa tanah pasir, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Untuk menghilangkan gangguan hama berikan pestisida sistemik di tanah dengan takaran 10 gr/m2. Media ini disiapkan 1 minggu sebelum penyemaian benih. 2. Benih yang akan ditanam, sebelumnya direndam dalam air hangat (50 derajat Celcius) selama semalam, Tambahkan MiG- 6PLUS saat perendaman dengan dosis 10ml : 1 liter air. 3. Tebarkan benih secara merata di media persemaian, bila mungkin beri jarak antar benih 5 x 5 cm sehingga waktu tanaman dipindah / dicabut, akarnya tidak rusak. Usahakan waktu benih ditanam diatasnya ditutup selapis tipis tanah. Kemudian letakkan wadah semai tersebut di tempat teduh dan lakukan penyiraman secukupnya agar media semai tetap lembab.

Pembibitan
• Benih yang telah berkecambah atau bibit cabe umur 10-14 hari (biasanya telah

tumbuh sepasang daun) sudah dapat dipindahkan ke tempat pembibitan. • Siapkan tempat pembibitan berupa polybag ukuran 8 x 9 cm atau bumbungan dari bahan daun pisang sehingga lebih murah harganya. Masukkan ke dalamnya campuran tanah, pasir dan pupuk kandang. • Pindahkan bibit cabe ke wadah pembibitan dengan hati-hati. Pada saat bibit ditanam di bumbungan, tanah di sekitar akar tanaman ditekan-tekan agar sedikit padat dan bibit berdiri tegak. Letakkan bibit di tempat teduh dan sirami secukupnya untuk menjaga kelembabannya. Pembibitan ini bertujuan untuk meningkatkan daya adaptasi dan daya tumbuh bibit pada saat pemindahan ke tempat terbuka di lapangan atau pada polybag Pemindahan bibit baru dapat dilakukan setelah berumur 30-40 hari.

Penyiapan Benih dan Pembibitan
Bersamaan dengan pembuatan bedengan kasar, dilakukan penyiapan benih dan pembibitan di pesemaian. Untuk lahan (kebun) seluas 1 hektar diperlukan benih + 180 gr atau 18 bungkus kemasan masing-masing berisi 10 gram. Benih dapat disemai langsung satu dalam bumbung (koker) yang terbuat dari daun pisang ataupun polybag kecil ukuran 8 x 10 cm, tetapi dapat pula dikecambahkan terlebih dahulu. Sebelum dikecambahkan, benih cabai sebaiknya direndam dulu dalam air dingin ataupun air hangat 550 – 600 selama 15 – 30 menit untuk mempercepat proses perkecambah-an dan mencucihamakan benih tersebut. Bila benih cabai akan disemai langsung dalam polybag, maka sebelumnya polybag harus diisi dengan media campuran tanah halus, pupuk kandang matang halus, ditambah pupuk NPK dihaluskan serta Furadan atau Curater. Sebagai pedoman untuk campuran adalah : tanah halus 2 bagian (2 ember volume 10 liter) + 1 bagian pupuk kandang matang halus (1 ember volume 10 liter) + 80 gr pupuk NPK dihaluskan (digerus) + 75 gr Furadan. Bahan media semai tersebut dicampur merata, lalu dimasukkan ke dalam polybag hingga 90% penuh. Benih cabai hibrida yang telah direndam, disemaikan satu per satu sedalam 1,0 – 1,5 cm, lalu ditutup dengan tanah tipis. Berikutnya semua polybag yang telah diisi benih cabai disimpan di bedengan secara teratur dan segera ditutup dengan karung goni basah selama + 3 hari agar cepat berkecambah. Bila benih dikecambahkan terlebih dahulu, maka sehabis direndam harus segera dimasukkan ke dalam lipatan kain basah (lembab) selama + 3 hari. Setelah benih keluar bakal akar sepanjang 2-3 mm, dapat segera disemaikan ke dalam polybag. Cara ini untuk meyakinkan daya kecambah benih yang siap disemai dalam polybag. Tata cara penyemaian benih ke dalam polybag prinsipnya sama seperti cara di atas hanya perlu alat bantu pinset agar kecambah benih cabai tidak rusak. Penyimpanan polybag berisi semaian cabai dapat ditata dalam rakrak kayu atau bambu, namun dapat pula diatur rapi di atas bedengan-bedengan selebar 110 – 120 cm. Setelah semaian cabai tersebut diatur rapi, maka harus segera dilindungi dengan sungkup dari bilah bambu beratapkan plastik bening (transparan) ataupun jaring net kassa. Selama bibit di pesemaian, kegiatan rutin pemeliharaan adalah penyiraman 1-2 kali/hari atau tergantung cuaca, dan penyemprotan pupuk daun pada dosis rendah 0,5 gr/liter air saat tanaman muda berumur 10 – 15 hari, serta penyemprotan pestisida pada konsentrasi setengah dari yang dianjurkan untuk mengendalikan serangan hama dan penyakit.

Cara serupa dalam penyiapan bibit Cabai berdasarkan pengalaman petani cabai , tetapi prinsipnya hampir sama : Dalam hal pembibitan cabai, ujar Rajimin, sebaiknya dilakukan apabila penyiapan lahan sudah 70% selesai. Hal ini untuk menghindari dari bibit terlalu tua (terlambat tanam), selain itu, persiapan media semai terdiri dan tanah, pupuk kandang, pupuk SP-36 ditambah insektisida furadan. Perbandingan 2 ember tanah + 1 ember pupuk kandang + 165 gram SP-36 + 75 gram furadan. Untuk pembibitan memakai polybag ukuran 8 x 10 cm, 6 x 10 cm, untuk penanaman 1 ha dibutuhkan pembibitan polybag sebanyak 20.000 polybag termasuk cadangan untuk sisipan. Langkah selanjutnya, ungkapnya, upaya mensterilkan media sesuai dengan fumigan, dimana Media semai sebaiknya disterilisasi terlebih dahulu dengan menggunakan fumigan tanah (Basamid G). Tujuannya apabila Basamid G terkena air akan mengeluarkan gas metil isotiosianat yang dapat membunuh serangga, cendawan, nematoda dan bakteri serta mematikan benih gulma yang akan tumbuh. Dan, selanjutnya, memberil perlakuan benih agar beban penyakit. Sebelum benih ditebar dipembibitan /ditanam dalam polybag, papar Rajimin, benih harus diberi perlakuan. Ada dua cara pemberian perlakukan, dimana pertama dengan perlakuan basah berupa, yakni sebelum benih disemai terlebih dahulu benih direndam dalam larutan air yang diberi fungisida dan bakterisida (air 1 ltr + 1,5 ml previcurn + 1,2 gram Agrimycin) selama 4-6 jam. Kemudian benih dibungkus handuk/koran dibasahi lalu diperam dalam kaleng biskuit yang diberi lampu 15 watt, selama 3—4 han benih berkecambah 0,5-1,0 mm dan siap disemaikan. Sedangkan Perlakuan kering, lanjutnya, sebelum benih 1.1. Latar Belakang Cabai rawit ( Capsicum frutescens L ) termasuk sayuran buah danmerupakan bahan yang dibutuhkan sehari- hari pada setiap rumah tangga sebagai bumbu dapur. Rasanya pedas dan banyak mengandung vitamin C. Cabai rawit juga banyak digunakan untuk industri makanan kaleng, saus dan industri obat- obatan. Disamping sebagai konsumsi dalam negeri, cabe juga merupakan komoditi eksport yang tinggi nilainya. Untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi, banyak faktor- faktor yang harus diperhatikan, salah satu diantaranya adalah tersedianya unsur- unsure hara di dalam tanah, baik unsur hara makro maupun mikro. Kebutuhan tanaman akan unsur hara dapat dipenuhi dengan pemupukan, dimana pemupukan bertujuan untuk memperbaiki kesuburan tanah hingga pertumbuhan tanaman lebih baik. Unsur hara terpenting yang harus ditambahkan ke dalam tanah dapat berbentuk pupuk adalah unsur hara N, P dan K. Ini disebabkan karena selain ke tiga unsur ini dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak, juga ketersediannya dalam tanah dalam jumlah yang terbatas. Selain unsur hara esensial N, P dan K fungsinya tidak dapat digantikan dengan unsur hara yang lain. Apabila salah satu unsur tersebut tidak tersedia, maka pertumbuhan tanaman, baik fase vegetatif maupun fase generatif bisa jadi terbatas. Pemupukan yang efektif membutuhkan persyaratan kwantitatif yang memiliki

beberapa hal seperti waktu pemupukan dan penempatan pupuk dengan tepat, sehingga unsur hara yang diberikan pada tanaman dapat di serap dan digunakan oleh tanaman untuk meningkatkan kualitas produksi. Sunaryono ( 1984 ) menganjurkan agar pemupukan pada tanaman cabai rawit diberikan pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/ tanaman atau 15 ton/ha sebelum bertanam. Dan pupuk buatan sebanyak 90 kg N, 92 kg P2O5, 46 kg K2O per hektar. Sedang di Sumatera Utara dianjurkan dengan dosis 200 kg urea, 200 kg TSP dan 100 kg KCl¬ per hektar ( Anonimous 1983/ 1984 ). Perhatian para ahli terhadap efisiensi pemupukan nitrogen semakin bertambah, sehubungan dengan polusi lingkungan dan harga pupuk yang semakin meningkat. Jika diperoleh efisiensi pemupukan yang tinggi, maka semakin sedikit pupuk yang tercuci. Hara nitrogen dalam bentuk nitrat di dalam tanah mudah tercuci. Peran unsur hara nitrogen pada tanaman adalah untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun menjadi lebih lebar dan lebih hijau serta meningkatkan kadar protein pada tanaman. Sedang unsur hara P adalah mempercepat pertumbuhan akar, mempercepat dan memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi dewasa serta dapat mempercepat pertumbuhan dan pemasakan buah. Sesuai dengan latar belakang di atas, maka penulis mencoba meneliti kemungkinan adanya peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman cabai dengan pemberian pupuk N dan P. 1.2. Tujuan Penelitian Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dosis pupuk N dan dosis pupuk P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit.. 1.3. Hipotesis Penelitian 1. Adanya pengaruh dosis pupuk N terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. 2. Adanya pengaruh dosis pupuk P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. 3. Adanya interaksi antara pupuk N dan pupuk P terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai rawit. 1.4. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan informasi bagi pihak yang memerlukan dalam pengembangan pembudidayaan untuk peningkatan produksi tanaman cabai rawit. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Tanaman Cabai Rawit Tanaman cabai rawit ( Capsicum frutescens L) mempunyai batang yang bercabang banyak, daunnya berbentuk bulat telur yang ujungnya meruncing dengan ukuran yang bermacam-macam . Buahnya berbentuk bulat panjang dan bijinya banyak, bunganya

tunggal menunduk, mahkota bunganya berwarna putih, ujung buah meruncing dan rasa daging buah pedas. Adapun systematika tanaman cabai rawit adalah sebagai berikut ( Moenarmi, 1981 ) : Divisio : Spermatophyta Klass : Dicotiledonae Ordo : Polemoniales Famili : Solanaceae Genus : Capsicun Species : Capsicum frutescens L 2.2. Syarat tumbuh Cabai rawit menghendaki iklim kering, tanah tidak becek dan membutuhkan cahaya matahari yang cukup ( tempat terbuka ). Tanaman Cabai tidak tahan terhadap hujan deras pada waktu berbunga, karena bunga mudah gugur . Tanaman Cabai rawit dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0,5 – 1250 m Di atas permukaan laut, curah hujan yang dibutuhkan 1500 – 2000 mm per tahun dengan kelembaban udara 80% , ketinggian optimal 300 – 600 m di atas permukaan laut. Tanaman Cabai tidak nemerlukan struktur tanah yang khusus tetapi tanah yang banyak mengandung bahan organik, baik jenis tanah liat atau berpasir sangat baik untuk pertunbuhan tanaman . 2.3. Peranan pupuk N Nitrogen dibutuhkan untuk pertumbuhan dan ptoduksi tanaman, memegang peranan penting dalam perkembangan dan fungsi – fungsi protolasma dan sebagai bahan dasar dalam penyusunan semua protein .Nitrogen umumnya diserap tanaman dalam bentuk ion ammonium atau ion nitrat . Urea adalah bentuk senyawa nitrogen organik yang palimg sederhana dan kandungan unsur haranya 45 – 46% N serta sifat – sifatnya : a. berbenruk kristal berwarna putih, butir – butir bulat b. Higroskopis pada kelembaban udara c. Mudah larut dalam air 2.4. Peranan pupuk P Unsur hara P nerupakan penyusun sel hidup . Hal ini berhubungan dengan senyawa senyawa structural asam nukleat dan transfor energi . Unsur P sangat berfungsi bagi tanaman karena unsur ini dapat membantu pembrlahan sel, mempercepat pembungaan dan pembuahan, mempercepat pematangan buah, nerangsang perkembangan akar, memperkuat batang dan cabang. Defenisi fosfor pada tanaman ditandai dengan gejala sebagai berikut : a. Pertunbuhan kerdil b. Daun berwarna hijau pucat, ungu atau merah tua terutama pada ujung dan tepi Daun c. Beberapa daun tanaman berwarna hijau tua kebiruan, terutama bila nitrogen tidak

ada sama sekali d. Tanaman terhambat untuk tua, masih terlihat hijau e. meninggi dan kurus f. Buah tidak berbentuk atau tunbuh normal g. Proses pembuahan terhambat dan produksi rendah BAB III BAHAN DAN METODA PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Paranginan Utara Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benuh cabai rawit, kompos, pupuk urea, TSP, KCL, insektisida comfidor, fungisida antracol, wendry . Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, garu, pompa, kayu, gembor, tali pkastik dan alat – alat tulis
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman cabai rawit dalam bahasa latinnya Capsicum Frustescens L, kadang kadang ditanaman dipekarangan rumah sebagai tanaman sayur atau tumbuhan liar dipekarangan kosong yang terlantar. Tumbuhan ini berasan dari America tropic, yang menyukai daerah kering, dan ditemukan pada ketinggian 0,5 – 1.250 m dpl. Seperti halnya dengan makhluk hidup lainnya tanaman cabai juga mengalami suatu pertumbuha. Selama proses pertumbuhan, tanaman Cabai mengalami proses peningkatan atau pematangan aktivitas organ baik dalam segi ukuran, yang meliputi volume, massa, jumlah dan panjang. Tumbuhan cabai yang mulanya kecil tumbuh menjadi seiring dengan berjalannya waktu dan perlakuan yang diperolehnya. Pertumbuhan yang dialami oleh tumbuhan cabai tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pemberian nutrisi. Dalam hal ini adalah pupuk. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang teresebut dapat dirumuskan permasalahnannya sebagai berikut: 1. Apakah ada pengaruh pemberian pupuk yang berbedaterhadap kecepatan pertumbuhan tinggi batang tanaman cabai ? 2. Bagaimana perbedaan pertambahan tinggi batang tanaman cabai antara yang diberi pupuk urea dan pupuk kandang sapi ? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui adanya pengaruh pemberian pupuk dengan jenis yang berbeda terhadap kecepatan pertambahan tinggi batang tanaman cabai 2. Untuk mengetahui perbedaan pertambahan tinggi batang tanaman cabai antara tanaman cabai yang deberi pupuk urea dan yang diberi pupuk kandang sapi.

1.4 Hipotesis Hipotesis positif Adanya pengaruh pemberian pupuk dengan jenis yang berbeda terhadap kecepatan pertambahan tinggi batang tanaman cabai. Tidak adanya pengaruh pemberian pupuk dengan jenis yang berbeda terhadap kecepatan pertambahan tinggi batang tanaman cabai.

BAB II METODOLOGI PENELITIAN 2.1 objek penelitian Objek = bibit tanaman cabai rawit yang usianya 2 minggu dengan jenis cengek leutik. Populasi = 30 bibit cabai Sampel = 2 bibit cabai 2.2 lokasi penelitian pekarangan rumah 2.3 waktu penelitian tanggal 25-29 juli 2010 2.4 Variabel Penelitian a. Variable terikat : kecepatan pertambahan tinggi batang tanaman cabai b. Variable bebas : pemberian nutrisi berbeda ( kandang sapid an urea ) c. Variable control : a. tanaman cabai b. 2 gelas aqua c. tanah d. cahaya matahari e. air f. suhu 2.5 unit perlakuan a. ditumbuhkan pada media tanah dan diberi pupuk kandang b. ditumbuhkan pada media tanah dan diberi pupuk urea

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Tabel dan hasi pengamatan tanggal Panjang batang Pot 1 Pot 2 25/7 2010 3 cm 3 cm 26/7 2010 3,3 cm 3,6 cm 27/7 2010 3,6 cm 4 cm 28/7 2010 4 cm 4,3 cm 29/7 2010 4,4 cm 4,7 cm jumlah 18.3 cm 19,6cm Rata - rata 3, 66 cm 3,92 cm KET : pot 1 : bibit yang diberi pupuk kandang Pot 2 : bibit yang diberi pupuk urea 3.2 Analisis data

Dari table diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan pada pot 2 lebih cepat dibandingkan pot 1 dikarenakan faktor nutrisiinya berbeda. Pemakaian pupuk kandang sapi memang bagus untuk tanman sayuran, tapi tidak baik untuk tanaman cabai Hal tersebut sangat mungkin sekali karena pupuk kandang sapi mempunyai kandungan nitrogen yang jauh lebih banyak dari unsur kalium yang pada fungsinya kalium adalah pembentuk pati sehingga pada tanaman cabai pohon terlihat subur tapi buah cabai kepes (daging tipis), sperti kebanyakan petani selalu bilang bahwa bila tanaman kentang daunnya subur maka umbi kentangnya kecil-kecil atau bila tanaman padinya terlalu subur maka bisa mengakibatkan gabug (bulir padi tidak terisi pati). Berdasarkan data hasil pengamatan terjadi perbedaan tinggi tanaman cabai yang diberi pupuk kandang dan di beri pupuk urea. Hal ini dikarenakan urea mengandung unsure hara nitrogen sebesar 46 % yang berfungsi mempercepat pertumbuhan. Tanah Alluvial pada proses pembentukannya sangat tergantung dari bahan induk asal tanah dan topografi, punya tingkat kesuburan yang bervariasi dari rendah sampai tinggi, tekstur dari sedang hingga kasar, serta kandungan bahan organic dari rendah sampai tinggi dan pH tanah berkisar

masam, netral, sampai alkalin, kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation juga bervariasi karena tergantung dari bahan induk (Hardjowigeno, 1985). Alluvial atau Inceptisol memiliki pH yang sangat rendah yaitu kurang dari 4, sehingga sulit untuk dibudidayakan. Alluvial atau Inceptisol yang bermasalah adalah sulfaquepts yang mengandung horizon sulfuric ( cat clay ) yang sangat masam (Munir, 1996). Tanah Alluvial memperlihatkan awal perkembangan biasanya lembab atau basa selama 90 hari berturut-turut. Umumnya mempunyai lapisan kambik, karena tanah ini belum berkembang lanjut dan kebanyakan tanah ini cukup subur. Alluvial atau Inceptisol merupakan tanah-tanah yang memiliki epipedon dan okrik, horizon albik (Hardjowigeno, 1995). Akumulasi besi sulfide dan oksidanya penting pada sejumlah besar tanah Alluvial. Bakteri memerlukan bahan organic dan merupakan obligat anaerob. Bakteri ini aktif mulai dari 0-700 C, pH hingga 5 sampai 9 dan konsentrasi NaCl 12% (Lopulisa, 2004). Tanah endapan alluvial atau koluvial muda atau agak muda dengan tanapa atau perkembangan prifil lemah. Sifat tanah alufial sangat beragam tergantung sifat bahan asal yang diendapkan. Penyebarannya tidak terpengaruhi oleh iklim maupun ketingian (Hardjowigeno, 1993). Tanah Aluvial yang dipersawahan akan berbeda sifat morfologisnya dengan tanah yang tidak dipersawahan. Perbedaan yang sangat nyata dapat dijumpai pada epipedonnya, dimana pada epipedon yang tidak pernah dipersawahan berstruktur granular dan warna coklat tua (10 YR 4/3). Sedangkan epipedon tanah Aluvial yang dipersawahan tidak berstruktur dan berwarna berubah menjadi kelabu (10 YR5/1) (Munir, 1984). Hakim dkk (1986) mengemukakan bahwa tanah Aluvial bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya. Beberapa bahan endapan dapat berupa batu kapur, batuan metamorfik, deposit lanau dan dapat pula berupa au gunung berapi yang bercampur bahan organik. Sarief (1987) menyatakan bahwa tanah Aluvial berwarna kelabu sampai kecoklat-coklatan. Tekstur tanahnya liat atau liat berpasir, mempunyai konsistensi keras waktu kering dan teguh pada waktu lembab. Kandungan unsur haranya relatif kaya dan banyak tergantung pada bahan induknya. Reaksi tanahnya dari asam, netral sampai basa. Berdsarkan bahan induknya terdapat ttanah Aluvial pasir, lempung, kapur, basa,asam dan lain-lain (Darmawijaya, 1990). Tanah Aluvial yang di persawahan akan berbeda sifat morfologisnya dengan tanah yang tidak di persawahan. Perbedaan yang sangat nyata dapat dijumpai pada epipedonnya, dimana pada epipedon yang tidak pernah dipersawahan berstruktur granular dan warna coklat tua (10 YR 4/3). Sedangkan epipedon tanah Aluvial yang dipersawahan tidak berstruktur dan berwarna berubah menjadi kelabu (10 YR5/1) (Munir, 1984). Tanah Alluvial memiliki kemantapan agregat tanah yang didalamnya terdapat banyak bahan organik sekitar setengah dari kapasitas tukar katio (KTK) berasal dari bahan bahan sumber hara tanaman. Disamping itu bahan organik adalah sumber energi dari sebagian besar organism tanah dalam memainkan peranannya bahn organik sangat dibutuhkan oleh sumber dan susunanya (Hakim,dkk,1986).

Tanah Alluvial mengalami pencucian selama bertahun-tahun tanah ini ditandai dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Vegetasi kebanyakan lumut yang tumbuh rendah. Tumbuhan tumbuh dengan lambat, tetapi suatu lahan yang rendah menghambat dekomposisi bahan organik sehingga menghasilkan tanah yang mengandung bahan organik dan KTK yang tinggi (Foth,HD,1994). Tanah Alluvial berwarna kelabu muda bersifat fisik keras dan pijal jika kering dan lekat jika basah. Kaya akan fosfot yang mudah larut dalam sitrat 2% mengandung 5% CO2 dan tepung kapur yang halus dan juga berstruktur pejal yang dalam keadaan kering dapat pecah menjadi fragmen berbetuk persegi sedang sifat kimiawinya sama dengan bahan asalnya (Munir, 1996). Kadar fosfor Alluvial ditentukn oleh banyak atau sedikitnya cadangan mineral yang megandung fosfor dan tingkat pelapukannya. Permasalahan fosfor ini meliputi beberapa hal yaitu peredaran fosfor di dalam tanah, bentuk-bentuk fosfor tanah, dan ketersediaan fosfor (Pairunan, dkk, 1997). Status kesuburan Alluvial amat tergantung dengan bahan induk dan iklim. Suatu kecenderungan memperlihatkan bahwa di daerah beriklim basa P dan K relative rendah dan pH lebih rendah dari 6,5. daerah-daerah dengan curah hujan rendah di dapat kandungan P dan K lebih tinggi dan netral (Hakim, dkk, 1986). Dalam analisis KTK, mula-mula semua kation yang dapat dipertukarkan diganti dengan kation tertentu misalnya dengan NH4+ (dari larutan NH4Oac), kemudian ditentukan jumlah kation yang diperlukan untuk mengganti kation tersebut. Beberapa kation terutama K bila digunakan sebagai kation pengganti akan memberi gambaran yang kurang tepat karena sebagian dari K dapat diikat oleh mineral liat tertentu seperti mineral illit (Hardjowigeno, 1993). Ada dua cara yang banyak dipakai untuk menentukan KTK yaitu penjenuhan dengan ammonium pada pH 7 (NH4Oac, pH 7) dan dan metode penjumlahan kation di mana semua kation yang dapat dipertukarkan yaitu kation basa + kation asam dijumlahkan. Karena adanya perubahan KTK akibat perubahan pH, maka KTK tanah dapat dibedakan menjadi KTK tetap (permanent charge) dan KTK tergantung pH (pH-dependent charge) (Hardjowigeno, 1993). KTK tetap adalah jumlah muatan negative dari liat akibat subtitusi ion-ion dengan muatan rendah terhadap ion-ion dalam struktur kristal yang bervalensi lebih tinggi. Hal ini terjadi pada waktu proses pembentukan liat sedang berjalan. Sebagai contoh misalnya subtitusi Al3+ terhadap Si4+dalam Si tetrahedron atau subtitusi Mg2+ terdapat Al3+ dalam Al octahedron. Akibat subtitusi tersebut maka terjadilah kelebihan muatan negative dalam mineral liat yang merupakan KTK tetap (Purwowidodo, 1982).
Penggunaan pupuk di dunia terus meningkat sesuai dengan pertambahan luas areal pertanian, pertambahan penduduk, kenaikan tingkat intensifikasi serta makin beragamnya penggunaan pupuk sebagai usaha peningkatan hasil pertanian. Para ahli lingkungan hidup khawatir dengan pemakaian pupuk mineral yang berasal dari pabrik ini akan menambah tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh juga terhadap kesehatan manusia.Berdasarkan hal tersebut makin berkembang alasan untuk mengurangi penggunaan pupuk mineral dan agar pembuatan pabrik-pabrik pupuk di dunia dikurangi atau dihentikan sama sekali agar manusia bisa terhindar dari malapetaka polusi. Upaya pembudidayaan tanaman dengan pertanian organik merupakan usaha untuk dapat mendapatkan bahan

makanan tanpa penggunaan pupuk anorganik. Dengan sitem ini diharapkan tanaman dapat hidup tanpa ada masukan dari luar sehingga dalam kehidupan tanaman terdapat suatu siklus hidup yang tertutup. Banyak sifat baik pupuk organik terhadap kesuburan tanah antara lain ialah: a. Bahan organik dalam proses mineralisasi akan melepaskan hara tanaman dengan lengkap (N, P, K,

Ca, Mg, S, serta hara mikro) dalam jumlah tidak tentu dan relatif kecil. b. Dapat memperbaiki struktur tanah, menyebabkan tanah menjadi ringan untuk diolah dan mudah

ditembus akar. c. d. Tanah lebih mudah diolah untuk tanah-tanah berat. Meningkatkan daya menahan air (water holding capacity). Sehingga kamampuan tanah untuk

menyediakan air menjadi lebih banyak. Kelengasan air tanah lebih terjaga. e. Permeabilitas tanah menjadi lebih baik. Menurunkan permeabilitas pada tanah bertekstur kasar

(pasiran), sebaliknya meningkatkan permeabilitas pada tanah bertekstur sangat lembut (lempungan). f. Meningkatkan KPK (Kapasitas Pertukaran Kation ) sehingga kemampuan mengikat kation menjadi

lebih tinggi, akibatnya apabila dipupuk dengan dosis tinggi hara tanaman tidak mudah tercuci. g. Memperbaiki kehidupan biologi tanah (baik hewan tingkat tinggi maupun tingkat rendah ) menjadi

lebih baik karena ketersediaan makan lebih terjamin. h. Dapat meningkatkan daya sangga (buffering capasity) terhadap goncangan perubahan drastis sifat

tanah. i. Mengandung mikrobia dalam jumlah cukup yang berperanan dalam proses dekomposisi bahan

organik. Sedangkan sifat yang kurang baik dari pupuk organik adalah: a. Bahan organik yang mempunyai C/N masih tinggi berarti masih mentah. Kompos yang belum

matang (C/N tinggi) dianggap merugikan, karena bila diberikan langsung ke dalam tanah maka bahan organik diserang oleh mikrobia (bakteri maupun fungi) untuk memperoleh enersi. Sehingga populasi mikrobia yang tinggi memerlukan juga hara tanaman untuk tumbuhan dan kembang biak. Hara yang seharusnya digunakan oleh tanaman berubah digunakan oleh mikrobia. Dengan kata lain mikrobia bersaing dengan tanaman untuk memperebutkan hara yang ada. Hara menjadi tidak tersedia (unavailable) karena berubah dari senyawa anorganik menjadi senyawa organik jaringan mikrobia, hal ini disebut immobilisasi hara. Terjadinya immobilisasi hara tanaman bahkan sering menimbulkan adanya gejala defisiensi. Makin banyak bahan organik mentah diberikan ke dalam tanah makin tinggi populasi yang menyerangnya, makin banyak hara yang mengalami immobilisasi. Walaupun demikian nantinya

bila mikrobia mati akan mengalami dekomposisi hara yang immobil tersebut berubah menjadi tersedia lagi. Jadi immobilasasi merupakan pengikatan hara tersedia menjadi tidak tersedia dalam jangka waktu relatif tidak terlalu lama b. Bahan organik yang berasal dari sampah kota atau limbah industri sering mengandung mikrobia

patogen dan logam berat yang berpengaruh buruk bagi tanaman, hewan dan manusia. Pupuk kandang Pupuk kandang merupakan pupuk yang penting di Indonesia. Selain jumlah ternak lebih tinggi sehingga volume bahan ini besar, secara kualitatif relatif lebih kaya hara dan mikrobia dibandingkan limbah pertanian. Yang yang dimaksud pupuk kandang ialah campuran kotoran hewan/ ternak dan urine. Tabel Rata-rata hara dari berbagai pupuk kandang.

Sapi Ukuran hewan ( kg) Pupuk segar (ton/tahun) Kadar air ( %) Kandungan hara (kg/ton ton) Nitrogen (N) Fosfor (P) Kalium (K) Kalsium (K) Magnesium (Mg) Sulfur (S) Ferrum (Fe) Boron (B) Cuprum (Cu) Mangan (Mn) Zinc (Zn) 500 11,86 85

Ayam

Bebek 5 10,95 72 100 0,046 82

Domba 100 0,73 77

10,0 2,0 8,0 5,0 2,0 1,5 0,1 0,01 0,01 0,03 0,04

25,0 11,0 10,0 36,0 6,0 3, 2 2,3 0,01 0,01 0,01

10,0 2,8 7,6 11,4 1,6 2,7 0,6 0,09 0,04 0,12

28,0 4,2 20,0 11,7 3,7 1,8 0,3 -

Pupuk kandang dibagi menjadi dua macam: a) pupuk padat dan b) pupuk cair. Susunan hara pupuk kandang sangat bervariasi tergantung macamnya dan jenis hewan ternaknya. Nilai pupuk kandang dipengaruhi oleh: 1) makanan hewan yang bersangkutan, 2) fungsi hewan tersebut sebagai pembantu pekerjaan atau dibutuhkan dagingnya saja, 3) jenis atau macam hewan, dan 4) jumlah dan jenis bahan yang digunakan sebagai alas kandang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->